Pages

Tampilkan postingan dengan label Kabar dan Wawasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar dan Wawasan. Tampilkan semua postingan

Lentera Sastra dan Panitia HAB Menyerahkan Antologi Pantigraf HAB ke-80 Kemenag Banyuwangi

Banyuwangi (Lensa Banyuwangi) —Senin pagi, 2 Februari 2026, halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menjelma ruang perjumpaan antara kata dan makna, dalam rangkaian Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama, sebuah buku diserahkan, bukan sekadar kumpulan halaman, melainkan jejak imajinasi dan ikhtiar literasi para siswa madrasah.

Antologi pantigraf berjudul Adikku yang Hilang Itu Bernama Vieux Carré resmi diserahkan kepada Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Buku ini memuat 180 judul pantigraf karya siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) se-Kabupaten Banyuwangi, cerita-cerita sangat pendek yang padat, bening, dan menyimpan gema pengalaman batin remaja madrasah.


Antologi tersebut merupakan buah dari pelatihan pantigraf yang diprakarsai Lentera Sastra Banyuwangi di bawah kepemimpinan Syafaat. Dalam prosesnya, siswa tidak hanya belajar merangkai kata, tetapi juga menata rasa, menimbang makna, dan menyadari bahwa menulis adalah cara lain untuk mengenali diri dan dunia.

Buku antologi diserahkan oleh Ketua Panitia Hari Amal Bhakti Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Fathurrahman, dan diterima langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat.

Ketua Lentera Sastra (Lensa) Banyuwangi, Syafaat menegaskan bahwa antologi ini adalah penanda penting HAB ke-80, sebuah penanda yang hidup. “Buku ini bukan hanya arsip sastra, melainkan bukti bahwa literasi di madrasah tumbuh sebagai proses, bukan sekadar hasil. Yang menguatkan, antologi ini dilengkapi epilog dari penggagas pantigraf Indonesia, Dr. Tengsoe Tjahjono Cahyono, yang memberi penguatan akademik sekaligus apresiasi terhadap kreativitas siswa,” tuturnya.

Dr. Chaironi Hidayat menyambut hangat kehadiran antologi tersebut. Ia mengapresiasi Lentera Sastra Banyuwangi yang telah membuka ruang kreatif bagi siswa MTs dan MA melalui sastra. Menurutnya, kegiatan literasi seperti ini sejalan dengan visi Kementerian Agama dalam membangun pendidikan yang utuh, tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kaya nilai, empati, dan imajinasi.

Antologi pantigraf ini diterbitkan melalui kolaborasi antara Lentera Sastra Banyuwangi, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, dan Dinas Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyuwangi. Kerja sama tersebut diharapkan memperkuat ekosistem literasi madrasah sekaligus menumbuhkan kecintaan siswa terhadap dunia kepenulisan sejak dini.

Penyerahan buku ini menjadi salah satu rangkaian bermakna dalam peringatan Hari Amal Bhakti ke-80 Kementerian Agama. Ia menegaskan bahwa madrasah Banyuwangi tidak hanya melahirkan prestasi akademik, tetapi juga karya sastra, yang layak dibaca, dirawat, dan dikenang.

Ketua HAB, Fathurrahman menyampaikan harapannya agar pada peringatan HAB di tahun-tahun mendatang, karya siswa kembali hadir dalam bentuk buku. “Agar setiap perayaan tidak hanya diingat lewat seremoni, tetapi juga melalui tulisan yang lahir dari proses belajar dan keberanian berkarya,” ujarnya.

Sukses Gelar Festival Al Banjari Se-Jawa Timur, MA Al Amiriyyah Padukan Semangat Harlah Jam'iyyah Hadrah dan Satu Dekade OSSAMAA

Banyuwangi, 30 Januari 2026 – Kemeriahan dan syiar Islam melalui seni shalawat bergema di MA Al Amiriyyah , Pondok Pesantren Darussalam Blokagung. Madrasah yang dikenal dengan prestasi akademik dan event bergengsinya ini sukses menyelenggarakan Festival Al-Banjari Se-Jawa Timur, sebagai pembuka rangkaian perayaan Harlah Hadrah dan menyemarakkan Satu Dekade Olimpiade Sains Seni dan Agama MA Al Amiriyyah  (OSSAMAA).

Festival yang digelar pad
a Kamis (29/01) ini menjadi daya tarik tersendiri dalam gelaran OSSAMAA ke-10. Menarik perhatian ratusan penonton, event ini berhasil mengumpulkan puluhan grup shalawat terbaik dari berbagai penjuru Jawa Timur, seperti Tuban, Malang, Jember dan Probolinggo. Antusiasme peserta luar biasa, menunjukkan besarnya minat generasi muda terhadap seni musik Islami bertajuk hadrah Al Banjari.

“Festival Al-Banjari tahun ini istimewa karena memiliki dua makna. Ia adalah wujud kecintaan kita pada Rasulullah SAW dalam rangka Harlah Hadrah MA Al Amiriyyah yakni Syifaul Qolbi dan Farha Syafaah, sekaligus menjadi bukti eksistensi dan perkembangan OSSAMAA selama satu dekade sebagai ajang yang tidak hanya menampung bakat akademik, tetapi juga seni dan spiritual,” ujar Ustaz M. Reza Pahlevi Fauzi, Ketua Panitia Festival Al Banjari.

Kepala MA Al Amiriyyah, Ahmad Fauzan, S.Pd.I., M.Pd. menambahkan bahwa kegiatan ini sejalan dengan visi pendidikan pesantren yang integral. “Kami tidak hanya membangun kecerdasan intelektual melalui lomba-lomba akademik di OSSAMAA, tetapi juga mengasah kecerdasan emosional dan spiritual melalui seni shalawat. Ini adalah pendidikan karakter yang nyata,” tuturnya.

Dewan juri yang terdiri dari ahli seni musik Hadrah Al Banjari memberikan penilaian yang ketat pada beberapa aspek, seperti harmonisasi vokal, terbang, serta adab syair. Setelah melalui kompetisi yang berlangsung sejak pagi hingga malam hari, terpilih empat grup sebagai pemenang utama:

1.     Juara I: Grup Shalawat El Khoir dari MA Al Ma'arif  Singosari, Malang

2.     Juara II: Grup Shalawat Bilqis Islamic Center, Tuban

3.     Juara III: Grup Shalawat Mustaq Jiddan, Banyuwangi

4.     Juara IV: Grub Shalawat An Nahdlah, Probolinggo

Para pemenang berhak mendapatkan tropi, sertifikat, dan uang pembinaan. Namun, lebih dari sekadar kemenangan, suasana persaudaraan dan saling menghargai antar-peserta menjadi nilai yang paling menonjol.

“Ini pengalaman pertama kami ke Banyuwangi. Kami sangat terkesan dengan keramahan panitia dan semangat pesaing lainnya. Lomba di sini sangat profesional, namun nuansa ukhuwah-nya sangat kuat,” kata Ahmad, salah satu peserta.

Festival Al-Banjari Se-Jawa Timur ini menjadi pembuka rangkaian OSSAMAA X dengan sangat khidmat dan semarak. Keberhasilannya menjadi penanda bahwa MA Al Amiriyyah  tidak hanya konsisten dalam menggelar event kompetitif berkualitas tinggi, tetapi juga mampu menjadi garda depan dalam melestarikan dan mengembangkan seni budaya Islami di kalangan generasi muda, seiring dengan peringatan milad dan pencapaian satu dekade OSSAMAA yang membanggakan.

Kontributor: Muhammad Fauzi Al Hamidi

Lakon Ekalaya Hidupkan Perayaan Milad ke-42 MAN 2 Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambanga) Suasana Milad ke-42 MAN 2 Banyuwangi kian semarak dengan hadirnya pertunjukan seni tradisi wayang kulit. Pentas budaya yang disuguhkan oleh Karawitan Langen Budaya MAN 2 Banyuwangi ini menjadi salah satu agenda unggulan yang menarik antusiasme warga madrasah.

Dalam pagelaran tersebut, lakon Ekalaya dipilih sebagai cerita utama. Lakon yang bersumber dari wiracarita Mahabharata ini mengisahkan sosok Ekalaya atau Ekalawya, seorang pemburu dari lapisan masyarakat bawah yang memiliki kegigihan luar biasa dalam mempelajari ilmu memanah. Meskipun ditolak berguru oleh Resi Drona akibat perbedaan status sosial, Ekalaya tetap menempuh jalan belajar dengan caranya sendiri. Ia menjadikan patung Drona sebagai perlambang guru dan berlatih dengan penuh kesungguhan hingga kemampuannya melampaui Arjuna. Kisah tersebut mengandung pesan kuat tentang keuletan, ketabahan, serta perjuangan melawan batasan sosial.

Pagelaran wayang kulit ini dikendalikan oleh Davin Labhan, siswa kelas XI IPS MAN 2 Banyuwangi, yang dipercaya tampil sebagai dalang. Harmoni pertunjukan semakin terasa melalui iringan gamelan para pengrawit yang terdiri dari siswa dan alumni. Kehadiran Syifa Hidayat, alumni MAN 2 Banyuwangi, turut memperkaya kualitas musikal dan artistik pertunjukan. 


Kepala MAN 2 Banyuwangi, Syaeroji, menyampaikan bahwa seni karawitan merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang terus dikembangkan sebagai bagian dari pendidikan karakter. Ia menilai seni tradisi memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai luhur kepada peserta didik.

“Melalui seni karawitan dan wayang kulit, siswa belajar tentang disiplin, kebersamaan, kepekaan rasa, serta penghargaan terhadap warisan budaya,” ujarnya.

Momentum Milad ke-42 ini diharapkan menjadi penguat komitmen MAN 2 Banyuwangi dalam menumbuhkan kreativitas siswa, mempererat hubungan antara madrasah dan alumni, serta menjaga kesinambungan seni dan budaya sebagai bagian dari pendidikan yang berkarakter)  .

Dirgahayu ke-21 JRKBB, Rembug IX Digelar di Paltuding Ijen


Banyuwangi – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-21 Jaringan Radio Komunitas Broadcast Banyuwangi (JRKBB) dirayakan dengan cara sederhana namun penuh makna melalui kegiatan Dirgahayu dan Rembug IX JRKBB di kawasan Paltuding Ijen, Jumat (23/1/2026).

Di tengah udara dingin dan kabut pegunungan Ijen, perayaan ditandai dengan tasyakuran nasi kuning, polo pendem, serta aneka kudapan donasi dari Humas Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) Pusat, Indah CC. Suasana hangat semakin terasa saat peserta menikmati kopi dan teh panas bersama, menjadikan peringatan ini penuh keakraban dan kebersamaan.

JRKBB sendiri dideklarasikan pada 17 Januari 2005 oleh 17 pimpinan radio komunitas di Gedung Juang ’45 Banyuwangi. Dalam perjalanannya, JRKBB terus berperan sebagai simpul komunikasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat berbasis siaran komunitas di Bumi Blambangan.

Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh dan penggiat radio komunitas, di antaranya Kabag Humas Pemda Banyuwangi Drs. Abdullah, Ketua JRKI Wilayah Jawa Timur, serta Founder JRK untuk Demokrasi. Kehadiran mereka memperkuat posisi JRKBB sebagai bagian penting dari ekosistem penyiaran komunitas di daerah.

Sebanyak 13 peserta dari unsur radio komunitas dan Perkumpulan Komunitas Gotong Royong ’45 mengikuti rangkaian acara sejak pagi. Usai tiba menggunakan armada wisata DAMRI, peserta langsung menggelar penyegaran kepengurusan, penyusunan Garis Besar Haluan Organisasi (GBHO), serta perumusan program kerja yang dikemas dalam Rembug IX JRKBB.

Hasil rembug menetapkan Bambang Irawan dari Brit FM Gendoh–Sempu kembali terpilih sebagai Ketua JRKBB untuk periode kedua masa bakti 2026–2027. Husen dari Planet FM Wongsorejo, yang sebelumnya menjabat sekretaris, dipercaya naik sebagai Wakil Ketua. Posisi Sekretaris diemban oleh Qurrota A’Yunin dari Podcast Sinergi Gotong Royong ’45.

Sementara itu, susunan Presidium JRKBB diisi oleh Hariyanto (Bisma FM Gambiran), Sutiyon (At Rohman FM Srono), dan Nurhadi Windoyo (Studio Aura Lentera).

Usai Isoma dan jeda ibadah salat Jumat, forum kembali dibuka dengan penyampaian usulan program kerja. Sejumlah agenda strategis disepakati, antara lain pelantikan pengurus baru bertepatan dengan Hari Pers Nasional di Kedai Makmoer, penguatan program talkshow dan reportase, sinergi dengan media online, kepedulian terhadap isu disabilitas dan kebencanaan, serta agenda kebersamaan berupa mlaku-mlaku siaran ke Alas Purwo.

Refleksi dan tasyakuran HUT ke-21 ini juga diisi dengan pelatihan jurnalistik oleh Siswanto, jurnalis yang aktif di televisi swasta nasional dan pengelola media lokal berbasis desa Pojok Etan.com. Materi yang disampaikan meliputi dasar jurnalistik, etika media, hingga pentingnya mengangkat kehidupan dusun dan desa melalui radio komunitas.

Selain itu, peserta mendapatkan paparan praktik baik pengelolaan radio komunitas serta pengenalan aplikasi GATA, yang disampaikan oleh Ketua Panitia Andre Waluyo.
Andre Waluyo yang juga founder aplikasi GATA, menekankan pentingnya setiap awak radio memiliki keyword bisnis atau “kartu nama verbal” sebagai bagian dari strategi branding dan profiling media radio.

Kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta, seperti Haderi, Mislatin Rehana, Abdul Mun’im, Elly, dan lainnya. Dengan biaya terjangkau—cukup Rp45 ribu untuk perjalanan pulang-pergi DAMRI dan retribusi Pokdarwis Tamansari—mereka mengaku bahagia karena bisa merayakan ulang tahun JRKBB sekaligus memperkuat ikatan persaudaraan di dunia radio komunitas.

Dirgahayu ke-21 JRKBB menjadi penegas bahwa radio komunitas tetap hidup, bertumbuh, dan relevan sebagai media gotong royong, kesabaran, serta keikhlasan dalam melayani masyarakat Banyuwangi.(AW)



Pemkab Banyuwangi Lakukan Penyegaran Birokrasi, Sejumlah Kepala Dinas Resmi Berganti

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melakukan penyegaran struktur organisasi melalui rotasi dan mutasi jabatan Aparatur Sipil Negara (ASN) pada posisi pimpinan tinggi pratama. Kebijakan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya peningkatan kinerja pemerintahan dan optimalisasi pelayanan publik.

Pelantikan pejabat hasil mutasi tersebut berlangsung di Halaman Kantor Dinas Sosial Kabupaten Banyuwangi, Jumat (23/1/2026). Prosesi dipimpin langsung oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.

Dalam rotasi kali ini, sejumlah posisi strategis di lingkungan Pemkab Banyuwangi mengalami pergeseran, mulai dari kepala dinas, kepala badan, sekretaris DPRD, hingga staf ahli. Mutasi ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antarperangkat daerah dalam mendukung agenda pembangunan daerah tahun 2026.



Adapun pejabat yang dilantik dan menempati jabatan baru antara lain:


* Choiril Ustadi Yudawanto sebagai Kepala Inspektorat Kabupaten Banyuwangi

* Suyatno Wastopo Tondo Wicaksono sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Banyuwangi

* Edy Supriyono sebagai Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Banyuwangi

* Budi Santoso sebagai Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Banyuwangi

* Henik Setyorini sebagai Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Banyuwangi

* Abdul Latip sebagai Sekretaris DPRD Banyuwangi

* Yoppy Bayu Irawan sebagai Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Banyuwangi

* Danang Hartanto sebagai Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi

* Wawan Yadmadi sebagai Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Perindustrian Banyuwangi

* Cahyanto Hendry Wahyudi sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya, Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman Banyuwangi

* Suratno sebagai Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Banyuwangi

* Partana sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Banyuwangi

* Alief Rachman Kartiono sebagai Staf Ahli Bidang Hukum dan Pemerintahan Banyuwangi

* Samsudin sebagai Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Banyuwangi

Melalui rotasi jabatan ini, Pemkab Banyuwangi menegaskan komitmennya dalam membangun birokrasi yang adaptif, profesional, serta mampu menjawab tantangan pembangunan daerah yang semakin dinamis.

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari evaluasi kinerja aparatur, sekaligus upaya menjaga ritme kerja organisasi agar tetap efektif dan selaras dengan kebutuhan masyarakat Banyuwangi. (***)

Gerak Cepat Polresta Banyuwangi Tangani Penemuan Bayi di Desa Olehsari

Banyuwangi (Warta Blambangan) Polresta Banyuwangi bergerak cepat menindaklanjuti laporan masyarakat terkait penemuan seorang bayi laki-laki di teras rumah warga Dusun Krajan, Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Rabu (14/1/2026)

Kapolsek Glagah AKP Edi Jaka Supa’at, S.H. menjelaskan bahwa kejadian tersebut pertama kali diketahui sekitar pukul 22.00 WIB di rumah milik Sutikno (70), seorang pensiunan anggota Polri. Bayi ditemukan berada di dalam sebuah kardus Indomie yang diletakkan di lantai teras rumah.

Kronologis kejadian bermula saat saksi Ferdy Tri Ananta (18) pulang ke rumah dan melihat sebuah kardus di teras. Awalnya tidak dicurigai, namun saat saksi duduk di teras untuk mengerjakan tugas sekolah, terdengar suara tangisan bayi dari dalam kardus. Mengetahui hal tersebut, saksi segera memberitahukan kepada orang tuanya.

Pelapor kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Glagah. Sekira pukul 22.08 WIB, petugas Polsek Glagah bersama bidan dari Klinik Amanah Desa Olehsari mendatangi lokasi kejadian. Dari hasil pemeriksaan awal di tempat kejadian perkara, ditemukan seorang bayi laki-laki dengan berat badan sekitar 3,2 kilogram, lengkap dengan perlengkapan bayi serta secarik surat wasiat.v


Untuk mendapatkan penanganan medis, bayi tersebut segera dibawa ke Klinik Amanah Desa Olehsari dan selanjutnya dirujuk ke RSUD Blambangan Banyuwangi. Saat ini bayi dalam kondisi sehat dan masih menjalani perawatan medis.

Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Dr. Rofiq Ripto Himawan, S.I.K., S.H., M.H. menyampaikan apresiasi atas respons cepat jajaran Polsek Glagah serta kepedulian masyarakat yang segera melaporkan kejadian tersebut.

“Polri hadir untuk memberikan perlindungan, khususnya terhadap anak sebagai kelompok rentan. Kami memastikan bayi tersebut mendapatkan penanganan medis yang layak dan aman, serta menjamin proses hukum berjalan secara profesional dan humanis,” tegas Kapolresta Banyuwangi.

Lebih lanjut, Kapolresta Banyuwangi menambahkan bahwa pihaknya telah memerintahkan Satreskrim Polresta Banyuwangi untuk melakukan penyelidikan secara menyeluruh guna mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas penelantaran bayi tersebut.

“Kami akan mendalami kasus ini, termasuk menelusuri identitas orang tua bayi serta berkoordinasi dengan instansi terkait guna memastikan perlindungan dan masa depan bayi tersebut,” imbuhnya.

Saat ini penanganan perkara dilakukan oleh Unit Reskrim Polsek Glagah bersama Satreskrim Polresta Banyuwangi. Kepolisian mengimbau masyarakat agar tidak ragu melapor kepada pihak kepolisian apabila mengetahui atau menemukan kejadian serupa demi keselamatan dan perlindungan anak.(***)

Kemangi Award Warnai HAB ke-80 Kemenag, Dedikasi ASN dan Madrasah Banyuwangi Diganjar Apresiasi

Banyuwangi (Warta Blambangan);Pagi itu, aula Madrasah Aliyah Negeri 1 Banyuwangi tidak sekadar menjadi ruang pertemuan. Ia menjelma ladang makna, tempat penghargaan ditanam dan pengabdian dipanen. Dalam suasana Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar Kemangi Award, Senin (12/1/2026).

Acara dibuka dengan lantunan gerak dan rasa dari anak-anak madrasah inklusi. Di wajah mereka, tersimpan pesan yang jujur: bahwa pendidikan adalah hak semua insan, dan keberagaman bukan alasan untuk menepi. Persembahan itu menjadi pengingat bahwa tugas Kementerian Agama bukan hanya mengatur, tetapi juga merawat.


Ketua Panitia Hari Amal Bakti ke-80 Kemenag Banyuwangi, Dr. Fathurrahman, menyampaikan bahwa tahun ini sebanyak 30 penghargaan dianugerahkan kepada aparatur sipil negara dan keluarga besar madrasah. Mereka adalah nama-nama yang sepanjang 2025 memilih bekerja dalam sunyi, menunaikan tanggung jawab dengan setia, dan menjaga martabat pengabdian.

“Penghargaan ini bukan sekadar penilaian kinerja, melainkan ungkapan terima kasih atas ketekunan, integritas, dan kesungguhan dalam melayani,” tuturnya.

Hadir dalam acara tersebut para ASN, insan madrasah, tokoh organisasi keagamaan, serta mitra kerja Kementerian Agama. Dari Majelis Ulama Indonesia, Forum Kerukunan Umat Beragama, Badan Wakaf Indonesia, hingga Bank Syariah Indonesia, semuanya menyatu dalam satu ruang, menandai bahwa pelayanan keagamaan adalah kerja bersama.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa Kemangi Award kini memasuki pelaksanaan ketiga. Ia menuturkan, jejak prestasi insan Kemenag Banyuwangi tidak berhenti di batas administratif, tetapi melampaui daerah, menembus tingkat nasional bahkan internasional, khususnya melalui capaian peserta didik madrasah.

“Ketika anak-anak madrasah mampu berdiri sejajar di panggung dunia, di sanalah kita tahu bahwa pengabdian tidak pernah sia-sia,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung ikhtiar penguatan integritas melalui pembinaan berkelanjutan, termasuk kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi. Baginya, integritas adalah fondasi sunyi yang menentukan kokohnya kepercayaan publik.

Menutup sambutannya, Chaironi Hidayat menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Banyuwangi apabila pelayanan yang diberikan belum sepenuhnya sempurna. Ia menegaskan bahwa di usia delapan dekade Kementerian Agama, seluruh jajaran terus berikhtiar menghadirkan layanan yang tidak hanya tertib secara administrasi, tetapi juga adil, manusiawi, dan berjiwa pengabdian.

Konfercab XIV NU Banyuwangi Berjalan Hingga Subuh, KH Fachrudin Manan Resmi Jadi Rais Syuriyah

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Konferensi Cabang (Konfercab) XVI Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Banyuwangi masa khidmat 2025–2030 yang digelar di Universitas Kiai Haji Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Kampus Blokagung, Kecamatan Tegalsari, berlangsung sukses dan khidmat. Konfercab yang dilaksanakan selama dua hari, Rabu–Kamis, 7–8 Januari 2026, ini menetapkan KH Fachrudin Manan, pengasuh Pondok Pesantren Minhajut Thullab Parasgempal, Desa Sumberas, Kecamatan Muncar, sebagai Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi.

Konfercab yang dimulai Rabu (7/1/2026) pukul 13.00 WIB tersebut berakhir menjelang Salat Subuh, Kamis (8/1/2026). Proses pemilihan Rais Syuriyah sempat diwarnai penghitungan suara ulang sebanyak beberapa kali akibat perbedaan hasil pada penghitungan awal. Setelah dilakukan penghitungan ulang secara cermat dan transparan, forum akhirnya mencapai kesepakatan. 


Selain pemilihan Rais Syuriyah, Konfercab XVI NU Banyuwangi juga membahas dan menetapkan tata tertib pemilihan Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi. Tata tertib tersebut disepakati forum sekitar pukul 18.00 WIB setelah melalui pembahasan yang cukup dinamis.

Ketua Panitia Konfercab XVI NU Banyuwangi, Moh. Karyono, menjelaskan bahwa terdapat dua persyaratan utama bagi bakal calon Ketua Tanfidziyah atau Ketua Harian PCNU Banyuwangi. “Syarat pertama adalah wajib memiliki sertifikat Pendidikan Menengah Kepemimpinan (PMK) NU. Hal ini sesuai dengan AD/ART NU karena Jawa Timur masuk klaster A,” ujarnya.

Selain syarat PMK, bakal calon juga harus mengantongi dukungan minimal 30 persen dari total pemilih. Dengan jumlah 25 Majelis Wakil Cabang (MWC) NU se-Kabupaten Banyuwangi, maka bakal calon harus mendapatkan sedikitnya 9 dukungan MWC untuk dapat ditetapkan sebagai calon.

Dalam dinamika penjaringan bakal calon Ketua Tanfidziyah, sempat mengemuka sejumlah nama tokoh NU, di antaranya Haji Arif Rivai dan Achmad Turmudi, Kepala Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu. Namun, mengerucutnya nama-nama calon sepenuhnya mengikuti ketentuan tata tertib yang telah disepakati bersama.

Konfercab XVI NU Banyuwangi diikuti oleh 25 MWC NU yang memiliki hak suara dan diharapkan mampu menghasilkan kepengurusan PCNU Banyuwangi yang solid, amanah, serta mampu memperkuat peran NU dalam bidang keagamaan, sosial, dan kebangsaan di Kabupaten Banyuwangi untuk lima tahun ke depan.

Kopi 11 Banyuwangi Jadi Daya Tarik Stan MTsN 11 pada Bazar UMKM HAB ke-80 Kemenag

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Semarak peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia di Kabupaten Banyuwangi turut diwarnai oleh kehadiran bazar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang digelar pada Minggu, 4 Januari 2026. Salah satu peserta yang menarik perhatian pengunjung adalah stan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 11 Banyuwangi.

Sebagai Madrasah Tsanawiyah Negeri pertama yang berdiri di wilayah Kalibaru, MTsN 11 Banyuwangi menghadirkan produk unggulan bertajuk “Kopi 11 Banyuwangi”. Produk ini merupakan hasil pengolahan kopi lokal yang dikembangkan melalui pembinaan madrasah sebagai bagian dari penguatan jiwa kewirausahaan.

Beragam varian kopi ditampilkan, di antaranya kopi robusta Kalibaru, kopi luwak robusta, serta kopi lanang. Ketiga jenis kopi tersebut dikenal memiliki karakter rasa yang khas, mencerminkan kualitas kopi Kalibaru yang telah lama menjadi salah satu ikon perkebunan di Banyuwangi.


Kepala MTsN 11 Banyuwangi, Wahyudi Eko Santoso, menjelaskan bahwa partisipasi dalam bazar UMKM ini tidak sekadar untuk memeriahkan HAB ke-80, tetapi juga sebagai media promosi potensi lokal sekaligus sarana pembelajaran kewirausahaan bagi warga madrasah.

“Melalui Kopi 11 Banyuwangi, kami ingin menumbuhkan semangat kreatif dan mandiri, serta mengenalkan produk lokal kepada masyarakat yang lebih luas,” ungkapnya.

Antusiasme pengunjung terlihat dari ramainya stan MTsN 11 Banyuwangi yang disinggahi peserta bazar. Banyak pengunjung tertarik untuk mengenal lebih dekat sekaligus mencicipi kopi khas Kalibaru yang ditawarkan.

Kegiatan bazar UMKM ini menjadi salah satu wujud nyata sinergi Kementerian Agama dengan satuan pendidikan dalam mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat, sejalan dengan semangat HAB ke-80 Kemenag RI.

Guru MTsN 8 Banyuwangi Menyuguhkan Gandrung Lanang di Panggung Kerukunan HAB ke-80 Kemenag RI

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Minggu, 4 Januari 2025, berdenyut dalam irama langkah dan senyum. Ribuan kaki melangkah ringan dalam Gebyar Jalan Sehat dan Pameran UMKM, rangkaian Bazar UMKM Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia. Di antara hiruk-pikuk kebersamaan itu, sebuah tarian bangkit dari ingatan sejarah, menari bukan sekadar untuk ditonton, tetapi untuk diingat.

Adalah Gilang Ilham, guru seni budaya MTsN 8 Banyuwangi di Kecamatan Genteng, yang menghadirkan Tari Gandrung Lanang ke hadapan publik. Geraknya luwes, tatapannya tajam namun lembut, seolah mengajak penonton menelusuri lorong waktu, kembali ke masa ketika Gandrung pertama kali ditarikan oleh lelaki—sebelum zaman mengubah wajahnya.

Di tengah tema besar kegiatan, “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, Gandrung Lanang tampil sebagai simbol: bahwa kerukunan tidak hanya dirawat lewat kata dan seremonial, tetapi juga melalui ingatan budaya yang dijaga dengan penuh hormat. ASN Kementerian Agama, pelaku UMKM, insan madrasah, dan masyarakat umum larut dalam pesona tarian yang bukan sekadar hiburan, melainkan pelajaran sunyi tentang asal-usul. 


Gilang Ilham tidak sekadar menari; ia berkisah dengan tubuhnya. Setiap gerak adalah pengingat bahwa Gandrung Lanang merupakan akar dari pohon kebudayaan Banyuwangi. “Ini bukan nostalgia,” seolah demikian pesan yang disampaikan, “melainkan tanggung jawab untuk mengenalkan sejarah kepada generasi yang tumbuh di tengah arus modernitas.”

Kepala MTsN 8 Banyuwangi pun menegaskan bahwa madrasah bukan hanya ruang belajar angka dan huruf, melainkan juga taman tempat nilai dan jati diri ditumbuhkan. Pelestarian seni budaya lokal, menurutnya, adalah bagian dari pendidikan karakter—agar peserta didik mengenal siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan ke mana ia melangkah.

Dengan penampilan Gandrung Lanang itu, peringatan HAB ke-80 Kementerian Agama RI menjelma lebih dari sekadar perayaan tahunan. Ia menjadi ruang temu antara agama dan budaya, antara nilai spiritual dan kearifan lokal, antara denyut ekonomi umat dan ingatan sejarah. Di panggung sederhana itu, Banyuwangi kembali mengajarkan satu hal penting: bahwa kemajuan sejati selalu berpijak pada akar yang dijaga.

Jalan Sehat Kerukunan sebagai Instrumen Penguatan Kohesi Sosial pada Peringatan HAB ke-80 Kementerian Agama di Banyuwangi



BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan kegiatan Jalan Sehat Kerukunan dalam rangka memperingati Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, pada Minggu, 4 Januari 2026. Kegiatan yang dipusatkan di GOR Tawang Alun Banyuwangi ini merupakan bagian dari strategi institusional Kementerian Agama dalam memperkuat kohesi sosial dan internalisasi nilai-nilai kerukunan di tengah masyarakat multikultural.


Kegiatan tersebut diikuti oleh lebih dari 5.000 peserta yang berasal dari berbagai unsur, meliputi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi dan Kantor Urusan Agama (KUA) se-kabupaten, peserta didik madrasah di wilayah perkotaan Banyuwangi, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan lintas agama. Tingginya partisipasi lintas sektor ini mencerminkan adanya kesadaran kolektif terhadap pentingnya penguatan harmoni sosial sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa jalan sehat kerukunan berfungsi sebagai medium edukatif dalam menanamkan nilai toleransi, kebersamaan, dan persatuan. Menurutnya, kerukunan umat beragama merupakan modal sosial strategis yang berkontribusi signifikan terhadap stabilitas sosial dan keberlanjutan pembangunan nasional.

Dalam konteks peringatan HAB ke-80, kegiatan ini dimaknai sebagai momentum reflektif untuk mempererat jejaring sosial dan memperkuat solidaritas antarkelompok masyarakat. Kerukunan, lanjutnya, tidak cukup dipahami secara normatif, melainkan perlu diaktualisasikan melalui aktivitas kolektif yang melibatkan partisipasi aktif berbagai elemen masyarakat.

Pemilihan rute kegiatan di sekitar kawasan GOR Tawang Alun didasarkan pada pertimbangan teknis dan fungsional, khususnya terkait aspek keamanan, kenyamanan peserta, serta efektivitas pengelolaan arus lalu lintas. Penataan rute ini bertujuan memastikan kegiatan berlangsung secara tertib, aman, dan tidak mengganggu aktivitas publik di pusat Kota Banyuwangi. 

Secara konseptual, jalan sehat kerukunan ini tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas promotif kesehatan, tetapi juga sebagai representasi empiris sinergi lintas iman, lintas generasi, dan lintas kelembagaan. Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama menegaskan perannya sebagai institusi strategis dalam membangun dan memelihara kohesi sosial masyarakat dalam bingkai persatuan dan kerukunan nasional.

Bedah Buku Hadis Warnai Peringatan HAB ke-80 Kemenag di Banyuwangi

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia di Kabupaten Banyuwangi tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga dengan penguatan tradisi literasi dan diskursus keagamaan. Salah satunya melalui kegiatan bedah buku yang diselenggarakan Panitia HAB Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pada Sabtu, 3 Januari 2026, di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Banyuwangi, Kecamatan Genteng.

Buku yang dibahas berjudul Fondasi Iman dan Akhlak: Refleksi Mendalam 13 Hadits Arbain Imam Nawawi, karya Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur pemangku kepentingan di bidang keagamaan dan pendidikan, mulai dari Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), kepala madrasah, penghulu, penyuluh agama Islam, hingga pegiat literasi dan komunitas budaya di Banyuwangi. 


Ketua Dewan Kesenian Blambangan, Hasan Basri, yang hadir sebagai narasumber pembanding, menilai bahwa buku tersebut menawarkan pendekatan kontekstual dalam memahami hadis. Menurutnya, penulis berupaya mengaitkan pesan-pesan normatif hadis dengan realitas sosial dan budaya lokal, sehingga ajaran agama tidak berhenti pada tataran teks, tetapi dapat dipahami sebagai pedoman etis dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi, Samsudin Adlawi. Ia menekankan bahwa forum bedah buku merupakan ruang penting dalam membangun budaya literasi yang kritis dan produktif. Diskusi, kritik, dan pertukaran gagasan dalam forum semacam ini, menurutnya, menjadi bagian dari proses pengayaan pemahaman dan pendewasaan karya tulis keagamaan.

Dari perspektif sastra, Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Banyuwangi, Nurul Ludfia Rohmah, menyoroti kekuatan naratif dalam buku tersebut. Ia menilai bahwa penyajian hadis melalui narasi yang runtut dan komunikatif mampu menjembatani teks klasik dengan konteks masyarakat modern yang terus berkembang.

Sesi diskusi melibatkan berbagai pegiat literasi, di antaranya Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi, Aekanu Haryono dari Komunitas Kiling Osing Banyuwangi, serta Rahmatullah Jhon. Para peserta menyampaikan apresiasi sekaligus catatan kritis terkait perbedaan penafsiran terhadap beberapa hadis yang dikaji. Perbedaan tersebut dinilai masih berada dalam wilayah khilafiyah dan tidak menyentuh aspek prinsipil ajaran ibadah.

Menanggapi berbagai pandangan yang berkembang, Dr. Chaironi Hidayat menyampaikan bahwa perbedaan interpretasi merupakan bagian dari dinamika keilmuan Islam. Ia menegaskan pentingnya sikap terbuka dan dialogis dalam memahami ajaran agama, agar nilai-nilai keimanan dan akhlak dapat diaktualisasikan secara moderat dan kontekstual dalam kehidupan bermasyarakat.

Kegiatan bedah buku ini dilaksanakan setelah upacara peringatan Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia di MAN 2 Banyuwangi. Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan HAB ke-80 di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi berlangsung tertib dan mencerminkan komitmen lembaga dalam penguatan literasi keagamaan yang berkelanjutan.

Sego Liwet dan Nasi Kebuli Warnai Syukuran HAB ke-80 Kemenag Banyuwangi

BANYUWANGI – (Warta Blambangan) Dalam rangka mengungkapkan rasa syukur atas Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia ke-80 tahun 2026, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar acara syukuran pada Jumat (2/1/2026). Kegiatan ini berlangsung sederhana namun penuh kehangatan di lingkungan Kantor Kemenag Banyuwangi.

Syukuran HAB ke-80 terasa istimewa dengan hadirnya sajian khas Nusantara yang tidak lazim disuguhkan dalam kegiatan kedinasan, seperti sego liwet dan nasi kebuli. Hidangan tersebut menjadi simbol keberagaman budaya sekaligus kekayaan tradisi kuliner yang selaras dengan semangat Kementerian Agama dalam merawat dan memperkuat kebhinekaan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa kegiatan syukuran ini melibatkan seluruh Kepala Madrasah, Kepala KUA Kecamatan, serta pejabat dan pegawai di lingkungan Kemenag Banyuwangi. Menurutnya, peringatan HAB ke-80 menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang pengabdian Kementerian Agama dalam melayani umat, bangsa, dan negara.

“Kegiatan ini bukan sekadar syukuran, tetapi juga wujud kebersamaan dan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas pengabdian Kementerian Agama selama delapan dekade,” ujar Chaironi.

Ia menambahkan, kebersamaan yang terbangun dalam suasana sederhana namun penuh makna diharapkan mampu memperkuat soliditas serta semangat pengabdian seluruh jajaran Kementerian Agama di Kabupaten Banyuwangi. 


Acara tersebut turut dihadiri oleh mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Drs. H. Slamet, sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian para pendahulu dan kesinambungan sejarah institusi.

Dalam kesempatan yang sama, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi juga menyerahkan tanda kehormatan Satyalancana Pengabdian kepada sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang telah mengabdi selama 10 tahun, 20 tahun, hingga 30 tahun. Penganugerahan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi negara atas dedikasi, loyalitas, dan pengabdian para ASN di lingkungan Kementerian Agama.

Rangkaian acara syukuran HAB ke-80 Kementerian Agama ini ditutup dengan doa bersama, sebagai harapan agar Kementerian Agama ke depan semakin kuat, profesional, dan terus berperan sebagai perekat persatuan dalam keberagaman.

Duet H. Mujiono & Sururudin Pimpin BKPRMI Kabupaten Banyuwangi Masa Khidmat 2025-2030

Musda IIII Badan Komunikasi Remaja Pemuda Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Banyuwangi secara aklamasi mufakat memilih dan menetapkan duet H. Mujiono, SH sebagai Ketua Umum dan Achmad Sururudin, SE, M. Si, M. Pd sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Daerah masa khiidmad 2025-2030 pada perhelatan di hari Minggu(28/12/25) atau bertepatan Ahad 8 Rajab 1447 H di Hotel Aston. 


Pimpinan Sidang Alim Sulaiman, M. Pd Sekretaris Umum BKPRMI Wilayah Jawa Timur usai menyatakan kepengurusan demisioner, menawarkan ke audiens yang pengurus DPD dan 25 DPK, apakah ada yang mencalonkan diri sebagai Ketua Umum dan bila lebih dari 1 maka semuanya berkesempatan untuk kampanye sampaikan visi misi. Namun tak ada seorangpun yang mengajukan diri. Hingga akhirnya utusan DPK Rogojampi , Singojuruh dan Kalipuro berpandangan mantan ketua umum. Ditetapkan sebagai MPD dan H Mujiono sebagai penggantinya maka secara aklamasi ditetapkan. 


Ketika diberi kesempatan, H Mujiono awal sampaikan innalillahi karena tak pernah bermimpi dan mengira jadi imam organisasi yang bergerak memakmurkan rumah Allah dan punya ikon Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) yang berjenjang ke nasional 2 tahun sekali itu. "Baik saya menerima amanat ini dengan syarat dukungan semuanya serta yang ditunjuk tim formatur untuk juga tak menolak amanat  memajukan organisasi! " tuturnya yang disanggupi hadirin. 


Musda III yang dibuka oleh  Yusdi Irawan, SE,M.Si Kabag Kesra Setda Banyuwangi mewakili Bupati mengucapkan Terima kasih atas sinergi dan kontribusi BKPRMI yang menjadikan Banyuwangi kondusif dan Berprestasi. (AWN/Shodiqin/JN-SW) 


Gelar Gandrung dari Masa ke Masa, Kompetisi Tari Gandrung Banyuwangi Diikuti Ribuan Peserta dari Jawa - Bali

BANYUWANGI ( Warta Blambangan) Sebagai upaya melestarikan sekaligus mempromosikan Tari Gandrung secara berkelanjutan, Banyuwangi menggelar kompetisi Tari gandrung yang dikemas dalam Festival Gandrung “Dari Masa ke Masa”. Kompetisi ini diikuti ribuan peserta yang berasal dari sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Bali.

Festival Tari Gandrung “Dari Masa ke Masa” berlangsung selama tiga hari mulai 24-26 Desember di Gelanggang Kesenian Banyuwangi (Gesibu). Event ini diikuti 1500 peserta mulai dari tingkat TK-SMA dan umum. Ada yang dari Jogja, Gresik, Lumajang, Situbondo, Bondowoso, hingga Bali. 

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan Tari Gandrung adalah identitas budaya Banyuwangi yang sarat makna sejarah, filosofi, dan nilai kebersamaan. Lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga upaya melestarikan warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.

“Lomba ini Juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mencintai dan mengembangkan seni tradisi,” kata Ipuk, Sabtu (27/12/2025).

Ipuk menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya atas upaya dan dukungan berbagai pihak yang secara konsisten melakukan regenerasi penari Gandrung serta mempromosikan Gandrung hingga ke kancah nasional dan internasional. 

“Terima kasih pada semua pihak yang telah menginisiasi kegiatan ini,” ujar Ipuk.

Inisiator sekaligus penyelenggara Festival Gandrung “Dari Masa ke Masa” Sabar Haryanto, mengatakan event ini metupakan tahun ketiga penyelengaraan. Setiap tahunnya ribuan peserta berpartisipasi dalam lomba ini.

“Sebagai pegiat seni daerah ini adalah bentuk dukungan dan partisipasi kami bersama -sama dengan pemerintah untuk terus menghidupkan dan melestarikan Gandrung khususnya pada generasi muda,” kata Sabar yang juga Pengasuh Sangar Tari Lang Lang Buana Banyuwangi.

Pada tahun ini pihaknya sengaja mengundang sanggar dan komunitas Tari dari sejumlah daerah untuk ikut berpartisipasi karena Tari Gandrung sudah banyak ditarikan oleh penari di luar daerah. 


“Alhamdulillah peserta lomba dari luar kota cukup banyak, padahal kami hanya berkabar melalui surat. Ini menunjukkan kalau Tari Gandrung memang sudah familiar bagi mereka,” katanya.


Ada delapan variasi tari Gandrung yang dibawakan oleh para peseta dalam kompetisi tersebut. Yakni Gandrung Seblang Lukinto, Gandrung Gurit Mangir, Gandrung Jaran Dawuk, Gandrung Variasi, Gandrung Sri Dewi, Gandrung Kembang Menur, Gandrung Marsan.


“Kompetisi ini juga sebagai cara mengenalkan berbagai jenis atau variasi Tarian Gandrung. Karena Tari Gandrung punya banyak variasi yang berkembang sesuai konteks budaya, cerita rakyat, maupun kreativitas seniman,” terang Sabar.


Salah satu pelatih Tari dari Lumajang Nasseh, mengatakan ia menurunkan dua grup untuk mengikuti kompetisi di Banyuwangi. Tari Gandrung telah menjadi tarian yang biasa ditarikan di komunitasnya.

“Kami berlatih khusus untuk kompetisi mulai November. Tapi tidak terlalu kesulitan karena teman-teman sudah mengenal Gandrung,” ujarnya.

Sementara itu salah satu penarinya Ikrom, pelajar kelas 9 SMPN 1 Tempeh Lumajang mengaku sangat senang bisa mengikuti Lomba Tari Gandrung di Banyuwangi. Dengan basic penari berbagai genre, ia tidak begitu kesulitan untuk menari Gandrung.

“Gerakannya susah-susah gampang saat latihan, tapi bersyukur bisa, dan masuk final,” ujar Ikrom yang membawakan Tari Gandrung Marsan atau Tari Gandrung yang khusus dibawakan oleh laki-laki. (*)

Syukuran Sertifikasi Ahli Cagar Budaya Banyuwang

Banyuwangi (Warta Blambangan) Senja 25 Desember 2025 di Omah Kopi Telemung tidak hanya menghadirkan aroma kopi dan percakapan hangat, tetapi juga kabar baik bagi perjalanan kebudayaan Banyuwangi. Dalam forum bedah kebudayaan yang dihadiri para budayawan, KRT Ilham Triadi menyampaikan capaian terbarunya: ia resmi mengantongi Sertifikat Ahli Cagar Budaya dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Sertifikat itu melengkapi laku panjang yang telah ditempuhnya. Sebelumnya, ia lebih dahulu memperoleh Sertifikat Ahli Perkerisan, juga dari BNSP—sebuah penanda bahwa pengetahuan, ketekunan, dan tanggung jawab kebudayaan tidak datang secara tiba-tiba, melainkan melalui pengendapan waktu.

Ketua Dewan Kesenian Belambangan, Hasan Basri, menyampaikan bahwa hingga hari ini KRT Ilham Triadi menjadi satu-satunya putra Banyuwangi yang berhasil meraih sertifikasi Ahli Cagar Budaya. Sebuah capaian yang, menurutnya, bukan sekadar prestasi personal, melainkan kepercayaan negara atas kompetensi dalam merawat ingatan kolektif.

“Ini bukan hanya sertifikat, tetapi amanah,” ujarnya, seraya menegaskan pentingnya peran ahli cagar budaya dalam menjaga jejak sejarah agar tidak terhapus oleh waktu dan pembangunan yang tergesa.

Forum kebudayaan itu dihadiri para penggiat seni dan sejarah Banyuwangi: Samsudin Adlawi, Elvin Hendrata, Ribut Kalembuan, serta Aekanu Hariyono—pemandu wisata bersertifikat internasional—dan Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi. Mereka duduk setara, berbagi pandang, seolah merajut kembali simpul-simpul kebudayaan yang kerap tercerai.


Dalam pernyataannya, KRT Ilham Triadi berharap sertifikasi yang diraihnya dapat menjadi jalan manfaat bagi Banyuwangi. Bukan hanya untuk melindungi benda dan situs, tetapi juga merawat makna, ruh, dan kisah yang berdiam di dalamnya.

Di Omah Kopi Telemung sore itu, sertifikat tak diperlakukan sebagai piala. Ia hadir sebagai penanda tanggung jawab—bahwa kebudayaan, seperti kopi, harus dirawat dengan sabar, diseduh dengan kesadaran, dan diwariskan dengan rasa.

Gedung Juang Tetap Ramai di Hari Ketiga Pameran Lereme Roso

Banyuwangi (Warta Blambangan) Hari ketiga pameran lukisan Lereme Roso yang digelar Dewan Kesenian Blambangan, Rabu (24/12/2025), masih dipadati pengunjung. Sejak pagi hingga malam, langkah-langkah datang silih berganti memenuhi Gedung Juang, membawa rasa ingin tahu dan keheningan yang sama. 

Pameran bertema Lereme Roso ini akan berlangsung hingga 28 Desember 2025. Dari berbagai daerah, pengunjung datang bukan sekadar melihat lukisan, tetapi juga mendengarkan cerita di baliknya. Ketua Panitia, N. Kojin, dengan sabar menjelaskan makna setiap karya—tentang rasa, jeda, dan perenungan yang pelan.

Ketua Dewan Kesenian Blambangan, Hasan Basri, menyampaikan bahwa pameran ini merupakan agenda tahunan yang selalu digelar setiap akhir tahun, bertepatan dengan Hari Jadi Banyuwangi. Tahun ini, simbol ular merah dihadirkan sebagai tema, mengikat rasa atas kondisi bangsa yang tengah diuji bencana di berbagai wilayah.

“Lewat seni, kita diajak mendinginkan perasaan,” ujarnya. “Agar apa pun yang terjadi pada bangsa ini, dapat dipikirkan dengan kepala dan hati yang tenang.”

Di ruang pamer itu, lukisan-lukisan berbicara lirih. Mengajak setiap mata yang memandang untuk berhenti sejenak—merenung, dan merasakan.

Eskalasi Simbolik: Kombes Pol Dr. Rama Samtama Putra dalam Deklarasi Warga Kehormatan Suku Osing

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Di bawah naungan cakrawala malam Bumi Blambangan, tepat pada Selasa (23/12), sebuah manifestasi sosiokultural yang sublim terjadi di Rumah Kebangsaan (Basecamp) Karangrejo. Acara silaturahmi sekaligus pamitan Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Dr. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., bertransformasi menjadi sebuah ritus pengukuhan entitas melalui penganugerahan gelar Warga Kehormatan Suku Osing.

Secara fenomenologis, penobatan ini bukan sekadar seremoni formalitas, melainkan sebuah pengakuan kolektif atas dedikasi yang terbentang selama 15 bulan masa bakti. Penyerahan selendang kehormatan kepada Kapolresta dan Ibu Bhayangkari merepresentasikan simbiolisis mutualisme antara aparat penegak hukum dengan kearifan lokal (local wisdom). Selendang tersebut menjadi artefak simbolik yang mengikat doa restu dan legitimasi spiritual dari tetua adat Osing.

Kegiatan yang berlangsung di Jalan MT Haryono No. 2 ini dihadiri oleh beragam elemen strategis, menciptakan sebuah lanskap mikrokosmos dari harmoni kebangsaan. Hadirnya jajaran Forkopimda, unsur TNI-Polri, serta para budayawan menunjukkan adanya kohesi sosial yang kuat.

Hakim Sa’id, selaku tuan rumah sekaligus tokoh sentral dalam kegiatan tersebut, memberikan parameter kepemimpinan Kombes Pol Rama sebagai sosok yang mampu mengorkestrasi sinergi antar-elemen masyarakat.

"Amanah baru di Polda Papua merupakan sebuah dialektika pengabdian yang lebih luas. Beliau telah menanamkan fundamen kebersamaan yang kokoh di Bumi Blambangan," ungkap Hakim Sa'id dalam narasinya.

Dalam pidato perpisahannya, Kombes Pol Dr. Rama Samtama Putra menunjukkan retorika yang sarat akan humilitas (kerendahan hati). Ia melakukan refleksi kritis atas masa tugasnya, menyadari bahwa setiap dinamika kepemimpinan selalu berkelindan dengan kekurangan.

“Selama satu tahun tiga bulan saya bertugas di Banyuwangi, apabila masih terdapat kekurangan atau hal yang kurang berkenan, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih atas dukungan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat Banyuwangi,” tuturnya dengan nada yang menyentuh ranah afektif para hadirin.

Penganugerahan ini menandai berakhirnya sebuah fase kepemimpinan di Banyuwangi dengan catatan historis yang positif. Gelar Warga Kehormatan Osing menjadi jangkar identitas yang akan terus melekat pada Kombes Pol Rama saat ia melangkah menuju penugasan baru di tanah Papua.


Sosialisasi Hasil Rapat Koordinasi Nasional LPTQ Tahun 2025 di Lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Hasil Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Tahun 2025 pada Senin, 22 Desember 2025, bertempat di Aula Bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini diikuti oleh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan se-Kabupaten Banyuwangi serta para pembina LPTQ tingkat kecamatan.

Kegiatan sosialisasi disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Subbagian Tata Usaha, H. Moh. Jali. Sosialisasi ini bertujuan untuk mendiseminasikan hasil, rekomendasi, serta arah kebijakan nasional LPTQ yang dihasilkan melalui Rakornas LPTQ 2025 yang dilaksanakan di Tangerang Selatan pada November 2025. 


Dalam pemaparannya, H. Moh. Jali menjelaskan bahwa Rakornas LPTQ 2025 menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis dalam rangka penguatan pembinaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di tingkat daerah. Salah satu rekomendasi utama adalah perlunya penerapan pola pembinaan MTQ yang lebih panjang, terstruktur, dan terukur, dengan rentang waktu pembinaan antara delapan hingga sepuluh bulan. Pola ini dinilai lebih efektif dalam meningkatkan kompetensi peserta secara berkelanjutan dibandingkan pembinaan jangka pendek.

Rakornas juga merekomendasikan percepatan revisi regulasi LPTQ guna memperkuat aspek kelembagaan, profesionalitas pengelolaan, serta konsistensi sistem pembinaan di seluruh wilayah. Selain itu, dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan MTQ, termasuk kajian mengenai kemungkinan penyelenggaraan MTQ secara tahunan sebagai upaya menjaga kesinambungan pembinaan dan peningkatan kualitas kafilah di daerah.

Lebih lanjut disampaikan bahwa Rakornas LPTQ 2025 membentuk beberapa komisi yang secara khusus membahas isu kelembagaan, pelaksanaan musabaqah dan sistem perhakiman, serta kepesertaan. Hasil kerja komisi tersebut menghasilkan rekomendasi konkret terkait penyesuaian standar penyelenggaraan MTQ, baik dari aspek manajerial, teknis lomba, maupun perhakiman, agar selaras dengan tuntutan kualitas dan objektivitas penilaian.

Pengalaman dan laporan dari sejumlah daerah, seperti Aceh dan Kalimantan Tengah, menunjukkan bahwa pembinaan yang berkelanjutan serta pola penyelenggaraan MTQ yang lebih rutin memiliki korelasi positif terhadap peningkatan kualitas kafilah dan daya saing di tingkat nasional. Temuan tersebut menjadi salah satu dasar penguatan rekomendasi Rakornas LPTQ 2025.

Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan seluruh Kepala KUA dan pembina LPTQ kecamatan di Kabupaten Banyuwangi dapat mengimplementasikan hasil Rakornas LPTQ 2025 secara terintegrasi dan kontekstual sesuai dengan karakteristik daerah. Dengan demikian, sistem pembinaan MTQ di Kabupaten Banyuwangi diharapkan semakin terencana, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan mutu pembinaan Al-Qur’an.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger