Pages

Yo Mung, Ketika Puisi Memilih Diam untuk Bicara kepada Tuhan

 

Yo Mung, Ketika Puisi Memilih Diam untuk Bicara kepada Tuhan

Oleh : Syafaat

Ada buku puisi yang datang dengan gemuruh metafora, berisik oleh keindahan yang ingin segera dipamerkan, seolah takut tak sempat didengar. Namun ada pula buku puisi yang hadir nyaris tanpa suara, seperti seseorang yang duduk di sudut ruangan, tidak banyak bicara, tidak mencari pusat perhatian, tetapi setiap kalimat yang terucap darinya membuat kita menoleh dan diam. Yo Mung karya Samsudin Adilawi adalah jenis yang kedua. Ia tidak mengetuk pintu dengan keras; ia menunggu, dan justru karena itu kehadirannya terasa lebih lama tinggal di dalam dada.

Sampulnya sederhana, nyaris bersahaja, seakan menolak segala kemungkinan kemewahan visual. Kesederhanaan itu bukan kekurangan, melainkan sikap batin. Ia seperti sajadah tua yang warnanya mulai pudar, tetapi justru di sanalah doa-doa panjang pernah diserap dengan khusyuk. Judulnya memakai bahasa daerah, Yo Mung, tanpa catatan kaki, tanpa keterangan tambahan. Seolah buku ini tidak berniat menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Ia hanya menyodorkan diri, dan selebihnya, menyerahkan segalanya kepada kesiapan batin pembacanya. Siapa yang datang dengan tergesa, akan melewatinya begitu saja. Siapa yang datang dengan hening, akan menemukan sesuatu yang menetap.

Pada awalnya, saya mengira puisi-puisi di dalamnya adalah antologi puisi berbahasa Osing, semata karena judulnya. Dugaan itu terasa wajar, sebab meskipun Samsudin Adilawi berasal dari garis darah Madura, ia hidup dan bernafas cukup lama dalam lanskap budaya Osing. Ada kedekatan yang tidak dibuat-buat, sebuah penghayatan yang lahir dari pergaulan batin, bukan sekadar pengamatan dari luar. Namun semakin jauh membaca, saya sadar: Yo Mung bukan soal bahasa daerah sebagai identitas linguistik, melainkan sebagai isyarat spiritual. Bahasa daerah di sini berfungsi seperti pintu kecil menuju ruang sunyi, tempat makna tidak dipamerkan, melainkan disimpan.

Dalam tradisi religi dan sufistik, tidak semua kebenaran perlu diterangkan dengan terang-benderang. Sebagian justru harus disamarkan, agar pembaca mau berjalan sendiri, tersesat sebentar, lalu menemukan cahaya dengan caranya masing-masing. Yo Mung bekerja dengan cara itu. Ia tidak mengajak pembaca memahami, melainkan mengalami. Puisi-puisinya seperti gumam doa yang tidak selesai di bibir, tetapi dilanjutkan oleh hati. Kesederhanaan Yo Mung pada akhirnya menjadi semacam laku asketik. Ia menanggalkan segala yang berlebih: kata, baris, bahkan penjelasan. Yang tersisa hanyalah inti, sebuah kesadaran tentang hadirnya Yang Maha Dekat di tengah bahasa yang sangat manusiawi. Dan di sanalah kekuatan buku ini bersemayam: ia tidak membuat kita kagum pada penyairnya, melainkan membuat kita kembali menengok ke dalam diri, bertanya dengan pelan, dan mungkin, berdoa tanpa kata.

Buku ini terasa berbeda dibandingkan karya-karya Samsudin Adilawi sebelumnya, seperti Jaran Goyang (2009), Haiku Sunrise of Java(2011), Selingkar Pedang Jalan pulang (2018), Ribang Kala Aksa (2020), maupun Rahim Suci Bunda Sri Tanjung (2022). Jika dahulu ia lebih lapang dalam bertutur, di Yo Mung ia justru memilih jalan sunyi: puisi-puisi sangat singkat, ada yang hanya dua baris, tiga baris, empat baris. Bahkan ada yang hanya terdiri dari sebelas kata. Sejenak saya mengira ada salah cetak. Tetapi justru di situlah godaannya. Kata-kata yang terasa “aneh”, belum pernah saya jumpai sebelumnya, memaksa saya membuka kembali Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebuah tindakan yang kini jarang dilakukan pembaca puisi. Buku ini, secara halus, memaksa kita untuk pelan-pelan, untuk tidak tergesa.

Puisi-puisi dalam Yo Mung memang tampak sederhana dari segi bahasa, tetapi maknanya sama sekali tidak sederhana. Ini seperti doa yang diucapkan dengan suara lirih: pendek, padat, dan tidak memberi ruang bagi basa-basi. Ada puisi yang berbicara tentang kehadiran yang serentak: di depan, di belakang, di kanan, di kiri, di atas, di bawah, dalam waktu yang sama. “Bukan engkau, bukan pula aku,” katanya, Ini bukan sekadar permainan kata, melainkan pengalaman spiritual yang sangat sufi. Sebuah kesadaran tentang Yang Hadir tanpa bentuk, tanpa jarak, tanpa nama.


Tidak mengherankan jika Acep Zamzam Noor, seorang sastrawan, penyair, sekaligus perupa terkemuka Indonesia asal Tasikmalaya, yang selama ini dikenal konsisten merawat napas religiositas dan sufisme dalam karya-karyanya, memberikan endorsement yang begitu jernih dan terukur. Apresiasi itu bukan sekadar pujian personal, melainkan semacam pengakuan estetik dan spiritual atas cara Yo Mung bekerja sebagai puisi. Menurut Acep, puisi-puisi dalam antologi ini terasa menyejukkan. Kesejukan yang dimaksud bukanlah dingin yang menjauhkan, melainkan keteduhan yang membuat pembaca betah berdiam. Ungkapan-ungkapannya singkat, bening, dan menyaran, tidak memaksa makna datang sekaligus, tetapi membiarkannya merembes perlahan ke dalam kesadaran. Dari peristiwa keseharian yang tampak biasa—pagi, ingatan, rindu, luka, Samsudin Adilawi mengekstraknya menjadi renungan kecil, lalu menghadirkannya kembali sebagai pengalaman batin yang bisa dirasakan siapa saja.

Di titik inilah puisi-puisi Yo Mung bergerak dari yang personal menuju yang universal. Apa yang mula-mula tampak sebagai gumam seorang penyair, perlahan berubah menjadi cermin bagi banyak orang. Pembaca menemukan dirinya sendiri di sana: dalam lupa dan ingat, dalam sunyi dan sembah, dalam sejarah yang tak pernah benar-benar selesai. Puisi-puisi ini tidak menjelaskan, tetapi mengundang; tidak memberi jawaban, tetapi membuka ruang tafsir. Acep juga menandai adanya keselarasan yang jarang ditemui: antara bentuk dan makna, antara kekokohan wadah dan kelembutan isi. Puisi-puisi yang sangat singkat itu tidak kehilangan bobot; justru kepadatannya menjadi penopang makna. Seolah setiap kata telah melalui proses pengendapan panjang, disaring dari yang berlebih, hingga yang tersisa hanyalah inti. Di sini, bentuk bukan sekadar kemasan, melainkan bagian tak terpisahkan dari makna itu sendiri.

Dalam konteks itu, endorsement Acep Zamzam Noor terasa sepenuhnya sepadan. Ia datang dari seorang penyair yang memahami bahwa dalam tradisi sufistik, kata yang paling kuat sering kali justru yang paling hemat. Dan Yo Mung, dengan segala kesederhanaannya, membuktikan bahwa puisi yang sejati tidak selalu harus panjang untuk menjadi dalam, dan tidak harus lantang untuk menjadi menggugah.

Karena itu pula, puisi-puisi dalam Yo Mung tidak berteriak. Ia tidak datang dengan retorika besar atau metafora yang memamerkan kecakapan bahasa. Namun ia juga tidak bersembunyi dalam kerumitan yang eksklusif. Ia hadir sebagaimana air: tenang, jernih, nyaris tak bersuara, tetapi memiliki daya yang pelan dan pasti. Seperti air yang terus mengalir, puisi-puisi ini sanggup mengikis batu, menggerus kekerasan batin, mengendapkan kegaduhan pikiran, dan perlahan membuka ruang kontemplasi yang lebih dalam. Sebagian puisi bahkan mendekati haiku: singkat, padat, tepat takarannya. Namun berbeda dengan haiku yang sering menggantungkan diri pada lanskap alam, Yo Mung menggantungkan diri pada lanskap batin. Ia mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, menarik napas, lalu bertanya: apa yang sebenarnya sedang kita rasakan, ingat, atau lupakan hari ini?

Antologi ini ditulis dalam rentang waktu yang panjang, sejak 2004, seolah ia lahir dari sebuah tirakat kreatif yang sabar dan berlapis. Waktu dalam Yo Mung bukan sekadar angka tahun, melainkan ruang pengendapan batin, tempat kata-kata dibiarkan matang, menua, bahkan terluka, sebelum akhirnya diucapkan. Karena itu, pembagian temanya terasa bukan sebagai klasifikasi akademik, melainkan jejak-jejak spiritual, semacam peta perjalanan jiwa seorang penyair yang berjalan pelan, sering berhenti, kadang tersesat, namun terus melangkah.

Tema lupa ingat luka membuka pintu kesadaran paling awal: bahwa manusia adalah makhluk yang ingatannya rapuh, tetapi lukanya setia. Di sini, lupa dan ingat tidak saling meniadakan, melainkan saling menguji. Luka menjadi guru yang paling jujur, mengingatkan bahwa iman sering tumbuh justru dari bagian diri yang pernah retak. Lalu hadir ngeong rindu, sebuah wilayah batin yang lebih lirih dan personal. Rindu dalam bagian ini tidak selalu ditujukan pada manusia; ia bisa menjelma kerinduan pada asal, pada kesunyian pertama, pada Tuhan yang terasa dekat sekaligus jauh. Kata “ngeong” sendiri seperti doa yang belum sempurna, gumaman makhluk yang sadar akan kekurangannya, tetapi tetap ingin didengar.

Tema resolusi telur membawa pembaca ke wilayah simbolik yang unik. Telur adalah awal kehidupan, tetapi juga rapuh. Di sini, penyair seperti sedang berbicara tentang niat, tentang tekad yang masih lembut, tentang iman yang belum menetas sepenuhnya. Resolusi tidak digambarkan sebagai keputusan besar, melainkan sebagai kesediaan untuk menjaga sesuatu yang kecil agar tidak pecah sebelum waktunya. Pada lembah puisi sembah penyair, puisi menjelma doa. Kata-kata tidak lagi sekadar alat ekspresi, melainkan sarana sujud. Lembah menjadi metafor kerendahan hati, tempat penyair menanggalkan keakuan, membiarkan puisinya berlutut di hadapan Yang Tak Terucap. Di sini, menulis adalah ibadah, dan ibadah adalah keheningan yang diupayakan lewat bahasa.

Tema gandrung dalam darahku menghadirkan dimensi tubuh dan kultural. Gandrung tidak hanya dibaca sebagai tradisi atau kesenian, tetapi sebagai warisan batin yang mengalir dalam darah, menyatu dengan identitas dan spiritualitas. Tubuh tidak dipisahkan dari iman; justru melalui tubuh, ingatan kolektif dan rasa syukur menemukan bentuknya. Sementara itu, palu sejarah adalah ruang kontemplasi paling sunyi sekaligus paling berat. Sejarah dihadirkan bukan sebagai deretan peristiwa, melainkan sebagai luka panjang yang diwariskan. Di sini, waktu tidak benar-benar berlalu; ia menetap dalam ingatan, dalam bencana, dalam doa-doa yang terus diulang. Puisi-puisi pada bagian ini terasa seperti zikir atas tragedi, pengakuan bahwa manusia sering belajar terlambat, dan bahwa sejarah kerap datang kembali untuk mengetuk nurani.

Keseluruhan tema dalam antologi ini tidak berdiri terpisah, melainkan saling menyambung seperti ruas tasbih. Ia menandai perjalanan batin seorang penyair yang terus bergulat dengan ingatan, rindu, tubuh, sejarah, dan tentu saja luka, namun tidak untuk meratapinya semata, melainkan untuk menafsirkannya sebagai jalan pulang. Dalam Yo Mung, puisi menjadi cara untuk tetap beriman di tengah retak, dan bahasa menjadi jembatan sunyi antara manusia dan Yang Maha Hadir.

Salah satu puisi yang paling menggugah adalah puisi tentang tsunami Aceh. Luka itu terjadi dua puluh tahun lalu, tetapi ditulis kembali, dibaca kembali, seolah luka memang tidak pernah sepenuhnya selesai. Dan ketika buku ini hadir kembali di saat Indonesia kembali dilanda bencana, meski bukan tsunami, kita sadar bahwa sejarah punya kebiasaan aneh: ia berulang, tetapi selalu dengan bentuk luka yang berbeda. Luka di atas luka. Di sinilah Yo Mung menjadi relevan secara religius. Ia tidak menggurui, tidak menyebut nama Tuhan secara berlebihan, tetapi justru menghadirkan Tuhan dalam keheningan, dalam jeda antarbaris, dalam kata-kata yang seolah kurang, tetapi justru cukup. Puisi-puisi ini mengajarkan bahwa iman tidak selalu perlu kalimat panjang; kadang ia hanya perlu keberanian untuk diam dan jujur pada getar paling dalam diri.

Yo Mung bukan buku yang mudah, tetapi justru karena itu ia penting. Ia mengajak pembaca untuk tidak sekadar membaca, melainkan mengalami. Membaca pelan-pelan. Mengulang. Merenung. Dan pada akhirnya, mungkin, berdoa, tanpa sadar bahwa kita sedang berdoa.

Penulis adalah Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

 

Lukisan Satu Trilyun Untuk Bangunan Madrasah

 Lukisan Satu Trilyun Untuk Bangunan Madrasah

Oleh : Syafaat

 Sebuah keterlambatan justru membuka pintu perenungan tentang seni, iman, dan cara rahmat bekerja tanpa banyak isyarat. Di Gedung Juang 45 Banyuwangi, pada sebuah malam yang berjalan apa adanya, pameran lukisan berubah menjadi ruang doa: ketika potret seorang pemimpin dilapisi harapan anak-anak madrasah, harga fantastis satu triliun rupiah tidak lagi berbicara tentang pasar, melainkan tentang amanah, kepedulian, dan keyakinan bahwa Tuhan kerap menitipkan kebaikan melalui jalan yang tak disangka-sangka.

Saya datang terlambat, dan keterlambatan itu justru menjadi pintu masuk bagi sebuah perenungan panjang tentang seni, iman, dan cara Tuhan bekerja melalui hal-hal yang tampak sepele. Malam itu, di Gedung Juang 45 Banyuwangi, saya berdiri dengan kaos dan celana jean, pakaian yang tidak pernah saya niatkan untuk menghadiri peristiwa seremonial, ketika seorang bupati menandatangani prasasti pembukaan pameran lukisan. Saya terkejut, bukan semata karena kehadiran orang nomor satu di Banyuwangi, melainkan karena kesadaran yang datang belakangan: barangkali memang begini cara rahmat bekerja, ia tidak selalu menunggu kesiapan kita, tidak pula menuntut busana yang pantas, tetapi hadir justru ketika kita lupa, lengah, dan tidak sedang mempersiapkan diri untuk terlihat baik.


Pameran itu telah dibuka sore hari. Saya lupa ada undangan. Setelah pulang kerja, rumah dipenuhi kemenakan-kemenakan yang datang dari luar kota. Banyuwangi menjadi rute wisata dadakan: pantai, jalanan senja, tawa yang berjejal di dalam mobil, cerita-cerita kecil yang tidak ingin ditunda. Kami pulang hampir pukul sembilan malam. Telepon berdering. Seorang teman, ketua yayasan, guru madrasah swasta, suara yang terdengar agak tergesa. “Mas, panjenengan harus ke Gedung Juang. Penting.” Saya berpikir acara sudah selesai. Pembukaan biasanya tak sampai malam. Tapi kata “penting” itu seperti ayat pendek yang memaksa dibaca ulang. Saya berangkat tanpa banyak tanya.

Di sanalah saya berdiri, menjadi saksi keterlambatan yang berubah menjadi makna. Setelah prasasti ditandatangani, kami diajak berkeliling. Seratus lima puluh enam, atau seratus lima puluh tujuh, karya dipajang. Angka-angka menjadi relatif ketika berhadapan dengan niat. Para pelukis datang bukan hanya dari Banyuwangi, tetapi dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka membawa kanvas, warna, dan sesuatu yang lebih sunyi: harapan agar seni tidak sekadar berhenti sebagai tontonan, melainkan menjelma menjadi doa yang bisa disentuh.

Salah satu lukisan menyedot perhatian seperti magnet yang bekerja perlahan. Wajah Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, dilukis dengan detail yang nyaris realis. Namun yang membuatnya tidak berhenti sebagai potret kekuasaan adalah lapisan-lapisan lain yang menyertainya: motif, tekstur, penari yang distilasi, lanskap yang menyatu, dan, ini yang paling menentukan, doa-doa yang ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa anak-anak. Doa itu ditulis oleh anak-anak madrasah. Sebagian dari mereka siswa RA dan MI di Telemung, Kalipuro. Ketika saya mendekat, lukisan itu berubah dari citra menjadi peristiwa batin. Dari jauh, ia tampak seperti potret pemimpin. Dari dekat, ia adalah sekumpulan permohonan kecil yang dititipkan kepada Tuhan melalui kanvas.

Harga lukisan itu disebutkan: satu triliun rupiah. Angka yang membuat orang tertawa, mencibir, atau menganggapnya lelucon. Saya sendiri sempat tertegun. Apakah realistis? Jika yang dihitung hanya cat, kanvas, dan reputasi pelukis, tentu tidak. Tapi seni, seperti doa, jarang bisa diukur dengan logika transaksi. Seorang teman berbisik, “Itu untuk mencari harga tertinggi yang menarik.” Lalu ia menambahkan, seolah membacakan niat di balik angka: hasil lelang akan diserahkan untuk perbaikan gedung madrasah di Desa Telemung yang rusak parah, sekaligus membantu pembiayaan santrinya. Di titik itu, satu triliun berhenti sebagai angka dan berubah menjadi simbol: tentang sejauh apa kita berani memimpikan kebaikan.

Pelukisnya, Mohammed Harahap, bukan nama yang asing. Ia pelukis kawakan nasional yang berdomisili di Banyuwangi, telah menghasilkan ribuan karya, dan sebagian besar telah berkelana ke tangan kolektor mancanegara. Namun pada lukisan ini, ia seperti sengaja menanggalkan sebagian ambisi estetik yang biasa dikejar pasar seni. Ia memilih berkolaborasi dengan doa. Ia memilih menempatkan tangan anak-anak madrasah sebagai co-creator, bukan sekadar objek belas kasihan. Di situ seni tidak lagi berdiri di atas pedestal keindahan semata, melainkan menunduk, memberi ruang bagi suara yang sering kita anggap terlalu kecil untuk didengar.

Saya teringat cerita kepala madrasah tsanawiyah yang juga ketua yayasan di Kalipuro. Sehari sebelum malam itu, ia mengatakan bahwa pada hari pertama, lukisan tersebut sudah ditawar seratus juta. Entah berapa akhirnya akan laku. Angka itu, sekali lagi, bukan hal terpenting. Yang penting adalah keberanian untuk memulai dari niat yang bersih: memajukan madrasah, merawat pendidikan, dan mengembalikan kepercayaan publik bahwa sekolah agama bukan sekadar alternatif, melainkan rumah bagi nilai-nilai yang semakin langka di luar sana.

Tema pameran ini, Lereme Roso, seperti bisikan yang pelan tapi menetap. Ia bukan sekadar judul, melainkan ajakan. Meredakan rasa. Menengok ke dalam diri. Menjernihkan jiwa. Dalam bahasa religius, itu mirip dengan muhasabah: sebuah latihan batin untuk mengukur jarak antara apa yang kita pamerkan dan apa yang benar-benar kita imani. Gedung Juang 45, dengan sejarahnya, menjadi ruang yang tepat. Di sana, seni bertemu dengan ingatan kolektif. Di sana, doa-doa kecil dipertemukan dengan sejarah besar.

Saya bagian dari Dewan Kesenian Blambangan. Kami terbiasa saling mendukung. Ketika satu komite menggelar kegiatan, yang lain hadir sebagai penyangga. Saya di komite bahasa dan sastra. Dalam pameran lukisan, kami sering diminta mengisi pembacaan puisi. Kata-kata menjadi jembatan antara warna dan makna. Malam itu, saya tidak membaca puisi. Saya justru membaca diri sendiri: tentang lupa, tentang datang terlambat, tentang bagaimana Tuhan kadang menaruh kita di posisi yang tidak kita rencanakan agar kita belajar melihat dengan cara yang baru.

Lukisan itu, jika dianalisis secara akademik, bisa dimasukkan ke dalam aliran kontemporer realisme dengan sentuhan dekoratif. Wajah digarap detail, proporsional, menyerupai aslinya. Latar dipenuhi motif, penari gandrung yang distilasi, lanskap alam. Ada teknik layering yang kaya, penggunaan titik-titik warna yang memberi tekstur pada hijab dan langit emas. Emas itu memberi kesan sakral, seolah mengingatkan bahwa kekuasaan, jika ingin bermakna, harus selalu dilingkari oleh cahaya yang tidak berasal dari dirinya sendiri.

Kaligrafi di bagian atas lukisan, doa-doa keselamatan, harapan agar amanah dijalankan dengan perlindungan Tuhan, menggeser pusat makna dari figur ke niat. Teks Latin di bawahnya, “Mohon doa restunya… semoga selalu dalam perlindungan… amanah… Aamiin”, membuat lukisan itu seperti surat terbuka yang ditujukan kepada langit. Ini bukan sanjungan kosong kepada pemimpin, melainkan pengingat bahwa jabatan adalah beban yang harus dipanggul dengan doa banyak orang, termasuk doa anak-anak yang tidak punya apa-apa selain keyakinan.

Di titik inilah seni bertemu dengan sastra religi. Ia tidak berteriak, tidak menggurui, tidak memaksa. Ia hanya menaruh kita di hadapan pertanyaan yang sunyi: apa yang sebenarnya kita beli ketika membeli sebuah karya seni? Apakah kita membeli keindahan, prestise, atau kesempatan untuk terlibat dalam kebaikan yang lebih besar dari diri kita sendiri? Siapa pun yang kelak membeli lukisan itu, jika memang ada, sesungguhnya tidak sedang membeli potret seorang bupati. Ia membeli partisipasi dalam doa. Ia membeli tanggung jawab moral untuk ikut menjaga sebuah madrasah agar tetap berdiri, agar anak-anak di dalamnya tetap punya ruang untuk belajar mengeja iman dan pengetahuan.

Madrasah, dalam konteks ini, bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia adalah simpul kepercayaan. Di tengah dunia yang kian bising oleh standar keberhasilan material, banyak orang tua memilih madrasah karena di sana pendidikan agama mendapat porsi yang lebih besar. Mereka berharap anak-anaknya tidak hanya pandai menghitung, tetapi juga tahu bagaimana cara bersyukur. Tidak hanya mahir membaca, tetapi juga peka terhadap penderitaan orang lain. Lukisan itu, dengan segala kontroversi harganya, justru mengafirmasi harapan itu: bahwa seni bisa menjadi sarana dakwah yang halus, yang tidak menyebut-nyebut surga dan neraka, tetapi menghadirkan keduanya dalam bentuk tanggung jawab sosial.

Saya pulang malam itu dengan kepala penuh. Keterlambatan saya ternyata bukan kesalahan, melainkan metode. Saya datang tanpa ekspektasi, dan karena itu saya pulang dengan pertanyaan yang lebih jujur. Tentang posisi seni dalam hidup beragama. Tentang bagaimana kita memaknai angka-angka fantastis di tengah kebutuhan yang nyata. Tentang cara kita memandang pemimpin: apakah sebagai objek puja, atau sebagai amanah yang harus terus didoakan.

Peristiwa ini sederhana. Di puncaknya: sebuah pameran seni rutin tahunan, Banyuwangi Art Exhibition, yang digelar Dewan Kesenian Blambangan, menampilkan ratusan karya seniman lokal dan nasional. Di bawahnya: sebuah lukisan potret bupati dengan harga yang mengundang perdebatan. Lebih ke bawah lagi: niat untuk mendonasikan hasil penjualan bagi renovasi madrasah. Dan di dasar yang paling lebar, yang sering luput kita lihat: doa-doa anak madrasah, kepercayaan masyarakat pada pendidikan agama, dan keyakinan bahwa kebaikan kadang perlu jalan yang tidak biasa agar bisa sampai.

Jika seni hanya berhenti sebagai estetika, ia mudah dilupakan. Jika agama hanya berhenti sebagai slogan, ia mudah diperdebatkan. Tetapi ketika keduanya bertemu dalam tindakan yang konkret, membantu madrasah, merawat pendidikan, mengajak kita menengok ke dalam diri, di sanalah sastra menemukan bentuknya yang paling jujur. Ia tidak mengklaim kebenaran, tetapi mengundang kita untuk ikut merawatnya.

Saya ingat kembali pakaian saya malam itu: kaos dan celana jean. Tidak pantas untuk seremoni, kata sebagian orang. Tapi barangkali justru itulah pelajaran kecilnya. Bahwa Tuhan tidak terlalu sibuk menilai penampilan kita ketika kita datang membawa niat untuk memahami. Bahwa keterlambatan bisa menjadi berkah jika ia membuka pintu kesadaran. Dan bahwa sebuah lukisan, betapapun mahal atau kontroversial harganya, bisa menjadi sajadah panjang tempat banyak doa dititipkan, asal kita mau mendekat dan membaca dengan hati yang tidak tergesa.

Pada akhirnya, saya tidak pulang membawa foto bersama bupati, tidak pula membawa katalog pameran dengan tanda tangan pelukis. Saya pulang membawa rasa: lereme roso, meredakan rasa. Rasa kagum, rasa heran, rasa percaya bahwa di Banyuwangi, di gedung tua bernama Juang 45, seni, agama, dan kemanusiaan sempat duduk bersama, saling menyimak, tanpa perlu saling mengalahkan. Dan mungkin, di situlah makna paling religius dari sebuah pameran: bukan pada apa yang dipajang di dinding, melainkan pada apa yang diam-diam tumbuh di dalam dada.

Penulis Ketua Lensa Banyuwangi

 

Ibadah Sosial di Tengah Krisis Ekologis dan Hegemoni Elit

 Ibadah Sosial di Tengah Krisis Ekologis dan Hegemoni Elit.

Emi Hidayati – Dosen Fak. Dakwah UNIIB

    Rasanya telah terlalu sering, kita sebagai bangsa yang kaya sumberdaya alam ini, menyaksikan rangkaian bencana ekologis yang terus berulang: banjir besar di berbagai wilayah, longsor akibat penebangan hutan, krisis air bersih, serta konflik agraria yang bersumber dari pemberian konsesi tambang dan penguasaan sumber daya alam oleh segelintir elit dan organisasi. Fenomena ini kerap dibingkai sebagai persoalan teknis tata kelola lingkungan atau kegagalan mitigasi bencana. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, akar masalahnya bukan semata terletak pada aspek teknis pengelolaan sumber daya, melainkan pada hilangnya musyawarah substantif dalam proses pengambilan keputusan public yaitu tentang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, jujur, berbasis ilmu, dan berpihak pada kemaslahatan. Senyatanya musyawarah merupakan ibadah sosial di tengah krisis ekologis dan hegemoni elit.

    Kebijakan yang menyangkut ruang hidup—hutan, sungai, tanah, dan energi—lebih sering ditentukan secara elitis, tertutup, dan berbasis kalkulasi risiko ekonomi serta peluang penguasaan sumber daya. Orientasi kemaslahatan masyarakat yang terdampak justru menjadi variabel sekunder. Dalam situasi ini, musyawarah direduksi menjadi formalitas administratif atau sekadar sosialisasi kebijakan yang telah diputuskan sebelumnya. Padahal, bagi masyarakat yang hidup di sekitar hutan, sungai, dan wilayah tambang, keputusan tersebut menyentuh langsung keberlangsungan hidup mereka.

Kondisi ini mencerminkan pengingkaran terhadap prinsip dasar kepemimpinan dan pengelolaan ruang hidup. Pesan agama menegaskan bahwa urusan publik seharusnya diputuskan melalui musyawarah (QS. Ash-Shura: 38), sementara hadis Nabi SAW tentang kepemilikan bersama atas padang rumput, air, dan api menegaskan bahwa sumber daya strategis adalah milik bersama umat. Pesan normatif hadis ini jelas: sumber daya yang menyangkut hajat hidup orang banyak tidak boleh dikelola secara sepihak atau semata-mata berdasarkan logika keuntungan dan risiko ekonomi.


Ketika musyawarah diabaikan, yang terjadi adalah apa yang dalam teori modern disebut sebagai Tragedy of the Commons. Garrett Hardin menjelaskan bahwa sumber daya bersama akan rusak ketika dikuasai oleh aktor-aktor yang bertindak rasional demi kepentingan sempit tanpa kesepakatan kolektif. Banjir akibat deforestasi, konflik lahan, dan degradasi lingkungan adalah manifestasi nyata dari tragedi tersebut. Agama mengajarkan, melalui prinsip amanah dan larangan menimbulkan mudarat (lā ḍarar wa lā ḍirār), telah lama mengingatkan bahwa eksploitasi ruang hidup tanpa pertimbangan kemaslahatan adalah bentuk kezaliman struktural.

Dari sudut pandang teori politik kontemporer, pengabaian musyawarah juga berarti menanggalkan legitimasi moral kebijakan. Habermas menekankan bahwa keputusan publik hanya sah ketika lahir dari proses deliberatif yang inklusif ( musyawarah mufakat ), di mana suara masyarakat terdampak menjadi bagian dari diskursus rasional. Tanpa itu, kebijakan berubah menjadi instrumen dominasi elit. Dalam konteks ini, kegagalan negara bukan terletak pada keberadaan izin atau institusi, tetapi pada absennya ruang deliberasi yang sungguh-sungguh.

Lebih jauh, krisis ekologis nasional ini juga menunjukkan krisis amanah kepemimpinan, yang menempatkan pemimpin sebagai pelayan kepentingan public ( Khodimul ‘ummah). Ketika kebijakan sumber daya alam lebih berpihak pada kepentingan konsesi daripada kemaslahatan masyarakat, maka yang runtuh bukan hanya lingkungan, tetapi juga kepercayaan publik. Yaitu menghidupkan kembali musyawarah dalam pengambilan keputusan atas ruang hidup harus dipahami sebagai ibadah sosial  yang paling nyata. Ia bukan sekadar mekanisme demokratis, melainkan tindakan etis untuk menjaga kehidupan bersama. Tanpa musyawarah, “ niatan memaslahatkan ummat “ akan kehilangan ruh keadilan; tanpa keadilan, ruang hidup berubah menjadi sumber bencana.

 

Lereme Roso, Ketika Kanvas Menyanyi dan Kata Menjadi Cahaya

Banyuwangi (Warta Blambangan) Gedung Juang 45 kembali berdenyut oleh warna, bunyi, dan kata. Pada hari keempat pameran lukisan Lereme Roso, Kamis (25/12/2025), ruang sejarah itu diisi pagelaran musik dan puisi yang menyatukan perupa, penyair, dan pemusik dalam satu tarikan rasa. Sejak pagi hingga malam, pengunjung terus berdatangan, seolah enggan melewatkan percakapan sunyi antara kanvas dan suara.

Pada malam hari, panggung sastra-musik menghadirkan sejumlah tokoh, antara lain Elvin Hendrata, KRT Ilham Triadi, dan Aekanu Hariyono. Suasana memuncak ketika N. Kojin, ketua pelaksana kegiatan, membawakan puisi monolog berjudul Musyawarah Burung. Dengan iringan musik Taufik WR Hidayat dari Lesbumi dan Yons DD—penyanyi sekaligus pencipta lagu Osing—penonton terhenyak, larut dalam dialog simbolik yang bergerak antara bunyi dan makna.b


Sejumlah penyair turut membacakan karya mereka, di antaranya SAW Notodihardjo dari Muncar dan Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi yang membacakan puisi religi yang ditulis ketika di Makkah dengan diiringi musik yang dimainkan Taufik WR Hidayat dari Lesbumi dan Yon DD. Pramoe Soekarno juga tampil membacakan puisi dari antologi Yo Mung karya Samsudin Adlawi, mempertegas jembatan antara teks dan tafsir yang hidup di hadapan publik.

Pameran Lereme Roso menjadi ruang kolaborasi para penyair dan perupa—tempat lukisan, puisi, dan musik saling menyapa—dan akan berlangsung hingga 28 Desember 2025. Di Gedung Juang 45, seni tidak sekadar dipamerkan, tetapi dirayakan sebagai peristiwa bersama.

Syukuran Sertifikasi Ahli Cagar Budaya Banyuwang

Banyuwangi (Warta Blambangan) Senja 25 Desember 2025 di Omah Kopi Telemung tidak hanya menghadirkan aroma kopi dan percakapan hangat, tetapi juga kabar baik bagi perjalanan kebudayaan Banyuwangi. Dalam forum bedah kebudayaan yang dihadiri para budayawan, KRT Ilham Triadi menyampaikan capaian terbarunya: ia resmi mengantongi Sertifikat Ahli Cagar Budaya dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Sertifikat itu melengkapi laku panjang yang telah ditempuhnya. Sebelumnya, ia lebih dahulu memperoleh Sertifikat Ahli Perkerisan, juga dari BNSP—sebuah penanda bahwa pengetahuan, ketekunan, dan tanggung jawab kebudayaan tidak datang secara tiba-tiba, melainkan melalui pengendapan waktu.

Ketua Dewan Kesenian Belambangan, Hasan Basri, menyampaikan bahwa hingga hari ini KRT Ilham Triadi menjadi satu-satunya putra Banyuwangi yang berhasil meraih sertifikasi Ahli Cagar Budaya. Sebuah capaian yang, menurutnya, bukan sekadar prestasi personal, melainkan kepercayaan negara atas kompetensi dalam merawat ingatan kolektif.

“Ini bukan hanya sertifikat, tetapi amanah,” ujarnya, seraya menegaskan pentingnya peran ahli cagar budaya dalam menjaga jejak sejarah agar tidak terhapus oleh waktu dan pembangunan yang tergesa.

Forum kebudayaan itu dihadiri para penggiat seni dan sejarah Banyuwangi: Samsudin Adlawi, Elvin Hendrata, Ribut Kalembuan, serta Aekanu Hariyono—pemandu wisata bersertifikat internasional—dan Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi. Mereka duduk setara, berbagi pandang, seolah merajut kembali simpul-simpul kebudayaan yang kerap tercerai.


Dalam pernyataannya, KRT Ilham Triadi berharap sertifikasi yang diraihnya dapat menjadi jalan manfaat bagi Banyuwangi. Bukan hanya untuk melindungi benda dan situs, tetapi juga merawat makna, ruh, dan kisah yang berdiam di dalamnya.

Di Omah Kopi Telemung sore itu, sertifikat tak diperlakukan sebagai piala. Ia hadir sebagai penanda tanggung jawab—bahwa kebudayaan, seperti kopi, harus dirawat dengan sabar, diseduh dengan kesadaran, dan diwariskan dengan rasa.

Bedah Buku Yo Mung: Puisi yang Pulang ke Kesahajaan di Omah Kopi Telemung


Banyuwangi (Warta Blambangan) Omah Kopi Telemung pada senja itu tidak hanya dipenuhi aroma kopi, tetapi juga denyut kata dan getar makna. Antologi puisi Yo Mung karya Samsudin Adlawi dibedah dengan suasana hangat dan reflektif, menghadirkan perjumpaan antara penyair, budayawan, sejarawan, dan pegiat sastra Banyuwangi.

Hadir dalam forum tersebut Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri, Ketua Komunitas Panji Blambangan KRT Ilham Triadi, budayawan Killling Osing Banyuwangi Aekanu Hariyono, sejarawan Elvin Hendrata, Pramoe Soekarno, Ribut Kalembuan, serta para pegiat sastra. Diskusi dipandu dengan cair dan tajam oleh Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi.

Hasan Basri menekankan kejujuran estetik dalam Yo Mung. Menurutnya, penggunaan bahasa daerah—bahkan dijadikan judul antologi—adalah langkah berani dan jarang ditemui dalam puisi Indonesia. “Ini upaya konkret menjalankan jargon: utamakan Bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah,” ujarnya, seraya menilai puisi-puisi dalam buku ini hadir apa adanya, tanpa pretensi.

Sejarawan Elvin Hendrata menggarisbawahi produktivitas Samsudin Adlawi di tengah kesibukannya. Ia menyebut Samsudin konsisten menulis, terutama karya-karya yang berkelindan dengan Banyuwangi—sebuah kesetiaan pada lokalitas yang terus dirawat melalui sastra. Senada, Fatah Yasin Nor menilai Yo Mung berbeda dari buku puisi Samsudin sebelumnya: bahasanya sederhana, namun berlapis makna dan mengajak pembaca merenung lebih dalam.

Pada senja yang perlahan meredup, pembacaan puisi turut menghidupkan diskusi. Pramoe Soekarno membacakan puisi tentang tsunami Aceh dua dekade silam, yang memantik kesadaran bahwa luka sejarah kerap berulang dalam wujud berbeda—seperti luka yang baru sembuh, kembali tersentuh. Aekanu Hariyono, guide internasional, mengaku tertarik pada puisi-puisi dalam antologi ini karena sarat kearifan lokal Banyuwangi yang jernih dan membumi.

Syafaat menyoroti kekhasan Yo Mung yang ringkas namun dalam. “Puisi-puisi ini menuntut pembacaan berulang,” katanya. Ia juga mengangkat satu detail menarik dari puisi “Pada Lupa”, pada baris terakhir tertulis “hitam lenyak seketika”. Syafaat sempat mempertanyakan apakah ada kesalahan cetak karena kata yang terasa ganjil, hingga pembaca terdorong membuka kamus—sebuah bukti bahwa puisi mengajak dialog, bukan memberi jawaban tunggal. Perbedaan makna antara penulis dan pembaca, menurutnya, adalah ruang hidup puisi.

KRT Ilham Triadi membagikan pengalamannya saat membacakan puisi pendek yang terasa sangat personal—seolah menyuarakan kegelisahan yang ia alami sendiri di hening senja. Pengalaman itu menegaskan bahwa puisi dalam Yo Mung mampu menjembatani perasaan penulis dan pembaca, meski tidak selalu mudah dipahami secara instan.

Mayoritas peserta bedah buku menyampaikan apresiasi, seraya mengakui bahwa kedalaman puisi-puisi Samsudin Adlawi tidak selalu mudah dijangkau semua pembaca. Menanggapi hal itu, Samsudin menyampaikan terima kasih atas pembacaan yang beragam. Ia mengungkapkan bahwa puisinya lahir dari perenungan panjang, referensi yang dalam, dan napas sufisme—yang juga dikuatkan oleh endorsemen Acep Zamzam Noor, penyair dengan jiwa tasawuf, dalam ulasan terhadap antologi ini.

“Puisi-puisi dalam antologi ini bagi saya terasa menyejukkan, ungkapannya singkat, jernih,
menyaran tema kesederhanaan, keseharian, peristiwa biasa—bahkan yang tampak kecil di pagi hari—namun dilukiskan menjadi sesuatu yang tidak hanya personal, melainkan juga universal.” kata Acep dalam Endorsemennya. 

Senja di Omah Kopi Telemung pun ditutup dengan kesan bahwa Yo Mung bukan sekadar buku puisi, melainkan undangan untuk berhenti sejenak—membaca ulang hidup, dari hal-hal yang paling sederhana.(syaf)

Gedung Juang Tetap Ramai di Hari Ketiga Pameran Lereme Roso

Banyuwangi (Warta Blambangan) Hari ketiga pameran lukisan Lereme Roso yang digelar Dewan Kesenian Blambangan, Rabu (24/12/2025), masih dipadati pengunjung. Sejak pagi hingga malam, langkah-langkah datang silih berganti memenuhi Gedung Juang, membawa rasa ingin tahu dan keheningan yang sama. 

Pameran bertema Lereme Roso ini akan berlangsung hingga 28 Desember 2025. Dari berbagai daerah, pengunjung datang bukan sekadar melihat lukisan, tetapi juga mendengarkan cerita di baliknya. Ketua Panitia, N. Kojin, dengan sabar menjelaskan makna setiap karya—tentang rasa, jeda, dan perenungan yang pelan.

Ketua Dewan Kesenian Blambangan, Hasan Basri, menyampaikan bahwa pameran ini merupakan agenda tahunan yang selalu digelar setiap akhir tahun, bertepatan dengan Hari Jadi Banyuwangi. Tahun ini, simbol ular merah dihadirkan sebagai tema, mengikat rasa atas kondisi bangsa yang tengah diuji bencana di berbagai wilayah.

“Lewat seni, kita diajak mendinginkan perasaan,” ujarnya. “Agar apa pun yang terjadi pada bangsa ini, dapat dipikirkan dengan kepala dan hati yang tenang.”

Di ruang pamer itu, lukisan-lukisan berbicara lirih. Mengajak setiap mata yang memandang untuk berhenti sejenak—merenung, dan merasakan.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger