Pages

MEMBANGUN EKOSISTEM MADRASAH AMAN: Melawan Bullying Melalui Pendidikan Karakter

 

MEMBANGUN EKOSISTEM MADRASAH AMAN:

Melawan Bullying Melalui Pendidikan Karakter

Oleh; Hj. Sri Endah Zulaikahtul Kharimah, S.Ag M.Pd

Bullying atau perundungan semakin marak dilingkungan pendidikan, termasuk madrasah, bukan semata mata karena anak memiliki prilaku nakal atau agresif , fenomena ini merupan persoalan komplek yang melibatkan keluarga , lingkungan pergaulan , budaya sekolah , pola pengasuhan serta lemahnya sistem pencegahan dan penanganan yang serius serta penanaman karakter sangat di butuhkan. Madrasah yang hebat bukan hanya tempat peserta didik menimba ilmu, tetapi juga ruang aman tempat setiap anak dihargai, dilindungi, dan tumbuh tanpa rasa takut.


Madrasah seharusnya menjadi rumah kedua bagi peserta didik. Sebuah ruang yang menghadirkan ketenangan, menumbuhkan harapan, membangun persaudaraan, serta mengembangkan potensi setiap anak. Di dalamnya, peserta didik tidak hanya belajar membaca, berhitung, memahami ilmu pengetahuan, dan mendalami ajaran agama, tetapi juga belajar menghargai perbedaan, membangun empati, mengendalikan emosi, dan memperlakukan sesama manusia dengan penuh penghormatan. Namun, ada satu persoalan serius yang masih menjadi tantangan dunia pendidikan, termasuk madrasah, yaitu perilaku bullying atau perundungan.

Fenomena bullying menjadi ironi bagi lembaga pendidikan yang seharusnya menanamkan nilai-nilai akhlak dan kemanusiaan. Bagaimana mungkin sebuah lingkungan yang mengajarkan kasih sayang justru membiarkan tindakan yang melukai perasaan dan martabat sesama? Bagaimana mungkin peserta didik diajarkan menghormati orang lain, tetapi dalam kehidupan sehari-hari masih ditemukan ejekan, penghinaan, pengucilan, intimidasi, bahkan kekerasan fisik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu menjadi bahan refleksi bersama bahwa membangun madrasah aman bukan sekadar persoalan menciptakan lingkungan yang bebas dari kekerasan, melainkan membangun budaya pendidikan yang benar-benar menghargai manusia.

Bullying: Luka yang Tidak Selalu Terlihat

Bullying bukan persoalan sederhana yang dapat dianggap sebagai candaan antarteman atau bagian dari dinamika pergaulan anak. Perundungan merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara berulang, melibatkan ketimpangan kekuatan, dan dapat menimbulkan penderitaan bagi korban. Bentuknya pun beragam, mulai dari kekerasan fisik, ejekan verbal, penghinaan, pengucilan sosial, intimidasi, hingga perundungan melalui media digital atau cyberbullying.

Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah masih adanya anggapan bahwa mengejek teman merupakan hal biasa, mempermalukan orang lain dianggap lucu, dan mengucilkan seseorang dipandang sebagai bagian dari pergaulan. Padahal, sesuatu yang dianggap candaan oleh pelaku belum tentu dirasakan sebagai candaan oleh korban.

Dampak bullying tidak selalu tampak secara fisik. Ada peserta didik yang mengalami ketakutan, kehilangan rasa percaya diri, enggan masuk madrasah, kesulitan berkonsentrasi, bahkan menarik diri dari lingkungan sosial. Luka psikologis semacam ini terkadang tidak terlihat, tetapi dapat membekas dalam waktu yang panjang.

Karena itu, madrasah tidak boleh menunggu sampai terjadi kasus besar untuk mulai bertindak. Pencegahan harus dilakukan sejak dini melalui pembentukan karakter, penguatan budaya positif, serta keberanian seluruh warga madrasah untuk menolak segala bentuk perundungan.

Pendidikan Karakter sebagai Benteng Pencegahan

Melawan bullying tidak cukup hanya dengan memasang spanduk bertuliskan antiperundungan, membuat tata tertib, atau memberikan hukuman kepada pelaku. Semua itu dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan dan penanganan, tetapi akar persoalannya harus disentuh melalui pendidikan karakter.

Pendidikan karakter merupakan proses membangun kesadaran moral agar peserta didik mampu membedakan perilaku yang benar dan salah, memahami perasaan orang lain, serta bertanggung jawab terhadap setiap tindakan. Karakter tidak terbentuk hanya melalui nasihat, melainkan melalui pembiasaan, keteladanan, pengalaman, dan budaya yang terus-menerus dibangun.

Madrasah memiliki modal nilai yang sangat kuat untuk mengembangkan pendidikan karakter. Nilai-nilai keislaman mengajarkan kasih sayang, persaudaraan, keadilan, kesantunan, dan penghormatan terhadap sesama. Ajaran tentang ukhuwah, akhlakul karimah, serta larangan merendahkan dan menyakiti orang lain harus diterjemahkan menjadi perilaku nyata dalam kehidupan madrasah.

Peserta didik perlu memahami bahwa menghormati teman bukan sekadar kewajiban karena adanya aturan sekolah, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan. Menolong teman yang kesulitan, tidak menertawakan kekurangan orang lain, berani membela korban perundungan, dan mampu meminta maaf ketika melakukan kesalahan merupakan bentuk konkret pendidikan karakter.

Dengan demikian, pendidikan karakter harus bergerak dari sekadar pengetahuan menuju kesadaran, kemudian menjadi kebiasaan, hingga akhirnya membentuk kepribadian.

Membangun Ekosistem Madrasah yang Aman dan Humanis

Madrasah aman tidak dapat dibangun oleh kepala madrasah atau guru BK semata. Ia membutuhkan keterlibatan seluruh unsur pendidikan, mulai dari pimpinan, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua, hingga masyarakat.

Pertama, kepemimpinan madrasah harus memiliki komitmen yang tegas terhadap perlindungan peserta didik. Kepala madrasah perlu memastikan adanya kebijakan pencegahan dan penanganan kekerasan yang jelas, mekanisme pelaporan yang mudah diakses, serta tindak lanjut yang berpihak pada keselamatan dan pemulihan korban. Setiap laporan harus ditangani secara serius, objektif, menjaga kerahasiaan, dan tidak menyalahkan korban.

Kedua, guru harus menjadi teladan dalam membangun hubungan yang sehat. Tidak mungkin kita berharap peserta didik menghargai sesamanya apabila mereka menyaksikan praktik penghinaan, pelabelan negatif, atau perlakuan diskriminatif di lingkungan pendidikan. Guru perlu membangun komunikasi yang mendidik, menghindari tindakan mempermalukan peserta didik, serta menciptakan suasana kelas yang terbuka dan inklusif.

Ketiga, peserta didik harus dilibatkan sebagai pelaku perubahan. Mereka perlu diberi pemahaman bahwa diam ketika melihat perundungan dapat membuat korban semakin tidak berdaya. Madrasah dapat mengembangkan gerakan sahabat sebaya, duta antiperundungan, kegiatan penguatan solidaritas, dan forum dialog peserta didik. Dengan cara ini, peserta didik tidak hanya menjadi objek kebijakan, tetapi juga subjek yang aktif membangun budaya aman.

Keempat, orang tua harus menjadi mitra strategis. Komunikasi antara madrasah dan keluarga perlu diperkuat agar perubahan perilaku anak dapat dipantau bersama. Pendidikan karakter tidak akan berjalan optimal apabila nilai yang dibangun di madrasah bertentangan dengan kebiasaan yang berkembang di rumah.

Guru: Pelindung, Pendidik, dan Penanam Empati

Dalam membangun madrasah aman, guru memiliki posisi yang sangat strategis. Guru bukan hanya penyampai materi pembelajaran, melainkan figur yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian peserta didik.

Guru harus memiliki kepekaan untuk mengenali perubahan perilaku anak. Peserta didik yang tiba-tiba menjadi pendiam, kehilangan semangat belajar, sering menghindari teman tertentu, atau menunjukkan ketakutan ketika berada di lingkungan madrasah perlu mendapatkan perhatian. Bisa jadi, terdapat persoalan yang belum berani mereka sampaikan.

Di sinilah pentingnya membangun hubungan yang dilandasi kepercayaan. Peserta didik harus merasa bahwa guru adalah tempat yang aman untuk bercerita, bukan sosok yang akan menghakimi atau menyalahkan mereka.

Selain itu, penanganan terhadap pelaku bullying juga harus dilakukan secara edukatif. Pelaku tidak boleh dibiarkan mengulangi perbuatannya, tetapi juga tidak seharusnya langsung diberi stigma sebagai anak yang tidak memiliki masa depan. Mereka perlu mendapatkan pembinaan, pendampingan, konsekuensi yang proporsional, dan kesempatan memperbaiki perilaku. Pendekatan disiplin harus tegas, tetapi tetap mendidik.

Prinsipnya, perlindungan korban harus menjadi prioritas, sementara pembinaan pelaku diarahkan pada perubahan perilaku dan tanggung jawab.

Tantangan: Jangan Jadikan Madrasah Aman Sekadar Slogan

Tantangan terbesar dalam membangun ekosistem madrasah aman adalah kesenjangan antara komitmen dan praktik. Tidak sedikit lembaga pendidikan yang memiliki tata tertib dan program pembinaan karakter, tetapi belum sepenuhnya mampu membangun budaya yang mencegah kekerasan.

Ada kalanya kasus perundungan dianggap sebagai persoalan kecil demi menjaga nama baik lembaga. Ada pula kecenderungan menyelesaikan persoalan secara tertutup tanpa memastikan korban mendapatkan perlindungan dan pemulihan yang layak. Sikap semacam ini justru berisiko melanggengkan kekerasan.

Nama baik madrasah tidak dibangun dengan menyembunyikan persoalan, melainkan dengan keberanian menyelesaikan persoalan secara bertanggung jawab. Madrasah yang bermartabat bukanlah madrasah yang mengaku tidak pernah memiliki masalah, tetapi madrasah yang memiliki keberanian, kepedulian, dan sistem yang baik dalam mencegah serta menangani setiap bentuk kekerasan.

Oleh sebab itu, evaluasi budaya madrasah harus dilakukan secara berkala. Apakah peserta didik merasa aman? Apakah mereka berani melaporkan tindakan perundungan? Apakah guru memiliki pemahaman yang memadai tentang pencegahan kekerasan? Apakah kebijakan perlindungan benar-benar berjalan? Pertanyaan-pertanyaan ini harus menjadi bagian dari refleksi kelembagaan.

Dari Madrasah Aman Menuju Generasi Beradab

Pada akhirnya, membangun ekosistem madrasah aman merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Kita tidak hanya sedang mencegah perilaku bullying, tetapi juga sedang menyiapkan generasi yang mampu hidup berdampingan dalam perbedaan, menghormati martabat manusia, dan memiliki tanggung jawab sosial.

Madrasah harus menjadi tempat di mana peserta didik yang berbeda latar belakang tetap merasa diterima, anak yang memiliki keterbatasan tidak direndahkan, mereka yang lemah mendapatkan perlindungan, dan setiap individu memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.

Pendidikan karakter harus menjadi ruh dalam seluruh aktivitas madrasah. Nilai kasih sayang harus hadir dalam pembelajaran, nilai keadilan tercermin dalam kebijakan, nilai persaudaraan tumbuh dalam pergaulan, dan nilai tanggung jawab diwujudkan dalam perilaku seluruh warga madrasah.

Kita perlu menyadari bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari tingginya nilai akademik atau banyaknya prestasi yang diraih peserta didik. Ada ukuran yang jauh lebih mendasar, yaitu apakah mereka tumbuh menjadi manusia yang mampu menghargai orang lain, tidak menyakiti sesama, berani membela kebenaran, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.

Madrasah yang aman bukan sekadar madrasah tanpa kekerasan, melainkan madrasah yang menghadirkan rasa aman, menumbuhkan kasih sayang, dan memuliakan martabat setiap manusia.

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang: melawan bullying bukan hanya tugas guru BK, bukan hanya tanggung jawab kepala madrasah, dan bukan pula sekadar program sesaat. Ini adalah gerakan moral seluruh warga pendidikan.

Sebab, kita tidak ingin melahirkan generasi yang hanya cerdas dalam menjawab soal, tetapi gagal menghargai sesama. Kita ingin melahirkan generasi yang kuat dalam ilmu, luhur dalam akhlak, matang dalam emosi, dan luas dalam kepedulian.

Mari membangun madrasah yang tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menenangkan hati. Madrasah yang tidak hanya mengajarkan kebaikan, tetapi mempraktikkannya. Madrasah yang tidak memberi ruang bagi perundungan, karena setiap anak berhak belajar, tumbuh, dan meraih masa depan tanpa rasa takut.

Inilah wajah madrasah yang kita cita-citakan: aman lingkungannya, kuat karakternya, luhur akhlaknya, dan bermartabat peradabannya.

Khidmat Bahari, PC SNNU Banyuwangi Siap Menjaga Laut, Menghidupkan Negeri

 


BANYUWANGI – Semangat khidmah bahari mewarnai pengukuhan Pimpinan Cabang Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (PC SNNU) Kabupaten Banyuwangi masa khidmat 2026–2031. Mengusung semangat menjaga laut dan menghidupkan negeri, organisasi yang berhimpun dalam Nahdlatul Ulama ini diharapkan mampu memperkuat pemberdayaan masyarakat nelayan, mengembangkan sektor perikanan, serta mendorong peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat pesisir.

Pengukuhan berlangsung pada Sabtu, 31 Oktober 2026, bertempat di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga, Sumberkencono, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi.

Ir. H. Hardi Pitoyo dipercaya memimpin PC SNNU Kabupaten Banyuwangi bersama jajaran pengurus untuk masa khidmat lima tahun ke depan. Seusai pengukuhan, kepengurusan baru langsung bergerak melakukan koordinasi dan rapat kerja bersama Pimpinan Wilayah SNNU Jawa Timur serta sejumlah perwakilan kabupaten lainnya.

Rapat kerja tersebut menjadi langkah awal untuk merumuskan program prioritas organisasi, khususnya pada tahun pertama kepengurusan. Fokus pembahasan diarahkan pada penguatan kelembagaan, pengembangan teknologi perikanan, perluasan akses pasar, serta pemberdayaan nelayan agar semakin mandiri dan berdaya saing.

H. Hardi Pitoyo berharap kehadiran SNNU sebagai badan otonom NU yang berfokus pada masyarakat nelayan dan kemaritiman dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sektor kelautan, perikanan, dan perekonomian masyarakat Banyuwangi.

Rais Syuriah: Serahkan Urusan kepada Ahlinya

Sebelum pengukuhan, Rais Syuriah PCNU Banyuwangi, KH. Fahrudin Manan, dalam taujihadnya menegaskan pentingnya menempatkan seseorang sesuai keahlian dan kompetensinya. Menurutnya, pengembangan sektor kelautan dan perikanan harus dipercayakan kepada orang-orang yang memahami bidang tersebut serta memiliki pengalaman langsung dalam mengelolanya.

"Saya yakin sumber daya manusia di SNNU Banyuwangi terdiri atas orang-orang yang telah mendedikasikan dirinya dalam bidang perikanan dan kelautan. Potensi ini harus dikembangkan agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," ungkapnya.

Ia kemudian mengajak hadirin mengambil pelajaran dari kehidupan Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah. Dalam membangun kehidupan masyarakat, Rasulullah memberikan ruang kepada para sahabat yang memiliki kemampuan di bidang tertentu untuk mengembangkan potensinya, termasuk dalam bidang pertanian.

Rasulullah mengajarkan bahwa setiap persoalan harus ditangani oleh orang yang memiliki keahlian. Prinsip tersebut, menurut KH. Fahrudin Manan, relevan diterapkan dalam pengelolaan sektor kelautan dan perikanan, sehingga potensi yang dimiliki para nelayan dapat berkembang secara optimal.

Ketua PCNU: Perkuat Teknologi dan Buka Akses Pasar Nelayan

Ketua PCNU Banyuwangi, H. Achmad Turmudzi, dalam sambutannya menekankan bahwa SNNU harus membuktikan keberadaannya melalui kinerja dan program yang terukur, realistis, serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat nelayan.

Menurutnya, salah satu persoalan mendasar yang dihadapi nelayan adalah keterbatasan teknologi. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap hasil tangkapan yang tidak selalu mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga.

Di sisi lain, ketika nelayan memperoleh hasil tangkapan yang melimpah, persoalan baru kerap muncul, terutama berkaitan dengan akses pemasaran dan posisi tawar nelayan dalam rantai distribusi hasil perikanan.

"SNNU harus mampu mengoptimalkan program-programnya, terutama dalam peningkatan teknologi agar nelayan kita semakin mampu bersaing. Kita memahami bahwa hasil tangkapan nelayan tidak selalu baik. Ketika hasil tangkapan melimpah pun, masih ada persoalan akses pasar yang harus diselesaikan," tegasnya.

H. Achmad Turmudzi berharap SNNU Banyuwangi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan nelayan dengan berbagai mitra usaha, lembaga, dan jaringan pemasaran. Dengan demikian, nelayan tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh nilai ekonomi yang layak dari hasil tangkapannya.

Ia menegaskan, pemberdayaan nelayan harus diarahkan pada penguatan kapasitas, perluasan jejaring usaha, serta penciptaan sistem ekonomi yang lebih berpihak kepada masyarakat kecil.

Sektor Perikanan dan Tantangan Pengentasan Kemiskinan

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Banyuwangi, Suryono Bintang Samudra, SP, M.Si yang membuka kegiatan tersebut, menekankan pentingnya sektor perikanan sebagai salah satu penopang ekonomi masyarakat, khususnya kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Ia menyampaikan bahwa sektor perikanan memiliki arti strategis dalam mendukung penghidupan masyarakat. Karena itu, dibutuhkan inovasi dan pengembangan usaha agar potensi kelautan Banyuwangi dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.

Dalam paparannya, ia menyinggung data kemiskinan di Banyuwangi yang disebut berada pada angka 5,6 persen dari jumlah penduduk sekitar 1,7 juta jiwa, atau kurang lebih 90 ribu orang. Data tersebut menjadi pengingat pentingnya upaya bersama untuk memperkuat ekonomi masyarakat.

Ia juga menyampaikan dorongan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, agar masyarakat dan berbagai elemen pemerintah terus berinovasi dalam beragam aspek kehidupan.

Dalam konteks tersebut, pengembangan sektor perikanan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat, pelaku usaha, dan kelompok nelayan. Sinergi ini diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi, memperluas kesempatan usaha, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Raker Bersama PW SNNU, Bahas Pengembangan Teknologi

Usai pengukuhan, PC SNNU Banyuwangi langsung mengikuti rapat kerja bersama PW SNNU Jawa Timur dan sejumlah perwakilan SNNU dari kabupaten lainnya. Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi untuk membahas persoalan strategis yang dihadapi nelayan sekaligus merumuskan langkah pengembangan organisasi ke depan.

Ketua PW SNNU Jawa Timur, Prof. Drs. Kuntjoro Basuki Dhiya'uddin, M.S.i menyampaikan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan riset dan pengembangan sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat kapasitas nelayan dan menjawab tantangan sektor perikanan.

Pengembangan teknologi menjadi salah satu perhatian penting, mengingat perubahan kondisi laut, kebutuhan efisiensi usaha, dan persaingan pasar menuntut nelayan untuk terus meningkatkan kemampuan serta memanfaatkan inovasi.

Melalui riset dan pengembangan tersebut, SNNU diharapkan dapat membangun pendekatan pemberdayaan yang lebih terarah, berbasis kebutuhan lapangan, dan berkelanjutan.

Bagi PC SNNU Banyuwangi, hasil rapat kerja ini menjadi pijakan untuk menyusun program prioritas yang dapat diterapkan secara bertahap. Organisasi diharapkan mampu hadir sebagai penggerak pemberdayaan nelayan, penghubung akses usaha, sekaligus mitra strategis pemerintah dalam pengembangan ekonomi kelautan.

Dengan semangat Khidmah Bahari, PC SNNU Banyuwangi meneguhkan komitmen untuk menjadikan laut sebagai sumber penghidupan yang dikelola secara bijaksana, sektor perikanan sebagai kekuatan ekonomi rakyat, dan kesejahteraan nelayan sebagai orientasi utama perjuangan.

Menjaga laut berarti menjaga kehidupan. Menguatkan nelayan berarti menghidupkan negeri.(HK)

PWNU Jatim dan PCNU Banyuwangi Matangkan Persiapan Apel Kader NU, Pemkab Sambut Baik Rencana Kedatangan 35 Ribu Kader Nahdlatul Ulama




BANYUWANGI – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi mematangkan persiapan pelaksanaan Apel Kader NU se-Jawa Timur melalui konsolidasi internal dan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan yang diperkirakan melibatkan 35 ribu kader dari 43 PCNU se-Jawa Timur tersebut mendapat sambutan positif dari pemerintah daerah karena dinilai berpotensi memberikan dampak berganda (multiplier effect) bagi perekonomian masyarakat Banyuwangi.

Rangkaian koordinasi berlangsung pada Jumat (30/10/2026). Pertemuan diawali di Kantor PCNU Banyuwangi, dilanjutkan dengan silaturahmi ke Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk menyampaikan rencana pelaksanaan kegiatan sekaligus memohon izin dan dukungan pemerintah daerah sebagai tuan rumah.

Dalam pertemuan internal di Kantor PCNU Banyuwangi, hadir Sekretaris PWNU Jawa Timur Ir. H. Mohammad Faqih, M.SA., Ph.D., didampingi Dr. H. Musta’in, M.Ag., selaku Ketua Hari Santri Nasional (HSN) PWNU Jawa Timur, serta Dr. Ir. H. Mohammad Qoderi selaku Vice Chairman Apel Kader NU Jawa Timur. Turut hadir perwakilan Koordinator Wilayah Kader NU, yakni Ustadz Syaiful, Ustadz Sudarto, dan Lora Nasrullah.

Rombongan PWNU Jawa Timur diterima Ketua PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi bersama jajaran pengurus Tanfidziyah PCNU Banyuwangi. Pertemuan tersebut menjadi ruang konsolidasi untuk menyelaraskan langkah, membahas kesiapan penyelenggaraan, serta merumuskan kebutuhan teknis dan dukungan lintas sektor.

Konsolidasi Internal, Menyatukan Langkah dan Kesiapan Organisasi

Penunjukan Banyuwangi sebagai tuan rumah menjadi tanggung jawab bersama yang membutuhkan kesiapan organisasi secara menyeluruh. Karena itu, koordinasi PWNU Jawa Timur dan PCNU Banyuwangi diarahkan untuk memastikan seluruh unsur yang terlibat memiliki pemahaman dan langkah yang selaras.

Pembahasan mencakup kesiapan kepanitiaan, koordinasi antarwilayah, mobilisasi peserta, kebutuhan fasilitas pendukung, serta pemetaan berbagai aspek teknis yang diperlukan dalam penyelenggaraan kegiatan berskala besar.

Dengan estimasi kehadiran 35 ribu kader dari 43 PCNU, perencanaan harus dilakukan secara terukur. Pengaturan titik transit dan titik kumpul peserta, rekayasa lalu lintas, pengamanan, pelayanan kesehatan, hingga kebersihan lingkungan menjadi bagian yang perlu dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait.

Ketua PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi menyampaikan bahwa kepercayaan tersebut merupakan kehormatan sekaligus amanah besar bagi organisasi yang dipimpinnya.

“Ini sebuah kehormatan sekaligus amanah besar bagi kami. Setelah mendapat amanah sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi melalui konferensi pada Januari 2026, kini kami kembali dipercaya mengemban tanggung jawab untuk menyukseskan Apel Kader NU se-Jawa Timur. Kepercayaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk meningkatkan semangat dan kerja organisasi dalam menggerakkan kekuatan Nahdlatul Ulama yang memiliki basis massa sangat besar,” ungkapnya.

Ia berharap, melalui konsolidasi yang intensif, PCNU Banyuwangi dapat menjalankan amanah tersebut dengan baik melalui kerja bersama seluruh jajaran NU dan dukungan berbagai pihak.

Sementara itu, Dr. Ir. H. Mohammad Qoderi menilai Banyuwangi memiliki potensi yang memadai untuk menjadi tuan rumah, baik dari sisi dukungan masyarakat, kekuatan struktur organisasi NU, maupun peluang kolaborasi dengan pemerintah daerah.

Sekretaris PWNU Jawa Timur Ir. H. Mohammad Faqih, M.SA., Ph.D., juga mendorong agar Apel Kader NU menjadi sarana konsolidasi yang memperkuat peran strategis Nahdlatul Ulama dalam merespons berbagai persoalan bangsa. Adapun Dr. H. Musta’in, M.Ag., menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat berorganisasi dan kepedulian kader sebagai energi penggerak perjuangan NU di berbagai bidang.

Silaturahmi ke Pemkab, Pamit dan Mohon Dukungan Pelaksanaan

Setelah melakukan koordinasi internal, rombongan PWNU Jawa Timur bersama PCNU Banyuwangi melanjutkan silaturahmi ke Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar membangun komunikasi dan sinergi dengan pemerintah daerah. Selain menyampaikan rencana pelaksanaan Apel Kader NU se-Jawa Timur, rombongan juga berpamitan sekaligus memohon izin dan dukungan agar kegiatan dapat dipersiapkan dan dilaksanakan dengan baik di Banyuwangi.

Rombongan disambut jajaran Pemkab Banyuwangi, di antaranya Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Khoirul Anam, S.H., M.H., dan Kepala Bagian Umum Sandi Dian Ervani, S.STP.

Pihak pemerintah daerah menyampaikan sambutan positif atas rencana tersebut. Pemkab Banyuwangi menyatakan welcome dan menyambut baik kehadiran puluhan ribu kader NU dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Pemerintah daerah memandang kegiatan berskala besar tersebut tidak hanya menjadi kegiatan organisasi keagamaan, tetapi juga berpotensi membawa dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat.

Kedatangan peserta dari luar Banyuwangi diperkirakan akan menggerakkan berbagai sektor usaha, mulai dari transportasi, penginapan, rumah makan, kuliner, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perputaran ekonomi tersebut menjadi salah satu manfaat yang dapat dirasakan masyarakat selama kegiatan berlangsung.

Sambutan baik Pemkab Banyuwangi sekaligus membuka ruang bagi penguatan koordinasi antara panitia dan perangkat daerah, terutama dalam mendukung kelancaran mobilitas peserta, pengaturan lalu lintas, keamanan, ketertiban, serta kesiapan fasilitas pendukung.

Sinergi NU dan Pemerintah untuk Banyuwangi

Koordinasi PWNU Jawa Timur, PCNU Banyuwangi, dan Pemkab Banyuwangi menjadi langkah awal untuk menyatukan dukungan organisasi dan pemerintah dalam menyukseskan Apel Kader NU se-Jawa Timur.

Bagi NU, kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi kader untuk memperkuat khidmah kepada agama, bangsa, dan masyarakat. Sementara bagi Banyuwangi, kehadiran puluhan ribu peserta membuka peluang tumbuhnya aktivitas ekonomi sekaligus memperkuat citra daerah sebagai tuan rumah kegiatan berskala regional.

Dengan dukungan pemerintah daerah dan kesiapan seluruh unsur organisasi, pelaksanaan apel diharapkan berjalan tertib, aman, dan lancar, sekaligus memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat Banyuwangi.(HK)

35 Ribu Kader Penggerak NU se-Jawa Timur Siap Banjiri Banyuwangi, 1.500 UMKM Dilibatkan dalam Mujahadah Kubro

BANYUWANGI – Sebanyak 35 ribu kader penggerak Nahdlatul Ulama (NU) se-Jawa Timur diproyeksikan memadati Banyuwangi dalam gelaran Mujahadah Kubro dan Apel Kader NU pada 21–22 November 2026. Menyambut kegiatan berskala regional tersebut, PCNU Banyuwangi bersama panitia lokal terus mematangkan persiapan, mulai dari penentuan lokasi hingga koordinasi lintas sektor dan pelibatan pelaku usaha lokal dalam suatu rapat persiapan di kantor PCNU Banyuwangi, Rabu (28/10/2026)

Ketua PCNU Banyuwangi, H. Achmad Turmudzi, menginstruksikan seluruh jajaran pengurus untuk melakukan persiapan sejak dini setelah Banyuwangi mendapat kepercayaan dari PWNU Jawa Timur menjadi tuan rumah kegiatan tersebut.

Turmudzi optimistis pelaksanaan Mujahadah Kubro dan Apel Kader NU akan berjalan sukses. Keyakinan itu didasarkan pada kesiapan jajaran pengurus serta dukungan berbagai pemangku kepentingan yang akan terlibat dalam menyukseskan kegiatan.

Menurutnya, kepercayaan yang diberikan kepada Banyuwangi harus dijawab dengan kerja nyata, koordinasi yang solid, dan kesiapan seluruh unsur penyelenggara. Kehadiran puluhan ribu kader dari berbagai kabupaten di Jawa Timur membutuhkan perencanaan matang agar seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, lancar, dan khidmat.

Ketua panitia lokal, Muhlisin, S.H., menegaskan bahwa koordinasi di seluruh lini akan terus dilakukan untuk memastikan kesiapan penyelenggaraan.

“Koordinasi di semua lini akan kita lakukan secara intensif. Mulai dari kesiapan lokasi, pelayanan peserta, pengamanan, hingga keterlibatan berbagai unsur pendukung, semuanya harus dipersiapkan dengan baik. Kami ingin memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan sukses,” ungkapnya.

Ia menambahkan, besarnya jumlah peserta menuntut kerja sama yang kuat antara panitia, jajaran pengurus NU, pemerintah daerah, aparat terkait, dan masyarakat. Sinergi tersebut menjadi kunci agar kegiatan berskala besar ini dapat terlaksana dengan baik sekaligus memberikan manfaat yang luas bagi Banyuwangi.

Menguatkan Gerakan Moral dan Persaudaraan

Lebih dari sekadar pertemuan kader, Mujahadah Kubro dan Apel Kader NU diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar Nahdlatul Ulama dalam memperkuat kualitas moral masyarakat serta menyampaikan pesan kebangsaan untuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang lebih baik.

Nilai-nilai keagamaan yang menjadi landasan perjuangan NU perlu diwujudkan melalui perilaku sosial yang menyejukkan, mengedepankan persaudaraan, serta menjaga keharmonisan di tengah keberagaman.

Kader NU diharapkan mampu menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari dengan menghindari perilaku saling menghujat, menyebarkan kebencian, maupun memperkeruh suasana melalui informasi yang belum terverifikasi.

Sikap tabayun, yakni memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya, perlu terus dikedepankan. Di tengah derasnya arus informasi, sikap bijak dan bertanggung jawab menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan serta mencegah munculnya konflik di tengah masyarakat.

Semangat tersebut juga harus tercermin dalam kehidupan bertetangga dan membangun persaudaraan, baik sesama umat Islam maupun dengan pemeluk agama lain serta seluruh komponen masyarakat.

Dengan demikian, kehadiran puluhan ribu kader NU di Banyuwangi diharapkan membawa pesan kesejukan, memperkuat kerukunan, dan meneguhkan komitmen bersama dalam merawat persatuan bangsa.

Libatkan 1.500 UMKM, Gerakkan Ekonomi Kerakyatan

Selain membawa misi keagamaan dan kebangsaan, pelaksanaan Mujahadah Kubro dan Apel Kader NU juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Banyuwangi.

Sekitar 1.500 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) direncanakan terlibat dalam mendukung kebutuhan konsumsi serta berbagai layanan bagi para kader yang datang dari berbagai kabupaten di Jawa Timur.

Keterlibatan ribuan pelaku usaha tersebut menjadi peluang untuk memperluas pasar, meningkatkan transaksi, sekaligus memperkenalkan produk unggulan Banyuwangi kepada masyarakat dari berbagai daerah.

Kehadiran peserta dalam jumlah besar juga berpotensi menggerakkan berbagai sektor ekonomi, mulai dari perdagangan, kuliner, transportasi, hingga jasa penunjang kegiatan.

Karena itu, persiapan kegiatan diharapkan mampu memastikan pelaku UMKM lokal memperoleh ruang partisipasi yang optimal. Dengan pengelolaan yang baik, perhelatan ini dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat hubungan antara organisasi keagamaan dan sektor usaha rakyat.

Sinergi antara PCNU Banyuwangi, PWNU Jawa Timur, pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam mewujudkan tujuan tersebut.

Mujahadah Kubro dan Apel Kader NU di Banyuwangi diharapkan menjadi perhelatan yang menyatukan kekuatan spiritual, pengabdian sosial, dan semangat kebangsaan. Di saat yang sama, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi Banyuwangi untuk menunjukkan kesiapan sebagai tuan rumah sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dengan semangat khidmah dan kebersamaan, Banyuwangi bersiap menyambut 35 ribu kader penggerak NU untuk memperkuat persaudaraan, menyuarakan pesan moral kebangsaan, serta menggerakkan ekonomi kerakyatan.(HK)

Latih 40 Da’i Piawai Kelola Sampah, LPBI PCNU Banyuwangi Sukseskan Gerakan Jaga Bumi

 


BANYUWANGI – Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PCNU Banyuwangi terus memperkuat gerakan pelestarian lingkungan melalui pelatihan da’i lingkungan yang memiliki keterampilan mengedukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah organik dan anorganik. Sebanyak 40 da’i dipersiapkan untuk terjun langsung ke masyarakat dan mengampanyekan gerakan menjaga bumi dari ancaman kerusakan lingkungan.

Pelatihan tersebut dilaksanakan di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Balak, Kecamatan Songgon, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan kelanjutan sekaligus implementasi Training of Trainers (TOT) Perubahan Perilaku dalam Pengelolaan Sampah Batch 2 dan 3 yang bekerjasama dengan Banyuwangi Hijau, dengan sasaran yang lebih dekat ke tingkat ranting NU dan desa sekitar 8 pengurus ranting yg tersebar di MWC Blimbingsari, Srono, Sempu, Kabat, Cluring, Genteng.

Ketua LPBI PCNU Banyuwangi, Untung Hermawan, menyampaikan optimisme bahwa target pembentukan lima da’i lingkungan di setiap desa dapat diwujudkan secara bertahap. Para da’i tersebut diharapkan menjadi penggerak kesadaran masyarakat, khususnya warga Nahdlatul Ulama, untuk membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah secara bertanggung jawab.

Menurutnya, keterlibatan para da’i menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan kampanye pelestarian lingkungan. Dengan pendekatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan, pesan tentang kebersihan, pengurangan sampah, serta kepedulian terhadap alam diharapkan lebih mudah diterima dan dipraktikkan oleh masyarakat.

Antusiasme peserta selama mengikuti diklat menjadi salah satu modal penting bagi keberlanjutan program tersebut. Para peserta menyatakan kesiapan untuk melakukan edukasi dan mengajak masyarakat NU berpartisipasi dalam program pelayanan pengelolaan sampah yang dikembangkan melalui gerakan Banyuwangi Hijau.

Kegiatan ini masih merupakan hasil kerja sama LPBI PCNU Banyuwangi dengan tim Banyuwangi Hijau. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas kader di tingkat akar rumput agar kampanye lingkungan tidak berhenti pada penyampaian pesan, tetapi berlanjut menjadi perubahan perilaku dan praktik nyata di tengah masyarakat.

Salah seorang narasumber, Haikal Kafili, menekankan bahwa membina da’i dari lingkungan Nahdlatul Ulama memiliki modal sosial yang kuat. Sebagian besar peserta memiliki latar belakang pendidikan pesantren sehingga terbiasa menyampaikan pesan keagamaan dan membangun komunikasi dengan masyarakat.

Namun, menurut Haikal, tantangan sesungguhnya justru muncul ketika para da’i mulai menjalankan peran di lapangan. Mereka harus mampu menerjemahkan pengetahuan dan materi pelatihan menjadi gerakan yang konkret, mulai dari mengajak warga memilah sampah hingga membangun kebiasaan pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.

“Melatih da’i di lingkungan NU relatif mudah karena mereka memiliki bekal keagamaan dan tradisi dakwah dari pesantren. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mereka bekerja nyata di lapangan sebagai juru kampanye lingkungan sehat,” ungkapnya.

Haikal juga menyoroti pentingnya relevansi dakwah lingkungan di tengah perubahan zaman. Para da’i perlu menemukan pendekatan yang menarik, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat agar isu pengelolaan sampah tidak dianggap sebagai persoalan pinggiran atau kampanye yang sudah ketinggalan zaman.

Menurutnya, dakwah lingkungan perlu ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan dan sosial. Menjaga kebersihan, mengurangi pencemaran, serta mengelola sampah merupakan bentuk kepedulian terhadap kemaslahatan bersama yang harus diwujudkan melalui tindakan sehari-hari.

Melalui pelatihan ini, LPBI PCNU Banyuwangi berharap lahir kader-kader lingkungan yang tidak hanya cakap menyampaikan pesan, tetapi juga mampu menggerakkan partisipasi masyarakat. Target lima da’i di setiap desa diharapkan menjadi fondasi bagi terbentuknya jaringan dakwah lingkungan yang menjangkau tingkat ranting hingga komunitas warga.

Gerakan Jaga Bumi pun diarahkan agar semakin membumi melalui keterlibatan warga NU dalam pengelolaan sampah. Keberhasilannya akan ditentukan oleh konsistensi para da’i dalam mendampingi masyarakat, keteladanan dalam praktik sehari-hari, serta kemampuan membangun gerakan kolektif demi lingkungan yang lebih sehat dan lestari.(HK)

Laporan HSN PCNU Banyuwangi: Apel Hari Santri Serempak Digelar di Seluruh MWCNU, Kobarkan Semangat Khidmah untuk Negeri

BANYUWANGI – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kabupaten Banyuwangi berlangsung semarak. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi menggelar apel Hari Santri secara serempak di berbagai Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se-Kabupaten Banyuwangi, Kamis (22/10/2026). Semarak peringatan ini menjadi wujud kebersamaan warga Nahdliyin dalam merawat tradisi pesantren, memperkuat khidmah, serta meneguhkan peran santri bagi agama, bangsa, dan negara.

Apel utama PCNU Banyuwangi dipusatkan di Lapangan Persen, Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, sekaligus menjadi penutupan Kemah Santri Ma’arif NU yang berlangsung sejak 20 Oktober 2026.

Ada pemandangan menarik dalam pelaksanaan upacara tersebut. Sebagian besar peserta mengenakan busana khas santri, mulai dari sarung, baju putih, hingga peci. Suasana khas pesantren begitu terasa, berpadu dengan semangat nasionalisme dan kebersamaan antarkader Nahdlatul Ulama.

Inspeksi pasukan menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian. Inspektur upacara, Ketua PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi, melakukan pemeriksaan barisan dengan berkeliling menggunakan mobil bak terbuka. Dalam kegiatan tersebut, ia dikawal Ketua LP Ma’arif NU Cabang Banyuwangi, H. Saeroji.

Bagi para peserta Kemah Santri Ma’arif yang telah menjalani rangkaian kegiatan selama tiga hari, penutupan ini menjadi pengalaman penuh kegembiraan. Antusiasme peserta semakin terasa dengan kehadiran Rais Syuriah PCNU Banyuwangi, KH. Fahrudin Manan, yang turut menyaksikan jalannya kegiatan. Kehadiran para pimpinan NU tersebut menjadi teladan sekaligus penyemangat bagi santri dan warga Nahdliyin di Banyuwangi.

Apel Santri Semarak di Berbagai MWCNU

Semangat yang sama juga terlihat di berbagai wilayah. Apel Hari Santri berlangsung dengan ciri khas dan kreativitas masing-masing MWCNU, melibatkan pengurus, lembaga pendidikan, badan otonom, serta masyarakat sekitar.

Di MWCNU Kalipuro, apel dipusatkan di Pondok Pesantren Nurul Khoiroh. Peringatan berlangsung meriah dengan penampilan sejumlah atraksi seni tradisional yang dikemas dalam nuansa santri, baik melalui kostum maupun gerakan tariannya.

Ketua MWCNU Kalipuro, H. Nanang Musta’in, hadir menyaksikan kegiatan tersebut bersama Camat Kalipuro, Ahmad Nuril Falah, yang juga merupakan salah satu pengurus PCNU Banyuwangi. Kehadiran unsur pemerintahan dan organisasi keagamaan memperlihatkan sinergi dalam mendukung pendidikan karakter serta pelestarian tradisi santri.

Sementara itu, MWCNU Muncar memusatkan apel di Lapangan Untung Suropati. Peringatan Hari Santri di wilayah ini diwarnai beragam kegiatan, mulai dari upacara, jalan sehat, hingga pertunjukan seni bernuansa santri.

Kekompakan tampak dalam pelaksanaan kegiatan yang dipimpin Ketua MWCNU Muncar, Ustadz Hanif, bersama jajaran pengurusnya. Berbagai unsur masyarakat dan warga Nahdliyin turut menikmati rangkaian acara dalam suasana penuh kebersamaan.

Di wilayah MWCNU Purwoharjo, apel dipusatkan di Lapangan Karetan. Kegiatan ini melibatkan lembaga-lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU yang tampil kompak dan penuh semangat.

Ketua MWCNU Purwoharjo, Fahrurrozi, mengikuti jalannya upacara bersama jajaran pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah, lembaga, serta badan otonom. Keterlibatan berbagai unsur tersebut memperlihatkan kuatnya kolaborasi organisasi dalam menyemarakkan Hari Santri sekaligus menanamkan nilai perjuangan kepada generasi muda.

Semarak serupa juga berlangsung di MWCNU Pesanggaran, dengan pusat kegiatan di Lapangan Sumberagung, Templek, Kecamatan Pesanggaran. Seluruh komponen organisasi terlihat terlibat aktif, mulai dari jajaran pengurus MWCNU yang dikomandani Herwanto hingga badan otonom seperti GP Ansor, Muslimat NU, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, dan Pagar Nusa.

Kebersamaan lintas badan otonom tersebut menjadi gambaran bahwa peringatan Hari Santri mampu menyatukan berbagai kelompok dan generasi dalam satu semangat pengabdian.

Pendidikan dan Pemerintahan Bersatu Merayakan Hari Santri

Peringatan Hari Santri juga berlangsung di sejumlah wilayah lainnya dengan semangat yang tidak kalah meriah. Di pusat pemerintahan Kabupaten Banyuwangi, kegiatan memperlihatkan kolaborasi antara unsur pendidikan dan birokrasi dalam menyemarakkan Hari Santri Nasional.

Lembaga Pendidikan Baiturrahman turut menggelar apel Hari Santri yang dipusatkan di Islamic Center Baiturrahman Banyuwangi. Kegiatan tersebut didahului dengan kirab santri yang diselenggarakan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat sekolah dasar.

Kirab dan apel tersebut menjadi ruang perjumpaan bagi kalangan pendidik, peserta didik, serta masyarakat untuk menghidupkan nilai-nilai kesantrian di lingkungan pendidikan. Dengan demikian, semangat Hari Santri tidak berhenti di lingkungan pesantren, tetapi juga tumbuh di sekolah dan ruang-ruang publik.

Menguatkan Kembali Ruh Perjuangan Santri

Rangkaian apel Hari Santri yang digelar serempak di berbagai wilayah Banyuwangi menunjukkan besarnya antusiasme warga Nahdliyin dalam menyambut peringatan 22 Oktober. Keterlibatan pesantren, lembaga pendidikan, pengurus NU, badan otonom, dan unsur pemerintahan memperlihatkan bahwa Hari Santri memiliki makna yang luas bagi kehidupan masyarakat.

Peringatan tahun ini juga menjadi ruang refleksi bagi dunia pendidikan pesantren. Di tengah berbagai ujian dan sorotan yang pernah menerpa lingkungan pendidikan, semangat Hari Santri perlu diarahkan untuk memperkuat kembali nilai-nilai luhur pesantren, seperti adab, keikhlasan, tanggung jawab, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Santri memiliki sejarah panjang dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa. Karena itu, penguatan ruh kesantrian perlu diwujudkan melalui pendidikan yang berkarakter, pengabdian kepada masyarakat, serta keberanian memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Semarak apel Hari Santri di Banyuwangi menjadi gambaran bahwa tradisi pesantren tetap hidup dan terus berkembang di tengah masyarakat. Dari lapangan upacara hingga halaman pesantren, dari lembaga pendidikan hingga pusat pemerintahan, seluruh elemen memiliki ruang untuk mengambil bagian dalam merawat warisan perjuangan para ulama.

Hari Santri Nasional 2026 menjadi penegasan bahwa santri bukan sekadar pewaris tradisi, melainkan juga penggerak perubahan yang berbekal ilmu, akhlak, dan semangat kebangsaan. Dengan semangat khidmah dan persatuan, santri diharapkan terus mengambil peran dalam menegakkan keadilan, menjaga kerukunan, serta menguatkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.(Kaf)

Laporan HSN PCNU Banyuwangi: Sambung Sanad Perjuangan, Ziarah Muassis dan Silaturahmi kepada Kiai Sepuh Digelar Serentak

BANYUWANGI – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kabupaten Banyuwangi diisi dengan kegiatan ziarah kepada para muassis Nahdlatul Ulama (NU) dan silaturahmi kepada kiai sepuh. Kegiatan yang dilaksanakan oleh jajaran Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) di berbagai wilayah ini menjadi ikhtiar untuk menyambung sanad perjuangan, merawat ingatan sejarah, serta memperkuat khidmah kepada jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Rangkaian ziarah tersebut mulai dilaksanakan sejak Ahad, 18 Oktober 2026, dan berlangsung hingga Rabu, 21 Oktober 2026, dengan menyasar makam para muassis NU yang berada di wilayah masing-masing MWCNU. Sejumlah pengurus NU, kiai, dan warga Nahdliyin turut mengikuti kegiatan tersebut.

Di wilayah MWCNU Muncar dan sekitarnya, kegiatan ziarah dilaksanakan ke makam almarhum almaghfurlah KH. Iskandar di Sumberberas dan KH. Abdul Manan di Tegalpare. Kegiatan serupa juga dilaksanakan oleh MWCNU Rogojampi, Srono, Genteng, Purwoharjo, Singojuruh, Songgon serta sejumlah MWCNU lainnya dengan mengunjungi makam para kiai pendiri dan perintis perjuangan NU di wilayah masing-masing.

Sementara itu, MWCNU Banyuwangi Kota menjadwalkan ziarah pada Rabu, 21 Oktober 2026, ke sejumlah makam muassis dan tokoh NU, di antaranya Hadrotusy Syekh KH. Syamsuri dan KH. Ma’shum di kawasan pemakaman Singonegaran, serta KH. Moh. Sholeh di Lateng dan KH. Harun di Tukangkayu.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan kembali sejarah perjuangan para ulama kepada generasi penerus NU. Ziarah tidak sekadar menjadi kegiatan penghormatan kepada para pendahulu, tetapi juga sarana refleksi atas nilai keikhlasan, pengabdian, dan keteguhan mereka dalam membangun jam’iyyah serta membimbing umat.



PCNU Banyuwangi Silaturahmi kepada Kiai Sepuh

Selain ziarah ke makam para muassis, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi juga melaksanakan silaturahmi kepada kiai sepuh sebagai bagian dari ikhtiar menyambung sanad perjuangan dan memohon nasihat bagi keberlangsungan organisasi.

Dalam kegiatan tersebut, PCNU Banyuwangi diwakili Sekretaris PCNU H. Bisri Mustofa dan Bendahara PCNU H. Junaedi. Keduanya bersilaturahmi kepada KH. Fathullah Suyuti, kiai sepuh sekaligus Musytasar PCNU Banyuwangi.

Silaturahmi tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada para ulama yang telah memberikan sumbangsih besar bagi perjalanan NU. Nasihat dan keteladanan kiai sepuh diharapkan senantiasa menjadi pijakan bagi pengurus dalam menjalankan amanah organisasi, menjaga tradisi, serta merumuskan langkah perjuangan yang relevan dengan kebutuhan umat dan perkembangan zaman.

Bagi Nahdlatul Ulama, sanad perjuangan tidak berhenti pada hubungan keilmuan, tetapi juga mencakup kesinambungan nilai, keteladanan, dan tanggung jawab dalam merawat warisan para pendiri.

Doa Bersama dan Istigasah Serentak

Rangkaian kegiatan HSN PCNU Banyuwangi akan dilanjutkan dengan doa bersama dan istigasah secara serentak di seluruh MWCNU se-Kabupaten Banyuwangi pada Rabu malam, 21 Oktober 2026.

Doa bersama tersebut menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon keberkahan, keselamatan, dan kekuatan bagi perjuangan Nahdlatul Ulama dalam melayani umat, menjaga persatuan, serta berkontribusi bagi bangsa dan negara.

Melalui rangkaian ziarah, silaturahmi, doa bersama, dan istigasah ini, PCNU Banyuwangi berharap peringatan Hari Santri Nasional 2026 mampu memperkuat hubungan antargenerasi dalam tubuh NU. Para santri dan kader NU diharapkan semakin mengenal sejarah perjuangan para ulama sekaligus memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan tersebut.

Menyambung sanad perjuangan berarti merawat warisan para muassis, menghormati nasihat kiai sepuh, dan meneruskan khidmah NU dengan penuh keikhlasan. Dengan semangat tersebut, peringatan Hari Santri Nasional menjadi ruang untuk meneguhkan kembali komitmen Nahdliyin dalam menjaga agama, mengabdi kepada masyarakat, dan merawat keutuhan bangsa.(Kaf)


 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger