Selamat Datang di Warta Blambangan

Pages

Tampilkan postingan dengan label Warta Kemenag. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta Kemenag. Tampilkan semua postingan

150 Ribu Shalawat Nariyah Menggema dari Kementerian Agama Banyuwangi: Harmoni Spiritual, Energi Kebangsaan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Banyuwangi seakan berdenyut dalam satu tarikan napas doa, Selasa (19/8/2025). Masjid Ar Royyan di kompleks Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi menjadi episentrum gelombang spiritual yang kemudian menjalar ke madrasah dan seluruh Kantor Urusan Agama (KUA) di pelosok kecamatan. 


Sejak pagi, ribuan aparatur sipil negara (ASN), guru madrasah, dan para penghulu larut dalam shalat dhuha berjamaah, dzikir, dan pembacaan Shalawat Nariyah. Lantunan shalawat menggema bak resonansi ilmiah: getaran suara yang berulang-ulang membentuk harmoni, menyatukan detak hati para jamaah.

Tak sekadar ritual, momentum ini memecahkan rekor internal. Dari target 80 ribu kali bacaan, panitia mencatat lebih dari 150 ribu kali Shalawat Nariyah berhasil dilantunkan. Angka itu—jika dilihat secara ilmiah—berarti rata-rata setiap jamaah mengumandangkan ratusan shalawat, menciptakan “gelombang energi kolektif” yang diyakini para ulama sebagai doa paling mustajab.

Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Dr Chaironi Hidayat, menegaskan pentingnya memandang shalawat bukan sekadar teks.

“Dari sisi linguistik, shalawat itu bukan berhenti pada bahasa, melainkan menjadi ikatan transendental antara kita dengan Rasulullah SAW. Shalawat adalah jembatan spiritual agar doa lebih mudah dikabulkan Allah SWT,” ujarnya penuh penekanan.

Ia juga menyinggung perdebatan klasik ulama tentang Shalawat Nariyah. Namun, bagi Chaironi, substansinya jelas: “Ketika kita tidak mampu langsung mendekat kepada Allah, maka kita bersandar melalui Rasulullah SAW. Semoga keluarga besar Kemenag, guru madrasah, dan masyarakat Banyuwangi senantiasa dalam penjagaan-Nya.”

Kepala Seksi Bimas Islam, Mastur, yang memandu jalannya pembacaan, menyebut shalawat sebagai “energi kebersamaan” sekaligus pengikat persaudaraan ASN. “Momentum ini menjadi bekal bagi kami untuk bekerja lebih tulus, memberi pelayanan terbaik, dan memperkuat semangat pengabdian,” katanya.

Kegiatan ini kian sarat makna karena diselaraskan dengan peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI. Bagi Chaironi, shalat dhuha dan shalawat berjamaah adalah bentuk ikhtiar religius untuk menjaga semangat kemerdekaan.

“Doa adalah senjata batin. Semoga barokah shalawat mengiringi langkah kita, menjaga bangsa, dan melapangkan jalan pengabdian,” pungkasnya.

Gelombang shalawat yang mengalun dari Banyuwangi pagi itu seolah menegaskan: kemerdekaan bukan hanya dirayakan dengan upacara bendera, tetapi juga dengan lantunan doa yang menembus langit.


Suara Kecil dari Cluring yang Menggema di Jember

 *Suara Kecil dari Cluring yang Menggema di Jember*


Malam itu, dari sebuah grup WhatsApp yang sunyi dan biasanya hanya dipenuhi puisi dan ulasan sastra, tiba-tiba muncul kabar yang membuat saya menghentikan sejenak langkah kaki menuju dapur. Kabar itu datang dari Mas Punjul Ismuwardoyo, budayawan berambut gondrong dari Tegaldlimo, yang juga takmir masjid dan pengasuh sanggar seni bernama Alang-alang Kumitir. Ia mengabarkan bahwa seorang anak perempuan dari Cluring berhasil menyabet juara dua lomba pidato dai cilik tingkat provinsi Jawa Timur. (7-9/06/2025)

Namanya Naufalyn Mughny Shaliha. Panjang dan lembut. Nama itu seperti potongan ayat yang terselip di antara helaian sajadah tua di musholla belakang rumah. Ia siswa MI Nahdlotus Shibyan, Desa Tamanagung, Cluring. Tempat yang tidak ada di peta-peta mewah hotel bintang lima, tapi ada dalam peta kecil para pejalan sunyi yang percaya bahwa suara seorang anak bisa lebih murni dari pidato pejabat mana pun.

Saya tidak mengenal Naufalyn. Tapi saya mengenal betul wajah-wajah semangat dari anak-anak madrasah. Wajah yang pucat tapi tekun. Wajah yang tahu bagaimana caranya menahan lapar sambil menghafal teks dakwah. Mereka sering kita anggap kecil. Tapi siapa sangka suara mereka bisa melompati pagar-pagar administratif, melompati nama-nama besar, dan menjatuhkan embun di hati juri.

Mas Muncul, dalam pesannya, menyebut bahwa suara anak ini sangat kuat. Mentalnya pun demikian. Seperti potongan besi yang ditempa doa ibu di dini hari. Tapi ia juga menyebut ada kekurangan. Teks yang dibacakan Naufalyn adalah hasil karya guru di madrasah. Ia menghafal. Bukan menyusun. Dan di sinilah, terkadang, letak masalah kita dalam menyiapkan anak-anak menuju mimbar lebih tinggi. Kita lebih rajin membentuk lidah mereka, tapi lupa mengasah isi kepala mereka.

Saya pernah duduk berdampingan dengan beberapa orang tua murid yang anak-anaknya masuk lomba pidato. Mereka selalu khawatir soal gaya. Tentang busana. Tentang intonasi. Tapi lupa bertanya: “Apa yang kamu pikirkan soal ceramahmu?” Anak-anak kita belum diberi ruang untuk berpikir. Mereka baru disuruh menghafal. Maka pantas saja jika pidato terasa seperti mendengar kaset lawas yang diputar ulang. Hanya ketika hati mereka yang berbicara, kita bisa mendengar kejujuran, bukan sekadar susunan kata yang manis.

Namun, Naufalyn berbeda. Setidaknya begitu kata Syafaat, salah satu Juri dari Lentera Sastra Banyuwangi. Katanya, anak ini adalah bahan mentah yang sangat potensial. Ia bukan marmer. Ia batu kali yang siap dipahat. Dan sungguh, seorang dai yang baik adalah batu yang belum terlalu halus. Ia harus kasar dahulu. Harus dilukai dahulu. Harus dihadapkan pada sorot lampu panggung, supaya kelak bisa bicara bukan hanya di mimbar musala, tapi di pelataran hati manusia. 


Saya membayangkan, setelah malam itu, Naufalyn pulang ke rumahnya yang sederhana. Mungkin disambut senyum malu ibunya. Mungkin bapaknya mengelus kepala dengan tangan yang juga biasa mengangkat karung. Tak ada confetti. Tak ada spanduk. Tapi di dalam dada mereka, ada rasa yang tak bisa digambarkan. Seperti selembar langit yang dipasang tepat di atas ranjang bambu.

Kemenangan ini, kata Mas Muncul, begitu tipis. Juara satu jatuh ke tuan rumah. Tapi siapa peduli? Kita sudah cukup sering belajar bahwa dalam lomba-lomba seperti ini, rumah adalah medan magnet yang bisa menarik perhatian juri. Kita juga tahu, juri, sekokoh apapun niatnya, kadang masih juga manusia. Dan manusia, seperti kita tahu, punya kelemahan di titik-titik tak terduga. Maka juara dua, dalam kondisi ini, terasa lebih sahih, lebih tulus, lebih jernih.

Sehari kemudian, saya mendengar kabar tambahan. Ada seorang kepala madrasah tsanawiyah negeri yang terkenal di Banyuwangi, menawarkan beasiswa penuh untuk Naufalyn. Saya tidak tahu siapa kepala madrasah ini. Tapi saya ingin menjabat tangannya. Karena di zaman ini, menawarkan beasiswa kepada anak kecil bukan hanya soal membentuk siswa, tapi soal menyiram benih mimpi yang hampir layu di ladang yang terlalu panas, tentu, beasiswa bukan jaminan bahwa Naufalyn kelak akan menjadi dai besar. Tapi setidaknya itu jembatan. Dan kadang, dalam hidup ini, jembatan lebih penting daripada istana.

Kita membutuhkan lebih banyak anak seperti Naufalyn. Anak-anak yang tidak takut berdiri di mimbar. Anak-anak yang bisa menatap ratusan pasang mata tanpa kehilangan akal sehatnya. Anak-anak yang bisa mengangkat tangan, bukan untuk menunjuk, tapi untuk menyapa. Anak-anak yang bisa mengubah ruang kelas menjadi panggung perubahan, bukan hanya ruang untuk mencatat pelajaran.

Saya membayangkan masa depan yang tenang. Di mana anak-anak seperti Naufalyn menjadi guru. Menjadi jurnalis. Menjadi pembaca puisi. Menjadi dai. Menjadi apa saja yang mereka cintai. Karena sejak kecil mereka telah belajar bahwa bicara bukan hanya perkara suara, tapi perkara keberanian. Dan keberanian, seperti kita tahu, adalah sumber dari hampir semua perubahan besar di dunia ini, kita mungkin lupa pidatonya. Kita mungkin tak ingat bait-bait yang diucapkannya malam itu. Tapi kita akan ingat bahwa pernah, dari sebuah desa kecil bernama Tamanagung, Cluring, ada suara kecil yang menggema sampai ke telinga-telinga orang dewasa di Jember. Dan itu cukup. Cukup untuk menyalakan lagi lilin di hati kita yang hampir padam.

Terima kasih, Naufalyn. Kau telah mengajari kami arti keberanian dalam bentuk paling sederhana: berdiri, bicara, dan percaya pada suaramu sendiri.

Kemenag Banyuwangi Gelar FGD Penguatan Early Warning System (EWS) Berdimensi Keagamaan untuk Mitigasi Konflik Sosial

Banyuwangi (Warta Blambangan);Dalam rangka meningkatkan kapasitas mitigasi konflik sosial berbasis komunitas, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penguatan Early Warning System (EWS) Berdimensi Keagamaan dalam Mencegah Potensi Konflik Sosial di Masyarakat”, pada Rabu (9/7/2025), bertempat di Meeting Room MAN 1 Banyuwangi.

Kegiatan ini bertujuan memperkuat integrasi antara pendekatan keagamaan dan sistem deteksi dini konflik (EWS), melalui penguatan kolaborasi multipihak, termasuk tokoh agama, lembaga keagamaan, serta unsur pemerintah daerah. FGD diselenggarakan secara partisipatif, dimoderatori oleh H. Syafaat, S.H., M.H.I., dengan format dialog terbuka dan pertukaran gagasan lintas sektoral. 

Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., menegaskan bahwa pengelolaan keberagaman di masyarakat memerlukan kedewasaan sosial serta ketahanan terhadap provokasi berbasis perbedaan. Ia menyampaikan bahwa terdapat lima indikator utama yang sering kali menjadi pemicu konflik, yaitu: (1) rasa superioritas kelompok; (2) ketidakadilan distribusi; (3) kerentanan sosial yang tinggi; (4) krisis kepercayaan antar kelompok; dan (5) perasaan tidak diberdayakan. 


“Konflik bukan semata akibat perbedaan, melainkan cara kita menyikapi perbedaan tersebut. Oleh karena itu, kedewasaan menjadi parameter penting dalam mencegah eskalasi konflik,” ujar Chaironi.

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, H. Mastur, S.Ag., M.Pd.I., menambahkan bahwa sistem EWS tidak cukup hanya bersifat administratif-formal, melainkan harus adaptif terhadap dinamika sosial yang berkembang di akar rumput. Menurutnya, penyusunan kebijakan berbasis EWS memerlukan keterlibatan langsung masyarakat serta pemangku kepentingan keagamaan untuk memastikan keberterimaan dan efektivitas implementasi.

Di sisi lain, Kasubbag Tata Usaha Kemenag Banyuwangi sekaligus anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Drs. H. Moh. Jali, M.Pd.I., dalam pemaparannya menyatakan bahwa pendekatan berbasis keagamaan merupakan instrumen strategis dalam meredam potensi konflik yang dibungkus oleh isu identitas. Ia menyebut bahwa konflik bernuansa agama kerap kali merupakan manifestasi dari konflik struktural lain, seperti perebutan sumber daya, dominasi politik, atau ketimpangan ekonomi.


“Keberhasilan mitigasi konflik bergantung pada sejauh mana tokoh agama mampu menjadi agen moderasi. Keteladanan dan legitimasi sosial para tokoh agama menjadi kunci,” terang Jali.

FGD ini turut menghadirkan peserta lintas organisasi keagamaan dan sosial di tingkat kabupaten, antara lain Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC-NU), Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Aisyiyah, Muslimat NU, Fatayat NU, Al-Irsyad, Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Penyuluh Agama Islam, serta para Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) di Kabupaten Banyuwangi.

Diharapkan, hasil forum ini dapat dirumuskan menjadi policy brief yang bersifat operasional, serta menjadi model kolaboratif dalam penguatan sistem peringatan dini berbasis nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal, untuk mencegah serta mereduksi eskalasi konflik sosial di tingkat komunitas.

ASN Kemenag Banyuwangi Gelar Sholat Duha dan Kultum: Renungan tentang Kemuliaan Manusia di Sisi Allah

Banyuwangi (Warta Blambangan) — Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi kembali menggelar kegiatan rutin Sholat Duha dan pembacaan Surat Al-Waqi’ah yang dilaksanakan pada Kamis pagi, 12 Juni 2025, mulai pukul 07.30 WIB. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh ASN Kemenag Banyuwangi yang beragama Islam ini berlangsung khidmat di aula kantor setempat. 


Bertindak sebagai imam sekaligus penceramah adalah Drs. Makmun, Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) dari MTsN 10 Banyuwangi. Sementara pembacaan Surat Al-Waqi'ah dipimpin oleh A. Fauzan Anshori, S.HI, salah satu ASN di lingkungan seksi bimbingan masyarakat Islam Kemenag Banyuwangi.

Dalam kultumnya, Drs. Makmun menyampaikan materi bertema “Kemuliaan Manusia di Sisi Allah” dengan merujuk pada Surat Al-Baqarah ayat 1 dan ayat-ayat terkait yang menggambarkan posisi mulia manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.

 “Manusia diciptakan dengan potensi akal dan hati. Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam yang tidak diketahui oleh malaikat, ini menjadi bukti bahwa manusia diberi derajat yang tinggi, asalkan ia mampu menjaga iman dan ilmunya,” terang Drs. Makmun di hadapan para jamaah.

Ia juga mengingatkan bahwa kemuliaan manusia bukan terletak pada jabatan, kekayaan, atau keturunan, melainkan pada ketakwaan dan kemampuannya untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pembinaan rohani dan penguatan karakter ASN Kemenag Banyuwangi agar senantiasa mengawali hari dengan ibadah dan perenungan nilai-nilai Al-Qur'an.

Danging Qurban dibungkus Daun Jati: Hikayat Idul Adha dari Kementerian Agama Banyuwangi

BANYUWANGI, (Warta Blambangan) Di bawah langit biru yang cerah, di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, aroma tanah pagi dan desir angin Juni bersatu dalam kidung Idul Adha yang khidmat. Senin itu, 10 Juni 2025, bertepatan dengan 13 Dzulhijjah 1446 Hijriyah, bukan sekadar penanggalan yang berjumpa, tetapi juga pertautan antara langit dan bumi, antara pengorbanan dan keberkahan.v


Enam ekor sapi dan enam kambing telah berserah diri dalam zikir terakhirnya, menunaikan takdir sebagai qurban—sebagai titipan cinta dari mereka yang mampu kepada mereka yang menanti. Daging yang tersaji tak hanya dibagi rata, tapi juga dibagi rasa. Dan rasa itu dibungkus rapi dalam lembar-lembar daun jati yang luas, tua, dan harum, menggantikan plastik yang biasa hadir dalam sunyi dan tak terurai.

Tahun ini berbeda. Tak sekadar karena jumlah hewan yang dikurbankan atau banyaknya penerima manfaat, tapi karena makna yang dikandung lebih dalam. Ada langkah kecil yang menyentuh, sederhana namun menggetarkan: daging qurban dibungkus dengan daun jati. Sebuah isyarat bahwa tradisi dan kesadaran lingkungan bisa bergandengan tangan, seperti dua makmum dalam satu saf panjang doa.

Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, H. Chaironi Hidayat, berdiri di antara kerumunan panitia dan pegawai, suaranya lirih namun sarat makna, menyapa pagi dan menyampaikan syukur.

“Ini bukan sekadar kegiatan rutin,” ucapnya. “Qurban adalah wasilah. Sebuah jalan menuju rahmat dan hidayat dari Allah SWT. Terima kasih kepada seluruh keluarga besar Kemenag Banyuwangi yang telah menjadikan ibadah ini penuh makna.”

Chaironi tak sekadar berbicara. Ia menanamkan. Ia mengajak. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kekompakan, kebersamaan, dan keikhlasan. Bahwa qurban bukan hanya soal pisau dan darah, bukan hanya soal pembagian dan antrian, tapi juga tentang bagaimana manusia saling merangkul dalam ibadah, saling menguatkan dalam kebaikan.

“Panitia harus solid dan saling menguatkan,” katanya lagi. “Ini bukan hanya ibadah ritual. Ini momentum mempererat ukhuwah.”

Dan ukhuwah itu terasa nyata. Para pegawai tampak menyingsingkan lengan, merapikan antrean, mengatur kupon, menyambut dengan senyum, dan menuntun warga dengan sabar. Ada yang memanggul daging, ada yang menimbang, ada pula yang sekadar mengelap keringat sambil tersenyum. Tak ada hiruk pikuk yang gaduh, hanya gemuruh tenang dari hati yang bahagia berbagi.

Siti Rohmah, seorang ibu rumah tangga dari lingkungan sekitar kantor, menerima bungkusan daging dengan mata berkaca-kaca. Ia memandang daun jati yang membungkus daging itu dengan penuh kenangan.

“Biasanya kami terima daging dalam kantong plastik,” ujarnya pelan. “Tahun ini dibungkus daun jati. Rasanya seperti kembali ke masa lalu, ke masa nenek saya. Lebih alami, lebih segar, lebih... hangat.”

Hangatnya bukan hanya dari tangan yang memberi, tapi dari pesan yang diselipkan: bumi tak lagi kuat memikul plastik. Maka manusia yang punya cinta dan akal harus mulai mengurangi bebannya. Daun jati pun hadir, bukan sebagai gaya, tapi sebagai pernyataan. Bahwa ibadah pun bisa bersahabat dengan alam, bahwa tradisi tak harus ditinggalkan, asal dijalankan dengan jiwa yang penuh hikmah.

Dan benar, dalam sunyi daun jati itu, tersimpan banyak cerita: tentang hutan yang rimbun, tentang dapur nenek, tentang nasi jagung dan sambal kelapa, tentang masa lalu yang tak sepenuhnya ingin kita tinggalkan. Kini, daun itu menjadi saksi atas niat baik dan langkah sederhana untuk masa depan yang lebih bersih.

Kegiatan qurban tahun ini pun tak hanya menyentuh sisi spiritual dan sosial, tapi juga ekologis. Di tengah dunia yang penuh sampah plastik, di tengah laut yang menjerit dan tanah yang murung, langkah kecil seperti ini adalah gema takbir yang memuliakan bumi. Bahwa qurban bukan hanya kepada sesama, tapi juga kepada alam yang diam-diam melayani kita setiap hari.

Chaironi menutup sambutannya dengan doa yang pelan namun mengalir dalam:

“Semoga semangat qurban membawa keberkahan, tidak hanya bagi yang berkurban dan menerima, tetapi juga bagi alam yang kita tinggali bersama.”

Dan langit pagi itu pun mengangguk. Daun jati yang terhampar, daging yang dibagi, senyum yang ditanam, serta takbir yang terus dilantunkan, menjadikan hari itu bukan hanya hari raya. Tapi hari di mana manusia, sesama, dan semesta kembali saling mengenali dalam bahasa kasih.

Hari di mana Banyuwangi menulis bait indah tentang qurban yang tak hanya memotong daging, tapi juga ego. Yang tak hanya berbagi makanan, tapi juga makna. Yang tak hanya menata logistik, tapi juga merapikan niat.

Di bawah teduh Kementerian Agama, Banyuwangi menulis sejarah kecil. Tapi sejarah yang akan dikenang oleh bumi.

Pengukuhan Kelompok Kerja Majelis Taklim Kabupaten Banyuwangi: Menebar Kedamaian, Menyatukan Misi Dakwah

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, secara resmi mengukuhkan kepengurusan Kelompok Kerja (Pokja) Majelis Taklim Kabupaten Banyuwangi, dalam sebuah prosesi yang berlangsung khidmat di aula Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Banyuwangi, Selasa siang (20/05/2025).



Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, para pengurus majelis taklim dari berbagai kecamatan di Banyuwangi. Dalam sambutannya, Dr. Chaironi menyampaikan pentingnya kehadiran Pokja Majelis Taklim sebagai garda terdepan dakwah yang membawa nuansa kedamaian di tengah masyarakat.


 “Alhamdulillah, siang ini kita baru saja menyaksikan pengukuhan pengurus Pokja Majelis Taklim Kabupaten Banyuwangi. Saya berharap keberadaan Pokja ini bukan sekadar formalitas, melainkan wadah koordinasi, validasi, dan kolaborasi dakwah yang memberi dampak nyata di masyarakat,” ungkap Chaironi.

Lebih lanjut, Chaironi menyampaikan fenomena meningkatnya permohonan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) Majelis Taklim beberapa waktu terakhir. Ia mengingatkan agar pengurus tidak menjadikan fasilitas pemerintah sebagai tujuan utama, tetapi tetap menjaga orientasi utama majelis taklim sebagai ruang pencerahan dan keteladanan umat.

“Tujuan Majelis Taklim adalah memberikan pencerahan kepada masyarakat—baik melalui sholawat, dzikir, maupun kajian keislaman. Jangan sampai keberadaan majelis taklim malah menimbulkan keresahan,” tegasnya.

Chaironi juga mengajak seluruh pengurus Pokja agar menjadi jembatan komunikasi antar majelis, bukan sekadar pengurus administratif. Ia menekankan pentingnya teori dakwah yang santun, koordinasi rutin, dan semangat saling belajar antar sesama majelis taklim.

“Kalau ada dua kelompok majelis saling bersaing hingga bermusuhan, kita perlu bertanya, apa sebenarnya visinya? Pokja harus hadir sebagai penengah—sebagai kekuatan moral yang menyatukan, bukan memecah.”

Chaironi mengisahkan bagaimana umat Islam di masa lalu dikenal karena membawa keamanan dan kesejahteraan bagi masyarakat, bukan sebaliknya. Bahkan dalam kondisi duka mendalam saat wafatnya Rasulullah SAW, para sahabat tetap mendahulukan ketenangan masyarakat daripada kesedihan pribadi.

“Lihat bagaimana Sayyidina Abu Bakar menahan dukanya, dan justru menjadi penyejuk bagi umat yang panik. Itu contoh nyata bagaimana kepentingan pribadi dikorbankan demi maslahat umat,” tuturnya haru.

Ia juga mengingatkan agar pengurus Pokja segera mengadakan rapat kerja untuk menyusun program, termasuk pertemuan rutin minimal setahun sekali, serta menyusun materi dakwah yang menyentuh sisi kemanusiaan dan kebhinekaan.

Menutup sambutannya, Chaironi menitipkan pesan kepada seluruh pengurus agar tetap menjaga semangat dakwah yang rahmatan lil alamin, menjauhi kepentingan pribadi, dan merawat ukhuwah Islamiyah di bumi Blambangan.

“Mari berdakwah dengan kasih sayang. Jangan sampai ada pribadi-pribadi yang menyusup membawa agenda di luar misi dakwah. Kalau semua bersatu, insyaallah majelis taklim kita akan menjadi benteng akidah sekaligus perekat persaudaraan,” pungkasnya.


Dengan dikukuhkannya kepengurusan Pokja Majelis Taklim ini, diharapkan semangat dakwah yang sejuk, santun, dan bersinergi akan terus berkembang di seluruh pelosok Kabupaten Banyuwangi. (syaf)

Puncak HAB Kementerian Agama: Resepsi di Aston Hotel, Buku Karya ASN Diluncurkan

Bayuwangi, (Warta Blambangan)– Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar resepsi puncak peringatan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama ke-79 di ballroom Aston Hotel and Conference Center, Jumat malam. Acara ini dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. Sruji Bakhtiar, dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, beserta jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN), kepala KUA kecamatan, pengawas madrasah, penyuluh agama, serta komunitas Lentera Sastra Banyuwangi.



Dalam sambutannya, Dr. Chaironi Hidayat menyampaikan bahwa resepsi ini merupakan salah satu puncak kegiatan dalam rangka memperingati HAB Kementerian Agama. Salah satu momen penting dalam acara tersebut adalah peluncuran buku karya keluarga besar Kementerian Agama yang digagas oleh Lentera Sastra Banyuwangi. “Karya ini menjadi bukti bahwa ASN Kementerian Agama tidak hanya profesional dalam tugas, tetapi juga memiliki kontribusi dalam dunia literasi,” ujarnya.


Sementara itu, Dr. Sruji Bakhtiar dalam pidatonya menekankan pentingnya meningkatkan spiritualitas di kalangan ASN. Menurutnya, spiritualitas yang kuat akan menjadi fondasi dalam membangun integritas. “Lebih sulit mengevaluasi diri sendiri daripada mengevaluasi orang lain. Karena itu, kita perlu memaksa diri untuk meningkatkan spiritualitas melalui ibadah. Ketika kita dekat dengan Tuhan, kita akan terhindar dari perbuatan yang dilarang,” jelasnya.


Ia juga menyoroti pentingnya membiasakan anak-anak untuk melaksanakan ibadah, seperti sholat Dhuha, sebagai bagian dari pembentukan karakter sejak dini. “Ikhlas itu bukan sekadar melakukan sesuatu seadanya, tetapi sesuai kemampuan terbaik kita. Kemungkaran sering terjadi karena ibadah, terutama sholat, dilakukan dengan kurang benar,” tambahnya.


Dr. Bakhtiar mengingatkan agar ASN senantiasa bersyukur atas nikmat yang diterima dengan cara bekerja sebaik mungkin. “Mensyukuri nikmat berarti memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan,” tutupnya.


Acara ini juga menjadi ajang silaturahmi dan refleksi bagi seluruh ASN dan jajaran Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi untuk terus memperkuat komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Gelaran Bazar HAB ke-79 Kemenag Banyuwangi, Ribuan Peserta Ramaikan Senam Moderasi dan Mars Kemenag

Banyuwangi (Warta Blambangan) – Dalam rangka memperingati Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia ke-79, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi menggelar acara bazar meriah di Taman Blambangan, Sabtu (4/1/2025). Acara ini dihadiri ribuan peserta dari berbagai kalangan, menciptakan suasana penuh semangat kebersamaan.


Rangkaian kegiatan ini dimulai dengan senam moderasi dan senam Mars Kementerian Agama yang melibatkan ratusan peserta, termasuk ASN Kemenag, guru, pelajar madrasah, dan masyarakat umum. Dengan iringan musik energik, suasana pagi di sisi selatan Gesibu Blambangan tampak semarak dan penuh antusiasme.



Setelah senam pagi, pengunjung beralih ke area bazar yang menampilkan berbagai produk lokal unggulan. Stand-stand diisi oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), unit kerja Kemenag, dan mitra-mitra strategis lainnya. Produk yang ditawarkan meliputi kerajinan tangan, kuliner khas daerah, hingga kebutuhan rumah tangga.


Tidak hanya itu, Bank Syariah Indonesia (BSI) turut membuka stand khusus untuk memperkenalkan layanan terbaru mereka, yakni aplikasi super Byond. Pengunjung dapat berkonsultasi tentang fitur-fitur menarik, seperti layanan pembayaran, investasi syariah, dan perencanaan keuangan.


Salah satu pengunjung, Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi, mengungkapkan kesannya. “Dengan adanya stand BSI, saya bisa berkonsultasi tentang produk perbankan syariah. Ini sangat membantu bagi masyarakat yang ingin memahami perbankan berbasis syariah dengan lebih baik,” katanya.



Kepala Kantor Kementerian Agama Banyuwangi, Chaironi Hidayat, memberikan sambutan hangat kepada peserta dan pengunjung bazar. Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa momentum HAB ke-79 ini lebih dari sekadar perayaan seremonial.


“Bazar ini adalah salah satu bentuk kontribusi Kementerian Agama untuk mendekatkan diri kepada masyarakat, sekaligus mendukung pemberdayaan ekonomi lokal,” ujar Chaironi.


Ia juga mengajak masyarakat untuk menjadikan HAB ke-79 sebagai refleksi bersama dalam memperkuat nilai-nilai toleransi, moderasi beragama, dan kebersamaan dalam membangun bangsa.


“Keberadaan Kementerian Agama bukan hanya untuk umat Islam, tetapi untuk seluruh lapisan masyarakat. Mari jadikan peringatan ini sebagai momen silaturahmi dan kebangkitan semangat kebersamaan,” tambahnya.


Partisipasi dari madrasah di bawah naungan Kemenag Banyuwangi menjadi salah satu daya tarik utama. Stand dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Banyuwangi di Kecamatan Srono, misalnya, menampilkan produk UMKM binaannya yang telah mendapatkan sertifikat halal.


Ketua delegasi MAN 3 Banyuwangi, Eny Susiani, menjelaskan bahwa pihaknya berkomitmen mendukung pemberdayaan mitra UMKM, termasuk membantu proses pengurusan sertifikat halal.


“Kami ingin memastikan bahwa produk yang dihasilkan mitra UMKM memenuhi standar kualitas dan syariah. Hal ini menjadi bentuk kontribusi kami dalam mendukung ekonomi lokal,” ujarnya.


Selain itu, stand dari Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Banyuwangi di Kecamatan Bangorejo juga memamerkan produk unggulan dari UMKM binaan mereka. Dukungan terhadap pelaku usaha lokal ini menunjukkan sinergi antara madrasah dan masyarakat dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis keagamaan.

"produk UMKM dari Kantin madrasah kami tampilkan di bazar ini" kata Uswatun Hasanah Kepala MTsN 2 Banyuwangi.


Acara ini juga dihadiri beberapa tokoh inspiratif, seperti Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, dan perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Banyuwangi. Kehadiran mereka memberikan nuansa inspiratif sekaligus memperkuat pesan moderasi yang diusung dalam kegiatan ini.


“Ini bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga tentang literasi, toleransi, dan pemberdayaan masyarakat. Kami berharap acara ini terus dilaksanakan setiap tahun dengan konsep yang lebih inovatif,” ujar Syafaat


Selain UMKM, stand dari unit kerja Kemenag Banyuwangi juga menarik perhatian pengunjung. Stand ini menyediakan berbagai layanan dan informasi, seperti bimbingan perkawinan, konsultasi keagamaan, dan program moderasi beragama.


Pengunjung dapat berdiskusi langsung dengan petugas mengenai layanan sertifikasi halal, tata cara ibadah, dan informasi seputar pendidikan keagamaan. “Layanan ini sangat membantu masyarakat untuk lebih mengenal program Kemenag secara langsung,” kata Nuanatus Sholihah, salah satu pengunjung dari Kecamatan Cluring.


Senam moderasi dan senam Mars Kemenag yang digelar sebelumnya menjadi simbol semangat kebersamaan dan moderasi beragama. Panitia berharap aktivitas ini tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga menguatkan nilai-nilai toleransi dan kerja sama di tengah keberagaman masyarakat.


“Kami ingin mengingatkan bahwa moderasi beragama adalah kunci untuk menciptakan kehidupan yang harmonis. Mari kita rawat keberagaman ini dengan sikap saling menghormati,” ujar Ketua Panitia HAB Banyuwangi.

Di akhir acara, Chaironi Hidayat menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan para sponsor yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada media yang turut mempublikasikan kegiatan HAB, sehingga pesan-pesan positif dapat tersebar lebih luas.


“Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi. Semoga kegiatan ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan menjadi inspirasi untuk peringatan HAB di tahun-tahun mendatang,” ujarnya.

Bazar HAB ke-79 ini bukan hanya sekadar ajang promosi produk lokal, tetapi juga media untuk mempererat hubungan antarwarga dan mendekatkan layanan Kemenag kepada masyarakat.


Panitia berharap acara serupa dapat terus dilaksanakan dengan skala yang lebih besar dan melibatkan lebih banyak pihak. “Kami ingin HAB menjadi momentum kebangkitan semangat kebersamaan, baik di bidang ekonomi, sosial, maupun keagamaan,” tutup Ketua Panitia.


Dengan rangkaian acara yang penuh manfaat dan semangat, peringatan HAB ke-79 di Banyuwangi menjadi pengingat bahwa keberadaan Kemenag adalah untuk seluruh masyarakat, tanpa kecuali. Momentum ini diharapkan menjadi pijakan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih harmonis, inklusif, dan sejahtera. (team humas)


Upacara Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke 79 di Banyuwangi

 Banyuwangi (Warta Blambangan) Upacara peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-79 Kementerian Agama Republik Indonesia digelar secara khidmat pada Jumat, 3 Januari 2025, di Taman Blambangan Banyuwangi. Acara tersebut dihadiri oleh pelajar madrasah di wilayah kota Banyuwangi danseluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama  se-Kabupaten Banyuwangi. Dalam suasana yang penuh semangat kebangsaan dan religiusitas, kegiatan ini menjadi momen refleksi atas kiprah Kementerian Agama dalam menjaga harmoni dan kualitas keberagamaan di Indonesia.


Sebagai pembina apel, Wakil Bupati Banyuwangi Sugirah memimpin jalannya upacara. Dalam sambutannya, Sugirah membacakan amanat tertulis Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar.



Dalam sambutannya, Menteri Agama menegaskan kembali posisi Indonesia sebagai negara yang tidak memihak pada satu agama tertentu, namun juga bukan negara sekuler. Indonesia memberikan tempat terhormat bagi agama, sekaligus menjamin kebebasan beribadah bagi seluruh warga negara.


“Indonesia bukanlah negara agama, namun juga bukan negara sekuler. Negara ini memberikan ruang terhormat bagi agama. Selama berabad-abad, masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat religius yang hidup dalam keragaman agama,” demikian kutipan amanat Menteri Agama yang dibacakan Wakil Bupati Sugirah.


Menteri Agama juga menyoroti peran strategis Kementerian Agama dalam menjaga religiusitas masyarakat, memelihara kerukunan antarumat beragama, dan meningkatkan kualitas kehidupan keberagamaan baik di tingkat individu maupun masyarakat luas.


“Peran negara dalam menjaga religiusitas masyarakat, kebebasan beribadah, dan meningkatkan kualitas intern serta antar umat beragama adalah tugas penting yang dijalankan oleh Kementerian Agama,” lanjut Sugirah.


Momentum HAB ke-79 ini juga dimanfaatkan untuk menegaskan komitmen ASN Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi dalam mendukung upaya pemberantasan narkoba. Sebagai bentuk nyata dukungan tersebut, deklarasi anti-narkoba dibacakan oleh perwakilan ASN yang hadir.


Isi deklarasi tersebut menekankan pentingnya menjaga diri, keluarga, dan masyarakat dari bahaya penyalahgunaan narkoba, serta berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.


“Kami, seluruh ASN Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, menyatakan sikap untuk menjauhi narkoba, memberantas peredarannya, dan menjadi teladan dalam menciptakan lingkungan yang bersih dari narkoba,” item deklarasi tersebut.


Deklarasi ini disambut baik oleh seluruh peserta upacara sebagai wujud dukungan penuh terhadap gerakan nasional anti-narkoba.


Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa upacara HAB ke-79 ini memiliki nuansa yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.


“Biasanya, upacara peringatan HAB dilaksanakan di masing-masing satuan kerja. Namun, tahun ini kita memilih Taman Blambangan sebagai lokasi upacara. Ini adalah langkah simbolis untuk mempererat kebersamaan ASN se-Kabupaten Banyuwangi dan memperlihatkan keberadaan Kementerian Agama yang dekat dengan masyarakat,” ujar Chaironi.


Menurut Chaironi, Taman Blambangan dipilih karena merupakan lokasi ikonik di Banyuwangi yang kerap menjadi pusat berbagai kegiatan kebudayaan dan keagamaan. Dengan suasana yang lebih luas dan terbuka, upacara kali ini diharapkan mampu menghadirkan semangat baru bagi seluruh ASN yang hadir.


Selain menjadi agenda tahunan, HAB juga merupakan momen refleksi bagi seluruh ASN Kementerian Agama untuk mengevaluasi capaian selama satu tahun terakhir dan merumuskan langkah strategis untuk tahun mendatang.


“Peringatan ini adalah wujud syukur kita atas keberlangsungan Kementerian Agama yang sudah memasuki usia ke-79 tahun. Kita ingin memperkuat komitmen untuk terus melayani masyarakat dengan lebih baik, khususnya dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan kehidupan beragama,” imbuh Chaironi.


Seluruh kegiatan ini dirancang untuk mempererat tali silaturahmi antar ASN, masyarakat, dan pemuka agama di Banyuwangi.


“Kegiatan-kegiatan ini merupakan wujud nyata dari tema HAB ke-79, yaitu Kerukunan Umat untuk Indonesia Hebat. Kami berharap, kerukunan yang kita bangun ini dapat menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan ke depan,” ujar salah satu panitia acara.


Melalui peringatan ini, seluruh ASN Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi diingatkan kembali akan tanggung jawab besar mereka dalam menjaga harmoni keberagamaan di tengah masyarakat yang majemuk.


Dengan semangat kebersamaan dan dedikasi, Kementerian Agama bertekad untuk terus menjadi garda terdepan dalam memelihara nilai-nilai religiusitas, toleransi, dan kebangsaan di Indonesia.


“Semoga Kementerian Agama semakin maju, solid, dan mampu memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat dan bangsa. Selamat Hari Amal Bakti ke-79,” pungkas Chaironi.

Umat Rukun Menuju Indonesia Emas: Menyelaraskan Kehidupan yang Harmonis


Peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama ke-79 mengusung tema "Umat Rukun Menuju Indonesia Emas." Tema ini menggarisbawahi pentingnya keharmonisan dalam membangun bangsa yang kuat, maju, dan sejahtera.


Indonesia adalah negara yang kaya akan keragaman. Keberagaman ini, jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi menimbulkan gesekan sosial. Namun, jika dirawat dan dihormati, keberagaman tersebut akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Semangat kerukunan umat harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun bangsa.


Kerukunan umat tidak hanya berbicara tentang hubungan antaragama, tetapi juga hubungan internal umat beragama. Persatuan ini menjadi kunci dalam menyelaraskan kehidupan yang harmonis. Dengan saling menghormati, memahami perbedaan, dan mengedepankan dialog, umat beragama dapat bersama-sama menciptakan perdamaian yang berkelanjutan.


Menuju Indonesia Emas 2045, kerukunan umat beragama menjadi pilar penting dalam mewujudkan visi besar bangsa. Dengan masyarakat yang rukun, berbagai sektor kehidupan dapat berkembang optimal. Pendidikan, ekonomi, dan pembangunan nasional akan berjalan beriringan dengan semangat persatuan.


Oleh karena itu, HAB ke-79 menjadi momentum refleksi bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat harmoni dan menumbuhkan semangat gotong royong. (Syaf)




Tasyakuran HAB Kemenag ke 79 Kabupaten Banyuwangi

Banyuwangi, (Warta Blambangan)– Dalam rangka menyambut Hari Amal Bakti (HAB) ke-79 Kementerian Agama, seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Kamis (02/01/2024) menggelar malam tasyakuran yang berlangsung khidmat di aula bawah kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Acara yang diawali istighosah ini dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, pejabat struktural beserta kepala madrasah negeri dan kepala kantor urusan agama (KUA) kecamatan di Banyuwangi.


Dalam sambutannya, Dr. Chaironi Hidayat menekankan peran penting ASN Kementerian Agama dalam kehidupan masyarakat. Menurutnya, ASN Kemenag tidak hanya menjalankan tugas administrasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral sebagai tokoh agama di tengah masyarakat.



“Secara umum, ASN Kementerian Agama sering dianggap sebagai tokoh agama di masyarakat. Ini adalah amanah yang besar, dan kita harus menyadari bahwa pekerjaan kita bukan sekadar kewajiban, tetapi juga wujud rasa syukur kepada Allah SWT,” ujar Dr. Chaironi.


Momentum HAB ke-79 ini menjadi pengingat bahwa tugas ASN Kemenag lebih dari sekadar pekerjaan formal. “Melalui tema Umat Rukun Menuju Indonesia Emas, kita diajak untuk terus mempererat persatuan dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” tambahnya.


Dalam pesan inspiratifnya, Dr. Chaironi mengajak seluruh ASN untuk lebih banyak bersyukur dalam menjalankan tugasnya. Ia mengingatkan bahwa apa yang saat ini menjadi tanggung jawab ASN Kemenag adalah impian banyak orang yang belum memiliki kesempatan serupa.


“Seringkali kita mengeluh terhadap apa yang kita kerjakan saat ini, padahal banyak orang lain yang ingin berada di posisi kita saat ini. Bersyukurlah, karena bersyukur itu lebih keren dari sabar,” tegas Dr. Chaironi, disambut tepuk tangan para hadirin.


Pesan ini menjadi refleksi penting, mengingat dalam dinamika pekerjaan, tak jarang muncul keluhan atau rasa jenuh. Namun, dengan rasa syukur, setiap tantangan dapat dijalani dengan lebih ringan dan bermakna.


Malam tasyakuran dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, dilanjutkan dengan tausiyah singkat dari salah satu tokoh agama setempat. Acara ini juga dimeriahkan dengan pembacaan doa bersama untuk keberkahan dan kesuksesan Kementerian Agama dalam menjalankan tugasnya, khususnya di Kabupaten Banyuwangi.


Para ASN, kepala madrasah, dan kepala KUA yang hadir tampak khidmat mengikuti seluruh rangkaian acara. Suasana malam itu penuh kehangatan dan semangat kebersamaan, mencerminkan tema HAB ke-79 yang menekankan pentingnya kerukunan umat.


Momentum HAB ke-79 ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh ASN Kemenag untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, baik dalam bidang keagamaan maupun pendidikan.


Dr. Chaironi juga mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang beragam. “Indonesia adalah negara yang penuh keberagaman. Melalui HAB ke-79 ini, mari kita jadikan momentum untuk mempererat ukhuwah dan berkontribusi mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045,” pesannya.


Selain itu, ia berharap ASN Kemenag terus menunjukkan integritas dan profesionalisme dalam bekerja, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap Kementerian Agama semakin meningkat.



Malam tasyakuran diakhiri dengan ramah tamah dan makan tumpeng bersama, yang semakin menguatkan rasa kebersamaan di antara para peserta. Dengan semangat Hari Amal Bakti ke-79, para ASN Kemenag Banyuwangi siap melangkah lebih baik dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.


Tasyakuran ini tidak hanya menjadi bentuk rasa syukur, tetapi juga refleksi bersama untuk terus berkontribusi dalam menciptakan umat yang rukun dan harmonis di tengah keberagaman masyarakat. (Humas HAB)

Pesan Chaironi Hidayat dalam Seminar Mewujudkan Keluarga Sakinah

Banyuwangi,  (Warta Blambangan) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., menjadi narasumber dalam Seminar "mewujudkan keluarga sakinah" yang berlangsung di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Sabtu (28-12-2024). Seminar ini dihadiri oleh pimpinan daerah Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta MUI dari kecamatan se-Kabupaten Banyuwangi.



Dalam paparannya, Dr. Chaironi Hidayat menyampaikan pentingnya peran istri dalam menciptakan keluarga sakinah. "Peran istri sangat penting untuk menjaga keharmonisan keluarga," ungkapnya. Ia juga menekankan bagaimana istri dapat menciptakan suasana yang nyaman di rumah agar suami dan anak-anak betah tinggal di dalam keluarga.


Seminar ini juga menghadirkan narasumber lainnya, di antaranya Dr. Kurniatul Faizah, dari Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), yang membahas pentingnya keharmonisan keluarga untuk menunjang pendidikan anak. Menurutnya, lingkungan keluarga yang harmonis adalah landasan utama dalam pembentukan karakter dan prestasi anak.


Selain itu, Dr. Hj. Emy Hidayati, dosen Universitas Islam Ibrahimy (UNIIB) Genteng, menyampaikan materi tentang pencegahan pernikahan anak. Ia menyoroti peran penting perempuan dalam pemberdayaan keluarga. "Perempuan memiliki posisi strategis dalam menjaga pendidikan anak dan mencegah pernikahan usia dini melalui pemberdayaan keluarga," tegasnya.


Acara ini menjadi ajang diskusi dan refleksi penting untuk mendorong upaya pencegahan pernikahan usia dini serta memperkuat peran keluarga dalam menciptakan generasi yang lebih baik.

Istighosah di Aula PLHUT Kemenag Banyuwangi


Banyuwangi (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi kembali menggelar istighosah di Aula Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu (PLHUT), Rabu malam (26/09/2024).



Acara yang berlangsung dengan penuh khidmat ini dipimpin oleh Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, H. Mastur, dan dihadiri oleh seluruh karyawan Kemenag serta masyarakat sekitar.


Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, memimpin doa bersama, menyampaikan pesan mendalam kepada seluruh peserta untuk senantiasa memohon perlindungan dan bimbingan Allah SWT dalam setiap langkah dan tugas yang diemban.


"Istighosah ini adalah ikhtiar batin kita dalam menghadapi berbagai tantangan, baik secara pribadi maupun kolektif," ujar.


Selain doa yang dipimpin oleh Chaironi, Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Banyuwangi, Abdul Aziz, turut memimpin lantunan doa.


Kehadiran para peserta yang mengikuti acara dengan penuh kekhusyukan menandakan adanya semangat spiritualitas yang kuat, memperkuat ikatan kebersamaan di antara karyawan Kemenag dan masyarakat.


Dengan berakhirnya acara, diharapkan nilai kebersamaan dan spiritualitas yang dihasilkan dari istighosah ini dapat terus terjaga, menjadi landasan bagi Kementerian Agama Banyuwangi dalam melayani masyarakat dengan lebih tulus dan ikhlas

PPIH Banyuwangi Melayani Sepenuh Hati

Banyuwangi (Warta Blambangan) PPIH Kloter jamaah haji Banyuwangi tahun 2024 yang mengikuti Bimbingan Teknis Petugas Penyelenggaraan Ibadah Haji Embarkasi Surabaya sejak 29 Pebruari 2024 hingga 9 Maret 2024 di Asrama Haji Surabaya berkomitmen melayani Jamaah Haji dengan sepenuh hati, dan bukan hanya membersamai jamaah selama melaksanakan ibadah haji di tanah suci, tetapi juga akan mengikuti jamaah haji sejak manasik haji, hal ini disampaikan para petugas Senin, (04/04/2025).
Indi Meilani, dokter kloter yang bertugas di Puskesmas Singotrunan menyampaikan bahwa dirinya dan semua TKHK (Tim Kesehatan Haji Kloter) akan mengikuti manasik ditingkat kecamatan sepanjang tidak berbenturan dengan dinas. "kita nanti akan menyesuaikan jadwal piket dinas dengan manasik ditingkat kecamatan" katanya. Sedangkan manasik ditingkat Kabupaten, semua akan hadir secara bersama-sama. Hal ini sejalan dengan keinginan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Chaironi Hidayat, hal ini dilakukan agar petugas kloter lebih dekat dengan jamaah Begitupun dengan yang disampaikan Syafaat sebagai Ketua Kloter yang akan menyapa para jamaah sebelum berangkat agar dapat diidentifikasikan jamaah, terutama jamaah lansia dan resiko tinggi. "layanan haji tahun ini adalah layanan haji ramah lansia, karenanya identifikasi sejak awal sangat penting" katanya.

Rapat Zoometing Pencegahan Perkawinan Anak

 

Banyuwangi (Warta Blambangan) United States Agency for International Development dengan Program Tata Kelola Pemerintahan yang Efektif, Efisien dan Kuat (USAID ERAT) mengadakan Rapat koordinasi tentang pencegahan perkawinan anak di Kabupaten Banyuwangi, Kamis (15/02/2024) melalui zoometing yang diikuti Kepala Kantor Kementerian Agama, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Kesehatan dan beberapa pihak lainnya.


Dalam kesempatan tersebut Kepala Dinas Sosial PP dan KB Heni Sugiarti menyampaikan bahwa perkawinan anak cukup pelik untuk penanggulanggannya, hal ini mengingat banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya perkawinan anak.

Hal ini juga disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili Kasi Bimas Islam yang menyampaikan bahwa Kementerian Agama telah melakukan beberapa upaya dalam pencegahan perkawinan anak melalui beberapa program, diantaranya BRUS (Bimbingan Remaja Usia Nikah) yang dilakukan di sekolah-sekolah serta KUA Goes to School, Binwin (Bimbingan Perkawinan) bagi calon mempelai dan lain-lain.

“setiap ada yang akan mengajukan perkawinan dibawah umur, dilakukan pemeriksaan dan panasehatan dulu di KUA Kecamatan, dan jika tetap akan melaksanakan perkawinan dibawah umur maka akan ada surat penolakan adanya perkawinan yang selanjutnya yang bersangkutan akan mengajukan dispensasi ke Pengadilan” katanya.


Perkawinan anak menjadi bahasan penting dalam rapat dinas Kepala KUA Kecamatan di aula atas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, yang juga mengikuti jalannya Rapat koordinasi pencegahan perkawinan anak ini.

Dalam rapat koordinasi tersebut semua sepakat untuk bersama-sama melakukan pencegahan terhadap perkawinan anak, dengan cara melakukan sosialisasi terhadap anak-anak untuk dapatnya menjaga diri agar tidak melakukan perkawinan anak dengan keterpaksaan karena telah melakukan hubungan yang seharusnya belum boleh dilakukan.(tim)

 

Mahasiswa UIN KHAS Selesaikan PKL pada KUA KecamatanKementerian Agama Kabupaten Banyuwangi

Sebanyak 102 mahasiswa Fakuktas Dakwah UIN Kyai Achmad Siddiq Jember mengakhiri program PKL (Praktek Kerja Lapangan) yang tersebar di beberapa KUA Kecamatan Kabupaten Banyuwangi, Selasa (13/2/2024).

Acara ceremony penarikan mahasiswa itu dilaksanakan di aula Kemenag Banyuwangi. Hadir dalam kesempatan itu, Kepala Kemenag beserta beberapa pejabat, Wakil Dekan fakultas dakwah, dan beberapa Dosen pembimbing.

Wakil Dekan Fakultas Dakwah, Dr. H. Minan Jauhari, M.Si dalam sambutannya menyampaikan bahwa, PKL merupakan aktifitas akademik program fakultas dakwah yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa. Dimana orientasi PKL kata dia, lebih pada fungsi kepenyuluhan agama dalam rangka mengaktualisasikan keilmuan dakwah.


"Kami berharap, alumni PKL mampu merespon persoalan dakwah, karena fungsi kepenyuluhan agama sangat strategis", kata Minan.

Sementara, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Chaironi Hidayat dalam arahannya menyampaikan, bahwa program PKL sebagai bekal informasi awal dalam menyampaikan keilmuan. 

"Apapun yang diperoleh saat PKL harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari hari", kata Roni panggilan akrabnya 

Dirinya juga mengajak kepada seluruh mahasiswa untuk menguasai beberapa kompetensi. Yakni materi substantif, metodologi dakwah yang baik, kompetensi sosial, dan komptensi personal.

"Sebagai mahasiswa seyogyanya menjadi person yang baik di tengah masyarakat", pesannya 

Diakhir arahannya Roni, berharap seluruh peserta PKL menjadi orang sukses. "Jangan lupakan kampus, Guru, dan Dosen, tetap sambung silaturahmi", pungkasnya. (Team)

Menjelang Pemilu Penyuluh Agama Islam Dikumpulin di AIL

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Chaironi Hidayat memberikan pengarahan terhadap seluruh penyuluh Agama Islam (PNS/PPPK/Non PNS) se Kabupaten Banyuwangi, di Agrowisata Alam Indah Lestari (AIL) Kecamatan Blimbingsari, Rabu (07/02/2024) yang diikuti 201 penyuluh.



Pak Roni-panggilan akrabnya-memberikan motivasi kepada para penyuluh untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, baik yang PNS, P3K maupun Non PNS, karena tugas semua penyuluh adalah sama, meskipun statusnya berbeda.


"Rizqi sudah ada yang mengatur, sedangkan tugas kita adalah melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya", kata Roni.


Lebih lanjut dirinya menyampaikan bahwa penyuluh tugas pada dua alam, yakni alam birokrasi yang harus sesuai dengan ketentuan, dan alam masyarakat yang harus fleksibel  sesuai dengan kondisi lingkungan, dengan mengingat penyuluh disamping memberikan pembinaan dan penyuluhan, juga sebagai pengayom dan panutan.


Dalam kesempatan itu ia memberikan apresiasi kinerja penyuluh yang mensukseskan program Kementerian Agama dan KUA, seperti BRUS dan Binwin, begitupun dengan pendataan keagamaan.


Terkait dengan masa tugas Penyuluh Agama Islam non PNS yang berahir tahun ini, dirinya berharap tetap optimis dan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.


Pembinaan ditutup dengan nyanyi bersama Kemesraan karya Iwan Fals.

Data Penghulu se Indonesia

 Untuk menghubungi Penghulu se Indonesia silahkan klik di Data Penghulu se Indonesia

Kepala Kemenag Kab. Banyuwangi Serahkan Buku Karya Kepala KUA Kecamatan Srono. Kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Chaironi Hidayat menyerahkan buket buku kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Husnul Maram dalam acara pembinaan pegawai di Hall Hotel Santika Banyuwangi, Senin.(22/01/2024) yang dihadiri Seluruh Kepala KUA Kecamatan  Kepala Madrasah Negeri dan para penulis yang bergabung dalam komunitas Lentera Sastra.


Yang menarik dari buket buku tersebut adalah salah satunya merupakan buku karya Kepala KUA Kecamatan Srono H. Amin Maki dengan judul Raudlotul Jannah yang berisi tentang sejarah berdirinya Masjid di Desa Parijatah Wetan.

Yang menarik sebagaimana disampaikan dalam buku yang diberi pengantar oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Abdullah Azwar Anas tersebut peresmian rehab masjid dilakukan oleh presiden ke 4 Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid.

Dalam sambutannya Chaironi menyampaikan bahwa di Kabupaten Banyuwangi dengan adanya komunitas Lentera Sastra, semangat literasi ASN semakin tinggi, dari mulai siswa madrasah hingga Kepala KUA Kecamatan terbiasa menulis, baik dikirim ke media maupun di bukukan.

"Mari kita tingkatkan literasi kita agar kita bukan hanya sebagai pencari informasi tetapi juga sebagai sumber referensi" katanya.

Kepada para Kepala KUA dan Penghulu yang hadir, Husnul Maram menyampaikan agar tidak menunda pekerjaan, terutama yang berkaitan dengan layanan umat. 


"buku nikah diserahkan sesaat setelah akad nikah sesuai dengan regulasi" kata Maram.

Kakanwil yang mengawali karier di KUA Kecamatan tersebut berpesan agar dalam penerbitan Akta dilakukan dengan teliti.

"berkas pemeriksaan nikah harus sudah terisi ketika pelaksanaan akad nikah" pesannya.

Sementara itu Ketua Komunitas Lentera Sastra Syafaat menyampaikan bahwa buku yang ditulis Amin Maki tersebut juga diterbitkan secara online dalam bentuk E-book sehingga lebih mudah.

"Lentera Sastra memfasilitasi penerbitan E-book bagi karya ASN Kementerian Agama" kata Syafaat.

Lebih lanjut ASN Seksi Bimbingan Masyarakat Islam ini menyampaikan bahwa dengan cara menggunakan media online ini akan lebih mudah dan lebih banyak yang dapat mengakses karya tulis para ASN. (syaf)

Pesan Kakanwil Kemenag Prov Jawa Timur di MIN 1 Banyuwangi

 Banyuwangi (WartaBlambangan)-Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Husnul Maram menyampaikan bahwa guru jangan sekedar menjadi guru biasa. Hal itu disampaikan pada saat dirinya didaulat menjadi Pembina apel di MIN 1 Banyuwangi, Senin (22/1/2024). Ikut mendampingi, Chaironi Hidayat Kepala Kemenag Banyuwangi dan segenap jajaran pejabat lainnya.


Dalam pembinaannya Husnul Maram menyampaikan bahwa kinerja guru harus bisa memberikan manfaat bagi generasi Indonesia yang sholeh dan Sholehah, bermartabat, berakhlak mulia, serta cinta tanah air dan bangsa.

"Sebagai tenaga pendidik dan kependidikan jangan hanya sekedar menggugurkan kewajiban sebagai ASN saja, tetapi harus ingat bahwa pendidikan madrasah itu adalah pendidikan yang menekankan nilai-nilai agama”, ungkapnya.  

Oleh karena itu, dirinya meminta kepada guru di MIN 1 Banyuwangi meluangkan waktu beberapa menit mendoakan anak-anak, untuk keberhasilan mereka kelak terutama sebagai anak yang sholeh dan Sholehah.  

Sementara itu Mohamad Haris Jamroni Kepala MIN 1 Banyuwangi pada kesempatan terpisah menyampaikan bahwa kunjungan ini menjadi kesempatan emas di lembaga yang dipimpinnya untuk bisa melakukan perubahan secara berkesinambungan setelah mendapatkan spirit dari Kakanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur.

Setelah apel acara dilanjutkan dengan peninjauan gedung baru hasil bantuan SBSN yang mendapatkan bantuan sebanyak 7 ruang kelas dan 1 ruang PTSP  lengkap dengan smart TV dan AC. (haris)

Upacara HAB Kementerian Agama Diwarnai Berbagai Atraksi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Upacara peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke 78 Kementerian Agama Republik Indonesia di lapangan Lugjag Desa Pengatigan Kecamatan Rogojampi, Kamis (03/01/2024) yang diikuti seluruh ASN Kementerian Agama di Kabupaten Banyuwangi dengan tema Indonesia Hebat Bersama Umat. 

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani selaku Inspektur  Upacara membacakan amanah Menteri Yaqut Cholil Qoumas, diantaranya tentang spirit ganda yang muncul dari pergantian tahun dan peringatan HAB.
" spirit ganda inj harus diwujudkan dalam bentuk amal bakti yang semakin mendalam dan paripurna" kata Menteri dalam sambutannya.
Lebih lanjut dalam sambutan Yaqut yang dibacakan Ipuk menyampaikan bahwa diantara tugas berat kita adalah menjaga harmoni kehidupan beragama kita yang merupakan salah satu pilar kerukunan nasional.  Tugas berat ini diantaranya dengan memberikan layanan yang adil, transparan dan akuntabel untuk seluruh umat beragama.
Menteri Agama juga mengingatkan tentang tujuh prioritas program Kementerian Agama. Berkaitan dengan tahun politik, Menag berpesan agar para ASN menjaga netralisasi sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Sebelum acara dimulai, beberapa penampilan dilakukan para siswa madrasah, diantaranya penampilan Kreasi dari Siswa MTsN 10 Banyuwangi di Kecamatan Rogojampi yang menampilkan treatikal kondisi masyarakat Palestina yang saat ini mendapat perlakuan semena-mena daru Israel.
 
Support : Copyright © 2020. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Modifiksi Template Warta Blambangan
Proudly powered by Syafaat Masuk Blog