Pages

LSF RI Gelar Literasi Penyensoran Film dan Bimbingan Teknis e-SiAS di Banyuwangi


BANYUWANGI (19/11/2025) — Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) menggelar kegiatan Literasi Layanan Penyensoran Film dan Iklan Film serta Bimbingan Teknis Pembuatan Akun e-SiAS di Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center, Rabu (19/11). Kegiatan ini diikuti para pemangku kepentingan perfilman se-Jawa Timur.

Acara ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat dan pembuat film mengenai penggolongan usia penonton, kriteria sensor, serta pentingnya memilih tontonan yang aman dan bermutu. Selain itu, kegiatan ini mendorong para sineas memahami pedoman sensor agar menghasilkan karya yang layak tayang.

Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Taufik Rohman, M.Si., membuka kegiatan dengan menyampaikan apresiasi atas terpilihnya Banyuwangi sebagai tuan rumah. Ia menegaskan bahwa perkembangan perfilman di daerah ini cukup pesat.

“Produksi film kini lebih mudah berkat teknologi. Meski begitu, isi film tetap harus mematuhi aturan hukum dan regulasi. Harapannya, dari Banyuwangi hadir film-film berkualitas,” ujarnya.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Hairus Salim, Ketua Subkomisi Desa Sensor Mandiri dan Komunitas LSF RI. Ia menekankan pentingnya seluruh pembuat film mendaftarkan karya mereka ke LSF untuk peninjauan resmi.

Ia juga mengingatkan bahwa pengawasan tontonan sebaiknya dimulai dari lingkungan keluarga. “Sekarang anak di rumah pun perlu diawasi karena internet menyajikan berbagai konten, tidak semuanya layak,” katanya. Ia menegaskan bahwa bioskop tidak akan menayangkan film tanpa Surat Tanda Lulus Sensor (STLS).

Acara utama dipandu oleh budayawan Banyuwangi, Drs. Aekanu Haryono, dengan narasumber Ainur Rofiq, Kabid Pemasaran Disbudpar Banyuwangi, dan keynote speaker Hadi Artomo, Ketua Subkomisi Penyensoran LSF RI.

Dalam materi pertama, Ainur Rofiq, S.Sos., M.M., menyampaikan bahwa Banyuwangi memiliki potensi besar dalam industri perfilman. Menurutnya, film dapat menjadi sarana promosi daerah yang mampu menggerakkan pariwisata dan memberikan manfaat ekonomi. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sineas dan pemerintah daerah untuk memajukan industri kreatif.

Keynote speaker Hadi Artomo memberikan materi mengenai prinsip penyensoran, regulasi, serta prosedur pendaftaran film. Ia juga mengajarkan langsung cara membuat akun e-SiAS, mulai registrasi hingga pengunggahan berkas film. Hadi menjelaskan bahwa pendaftaran film kini dapat dilakukan melalui direktorat lembaga seni di masing-masing kota untuk mendapatkan Tanda Penerimaan Pendaftaran Film (TPPF).


“Jika ingin syuting di lokasi tertentu, TPPF penting sebagai pengantar perizinan,” jelasnya. Ia juga mengingatkan pentingnya meminta izin masyarakat sekitar lokasi syuting untuk mencegah sengketa.

Dalam sesi diskusi, Safarudin dari Yayasan Aura Lentera menanyakan aturan agar film dapat diakses penyandang disabilitas, terutama yang memiliki hambatan pendengaran. Pihak LSF menyambut baik pertanyaan tersebut dan menyatakan komitmennya untuk mendorong pedoman teknis agar film lebih ramah disabilitas.

Kegiatan ditutup dengan harapan bahwa insan perfilman di Jawa Timur, khususnya Banyuwangi, semakin memahami pentingnya sensor, regulasi, dan etika produksi sehingga dapat melahirkan karya yang aman, berkualitas, dan bermanfaat bagi masyarakat. (AW) 



Rapat Koordinasi Festival Kebangsaan 2025 Banyuwangi Matangkan Persiapan Akhir







Banyuwangi, 19 November 2025 — Rapat Koordinasi Festival Kebangsaan 2025 Banyuwangi digelar siang ini, Rabu (19/11), bertempat di Pondok Harmoni Bakesbangpol Kabupaten Banyuwangi, Jl. Agus Salim. Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan berbagai instansi, UPTD terkait, anggota Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), serta unsur media.

Rapat dimulai pukul 13.30 WIB dan dibuka oleh Drs. HM Nasrudin, Kabid Kesatuan Bangsa dan Politik Bakesbangpol Banyuwangi. Pertemuan ini difokuskan pada finalisasi pembagian tugas lintas instansi demi kelancaran Festival Kebangsaan yang akan diselenggarakan pada 22 November 2025.

Perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika Banyuwangi, Nafi Ferdian, menyampaikan kesiapan pihaknya untuk menyiarkan rangkaian acara secara live streaming, sehingga dapat diakses oleh masyarakat luas. Sementara itu, dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Darmanto menekankan pentingnya mitigasi cuaca mengingat kegiatan berlangsung pada musim hujan. Hal tersebut turut didukung oleh Miskawi, Ketua FPK Banyuwangi.

Miskawi juga menegaskan perlunya penataan alur acara secara rapi agar tidak ada waktu yang terbuang. Ia mengusulkan pelaksanaan gladi bersih agar seluruh rangkaian dapat berjalan sesuai rencana.

Selain pembahasan teknis, rapat juga mengulas rencana penampilan seni budaya dari berbagai etnis. Dari unsur Forum Komunikasi Pembauran (FKP) direncanakan tampil barongsai dari etnis Tionghoa, serta rangkaian tari dari etnis Jawa, Mandar, dan Madura. Penonton juga akan disuguhkan Tari Kolosal Sekar Seronce, karya maestro seni Banyuwangi, Sabar, yang menggambarkan keragaman budaya di daerah tersebut.

Menutup rapat, Drs. R. Agus Mulyono, S.Sos., Plt. Kepala Bakesbangpol Banyuwangi, menyampaikan bahwa Festival Kebangsaan tahun ini akan tampil berbeda dari sebelumnya. Mengusung semangat kebersamaan, festival kali ini menonjolkan Trilogi Aktivitas Pemuda, yakni:

  • Lomba Band Kebangsaan
  • Lomba Video Kebangsaan
  • Tari & Kolaborasi Kesenian Suku

Dengan mengangkat tema “Perayaan Kesatuan” atau “Bangga Berbeda Bersatu Menuju Indonesia Berdaya”, Festival Kebangsaan 2025 diharapkan menjadi momentum memperkuat persatuan dan keberagaman budaya di Banyuwangi.

Festival ini menjadi wujud nyata kolaborasi lintas etnis dan instansi dalam merayakan kemajemukan Indonesia.(AW)

Omzet Pedagang Tembus Lebih 150 Juta, Pagi BCM di Taman Blambangan Serupa Pesta Cahaya

Banyuwangi (Warta Blambangan) Setiap Minggu pagi, Taman Blambangan seakan membuka lembaran baru yang lebih hidup daripada minggu sebelumnya. Pagi itu, Minggu (16/11/2025), matahari belum tinggi, tetapi denyut manusia sudah memenuhi ruang hijau di jantung kota Banyuwangi. Banyuwangi Creatif Market (BCM) kembali menggeliat—bukan sekadar sebagai pasar, melainkan perayaan kecil yang menautkan ekonomi, seni, dan kebersamaan dalam satu napas.

Jalur jogging yang mengelilingi taman tampak seperti sungai manusia yang mengalir perlahan. Ada langkah-langkah yang menyimpan semangat, ada tawa yang mengudara ringan, dan ada aroma kuliner lokal yang menari di sela-sela angin pagi. Setelah berlari atau sekadar berjalan santai, warga berhenti di deretan stand kuliner. Di sanalah dapur-dapur UMKM Banyuwangi berbicara dalam bahasa rasa—original, jujur, dan lahir dari tangan-tangan yang mencintai pekerjaannya. 


Tak jauh dari situ, anak-anak berlarian di zona permainan sehat. Taman seolah menjelma menjadi panggung kecil kebahagiaan; sorak tawa mereka memantul ke daun trembesi, menghidupkan pagi yang terus mengembang.

Lalu, musik pun menyapa. Grup musik lokal—yang menjadi roh dari BCM—mengirimkan nada-nada yang membawa semangat Banyuwangi. Ibu-ibu yang tadinya hanya menonton perlahan ikut bernyanyi, seolah pagi adalah pesta yang mengundang siapa saja untuk masuk tanpa tiket. Ada kegembiraan yang sederhana, tapi justru di situlah keindahan tumbuh: pada kebersamaan yang lahir tanpa paksaan.

Di tengah suasana yang menghangat itu, Rahmat, Ketua Komunitas BCM, menyampaikan kabar yang tak kalah menyenangkan. “Omzet para pedagang hari ini bisa menembus lebih dari 150 juta rupiah,” ujarnya. Angka itu bukan sekadar rupiah—ia adalah denyut ekonomi yang hidup, harapan yang tumbuh, dan bukti bahwa kreativitas bisa menjelma menjadi kesejahteraan.

Rahmat juga menuturkan bahwa konsistensi penyelenggaraan BCM setiap Minggu pagi ibarat pupuk bagi UMKM lokal. “Pasar kreatif ini bukan hanya menggerakkan ekonomi, tetapi juga merajut interaksi sosial. Ia menjadi ruang di mana masyarakat saling menyapa, para pelaku UMKM saling menguatkan, dan budaya kota ini terus berputik,” tutur Rahmat.

Dengan antusiasme yang semakin membesar, BCM kian kokoh berdiri sebagai panggung ekonomi kreatif Banyuwangi. Ia bukan lagi sekadar agenda mingguan, tetapi ikon baru yang membawa wajah cerah kota ini ke masa depan—masa depan yang mungkin saja dibangun dari tawa anak-anak, langkah pengunjung, aroma kuliner, dan musik sederhana di bawah langit Taman Blambangan.

Bimbingan Keluarga Sakinah: Ketika Dua Jiwa Mengetuk Pintu Langit yang Mencari Jalan Pulangnya

 

Bimbingan Keluarga Sakinah: Ketika Dua Jiwa Mengetuk Pintu Langit yang Mencari Jalan Pulangnya

Oleh : Syafaat

Ada masa ketika dua manusia duduk saling berhadapan dan tiba-tiba menyadari bahwa hidup ini bukan hanya tentang saling mencintai, tetapi tentang saling menuntun. Kelak, setiap perkawinan akan menemukan jalannya sendiri. Ada yang berkelok seperti sungai purba mencari muara yang jauh, memantulkan cahaya matahari di antara bebatuan sabar. Ada yang mengalir senyap seperti doa yang dipanjatkan di sepertiga malam, hanya terdengar oleh malaikat yang menjaga langit. Ada pula yang deras seperti hujan yang turun membawa berkah, namun tetap memerlukan tadah yang kuat agar tak menjadi luapan yang tak tertampung. Dan sebelum dua manusia itu memutuskan berjalan beriringan, keduanya harus mengerti bagaimana berdiri sebagai pribadi yang matang—sebagaimana pohon yang baru mampu menaungi burung-burung dan manusia apabila akarnya telah bersahabat dengan tanah tempat ia bersujud.

Di hadapan dirinya sendiri, manusia adalah cermin yang tak bisa berbohong, dalam pantulan itu, ia belajar memandang hirarki nilainya yang sesungguhnya. Menimbang kelebihan yang kadang dibanggakan dengan suara paling nyaring, meneliti kekurangan yang selama ini disembunyikan di balik tawa paling ramah. Kesadaran diri bukan sekadar latihan batin; ia adalah pintu pertama yang harus dibuka sebelum seseorang mengetuk pintu hati pasangannya. Bagaimana mungkin seseorang mengasuh jiwa orang lain bila ia belum selesai merawat carut-marut jiwanya sendiri?, bagaimana mungkin ia memeluk kegelisahan orang lain bila sumber gelisahnya sendiri tak pernah ia kenali?


Dan ketika dua manusia duduk saling menatap, menyebut perlahan satu per satu nilai hidup yang mereka junjung, kelebihan yang ingin dibagi, kekurangan yang ingin ditata ulang, serta bahan bakar cinta yang menggerakkan langkah keduanya—sebenarnya mereka sedang menyerahkan peta masing-masing. Peta yang tak pernah lengkap, yang selalu memuat jejak langkah tersandung, coretan koreksi, noda yang tak sempat dilap. Namun justru dari ketidaksempurnaan itulah perjalanan dimulai. Dari keberanian untuk berkata, “Inilah aku apa adanya, dengan langkah-langkah yang pernah goyah, dengan harapan panjang yang sedang kutanam, dan dengan luka yang sedang kucicil sembuhnya.” Setiap pengakuan kecil adalah jembatan. Setiap kejujuran adalah mercusuar yang menuntun agar mereka tak saling kehilangan di tengah kabut waktu.

Pada akhirnya, setiap pasangan akan sampai pada pertanyaan yang lebih besar daripada “mampukah kita bersama?” Pertanyaan itu, entah mengapa, sering muncul di malam yang paling sunyi: “Apa yang ingin kita capai dengan kebersamaan ini? Ke mana arah sungai kehidupan kita mengalir? Apakah kita hanya ingin dikenal oleh dunia ataukah dikenang oleh langit?” Di titik itulah perjalanan dunia bertemu perjalanan akhirat. Sebab hidup manusia bukan hanya untuk meninggalkan jejak di lantai bumi yang akan lunas oleh hujan, tetapi untuk membangun kesaksian di hadapan Allah—pada hari ketika lidah terkunci, ketika tangan berbicara, ketika kaki memberi kesaksian tentang langkah mana yang mendekat dan mana yang menjauh dari-Nya. Ketika peserta diminta membayangkan bagaimana ingin dikenang oleh Tuhannya, sesungguhnya mereka sedang menuliskan visi paling dalam dari sebuah keluarga: ketenteraman yang tak hanya dirasakan di ruang tamu rumah, tetapi juga di mahkamah Rabb yang Maha Menyaksikan.

Musyawarah dalam rumah tangga adalah rakit yang dirakit dari dua pasang tangan yang mungkin tak sama kuat, tak sama cekatan, namun punya niat yang sama: sampai tujuan dengan selamat. Tanpa musyawarah, suami dan istri akan hanyut menuju arah berbeda, sebagaimana barisan yang bubar karena setiap orang bergerak menurut langkahnya sendiri. Musyawarah mengikat kaki agar melangkah serempak, mengikat hati agar tidak terbelah, mengikat pandangan agar tetap pada arah yang sama. Keluarga sakinah tak lahir dari dua manusia yang sempurna—sebab kesempurnaan hanyalah milik Allah—tetapi dari dua manusia yang mau terus belajar untuk mendengarkan dan bersedia diperdengarkan, untuk memahami sebelum meminta dipahami, untuk mencintai tanpa menghapuskan tanggung jawabnya terhadap Allah.

Lima pilar itu—zawaj, mitsaqan ghalizhan, mu’asyaroh bil-ma’ruf, musyawarah, dan taradhin—bukan sekadar aturan yang dibacakan pada bimtek atau pelatihan pranikah. Ia adalah taman yang mesti dipelihara setiap hari. Disiram dengan doa yang terbit dari hati yang jernih, dipangkas dengan kesabaran yang panjang, dijaga dengan akhlak terbaik yang menjadi wangi keharuman rumah itu sendiri. Suami menjadi pakaian bagi istri, dan istri menjadi pakaian bagi suami. Mereka saling menutupi aib sebagaimana kain menutupi tubuh, saling menghangatkan ketika malam kesulitan datang, saling melindungi dari dinginnya dunia yang sering menguji ketabahan.

Ketika ikrar suci dibacakan, tangan saling menggenggam, mata saling menatap malu-malu tetapi penuh keyakinan—ada sesuatu yang lebih halus daripada kata-kata ikut turun menyertai mereka. Itu sesuatu yang lembut seperti angin subuh yang menyusup dari celah jendela, sesuatu yang jernih seperti ridha yang turun perlahan dari langit. Pada saat itu, keduanya bukan hanya menyatukan dua tubuh atau dua nama keluarga, tetapi sedang mengikrarkan bahwa rumah yang akan mereka bangun kelak bukan sekadar tempat istirahat, tetapi tempat ibadah; bukan sekadar tempat berteduh, tetapi tempat bertumbuh; bukan sekadar tempat pulang, tetapi tempat memulihkan iman.

Dalam sesi pembelajaran, peserta mengeksplorasi ciri kehidupan perkawinan yang sukses dan yang gagal, sehingga mereka dapat membaca ulang peta tantangan dalam kehidupan keluarga. Mereka mempelajari komponen penting hubungan pasangan, tahap perkembangan relasi suami-istri, pembangun dan penghancur hubungan, serta hal-hal yang wajib diselamatkan agar pernikahan tetap bernyawa. Peserta juga diajak menelusuri potensi konflik dan cara mengelolanya—sebab rumah mana yang tak pernah retak, hati mana yang tak pernah goyah, namun semua itu dapat diselamatkan bila dikelola dengan iman dan saling pengertian.

Kedekatan emosi tumbuh dari kasih sayang, mawaddah, dan rahmah—sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ar-Rum (30:21). Mereka menjadikan pasangan sebagai pasangan jiwa, tempat berbagi kehidupan yang sesungguhnya. Gairah menjadi komponen lain yang tak bisa diabaikan. Dorongan untuk saling memberi kepuasan halal adalah bagian dari tujuan pernikahan itu sendiri, sebagaimana digariskan dalam QS. Al-Baqarah (2:187). Dan komitmen—itulah tiang yang menyangga semuanya. Komitmen yang disebut Al-Qur’an sebagai mitsaqan ghalizhan (QS. An-Nisa, 4:21), ikatan yang sangat kokoh, yang dibangun agar rumah tangga tidak roboh oleh badai kecil.

Perkawinan, akhirnya, adalah dua manusia yang berjanji untuk selalu kembali kepada Allah bahkan ketika mereka saling tersesat; untuk saling memperbaiki diri bahkan ketika luka kembali terbuka; untuk menjaga cinta bukan hanya agar tetap hangat, tetapi agar tetap suci. Relasi harmonis terbangun ketika dua jiwa bersepakat untuk menempuh satu jalan—jalan yang mungkin panjang, mungkin berdebu, mungkin sunyi, tetapi diterangi cahaya tauhid yang tak pernah padam.

Dan keluarga sakinah adalah ketika jalan itu ditembus oleh cahaya-Nya—hingga setiap langkah menjadi ibadah, setiap pelukan menjadi doa, dan setiap kesulitan berubah menjadi ladang pahala.

ASN / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.

 

Film Horor Lokal "Darma Malam Kelahiranku" Gelar Screening di Disbudpar Banyuwangi

 


BANYUWANGI – Geliat dunia perfilman Banyuwangi kembali ditunjukkan oleh para sineas mudanya. Kresek Entertainment, komunitas film yang berbasis di Srono, secara resmi meluncurkan film horor berjudul "Darma Malam Kelahiranku". Karya yang disutradarai oleh Muftiurrahman ini mengangkat kepercayaan lokal masyarakat Jawa tentang pamali bepergian di hari weton (kelahiran) sendiri.

Screening film ini digelar di Ruang Sinema Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Jumat (14 November 2025). Acara tersebut dibuka dan dimoderatori oleh Kabid Pemasaran Disbudpar, Ainur Rofiq, dan dihadiri oleh beberapa sineas senior Banyuwangi seperti Bambang Harjito serta berbagai kelompok pemerhati film lokal.

Syuting di 'Swiss van Banyuwangi' dan Kisahkan Mistis Weton

Film yang digarap di kawasan hutan pinus Songgon—yang dijuluki "Swiss van Banyuwangi"—ini menceritakan petualangan empat remaja: Darma dan ketiga kawannya. Dalam pendakian mereka, seorang kuncen hutan memperingatkan untuk segera pulang. Namun, peringatan itu diabaikan, yang kemudian berakibat pada rangkaian peristiwa mistis yang merenggut nyawa, termasuk Darma yang tewas tepat pada hari dan weton kelahirannya.

Film yang disajikan dalam bahasa Indonesia dan Jawa ini mendapat apresiasi sekaligus kritikan.  Andre Waluyo dari Sanggar Merah Putih 45 memuji aspek teknis film. "Untuk ukuran film produksi anak muda, hasilnya sangat baik, terutama dalam hal sinematografi dan manajemen scene", ujarnya.

Namun, beberapa kritikan juga mengemuka, seperti ketidaknaturalan akting yang dianggap masih seperti drama teater, makeup dan kostum yang perlu perbaikan, serta ketidaktepatan dalam proses casting di beberapa peran.


Koreksi Konsep "Based on True Story" dari Sineas Senior

Kritik mendalam datang dari sineas senior Bambang Harjito. Ia mengoreksi penggunaan terminologi "Based on True Story" dalam film ini. Menurutnya, film yang diangkat dari kultur atau kepercayaan masyarakat, bukan dari peristiwa nyata yang spesifik, seharusnya mencantumkan "Based on Culture".

"Jika mencantumkan 'Based on True Story', berarti film itu dibuat dari kisah yang betul-betul pernah terjadi peristiwanya. Kalau ini berdasarkan kultur, seharusnya 'Based on Culture'," jelas Bambang, menekankan pentingnya memahami perbedaan konsep tersebut.

Terlepas dari berbagai catatan, kehadiran "Darma Malam Kelahiranku" dinilai sebagai langkah positif yang tidak hanya menghibur tetapi juga melestarikan nilai-nilai budaya lokal melalui medium film.(AW)



Pahlawan Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan.

 Pahlawan Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan.

Oleh : Syafaat

Peringatan Hari Pahlawan selalu kembali ke satu tanggal yang jauh tetapi tidak pernah benar-benar pergi: 10 November 1945, Surabaya. Pertanyaan yang selalu muncul, entah di kepala siapa saja yang masih menyimpan sedikit kegelisahan:
Apakah Indonesia menang pada hari itu? Atau sebaliknya, kita sebenarnya kalah, tetapi kekalahan itu justru membuka mata dunia bahwa bangsa ini tidak mau lagi dijajah?. Sejarah memilih diam, kita yang hidup belakangan inilah yang harus menafsirkan, dan sering kali tafsir yang paling jujur adalah yang paling sederhana: bangsa ini tidak memenangkan pertempuran itu, tetapi bangsa ini menang karena tidak mau tunduk. Kadang kemenangan lahir bukan dari menang berperang, tetapi dari keberanian untuk berkata: Kami tidak lagi mau diperintah oleh siapa pun kecuali diri kami sendir

Pada peringatan Hari Pahlawan tahun 2025, Kementerian Sosial Republik Indonesia menetapkan tema nasional: “Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan.” Tema yang mengingatkan bahwa perjuangan tidak selesai oleh generasi sebelumnya, melainkan terus diwariskan kepada siapa saja yang hari ini masih menyebut dirinya orang Indonesia. Logo resmi Hari Pahlawan 2025 memuat figur manusia yang melangkah maju, bendera merah putih, serta sentuhan warna merah dan biru, seluruhnya menggambarkan keberanian, ketulusan, optimisme, dan gerak progresif menuju Indonesia Emas. 


Tahun ini pula pemerintah menetapkan sepuluh tokoh sebagai Pahlawan Nasional baru: KH Abdurrahman Wahid, Jenderal Besar Soeharto, Marsinah, Mochtar Kusumaatmadja, Rahmah El Yunusiyyah, Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, Sultan Muhammad Salahuddin, Syaikhona Muhammad Kholil, Tuan Rondahaim Saragih, dan Zainal Abidin Syah. Sepuluh nama ini seperti sepuluh obor yang diserahkan kepada generasi hari ini agar tidak lupa dari mana cahaya bangsa ini pertama kali dinyalakan.

Pagi itu, di Taman Blambangan Banyuwangi, saya mendengar sesuatu yang jauh lebih tua dari letusan meriam atau desingan sejarah: suara manusia membaca puisi pelan-pelan, seolah sedang memanggil arwah para pahlawan untuk singgah sebentar, menepi dari keabadian, dan melihat bagaimana kita mengingat mereka. Lentera Sastra Banyuwangi, Dewan Kesenian Blambangan, dan Banyuwangi Creative Market menggelar acara kecil, tanpa panggung tinggi, tanpa spanduk besar, tetapi justru karena kecil itulah ia terasa dekat.

Angin mengibaskan daun trembesi. Langit merendah. Dan manusia-manusia di hadapan saya berdiri membawa sesuatu yang tidak terlihat: ingatan. Di tempat seperti ini, tanpa pasukan upacara, tanpa podium, sebenarnya negara ini dirayakan: di taman yang sederhana, di tanah yang pernah dilalui ribuan langkah orang biasa yang namanya tidak pernah masuk buku sejarah. Seorang penyair membuka acara dengan suara yang tidak keras, tetapi dalam seperti sumur tua. Ia mengingatkan kita bahwa sebelum bangsa ini punya lagu kebangsaan dan lambang negara, ia lebih dulu punya keberanian untuk menyebut dirinya Indonesia. Keberanian itu, kata penyair itu, sekarang terletak di tangan kita, di cara kita bekerja, menjaga hati, dan memperlakukan sesama.

Tidak setiap hari seorang perwira polisi membaca puisi. Tetapi siang itu Kapolresta Banyuwangi berdiri di depan mikrofon dan membaca “Pahlawan itu Bernama Rakyat”. Ada ketegasan dan kelembutan yang bertemu dalam satu suara. Ia menyebut para pemuda kampung, para santri, para pekerja yang berdiri menghadapi ultimatum Inggris pada 1945, bukan demi menang, tetapi demi mempertahankan martabat. “Kita tidak memperingati kemenangan,” katanya pelan. “Kita memperingati keberanian untuk tetap berdiri meski peluangnya kecil.”

Kata-kata itu jatuh seperti kabut: tidak berisik, tetapi mengendap. Setelah itu, giliran suara lain yang telah lama akrab di kota ini: Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, membaca puisi Hebat Bersama Umat dari bukunya sendiri. Dalam puisinya, pahlawan bukan sosok patung atau nama jalan; pahlawan adalah mereka yang bekerja tanpa disaksikan, yang menumbuhkan tanpa dipuji, yang menahan runtuhnya bangsa ini setiap hari dengan tindakan-tindakan kecil. Puisi itu terasa lebih mirip doa. Doa tentang umat yang kuat karena saling menguatkan, bukan saling mengalahkan.

Tema Hari Pahlawan tahun ini seakan mendapat konteks baru ketika pemerintah mengumumkan 10 Pahlawan Nasional. Mereka mengajarkan bahwa kepahlawanan datang dalam banyak bentuk:

  • Gus Dur, pahlawan moral yang membela orang-orang yang dibenci banyak orang.
  • Soeharto muda, yang memimpin Serangan Umum 1 Maret demi menunjukkan bahwa bangsa ini masih hidup.
  • Marsinah, buruh perempuan yang suaranya dibungkam tetapi gaungnya tidak padam.
  • Mochtar Kusumaatmadja, yang dengan pena mengubah batas laut Indonesia.
  • Rahmah El Yunusiyyah, yang mendidik perempuan sebagai strategi kemerdekaan.
  • Sarwo Edhie, yang menempuh jalan berat dalam masa transisi sejarah.
  • Sultan Salahuddin, yang menjadikan pendidikan sebagai bentuk perlawanan.
  • Syaikhona Kholil, guru para pendiri NU, pahlawan yang doanya bekerja di sunyi.
  • Rondahaim Saragih, pejuang Batak yang menjaga martabat bangsanya.
  • Zainal Abidin Syah, penjaga kesatuan Indonesia Timur.

Sepuluh nama itu mengingatkan kita bahwa kepahlawanan tidak pernah lahir dari pangkuan kenyamanan,melainkan dari jiwa-jiwa yang bersedia memikul beban yan g tak terlihat, menjaga kebenaran pada saat dunia lebih memilih menjadi buta dan bisu. Mereka adalah saksi bahwa cahaya selalu membutuhkan seseorang untuk menyalakannya, bahkan ketika malam sedang sangat pekat. Dan kepada kita, yang hidup jauh setelah luka-luka itu sembuh di permukaan, warisan mereka hanya meminta satu hal yang sederhana namun paling sulit: melanjutkan perjuangan, agar kita sungguh menjadi tuan di tanah sendiri, agar negeri ini tidak hanya merdeka oleh sejarah, tetapi juga merdeka oleh keluhuran tindakan kita sehari-hari. Karena kemerdekaan sejati bukan hadiah, melainkan kesediaan untuk terus menjaga yang benar, meski langkahnya kecil, meski jalannya sunyi, meski tak satu pun tepuk tangan terdengar.

Dan kembali ke Taman Blambangan, acara sastra itu berlangsung tanpa gegap gempita, tidak ada sorak, tidak ada hiruk, hanya kesunyian yang jujur, seperti ruang doa yang terbuka di bawah langit sore. Ketua Dewan Kesenian Blambangan berdiri dan membaca puisi tentang riwayat sastra Banyuwangi, riwayat yang telah bernafas jauh lebih lama daripada umur birokrasi mana pun. Suaranya mengalir seperti sungai tua yang tahu arah pulang. “Dari tembang Blambangan,” katanya pelan, “kita belajar bahwa bangsa ini lahir dari kata sebelum lahir dari senjata.”

Kata-kata itu membuat udara di taman terasa lebih dalam, seolah sejarah menoleh sebentar. Dari tanah Blambangan yang pernah disiram perang dan doa,
lahir Shalawat Badar yang menggetarkan langit, membawa gema pujian yang dahulu menguatkan para pejuang ketika malam terlalu panjang. Dari tanah yang sama pula lahir tembang rakyat Genjer-genjer, suara sederhana dari perut masyarakat,
yang tumbuh dari lumpur sawah, menyanyikan kisah kesusahan, tetapi juga keteguhan hati yang tidak mau menyerah. Di antara dua suara itu, shalawat para pecinta Tuhan dan tembang rakyat yang lahir dari tanah, kita memahami bahwa Banyuwangi telah lama menjadi tempat di mana kata adalah ibadah, sastra adalah perlawanan, dan nyanyian rakyat adalah cara jiwa menjaga dirinya dari gelap. Dan pagi itu, Taman Blambangan menjadi saksi bahwa setiap bait, setiap tembang, setiap helaan nafas puisi, masih menyimpan jejak doa dan perjuangan yang idak pernah padam.

Dalam kalimat itu, saya merasa ada sesuatu yang mengikat seluruh hari: logo manusia melangkah, merah-putih yang berkibar, warna merah yang penuh keberanian, warna biru yang penuh ketulusan, sepuluh pahlawan baru, puisi yang dibacakan perlahan, dan angin Taman Blambangan yang membawa ingatan. Makna kepahlawanan, jika disederhanakan dari semua itu, mungkin cuma ini:
melakukan yang benar sampai akhir, meski tidak ada yang menonton. Kita tidak diminta menjadi Gus Dur atau Marsinah. Kita hanya diminta untuk menjaga apa yang mereka tinggalkan: kejujuran kecil, keberanian kecil, kerja kecil yang membuat bangsa ini tetap bertahan. Dan mungkin suatu hari, ketika angin kembali melintas di Taman Blambangan membawa suara puisi, para pahlawan itu akan menoleh dan berkata:

“Mereka masih melanjutkan apa yang kami mulai.”

Penulis adalah ASN / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

Kickoff Program BEN & MYP Diadakan di Banyuwangi, Perkuat Jaringan untuk Anak Disabilitas.

Masfufah, S.Pd. Kepala SLB Negeri Banyuwangi, Indah Cahyaning Tyas dan Sekretaris Bapeda Banyuwangi Budi Wahono, S.T.


Banyuwangi, 10 November 2025 – Program Building Effective Network (BEN) dan Meaningful Youth Participation (MYP) resmi dimulai di Banyuwangi dengan sebuah acara kickoff di Hotel Aston, Senin (10/11/2025). Acara yang bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan ini dihadiri oleh perwakilan pemerintah daerah, organisasi disabilitas, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan remaja dengan disabilitas.

Program yang didukung oleh Liliane Fonds Netherlands dan NLR Indonesia ini dirancang untuk memperkuat kapasitas organisasi lokal dan pemangku kepentingan dalam menciptakan ekosistem dukungan yang berkelanjutan. Fokus utamanya adalah membangun jejaring efektif antar lembaga agar anak dan remaja dengan disabilitas, termasuk yang terdampak kusta, mendapatkan akses setara terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan kegiatan sosial.

NLR Indonesia bertindak sebagai Grant Manager yang mengoordinasikan fase transisi menuju pelaksanaan penuh program pada Fase I (2026-2028). Secara global, program BEN sedang dijalankan di tiga negara, termasuk Indonesia, yang meliputi tiga provinsi: Jawa Timur, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Timur.



Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Suratno, S.Pd., M.M., secara resmi membuka acara. Dalam sambutannya, ia menegaskan komitmen Banyuwangi sebagai Kabupaten Inklusif sejak 2019. “Banyuwangi sudah memiliki Unit Layanan Difabilitas Terpadu (ULDT) yang pertama di Indonesia,” ujarnya.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Sekretaris Bapeda Kabupaten Banyuwangi, Budi Wahono, S.T., yang saat itu juga menjadi narasumber kegiatan ini. Budi menyebutkan bahwa Pemda telah membuka peluang bagi penyandang disabilitas untuk menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Acara yang dimoderatori oleh Indah Cahyaning Tyas (Aura Lentera) ini mencakup sesi edukasi, dialog interaktif, deklarasi komitmen, dan pembentukan forum jejaring lokal. Keynote speaker, Masfufah, S.Pd., Kepala SLB Negeri Banyuwangi, memaparkan materi tentang pengelolaan ekosistem inklusif dengan pendekatan Sustainable Development Goals (SDGs).



Suara Langsung dari Komunitas

Sesi tanya jawab berlangsung hidup dengan partisipasi aktif dari perwakilan komunitas disabilitas.

  • Ricky Malebhy dari komunitas Bisu Tuli menyampaikan kesulitan dalam menyusun program pemberdayaan, khususnya yang terkait dengan UMKM Difabel.
  • Umar Asmoro, tokoh tuna daksa, memberikan berbagai masukan tentang masalah riil yang dihadapi penyandang disabilitas dan solusi yang dibutuhkan.
  • Windoyo, Ketua Aura Lentera yang merupakan Tuna Netra, mengingatkan agar tidak terjebak pada inovasi tanpa memikirkan keberlanjutannya. “Hambatan terbesar dalam kolaborasi adalah banyaknya ego sektoral,” tegasnya.
  • Hanum, seorang aktivis inklusi, menambahkan bahwa kolaborasi membutuhkan keterbukaan dan kesiapan untuk mendengar. “Jangan mengorbankan kepentingan mayoritas untuk kepentingan minoritas, karena itu bukan inklusif, tapi eksklusif. Jangan terjebak pada inovasi yang kelihatan indah, tapi melupakan layanan terbaik,” pesannya.

Program BEN & MYB ini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat untuk membangun pemahaman, komitmen, dan rencana aksi jangka pendek maupun jangka panjang  menuju tata kelola jaringan yang inklusif, transparan, dan berkelanjutan di Banyuwangi. (AW)






 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger