Pages

Tampilkan postingan dengan label Warta Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta Berita. Tampilkan semua postingan

Layanan Kesehatan Tetap Jalan Selama Libur Lebaran, Banyuwangi Siapkan Puskesmas dan Posko di Jalur Mudik

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Pemkab Banyuwangi menyediakan 10 pos kesehatan yang tersebar di seluruh wilayah Banyuwangi, meliputi dua terminal bus, bandara, satu stasiun (Ketapang) dan pelabuhan, masjid hingga di wilayah perbatasan selama arus mudik Lebaran 2026.

Pos kesehatan yang diperuntukkan bagi masyarakat atau pemudik, pengemudi dan lainnya yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan itu dibuka pada 13-25 Maret 2026.


“Pada mudik lebaran tahun 2026 ini, disediakan pos kesehatan pada 10 titik, ditempatkan di kawasan yang banyak diakses warga. Kami juga sediakan di wilayah perbatasan seperti di Kalibaru, wongsorejo, hingga Paltuding Ijen,” kata Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono , Senin (16/3/2026).

Mujiono menyebutkan 10 lokasi itu, yakni Terminal Rogojampi, Terminal Gambiran, Pelabuhan Ketapang, Stasiun Ketapang, Bandara Banyuwangi, hingga di pusat Kecamatan Genteng.  

“Selain itu di Masjid Baiturrohman Kalibaru, RTH Kalibaru, Taman Sritanjung posko gabungan bersama Polresta, juga Paltuding Ijen juga kami tempatkan pos kesehatan,” jelasnya. 

Kepala Dinas Kesehatan Amir Hidayat menambahkan layanan kesehatan yang disediakan meliputi pemeriksaan kesehatan, konsultasi medis, pertolongan pertama kegawatdaruratan, stabilisasi pasien sebelum rujukan, serta rujukan ke fasilitas kesehatan terdekat. 

“Tenaga kesehatan yang bertugas berasal dari rumah sakit, puskesmas, klinik di Banyuwangi,” terang Amir.

Selain  layanan kesehatan di Pos Pelayanan Terpadu, Banyuwangi juga menyiagakan  13 UGD rumah sakit dan 18 puskesmas rawat inap yang tetap siaga selama 24 jam. “Sehingga penanganan kegawatdaruratan dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi,” ujarnya.

Untuk memastikan masyarakat tetap memiliki akses pelayanan kesehatan selama periode libur, Dinas Kesehatan juga membuka 13 Puskesmas Rawat Jalan Siaga pada hari libur dengan jam pelayanan pukul 08.00–14.00 WIB.

“Melalui langkah ini, Pemkab Banyuwangi berkomitmen untuk memastikan bahwa selama periode arus mudik dan libur Lebaran, masyarakat tetap memperoleh akses pelayanan kesehatan yang cepat, aman, dan responsif, serta mampu mengantisipasi berbagai potensi kejadian kegawatdaruratan di jalur perjalanan maupun di lingkungan masyarakat,” ungkap Amir. (*)

Jelang Lebaran, 211 Ribu Warga Banyuwangi Terima Bansos Pangan

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Sebanyak 211.782 warga Banyuwangi yang terdaftar sebagai keluarga penerima manfaat (KPM) telah menerima bantuan sosial (bansos) pangan berupa beras dan minyak goreng dari Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Penyaluran bulan Maret ini merupakan tahap pertama di tahun 2026. Masing-masing keluarga penerima bantuan pangan (PBP) akan mendapatkan bantuan berupa 10 kilogram (kg) beras dan 2 liter minyak goreng untuk per bulan alokasi.


Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono sempat meninjau secara langsung proses pendistribusian bansos pangan di Kelurahan Penganjuran, Kecamatan Banyuwangi pada SSenin (16/3/2026). Ia berharap bansos yang diberikan oleh pemerintah pusat tersebut dapat dirasakan manfaatnya oleh warga miskin.

“Bantuan ini harapannya tidak hanya memenuhi kebutuhan dapur keluarga, tetapi juga meminimalkan dampak fluktuasi harga di pasaran. Ini sangat berarti bagi masyarakat, terutama keluarga prasejahtera,” kata Mujiono. 

Plt. Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan KB (Dinsos PPKB), Puguh Setyo W, menjelaskan penyaluran kali ini adalah rapelan untuk dua bulan, yakni Februari dan Maret.

“Karena ini rapelan dua bulan, maka masing-masing PBP akan menerima total 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng,” kata Puguh, Selasa (17/3/2026).

Di Banyuwangi, bansos pangan didistribusikan melalui Bulog Kantor Cabang Banyuwangi kepada keluarga penerima manfaat yang terdaftar dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) Kemensos.

Dikatakan Kepala Bulog Cabang Banyuwangi, Dwiana Puspitasari, proses distribusi bantuan pangan sudah dimulai sejak 16 Maret dan diperkirakan rampung pada 30 April mendatang.

“Bantuan sudah kami salurkan sejak 16 Maret di beberapa kelurahan di Kecamatan Banyuwangi. Selanjutnya menyusul ke desa/kelurahan di kecamatan yang lain. Kami target 30 April bisa tuntas semua,” ujarnya.

Penyaluran bansos dilakukan berbasis desa/kelurahan. Calon penerima bantuan cukup hadir ke balai desa/kelurahan setempat sesuai jadwal yang telah ditentukan dengan membawa persyaratan yang telah ditentukan, berupa KTP, Kartu Keluarga (KK) dan undangan.


“Kalau lansia atau sakit dan tidak bisa hadir, bisa diwakilkan oleh anggota keluarga lain dengan tetap menunjukkan dokumen lengkap seperti KTP dan KK,” kata Dwiana. (*)

Kapolresta Banyuwangi Tinjau Arus Lalu Lintas di ASDP Ketapang, Pastikan Jalur Jawa-Bali Tetap Lancar

BANYUWANGI (Lentera Sastra)  Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Dr. Rofiq Ripto Himawan, S.I.K., S.H., M.H., melaksanakan pengecekan langsung ke Pos Pengamanan (Pos Pam) ASDP Ketapang pada Selasa (17/03/2026). Langkah ini dilakukan untuk memantau efektivitas pengamanan dan kelancaran arus lalu lintas kendaraan yang keluar masuk melalui pelabuhan penyeberangan tersebut.

Dalam kunjungannya, Kombes Pol Dr. Rofiq memeriksa kesiapsiagaan personel serta koordinasi antarinstansi di pelabuhan. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, volume kendaraan yang menuju maupun keluar dari Pulau Bali menunjukkan intensitas yang tinggi, namun tetap dalam kondisi padat lancar.


"Kami memastikan bahwa seluruh personel di Pos Pam Ketapang sigap dalam mengatur ritme kendaraan. Meski ada peningkatan volume, aliran kendaraan dari gerbang masuk hingga area parkir siap muat di dermaga terpantau bergerak konsisten tanpa hambatan berarti," ujar Kombes Pol Dr. Rofiq di lokasi.

Di sela-sela pengecekan, Kapolresta Banyuwangi memberikan pesan khusus bagi para pengguna jalan dan jasa penyeberangan "Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat yang akan menyeberang agar tetap waspada dan mengedepankan etika berkendara. Mengingat kondisi lalu lintas yang padat lancar, kami harap pengendara tetap sabar dalam antrean dan mengikuti instruksi petugas di lapangan. Pastikan dokumen perjalanan dan tiket ferry sudah siap sebelum memasuki pelabuhan demi kenyamanan bersama."(*)

Banyuwangi Siapkan 48 Masjid Ramah Pemudik

Banyuwangi (Lentera Sastra) Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama Kantor Kementerian Agama (Kemenag) dan  didukung Baznas Banyuwangi menyiapkan 48 masjid di berbagai titik lokasi di ruas jalan nasional dan provinsi maupun destinasi wisata jalur pemudik untuk memudahkan para pemudik selama arus mudik dan balik Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah.

"Dengan adanya masjid ramah pemudik, kami berharap para pemudik dapat merasa nyaman dan aman selama perjalanan," kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat Lounching Masjid Ramah Pemudik di Masjid Al Huda,Kelurahan Bulusan yang berbatasan dengan Desa Ketapang- Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Selasa (17/03/2026)

Masjid-masjid yang terlibat dalam program ini akan membuka akses selama 24 jam dan menyediakan berbagai fasilitas bagi pemudik, seperti area istirahat, tempat ibadah, fasilitas toilet yang bersih,, serta pengamanan di lingkungan masjid dan area parkir. Selain itu, tersedia pula ruang layanan kesehatan didukung puskesmas dan plus ada fasilitas pijat gratis di spot tertentu, serta penyediaan air minum hingga  kopi maupun teh dan makanan ringan gratis hingga menu berbuka. 

"Masjid memang pusat peradaban sebagaimana yang sudah dicontohkan Rasulullah SAW, masjid tidak hanya digunakan untuk ibadah rutin, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas seperti untuk mengkaji dan diskusi ragam topik kehidupan," ujar Bupati Ipuk Fiestiandani yang didampingi Ketua Baznas Drs. Dwi Yanto, M. Pd. 

Kepala Kemenag Banyuwangi Dr. H  Chaeroni Hidayat, MM mengatakan bahwa Banyuwangi menjadi salah satu kabupaten yang terbanyak di Jawa Timur dalam menyiapkan masjid ramah pemudik. "Kami berterima kasih atas kolaborasi yang baik antara pemkab, Baznas, dan semua yang terlibat jadi ladang amal sholeh kita semua," kata Chaeroni yang alumni Ponpes Nurul Jadid Paiton yang tandai inovasi ini dengan santunan yatim dan sembako ke nenek dhuafa serta simbolis berikan bantuan peralatan ke Masjid yang ikut program dan Yayasan Aura Lentera yang koordinir pemijat tunanetra dan difabel lainnya.

Dinkes Banyuwangi Gelar Bimtek Penanganan Gawat Darurat bagi Takmir Masjid Ramah Pemudik

BANYUWANGI –(Warta Blambangan) Menjelang arus mudik Idulfitri 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penanganan Penderita Gawat Darurat (PPGD) Awam bagi pengurus Masjid Ramah Pemudik. Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual pada Selasa (17/3/2026) ini diikuti oleh 48 takmir masjid yang telah ditetapkan sebagai Masjid Ramah Pemudik oleh Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, serta aparatur sipil negara pada Seksi Bimbingan Masyarakat Islam.

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Amir Hidayat, menyampaikan bahwa pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas takmir masjid dalam memberikan pertolongan pertama pada kondisi kegawatdaruratan yang mungkin dialami pemudik.

“Melalui kegiatan ini kami ingin memperkuat kolaborasi antara pengurus masjid dan tenaga kesehatan, sehingga takmir masjid memiliki pengetahuan dasar dalam memberikan pertolongan awal sebelum petugas medis tiba di lokasi,” ujar Amir.

Pelatihan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman dan keterampilan praktis dalam penanganan kondisi darurat di lingkungan masjid yang menjadi titik singgah pemudik. Materi yang diberikan meliputi prinsip dasar PPGD, antara lain memastikan keamanan lokasi, memeriksa kesadaran dan pernapasan korban, serta segera menghubungi layanan bantuan medis.

Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman terkait akses layanan kegawatdaruratan melalui Public Safety Center 119 yang terhubung langsung dengan ambulans dan fasilitas pelayanan kesehatan.

Takmir masjid juga dibekali keterampilan pertolongan dasar, seperti bantuan hidup dasar melalui kompresi dada (CPR) pada kasus henti jantung, penanganan korban tersedak, penanganan perdarahan, serta pertolongan pada korban pingsan.

Sebagai bagian dari kesiapsiagaan layanan kesehatan, setiap Masjid Ramah Pemudik juga diwajibkan menyediakan kotak pertolongan pertama (P3K) dengan perlengkapan yang memadai. Perlengkapan tersebut meliputi obat luar seperti minyak kayu putih, minyak tawon, dan balsam; perlengkapan perawatan luka seperti kasa steril, antiseptik, cairan pembersih luka, plester, dan perban; serta obat-obatan dasar seperti obat lambung dan parasetamol.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama Kementerian Agama berharap masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah dan istirahat bagi pemudik, tetapi juga dapat berfungsi sebagai titik layanan pertolongan pertama yang mendukung keselamatan masyarakat selama periode arus mudik Lebaran.

48 Masjid di Banyuwangi Siap Layani Pemudik dalam Program Masjid Ramah Pemudik 2026

Banyuwangi (Warta Blambangan)  Menjelang arus mudik Idulfitri 1447 Hijriah, sebanyak 48 masjid di Kabupaten Banyuwangi dipersiapkan menjadi Masjid Ramah Pemudik (MRP) 2026. Masjid-masjid tersebut disiapkan sebagai tempat singgah bagi para pemudik untuk beristirahat, beribadah, dan mendapatkan berbagai layanan dasar selama perjalanan menuju kampung halaman.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat,  Jumat 06/03/2026) menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk pelayanan keagamaan sekaligus pelayanan sosial bagi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik.

“Sebanyak 48 masjid di Banyuwangi siap menjadi Masjid Ramah Pemudik. Masjid-masjid ini berada di jalur strategis yang banyak dilalui pemudik, mulai dari Wongsorejo hingga Kalibaru, serta dari kawasan Licin hingga Pesanggaran,” ujar Chaironi.

Menurutnya, keberadaan Masjid Ramah Pemudik menjadi upaya untuk menghidupkan fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pelayanan bagi masyarakat, khususnya para musafir yang membutuhkan tempat beristirahat.

Berdasarkan data Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, 48 masjid yang masuk dalam program Masjid Ramah Pemudik 2026 antara lain:



Dalam program ini, masjid-masjid yang menjadi titik Masjid Ramah Pemudik menyediakan sejumlah layanan bagi para musafir, di antaranya:

  • Membuka akses masjid selama 24 jam

  • Menjaga keamanan masjid dan area parkir

  • Menyediakan toilet bersih dan air wudu

  • Menyediakan fasilitas pengisian daya (charging station) untuk gawai

  • Menyediakan tempat salat yang nyaman

  • Menyediakan area istirahat bagi pemudik

  • Menyediakan pusat informasi perjalanan

  • Menyediakan air minum atau makanan ringan

Selain itu, beberapa masjid juga memiliki kapasitas parkir kendaraan dan daya tampung jamaah yang cukup besar, sehingga memungkinkan pemudik beristirahat dengan aman dan nyaman sebelum melanjutkan perjalanan.

Chaironi berharap program ini dapat menjadi bagian dari pelayanan umat sekaligus menghadirkan wajah masjid yang terbuka dan ramah bagi siapa saja.

“Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga rumah bagi para musafir. Melalui Masjid Ramah Pemudik, kita ingin menghadirkan masjid yang melayani, memberi kenyamanan, dan membawa keberkahan bagi para pemudik,” pungkasnya.

Program Masjid Ramah Pemudik 2026 ini diharapkan dapat membantu menciptakan perjalanan mudik yang lebih aman, nyaman, dan penuh nilai kebersamaan selama momentum Idulfitri 1447 Hijriah.

Mahasiswa UIN KHAS Jember Akhiri PKL di Kemenag Banyuwangi, Ditekankan Dakwah Berbasis Kearifan Lokal

Banyuwangi (Warta Blambangan)Aula bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Jumat (13/02/2026), menjadi ruang perpisahan yang hangat bagi mahasiswa Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember yang telah menuntaskan Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama satu bulan penuh di berbagai Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kabupaten Banyuwangi.

Penarikan mahasiswa dilakukan secara resmi oleh pihak kampus dan diterima langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pengalaman di lapangan merupakan ruang pembelajaran yang tidak selalu identik dengan teori di bangku kuliah. 

“Apa yang didapat di kampus belum tentu sama dengan yang ditemui ketika praktik kerja lapangan. Di sinilah mahasiswa belajar memahami realitas sosial secara langsung,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya penguasaan metode dakwah yang adaptif dan kontekstual. Menurutnya, Banyuwangi adalah miniatur keberagaman—dengan beragam etnis, agama, dan budaya yang hidup berdampingan. Karena itu, dakwah tidak cukup hanya berbekal teks, tetapi juga harus menyentuh kearifan lokal.

“Mahasiswa dakwah harus mampu membaca situasi masyarakat. Pendekatan yang digunakan harus selaras dengan budaya setempat, agar pesan keagamaan diterima dengan bijak dan meneduhkan,” imbuhnya.


Sementara itu, Dekan Fakultas Dakwah yang diwakili Ketua Panitia PKL, Imam Turmudzi, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kerja sama yang terjalin antara pihak kampus dan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

Ia menyebut Banyuwangi sebagai kabupaten yang berkembang pesat, khususnya di sektor pariwisata dan pembangunan sosial keagamaan, sehingga menjadi laboratorium sosial yang sangat representatif bagi mahasiswa Fakultas Dakwah.

“Banyuwangi adalah daerah yang dinamis. Perkembangan wisatanya, kemajemukan masyarakatnya, dan kehidupan keagamaannya menjadi ruang belajar yang sangat kaya bagi mahasiswa kami,” tuturnya.

Selama satu bulan pelaksanaan PKL, mahasiswa ditempatkan di seluruh KUA kecamatan se-Kabupaten Banyuwangi. Mereka terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan keagamaan, pendampingan masyarakat, administrasi pernikahan, hingga edukasi penyuluhan keagamaan.

Tak hanya itu, terdapat pula dua kelompok PKL berbasis riset yang ditempatkan di Desa Kemiren dan Kelurahan Gombengsari. Di dua lokasi tersebut, mahasiswa melakukan pendalaman kajian sosial-keagamaan berbasis budaya lokal serta dinamika masyarakat setempat, sekaligus memberikan kontribusi nyata melalui program-program pemberdayaan.

Kegiatan PKL ini diharapkan tidak hanya menjadi kewajiban akademik semata, tetapi juga membentuk kepekaan sosial, kemampuan komunikasi, serta integritas mahasiswa sebagai calon dai dan agen perubahan di tengah masyarakat.

Dengan berakhirnya kegiatan PKL ini, para mahasiswa kembali ke kampus membawa pengalaman, pelajaran, dan perspektif baru—bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan, melainkan memahami dan merangkul keberagaman dalam harmoni kehidupan.

Putri Indonesia Hadir, Banyuwangi Menyulam Mimpi dalam Ethno Carnival

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Angin musim kemarau membawa kabar dari timur. Sebuah perhelatan budaya akan digelar kembali di bumi yang diberkahi matahari pagi pertama: Banyuwangi. Sabtu, 12 Juli 2025, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) kembali melangkah di jalan raya kota, menyulam mitos dan warisan menjadi busana, gerak, dan rupa yang memukau. Tahun ini, BEC bukan sekadar arak-arakan kostum megah—ia adalah nyanyian tentang akar dan angin, tentang tubuh yang dilahirkan oleh tradisi.

Dalam helatan yang masuk kalender Karisma Event Nusantara (KEN) ini, satu nama yang kini memancarkan cahaya dari pentas dunia akan turut hadir: Firsta Yufi Amarta Putri. Putri Indonesia 2025 yang juga menyandang gelar Miss Supranational Asia dan Oceania 2025, akan berjalan di antara gemuruh tepuk tangan, menyapa tanah kelahirannya—sebuah panggung tempat jati diri ditenun kembali.v


Firsta bukan hanya membawa mahkota; ia membawa cerita. Cerita tentang anak muda Indonesia yang lahir dari pergelangan kampung, namun menatap cakrawala dunia. Dan kini, ia pulang. Bukan untuk sekadar menampakkan wajah, tetapi untuk menyambung nyawa perayaan yang telah melampaui batas seni dan pariwisata—sebuah perayaan jiwa.

“Yang membedakan BEC dari karnaval lain,” ujar Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, dalam sapanya, “adalah keberanian dan kekayaan narasi. Setiap tema bukan sekadar estetika, melainkan refleksi dari nadi masyarakat Banyuwangi sendiri.”

Tahun ini, BEC mengangkat tema “Ngelukat”—sebuah filosofi lokal yang menggambarkan pembersihan diri, siklus hidup, dan keutuhan spiritual manusia. Dari kandungan ke pelaminan, dari tangisan pertama hingga janji di pelaminan, setiap kostum yang melenggang di aspal kota adalah tafsir dari perjalanan manusia yang disandingkan dengan ritual adat yang masih hidup.

BEC bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah kitab terbuka, yang setiap lembarnya ditulis oleh petani, perajin, ibu, dalang, pemuda, dan seluruh masyarakat Banyuwangi yang mencintai akar budaya mereka sendiri. BEC adalah orkestra tubuh, di mana para peraga bukan hanya model, tapi utusan zaman yang menyuarakan bahwa modernitas tak mesti menanggalkan tradisi.

Tak hanya karnaval yang akan menghiasi akhir pekan. Banyuwangi juga menghadirkan Sekarkijang Creative Fest 2025, sejak Kamis hingga Sabtu (10-13 Juli 2025), di Taman Blambangan—jantung kota yang kini menjadi altar inovasi. Dalam helatan ini, puluhan UMKM menyajikan hasil kreativitas mereka: dari batik yang dicelup oleh tangan ibu-ibu pengrajin, kopi yang disangrai dengan doa dan dedikasi, hingga kerajinan kulit yang bercerita tentang ketekunan dan waktu.

Bank Indonesia Perwakilan Jember turut mendukung gerakan ini. Bukan hanya pameran, Sekarkijang Creative Fest juga diramaikan seminar nasional bertajuk “UMKM Go Export”, talk show, bazar kuliner, hingga senam aerobik bersama yang menyatukan raga dan semangat.

Dalam empat hari itu, Banyuwangi tak sekadar menjadi panggung. Ia menjadi taman bagi ide, rumah bagi warisan, dan jendela bagi dunia untuk menyaksikan Indonesia dari sisi yang paling otentik—dari akar, dari rakyatnya sendiri.

Firsta, BEC, dan Sekarkijang hanyalah bagian dari narasi besar Banyuwangi: bahwa modern bukan berarti melupakan. Bahwa kemajuan bukan berarti menghapus jejak. Bahwa menjadi Indonesia, adalah menyambung yang purba dengan yang kini. Dan dari ujung timur Jawa, sebuah suara kembali menggema: “Kami ada. Kami hidup. Kami berkarya.”

Banyuwangi bukan hanya destinasi. Ia adalah narasi. Ia adalah puisi yang dibaca di tengah riuh, tapi menggema sampai ke senyap hati para penontonnya.

Penguatan Majelis Taklim Banyuwangi: Dorong Peran Strategis dalam Masyarakat

Banyuwangi (Warta Blambangan) Dalam upaya memperkuat peran majelis taklim sebagai pranata sosial keagamaan yang strategis, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar kegiatan Penguatan Majelis Taklim Kabupaten Banyuwangi, yang dilangsungkan di aula MAN 1 Banyuwangi, Selasa (20/5/2025).

Kegiatan ini dihadiri oleh para pengurus Kelompok Kerja Majelis Taklim (KKMT) Kabupaten Banyuwangi serta perwakilan majelis taklim dari berbagai kecamatan yang telah terdaftar secara resmi. Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, H. Mastur, S.Ag., M.Pd.I., menegaskan bahwa majelis taklim memiliki posisi penting dalam membentuk karakter masyarakat yang religius dan harmonis.

“Majelis taklim adalah salah satu pranata sosial keagamaan yang diorganisir melalui Peraturan Menteri Agama. Kegiatan hari ini bertujuan untuk memperkuat peran tersebut agar kebermanfaatannya semakin terasa di tengah masyarakat,” ujarnya. 


Ia juga mengimbau agar seluruh majelis taklim yang belum terdaftar segera melakukan pendaftaran melalui Kantor Urusan Agama (KUA) di kecamatan masing-masing. “Di setiap KUA sudah ada penyuluh agama Islam yang siap memandu proses pendaftaran dan pembinaan,” tambah Mastur.

Diskusi dan penguatan dalam kegiatan ini dimoderatori oleh Syafaat, S.H., M.H.I. dari Seksi Bimas Islam. Adapun narasumber pertama adalah Dr. H. Lukman Hakim, S.Ag., M.H.I., Rektor Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi (UNIIB) Genteng. Dalam pemaparannya, ia menyoroti pentingnya pengelolaan majelis taklim yang baik dan terstruktur.

“Program-program yang terstruktur akan lebih efektif dalam menjangkau lebih banyak orang, terutama generasi muda, dalam memperkuat iman, akhlak, dan kepedulian sosial,” ungkap Dr. Lukman. Ia menekankan bahwa efisiensi sumber daya, sinergi antar komunitas, dan pengelolaan kelembagaan yang profesional akan membawa dampak positif yang signifikan.

Namun, ia juga mencatat tantangan yang dihadapi majelis taklim saat ini, seperti kurangnya minat generasi muda terhadap kegiatan keagamaan dan keterbatasan sumber daya di beberapa majelis.

Narasumber kedua, Agus Baehaqi, S.Ag., M.I.Kom., Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Universitas Islam Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Blokagung, menyoroti dinamika dakwah di era digital. 


“Perkembangan teknologi dan media sosial menjadi tantangan sekaligus peluang. Majelis taklim perlu beradaptasi dengan cara dakwah yang lebih kreatif dan relevan agar tetap menarik bagi generasi muda,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh pengurus majelis taklim di Banyuwangi semakin memahami urgensi legalitas, manajemen kelembagaan, serta penguatan konten dakwah yang adaptif terhadap perubahan zaman. Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pun berkomitmen untuk terus mendampingi dan membina majelis taklim sebagai mitra strategis dalam membangun masyarakat yang religius, cerdas, dan damai.

Bimbingan Manasik Haji di Kabat Bahas Serba-Serbi Ibadah dan Teknologi Pendukung

Banyuwangi, (Warta Blambangan) — Bimbingan manasik haji di Aula Pondok Pesantren Darul Latif Ar Rosyid, Kecamatan Kabat, tidak hanya fokus pada penyampaian tata cara ibadah haji dan umroh, tetapi juga membahas berbagai hal penting yang menyertai pelaksanaan ibadah, termasuk ziarah dan pemanfaatan aplikasi digital pendukung ibadah.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kabat menyampaikan bahwa manasik haji harus mencakup pembekalan menyeluruh agar jamaah lebih siap secara fisik, mental, dan spiritual. “Manasik bukan sekadar simulasi ibadah, tetapi juga pemahaman menyeluruh yang menunjang kekhusyukan selama di tanah suci,” ujarnya.

Dua narasumber hadir dalam kegiatan tersebut. Abdul Azis, Kepala KUA Kecamatan Banyuwangi, memandu langsung praktik manasik haji dan umroh di halaman pesantren. Ia merupakan pembimbing ibadah haji yang telah berpengalaman mendampingi jamaah selama beberapa musim haji. 


Sementara itu, Syafaat, ASN dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang juga berpengalaman sebagai ketua kloter, menyampaikan materi tentang serba-serbi ibadah haji. Ia menjelaskan kegiatan ziarah yang bisa dilakukan di sekitar Masjid Nabawi, seperti ke Masjid Quba, Bukit Uhud, dan Raudhah, serta pentingnya melaksanakan sholat sunnah dan berdoa di tempat-tempat tersebut.

Syafaat juga menekankan pentingnya pemanfaatan aplikasi digital seperti aplikasi Haji dan Umroh, aplikasi Haramain, hingga layanan terjemahan khutbah dalam bahasa Indonesia di Masjidil Haram. Selain itu, disampaikan pula informasi mengenai salat jenazah setelah salat fardhu di Haramain dan orientasi lokasi dengan Google Maps untuk mempermudah mobilitas jamaah.

Salah satu peserta, Wahidni, mengaku sangat terbantu dengan informasi terkait penggunaan aplikasi. “Paparan tentang penggunaan aplikasi sangat bermanfaat. Kami jadi tahu bagaimana memaksimalkan fasilitas teknologi untuk menunjang ibadah,” ujarnya.

Bimbingan ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan para calon jamaah haji agar dapat menjalankan ibadah dengan lancar dan penuh makna di tanah suci.

Stadion Sayu Wiwit Banyuwangi

 Stadion Sayu Wiwit Banyuwangi

Oleh; Syafaat 


Waktu saya ditanya soal stadion di Banyuwangi, saya malah bengong. Bukan karena saya tidak tahu ada stadion di Banyuwangi. Tapi karena saya tidak tahu, atau lebih tepatnya, tidak pernah memperhatikan, namanya: Stadion Diponegoro.

Saya kira, itu di Semarang. Atau paling tidak di Jogja. Tapi ternyata: di Banyuwangi.

Teman saya, yang orang Jakarta, tidak percaya. “Serius, stadion Diponegoro itu di Banyuwangi? Bukan di Jawa Tengah?”

Saya hanya bisa mengangguk pelan. Tapi dalam hati bertanya-tanya: kenapa ya?

Banyuwangi ini tempat yang kaya tokoh sejarah. Bahkan kisah heroiknya seringkali lebih berdarah daripada perang Diponegoro itu sendiri. Ada Sayu Wiwit. Ada Rempeg Jogopati. Ada Minak Jinggo. Bahkan kalau mau lebih dramatis, ada Pangeran Tawang Alun yang konon bisa berubah jadi harimau. 


Tapi nama stadion kita? Diponegoro. Bukan Jogopati, bukan Jinggo, bukan Sayu Wiwit.

Saya tidak sedang ingin menggugat Pangeran Diponegoro. Beliau tokoh besar. Pahlawan nasional. Disegani Belanda. Dijadikan jalan utama hampir di semua kota di Indonesia.

Tapi justru karena beliau begitu besar dan begitu umum, maka tidak terasa lokal.

Kalau Banyuwangi ingin dikenang sebagai Banyuwangi, kenapa justru memilih nama yang membuat kita dianggap bagian dari Jawa Tengah?


Kita ini kadang lebih takut pada format, daripada kehilangan identitas.

Saya juga tidak tahu sejak kapan stadion itu bernama Diponegoro. Tidak ada prasasti. Tidak ada catatan sejarah. Seperti kebanyakan nama-nama fasilitas publik di negeri ini: datang begitu saja, tanpa diskusi, tanpa penjelasan, tanpa filosofi.

Mungkin karena waktu itu sedang tren nasionalisme. Semua ingin bernuansa perjuangan. Jadilah Diponegoro.

Tapi zaman sekarang, orang mulai kembali mencari jati diri lokal. Ingin tahu siapa leluhurnya. Ingin bangga dengan kisah di tanah sendiri. Maka aneh rasanya kalau fasilitas sebesar stadion, tempat ribuan orang bersorak, justru memakai nama dari luar.

Saya tidak bilang kita harus ganti nama stadion itu sekarang juga. Tapi bolehlah kita mulai bertanya. Mulai berdiskusi. Bukan karena kita anti nasionalisme, tapi karena kita juga cinta pada sejarah kita sendiri.

Toh, Minak Jinggo juga punya kisah perang yang tak kalah seru. Sayu Wiwit juga simbol keberanian perempuan. Rempeg Jogopati juga gugur dalam perang. Apa kurang heroik?

Di tengah upaya pemerintah daerah menggaungkan pariwisata berbasis budaya, nama stadion seharusnya menjadi bagian dari narasi besar itu. Bukan malah jadi titik disonansi.

Coba bayangkan turis datang ke Banyuwangi. Mereka kagum dengan Gandrung. Terkesima oleh ritual Seblang. Terpana dengan pawai Etnik Nusantara. Tapi lalu melihat stadion: Diponegoro.

"Lho, ini masih di Jogja atau sudah nyasar ke Jawa Timur?"

Itu bukan soal kecil. Itu soal narasi. Soal bagaimana kita menyusun cerita tentang diri kita sendiri.

Setiap nama adalah narasi. Dan narasi adalah kekuatan.

Saya ingat waktu ke Korea Selatan. Mereka bisa membuat desa kecil menjadi destinasi wisata hanya karena satu legenda lokal. Nama-nama tempat dijaga, dilestarikan, dibungkus ulang jadi bagian dari cerita yang dijual ke dunia.

Kita? Nama stadion saja bisa salah alamat.

Saya pernah mengusulkan agar nama stadion diubah. Bukan dengan cara gegabah. Tapi lewat sayembara. Libatkan masyarakat. Tanyakan kepada budayawan, sejarawan, dan pelajar. Biarkan mereka berdiskusi: nama siapa yang paling layak menjadi simbol semangat sportivitas Banyuwangi?

Kalau hasilnya tetap Diponegoro, saya akan terima dengan lapang dada. Tapi kalau ternyata masyarakat ingin nama lokal, ya mari kita pikirkan bersama.

Itu bukan soal fanatisme daerah. Itu soal menghargai sejarah sendiri. Soal membangun kepercayaan diri budaya.

Bayangkan stadion bernama Stadion Sayu Wiwit. Akan ada patungnya di pintu masuk. Akan ada mural perjuangannya di tembok luar. Lalu setiap pertandingan, announcer akan mengucap: "Selamat datang di Stadion Sayu Wiwit, tanah keberanian dan pengorbanan."

Itu bukan sekadar sepak bola. Itu adalah edukasi. Setiap anak yang datang, setiap penonton yang lewat, akan bertanya: siapa dia? Apa jasanya? Lalu mulailah lahir rasa memiliki.

Itulah yang membedakan fasilitas publik yang berkarakter, dan yang sekadar tembok beton berumput hijau.

Saya tahu, ada juga yang akan mencibir. "Ah, itu cuma nama. Yang penting kualitas lapangan dan prestasi klubnya."

Saya tidak menolak kualitas. Tapi siapa bilang identitas tidak penting?

Orang boleh main bagus di stadion mana saja. Tapi ketika mereka bermain di stadion yang membawa nama pahlawan lokal, ada semangat berbeda yang ikut turun ke lapangan.

Coba lihat stadion di Eropa. Hampir semua punya cerita. Old Trafford. Camp Nou. Anfield. Semuanya bukan sekadar nama. Ada kisah, ada makna, ada semangat.

Saya tulis ini bukan untuk marah-marah. Bukan pula untuk menyalahkan siapa-siapa. Saya hanya sedang rindu pada sebuah tempat yang bernama sesuai dengan jiwanya.

Stadion itu tempat semua orang berkumpul. Tempat air mata tumpah. Tempat sejarah kecil diciptakan. Maka layaklah ia punya nama yang merepresentasikan tanah tempat ia berdiri.

Kalau tidak, kita akan terus seperti ini: asing di negeri sendiri.

Saya tidak sedang membayangkan perubahan besar. Saya hanya sedang membayangkan sebuah papan nama baru. Dengan ukiran kayu jati. Di bawahnya tertulis:

**"Stadion Rempeg Jogopati. Tempat semangat perjuangan terus menyala."

Atau...**

**"Stadion Sayu Wiwit. Di sini keberanian perempuan dikenang selamanya."

Lalu anak-anak sekolah datang. Membaca. Bertanya. Bangga.

Dan kita, tidak lagi harus menjelaskan kepada teman: "Iya, stadion Diponegoro itu... di Banyuwangi."

Itulah mimpi kecil saya. Dari pinggir lapangan. Di antara deru sorak dan bau rumput basah. Karena stadion bukan hanya untuk menendang bola. Tapi juga untuk menanam sejarah.

Meniti Jalan Menuju Masa Depan: Bimbingan Remaja di MA Mabadiul Ihsan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Mentari pagi menyambut halaman Madrasah Aliyah (MA) Mabadiul Ihsan Karangdoro dengan semangat baru. Hari itu, Selasa (11/03/2025), sebanyak 70 siswa berkumpul dengan penuh antusiasme, mengikuti kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS). Mereka datang dengan harapan, siap menyerap ilmu dan motivasi dari para narasumber yang telah berpengalaman dalam pembinaan keagamaan dan moral remaja.

H. Gufron Musthofa, Kepala KUA Kecamatan Gambiran, berbicara dengan penuh ketegasan, mengingatkan para siswa bahwa karakter yang kuat adalah kunci untuk menghadapi tantangan hidup. Sementara itu, Sulis Nuhriyati Saudiyah, Penyuluh Agama Islam dari KUA Kecamatan Tegaldlimo, menambahkan bahwa menjalani kehidupan dengan nilai-nilai keislaman bukan hanya tentang ritual ibadah, tetapi juga membentuk akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Dalilatus Saadah, penyuluh lainnya dari KUA Kecamatan Gambiran, mengajak para siswa untuk menjadikan masa remaja sebagai periode emas dalam membangun masa depan. 


Dari bangku peserta, mata-mata muda menyala penuh perhatian. Mereka mendengarkan dengan saksama, seolah mencatat setiap nasihat ke dalam hati mereka. Rohmatullah Dimyati, pengasuh madrasah, membuka sesi dengan sambutan yang menohok. “Remaja harus memiliki tekad kuat untuk meraih cita-cita. Dunia ini penuh dengan godaan, tetapi hanya mereka yang memiliki keteguhan hati yang akan berhasil,” katanya, suaranya bergema di aula madrasah.

Nabil Muhammad, Kepala MA Mabadiul Ihsan, turut memberikan pesan yang dalam. Dengan nada tenang namun penuh makna, ia mengingatkan bahwa perjalanan meraih impian tidaklah mudah. “Perjuangan dan tirakat adalah kunci. Akan ada tantangan—rasa malas, lingkungan yang kurang baik—tetapi dengan tekad yang kuat, kalian bisa melewatinya,” ujarnya.

Seiring berjalannya acara, semangat para siswa semakin menggelora. Kegiatan ini bukan sekadar penyampaian materi, tetapi juga menjadi refleksi bagi mereka tentang arah yang ingin dituju. Dalam hati, mungkin ada yang mulai menetapkan tekad baru, menguatkan langkah untuk tidak mudah menyerah.

Saat acara berakhir, siswa-siswa itu melangkah keluar dengan pikiran yang lebih terbuka. Mereka sadar, perjalanan menuju kesuksesan tidak pernah mudah, tetapi dengan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dan semangat pantang menyerah, jalan itu akan lebih terang. Di bawah langit Tegalsari yang teduh, mereka membawa pulang satu pesan: masa depan adalah milik mereka yang berani berjuang.

Cahaya Ramadan di Balik Jeruji: Warga Binaan Lapas Banyuwangi Rutin Khatam Al-Quran

BANYUWANGI –(Warta Blambangan) Bulan Ramadan membawa berkah dan semangat bagi warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi. Di balik jeruji, mereka mengisi hari-hari dengan kegiatan positif, salah satunya adalah khataman Al-Quran yang dilakukan secara rutin.

Di masjid dan musholla dalam lingkungan Lapas yang berlokasi di Jalan Letkol Istiqlah, para warga binaan yang tergabung dalam Pondok Pesantren At-Taubah dengan penuh kekhusyukan membaca Al-Quran. Uniknya, dalam sehari, mereka mampu menyelesaikan khataman hingga empat kali, baik di siang hari maupun setelah sholat tarawih. 


Kepala Lapas Banyuwangi, Mochamad Mukaffi, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar membaca Al-Quran, tetapi juga menjadi ajang pembelajaran bersama. "Mereka saling mengoreksi bacaan satu sama lain agar semakin fasih dan memahami makna dari ayat-ayat yang dibaca," tuturnya, Selasa (4/3).

Program pembinaan berbasis pondok pesantren ini telah menjadi unggulan di Lapas Banyuwangi. Selain menambah wawasan keagamaan, kegiatan ini juga membentuk karakter dan memberi bekal moral bagi warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti.

“Harapan kami, mereka bisa kembali ke masyarakat dengan semangat baru, membawa nilai-nilai positif yang didapat selama di sini,” tambah Mukaffi.

Khataman Al-Quran di Lapas Banyuwangi bukan sekadar tradisi Ramadan, tetapi juga menjadi simbol perubahan dan harapan. Di tengah keterbatasan, mereka menemukan jalan kembali menuju kehidupan yang lebih baik, dengan bekal spiritual yang lebih kuat. (*)

Judul: Takjil Gratis dari Polresta Banyuwangi Ludes Diserbu Warga dalam Hitungan Menit

Banyuwangi – Ratusan paket takjil yang dibagikan oleh Polresta Banyuwangi dan Bhayangkari ludes dalam waktu singkat, diserbu warga dengan antusias. Kegiatan ini berlangsung di depan Mapolsek Genteng pada Selasa (4/3/2025), sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat di bulan suci Ramadan.

Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., yang didampingi oleh Wakapolresta AKBP Teguh Priyo Wasono, S.I.K., Ketua Bhayangkari Cabang Kota Ny. Nova Rama Samtama Putra, serta sejumlah pejabat utama dan anggota polsek rayon setempat, turun langsung membagikan takjil kepada para pengendara yang melintas. 


"Alhamdulillah, antusiasme warga sangat tinggi. Dalam waktu kurang dari 30 menit, takjil yang kami siapkan sudah habis," ujar Kombes Pol Rama Samtama Putra.

Menurutnya, kegiatan ini merupakan wujud kepedulian Polresta Banyuwangi dalam berbagi kebahagiaan dengan masyarakat, khususnya di bulan Ramadan.

“Kami ingin berbagi kebahagiaan dengan masyarakat di bulan suci ini. Semoga takjil yang dibagikan dapat bermanfaat bagi mereka yang sedang dalam perjalanan dan menantikan waktu berbuka puasa,” tambahnya.

Salah seorang penerima takjil, Agus, mengungkapkan rasa syukurnya atas inisiatif ini. "Alhamdulillah, senang sekali dapat takjil gratis dari Pak Polisi. Ini sangat membantu saya yang sedang dalam perjalanan pulang," ujarnya.

Kegiatan berbagi takjil ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Banyak yang berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan di tahun-tahun mendatang.

Stok Aman hingga Lebaran, Bupati Ipuk Minta Stabilitas Harga Terus Dipantau

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Menjelang Ramadan dan Lebaran, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memastikan stok bahan pokok di wilayahnya aman dan mencukupi. Meski demikian, ia menegaskan pentingnya pemantauan harga agar tetap stabil dan terjangkau bagi masyarakat.

“Alhamdulillah stok bahan pokok kita aman, cukup hingga Lebaran nanti. Namun, kami terus memantau agar stabilitas harga tetap terjaga dan tidak mengalami lonjakan yang merugikan masyarakat,” ujar Ipuk pada Selasa (4/3/2025). 


Pemkab Banyuwangi, bekerja sama dengan Badan Urusan Logistik (Bulog), PT Pos Indonesia, dan instansi terkait lainnya, rutin menggelar operasi pasar. Langkah ini bertujuan untuk menyediakan bahan kebutuhan dengan harga yang relatif terjangkau serta mengendalikan inflasi.

“Selain ketersediaan stok, yang terpenting adalah harga tetap stabil. Karena itu, kami meminta dinas terkait dan tim pengendali inflasi untuk terus memantau perkembangan harga bahan pokok di pasaran,” tambah Ipuk.

Kepala Bulog Cabang Banyuwangi, Dwiana Puspitasari, mengungkapkan bahwa stok beras yang tersedia di gudang Bulog saat ini mencapai 67.356 ton. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan konsumsi masyarakat Banyuwangi yang berkisar 14.399 ton per bulan. Dengan demikian, stok beras dipastikan aman hingga empat bulan ke depan.

“Bahkan, kami siap mendistribusikan beras ke daerah lain yang mengalami defisit. Apalagi, saat ini sudah memasuki musim panen, sehingga stok beras akan terus bertambah dan mencukupi hingga awal tahun depan,” jelas Dwiana.

Selain beras, ketersediaan komoditas pangan lainnya juga mencukupi. Stok gula pasir di gudang Bulog mencapai 30 ton, tepung terigu sebanyak 2 ton, dan minyak goreng sebanyak 60.000 liter. Dwiana memastikan bahwa stok ini bisa ditambah sesuai kebutuhan pasar.

“Kami juga telah melakukan operasi pasar sejak Februari 2025 di beberapa titik, seperti Kantor Pos Banyuwangi dan Genteng. Dalam waktu dekat, operasi pasar akan diperluas ke 14 titik lainnya,” lanjutnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, Ilham Juanda, mengungkapkan bahwa selain beras, stok pangan lainnya juga surplus. Daging ayam ras surplus 239 ton, telur ayam 231 ton, dan daging sapi 12,96 ton.

Berdasarkan data prognosa neraca ketersediaan pangan Maret 2025, cabai rawit mengalami surplus 789,79 ton, cabai besar 767,17 ton, dan bawang merah 291,54 ton. Jagung dan kedelai juga tersedia dalam jumlah yang cukup.

Ketersediaan elpiji pun dalam kondisi aman. Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Banyuwangi, Nanin Oktaviantie, menyatakan bahwa kebutuhan elpiji 3 kg sebanyak 19.340.000 tabung per tahun selalu terpenuhi.

Dengan berbagai langkah ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berkomitmen untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga bahan pokok agar masyarakat dapat menjalani Ramadan dan Lebaran dengan tenang dan nyaman. (*)

Semarak Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan di Al Hilal 2 Banyuwangi


 

Warta Blambangan - Banyuwangi (1/11/2024) – Semarak peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan 2024 dirasakan dalam acara bertajuk “Raih Asa dan Wujudkan Cita” yang dibuka pada Jumat, 1 November 2024, di Masjid Al Hilal 2 Banyuwangi. Setelah salat Jumat, kegiatan yang digagas oleh Perkumpulan Komunitas Gotong Royong ’45 bekerjsama IWAPI Cabang Banyuwangi ini resmi dimulai dan meramaikan suasana di Masjid Al Hilal 2 Banyuwangi.

Acara pembuka diawali dengan lomba Tahfidz dan Qiro’ah antar anak-anak SD, MI, TPA, dan TPQ se-Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 88 peserta dari berbagai kecamatan ikut ambil bagian dalam lomba ini,

Tidak hanya itu, kemeriahan acara semakin terasa dengan digelarnya bazar UMKM, yang diikuti oleh UMKK Sinergi Gotong Royong 45, IWAPI Ranting Banyuwangi, UMKM Difabel Aura Lentera, hingga UMKM Takmir Masjid Al Hilal yang rata-rata menjual aneka macam jajanan, makanan dan minuman.

Setelah salat Maghrib, acara ditutup dengan pengumuman pemenang lomba Tahfidz yang disambut dengan suka cita. Para pemenang adalah:

  • Juara 1: Hanin Alya Az Zahira dari TPA Roudlotul Athfal
  • Juara 2: Audridna Anwa’an Ni’amika dari MI Darul Huda
  • Juara 3: Syakila Azzahra dari TPA Nurul Musthofa

Kemeriahan acara “Raih Asa dan Wujudkan Cita” ini menjadi wujud nyata semangat gotong royong dan kebersamaan bagi mereka yang terlibat di dalamnya. (AW)



Pengamatan Fajar Shodiq di Banyuwangi


Banyuwangi (Warta Blambangan) Rukyatul fajar untuk penentuan waktu subuh dilakukan tim Rukyatul hilal di pantai Desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo oleh Tim Hisan dan Rukyah Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Kamis (05/09/2024).

M. Fauzi dari Kanwil Kemenag Prov Jawa Timur menyampaikan Bahwa Fajar Shodiq di Banyuwangi pada tanggal 05 September 2024 terbit pukul 4:3 menit, dan sebelum pukul 4 sudah kelihatan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr. Chaironi Hidayat menyampaikan bahwa posisi Kabupaten Banyuwangi yang berada di ujung timur Pulau Jawa memungkinkan untuk melakukan Rukyatul fajar.

"ini sangat penting untuk penentuan waktu sholat subuh di Indonesia" kata Chaironi.

Lebih lanjut Chaironi menyampaikan bahwa ada dua tempat yang dengan mudah dipergunakan untuk Rukyatul fajar, selain di pantai, juga di puncak Gunung Menyan Kecamatan Kalibaru.

Julukan The Sun Rise of Java memang pas untuk Kabupaten ujung Timur Pulau Jawa ini, dan keunggulannya adalah dapat dilakukan pengamatan terhadap terbitnya matahari di tengah laut lepas.

Fauzi menyampaikan bahwa dengan pengamatan ini sebagai pembuktian dari penentuan waktu shalat.

Kanwil Kemenag DIY Kunker ke Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur tak hanya terkenal dengan destinasi wisata alamnya yang memukau, tetapi juga dengan kekayaan wisata religi yang tak kalah menarik. Salah satu contohnya adalah Masjid Agung Baiturrahman, masjid bersejarah yang menjadi saksi bisu berdirinya kota Banyuwangi. Pada Rabu (4/9/2024), masjid yang berdiri megah di pusat kota ini menjadi tujuan kunjungan kerja (kunker) dari Kementerian Agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).



Kunjungan ini tidak sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga ziarah ke makam para Bupati (Adipati) Banyuwangi yang terletak di belakang Masjid Agung. Dipandu oleh Syafaat dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, rombongan disuguhi kisah sejarah berdirinya Banyuwangi dan perjalanan para pemimpin yang dimakamkan di sana.

Iwan Azis Siswanto, Sekretaris Masjid Agung Baiturrahman, menjelaskan tentang kemakmuran masjid yang pernah dinobatkan sebagai Masjid Paripurna Terbaik kedua di Indonesia. Selain kegiatan ibadah yang teratur, masjid ini juga dilengkapi dengan berbagai sarana prasarana yang memadai, menjadikannya sebagai pusat keagamaan yang aktif dan hidup.


Salah satu daya tarik utama bagi peserta kunker adalah sebuah Al-Qur’an berukuran besar 150 x 200 cm yang disimpan di lantai dua masjid. Al-Qur’an ini ditulis dengan rapi oleh Ustad Abdul Karim, seorang warga asli Kecamatan Genteng, dan dibaca di bulan Ramadhan. “Al-Qur’an ini adalah salah satu simbol keagungan dan keberagaman budaya yang masih terjaga dengan baik di Banyuwangi,” ujar Iwan Azis.


Kepala Bagian Tata Usaha Kantor Wilayah Kementerian   Agama Provinsi DIY, H. Muntolib, mengungkapkan kekagumannya terhadap manajemen Masjid Agung Baiturrahman yang dianggapnya bisa menjadi contoh bagi pengelolaan masjid-masjid lainnya di Indonesia. “Banyak hal yang dapat kita pelajari dari pengelolaan masjid ini, terutama dalam memakmurkan masjid dan menjaga tradisi keagamaan,” tuturnya.


Di akhir kunjungan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, mengungkapkan rasa2 bangganya terhadap perubahan citra Banyuwangi yang kini jauh dari julukan ‘Kota Santet’. Ia lebih memilih menyebut Banyuwangi sebagai ‘Kota Internet’, mengingat ketersediaan fasilitas wifi gratis di berbagai tempat umum yang menandakan kemajuan teknologi di kabupaten paling timur Pulau Jawa ini.

Kunker Kanwil Kemenag Prov DIY ke KUA Kecamatan Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Bidang Urusan Agama Islam Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengadakan kunjungan kerja ke Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Banyuwangi, Rabu (04/09/2024).

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr. Chaironi Hidayat menyampaikan terimakasih atas kunjungan yang dilakukan Kanwil Kemenag Provinsi DIY beserta Kasi Bimas Islam dan Kepala KUA Kecamatan Revitalisasi se-Provinsi DIY dengan harapan membawa manfaat.

"ada 11 KUA Revitalisasi yang ada di Kabupaten Banyuwangi dan KUA Kecamatan Banyuwangi merupakan KUA Revitalisasi yang pertama kali" Kata Chaironi. 

Lebih lanjut Chaironi menyampaikan bahwa di Kabupaten Banyuwangi semuanya menggunakan digitalisasi, termasuk Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan Smart Kampung yang juga digunakan di Kantor Desa maupun Kelurahan.

"masyarakat dimudahkan dengan layanan digital mulai tingkat desa sampai tingkat kabupaten, termasuk pada Kementerian Agama" kata Roni.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi  DIY yang diwakili Kepala Bagian Tata Usaha H. Muntolib, S.Ag, MSI didampingi Kabid Urais Drs. H. Jauhar Mustofa, MSI menyampaikan bahwa KUA Kecamatan Banyuwangi dalam penilaian layanan masyarakat tahun 2023 merupakan KUA Revitalisasi terbaik se-Indonesia, sehingga perlu adanya Kunjungan Kerja dengan tujuan KUA Kecamatan di ujung timur Pulau Jawa ini. Kunjungan Kerja yang dilaksanakan ini untuk peningkatan layanan kepada masyarakat, terutama layanan pada KUA Kecamatan.

"Digitalisasi layanan di Kabupaten Banyuwangi layak untuk ditiru oleh Kabupaten lainnya di Indonesia" katanya.

Acara berlangsung gayeng dalam sesi tanya jawab yang dipandu H. Abdul Aziz, Kepala KUA Kecamatan Banyuwangi didampingi Ahmad Sakur Isnaini, Kepala KUA Kecamatan Sempu.

Di akhir acara, Kepala Bagian Tata Usaha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DIY menyerahkan Cinderamata yang diterima oleh Dr. H. Santoso. kepala Bagian Tata Usaha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur.

LPTQ Kab. Banyuwangi Akan Siapkan Peserta MTQ Provinsi Secara Maksimal

 MBanyuwangi (Warta Blambangan) Dalam rangka mempersiapkan kafilah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat provinsi, LPTQ Kabupaten Banyuwangi menggelar rapat koordinasi untuk pembinaan dan seleksi calon kafilah MTQ, Selasa (27/8/2024).


Rapat ini diadakan di aula Balesaji Banyuwangi dan dihadiri oleh para pembina, pengurus LPTQ termasuk Kementerian Agama Banyuwangi.



Kepala Kemenag Banyuwangi melalui Kasi Bimas Islam H. Mastur selaku Ketua panitia menyampaikan pentingnya persiapan matang guna mengharumkan nama Banyuwangi di ajang MTQ tingkat provinsi. 


"Kita harus bekerja sama untuk memastikan calon kafilah MTQ Banyuwangi mendapatkan pembinaan terbaik, sehingga mampu berprestasi", ungkapnya.


Dalam rapat tersebut, dibahas berbagai agenda penting, termasuk penjadwalan seleksi calon peserta MTQ, strategi pembinaan, dan dukungan fasilitas untuk para peserta. 


Sebagai informasi, seleksi dan pembinaan calon kafilah MTQ Kabupaten Banyuwangi akan dilaksanakan pada 31 Agustus 2024 mendatang bertempat di aula Kemenag Banyuwangi. 


Adapun cabang yang akan diseleksi meliputi, cabang Tartil, MTQ Kanak-Kanak, Remaja, Dewasa, Qiraat Mujawwad, dan Qiraat tartil remaja, dewasa.  Sedangkan di cabang tahfidz, meliputi MHQ 1  juz & 5 juz tilawah, MHQ 10, 20, 30 juz, serta tafsir Alquran. Dalam Agenda itu akan melibatkan para pembina yang berpengalaman di bidangnya.

Adapun untuk KTI Al-Qur'an akan diadakan seleksi tersendiri dengan mengingat waktu pengerjaan KTI Al-Qur'an adalah delapan jam.


Peserta terbaik yang terpilih akan mendapatkan pelatihan intensif sebelum diberangkatkan ke kompetisi tingkat provinsi Jawa Timur tahun 2025 di Kabupaten Jember.


Diharapkan dengan persiapan yang matang, Kabupaten Banyuwangi dapat berprestasi gemilang dalam ajang MTQ tingkat provinsi yang akan datang

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger