Pages

Tampilkan postingan dengan label Warta Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta Berita. Tampilkan semua postingan

LKNU Banyuwangi Sosialisasikan Bahaya Pergaulan Bebas kepada Santri Ponpes Al Futuhiyah

 BANYUWANGI – Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Cabang Banyuwangi menggelar sosialisasi tentang pencegahan pergaulan bebas di Pondok Pesantren Al Futuhiyah, Desa Trembokrejo, Kabupaten Banyuwangi, Jumat (31/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada para santri mengenai pentingnya menjaga pergaulan, kesehatan diri, serta masa depan.

Sosialisasi menghadirkan Sekretaris LKNU Cabang Banyuwangi, Bd. Diah Fitrianingsih, S.Keb., Ch., yang juga menjabat sebagai Direktur Klinik Dokter Didik (KDS). Dalam penyampaiannya, para santri diajak memahami berbagai risiko yang dapat muncul akibat pergaulan bebas serta pentingnya membangun lingkungan pertemanan yang sehat.


Diah menekankan bahwa masa remaja merupakan fase penting dalam
pembentukan karakter. Karena itu, santri perlu memiliki bekal pengetahuan yang cukup agar mampu mengambil keputusan secara bijak ketika menghadapi berbagai pengaruh dari lingkungan maupun perkembangan media digital.

Menurutnya, pencegahan pergaulan bebas tidak cukup hanya dilakukan dengan memberikan larangan. Remaja juga perlu dibekali pemahaman, pendampingan, serta ruang untuk berdiskusi sehingga mereka mampu mengenali batas-batas pergaulan dan memahami konsekuensi dari setiap pilihan.

Kegiatan tersebut mendapat perhatian dari jajaran Pondok Pesantren Al Futuhiyah. Salah satu pimpinan pesantren yang juga Pengurus Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI), Ahmad Masruhan Hamidi, menyambut baik kegiatan sosialisasi yang dinilai relevan dengan kebutuhan para santri.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai penyampaian materi, tetapi dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan yang bisa diterapkan para santri dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapannya, kegiatan ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman para santri, sehingga mereka memiliki bekal dalam menjaga diri dan menentukan pergaulan yang baik,” ujarnya.

Sosialisasi berlangsung dalam suasana interaktif. Para santri mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang berkaitan dengan pergaulan remaja.

Melalui kegiatan tersebut, LKNU Banyuwangi berharap pesantren dapat terus menjadi ruang yang kuat dalam membangun karakter generasi muda. Pendidikan agama yang diperoleh santri di pesantren diharapkan berjalan beriringan dengan pengetahuan kesehatan dan pemahaman sosial, sehingga para santri tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan keagamaan, tetapi juga mampu menjaga kesehatan, kehormatan, serta masa depannya.

Bagi LKNU Banyuwangi, edukasi semacam ini merupakan bagian dari ikhtiar membangun generasi muda yang sehat secara fisik, matang dalam mengambil keputusan, dan memiliki ketahanan diri dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.(diah)

Hari Puisi Indonesia, Lentera Sastra Berkolaborasi dengan BCM dan Rumah Kebangsaan, Menyatukan Kata dan Kepedulian

BANYUWANGI – Taman Blambangan pada Minggu (26/7/2026) menjelma menjadi ruang tempat kata-kata bertumbuh menjadi cahaya. Di bawah langit Banyuwangi yang teduh, bait-bait puisi mengalir bersama denyut kepedulian dalam peringatan Hari Puisi Indonesia yang digelar Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi berkolaborasi dengan Banyuwangi Creative Market (BCM) dan Rumah Kebangsaan.


Perhelatan yang menjadi bagian dari peringatan satu tahun Banyuwangi Creative Market itu tidak hanya menghadirkan panggung baca puisi, tetapi juga donor darah, santunan bagi anak yatim, dan berbagai aksi sosial. Seni dan kemanusiaan berpadu tanpa sekat, menghadirkan pesan bahwa puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan denyut nurani yang mampu menyentuh kehidupan.

Hari Puisi Indonesia ditetapkan berdasarkan deklarasi 40 penyair dari seluruh Indonesia pada 22 November 2012 di Anjungan Idrus Tintin, Pekanbaru, Riau. Deklarasi ini dibacakan oleh Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri. Pemilihan tanggal 26 Juli merujuk pada hari lahir Chairil Anwar pada 26 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara, Pemerintah kemudian menetapkan 26 Juli sebagai Hari Puisi Indonesia melalui keputusan resmi pada tahun 2025

Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, mengatakan Hari Puisi Nasional merupakan momentum untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap sastra sekaligus memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.

"Puisi adalah media yang mampu menyampaikan pesan kemanusiaan, membangun kepekaan sosial, serta mempererat persaudaraan. Karena itu, kami menggabungkan peringatan Hari Puisi Indonesia dengan kegiatan sosial agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat," ujarnya.

Panggung puisi menghadirkan beragam suara dari lintas generasi dan profesi. Penyair, guru, pelajar, santri, hingga pegiat literasi silih berganti menyampaikan karya dengan penghayatan yang menyentuh. Dari lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi hadir Kepala MTsN 5 Banyuwangi Herny Nilawati, Kepala MTsN 2 Banyuwangi Uswatun Hasanah, Lulu Anwariyah dan Cicik Handayani dari MTsN 4 Banyuwangi, Nurul Ludfia Rochmah selaku Ketua HISKI Komisariat Banyuwangi yang juga guru MAN 1 Banyuwangi bersama para siswanya, Nukhbah Fahiroh dari MTsN 1 Banyuwangi, peraih Juara Liga Puisi Kategori Guru sekaligus penerima penghargaan Sastra Tama, serta Nur Khofifah, guru MIN 1 Banyuwangi yang juga penerima penghargaan Sastra Tama.

Suasana semakin hidup ketika Elok Faiqoh, Juara Liga Puisi Kategori SLTA Tahun 2025, tampil membacakan puisi dengan penjiwaan yang kuat. Setiap larik yang dilantunkan seolah mengajak hadirin menyelami makna, hingga tepuk tangan panjang mengiringi penampilannya.

Kesegaran juga datang dari para santri. Azka Dzakiyatus Shaleha, Zahiya Farha Sakinah, Muhammad Bisma Arkananta Mahardika, Kiasatina Elisa Yulfani, dan Ananda Nur Millati Laili dari MI Darunnajah 2 Tukang Kayu tampil percaya diri membacakan puisi. Penampilan mereka disusul santri MI Syamsul Huda Bulusan, Kalipuro, yang mampu memikat perhatian penonton dengan pembacaan puisi yang penuh semangat.

Salah satu momen paling menggetarkan hadir ketika Purwowidodo, Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, melangkah ke panggung membawakan puisi berjudul "Bukan Warisan Malaikat." Dengan intonasi yang tenang namun menghunjam, ia menuturkan larik demi larik yang mengajak hadirin merenungi kemanusiaan, toleransi, dan tanggung jawab moral. Sejenak suasana menjadi hening, seolah setiap kata menemukan rumahnya di dalam hati para pendengar. Tepuk tangan panjang yang menggema menjadi penanda bahwa puisi masih memiliki kekuatan untuk menyatukan rasa.

Ketua Banyuwangi Creative Market, Rahmad Hidayat, mengapresiasi kolaborasi berbagai komunitas yang berhasil memadukan seni, kreativitas, dan aksi sosial dalam satu ruang kebersamaan. Menurutnya, sinergi tersebut menjadi energi positif bagi tumbuhnya ekosistem ekonomi kreatif sekaligus memperkuat budaya gotong royong di Banyuwangi.

Sementara itu, Ketua Rumah Kebangsaan, Hakim Said, menegaskan bahwa sastra merupakan salah satu jalan yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan persatuan. Ia berharap panggung-panggung sastra terus dihadirkan sebagai ruang dialog budaya yang mampu merawat harmoni di tengah keberagaman.

Kegiatan ini juga dihadiri Pengawas Madrasah St. Muanifah, penyair Faiz Abadi bersama putrinya Tirta Baiti Jannah, serta sejumlah penyair dan pegiat literasi dari berbagai komunitas. Hangatnya kebersamaan, antusiasme para peserta, dan apresiasi masyarakat menjadi bukti bahwa puisi masih hidup dan terus menemukan pembacanya.

. Kolaborasi Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Banyuwangi Creative Market, dan Rumah Kebangsaan telah menghadirkan peringatan Hari Puisi Nasional yang bukan hanya merayakan sastra, melainkan juga merawat kepedulian. Sebab, ketika puisi bertemu kemanusiaan, yang lahir bukan sekadar keindahan bahasa, melainkan harapan bahwa peradaban selalu dapat dibangun melalui kata, kasih, dan kebersamaan. (SYF)

LKKNU Banyuwangi Matangkan Persiapan Isbat Nikah Terpadu bagi 40 Pasangan

 BANYUWANGI – Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) PCNU Banyuwangi terus mematangkan persiapan pelaksanaan Isbat Nikah Terpadu yang dijadwalkan berlangsung pada 14 Agustus 2026. Persiapan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang diselenggarakan di Aula Kantor PCNU Banyuwangi dengan melibatkan jajaran pengurus dan tim pelaksana. 


Rapat dipimpin oleh Ketua LKKNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, serta dihadiri Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi Achmad Turmudzi, Sekretaris Bisri Mustofa, Bendahara Junaedi, Wakil Sekretaris Fadh Reza Abdullah, Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi Syafaat, S.H., M.H.I., dan Koordinator Bidang Pemberdayaan dan Ketahanan Keluarga Imam Muklis, S.Ag., M.H.I.

Dalam arahannya, Ketua LKKNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, menyampaikan bahwa pelaksanaan Isbat Nikah Terpadu tahun ini dirancang dengan sistem pelayanan yang lebih efektif melalui pembentukan tiga majelis sidang. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mempercepat proses persidangan tanpa mengurangi aspek ketelitian dan kepastian hukum.

"Kami membentuk tiga majelis sidang agar proses pelayanan berlangsung lebih efektif, tertib, dan mampu memberikan kepastian hukum kepada seluruh peserta secara optimal," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi, Achmad Turmudzi, menegaskan bahwa Kantor PCNU Banyuwangi akan menjadi lokasi penyelenggaraan seluruh rangkaian kegiatan. Menurutnya, dukungan PCNU merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam pemenuhan hak-hak hukum di bidang administrasi perkawinan.

"Kami berkomitmen mendukung penuh pelaksanaan Isbat Nikah Terpadu agar berjalan lancar, tertib, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan legalitas perkawinan," katanya.

Program Isbat Nikah Terpadu merupakan bentuk pelayanan publik berbasis kolaborasi lintas instansi yang bertujuan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh kepastian hukum atas perkawinannya. Melalui layanan terpadu ini, peserta akan memperoleh penetapan isbat nikah dari pengadilan, pencatatan perkawinan melalui penerbitan buku nikah, serta pembaruan dokumen administrasi kependudukan dalam satu rangkaian pelayanan. Model pelayanan tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, mempercepat proses administrasi, serta memperluas akses masyarakat terhadap layanan hukum dan administrasi yang terpadu.

Selain membahas aspek teknis pelaksanaan, rapat koordinasi juga mengevaluasi kesiapan sumber daya manusia, pembagian tugas kepanitiaan, mekanisme pelayanan, serta sarana dan prasarana pendukung. Seluruh persiapan tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan Isbat Nikah Terpadu bagi 40 pasangan dapat berlangsung secara profesional, efektif, transparan, dan akuntabel.

Melalui koordinasi yang intensif dan sinergi antarlembaga, LKKNU PCNU Banyuwangi berharap pelaksanaan Isbat Nikah Terpadu tahun 2026 dapat memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat, sekaligus memperkuat tertib administrasi, kepastian hukum, serta perlindungan terhadap hak-hak keluarga di Kabupaten Banyuwangi

Gerakan Indonesia ASRI Digelar di Banyuwangi, Ribuan Warga Bersatu Jaga Kebersihan Pesisir

BANYUWANGI – Semangat gotong royong mewarnai kawasan Pantai Ancol Plengsengan, Kelurahan Lateng, Kabupaten Banyuwangi, Selasa (21/7/2026). Lebih dari seribu peserta dari berbagai unsur masyarakat ambil bagian dalam aksi bersih pantai yang merupakan bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah), sebuah gerakan nasional yang diinisiasi pemerintah untuk memperkuat kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan.


Kegiatan yang diprakarsai Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri bersama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tersebut melibatkan nelayan, warga pesisir, pegiat lingkungan, aparatur sipil negara, TNI, Polri, mahasiswa, hingga para pelajar. Sejak pagi, para peserta bergotong royong mengumpulkan sampah di sepanjang kawasan pantai sebagai wujud nyata kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal, mengatakan bahwa Gerakan Indonesia ASRI merupakan upaya membangun budaya peduli lingkungan yang dimulai dari tindakan sederhana, seperti menjaga kebersihan kawasan publik dan mengelola sampah secara bertanggung jawab.

"Hari ini Kemendagri bersama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melaksanakan Gerakan Indonesia ASRI sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, khususnya dalam menjaga kebersihan dan ketertiban kawasan," ujar Safrizal.

Menurutnya, Banyuwangi dipilih sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan karena dinilai konsisten dalam menerapkan berbagai program strategis pemerintah pusat. Komitmen tersebut menjadi modal penting untuk menjadikan Banyuwangi sebagai contoh pelaksanaan gerakan peduli lingkungan bagi daerah lain di Indonesia.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menjelaskan bahwa semangat Gerakan Indonesia ASRI telah diimplementasikan melalui program Banyuwangi ASRI yang secara rutin dilaksanakan di seluruh kecamatan serta desa dan kelurahan.

"Kegiatan menjaga kebersihan lingkungan telah menjadi agenda berkelanjutan di Banyuwangi. Tidak hanya di kawasan pantai, tetapi juga di lingkungan permukiman, desa, dan ruang-ruang publik lainnya," kata Ipuk.

Lebih lanjut, Ipuk menegaskan bahwa pembangunan lingkungan yang bersih tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan gotong royong, tetapi juga dengan membangun kesadaran masyarakat agar senantiasa menjaga lingkungan tetap aman, sehat, bersih, dan indah.

Dalam mendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga terus memperluas pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di berbagai wilayah. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai mampu meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah sekaligus mengurangi beban sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir.

Melalui Gerakan Indonesia ASRI, diharapkan semangat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat terus tumbuh sehingga tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan lestari sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Banyuwangi Jadi Pusat Konsolidasi Delegasi Indonesia Bahas Penguatan Smart City ASEAN

BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi menjadi lokasi konsolidasi delegasi Indonesia dalam rangka mengikuti The 9th ASEAN Smart Cities Network (ASCN) Annual Meeting, Senin (20/7/2026). Pertemuan yang digelar secara luring di Banyuwangi tersebut terhubung secara daring dengan forum utama yang berlangsung di Filipina dan diikuti oleh negara-negara anggota ASEAN beserta sejumlah negara mitra.


Forum tahunan ASCN menjadi wadah strategis untuk memperkuat kerja sama internasional dalam mendorong pembangunan kota cerdas yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan. Selain dihadiri 11 negara anggota ASEAN, pertemuan juga melibatkan mitra pembangunan seperti Korea Selatan, Jepang, Uni Emirat Arab, dan Rusia.

Konsolidasi delegasi Indonesia di Banyuwangi diikuti oleh enam daerah yang menjadi representasi Indonesia dalam jaringan ASCN, yaitu Kabupaten Banyuwangi, DKI Jakarta, Kota Makassar, Kabupaten Sumedang, Kota Semarang, dan Kota Denpasar. Pertemuan dipimpin oleh Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal, bersama para kepala daerah maupun perwakilan delegasi dari masing-masing wilayah.

Safrizal menjelaskan bahwa ASEAN Smart Cities Network merupakan forum kerja sama antarnegara ASEAN dalam mengembangkan konsep kota cerdas sebagai bagian dari pembangunan kawasan. Menurutnya, Indonesia memiliki peran penting dalam menghadirkan berbagai inovasi daerah yang dapat menjadi contoh bagi negara-negara di Asia Tenggara.

"Kami memusatkan pertemuan konsolidasi di Kabupaten Banyuwangi. Awalnya, saat ASCN berdiri pada 2018, yang kita promosikan ke tingkat Asia Tenggara adalah DKI Jakarta, Makassar, dan Banyuwangi. Kini Indonesia menambah tiga delegasi baru sehingga semakin memperkuat kontribusi dalam jaringan ASCN," ujar Safrizal.

Ia menambahkan, forum tersebut juga menjadi kesempatan bagi setiap delegasi untuk mempresentasikan perkembangan implementasi program smart city di daerah masing-masing sekaligus bertukar pengalaman mengenai berbagai inovasi yang telah dijalankan.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memaparkan sejumlah inovasi yang menjadi bagian dari transformasi digital daerah. Menurutnya, Banyuwangi mengembangkan konsep smart city melalui pendekatan smart village, sehingga pembangunan berbasis teknologi dapat menjangkau hingga tingkat desa.

"Banyuwangi hadir bersama jaringan kota ASCN lainnya untuk berbagi praktik baik mengenai pengembangan smart city dengan negara-negara ASEAN. Pendekatan yang kami bangun menempatkan desa sebagai fondasi utama transformasi digital," kata Ipuk.

Dalam paparannya, Ipuk menjelaskan keberhasilan Banyuwangi mengembangkan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). Program tersebut mengedepankan ekonomi sirkular, mulai dari pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, edukasi lingkungan, hingga pemanfaatan sampah plastik menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif bagi industri.

Selain itu, Banyuwangi juga memperkenalkan layanan kesehatan digital Oasis Wangi (Online Akses Solusi Indonesia Sehat dari Banyuwangi) yang memungkinkan masyarakat memperoleh konsultasi kesehatan selama 24 jam melalui aplikasi WhatsApp. Layanan tersebut dikembangkan bersama mitra Noora Health sebagai bagian dari transformasi pelayanan publik berbasis teknologi.

Menutup paparannya, Ipuk menegaskan bahwa keikutsertaan Banyuwangi dalam ASEAN Smart Cities Network bukan hanya untuk memperkenalkan inovasi daerah, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bersama dalam mewujudkan pembangunan yang cerdas, adaptif, dan berkelanjutan di kawasan ASEAN.

LKNU, LKKNU dan RMI Banyuwangi Gelar Sapa Santri, Perkuat Karakter, Kesehatan Mental, Anti Bulying dan Literasi Digital di Ponpes Minhajut Thullab

Banyuwangi (Warta Blambangan) Pembinaan santri di era modern tidak lagi cukup bertumpu pada penguatan ilmu keagamaan semata. Penguatan aspek kesehatan, psikologi, ketahanan keluarga, literasi digital, hingga pencegahan perundungan (bullying) dan penyalahgunaan narkoba menjadi bagian penting dalam membentuk generasi santri yang tangguh menghadapi tantangan zaman.

Berangkat dari semangat tersebut, Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Cabang Banyuwangi menggelar program Sapa Santri di Pondok Pesantren Minhajut Thullab, Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar, Senin (20/7/2026).

Kegiatan ini merupakan kolaborasi RMI Banyuwangi bersama Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU), Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU), Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, RSNU Banyuwangi, Klinik Didik Sulasmono (KDS), serta Universitas Islam KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Blokagung.

Melalui kegiatan tersebut, para santri memperoleh pembekalan mengenai pembentukan karakter, kesehatan reproduksi, kesehatan jiwa, ketahanan keluarga, literasi digital, edukasi anti-perundungan, hingga kampanye anti narkoba sebagai upaya mewujudkan lingkungan pesantren yang aman, sehat, inklusif, dan mencerminkan nilai-nilai Islam rahmatan lil 'alamin.

Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi, H. Syafaat, S.H., M.H.I., mengatakan bahwa pesantren dan madrasah saat ini menjadi model pendidikan yang tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga melahirkan generasi yang berilmu, kompeten, dan berakhlak mulia.

"Pesantren harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga siap menghadapi tantangan zaman dengan karakter yang kuat dan kesehatan yang baik," ujarnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) yang diselenggarakan LKKNU Banyuwangi bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Program ini menjadi wadah edukasi bagi santri dalam memahami pentingnya kesehatan reproduksi, kesehatan mental, ketahanan keluarga, serta literasi digital sebagai bekal membangun generasi yang seimbang secara intelektual, emosional, spiritual, dan sosial.

Materi disampaikan oleh para akademisi, psikolog, penghulu, penyuluh agama Islam, dan praktisi kesehatan, yakni Dr. Nur Anim Jauhariyah, S.Pd., M.Si., Coach Ahmad Syamsul Muarif, S.Sos., M.A., CH., CMH., CHt., CPS., CT.KLTC., CN.NLP., CI., Nurin Baroroh, M.Psi., Psikolog, serta Halimatus Sa'diah, S.Psi., M.A.


Ketua LKKNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, menegaskan bahwa pembinaan sejak usia remaja merupakan investasi sosial untuk mewujudkan keluarga maslahat yang dibangun di atas nilai keimanan, kasih sayang, tanggung jawab, dan kemaslahatan.

Sementara itu, aspek kesehatan diperkuat melalui keterlibatan LKNU Banyuwangi yang dipimpin dr. Sabik bersama Sekretaris Bd. Diah Fitrianiingsih, dengan dukungan RSNU Banyuwangi dan Klinik Didik Sulasmono (KDS). Edukasi kesehatan diberikan sebagai implementasi ajaran Islam yang menempatkan perlindungan jiwa (hifzh an-nafs) sebagai salah satu tujuan utama syariat (maqashid syariah).

Kegiatan juga melibatkan unsur Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, di antaranya H. Lukman Hakim, Kepala KUA Tegaldlimo, Fawaid Saiful Rachman, dan Anang Ma'ruf Masyhuri dari KUA Muncar. Mereka memberikan penguatan kepada para santri mengenai kehidupan berkeluarga, tanggung jawab moral, serta pentingnya membangun relasi sosial yang berlandaskan ajaran Islam moderat.

Pimpinan Pondok Pesantren Minhajut Thullab menyatakan komitmennya untuk menjadikan program tersebut sebagai pembinaan berkelanjutan. Ke depan, program BRUS akan diperluas melalui kerja sama dengan Kementerian Agama, penguatan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) bersama LKNU, serta berbagai program edukasi lainnya.

Salah seorang pimpinan pesantren, Ahmad Ahmali, mengatakan bahwa tindak lanjut pembinaan akan difokuskan pada seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan Pondok Pesantren Minhajut Thullab, meliputi SMA Al Hikmah, SMK Minhajut Thullab, MA Minhajut Thullab, MTs Miftahul Mubtadiin, dan SMP Al-Qur'an.

Melalui program Sapa Santri, RMI Banyuwangi berharap pesantren semakin mengukuhkan perannya sebagai pusat pembentukan generasi yang memadukan kedalaman ilmu agama dengan wawasan keilmuan kontemporer. Dengan bekal tersebut, santri diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlakul karimah, sehat jasmani dan rohani, tangguh menghadapi perkembangan zaman, bijak memanfaatkan teknologi digital, serta memiliki komitmen kuat menolak perundungan dan penyalahgunaan narkoba.

Wapres Gibran Serap Aspirasi Nelayan Muncar, Janjikan Percepatan Penyelesaian Persoalan Perizinan dan Infrastruktur



BANYUWANGI (Warta Blambangan) Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Banyuwangi dengan menemui para nelayan di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) dan Pasar Ikan Segar Muncar, Jumat (10/7/2026). Kunjungan tersebut menjadi ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat pesisir untuk membahas berbagai persoalan yang selama ini dihadapi nelayan, mulai dari rumitnya perizinan hingga kebutuhan peningkatan infrastruktur pelabuhan.

Dalam dialog yang berlangsung terbuka, perwakilan nelayan Muncar, Umar, menyampaikan sejumlah aspirasi kepada Wakil Presiden. Salah satu persoalan utama yang dikeluhkan adalah kompleksitas pengurusan izin kapal nelayan yang dinilai membebani masyarakat pesisir karena harus memenuhi banyak persyaratan administratif.

Menurut Umar, nelayan tradisional di Muncar harus mengurus berbagai dokumen yang jumlahnya mencapai belasan jenis sehingga tidak sedikit yang mengalami kesulitan dalam memenuhi seluruh persyaratan tersebut. Karena itu, ia berharap pemerintah dapat menyederhanakan mekanisme perizinan agar nelayan lebih mudah menjalankan aktivitas penangkapan ikan secara legal.

Selain persoalan administrasi, nelayan juga mengusulkan peningkatan kapasitas Pelabuhan Muncar. Dengan jumlah sekitar 191 kapal berukuran rata-rata 20 hingga 30 Gross Ton (GT), fasilitas sandar yang tersedia dinilai belum mampu mengakomodasi seluruh armada, terutama ketika kapal-kapal kembali bersamaan setelah melaut.

Kondisi tersebut mengakibatkan antrean panjang saat proses sandar berlangsung. Oleh sebab itu, para nelayan berharap pemerintah dapat merealisasikan reklamasi, revitalisasi pelabuhan, pengerukan sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan, pembangunan pemecah ombak, serta perbaikan akses jalan menuju kawasan pelabuhan.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyatakan seluruh masukan dari masyarakat nelayan telah dicatat dan akan segera dikoordinasikan dengan pemerintah pusat. Ia mengakui bahwa efisiensi anggaran yang sedang diterapkan pemerintah menjadi tantangan tersendiri, namun kebutuhan nelayan tetap menjadi perhatian karena menyangkut kepentingan masyarakat luas.

Menurut Gibran, penyederhanaan perizinan kapal dan peningkatan infrastruktur pelabuhan merupakan kebutuhan yang mendesak. Karena itu, ia akan melaporkan seluruh usulan tersebut kepada Presiden serta berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait agar proses penyelesaiannya dapat dipercepat.

Selain pembenahan pelabuhan, pemerintah juga akan mendorong percepatan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Muncar sebagai salah satu program yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui penguatan sektor perikanan dan ekonomi lokal.

Dalam kesempatan itu, Gibran menegaskan bahwa penyelesaian berbagai persoalan nelayan membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah daerah. Ia menyatakan akan terus berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi agar setiap aspirasi yang disampaikan masyarakat dapat ditindaklanjuti secara bertahap.

Sebagai bentuk dukungan nyata kepada nelayan, Wakil Presiden menyerahkan bantuan sebanyak 320 unit cooler box untuk membantu menjaga kualitas dan kesegaran hasil tangkapan ikan. Ia juga menyempatkan diri mengunjungi lapak pedagang di kawasan TPI Muncar dan membeli sejumlah hasil tangkapan nelayan sebagai bentuk dukungan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap masyarakat nelayan di Banyuwangi. Menurutnya, kehadiran Wakil Presiden memberikan harapan baru bagi percepatan penyelesaian berbagai persoalan yang selama ini menjadi kebutuhan masyarakat pesisir.

Ipuk menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Banyuwangi siap memperkuat kolaborasi dengan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, khususnya dalam menangani persoalan yang menjadi kewenangan daerah, sehingga pembangunan sektor kelautan dan perikanan di Muncar dapat berjalan lebih optimal dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan nelayan. 

PC LKKNU Banyuwangi Bersama Jajaran PCNU Hadiri Kunjungan Kerja Wakil Presiden RI di Ponpes Ibnu Sina Genteng

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Pengurus Cabang Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (PC LKKNU) Kabupaten Banyuwangi bersama jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi menghadiri kunjungan kerja Wakil Presiden Republik Indonesia di Pondok Pesantren Ibnu Sina, Kecamatan Genteng, Jumat (10/7/2026). Kehadiran keluarga besar Nahdlatul Ulama dalam agenda kenegaraan tersebut menegaskan komitmen organisasi dalam memperkuat sinergi antara pemerintah, pesantren, dan masyarakat guna membangun sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, serta berlandaskan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.


Rombongan PCNU Banyuwangi dipimpin Ketua Tanfidziyah Ahmad Turmudzi dan Rais Syuriyah KH. Fakhrudin Manan, didampingi para ketua lembaga di bawah naungan PCNU Banyuwangi. Dari PC LKKNU Banyuwangi hadir Ketua Dalilatus Saadah, pengurus Farida, beserta jajaran pengurus lainnya yang turut mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Kunjungan Wakil Presiden disambut oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin, M.A., Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Drs. Nanang Avianto, M.Si., Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para ulama, pengasuh pesantren, serta berbagai elemen masyarakat.

Pengamanan kunjungan kerja Wakil Presiden dilakukan secara terpadu oleh Pangdam V/Brawijaya bersama unsur Forkopimda Jawa Timur. Mayjen TNI Rudy Saladin berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Nanang Avianto, dan seluruh unsur terkait dalam mengawal setiap rangkaian agenda kunjungan sehingga berlangsung aman, tertib, lancar, dan kondusif.


Dalam kesempatan tersebut, Wakil Presiden bersama rombongan meninjau sejumlah fasilitas Pondok Pesantren Ibnu Sina serta berdialog dengan para pengasuh dan santri. Dialog menitikberatkan pada penguatan peran strategis pesantren sebagai pusat pendidikan Islam yang mampu melahirkan generasi berakhlakul karimah, memiliki wawasan kebangsaan, sekaligus siap menghadapi tantangan zaman melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Keikutsertaan PC LKKNU Banyuwangi dalam agenda tersebut menjadi bagian dari komitmen organisasi untuk terus mendukung penguatan institusi keluarga dan pesantren sebagai fondasi pembentukan karakter masyarakat. Sinergi antara Nahdlatul Ulama, pemerintah, dan lembaga pendidikan Islam dinilai menjadi modal penting dalam menciptakan pembangunan yang berorientasi pada kemaslahatan umat.

Ketua PC LKKNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, menyampaikan bahwa perhatian pemerintah terhadap pesantren merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekosistem pendidikan keagamaan sekaligus membangun ketahanan keluarga sebagai basis pembangunan bangsa.

"Sinergi yang terbangun melalui kunjungan ini diharapkan semakin memperkuat berbagai program pemberdayaan keluarga serta meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Pesantren memiliki peran yang sangat strategis dalam membangun karakter dan ketahanan keluarga sebagai fondasi kemajuan bangsa," ujarnya.

Menurut Dalilatus Saadah, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi pusat pembinaan moral, penguatan nilai-nilai kebangsaan, pemberdayaan sosial, serta pengembangan karakter generasi muda yang berdaya saing dan berintegritas.

Seluruh rangkaian kunjungan kerja berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh khidmat. Kehadiran pemerintah pusat, pemerintah daerah, jajaran Forkopimda, serta keluarga besar Nahdlatul Ulama diharapkan semakin memperkokoh kemitraan strategis dalam memperluas kemaslahatan umat, memperkuat ketahanan keluarga, serta mendukung terwujudnya pembangunan nasional yang berkelanjutan dan berkeadaban. (syaf)

Kemenag Banyuwangi dan Yayasan Project HOPE Bekali Calon Pengantin Bangun Keluarga Sehat

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi melalui Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam menggelar kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bertajuk Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Perempuan Dewasa di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Rabu (8/7/2026). Kegiatan yang diikuti 26 calon pengantin ini merupakan hasil kolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi dan Yayasan Project HOPE Indonesia.


Kepala Seksi Bimas Islam, H. Mastur, mengatakan bahwa sinergi lintas sektor menjadi langkah strategis dalam mempersiapkan calon pengantin membangun keluarga yang sehat dan berkualitas.

"Kegiatan ini merupakan bentuk kerja sama Bimas Islam Kemenag Banyuwangi dengan Dinas Kesehatan dan Yayasan Project HOPE. Sebanyak 26 calon pengantin mengikuti pembinaan sebagai bekal membangun keluarga yang sehat dan berkualitas," ujarnya.

Project Coordinator Yayasan Project HOPE Indonesia, Flora Theodora Parapat, menjelaskan bahwa program Her Way bertujuan meningkatkan kesadaran kesehatan perempuan sejak sebelum menikah. Menurutnya, edukasi kesehatan reproduksi merupakan langkah penting untuk menekan risiko kematian ibu sekaligus melahirkan generasi yang lebih sehat.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., mengapresiasi kolaborasi tersebut. Ia menegaskan bahwa pembinaan calon pengantin harus mencakup kesiapan keagamaan, mental, dan kesehatan.

"Keluarga yang kuat lahir dari ibu yang sehat. Bangsa yang maju berawal dari keluarga yang berkualitas. Karena itu, membangun Indonesia harus dimulai dengan membangun keluarga," tegasnya.

Chaironi juga mengingatkan bahwa tingginya angka perceraian di Banyuwangi menjadi alasan pentingnya memperkuat pembekalan calon pengantin agar mampu membangun rumah tangga yang harmonis, tangguh, dan berkelanjutan.


Dalam kegiatan tersebut peserta memperoleh materi mengenai kesehatan reproduksi, kesehatan perempuan, perencanaan keluarga, serta kesehatan mental dari dr. Eva Damayanti, Sp.OG, psikolog Dhea Dana Mariska, Kepala KUA, dan Penyuluh Agama Islam. Peserta juga mengikuti screening kesehatan yang difasilitasi Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi sebagai upaya deteksi dini kondisi kesehatan sebelum memasuki kehidupan berumah tangga.

Melalui kegiatan ini diharapkan lahir keluarga-keluarga yang sehat, sakinah, mawaddah, wa rahmah, sekaligus mampu mencetak generasi Indonesia yang unggul melalui sinergi berkelanjutan antara Kementerian Agama, Dinas Kesehatan, dan Yayasan Project HOPE Indonesia.(syaf)

Pemkab Banyuwangi dan BNNK Hadirkan Inovasi Greeting–Closing P4GN, Edukasi Bahaya Narkoba Disisipkan dalam Setiap Layanan Publik

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Banyuwangi meluncurkan inovasi Greeting–Closing P4GN sebagai bagian dari penguatan gerakan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Melalui inovasi tersebut, setiap unit pelayanan publik diharapkan menyisipkan pesan-pesan antinarkoba kepada masyarakat pada akhir proses pelayanan.

Gagasan ini mengemuka dalam audiensi Kepala BNNK Banyuwangi dengan Bupati Banyuwangi yang berlangsung pada Kamis (2/7/2026). Pertemuan tersebut juga dihadiri Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), serta Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Banyuwangi.


Melalui konsep Greeting–Closing P4GN, petugas pelayanan tidak hanya memberikan layanan yang cepat, ramah, dan profesional, tetapi juga menyampaikan ajakan kepada masyarakat untuk menjauhi penyalahgunaan narkoba. Edukasi tersebut disampaikan dalam bentuk pesan singkat yang mudah dipahami dan diingat, seperti ajakan menjaga keluarga dari bahaya narkoba, membangun masa depan tanpa narkoba, hingga mewujudkan Banyuwangi Bersinar (Bersih Narkoba).

Bupati Banyuwangi menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi tersebut. Menurutnya, setiap titik pelayanan publik merupakan ruang strategis untuk membangun kesadaran masyarakat karena setiap hari berinteraksi langsung dengan ribuan warga.

"Pelayanan publik tidak hanya berorientasi pada penyelesaian administrasi, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi yang efektif. Melalui pesan-pesan sederhana yang disampaikan secara konsisten, pemerintah dapat mengajak masyarakat untuk menjaga diri, melindungi keluarga, dan bersama-sama mencegah penyalahgunaan narkoba," ujar Bupati.

Sementara itu, Kepala BNNK Banyuwangi menjelaskan bahwa Greeting–Closing P4GN merupakan pendekatan preventif yang sederhana, namun memiliki dampak yang luas. Dengan memanfaatkan seluruh jaringan pelayanan pemerintah, swasta, BUMN, maupun BUMD, pesan-pesan antinarkoba akan terus hadir di tengah masyarakat secara berkelanjutan.

"Setiap pelayanan menjadi kesempatan untuk menanamkan kesadaran kepada masyarakat. Semakin sering pesan tersebut disampaikan, semakin besar pula peluang terbentuknya budaya hidup yang menolak penyalahgunaan narkoba," ungkapnya.

Selain membahas implementasi Greeting–Closing P4GN, pertemuan tersebut juga menghasilkan komitmen bersama untuk memperkuat layanan rehabilitasi bagi penyalahguna narkotika. Salah satu langkah yang akan dikembangkan adalah perluasan layanan Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) secara bertahap melalui puskesmas atau sistem rayonisasi, sehingga masyarakat yang membutuhkan rehabilitasi rawat jalan dapat memperoleh layanan yang lebih mudah diakses.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menegaskan akan terus memperkuat sinergi bersama BNNK melalui berbagai program P4GN yang mencakup aspek pencegahan, rehabilitasi, edukasi, hingga pemberdayaan masyarakat.

Kolaborasi lintas sektor yang melibatkan perangkat daerah, instansi vertikal, pemerintah desa, dunia usaha, BUMN, BUMD, serta berbagai elemen masyarakat diharapkan mampu menjadikan Greeting–Closing P4GN sebagai budaya baru dalam pelayanan publik. Dengan demikian, setiap layanan bukan hanya menghadirkan kemudahan administrasi, tetapi juga menjadi media membangun kesadaran kolektif demi terwujudnya Banyuwangi yang bersih dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.

Hadapi Keterbatasan Anggaran, Bupati Ipuk Dorong Sinergi Lintas Sektor untuk Perkuat Pelayanan Kesehatan

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Keterbatasan kapasitas fiskal tidak boleh menjadi penghalang dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat. Karena itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengajak seluruh pemangku kepentingan di bidang kesehatan memperkuat sinergi dan kolaborasi agar program-program prioritas tetap berjalan optimal.

Ajakan tersebut disampaikan Ipuk usai menggelar pertemuan bersama berbagai unsur pelayanan kesehatan di Banyuwangi, Kamis (2/7/2026). Menurutnya, seluruh sumber daya yang dimiliki daerah harus diarahkan pada penanganan persoalan kesehatan yang paling mendesak dan memberikan dampak luas bagi masyarakat.

"Saya meminta seluruh stakeholder kesehatan terus memperkuat koordinasi dan bekerja secara terpadu sehingga seluruh potensi yang ada dapat difokuskan pada penyelesaian masalah kesehatan yang menjadi prioritas daerah," ujar Ipuk.

Ia menjelaskan, kondisi keuangan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, saat ini menghadapi berbagai tantangan. Di sisi lain, masyarakat mengharapkan layanan kesehatan yang cepat, mudah dijangkau, serta memiliki kualitas yang semakin baik. Oleh karena itu, kolaborasi menjadi kunci agar pelayanan tetap berjalan efektif meskipun di tengah keterbatasan anggaran.

"Semua pihak harus saling mendukung dan terhubung sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan dengan lebih mudah dan lebih cepat," katanya.

Dalam pertemuan tersebut hadir ratusan pemangku kepentingan, mulai dari kepala puskesmas, direktur rumah sakit pemerintah dan swasta, pimpinan klinik, perguruan tinggi bidang kesehatan, organisasi profesi kesehatan, hingga perwakilan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

Ipuk menegaskan bahwa sejumlah program kesehatan menjadi fokus pembangunan daerah pada tahun ini, antara lain peningkatan kesehatan ibu dan anak, pengendalian penyakit tidak menular, percepatan penanggulangan tuberkulosis dan HIV, penguatan pelayanan kesehatan primer, kesehatan jiwa remaja, serta perlindungan bagi kelompok masyarakat rentan.


Ia berharap seluruh lembaga dan institusi kesehatan dapat mengintegrasikan program kerja masing-masing dengan agenda prioritas tersebut sehingga hasil yang dicapai semakin optimal.

Kepada seluruh rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta, Ipuk meminta agar mempertahankan komitmen Zero Penolakan Pasien Gawat Darurat serta memperkuat sistem rujukan dengan puskesmas. Menurutnya, keterhubungan layanan antar fasilitas kesehatan akan mempercepat proses penanganan pasien yang membutuhkan pelayanan lanjutan.

"Dengan sistem rujukan yang terintegrasi, pasien dapat memperoleh pelayanan secara cepat dan efisien. Apalagi hampir seluruh rumah sakit dan klinik di Banyuwangi telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan," jelasnya.

Sementara kepada perguruan tinggi dan organisasi profesi kesehatan, Ipuk mengajak agar terus menjadi mitra strategis pemerintah daerah melalui pengembangan riset, inovasi, pengabdian kepada masyarakat, serta pendampingan berbagai program kesehatan. Peran akademisi dan organisasi profesi juga dinilai penting dalam menjaga kualitas pelayanan, kompetensi tenaga kesehatan, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pelayanan kesehatan.

Di tingkat pelayanan dasar, Ipuk meminta seluruh kepala puskesmas memperkuat fungsi promotif dan preventif. Salah satunya dengan mengoptimalkan keberadaan lebih dari 2.300 Posyandu yang didukung sekitar 13.000 kader kesehatan sebagai pusat deteksi dini berbagai persoalan kesehatan masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya meningkatkan kunjungan rumah bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus, seperti ibu hamil berisiko tinggi, bayi dan balita, lanjut usia, serta penderita tuberkulosis, HIV, hipertensi, dan diabetes agar kondisi kesehatannya dapat dipantau secara berkelanjutan.

Selain itu, para camat diminta berperan aktif menggerakkan pemerintah desa dan kelurahan, PKK, Posyandu, tokoh agama, maupun tokoh masyarakat untuk bersama-sama mendukung berbagai program kesehatan yang dijalankan pemerintah daerah.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi Suyanto Waspotondo menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan kesehatan tidak mungkin dicapai hanya oleh pemerintah. Dukungan seluruh unsur pelayanan kesehatan menjadi faktor penting dalam mewujudkan pelayanan yang semakin berkualitas.

"Kami mengapresiasi seluruh kontribusi yang telah diberikan para stakeholder kesehatan. Pemerintah berharap tahun 2026 menjadi momentum memperkuat konsolidasi pelayanan kesehatan di Banyuwangi, sehingga seluruh program dapat dijalankan dengan lebih fokus, lebih efisien, dan semakin kolaboratif," pungkas Suyanto.

Jika diinginkan, naskah ini juga dapat diubah menjadi feature dengan gaya sastra-jurnalistik atau menjadi rilis humas resmi Pemkab Banyuwangi yang lebih elegan dan persuasif.

Bupati Ipuk Ingatkan Warga Banyuwangi Cermat Memilih Travel Umrah, Utamakan Biro Resmi Berizin

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengingatkan masyarakat agar lebih selektif dalam memilih biro perjalanan umrah. Imbauan tersebut disampaikan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyusul terungkapnya dugaan penipuan yang dilakukan oleh biro perjalanan umrah tidak resmi hingga mengakibatkan sejumlah calon jamaah gagal berangkat ke Tanah Suci.

Menurut Ipuk, pemerintah daerah bersama Polresta Banyuwangi terus berupaya memberikan perlindungan kepada masyarakat agar tidak menjadi korban praktik travel umrah fiktif yang merugikan secara materiil maupun psikologis.

"Kami sangat prihatin atas peristiwa yang menimpa para calon jamaah yang telah melunasi biaya perjalanan, namun akhirnya tidak dapat berangkat menunaikan ibadah umrah. Karena itu masyarakat harus memastikan bahwa biro perjalanan yang dipilih benar-benar memiliki izin resmi dari Kementerian Haji dan Umrah," ujar Ipuk, Kamis (2/7/2026).


Ia menegaskan, calon jamaah hendaknya tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena tergiur promosi atau penawaran biaya umrah yang jauh lebih murah dibandingkan harga normal. Menurutnya, harga yang tidak masuk akal justru perlu menjadi perhatian karena berpotensi menjadi modus penipuan.

"Pastikan biro perjalanan memiliki legalitas yang jelas, rekam jejak yang baik, serta terdaftar secara resmi di Kementerian Haji dan Umrah. Jangan mudah percaya hanya karena iming-iming harga murah," katanya.

Ipuk juga meminta masyarakat segera melapor kepada aparat penegak hukum apabila menemukan indikasi penipuan atau aktivitas biro perjalanan yang mencurigakan. Pemerintah daerah, lanjutnya, akan terus bersinergi dengan kepolisian untuk menindak pihak-pihak yang merugikan calon jamaah.

"Kami berkomitmen memberikan perlindungan kepada masyarakat dan mendukung langkah penegakan hukum terhadap pelaku yang merugikan jamaah," tegasnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Banyuwangi Kompol Lanang Teguh Pambudi menjelaskan bahwa hasil pendataan menunjukkan terdapat 44 biro perjalanan haji dan umrah yang beroperasi di Banyuwangi. Namun, hanya sembilan biro yang telah mengantongi izin resmi dan terdaftar di Kementerian Haji dan Umrah.

Ia mengimbau masyarakat agar selalu melakukan pengecekan legalitas biro perjalanan sebelum mendaftar. Verifikasi dapat dilakukan melalui laman resmi Kementerian Haji dan Umrah maupun dengan mendatangi kantor Kementerian Haji dan Umrah di Banyuwangi.

"Jangan mudah percaya kepada siapa pun, sekalipun yang menawarkan adalah orang yang dikenal. Pastikan terlebih dahulu status legalitas travel yang bersangkutan," ujarnya.

Selain itu, Lanang mengingatkan agar seluruh pembayaran biaya umrah dilakukan melalui rekening resmi perusahaan, bukan ke rekening pribadi agen ataupun perorangan. Bukti pembayaran juga harus disimpan sebagai dokumen penting apabila sewaktu-waktu diperlukan.

"Pembayaran hanya dilakukan ke rekening resmi perusahaan penyelenggara perjalanan ibadah umrah. Hindari transfer ke rekening pribadi karena hal tersebut sangat berisiko dan dapat menyulitkan apabila terjadi permasalahan di kemudian hari," pungkasnya.

Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Banyuwangi Perkuat Sinergi Lintas Sektor dalam Mendukung Stabilitas dan Pembangunan Daerah

BANYUWANGI – Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Kabupaten Banyuwangi menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi antarlembaga dalam menjaga stabilitas keamanan sebagai prasyarat utama pembangunan daerah. Upacara peringatan yang berlangsung di Lapangan Taman Blambangan, Rabu (1/7/2026), dipimpin oleh Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol. Dr. Rofiq Ripto Himawan, selaku inspektur upacara.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, Danlanal Letkol Laut (P) Muhammad Puji Santoso, Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Banyuwangi A.O. Mangontan, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat.

Upacara berlangsung dengan tertib dan penuh khidmat, melibatkan ratusan peserta yang berasal dari unsur Kepolisian Negara Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, Dinas Perhubungan, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Satuan Polisi Pamong Praja, serta berbagai elemen pendukung lainnya. Kehadiran berbagai institusi tersebut mencerminkan implementasi kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan pelayanan publik di Kabupaten Banyuwangi.

Dalam sambutannya, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan apresiasi terhadap dedikasi dan profesionalisme jajaran Polresta Banyuwangi dalam menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif. Menurutnya, stabilitas keamanan merupakan faktor fundamental yang menentukan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan serta keberhasilan pembangunan daerah.

Bupati menegaskan bahwa Polresta Banyuwangi memiliki posisi strategis sebagai mitra pemerintah daerah dalam menjaga ketertiban sosial, memberikan perlindungan kepada masyarakat, serta mendukung terciptanya iklim pembangunan yang aman, nyaman, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, koordinasi dan kolaborasi antara pemerintah daerah dengan kepolisian akan terus diperkuat sebagai bagian dari tata kelola pemerintahan yang responsif dan adaptif terhadap dinamika masyarakat.

Sementara itu, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol. Dr. Rofiq Ripto Himawan menegaskan komitmen institusinya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui penguatan profesionalisme, integritas, serta akuntabilitas pelaksanaan tugas kepolisian. Menurutnya, peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap Polri merupakan indikator penting dalam mengevaluasi efektivitas pelayanan yang diberikan kepada publik.


Ia menjelaskan bahwa berdasarkan hasil survei yang dipublikasikan Bank Kompas, tingkat profesionalitas layanan Polri menunjukkan tren positif dengan skor mencapai 8,37 persen. Selain itu, sebanyak 80,6 persen masyarakat Indonesia menilai kinerja Polri semakin baik, diiringi dengan peningkatan tingkat kepuasan publik sebesar 6,76 persen serta penguatan citra kelembagaan hingga mencapai 71,5 persen. Capaian tersebut menjadi modal sosial yang penting bagi Polri dalam menjalankan fungsi pemeliharaan keamanan, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat secara berkelanjutan.

Lebih lanjut, Kapolresta menegaskan kesiapan Polresta Banyuwangi dalam mendukung berbagai kebijakan strategis pemerintah daerah, termasuk program pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Salah satu fokus yang mendapat perhatian adalah penguatan komitmen untuk mewujudkan Kabupaten Banyuwangi sebagai daerah yang ramah anak melalui penciptaan lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif bagi tumbuh kembang generasi muda.

Menurutnya, perlindungan terhadap anak tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun aparat penegak hukum, melainkan memerlukan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Melalui keteladanan, pembinaan karakter, serta penciptaan ruang sosial yang positif, diharapkan anak-anak Banyuwangi dapat berkembang menjadi generasi yang berprestasi, berkarakter, dan memiliki daya saing tinggi.

Rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 ditutup dengan doa bersama, pemotongan tumpeng, dan pemotongan kue sebagai simbol rasa syukur atas pengabdian Polri kepada bangsa dan negara. Suasana peringatan semakin semarak dengan atraksi fly pass pesawat latih Akademi Penerbang Indonesia (API) Banyuwangi, pertunjukan paramotor yang mengelilingi kawasan Taman Blambangan, penampilan satu kompi Polisi Cilik yang memperagakan gerakan simbol lalu lintas, serta pertunjukan tari teatrikal yang mengangkat legenda Sritanjung–Sidopekso sebagai representasi nilai-nilai budaya lokal yang menjadi identitas Kabupaten Banyuwangi.

Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga merefleksikan penguatan kemitraan antara Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun sistem keamanan yang inklusif. Sinergi tersebut menjadi fondasi penting bagi terwujudnya pembangunan daerah yang berkelanjutan, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta penguatan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Tradisi Kebo-keboan Alasmalang Banyuwangi, Kearifan Lokal yang Tak Tergerus Zaman

BANYUWANGI - Ritual adat Kebo-keboan Alasmalang yang digelar masyarakat Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Minggu (28/6/2026), berlangsung meriah. Ribuan orang memadati lokasi digelarnya tradisi yang menjadi ungkapan rasa syukur sekaligus doa bersama untuk tanah yang subur dan hasil panen berlimpah.

Ritual ini dimulai dengan kenduri desa atau makan bersama dengan hidangan tumpeng dan lauk khas tradisional Pecel Pithik.

Ritual dilanjutkan dengan "ider bumi". Dimana puluhan "kerbau" mengelilingi desa dengan arah empat penjuru arah mata angin.

"Kerbau" yang dimaksud bukanlah hewan ternak, melainkan warga desa yang menyerupai kerbau. Badannya dilumuri jelaga hingga hitam pekat seperti kerbau, di kepalanya juga mengenakan asesoris berbentuk tanduk dan gelang kerincing di tangan dan kakinya. 


Bupati Banyuwangi Ipuk mengatakan tradisi Kebo keboan menjadi bagian dari kultur warga agraris yang kuat. Tradisi yang masih lestari ini menunjukkan komitmen warga dalam menjaga kearifan lokal.

"Tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun. Warga melestarikannya dengan melaksanakannya secara turun temurun. Saya sampaikan apresiasi kepada sesepuh adat, budayawan, pemuda Alasmalang dan semua yang menjaga nyala tradisi tetap hidup," kata Ipuk saat menyampaikan sambutannya


Ipuk melanjutkan tradisi Kebo-keboan bukan hanya sekedar tradisi tapi budaya yang membangun karakter. Dalam tradisi ini terkandung nilai kerja keras gotong royong dan disiplin dari masyarakat agraris.

"Nilai ini sesuai dengan semangat Banyuwangi "tandang bareng" kerja bersama, tumbuh bersama. Dimana semua capaian prestasi dan hasil kinerja Banyuwangi hasil gotong royong seluruh masyarakat," ujarnya.

Trafisi Kebo-keboan berlangsung dengan cara "kerbau" diarak keliling penjuru desa. Mereka berjalan seperti kerbau yang sedang membajak sawah, berkubang, bergumul di lumpur, dan bergulung-gulung di sepanjang jalan yang dilewati. Saat berjalan di perut mereka ditali seperti kerbau. 

Tradisi ini menarik wisatawan asing, Tara, dari Amerika Serikat. Ia nampak kagum dan takjub melihat arak arakan kebo keboan. 

"Ini sangat unik. Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Menakjubkan," ujar Lara, sebelumnya ia juga yelah mendaki ke Gunung Ijen.

Sementara itu ritual adat Kebo-keboan juga menjadi berkah bagi warga sekitar. Salah satunya Siti yang memiliki warung disekitar area acara. Ia mengaku senang setiap berlangsungnya acara selalu menyedot banyak pengunjung.

"Mulai minuman, camilan, semuanya laris, Alhamdulillah," ujarnya.

Tradisi Kebo-keboan sudah ada sejak abad ke-18 Masehi dan berasal dari kisah Buyut Karti, yang mendapat wangsit untuk menggelar upacara bersih desa dengan cara menjelma menjadi kerbau. Kebo-keboan ini juga dilaksanakan di Desa Aliyan, Rogojampi. (*)

Usai Supercross Lanjut Kejurnas, Sirkuit BMX Banyuwangi Bawa Berkah Bagi Ekonomi Warga

BANYUWANG - Sirkuit BMX Banyuwangi membawa berkah bagi ekonomi warga lokal Banyuwang. Usai gelaran Banyuwangi BMX Supercross, yang baru saja usai digelar, 27-28 Juni, Indonesia Cyxling Federation (ICF) menjadikan Banyuwangi sebagai tuan rumah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) BMX, Sabtu-Minggu (4-5 Juli), 

Kejuaraan yang akan diikuti para atlet BMX dari berbagai daerah di Indonesia ini, membuat perputaran ekonomi warga lokal berlanjut. Banyak pembalap yang mengikuti Supercross, memilih untuk menambah waktu stay mereka di Banyuwangi, sambil menunggu Kejurnas yang juga akan digelar di sirkuit berstandart Olimpiade tersebut. 

"Banyak pembalap yang mengikuti Supercross, tinggal di Banyuwangi untuk mengikuti Kejurnas. Ini menjadi perputaran ekonomi bagi warga lokal," kata Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat ICF, Jadi Rajagukguk. 


Sebelumnya Banyuwangi BMX Suoercross diikuti 343 peserta dari berbagai provinsi di Indoesia serta mancanegara. Mereka semua membawa rombongan tim official, hingga keluarga yang mendampingi selama acara. Bahkan diantaranya banyak yang datang jauh hari sebelum kompetisi dimulai untuk berlatih intensif. Warga sekitar turut mendapatkan manfaat ekonomi dari keberadaan mereka.

"Kejurnas juga akan diikuti oleh ratusan pembalap dari berbagai daerah di Indonesia. Ini juga akan menjadi perputaran ekonomi bagi warga lokal," tambah Jadi. 

Salah satu warga Yuli (50), pemiliki warung makanan dan minuman yang berada di pinggir jalan masuk menuju sirkuit bersyukur kembali digelar kejuaraan. . 

Yuli menceritakan sebelum ada sirkuit BMX, area tempat tinggalnya merupakan tanah persil perkebunan yang sangat sepi. Namun sejak ada sirkuit dan sering digelar kompetisi, wilayahnya menjadi ramai. Warga pun memanfaatkannya dengan membuka aneka usaha.

“Dulu disini sepi, tapi sejak ada sirkuit jadi ramai, warga disini semuanya bersyukur ada sirkuit karena mereka jadi bisa buka usaha. Apalagi kalau ada lomba seperti sekarang warung saya tambah ramai, omset naik drastis,” ujar Yuli.

Tidak hanya mendapat penghasilan dari membuka warung makanan dan minuman, Yuli juga sampai membangun rumah untuk disewakan sebagai tempat tinggal peserta kompetisi BMX, karena banyak permintaan. Seperti sekarang rumahnya disewa selama sepuluh hari oleh tim dari luar daerah. 

“Alhamdulillah penghasilannya jadi double kalau ada lomba di sirkuit dari warung dan penyewaan rumah. Harapan saya bisa sering diadakan lomba disini,” ujar Yuli.

Warga lainnya Tumini, yang rumahnya berada persis di samping sirkuit membuka usaha warung, penyewaan kendaraan, dan toilet umum.

Dia bersyukur di desanya dibangun sirkuit BMX berstandar internasional, yang kerap dijadikan venue kompetisi bergengsi yang diikuti ratusan atlet dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.

“Sirkuit BMX ini sangat menguntungkan. Karena sering ada lomba, kami ikut kecipratan rezeki dengan berjualan makanan, menyewakan kendaraan, dan toilet umum,” ujarnya.

Hal yang sama diutarakan Dewi yang menjadi pedagang makanan dadakan setiap kali ada kegiatan lomba di Sirkuit BMX Muncar Banyuwangi. Bahkan, dia mengaku bisa berjualan sejak seminggu sebelum lomba digelar karena biasanya para atlet sudah banyak yang berdatangan untuk berlatih di sirkuit.

“Senang banget. Setiap ada lomba, kami bisa berjualan. Bisa menambah penghasilan keluarga. Kami inginnya sering-sering ada lomba” ujarnya. (*)

Taklukkan Juara Asia, Timnas Indonesia Kawinkan Gelar Juara Banyuwangi BMX Supercross 2026

BANYUWANGI (Warta Blambangaan)  Banyuwangi BMX Supercross 2026 hari kedua, yang digelar di Sirkuit BMX Banyuwangi, Minggu (28/6/2026), berlangsung sengit. Pembalap tim nasional Indonesia, Rio Akbar, berhasil merebut gelar juara kategori men elite dari juara Asia rider asal Timbas Thailand, Komet Sukprasert. 


Keberhasilan Rio membuat Timnas Indonesia berhasil mengawinkan gelar juara setelah di kategori women elite pembalap Timnas lainnya, Amellya Nur Sifa, berhasil mempertahankan gelar juara. 

Rio membalas hasil hari pertama yang hanya finis di posisi kelima, Sabtu (27/6/2026). Pada final hari kedua ini, salah satu pembalap senior Indonesia itu tampil konsisten hingga mencatatkan waktu tercepat 43,110 detik, unggul tipis atas Komet Sukprasert yang membukukan waktu 43,304 detik.

Persaingan berlangsung ketat sejak start. Posisi ketiga dan keempat ditempati pembalap Indonesia Firman Chandra Alim serta Yussi Wakhidur Rizal yang turut menguasai papan atas kategori bergengsi tersebut.

"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa meraih hasil terbaik. Persaingannya sangat ketat karena semua pembalap sangat cepat, terutama Komet yang merupakan juara Asia. Kunci kemenangan hari ini adalah menjaga ritme balapan sejak awal hingga finis," kata Rio.

Menurut Rio, sirkuit BMX Banyuwangi yang menjadi trek terpanjang di dunia ini, menjadi tantangan tersendiri karena tidak hanya membutuhkan teknik, tetapi juga strategi mengatur stamina selama balapan.

"Jadi, strateginya mengatur waktu istirahat setelah moto dan memaksimalkan recovery. Kami juga menjaga asupan karbohidrat agar tenaga tetap terjaga. Trek Banyuwangi sangat panjang dan menantang. Sedikit saja melakukan kesalahan bisa berakibat fatal karena di sini bukan hanya soal skill, tetapi juga bagaimana menyimpan tenaga sampai finis," ujarnya.

Rio mengaku hampir tidak pernah absen mengikuti Banyuwangi BMX Supercross. Ia mengatakan kualitas penyelenggaraan maupun kemampuan para rider nasional terus meningkat dari tahun ke tahun.

"Dari tahun ke tahun kualitas trek semakin baik dan kemampuan para pembalap Indonesia juga terus berkembang. Semoga adik-adik pembalap tetap semangat berlatih dan terus berproses menjadi lebih baik," ucapnya.

Sementara Komet Sukprasert mengakui gagal mempertahankan gelar setelah mengalami kelelahan menjelang babak final. Meski demikian, juara SEA Games 2025 sekaligus ASEAN BMX Racing Cup 2026 tersebut tetap puas bisa mengakhiri lomba di podium.

"Sedikit kecewa karena kemarin saya menang, tetapi hari ini merasa cukup lelah sebelum final. Meski begitu saya senang masih bisa naik podium. Trek Banyuwangi sangat bagus, panjang, dan menantang. Saya harus berlatih lebih keras lagi agar lebih kuat saat kembali berlomba di sini," kata Komet.

Di kategori women elite, Amellya Nur Sifa menjadi yang tercepat setelah mengungguli rider Thailand, Chutikan Kitwanitsathian. Hasil tersebut menjadi modal sebelum Amellya tampil pada UCI BMX Racing World Championships di Brisbane, Australia.

"Saya senang bisa meraih hasil terbaik di Banyuwangi. Trek ini mengajarkan saya untuk terus belajar mengatur tenaga karena lawan terberat sebenarnya adalah diri sendiri. Setelah ini saya fokus mempersiapkan diri menghadapi UCI BMX Racing World Championships di Brisbane," ujar Amellya.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengucapkan selamat kepada para pemenang. Ipuk berharap dengan keberadaan sirkuit yang telah berstandar Olimpiade ini, tidak hanya memperkuat sport tourism, tetapi juga menjadi wadah pembinaan atlet balap sepeda Indonesia.

"Kami ingin Banyuwangi BMX Supercross menjadi tempat lahirnya atlet-atlet berprestasi. Dengan hadirnya pembalap dari berbagai negara, atlet Indonesia mendapat pengalaman bertanding di level internasional tanpa harus ke luar negeri. Ini sekaligus memperkuat Banyuwangi sebagai destinasi sport tourism bertaraf dunia," kata Ipuk. 

Balapan hari terakhir berlangsung dalam tensi tinggi. Final nomor Men Elite diwarnai insiden crash yang menyebabkan salah seorang pembalap terjatuh, namun perlombaan tetap berlanjut hingga garis finis. (*)

Berikut Hasil Banyuwangi BMX Supercross 2026 

Men Elite 

1. Rio Akbar (Indonesia)

2. Komet Sukprasert (Thailand)

3. Firman Chandra Alim (Indonesia)

4. Yussi Wakhidur Rizal (Indonesia)

5. Muhammad Fattahillah (Indonesia)


Women Elite

1. Amellya Nur Sifa (Indonesia)

2. Chutikan Kitwanitsathian (Thailand)


Men Junior

1. Muhammad Firmandhika Alhamzah (Indonesia)

2. Muhammad Bagus Refansha (Indonesia)

3. Fernando Van Persie Augusta (Indonesia).


Women Junior 

1. Balqis Humairah Aji Khairunnisa (Indonesia)

2. Tara Alayna Weilin Bte Muhammad Khalid (Singapore)

3. Karisya Milda (Indonesia).

YSAI Lanjutkan Pendampingan Petambak Tradisional Melalui Pelatihan Budidaya Udang Berkelanjutan

Banyuwangi – Yayasan Sinergi Aquaculture Indonesia (YSAI) bersama Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU) Kabupaten Banyuwangi, Shrimp Club Indonesia, dan Konservasi Indonesia kembali memperkuat pendampingan bagi petambak tradisional melalui Pelatihan Budidaya Udang Sistem Tradisional Plus dan Natural Habitat. Kegiatan bertema "Meningkatkan Produktivitas Tambak Tradisional yang Berkelanjutan" tersebut berlangsung pada Senin (29/6/2026) di Aula Welas Asih, Muncar, Banyuwangi.

Pelatihan diikuti para petambak tradisional dari berbagai wilayah Banyuwangi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor budidaya udang. Materi yang disampaikan tidak hanya membahas teknik budidaya, tetapi juga strategi pengelolaan tambak yang produktif, adaptif, dan berkelanjutan.

Perwakilan YSAI, Deddy Poerba, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program pendampingan yang telah dilaksanakan sebelumnya. Menurutnya, pelatihan tersebut memang dirancang untuk menjawab kebutuhan para petambak tradisional agar mampu meningkatkan hasil budidaya melalui penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi tambak.

"Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pelatihan sebelumnya yang memang difokuskan kepada petambak tradisional. Harapannya, para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mampu menerapkannya di lapangan sehingga produktivitas tambak meningkat dan keberlanjutan lingkungan tetap terjaga," ungkap Deddy.

Sementara itu, narasumber utama Ir. Hardi Pitoyo, yang juga Ketua SNNU Kabupaten Banyuwangi, memaparkan berbagai tantangan yang dihadapi tambak di Banyuwangi bagian selatan. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar merupakan bekas tambak udang windu intensif yang kini mengalami pendangkalan saluran tambak dan dasar kolam, kerusakan pematang, serta menurunnya kualitas saluran air.

Hardi juga mengulas perkembangan budidaya udang dari masa ke masa, termasuk ancaman penyakit yang pernah menjadi penyebab turunnya produktivitas. Pada era budidaya udang windu, penyakit seperti LV dan MBV menjadi kendala utama. Sementara pada era budidaya vaname berkembang penyakit WSSV, TSV, IHHNV, WFD, hingga AHPND yang memberikan dampak besar terhadap keberhasilan usaha tambak.

Dalam paparannya, Hardi menegaskan bahwa keberhasilan budidaya tambak tradisional sangat ditentukan oleh kelimpahan dan kualitas sumber air, kondisi pematang dan pintu air, kemampuan mempertahankan tinggi muka air kolam, pengendalian hama, mutu benih, ketersediaan pakan alami, serta keamanan tambak.

Ia juga menjelaskan perbedaan karakter antara udang windu dan udang vaname. Udang windu cenderung hidup di dasar kolam, menyukai substrat tanah, lebih tahan terhadap kondisi air dangkal, dan lebih responsif terhadap pakan segar seperti ikan rucah. Sebaliknya, udang vaname lebih aktif berenang di kolom air, membutuhkan pengelolaan kualitas air yang lebih stabil, kurang responsif terhadap pakan segar, serta menggunakan benih dari induk hasil pemuliaan.

Melalui kolaborasi antara YSAI, SNNU Kabupaten Banyuwangi, Shrimp Club Indonesia, dan Konservasi Indonesia, pelatihan ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas petambak tradisional dalam menerapkan sistem tradisional plus dan natural habitat. Pendekatan tersebut diyakini dapat meningkatkan produktivitas tambak sekaligus menjaga kelestarian ekosistem pesisir sebagai fondasi keberlanjutan usaha budidaya udang di Banyuwangi.(KAF)

PORSADIN III FKDT Banyuwangi Resmi Bergulir, Jadi Panggung Lahirnya Santri Berprestasi dan Berkarakter

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Semangat kompetisi, nilai keislaman, dan gairah pembinaan santri berpadu dalam pembukaan Pekan Olahraga dan Seni Antar Madrasah Diniyah Takmiliyah (PORSADIN) Ke-3 Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Banyuwangi, Minggu (28/6/2026). Kegiatan bergengsi yang digelar di Kampus Universitas Islam Cordoba dan Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan itu secara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., dengan pengawalan ketat dewan juri dari kalangan akademisi, praktisi Al-Qur’an, dan pegiat sastra.


PORSADIN tahun ini bukan sekadar ajang perlombaan biasa. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi panggung besar bagi para santri Madrasah Diniyah Takmiliyah se-Banyuwangi untuk menunjukkan kemampuan terbaik, mengukir prestasi, sekaligus meneguhkan jati diri sebagai generasi Islam yang tangguh, cerdas, dan berakhlakul karimah.

Dalam sambutannya, Dr. Chaironi Hidayat menegaskan bahwa Madrasah Diniyah Takmiliyah merupakan benteng penting dalam membangun karakter generasi muda. Menurutnya, di tengah derasnya arus perubahan zaman, santri harus memiliki fondasi akhlak yang kokoh, disiplin yang kuat, dan tanggung jawab yang tinggi.

“PORSADIN adalah ruang lahirnya bibit-bibit unggul. Di sini bukan hanya kemampuan yang diuji, tetapi juga mental, sportivitas, dan integritas,” tegasnya.

Ia juga memberikan apresiasi tinggi kepada FKDT Banyuwangi yang dinilai istiqamah menjaga tradisi pembinaan santri melalui kegiatan kompetitif yang sarat nilai edukatif dan spiritual.

Ketua DPC FKDT Banyuwangi, Ahmad Masruhan Hamidi, S.E.I., menegaskan bahwa seluruh cabang lomba berjalan berdasarkan petunjuk teknis yang telah disusun secara matang. Ia memastikan proses penjurian dilakukan secara objektif, transparan, dan profesional demi menghasilkan juara-juara terbaik.

“Setiap peserta dinilai murni berdasarkan kemampuan. Tidak ada ruang bagi subjektivitas. Semua dilakukan dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Untuk menjaga marwah dan kualitas kompetisi, panitia menghadirkan dewan hakim berkompeten. Pada cabang Al-Qur’an, penilaian dilakukan oleh Hj. Eva Suudah, S.Ag., Pengawas RA sekaligus Pembina LPTQ Banyuwangi, bersama Moh. Fauzan Anshori, S.H.I., M.M., Penghulu KUA Kecamatan Srono dan pengurus LKKNU Banyuwangi.


Sementara pada cabang Puisi Islami, dewan juri diperkuat oleh Syafaat, S.H., M.H.I., Ketua Lentera Sastra Banyuwangi dan pengurus Dewan Kesenian Belambangan, didampingi Siti Elok Faiqoh, jawara Liga Puisi Jawa Pos Radar Banyuwangi 2023, serta Firman Yunus, S.Pd., guru dan pegiat sastra dari SD Islam Darussalam Blokagung.

Dalam penilaian puisi, para juri menitikberatkan pada kekuatan penghayatan, ketepatan artikulasi, intonasi, ekspresi, penampilan, hingga adab peserta—menjadikan lomba ini bukan hanya soal suara, tetapi juga soal jiwa.

Mengusung tema “Berkhidmah Bersama Madrasah Diniyah Membangun Karakter Bangsa”, PORSADIN III mempertandingkan tujuh cabang lomba, yaitu Tahfidz Juz Amma, Pidato Bahasa Indonesia, Pidato Bahasa Arab, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Murottal wal Imla’, Puisi Islami, dan Adzan.

Turut hadir mewakili Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Hj. Dr. Lina Kamalin, M.Pd., selaku Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat. Kehadirannya menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap penguatan pendidikan keagamaan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia yang unggul.

Melalui pelaksanaan yang tertib dan penuh semangat sportivitas, PORSADIN III FKDT Banyuwangi diharapkan menjadi kawah candradimuka lahirnya generasi santri berprestasi yang siap mengharumkan nama Banyuwangi di tingkat Provinsi Jawa Timur. Lebih dari itu, ajang ini menjadi bukti bahwa Madrasah Diniyah Takmiliyah tetap kokoh sebagai pilar pembentuk generasi berilmu, berakhlak, dan siap menjawab tantangan zaman. (elk)

LDNU PCNU Banyuwangi Dikukuhkan, Siapkan Dakwah Digital dan Cetak 100 Da'i Muda

Banyuwangi – Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PCNU Banyuwangi resmi dikukuhkan di Pondok Pesantren Kubah Hijau, Donosuko, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, Ahad (28/6/2026). Pengukuhan tersebut menjadi momentum dimulainya kepengurusan baru yang mengusung semangat transformasi dakwah berbasis digital serta target mencetak 100 da'i muda dalam satu semester.

Ketua LDNU PCNU Banyuwangi, Nurul Anwar, menyampaikan bahwa pengukuhan ini menjadi awal dari pelaksanaan amanah organisasi untuk memperkuat dakwah Ahlussunnah wal Jamaah di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Menurutnya, LDNU telah menyiapkan sejumlah program strategis agar para dai mampu menjawab tantangan dakwah di era digital.

"Kami telah menyiapkan berbagai program yang progresif. Perkembangan algoritma media digital menuntut para dai mampu beradaptasi sehingga dakwah NU tetap hadir dan memberikan pencerahan di ruang-ruang digital," ujarnya.

Acara dihadiri jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi dari unsur Syuriah, Tanfidziyah, dan Sekretariat. Rombongan PCNU dipimpin Katib Syuriah KH Abdul Qosim bersama Sekretaris PCNU Banyuwangi H. Moh. Bisri Musthofa.

Dalam arahannya, H. Moh. Bisri Musthofa meminta pengurus yang baru dikukuhkan segera melaksanakan rapat kerja dengan berpedoman pada amanat Musyawarah Kerja Cabang (Musykercab). Ia juga menargetkan agar dalam satu semester LDNU mampu melahirkan 100 da'i muda yang siap berdakwah di tengah masyarakat, baik melalui mimbar keagamaan maupun media digital.

"Sudah saatnya dakwah memanfaatkan teknologi secara optimal. Dakwah hybrid menjadi kebutuhan agar pesan-pesan keislaman dapat menjangkau masyarakat tradisional maupun masyarakat digital," katanya.

Sementara itu, Wakil Rais Syuriah PCNU Banyuwangi KH Mukhlis Ali, yang mewakili Rais Syuriah, menyampaikan pesan kepemimpinan dengan mengutip hadis Nabi SAW:

 Ø³َÙŠِّدُ الْÙ‚َÙˆْÙ…ِ Ø®َادِÙ…ُÙ‡ُÙ…ْ

"Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaumnya."

Menurutnya, LDNU harus menjadi lembaga yang melayani umat melalui dakwah yang menghadirkan solusi sekaligus menyosialisasikan berbagai program strategis PCNU Banyuwangi, mulai dari penguatan ekonomi umat, LAZISNU, kaderisasi, pendidikan, hingga pelayanan sosial.

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat. Susunan pengurus dibacakan oleh Wakil Ketua PCNU Banyuwangi H. Guntur Al Badri, kemudian dilanjutkan dengan pembaiatan oleh Gus Riza Azizy.

Turut hadir Camat Blimbingsari, jajaran badan otonom NU, di antaranya GP Ansor, Muslimat NU, dan Fatayat NU Kecamatan Blimbingsari, serta Pengasuh Pondok Pesantren Darussholah Gumirih KH Nur Fauzi bersama para kiai dan tokoh masyarakat.

Pengukuhan ini diharapkan menjadi pijakan bagi LDNU PCNU Banyuwangi untuk memperkuat peran dakwah yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus menyiapkan kader-kader da'i muda yang siap mengabdi kepada umat di berbagai ruang kehidupan, termasuk ruang digital.(KAF)

Balap Unik Angkut Gabah Meriahkan Hari Bhayangkara ke-80 di Banyuwangi

BANYUWANGI – Perayaan Hari Bhayangkara ke-80 di Banyuwangi dikemas dengan cara yang berbeda. Polresta Banyuwangi menghadirkan Championship Motocross Manol Gabah Kapolresta Cup II 2026, sebuah ajang balap motor yang memadukan olahraga ekstrem dengan kearifan lokal masyarakat pedesaan.


Kejuaraan yang berlangsung pada 27–28 Juni 2026 di Sirkuit Lebak Djinontro Rejeng, Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon, menghadirkan tantangan yang tidak biasa. Para pembalap tidak hanya dituntut menaklukkan lintasan tanah, tetapi juga harus membawa karung gabah di atas sepeda motor hingga mencapai garis finis.

Konsep tersebut terinspirasi dari aktivitas para petani Banyuwangi yang sehari-hari mengangkut hasil panen menggunakan sepeda motor. Tantangan menjaga keseimbangan antara kecepatan, pengendalian kendaraan, dan memastikan karung gabah tetap berada di atas motor menjadi daya tarik utama kejuaraan ini.

Kasat Binmas Polresta Banyuwangi, Kompol Basori Alwi, mewakili Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol. Rofiq Ripto Himawan, mengatakan kejuaraan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 sekaligus upaya mendekatkan institusi Polri dengan masyarakat.

Menurutnya, olahraga otomotif dapat menjadi media yang efektif untuk membangun kebersamaan sekaligus mengangkat potensi budaya lokal agar lebih dikenal masyarakat luas.

"Manol Gabah bukan sekadar perlombaan motocross. Kegiatan ini mengangkat kehidupan masyarakat tani Banyuwangi dan dikemas menjadi tontonan yang menarik sekaligus menghibur," ujarnya.

Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, ajang tersebut juga diharapkan menjadi wadah pembinaan atlet otomotif daerah. Melalui kompetisi ini, para crosser muda memiliki kesempatan mengasah kemampuan sekaligus menunjukkan prestasi untuk bersaing pada level yang lebih tinggi.

Basori menambahkan, Polri ingin terus menghadirkan kegiatan positif yang mampu melibatkan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, ruang-ruang kreatif seperti kejuaraan motocross dapat menjadi sarana mempererat hubungan antara aparat kepolisian dengan komunitas, sekaligus mendukung terciptanya situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif.

Kejuaraan Motocross Manol Gabah Kapolresta Cup II pun menjadi salah satu agenda yang menyita perhatian masyarakat Banyuwangi. Selain menyuguhkan aksi para pembalap di lintasan, konsep balapan yang mengangkat identitas daerah menjadi nilai tambah yang membedakannya dari kejuaraan motocross pada umumnya.

Dengan memadukan olahraga, budaya, dan semangat kebersamaan, Polresta Banyuwangi berharap peringatan Hari Bhayangkara ke-80 tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, mendukung pembinaan olahraga otomotif, serta memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada publik yang lebih luas. (*)
 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger