Pages

Tampilkan postingan dengan label Kabar dan Wawasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar dan Wawasan. Tampilkan semua postingan

Kemangi Award Warnai HAB ke-80 Kemenag, Dedikasi ASN dan Madrasah Banyuwangi Diganjar Apresiasi

Banyuwangi (Warta Blambangan);Pagi itu, aula Madrasah Aliyah Negeri 1 Banyuwangi tidak sekadar menjadi ruang pertemuan. Ia menjelma ladang makna, tempat penghargaan ditanam dan pengabdian dipanen. Dalam suasana Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar Kemangi Award, Senin (12/1/2026).

Acara dibuka dengan lantunan gerak dan rasa dari anak-anak madrasah inklusi. Di wajah mereka, tersimpan pesan yang jujur: bahwa pendidikan adalah hak semua insan, dan keberagaman bukan alasan untuk menepi. Persembahan itu menjadi pengingat bahwa tugas Kementerian Agama bukan hanya mengatur, tetapi juga merawat.


Ketua Panitia Hari Amal Bakti ke-80 Kemenag Banyuwangi, Dr. Fathurrahman, menyampaikan bahwa tahun ini sebanyak 30 penghargaan dianugerahkan kepada aparatur sipil negara dan keluarga besar madrasah. Mereka adalah nama-nama yang sepanjang 2025 memilih bekerja dalam sunyi, menunaikan tanggung jawab dengan setia, dan menjaga martabat pengabdian.

“Penghargaan ini bukan sekadar penilaian kinerja, melainkan ungkapan terima kasih atas ketekunan, integritas, dan kesungguhan dalam melayani,” tuturnya.

Hadir dalam acara tersebut para ASN, insan madrasah, tokoh organisasi keagamaan, serta mitra kerja Kementerian Agama. Dari Majelis Ulama Indonesia, Forum Kerukunan Umat Beragama, Badan Wakaf Indonesia, hingga Bank Syariah Indonesia, semuanya menyatu dalam satu ruang, menandai bahwa pelayanan keagamaan adalah kerja bersama.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa Kemangi Award kini memasuki pelaksanaan ketiga. Ia menuturkan, jejak prestasi insan Kemenag Banyuwangi tidak berhenti di batas administratif, tetapi melampaui daerah, menembus tingkat nasional bahkan internasional, khususnya melalui capaian peserta didik madrasah.

“Ketika anak-anak madrasah mampu berdiri sejajar di panggung dunia, di sanalah kita tahu bahwa pengabdian tidak pernah sia-sia,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung ikhtiar penguatan integritas melalui pembinaan berkelanjutan, termasuk kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi. Baginya, integritas adalah fondasi sunyi yang menentukan kokohnya kepercayaan publik.

Menutup sambutannya, Chaironi Hidayat menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Banyuwangi apabila pelayanan yang diberikan belum sepenuhnya sempurna. Ia menegaskan bahwa di usia delapan dekade Kementerian Agama, seluruh jajaran terus berikhtiar menghadirkan layanan yang tidak hanya tertib secara administrasi, tetapi juga adil, manusiawi, dan berjiwa pengabdian.

Konfercab XIV NU Banyuwangi Berjalan Hingga Subuh, KH Fachrudin Manan Resmi Jadi Rais Syuriyah

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Konferensi Cabang (Konfercab) XVI Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Banyuwangi masa khidmat 2025–2030 yang digelar di Universitas Kiai Haji Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Kampus Blokagung, Kecamatan Tegalsari, berlangsung sukses dan khidmat. Konfercab yang dilaksanakan selama dua hari, Rabu–Kamis, 7–8 Januari 2026, ini menetapkan KH Fachrudin Manan, pengasuh Pondok Pesantren Minhajut Thullab Parasgempal, Desa Sumberas, Kecamatan Muncar, sebagai Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi.

Konfercab yang dimulai Rabu (7/1/2026) pukul 13.00 WIB tersebut berakhir menjelang Salat Subuh, Kamis (8/1/2026). Proses pemilihan Rais Syuriyah sempat diwarnai penghitungan suara ulang sebanyak beberapa kali akibat perbedaan hasil pada penghitungan awal. Setelah dilakukan penghitungan ulang secara cermat dan transparan, forum akhirnya mencapai kesepakatan. 


Selain pemilihan Rais Syuriyah, Konfercab XVI NU Banyuwangi juga membahas dan menetapkan tata tertib pemilihan Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi. Tata tertib tersebut disepakati forum sekitar pukul 18.00 WIB setelah melalui pembahasan yang cukup dinamis.

Ketua Panitia Konfercab XVI NU Banyuwangi, Moh. Karyono, menjelaskan bahwa terdapat dua persyaratan utama bagi bakal calon Ketua Tanfidziyah atau Ketua Harian PCNU Banyuwangi. “Syarat pertama adalah wajib memiliki sertifikat Pendidikan Menengah Kepemimpinan (PMK) NU. Hal ini sesuai dengan AD/ART NU karena Jawa Timur masuk klaster A,” ujarnya.

Selain syarat PMK, bakal calon juga harus mengantongi dukungan minimal 30 persen dari total pemilih. Dengan jumlah 25 Majelis Wakil Cabang (MWC) NU se-Kabupaten Banyuwangi, maka bakal calon harus mendapatkan sedikitnya 9 dukungan MWC untuk dapat ditetapkan sebagai calon.

Dalam dinamika penjaringan bakal calon Ketua Tanfidziyah, sempat mengemuka sejumlah nama tokoh NU, di antaranya Haji Arif Rivai dan Achmad Turmudi, Kepala Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu. Namun, mengerucutnya nama-nama calon sepenuhnya mengikuti ketentuan tata tertib yang telah disepakati bersama.

Konfercab XVI NU Banyuwangi diikuti oleh 25 MWC NU yang memiliki hak suara dan diharapkan mampu menghasilkan kepengurusan PCNU Banyuwangi yang solid, amanah, serta mampu memperkuat peran NU dalam bidang keagamaan, sosial, dan kebangsaan di Kabupaten Banyuwangi untuk lima tahun ke depan.

Kopi 11 Banyuwangi Jadi Daya Tarik Stan MTsN 11 pada Bazar UMKM HAB ke-80 Kemenag

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Semarak peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia di Kabupaten Banyuwangi turut diwarnai oleh kehadiran bazar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang digelar pada Minggu, 4 Januari 2026. Salah satu peserta yang menarik perhatian pengunjung adalah stan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 11 Banyuwangi.

Sebagai Madrasah Tsanawiyah Negeri pertama yang berdiri di wilayah Kalibaru, MTsN 11 Banyuwangi menghadirkan produk unggulan bertajuk “Kopi 11 Banyuwangi”. Produk ini merupakan hasil pengolahan kopi lokal yang dikembangkan melalui pembinaan madrasah sebagai bagian dari penguatan jiwa kewirausahaan.

Beragam varian kopi ditampilkan, di antaranya kopi robusta Kalibaru, kopi luwak robusta, serta kopi lanang. Ketiga jenis kopi tersebut dikenal memiliki karakter rasa yang khas, mencerminkan kualitas kopi Kalibaru yang telah lama menjadi salah satu ikon perkebunan di Banyuwangi.


Kepala MTsN 11 Banyuwangi, Wahyudi Eko Santoso, menjelaskan bahwa partisipasi dalam bazar UMKM ini tidak sekadar untuk memeriahkan HAB ke-80, tetapi juga sebagai media promosi potensi lokal sekaligus sarana pembelajaran kewirausahaan bagi warga madrasah.

“Melalui Kopi 11 Banyuwangi, kami ingin menumbuhkan semangat kreatif dan mandiri, serta mengenalkan produk lokal kepada masyarakat yang lebih luas,” ungkapnya.

Antusiasme pengunjung terlihat dari ramainya stan MTsN 11 Banyuwangi yang disinggahi peserta bazar. Banyak pengunjung tertarik untuk mengenal lebih dekat sekaligus mencicipi kopi khas Kalibaru yang ditawarkan.

Kegiatan bazar UMKM ini menjadi salah satu wujud nyata sinergi Kementerian Agama dengan satuan pendidikan dalam mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat, sejalan dengan semangat HAB ke-80 Kemenag RI.

Guru MTsN 8 Banyuwangi Menyuguhkan Gandrung Lanang di Panggung Kerukunan HAB ke-80 Kemenag RI

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Minggu, 4 Januari 2025, berdenyut dalam irama langkah dan senyum. Ribuan kaki melangkah ringan dalam Gebyar Jalan Sehat dan Pameran UMKM, rangkaian Bazar UMKM Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia. Di antara hiruk-pikuk kebersamaan itu, sebuah tarian bangkit dari ingatan sejarah, menari bukan sekadar untuk ditonton, tetapi untuk diingat.

Adalah Gilang Ilham, guru seni budaya MTsN 8 Banyuwangi di Kecamatan Genteng, yang menghadirkan Tari Gandrung Lanang ke hadapan publik. Geraknya luwes, tatapannya tajam namun lembut, seolah mengajak penonton menelusuri lorong waktu, kembali ke masa ketika Gandrung pertama kali ditarikan oleh lelaki—sebelum zaman mengubah wajahnya.

Di tengah tema besar kegiatan, “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, Gandrung Lanang tampil sebagai simbol: bahwa kerukunan tidak hanya dirawat lewat kata dan seremonial, tetapi juga melalui ingatan budaya yang dijaga dengan penuh hormat. ASN Kementerian Agama, pelaku UMKM, insan madrasah, dan masyarakat umum larut dalam pesona tarian yang bukan sekadar hiburan, melainkan pelajaran sunyi tentang asal-usul. 


Gilang Ilham tidak sekadar menari; ia berkisah dengan tubuhnya. Setiap gerak adalah pengingat bahwa Gandrung Lanang merupakan akar dari pohon kebudayaan Banyuwangi. “Ini bukan nostalgia,” seolah demikian pesan yang disampaikan, “melainkan tanggung jawab untuk mengenalkan sejarah kepada generasi yang tumbuh di tengah arus modernitas.”

Kepala MTsN 8 Banyuwangi pun menegaskan bahwa madrasah bukan hanya ruang belajar angka dan huruf, melainkan juga taman tempat nilai dan jati diri ditumbuhkan. Pelestarian seni budaya lokal, menurutnya, adalah bagian dari pendidikan karakter—agar peserta didik mengenal siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan ke mana ia melangkah.

Dengan penampilan Gandrung Lanang itu, peringatan HAB ke-80 Kementerian Agama RI menjelma lebih dari sekadar perayaan tahunan. Ia menjadi ruang temu antara agama dan budaya, antara nilai spiritual dan kearifan lokal, antara denyut ekonomi umat dan ingatan sejarah. Di panggung sederhana itu, Banyuwangi kembali mengajarkan satu hal penting: bahwa kemajuan sejati selalu berpijak pada akar yang dijaga.

Jalan Sehat Kerukunan sebagai Instrumen Penguatan Kohesi Sosial pada Peringatan HAB ke-80 Kementerian Agama di Banyuwangi



BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan kegiatan Jalan Sehat Kerukunan dalam rangka memperingati Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, pada Minggu, 4 Januari 2026. Kegiatan yang dipusatkan di GOR Tawang Alun Banyuwangi ini merupakan bagian dari strategi institusional Kementerian Agama dalam memperkuat kohesi sosial dan internalisasi nilai-nilai kerukunan di tengah masyarakat multikultural.


Kegiatan tersebut diikuti oleh lebih dari 5.000 peserta yang berasal dari berbagai unsur, meliputi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi dan Kantor Urusan Agama (KUA) se-kabupaten, peserta didik madrasah di wilayah perkotaan Banyuwangi, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan lintas agama. Tingginya partisipasi lintas sektor ini mencerminkan adanya kesadaran kolektif terhadap pentingnya penguatan harmoni sosial sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa jalan sehat kerukunan berfungsi sebagai medium edukatif dalam menanamkan nilai toleransi, kebersamaan, dan persatuan. Menurutnya, kerukunan umat beragama merupakan modal sosial strategis yang berkontribusi signifikan terhadap stabilitas sosial dan keberlanjutan pembangunan nasional.

Dalam konteks peringatan HAB ke-80, kegiatan ini dimaknai sebagai momentum reflektif untuk mempererat jejaring sosial dan memperkuat solidaritas antarkelompok masyarakat. Kerukunan, lanjutnya, tidak cukup dipahami secara normatif, melainkan perlu diaktualisasikan melalui aktivitas kolektif yang melibatkan partisipasi aktif berbagai elemen masyarakat.

Pemilihan rute kegiatan di sekitar kawasan GOR Tawang Alun didasarkan pada pertimbangan teknis dan fungsional, khususnya terkait aspek keamanan, kenyamanan peserta, serta efektivitas pengelolaan arus lalu lintas. Penataan rute ini bertujuan memastikan kegiatan berlangsung secara tertib, aman, dan tidak mengganggu aktivitas publik di pusat Kota Banyuwangi. 

Secara konseptual, jalan sehat kerukunan ini tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas promotif kesehatan, tetapi juga sebagai representasi empiris sinergi lintas iman, lintas generasi, dan lintas kelembagaan. Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama menegaskan perannya sebagai institusi strategis dalam membangun dan memelihara kohesi sosial masyarakat dalam bingkai persatuan dan kerukunan nasional.

Bedah Buku Hadis Warnai Peringatan HAB ke-80 Kemenag di Banyuwangi

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia di Kabupaten Banyuwangi tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga dengan penguatan tradisi literasi dan diskursus keagamaan. Salah satunya melalui kegiatan bedah buku yang diselenggarakan Panitia HAB Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pada Sabtu, 3 Januari 2026, di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Banyuwangi, Kecamatan Genteng.

Buku yang dibahas berjudul Fondasi Iman dan Akhlak: Refleksi Mendalam 13 Hadits Arbain Imam Nawawi, karya Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur pemangku kepentingan di bidang keagamaan dan pendidikan, mulai dari Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), kepala madrasah, penghulu, penyuluh agama Islam, hingga pegiat literasi dan komunitas budaya di Banyuwangi. 


Ketua Dewan Kesenian Blambangan, Hasan Basri, yang hadir sebagai narasumber pembanding, menilai bahwa buku tersebut menawarkan pendekatan kontekstual dalam memahami hadis. Menurutnya, penulis berupaya mengaitkan pesan-pesan normatif hadis dengan realitas sosial dan budaya lokal, sehingga ajaran agama tidak berhenti pada tataran teks, tetapi dapat dipahami sebagai pedoman etis dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi, Samsudin Adlawi. Ia menekankan bahwa forum bedah buku merupakan ruang penting dalam membangun budaya literasi yang kritis dan produktif. Diskusi, kritik, dan pertukaran gagasan dalam forum semacam ini, menurutnya, menjadi bagian dari proses pengayaan pemahaman dan pendewasaan karya tulis keagamaan.

Dari perspektif sastra, Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Banyuwangi, Nurul Ludfia Rohmah, menyoroti kekuatan naratif dalam buku tersebut. Ia menilai bahwa penyajian hadis melalui narasi yang runtut dan komunikatif mampu menjembatani teks klasik dengan konteks masyarakat modern yang terus berkembang.

Sesi diskusi melibatkan berbagai pegiat literasi, di antaranya Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi, Aekanu Haryono dari Komunitas Kiling Osing Banyuwangi, serta Rahmatullah Jhon. Para peserta menyampaikan apresiasi sekaligus catatan kritis terkait perbedaan penafsiran terhadap beberapa hadis yang dikaji. Perbedaan tersebut dinilai masih berada dalam wilayah khilafiyah dan tidak menyentuh aspek prinsipil ajaran ibadah.

Menanggapi berbagai pandangan yang berkembang, Dr. Chaironi Hidayat menyampaikan bahwa perbedaan interpretasi merupakan bagian dari dinamika keilmuan Islam. Ia menegaskan pentingnya sikap terbuka dan dialogis dalam memahami ajaran agama, agar nilai-nilai keimanan dan akhlak dapat diaktualisasikan secara moderat dan kontekstual dalam kehidupan bermasyarakat.

Kegiatan bedah buku ini dilaksanakan setelah upacara peringatan Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia di MAN 2 Banyuwangi. Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan HAB ke-80 di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi berlangsung tertib dan mencerminkan komitmen lembaga dalam penguatan literasi keagamaan yang berkelanjutan.

Sego Liwet dan Nasi Kebuli Warnai Syukuran HAB ke-80 Kemenag Banyuwangi

BANYUWANGI – (Warta Blambangan) Dalam rangka mengungkapkan rasa syukur atas Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia ke-80 tahun 2026, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar acara syukuran pada Jumat (2/1/2026). Kegiatan ini berlangsung sederhana namun penuh kehangatan di lingkungan Kantor Kemenag Banyuwangi.

Syukuran HAB ke-80 terasa istimewa dengan hadirnya sajian khas Nusantara yang tidak lazim disuguhkan dalam kegiatan kedinasan, seperti sego liwet dan nasi kebuli. Hidangan tersebut menjadi simbol keberagaman budaya sekaligus kekayaan tradisi kuliner yang selaras dengan semangat Kementerian Agama dalam merawat dan memperkuat kebhinekaan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa kegiatan syukuran ini melibatkan seluruh Kepala Madrasah, Kepala KUA Kecamatan, serta pejabat dan pegawai di lingkungan Kemenag Banyuwangi. Menurutnya, peringatan HAB ke-80 menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang pengabdian Kementerian Agama dalam melayani umat, bangsa, dan negara.

“Kegiatan ini bukan sekadar syukuran, tetapi juga wujud kebersamaan dan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas pengabdian Kementerian Agama selama delapan dekade,” ujar Chaironi.

Ia menambahkan, kebersamaan yang terbangun dalam suasana sederhana namun penuh makna diharapkan mampu memperkuat soliditas serta semangat pengabdian seluruh jajaran Kementerian Agama di Kabupaten Banyuwangi. 


Acara tersebut turut dihadiri oleh mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Drs. H. Slamet, sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian para pendahulu dan kesinambungan sejarah institusi.

Dalam kesempatan yang sama, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi juga menyerahkan tanda kehormatan Satyalancana Pengabdian kepada sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang telah mengabdi selama 10 tahun, 20 tahun, hingga 30 tahun. Penganugerahan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi negara atas dedikasi, loyalitas, dan pengabdian para ASN di lingkungan Kementerian Agama.

Rangkaian acara syukuran HAB ke-80 Kementerian Agama ini ditutup dengan doa bersama, sebagai harapan agar Kementerian Agama ke depan semakin kuat, profesional, dan terus berperan sebagai perekat persatuan dalam keberagaman.

Duet H. Mujiono & Sururudin Pimpin BKPRMI Kabupaten Banyuwangi Masa Khidmat 2025-2030

Musda IIII Badan Komunikasi Remaja Pemuda Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Banyuwangi secara aklamasi mufakat memilih dan menetapkan duet H. Mujiono, SH sebagai Ketua Umum dan Achmad Sururudin, SE, M. Si, M. Pd sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Daerah masa khiidmad 2025-2030 pada perhelatan di hari Minggu(28/12/25) atau bertepatan Ahad 8 Rajab 1447 H di Hotel Aston. 


Pimpinan Sidang Alim Sulaiman, M. Pd Sekretaris Umum BKPRMI Wilayah Jawa Timur usai menyatakan kepengurusan demisioner, menawarkan ke audiens yang pengurus DPD dan 25 DPK, apakah ada yang mencalonkan diri sebagai Ketua Umum dan bila lebih dari 1 maka semuanya berkesempatan untuk kampanye sampaikan visi misi. Namun tak ada seorangpun yang mengajukan diri. Hingga akhirnya utusan DPK Rogojampi , Singojuruh dan Kalipuro berpandangan mantan ketua umum. Ditetapkan sebagai MPD dan H Mujiono sebagai penggantinya maka secara aklamasi ditetapkan. 


Ketika diberi kesempatan, H Mujiono awal sampaikan innalillahi karena tak pernah bermimpi dan mengira jadi imam organisasi yang bergerak memakmurkan rumah Allah dan punya ikon Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) yang berjenjang ke nasional 2 tahun sekali itu. "Baik saya menerima amanat ini dengan syarat dukungan semuanya serta yang ditunjuk tim formatur untuk juga tak menolak amanat  memajukan organisasi! " tuturnya yang disanggupi hadirin. 


Musda III yang dibuka oleh  Yusdi Irawan, SE,M.Si Kabag Kesra Setda Banyuwangi mewakili Bupati mengucapkan Terima kasih atas sinergi dan kontribusi BKPRMI yang menjadikan Banyuwangi kondusif dan Berprestasi. (AWN/Shodiqin/JN-SW) 


Gelar Gandrung dari Masa ke Masa, Kompetisi Tari Gandrung Banyuwangi Diikuti Ribuan Peserta dari Jawa - Bali

BANYUWANGI ( Warta Blambangan) Sebagai upaya melestarikan sekaligus mempromosikan Tari Gandrung secara berkelanjutan, Banyuwangi menggelar kompetisi Tari gandrung yang dikemas dalam Festival Gandrung “Dari Masa ke Masa”. Kompetisi ini diikuti ribuan peserta yang berasal dari sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Bali.

Festival Tari Gandrung “Dari Masa ke Masa” berlangsung selama tiga hari mulai 24-26 Desember di Gelanggang Kesenian Banyuwangi (Gesibu). Event ini diikuti 1500 peserta mulai dari tingkat TK-SMA dan umum. Ada yang dari Jogja, Gresik, Lumajang, Situbondo, Bondowoso, hingga Bali. 

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan Tari Gandrung adalah identitas budaya Banyuwangi yang sarat makna sejarah, filosofi, dan nilai kebersamaan. Lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga upaya melestarikan warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.

“Lomba ini Juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mencintai dan mengembangkan seni tradisi,” kata Ipuk, Sabtu (27/12/2025).

Ipuk menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya atas upaya dan dukungan berbagai pihak yang secara konsisten melakukan regenerasi penari Gandrung serta mempromosikan Gandrung hingga ke kancah nasional dan internasional. 

“Terima kasih pada semua pihak yang telah menginisiasi kegiatan ini,” ujar Ipuk.

Inisiator sekaligus penyelenggara Festival Gandrung “Dari Masa ke Masa” Sabar Haryanto, mengatakan event ini metupakan tahun ketiga penyelengaraan. Setiap tahunnya ribuan peserta berpartisipasi dalam lomba ini.

“Sebagai pegiat seni daerah ini adalah bentuk dukungan dan partisipasi kami bersama -sama dengan pemerintah untuk terus menghidupkan dan melestarikan Gandrung khususnya pada generasi muda,” kata Sabar yang juga Pengasuh Sangar Tari Lang Lang Buana Banyuwangi.

Pada tahun ini pihaknya sengaja mengundang sanggar dan komunitas Tari dari sejumlah daerah untuk ikut berpartisipasi karena Tari Gandrung sudah banyak ditarikan oleh penari di luar daerah. 


“Alhamdulillah peserta lomba dari luar kota cukup banyak, padahal kami hanya berkabar melalui surat. Ini menunjukkan kalau Tari Gandrung memang sudah familiar bagi mereka,” katanya.


Ada delapan variasi tari Gandrung yang dibawakan oleh para peseta dalam kompetisi tersebut. Yakni Gandrung Seblang Lukinto, Gandrung Gurit Mangir, Gandrung Jaran Dawuk, Gandrung Variasi, Gandrung Sri Dewi, Gandrung Kembang Menur, Gandrung Marsan.


“Kompetisi ini juga sebagai cara mengenalkan berbagai jenis atau variasi Tarian Gandrung. Karena Tari Gandrung punya banyak variasi yang berkembang sesuai konteks budaya, cerita rakyat, maupun kreativitas seniman,” terang Sabar.


Salah satu pelatih Tari dari Lumajang Nasseh, mengatakan ia menurunkan dua grup untuk mengikuti kompetisi di Banyuwangi. Tari Gandrung telah menjadi tarian yang biasa ditarikan di komunitasnya.

“Kami berlatih khusus untuk kompetisi mulai November. Tapi tidak terlalu kesulitan karena teman-teman sudah mengenal Gandrung,” ujarnya.

Sementara itu salah satu penarinya Ikrom, pelajar kelas 9 SMPN 1 Tempeh Lumajang mengaku sangat senang bisa mengikuti Lomba Tari Gandrung di Banyuwangi. Dengan basic penari berbagai genre, ia tidak begitu kesulitan untuk menari Gandrung.

“Gerakannya susah-susah gampang saat latihan, tapi bersyukur bisa, dan masuk final,” ujar Ikrom yang membawakan Tari Gandrung Marsan atau Tari Gandrung yang khusus dibawakan oleh laki-laki. (*)

Syukuran Sertifikasi Ahli Cagar Budaya Banyuwang

Banyuwangi (Warta Blambangan) Senja 25 Desember 2025 di Omah Kopi Telemung tidak hanya menghadirkan aroma kopi dan percakapan hangat, tetapi juga kabar baik bagi perjalanan kebudayaan Banyuwangi. Dalam forum bedah kebudayaan yang dihadiri para budayawan, KRT Ilham Triadi menyampaikan capaian terbarunya: ia resmi mengantongi Sertifikat Ahli Cagar Budaya dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Sertifikat itu melengkapi laku panjang yang telah ditempuhnya. Sebelumnya, ia lebih dahulu memperoleh Sertifikat Ahli Perkerisan, juga dari BNSP—sebuah penanda bahwa pengetahuan, ketekunan, dan tanggung jawab kebudayaan tidak datang secara tiba-tiba, melainkan melalui pengendapan waktu.

Ketua Dewan Kesenian Belambangan, Hasan Basri, menyampaikan bahwa hingga hari ini KRT Ilham Triadi menjadi satu-satunya putra Banyuwangi yang berhasil meraih sertifikasi Ahli Cagar Budaya. Sebuah capaian yang, menurutnya, bukan sekadar prestasi personal, melainkan kepercayaan negara atas kompetensi dalam merawat ingatan kolektif.

“Ini bukan hanya sertifikat, tetapi amanah,” ujarnya, seraya menegaskan pentingnya peran ahli cagar budaya dalam menjaga jejak sejarah agar tidak terhapus oleh waktu dan pembangunan yang tergesa.

Forum kebudayaan itu dihadiri para penggiat seni dan sejarah Banyuwangi: Samsudin Adlawi, Elvin Hendrata, Ribut Kalembuan, serta Aekanu Hariyono—pemandu wisata bersertifikat internasional—dan Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi. Mereka duduk setara, berbagi pandang, seolah merajut kembali simpul-simpul kebudayaan yang kerap tercerai.


Dalam pernyataannya, KRT Ilham Triadi berharap sertifikasi yang diraihnya dapat menjadi jalan manfaat bagi Banyuwangi. Bukan hanya untuk melindungi benda dan situs, tetapi juga merawat makna, ruh, dan kisah yang berdiam di dalamnya.

Di Omah Kopi Telemung sore itu, sertifikat tak diperlakukan sebagai piala. Ia hadir sebagai penanda tanggung jawab—bahwa kebudayaan, seperti kopi, harus dirawat dengan sabar, diseduh dengan kesadaran, dan diwariskan dengan rasa.

Gedung Juang Tetap Ramai di Hari Ketiga Pameran Lereme Roso

Banyuwangi (Warta Blambangan) Hari ketiga pameran lukisan Lereme Roso yang digelar Dewan Kesenian Blambangan, Rabu (24/12/2025), masih dipadati pengunjung. Sejak pagi hingga malam, langkah-langkah datang silih berganti memenuhi Gedung Juang, membawa rasa ingin tahu dan keheningan yang sama. 

Pameran bertema Lereme Roso ini akan berlangsung hingga 28 Desember 2025. Dari berbagai daerah, pengunjung datang bukan sekadar melihat lukisan, tetapi juga mendengarkan cerita di baliknya. Ketua Panitia, N. Kojin, dengan sabar menjelaskan makna setiap karya—tentang rasa, jeda, dan perenungan yang pelan.

Ketua Dewan Kesenian Blambangan, Hasan Basri, menyampaikan bahwa pameran ini merupakan agenda tahunan yang selalu digelar setiap akhir tahun, bertepatan dengan Hari Jadi Banyuwangi. Tahun ini, simbol ular merah dihadirkan sebagai tema, mengikat rasa atas kondisi bangsa yang tengah diuji bencana di berbagai wilayah.

“Lewat seni, kita diajak mendinginkan perasaan,” ujarnya. “Agar apa pun yang terjadi pada bangsa ini, dapat dipikirkan dengan kepala dan hati yang tenang.”

Di ruang pamer itu, lukisan-lukisan berbicara lirih. Mengajak setiap mata yang memandang untuk berhenti sejenak—merenung, dan merasakan.

Eskalasi Simbolik: Kombes Pol Dr. Rama Samtama Putra dalam Deklarasi Warga Kehormatan Suku Osing

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Di bawah naungan cakrawala malam Bumi Blambangan, tepat pada Selasa (23/12), sebuah manifestasi sosiokultural yang sublim terjadi di Rumah Kebangsaan (Basecamp) Karangrejo. Acara silaturahmi sekaligus pamitan Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Dr. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., bertransformasi menjadi sebuah ritus pengukuhan entitas melalui penganugerahan gelar Warga Kehormatan Suku Osing.

Secara fenomenologis, penobatan ini bukan sekadar seremoni formalitas, melainkan sebuah pengakuan kolektif atas dedikasi yang terbentang selama 15 bulan masa bakti. Penyerahan selendang kehormatan kepada Kapolresta dan Ibu Bhayangkari merepresentasikan simbiolisis mutualisme antara aparat penegak hukum dengan kearifan lokal (local wisdom). Selendang tersebut menjadi artefak simbolik yang mengikat doa restu dan legitimasi spiritual dari tetua adat Osing.

Kegiatan yang berlangsung di Jalan MT Haryono No. 2 ini dihadiri oleh beragam elemen strategis, menciptakan sebuah lanskap mikrokosmos dari harmoni kebangsaan. Hadirnya jajaran Forkopimda, unsur TNI-Polri, serta para budayawan menunjukkan adanya kohesi sosial yang kuat.

Hakim Sa’id, selaku tuan rumah sekaligus tokoh sentral dalam kegiatan tersebut, memberikan parameter kepemimpinan Kombes Pol Rama sebagai sosok yang mampu mengorkestrasi sinergi antar-elemen masyarakat.

"Amanah baru di Polda Papua merupakan sebuah dialektika pengabdian yang lebih luas. Beliau telah menanamkan fundamen kebersamaan yang kokoh di Bumi Blambangan," ungkap Hakim Sa'id dalam narasinya.

Dalam pidato perpisahannya, Kombes Pol Dr. Rama Samtama Putra menunjukkan retorika yang sarat akan humilitas (kerendahan hati). Ia melakukan refleksi kritis atas masa tugasnya, menyadari bahwa setiap dinamika kepemimpinan selalu berkelindan dengan kekurangan.

“Selama satu tahun tiga bulan saya bertugas di Banyuwangi, apabila masih terdapat kekurangan atau hal yang kurang berkenan, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih atas dukungan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat Banyuwangi,” tuturnya dengan nada yang menyentuh ranah afektif para hadirin.

Penganugerahan ini menandai berakhirnya sebuah fase kepemimpinan di Banyuwangi dengan catatan historis yang positif. Gelar Warga Kehormatan Osing menjadi jangkar identitas yang akan terus melekat pada Kombes Pol Rama saat ia melangkah menuju penugasan baru di tanah Papua.


Sosialisasi Hasil Rapat Koordinasi Nasional LPTQ Tahun 2025 di Lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Hasil Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Tahun 2025 pada Senin, 22 Desember 2025, bertempat di Aula Bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini diikuti oleh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan se-Kabupaten Banyuwangi serta para pembina LPTQ tingkat kecamatan.

Kegiatan sosialisasi disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Subbagian Tata Usaha, H. Moh. Jali. Sosialisasi ini bertujuan untuk mendiseminasikan hasil, rekomendasi, serta arah kebijakan nasional LPTQ yang dihasilkan melalui Rakornas LPTQ 2025 yang dilaksanakan di Tangerang Selatan pada November 2025. 


Dalam pemaparannya, H. Moh. Jali menjelaskan bahwa Rakornas LPTQ 2025 menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis dalam rangka penguatan pembinaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di tingkat daerah. Salah satu rekomendasi utama adalah perlunya penerapan pola pembinaan MTQ yang lebih panjang, terstruktur, dan terukur, dengan rentang waktu pembinaan antara delapan hingga sepuluh bulan. Pola ini dinilai lebih efektif dalam meningkatkan kompetensi peserta secara berkelanjutan dibandingkan pembinaan jangka pendek.

Rakornas juga merekomendasikan percepatan revisi regulasi LPTQ guna memperkuat aspek kelembagaan, profesionalitas pengelolaan, serta konsistensi sistem pembinaan di seluruh wilayah. Selain itu, dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan MTQ, termasuk kajian mengenai kemungkinan penyelenggaraan MTQ secara tahunan sebagai upaya menjaga kesinambungan pembinaan dan peningkatan kualitas kafilah di daerah.

Lebih lanjut disampaikan bahwa Rakornas LPTQ 2025 membentuk beberapa komisi yang secara khusus membahas isu kelembagaan, pelaksanaan musabaqah dan sistem perhakiman, serta kepesertaan. Hasil kerja komisi tersebut menghasilkan rekomendasi konkret terkait penyesuaian standar penyelenggaraan MTQ, baik dari aspek manajerial, teknis lomba, maupun perhakiman, agar selaras dengan tuntutan kualitas dan objektivitas penilaian.

Pengalaman dan laporan dari sejumlah daerah, seperti Aceh dan Kalimantan Tengah, menunjukkan bahwa pembinaan yang berkelanjutan serta pola penyelenggaraan MTQ yang lebih rutin memiliki korelasi positif terhadap peningkatan kualitas kafilah dan daya saing di tingkat nasional. Temuan tersebut menjadi salah satu dasar penguatan rekomendasi Rakornas LPTQ 2025.

Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan seluruh Kepala KUA dan pembina LPTQ kecamatan di Kabupaten Banyuwangi dapat mengimplementasikan hasil Rakornas LPTQ 2025 secara terintegrasi dan kontekstual sesuai dengan karakteristik daerah. Dengan demikian, sistem pembinaan MTQ di Kabupaten Banyuwangi diharapkan semakin terencana, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan mutu pembinaan Al-Qur’an.

Efektivitas Pelaksanaan Bimbingan Remaja Usia Sekolah di Madrasah Aliyah An-Nur Kecamatan Kalibaru

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi melalui Seksi Bimbingan Masyarakat Islam melaksanakan kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di Madrasah Aliyah (MA) An-Nur, Kecamatan Kalibaru. Kegiatan ini diikuti oleh 150 peserta didik yang dikelompokkan ke dalam tiga kelompok belajar dan dilaksanakan selama kurang lebih delapan jam.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, H. Mastur, menyampaikan bahwa pelaksanaan BRUS merupakan bagian dari strategi pembinaan remaja dalam rangka penguatan karakter, pemahaman keagamaan, serta peningkatan literasi sosial dan moral peserta didik. Pada sesi penutupan, H. Mastur melakukan evaluasi partisipatif dengan meminta umpan balik langsung dari peserta terkait pelaksanaan kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta memiliki tingkat antusiasme yang tinggi serta memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru yang relevan dengan kebutuhan perkembangan remaja usia sekolah. 


Kepala MA An-Nur Kalibaru, Muhammad Isbat, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan BRUS di lingkungan madrasah yang dipimpinnya. Ia menilai kegiatan ini memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan kepribadian dan kesiapan sosial peserta didik. Lebih lanjut, ia berharap agar program bimbingan remaja usia sekolah dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak madrasah, khususnya madrasah swasta.

Dari sisi pelaksanaan, kegiatan BRUS difasilitasi oleh narasumber yang memiliki kompetensi di bidangnya, terdiri atas akademisi, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), penyuluh agama, serta praktisi terkait. Pendekatan multidisipliner ini dinilai mampu memberikan perspektif yang komprehensif kepada peserta dalam memahami isu-isu remaja, termasuk penguatan nilai keagamaan, sosial, dan moral.

Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Kalibaru, Anwar Luton, menjelaskan bahwa selain mendukung kegiatan BRUS yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, KUA Kecamatan Kalibaru juga secara aktif melaksanakan program sosialisasi pencegahan perkawinan usia dini melalui forum-forum keagamaan, seperti majelis taklim. Upaya tersebut merupakan bagian dari pendekatan preventif berbasis masyarakat dalam membina remaja agar memiliki kesiapan mental, sosial, dan spiritual.

Secara keseluruhan, pelaksanaan Bimbingan Remaja Usia Sekolah di MA An-Nur Kalibaru menunjukkan respons positif dari peserta dan pemangku kepentingan. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model pembinaan remaja berbasis pendidikan dan keagamaan yang berkelanjutan dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.

Kemenag Banyuwangi Merajut Karakter Lewat Workshop Pentigraf

Banyuwangi (Warna Blambangan) Di bawah kegiatan peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyalakan obor literasi melalui Workshop Pentigraf—cerita pendek tiga paragraf—yang digelar secara hibrida, Selasa (26/12/2025). Aula MAN 3 Banyuwangi menjadi ruang temu luring, sementara layar-layar daring menghubungkan madrasah lain dalam satu tarikan napas yang sama: sastra sebagai jalan pembentukan karakter. 


Membuka kegiatan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menegaskan bahwa pentigraf bukan sekadar latihan merangkai kata. Ia adalah disiplin batin—cara berpikir holistik yang memaksa penulis memahami persoalan secara utuh, lalu merumuskannya dengan ringkas, padat, dan bermakna. Dalam kependekan, karakter diuji; dalam kesederhanaan, kedalaman dituntut.

Ketua Panitia HAB ke-80 Kementerian Agama RI pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Fathurrahman, menyambut kegiatan ini dengan rasa syukur. Berlatar pengalaman jurnalistik yang tumbuh tanpa bangku pelatihan formal, ia melihat workshop ini sebagai ladang subur bagi tumbuhnya insan literasi yang andal dan berkarakter—sebuah ikhtiar yang kini bersemi di lingkungan Kemenag Banyuwangi, diinisiasi oleh Lentera Sastra.

Dua suara menguatkan ikhtiar itu. Dr. Nurul Lutfia Rohmah dari Lentera Sastra—Ketua HISKI Komisariat Banyuwangi—membentangkan lanskap teori dan kepekaan sastra. Sementara Syafaat, Ketua Lentera Sastra, menautkan teori dengan laku: peserta tidak berhenti pada pemahaman, melainkan melangkah ke praktik. Mereka menulis, berlomba, dan karya terbaiknya kelak dibukukan—menjadi jejak yang dapat dibaca waktu.

Pelaksanaan hibrida menjahit jarak: materi disampaikan luring di MAN 3 Banyuwangi dan daring bersama siswa MTs Nurul Iman, Desa Sukojati, Kecamatan Blimbingsari. Dari ruang ke ruang, dari layar ke layar, sastra bekerja sebagai jembatan—menumbuhkan budaya literasi, mengasah kreativitas, dan meneguhkan karakter peserta didik. Di tiga paragraf, Banyuwangi belajar merangkum dunia; di sastra, ia menemukan arah.

Bimbingan Remaja Usia Nikah di UIMSYA Tekankan Kesiapan Mental, Spiritual, dan Sosial

Banyuwangi (Warta Blambangan) Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi bekerja sama dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Universitas Kyai Haji Muchtar Syafaat (UIMSYA) Blok Agung menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUS) pada Kamis, 27 November 2025. Kegiatan ini difokuskan untuk memberikan bekal komprehensif kepada mahasiswa terkait kehidupan berumah tangga, mulai dari pemilihan pasangan hingga kesiapan menjalani ikatan pernikahan dalam perspektif agama dan sosial.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Seksi Bimas Islam menyampaikan bahwa bimbingan remaja usia nikah merupakan langkah preventif sekaligus edukatif untuk menciptakan generasi keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah. “Yang paling penting adalah bagaimana bisa menentukan pilihan, mencari pasangan yang pas dan tepat untuk mewujudkan rumah tangga yang bahagia,” ujarnya. Ia menegaskan, pemahaman mendasar sebelum menikah merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan stabilitas rumah tangga. 


Acara berlangsung di lingkungan kampus UIMSYA Blokagung Kecamatan Tegalsari dan diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai program studi. Para peserta mendapatkan gambaran langsung mengenai aspek-aspek dasar kehidupan berkeluarga yang sering kali luput dari perhatian generasi muda. Materi yang disampaikan meliputi pemahaman diri, kesiapan mental dan emosional, kesehatan reproduksi, aspek hukum dan agama, keuangan rumah tangga, serta keterampilan membangun keluarga sakinah. Materi tersebut disusun secara sistematis agar mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa, khususnya yang telah memasuki usia produktif.

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Agus Baehaqi, memberikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan ini. Ia menyebut kerja sama dengan Kementerian Agama Banyuwangi merupakan langkah strategis untuk membuka wawasan mahasiswa terkait nilai-nilai fundamental kehidupan berkeluarga. “Ilmu yang mereka dapatkan adalah ilmu baru yang tidak diajarkan sepenuhnya di kampus,” ungkapnya. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar tambahan pengetahuan, tetapi pembelajaran praktis yang langsung menyentuh realitas sosial mahasiswa.

Bimbingan Remaja Usia Nikah menjadi salah satu upaya terintegrasi yang dilakukan Bimas Islam untuk meminimalisasi berbagai persoalan pernikahan yang dewasa ini sering muncul di masyarakat. Salah satu tujuan utamanya adalah mengurangi risiko pernikahan dini yang kerap berujung pada ketidakstabilan rumah tangga. Melalui pendekatan yang berbasis edukasi, peserta diarahkan untuk memahami bahwa pernikahan bukan hanya tentang kesiapan usia, tetapi juga kesiapan mental, finansial, dan spiritual.

Para fasilitator menekankan pentingnya pemahaman diri sebagai fondasi pembentukan keluarga. Peserta diajak merenungkan identitas personal, cita-cita, visi pernikahan, dan batasan pribadi. Kegiatan ini mendorong mahasiswa untuk menyadari bahwa pernikahan bukanlah upacara formal yang bersifat seremonial, melainkan perjalanan hidup jangka panjang yang membutuhkan ketahanan emosional dan karakter.

Aspek kesiapan mental dan emosional juga menjadi sorotan. Fasilitator menegaskan bahwa kecerdasan emosional dalam pernikahan lebih menentukan daripada kecerdasan akademik semata. Konflik antara pasangan, miskomunikasi, perbedaan latar belakang keluarga, hingga dinamika kehidupan pascapernikahan seringkali bukan karena kekurangan pengetahuan, tetapi ketidakmampuan mengelola emosi. Dalam sesi simulasi, peserta diberikan contoh kasus umum yang sering terjadi, mulai dari perbedaan karakter hingga persoalan manajemen waktu antara pendidikan atau karier dan kehidupan keluarga.

Yang paling heboh ketika Fasilitator dari lingkungan pondok pesantren yakni dr. Hj. Zuwidatul Husna menyampaikan kesehatan reproduksi, sebuah tema yang kerap dianggap tabu di kalangan remaja. Materi disampaikan secara ilmiah dan santun, mengedepankan nilai-nilai agama dan etika. Peserta diberikan pemahaman mengenai sistem reproduksi, risiko kehamilan usia muda, pentingnya menjaga kesehatan fisik sebelum menikah, serta dampak psikologis bila kesiapan reproduksi tidak terpenuhi. Di bagian ini, mahasiswa laki-laki maupun perempuan diajak untuk memahami bahwa tubuh adalah amanah, dan berumah tangga membutuhkan kesadaran biologis yang matang.

Aspek Hukum, Agama, dan Kewajiban Perkawinan

Selanjutnya, peserta diperkenalkan dengan aspek hukum dan agama dalam pernikahan. Narasumber dari para Kepala KUA Kecamatan menguraikan prosedur legal pernikahan, mulai dari pencatatan pernikahan, kewajiban administratif, hingga regulasi pemerintah yang mengatur pernikahan usia minimal. Di sisi agama, peserta diajak memahami maqashid syariah: tujuan-tujuan utama pernikahan dalam Islam yang berorientasi pada maslahat keluarga dan masyarakat.

Dalam sesi ini, peserta juga diberikan pemahaman mengenai tanggung jawab pasangan suami-istri, baik dari aspek nafkah, pendidikan anak, maupun menjaga keharmonisan rumah tangga. Materi disampaikan secara mendalam, mencegah kesalahpahaman yang biasa terjadi dalam hubungan suami-istri ketika masing-masing pihak tidak memahami hak dan kewajiban.

Masalah ekonomi menjadi salah satu faktor terbesar penyebab keretakan rumah tangga. Oleh karena itu, BRUN menghadirkan materi mengenai manajemen keuangan rumah tangga. Peserta diajarkan cara menyusun perencanaan keuangan sederhana, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyikapi kondisi ekonomi pasang naik maupun pasang turun. Narasumber memberikan simulasi pembukuan bulanan dalam rumah tangga, termasuk tabungan darurat, biaya kesehatan, dan pendidikan anak.

Selain itu, peserta diingatkan pentingnya keterbukaan finansial antara suami dan istri sebagai bentuk kepercayaan. Era digital memungkinkan pasangan mengelola keuangan bersama, tetapi juga membawa potensi konflik jika tidak didasari kesepakatan. Bimbingan ini mengarahkan peserta agar tidak hanya mengejar stabilitas materi, tetapi juga membangun kesadaran berbagi tanggung jawab dalam rumah tangga.

tak kalah pentingnya materi yang menitikberatkan keterampilan membangun keluarga sakinah. Konsep sakinah dijelaskan sebagai rumah tangga yang berada dalam ketenangan batin, penuh cinta, dan dijaga oleh nilai religiusitas. Peserta diberi contoh praktik komunikasi efektif, empati, dan tata cara menyelesaikan konflik tanpa menyakiti pasangan. Narasumber memaparkan strategi sederhana seperti konsep mendengarkan aktif, prioritas bersama, serta waktu berkualitas yang seimbang antara kebutuhan pribadi dan keluarga.

Para mahasiswa terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari pagi hingga sore hari, Diskusi interaktif berlangsung dinamis, mencerminkan keinginan peserta untuk memahami pernikahan secara dewasa dan realistis. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan mengenai kesiapan menikah saat studi, perbedaan budaya antar pasangan, hingga cara menghadapi keluarga besar dalam dinamika rumah tangga.

Kegiatan ini disambut positif oleh civitas akademika UIMSYA Blok Agung. Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Agus Baehaqi, menyebut BRUS bukan hanya evaluasi teori, tetapi juga pembukaan cakrawala baru bagi mahasiswa yang akan memasuki fase dewasa. Menurutnya, kampus memiliki keterbatasan dalam memberi pembelajaran praktis mengenai kehidupan keluarga, sehingga dukungan Kementerian Agama sangat berarti.

Ia berharap kegiatan ini bisa dilakukan secara berkala, mengingat kebutuhan mahasiswa akan literasi pernikahan semakin meningkat. “Para peserta yang mengikuti acara ini merasa belajar sesuatu yang berbeda, dan mereka bisa pulang dengan pemahaman baru,” ungkapnya.


Panitia pelaksana kegiatan dari Seksi Bimas Islam Kabupaten Banyuwangi menjelaskan bahwa kegiatan BRUS bukan sekadar program rutinitas. Ia merupakan bagian dari perhatian pemerintah terhadap kondisi sosial masyarakat, khususnya generasi muda. Remaja usia nikah dipandang sebagai kelompok rentan, terutama ketika pengetahuan mengenai kehidupan menikah hanya diperoleh melalui media sosial, cerita teman sebaya, atau pengalaman keluarga yang berbeda-beda.

Karenanya, kegiatan ini berusaha membumi: materi yang disampaikan tidak bertumpu pada dogma tunggal, tetapi menghubungkan nilai agama dengan realitas keseharian. Remaja diajak memahami bahwa sakinah bukanlah kondisi yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari proses, musyawarah, saling pengertian, dan kedewasaan. Ditempat terpisah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr Chaironi Hidayat menyampaikan harapan agar UIMSYA Blok Agung dan lembaga pendidikan lainnya terus berkolaborasi. Bimbingan seperti ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas generasi muda dalam membangun keluarga yang sejahtera dan produktif. Ia menegaskan, tujuan bimbingan bukan mendorong mahasiswa untuk segera menikah, tetapi memastikan mereka memahami konsekuensinya secara matang ketika waktu itu tiba.

“Jika pondasi kuat, pasangan akan lebih siap menghadapi tantangan,” ujarnya. Pesan tersebut menjadi refleksi penting bagi peserta, yang sebagian besar berada pada fase peralihan menuju dunia dewasa.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan komitmen tindak lanjut dari kedua belah pihak. Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam UIMSYA menyatakan siap memberikan ruang bagi generasi muda untuk mendapatkan bimbingan serupa di masa mendatang. Sementara Bimas Islam Banyuwangi berharap ke depan sosialisasi ini dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa dan sekolah menengah atas, mengingat dampaknya yang strategis.

Dengan semangat edukasi dan kolaborasi, Bimbingan Remaja Usia Nikah di UIMSYA Blok Agung menjadi salah satu upaya konkret membangun peradaban keluarga yang kuat. Bukan hanya menyiapkan pasangan muda dari sisi agama, tetapi juga membekali mereka dengan pengetahuan, keterampilan, dan kebijaksanaan yang diperlukan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Ini bukan sekadar program bimbingan, melainkan investasi masa depan bagi generasi Banyuwangi — generasi yang diharapkan mampu menyeimbangkan cinta, tanggung jawab, dan akhlak dalam kehidupan berumah tangga.

Festival Kebangsaan Banyuwangi 2025 Tegaskan Penguatan Toleransi dan Kohesi Sosial Melalui Representasi Budaya Multietnis

Banyuwangi (Warta Blambangan) Festival Kebangsaan 2025 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) di Gesibu Blambangan pada Sabtu (22/11/2025), menjadi ruang afirmasi keberagaman sekaligus penguatan nilai-nilai toleransi dalam masyarakat multikultural. Dengan mengangkat tema “Bangga Berbeda, Bersatu Berkarya, dengan Kreativitas dan Budaya Menuju Indonesia Maju”, kegiatan ini meneguhkan peran Banyuwangi sebagai daerah yang memiliki kohesi sosial tinggi.

Kegiatan ini memperoleh dukungan penuh dari unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Banyuwangi, antara lain Wakil Bupati, Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Kapolresta, Danlanal, Dandim, Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur, para kepala dinas, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), serta berbagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Partisipasi perwakilan beragam etnis yang hadir dengan menggunakan pakaian adat masing-masing menunjukkan representasi nyata pluralitas masyarakat Banyuwangi. Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, turut hadir dalam kegiatan tersebut. 


Rangkaian acara diawali dengan penampilan band pelajar yang membawakan lagu-lagu kebangsaan dan daerah sebagai bentuk internalisasi nilai nasionalisme pada generasi muda. Penampilan budaya dilanjutkan dengan atraksi barongsai dari komunitas Tionghoa serta tari Tanduk Majeng milik etnis Madura oleh Sanggar Lang-lang Buana, memperlihatkan ekspresi seni yang merepresentasikan keragaman identitas budaya lokal.

Secara simbolik, pembukaan festival ditandai dengan pemberian santunan kepada anak yatim oleh Wakil Bupati Banyuwangi Ir. Mujiono, M.Si., kemudian dilanjutkan dengan prosesi menyanyikan lagu Indonesia Raya serta pembacaan doa lintas tradisi—doa Islam oleh Kementerian Agama Banyuwangi dan doa adat Osing oleh tokoh masyarakat Osing. Kehadiran dua tradisi doa tersebut merefleksikan harmonisasi keagamaan dan budaya yang menjadi karakter Banyuwangi.

Dalam sambutannya, Pelaksana Tugas Kepala Bakesbangpol Banyuwangi, Drs. R. Agus Mulyono, S.Sos., menegaskan bahwa pelaksanaan Festival Kebangsaan tahun ini terfokus pada tiga kategori kegiatan utama, yaitu lomba band kebangsaan, lomba video kebangsaan untuk pelajar SMA/SMK, serta pagelaran tari dan kolaborasi kesenian lintas suku. Menurutnya, keberagaman tidak semestinya menjadi sumber perpecahan, melainkan potensi kolaborasi yang memperkuat persatuan bangsa.

Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, menyampaikan apresiasi terhadap festival ini dan menilai bahwa keberagaman budaya, agama, dan etnis yang hidup secara harmonis di Banyuwangi merupakan indikator layak bagi daerah tersebut untuk memperoleh Harmony Award.

Pelaksanaan festival berlanjut dengan penampilan band pelajar dari SDN Penganjuran serta pemutaran lima video kebangsaan terbaik. Hasil kompetisi video kreatif menempatkan SMAN 1 Genteng sebagai juara pertama, diikuti SMKS Mambaul Ulum Muncar sebagai juara kedua, SMAN 1 Glagah sebagai juara ketiga, SMAN 1 Giri sebagai juara harapan pertama, dan SMK Cordova sebagai juara harapan kedua.
Pada kategori lomba band pelajar, juara pertama diraih oleh SDN 4 Penganjuran, juara kedua oleh SMPK Alethia Genteng, juara ketiga oleh SMPN 1 Banyuwangi, juara harapan pertama oleh SMPN 1 Genteng, dan juara harapan kedua oleh SMPN 2 Banyuwangi. Trofi dan hadiah pembinaan diserahkan langsung oleh Wakil Bupati.

Wakil Bupati Banyuwangi, Ir. Mujiono, dalam arahannya meninjau festival ini sebagai wahana penguatan jati diri bangsa dan ruang interaksi sosial yang konstruktif. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan sosial di Banyuwangi sangat dipengaruhi oleh tingginya tingkat toleransi, yang berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, penurunan angka kemiskinan, serta naiknya Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Acara puncak festival menampilkan pagelaran kolaborasi Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) dengan tari-tarian yang merepresentasikan suku Mandar, Jawa, dan Madura, disertai narasi dalam bahasa daerah masing-masing serta Bahasa Inggris. Kolaborasi ini memancarkan pesan harmonisasi lintas identitas sebagai implementasi nyata semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Festival ditutup dengan Sendratari Tembang Seronce oleh Sanggar Lang-lang Buana yang mengangkat narasi perjalanan Nusantara melalui lagu “Dari Sabang sampai Merauke”. Seluruh rangkaian kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama antara pejabat daerah dan para pelaku seni yang terlibat, menandai berakhirnya festival yang berjalan dengan semarak dan partisipatif.

Omzet Pedagang Tembus Lebih 150 Juta, Pagi BCM di Taman Blambangan Serupa Pesta Cahaya

Banyuwangi (Warta Blambangan) Setiap Minggu pagi, Taman Blambangan seakan membuka lembaran baru yang lebih hidup daripada minggu sebelumnya. Pagi itu, Minggu (16/11/2025), matahari belum tinggi, tetapi denyut manusia sudah memenuhi ruang hijau di jantung kota Banyuwangi. Banyuwangi Creatif Market (BCM) kembali menggeliat—bukan sekadar sebagai pasar, melainkan perayaan kecil yang menautkan ekonomi, seni, dan kebersamaan dalam satu napas.

Jalur jogging yang mengelilingi taman tampak seperti sungai manusia yang mengalir perlahan. Ada langkah-langkah yang menyimpan semangat, ada tawa yang mengudara ringan, dan ada aroma kuliner lokal yang menari di sela-sela angin pagi. Setelah berlari atau sekadar berjalan santai, warga berhenti di deretan stand kuliner. Di sanalah dapur-dapur UMKM Banyuwangi berbicara dalam bahasa rasa—original, jujur, dan lahir dari tangan-tangan yang mencintai pekerjaannya. 


Tak jauh dari situ, anak-anak berlarian di zona permainan sehat. Taman seolah menjelma menjadi panggung kecil kebahagiaan; sorak tawa mereka memantul ke daun trembesi, menghidupkan pagi yang terus mengembang.

Lalu, musik pun menyapa. Grup musik lokal—yang menjadi roh dari BCM—mengirimkan nada-nada yang membawa semangat Banyuwangi. Ibu-ibu yang tadinya hanya menonton perlahan ikut bernyanyi, seolah pagi adalah pesta yang mengundang siapa saja untuk masuk tanpa tiket. Ada kegembiraan yang sederhana, tapi justru di situlah keindahan tumbuh: pada kebersamaan yang lahir tanpa paksaan.

Di tengah suasana yang menghangat itu, Rahmat, Ketua Komunitas BCM, menyampaikan kabar yang tak kalah menyenangkan. “Omzet para pedagang hari ini bisa menembus lebih dari 150 juta rupiah,” ujarnya. Angka itu bukan sekadar rupiah—ia adalah denyut ekonomi yang hidup, harapan yang tumbuh, dan bukti bahwa kreativitas bisa menjelma menjadi kesejahteraan.

Rahmat juga menuturkan bahwa konsistensi penyelenggaraan BCM setiap Minggu pagi ibarat pupuk bagi UMKM lokal. “Pasar kreatif ini bukan hanya menggerakkan ekonomi, tetapi juga merajut interaksi sosial. Ia menjadi ruang di mana masyarakat saling menyapa, para pelaku UMKM saling menguatkan, dan budaya kota ini terus berputik,” tutur Rahmat.

Dengan antusiasme yang semakin membesar, BCM kian kokoh berdiri sebagai panggung ekonomi kreatif Banyuwangi. Ia bukan lagi sekadar agenda mingguan, tetapi ikon baru yang membawa wajah cerah kota ini ke masa depan—masa depan yang mungkin saja dibangun dari tawa anak-anak, langkah pengunjung, aroma kuliner, dan musik sederhana di bawah langit Taman Blambangan.

Ketika Kata Menjadi Ziarah: Kapolresta Rama Samtama Putra dan Para Penyair Lentera Sastra Banyuwangi Menyulam Doa untuk Pahlawan

BANYUWANGI ( Warta Blambangan) Pagi itu, Taman Blambangan seolah menjadi ruang suci tempat kata-kata pulang kepada akar sejarahnya. Angin yang melintas membawa aroma dedaunan basah dan gema langkah para penyair yang datang bukan sekadar untuk tampil, tetapi untuk menyapa arwah para pahlawan lewat bahasa yang mereka cintai: puisi.

Di tengah ruang itu, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., berdiri memandang horizon. Ketika suaranya mulai membaca puisi “Pahlawan Itu Bernama Rakyat”, suasana seperti menghening. Kata-kata yang meluncur dari bibirnya tak lagi sekadar kalimat, tetapi semacam doa yang turun perlahan, menyentuh tanah, lalu menjalar ke hati setiap orang yang hadir. 


Acara bertajuk “Puisi Lentera Sastra untuk Pahlawan”—buah kolaborasi antara Lentera Sastra Banyuwangi, Dewan Kesenian Blambangan (DKB), dan Banyuwangi Creatif Market (BCM)—menjadi semacam ziarah batin. Para penyair datang membawa suara masing-masing, tetapi mereka menyisihkan ego dan berdiri dalam satu barisan: barisan penghormatan.

Usai membacakan puisi, Kapolresta menerima sebuah buku antologi bertajuk “Hebat Bersama Umat”, karya para penulis Lentera Sastra. Serah terima dilakukan oleh Ketua Lentera Sastra, Syafaat, dalam keheningan yang sarat makna—seperti dua penjaga yang saling menyerahkan cahaya kepada penjaga lainnya.

Ketua DKB Hasan Basri memecah keheningan berikutnya dengan puisi tentang pasukan ALRI 0032, yang gugur di Pantai Boom. Suaranya dalam, seperti mengantar kembali para syuhada ke tanah yang dulu mereka bela dengan darah. Puisi itu bukan lagi cerita; ia berubah menjadi gelombang laut yang menghantam bibir pantai, membawa nama-nama yang lama tertinggal di buku sejarah.

Dari Lentera Sastra Banyuwangi tampil para penutur kata:

Syafaat, sang penjaga api sastra;

Uswatun Hasanah, kepala madrasah yang suaranya lembut seperti ayat lama; Herny Niilawati, membawa getar keteguhan seorang pendidik;

Mujikan, yang puisinya mengalir seperti sungai kecil di lereng desa; dan Nurul Ludfia Rahmah, penyair muda yang membawa cahaya HISKI dalam geraknya. Hadir pula Faiz Abadi dan Dalilah, yang menambah warna senandung siang itu.

Dari panggung DKB, Muttafakurrohmah, Fatah Yasin Nor, dan Nani Asiany tampil seperti tiga musim yang berbeda: satu menghadirkan teduh, satu lainnya angin perubahan, dan satu lagi hujan yang menurunkan rindu pada sejarah.

Syafaat, dalam sepenggal jeda, mengatakan bahwa puisi bukan sekadar pertunjukan. “Ia adalah pelita di pekat malam bangsa,” ucapnya—sebuah kalimat yang jatuh tepat seperti hujan pertama di musim kemarau.

Gelaran ini merupakan bagian dari Banyuwangi Creatif Market, namun sore itu acara seolah melepaskan identitas duniawinya. Ia menjadi semacam srawung spiritual, tempat sejarah, rakyat, dan sastra bertemu dalam satu titik yang sama: penghormatan.

Para juara Liga Puisi 2025 turut menghidupkan ruang. Nuhbatul Fakhiroh dan Azkia Kiska dari MTsN 1 Banyuwangi tampil dalam duet yang lembut namun tegas—seperti guru dan murid yang berbicara kepada masa depan. Lalu Tirta Baiti Jannah dari jenjang SLTA membacakan puisi “Diponegoro” karya Chairil Anwar, dan suaranya menjadi pedang yang menebas sunyi, mengingatkan bahwa perjuangan selalu menuntut keberanian.

Ketika acara usai, angin kembali bergerak pelan, seolah membawa semua puisi itu terbang ke langit Banyuwangi. Di sana, kata-kata berubah menjadi lampu kecil yang berpendar—menjadi lentera yang menuntun bangsa untuk tidak melupakan siapa yang membuat mereka berdiri hari ini: para pahlawan, dan rakyat yang terus berjuang tanpa henti.

Insan Madrasah Guncang Panggung Liga Puisi 2025: Dominasi Total, Kemenag Banyuwangi Torehkan Sejarah Sastra!

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Dentuman sastra menggema di panggung Liga Puisi Jawa Pos Radar Banyuwangi 2025! Dalam ajang paling bergengsi bagi para penikmat kata dan penyalur rasa itu, insan madrasah di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyuwangi tampil bagai meteor yang menyambar langit kompetisi. Hasil akhir penjurian menegaskan satu fakta monumental: hampir seluruh juara pertama disapu bersih oleh peserta madrasah.

Keberhasilan luar biasa ini bukan sekadar kemenangan dalam lomba baca puisi—ia adalah penanda kebangkitan dunia literasi madrasah. Di saat sebagian lembaga pendidikan masih bergulat dengan tantangan era digital, madrasah justru melesat sebagai kawah candradimuka lahirnya generasi literat, estetis, dan religius.

Pada kategori Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar (MI/SD), dominasi madrasah nyaris absolut. Dari lima finalis, empat merupakan duta madrasah yang melangkah dengan percaya diri. Panggung juara pertama direbut dengan gemilang oleh Aura Latisha Ramadhani dari MIN 1 Banyuwangi, disusul Azka Dzakiyatus Shaleha (MI Darunnajah 2 Banyuwangi), Avilla Fikratud Putri Yuwono, dan Refli Ahsan Mubaroqi (MI Islamiyah Rogojampi). Deretan nama ini bukan sekadar peserta lomba—mereka adalah bukti bahwa madrasah telah menjelma menjadi laboratorium rasa dan ruang kelahiran penyair-penyair masa depan. 


Sementara itu, di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), kejayaan madrasah kembali membahana. Azkia Kiska Al Kholid dari MTsN 1 Banyuwangi tampil memukau dan berhasil menggondol juara pertama. Dengan teknik deklamasi yang matang, diksi tajam, dan penghayatan mendalam, ia menegaskan bahwa sastra bukan sekadar pelajaran tambahan—melainkan napas yang hidup di lingkungan madrasah.

Tidak berhenti di situ, keunggulan madrasah juga merembet ke ranah tenaga pendidik. Nuhbatul Fakhiroh, guru MTsN 1 Banyuwangi, yang tahun lalu hanya berhenti di posisi juara dua, kini berhasil menuntaskan dahaga kemenangan dengan menjadi juara pertama. Ia membuktikan bahwa guru madrasah bukan hanya pengajar, tapi juga pelaku dan penggerak kebudayaan.

Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya. Dalam keterangannya, ia menyebut kemenangan ini sebagai buah dari kerja panjang dan dedikasi luar biasa.

> “Prestasi ini adalah gema dari kesungguhan para guru dan pembimbing madrasah dalam menanamkan nilai-nilai literasi dan kecintaan terhadap sastra. Ini bukan sekadar lomba, tetapi tonggak peradaban baru di dunia pendidikan madrasah,” tegasnya penuh semangat.

Sementara itu, Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, yang turut hadir sebagai pengamat, menyebut dominasi madrasah dalam Liga Puisi 2025 sebagai hasil dari proses pembinaan yang matang dan berkelanjutan.

> “Beberapa madrasah telah lama menjalin kerja sama dengan Lentera Sastra Banyuwangi dalam pelatihan baca puisi dan penulisan kreatif. Kami ingin menjadikan madrasah sebagai episentrum sastra di Banyuwangi—tempat di mana iman, ilmu, dan imajinasi berpadu dalam harmoni,” ujarnya.

Kompetisi tahun ini tak hanya diikuti oleh sekolah dan madrasah Banyuwangi, tetapi juga oleh peserta lintas daerah, termasuk santri dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Persaingan yang kian ketat justru menyalakan bara semangat baru bagi peserta madrasah, yang tampil bukan sekadar membaca puisi, tetapi menghidupkan makna dan mengguncang nurani penonton.

Ajang Liga Puisi Radar Banyuwangi 2025 pun akhirnya menjadi panggung pembuktian: bahwa madrasah bukan hanya benteng nilai-nilai religius, tetapi juga mercusuar kebudayaan dan peradaban literasi.

Dengan torehan prestasi ini, madrasah di bawah Kemenag Banyuwangi menegaskan diri sebagai kekuatan baru dalam dunia sastra Indonesia. Mereka bukan hanya mencetak hafidz dan ulama, tapi juga penyair, seniman kata, dan penggerak kebudayaan bangsa.

Sebuah babak baru telah dimulai—babak di mana madrasah menulis sejarahnya sendiri dengan tinta puisi dan cahaya keilmuan.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger