Gus
Dur: Kitab yang Tak Pernah Tamat Dibaca
Oleh :
Syafaat
Ada
manusia-manusia tertentu yang hidupnya menyerupai kitab tafsir: tak pernah
selesai dibaca, tak pernah habis ditafsirkan, dan selalu memberi makna baru
setiap kali zaman berganti halaman. Ia bukan kitab yang menawarkan jawaban
instan, melainkan kitab yang memaksa pembacanya berhenti sejenak, menunduk,
lalu merenung. Gus Dur adalah salah satu dari manusia semacam itu. Ia bukan
sekadar tokoh sejarah, melainkan teks hidup, yang ayat-ayatnya tersusun dari
tawa, luka, kontroversi, doa, dan keberanian untuk tetap manusia di tengah
godaan menjadi berhala.
Maka ketika negara melalui Keputusan Presiden Nomor
116/TK/Tahun 2025, akhirnya menetapkan KH. Abdurrahman Wahid sebagai Pahlawan
Nasional, sesungguhnya negara hanya mengafirmasi sesuatu yang telah lama
disahkan oleh nurani publik. Negara hanya menyusul, tertatih di belakang
kesadaran rakyatnya sendiri. Sebab bagi banyak orang, Gus Dur telah menjadi
pahlawan jauh sebelum namanya dicetak di lembaran resmi negara; jauh sebelum
Hari Pahlawan dijadikan panggung simbolik; bahkan jauh sebelum kekuasaan berani
mengakui bahwa kemanusiaan adalah bentuk tertinggi dari pengabdian.
Gus Dur adalah pahlawan yang tidak pernah merasa perlu
mengenakan baju kebesaran kepahlawanan. Ia tidak membangun mitos tentang
dirinya. Ia tidak berdiri gagah dengan dada dibusungkan oleh sejarah. Tubuhnya
ringkih, matanya rabun, langkahnya pelan, dan tutur katanya sering kali
melenceng dari ekspektasi mereka yang memuja ketertiban formal. Ia tertawa di
saat orang lain menuntut keseriusan, dan justru serius ketika orang lain sibuk
membangun sandiwara kesalehan. Dalam dunia yang terobsesi pada kepastian, Gus
Dur menawarkan keraguan sebagai jalan iman. Dalam politik yang mendewakan
ketegasan, ia mengajarkan kebijaksanaan yang lahir dari empati.

Ia memahami bahwa iman bukanlah palu untuk memukul
perbedaan, melainkan jendela untuk memahami manusia. Ia tidak menjual agama
sebagai slogan murahan yang dipasang di baliho kekuasaan. Ia menghidupkannya
sebagai laku batin, sebagai akhlak sehari-hari, sebagai kesediaan untuk berdiri
di pihak mereka yang disingkirkan oleh mayoritas. Baginya, agama kehilangan
ruhnya ketika ia dipaksa menjadi alat legitimasi, dan justru menemukan
kemuliaannya ketika ia membela yang rapuh.
Sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia, Gus Dur
memimpin negeri ini pada masa yang paling genting, ketika demokrasi baru saja
lahir dari rahim panjang otoritarianisme yang menyesakkan. Demokrasi itu masih
merah, masih basah oleh darah sejarah, masih gemetar menapak bumi, bahkan belum
sepenuhnya mampu menyebutkan namanya sendiri. Ia tumbuh di tengah trauma,
kecurigaan, dan luka kolektif yang belum sembuh. Pada saat itulah Gus Dur
datang—di antara dua zaman—menggantikan Habibie dan kelak digantikan Megawati,
menjadi presiden yang dipilih secara demokratis ketika bangsa ini nyaris
tercerai oleh ketakutan dan karut kepentingan.
Ia menerima tampuk kekuasaan bukan dalam keadaan utuh,
melainkan dalam kondisi rapuh. Bangsa ini berada di ambang perpecahan: konflik
komunal menyala di berbagai daerah, kepercayaan pada negara terkoyak, dan elit
politik sibuk memperebutkan sisa-sisa kekuasaan lama dengan cara-cara baru.
Demokrasi yang seharusnya menjadi jalan keselamatan justru hampir berubah
menjadi ladang baru bagi keserakahan. Di tengah pusaran itu, Gus Dur berdiri
bukan sebagai penguasa yang menghunus ketegasan, melainkan sebagai penjaga
nurani yang mencoba menenangkan badai dengan kebijaksanaan.
Ia adalah presiden yang tidak lahir dari intrik senyap,
melainkan dari pilihan rakyat yang masih belajar mempercayai suara mereka
sendiri. Namun justru karena itulah ia menjadi sasaran. Keserakahan elit, yang
tak sabar menunggu proses dan tak rela kehilangan privilese, menjadikan
demokrasi sebagai alat untuk melengserkan presiden yang tidak mau tunduk pada
kepentingan sempit. Gus Dur diguncang oleh parlemen, diseret ke ruang-ruang
politik yang penuh tipu daya, hingga akhirnya dilengserkan oleh mekanisme yang
mengatasnamakan konstitusi, tetapi kehilangan kebijaksanaan.
Meski demikian, jejak Gus Dur tak pernah benar-benar
pergi. Kekuasaan boleh dicabut dari tangannya, tetapi pengaruh moralnya tak
bisa dihapus dari ingatan bangsa. Ia hadir sebagai presiden yang lebih
menyerupai guru spiritual republik, seorang pendidik yang mengajarkan arti
kesabaran, keberanian, dan kasih sayang di tengah kegaduhan politik. Ia sering
disalahpahami karena tidak berbicara dengan bahasa kekuasaan yang lazim. Ia
kerap disangsikan karena memilih jalan sunyi yang tak populer. Namun justru
dalam ketidaklaziman itulah ia membentuk arah moral bangsa secara perlahan dan
mendalam. Gus Dur mengajarkan bahwa memimpin negeri bukan hanya soal mengatur
anggaran dan menandatangani keputusan, melainkan tentang merawat jiwa bangsa.
Ia percaya bahwa demokrasi tanpa etika hanyalah kebisingan, dan kekuasaan tanpa
welas asih hanyalah tirani dengan wajah baru. Dalam setiap langkahnya, ia
mengingatkan bahwa negara tidak boleh kehilangan kemanusiaannya, dan politik
tidak boleh tercerabut dari nilai-nilai luhur.
Ketika kita menoleh ke masa itu, kita menyadari bahwa Gus
Dur adalah presiden yang hadir terlalu awal bagi banyak orang, tetapi justru
tepat bagi sejarah. Ia mungkin tumbang oleh keserakahan elit, tetapi ia menang
dalam ingatan moral bangsa. Seperti doa yang tak pernah selesai diaminkan,
warisannya terus bekerja dalam kesunyian: mengajarkan bahwa demokrasi bukan
sekadar sistem, melainkan amanah; bukan sekadar prosedur, melainkan tanggung
jawab spiritual kepada sesama manusia.
Ia dijuluki Bapak Pluralisme bukan karena ia merumuskan
teori besar tentangnya, melainkan karena ia mempraktikkannya dengan keberanian
yang sunyi. Ketika ia mencabut larangan perayaan Imlek, itu bukan sekadar
keputusan politik yang pragmatis. Itu adalah kesaksian iman. Sebuah pernyataan
teologis yang sederhana namun mendalam: bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan
manusia untuk hidup dalam satu warna saja. Bahwa keberagaman bukan ancaman,
melainkan tanda kebesaran-Nya. Bahwa negara tidak berhak mengatur cara warganya
bersyukur kepada Tuhan.
Keberanian semacam itu tidak lahir secara tiba-tiba. Ia
tumbuh dari kesunyian panjang perjalanan intelektual Gus Dur. Pada dekade
1960-an, ia berkelana dari Kairo ke Baghdad, menyerap dunia dengan rasa ingin
tahu seorang santri yang tak pernah merasa cukup dengan satu kitab. Ia hidup
bersama mahasiswa Indonesia lain di sebuah vila sederhana, memasak kari kepala
ikan, detail kecil yang justru menyimpan pelajaran besar. Dari dapur itulah ia
belajar bahwa kebudayaan tidak pernah lahir dari benturan, melainkan dari
perjumpaan. Dari makan bersama, dari percakapan yang jujur, dari kesediaan
untuk mendengar. Baghdad memberinya kosmopolitanisme yang bersahaja. Kota itu
mengajarkannya bahwa Islam tidak perlu takut pada dunia. Bahwa iman tidak akan
runtuh hanya karena ia berdialog dengan perbedaan. Bahwa kekuasaan bukan tujuan
akhir, melainkan ujian paling berat bagi nurani. Gus Dur pulang ke Indonesia
membawa Islam yang ramah, terbuka, dan tidak silau oleh panggung politik.
Barangkali karena itulah masa kepresidenannya penuh
kegaduhan. Buloggate, Bruneigate, pembubaran Departemen Penerangan dan Sosial,
wacana normalisasi hubungan dengan Israel, gagasan pencabutan larangan PKI,
hingga ancaman membubarkan parlemen, semuanya seperti halaman-halaman kitab
yang membuat pembacanya gelisah. Banyak orang membaca dengan tergesa, lalu
menutupnya dengan amarah. Sedikit yang mau bertahan, membaca ulang, dan
memahami konteksnya. Namun sejarah memiliki cara kerjanya sendiri. Ia lambat,
tetapi adil. Ia memisahkan antara keberanian dan kesalahan, antara niat dan
akibat. Gus Dur boleh dimakzulkan oleh mekanisme politik, tetapi nuraninya tak
pernah terbukti bersalah. Tuduhan korupsi yang dialamatkan kepadanya gugur satu
per satu, ditelan oleh waktu dan fakta. Sementara gagasan-gagasannya justru
terus hidup, beranak-pinak, dan menjelma menjadi wacana yang kini dianggap
lazim, bahkan oleh mereka yang dulu paling keras menentangnya.
Yang jarang disorot adalah sisi Gus Dur sebagai pecinta
film. Ia menonton film dengan kesungguhan seorang santri yang mengaji kitab
klasik: perlahan, penuh perhatian, dan tidak tergesa menarik kesimpulan. Dari
film-film Prancis yang ia tonton di Kairo hingga High Noon yang ia
jadikan cermin moral bagi dirinya sendiri, Gus Dur memahami bahwa kisah manusia
selalu bermuara pada pilihan etis. Ia percaya bahwa seni, termasuk film, adalah
cara lain Tuhan berbicara kepada manusia, melalui empati dan rasa.
Karena itulah Gus Dur kerap mengkritik film-film dakwah
yang terlalu formal, kaku, dan sibuk mengeja simbol-simbol kesalehan tanpa
benar-benar menyentuh jiwa. Ia melihat bagaimana dakwah sering terperangkap
dalam retorika, seolah kebenaran bisa dipaksakan hanya dengan suara yang paling
lantang dan adegan yang paling suci. Padahal, bagi Gus Dur, Tuhan tidak pernah
bersemayam di gemuruh pidato, melainkan hadir dalam getaran halus empati, dalam
kesediaan manusia untuk memahami luka manusia lain. Baginya, dakwah bukanlah
perlombaan siapa yang paling fasih menyebut nama Tuhan, melainkan siapa yang
paling jujur merawat martabat sesama. Ia percaya bahwa pesan Ilahi justru
menemukan bentuknya yang paling murni ketika manusia berani bersikap manusiawi:
menolong tanpa menghakimi, mendengar tanpa tergesa menyimpulkan, dan mencintai
tanpa syarat. Di situlah dakwah berubah dari sekadar tontonan menjadi
pengalaman batin, dari khotbah menjadi perjumpaan.
Film, dalam pandangan Gus Dur, adalah salah satu jalan
sunyi menuju kesadaran. Ia tidak harus dipenuhi dialog religius atau
simbol-simbol ritual yang berlebihan. Seperti iman, film bekerja di wilayah
rasa: mengalir pelan, menembus pertahanan ego, lalu menetap di relung batin.
Sebuah film yang baik tidak menggurui penontonnya, tetapi mengajak mereka
berkaca, melihat diri sendiri, melihat yang lain, dan menyadari bahwa hidup
selalu menuntut pilihan moral yang jujur. Karenanya, film dakwah yang sejati
tidak sibuk mengatur tata cara, tetapi menghidupkan makna. Ia tidak memaksa
penonton untuk tunduk, melainkan mengundang mereka untuk merasakan. Ia tidak
menutup ruang tafsir, tetapi membukanya selebar-lebarnya, sebagaimana iman yang
hidup selalu memberi ruang bagi pertanyaan. Dalam kesunyian layar gelap, ketika
cerita manusia dipaparkan apa adanya, dakwah menemukan wajahnya yang paling
lembut: bukan sebagai perintah, melainkan sebagai panggilan nurani.
Sebelum menjadi presiden, Gus Dur lebih dulu menempuh
jalan sunyi yang panjang sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
selama tiga periode berturut-turut, dari 1984 hingga 1999. Jabatan itu tidak
pernah ia perlakukan sebagai singgasana, melainkan sebagai amanah yang rawan
godaan. Di tangan Gus Dur, NU perlahan menjelma menjadi rumah besar yang teduh
bagi perbedaan—sebuah ruang spiritual yang tidak dibangun dari tembok
kecurigaan, melainkan dari pintu-pintu yang terbuka. Ia membuktikan, dengan ketekunan
dan keberanian, bahwa Islam tradisional tidak identik dengan keterbelakangan,
dan bahwa modernitas tidak harus ditebus dengan pengkhianatan terhadap akar.
Gus Dur mengembalikan NU pada khittahnya, bukan sebagai
jargon, melainkan sebagai laku organisasi. Pesantren tetap dijaga sebagai pusat
pembentukan akhlak dan spiritualitas, namun tidak dikurung dari dunia. Kitab
kuning tetap diajarkan, tetapi dibaca dengan mata zaman. Tradisi dirawat, bukan
dipatungkan. Dalam pandangannya, masa lalu bukanlah beban yang harus diseret,
melainkan mata air yang terus memberi kesegaran bagi masa depan. Karena itu, NU
di bawah kepemimpinannya tidak alergi pada demokrasi, hak asasi manusia, dialog
lintas iman, dan kebudayaan modern, semua diterima tanpa rasa inferior, tanpa
kehilangan jati diri.
Namun jalan itu bukan tanpa duri. Justru karena
keberaniannya membuka jendela, angin perlawanan datang dari dalam rumah
sendiri. Tidak sedikit kalangan internal NU yang merasa resah, bahkan terancam,
oleh cara berpikir Gus Dur yang dianggap terlalu liberal, terlalu melampaui
pakem, dan terlalu berani menggugat kenyamanan lama. Kritik demi kritik
bermunculan, tidak hanya dalam bentuk perbedaan pendapat, tetapi juga dalam
manuver politik organisasi. Dalam kesunyian rapat-rapat internal, dalam
bisik-bisik forum musyawarah, mulai terdengar upaya untuk melengserkannya dari
jabatan ketua umum.
Kontroversi itu mencapai titik-titik yang melelahkan. Gus
Dur kerap dipersoalkan bukan hanya gagasannya, tetapi juga gaya kepemimpinannya
yang dianggap terlalu personal, terlalu independen, dan sulit dikendalikan. Ada
yang menuduhnya membawa NU terlalu jauh ke wilayah politik gagasan, ada pula
yang merasa NU di bawah Gus Dur menjadi terlalu terbuka, kehilangan pagar, dan
rawan disalahpahami. Bahkan, upaya menggoyang posisinya sebagai ketua umum
beberapa kali mengemuka, dibungkus dalam bahasa kepedulian terhadap jam’iyah,
namun sesungguhnya sarat kepentingan.
Tetapi Gus Dur tidak melawan dengan kemarahan. Ia tidak
menjawab intrik dengan intrik. Ia memilih bertahan dengan kesabaran seorang
santri yang percaya bahwa waktu adalah hakim terbaik. Baginya, konflik di tubuh
NU adalah bagian dari dinamika hidup organisasi, bukan tanda kematian. Ia
memahami bahwa perbedaan bukan ancaman bagi persaudaraan, melainkan ujian
kedewasaan. Di tengah upaya-upaya pelengseran itu, Gus Dur justru
memperlihatkan wajah kepemimpinan yang jarang: tidak defensif, tidak paranoid,
dan tidak sibuk membangun kultus diri.
Di bawah tekanan itu, NU justru tumbuh menjadi organisasi
yang semakin matang. Ia menjadi ruang dialektika, tempat gagasan diuji dan
diperdebatkan. Pesantren tidak dipaksa memilih antara menjadi tradisional atau
modern, karena Gus Dur menunjukkan bahwa keduanya bisa berjalan beriringan.
Islam tidak diseret ke panggung ideologi sempit, melainkan dipulangkan ke
hakikatnya sebagai rahmat bagi semesta. Di sanalah NU menemukan kembali
napasnya sebagai gerakan keagamaan, kebudayaan, dan kebangsaan.
Pada akhirnya, masa kepemimpinan Gus Dur di PBNU bukan
hanya tentang keberhasilan organisasi, tetapi tentang keteladanan moral. Ia
mengajarkan bahwa memimpin bukan soal bertahan di kursi, melainkan tentang
keberanian menjaga nilai. Bahwa perbedaan pendapat tidak harus berujung pada
perpecahan. Bahwa tradisi dan masa depan tidak perlu dipertentangkan, sebab
keduanya dapat berdialog dalam sikap saling menghormati. Dari NU, Gus Dur
melangkah ke panggung nasional dengan bekal yang paling penting: keyakinan bahwa
agama yang hidup adalah agama yang berani berdamai dengan perubahan, tanpa
kehilangan nuraninya.
Maka gelar Pahlawan Nasional bagi Gus Dur sejatinya bukan
penutup kisah, melainkan jeda untuk merenung. Sebuah pengingat bahwa agama
tidak pernah diturunkan untuk menakut-nakuti manusia. Bahwa negara tidak
diciptakan untuk menyenangkan yang kuat, melainkan melindungi yang lemah. Bahwa
tawa, bahkan di tengah konflik, kadang adalah doa paling jujur, karena lahir
dari keberanian untuk tetap berharap.
Gus Dur telah wafat, tetapi cara berpikirnya masih
berjalan-jalan di antara kita. Ia hadir dalam pertanyaan-pertanyaan yang tidak
nyaman, dalam keberanian untuk berbeda, dalam kesediaan untuk memeluk yang
lain. Seperti iman yang hidup, ia menolak untuk dibekukan. Dan barangkali di
situlah kepahlawanannya yang paling religius: ia mengajarkan bahwa mencintai
Tuhan berarti berani mencintai manusia, dengan seluruh perbedaan, luka, dan
ketidaksempurnaannya.
Penulis adalah Ketua Lentera Sastra Banyuwangi