Pages

Satu Jam Bersama Mas Wapres Gibran

Satu Jam Bersama Mas Wapres Gibran

Jumat, 10 Juli 2026



Ada hari-hari yang tidak pernah kita masukkan ke dalam agenda. Ia datang tanpa mengetuk, mengubah arah perjalanan, lalu pergi meninggalkan jejak yang lebih panjang daripada rencana. Mungkin begitulah cara Tuhan mengajarkan bahwa hidup tidak selalu berjalan menurut peta yang kita gambar sendiri.

Pagi itu saya hanya menjalankan rutinitas. Bersama pimpinan, kami melaksanakan monitoring dan evaluasi di beberapa Kantor Urusan Agama, dimulai dari KUA Songgon, berlanjut ke KUA Singojuruh, lalu berakhir di KUA Genteng. Di balik berkas administrasi, tanda tangan, dan ruang pelayanan, selalu ada orang-orang yang bekerja dalam diam. Pengabdian sering kali tidak lahir di atas panggung, melainkan di meja-meja sederhana yang jarang disorot.

Menjelang salat Jumat, ketika pimpinan memberikan pengarahan, di KUA Genteng, seorang ASN berpamitan karena harus menghadiri ramah tamah bersama Wakil Presiden Republik Indonesia, Mas Gibran Rakabuming Raka. Seorang ASN lain bahkan sejak awal tidak mengikuti pembinaan karena memperoleh undangan yang sama. Saat itulah ingatan saya seperti disentuh pelan. Bukankah saya juga menerima undangan itu?

Seperti sungai yang tiba-tiba menemukan aliran baru, perjalanan hari itu pun berubah arah. Peralatan kantor saya tinggalkan di KUA. Saya memilih berboncengan sepeda motor. Lebih cepat, lebih praktis. Atau mungkin, jika ingin sedikit menertawakan diri sendiri, memang itulah pilihan paling masuk akal bagi seseorang yang belum memiliki mobil. Kadang kesederhanaan justru mengajarkan bahwa tujuan tidak selalu ditentukan oleh kendaraan, melainkan oleh langkah. sebelum menuju lokasi, kami singgah di Pondok Pesantren Ibnu Sina untuk mengambil kartu identitas tamu. Di tangan saya tertera dua angka: 80 dan 91.

Angka memang tidak pernah benar-benar bisu. Delapan puluh mengingatkan saya pada usia Republik Indonesia tahun ini. Delapan puluh tahun bukan sekadar hitungan kalender, melainkan perjalanan panjang tentang pengorbanan, harapan, dan cara sebuah bangsa memaknai kemerdekaannya. Sejarah selalu memiliki lebih dari satu wajah. Kita menyebut Belanda sebagai penjajah karena kita memandangnya dari tanah yang pernah terluka. Dari tempat lain, kisah itu mungkin dituturkan dengan sudut pandang berbeda. Sejarah bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah, tetapi juga tentang dari mana mata memandang.

Sementara angka sembilan puluh satu membawa saya pulang ke tahun ketika menamatkan Madrasah Aliyah. Ingatan kemudian melompat lagi ke tahun 1988 saat saya lulus Madrasah Tsanawiyah. Di acara itu saya sempat berbincang dengan Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, yang dahulu merupakan kakak kelas saya.

Mungkin benar, manusia bukan sedang mengingat angka. Manusialah yang menyimpan kenangan di balik angka. Angka hanyalah bahasa matematika, sedangkan makna adalah bahasa pengalaman. Secara matematis, sepuluh ditambah tujuh belas tentu tidak pernah menjadi tujuh belas. Namun dalam dunia simbol, budaya, atau keyakinan, orang sering menemukan tafsir yang berbeda. Di situlah kita belajar membedakan antara logika dan cara manusia memaknai kehidupan. Jika ada yang bertanya, "Sampeyan di sini sebagai apa?"

Saya hanya akan menjawab sambil tersenyum, "Sebagai orang yang kebetulan mendapat undangan." Memang, saya bukan pejabat. Bukan tokoh masyarakat. Bukan pula orang yang memiliki posisi penting dalam acara itu. Saya hanyalah seorang penulis yang sehari-hari bekerja sebagai ASN. Mungkin nama saya memang tercantum dalam daftar undangan, mungkin pula panitia tanpa sengaja memasukkannya. Saya tidak pernah mencari tahu. Tidak semua kebetulan harus dijelaskan. Sebab bisa jadi, apa yang kita sebut kebetulan hanyalah cara Tuhan menyembunyikan rencana-Nya.

Pondok Pesantren Ibnu Sina bukan tempat yang asing bagi saya. Dua tahun lalu saya mengikuti Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU) di sana. Pesantren selalu menghadirkan suasana yang sulit diterjemahkan oleh kata-kata. Ada kesederhanaan, ilmu, doa, dan ketenangan yang tumbuh tanpa banyak suara.

Kegiatan juga mengingatkan saya kepada KH. Fakhruddin Manan, Rais Syuriah PCNU Banyuwangi yangj uga hadir dalam jamuan bersama Mas Wapres, . Sekitar dua puluh tahun lalu, ketika kami mulai merintis pengajian alumni haji di lingkungan kami, di Desa Sumberberas, beliau termasuk yang paling sering kami undang untuk memberikan tausiyah. Hingga hari ini pengajian tersebut masih berlangsung dan jamaahnya terus bertambah.

Barangkali begitulah cara amal bekerja. Ia tidak selalu tumbuh secepat harapan. Kadang ia menjadi benih yang lama berdiam di dalam tanah sebelum akhirnya menjelma pohon yang menaungi banyak orang.

Ketika Mas Wapres Gibran memasuki tempat jamuan, suasana berlangsung sederhana. Tidak ada pidato, Tidak ada seremoni yang berlebihan. Yang ada hanyalah ramah tamah dan permohonan doa kepada para ulama. Menurut saya, seorang pemimpin yang meminta doa kepada para kiai sedang menunjukkan bahwa setinggi apa pun jabatan, manusia tetap memerlukan sentuhan Tuhan.

Saya memilih duduk di sudut tempat jamuan. Dari sana saya dapat melihat seluruh suasana dengan lebih utuh. Bahkan saya sempat menikmati beberapa tusuk sate tanpa banyak diketahui orang. Kadang, mereka yang tidak berada di tengah sorotan justru dapat melihat panggung kehidupan dengan lebih jernih.

Di ruangan itu hadir Bupati Banyuwangi, Gubernur Jawa Timur, para pimpinan daerah, tokoh masyarakat, para kiai, serta petugas pengamanan berpakaian sipil yang tetap mudah dikenali dari sorot mata dan ketegasan sikapnya.

Sepulang dari acara, saya mengunggah foto bersama Mas Wapres ke media sosial. Komentar pun bermunculan. Ada yang mengucapkan selamat dengan tulus. Ada pula yang menyelipkan pertanyaan sinis, bahkan meminta saya menanyakan soal ijazah. Saya memilih diam. Tidak semua pertanyaan harus dijawab, dan tidak setiap kegaduhan layak diberi panggung.

Bagi saya, ijazah tetap penting sebagai bukti pendidikan formal. Namun ia bukan satu-satunya ukuran kebijaksanaan, integritas, ataupun kemampuan seseorang mengabdi kepada masyarakat.

Saya sendiri pernah mengejar gelar mmagister.dengan memilih kampus yang tidak Dulu mungkin ada sedikit keinginan agar tampak lebih pintar. Kini saya mengerti bahwa gelar hanyalah pintu, bukan isi rumah. Pengetahuan tanpa kerendahan hati hanya akan menjadi hiasan di dinding. Sebaliknya, kebijaksanaan tumbuh dari pengalaman, ketekunan, dan kesediaan untuk terus belajar.

Saya bersyukur menjadi satu di antara sekitar dua ratus lima puluh tamu undangan. Entah karena nama saya memang tercatat, entah karena sebuah kebetulan yang tidak pernah saya pahami. Namun saya percaya, tidak semua yang tampak kebetulan benar-benar kebetulan.

Saya pulang bukan hanya membawa foto bersama seorang wakil presiden. Saya membawa kesadaran bahwa hidup sering mempertemukan kita dengan orang-orang penting, bukan agar kita merasa penting, melainkan agar kita semakin sadar bahwa kita bukan orang penting.

Hari itu kembali mengingatkan saya pada makna pesantren. Pesantren bukan sekadar tempat mempelajari kitab. Ia adalah sekolah kehidupan. Di sanalah seseorang belajar bangun sebelum fajar, menghargai waktu, menghormati guru, hidup sederhana, memimpin doa, berbicara di depan banyak orang, menyelesaikan persoalan bersama, serta memahami bahwa ilmu tanpa adab hanyalah cahaya yang kehilangan arah. Tidak mengherankan jika dari pesantren lahir ulama, pemimpin, birokrat, pengusaha, dan tokoh masyarakat. Yang dibentuk bukan hanya kecerdasan berpikir, tetapi juga keteguhan karakter.

Satu jam bersama Mas Wapres Gibran hanyalah sepotong waktu. Namun yang paling lama tinggal dalam ingatan bukanlah siapa yang saya temui, melainkan perjalanan yang mengantar saya ke sana: dari ruang-ruang pelayanan KUA, deretan angka yang membangunkan kenangan, jejak pesantren yang menempa karakter, hingga kesadaran bahwa syukur adalah cara paling indah menikmati setiap peristiwa.

Sebab pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan untuk selalu berdiri di barisan terdepan. Kadang, duduk tenang di sudut ruangan, menjadi saksi tanpa banyak bicara, sudah cukup untuk menyadarkan bahwa kita sedang mengambil bagian kecil dalam sebuah perjalanan besar yang telah ditulis Tuhan jauh sebelum kita melangkah.Menurut saya, versi ini lebih kuat karena tokoh utamanya bukan Wakil Presiden, melainkan perjalanan batin penulis—tentang takdir, kerendahan hati, pesantren, pengabdian, dan rasa syukur. Itu membuat tulisan terasa lebih sebagai opini sastra daripada sekadar laporan pengalaman. (Syf)

Wapres Gibran Serap Aspirasi Nelayan Muncar, Janjikan Percepatan Penyelesaian Persoalan Perizinan dan Infrastruktur



BANYUWANGI (Warta Blambangan) Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Banyuwangi dengan menemui para nelayan di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) dan Pasar Ikan Segar Muncar, Jumat (10/7/2026). Kunjungan tersebut menjadi ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat pesisir untuk membahas berbagai persoalan yang selama ini dihadapi nelayan, mulai dari rumitnya perizinan hingga kebutuhan peningkatan infrastruktur pelabuhan.

Dalam dialog yang berlangsung terbuka, perwakilan nelayan Muncar, Umar, menyampaikan sejumlah aspirasi kepada Wakil Presiden. Salah satu persoalan utama yang dikeluhkan adalah kompleksitas pengurusan izin kapal nelayan yang dinilai membebani masyarakat pesisir karena harus memenuhi banyak persyaratan administratif.

Menurut Umar, nelayan tradisional di Muncar harus mengurus berbagai dokumen yang jumlahnya mencapai belasan jenis sehingga tidak sedikit yang mengalami kesulitan dalam memenuhi seluruh persyaratan tersebut. Karena itu, ia berharap pemerintah dapat menyederhanakan mekanisme perizinan agar nelayan lebih mudah menjalankan aktivitas penangkapan ikan secara legal.

Selain persoalan administrasi, nelayan juga mengusulkan peningkatan kapasitas Pelabuhan Muncar. Dengan jumlah sekitar 191 kapal berukuran rata-rata 20 hingga 30 Gross Ton (GT), fasilitas sandar yang tersedia dinilai belum mampu mengakomodasi seluruh armada, terutama ketika kapal-kapal kembali bersamaan setelah melaut.

Kondisi tersebut mengakibatkan antrean panjang saat proses sandar berlangsung. Oleh sebab itu, para nelayan berharap pemerintah dapat merealisasikan reklamasi, revitalisasi pelabuhan, pengerukan sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan, pembangunan pemecah ombak, serta perbaikan akses jalan menuju kawasan pelabuhan.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyatakan seluruh masukan dari masyarakat nelayan telah dicatat dan akan segera dikoordinasikan dengan pemerintah pusat. Ia mengakui bahwa efisiensi anggaran yang sedang diterapkan pemerintah menjadi tantangan tersendiri, namun kebutuhan nelayan tetap menjadi perhatian karena menyangkut kepentingan masyarakat luas.

Menurut Gibran, penyederhanaan perizinan kapal dan peningkatan infrastruktur pelabuhan merupakan kebutuhan yang mendesak. Karena itu, ia akan melaporkan seluruh usulan tersebut kepada Presiden serta berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait agar proses penyelesaiannya dapat dipercepat.

Selain pembenahan pelabuhan, pemerintah juga akan mendorong percepatan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Muncar sebagai salah satu program yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui penguatan sektor perikanan dan ekonomi lokal.

Dalam kesempatan itu, Gibran menegaskan bahwa penyelesaian berbagai persoalan nelayan membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah daerah. Ia menyatakan akan terus berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi agar setiap aspirasi yang disampaikan masyarakat dapat ditindaklanjuti secara bertahap.

Sebagai bentuk dukungan nyata kepada nelayan, Wakil Presiden menyerahkan bantuan sebanyak 320 unit cooler box untuk membantu menjaga kualitas dan kesegaran hasil tangkapan ikan. Ia juga menyempatkan diri mengunjungi lapak pedagang di kawasan TPI Muncar dan membeli sejumlah hasil tangkapan nelayan sebagai bentuk dukungan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap masyarakat nelayan di Banyuwangi. Menurutnya, kehadiran Wakil Presiden memberikan harapan baru bagi percepatan penyelesaian berbagai persoalan yang selama ini menjadi kebutuhan masyarakat pesisir.

Ipuk menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Banyuwangi siap memperkuat kolaborasi dengan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, khususnya dalam menangani persoalan yang menjadi kewenangan daerah, sehingga pembangunan sektor kelautan dan perikanan di Muncar dapat berjalan lebih optimal dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan nelayan. 

PC LKKNU Banyuwangi Bersama Jajaran PCNU Hadiri Kunjungan Kerja Wakil Presiden RI di Ponpes Ibnu Sina Genteng

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Pengurus Cabang Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (PC LKKNU) Kabupaten Banyuwangi bersama jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi menghadiri kunjungan kerja Wakil Presiden Republik Indonesia di Pondok Pesantren Ibnu Sina, Kecamatan Genteng, Jumat (10/7/2026). Kehadiran keluarga besar Nahdlatul Ulama dalam agenda kenegaraan tersebut menegaskan komitmen organisasi dalam memperkuat sinergi antara pemerintah, pesantren, dan masyarakat guna membangun sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, serta berlandaskan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.


Rombongan PCNU Banyuwangi dipimpin Ketua Tanfidziyah Ahmad Turmudzi dan Rais Syuriyah KH. Fakhrudin Manan, didampingi para ketua lembaga di bawah naungan PCNU Banyuwangi. Dari PC LKKNU Banyuwangi hadir Ketua Dalilatus Saadah, pengurus Farida, beserta jajaran pengurus lainnya yang turut mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Kunjungan Wakil Presiden disambut oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin, M.A., Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Drs. Nanang Avianto, M.Si., Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para ulama, pengasuh pesantren, serta berbagai elemen masyarakat.

Pengamanan kunjungan kerja Wakil Presiden dilakukan secara terpadu oleh Pangdam V/Brawijaya bersama unsur Forkopimda Jawa Timur. Mayjen TNI Rudy Saladin berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Nanang Avianto, dan seluruh unsur terkait dalam mengawal setiap rangkaian agenda kunjungan sehingga berlangsung aman, tertib, lancar, dan kondusif.


Dalam kesempatan tersebut, Wakil Presiden bersama rombongan meninjau sejumlah fasilitas Pondok Pesantren Ibnu Sina serta berdialog dengan para pengasuh dan santri. Dialog menitikberatkan pada penguatan peran strategis pesantren sebagai pusat pendidikan Islam yang mampu melahirkan generasi berakhlakul karimah, memiliki wawasan kebangsaan, sekaligus siap menghadapi tantangan zaman melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Keikutsertaan PC LKKNU Banyuwangi dalam agenda tersebut menjadi bagian dari komitmen organisasi untuk terus mendukung penguatan institusi keluarga dan pesantren sebagai fondasi pembentukan karakter masyarakat. Sinergi antara Nahdlatul Ulama, pemerintah, dan lembaga pendidikan Islam dinilai menjadi modal penting dalam menciptakan pembangunan yang berorientasi pada kemaslahatan umat.

Ketua PC LKKNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, menyampaikan bahwa perhatian pemerintah terhadap pesantren merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekosistem pendidikan keagamaan sekaligus membangun ketahanan keluarga sebagai basis pembangunan bangsa.

"Sinergi yang terbangun melalui kunjungan ini diharapkan semakin memperkuat berbagai program pemberdayaan keluarga serta meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Pesantren memiliki peran yang sangat strategis dalam membangun karakter dan ketahanan keluarga sebagai fondasi kemajuan bangsa," ujarnya.

Menurut Dalilatus Saadah, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi pusat pembinaan moral, penguatan nilai-nilai kebangsaan, pemberdayaan sosial, serta pengembangan karakter generasi muda yang berdaya saing dan berintegritas.

Seluruh rangkaian kunjungan kerja berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh khidmat. Kehadiran pemerintah pusat, pemerintah daerah, jajaran Forkopimda, serta keluarga besar Nahdlatul Ulama diharapkan semakin memperkokoh kemitraan strategis dalam memperluas kemaslahatan umat, memperkuat ketahanan keluarga, serta mendukung terwujudnya pembangunan nasional yang berkelanjutan dan berkeadaban. (syaf)

Halaqah Pengasuh Pondok Pesantren Teguhkan Komitmen Wujudkan Pesantren Aman dan Bermartabat

 


Banyuwangi – Ratusan pengasuh dan pengelola pondok pesantren menghadiri Halaqah Pengasuh Pondok Pesantren dalam rangka Gerakan Nasional Pesantrenku Aman (Roadshow Jawa Timur) yang digelar di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Banyuwangi, Jumat (10/7/2026). Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun ekosistem pesantren yang aman, nyaman, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.

Halaqah tersebut dihadiri oleh Pengasuh PP Darussalam Blokagung KH. Hisyam Syafa'at, KH. Hasyim Syafa'at, Ketua RMI NU Banyuwangi KH. Ahmad Munif Syafa'at, serta Ketua PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi, bersama para kiai, pengasuh, dan pengurus pondok pesantren se-Kabupaten Banyuwangi.

Dalam forum tersebut, para narasumber menegaskan bahwa pesantren selama ini telah menjadi pilar penting dalam mencetak generasi berilmu, berakhlak, dan cinta tanah air. Oleh karena itu, seluruh elemen pesantren perlu terus memperkuat sistem pendidikan dan pengasuhan agar mampu memberikan perlindungan terbaik bagi para santri.

Ketua RMI NU Banyuwangi, KH. Ahmad Munif Syafa'at, menuturkan bahwa Gerakan Nasional Pesantrenku Aman bukan sekadar program seremonial, melainkan gerakan bersama untuk menumbuhkan budaya kepedulian, pencegahan, dan perlindungan di lingkungan pesantren.

Sementara itu, Ketua PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi mengajak seluruh pesantren di Banyuwangi untuk terus menjaga marwah pesantren sebagai pusat pendidikan Islam yang melahirkan generasi berakhlakul karimah. Menurutnya, pesantren yang aman akan melahirkan proses pendidikan yang berkualitas serta mendapat kepercayaan penuh dari masyarakat.

Sebagai tuan rumah, KH. Hisyam Syafa'at dan KH. Hasyim Syafa'at menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya halaqah tersebut. Mereka berharap forum ini mampu memperkuat sinergi antarpesantren dalam menghadirkan sistem pengasuhan yang lebih baik, sekaligus menjadi ikhtiar bersama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang nyaman, sehat, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Kegiatan berlangsung dengan penuh antusias melalui penyampaian materi, dialog, dan diskusi interaktif. Halaqah ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat tata kelola pesantren yang profesional, humanis, serta tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah demi terwujudnya Pesantrenku Aman di seluruh Banyuwangi.(Tim)

SAKOMA Banyuwangi Resmi Dilantik, PCNU Dorong Penguatan Kaderisasi Pramuka Ma'arif NU

 


Banyuwangi – Kepengurusan Satuan Komunitas Pramuka Ma'arif Nahdlatul Ulama (SAKOMA) Kabupaten Banyuwangi resmi dilantik pada Jumat (10/7/2026) di Kantor LP Ma'arif NU Banyuwangi. Pelantikan ini menjadi tonggak penguatan gerakan kepramukaan di lingkungan Ma'arif NU sebagai bagian dari upaya membentuk generasi yang berkarakter, religius, dan berwawasan kebangsaan.

Acara dihadiri Ketua SAKOMA Kabupaten Banyuwangi Kak Saiful Effendi, Ketua Majelis Pembimbing (Mabin) SAKOMA Kak Drs. H. Saeroji, yang menjabat ex officio sebagai Ketua LP Ma'arif PCNU Banyuwangi, beserta para pengurus, pembina, dan pegiat Pramuka Ma'arif NU se-Banyuwangi.

Bertindak sebagai inspektur pelantikan adalah H. Moh. Bisri Musthofa, Sekretaris PCNU Banyuwangi, yang hadir mewakili Ketua PCNU Banyuwangi. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa SAKOMA memiliki posisi strategis sebagai media kaderisasi warga Nahdlatul Ulama melalui Gerakan Pramuka.

Menurutnya, pendidikan kepramukaan di bawah naungan Ma'arif NU harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam keterampilan, tetapi juga memiliki akhlak mulia, loyal terhadap organisasi, serta memiliki komitmen kuat menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"SAKOMA harus menjadi ruang pembinaan yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah dengan semangat kepramukaan. Dari sinilah akan lahir kader-kader muda NU yang siap menjadi pemimpin masa depan," ungkap H. Moh. Bisri Musthofa.

Ketua Mabin SAKOMA, Kak Drs. H. Saeroji, mengajak seluruh pengurus yang baru dilantik untuk membangun sinergi dengan satuan pendidikan Ma'arif NU di semua jenjang. Ia berharap SAKOMA mampu menghadirkan program-program yang inovatif sehingga kegiatan kepramukaan menjadi sarana efektif dalam membentuk karakter peserta didik.

Sementara itu, Ketua SAKOMA Banyuwangi Kak Saiful Effendi menyampaikan kesiapan seluruh jajaran pengurus untuk mengembangkan organisasi secara profesional, memperkuat jaringan pembina Pramuka Ma'arif, serta menghadirkan kegiatan yang mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan pendidikan NU.

Pelantikan berlangsung dengan penuh khidmat dan semangat kebersamaan. Dengan kepengurusan yang baru, SAKOMA Kabupaten Banyuwangi diharapkan semakin berperan aktif dalam mencetak generasi muda Nahdliyin yang disiplin, berintegritas, cinta tanah air, serta siap mengabdi kepada agama, masyarakat, dan bangsa.(Tim)

Kemenag Banyuwangi dan Yayasan Project HOPE Bekali Calon Pengantin Bangun Keluarga Sehat

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi melalui Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam menggelar kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bertajuk Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Perempuan Dewasa di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Rabu (8/7/2026). Kegiatan yang diikuti 26 calon pengantin ini merupakan hasil kolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi dan Yayasan Project HOPE Indonesia.


Kepala Seksi Bimas Islam, H. Mastur, mengatakan bahwa sinergi lintas sektor menjadi langkah strategis dalam mempersiapkan calon pengantin membangun keluarga yang sehat dan berkualitas.

"Kegiatan ini merupakan bentuk kerja sama Bimas Islam Kemenag Banyuwangi dengan Dinas Kesehatan dan Yayasan Project HOPE. Sebanyak 26 calon pengantin mengikuti pembinaan sebagai bekal membangun keluarga yang sehat dan berkualitas," ujarnya.

Project Coordinator Yayasan Project HOPE Indonesia, Flora Theodora Parapat, menjelaskan bahwa program Her Way bertujuan meningkatkan kesadaran kesehatan perempuan sejak sebelum menikah. Menurutnya, edukasi kesehatan reproduksi merupakan langkah penting untuk menekan risiko kematian ibu sekaligus melahirkan generasi yang lebih sehat.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., mengapresiasi kolaborasi tersebut. Ia menegaskan bahwa pembinaan calon pengantin harus mencakup kesiapan keagamaan, mental, dan kesehatan.

"Keluarga yang kuat lahir dari ibu yang sehat. Bangsa yang maju berawal dari keluarga yang berkualitas. Karena itu, membangun Indonesia harus dimulai dengan membangun keluarga," tegasnya.

Chaironi juga mengingatkan bahwa tingginya angka perceraian di Banyuwangi menjadi alasan pentingnya memperkuat pembekalan calon pengantin agar mampu membangun rumah tangga yang harmonis, tangguh, dan berkelanjutan.


Dalam kegiatan tersebut peserta memperoleh materi mengenai kesehatan reproduksi, kesehatan perempuan, perencanaan keluarga, serta kesehatan mental dari dr. Eva Damayanti, Sp.OG, psikolog Dhea Dana Mariska, Kepala KUA, dan Penyuluh Agama Islam. Peserta juga mengikuti screening kesehatan yang difasilitasi Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi sebagai upaya deteksi dini kondisi kesehatan sebelum memasuki kehidupan berumah tangga.

Melalui kegiatan ini diharapkan lahir keluarga-keluarga yang sehat, sakinah, mawaddah, wa rahmah, sekaligus mampu mencetak generasi Indonesia yang unggul melalui sinergi berkelanjutan antara Kementerian Agama, Dinas Kesehatan, dan Yayasan Project HOPE Indonesia.(syaf)

PCNU Banyuwangi dan BPJS Ketenagakerjaan Targetkan Perlindungan Menyeluruh bagi Warga NU

 


Banyuwangi – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi terus memperkuat ikhtiar menghadirkan kemaslahatan bagi warga melalui kerja sama strategis dengan BPJS Ketenagakerjaan Cabang Banyuwangi. Sinergi tersebut dibangun untuk memperluas perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi warga Nahdlatul Ulama, baik yang bekerja di sektor formal maupun informal.

Komitmen tersebut mengemuka dalam audiensi yang berlangsung di Kantor PCNU Banyuwangi, Senin (6/7/2026). Ketua PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi didampingi Sekretaris H. Bisri Musthofa beserta jajaran pengurus menerima kunjungan BPJS Ketenagakerjaan Banyuwangi yang dipimpin Okky Olivia bersama staf.

Dalam pemaparannya, Okky Olivia menjelaskan bahwa BPJS Ketenagakerjaan hadir untuk memastikan setiap pekerja memperoleh perlindungan atas berbagai risiko yang mungkin terjadi selama bekerja. Program yang ditawarkan meliputi Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), dan Jaminan Hari Tua (JHT).

Ia menyampaikan bahwa salah satu manfaat program tersebut adalah Jaminan Kematian (JKM) dengan santunan sebesar Rp42 juta kepada ahli waris peserta sesuai ketentuan yang berlaku. Selain itu, peserta juga memperoleh perlindungan apabila mengalami kecelakaan kerja hingga manfaat jaminan hari tua.

Menurut Okky, dengan premi yang sangat terjangkau, peserta dapat memperoleh manfaat perlindungan yang sangat besar. Karena itu, ia mengajak seluruh warga NU, baik yang bekerja di sektor formal maupun informal, untuk memanfaatkan program BPJS Ketenagakerjaan sebagai bentuk ikhtiar melindungi diri dan keluarga dari risiko sosial ekonomi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kerja sama ini menyasar dua segmen utama. Pada sektor formal, kepesertaan akan diperluas melalui lembaga pendidikan, koperasi, pondok pesantren, dan unit-unit usaha di lingkungan NU. Sementara pada sektor informal, program ini menyasar petani, nelayan, pedagang, pelaku UMKM, pekerja mandiri, hingga pekerja sektor swasta yang belum memiliki perlindungan jaminan sosial.

Ketua PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi menyambut baik sinergi tersebut. Menurutnya, perlindungan terhadap tenaga kerja merupakan bagian dari tanggung jawab sosial organisasi dalam menjaga kemaslahatan warga Nahdliyin.

"NU tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam pembinaan keagamaan, tetapi juga harus hadir memberikan manfaat nyata bagi kehidupan warga. Perlindungan tenaga kerja adalah bagian dari ikhtiar menjaga kesejahteraan dan memberikan rasa aman kepada warga NU beserta keluarganya," ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris PCNU Banyuwangi H. Bisri Musthofa menjelaskan bahwa implementasi program akan dilakukan melalui lembaga-lembaga di bawah PCNU sesuai bidang garap masing-masing agar berjalan efektif dan tepat sasaran.

"Untuk implementasi program BPJS Ketenagakerjaan kepada warga NU, khususnya sektor informal, kami mempercayakan LAZISNU PCNU Banyuwangi sebagai leading sector. Jaringan LAZISNU hingga tingkat MWC dan ranting menjadi kekuatan untuk memperluas perlindungan kepada warga," jelasnya.

Ia menambahkan, untuk sektor formal, khususnya lembaga pendidikan, kerja sama yang telah terjalin bersama LP Ma'arif NU Banyuwangi akan terus diperkuat.

"Kerja sama yang sudah berjalan melalui LP Ma'arif tentu akan terus kami dorong. Implementasi di lembaga pendidikan dapat langsung dikoordinasikan melalui LP Ma'arif agar pelaksanaannya lebih efektif dan terintegrasi," tambah H. Bisri Musthofa.

Melalui sinergi ini, PCNU Banyuwangi menargetkan semakin banyak warga Nahdlatul Ulama yang terlindungi program BPJS Ketenagakerjaan. Dengan premi yang relatif kecil namun memberikan manfaat perlindungan yang besar, program ini diharapkan menjadi instrumen untuk memperkuat kesejahteraan dan ketahanan ekonomi keluarga warga NU. Kolaborasi ini sekaligus menjadi wujud khidmah PCNU Banyuwangi dalam menghadirkan perlindungan sosial yang nyata bagi umat, mulai dari lingkungan pesantren, lembaga pendidikan, hingga masyarakat pekerja di berbagai sektor.(HK)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger