Pages

Tampilkan postingan dengan label Kabar dan Wawasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar dan Wawasan. Tampilkan semua postingan

Joyokaryo Banyuwangi Pentaskan “Pandome Urip Wojiwo”, Angkat Semangat Banyuwangi 1771 di Gesibu

BANYUWANGI, (Lensa Banyuwangi) Kelompok musik Joyokaryo Banyuwangi sukses menggelar pagelaran musik dan drama bertajuk Pandome Urip Wojiwo di Gelanggang Seni dan Budaya (Gesibu) Banyuwangi, Jumat (25/4/2026). Pertunjukan yang memadukan unsur teater, musik etnik, dan narasi sejarah ini berlangsung meriah dan mendapat sambutan hangat dari ratusan penonton yang memadati lokasi acara.


Pagelaran tersebut menghadirkan dua penyanyi lintas generasi, yakni Yons DD dan Damar Adji Adyaksa. Yons DD dikenal sebagai seniman, pencipta lagu, sekaligus penyanyi terkemuka asal Banyuwangi yang konsisten melestarikan seni tradisi melalui karya-karya hibrid. Ia juga tercatat sebagai pengurus Persatuan Pencipta Lagu dan Gendhing Using (PPLP) Banyuwangi. Sementara itu, Damar Adji Adyaksa, siswa Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi di Srono, tampil memukau dengan kualitas vokalnya yang matang meski masih berusia muda. Namanya dikenal luas melalui lagu-lagu dangdut dan musik populer.

Pagelaran ini berada di bawah binaan Elvin Hendrata, sosok seniman sekaligus penulis buku Angklung: Tabung Musik Blambangan. Karya tersebut menjadi salah satu referensi penting dalam kajian musik tradisional Banyuwangi, karena mengklasifikasikan enam jenis angklung berdasarkan fungsi dan bentuknya, seperti Angklung Caruk dan Angklung Paglak. Selain itu, Elvin juga aktif membina generasi muda melalui Sanggar Seni Joyokaryo sebagai ruang belajar musik dan tari tradisional.

Mengusung semangat Banyuwangi 1771, pagelaran ini mengangkat kembali nilai-nilai perjuangan dalam Perang Bayu, yang menjadi tonggak sejarah perlawanan masyarakat Blambangan terhadap kolonialisme. Narasi tersebut dikemas dalam bentuk dramatik yang dipadukan dengan musik etnik khas Banyuwangi, menciptakan suasana pertunjukan yang sarat makna historis dan kultural.

Sejumlah tokoh seni dan budaya turut hadir dalam acara tersebut, di antaranya Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri bersama jajaran pengurus, perwakilan dari beberapa dinas dan instansi, serta Ketua Lentera Sastra Banyuwangi Syafaat. Selain itu, para wali murid yang anak-anaknya terlibat dalam pertunjukan juga tampak memenuhi area penonton, menambah semarak suasana.


Acara yang disponsori oleh LPDP ini berlangsung meriah dan penuh apresiasi dari publik. Para penonton tidak hanya disuguhkan hiburan, tetapi juga diajak memahami kembali nilai-nilai sejarah dan budaya Banyuwangi.

Semangat Banyuwangi 1771 yang diangkat dalam pagelaran ini dinilai sangat inspiratif. Banyuwangi yang terbentuk dari keberagaman etnik dan agama, serta posisinya yang berdekatan dengan Bali, melahirkan akulturasi budaya yang kaya. Perpaduan tersebut tercermin dalam pertunjukan yang menampilkan harmoni antara tradisi lokal dan pengaruh budaya luar, menjadikan seni sebagai jembatan persatuan.

Pagelaran Pandome Urip Wojiwo tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga ruang refleksi akan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi. Dengan kolaborasi lintas generasi dan dukungan berbagai pihak, Joyokaryo Banyuwangi kembali menegaskan perannya sebagai garda terdepan dalam pelestarian seni dan budaya daerah.

Sastrawan Kemenag Banyuwangi Hadirkan Suara Damai di Rubaiyat Hormuz

BANYUWANGI, (Warta Blambangan) Keikutsertaan para sastrawan dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi mewarnai perhelatan sastra bertajuk “Rubaiyat Hormuz: Lantunan Puisi Kemanusiaan dari Bumi Blambangan” yang digelar di Langgar Art, Jalan Ikan Wijinongko, Perum Griya Wiyata B.50, Banyuwangi, Selasa (14/4/2026). Sejumlah pegiat sastra dari lingkungan Kemenag turut hadir dan membacakan puisi, di antaranya Ketua Lentera Sastra Banyuwangi Syafaat, Penyelenggara Bimas Katolik Purwowidodo, Kepala MTsN 2 Banyuwangi Dr. Uswatun Hasanah, Kepala MTsN 12 Banyuwangi Herny Nilawati, Pengawas Madrasah St. Muanifah, serta pegiat sastra dari MAN 1 Banyuwangi sekaligus peraih Sastratama, Nur Khofifah. Kehadiran mereka menjadi bentuk respons atas konflik di kawasan Selat Hormuz yang berdampak luas bagi dunia.


Kegiatan ini diprakarsai oleh MWC-NU Kecamatan Banyuwangi bersama Lentera Sastra Banyuwangi, Komite Bahasa dan Sastra Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi, IPNU-IPPNU Banyuwangi, Forum 28, serta komunitas Mocoan Wadon Lontar Yusuf. Kolaborasi lintas komunitas ini menghadirkan ruang refleksi bersama melalui puisi dan sastra sebagai medium suara kemanusiaan. Dalam kesempatan tersebut juga dilantunkan Mocoan Lontar Yusuf, sebuah tradisi sastra yang sebagian kisahnya diambil dari perjalanan Nabi Yusuf.

Sejumlah tokoh seni dan budaya Banyuwangi tampak hadir dan ambil bagian dalam pembacaan puisi. Di antaranya Hasan Basri selaku Ketua DKB Banyuwangi, sastrawan Fatah Yasin Nor, Aekanu Hariyono dari Killing Osing Banyuwangi, serta Muttafaqurrohmah dari Forum 28 yang juga dosen di Untag dan ISI Kampus B Banyuwangi bersama para mahasiswanya.


Kehadiran lintas elemen juga terlihat dari partisipasi pengurus Muslimat NU dan ISNU Banyuwangi. Purwowidodo pun turut membacakan puisi, menegaskan bahwa suara kemanusiaan melampaui sekat-sekat identitas.

Menariknya, Diah Fitriani, owner Klinik KDS Rogojampi, juga hadir dan menyampaikan harapannya melalui bahasa sastra. Ia menuturkan bahwa kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perdamaian adalah kebutuhan bersama, dan para pemimpin dunia diharapkan dijauhkan dari ambisi menguasai bangsa lain yang berdaulat. Sejumlah pengurus Muslimat NU dan ISNU Banyuwangi juga tampak hadir dalam kegiatan tersebut.

Konflik di Selat Hormuz sendiri dipandang sebagai ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global. Jalur tersebut merupakan salah satu rute distribusi minyak paling vital di dunia, dengan sekitar 20 juta barel minyak—setara 20 persen konsumsi global—melintasinya setiap hari. Ketegangan atau penutupan jalur ini berpotensi mengguncang perekonomian dunia secara luas.

Puisi-puisi yang dilantunkan dalam acara tersebut sebagian besar menggambarkan kondisi terkini di Selat Hormuz—tentang kecemasan, kehilangan, dan harapan yang terombang-ambing di tengah konflik. Dalam nuansa religius dan reflektif, beberapa pembacaan juga mengaitkan situasi tersebut dengan sejarah peperangan di masa awal Islam, seperti Perang Badar dan Perang Khandaq, di mana ketimpangan kekuatan tidak selalu menjadi penentu akhir.

Melalui lantunan kata dan makna, “Rubaiyat Hormuz” menjadi lebih dari sekadar acara sastra. Ia menjelma sebagai doa yang hidup, sebagai suara sunyi dari Banyuwangi untuk dunia—menggaungkan harapan akan damai di tengah riuh konflik global.

Pengurus Pemuda Katolik Banyuwangi Periode 2025–2028 Resmi Dikukuhkan

Banyuwangi (Lensa Banyuwangi) Pengurus Komisariat Cabang Kabupaten Banyuwangi periode 2025–2028 resmi dikukuhkan dalam sebuah seremoni yang berlangsung di Aula . Dalam pengukuhan tersebut, ditetapkan sebagai ketua untuk memimpin organisasi selama tiga tahun ke depan. 


Prosesi pengukuhan dilakukan oleh Sekretaris Daerah dan dihadiri sejumlah pejabat serta tokoh lintas organisasi. Turut hadir Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Banyuwangi , Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Sekretariat Daerah Kabupaten Banyuwangi, M. Yanuar Bramudya, serta Purwowidodo Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi .

Dalam sambutannya, Agustinus Iwan Sanjaya menegaskan pentingnya kehadiran seorang Romo Moderator dalam mendampingi perjalanan organisasi. Menurutnya, peran moderator sangat dibutuhkan sebagai pembimbing iman bagi para anggota Pemuda Katolik, sehingga gerak organisasi tidak hanya berorientasi pada kegiatan sosial, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai spiritual.

“Kami sebagai Pemuda Katolik membutuhkan bimbingan iman yang dilakukan oleh moderator. Dengan demikian, langkah organisasi akan lebih terarah dan selaras dengan nilai-nilai gereja,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran berbagai organisasi kepemudaan lintas agama dan latar belakang di Banyuwangi, seperti (GMNI), (HMI), serta organisasi kepemudaan lainnya. Kehadiran mereka dinilai sebagai bentuk nyata semangat kebersamaan dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat Banyuwangi.

Pengukuhan ini diharapkan menjadi momentum penguatan peran Pemuda Katolik dalam membangun sinergi lintas sektor, serta berkontribusi aktif dalam pembangunan daerah, khususnya dalam menjaga kerukunan umat beragama dan memperkuat nilai kebangsaan di Kabupaten Banyuwangi.

Pelapak Baru Tanpa Pemberitahuan, Keramaian BCM Taman Blambangan Perlu Penataan Ulang

Banyuwangi, (Lensa Banyuwangi) Keramaian (BCM) di kian meningkat seiring bertambahnya jumlah pelapak baru. Namun, kehadiran sejumlah pedagang tanpa pemberitahuan kepada paguyuban setempat memunculkan persoalan dalam penataan area, terutama di jalur trotoar. 


Ketua Paguyuban BCM Taman Blambangan, , mengungkapkan bahwa pihaknya tidak menerima informasi terkait masuknya pelapak baru tersebut. Ia menegaskan bahwa paguyuban pada dasarnya terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung, selama tetap menjalin komunikasi demi menjaga ketertiban.

“Kami tidak mempermasalahkan adanya pelapak baru. Namun, jika datang tanpa pemberitahuan, tentu menyulitkan dalam pengaturan lapak. Padahal kami sudah memiliki sistem penataan agar semua bisa tertib dan nyaman,” ujarnya.

Menurutnya, selama ini BCM dikelola dengan sistem zonasi berbasis paguyuban yang mengatur jenis usaha dan penempatan lapak. Tanpa koordinasi, kondisi ini berpotensi menimbulkan ketidakteraturan yang dapat berdampak pada kenyamanan pengunjung.

Sementara itu, beberapa pelapak baru mengaku sebelumnya berjualan di kawasan Jalan Ahmad Yani pada waktu yang sama. Karena sepinya pembeli, mereka memilih berpindah ke Taman Blambangan yang dinilai lebih ramai dan memiliki potensi pasar yang lebih baik.

“Kami pindah ke sini karena di tempat lama sepi. Di sini terlihat lebih hidup, jadi kami berharap bisa mendapatkan pembeli lebih banyak,” ungkap salah satu pedagang.

Rachmat berharap para pelapak baru segera berkoordinasi dengan paguyuban agar keberadaan mereka dapat diakomodasi secara tertib. Ia menekankan bahwa keterbukaan tetap dijaga, selama diiringi dengan kesadaran untuk mengikuti aturan bersama.

“Kalau semua saling koordinasi, penataan akan lebih mudah. Dampaknya juga baik bagi semua pihak, baik pedagang maupun pengunjung,” pungkasnya.

Meningkatnya jumlah pelapak di BCM menunjukkan geliat ekonomi kreatif masyarakat Banyuwangi. Namun demikian, kolaborasi dan kedisiplinan tetap menjadi kunci agar kawasan ini tetap tertata, nyaman, dan berkelanjutan bagi semua pihak.

Lantunan Puisi Kemanusiaan: Doa Para Penyair Banyuwangi untuk Kedamaian Dunia

BANYUWANGI, (Warta Blambangan) Dari kejauhan bumi Timur Tengah, kabar duka terus berembus, membawa getir yang tak hanya mengoyak tanah yang dilanda konflik, tetapi juga mengguncang rasa kemanusiaan umat manusia. Di tengah gemuruh perang yang kian menajamkan luka, para penyair di Banyuwangi memilih jalan yang teduh: menadahkan kata sebagai doa, merangkai puisi sebagai ikhtiar spiritual untuk mengetuk langit.


Sebagai wujud kepedulian dan panggilan nurani, komunitas penyair Banyuwangi akan menggelar kegiatan bertajuk “Lantunan Puisi Kemanusiaan” pada Selasa, 14 April 2026 pukul 14.00 WIB di Langgar Art Banyuwangi. Sebuah ruang sederhana yang akan menjadi saksi, bagaimana kata-kata dilahirkan bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk dipanjatkan.

Perhelatan ini menghadirkan berbagai elemen lintas komunitas, di antaranya Lentera Sastra Banyuwangi, Forum 28, IPNU-IPPNU Banyuwangi, Komite Bahasa dan Sastra Dewan Kesenian Blambangan (DKB), serta HISKI Komisariat Banyuwangi. Mereka berhimpun dalam satu niat: menyulam doa bersama, agar dunia kembali menemukan damainya.

Ketua panitia, Ayung Notonegoro, menyampaikan bahwa kegiatan ini lahir dari kegelisahan batin yang tak lagi mampu dibungkam oleh diam.

“Ini adalah ikhtiar kecil kami. Ketika tangan tak mampu menjangkau medan konflik, maka doa dan kata adalah jalan yang kami tempuh. Semoga lantunan puisi ini sampai sebagai munajat bagi perdamaian dunia,” tuturnya dengan penuh harap.

Sementara itu, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, memaknai puisi sebagai suara hati yang dapat menjelma doa, bahkan menjadi zikir yang mengalir dalam kesunyian.

“Puisi adalah jalan pulang bagi nurani. Ia mengajarkan kita untuk merasakan luka sesama, dan dari sanalah lahir doa-doa yang tulus. Kami percaya, setiap bait yang dibacakan adalah harapan yang diangkat ke langit,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perang tidak pernah melahirkan kemenangan sejati, melainkan hanya menyisakan kehancuran dan duka yang berkepanjangan. Bahkan, para penjaga perdamaian dunia yang mengemban amanah kemanusiaan pun tak luput dari risiko gugur di medan tugas.

Melalui kegiatan ini, para penyair Banyuwangi ingin mengirimkan pesan yang bening: bahwa dunia tidak membutuhkan lebih banyak amarah, melainkan lebih banyak kasih dan kebijaksanaan. Bahwa setiap bangsa berhak hidup dalam damai, tanpa bayang-bayang kekerasan dan keserakahan kekuasaan.

Di Langgar Art nanti, puisi-puisi akan dilantunkan bukan sekadar sebagai karya, melainkan sebagai doa yang bergetar. Sebab selama kata masih mampu mengetuk hati, dan doa masih terangkat ke langit, harapan akan perdamaian tidak akan pernah benar-benar padam.

Layanan Kesehatan Tetap Jalan Selama Libur Lebaran, Banyuwangi Siapkan Puskesmas dan Posko di Jalur Mudik

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Pemkab Banyuwangi menyediakan 10 pos kesehatan yang tersebar di seluruh wilayah Banyuwangi, meliputi dua terminal bus, bandara, satu stasiun (Ketapang) dan pelabuhan, masjid hingga di wilayah perbatasan selama arus mudik Lebaran 2026.

Pos kesehatan yang diperuntukkan bagi masyarakat atau pemudik, pengemudi dan lainnya yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan itu dibuka pada 13-25 Maret 2026.


“Pada mudik lebaran tahun 2026 ini, disediakan pos kesehatan pada 10 titik, ditempatkan di kawasan yang banyak diakses warga. Kami juga sediakan di wilayah perbatasan seperti di Kalibaru, wongsorejo, hingga Paltuding Ijen,” kata Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono , Senin (16/3/2026).

Mujiono menyebutkan 10 lokasi itu, yakni Terminal Rogojampi, Terminal Gambiran, Pelabuhan Ketapang, Stasiun Ketapang, Bandara Banyuwangi, hingga di pusat Kecamatan Genteng.  

“Selain itu di Masjid Baiturrohman Kalibaru, RTH Kalibaru, Taman Sritanjung posko gabungan bersama Polresta, juga Paltuding Ijen juga kami tempatkan pos kesehatan,” jelasnya. 

Kepala Dinas Kesehatan Amir Hidayat menambahkan layanan kesehatan yang disediakan meliputi pemeriksaan kesehatan, konsultasi medis, pertolongan pertama kegawatdaruratan, stabilisasi pasien sebelum rujukan, serta rujukan ke fasilitas kesehatan terdekat. 

“Tenaga kesehatan yang bertugas berasal dari rumah sakit, puskesmas, klinik di Banyuwangi,” terang Amir.

Selain  layanan kesehatan di Pos Pelayanan Terpadu, Banyuwangi juga menyiagakan  13 UGD rumah sakit dan 18 puskesmas rawat inap yang tetap siaga selama 24 jam. “Sehingga penanganan kegawatdaruratan dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi,” ujarnya.

Untuk memastikan masyarakat tetap memiliki akses pelayanan kesehatan selama periode libur, Dinas Kesehatan juga membuka 13 Puskesmas Rawat Jalan Siaga pada hari libur dengan jam pelayanan pukul 08.00–14.00 WIB.

“Melalui langkah ini, Pemkab Banyuwangi berkomitmen untuk memastikan bahwa selama periode arus mudik dan libur Lebaran, masyarakat tetap memperoleh akses pelayanan kesehatan yang cepat, aman, dan responsif, serta mampu mengantisipasi berbagai potensi kejadian kegawatdaruratan di jalur perjalanan maupun di lingkungan masyarakat,” ungkap Amir. (*)

Jelang Lebaran, 211 Ribu Warga Banyuwangi Terima Bansos Pangan

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Sebanyak 211.782 warga Banyuwangi yang terdaftar sebagai keluarga penerima manfaat (KPM) telah menerima bantuan sosial (bansos) pangan berupa beras dan minyak goreng dari Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Penyaluran bulan Maret ini merupakan tahap pertama di tahun 2026. Masing-masing keluarga penerima bantuan pangan (PBP) akan mendapatkan bantuan berupa 10 kilogram (kg) beras dan 2 liter minyak goreng untuk per bulan alokasi.


Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono sempat meninjau secara langsung proses pendistribusian bansos pangan di Kelurahan Penganjuran, Kecamatan Banyuwangi pada SSenin (16/3/2026). Ia berharap bansos yang diberikan oleh pemerintah pusat tersebut dapat dirasakan manfaatnya oleh warga miskin.

“Bantuan ini harapannya tidak hanya memenuhi kebutuhan dapur keluarga, tetapi juga meminimalkan dampak fluktuasi harga di pasaran. Ini sangat berarti bagi masyarakat, terutama keluarga prasejahtera,” kata Mujiono. 

Plt. Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan KB (Dinsos PPKB), Puguh Setyo W, menjelaskan penyaluran kali ini adalah rapelan untuk dua bulan, yakni Februari dan Maret.

“Karena ini rapelan dua bulan, maka masing-masing PBP akan menerima total 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng,” kata Puguh, Selasa (17/3/2026).

Di Banyuwangi, bansos pangan didistribusikan melalui Bulog Kantor Cabang Banyuwangi kepada keluarga penerima manfaat yang terdaftar dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) Kemensos.

Dikatakan Kepala Bulog Cabang Banyuwangi, Dwiana Puspitasari, proses distribusi bantuan pangan sudah dimulai sejak 16 Maret dan diperkirakan rampung pada 30 April mendatang.

“Bantuan sudah kami salurkan sejak 16 Maret di beberapa kelurahan di Kecamatan Banyuwangi. Selanjutnya menyusul ke desa/kelurahan di kecamatan yang lain. Kami target 30 April bisa tuntas semua,” ujarnya.

Penyaluran bansos dilakukan berbasis desa/kelurahan. Calon penerima bantuan cukup hadir ke balai desa/kelurahan setempat sesuai jadwal yang telah ditentukan dengan membawa persyaratan yang telah ditentukan, berupa KTP, Kartu Keluarga (KK) dan undangan.


“Kalau lansia atau sakit dan tidak bisa hadir, bisa diwakilkan oleh anggota keluarga lain dengan tetap menunjukkan dokumen lengkap seperti KTP dan KK,” kata Dwiana. (*)

Kapolresta Banyuwangi Tinjau Arus Lalu Lintas di ASDP Ketapang, Pastikan Jalur Jawa-Bali Tetap Lancar

BANYUWANGI (Lentera Sastra)  Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Dr. Rofiq Ripto Himawan, S.I.K., S.H., M.H., melaksanakan pengecekan langsung ke Pos Pengamanan (Pos Pam) ASDP Ketapang pada Selasa (17/03/2026). Langkah ini dilakukan untuk memantau efektivitas pengamanan dan kelancaran arus lalu lintas kendaraan yang keluar masuk melalui pelabuhan penyeberangan tersebut.

Dalam kunjungannya, Kombes Pol Dr. Rofiq memeriksa kesiapsiagaan personel serta koordinasi antarinstansi di pelabuhan. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, volume kendaraan yang menuju maupun keluar dari Pulau Bali menunjukkan intensitas yang tinggi, namun tetap dalam kondisi padat lancar.


"Kami memastikan bahwa seluruh personel di Pos Pam Ketapang sigap dalam mengatur ritme kendaraan. Meski ada peningkatan volume, aliran kendaraan dari gerbang masuk hingga area parkir siap muat di dermaga terpantau bergerak konsisten tanpa hambatan berarti," ujar Kombes Pol Dr. Rofiq di lokasi.

Di sela-sela pengecekan, Kapolresta Banyuwangi memberikan pesan khusus bagi para pengguna jalan dan jasa penyeberangan "Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat yang akan menyeberang agar tetap waspada dan mengedepankan etika berkendara. Mengingat kondisi lalu lintas yang padat lancar, kami harap pengendara tetap sabar dalam antrean dan mengikuti instruksi petugas di lapangan. Pastikan dokumen perjalanan dan tiket ferry sudah siap sebelum memasuki pelabuhan demi kenyamanan bersama."(*)

Banyuwangi Siapkan 48 Masjid Ramah Pemudik

Banyuwangi (Lentera Sastra) Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama Kantor Kementerian Agama (Kemenag) dan  didukung Baznas Banyuwangi menyiapkan 48 masjid di berbagai titik lokasi di ruas jalan nasional dan provinsi maupun destinasi wisata jalur pemudik untuk memudahkan para pemudik selama arus mudik dan balik Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah.

"Dengan adanya masjid ramah pemudik, kami berharap para pemudik dapat merasa nyaman dan aman selama perjalanan," kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat Lounching Masjid Ramah Pemudik di Masjid Al Huda,Kelurahan Bulusan yang berbatasan dengan Desa Ketapang- Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Selasa (17/03/2026)

Masjid-masjid yang terlibat dalam program ini akan membuka akses selama 24 jam dan menyediakan berbagai fasilitas bagi pemudik, seperti area istirahat, tempat ibadah, fasilitas toilet yang bersih,, serta pengamanan di lingkungan masjid dan area parkir. Selain itu, tersedia pula ruang layanan kesehatan didukung puskesmas dan plus ada fasilitas pijat gratis di spot tertentu, serta penyediaan air minum hingga  kopi maupun teh dan makanan ringan gratis hingga menu berbuka. 

"Masjid memang pusat peradaban sebagaimana yang sudah dicontohkan Rasulullah SAW, masjid tidak hanya digunakan untuk ibadah rutin, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas seperti untuk mengkaji dan diskusi ragam topik kehidupan," ujar Bupati Ipuk Fiestiandani yang didampingi Ketua Baznas Drs. Dwi Yanto, M. Pd. 

Kepala Kemenag Banyuwangi Dr. H  Chaeroni Hidayat, MM mengatakan bahwa Banyuwangi menjadi salah satu kabupaten yang terbanyak di Jawa Timur dalam menyiapkan masjid ramah pemudik. "Kami berterima kasih atas kolaborasi yang baik antara pemkab, Baznas, dan semua yang terlibat jadi ladang amal sholeh kita semua," kata Chaeroni yang alumni Ponpes Nurul Jadid Paiton yang tandai inovasi ini dengan santunan yatim dan sembako ke nenek dhuafa serta simbolis berikan bantuan peralatan ke Masjid yang ikut program dan Yayasan Aura Lentera yang koordinir pemijat tunanetra dan difabel lainnya.

Dinkes Banyuwangi Gelar Bimtek Penanganan Gawat Darurat bagi Takmir Masjid Ramah Pemudik

BANYUWANGI –(Warta Blambangan) Menjelang arus mudik Idulfitri 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penanganan Penderita Gawat Darurat (PPGD) Awam bagi pengurus Masjid Ramah Pemudik. Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual pada Selasa (17/3/2026) ini diikuti oleh 48 takmir masjid yang telah ditetapkan sebagai Masjid Ramah Pemudik oleh Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, serta aparatur sipil negara pada Seksi Bimbingan Masyarakat Islam.

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Amir Hidayat, menyampaikan bahwa pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas takmir masjid dalam memberikan pertolongan pertama pada kondisi kegawatdaruratan yang mungkin dialami pemudik.

“Melalui kegiatan ini kami ingin memperkuat kolaborasi antara pengurus masjid dan tenaga kesehatan, sehingga takmir masjid memiliki pengetahuan dasar dalam memberikan pertolongan awal sebelum petugas medis tiba di lokasi,” ujar Amir.

Pelatihan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman dan keterampilan praktis dalam penanganan kondisi darurat di lingkungan masjid yang menjadi titik singgah pemudik. Materi yang diberikan meliputi prinsip dasar PPGD, antara lain memastikan keamanan lokasi, memeriksa kesadaran dan pernapasan korban, serta segera menghubungi layanan bantuan medis.

Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman terkait akses layanan kegawatdaruratan melalui Public Safety Center 119 yang terhubung langsung dengan ambulans dan fasilitas pelayanan kesehatan.

Takmir masjid juga dibekali keterampilan pertolongan dasar, seperti bantuan hidup dasar melalui kompresi dada (CPR) pada kasus henti jantung, penanganan korban tersedak, penanganan perdarahan, serta pertolongan pada korban pingsan.

Sebagai bagian dari kesiapsiagaan layanan kesehatan, setiap Masjid Ramah Pemudik juga diwajibkan menyediakan kotak pertolongan pertama (P3K) dengan perlengkapan yang memadai. Perlengkapan tersebut meliputi obat luar seperti minyak kayu putih, minyak tawon, dan balsam; perlengkapan perawatan luka seperti kasa steril, antiseptik, cairan pembersih luka, plester, dan perban; serta obat-obatan dasar seperti obat lambung dan parasetamol.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama Kementerian Agama berharap masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah dan istirahat bagi pemudik, tetapi juga dapat berfungsi sebagai titik layanan pertolongan pertama yang mendukung keselamatan masyarakat selama periode arus mudik Lebaran.

Senja Nuzulul Qur’an di Kemenag Banyuwangi: Ayat, Sedekah, dan Kehangatan di Meja Berbuka

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar peringatan Nuzulul Qur’an pada Selasa (10/03/2026) sore di Aula Bawah Kantor Kemenag Banyuwangi. Kegiatan tersebut dirangkai dengan pembagian 53 paket sembako kepada kaum dhuafa, khotmil Qur’an, serta buka puasa bersama yang diikuti oleh jajaran pimpinan dan seluruh civitas pegawai di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.


Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr. Chaironi Hidayat, Plt Kepala Kemenhaj Banyuwangi Rif’an Junaidi, Kepala Cabang Bank Syariah Indonesia (BSI) Wilker Jember Raden Silahul Mukmin, Kepala Cabang BSI A. Yani Banyuwangi Mukmin, jajaran pimpinan Kemenag Banyuwangi, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP), serta para pegawai ASN di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi Chaironi Hidayat mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, momentum Ramadan—khususnya peringatan Nuzulul Qur’an—menjadi sarana penting untuk memperkuat spiritualitas sekaligus mempererat kebersamaan di lingkungan kerja.

“Melalui kegiatan Nuzulul Qur’an dan buka puasa bersama ini, mari kita perkuat nilai spiritual serta tali silaturahmi antarpegawai dan mitra kerja,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Bank Syariah Indonesia (BSI) atas dukungan dan kerja sama yang telah terjalin bersama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembagian 53 paket sembako kepada kaum dhuafa di sekitar lingkungan kantor. Bantuan tersebut menjadi wujud kepedulian sosial di bulan Ramadan, sekaligus pengingat bahwa nilai-nilai Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga diamalkan melalui kepedulian kepada sesama.

Setelah itu, para pegawai ASN mengikuti khotmil Qur’an, melantunkan ayat-ayat suci yang menghadirkan suasana khidmat dan menenangkan. Lantunan Al-Qur’an yang menggema di aula seakan menghidupkan kembali ingatan tentang malam ketika wahyu pertama kali diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia.

Menjelang waktu magrib, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Suasana kebersamaan terasa hangat ketika para pegawai dan tamu undangan duduk bersama menikmati hidangan berbuka. Di antara berbagai menu yang tersaji, olahan terong justru menjadi salah satu kuliner favorit yang banyak diminati para peserta.

Hidangan sederhana itu menghadirkan keakraban yang alami. Percakapan ringan, senyum, dan tawa kecil mengalir di antara mereka yang hadir, memperkuat suasana kekeluargaan di tengah rangkaian kegiatan Ramadan.

Sementara itu, Kepala Cabang BSI Wilker Jember, Raden Silahul Mukmin, turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berharap kerja sama antara BSI dan Kementerian Agama dapat terus terjalin dan berkembang dalam berbagai kegiatan yang membawa manfaat bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, pimpinan BSI juga tampak berbaur bersama para pegawai dalam suasana kekeluargaan. Kebersamaan saat menikmati hidangan berbuka—termasuk menu terong yang menjadi favorit—menambah hangatnya suasana Ramadan di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

Peringatan Nuzulul Qur’an itu berlangsung sederhana namun penuh makna. Di antara ayat-ayat yang dilantunkan, sedekah yang dibagikan, serta kebersamaan di meja berbuka, terselip pesan yang sama: bahwa cahaya Al-Qur’an tidak hanya hidup dalam bacaan, tetapi juga dalam kepedulian, persaudaraan, dan amal kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.

The Most KUA Serentak se-Jawa Timur, Banyuwangi Gelar 31 Lokasi dengan 2.912 Peserta

Banyuwangi, (Warta Blambanga)— Program The Most KUA (Move for Sakinah) yang digagas oleh Kementerian Agama Republik Indonesia dilaksanakan secara serentak di seluruh Jawa Timur pada Rabu (04/03/2026). Di lingkungan , kegiatan ini digelar di 31 lokasi dengan jumlah peserta mencapai 2.912 orang.

Ribuan peserta tersebut terdiri atas 27 kegiatan bimbingan remaja usia sekolah, 1 kegiatan bimbingan remaja usia nikah, serta 3 kegiatan Pusaka Sakinah. Salah satu kegiatan Pusaka Sakinah dilaksanakan di aula bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi dengan menghadirkan kelompok keluarga muslim sebagai peserta utama. 


Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa pelaksanaan The Most KUA di Banyuwangi tidak hanya dilakukan secara serentak pada hari ini, tetapi juga akan berlanjut sepanjang bulan Ramadan.

“Selain dilaksanakan serentak hari ini bersama seluruh Jawa Timur, kegiatan ini akan terus kita lanjutkan selama Ramadan sebagai bagian dari penguatan fungsi KUA dalam membina keluarga dan generasi muda,” ujarnya.

Secara substansial, kegiatan untuk kelompok keluarga muslim diarahkan pada penguatan nilai keluarga sakinah–maslahat. Materi yang disampaikan meliputi komunikasi sehat dalam keluarga, kehadiran emosional antaranggota keluarga, pembagian peran yang proporsional, serta penguatan fungsi keluarga dalam kehidupan sosial masyarakat.

Pendekatan yang digunakan bersifat reflektif dan dialogis, mendorong keluarga untuk mengevaluasi praktik relasi sehari-hari serta memperkuat keteladanan di lingkungan sekitar. Materi tidak terbatas pada modul yang tersedia, melainkan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan peserta dan konteks sosial masing-masing wilayah.


Di tingkat provinsi, kegiatan The Most KUA se-Jawa Timur dibuka secara daring oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. Akhmad Sruji Bakhtiar, dari aula . Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan dan peran strategis KUA di tengah masyarakat.

“Dengan adanya kegiatan ini, kita berharap program dan pelayanan di KUA semakin baik, semakin responsif, dan semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ungkapnya.

The Most KUA tahun ini selaras dengan tema besar Kementerian Agama Republik Indonesia, yakni “Joyful Ramadan Mubarak 1447 H/2026 M.” Konsep Joyful Ramadan bertujuan menghadirkan suasana bulan suci yang menggembirakan, inklusif, dan sarat aksi sosial. Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ritual ibadah personal, tetapi juga momentum memperkuat ketahanan keluarga, solidaritas sosial, dan harmoni umat.

Melalui gerakan serentak ini, KUA diharapkan semakin bergerak aktif sebagai pusat layanan keagamaan dan pemberdayaan keluarga, tidak hanya sebagai tempat pencatatan pernikahan, tetapi juga sebagai ruang edukasi, pembinaan, dan penguatan peradaban keluarga muslim.

#TheMostKUA
#KUABergerak
#JoyfulRamadanMubarak1447H
#KeluargaSakinahMaslahat

Rukyatul Hilal di Pantai Pancur Alas Purwo, Kemenag Banyuwangi Ajak Jaga Kondusivitas Jika Terjadi Perbedaan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi melaksanakan rukyatul hilal penentuan awal Ramadan 1447 H di Pantai Pancur, kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Selasa (17/02/2026). Kegiatan ini dihadiri unsur Kementerian Agama, Pengadilan Agama Banyuwangi, perwakilan perguruan tinggi keagamaan Islam (PTAI), serta organisasi kemasyarakatan Islam di Banyuwangi.

Rukyatul hilal dipimpin oleh Kepala KUA Kecamatan Cluring, Gufron Musthofa. Sementara dari Pengadilan Agama Banyuwangi, sidang rukyat di tempat dipimpin oleh Wakil Ketua Pengadilan Agama Banyuwangi bersama jajaran hakim untuk memastikan proses berjalan sesuai ketentuan syariat dan peraturan perundang-undangan. 


Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, dalam sambutannya mengajak seluruh pihak menjadikan potensi perbedaan penetapan awal Ramadan sebagai hikmah dan ruang perenungan, bukan sebagai sumber konflik.

“Kita jadikan atensi bersama, apabila terjadi perbedaan antara kita dengan saudara-saudara yang lain, antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, perbedaan itu kita jadikan hikmah dan renungan bahwa ilmu Allah SWT sangat luas. Mana yang benar itu urusan Allah, tugas kita adalah berupaya semaksimal mungkin agar apa yang kita lakukan paling tidak mendekati kebenaran menurut keyakinan masing-masing,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa perbedaan penentuan awal puasa, apakah dimulai pada Rabu atau Kamis, tidak seharusnya menjadi pemicu perpecahan. Menurutnya, yang terpenting adalah semangat menjalankan ibadah puasa itu sendiri.

“Yang salah itu bukan yang berbeda. Selama sama-sama berpuasa, insyaallah sama-sama benar. Jangan sampai perbedaan kecil berkembang menjadi konflik. Bagaimana mungkin kita ramai bermusuhan karena perbedaan tanggal, sementara masih ada saudara-saudara kita yang belum berpuasa, belum salat, dan belum menunaikan zakat,” tegasnya.

Chaironi juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kondusivitas Banyuwangi. “Mari kita jaga Banyuwangi sebaik-baiknya. Siapa lagi yang akan menjaga daerah tercinta ini kalau bukan kita semua. Semoga Banyuwangi tetap aman, kondusif, dan dalam lindungan Allah SWT,” ucapnya.

Ia turut menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak terhadap pelaksanaan rukyatul hilal, meskipun fasilitas di lokasi masih terbatas. Ke depan, pihaknya akan berupaya meningkatkan sarana dan prasarana agar pelaksanaan rukyat dapat berjalan lebih optimal.

Pelaksanaan rukyatul hilal di Pantai Pancur pada sore hari berlangsung dalam kondisi cuaca mendung sehingga posisi matahari tidak dapat terlihat secara jelas. Hasil rukyat dari daerah akan dilaporkan sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat yang digelar pemerintah pusat melalui Kementerian Agama RI.

Penetapan resmi awal Ramadan 1447 H selanjutnya menunggu hasil sidang isbat yang diumumkan secara nasional.

Menyapu Cahaya Ramadan: ASN Kemenag Banyuwangi Gelar Geber BBM di Masjid Ar Royan

 Banyuwangi (Bimas Islam) Menjelang datangnya Ramadan 1447 Hijriah, halaman Masjid Ar Royan menjadi saksi sebuah gerak sunyi yang sarat makna. Aparatur Sipil Negara (ASN) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi bergotong royong membersihkan setiap sudut masjid dalam program Gerakan Bersama Bersih-Bersih Masjid (Geber BBM) 2026, Jumat (13/2/2026).

Gerakan ini merupakan tindak lanjut dari surat Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor: B-29/Dt.III.I/BA.01.1/02/2026 tertanggal 12 Februari 2026 tentang Instruksi Program Gerakan Bersama (Geber) Bersih-Bersih Masjid (BBM) 2026. Program tersebut digelar serentak secara nasional sebagai bagian dari penguatan program Masjid Berdaya Berdampak


Yang menghangatkan suasana, kegiatan ini tak hanya diikuti ASN Muslim. ASN nonmuslim pun hadir dan terlibat aktif. Ada yang membersihkan kaca, merapikan karpet, mencuci tempat wudhu, hingga menyapu halaman. Semua menyatu dalam semangat pelayanan dan kebersamaan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Chaironi Hidayat, menegaskan bahwa Geber BBM bukan sekadar kerja bakti biasa.

“Dalam rangka menyukseskan dan meningkatkan kualitas pemberdayaan rumah ibadah serta menyambut Ramadan 1447 H/2026 M, kami melaksanakan program ini secara bersama-sama. Kami mengajak seluruh jajaran untuk menggelarnya serentak di masjid dan musala di wilayah masing-masing,” ungkapnya.

Pelaksanaan serentak dijadwalkan pada Senin, 16 Februari 2026, mulai pukul 06.00 hingga 10.00 WIB, di masjid dan musala di seluruh daerah.


Menurut Chaironi, kebersihan masjid adalah bagian dari kesiapan spiritual menyambut bulan suci. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi simbol bahwa nilai gotong royong dan toleransi tumbuh subur di lingkungan Kementerian Agama.

“Ini bukan hanya tentang menyapu lantai atau membersihkan debu. Ini tentang menyiapkan ruang ibadah agar jamaah dapat beribadah dengan nyaman. Dan ketika ASN lintas agama ikut terlibat, itu menunjukkan bahwa merawat rumah ibadah adalah tanggung jawab kemanusiaan bersama,” tuturnya.

Di tengah gerak sapu dan ember air yang mengalir, tersirat pesan bahwa Ramadan tidak hanya disambut dengan persiapan ritual, tetapi juga dengan kerja nyata. Masjid yang bersih akan menghadirkan ketenangan, dan kebersamaan yang terbangun akan menguatkan harmoni di Banyuwangi.

Geber BBM menjadi penanda bahwa Ramadan disambut bukan hanya dengan doa, tetapi juga dengan aksi. (*)

Kemenag Banyuwangi Lepas Mahasiswa PPL Fakultas Syariah UNIIB Genteng

Banyuwangi (Warta Blambangan) Aula bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Rabu (11/02/2026), menjadi ruang pertemuan yang sarat makna. Di tempat itulah, mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Fakultas Syariah Universitas Islam Ibrahimy (UNIIB) Genteng resmi ditarik setelah menuntaskan masa pengabdian di sejumlah Kantor Urusan Agama (KUA) se-Banyuwangi. 


Penarikan tersebut menandai berakhirnya proses pembelajaran lapangan yang selama beberapa waktu terakhir dijalani mahasiswa di tengah dinamika pelayanan keagamaan masyarakat.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaksanaan PPL tidak pernah lepas dari dinamika dan tantangan. Namun, justru di sanalah mahasiswa belajar memahami realitas pelayanan publik yang sesungguhnya.

“PPL yang dilakukan pasti ada dinamikanya. Kami berharap seluruh pengalaman yang diperoleh dapat diambil manfaatnya ketika kembali ke masyarakat. Hal-hal yang baik silakan diambil dan dikembangkan, sementara jika ada masukan atau hal yang perlu diperbaiki, kami terbuka untuk menerimanya,” ujarnya.

Ia menegaskan, Kementerian Agama senantiasa membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi. Sinergi antara dunia akademik dan institusi pelayanan publik, menurutnya, merupakan bagian dari ikhtiar bersama dalam meningkatkan kualitas pelayanan keagamaan yang profesional dan humanis.

Sementara itu, Rektor UNIIB yang diwakili oleh Dekan Fakultas Dakwah, Akhmad Rudi Maswanto, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kerja sama yang telah terjalin dengan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, khususnya jajaran KUA yang telah menjadi ruang belajar bagi mahasiswa.

Ia mengakui bahwa pengalaman mahasiswa di setiap KUA tentu berbeda, seiring dengan karakteristik kepala KUA dan masyarakat yang dilayani di masing-masing wilayah.

“Kami menyampaikan terima kasih atas bimbingan, arahan, dan kesempatan yang diberikan kepada mahasiswa kami. Pengalaman ini sangat bermanfaat, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan pemahaman praktik pelayanan keagamaan secara langsung,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut pada periode-periode berikutnya sebagai bagian dari penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan penarikan tersebut turut dihadiri para Kepala KUA yang menjadi lokasi pelaksanaan PPL UNIIB. Kehadiran mereka menjadi simbol kebersamaan dan komitmen dalam membimbing mahasiswa selama menjalani praktik di lapangan.

Dengan berakhirnya kegiatan PPL ini, para mahasiswa diharapkan mampu membawa pengalaman empiris yang telah diperoleh sebagai bekal dalam mengabdi kepada umat dan masyarakat. Mereka diharapkan menjadi generasi sarjana syariah yang tidak hanya kokoh dalam teori, tetapi juga matang dalam praktik pelayanan keagamaan—mengerti regulasi, memahami realitas, serta peka terhadap kebutuhan umat di tengah dinamika zaman.

Kemenag Banyuwangi Tegaskan Pelayanan Nikah Gratis di KUA Kecamatan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi melalui Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam menegaskan bahwa pelayanan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan pada hari dan jam kerja tidak dipungut biaya serta tidak boleh dipersulit. Apabila terdapat indikasi pemersulitan atau pelayanan yang tidak sesuai ketentuan, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. 


Penegasan tersebut disampaikan dalam kegiatan Candi Mas (Cangkrukan dan Diskusi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) yang dilaksanakan di Perkebunan Treblasala, Kecamatan Glenmore, pada Sabtu, 7 Februari 2026. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kapolresta Banyuwangi, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Wakil Bupati Banyuwangi, unsur Komando Distrik Militer (Kodim), serta Danlantamal Banyuwangi.

Dalam forum dialog bersama masyarakat tersebut, muncul pertanyaan terkait pelayanan pernikahan di KUA. Beberapa warga menyampaikan persepsi adanya perbedaan perlakuan antara pelayanan pernikahan di kantor KUA dengan pelayanan pernikahan di luar kantor atau nikah panggilan.

Menanggapi hal tersebut, Kasi Bimas Islam menjelaskan bahwa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, pelayanan pernikahan yang dilaksanakan di kantor KUA pada hari dan jam kerja adalah gratis. Sementara itu, biaya sebesar Rp600.000 dikenakan untuk pelayanan pernikahan di luar kantor KUA atau di luar hari dan jam kerja sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang wajib disetorkan ke kas negara.

Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menegaskan komitmennya untuk memberikan pelayanan pernikahan yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan. Masyarakat diimbau untuk memanfaatkan layanan resmi serta tidak ragu melaporkan apabila menemukan praktik yang tidak sesuai dengan ketentuan.

Melalui kegiatan Candi Mas ini, diharapkan terjalin komunikasi yang konstruktif antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dalam rangka menjaga ketertiban serta meningkatkan kualitas pelayanan publik di bidang keagamaan.

Lentera Sastra dan Panitia HAB Menyerahkan Antologi Pantigraf HAB ke-80 Kemenag Banyuwangi

Banyuwangi (Lensa Banyuwangi) —Senin pagi, 2 Februari 2026, halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menjelma ruang perjumpaan antara kata dan makna, dalam rangkaian Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama, sebuah buku diserahkan, bukan sekadar kumpulan halaman, melainkan jejak imajinasi dan ikhtiar literasi para siswa madrasah.

Antologi pantigraf berjudul Adikku yang Hilang Itu Bernama Vieux Carré resmi diserahkan kepada Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Buku ini memuat 180 judul pantigraf karya siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) se-Kabupaten Banyuwangi, cerita-cerita sangat pendek yang padat, bening, dan menyimpan gema pengalaman batin remaja madrasah.


Antologi tersebut merupakan buah dari pelatihan pantigraf yang diprakarsai Lentera Sastra Banyuwangi di bawah kepemimpinan Syafaat. Dalam prosesnya, siswa tidak hanya belajar merangkai kata, tetapi juga menata rasa, menimbang makna, dan menyadari bahwa menulis adalah cara lain untuk mengenali diri dan dunia.

Buku antologi diserahkan oleh Ketua Panitia Hari Amal Bhakti Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Fathurrahman, dan diterima langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat.

Ketua Lentera Sastra (Lensa) Banyuwangi, Syafaat menegaskan bahwa antologi ini adalah penanda penting HAB ke-80, sebuah penanda yang hidup. “Buku ini bukan hanya arsip sastra, melainkan bukti bahwa literasi di madrasah tumbuh sebagai proses, bukan sekadar hasil. Yang menguatkan, antologi ini dilengkapi epilog dari penggagas pantigraf Indonesia, Dr. Tengsoe Tjahjono Cahyono, yang memberi penguatan akademik sekaligus apresiasi terhadap kreativitas siswa,” tuturnya.

Dr. Chaironi Hidayat menyambut hangat kehadiran antologi tersebut. Ia mengapresiasi Lentera Sastra Banyuwangi yang telah membuka ruang kreatif bagi siswa MTs dan MA melalui sastra. Menurutnya, kegiatan literasi seperti ini sejalan dengan visi Kementerian Agama dalam membangun pendidikan yang utuh, tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kaya nilai, empati, dan imajinasi.

Antologi pantigraf ini diterbitkan melalui kolaborasi antara Lentera Sastra Banyuwangi, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, dan Dinas Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyuwangi. Kerja sama tersebut diharapkan memperkuat ekosistem literasi madrasah sekaligus menumbuhkan kecintaan siswa terhadap dunia kepenulisan sejak dini.

Penyerahan buku ini menjadi salah satu rangkaian bermakna dalam peringatan Hari Amal Bhakti ke-80 Kementerian Agama. Ia menegaskan bahwa madrasah Banyuwangi tidak hanya melahirkan prestasi akademik, tetapi juga karya sastra, yang layak dibaca, dirawat, dan dikenang.

Ketua HAB, Fathurrahman menyampaikan harapannya agar pada peringatan HAB di tahun-tahun mendatang, karya siswa kembali hadir dalam bentuk buku. “Agar setiap perayaan tidak hanya diingat lewat seremoni, tetapi juga melalui tulisan yang lahir dari proses belajar dan keberanian berkarya,” ujarnya.

Sukses Gelar Festival Al Banjari Se-Jawa Timur, MA Al Amiriyyah Padukan Semangat Harlah Jam'iyyah Hadrah dan Satu Dekade OSSAMAA

Banyuwangi, 30 Januari 2026 – Kemeriahan dan syiar Islam melalui seni shalawat bergema di MA Al Amiriyyah , Pondok Pesantren Darussalam Blokagung. Madrasah yang dikenal dengan prestasi akademik dan event bergengsinya ini sukses menyelenggarakan Festival Al-Banjari Se-Jawa Timur, sebagai pembuka rangkaian perayaan Harlah Hadrah dan menyemarakkan Satu Dekade Olimpiade Sains Seni dan Agama MA Al Amiriyyah  (OSSAMAA).

Festival yang digelar pad
a Kamis (29/01) ini menjadi daya tarik tersendiri dalam gelaran OSSAMAA ke-10. Menarik perhatian ratusan penonton, event ini berhasil mengumpulkan puluhan grup shalawat terbaik dari berbagai penjuru Jawa Timur, seperti Tuban, Malang, Jember dan Probolinggo. Antusiasme peserta luar biasa, menunjukkan besarnya minat generasi muda terhadap seni musik Islami bertajuk hadrah Al Banjari.

“Festival Al-Banjari tahun ini istimewa karena memiliki dua makna. Ia adalah wujud kecintaan kita pada Rasulullah SAW dalam rangka Harlah Hadrah MA Al Amiriyyah yakni Syifaul Qolbi dan Farha Syafaah, sekaligus menjadi bukti eksistensi dan perkembangan OSSAMAA selama satu dekade sebagai ajang yang tidak hanya menampung bakat akademik, tetapi juga seni dan spiritual,” ujar Ustaz M. Reza Pahlevi Fauzi, Ketua Panitia Festival Al Banjari.

Kepala MA Al Amiriyyah, Ahmad Fauzan, S.Pd.I., M.Pd. menambahkan bahwa kegiatan ini sejalan dengan visi pendidikan pesantren yang integral. “Kami tidak hanya membangun kecerdasan intelektual melalui lomba-lomba akademik di OSSAMAA, tetapi juga mengasah kecerdasan emosional dan spiritual melalui seni shalawat. Ini adalah pendidikan karakter yang nyata,” tuturnya.

Dewan juri yang terdiri dari ahli seni musik Hadrah Al Banjari memberikan penilaian yang ketat pada beberapa aspek, seperti harmonisasi vokal, terbang, serta adab syair. Setelah melalui kompetisi yang berlangsung sejak pagi hingga malam hari, terpilih empat grup sebagai pemenang utama:

1.     Juara I: Grup Shalawat El Khoir dari MA Al Ma'arif  Singosari, Malang

2.     Juara II: Grup Shalawat Bilqis Islamic Center, Tuban

3.     Juara III: Grup Shalawat Mustaq Jiddan, Banyuwangi

4.     Juara IV: Grub Shalawat An Nahdlah, Probolinggo

Para pemenang berhak mendapatkan tropi, sertifikat, dan uang pembinaan. Namun, lebih dari sekadar kemenangan, suasana persaudaraan dan saling menghargai antar-peserta menjadi nilai yang paling menonjol.

“Ini pengalaman pertama kami ke Banyuwangi. Kami sangat terkesan dengan keramahan panitia dan semangat pesaing lainnya. Lomba di sini sangat profesional, namun nuansa ukhuwah-nya sangat kuat,” kata Ahmad, salah satu peserta.

Festival Al-Banjari Se-Jawa Timur ini menjadi pembuka rangkaian OSSAMAA X dengan sangat khidmat dan semarak. Keberhasilannya menjadi penanda bahwa MA Al Amiriyyah  tidak hanya konsisten dalam menggelar event kompetitif berkualitas tinggi, tetapi juga mampu menjadi garda depan dalam melestarikan dan mengembangkan seni budaya Islami di kalangan generasi muda, seiring dengan peringatan milad dan pencapaian satu dekade OSSAMAA yang membanggakan.

Kontributor: Muhammad Fauzi Al Hamidi

Lakon Ekalaya Hidupkan Perayaan Milad ke-42 MAN 2 Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambanga) Suasana Milad ke-42 MAN 2 Banyuwangi kian semarak dengan hadirnya pertunjukan seni tradisi wayang kulit. Pentas budaya yang disuguhkan oleh Karawitan Langen Budaya MAN 2 Banyuwangi ini menjadi salah satu agenda unggulan yang menarik antusiasme warga madrasah.

Dalam pagelaran tersebut, lakon Ekalaya dipilih sebagai cerita utama. Lakon yang bersumber dari wiracarita Mahabharata ini mengisahkan sosok Ekalaya atau Ekalawya, seorang pemburu dari lapisan masyarakat bawah yang memiliki kegigihan luar biasa dalam mempelajari ilmu memanah. Meskipun ditolak berguru oleh Resi Drona akibat perbedaan status sosial, Ekalaya tetap menempuh jalan belajar dengan caranya sendiri. Ia menjadikan patung Drona sebagai perlambang guru dan berlatih dengan penuh kesungguhan hingga kemampuannya melampaui Arjuna. Kisah tersebut mengandung pesan kuat tentang keuletan, ketabahan, serta perjuangan melawan batasan sosial.

Pagelaran wayang kulit ini dikendalikan oleh Davin Labhan, siswa kelas XI IPS MAN 2 Banyuwangi, yang dipercaya tampil sebagai dalang. Harmoni pertunjukan semakin terasa melalui iringan gamelan para pengrawit yang terdiri dari siswa dan alumni. Kehadiran Syifa Hidayat, alumni MAN 2 Banyuwangi, turut memperkaya kualitas musikal dan artistik pertunjukan. 


Kepala MAN 2 Banyuwangi, Syaeroji, menyampaikan bahwa seni karawitan merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang terus dikembangkan sebagai bagian dari pendidikan karakter. Ia menilai seni tradisi memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai luhur kepada peserta didik.

“Melalui seni karawitan dan wayang kulit, siswa belajar tentang disiplin, kebersamaan, kepekaan rasa, serta penghargaan terhadap warisan budaya,” ujarnya.

Momentum Milad ke-42 ini diharapkan menjadi penguat komitmen MAN 2 Banyuwangi dalam menumbuhkan kreativitas siswa, mempererat hubungan antara madrasah dan alumni, serta menjaga kesinambungan seni dan budaya sebagai bagian dari pendidikan yang berkarakter)  .

Dirgahayu ke-21 JRKBB, Rembug IX Digelar di Paltuding Ijen


Banyuwangi – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-21 Jaringan Radio Komunitas Broadcast Banyuwangi (JRKBB) dirayakan dengan cara sederhana namun penuh makna melalui kegiatan Dirgahayu dan Rembug IX JRKBB di kawasan Paltuding Ijen, Jumat (23/1/2026).

Di tengah udara dingin dan kabut pegunungan Ijen, perayaan ditandai dengan tasyakuran nasi kuning, polo pendem, serta aneka kudapan donasi dari Humas Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) Pusat, Indah CC. Suasana hangat semakin terasa saat peserta menikmati kopi dan teh panas bersama, menjadikan peringatan ini penuh keakraban dan kebersamaan.

JRKBB sendiri dideklarasikan pada 17 Januari 2005 oleh 17 pimpinan radio komunitas di Gedung Juang ’45 Banyuwangi. Dalam perjalanannya, JRKBB terus berperan sebagai simpul komunikasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat berbasis siaran komunitas di Bumi Blambangan.

Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh dan penggiat radio komunitas, di antaranya Kabag Humas Pemda Banyuwangi Drs. Abdullah, Ketua JRKI Wilayah Jawa Timur, serta Founder JRK untuk Demokrasi. Kehadiran mereka memperkuat posisi JRKBB sebagai bagian penting dari ekosistem penyiaran komunitas di daerah.

Sebanyak 13 peserta dari unsur radio komunitas dan Perkumpulan Komunitas Gotong Royong ’45 mengikuti rangkaian acara sejak pagi. Usai tiba menggunakan armada wisata DAMRI, peserta langsung menggelar penyegaran kepengurusan, penyusunan Garis Besar Haluan Organisasi (GBHO), serta perumusan program kerja yang dikemas dalam Rembug IX JRKBB.

Hasil rembug menetapkan Bambang Irawan dari Brit FM Gendoh–Sempu kembali terpilih sebagai Ketua JRKBB untuk periode kedua masa bakti 2026–2027. Husen dari Planet FM Wongsorejo, yang sebelumnya menjabat sekretaris, dipercaya naik sebagai Wakil Ketua. Posisi Sekretaris diemban oleh Qurrota A’Yunin dari Podcast Sinergi Gotong Royong ’45.

Sementara itu, susunan Presidium JRKBB diisi oleh Hariyanto (Bisma FM Gambiran), Sutiyon (At Rohman FM Srono), dan Nurhadi Windoyo (Studio Aura Lentera).

Usai Isoma dan jeda ibadah salat Jumat, forum kembali dibuka dengan penyampaian usulan program kerja. Sejumlah agenda strategis disepakati, antara lain pelantikan pengurus baru bertepatan dengan Hari Pers Nasional di Kedai Makmoer, penguatan program talkshow dan reportase, sinergi dengan media online, kepedulian terhadap isu disabilitas dan kebencanaan, serta agenda kebersamaan berupa mlaku-mlaku siaran ke Alas Purwo.

Refleksi dan tasyakuran HUT ke-21 ini juga diisi dengan pelatihan jurnalistik oleh Siswanto, jurnalis yang aktif di televisi swasta nasional dan pengelola media lokal berbasis desa Pojok Etan.com. Materi yang disampaikan meliputi dasar jurnalistik, etika media, hingga pentingnya mengangkat kehidupan dusun dan desa melalui radio komunitas.

Selain itu, peserta mendapatkan paparan praktik baik pengelolaan radio komunitas serta pengenalan aplikasi GATA, yang disampaikan oleh Ketua Panitia Andre Waluyo.
Andre Waluyo yang juga founder aplikasi GATA, menekankan pentingnya setiap awak radio memiliki keyword bisnis atau “kartu nama verbal” sebagai bagian dari strategi branding dan profiling media radio.

Kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta, seperti Haderi, Mislatin Rehana, Abdul Mun’im, Elly, dan lainnya. Dengan biaya terjangkau—cukup Rp45 ribu untuk perjalanan pulang-pergi DAMRI dan retribusi Pokdarwis Tamansari—mereka mengaku bahagia karena bisa merayakan ulang tahun JRKBB sekaligus memperkuat ikatan persaudaraan di dunia radio komunitas.

Dirgahayu ke-21 JRKBB menjadi penegas bahwa radio komunitas tetap hidup, bertumbuh, dan relevan sebagai media gotong royong, kesabaran, serta keikhlasan dalam melayani masyarakat Banyuwangi.(AW)



 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger