Pages

Tampilkan postingan dengan label Warta Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta Berita. Tampilkan semua postingan

Ratusan Ustaz dan Ustazah Banyuwangi Ikuti Training Al-Qur'an Metode Bil Qolam

BANYUWANGI – Sebanyak ratusan ustaz dan ustazah dari berbagai lembaga pendidikan Al-Qur'an di Kabupaten Banyuwangi mengikuti Training Al-Qur'an Metode Bil Qolam yang diselenggarakan di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Minggu–Senin (21–22/6/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi para pendidik Al-Qur'an dalam menerapkan metode pembelajaran yang sistematis, efektif, dan mudah dipraktikkan.


Pelatihan menghadirkan Wakil Direktur Bil Qolam Pusat Singosari Malang, Ustadz Abdul Qodir, sebagai pemateri utama. Para peserta berasal dari guru Madrasah Diniyah, pengasuh dan pengajar pondok pesantren, guru Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ), guru privat Al-Qur'an, hingga masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan pendidikan Al-Qur'an.

Ketua Panitia, H. Moh. Reza Fahlevi Bauzir, S.H., M.M., mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar memperkuat kualitas sumber daya manusia di bidang pendidikan Al-Qur'an sekaligus memperluas penerapan Metode Bil Qolam di Banyuwangi.

"Metode Bil Qolam merupakan metode yang praktis, fleksibel, dan terbuka terhadap pengembangan sesuai karakter lembaga maupun peserta didik. Melalui pelatihan ini kami berharap para guru memiliki standar pembelajaran yang baik sehingga mampu melahirkan generasi Qurani yang membaca Al-Qur'an secara benar, fasih, dan bertartil," ujarnya.

Metode Bil Qolam merupakan metode pembelajaran membaca Al-Qur'an yang dikembangkan oleh KH. Muhammad Basori Alwi Murtadlo, pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Ilmu Al-Qur'an (PIQ) Singosari, Malang. Metode ini dirancang agar dapat diterapkan oleh seluruh kalangan, mulai dari anak usia dini hingga orang dewasa, dengan pendekatan bertahap yang menekankan penguasaan makharijul huruf, tajwid, tartil, serta penggunaan empat nada khas PIQ Singosari.

Selama dua hari pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai lima pilar Bil Qolam, pembelajaran jilid 1 hingga jilid 4, praktik pembelajaran Juz Amma dan Al-Qur'an, serta berbagai perangkat administrasi pembelajaran, seperti jurnal mengajar, daftar hadir, sistem evaluasi, hingga buku prestasi santri.

Dalam paparannya, Ustadz Abdul Qodir menegaskan bahwa keberhasilan penerapan Metode Bil Qolam sangat bergantung pada kualitas pendidik serta konsistensi dalam menjalankan setiap tahapan pembelajaran.

"Target pembelajaran Bil Qolam adalah dalam satu tahun santri mampu menyelesaikan empat jilid dan Juz Amma. Kunci utamanya terletak pada konsistensi guru dalam menerapkan lima pilar Bil Qolam dan melakukan evaluasi secara berkelanjutan," jelasnya.

Pelatihan juga diwarnai sesi diskusi interaktif. Salah seorang peserta, Ustadzah Faridah dari TPQ Hidayatul Muttaqin Sragi, Kecamatan Songgon, membagikan pengalaman menerapkan Metode Bil Qolam selama lebih dari lima tahun. Ia mengungkapkan bahwa tantangan yang masih dihadapi adalah belum terbentuknya kebiasaan sebagian santri untuk mengulang pelajaran di rumah.

Menanggapi hal tersebut, Ustadz Abdul Qodir menjelaskan bahwa karakter dunia anak yang identik dengan bermain menuntut guru untuk mengoptimalkan proses pembelajaran selama berada di kelas.

"Ketika di rumah, anak-anak tentu ingin bermain bersama teman-temannya. Oleh karena itu, penguatan lima pilar Bil Qolam saat proses pembelajaran di kelas menjadi faktor penting dalam mencapai keberhasilan belajar," katanya.

Pengalaman serupa juga disampaikan Ustadz Maifuri, S.Pd., yang telah menerapkan Metode Bil Qolam di Madrasah Diniyah SDN Model Banyuwangi, MTs At-Taufik Sumberejo, serta kelas Al-Qur'an di kawasan Kampung Melayu Banyuwangi. Menurutnya, metode tersebut mampu membentuk santri yang memiliki kemampuan menjadi pendamping atau asisten guru bagi teman-temannya.

"Ada beberapa santri yang sudah mampu membantu mendampingi teman-temannya sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif. Namun demikian, tetap ada santri yang membutuhkan pendampingan khusus sesuai tingkat kemampuannya," ungkapnya.

Sementara itu, peserta lainnya, Ustadz Muhiburrohman, Lc., dari MI Darussalam Kalipuro dan Ustadz Syaifudin dari Pondok Pesantren Ahsanul Muhsinin Panderejo, mengaku memperoleh banyak manfaat dari pelatihan tersebut. Mereka menilai Metode Bil Qolam menawarkan pendekatan pembelajaran yang menarik, terstruktur, dan efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an para santri.

Metode Bil Qolam lahir dari pengalaman panjang KH. Muhammad Basori Alwi Murtadlo dalam mengembangkan pendidikan Al-Qur'an di Indonesia. Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh nasional di bidang tilawah Al-Qur'an, pendiri Jam'iyyatul Qurra' wal Huffazh, penggagas Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat nasional maupun internasional, serta dipercaya menjadi dewan hakim MTQ di berbagai negara, termasuk Brunei Darussalam dan Mesir.

Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan mampu mengimplementasikan Metode Bil Qolam secara optimal di lembaga masing-masing, sehingga kualitas pembelajaran Al-Qur'an semakin meningkat dan mampu melahirkan generasi yang mencintai, memahami, serta mengamalkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.

LKKNU Banyuwangi Perkuat Sinergi Layanan Keluarga, Program Isbat Nikah Terpadu Siap Sasar Ratusan Pasangan

BANYUWANGI – Upaya memberikan kepastian hukum bagi keluarga terus diperkuat oleh Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) PCNU Banyuwangi. Melalui koordinasi lanjutan bersama BAZNAS Banyuwangi, Kementerian Agama, dan Pengadilan Agama Banyuwangi, program Isbat Nikah Terpadu mulai dimatangkan untuk menjangkau ratusan pasangan yang pernikahannya belum tercatat secara resmi.

Pembahasan tersebut berlangsung dalam rapat koordinasi di Ruang Rapat BAZNAS Banyuwangi, Jumat (19/6/2026), sebagai tindak lanjut dari kerja sama antar-lembaga yang telah disepakati beberapa hari sebelumnya.

Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua BAZNAS Banyuwangi Dwiyanto beserta jajaran pimpinan, Ketua LKKNU PCNU Banyuwangi Dalilatus Saadah, Kepala KUA Cluring Gufron Mustofa yang mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi sekaligus Ketua APRI Banyuwangi, Sekretaris Pengadilan Agama Banyuwangi, Dewan Pakar LKKNU Syafaat, serta pengurus LKKNU lainnya.

Ketua BAZNAS Banyuwangi, Dwiyanto, menyampaikan komitmen lembaganya untuk mendukung penuh pelaksanaan program tersebut, khususnya bagi masyarakat yang mengalami keterbatasan ekonomi.

Menurutnya, BAZNAS siap membantu pembiayaan proses isbat nikah bagi pasangan yang memenuhi kriteria mustahik sehingga tidak ada lagi kendala biaya dalam memperoleh legalitas perkawinan.

“Program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. BAZNAS siap mengambil peran agar warga kurang mampu tetap dapat mengakses layanan isbat nikah dan memperoleh dokumen hukum yang sah,” ujarnya.

Ketua LKKNU PCNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, menjelaskan bahwa konsep Isbat Nikah Terpadu dirancang untuk menghadirkan layanan yang sederhana dan terintegrasi. Dalam satu rangkaian pelayanan, peserta tidak hanya memperoleh penetapan isbat nikah dari Pengadilan Agama, tetapi juga langsung mendapatkan buku nikah serta pembaruan dokumen kependudukan.

“Melalui pola layanan terpadu, masyarakat tidak perlu berpindah-pindah mengurus dokumen. Seluruh proses dilakukan secara terkoordinasi sehingga lebih efektif dan memberikan kepastian hukum bagi keluarga,” terangnya.

Dari hasil pendataan sementara Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, tercatat sekitar 190 pasangan yang pernikahannya belum tercatat secara resmi. Data tersebut masih akan diverifikasi lebih lanjut dan berpotensi bertambah seiring proses pendataan yang terus berjalan.

Mewakili Kementerian Agama, Gufron Mustofa menegaskan dukungan penuh terhadap program tersebut. Ia menilai kegiatan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencatatan perkawinan.

“Pencatatan nikah bukan hanya persoalan administrasi, tetapi juga menyangkut perlindungan hak-hak keluarga dan anak. Karena itu kami siap bersinergi menyukseskan program ini,” katanya.

Dukungan serupa disampaikan Pengadilan Agama Banyuwangi. Selain menyiapkan mekanisme pelayanan perkara, Pengadilan Agama juga membuka peluang pelaksanaan sidang di luar gedung pada beberapa titik wilayah Banyuwangi agar akses masyarakat terhadap layanan hukum semakin mudah.

Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi, Syafaat, mengapresiasi langkah kolaboratif yang dibangun berbagai pihak. Menurutnya, program tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat yang selama ini belum memiliki kepastian hukum atas status perkawinannya.

Pada tahap awal, LKKNU Banyuwangi memfokuskan layanan bagi sekitar 190 pasangan yang telah masuk dalam data awal. Namun, pendaftaran akan terus dibuka agar masyarakat lain yang memiliki kondisi serupa dapat ikut memperoleh manfaat program tersebut.

Dalilatus Saadah berharap dukungan tidak hanya datang dari lembaga yang terlibat langsung, tetapi juga dari seluruh elemen masyarakat, termasuk badan otonom dan lembaga di lingkungan PCNU Banyuwangi, pemerintah desa, kelurahan, kecamatan, hingga jajaran KUA di seluruh Banyuwangi.

“Ini adalah kerja bersama untuk memastikan masyarakat mendapatkan hak-haknya secara utuh. Dengan kolaborasi yang kuat, kami optimistis semakin banyak keluarga yang memperoleh legalitas perkawinan dan dokumen kependudukan yang lengkap,” pungkasnya. (HKL)

Rais Syuriah PCNU Banyuwangi Optimistis Lahir Kader-Kader NU Progresif melalui Kaderisasi Berkelanjutan



BANYUWANGI – Semangat kaderisasi yang terus digelorakan PCNU Banyuwangi mendapat perhatian dan dukungan penuh dari jajaran Syuriah. Dalam suasana ramah tamah bersama para kiai, pengurus PCNU Banyuwangi, dan MWCNU Singojuruh menjelang pelaksanaan Pendidikan Dasar-Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PDPKPNU), Rais Syuriah PCNU Banyuwangi KH. Fahrudin Manan tampak penuh optimisme melihat perkembangan kaderisasi yang semakin menggembirakan.

Pada kesempatan tersebut, KH. Fahrudin Manan didampingi jajaran Syuriah PCNU Banyuwangi, di antaranya Katib Syuriah KH. Qosim dan Wakil Katib Syuriah Gus Fikru, yang turut memberikan dukungan terhadap penguatan kaderisasi sebagai pilar utama keberlangsungan organisasi.

Menurut KH. Fahrudin Manan, pelaksanaan kaderisasi yang konsisten mulai menunjukkan hasil dengan munculnya kader-kader NU yang progresif, memiliki pemahaman ke-NU-an yang baik, serta siap menggerakkan organisasi di berbagai tingkatan.

“Alhamdulillah, amanat konferensi dan musyawarah kerja terkait kaderisasi mulai terlaksana dengan baik. Kita melihat semangat generasi muda NU untuk belajar dan berkhidmah semakin besar. Ini modal penting bagi masa depan Nahdlatul Ulama,” ungkapnya.

PDPKPNU yang dilaksanakan pada 19–21 Juni 2026 di Pondok Pesantren Nurul Qur’an Singolatren, Singojuruh, merupakan Angkatan ke-48 yang diselenggarakan PCNU Banyuwangi. Sebanyak 92 peserta tercatat mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias tinggi.

KH. Fahrudin Manan bersama Ketua PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi juga menegaskan komitmen untuk memperluas gerakan kaderisasi ke seluruh wilayah Banyuwangi. Salah satu langkah yang disepakati adalah penyelenggaraan PDPKPNU secara rutin setiap bulan dengan sistem bergilir di masing-masing MWCNU.

Menurutnya, seluruh MWCNU se-Kabupaten Banyuwangi wajib menyelenggarakan PDPKPNU minimal satu kali selama masa khidmat kepengurusan. Kewajiban tersebut merupakan amanat organisasi sekaligus kebutuhan strategis untuk mencetak kader yang memahami nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah serta mampu menjaga keberlangsungan jam’iyah.

“Kaderisasi adalah jantung organisasi. Tanpa kaderisasi yang berjalan baik, organisasi akan kehilangan energi dan arah perjuangannya. Karena itu, kita harus terus menciptakan kader-kader yang siap melanjutkan perjuangan para muassis NU,” tegasnya.

PCNU Banyuwangi menargetkan dalam satu tahun ke depan dapat melahirkan sedikitnya 1.000 kader baru melalui berbagai program kaderisasi yang terstruktur. Target tersebut diyakini realistis mengingat tingginya antusiasme warga Nahdliyin untuk mengikuti proses pengkaderan.

Dengan dukungan jajaran Syuriah, Tanfidziyah, serta seluruh MWCNU, kaderisasi di Banyuwangi diharapkan menjadi fondasi lahirnya generasi kader NU yang kokoh dalam pemikiran, kuat dalam organisasi, dan siap mengabdi untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan negara. (HKL)

LKKNU Perkuat Sinergi Antar-Lembaga, Hadirkan Layanan Isbat Nikah Terpadu di Banyuwangi

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Komitmen menghadirkan pelayanan yang lebih mudah bagi masyarakat diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Banyuwangi dengan Pengadilan Agama Banyuwangi, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, BAZNAS Kabupaten Banyuwangi, dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Banyuwangi. Penandatanganan kerja sama tersebut berlangsung di Hedon Cafe and Resto, Rabu (17/6/2026).

Kesepakatan ini menjadi dasar pelaksanaan Program Isbat Nikah Terpadu, sebuah inovasi pelayanan yang memungkinkan masyarakat memperoleh legalitas perkawinan dan penyelesaian administrasi kependudukan dalam satu rangkaian proses.


Ketua LKKNU Kabupaten Banyuwangi, Dalilatus Saadah, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk memberikan kemudahan kepada pasangan suami istri yang selama ini belum memiliki buku nikah atau legalitas perkawinan.

"Melalui program ini, peserta akan menjalani sidang isbat nikah, kemudian langsung memperoleh pencatatan perkawinan berdasarkan putusan pengadilan, sekaligus mendapatkan pembaruan dokumen kependudukan. Semua layanan dilakukan secara terpadu dalam satu hari sehingga masyarakat tidak perlu berpindah-pindah mengurus administrasi," ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, Pengadilan Agama Banyuwangi akan melaksanakan sidang isbat nikah. Setelah putusan berkekuatan hukum, Kantor Kementerian Agama menerbitkan buku nikah, sedangkan Dispendukcapil melakukan perubahan data administrasi kependudukan, termasuk Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk sesuai status perkawinan terbaru.

Salah satu keunggulan program ini adalah adanya dukungan pembiayaan dari BAZNAS Kabupaten Banyuwangi bagi masyarakat kurang mampu. Bantuan tersebut diharapkan mampu menghilangkan hambatan biaya sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat memperoleh kepastian hukum atas perkawinannya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas instansi menjadi bentuk pelayanan publik yang terintegrasi dan berpihak kepada masyarakat.


Ketua Pengadilan Agama Banyuwangi, Dr. Hj. Rizkiyah Hasanah, S.Ag., M.Hum., menambahkan bahwa program ini tidak hanya memberikan kepastian hukum bagi pasangan suami istri, tetapi juga berdampak pada perlindungan hak-hak perempuan dan anak melalui tertib administrasi perkawinan.

Sementara itu, Ketua BAZNAS Kabupaten Banyuwangi, Drs. H. Dwi Yanto, M.AP., menegaskan kesiapan lembaganya untuk mendukung pembiayaan peserta yang berasal dari keluarga mustahik agar dapat mengikuti seluruh tahapan isbat nikah tanpa kendala biaya.

Di sisi lain, Pelaksana Tugas Kepala Dispendukcapil Kabupaten Banyuwangi, H. Saifudin, S.H., M.M., memastikan pihaknya siap memberikan layanan perubahan dokumen administrasi kependudukan secara cepat setelah proses isbat nikah selesai, sehingga masyarakat dapat langsung memperoleh dokumen yang sah sesuai ketentuan.


Melalui sinergi yang dibangun oleh LKKNU bersama empat instansi tersebut, diharapkan Program Isbat Nikah Terpadu mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan hukum, mewujudkan tertib administrasi kependudukan, serta memberikan perlindungan hukum yang lebih baik bagi keluarga di Kabupaten Banyuwangi.

BAZNAS dan LKKNU Banyuwangi Percepat Program Isbat Nikah: Zakat Harus Hadir Menjawab Kebutuhan Umat

BANYUWANGI – Upaya memberikan kepastian hukum bagi pasangan suami istri dari keluarga kurang mampu terus diperkuat. Menindaklanjuti kerja sama antara Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Banyuwangi, Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) akan segera melaksanakan program Isbat Nikah Terpadu bagi masyarakat yang belum memiliki buku nikah.

Program tersebut menyasar pasangan yang telah menikah secara agama, namun belum tercatat secara resmi oleh negara. Kondisi ini selama ini menjadi kendala bagi masyarakat dalam mengurus berbagai dokumen kependudukan maupun mengakses layanan publik.

Ketua LKKNU PCNU Banyuwangi, Dalilatus Sa'adah, S.H.I., menjelaskan bahwa legalitas perkawinan merupakan hak dasar setiap keluarga. Karena itu, LKKNU akan melakukan pendataan sekaligus pendampingan kepada calon peserta agar proses isbat nikah dapat berjalan lebih mudah dan tertib.

"Kami ingin memastikan masyarakat yang selama ini terkendala biaya maupun administrasi dapat memperoleh kepastian hukum atas pernikahannya. Setelah isbat nikah selesai, mereka juga akan didampingi hingga mendapatkan dokumen kependudukan yang dibutuhkan," ujarnya.

Ruang lingkup kerja sama antara PCNU Banyuwangi dan BAZNAS memang mencakup pendataan pasangan yang belum memiliki buku nikah, fasilitasi pelaksanaan isbat nikah, pendampingan administrasi kependudukan, hingga pembiayaan bagi keluarga miskin dan mustahik.


Sementara itu, Ketua BAZNAS Kabupaten Banyuwangi, Drs. H. Dwi Yanto, M.AP., menegaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari komitmen BAZNAS dalam menghadirkan manfaat zakat yang menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat.

"Zakat tidak hanya diwujudkan dalam bentuk bantuan konsumtif, tetapi juga harus mampu menyelesaikan persoalan sosial yang dihadapi masyarakat. Melalui program isbat nikah ini, kami ingin membantu keluarga kurang mampu memperoleh kepastian hukum sehingga mereka dapat mengakses hak-hak sipilnya dengan lebih mudah."

Menurut Dwi Yanto, kolaborasi dengan PCNU Banyuwangi menjadi langkah strategis karena jaringan Nahdlatul Ulama hingga tingkat desa dinilai mampu membantu proses pendataan dan pendampingan masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

"Kolaborasi ini akan membuat penyaluran dana zakat lebih tepat sasaran. Harapan kami, semakin banyak keluarga yang memperoleh manfaat, bukan hanya dari sisi bantuan biaya, tetapi juga perlindungan hukum dan peningkatan kesejahteraan keluarga," tambahnya.

Program Isbat Nikah Terpadu ini diharapkan segera direalisasikan setelah proses pendataan calon peserta selesai. Selain memberikan legalitas perkawinan, program tersebut juga membuka akses masyarakat terhadap berbagai layanan administrasi, seperti penerbitan buku nikah, kartu keluarga, akta kelahiran anak, hingga pelayanan publik lainnya.

Sinergi antara LKKNU PCNU Banyuwangi dan BAZNAS Kabupaten Banyuwangi menjadi wujud nyata kolaborasi dalam membangun keluarga yang lebih kuat, terlindungi secara hukum, dan sejahtera melalui pemanfaatan dana zakat yang produktif dan berdampak luas bagi masyarakat.

26 Santri Banyuwangi Berebut Kesempatan Kuliah di Al-Azhar Mesir Melalui Jalur Beasiswa PBNU

BANYUWANGI – Impian menimba ilmu di Universitas Al-Azhar Mesir terus membakar semangat para santri Banyuwangi. Hingga Kamis (18/6/2026), sebanyak 26 santri tercatat telah mengajukan surat rekomendasi kepada PCNU Banyuwangi untuk mengikuti seleksi Beasiswa Al-Azhar Mesir jalur PBNU tahun 2026.

Jumlah tersebut meningkat setelah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperpanjang masa pendaftaran yang semula berakhir pada 17 Juni menjadi 21 Juni 2026. Keputusan itu diambil karena tingginya minat santri dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengikuti program beasiswa tersebut.

Salah satu santri yang memanfaatkan perpanjangan waktu tersebut adalah Abrar Khairunnata, santri asal Desa Pendarungan, Kecamatan Kabat. Bersama ibundanya, Abrar datang ke Kantor PCNU Banyuwangi untuk mengurus surat rekomendasi yang menjadi salah satu syarat pendaftaran.

Bagi Abrar, kesempatan tersebut menjadi secercah harapan baru. Setelah sebelumnya belum memperoleh kesempatan melalui program beasiswa ke Maroko, kini ia bertekad melanjutkan perjuangan dengan mengikuti seleksi menuju Al-Azhar Mesir, salah satu perguruan tinggi Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia.

Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi, Haikal Kafili, S.H., S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa tingginya minat santri Banyuwangi menunjukkan semakin kuatnya kesadaran generasi muda pesantren terhadap pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan perluasan jaringan pendidikan internasional.

"Ini bukan sekadar tentang melanjutkan studi ke luar negeri. Lebih dari itu, ini adalah gambaran bahwa semangat belajar para santri Banyuwangi terus tumbuh. Mereka memiliki cita-cita besar untuk memperdalam ilmu dan membawa manfaat yang lebih luas bagi umat dan bangsa," ujarnya.

Menurut Haikal, PCNU Banyuwangi memandang antusiasme tersebut sebagai modal penting dalam menyiapkan generasi penerus NU yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar tradisi keilmuan pesantren.

Ia menambahkan bahwa pihaknya berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada para santri yang membutuhkan rekomendasi. Dukungan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar organisasi dalam membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi kader-kader muda Nahdlatul Ulama.

Meski peluang yang tersedia cukup terbatas, Haikal meminta para peserta untuk tetap optimistis. Tahun ini PBNU hanya membuka kuota sebanyak 30 penerima beasiswa dari seluruh Indonesia, terdiri atas 15 mahasiswa pada fakultas keagamaan dan 15 mahasiswa pada fakultas non-keagamaan.

"Keterbatasan kuota jangan sampai memadamkan semangat. Setiap perjuangan memiliki nilai. Jika hari ini belum berhasil, pengalaman yang diperoleh akan menjadi bekal untuk langkah berikutnya. Yang terpenting adalah keberanian untuk mencoba dan kesungguhan dalam berikhtiar," katanya.

Haikal juga mengingatkan bahwa sejarah Nahdlatul Ulama mengajarkan pentingnya ketekunan dalam memperjuangkan cita-cita. Berbagai pencapaian besar yang dirasakan umat saat ini lahir dari proses panjang yang dijalani para ulama dan pendiri organisasi dengan penuh kesabaran dan pengorbanan.

Melalui semangat yang ditunjukkan para santri Banyuwangi, PCNU berharap akan lahir lebih banyak kader ulama dan intelektual yang mampu mengharumkan nama daerah, bangsa, serta Nahdlatul Ulama di tingkat internasional.(HKL)

"Semoga setiap langkah yang ditempuh para santri menjadi bagian dari ikhtiar mencari ilmu yang berkah dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat. Kami mendoakan yang terbaik untuk seluruh peserta seleksi," pungkasnya.

LKKNU Banyuwangi Jalin Sinergi dengan Dinas Kesehatan, Perkuat Ketahanan Keluarga dan Kesehatan Masyarakat

BANYUWANGI – Upaya membangun keluarga sehat dan maslahah terus diperkuat melalui kolaborasi lintas lembaga. Hal tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) PCNU Banyuwangi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi yang berlangsung di Hedon Cafe and Resto Banyuwangi, Rabu (17/6/2026).


Kegiatan yang dirangkaikan dengan pengukuhan pengurus LKKNU PCNU Banyuwangi itu dihadiri jajaran pengurus PCNU dan LKKNU Banyuwangi, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, perwakilan Pengadilan Agama, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB), Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), serta Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Banyuwangi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, Amir Hidayat, yang berhalangan hadir, diwakili Sekretaris Dinas Kesehatan Firman Sanyoto. Dalam sambutannya, Firman menegaskan bahwa kesehatan merupakan anugerah yang harus dijaga bersama sebagai fondasi utama kehidupan keluarga dan masyarakat.

“Menjaga kesehatan bukan hanya tanggung jawab tenaga medis, tetapi menjadi kewajiban seluruh elemen masyarakat. Keluarga yang sehat akan melahirkan generasi yang kuat, produktif, dan berdaya saing,” ujarnya.

Firman juga mengapresiasi langkah LKKNU Banyuwangi yang mengambil peran strategis dalam pendampingan keluarga melalui berbagai program kemaslahatan. Menurutnya, sinergi antara organisasi kemasyarakatan dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat.

Melalui kerja sama tersebut, LKKNU dan Dinas Kesehatan akan berkolaborasi dalam berbagai program kesehatan keluarga, pencegahan stunting, kesehatan ibu dan anak, kesehatan reproduksi, serta penguatan keluarga maslahah. Kerja sama ini juga mencakup edukasi pola hidup bersih dan sehat, pendampingan keluarga berisiko stunting, pembinaan kesehatan remaja dan lansia, hingga penguatan kesehatan mental keluarga.

Ketua LKKNU PCNU Banyuwangi, Dalilatus Sa’adah, menyampaikan bahwa keluarga merupakan pondasi utama dalam membangun masyarakat yang sejahtera. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga harus dilakukan secara terencana dan melibatkan berbagai pihak.

“LKKNU hadir untuk mendampingi keluarga dari berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga ketahanan sosial. Melalui kolaborasi ini, kami berharap program-program kemaslahatan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas,” ungkapnya.

Kegiatan berlangsung penuh keakraban dan semangat kebersamaan. Kehadiran berbagai instansi dan lembaga mitra menunjukkan komitmen bersama dalam mewujudkan keluarga Banyuwangi yang sehat, tangguh, dan berdaya guna sebagai fondasi pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Kemenag Banyuwangi dan LKKNU Tandatangani MoA, Perkuat Ketahanan Keluarga dan Cegah Perkawinan Anak


Banyuwangi
 (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi bersama Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) PCNU Banyuwangi menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) tentang sinergi program keluarga maslahah, bimbingan perkawinan, penguatan ketahanan keluarga, pencegahan perkawinan anak, isbat nikah terpadu, dan pelayanan keagamaan bagi masyarakat. Penandatanganan MoA tersebut dilaksanakan di Hedon Cafe Banyuwangi, Rabu (17/6/2026).

MoA ditandatangani oleh Ketua LKKNU PCNU Banyuwangi, Dalilatus Sa’adah, dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat. Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan keluarga berbasis nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah sekaligus menjawab berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa tantangan keluarga saat ini semakin kompleks. Salah satu yang menjadi perhatian adalah derasnya arus informasi di media sosial yang dipengaruhi algoritma digital.

“Saat ini algoritma media sosial sangat masif. Yang muncul bukan hanya konten-konten positif, tetapi tidak jarang juga konten negatif yang dapat memengaruhi moral dan pola pikir remaja. Karena itu diperlukan penguatan keluarga dan pendidikan nilai-nilai keagamaan agar generasi muda memiliki filter yang kuat dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi,” ujarnya.

Menurut Chaironi, LKKNU memiliki posisi strategis sebagai mitra pemerintah dalam membangun ketahanan keluarga dan melakukan edukasi kepada masyarakat. Melalui jaringan yang dimiliki hingga tingkat akar rumput, LKKNU diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam membina keluarga dan mencegah berbagai persoalan sosial.

Ia juga menyoroti masih tingginya angka perceraian dan perkawinan anak di Banyuwangi. Kondisi tersebut membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, organisasi keagamaan, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen bangsa.

“LKKNU menjadi salah satu organisasi yang dapat membantu mengurangi persoalan tersebut. Kita berharap melalui program-program pendampingan keluarga, bimbingan perkawinan, edukasi keluarga sakinah, dan pencegahan perkawinan anak, angka perceraian maupun perkawinan anak di Banyuwangi dapat terus ditekan,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua LKKNU Banyuwangi menyampaikan bahwa kerja sama ini akan menjadi landasan pelaksanaan berbagai program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Program-program tersebut meliputi penguatan keluarga maslahah, konseling keluarga, bimbingan perkawinan bagi calon pengantin, pendampingan pascanikah, pencegahan perkawinan anak, pembinaan keluarga sakinah, penyuluhan keagamaan, hingga pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.


Dalam MoA tersebut juga ditegaskan bahwa salah satu tujuan kerja sama adalah mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, meningkatkan kualitas kehidupan keluarga muslim, menurunkan angka perceraian dan perkawinan anak, serta memperkuat pelayanan keagamaan kepada masyarakat.

Melalui sinergi antara Kementerian Agama dan LKKNU Banyuwangi ini, diharapkan lahir berbagai program nyata yang mampu memperkuat fondasi keluarga sebagai benteng utama dalam menghadapi tantangan zaman, sehingga tercipta masyarakat Banyuwangi yang lebih tangguh, harmonis, dan berdaya saing. (dll)

Sambut Tahun Baru Hijriah, PCNU Banyuwangi Gelar Sholawatan dan Musikalitas Puisi Sembari Menanti Hasil Hilal


Banyuwangi – Menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, PCNU Banyuwangi menghadirkan cara berbeda melalui kegiatan sholawatan, dzikir, dan musikalitas puisi yang digelar di halaman Kantor PCNU Banyuwangi, Senin malam (15/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang spiritual sekaligus kultural sembari menanti informasi resmi hasil rukyatul hilal awal Muharram dari PBNU.

Sejak pukul 18.00 WIB, suasana di depan kantor PCNU Banyuwangi dipenuhi lantunan tahlil, doa, dan sholawat yang dibawakan secara khidmat dengan iringan musik religi dari al-Faruq Entertainment, serta dukungan tata suara dari Sultan Production Muncar. Kegiatan itu menarik perhatian masyarakat yang melintas untuk turut menyimak syiar keagamaan bernuansa seni tersebut.

Tidak sekadar seremoni menyambut pergantian tahun Hijriah, acara dikemas sebagai media pendekatan dakwah yang lebih akrab dengan masyarakat. Spirit religius dipadukan dengan ekspresi seni melalui pembacaan puisi dan lagu-lagu Islami yang dibawakan para pengurus NU.

Sekretaris PCNU Banyuwangi, H. Bisri Musthofa, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan syiar Islam yang menenangkan sekaligus mendekatkan masyarakat kepada tradisi keagamaan Nahdlatul Ulama.

“Kami ingin malam pergantian tahun Hijriah ini diisi dengan doa, sholawat, sekaligus ekspresi budaya Islam. Ada nilai syiar, hiburan yang mendidik, juga edukasi kepada masyarakat tentang proses penetapan awal bulan Hijriah,” ujarnya.

Suasana semakin khidmat ketika sekitar pukul 20.00 WIB diumumkan hasil rukyatul hilal dari PBNU. Di sela kegiatan, Haikal Kafili, Kepala Staf Kantor sekaligus Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi, menyampaikan keputusan terkait awal bulan Muharram kepada para peserta.

Ia menyebutkan bahwa berdasarkan laporan rukyat di berbagai titik, hilal belum berhasil terlihat sehingga bulan Dzulhijjah disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal).

“Karena hilal tidak tampak, maka dilakukan istikmal. Dengan demikian, 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada hari Rabu, 17 Juni 2026,” jelasnya di hadapan jamaah dan masyarakat yang hadir.

Usai pengumuman, acara berlanjut dengan pembacaan musikalitas puisi oleh sejumlah fungsionaris PCNU Banyuwangi. Di antaranya tampil H. Guntur Al Badri, H. Bisri Musthofa, serta pengurus lainnya yang membacakan puisi bertema Muharram, refleksi perjuangan, hingga renungan tentang pengabdian dalam berkhidmat di NU.

Sebagian besar puisi yang dibacakan memuat pesan introspeksi dan otokritik organisasi, mengajak warga NU untuk terus menjaga semangat pelayanan, persatuan, dan kebermanfaatan sosial.

Menjelang akhir acara, seluruh peserta larut dalam suasana kebersamaan saat Sholawat Badar dan Yalal Wathon dikumandangkan bersama. Tepat pukul 23.00 WIB, kegiatan ditutup dengan doa bersama, meninggalkan kesan bahwa malam penantian hilal dapat menjadi ruang syiar yang hangat, damai, dan sarat makna.

Ribuan Warga Padati Taman Blambangan, Polresta Banyuwangi Gelar Wayang Kulit Sambut Hari Bhayangkara ke-80

 

Banyuwangi (Warta Blambangan)Malam di Taman Blambangan Banyuwangi berubah menjadi lautan manusia dan cahaya budaya. Ribuan warga dari berbagai penjuru Banyuwangi memadati alun-alun kota untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit yang digelar Polresta Banyuwangi dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80, Sabtu (13/6) malam.

Di bawah langit Banyuwangi yang teduh, denting gamelan dan suluk dalang berpadu menghadirkan suasana religius dan khidmat. Pagelaran wayang kulit dengan lakon Pandawa Mbangun Praja menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati lahir dari pengabdian, kejujuran, dan keberpihakan kepada rakyat.


Dalang Ki MPP Bayu Aji membawakan kisah Pandawa yang membangun negeri dengan penuh kebijaksanaan dan pengorbanan. Lakon ini sarat nilai moral tentang pentingnya menegakkan kebenaran, menjaga amanah, serta menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Acara tersebut dihadiri Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Wakil Bupati Mujiono, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan, Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara, jajaran Forkopimda, tokoh agama, serta tokoh masyarakat.

Kapolda Jatim: Wayang Kulit Menguatkan Semangat Polri untuk Masyarakat

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto mengatakan, pagelaran wayang kulit menjadi bagian dari rangkaian Hari Bhayangkara ke-80 sekaligus ikhtiar mempererat hubungan Polri dengan masyarakat melalui pelestarian budaya bangsa.

Menurutnya, nilai-nilai dalam lakon Pandawa Mbangun Praja sejalan dengan semangat Polri dalam memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

"Polri terus membangun dan memperbaiki diri melalui tema besar Polri untuk Masyarakat. Sosok Pandawa merupakan representasi pelindung dan pengayom masyarakat yang rela berkorban demi tegaknya kebenaran dan keadilan," ujar Nanang.

Ia menegaskan, peringatan Hari Bhayangkara bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum muhasabah bagi seluruh anggota Polri agar terus meningkatkan kualitas pelayanan dan kehadiran di tengah masyarakat.

"Seluruh anggota Polri harus senantiasa hadir di tengah masyarakat, memberikan rasa aman, mencegah berbagai bentuk kejahatan dan ketidakadilan, serta menjadi teladan dalam memberikan pelayanan yang prima," katanya.

Lebih lanjut, Nanang menyebut nilai-nilai pewayangan tersebut juga selaras dengan semangat Jogo Jawa Timur, yakni membangun sinergi antara aparat keamanan, ulama, umaro, dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keamanan serta kondusivitas daerah.

Bupati Banyuwangi: Wayang Kulit Bukan Sekadar Hiburan

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi inisiatif Polresta Banyuwangi yang menghadirkan pertunjukan budaya sebagai bagian dari peringatan Hari Bhayangkara.

Menurutnya, wayang kulit bukan hanya tontonan rakyat, melainkan media dakwah budaya yang sarat nilai moral, kebersamaan, dan semangat persatuan.

"Pagelaran budaya seperti ini penting untuk terus dilestarikan. Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, juga menjadi sarana memperkuat persatuan dan menjaga warisan budaya bangsa," ujar Ipuk.

Ia menambahkan, Banyuwangi selama ini dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai keberagaman dan kerukunan antarwarga. Karena itu, seluruh elemen masyarakat diharapkan terus menjaga harmoni yang telah terbangun dengan baik.

"Kebersamaan dan gotong royong menjadi modal penting dalam menjaga Banyuwangi tetap aman, damai, dan kondusif," tuturnya.

Budaya, Religi, dan Kebersamaan Menjadi Satu

Pagelaran wayang kulit yang berlangsung hingga larut malam itu mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Anak-anak, orang tua, hingga para santri tampak larut dalam alur cerita dan tembang-tembang Jawa yang mengandung petuah kehidupan.

Melalui kegiatan ini, Polresta Banyuwangi tidak hanya memperingati Hari Bhayangkara ke-80, tetapi juga menunjukkan komitmen untuk terus mendekatkan diri dengan masyarakat melalui pendekatan budaya yang sarat makna religi dan kebangsaan.

Di tengah derasnya arus modernisasi, malam itu Taman Blambangan menjadi saksi bahwa seni tradisi tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Wayang kulit bukan sekadar warisan leluhur, melainkan cahaya nilai yang terus menuntun kehidupan: menjaga kebenaran, merawat persaudaraan, dan menebarkan kedamaian.

Dr. Moh. Amak Burhanudin, Menanam Doa dari Pelaminan: Ketika Bibit Sawo Kecik Menjadi Sedekah Kehidupan

Kediri (Warta Blambangan) Di antara lantunan doa yang mengiringi akad dan resepsi pernikahan, terselip sebuah pesan sunyi yang kelak akan tumbuh menjulang ke langit. Bukan sekadar rangkaian bunga atau suvenir kenangan, para tamu yang menghadiri resepsi putra pertama Dr. Moh. Amak Burhanudin, Kabid PAIS Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, di Convention Hall Simpang Lima Gumul, Kediri, Sabtu (13/6/2026), membawa pulang bibit pohon sawo kecik—sebuah amanah untuk ditanam dan dirawat sebagai bagian dari ikhtiar menjaga bumi.

Di tangan para tamu, bibit-bibit kecil itu bukan hanya tanaman. Ia adalah doa yang dibungkus tanah, harapan yang dititipkan kepada musim, serta sedekah hijau yang kelak menghadirkan manfaat bagi kehidupan.


Langkah sederhana tersebut menjadi bagian dari gerakan ekoteologi yang terus digelorakan Kementerian Agama. Sebuah ikhtiar untuk menghadirkan kesadaran bahwa mencintai lingkungan sejatinya merupakan bagian dari penghambaan kepada Allah SWT. Sebab bumi bukan sekadar tempat berpijak, melainkan amanah yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan baik.

Pilihan pada pohon sawo kecik pun bukan tanpa makna. Dalam kearifan budaya Jawa, sawo kecik dikenal melalui ungkapan sarwa becik yang berarti serba baik. Pohon yang bernama ilmiah Manilkara kauki itu menjadi simbol harapan agar setiap manusia mampu menebarkan kebaikan sebagaimana pohon yang memberi keteduhan, menghasilkan buah, dan tetap berdiri teguh meski diterpa musim yang silih berganti.

Filosofi itu terasa sejalan dengan makna sebuah pernikahan. Dua insan yang dipersatukan dalam ikatan suci tidak hanya membangun rumah tangga, tetapi juga menanam benih-benih kebaikan yang diharapkan tumbuh menjadi keberkahan bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya.

Selain sarat nilai simbolik, sawo kecik juga dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan. Buahnya kaya nutrisi yang membantu menjaga kesehatan tubuh, sementara kayunya yang kuat sejak lama dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Seperti halnya amal saleh, manfaat pohon ini terus mengalir bahkan setelah waktu berlalu.

Hadir dalam acara tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Chaironi Hidayat, menyampaikan apresiasi atas langkah keluarga mempelai yang menjadikan momentum pernikahan sebagai sarana menebarkan kesadaran ekologis.

Menurutnya, gerakan menanam pohon yang saat ini terus didorong Kementerian Agama merupakan bagian dari implementasi ekoteologi yang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Bahkan, calon pengantin juga dianjurkan untuk menanam pohon sebagai simbol tanggung jawab terhadap keberlanjutan kehidupan.

“Gerakan menanam pohon ini merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran ekologis masyarakat. Saat ini Kementerian Agama terus menggalakkan program ekoteologi, termasuk mendorong calon pengantin untuk ikut menanam pohon. Harapannya, setiap peristiwa bahagia juga membawa manfaat bagi lingkungan dan generasi yang akan datang,” ujarnya.


Resepsi yang berlangsung penuh kehangatan itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan penyatuan dua keluarga. Ia menjelma majelis kebajikan yang mengajarkan bahwa cinta tidak hanya diwujudkan dalam janji setia antarmanusia, tetapi juga dalam kepedulian terhadap alam semesta.

Kelak, ketika bibit-bibit sawo kecik itu tumbuh menjadi pohon yang rindang, mengeluarkan buah, dan memberi teduh bagi siapa saja yang singgah di bawahnya, akan tersimpan sebuah kenangan indah: bahwa pada hari bahagia itu, para tamu tidak hanya pulang membawa suvenir, melainkan juga membawa sebutir amanah untuk menanam kehidupan.

Sebab setiap pohon yang tumbuh adalah tasbih yang tak bersuara, setiap daun yang berembun adalah doa yang terus dipanjatkan, dan setiap kebaikan yang ditanam dengan ikhlas akan kembali kepada penanamnya sebagai keberkahan yang tak pernah putus.

Porsadin Banyuwangi Jadi Panggung Bakat Santri, Lomba Puisi Dinilai Seniman Dewan Kesenian Belambangan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Ratusan santri Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) se-Kecamatan Banyuwangi menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam ajang Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah Takmiliyah (Porsadin) Tahun 2026 yang berlangsung di Madin At Taqwa Wustho, Kompleks MA Muhammadiyah 1 Pakis Duren Banyuwangi, Ahad (14/6/2026).

Kegiatan yang mengangkat tema “Berkhidmah Bersama Madrasah Diniyah Membangun Karakter Bangsa” tersebut menjadi sarana pembinaan sekaligus pengembangan potensi santri dalam bidang keagamaan, seni, dan keterampilan. Semangat yang diusung dalam Porsadin kali ini terangkum dalam slogan “Berprestasi dalam Iman, Unggul dalam Akhlak, Sportif dalam Kompetisi.”


Sejak pagi, para peserta tampak antusias mengikuti berbagai cabang perlombaan yang digelar panitia. Di antaranya Tahfidz Juz Amma, MTQ, Murottal wal Imla’, Adzan, Pidato Bahasa Indonesia, Pidato Bahasa Arab, hingga Lomba Puisi Islami.

Cabang puisi menjadi salah satu perlombaan yang menyita perhatian. Selain menampilkan kemampuan santri dalam mengolah kata dan rasa, lomba ini menghadirkan dua tokoh seni Banyuwangi sebagai dewan juri, yakni H. Bambang Lukito dan H. Syafaat, ASN Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang juga dikenal sebagai Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.

Kehadiran keduanya memberikan sentuhan tersendiri dalam proses penilaian. Para peserta tidak hanya diuji kemampuan membaca puisi, tetapi juga penghayatan, ekspresi, artikulasi, serta kemampuan menyampaikan nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam karya yang dibacakan.

Adapun puisi yang wajib dibawakan peserta merupakan karya para sastrawan dan budayawan terkemuka Indonesia, yaitu Ibu karya Gus Mus, Ketika Engkau Bersembahyang karya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Doa karya Chairil Anwar, Sajadah Panjang karya Taufiq Ismail, dan Tiarap karya KH D. Zawawi Imron.

Ketua FKDT Kabupaten Banyuwangi, Ahmad Masruhan Hamidi, S.E.I., menilai pelaksanaan Porsadin Kecamatan Banyuwangi berjalan dengan baik dan layak menjadi contoh bagi kecamatan lainnya.

“Porsadin bukan hanya tentang mencari juara. Yang lebih penting adalah membangun karakter santri, menumbuhkan rasa percaya diri, serta memperkuat persaudaraan antar-lembaga madrasah diniyah,” ungkapnya.

Menurut Ahmad Masruhan, Madrasah Diniyah Takmiliyah memiliki kontribusi besar dalam membentuk generasi muda yang berakhlak dan memiliki pemahaman agama yang baik. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat, keberadaan madrasah diniyah menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Ia juga melihat perkembangan madrasah diniyah di Banyuwangi terus menunjukkan kemajuan. Tidak hanya berkembang di lingkungan pedesaan, lembaga pendidikan keagamaan tersebut kini semakin diminati masyarakat perkotaan.

“Ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan agama semakin meningkat. Karena itu, madrasah diniyah harus terus didorong agar semakin maju dan mampu menjawab tantangan zaman,” katanya.

Melalui Porsadin 2026, FKDT berharap lahir generasi santri yang tidak hanya unggul dalam kemampuan akademik dan keagamaan, tetapi juga memiliki karakter kuat, kecintaan terhadap seni budaya, serta semangat kompetisi yang sehat. Ajang ini sekaligus menjadi ruang bagi santri untuk menunjukkan bahwa pendidikan diniyah mampu melahirkan pribadi-pribadi yang berprestasi dan berkontribusi bagi bangsa.

Pergunu Banyuwangi Siapkan Kompetisi Dongeng Sejarah Islam bagi Siswa MTs dan SMP

Banyuwangi (Warta Blambangan) Pengurus Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PC Pergunu) Banyuwangi berencana menggelar Kompetisi Cerita Sejarah Islam untuk pelajar tingkat MTs dan SMP pada tahun ajaran 2026–2027. Persiapan kegiatan tersebut dibahas dalam rapat panitia yang berlangsung di Pondok Pesantren Subulussalam Panderejo, Banyuwangi, Jumat (12/6/2026). 


Ketua PC Pergunu Banyuwangi, H. Wijanarko, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas generasi muda melalui penguatan wawasan sejarah dan nilai-nilai keislaman. Ia berharap lomba tersebut mampu menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berbicara sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap sejarah Islam.

“Melalui kegiatan ini, pelajar diharapkan semakin percaya diri dalam menyampaikan gagasan dan mampu memahami perjalanan peradaban Islam beserta nilai-nilai keteladanan yang terkandung di dalamnya,” ungkapnya.

Ketua Panitia, H. Wawuh Purnomo, menjelaskan bahwa kompetisi ini dirancang untuk mengasah keterampilan peserta dalam menyampaikan kisah-kisah sejarah Islam secara menarik, informatif, dan inspiratif. Menurutnya, penguatan literasi sejarah menjadi penting di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi yang dihadapi generasi muda saat ini.

“Kami ingin menghadirkan pembelajaran sejarah Islam yang lebih hidup dan menyenangkan. Melalui cerita, siswa dapat mengenal tokoh-tokoh besar Islam, perjalanan dakwah, perkembangan peradaban, hingga pesan moral yang relevan dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Selain sebagai ajang kompetisi, kegiatan ini juga diharapkan menjadi sarana edukasi yang mampu menumbuhkan minat pelajar terhadap literasi sejarah. Kemampuan berbicara di depan umum, penguasaan materi, serta penghayatan dalam menyampaikan kisah akan menjadi bagian penting dalam penilaian peserta.

Rapat panitia turut membahas berbagai aspek teknis pelaksanaan, mulai dari ketentuan lomba, sistem penjurian, hingga mekanisme pendaftaran peserta dari MTs dan SMP se-Kabupaten Banyuwangi. Pergunu Banyuwangi berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda pendidikan yang memberikan ruang kreatif sekaligus memperkuat karakter keislaman generasi pelajar Banyuwangi.

Kabar Duka, Khusnan Abadi Mantan Anggota DPRD Banyuwangi Wafat

 Banyuwangi (Warta Blambangan) Duka menyelimuti Banyuwangi. Khusnan Abadi, tokoh yang dikenal luas sebagai mantan anggota DPRD Banyuwangi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sekaligus mantan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, meninggal dunia pada Jumat (12/6/2026) petang.

Kabar wafatnya Khusnan dengan cepat menyebar melalui berbagai grup WhatsApp dan media sosial. Ucapan belasungkawa pun berdatangan dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh politik, aktivis, ulama, hingga para jurnalis yang pernah bekerja dan berjuang bersama almarhum.


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah berpulang ke rahmatullah Bapak Khusnan Abadi, mantan anggota DPRD Banyuwangi, Sekretaris DPC PKB Banyuwangi, sekaligus mantan wartawan Radar Banyuwangi," demikian salah satu pesan yang beredar luas di tengah masyarakat.

Khusnan bukanlah sosok asing di Banyuwangi. Namanya dikenal dalam berbagai bidang pengabdian. Semasa muda, ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan pernah memimpin PMII Cabang Banyuwangi. Kiprahnya berlanjut di dunia jurnalistik sebelum akhirnya memilih jalan pengabdian melalui dunia politik. Ia juga mengemban amanah sebagai Ketua LAZISNU MWCNU Genteng.

Sebagai jurnalis, Khusnan dikenal dekat dengan berbagai persoalan masyarakat. Pengalamannya di lapangan membentuk karakter kepemimpinan yang peka terhadap kebutuhan rakyat. Bekal itulah yang kemudian dibawanya saat dipercaya menjadi wakil rakyat di DPRD Banyuwangi.

Selama beberapa periode duduk di kursi legislatif, Khusnan menjadi salah satu kader senior PKB yang cukup berpengaruh. Ia pernah menjabat Ketua Fraksi PKB DPRD Banyuwangi dan mengemban tugas sebagai Sekretaris DPC PKB Banyuwangi. Di parlemen, ia banyak terlibat dalam pembahasan kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, serta pembangunan desa.

Berbagai isu kerakyatan menjadi perhatian almarhum. Salah satunya adalah perjuangan agar perangkat desa dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) memperoleh perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. Ia juga dikenal aktif menyuarakan berbagai aspirasi masyarakat dalam forum-forum resmi DPRD.

Peran dan pengaruhnya di internal PKB terlihat ketika namanya masuk dalam bursa bakal calon bupati yang diusulkan partai menjelang Pilkada Banyuwangi 2024. Meski pada Pemilu Legislatif 2024 ia tidak kembali terpilih menjadi anggota DPRD, Khusnan tetap menjadi salah satu tokoh yang diperhitungkan dalam dinamika politik daerah.

Namun lebih dari jabatan dan posisi politik yang pernah diembannya, banyak orang mengenang Khusnan sebagai pribadi yang hangat, sederhana, dan mudah menjalin persahabatan. Ia dikenal terbuka terhadap berbagai kalangan dan tetap menjaga hubungan baik dengan sahabat maupun lawan politiknya.

Kepergian Khusnan Abadi meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kolega, dan masyarakat Banyuwangi. Sosok yang mengabdikan hidupnya di dunia organisasi, jurnalistik, dan politik itu kini telah berpulang, meninggalkan jejak pengabdian yang akan terus dikenang.

Selamat jalan, Khusnan Abadi. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan pengabdianmu serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Diklatama IPPNU Banyuwangi: Membangun Kader Aktif, Produktif, dan Peduli Sosial

Banyuwangi (Warta Blambangan)  Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Banyuwangi menggelar Pendidikan dan Pelatihan Pertama (Diklatama) pada Jum’at, 12 Juni hingga Ahad, 14 Juni 2026, bertempat di Lapangan Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan kaderisasi pelajar putri Nahdlatul Ulama agar mampu tumbuh sebagai kader yang aktif, produktif, dan memiliki kepedulian sosial.


Diklatama yang diikuti kader muda IPPNU dari berbagai wilayah tersebut dirancang untuk memperkuat kualitas sumber daya kader melalui tiga orientasi utama, yakni ideologisasi kader muda, pembentukan mental aktif dan produktif, serta internalisasi nilai-nilai sosial dalam organisasi. Ketiga aspek tersebut dipandang penting sebagai fondasi dalam membangun karakter kader yang memiliki kesadaran organisasi dan tanggung jawab sosial.

Pembukaan kegiatan berlangsung khidmat dengan kehadiran Sekretaris PCNU Banyuwangi, H. Bisri Musthofa, M.Pd., sebagai Inspektur Upacara (IRUP). Dalam amanatnya, ia menegaskan bahwa keberlangsungan organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama sangat ditentukan oleh kualitas kader mudanya.

Menurutnya, kader IPPNU harus memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai ke-NU-an dan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah.

“IPPNU harus menjadi ruang tumbuh bagi kader muda yang aktif dalam organisasi, produktif dalam berkarya, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial di lingkungannya. Organisasi membutuhkan kader yang siap belajar, bergerak, dan mengabdi,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa kaderisasi tidak hanya berkaitan dengan penguatan wawasan organisasi, tetapi juga pembentukan mental kepemimpinan, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan membangun jejaring sosial yang kuat di tengah masyarakat.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai materi kepemimpinan, penguatan ideologi ke-NU-an, pengembangan karakter kader, serta kegiatan kebersamaan yang diarahkan untuk membangun solidaritas dan semangat kolektif antaranggota.

Melalui Diklatama ini, IPPNU Banyuwangi diharapkan mampu melahirkan generasi kader pelajar putri NU yang tangguh, memiliki integritas, serta siap menjadi pelopor gerakan sosial dan keorganisasian di masa mendatang.

STAI Al Utsmani dan UIMSYA Perkuat Kolaborasi Pengembangan Halal Center Melalui Kegiatan Benchmarking

BANYUWANGI, (Warta Blambangan) Komitmen perguruan tinggi dalam mendukung penguatan ekosistem halal nasional kembali ditunjukkan melalui kegiatan benchmarking yang dilaksanakan Halal Center STAI Al Utsmani Bondowoso ke Halal Center Universitas KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Blokagung Banyuwangi. Kegiatan tersebut menjadi wadah pertukaran pengalaman, penguatan kapasitas kelembagaan, sekaligus membangun sinergi dalam mendukung percepatan implementasi Jaminan Produk Halal (JPH) di Indonesia.

Kunjungan diawali dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara kedua lembaga sebagai landasan kerja sama dalam pengembangan program halal berbasis perguruan tinggi. Penandatanganan dilakukan oleh Ketua Halal Center UIMSYA, Dr. Nur Anim Jauhariyah, S.Pd., M.Si., dan Ketua Halal Center STAI Al Utsmani Bondowoso, Dr. Haqiqotus Sa’adah, M.E.


Kesepakatan tersebut mencakup berbagai bidang strategis, antara lain penguatan kelembagaan Halal Center dan LP3H, peningkatan kompetensi sumber daya manusia halal, pelaksanaan pendidikan dan pelatihan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga pendampingan sertifikasi halal bagi pelaku usaha.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua STAI Al Utsmani Bondowoso, Dawimatus Sholihah, S.Pd., M.E., yang memberikan dukungan terhadap pengembangan Halal Center sebagai salah satu instrumen penting dalam penguatan ekonomi syariah dan industri halal di lingkungan perguruan tinggi.

Sementara itu, UIMSYA menerima kunjungan tersebut dengan melibatkan jajaran pimpinan universitas, mulai dari Wakil Rektor, Direktur Pascasarjana, hingga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Kehadiran para pimpinan universitas menunjukkan keseriusan UIMSYA dalam menjadikan pengembangan halal sebagai bagian dari kontribusi nyata perguruan tinggi kepada masyarakat.

Dalam sesi diskusi dan pelatihan, peserta memperoleh pemahaman mengenai tata kelola Halal Center yang efektif dan berkelanjutan. Berbagai materi disampaikan, mulai dari strategi pengembangan layanan halal, manajemen administrasi sertifikasi halal, penguatan jejaring kemitraan, hingga peningkatan kualitas pendampingan kepada pelaku usaha yang sedang mengajukan sertifikasi halal.

Penguatan kelembagaan LP3H menjadi salah satu topik utama yang mendapat perhatian peserta. Sebagai mitra pemerintah dalam pelaksanaan program sertifikasi halal, LP3H memiliki peran penting dalam mendampingi pelaku usaha memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Oleh karena itu, tata kelola lembaga yang profesional dan didukung sumber daya manusia yang kompeten menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.

Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai mekanisme rekrutmen Pendamping Proses Produk Halal (P3H) melalui sistem Learning Management System (LMS), mulai dari tahapan pendaftaran, pelatihan, uji kompetensi, hingga proses sertifikasi. Materi tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi STAI Al Utsmani dalam menyiapkan kader-kader pendamping halal yang siap mendukung program nasional sertifikasi halal.

Selain aspek kelembagaan, kegiatan benchmarking juga membahas aspek teknis pendampingan sertifikasi halal. Para peserta mempelajari proses verifikasi dan validasi dokumen, pemeriksaan bahan baku dan proses produksi, penginputan data ke dalam sistem, serta langkah-langkah pendampingan yang harus dilakukan agar pengajuan sertifikasi halal dapat berjalan sesuai regulasi yang berlaku.

Ketua Halal Center UIMSYA, Dr. Nur Anim Jauhariyah, menegaskan bahwa kolaborasi antarperguruan tinggi merupakan salah satu kunci dalam memperkuat ekosistem halal nasional. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mencetak tenaga pendamping halal yang kompeten sekaligus menjadi pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat di bidang halal.

Sementara itu, Ketua Halal Center STAI Al Utsmani, Dr. Haqiqotus Sa’adah, menyampaikan apresiasi atas sambutan dan berbagai pengalaman yang dibagikan oleh UIMSYA. Ia berharap hasil benchmarking tersebut dapat menjadi inspirasi sekaligus referensi dalam memperkuat tata kelola dan layanan Halal Center STAI Al Utsmani ke depan.

Melalui kegiatan ini, kedua institusi sepakat untuk terus membangun kolaborasi yang produktif dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, serta pengembangan industri halal. Kerja sama tersebut diharapkan mampu memperluas manfaat program sertifikasi halal, meningkatkan kualitas pendamping halal, serta mendukung terwujudnya ekosistem halal Indonesia yang semakin kuat, mandiri, dan berdaya saing. (syaf)

LKKNU Banyuwangi Jajaki Kolaborasi dengan Dinsos PPKB untuk Penguatan Ketahanan Keluarga

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Banyuwangi terus memperluas kemitraan dengan berbagai pihak dalam rangka memperkuat program kemaslahatan keluarga. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui audiensi dan silaturahim dengan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Kabupaten Banyuwangi, Senin (8/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung di kantor Dinsos PPKB tersebut menjadi forum koordinasi awal untuk membangun kerja sama dalam bidang ketahanan keluarga, perlindungan sosial, pemberdayaan perempuan, serta peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.

Delegasi LKKNU Banyuwangi yang dipimpin Ketua LKKNU, Dalilatus Saadah, diterima oleh Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Luqman Al Hakim serta Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Agus Rahmanto.

Dalam pertemuan tersebut, Dalilatus Saadah menjelaskan bahwa penguatan keluarga menjadi salah satu fokus utama program kerja LKKNU. Menurutnya, keluarga yang kokoh dan berkualitas merupakan pondasi penting dalam membangun masyarakat yang sehat, sejahtera, dan berdaya saing.

Karena itu, pihaknya memandang perlu menjalin sinergi dengan pemerintah daerah agar berbagai program pemberdayaan keluarga dapat dilaksanakan secara lebih terintegrasi dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Ketahanan keluarga tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi berbagai elemen, termasuk pemerintah dan organisasi kemasyarakatan, agar upaya pendampingan keluarga dapat berjalan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Audiensi tersebut juga membahas sejumlah isu yang menjadi perhatian bersama, mulai dari upaya menekan angka kematian ibu dan anak, peningkatan literasi kesehatan keluarga, penguatan pendidikan pranikah, hingga pencegahan perkawinan usia anak.

LKKNU menilai bahwa pembinaan terhadap calon pengantin memiliki peran penting dalam menciptakan keluarga yang harmonis dan berkualitas. Melalui pendampingan yang tepat, pasangan yang akan memasuki kehidupan rumah tangga diharapkan memiliki kesiapan yang memadai dari aspek kesehatan, psikologis, sosial, maupun spiritual.

Pihak Dinsos PPKB menyambut positif berbagai gagasan yang disampaikan LKKNU. Menurut mereka, organisasi kemasyarakatan memiliki posisi strategis dalam membantu pemerintah menjangkau masyarakat hingga tingkat akar rumput, terutama dalam program edukasi dan pendampingan keluarga.

Dalam diskusi tersebut juga muncul peluang kerja sama dalam program pendampingan calon pengantin yang dapat dilaksanakan secara bertahap di seluruh kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Program tersebut diharapkan mampu menjadi instrumen pencegahan berbagai persoalan keluarga sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia sejak awal pembentukan rumah tangga.

Plt. Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Banyuwangi, Setyo Puguh Widodo, memberikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan LKKNU Banyuwangi. Ia menegaskan bahwa pihaknya terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan keluarga di tengah masyarakat.

“Kami menyambut baik silaturahim dan komunikasi yang dibangun LKKNU Banyuwangi. Pada prinsipnya, kami siap bekerja sama dalam berbagai program yang mendukung penguatan keluarga dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.


Audiensi tersebut turut dihadiri Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi Syafaat, Koordinator Bidang Pemberdayaan dan Ketahanan Keluarga Imam Muklis, Wakil Ketua LKKNU Syaiful Karim, serta sejumlah pengurus lainnya.

Melalui pertemuan ini, LKKNU Banyuwangi dan Dinsos PPKB berharap dapat membangun pola kerja sama yang berkelanjutan dalam menghadirkan program-program pemberdayaan keluarga yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan mampu menjadi kontribusi nyata dalam mewujudkan keluarga yang tangguh, sejahtera, dan berdaya di Kabupaten Banyuwangi.

LKKNU Banyuwangi Perkuat Sinergi dengan Dispendukcapil untuk Mendukung Penyelesaian Administrasi Kependudukan Warga

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) PCNU Banyuwangi masa khidmat 2026–2031 menjalin sinergi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Banyuwangi melalui audiensi dan silaturahim yang berlangsung di Kantor Dispendukcapil Banyuwangi, Senin (8/6/2026).

Rombongan LKKNU Banyuwangi diterima langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispendukcapil Banyuwangi, H. Saifudin, S.H., M.M. Pertemuan tersebut menjadi langkah awal dalam membangun kolaborasi untuk membantu masyarakat, khususnya dalam penyelesaian berbagai persoalan administrasi kependudukan yang masih banyak ditemukan di lapangan.

Dalam sambutannya, H. Saifudin menyampaikan apresiasi atas kunjungan yang dilakukan jajaran LKKNU Banyuwangi. Menurutnya, kemitraan antara pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan memiliki peran strategis dalam memperluas jangkauan pelayanan publik kepada masyarakat.

“Kami menyampaikan terima kasih atas silaturahim yang dilakukan LKKNU Banyuwangi. Semoga pertemuan ini menjadi awal kerja sama yang baik dalam membantu masyarakat, khususnya terkait layanan administrasi kependudukan,” ujarnya.

Ketua LKKNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, menjelaskan bahwa sejumlah program yang akan dijalankan lembaganya memiliki keterkaitan erat dengan pelayanan administrasi kependudukan. Dalam berbagai kegiatan pendampingan masyarakat, pihaknya masih menemukan sejumlah kendala, terutama terkait ketidaksesuaian data identitas pada dokumen kependudukan.

Menurutnya, perbedaan data antara akta kelahiran dan dokumen kependudukan lainnya kerap menimbulkan hambatan bagi masyarakat dalam mengakses berbagai layanan publik. Oleh karena itu, LKKNU memandang perlu membangun koordinasi yang lebih intensif dengan Dispendukcapil agar masyarakat memperoleh solusi yang tepat dan sesuai ketentuan.

“Permasalahan administrasi kependudukan masih menjadi salah satu persoalan yang sering ditemui di tengah masyarakat. Melalui sinergi ini, kami berharap dapat membantu warga memperoleh pendampingan dan penyelesaian yang lebih cepat,” kata Dalilatus Saadah.

Sementara itu, Koordinator Bidang Pemberdayaan dan Ketahanan Keluarga LKKNU Banyuwangi, H. Imam Muklis, S.Ag., M.H.I., yang juga menjabat sebagai Kepala KUA Kecamatan Wongsorejo, mengungkapkan bahwa persoalan administrasi kependudukan kerap muncul dalam proses pencatatan pernikahan.

Ia menjelaskan, ketidaksesuaian data antara akta kelahiran, kartu keluarga, kartu tanda penduduk, maupun dokumen administrasi lainnya sering menjadi kendala bagi calon pengantin dalam memenuhi persyaratan administrasi.

“Beberapa kasus yang kami temukan terjadi saat calon pengantin akan melangsungkan pernikahan. Data yang tercantum dalam dokumen kependudukan tidak selalu sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Situasi ini memerlukan edukasi dan pendampingan agar masyarakat dapat menyelesaikan persoalan tersebut sesuai prosedur yang berlaku,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, H. Saifudin menegaskan bahwa sebagian besar persoalan administrasi kependudukan sebenarnya dapat diselesaikan melalui mekanisme pelayanan yang tersedia di Dispendukcapil. Karena itu, ia berharap LKKNU dapat berperan sebagai mitra strategis dalam memberikan informasi sekaligus pendampingan kepada masyarakat.

Menurutnya, kolaborasi dapat diwujudkan melalui program pelayanan jemput bola maupun pendampingan administrasi bagi warga yang mengalami kesulitan dalam pengurusan dokumen kependudukan.

“LKKNU dapat menjadi mitra strategis dalam menjangkau masyarakat yang selama ini belum terlayani secara optimal. Kami siap berkolaborasi agar berbagai persoalan administrasi kependudukan dapat diselesaikan secara lebih cepat, tepat, dan sesuai ketentuan,” tegasnya.

Audiensi tersebut turut dihadiri Wakil Ketua LKKNU Banyuwangi H. Saiful Karim, S.Ag., M.Pd.I., Sekretaris LKKNU Banyuwangi Dr. Nur Anim Jauhariyah, serta sejumlah pengurus lainnya.

Dalam waktu dekat, LKKNU Banyuwangi berencana melaksanakan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang salah satu fokus utamanya adalah pendampingan penyelesaian persoalan administrasi kependudukan, khususnya bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses informasi maupun kendala dalam mengurus dokumen secara mandiri.

Melalui kolaborasi antara Dispendukcapil dan LKKNU Banyuwangi, diharapkan berbagai persoalan administrasi kependudukan di Kabupaten Banyuwangi dapat diselesaikan secara bertahap dan berkelanjutan. Sinergi tersebut sekaligus menjadi wujud komitmen bersama dalam menghadirkan pelayanan yang lebih mudah, inklusif, dan bermanfaat bagi masyarakat. (dll)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger