Pages

Merawat Keluarga, Merawat Bangsa: Khidmah Marifatul Kamila dalam Penguatan Kemaslahatan Umat di LKKNU Banyuwangi

 Merawat Keluarga, Merawat Bangsa: Khidmah Marifatul Kamila dalam Penguatan Kemaslahatan Umat

Di tengah meningkatnya berbagai persoalan keluarga—mulai dari perceraian, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga persoalan administrasi kependudukan—kehadiran Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Banyuwangi menjadi semakin relevan. Berbagai program yang digagasnya bukan sekadar kegiatan organisasi, melainkan ikhtiar membangun fondasi masyarakat dari unit terkecil bernama keluarga. Dalam kerja-kerja kemaslahatan itu, keberadaan Dewan Pakar menjadi salah satu kekuatan penting yang memberikan arah, pandangan, sekaligus jembatan antara gagasan dan kebijakan publik.


Salah satu sosok yang mengisi ruang strategis tersebut adalah Marifatul Kamila, S.H., atau yang akrab disapa Rifa. Keterlibatannya sebagai Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi bukan sekadar melengkapi struktur organisasi, tetapi menghadirkan pengalaman panjang di bidang pemerintahan, hukum, dan pelayanan masyarakat. Sebagai Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Banyuwangi dari Fraksi Partai Golkar, Rifa terbiasa berhadapan dengan berbagai persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan warga. Mulai dari pelayanan publik, perlindungan perempuan dan anak, hingga penguatan tata kelola pemerintahan menjadi bagian dari kesehariannya sebagai legislator.

Karena itu, ketika LKKNU Banyuwangi memilih memperkuat gerakan penguatan keluarga melalui sinergi dengan berbagai lembaga pemerintah, kehadiran Rifa menjadi sangat relevan. Pengalaman menyusun kebijakan publik berpadu dengan kepekaan terhadap realitas sosial masyarakat, sehingga mampu memberikan perspektif yang dibutuhkan dalam merancang program-program yang benar-benar menyentuh kebutuhan umat.

Hal tersebut terlihat dari langkah-langkah yang kini dijalankan LKKNU Banyuwangi. Organisasi ini aktif membangun kerja sama dengan berbagai instansi, di antaranya Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Banyuwangi untuk memberikan pendampingan administrasi kependudukan bagi masyarakat. Program pelayanan pembuatan KTP, Kartu Keluarga, hingga dokumen kependudukan lainnya bukan hanya urusan administratif, tetapi menyangkut hak-hak dasar warga negara yang menjadi pintu masuk terhadap layanan pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan hukum.

Tidak berhenti di situ, LKKNU juga memperluas kemitraan dengan Dinas Sosial serta Pengadilan Agama Banyuwangi melalui program pembinaan calon pengantin. Langkah ini menunjukkan bahwa membangun keluarga yang kuat tidak cukup dimulai ketika persoalan telah muncul, tetapi sejak sebelum akad nikah dilaksanakan. Pembekalan mengenai kesiapan mental, tanggung jawab, hak dan kewajiban suami istri, hingga tertib administrasi menjadi investasi sosial yang sangat penting dalam membangun rumah tangga yang kokoh.

Program pernikahan massal yang didukung LKKNU juga memiliki makna lebih dari sekadar seremoni. Legalitas pernikahan memberikan kepastian hukum bagi pasangan maupun anak-anak yang lahir dari keluarga tersebut. Dalam perspektif Islam, menjaga keturunan (hifzh an-nasl) merupakan salah satu tujuan utama syariat yang harus diwujudkan melalui perlindungan terhadap hak-hak keluarga.

Selain pelayanan langsung kepada masyarakat, LKKNU Banyuwangi terus menghadirkan ruang edukasi melalui berbagai forum seperti Intimate Sharing Session. Forum ini menjadi tempat berdialog mengenai komunikasi dalam rumah tangga, pola pengasuhan anak, kesehatan mental keluarga, hingga tantangan kehidupan digital yang kini semakin memengaruhi hubungan antaranggota keluarga. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa ketahanan keluarga tidak cukup dibangun melalui ceramah, tetapi juga melalui ruang belajar bersama yang terbuka dan solutif.

Dalam seluruh rangkaian program tersebut, Dewan Pakar memiliki fungsi yang sangat strategis. Mereka menjadi tempat bertemunya pengalaman, ilmu pengetahuan, dan kebijakan. Organisasi yang besar tidak hanya membutuhkan pengurus yang bekerja di lapangan, tetapi juga para pemikir yang mampu melihat persoalan secara lebih luas dan memberikan arah jangka panjang. Di sinilah peran Marifatul Kamila menemukan maknanya.

Pengalaman Rifa dalam dunia legislatif membuatnya memahami bahwa pembangunan sejati tidak hanya diukur dari berdirinya jalan, jembatan, atau gedung-gedung megah. Pembangunan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat memiliki keluarga yang sehat, perempuan merasa aman, anak-anak tumbuh dengan kasih sayang, dan setiap warga memperoleh hak-hak dasarnya secara adil.

Cara pandang tersebut tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari lingkungan keluarga Nahdliyin yang kuat. Ayahnya, Salimi Irfan, merupakan Kepala Kantor Urusan Agama yang dikenal sebagai sosok sederhana dan penuh dedikasi dalam melayani masyarakat melalui Kementerian Agama. Dari lingkungan keluarga itulah Rifa belajar bahwa jabatan bukanlah simbol kehormatan, melainkan amanah yang harus diwujudkan melalui pelayanan.

Tradisi Nahdlatul Ulama yang akrab dengan kehidupan keluarganya juga membentuk karakter kepedulian sosial sejak dini. Ia memahami bahwa agama tidak berhenti pada ibadah ritual, tetapi harus hadir dalam penyelesaian persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Nilai-nilai itulah yang kemudian terus dibawa dalam perjalanan politik maupun aktivitas sosialnya.

Karena itu, kehadiran Rifa di LKKNU Banyuwangi terasa sebagai kelanjutan dari jalan pengabdian yang telah ditempuh sejak lama. Politik, organisasi kemasyarakatan, dan pelayanan umat bukanlah tiga ruang yang terpisah, melainkan saling melengkapi dalam menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Dalam pandangan Islam, keluarga merupakan madrasah pertama tempat nilai-nilai keimanan, akhlak, kasih sayang, dan tanggung jawab ditanamkan. Dari keluarga yang sehat lahir generasi yang akan memimpin masyarakat pada masa depan. Sebaliknya, ketika keluarga rapuh, berbagai persoalan sosial akan bermunculan dan sulit diselesaikan hanya melalui kebijakan pemerintah.

Karena itu, setiap ikhtiar memperkuat keluarga sejatinya adalah investasi peradaban. Program-program yang dijalankan LKKNU Banyuwangi mungkin tidak selalu menjadi sorotan, tetapi manfaatnya akan dirasakan dalam jangka panjang. Di balik pelayanan administrasi, pembinaan calon pengantin, edukasi keluarga, hingga pendampingan masyarakat, tersimpan harapan besar untuk melahirkan keluarga-keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Marifatul Kamila menjadi salah satu contoh bahwa pengalaman di dunia kebijakan publik dapat berjalan seiring dengan semangat khidmah di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ketika kebijakan bertemu kepedulian, dan pengalaman berpadu dengan nilai-nilai keagamaan, maka lahirlah pengabdian yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga menyiapkan masa depan.

Sebab bangsa yang kuat selalu dimulai dari keluarga yang kuat. Dan keluarga yang kuat hanya dapat dibangun melalui kehadiran orang-orang yang bersedia mengabdikan ilmu, pengalaman, dan waktunya untuk kemaslahatan umat. Itulah ikhtiar yang sedang dirawat LKKNU Banyuwangi, bersama para pengurusnya, para Dewan Pakarnya, dan seluruh elemen masyarakat yang meyakini bahwa membangun keluarga berarti sedang membangun peradaban. (dll)

Sambut Tahun Baru Hijriah, PCNU Banyuwangi Gelar Sholawatan dan Musikalitas Puisi Sembari Menanti Hasil Hilal


Banyuwangi – Menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, PCNU Banyuwangi menghadirkan cara berbeda melalui kegiatan sholawatan, dzikir, dan musikalitas puisi yang digelar di halaman Kantor PCNU Banyuwangi, Senin malam (15/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang spiritual sekaligus kultural sembari menanti informasi resmi hasil rukyatul hilal awal Muharram dari PBNU.

Sejak pukul 18.00 WIB, suasana di depan kantor PCNU Banyuwangi dipenuhi lantunan tahlil, doa, dan sholawat yang dibawakan secara khidmat dengan iringan musik religi dari al-Faruq Entertainment, serta dukungan tata suara dari Sultan Production Muncar. Kegiatan itu menarik perhatian masyarakat yang melintas untuk turut menyimak syiar keagamaan bernuansa seni tersebut.

Tidak sekadar seremoni menyambut pergantian tahun Hijriah, acara dikemas sebagai media pendekatan dakwah yang lebih akrab dengan masyarakat. Spirit religius dipadukan dengan ekspresi seni melalui pembacaan puisi dan lagu-lagu Islami yang dibawakan para pengurus NU.

Sekretaris PCNU Banyuwangi, H. Bisri Musthofa, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan syiar Islam yang menenangkan sekaligus mendekatkan masyarakat kepada tradisi keagamaan Nahdlatul Ulama.

“Kami ingin malam pergantian tahun Hijriah ini diisi dengan doa, sholawat, sekaligus ekspresi budaya Islam. Ada nilai syiar, hiburan yang mendidik, juga edukasi kepada masyarakat tentang proses penetapan awal bulan Hijriah,” ujarnya.

Suasana semakin khidmat ketika sekitar pukul 20.00 WIB diumumkan hasil rukyatul hilal dari PBNU. Di sela kegiatan, Haikal Kafili, Kepala Staf Kantor sekaligus Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi, menyampaikan keputusan terkait awal bulan Muharram kepada para peserta.

Ia menyebutkan bahwa berdasarkan laporan rukyat di berbagai titik, hilal belum berhasil terlihat sehingga bulan Dzulhijjah disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal).

“Karena hilal tidak tampak, maka dilakukan istikmal. Dengan demikian, 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada hari Rabu, 17 Juni 2026,” jelasnya di hadapan jamaah dan masyarakat yang hadir.

Usai pengumuman, acara berlanjut dengan pembacaan musikalitas puisi oleh sejumlah fungsionaris PCNU Banyuwangi. Di antaranya tampil H. Guntur Al Badri, H. Bisri Musthofa, serta pengurus lainnya yang membacakan puisi bertema Muharram, refleksi perjuangan, hingga renungan tentang pengabdian dalam berkhidmat di NU.

Sebagian besar puisi yang dibacakan memuat pesan introspeksi dan otokritik organisasi, mengajak warga NU untuk terus menjaga semangat pelayanan, persatuan, dan kebermanfaatan sosial.

Menjelang akhir acara, seluruh peserta larut dalam suasana kebersamaan saat Sholawat Badar dan Yalal Wathon dikumandangkan bersama. Tepat pukul 23.00 WIB, kegiatan ditutup dengan doa bersama, meninggalkan kesan bahwa malam penantian hilal dapat menjadi ruang syiar yang hangat, damai, dan sarat makna.

Ribuan Warga Padati Taman Blambangan, Polresta Banyuwangi Gelar Wayang Kulit Sambut Hari Bhayangkara ke-80

 

Banyuwangi (Warta Blambangan)Malam di Taman Blambangan Banyuwangi berubah menjadi lautan manusia dan cahaya budaya. Ribuan warga dari berbagai penjuru Banyuwangi memadati alun-alun kota untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit yang digelar Polresta Banyuwangi dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80, Sabtu (13/6) malam.

Di bawah langit Banyuwangi yang teduh, denting gamelan dan suluk dalang berpadu menghadirkan suasana religius dan khidmat. Pagelaran wayang kulit dengan lakon Pandawa Mbangun Praja menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati lahir dari pengabdian, kejujuran, dan keberpihakan kepada rakyat.


Dalang Ki MPP Bayu Aji membawakan kisah Pandawa yang membangun negeri dengan penuh kebijaksanaan dan pengorbanan. Lakon ini sarat nilai moral tentang pentingnya menegakkan kebenaran, menjaga amanah, serta menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Acara tersebut dihadiri Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Wakil Bupati Mujiono, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan, Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara, jajaran Forkopimda, tokoh agama, serta tokoh masyarakat.

Kapolda Jatim: Wayang Kulit Menguatkan Semangat Polri untuk Masyarakat

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto mengatakan, pagelaran wayang kulit menjadi bagian dari rangkaian Hari Bhayangkara ke-80 sekaligus ikhtiar mempererat hubungan Polri dengan masyarakat melalui pelestarian budaya bangsa.

Menurutnya, nilai-nilai dalam lakon Pandawa Mbangun Praja sejalan dengan semangat Polri dalam memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

"Polri terus membangun dan memperbaiki diri melalui tema besar Polri untuk Masyarakat. Sosok Pandawa merupakan representasi pelindung dan pengayom masyarakat yang rela berkorban demi tegaknya kebenaran dan keadilan," ujar Nanang.

Ia menegaskan, peringatan Hari Bhayangkara bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum muhasabah bagi seluruh anggota Polri agar terus meningkatkan kualitas pelayanan dan kehadiran di tengah masyarakat.

"Seluruh anggota Polri harus senantiasa hadir di tengah masyarakat, memberikan rasa aman, mencegah berbagai bentuk kejahatan dan ketidakadilan, serta menjadi teladan dalam memberikan pelayanan yang prima," katanya.

Lebih lanjut, Nanang menyebut nilai-nilai pewayangan tersebut juga selaras dengan semangat Jogo Jawa Timur, yakni membangun sinergi antara aparat keamanan, ulama, umaro, dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keamanan serta kondusivitas daerah.

Bupati Banyuwangi: Wayang Kulit Bukan Sekadar Hiburan

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi inisiatif Polresta Banyuwangi yang menghadirkan pertunjukan budaya sebagai bagian dari peringatan Hari Bhayangkara.

Menurutnya, wayang kulit bukan hanya tontonan rakyat, melainkan media dakwah budaya yang sarat nilai moral, kebersamaan, dan semangat persatuan.

"Pagelaran budaya seperti ini penting untuk terus dilestarikan. Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, juga menjadi sarana memperkuat persatuan dan menjaga warisan budaya bangsa," ujar Ipuk.

Ia menambahkan, Banyuwangi selama ini dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai keberagaman dan kerukunan antarwarga. Karena itu, seluruh elemen masyarakat diharapkan terus menjaga harmoni yang telah terbangun dengan baik.

"Kebersamaan dan gotong royong menjadi modal penting dalam menjaga Banyuwangi tetap aman, damai, dan kondusif," tuturnya.

Budaya, Religi, dan Kebersamaan Menjadi Satu

Pagelaran wayang kulit yang berlangsung hingga larut malam itu mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Anak-anak, orang tua, hingga para santri tampak larut dalam alur cerita dan tembang-tembang Jawa yang mengandung petuah kehidupan.

Melalui kegiatan ini, Polresta Banyuwangi tidak hanya memperingati Hari Bhayangkara ke-80, tetapi juga menunjukkan komitmen untuk terus mendekatkan diri dengan masyarakat melalui pendekatan budaya yang sarat makna religi dan kebangsaan.

Di tengah derasnya arus modernisasi, malam itu Taman Blambangan menjadi saksi bahwa seni tradisi tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Wayang kulit bukan sekadar warisan leluhur, melainkan cahaya nilai yang terus menuntun kehidupan: menjaga kebenaran, merawat persaudaraan, dan menebarkan kedamaian.

Dr. Moh. Amak Burhanudin, Menanam Doa dari Pelaminan: Ketika Bibit Sawo Kecik Menjadi Sedekah Kehidupan

Kediri (Warta Blambangan) Di antara lantunan doa yang mengiringi akad dan resepsi pernikahan, terselip sebuah pesan sunyi yang kelak akan tumbuh menjulang ke langit. Bukan sekadar rangkaian bunga atau suvenir kenangan, para tamu yang menghadiri resepsi putra pertama Dr. Moh. Amak Burhanudin, Kabid PAIS Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, di Convention Hall Simpang Lima Gumul, Kediri, Sabtu (13/6/2026), membawa pulang bibit pohon sawo kecik—sebuah amanah untuk ditanam dan dirawat sebagai bagian dari ikhtiar menjaga bumi.

Di tangan para tamu, bibit-bibit kecil itu bukan hanya tanaman. Ia adalah doa yang dibungkus tanah, harapan yang dititipkan kepada musim, serta sedekah hijau yang kelak menghadirkan manfaat bagi kehidupan.


Langkah sederhana tersebut menjadi bagian dari gerakan ekoteologi yang terus digelorakan Kementerian Agama. Sebuah ikhtiar untuk menghadirkan kesadaran bahwa mencintai lingkungan sejatinya merupakan bagian dari penghambaan kepada Allah SWT. Sebab bumi bukan sekadar tempat berpijak, melainkan amanah yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan baik.

Pilihan pada pohon sawo kecik pun bukan tanpa makna. Dalam kearifan budaya Jawa, sawo kecik dikenal melalui ungkapan sarwa becik yang berarti serba baik. Pohon yang bernama ilmiah Manilkara kauki itu menjadi simbol harapan agar setiap manusia mampu menebarkan kebaikan sebagaimana pohon yang memberi keteduhan, menghasilkan buah, dan tetap berdiri teguh meski diterpa musim yang silih berganti.

Filosofi itu terasa sejalan dengan makna sebuah pernikahan. Dua insan yang dipersatukan dalam ikatan suci tidak hanya membangun rumah tangga, tetapi juga menanam benih-benih kebaikan yang diharapkan tumbuh menjadi keberkahan bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya.

Selain sarat nilai simbolik, sawo kecik juga dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan. Buahnya kaya nutrisi yang membantu menjaga kesehatan tubuh, sementara kayunya yang kuat sejak lama dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Seperti halnya amal saleh, manfaat pohon ini terus mengalir bahkan setelah waktu berlalu.

Hadir dalam acara tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Chaironi Hidayat, menyampaikan apresiasi atas langkah keluarga mempelai yang menjadikan momentum pernikahan sebagai sarana menebarkan kesadaran ekologis.

Menurutnya, gerakan menanam pohon yang saat ini terus didorong Kementerian Agama merupakan bagian dari implementasi ekoteologi yang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Bahkan, calon pengantin juga dianjurkan untuk menanam pohon sebagai simbol tanggung jawab terhadap keberlanjutan kehidupan.

“Gerakan menanam pohon ini merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran ekologis masyarakat. Saat ini Kementerian Agama terus menggalakkan program ekoteologi, termasuk mendorong calon pengantin untuk ikut menanam pohon. Harapannya, setiap peristiwa bahagia juga membawa manfaat bagi lingkungan dan generasi yang akan datang,” ujarnya.


Resepsi yang berlangsung penuh kehangatan itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan penyatuan dua keluarga. Ia menjelma majelis kebajikan yang mengajarkan bahwa cinta tidak hanya diwujudkan dalam janji setia antarmanusia, tetapi juga dalam kepedulian terhadap alam semesta.

Kelak, ketika bibit-bibit sawo kecik itu tumbuh menjadi pohon yang rindang, mengeluarkan buah, dan memberi teduh bagi siapa saja yang singgah di bawahnya, akan tersimpan sebuah kenangan indah: bahwa pada hari bahagia itu, para tamu tidak hanya pulang membawa suvenir, melainkan juga membawa sebutir amanah untuk menanam kehidupan.

Sebab setiap pohon yang tumbuh adalah tasbih yang tak bersuara, setiap daun yang berembun adalah doa yang terus dipanjatkan, dan setiap kebaikan yang ditanam dengan ikhlas akan kembali kepada penanamnya sebagai keberkahan yang tak pernah putus.

Porsadin Banyuwangi Jadi Panggung Bakat Santri, Lomba Puisi Dinilai Seniman Dewan Kesenian Belambangan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Ratusan santri Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) se-Kecamatan Banyuwangi menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam ajang Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah Takmiliyah (Porsadin) Tahun 2026 yang berlangsung di Madin At Taqwa Wustho, Kompleks MA Muhammadiyah 1 Pakis Duren Banyuwangi, Ahad (14/6/2026).

Kegiatan yang mengangkat tema “Berkhidmah Bersama Madrasah Diniyah Membangun Karakter Bangsa” tersebut menjadi sarana pembinaan sekaligus pengembangan potensi santri dalam bidang keagamaan, seni, dan keterampilan. Semangat yang diusung dalam Porsadin kali ini terangkum dalam slogan “Berprestasi dalam Iman, Unggul dalam Akhlak, Sportif dalam Kompetisi.”


Sejak pagi, para peserta tampak antusias mengikuti berbagai cabang perlombaan yang digelar panitia. Di antaranya Tahfidz Juz Amma, MTQ, Murottal wal Imla’, Adzan, Pidato Bahasa Indonesia, Pidato Bahasa Arab, hingga Lomba Puisi Islami.

Cabang puisi menjadi salah satu perlombaan yang menyita perhatian. Selain menampilkan kemampuan santri dalam mengolah kata dan rasa, lomba ini menghadirkan dua tokoh seni Banyuwangi sebagai dewan juri, yakni H. Bambang Lukito dan H. Syafaat, ASN Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang juga dikenal sebagai Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.

Kehadiran keduanya memberikan sentuhan tersendiri dalam proses penilaian. Para peserta tidak hanya diuji kemampuan membaca puisi, tetapi juga penghayatan, ekspresi, artikulasi, serta kemampuan menyampaikan nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam karya yang dibacakan.

Adapun puisi yang wajib dibawakan peserta merupakan karya para sastrawan dan budayawan terkemuka Indonesia, yaitu Ibu karya Gus Mus, Ketika Engkau Bersembahyang karya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Doa karya Chairil Anwar, Sajadah Panjang karya Taufiq Ismail, dan Tiarap karya KH D. Zawawi Imron.

Ketua FKDT Kabupaten Banyuwangi, Ahmad Masruhan Hamidi, S.E.I., menilai pelaksanaan Porsadin Kecamatan Banyuwangi berjalan dengan baik dan layak menjadi contoh bagi kecamatan lainnya.

“Porsadin bukan hanya tentang mencari juara. Yang lebih penting adalah membangun karakter santri, menumbuhkan rasa percaya diri, serta memperkuat persaudaraan antar-lembaga madrasah diniyah,” ungkapnya.

Menurut Ahmad Masruhan, Madrasah Diniyah Takmiliyah memiliki kontribusi besar dalam membentuk generasi muda yang berakhlak dan memiliki pemahaman agama yang baik. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat, keberadaan madrasah diniyah menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Ia juga melihat perkembangan madrasah diniyah di Banyuwangi terus menunjukkan kemajuan. Tidak hanya berkembang di lingkungan pedesaan, lembaga pendidikan keagamaan tersebut kini semakin diminati masyarakat perkotaan.

“Ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan agama semakin meningkat. Karena itu, madrasah diniyah harus terus didorong agar semakin maju dan mampu menjawab tantangan zaman,” katanya.

Melalui Porsadin 2026, FKDT berharap lahir generasi santri yang tidak hanya unggul dalam kemampuan akademik dan keagamaan, tetapi juga memiliki karakter kuat, kecintaan terhadap seni budaya, serta semangat kompetisi yang sehat. Ajang ini sekaligus menjadi ruang bagi santri untuk menunjukkan bahwa pendidikan diniyah mampu melahirkan pribadi-pribadi yang berprestasi dan berkontribusi bagi bangsa.

Pergunu Banyuwangi Siapkan Kompetisi Dongeng Sejarah Islam bagi Siswa MTs dan SMP

Banyuwangi (Warta Blambangan) Pengurus Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PC Pergunu) Banyuwangi berencana menggelar Kompetisi Cerita Sejarah Islam untuk pelajar tingkat MTs dan SMP pada tahun ajaran 2026–2027. Persiapan kegiatan tersebut dibahas dalam rapat panitia yang berlangsung di Pondok Pesantren Subulussalam Panderejo, Banyuwangi, Jumat (12/6/2026). 


Ketua PC Pergunu Banyuwangi, H. Wijanarko, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas generasi muda melalui penguatan wawasan sejarah dan nilai-nilai keislaman. Ia berharap lomba tersebut mampu menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berbicara sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap sejarah Islam.

“Melalui kegiatan ini, pelajar diharapkan semakin percaya diri dalam menyampaikan gagasan dan mampu memahami perjalanan peradaban Islam beserta nilai-nilai keteladanan yang terkandung di dalamnya,” ungkapnya.

Ketua Panitia, H. Wawuh Purnomo, menjelaskan bahwa kompetisi ini dirancang untuk mengasah keterampilan peserta dalam menyampaikan kisah-kisah sejarah Islam secara menarik, informatif, dan inspiratif. Menurutnya, penguatan literasi sejarah menjadi penting di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi yang dihadapi generasi muda saat ini.

“Kami ingin menghadirkan pembelajaran sejarah Islam yang lebih hidup dan menyenangkan. Melalui cerita, siswa dapat mengenal tokoh-tokoh besar Islam, perjalanan dakwah, perkembangan peradaban, hingga pesan moral yang relevan dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Selain sebagai ajang kompetisi, kegiatan ini juga diharapkan menjadi sarana edukasi yang mampu menumbuhkan minat pelajar terhadap literasi sejarah. Kemampuan berbicara di depan umum, penguasaan materi, serta penghayatan dalam menyampaikan kisah akan menjadi bagian penting dalam penilaian peserta.

Rapat panitia turut membahas berbagai aspek teknis pelaksanaan, mulai dari ketentuan lomba, sistem penjurian, hingga mekanisme pendaftaran peserta dari MTs dan SMP se-Kabupaten Banyuwangi. Pergunu Banyuwangi berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda pendidikan yang memberikan ruang kreatif sekaligus memperkuat karakter keislaman generasi pelajar Banyuwangi.

Kabar Duka, Khusnan Abadi Mantan Anggota DPRD Banyuwangi Wafat

 Banyuwangi (Warta Blambangan) Duka menyelimuti Banyuwangi. Khusnan Abadi, tokoh yang dikenal luas sebagai mantan anggota DPRD Banyuwangi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sekaligus mantan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, meninggal dunia pada Jumat (12/6/2026) petang.

Kabar wafatnya Khusnan dengan cepat menyebar melalui berbagai grup WhatsApp dan media sosial. Ucapan belasungkawa pun berdatangan dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh politik, aktivis, ulama, hingga para jurnalis yang pernah bekerja dan berjuang bersama almarhum.


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah berpulang ke rahmatullah Bapak Khusnan Abadi, mantan anggota DPRD Banyuwangi, Sekretaris DPC PKB Banyuwangi, sekaligus mantan wartawan Radar Banyuwangi," demikian salah satu pesan yang beredar luas di tengah masyarakat.

Khusnan bukanlah sosok asing di Banyuwangi. Namanya dikenal dalam berbagai bidang pengabdian. Semasa muda, ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan pernah memimpin PMII Cabang Banyuwangi. Kiprahnya berlanjut di dunia jurnalistik sebelum akhirnya memilih jalan pengabdian melalui dunia politik. Ia juga mengemban amanah sebagai Ketua LAZISNU MWCNU Genteng.

Sebagai jurnalis, Khusnan dikenal dekat dengan berbagai persoalan masyarakat. Pengalamannya di lapangan membentuk karakter kepemimpinan yang peka terhadap kebutuhan rakyat. Bekal itulah yang kemudian dibawanya saat dipercaya menjadi wakil rakyat di DPRD Banyuwangi.

Selama beberapa periode duduk di kursi legislatif, Khusnan menjadi salah satu kader senior PKB yang cukup berpengaruh. Ia pernah menjabat Ketua Fraksi PKB DPRD Banyuwangi dan mengemban tugas sebagai Sekretaris DPC PKB Banyuwangi. Di parlemen, ia banyak terlibat dalam pembahasan kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, serta pembangunan desa.

Berbagai isu kerakyatan menjadi perhatian almarhum. Salah satunya adalah perjuangan agar perangkat desa dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) memperoleh perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. Ia juga dikenal aktif menyuarakan berbagai aspirasi masyarakat dalam forum-forum resmi DPRD.

Peran dan pengaruhnya di internal PKB terlihat ketika namanya masuk dalam bursa bakal calon bupati yang diusulkan partai menjelang Pilkada Banyuwangi 2024. Meski pada Pemilu Legislatif 2024 ia tidak kembali terpilih menjadi anggota DPRD, Khusnan tetap menjadi salah satu tokoh yang diperhitungkan dalam dinamika politik daerah.

Namun lebih dari jabatan dan posisi politik yang pernah diembannya, banyak orang mengenang Khusnan sebagai pribadi yang hangat, sederhana, dan mudah menjalin persahabatan. Ia dikenal terbuka terhadap berbagai kalangan dan tetap menjaga hubungan baik dengan sahabat maupun lawan politiknya.

Kepergian Khusnan Abadi meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kolega, dan masyarakat Banyuwangi. Sosok yang mengabdikan hidupnya di dunia organisasi, jurnalistik, dan politik itu kini telah berpulang, meninggalkan jejak pengabdian yang akan terus dikenang.

Selamat jalan, Khusnan Abadi. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan pengabdianmu serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger