Pages

Malam Ketika Jamaah Haji Berada di Hotel Bintang Lima Jeddah

 

Malam Ketika Jamaah Haji Berada di Hotel Bintang Lima Jeddah

Saya tidak pernah berencana pergi malam itu. Tapi seperti banyak hal dalam hidup, kepergian saya ke rumah itu bukan karena kehendak saya sendiri. Ada tangan halus yang menggiring langkah kita ke arah yang tak kita duga. Tangan yang sering kita sebut sebagai kebetulan, padahal sebenarnya ketetapan yang malu-malu.

Rumah itu bukan rumah siapa-siapa. Tapi entah bagaimana, sejak saya melepas sandal dan duduk di atas karpet bercorak Timur Tengah, rumah itu terasa seperti bagian dari saya. Seperti ruang kecil dalam hati yang lama tidak saya buka. Ada air Zamzam di meja. Ada kurma yang tidak manis, tapi entah mengapa menghangatkan dada. Dan ada satu perempuan yang duduk di depan saya—perempuan yang saya rasa pernah saya temui entah di mana. Di mimpi? Di antrean haji tahun lalu? Atau di lorong waktu yang saya sendiri tidak pernah hafal pintunya? 


Namanya Hj. Danny Fardah Mihmidati. Perempuan itu duduk seperti seseorang yang sudah berdamai dengan waktu. Ia mengenakan gamis warna krem, kacamatanya tipis, dan sudut bibirnya menyimpan senyum yang tidak selesai. Senyum yang tidak menawarkan bahagia, tidak pula mengundang iba. Hanya senyum yang tahu caranya bersabar. Kloter SUB-44. Itulah rombongan hajinya. Rombongan yang oleh berita-berita dikabarkan sebagai “kloter tertunda.” Tapi saya merasa: tidak ada yang benar-benar tertunda, kecuali orang-orang yang terlalu cepat menuntut kepastian.

“Tertunda, Mas,” katanya pelan. “Tapi ternyata yang tertunda itu bukan hanya kepulangan. Tapi juga kesedihan.”

Saya mendengarkan kalimat itu seperti orang yang baru pertama kali belajar membaca. Saya mengucapkannya dalam hati, lalu menekuri maknanya, seakan sedang merenungkan ayat yang turun di luar jadwal. Ia bercerita. Tentang malam-malam di Jeddah. Tentang kepanikan awal ketika pengumuman penundaan disampaikan. Tentang jamaah yang menangis, yang mengeluh, yang pasrah, dan yang diam. Tapi yang paling mengejutkan bukanlah keterlambatan itu. Melainkan hadiah yang diam-diam diselipkan Tuhan ke dalam koper mereka: hotel bintang lima. Hotel dengan lift yang berjalan pelan seperti dzikir. Hotel dengan kasur empuk seperti dada yang telah memaafkan. Hotel dengan sarapan yang membuat lidah kampung kehilangan kata.

“Awalnya kami sedih,” kata Danny. “Tapi begitu masuk kamar hotel itu, kami tertawa, seperti anak-anak dapat permen.”

Saya tertawa. Tapi tawa saya tertahan di tenggorokan. Ada rasa bersalah yang menggumpal. Rasa bersalah karena saya ingat betapa sering saya kecewa ketika rencana kecil saya tak sesuai jadwal. Padahal Tuhan sedang menyusun kejutan. Hotel itu bukan hanya tempat menginap. Ia adalah ayat yang dilipat dalam selimut. Ia adalah tanda bahwa Tuhan bisa menyewa hotel bintang lima untuk hamba-hamba-Nya yang sabar. Tanpa pesan. Tanpa down payment. Tanpa jaminan. Mereka tidak membayar malam itu. Tapi malam itu membayar banyak luka. Dani lalu mengatakan sesuatu yang bagi saya terdengar seperti doa yang disamarkan:

“Mas, kadang kita tidak perlu terburu-buru pulang. Karena Tuhan juga tidak selalu terburu-buru memberi. Tapi Ia pasti memberi. Itu pasti.”

Saya menunduk. Mencium aroma teh yang disuguhkan, seperti mencium ketenangan yang tak bisa dibeli. Lalu, dalam percakapan yang entah mengapa terasa seperti pengakuan dosa di pinggiran kota, saya bertanya dengan nada main-main, “Apa doa Ibu ketika di Multazam?”

Dia mengangkat bahu. Gerak kecil, tapi saya tahu beratnya seperti menahan gerimis agar tidak jatuh.

“Saya tidak berani berdoa banyak-banyak. Takut tidak kuat menerima,” katanya.

Kalimat itu membuat saya diam cukup lama.

“Saya hanya bilang, ‘Ya Allah, saya terima apapun. Asal Engkau tetap jadi arah saya pulang.’”

Saya mendengar kalimat itu seperti sedang membaca puisi dari buku tua yang belum selesai ditulis penulisnya.

“Kalau soal keinginan-keinginan pribadi,” katanya lagi, “saya pasrahkan ke orang yang minta didoakan. Biarlah mereka berdoa, saya yang mengaminkan.”

Saya tercekat. Di dunia yang penuh dengan orang yang sibuk meminta, saya bertemu seseorang yang bersedia menjadi peng-amin. Ia tidak ingin menjadi pusat dari doa-doa. Ia ingin jadi gema kecil. Menjadi amin di ujung doa orang lain. Ia adalah jalan sunyi dari spiritualitas yang tidak ingin dipamerkan.

Saya lalu teringat cerita dari pembimbing ibadah kloter itu, yang dulu adalah Ketua Rombongan satu SUB-58. Tahun lalu saya ketua kloternya. Kami pernah berbagi malam-malam tanpa tidur di Mina, meyakinkan jamaah yang hilang arah, atau membagi makanan untuk jamaah. Dan di sanalah saya menyadari: ibadah haji adalah ibadah yang kolektif, tapi hati tetap bekerja sendiri-sendiri.

Saya pulang malam itu di atas motor tua. Jalanan sepi. Tapi kepala saya penuh suara. Seperti malam sedang membacakan catatan harian yang tidak pernah saya tulis. Dan catatan itu berkata: tidak semua penundaan adalah musibah. Kadang ia adalah bungkus hadiah yang belum siap kita buka. Saya memikirkan kolam renang di hotel bintang lima itu. Kolam yang tidak disentuh para jamaah karena menjaga wudhu. Dan saya tersenyum pahit. Di kota ini, banyak orang yang berenang dalam dosa, tapi tetap bangga dengan pakaian ibadahnya.

Dani tidak sedang bercerita tentang mewahnya hotel. Ia sedang menyampaikan: bahwa dalam perjalanan menuju Tuhan, ikhlas bukan hanya kunci. Ia adalah rumah. Dan rumah itu tidak perlu besar. Cukup tenang. Ia tidak meminta surga, tidak menuntut umur panjang, tidak pula memohon harta. Ia hanya ingin tetap berdoa. Dan menjadi suara amin bagi mereka yang ingin meminta. Saya merasa telah berziarah malam itu. Bukan ke makam wali, bukan ke Madinah atau Arafah. Tapi ke hati seorang perempuan yang sudah haji bukan hanya dengan fisik, tapi dengan pasrah yang tidak dibuat-buat. Di jalan pulang, angin mengusik helm saya. Tapi saya tidak peduli. Saya masih memikirkan satu hal: Tuhan ternyata bisa menyewa hotel bintang lima. Dan malam ini, Ia juga telah menyewa ruang dalam hati saya—untuk saya diami dengan diam, untuk saya renungi dengan takut, dan untuk saya isi dengan kata paling sederhana dalam ibadah: Amin.

Di Jeddah, Cinta Tiba Terakhir

 Di Jeddah, Cinta Tiba Terakhir

Saya mendengar cerita ini dari seseorang yang tidak sedang menulis sejarah, melainkan sedang mengendapkan cinta. Bukan cinta yang gaduh, bukan cinta yang membuat orang bersajak atau membentangkan spanduk, melainkan cinta yang sabar. Yang tahu cara menunggu. Yang tahu tempat untuk tidak tergesa pulang.

Namanya Dimyati. Ketua Kloter SUB-43. Asalnya dari Dusun Suwaluh Desa Sumbersari, sebuah desa yang jika matahari sore melorot ke balik bukit, akan terdengar kokok ayam jantan seperti memanggil pulang masa kecil saya, kita pernah sekolah di madrasah yang sama, meskipun dengan tahun berbeda. Desa kita bersebelahan, ada pesantren tua yang banyak memunculkan banyak tokoh nasional.


Saya tidak tahu apakah Dimyati tahu bagaimana menciptakan sejarah. Tapi dari cerita yang sampai ke saya, ia tampaknya lebih tahu bagaimana cara tidak merusaknya.

Dia bukan jenis ketua kloter yang berdiri di depan podium lalu menghilang ke kursi eksekutif. Ia tidak mengenakan nada suara keras ketika berbicara, tidak pula menginstruksikan seperti komandan yang sedang mengatur barisan. Tapi orang-orang mendengarkannya. Karena ia lebih dulu mendengarkan. Dia mencatat nama. Menghafal wajah. Mengenali nada suara. Mengerti ketegangan di antara helaan napas yang terengah saat berjalan menuju Masjidil Haram. Ia tahu kapan seseorang hanya butuh sebotol air zamzam dingin, bukan tausiyah. Ia tahu siapa yang lebih butuh didengarkan ketimbang dibimbing. Ia tidak sedang menjalankan tugas administratif. Ia sedang menanggung ruhani.

Waktu yang Tertunda, Kloter SUB-43 menjadi kloter terakhir dari Banyuwangi yang pulang. Mereka pulang belakangan. Lewat dari jadwal. Tertunda karena ketegangan politik di Timur Tengah. Saya membayangkan, dari Bandara King Abdulaziz di Jeddah, para petugas maskapai menjelaskan dengan wajah datar bahwa jadwal penerbangan belum pasti. Saya membayangkan sekelompok orang yang sudah lelah namun tetap duduk tegak. Yang sudah rindu anak dan cucu namun tetap bersabar. Yang seharusnya marah, namun justru tersenyum.

Saya pernah berada di antara orang-orang yang kehilangan koper di Madinah dan menyaksikan mereka menyumpah-nyumpah dalam bahasa yang bahkan Tuhan pun mungkin enggan menerjemahkannya. Tapi cerita Dimyati ini tidak seperti itu.

Mereka tidak marah. Tidak gelisah. Tidak menyalahkan siapa pun. Mereka tahu bahwa tidak semua penundaan adalah musibah. Beberapa penundaan adalah jawaban dari doa yang bahkan tak sempat mereka panjatkan.

Jeddah: Hotel, Takdir, dan Sepi yang Indah, dan inilah bagian yang paling membuat saya berhenti sejenak dari membaca pesan suara Dimyati:

> “Karena akhirnya kami bisa berdua,” kata seorang jamaah pria dengan pipi keriput yang tersipu seperti anak muda jatuh cinta.

Saya kira itu kalimat paling jujur dari seseorang yang pernah mendefinisikan ulang arti bulan madu. Selama lebih dari 40 hari mereka berbagi kamar dengan orang asing. Berbagi dengkuran, berbagi keluhan, berbagi sandalnya hilang di pelataran Masjid Nabawi. Mereka tahu terlalu banyak tentang dengkul orang lain dan terlalu sedikit tentang tangan istrinya sendiri.

Dan di Jeddah, karena penundaan itu, mereka diberi satu kamar, Berdua, suami dan istri. Satu malam. Dua malam. Entah berapa kali mereka berbulan madu. Dan itu adalah malam-malam yang lebih sakral daripada ijab kabul.

Mereka berangkat sebagai jamaah. Tapi di Jeddah, mereka kembali seperti pasangan baru. Bukan karena sesuatu yang dikatakan petugas kloter, tapi karena sesuatu yang ditiupkan oleh sunyi. Dan saya membayangkan seseorang sedang menanak air untuk kopi. Istrinya menunggu sambil membaca surat kabar dari tanah air yang sudah kusut. Tidak banyak percakapan. Tidak banyak rencana. Tapi dalam diam itu, ada ruang yang tiba-tiba terisi. Seperti cinta yang tiba paling akhir. Tapi datang dengan tangan yang utuh. Jamaah Terakhir, Tapi Pulang Paling Siap

Beberapa orang menyebut keterlambatan mereka sebagai “bonus dari langit.”

Saya menyebutnya sebagai pertemuan antara kesabaran dan karunia. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluh. Tidak ada yang meminta tiket pulang lebih cepat. Tidak ada yang menanyakan kompensasi. Mereka sudah terlalu kaya oleh pengalaman. Karena sesungguhnya, orang-orang seperti Dimyati dan para jamaah kloter SUB-43 telah menyelesaikan haji mereka bukan dengan ritual, tapi dengan cara menerima.

Menerima bahwa tak semua cinta harus ditunjukkan. Menerima bahwa tak semua kerinduan harus segera sampai. Menerima bahwa Jeddah bisa menjadi kota singgah yang lebih manis daripada kampung halaman, asal yang bersamanya adalah orang yang seharusnya.bDi Antara Doa dan Detak Jantung Terakhir Satu jamaah meninggal sebelum kepulangan. Dan itu bukan duka. Itu pertemuan.

Dimyati, dari yang saya dengar, menangani itu sendiri. Tidak dengan prosedur kaku, tapi dengan tangan yang menepuk pundak. Dengan kata-kata pendek yang tak tertulis dalam SOP. Karena kadang, pemimpin sejati bukan yang tahu semua aturan, melainkan yang tahu kapan harus diam dan memberi pelukan.

Saya membayangkan di Makkah, di antara jutaan manusia, Dimyati menyebut satu nama di dalam doanya. Menyebutnya pelan, seperti menyebut nama sendiri. Karena ia tahu, ia tidak sedang memimpin perjalanan.

Ia sedang mengantarkan kepulangan. Takdir yang Tidak Terburu-Buru, Kita selalu membayangkan cinta sebagai sesuatu yang terburu-buru. Seolah yang cepat adalah yang sahih. Seolah yang pertama datang adalah yang paling setia.

Tapi di Jeddah, cinta tiba terakhir. Dan justru karena itu, ia datang dengan paling banyak membawa waktu. Mereka—para suami istri yang telah puluhan tahun menikah—tiba-tiba menjadi pengantin baru di kota pelabuhan yang selama ini hanya dikenal karena toko emas dan ikan bakar.

Mereka tidak meminta tempat tidur yang empuk. Tidak bertanya apakah AC berfungsi. Mereka hanya ingin satu hal: bersama, dalam ruang yang cukup. Dan itu cukup. Kamar mewah, kamar pengantin, Kamar-Kamar yang Menyimpan Rahasia

Saya tidak tahu nomor kamar mereka. Tapi saya yakin kamar-kamar itu menyimpan percakapan-percakapan yang hanya dipahami oleh waktu. Mungkin seorang istri memijit kaki suaminya yang bengkak. Mungkin seorang suami membacakan ulang doa wukuf dengan suara parau.

Mungkin mereka duduk di balkon, melihat pelabuhan Jeddah yang remang, dan untuk pertama kalinya, merasa bahwa dunia ini tidak terlalu luas. Karena yang luas bukanlah ruang, melainkan hatimu saat tidak ingin buru-buru pulang.

Pulang yang Tidak Sama Lagi Ketika akhirnya mereka tiba di Banyuwangi, mereka turun dari bus dengan wajah yang lain. Mereka tidak hanya membawa koper. Mereka membawa kamar. Mereka membawa malam-malam Jeddah yang pelan dan penuh debar.

Dan saya percaya, beberapa cinta tidak lahir dari pelaminan. Tapi dari ketertundaan. Dari keterpaksaan yang akhirnya menjadi anugerah. Dari kota-kota asing yang diam-diam menyusun ulang perasaan kita. Dan di Jeddah, cinta itu tiba terakhir. Tapi tidak terlambat. Karena cinta yang datang di akhir, adalah cinta yang paling tahu mengapa ia perlu menunggu.

Ditulis untuk yang tidak tergesa mencintai, dan yang tahu bahwa pulang bukan soal waktu, melainkan siapa yang masih menggenggam tanganmu ketika semua orang sudah melepaskan. (syaf)

Di Antara Delapan Syarikah dan Satu Nama: Guntur Al Baderi

Di Antara Delapan Syarikah dan Satu Nama: Guntur Al Baderi


Saya seharusnya berangkat haji tahun ini. Tahun 2025. Bukan karena panggilan batin saya sendiri. Tapi karena panggilan cinta yang pelan-pelan dibisikkan dari masa lalu oleh kedua orang tua saya. Mereka bilang, “Kalau kami haji, kami ingin kamu yang mendampingi.” Kalimat itu pendek, tapi seperti biji kurma, kecil namun mengandung kehidupan yang bisa tumbuh dalam perut gurun yang paling kering.        

Dari lima anak, hanya saya yang sudah berhaji. Itu pun karena saya dulu pernah menjadi petugas. Dan dalam banyak hal, menjadi petugas adalah pengalaman yang rumit. Kau harus menyatu dengan kerumunan, tapi juga harus berdiri sedikit lebih tinggi darinya agar bisa menuntun. Kau harus hafal arah, waktu, bahkan jeda napas para jamaah. Tapi bukan itu inti dari kisah ini. 


     

Saya ingin mengisahkan sesuatu yang lebih dari daftar tugas. Saya ingin bercerita tentang persahabatan, tentang kehilangan kecil, dan tentang bagaimana kita kadang tak jadi berangkat haji, tapi sesungguhnya sedang berhaji di hati kita yang paling dalam.       

Saya sudah mempersiapkan semuanya. Paspor saya, paspor anak saya, bahkan paspor kedua orang tua saya. Kami sudah mengikuti manasik, berkali-kali. Saya dan teman saya, Guntur Al Badri, sudah membayangkan bagaimana kami akan mengisi 42 hari di Tanah Suci. Kami tahu, puncaknya hanya 5 atau 6 hari. Tapi manusia tidak hidup dari puncak ke puncak saja. Kami mempersiapkan yang datar-datar juga. Yang sepi-sepi juga. Kami merencanakan wisata religi. Kami bahkan menyiapkan obrolan, guyonan, dan jadwal shalat malam.      

Saya mengenal Guntur sebelum kami jadi PNS. Dulu, kami sama-sama aktivis di masyarakat. Saya di PNPM. Dia mengirim saya kritik. Kritik itu singkat, tapi tidak pendek. Ia tajam seperti kerikil di sepatu. Mengganggu, tapi menyadarkan bahwa ada yang perlu dikendurkan, ada yang perlu dikencangkan.       

Saya tidak marah. Kritik itu datang dari orang yang peduli. Orang yang marah biasanya karena merasa tak dihargai. Tapi kritik justru adalah bentuk tertinggi dari penghargaan. Ia adalah tanda bahwa seseorang sudi memperhatikan pekerjaan kita, cukup dalam untuk berani berkata, “Hei, ini salah.”        

Sejak itu kami berteman. Kami sama-sama jadi PNS, sama-sama sempat terjebak nostalgia aktivisme, dan sama-sama tahu bahwa menjadi pegawai negeri tidak berarti harus kehilangan nyali.      

Tapi takdir, seperti biasa, punya rencana lain. Kedua orang tua saya ternyata belum berangkat. Namanya belum tercantum. Entah kenapa. Padahal semua sudah siap. Mungkin Tuhan ingin saya lebih sabar. Mungkin Tuhan ingin memberi pelajaran bahwa keinginan manusia tak akan pernah setajam kehendak-Nya. Maka saya tidak jadi berangkat. Dan Guntur, bersama beberapa teman kami, tetap berangkat. Tanpa saya.         

Saya bukan kecewa. Tapi saya mengakui ada ruang kosong yang tidak bisa saya isi dengan apapun. Saya ingin bersama mereka. Tapi saya harus tetap bersama orang tua saya di sini. Saya tetap terhubung dengan mereka lewat WhatsApp. Percakapan digital yang tidak bisa menggantikan pelukan sahabat, tapi cukup untuk menguatkan ikatan.      

   Kami masih komunikasi dengan para jamaah terutama dengan Guntur Al Badri karena beberapa hal memang yang sudah kita rencanakan harus berjalan dan saya dianggap yang tahu tentang travel atau biro perjalanan yang ada di Makkah maupun di Madinah beberapa hari sebelum kepulangan ke tanah air Guntur juga pa kepada saya menanyakan tentang makam dari mertuanya karena mertuanya meninggal ketika melaksanakan ibadah haji tahun 2017 dan saat itu saya sebagai ketua kloternya,b ayah mertua Guntur meninggal ketika kami sudah berada di tanah air saat itu bulannya harus kita tinggal di Mekkah setelah melaksanakan ibadah haji karena harus dirawat di rumah sakit kami mendengar beliau meninggal dunia 2 hari setelah kami berada di rumah sakit dan biasanya untuk jamaah di Indonesia yang meninggal saat itu dimakamkan di Seraya bukan di ma'la, karena hanya orang-orang tertentu saja yang dimakamkan di ma'la selebihnya di Seraya.   

Tahun 2025 ini, pemerintah membuat kebijakan baru: delapan syarikah. Delapan perusahaan yang mengelola jamaah. Maka dalam satu kloter, jamaah bisa tersebar di sepuluh hotel. Seperti buih yang dipisahkan ombak. Dalam satu cerita, ada satu jamaah perempuan yang baru bayar. Dia dapat kamar bersama jamaah lain, masih dari Banyuwangi, tapi beda rombongan. Lalu, sebagaimana manusia yang kadang terlalu terikat pada batas administratif, dia tak diajak pergi ke Masjidil Haram oleh teman sekamarnya.      

Alasannya sederhana: “Bukan kelompok kita.” Kalimat yang singkat, dan dalam konteks ini, menyakitkan.      

Saya tahu cerita ini dari Guntur. Saya minta tolong padanya. “Fasilitasi dia. Sampaikan pada teman sekamarnya bahwa perempuan ini bagian dari kita, dari Banyuwangi, dari Indonesia, dari Adam dan Hawa yang sama.” Agama ini tidak mengenal kloter dalam cinta. Islam ini tidak mengenal batas dalam kasih sayang. Tapi memang, kadang manusia lebih tunduk pada struktur daripada nurani.        

Ketika di Arafah, di puncak haji, bahkan kloter tidak berlaku. Jamaah dibagi berdasarkan kafilah. Satu kafilah bisa terdiri dari beberapa kloter, bahkan dari beberapa embarkasi. Bisa saja orang Banyuwangi sekamar dengan orang Medan. Bisa jadi yang dulu satu desa, sekarang terpencar ke lima kemah. Begitulah hidup. Ia membagi-bagi agar kita belajar menemukan kembali.       

Dan saya, yang tidak ikut berangkat, merasa sedang menjalani haji dalam bentuk yang lain. Saya melihat dari jauh. Saya mendengarkan kabar-kabar. Saya membantu mengurai persoalan dari ribuan kilometer. Dan saya mulai mengerti, mungkin inilah haji saya: haji melalui kehadiran yang tidak terlihat. Seperti doa, seperti cinta, seperti malaikat.      

Saya tidak bisa memeluk Guntur ketika dia masuk Raudhah. Saya tidak bisa menggenggam tangan jamaah perempuan itu dan berkata, “Kamu tidak sendiri.” Tapi saya percaya, bahwa dalam satu kalimat yang dituliskan melalui layar kecil, saya sedang memikul satu beban. Dan beban itulah yang mendekatkan saya pada makna haji itu sendiri.        

Orang tua saya belum berangkat. Tapi saya yakin, Tuhan belum selesai menulis cerita kami. Mungkin tahun depan. Mungkin lewat jalur yang lain. Tapi pasti, lewat jalan yang lebih mengajarkan.     

Dan Guntur, sahabat lama saya, yang pernah mengirim kritik itu dulu, yang sekarang membantu saya mengurai peliknya delapan syarikah, tetap menjadi nama yang saya simpan dalam hati. Bukan hanya karena kami pernah merencanakan keberangkatan bersama. Tapi karena dia adalah orang yang memahami satu hal penting: haji bukan hanya urusan fisik, tapi juga urusan nurani.         

Dan ketika nurani sudah terlatih, ketika hati sudah berhaji sebelum kaki melangkah, maka sesungguhnya kita telah menunaikannya. Setidaknya, sebagian darinya. Sebagian yang paling dalam. Yang tidak bisa dilihat oleh visa, paspor, atau petugas imigrasi.      

Maka saya katakan:        

Tahun ini saya tidak jadi berangkat.       

Tapi saya tetap pergi.        

Ke tempat yang lebih jauh dari Tanah Suci.        

Ke tempat yang disebut Tuhan dalam diam: Hati.      


Ziarah ke Petugas Haji, dan Cerita Tentang Raudhah yang Jauh dari Misfalah

 Ziarah ke Petugas Haji, dan Cerita Tentang Raudhah yang Jauh dari Misfalah

Oleh: Peziarah Haji 


Saya berziarah, bukan dalam makna yang lazim dipahami orang-orang. Saya tidak datang membawa bunga, doa, atau air mawar. Saya datang membawa secangkir kopi sachet dua ribu perak yang sudah saya larutkan di gelas plastik dari rumah. Saya tahu dia suka kopi, meskipun sore itu kami tak benar-benar sempat menyeruputnya bersama.

Teman saya itu, lelaki dengan janggut tipis yang akhir-akhir ini lebih sering memeluk sunyi, adalah seorang petugas haji daerah. Tahun ini, 2025, ia ditugaskan ke tanah yang mengajarkan ribuan makna kepada siapa pun yang bersedia mengalami. Ia bukan orang sembarangan, juga bukan orang yang ingin terlihat istimewa. Tapi ia kini berada dalam sebuah sistem yang membuatnya tampak begitu kecil. Ia menunggu saya di beranda rumahnya dengan sorot mata yang tidak sepenuhnya selesai tidur.

Kami tak langsung bicara tentang apa pun. Angin sore lebih dahulu menyela. Ada nyanyian jangkrik dari kebun tetangganya yang tidak pernah ia kenal benar. Lalu suara motor sayup dari jalan depan. Seperti hidup yang terus berjalan, bahkan ketika kita merasa terjebak di satu titik.

“Aku dengar kabar buruk tentang petugas haji,” saya memulai, hati-hati.

“Kabar buruk selalu lebih cepat tiba dibanding kabar baik,” katanya tersenyum kecil.

Saya tak ingin membantah. Saya hanya ingin mendengar. Katanya, tahun ini berbeda. Haji 2025 adalah lembaran baru yang ditulis ulang oleh delapan syarikah yang tak sepenuhnya bisa dikendalikan. Syarikah—semacam lembaga penyedia layanan jamaah haji di Arab Saudi—telah membuat peta tugas dan layanan menjadi lebih luas, lebih rumit, dan kadang membingungkan. 


“Kau tahu,” katanya, “aku bahkan terpisah dari jamaahku sendiri. Mereka di Misfalah. Aku di Raudhah.”

Saya mengangguk, meskipun saya tak sepenuhnya paham makna jarak itu sebelum dia melanjutkan.

“Terminal bisnya saja beda 1,5 kilometer,” ujarnya. “Jangankan mengurus mereka setiap waktu, untuk bertemu satu dua orang pun seperti mendaki malam tanpa lampu.”

Ia terdiam. Saya tahu diamnya bukan karena kehilangan kata. Ia sedang menyusun perasaan. Itu yang sering dilakukan orang-orang yang tak ingin menyalahkan apa pun.

“Tapi kan tugas ya tetap tugas?”

“Ya,” katanya. “Tugas tetap dijalankan. Meski tidak maksimal.”

Saya ingin menertawakan kalimat itu, bukan karena lucu, tapi karena begitu jujurnya. Di negeri kita, kalimat seperti itu sering diputarbalikkan. Ketika seseorang berkata ‘tidak maksimal’, ia akan segera dibungkam oleh seribu alasan pembenar. Tapi teman saya tidak sedang membenarkan diri. Ia sedang mencoba jujur dalam dunia yang sering meminta orang berpura-pura.

Satu hari menjelang keberangkatan haji, katanya, ia dipindahkan ke kloter lain. Bukan karena ingin, tapi karena sistem syarikah yang memisahkannya. Begitu juga saat tiba, dalam satu kloter yang seharusnya berjalan bersama, mereka malah tersebar di delapan hotel berbeda, satu untuk tiap syarikah. Ia bilang, yang menyatukan mereka hanya waktu kepulangan. Saat pesawat pulang sudah disiapkan dan koper-koper dibaringkan seperti jenazah yang menunggu doa.

“Lalu, bagaimana kamu mengurus jamaah yang bukan kamu kenal?” saya bertanya.

“Dengan sebaik mungkin, dan selemah mungkin,” jawabnya pelan. “Tak ada orang kuat di sana. Yang ada hanya orang yang berusaha sekuat-kuatnya.”

Ia tertawa. Saya juga tertawa. Mungkin itulah satu-satunya momen kami merasa ringan.

“Orang bilang petugas itu nebeng haji,” saya menggoda. “Katanya, dapat fasilitas gratis, bisa tawaf sambil selfie, bisa ziarah sambil ngopi.”

Ia tak menjawab. Tapi matanya memandang saya dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang pernah hampir kehilangan dirinya sendiri.

“Tak ada nebeng dalam pekerjaan ini,” katanya akhirnya. “Yang ada hanya keberanian untuk menanggung yang tidak mungkin. Menjaga orang-orang yang tidak selalu kita tahu namanya. Membantu mereka wukuf, melontar, thawaf, dengan tubuh yang mulai kehilangan tenaga.”

Saya terdiam.

“Orang luar lihatnya enak, selfie di depan Ka’bah, pakai rompi petugas. Padahal kadang kita menangis sendiri di lorong hotel. Merindukan rumah. Takut salah. Tak bisa tidur karena jamaah lansia hilang jalur pulang. Dan kita harus menunggu hingga dini hari tanpa tahu harus melapor ke siapa.”

Saya membayangkan itu. Jalan-jalan sempit Makkah, hotel-hotel dengan lift rusak, tempat makan yang berpindah-pindah. Dan delapan syarikah yang seperti menggandakan delapan kepala dalam satu tubuh.

“Kalau boleh memilih,” katanya pelan, “aku lebih suka mengurus anak-anak kelas madrasah seperti dulu. Karena mereka tahu cara menghormat. Karena mereka, setidaknya, mencatat namamu.”

Saya tahu ia bukan bicara tentang nama dalam absen, tapi nama dalam hati. Dan hari itu, di bawah lampu beranda yang mulai redup, saya tahu: dia bukan hanya petugas haji. Ia adalah penanggung beban, dalam sistem yang membebaninya tanpa pelatihan tentang bagaimana menghadapi delapan syarikah yang berbeda-beda arah, perintah, dan hotel.

Saya pamit tak lama setelah azan magrib. Saya tahu ia lelah, meski tak mengakuinya. Ia tidak minta dibela. Ia tidak minta dijelaskan kepada publik. Ia hanya ingin mendengar seseorang berkata: aku mengerti.

Dan saya tahu, itu tak cukup. Tapi kadang, satu kalimat seperti itu lebih penting daripada laporan resmi yang panjang.

Saya tidak tahu apakah esok ia masih ingin kembali menjadi petugas. Tapi saya tahu, ia tidak akan pernah menjadi sama. Tidak setelah berjalan 1,5 kilometer setiap hari hanya untuk berkata: “Apa kabar, Pak Haji?”

Dan tak sekali pun dipanggil kembali dengan namanya sendiri.

tentang Zainur Rofik, seorang kepala sekolah negeri di Banyuwangi yang menjadi Petugas Pembimbing Ibadah Haji Tahun 2025

Tentang Zainur Rofik, seorang kepala sekolah negeri di Banyuwangi yang menjadi Petugas Pembimbing Ibadah Haji Tahun 2025

Zainur Rofik tidak sedang pergi dari dunia pendidikan. Ia hanya menepi sebentar, mencatat hal-hal yang tak bisa diajarkan di ruang kelas. Ia bukan lagi kepala sekolah yang menilai ulangan siswa dan menandatangani rapor atau ijazah akhir tahun. Ia sekarang adalah musafir ruhani yang dititipi amanah di tengah gurun, di antara debu dan doa-doa. Ia tidak lagi mengurusi absen guru, tapi absen jemaah; tidak membagikan buku paket, tapi membagikan sabar kepada lansia yang ingin beribadah dengan benar, meski lututnya tak lagi sempurna menahan ruku.

Dan semua ini berawal dari keberangkatannya ke tanah suci tahun lalu. Tahun 2024, Rofik dan istrinya menunaikan ibadah haji sebagai jemaah, tergabung dalam kloter SUB-58. Sebagai ketua rombongan, ia merasakan bagaimana susahnya mengorganisasi para jemaah yang terdiri dari berbagai latar, usia, dan ego. Tapi justru dari situ, ia belajar: haji bukan tentang kekhusyukan pribadi, melainkan bagaimana seseorang menghadirkan diri bagi orang lain dalam situasi yang melelahkan sekalipun.

Di tengah segala hiruk pikuk Arafah dan tenda Mina yang pengap, ia tidak hanya menjadi kepala rombongan, ia menjadi tempat bertanya, tempat mengeluh, tempat menangis diam-diam. Lalu, entah dari ketulusan mana, Ketua Kloter SUB-58 menyarankan agar ia mengikuti sertifikasi petugas haji. Dan Rofik menurut. Tahun 2025, ia resmi menjadi Petugas Pembimbing Ibadah Haji Kloter (PPIHK). Ini hal yang tidak biasa. Baru pertama kali seorang PNS dari luar Kementerian Agama diterima sebagai PPIH. Selama ini, posisi itu seakan-akan hanya milik mereka yang mengenakan sarung dan peci putih sejak remaja, mereka yang lulusan pesantren, atau mereka yang telah menjadi bagian dari sistem birokrasi Kemenag. 


Rofik datang dari dunia sekolah negeri, dari ruang-ruang kelas yang dindingnya penuh peta dan papan tulis, bukan dari surau atau pesantren. Ia mendobrak anggapan lama, tanpa suara keras. Tanpa menyombongkan bahwa ia ‘yang pertama’, ia melangkah tenang ke Makkah, bukan sebagai jemaah biasa, tapi sebagai pelayan tamu Allah. Tapi tahun ini berbeda. Tahun lalu, ia hanya membimbing satu rombongan. Sekarang, ia menjadi penanggung jawab spiritual untuk ratusan jiwa yang mengandalkannya sebagai penunjuk jalan. Tahun lalu, ia hanya sesekali memberi tahu arah ke Jamarat. Tahun ini, ia harus mempersiapkan mental jemaah dari sebelum berangkat, saat di tanah suci, hingga ketika hendak pulang. Tahun lalu, setiap jemaah dibekali kartu Nusuk, yang membantu pelacakan dan manajemen. Tahun ini, sistem berubah. Lebih banyak tantangan administratif, lebih banyak pertanyaan yang datang pada saat ia sendiri sedang bingung. Namun, pengalaman sebagai ketua rombongan memberinya modal besar. Ia tahu titik-titik lelah para jemaah. Ia tahu bahasa yang bisa meluruhkan ketegangan. Ia tahu bahwa untuk membantu orang tua naik bus, bukan hanya dibutuhkan tenaga, tetapi kesabaran seperti yang dimiliki Ibrahim ketika meninggalkan Ismail di padang tandus.

Lalu datanglah hari itu. Hari di mana kloter SUB-44 seharusnya pulang ke tanah air, namun diberi kabar penundaan. Hanya dua kloter yang ditunda, sedangkan kloter-kloter setelahnya tetap pulang sesuai jadwal. Dan itu memunculkan kecurigaan, pertanyaan, dan bahkan penolakan dari beberapa ketua rombongan. Beberapa menolak menyampaikan kabar itu, khawatir diprotes jemaah. Mereka bilang: “Kenapa hanya kami? Kenapa tidak semuanya?”

Rofik berdiri di tengah keresahan itu. Ia tidak memilih diam. Ia tidak menyuruh orang lain yang menjelaskan. Ia turun sendiri ke hadapan para jemaah, wajah-wajah lelah yang sudah menanti rumah dan kampung halaman. Ia tidak membawa dokumen, tidak membawa catatan. Ia hanya membawa suara tenang dan kalimat-kalimat sederhana yang tumbuh dari empati.

“Penundaan ini bukan karena kami pilih-pilih,” katanya. “Ini semata karena alasan keselamatan penerbangan. Tidak ada satu pun di antara kita yang ingin kembali dengan terburu-buru, lalu menyesal karena ada hal-hal yang tidak diperhitungkan. Allah mencintai orang yang bersabar, dan mungkin inilah cara Allah mengajari kita sabar untuk terakhir kalinya dalam perjalanan haji ini.”

Beberapa jemaah menangis. Bukan karena sedih ditunda, tapi karena mereka merasa dihargai, dianggap dewasa, dan diperlakukan sebagai manusia seutuhnya. Seseorang merekam penjelasan itu. Videonya tersebar. Viral. Tapi Rofik tidak berubah. Ia tetap berdiri sebagai petugas yang tahu bahwa tugasnya bukan hanya mendampingi, tapi memahami. Orang-orang bilang, ibadah haji adalah perjalanan puncak spiritual. Tapi bagi Rofik, puncak itu bukan saat ia melempar jumrah, bukan saat berdoa di Multazam, bukan saat melihat Ka'bah untuk pertama kalinya. Puncaknya adalah ketika ia bisa menjelaskan sebuah kebijakan dengan penuh kasih, dan orang-orang yang mendengarnya menjadi lebih ikhlas, bukan lebih marah. Saat itu, ia merasa seolah Allah berbisik, “Begitulah caraku menugaskanmu, bukan untuk menyuruh mereka tunduk, tapi untuk membuat mereka rela.”

Kelak, mungkin akan ada lebih banyak ASN dari luar Kementerian Agama yang ikut menjadi petugas haji. Akan ada guru sejarah yang menenangkan jemaah, kepala dinas yang membersihkan sandal jamaah, atau pengawas sekolah yang mendorong kursi roda nenek-nenek yang ingin thawaf. Karena pelayanan bukan soal instansi, ia soal hati, dan Zainur Rofik sudah menuliskannya di batu-batu Mina dan langkah-langkah thawaf, bahwa pengabdian itu tidak punya batas, selama seseorang membawa cinta yang tak malu-malu kepada Tuhan dan sesama manusia. Lalu bagaimana kita bisa membayangkan peristiwa semacam ini di tengah dunia yang sedang retak? Ketika perang Iran-Israel meletup seperti bisikan kiamat yang tertunda, dan langit dunia digambar ulang oleh roket dan drone? Ketika satu sisi menafsir agama dengan rudal, dan sisi lain membalas dengan embargo dan propaganda?

Apa yang terjadi di Mina dan Makkah tak luput dari gemuruh geopolitik itu. Jamaah dari Iran dicekam ketakutan. Mereka mungkin berdoa sambil memikirkan nasib keluarganya yang tinggal dekat perbatasan. Jamaah dari Lebanon menyelipkan doa bukan untuk dirinya, tapi untuk keamanan negaranya yang bisa lenyap dalam semalam. Dan petugas seperti Rofik, yang tidak punya hubungan langsung dengan konflik itu, tiba-tiba harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang dalam bisik: "Apakah kita akan selamat pulang?"

Sementara sebagian dari dunia bersiap-siap membangun bunker atau menimbun bahan pokok, Rofik malah menenangkan jamaah lansia dengan membaca surah Ar-Rahman. Ia percaya, jika tak bisa mengubah geopolitik dunia, ia bisa menjaga satu hal: tenang. Satu jamaah yang tenang adalah satu dunia kecil yang damai. Dan jika damai itu bisa menjalar ke sebelahnya, dan sebelahnya lagi, mungkin kita masih punya harapan di tengah huru-hara dunia. Zainur Rofik bukan diplomat. Bukan ulama besar. Bukan juru bicara. Tapi ia telah menjadi utusan dalam makna yang paling sunyi: utusan bagi ketenangan. Di antara drone dan diplomasi, ia adalah jeda. Seorang jeda yang tahu kapan harus diam, kapan harus bicara, dan kapan cukup memijit punggung jamaah yang pegal setelah lempar jumrah.

Dan barangkali, dalam dunia yang dikuasai algoritma, perang citra, dan pertarungan kuasa, keberadaan orang seperti Rofik adalah penyeimbang yang kita butuhkan. Ia tidak tampil di forum internasional. Tidak ikut merancang perdamaian dunia. Tapi ia membuat satu lansia tersenyum, satu jemaah mengucap syukur, satu hati merasa didengar. Bukankah dunia yang damai adalah akumulasi dari jiwa-jiwa kecil yang merasa teduh?Zainur Rofik, lelaki muda dari Banyuwangi Utara, telah menjadi bagian dari kisah mereka. Tanpa harus tampil di depan, tanpa harus disebut dalam laporan resmi. Ia seperti angin padang . pasir: datang diam-diam, pergi tanpa jejak, tapi meninggalkan keteduhan.

Dan mungkin, itulah sebenar-benarnya bimbingan. Di antara puluhan ribu langkah kaki yang berjejal di jalanan Makkah musim haji 2025, ada satu langkah yang tidak tampak mencolok. Tapi langkah itu menyimpan arah, menyimpan nalar, menyimpan perasaan seorang lelaki muda yang mengabdikan dirinya pada sunyi: H. Zainur Rofik.

Ziarah tidak pernah selesai, selama masih ada hati yang ingin melayani.

Kabar Pemindahan Lokasi CFD Resahkan Pedagang, Omzet Tembus Rp125 Juta

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kabar pemindahan lokasi Car Free Day (CFD) Banyuwangi menimbulkan keresahan di kalangan pedagang. Pada Minggu pagi, 29 Juni 2025, usai berdagang di lokasi CFD yang selama ini berada di kawasan pusat kota dan menghasilkan omzet lebih dari Rp125 juta, ratusan pedagang berkumpul untuk bermusyawarah.

Pertemuan yang dipimpin oleh Rahmat itu berlangsung spontan namun tertib di salah satu sudut lokasi CFD yang mulai dikenal masyarakat luas sebagai ruang kuliner, olahraga, dan rekreasi keluarga setiap akhir pekan. Para pedagang mengaku cemas dengan rencana pemindahan yang menurut mereka dapat mengancam keberlangsungan usaha mikro yang telah mereka bangun sejak lama.b


Turut hadir dalam musyawarah tersebut, Moh. Lutfi, mantan Camat Banyuwangi yang kini dikenal sebagai tokoh masyarakat. Ia mengajak para pedagang untuk tetap berpikir positif terhadap kebijakan pemerintah.

“Kalau pemindahan ini karena alasan revitalisasi, mari kita tunggu dan kawal bersama proses revitalisasinya. Jangan buru-buru berprasangka buruk,” ujar Lutfi.

Namun, Lutfi juga menegaskan pentingnya menjaga prinsip kedaulatan rakyat dalam setiap kebijakan publik. “Kedaulatan itu seharusnya di tangan rakyat. Kita ini juragan di tanah sendiri, kok malah seolah-olah diusir?”

Para pedagang menyuarakan harapan untuk tetap bisa berjualan di lokasi semula, mengingat area CFD tersebut telah memiliki “brand” tersendiri di mata masyarakat. Mereka menyebutkan bahwa pemindahan tempat berisiko menurunkan jumlah pengunjung dan menghapus nilai historis serta emosional yang telah terbangun selama bertahun-tahun.

“CFD ini bukan sekadar jualan, tapi juga tempat anak-anak bermain, remaja bersantai setelah olahraga, dan warga mencari sarapan khas Banyuwangi. Kalau dipindah, hilang semua nuansa itu,” ungkap salah satu pedagang.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak pemerintah daerah terkait waktu maupun lokasi baru CFD. Para pedagang berencana mengirimkan surat aspirasi kepada bupati dalam waktu dekat.

Mereka yang Berbincang di Jalan yang Dikosongkan Setiap Minggu

 *Mereka yang Berbincang di Jalan yang Dikosongkan Setiap Minggu*

oleh.: Orang yang dataydi CFD

Pagi masih basah. Embun belum sepenuhnya terhapus dari dedaunan yang menempel di sepanjang trotoar. Suara langkah kaki terdengar ringan dan lambat di antara tawa-tawa kecil anak-anak yang berlarian tanpa sepatu, diiringi deru sepeda roda tiga yang digowes ayah muda.

Itu Minggu pagi, pukul enam lebih sepuluh menit. Udara masih ramah. Dan seperti biasa, jalan utama kota ini ditutup dari kendaraan bermotor. Trotoar menjadi lintasan bebas  bukan hanya untuk pejalan kaki, tapi juga untuk cinta yang malas terburu-buru, dan kerinduan yang baru saja tahu tempat untuk pulang.


Aku duduk di bangku semen yang dicat hijau muda, di dekat pohon trembesi yang sudah dua puluh tahun berdiri di sana. Di sebelahku ada dia  seseorang yang pernah kulewatkan begitu saja di koridor SMA, tapi pagi ini berbicara seperti ia tahu isi hatiku sejak dulu.

“Kau dengar kabar itu?” tanyanya, setelah menyesap es teh dalam gelas plastik. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

“Kabar yang mana?” tanyaku, padahal aku tahu maksudnya. Aku hanya ingin membuat percakapan lebih panjang, lebih lama.

“CFD akan dipindah,” katanya, aku mengangguk, lalu diam. Dan di dalam diam itu, sebenarnya ada banyak hal yang hendak kukatakan: tentang bagaimana aku mengingat pertemuan kami tiga bulan lalu, di titik ini juga. Tentang anak-anak yang mengayuh sepeda kecil mereka seperti sedang berlomba menuju langit. Tentang pasangan paruh baya yang tiap minggu berjalan 2 kilometer hanya untuk membeli bubur ayam dari pedagang yang sama  pedagang yang tahu mereka tidak suka cakwe. Tentang semua itu.

“Katanya, akan dipindah ke selatan kota. Jalan baru yang sepi. Lebih luas, katanya. Lebih strategis,” lanjutnya.

“Kau percaya?” tanyaku. Dia menoleh padaku. “Entah. Tapi aku tidak ingin kehilangan tempat ini.”

Aku mengerti. Bukan hanya soal tempat. Tapi juga tentang yang sudah tertanam dalam tubuh kita sebagai kebiasaan: detak jantung yang menyesuaikan dengan ritme kota, napas yang menyesuaikan dengan aroma roti bakar dan kopi susu sachet di pojokan jalan, tawa anak-anak yang mengejar balon sabun, dan remaja-remaja yang saling melempar pandang sambil menyeka peluh dengan tisu warung.

Ada yang lebih dari sekadar lokasi  ada kehidupan yang berjejal di dalamnya, dan di balik semua percakapan romantis yang tampak sepele itu, terselip kekhawatiran yang sama: bahwa ketika pemerintah memindahkan satu kegiatan publik, mereka bukan hanya memindahkan keramaian, tapi bisa saja mencabut akar yang sudah ditanam sendiri oleh rakyat selama bertahun-tahun.

Pedagang tahu itu. Mereka yang menyusun meja sejak pukul lima pagi, mengangkat galon, memotong jeruk untuk es peras, menanak nasi, mengisi gas. Mereka bukan hanya ‘ikut serta’ dalam keramaian. Mereka membangunnya.

“Pernah dengar kata-kata ini?” kata dia tiba-tiba, menyentakkan lamunanku. “Rakyat itu juragan. Pemerintah itu pelayan.”

Aku tersenyum. “Siapa yang bilang?”

“Pedagang lontong tahu, di sebelah gerobak jus alpukat.”

Kami tertawa pelan. Tapi tawa itu menggantung seperti lampu hias di pagi hari  terang tapi tak menyilaukan, bayangkan, bagaimana nanti jika anak-anak tidak lagi bisa bermain bola plastik di jalan yang kosong, karena CFD dipindah ke tempat yang lebih jauh, lebih steril, lebih ‘sesuai rencana kota’? Bagaimana jika remaja-remaja yang baru mengenal cinta tidak lagi punya tempat untuk berjalan pelan sambil berbagi cerita dari minggu yang berat?

Dan bagaimana denganku? Bagaimana jika pagi-pagi seperti ini tak lagi bisa kujadikan alasan untuk duduk berdua dengannya, dengan teh plastik dan obrolan ringan yang diam-diam menumbuhkan rasa?

Ada kota yang tumbuh dalam rencana para pejabat, dan ada kota yang hidup di dalam hati warganya. Yang pertama penuh rapat dan bagan. Yang kedua penuh kenangan dan napas.

Kami tidak membenci rencana. Tapi mungkin kami hanya ingin didengar. Karena cinta juga butuh ruang  dan ruang itu tidak selalu bisa dipindah begitu saja, seperti memindahkan tiang listrik atau halte.

Karena kota ini tumbuh bukan karena program, tapi karena pertemuan-pertemuan kecil yang terjadi tanpa rencana seperti perbincangan kami pagi ini, yang nyaris tak penting, tapi justru terasa paling hidup.

Dan aku ingin mengatakan padanya, sambil menatap wajahnya yang sudah mulai diterpa matahari pukul tujuh:

“Jika CFD benar-benar dipindah, bolehkah aku tetap mengajakmu berjalan-jalan ke sini? Meskipun jalan ini tidak lagi kosong, dan suara motor kembali meraung, tapi mungkin... perasaan kita masih bisa menemukan ruang untuk tetap diam di sini.”

Dia tidak menjawab. Tapi dari senyumnya, aku tahu: cinta tidak butuh CFD. Tapi CFD membuat cinta lebih mudah tumbuh. Dan kota yang mencintai warganya, mestinya tidak memindahkan cinta begitu saja.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger