Pages

Tampilkan postingan dengan label Warta Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta Berita. Tampilkan semua postingan

H. Nanang Mustain, S.Ag., M.M. Terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Kalipuro

Banyuwangi (Warta Blambangan) Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kalipuro berlangsung khidmat, dinamis, dan penuh semangat ukhuwah Islamiyah. Forum permusyawaratan tertinggi warga Nahdlatul Ulama di tingkat kecamatan tersebut akhirnya menetapkan Ustadz Abdul Ghani sebagai Rais Syuriah dan Nanang Musta’in sebagai Ketua Tanfidziyah MWCNU Kalipuro masa khidmat 2026–2031.


Konferensi yang diselenggarakan pada Sabtu (6/6/2026) di Pondok Pesantren Nurul Khoiroh, Dusun Pekarangan, Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro, menjadi momentum penting bagi warga Nahdliyin dalam memperkuat konsolidasi jam’iyah sekaligus melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 peserta yang terdiri dari utusan ranting, badan otonom, lembaga, serta para tokoh NU se-Kecamatan Kalipuro.

Dengan mengusung semangat musyawarah dan nilai-nilai ahlussunnah wal jamaah, seluruh rangkaian sidang konferensi berlangsung tertib dan penuh kekeluargaan. Sebanyak 30 ranting NU hadir dalam forum, meskipun satu ranting belum dapat mengikuti proses pemilihan karena belum melaksanakan musyawarah ranting.

Pada tahapan pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) untuk menentukan Rais Syuriah, forum berhasil menjaring 20 nama tokoh yang memperoleh dukungan peserta. Setelah melalui proses tabulasi dan penyaringan, mengerucut lima nama dengan perolehan dukungan tertinggi, yakni Abdul Ghani, Agus Idrus, Gus Nardho, Hariri, dan KH Abdul Majid.

Kelima tokoh tersebut kemudian bermusyawarah dalam forum AHWA. Dengan mengedepankan kebijaksanaan dan semangat mencari kemaslahatan bersama, forum sepakat mempercayakan amanah Rais Syuriah MWCNU Kalipuro kepada Ustadz Abdul Ghani.

Sementara itu, proses pemilihan Ketua Tanfidziyah berlangsung tidak kalah menarik. Dalam sidang pleno pembahasan tata tertib konferensi, peserta menyepakati bahwa bakal calon Ketua Tanfidziyah harus memperoleh dukungan minimal 15 suara agar dapat ditetapkan sebagai calon.

Hasil pemungutan suara menunjukkan Nanang Musta’in memperoleh 18 suara, sedangkan Nanang Rojik memperoleh 11 suara. Dengan hanya satu kandidat yang memenuhi ambang batas dukungan, Nanang Musta’in kemudian ditetapkan sebagai Ketua Tanfidziyah MWCNU Kalipuro secara aklamasi.

Pimpinan sidang konferensi, H. Guntur Al Badri yang mewakili PCNU Banyuwangi, menyampaikan apresiasi atas kedewasaan seluruh peserta dalam mengikuti proses demokrasi organisasi. Menurutnya, perbedaan pilihan yang muncul selama konferensi merupakan bagian dari dinamika yang sehat dalam tubuh Nahdlatul Ulama.

“Proses yang demokratis ini merupakan cerminan kedewasaan berorganisasi di dalam wadah Nahdlatul Ulama. Perbedaan pandangan dapat dikelola dengan musyawarah sehingga melahirkan keputusan yang diterima bersama,” ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Rais Syuriah PCNU Banyuwangi, H. Nasir Basrawi, dalam arahannya menekankan pentingnya kaderisasi sebagai ruh keberlangsungan organisasi. Ia mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi NU pada masa mendatang semakin kompleks sehingga membutuhkan kader-kader yang memiliki keteguhan dalam menjaga tradisi sekaligus kecakapan dalam menjawab perkembangan zaman.

“Kaderisasi harus terus dilakukan. Tantangan NU ke depan tidak sederhana dalam merawat tradisi sekaligus mengukir peradaban sesuai perkembangan zaman,” pesannya.

Ketua PCNU Banyuwangi, , yang hadir secara langsung dalam konferensi tersebut, menyampaikan harapan agar kepengurusan baru mampu menghadirkan energi baru bagi kemajuan organisasi. Menurutnya, Kalipuro memiliki potensi besar yang perlu dikelola secara terarah untuk kemanfaatan umat dan kemajuan jam’iyah.

“MWCNU Kalipuro memiliki potensi besar. Tinggal bagaimana seluruh stakeholder NU bergerak cepat, menyusun langkah strategis, dan bersinergi dalam menjalankan misi organisasi serta program-program yang memberi manfaat nyata bagi umat,” tegasnya.

Konferensi MWCNU Kalipuro tahun 2026 ini tidak sekadar menjadi agenda pergantian kepemimpinan, melainkan juga menjadi ikhtiar bersama dalam meneguhkan khidmah Nahdlatul Ulama di tengah masyarakat. Duet kepemimpinan Abdul Ghani dan Nanang Musta’in diharapkan mampu memperkuat konsolidasi organisasi, memperluas kaderisasi, serta menghadirkan program-program keagamaan, sosial, pendidikan, dan pemberdayaan umat yang semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Semangat musyawarah yang mewarnai seluruh rangkaian konferensi menjadi bukti bahwa tradisi NU tetap terjaga dengan baik; berkompetisi dalam kebaikan, bermusyawarah dengan hikmah, dan kembali bersatu dalam satu barisan demi terwujudnya kemaslahatan umat, kejayaan jam’iyah, serta keberkahan bagi bangsa dan negara. (hkl)

325 Pasangan Menikah Serentak di Banyuwangi pada Jumat Pon dianggap Hari Baik Bagi Suku Osing untuk Akad Nikah

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Sebanyak 325 pasangan pengantin melangsungkan akad nikah secara serentak di berbagai wilayah Kabupaten Banyuwangi pada Jumat (5/6/2026). Tanggal yang bertepatan dengan Jumat Pon dalam kalender Jawa ini menjadi salah satu hari paling sibuk bagi jajaran Kantor Urusan Agama (KUA) di Banyuwangi sepanjang tahun 2026.

PCNU Banyuwangi Perkuat Sinergi Lembaga, Fokuskan Program untuk Kebutuhan Warga Nahdliyin

Banyuwangi (Warta Blambangan) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi mulai memperkuat konsolidasi internal dengan menghimpun seluruh lembaga yang berada di bawah naungannya. Langkah ini dilakukan untuk menyamakan visi, memperkuat koordinasi, serta menyusun arah program kerja yang lebih terintegrasi dan berdampak langsung bagi warga Nahdliyin.

Pertemuan yang digelar pada Kamis (4/6/2026) tersebut menjadi momentum awal bagi PCNU Banyuwangi dalam membangun sinergi antarlembaga guna memastikan setiap program organisasi berjalan lebih efektif, terencana, dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Saat ini, sekitar 17 lembaga di lingkungan PCNU Banyuwangi telah menyatakan kesiapan untuk menjalankan berbagai program strategis sesuai dengan bidang tugas masing-masing. Bahkan, beberapa di antaranya telah lebih dulu melaksanakan kegiatan kelembagaan sebagai bentuk komitmen dalam menggerakkan roda organisasi.

Selain membahas program kerja, sejumlah lembaga juga tengah mempersiapkan proses pengukuhan kepengurusan. Mekanismenya beragam, mulai dari pengukuhan yang dilakukan secara mandiri oleh masing-masing lembaga hingga pengukuhan bersama yang akan difasilitasi oleh PCNU Banyuwangi.

Dalam kesempatan tersebut, Rois Syuriah PCNU Banyuwangi, KH Fahrudin Manan, menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia menilai, tantangan umat yang semakin kompleks menuntut adanya sistem organisasi yang kuat agar setiap amanah dapat dilaksanakan secara terarah dan sesuai dengan tujuan perjuangan Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, keberadaan lembaga yang aktif menjadi salah satu indikator hidup dan bergeraknya organisasi. Karena itu, setiap unsur di lingkungan NU perlu terus mengembangkan peran dan kontribusinya bagi masyarakat.

Sementara itu, Ketua PCNU Banyuwangi, H. Akhmad Turmudzi, menggambarkan pengelolaan organisasi layaknya sebuah orkestra. Dalam sebuah orkestra, setiap pemain memiliki kemampuan dan peran yang berbeda, namun semuanya bekerja menuju satu tujuan yang sama, yakni menghasilkan harmoni yang bermanfaat bagi banyak orang.


Ia menjelaskan bahwa setiap lembaga harus menjalankan tugas sesuai kompetensi yang dimiliki agar program yang dilaksanakan dapat memberikan hasil maksimal. Menurutnya, bidang-bidang strategis seperti kesehatan, pendidikan, ekonomi, maupun sosial harus dikelola oleh sumber daya yang memiliki kapasitas dan keahlian yang relevan.

Turmudzi juga menegaskan bahwa PCNU Banyuwangi memberikan ruang yang luas kepada setiap lembaga untuk menentukan pola kerja, strategi pengembangan organisasi, hingga mekanisme pengukuhan kepengurusan. Namun demikian, kebebasan tersebut tetap harus berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah serta ketentuan hukum yang berlaku.

Melalui penguatan koordinasi dan kolaborasi antarlembaga ini, PCNU Banyuwangi berharap seluruh perangkat organisasi dapat berperan lebih optimal sebagai penggerak program keumatan. Dengan demikian, kehadiran NU di tengah masyarakat tidak hanya semakin kuat secara kelembagaan, tetapi juga mampu memberikan manfaat yang nyata bagi warga Banyuwangi dan khususnya komunitas Nahdliyin. (hkl)

Silaturahmi LKNU ke Kemenag Banyuwangi, Bahas Binwin, Penguatan Kesehatan di Madrasah dan Pesantren

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Semangat kolaborasi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat menjadi tema utama dalam pertemuan antara Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Banyuwangi dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Rabu (3/6/2026). Kegiatan silaturahmi tersebut berlangsung di ruang meeting Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

Rombongan LKNU Banyuwangi dipimpin oleh Ketua LKNU, dr. Sabit Purnomo, dan disambut langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M.

Dalam kesempatan tersebut, Chaironi Hidayat menyampaikan rasa terima kasih atas kunjungan yang dilakukan pengurus LKNU. Menurutnya, terdapat sejumlah program yang dapat dikembangkan secara bersama-sama untuk mendukung peningkatan kesehatan masyarakat, khususnya di lingkungan pendidikan keagamaan.


“Kami melihat banyak peluang kerja sama yang dapat diwujudkan. Di antaranya penguatan Usaha Kesehatan Madrasah (UKM), pembinaan kesehatan di pesantren, serta dukungan LKNU dalam kegiatan bimbingan perkawinan, terutama terkait kesehatan reproduksi,” ungkapnya.

Chaironi menilai kesehatan tidak hanya menjadi urusan sektor medis semata, tetapi juga bagian penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Karena itu, keterlibatan berbagai pihak, termasuk organisasi kemasyarakatan keagamaan, menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.

Ketua LKNU Banyuwangi, dr. Sabit Purnomo, menyambut baik peluang sinergi tersebut. Ia menegaskan bahwa LKNU siap menjadi mitra strategis Kementerian Agama dalam menjalankan berbagai program kesehatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

“Komunikasi yang baik akan terus kami bangun. Kami berharap kerja sama ini dapat melahirkan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi warga, baik di lingkungan pesantren, madrasah, maupun masyarakat umum,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris LKNU Banyuwangi, Bd. Diah Fitrianingsih, S.Keb., M.Kes., CH, menjelaskan bahwa selama ini pihaknya telah terlibat dalam berbagai kegiatan edukasi kesehatan. Melalui Klinik Dokter Didik Sulasmono (KDS) Rogojampi, ia bersama tim telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pondok pesantren di wilayah sekitar.


Tidak hanya itu, Diah juga kerap memberikan materi kesehatan dalam kegiatan Bimbingan Perkawinan (Binwin) yang diselenggarakan oleh beberapa Kantor Urusan Agama (KUA) di Kabupaten Banyuwangi.

“Pengalaman yang sudah berjalan ini menjadi bekal untuk memperluas kolaborasi yang lebih terarah dan berkelanjutan bersama Kementerian Agama,” katanya.

Pertemuan tersebut diakhiri dengan harapan agar sinergi yang telah terbangun dapat diwujudkan dalam program-program yang lebih luas dan berdampak langsung bagi masyarakat. Chaironi Hidayat menegaskan bahwa kesehatan masyarakat, terutama di lingkungan pesantren dan madrasah, memerlukan perhatian bersama agar mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

Dengan silaturahmi ini, LKNU Banyuwangi dan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi semakin memperkuat komitmen untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang dekat dengan masyarakat serta selaras dengan nilai-nilai keagamaan yang menjadi fondasi kehidupan umat.

PC RMI NU Banyuwangi Teguhkan Komitmen Wujudkan Pesantren Aman dan Humanis

 Pasuruan (Warta Blambangan) Pengurus Cabang Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PC RMI NU) Banyuwangi meneguhkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, ramah, dan humanis melalui partisipasi aktif dalam Deklarasi Nasional Pesantrenku Aman yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini, Selasa (2/6/2026).

Gus Syifa Nailul Wafar Terpilih Pimpin IPSI Banyuwangi, Siap Perkuat Prestasi dan Persatuan Perguruan Silat

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Dunia pencak silat Banyuwangi memasuki babak baru. Ahmad Syifa' Nailul Wafar, yang akrab disapa Gus Syifa, resmi terpilih sebagai Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Banyuwangi dalam Musyawarah Kabupaten (Muskab) IPSI Banyuwangi yang digelar pada Senin (1/6/2026).

Muskab yang berlangsung dengan suasana demokratis tersebut diikuti oleh seluruh perguruan pencak silat yang berada di bawah naungan IPSI Banyuwangi. Sebanyak 24 perguruan turut menggunakan hak suaranya untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi pencak silat terbesar di Kabupaten Banyuwangi itu.


Dalam proses pemilihan, terdapat dua kandidat yang maju sebagai calon ketua, yakni Ahmad Syifa' Nailul Wafar dan Suwito. Setelah melalui tahapan pemungutan suara, Gus Syifa berhasil memperoleh dukungan mayoritas dengan meraih 14 suara, sementara Suwito mendapatkan 10 suara.

Dengan hasil tersebut, Ketua PC Pagar Nusa Banyuwangi yang juga dikenal sebagai pengasuh pondok pesantren itu resmi menerima amanah untuk memimpin IPSI Banyuwangi pada periode mendatang.

Terpilihnya Gus Syifa disambut sebagai harapan baru bagi kemajuan pencak silat di Bumi Blambangan. Selain dikenal aktif dalam pembinaan kader dan pelestarian seni bela diri tradisional, sosoknya dinilai memiliki kapasitas untuk merangkul seluruh perguruan dalam semangat kebersamaan dan pembinaan prestasi.

Pelaksanaan Muskab IPSI Banyuwangi turut mendapat perhatian dari berbagai pemangku kepentingan, di antaranya perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, IPSI Jawa Timur, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Banyuwangi, serta Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi.

Ketua KONI Banyuwangi, Khoirullah, menegaskan bahwa pencak silat merupakan salah satu cabang olahraga yang memiliki potensi besar dalam menyumbangkan prestasi bagi daerah. Karena itu, ia berharap kepengurusan baru mampu memperkuat sistem pembinaan atlet secara berjenjang dan berkelanjutan.

“IPSI memiliki peran strategis dalam mencetak atlet-atlet berprestasi. Dengan pembinaan yang terarah dan tata kelola organisasi yang baik, pencak silat Banyuwangi akan mampu meraih prestasi yang lebih tinggi di berbagai ajang kompetisi,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan IPSI Jawa Timur, Hosli Abdullah, mengingatkan pentingnya penguatan tata kelola organisasi sebagai fondasi kemajuan lembaga. Menurutnya, administrasi yang tertib dan pelaporan yang akuntabel menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan program pembinaan atlet.

“Pengelolaan organisasi yang profesional akan menjadi kekuatan utama dalam menjalankan berbagai program secara berkesinambungan,” katanya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi, Dwi Handayani, berharap IPSI tidak hanya fokus pada pencapaian prestasi olahraga, tetapi juga berperan aktif dalam memperluas partisipasi masyarakat terhadap olahraga pencak silat.

Menurutnya, pencak silat memiliki nilai strategis sebagai warisan budaya bangsa yang mampu membentuk karakter, disiplin, serta semangat sportivitas generasi muda. Oleh karena itu, IPSI diharapkan dapat terus mengembangkan program-program yang mendekatkan olahraga pencak silat kepada masyarakat luas.

Dengan terpilihnya Ahmad Syifa' Nailul Wafar sebagai Ketua Umum IPSI Banyuwangi, harapan besar kini tertuju pada terwujudnya organisasi yang semakin solid, profesional, dan mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi. Di bawah kepemimpinan baru tersebut, IPSI Banyuwangi diharapkan tidak hanya menjadi wadah pembinaan olahraga, tetapi juga menjadi perekat persaudaraan antarperguruan dalam semangat menjaga dan mengembangkan warisan budaya pencak silat di Banyuwangi. (hkl)

LPNU Banyuwangi Siapkan Gerakan Ekonomi Berbasis Komunitas, Dorong Lahirnya Wirausahawan Nahdliyin Berdaya Saing

BANYUWANGI (Warta Blambangan)Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Banyuwangi mulai merancang langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi warga Nahdliyin melalui program pemberdayaan usaha yang terarah dan berkelanjutan. Upaya tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang berlangsung di ruang pertemuan PCNU Banyuwangi, Senin (1/6/2026).

Pertemuan tersebut menjadi forum konsolidasi bagi jajaran pengurus LPNU Banyuwangi dalam menyusun berbagai agenda prioritas yang berorientasi pada peningkatan kapasitas ekonomi warga NU. Sejumlah gagasan strategis mengemuka guna menjawab tantangan ekonomi masyarakat yang semakin dinamis serta membuka peluang usaha yang lebih luas bagi warga Nahdliyin.


Ketua LPNU Banyuwangi, Ahmad Syafroni, menegaskan bahwa organisasi harus mampu mengambil peran nyata dalam membangun kemandirian ekonomi umat. Menurutnya, penguatan sektor ekonomi tidak cukup dilakukan melalui pendekatan seremonial, melainkan membutuhkan program yang mampu memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa LPNU tengah menyiapkan program unggulan bertajuk “Warga NU Naik Kelas, Menjadi Pengusaha Berkualitas”, yang diarahkan untuk mencetak pelaku usaha tangguh sekaligus meningkatkan kapasitas pengusaha yang telah berjalan.

“Warga NU memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Tugas kita adalah menghadirkan sistem pembinaan yang mampu mengembangkan potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Syafroni, perubahan pola ekonomi dan perkembangan teknologi menuntut organisasi untuk lebih adaptif dalam merancang program kerja. Karena itu, LPNU Banyuwangi didorong untuk menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Dalam pembahasan awal, program tersebut akan difokuskan pada sejumlah bidang strategis, antara lain penguatan kapasitas kewirausahaan, pendampingan usaha berbasis potensi lokal, pengembangan pemasaran digital, perluasan jejaring bisnis antarwarga Nahdliyin, serta peningkatan kualitas tata kelola usaha.

Selain pelatihan, LPNU Banyuwangi juga merancang pola pembinaan berkelanjutan yang mencakup aspek legalitas usaha, pengembangan kemasan produk, strategi pemasaran, penguatan merek, akses permodalan, hingga perluasan pasar. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membantu pelaku usaha menghadapi berbagai tantangan dalam pengembangan bisnis.

Syafroni menambahkan bahwa yang ingin dibangun bukan semata-mata kemampuan berdagang, melainkan karakter kewirausahaan yang berlandaskan integritas, profesionalitas, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.

“Transformasi ekonomi membutuhkan mentalitas yang kuat. Kita ingin melahirkan pengusaha NU yang tidak hanya sukses secara bisnis, tetapi juga memiliki komitmen terhadap nilai-nilai keumatan dan pemberdayaan masyarakat,” katanya.

Melalui program tersebut, LPNU Banyuwangi juga berupaya membangun ekosistem usaha yang saling terhubung dan menguatkan. Kehadiran komunitas pengusaha NU, pengembangan platform pemasaran produk warga, hingga pelatihan berbasis potensi desa menjadi beberapa gagasan yang mengemuka dalam forum tersebut.

Rapat berlangsung interaktif dengan berbagai masukan dari peserta terkait model pemberdayaan ekonomi yang sesuai dengan karakter sosial dan potensi lokal Banyuwangi. Seluruh gagasan tersebut akan menjadi bahan penyempurnaan program sebelum direalisasikan secara bertahap.

Dengan inisiatif tersebut, LPNU Banyuwangi berharap dapat memperkuat fondasi ekonomi warga Nahdliyin sekaligus mendorong lahirnya pelaku usaha yang lebih mandiri, inovatif, dan mampu bersaing di tengah perkembangan ekonomi modern. Gerakan ekonomi berbasis komunitas itu diharapkan menjadi salah satu kontribusi nyata Nahdlatul Ulama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

LKKNU Banyuwangi Siapkan Program Strategis Keluarga Maslahah Jelang Pengukuhan Pengurus

 Banyuwangi (Warta Blambangan) Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Cabang Banyuwangi menggelar rapat koordinasi di ruang rapat PCNU Banyuwangi, Senin (1/6/2026), sebagai bagian dari persiapan pengukuhan kepengurusan dan pelaksanaan Musyawarah Kerja (Musker) yang akan datang.


Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk merumuskan berbagai program prioritas yang akan dijalankan LKKNU Banyuwangi dalam upaya memperkuat ketahanan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan keagamaan, sosial, dan pemberdayaan.

Ketua LKKNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, menjelaskan bahwa sejumlah program strategis telah disiapkan untuk dibahas dan ditetapkan dalam Musyawarah Kerja. Salah satu program yang menjadi perhatian adalah fasilitasi pengesahan nikah bagi pasangan yang telah melaksanakan pernikahan secara sah menurut syariat Islam, namun belum memiliki pencatatan resmi sesuai ketentuan perundang-undangan.

Selain itu, LKKNU Banyuwangi juga akan menginisiasi kegiatan bimbingan teknis terkait Konvensi Hak Anak bagi lembaga-lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama. Program ini diharapkan dapat memperkuat komitmen seluruh elemen NU dalam memberikan perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak.

Rapat tersebut turut dihadiri Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi, Marifatul Kamila, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi I DPRD Banyuwangi. Hadir pula Imam Muklis, Kepala KUA Kecamatan Wongsorejo yang mengemban amanah sebagai Koordinator Bidang Pemberdayaan dan Ketahanan Keluarga LKKNU Banyuwangi.

Dalam pembahasan program, LKKNU Banyuwangi menegaskan komitmennya untuk menghadirkan berbagai kegiatan yang berorientasi pada terwujudnya Keluarga Maslahah, yakni keluarga yang harmonis, sejahtera, berakhlak mulia, dan memiliki ketahanan sosial yang kuat.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, LKKNU Banyuwangi akan memfokuskan program kerja pada beberapa sektor utama. Di antaranya layanan bimbingan dan konseling keluarga guna membantu penyelesaian persoalan rumah tangga, pendampingan calon pengantin, serta upaya pencegahan perceraian melalui Rumah Konseling Keluarga Maslahah.

Selain itu, program edukasi kependudukan dan kesehatan keluarga juga menjadi prioritas, termasuk peningkatan pemahaman tentang kesehatan mental anak, kesehatan reproduksi, pencegahan perkawinan usia anak, serta upaya menekan angka stunting.

Pada bidang ekonomi, LKKNU Banyuwangi akan mendorong penguatan kemandirian keluarga melalui pelatihan kewirausahaan dan pengembangan keterampilan produktif. Sementara pada aspek lingkungan, organisasi ini akan mengembangkan edukasi masyarakat mengenai pentingnya menciptakan lingkungan pemukiman yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan.

Melalui rangkaian program tersebut, LKKNU Banyuwangi berharap dapat memperkuat peran keluarga sebagai fondasi utama pembangunan masyarakat sekaligus mendukung terwujudnya keluarga-keluarga yang tangguh, mandiri, dan maslahat bagi lingkungan sekitarnya. (dll)

Milad ke-109 Aisyiyah, Meneguhkan Dakwah Kemanusiaan untuk Kemaslahatan Umat

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Semangat dakwah yang menebarkan manfaat bagi sesama kembali digaungkan dalam peringatan Milad ke-109 Aisyiyah yang digelar Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Banyuwangi di SMK Muhammadiyah 2 Genteng, Minggu (31/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat komitmen dakwah kemanusiaan yang selama ini menjadi ruh gerakan perempuan Muhammadiyah.


Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang hadir secara virtual menyampaikan apresiasi atas spirit dakwah kemanusiaan yang terus dikembangkan oleh Aisyiyah. Menurutnya, nilai-nilai keislaman yang diajarkan tidak hanya menjadi pedoman ibadah, tetapi juga harus hadir dalam bentuk kepedulian sosial yang dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

“Dakwah kemanusiaan yang dicanangkan oleh Aisyiyah ini adalah spirit yang patut didukung oleh kita semua. Nilai-nilai luhur keislaman harus dirasakan oleh seluruh umat manusia tanpa dibatasi sekat apa pun,” ujar Ipuk.

Ia menambahkan, dakwah yang inklusif dan berorientasi pada kemaslahatan umat tersebut sejalan dengan visi pembangunan Kabupaten Banyuwangi yang menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan utama. Karena itu, Pemkab Banyuwangi berharap Aisyiyah dan seluruh keluarga besar Muhammadiyah dapat terus menjadi mitra strategis dalam upaya mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Kami berharap Aisyiyah dan keluarga besar Muhammadiyah di Banyuwangi lainnya untuk bersama-sama mengurangi angka kemiskinan di Banyuwangi,” kata Ipuk.

Dalam kesempatan tersebut, Ipuk juga memaparkan capaian pembangunan sosial di Banyuwangi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Oktober 2025, angka kemiskinan di Banyuwangi tercatat sebesar 6,13 persen atau turun 0,41 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) juga mengalami penurunan menjadi 0,41.

Menurut Ipuk, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk kontribusi organisasi kemasyarakatan dan keagamaan yang selama ini aktif mendampingi masyarakat melalui berbagai program sosial.

“Keberhasilan ini tidak terlepas dari peran seluruh masyarakat Banyuwangi, tak terkecuali Aisyiyah dan seluruh keluarga besar Muhammadiyah,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Dr. Nur Mukarramah, menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan tidak boleh berhenti pada slogan atau seruan moral semata. Dakwah harus diwujudkan melalui langkah-langkah nyata yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

“Mulai dari penguatan pendidikan, kesehatan keluarga, dan aksi sosial lainnya,” tegas Nur Mukarramah.

Hal senada disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Banyuwangi, Laili Dwi Damayanti. Ia menjelaskan bahwa Aisyiyah terus mengembangkan berbagai program sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat hingga tingkat cabang dan ranting.

Program-program tersebut antara lain Jumat Berkah, Ahad Berkah, serta berbagai kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bentuk implementasi dakwah kemanusiaan.

“Baik yang berupa Jumat Berkah, Ahad Berkah, dan yang lainnya, ini merupakan program-program sosial konkret untuk mewujudkan dakwah kemanusiaan di Banyuwangi,” ujarnya.

Milad ke-109 Aisyiyah tidak hanya menjadi perayaan perjalanan panjang organisasi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa dakwah sejatinya adalah menghadirkan kasih sayang dan kemanfaatan bagi sesama. Seperti mata air yang terus mengalir tanpa memilih siapa yang akan meminumnya, dakwah kemanusiaan yang diusung Aisyiyah diharapkan terus menjadi energi kebaikan yang menguatkan solidaritas sosial, memperluas kepedulian, serta menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat Banyuwangi.

Menjemput Berkah di Malam Seblang, Tradisi Sakral Osing yang Tak Lekang Zaman

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Malam di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Minggu (31/5/2026), berubah menjadi panggung kebudayaan yang menyatukan tradisi, spiritualitas, dan kebersamaan warga. Ribuan masyarakat memadati area ritual untuk menyaksikan Seblang Bakungan, tradisi sakral masyarakat Osing yang terus lestari di tengah arus modernisasi.

Rangkaian ritual diawali dengan prosesi Ider Bumi, sebuah tradisi mengelilingi kampung sebagai bentuk ikhtiar memohon keselamatan dan keberkahan. Menjelang malam, seluruh lampu listrik di wilayah kelurahan dipadamkan. Kegelapan yang menyelimuti kampung justru menghadirkan suasana magis ketika cahaya obor mulai menerangi jalan-jalan desa.


Warga menggelar tikar di sepanjang tepi jalan bersama keluarga. Di hadapan mereka tersaji pecel pitik, hidangan khas masyarakat Osing yang menjadi bagian penting dalam ritual. Namun makanan tersebut belum boleh disantap sebelum prosesi Ider Bumi berakhir.

Dengan membawa obor, rombongan ritual bergerak mengelilingi seluruh penjuru kampung. Di setiap persimpangan jalan, adzan dikumandangkan sebagai simbol doa dan permohonan keselamatan. Perpaduan nilai-nilai Islam dan tradisi lokal itu menjadi gambaran harmonis kehidupan masyarakat Osing yang telah berlangsung turun-temurun.

Setelah prosesi selesai dan lampu listrik kembali dinyalakan, warga mulai menikmati sajian pecel pitik. Momen tersebut menjadi penanda berakhirnya Ider Bumi sekaligus dimulainya puncak ritual Seblang.

Sekitar pukul 20.00 WIB, perhatian masyarakat tertuju ke arena adat. Isni (54) perlahan memasuki lingkar pertunjukan. Perempuan paruh baya itu dipercaya menjadi penari Seblang Bakungan tahun ini.

Berbeda dengan Seblang Olehsari yang diperankan oleh gadis yang belum menikah, Seblang Bakungan justru dibawakan oleh perempuan yang telah memasuki masa menopause. Dalam kepercayaan masyarakat Osing, penari dipilih melalui petunjuk spiritual dan dianggap memiliki kemampuan menjadi medium penyampai pesan-pesan leluhur.

Yang membuat ritual ini semakin unik, sang penari memasuki kondisi trance atau tidak sadar saat menari. Dengan iringan musik tradisional yang mengalun ritmis, Isni bergerak mengikuti alunan gending sambil menggenggam dua bilah keris di kedua tangannya. Gerakannya tampak mengalir alami, seolah digerakkan oleh kekuatan yang melampaui kesadaran biasa.

Bagi masyarakat setempat, kondisi trance tersebut bukan sekadar atraksi, melainkan bagian penting dari ritual yang diyakini sebagai perwujudan hadirnya energi spiritual leluhur yang menjaga desa.

Pada pertengahan pertunjukan, panitia mengedarkan Kembang Dermo kepada para penonton. Dengan uang penebus sebesar Rp5.000, masyarakat dapat membawa pulang rangkaian bunga yang diyakini mengandung doa dan harapan baik.

Kembang Dermo terdiri dari bunga kenanga, kantil, dan melati yang dirangkai menjadi satu pada sebatang bambu kecil. Dalam tradisi masyarakat Osing, rangkaian bunga tersebut dipercaya sebagai simbol berkah, penolak bala, pembawa keselamatan, pelancar rezeki, hingga sarana permohonan kesembuhan.

Tidak sedikit warga yang berebut mendapatkan Kembang Dermo untuk dibawa pulang dan disimpan di rumah sebagai pengingat doa serta harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Seblang Bakungan sendiri merupakan ritual kuno yang digelar setiap tahun pada Bulan Dzulhijjah, sekitar sepekan setelah Hari Raya Idul Adha. Tradisi ini menjadi salah satu warisan budaya paling tua yang masih bertahan di Banyuwangi.

Di tengah perubahan zaman, Seblang Bakungan tidak hanya menjadi tontonan budaya, tetapi juga menjadi ruang perawatan ingatan kolektif masyarakat Osing. Ketika lampu-lampu dipadamkan dan obor-obor dinyalakan, masyarakat seakan kembali membaca pesan para leluhur bahwa kebudayaan bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan identitas yang harus terus dijaga agar tetap hidup dari generasi ke generasi. (syf)

Hardian Arif Darmawan Ketua Pengurus Cabang Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Banyuwangi, Nahkodai PERADI SAI Banyuwangi Raya, Siap Perkuat Profesionalisme dan Bantuan Hukum

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Musyawarah Cabang (Muscab) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PERADI SAI (Perhimpunan Advokat Indonesia – Suara Advokat Indonesia) Banyuwangi Raya yang digelar di Hotel Kokoon Banyuwangi, Sabtu (30/5/2026), menghasilkan kepemimpinan baru. Dalam forum organisasi yang berlangsung demokratis dan penuh semangat persaudaraan tersebut, Hardian Arif Darmawan, S.H., M.H. terpilih sebagai Ketua DPC PERADI SAI Banyuwangi Raya periode 2026–2030.

Muscab yang diikuti 43 anggota pemilik hak suara berlangsung tertib dan kondusif. Melalui proses pemilihan yang berjalan sesuai mekanisme organisasi, Hardian Arif Darmawan berhasil meraih dukungan mayoritas anggota dan unggul atas kandidat lainnya, Ir. Saiful Muttaqien, S.H., M.H.

Pelaksanaan Muscab turut mendapat pengawasan dan pendampingan langsung dari Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PERADI SAI. Hadir mewakili DPN, Ketua Bidang Organisasi DPN PERADI SAI, Dr. Jahmada Girsang, S.H., M.H., CLA., CMED., yang memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai aturan organisasi dan prinsip demokrasi yang berlaku.

Pemilihan yang mempertemukan dua tokoh advokat tersebut berlangsung dalam suasana yang sehat dan penuh kedewasaan. Perbedaan pilihan di antara anggota tidak mengurangi semangat kebersamaan yang menjadi fondasi organisasi profesi tersebut.

Usai ditetapkan sebagai ketua terpilih, Hardian Arif Darmawan menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi kepada seluruh anggota yang telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin organisasi selama empat tahun ke depan.

“Amanah ini merupakan tanggung jawab besar yang tidak mungkin dijalankan sendiri. Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota PERADI SAI Banyuwangi Raya atas kepercayaan yang diberikan. Dengan semangat kebersamaan dan dukungan semua pihak, saya optimistis organisasi ini dapat tumbuh semakin profesional, solid, dan memberi manfaat yang lebih luas bagi anggota maupun masyarakat,” ujarnya.


Pria yang juga menjabat Ketua Pengurus Cabang Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Banyuwangi itu menegaskan bahwa Muscab merupakan bagian dari proses demokrasi organisasi yang harus dihormati bersama. Karena itu, setelah proses pemilihan selesai, seluruh anggota diharapkan kembali bersatu untuk membangun organisasi secara kolektif.

“Kontestasi telah usai. Kini saatnya seluruh anggota memperkuat solidaritas dan kebersamaan demi kemajuan PERADI SAI Banyuwangi Raya. Organisasi ini akan menjadi kuat apabila seluruh elemen bergerak bersama dalam satu tujuan, yakni menjaga marwah profesi advokat dan mendukung penegakan hukum yang profesional serta berintegritas,” tegasnya.

Sebagai agenda awal kepemimpinannya, Hardian berkomitmen melakukan konsolidasi internal organisasi sekaligus memperkuat sejumlah program strategis. Fokus utama yang akan dijalankan meliputi peningkatan kompetensi advokat melalui pendidikan berkelanjutan, penguatan layanan bantuan hukum kepada masyarakat, pengembangan jejaring profesi, serta peningkatan kontribusi organisasi dalam mendukung sistem hukum yang adil dan independen.

Menurutnya, advokat tidak hanya dituntut memiliki kemampuan profesional yang baik, tetapi juga harus hadir memberikan akses keadilan bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan hukum.

Terpilihnya Hardian Arif Darmawan diharapkan menjadi energi baru bagi DPC PERADI SAI Banyuwangi Raya. Pengalaman panjangnya di bidang advokasi dan bantuan hukum dinilai menjadi modal penting dalam membawa organisasi semakin maju, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi penegakan hukum dan pelayanan hukum kepada masyarakat di Banyuwangi Raya.

Ketika Ya Lal Wathon Bergema, GASNU Menjadi Jalan Panjang Merawat Peradaban

BANYUWANGI ( Warta Blambangan) Semangat memperkuat pendidikan Nahdlatul Ulama terus digelorakan melalui peluncuran Gerakan Ayo Sekolah Madrasah NU (GASNU) 2026 yang diselenggarakan LP Ma’arif PCNU Banyuwangi di Stadion Untung Suropati Muncar, Minggu (31/5/2026).

Kegiatan ini menjadi ajang konsolidasi besar keluarga pendidikan Ma’arif NU se-Banyuwangi. Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran PCNU Banyuwangi, pengurus LP Ma’arif NU, Ketua MWC Ma’arif NU dari berbagai kecamatan, kepala sekolah dan kepala madrasah, para guru, serta unsur penggerak pendidikan Nahdlatul Ulama.


Mengangkat tema “Bersama NU Wujudkan Generasi Berilmu, Berakhlak, dan Berdaya Saing”, GASNU 2026 diharapkan menjadi motor penggerak dalam meningkatkan partisipasi masyarakat untuk memilih sekolah dan madrasah NU sebagai tempat pendidikan putra-putrinya.

Ketua PCNU Banyuwangi, KH. Achmad Turmudzi, menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun masa depan umat dan bangsa. Karena itu, lembaga pendidikan NU dituntut terus berbenah dan meningkatkan kualitas agar mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

“Sekolah dan madrasah NU harus mampu menjadi lembaga pendidikan yang unggul, terpercaya, dan dicintai masyarakat. Di sinilah generasi masa depan ditempa menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki komitmen kebangsaan yang kuat,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh komponen Nahdlatul Ulama untuk memperkuat sinergi dalam membesarkan lembaga pendidikan Ma’arif. Menurutnya, kemajuan sekolah dan madrasah tidak hanya menjadi tanggung jawab guru atau kepala sekolah, melainkan membutuhkan dukungan bersama dari seluruh warga Nahdliyin.

Sementara itu, Saeroji Ketua PC LP Ma’arif NU Banyuwangi menyampaikan bahwa GASNU 2026 merupakan bagian dari upaya memperkuat citra dan kualitas lembaga pendidikan NU di tengah persaingan dunia pendidikan yang semakin dinamis.

Melalui semangat “Kabeh Obah, Kabeh Dadi Humas”, seluruh elemen pendidikan diajak aktif menyampaikan informasi positif, prestasi, serta berbagai inovasi yang dilakukan sekolah dan madrasah NU kepada masyarakat luas.

“Kepercayaan masyarakat tidak hanya dibangun melalui kualitas pendidikan, tetapi juga melalui komunikasi yang baik. Karena itu, semua pihak memiliki peran untuk mengenalkan keunggulan lembaganya masing-masing,” ungkapnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan senam bersama dan penampilan seni, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Ya Lal Wathon, tahlil, sambutan, doa bersama, serta deklarasi dimulainya Gerakan Ayo Sekolah Madrasah NU (GASNU) 2026.

Melalui gerakan ini, LP Ma’arif NU Banyuwangi berharap sekolah dan madrasah NU semakin berkembang, dipercaya masyarakat, serta mampu melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, kuat dalam karakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Bantuan Sapi Kurban Presiden Prabowo Tiba di PCNU Banyuwangi, Langsung Disembelih dan Ditasyarufkan

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Rasa syukur menyelimuti keluarga besar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi saat bantuan sapi kurban dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, akhirnya tiba pada Sabtu (30/5/2026) pukul 11.30 WIB. Kehadiran hewan kurban tersebut di hari tasyrik terakhir Iduladha 1447 Hijriah disambut penuh kelegaan, seolah menjadi jawaban atas penantian yang disertai doa dan ikhtiar.

Sapi kurban berukuran besar itu tiba di kediaman Ketua PCNU Banyuwangi, KH. Akhmad Turmudzi, di Desa Tegal Arum, setelah sebelumnya sempat terjadi miskomunikasi dalam proses distribusi bantuan hewan kurban dari Presiden.


Ketua Panitia Kurban PCNU Banyuwangi, Moh. Karyono, mengungkapkan bahwa sejak awal pihaknya telah menerima kabar bahwa PCNU Banyuwangi menjadi salah satu penerima bantuan kurban Presiden. Namun, waktu yang terus berjalan hingga memasuki hari-hari tasyrik sempat menghadirkan kegelisahan karena hewan kurban yang dinanti belum juga tiba.

“Kami sebelumnya telah menerima informasi dan konfirmasi bahwa PCNU Banyuwangi mendapat bantuan hewan kurban sapi dari Bapak Presiden Prabowo Subianto. Namun hingga beberapa hari tasyrik berjalan, sapi yang dinantikan belum juga tiba sehingga sempat menimbulkan kebingungan,” ujarnya.

Dalam suasana penuh harap, komunikasi terus dijalin. Ketua PCNU Banyuwangi bersama berbagai pihak melakukan koordinasi dengan Sekretariat Negara dan PWNU Jawa Timur untuk memastikan amanah tersebut dapat sampai dengan baik.

“Ketua PCNU Banyuwangi juga mendapat konfirmasi dari pihak Sekretariat Negara dan PWNU Jawa Timur mengenai apakah bantuan sapi dari Presiden sudah diterima. Setelah komunikasi intensif dilakukan dengan pihak penyalur, akhirnya sapi didatangkan dari Malang sejak Sabtu dini hari,” tambah Karyono.

Kedatangan sapi kurban itu disambut langsung oleh Ketua PCNU Banyuwangi, KH. Akhmad Turmudzi, bersama jajaran pengurus cabang, panitia kurban, serta sejumlah pengurus MWCNU se-Kabupaten Banyuwangi. Momentum tersebut menjadi pengingat tentang makna Iduladha sebagai hari berbagi, pengorbanan, dan mempererat tali kasih antarsesama.

Dalam sambutannya, KH. Akhmad Turmudzi menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas perhatian yang diberikan kepada warga Nahdliyin Banyuwangi. Ia juga memanjatkan doa agar Presiden diberi kesehatan dan kekuatan dalam mengemban amanah bangsa.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto atas bantuan sapi kurban ini. Semoga beliau senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, keamanan, serta kedamaian dalam memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkapnya.


Pada hari yang sama, sapi kurban tersebut langsung disembelih di kediaman Ketua PCNU Banyuwangi. Prosesi penyembelihan dilakukan bersama pengurus dan panitia kurban, lalu dilanjutkan dengan pentasyarufan daging kepada masyarakat sekitar dan warga Nahdliyin yang membutuhkan.

Bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama, kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, melainkan jalan menghadirkan keberkahan melalui kepedulian sosial. Daging yang dibagikan menjadi lambang kasih yang dirasakan bersama, bahwa di Hari Raya Iduladha tak boleh ada kebahagiaan yang berhenti hanya di satu pintu.

Rasa haru juga disampaikan Ketua MWCNU Kalipuro, Ayyum Jakfar, yang mengaku baru pertama kali menerima bagian daging kurban bantuan Presiden.

“Sepanjang hidup saya, baru kali ini merasakan bagian daging kurban dari Bapak Presiden. Semoga beliau diberikan kekuatan, kesehatan, serta tetap menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana dalam mengemban amanah bangsa,” tuturnya.

Di penghujung hari tasyrik, tibanya sapi kurban tersebut menghadirkan kebahagiaan tersendiri bagi keluarga besar PCNU Banyuwangi. Sebab dalam setiap amanah kurban, tersimpan pesan tentang keikhlasan, kepedulian, dan ikatan kemanusiaan yang terus dirawat, sebagaimana spirit Iduladha mengajarkan bahwa berbagi adalah jalan merawat keberkahan bersama. (*)

Meneguhkan Cinta dalam Ridha-Nya, LKKNU MWCNU Urbaniyah Banyuwangi Hadirkan Ruang Pembelajaran Keluarga

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Ketika media sosial semakin memengaruhi cara generasi muda memandang hubungan dan cinta, LKKNU MWC NU Urbaniyah Banyuwangi menghadirkan ruang dialog yang mengajak masyarakat kembali menimbang makna cinta secara lebih mendalam. Melalui kegiatan Keluh Kisah: Zona Curhat Seputar Keluarga bertema “Cinta Itu Memang Manis Tapi…”, yang digelar di Perpustakaan Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Banyuwangi, Jumat (29/5/2026), ratusan peserta dari berbagai kalangan berkumpul untuk mendiskusikan cinta, keluarga, dan ketahanan rumah tangga dalam perspektif Islam.


Forum yang berlangsung hangat tersebut menghadirkan Lora Muhammad Ismael Amin Al-Kholili, penulis buku Kompas Kehidupan, sebagai pembicara utama. Dengan gaya penyampaian yang ringan namun sarat makna, ia mengajak peserta memahami bahwa cinta tidak cukup dimaknai sebagai perasaan yang menyenangkan, melainkan harus bertumbuh menjadi tanggung jawab, komitmen, dan bentuk penghambaan kepada Allah SWT.

Menurut Lora Ismael, banyak hubungan mengalami kegagalan bukan semata karena hilangnya rasa cinta, melainkan karena kurangnya kesiapan dalam membangun komunikasi, menghadapi perbedaan, serta menumbuhkan sikap ikhlas dan saling memahami.

“Cinta yang diridhai Allah bukan hanya membuat dua insan saling mendekat, tetapi juga membuat keduanya semakin dekat kepada Sang Pencipta,” ujarnya.

Cicit ulama besar Nusantara, Syaikhona Kholil Bangkalan, itu juga menekankan pentingnya membangun fondasi spiritual sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirun As-Salafi Alkholili di Geger, Bangkalan, ia menilai keluarga yang kokoh lahir dari individu yang matang secara emosional dan kuat dalam nilai-nilai keimanan.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah MWC NU Banyuwangi, Barurrohim atau Ayung Notonegoro, menilai kegiatan tersebut relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini. Menurutnya, pembekalan mengenai kehidupan keluarga perlu diberikan sejak dini agar para pemuda tidak hanya siap secara ekonomi, tetapi juga memiliki kesiapan mental dan spiritual.

“Rumah tangga bukan sekadar menyatukan dua orang, melainkan menyatukan dua perjalanan hidup yang harus diarahkan menuju kemaslahatan. Karena itu, pemuda perlu dibekali ilmu agar mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah,” katanya.

Apresiasi juga disampaikan Ketua Lentera Sastra Banyuwangi sekaligus Dewan Pakar LKK NU Banyuwangi, Syafaat. Ia menilai forum semacam ini penting sebagai ruang pembelajaran sekaligus tempat generasi muda menyampaikan kegelisahan mereka terkait hubungan, keluarga, dan masa depan.

Menurutnya, di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, anak-anak muda membutuhkan wadah yang sehat untuk berdialog dan memperoleh panduan yang benar dalam memandang cinta dan kehidupan berkeluarga.

“Ketika cinta dipahami sebagai bagian dari ibadah, maka hubungan yang dibangun tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan sesaat, tetapi juga memiliki tujuan yang lebih luhur,” ungkapnya.

Dipandu moderator Meydiana, diskusi berlangsung interaktif. Berbagai pertanyaan mengemuka, mulai dari persoalan hubungan sebelum menikah, komunikasi dalam keluarga, hingga tantangan menjaga komitmen di tengah derasnya pengaruh media digital.

Suasana perpustakaan yang biasanya tenang berubah menjadi ruang perjumpaan gagasan dan pengalaman. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga terlibat dalam percakapan yang membuka perspektif baru tentang makna cinta yang sesungguhnya.

Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa cinta bukanlah perjalanan yang selalu mudah dan bebas dari ujian. Cinta yang matang adalah cinta yang mampu bertahan dalam proses, saling menguatkan dalam keterbatasan, serta menjadikan ridha Allah SWT sebagai tujuan utama. Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah hubungan tidak diukur dari banyaknya pujian manusia, melainkan dari seberapa besar keberkahan yang lahir darinya. (Syaf)

Digitalisasi Data Masjid, Kemenag Banyuwangi Siapkan Album Masjid Berbasis Web

BANYUWANGI, (Bimas Islam)  Dalam upaya memperkuat digitalisasi layanan keagamaan dan pendataan rumah ibadah, Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar zoom meeting penyusunan album masjid digital pada Jumat (29/5/2026). Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari program pengumpulan, validasi, dan pengelolaan data masjid secara terintegrasi berbasis digital.

Kegiatan virtual tersebut diikuti oleh seluruh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan serta para admin Sistem Informasi Masjid (SIMAS) se-Kabupaten Banyuwangi. Pertemuan berlangsung tertib dan lancar dengan fokus pembahasan pada mekanisme penginputan data, sinkronisasi informasi masjid, hingga proses validasi data yang akan digunakan dalam penyusunan album masjid digital tingkat kabupaten maupun provinsi.

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi dalam arahannya menyampaikan bahwa penyusunan album masjid digital tidak hanya menjadi kebutuhan administratif pada tingkat provinsi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam penguatan sistem informasi keagamaan yang transparan, modern, dan mudah diakses masyarakat.

Menurutnya, keberadaan data masjid yang tersusun secara digital akan memberikan manfaat besar dalam mendukung pelayanan publik di bidang keagamaan, khususnya terkait informasi profil masjid, kondisi sarana prasarana, kepengurusan, hingga potensi pemberdayaan umat yang dimiliki masing-masing masjid.

“Selain untuk kebutuhan album masjid tingkat provinsi, data masjid di Kabupaten Banyuwangi juga dapat diakses melalui website https://masjid.bimaisbanyuwangi.com sehingga dapat menjadi sumber informasi yang terbuka bagi masyarakat luas, di samping juga tersedia dalam aplikasi SIMAS,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa digitalisasi data masjid merupakan bagian dari transformasi layanan

Kementerian Agama dalam menghadirkan tata kelola informasi yang lebih efektif, akurat, dan berkelanjutan. Dengan adanya sistem berbasis digital tersebut, proses pembaruan data diharapkan dapat dilakukan secara berkala dan lebih mudah dipantau oleh seluruh pemangku kepentingan.

Dalam pelaksanaannya, zoom meeting berlangsung interaktif. Para peserta aktif mengikuti sesi diskusi dan dialog, terutama terkait berbagai kendala teknis di lapangan, mekanisme pembaruan data, hingga strategi menjaga akurasi dan kesesuaian informasi yang tercantum dalam sistem digital masjid.

Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi berharap penyusunan album masjid digital dapat berjalan optimal dan menjadi bagian dari penguatan layanan informasi keagamaan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus mendukung keterbukaan data keagamaan bagi masyarakat. (syaf)

Polresta Banyuwangi Distribusikan 21 Sapi dan 24 Kambing Kurban pada Idul Adha 2026

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi, Polresta Banyuwangi menyalurkan puluhan hewan kurban kepada masyarakat di berbagai wilayah Kabupaten Banyuwangi, Rabu (27/05/2026).

Sebanyak 45 hewan kurban yang terdiri atas 21 ekor sapi dan 24 ekor kambing didistribusikan kepada pondok pesantren, masjid, tokoh agama, serta organisasi ekstra kampus (ormek) mahasiswa.

Penyerahan hewan kurban dilakukan secara simbolis di halaman Mapolresta Banyuwangi dan dipimpin langsung oleh Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan.


Dalam sambutannya, Kapolresta Banyuwangi menyampaikan bahwa momentum Idul Adha menjadi pengingat penting mengenai nilai keikhlasan, kepedulian sosial, serta semangat berbagi kepada sesama.

“Ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga bagaimana menanamkan nilai keikhlasan, kepedulian, dan semangat berbagi kepada sesama,” ujar Kapolresta Banyuwangi.

Ia menambahkan, penyaluran hewan kurban tersebut merupakan bentuk rasa syukur jajaran kepolisian sekaligus upaya mempererat hubungan antara Polri dengan masyarakat Banyuwangi.

Kapolresta berharap bantuan hewan kurban tersebut dapat memberikan manfaat bagi para santri, jamaah masjid, tokoh agama, hingga kalangan mahasiswa penerima.

Selain sebagai agenda sosial keagamaan, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu memperkuat sinergitas antara kepolisian, ulama, tokoh masyarakat, dan generasi muda dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Kabupaten Banyuwangi tetap kondusif.

Perwakilan penerima hewan kurban turut mengapresiasi langkah Polresta Banyuwangi yang dinilai tidak hanya fokus pada penegakan hukum, tetapi juga aktif hadir melalui berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Usai prosesi penyerahan simbolis, armada pengangkut hewan kurban langsung diberangkatkan menuju sejumlah titik penerima di berbagai kecamatan di Kabupaten Banyuwangi.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger