Pages

Ketika Kanvas Perempuan Jatuh Cinta pada Waktu

 Ketika Kanvas Perempuan Jatuh Cinta pada Waktu

Di Gedung Juang, waktu tidak lagi berani berlari. Ia seperti seseorang yang tiba-tiba jatuh cinta pada kesunyian, lalu sadar bahwa tergesa hanya akan melukai perasaan. Maka ia memilih duduk, menautkan jemarinya pada detak jantung manusia, mendengarkan napas yang naik-turun dengan sabar, lalu berzikir pelan. Setiap detiknya melambat, mengendap, seperti embun yang menahan diri agar tidak segera jatuh dari daun—takut jika terlalu cepat, ia hanya akan menghilang tanpa sempat dikenang. Waktu tahu, ada momen-momen yang hanya bisa dipahami oleh hati yang bersedia tinggal, bukan oleh kaki yang sibuk berlari.

Dinding-dinding tua yang pernah menyimpan letih sejarah—teriakan yang patah di udara, doa-doa yang dilangitkan dengan tangan gemetar, dan kesunyian orang-orang yang telah pergi—kini berdiri sebagai saksi bisu erosi yang lembut. Bukan erosi tanah semata, melainkan kikisan yang lebih halus dan lebih perih: perasaan yang perlahan tumpul, keyakinan yang digerogoti keraguan, kesabaran yang aus oleh dunia yang menuntut segalanya serba cepat. Gedung itu tidak menghakimi siapa pun. Ia hanya menampung, seperti dada seorang ibu yang membiarkan anaknya menangis sampai lelah, percaya bahwa air mata pun punya hak untuk selesai dengan sendirinya.

Di antara garis-garis yang saling menyapa dan warna-warna yang berbisik, para perupa perempuan hadir seperti kekasih yang mencintai tanpa syarat. Mereka tidak menuntut balasan, tidak memaksa untuk dipahami sepenuhnya. Mereka datang membawa sunyi yang hangat, seperti bahu yang siap disandari, doa yang tidak memaksa langit segera menjawab. Ada keteguhan dalam cara mereka berdiri di hadapan kanvas—keteguhan orang-orang yang telah lama mengerti bahwa cinta sejati tidak perlu banyak pembuktian, cukup kesediaan untuk bertahan.

Tidak ada teriakan, tidak ada pamer keberanian yang gemar mencari tepuk tangan. Yang ada hanya kesabaran—sejenis kesetiaan yang sering disalahpahami sebagai kelemahan. Padahal justru dari sanalah daya mereka bekerja. Seperti air yang terus mengalir tanpa perlu mengumumkan dirinya sebagai sungai, mereka mengikat mata dan hati tanpa paksaan. Kita berhenti di depan karya-karya itu bukan karena disuruh, melainkan karena merasa dipanggil, seperti seseorang yang tiba-tiba menoleh ketika namanya disebut dengan lembut.

Inama berdiri di antara kanvas-kanvasnya seperti seseorang yang telah lama berdamai dengan dirinya sendiri. Wajahnya tenang, matanya jernih, seolah tidak sedang menunggu pengakuan apa pun dari luar. Ia tidak menulis dengan kata, melainkan dengan rasa. Setiap sapuan warna adalah kalimat yang sengaja dibiarkan tidak selesai, memberi ruang bagi siapa pun untuk melanjutkan maknanya sendiri. Karyanya mengalir dalam dan setia, seperti sungai yang tahu bahwa perjalanan panjang—dengan belokan, rintangan, dan kelelahan—selalu lebih bermakna daripada muara yang cepat. Ia tidak memohon untuk dipahami. Ia hanya membuka pintu, membiarkannya setengah terbuka, dan percaya bahwa siapa pun yang masuk adalah mereka yang memang siap tinggal. Dalam sikap itu, seni berubah menjadi peristiwa romantis: perjumpaan dua keheningan yang saling mengakui keberadaan satu sama lain. Tidak ada dominasi, tidak ada penaklukan—hanya kesediaan untuk mendengarkan tanpa menyela, mencintai tanpa ingin memiliki.

Di dunia seni rupa yang kerap gaduh oleh ego, konsep, dan ambisi untuk segera dikenang, sikap semacam ini terasa seperti cinta lama yang tak lekang oleh waktu. Kejujuran selalu lahir dari keheningan, dan keheningan adalah ruang paling intim antara manusia dan Yang Maha Ada. Di sanalah seni berlutut—bukan untuk menyerah, tetapi untuk setia. Setia pada proses yang panjang, pada luka yang tidak selalu bisa disembuhkan, pada kemungkinan-kemungkinan kecil yang sering diabaikan karena dianggap tidak spektakuler. Pelukis-pelukis perempuan lain yang kembali hadir di Banyuwangi tampak seperti pasangan setia yang terus pulang ke rumah yang sama. Mereka mengenal sudut-sudutnya, memahami bunyi lantainya ketika diinjak pelan, dan tidak pernah bosan pada aroma kenangan yang tinggal di udara. Mereka tidak mengejar sorak, tidak mabuk pujian. Kehadiran mereka lebih mirip janji yang ditepati dengan diam-diam, bukan ambisi yang dikejar dengan tergesa.

Aliran dekoratif naif yang mereka rawat sering disalahpahami sebagai kekurangan, seolah kesederhanaan adalah tanda ketertinggalan. Padahal justru di situlah kecerdasan cinta bekerja: memilih jujur di tengah dunia yang gemar berlebih-lebihan. Kepolosan mereka bukan ketidaktahuan, melainkan keberanian untuk tidak bersembunyi di balik kerumitan palsu. Seperti cinta pertama—ia mungkin tampak sederhana, bahkan kikuk, tetapi justru karena itulah ia meninggalkan jejak paling lama.

Di antara para perupa yang telah matang, Praya Mitha hadir seperti pertemuan pertama yang canggung sekaligus menggetarkan. Langkahnya masih ragu, tetapi matanya bercahaya—cahaya orang yang belum lelah berharap, belum terlalu sering kecewa. Ini pameran pertamanya, dan rasa terima kasih yang ia ucapkan bukan sekadar formalitas. Ada getar tulus di sana, seperti seseorang yang baru saja diterima apa adanya, tanpa syarat dan tanpa penilaian berlebihan. Ia tidak datang untuk menaklukkan siapa pun. Ia datang untuk belajar mencintai proses, mencintai waktu, mencintai kemungkinan gagal yang selalu mengintai di setiap langkah awal. Banyuwangi menyambutnya dengan pelukan hangat, seperti kota yang tahu bahwa awal selalu rapuh dan karena itu harus dirawat, bukan diuji terlalu keras.

Sejarah seni rupa dunia pun telah lama jatuh cinta pada cara perempuan mencipta. Frida Kahlo melukis luka seperti menulis surat cinta kepada hidup yang keras—jujur, menyakitkan, dan tak bisa ditarik kembali. Georgia O’Keeffe membuat bunga-bunga mekar sebagai doa yang tak pernah layu, seolah keindahan adalah bentuk lain dari iman. Yayoi Kusama mengulang titik-titiknya seperti menyebut nama kekasih dalam tasbih yang panjang, sementara Louise Bourgeois menjahit trauma menjadi pengakuan paling intim tentang takut dan harap. Dari mereka kita belajar: bahwa seni perempuan tidak lahir dari keinginan menaklukkan, melainkan dari kebutuhan untuk bertahan dan tetap mencintai.

Pameran Lereme Roso—yang digelar dalam peringatan Hari Jadi Banyuwangi—akhirnya bukan hanya tentang erosi tanah atau nilai yang memudar. Ia adalah kisah cinta yang pelan dan panjang: tentang perempuan-perempuan yang mengikis batas dengan kesetiaan. Batas antara pinggiran dan pusat, antara diam dan suara, antara yang diremehkan dan yang diagungkan. Semua itu didekati bukan dengan benturan, melainkan dengan kesabaran. 

Indonesia, dengan deretan pelukis perempuannya—dari Emiria Soenassa hingga Christine Ay Tjoe—menunjukkan bahwa cinta pada seni bukanlah letupan sesaat, melainkan perjalanan panjang yang ditempuh dengan napas yang teratur dan hati yang tabah. Ia tidak tumbuh dari ambisi untuk segera dikenang, tetapi dari kesediaan untuk terus berjalan meski jalan sering sepi dan sunyi. Para perempuan itu melukis bukan sekadar untuk dilihat, melainkan untuk bertahan, untuk menjaga agar api di dalam dada tidak padam oleh waktu yang kerap abai.

Emiria Soenassa, pada zamannya, melangkah seperti perempuan yang berjalan sendirian di jalan panjang tanpa penunjuk arah. Ia melukis ketika ruang bagi perempuan masih sempit, ketika keberanian sering disalahartikan sebagai pembangkangan. Namun ia tetap setia, seperti seseorang yang mencintai dalam diam. Sementara Christine Ay Tjoe, di masa yang berbeda, mengolah kegelisahan batin menjadi bahasa abstraksi yang mendunia—tanpa kehilangan akar, tanpa meninggalkan luka yang pernah membentuknya. Di antara keduanya, terbentang benang panjang kesetiaan: generasi demi generasi perempuan yang memilih seni bukan karena mudah, melainkan karena tak ada pilihan lain selain mencintainya.


Cinta pada seni, bagi mereka, tidak selalu berakhir pada sorotan lampu galeri atau tepuk tangan yang panjang. Sering kali ia justru hidup dalam ruang-ruang kecil: di studio yang sunyi, di malam yang sepi, di hadapan kanvas yang menunggu dengan sabar. Namun justru di situlah seni menemukan rumahnya. Ia menetap di hati mereka yang mau tinggal lebih lama, yang bersedia menunggu tanpa kepastian, yang mencintai tanpa tergesa dan tanpa syarat. Seperti cinta yang dewasa, seni perempuan Indonesia tumbuh bukan untuk membuktikan apa pun, melainkan untuk setia—pada proses, pada luka, dan pada harapan yang terus dipelihara meski dunia berubah terlalu cepat.

Di Gedung Juang itu, seni rupa tidak sedang memamerkan kemenangan. Ia sedang merawat hubungan—antara manusia dan rasa, antara luka dan harapan, antara waktu dan kesabaran. Dan barangkali, di situlah seni menemukan makna romantisnya yang paling jujur:
bukan untuk menaklukkan dunia, melainkan untuk mencintainya, pelan-pelan, sepenuh hati.

Syafaat ; Lentera Sastra Banyuwangi.

Gelar Gandrung dari Masa ke Masa, Kompetisi Tari Gandrung Banyuwangi Diikuti Ribuan Peserta dari Jawa - Bali

BANYUWANGI ( Warta Blambangan) Sebagai upaya melestarikan sekaligus mempromosikan Tari Gandrung secara berkelanjutan, Banyuwangi menggelar kompetisi Tari gandrung yang dikemas dalam Festival Gandrung “Dari Masa ke Masa”. Kompetisi ini diikuti ribuan peserta yang berasal dari sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Bali.

Festival Tari Gandrung “Dari Masa ke Masa” berlangsung selama tiga hari mulai 24-26 Desember di Gelanggang Kesenian Banyuwangi (Gesibu). Event ini diikuti 1500 peserta mulai dari tingkat TK-SMA dan umum. Ada yang dari Jogja, Gresik, Lumajang, Situbondo, Bondowoso, hingga Bali. 

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan Tari Gandrung adalah identitas budaya Banyuwangi yang sarat makna sejarah, filosofi, dan nilai kebersamaan. Lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga upaya melestarikan warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.

“Lomba ini Juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mencintai dan mengembangkan seni tradisi,” kata Ipuk, Sabtu (27/12/2025).

Ipuk menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya atas upaya dan dukungan berbagai pihak yang secara konsisten melakukan regenerasi penari Gandrung serta mempromosikan Gandrung hingga ke kancah nasional dan internasional. 

“Terima kasih pada semua pihak yang telah menginisiasi kegiatan ini,” ujar Ipuk.

Inisiator sekaligus penyelenggara Festival Gandrung “Dari Masa ke Masa” Sabar Haryanto, mengatakan event ini metupakan tahun ketiga penyelengaraan. Setiap tahunnya ribuan peserta berpartisipasi dalam lomba ini.

“Sebagai pegiat seni daerah ini adalah bentuk dukungan dan partisipasi kami bersama -sama dengan pemerintah untuk terus menghidupkan dan melestarikan Gandrung khususnya pada generasi muda,” kata Sabar yang juga Pengasuh Sangar Tari Lang Lang Buana Banyuwangi.

Pada tahun ini pihaknya sengaja mengundang sanggar dan komunitas Tari dari sejumlah daerah untuk ikut berpartisipasi karena Tari Gandrung sudah banyak ditarikan oleh penari di luar daerah. 


“Alhamdulillah peserta lomba dari luar kota cukup banyak, padahal kami hanya berkabar melalui surat. Ini menunjukkan kalau Tari Gandrung memang sudah familiar bagi mereka,” katanya.


Ada delapan variasi tari Gandrung yang dibawakan oleh para peseta dalam kompetisi tersebut. Yakni Gandrung Seblang Lukinto, Gandrung Gurit Mangir, Gandrung Jaran Dawuk, Gandrung Variasi, Gandrung Sri Dewi, Gandrung Kembang Menur, Gandrung Marsan.


“Kompetisi ini juga sebagai cara mengenalkan berbagai jenis atau variasi Tarian Gandrung. Karena Tari Gandrung punya banyak variasi yang berkembang sesuai konteks budaya, cerita rakyat, maupun kreativitas seniman,” terang Sabar.


Salah satu pelatih Tari dari Lumajang Nasseh, mengatakan ia menurunkan dua grup untuk mengikuti kompetisi di Banyuwangi. Tari Gandrung telah menjadi tarian yang biasa ditarikan di komunitasnya.

“Kami berlatih khusus untuk kompetisi mulai November. Tapi tidak terlalu kesulitan karena teman-teman sudah mengenal Gandrung,” ujarnya.

Sementara itu salah satu penarinya Ikrom, pelajar kelas 9 SMPN 1 Tempeh Lumajang mengaku sangat senang bisa mengikuti Lomba Tari Gandrung di Banyuwangi. Dengan basic penari berbagai genre, ia tidak begitu kesulitan untuk menari Gandrung.

“Gerakannya susah-susah gampang saat latihan, tapi bersyukur bisa, dan masuk final,” ujar Ikrom yang membawakan Tari Gandrung Marsan atau Tari Gandrung yang khusus dibawakan oleh laki-laki. (*)

Diskusi Natal Group KUA Innovation

 Diskusi Natal Group KUA Innovation

 

Setiap Natal, perbincangan itu selalu kembali. Seperti hujan tahunan yang tidak pernah benar-benar kita tunggu, tetapi selalu kita kenali bunyinya. Tidak pernah ada kesepakatan final, kecuali satu hal yang justru paling manusiawi: saling menghormati perbedaan pendapat.

Pagi itu saya tidak berniat membaca apa pun selain pesan-pesan pendek yang lewat seperti angin: salam yang singgah sebentar, emotikon yang tersenyum tanpa suara, atau pengingat agenda yang cepat terlupa. Jari saya hanya ingin lewat, tidak menetap. Namun grup WhatsApp KUA Innovation justru menahan geraknya. Bukan karena gaduh, bukan pula karena emosi, melainkan karena kehati-hatiannya yang nyaris terasa seperti jeda doa. Di ruang kecil bernama gawai itu, berkumpul para penghulu dan pegawai Kantor Urusan Agama, orang-orang yang hidupnya sehari-hari bersentuhan dengan kata “batas”. Batas administrasi yang harus presisi, batas hukum yang tidak boleh dilangkahi, dan batas akidah yang dijaga dengan kesungguhan batin. Mereka bukan sekadar pembaca dalil, melainkan penghafalnya. Bukan hanya pengutip ayat, tetapi penjaga maknanya agar tidak tergelincir ke tangan emosi.


Saya membaca pelan-pelan, seperti orang melangkah di lantai kayu tua agar tidak menimbulkan bunyi. Setiap kalimat terasa ditimbang, setiap kata seolah diletakkan setelah melalui wudu pikiran. Tidak ada umpatan, tidak ada klaim paling suci. Yang ada hanyalah kehati-hatian: bagaimana bersikap tanpa merusak iman, dan bagaimana menjaga iman tanpa melukai kemanusiaan. Mereka adalah orang-orang pilihan yang tahu bahwa dalil bukan senjata, melainkan amanah. Bahwa ayat dan hadis bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan untuk menuntun sikap. Di tangan mereka, toleransi tidak dipahami sebagai kelonggaran tanpa batas, tetapi sebagai disiplin akhlak. Menjaga agar perbedaan tetap berada di jalurnya, tidak tumpah menjadi curiga, apalagi kebencian.

Di grup itu, saya merasakan satu hal yang jarang terdengar di ruang publik: kesadaran bahwa menjadi penjaga toleransi beragama justru menuntut keteguhan iman. Sebab toleransi yang lahir dari iman rapuh hanya akan menjadi basa-basi. Sementara toleransi yang lahir dari iman yang kokoh tahu kapan harus mendekat, dan kapan harus berhenti satu langkah sebelum melanggar, saya belajar bahwa kehati-hatian juga bentuk keberanian. Bahwa menahan diri untuk tidak tergesa-gesa berkesimpulan adalah laku spiritual. Dan bahwa di tangan para penghulu, yang terbiasa berdiri di antara teks dan realitas, agama tidak diteriakkan, melainkan dirawat, agar tetap menjadi cahaya yang menuntun, bukan api yang membakar.

Saya tergoda untuk menggulir pesan-pesan itu dari atas. Pelan-pelan. Seperti orang membaca kitab tua yang halaman-halamannya sudah sering diperdebatkan, tetapi tak pernah benar-benar selesai ditafsirkan. Di sana, toleransi tidak diperlakukan sebagai slogan. Ia dibicarakan sebagai garis. Ada yang berkata: toleransi adalah membiarkan perbedaan, bukan berkolaborasi dalam ibadah. Ada yang menegaskan: memberi hadiah di hari raya agama lain adalah haram menurut empat mazhab. Ada pula yang mengingatkan: hadiah di luar hari raya boleh, sebab kemanusiaan tidak mengenal kalender teologis.

Diskusi itu tenang, meski isinya tajam. Seperti pisau yang diletakkan di atas meja, tidak diarahkan ke leher siapa pun. Saya membaca satu kalimat yang terasa seperti paku: menjaga kemurnian akidah lebih penting dari segalanya. Nama Buya Hamka disebut. Tentang keberanian meletakkan jabatan demi keyakinan. Di sini, akidah diposisikan sebagai rumah. Bukan ruang tamu, melainkan ruang sujud. Tidak semua orang boleh masuk, bahkan dengan niat baik. Namun suara lain menyela, tidak dengan teriakan, melainkan dengan argumen: memberi hadiah dan mengucap selamat bukan urusan ibadah, melainkan urusan kemanusiaan. Ukhuwah basyariyah, kata mereka, persaudaraan manusia yang lahir lebih dulu daripada sekat-sekat iman. Di titik ini, toleransi bukan lagi jarak dingin, melainkan jabat tangan dari pagar ke pagar.

Perdebatan tentang ucapan Natal sejatinya bukan soal dua kata: selamat dan Natal. Ia adalah perbincangan tentang rasa takut dan rasa percaya. Takut bahwa satu ucapan akan menggeser tauhid; percaya bahwa satu ucapan hanyalah etika sosial. Di antara takut dan percaya itu, manusia sering berdiri kikuk, tak sepenuhnya yakin ke mana harus melangkah. Sejarah pun dipanggil. Ada yang berkata: Natal baru dirayakan abad keempat; Nabi tiak pernah mengucapkannya. Yang lain menjawab pelan: Nabi juga tidak hidup di dunia media sosial, tidak menjadi ASN, dan tidak memimpin masyarakat plural seperti hari ini. Sejarah diminta menjadi saksi, sementara konteks terus berjalan tanpa menunggu persetujuan masa lalu.

Yang menenangkan, diskusi ini tidak berakhir dengan vonis. Ia berakhir dengan kesadaran: kembali ke masing-masing. Kalimat sederhana, tetapi di situlah letak kedewasaan iman. Tidak semua perbedaan harus dimenangkan. Ada perbedaan yang cukup dipahami. Bagi saya, toleransi memang bukan menyamakan iman. Tetapi ia juga bukan sekadar membiarkan dari jauh dengan wajah dingin. Toleransi adalah seni menjaga jarak tanpa memutus silaturahmi. Seperti tetangga yang paham batas pekarangan, tetapi tetap saling menyapa di pagi hari.

QS. Al-Kafirun kerap dikutip: Lakum dinukum waliyadin. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Ayat ini sering dipahami sebagai tembok tinggi, padahal ia lebih mirip pagar rendah, cukup untuk menandai wilayah keyakinan, tidak cukup untuk menghalangi pandangan. Dalam fikih sosial, ayat ini bukan hanya penegasan identitas, melainkan etika hidup berdampingan: iman dijaga, konflik dicegah. QS. Maryam ayat 33 bahkan menunjukkan bahwa salam dalam wahyu dapat melintasi sejarah figur yang berbeda keyakinan, tanpa harus mengadopsi teologinya. Di sinilah teks suci menuntut pembacaan yang tidak hanya literal, tetapi juga berjiwa maqashid: mencari kemaslahatan, bukan sekadar kemenangan argumen.

Meminjam bahasa Gus Dur, toleransi bukan kompromi iman, melainkan konsekuensi akhlak. Agama kehilangan maknanya ketika ia tidak lagi menjaga martabat manusia. Iman yang matang tidak panik oleh ucapan, sebab ia tahu siapa dirinya, dan kepada siapa ia bersujud. Natal akan selalu datang setiap tahun. Perdebatan pun mungkin akan selalu mengikutinya. Tidak pernah ada kesepakatan mutlak, dan mungkin memang tidak perlu. Sebab yang paling penting bukan siapa yang paling benar, melainkan siapa yang paling mampu menjaga adab: kepada Tuhan, dan kepada sesama manusia.

Pada akhirnya, teks suci hadir bukan sebagai peluru, melainkan sebagai jeda. Bukan untuk melukai, melainkan untuk mengingatkan: bahwa agama juga mengenal bahasa damai, bahasa yang menjaga iman tanpa mencederai kemanusiaan. (Syafaat)

Yo Mung, Ketika Puisi Memilih Diam untuk Bicara kepada Tuhan

 

Yo Mung, Ketika Puisi Memilih Diam untuk Bicara kepada Tuhan

Oleh : Syafaat

Ada buku puisi yang datang dengan gemuruh metafora, berisik oleh keindahan yang ingin segera dipamerkan, seolah takut tak sempat didengar. Namun ada pula buku puisi yang hadir nyaris tanpa suara, seperti seseorang yang duduk di sudut ruangan, tidak banyak bicara, tidak mencari pusat perhatian, tetapi setiap kalimat yang terucap darinya membuat kita menoleh dan diam. Yo Mung karya Samsudin Adilawi adalah jenis yang kedua. Ia tidak mengetuk pintu dengan keras; ia menunggu, dan justru karena itu kehadirannya terasa lebih lama tinggal di dalam dada.

Sampulnya sederhana, nyaris bersahaja, seakan menolak segala kemungkinan kemewahan visual. Kesederhanaan itu bukan kekurangan, melainkan sikap batin. Ia seperti sajadah tua yang warnanya mulai pudar, tetapi justru di sanalah doa-doa panjang pernah diserap dengan khusyuk. Judulnya memakai bahasa daerah, Yo Mung, tanpa catatan kaki, tanpa keterangan tambahan. Seolah buku ini tidak berniat menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Ia hanya menyodorkan diri, dan selebihnya, menyerahkan segalanya kepada kesiapan batin pembacanya. Siapa yang datang dengan tergesa, akan melewatinya begitu saja. Siapa yang datang dengan hening, akan menemukan sesuatu yang menetap.

Pada awalnya, saya mengira puisi-puisi di dalamnya adalah antologi puisi berbahasa Osing, semata karena judulnya. Dugaan itu terasa wajar, sebab meskipun Samsudin Adilawi berasal dari garis darah Madura, ia hidup dan bernafas cukup lama dalam lanskap budaya Osing. Ada kedekatan yang tidak dibuat-buat, sebuah penghayatan yang lahir dari pergaulan batin, bukan sekadar pengamatan dari luar. Namun semakin jauh membaca, saya sadar: Yo Mung bukan soal bahasa daerah sebagai identitas linguistik, melainkan sebagai isyarat spiritual. Bahasa daerah di sini berfungsi seperti pintu kecil menuju ruang sunyi, tempat makna tidak dipamerkan, melainkan disimpan.

Dalam tradisi religi dan sufistik, tidak semua kebenaran perlu diterangkan dengan terang-benderang. Sebagian justru harus disamarkan, agar pembaca mau berjalan sendiri, tersesat sebentar, lalu menemukan cahaya dengan caranya masing-masing. Yo Mung bekerja dengan cara itu. Ia tidak mengajak pembaca memahami, melainkan mengalami. Puisi-puisinya seperti gumam doa yang tidak selesai di bibir, tetapi dilanjutkan oleh hati. Kesederhanaan Yo Mung pada akhirnya menjadi semacam laku asketik. Ia menanggalkan segala yang berlebih: kata, baris, bahkan penjelasan. Yang tersisa hanyalah inti, sebuah kesadaran tentang hadirnya Yang Maha Dekat di tengah bahasa yang sangat manusiawi. Dan di sanalah kekuatan buku ini bersemayam: ia tidak membuat kita kagum pada penyairnya, melainkan membuat kita kembali menengok ke dalam diri, bertanya dengan pelan, dan mungkin, berdoa tanpa kata.

Buku ini terasa berbeda dibandingkan karya-karya Samsudin Adilawi sebelumnya, seperti Jaran Goyang (2009), Haiku Sunrise of Java(2011), Selingkar Pedang Jalan pulang (2018), Ribang Kala Aksa (2020), maupun Rahim Suci Bunda Sri Tanjung (2022). Jika dahulu ia lebih lapang dalam bertutur, di Yo Mung ia justru memilih jalan sunyi: puisi-puisi sangat singkat, ada yang hanya dua baris, tiga baris, empat baris. Bahkan ada yang hanya terdiri dari sebelas kata. Sejenak saya mengira ada salah cetak. Tetapi justru di situlah godaannya. Kata-kata yang terasa “aneh”, belum pernah saya jumpai sebelumnya, memaksa saya membuka kembali Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebuah tindakan yang kini jarang dilakukan pembaca puisi. Buku ini, secara halus, memaksa kita untuk pelan-pelan, untuk tidak tergesa.

Puisi-puisi dalam Yo Mung memang tampak sederhana dari segi bahasa, tetapi maknanya sama sekali tidak sederhana. Ini seperti doa yang diucapkan dengan suara lirih: pendek, padat, dan tidak memberi ruang bagi basa-basi. Ada puisi yang berbicara tentang kehadiran yang serentak: di depan, di belakang, di kanan, di kiri, di atas, di bawah, dalam waktu yang sama. “Bukan engkau, bukan pula aku,” katanya, Ini bukan sekadar permainan kata, melainkan pengalaman spiritual yang sangat sufi. Sebuah kesadaran tentang Yang Hadir tanpa bentuk, tanpa jarak, tanpa nama.


Tidak mengherankan jika Acep Zamzam Noor, seorang sastrawan, penyair, sekaligus perupa terkemuka Indonesia asal Tasikmalaya, yang selama ini dikenal konsisten merawat napas religiositas dan sufisme dalam karya-karyanya, memberikan endorsement yang begitu jernih dan terukur. Apresiasi itu bukan sekadar pujian personal, melainkan semacam pengakuan estetik dan spiritual atas cara Yo Mung bekerja sebagai puisi. Menurut Acep, puisi-puisi dalam antologi ini terasa menyejukkan. Kesejukan yang dimaksud bukanlah dingin yang menjauhkan, melainkan keteduhan yang membuat pembaca betah berdiam. Ungkapan-ungkapannya singkat, bening, dan menyaran, tidak memaksa makna datang sekaligus, tetapi membiarkannya merembes perlahan ke dalam kesadaran. Dari peristiwa keseharian yang tampak biasa—pagi, ingatan, rindu, luka, Samsudin Adilawi mengekstraknya menjadi renungan kecil, lalu menghadirkannya kembali sebagai pengalaman batin yang bisa dirasakan siapa saja.

Di titik inilah puisi-puisi Yo Mung bergerak dari yang personal menuju yang universal. Apa yang mula-mula tampak sebagai gumam seorang penyair, perlahan berubah menjadi cermin bagi banyak orang. Pembaca menemukan dirinya sendiri di sana: dalam lupa dan ingat, dalam sunyi dan sembah, dalam sejarah yang tak pernah benar-benar selesai. Puisi-puisi ini tidak menjelaskan, tetapi mengundang; tidak memberi jawaban, tetapi membuka ruang tafsir. Acep juga menandai adanya keselarasan yang jarang ditemui: antara bentuk dan makna, antara kekokohan wadah dan kelembutan isi. Puisi-puisi yang sangat singkat itu tidak kehilangan bobot; justru kepadatannya menjadi penopang makna. Seolah setiap kata telah melalui proses pengendapan panjang, disaring dari yang berlebih, hingga yang tersisa hanyalah inti. Di sini, bentuk bukan sekadar kemasan, melainkan bagian tak terpisahkan dari makna itu sendiri.

Dalam konteks itu, endorsement Acep Zamzam Noor terasa sepenuhnya sepadan. Ia datang dari seorang penyair yang memahami bahwa dalam tradisi sufistik, kata yang paling kuat sering kali justru yang paling hemat. Dan Yo Mung, dengan segala kesederhanaannya, membuktikan bahwa puisi yang sejati tidak selalu harus panjang untuk menjadi dalam, dan tidak harus lantang untuk menjadi menggugah.

Karena itu pula, puisi-puisi dalam Yo Mung tidak berteriak. Ia tidak datang dengan retorika besar atau metafora yang memamerkan kecakapan bahasa. Namun ia juga tidak bersembunyi dalam kerumitan yang eksklusif. Ia hadir sebagaimana air: tenang, jernih, nyaris tak bersuara, tetapi memiliki daya yang pelan dan pasti. Seperti air yang terus mengalir, puisi-puisi ini sanggup mengikis batu, menggerus kekerasan batin, mengendapkan kegaduhan pikiran, dan perlahan membuka ruang kontemplasi yang lebih dalam. Sebagian puisi bahkan mendekati haiku: singkat, padat, tepat takarannya. Namun berbeda dengan haiku yang sering menggantungkan diri pada lanskap alam, Yo Mung menggantungkan diri pada lanskap batin. Ia mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, menarik napas, lalu bertanya: apa yang sebenarnya sedang kita rasakan, ingat, atau lupakan hari ini?

Antologi ini ditulis dalam rentang waktu yang panjang, sejak 2004, seolah ia lahir dari sebuah tirakat kreatif yang sabar dan berlapis. Waktu dalam Yo Mung bukan sekadar angka tahun, melainkan ruang pengendapan batin, tempat kata-kata dibiarkan matang, menua, bahkan terluka, sebelum akhirnya diucapkan. Karena itu, pembagian temanya terasa bukan sebagai klasifikasi akademik, melainkan jejak-jejak spiritual, semacam peta perjalanan jiwa seorang penyair yang berjalan pelan, sering berhenti, kadang tersesat, namun terus melangkah.

Tema lupa ingat luka membuka pintu kesadaran paling awal: bahwa manusia adalah makhluk yang ingatannya rapuh, tetapi lukanya setia. Di sini, lupa dan ingat tidak saling meniadakan, melainkan saling menguji. Luka menjadi guru yang paling jujur, mengingatkan bahwa iman sering tumbuh justru dari bagian diri yang pernah retak. Lalu hadir ngeong rindu, sebuah wilayah batin yang lebih lirih dan personal. Rindu dalam bagian ini tidak selalu ditujukan pada manusia; ia bisa menjelma kerinduan pada asal, pada kesunyian pertama, pada Tuhan yang terasa dekat sekaligus jauh. Kata “ngeong” sendiri seperti doa yang belum sempurna, gumaman makhluk yang sadar akan kekurangannya, tetapi tetap ingin didengar.

Tema resolusi telur membawa pembaca ke wilayah simbolik yang unik. Telur adalah awal kehidupan, tetapi juga rapuh. Di sini, penyair seperti sedang berbicara tentang niat, tentang tekad yang masih lembut, tentang iman yang belum menetas sepenuhnya. Resolusi tidak digambarkan sebagai keputusan besar, melainkan sebagai kesediaan untuk menjaga sesuatu yang kecil agar tidak pecah sebelum waktunya. Pada lembah puisi sembah penyair, puisi menjelma doa. Kata-kata tidak lagi sekadar alat ekspresi, melainkan sarana sujud. Lembah menjadi metafor kerendahan hati, tempat penyair menanggalkan keakuan, membiarkan puisinya berlutut di hadapan Yang Tak Terucap. Di sini, menulis adalah ibadah, dan ibadah adalah keheningan yang diupayakan lewat bahasa.

Tema gandrung dalam darahku menghadirkan dimensi tubuh dan kultural. Gandrung tidak hanya dibaca sebagai tradisi atau kesenian, tetapi sebagai warisan batin yang mengalir dalam darah, menyatu dengan identitas dan spiritualitas. Tubuh tidak dipisahkan dari iman; justru melalui tubuh, ingatan kolektif dan rasa syukur menemukan bentuknya. Sementara itu, palu sejarah adalah ruang kontemplasi paling sunyi sekaligus paling berat. Sejarah dihadirkan bukan sebagai deretan peristiwa, melainkan sebagai luka panjang yang diwariskan. Di sini, waktu tidak benar-benar berlalu; ia menetap dalam ingatan, dalam bencana, dalam doa-doa yang terus diulang. Puisi-puisi pada bagian ini terasa seperti zikir atas tragedi, pengakuan bahwa manusia sering belajar terlambat, dan bahwa sejarah kerap datang kembali untuk mengetuk nurani.

Keseluruhan tema dalam antologi ini tidak berdiri terpisah, melainkan saling menyambung seperti ruas tasbih. Ia menandai perjalanan batin seorang penyair yang terus bergulat dengan ingatan, rindu, tubuh, sejarah, dan tentu saja luka, namun tidak untuk meratapinya semata, melainkan untuk menafsirkannya sebagai jalan pulang. Dalam Yo Mung, puisi menjadi cara untuk tetap beriman di tengah retak, dan bahasa menjadi jembatan sunyi antara manusia dan Yang Maha Hadir.

Salah satu puisi yang paling menggugah adalah puisi tentang tsunami Aceh. Luka itu terjadi dua puluh tahun lalu, tetapi ditulis kembali, dibaca kembali, seolah luka memang tidak pernah sepenuhnya selesai. Dan ketika buku ini hadir kembali di saat Indonesia kembali dilanda bencana, meski bukan tsunami, kita sadar bahwa sejarah punya kebiasaan aneh: ia berulang, tetapi selalu dengan bentuk luka yang berbeda. Luka di atas luka. Di sinilah Yo Mung menjadi relevan secara religius. Ia tidak menggurui, tidak menyebut nama Tuhan secara berlebihan, tetapi justru menghadirkan Tuhan dalam keheningan, dalam jeda antarbaris, dalam kata-kata yang seolah kurang, tetapi justru cukup. Puisi-puisi ini mengajarkan bahwa iman tidak selalu perlu kalimat panjang; kadang ia hanya perlu keberanian untuk diam dan jujur pada getar paling dalam diri.

Yo Mung bukan buku yang mudah, tetapi justru karena itu ia penting. Ia mengajak pembaca untuk tidak sekadar membaca, melainkan mengalami. Membaca pelan-pelan. Mengulang. Merenung. Dan pada akhirnya, mungkin, berdoa, tanpa sadar bahwa kita sedang berdoa.

Penulis adalah Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

 

Lukisan Satu Trilyun Untuk Bangunan Madrasah

 Lukisan Satu Trilyun Untuk Bangunan Madrasah

Oleh : Syafaat

 Sebuah keterlambatan justru membuka pintu perenungan tentang seni, iman, dan cara rahmat bekerja tanpa banyak isyarat. Di Gedung Juang 45 Banyuwangi, pada sebuah malam yang berjalan apa adanya, pameran lukisan berubah menjadi ruang doa: ketika potret seorang pemimpin dilapisi harapan anak-anak madrasah, harga fantastis satu triliun rupiah tidak lagi berbicara tentang pasar, melainkan tentang amanah, kepedulian, dan keyakinan bahwa Tuhan kerap menitipkan kebaikan melalui jalan yang tak disangka-sangka.

Saya datang terlambat, dan keterlambatan itu justru menjadi pintu masuk bagi sebuah perenungan panjang tentang seni, iman, dan cara Tuhan bekerja melalui hal-hal yang tampak sepele. Malam itu, di Gedung Juang 45 Banyuwangi, saya berdiri dengan kaos dan celana jean, pakaian yang tidak pernah saya niatkan untuk menghadiri peristiwa seremonial, ketika seorang bupati menandatangani prasasti pembukaan pameran lukisan. Saya terkejut, bukan semata karena kehadiran orang nomor satu di Banyuwangi, melainkan karena kesadaran yang datang belakangan: barangkali memang begini cara rahmat bekerja, ia tidak selalu menunggu kesiapan kita, tidak pula menuntut busana yang pantas, tetapi hadir justru ketika kita lupa, lengah, dan tidak sedang mempersiapkan diri untuk terlihat baik.


Pameran itu telah dibuka sore hari. Saya lupa ada undangan. Setelah pulang kerja, rumah dipenuhi kemenakan-kemenakan yang datang dari luar kota. Banyuwangi menjadi rute wisata dadakan: pantai, jalanan senja, tawa yang berjejal di dalam mobil, cerita-cerita kecil yang tidak ingin ditunda. Kami pulang hampir pukul sembilan malam. Telepon berdering. Seorang teman, ketua yayasan, guru madrasah swasta, suara yang terdengar agak tergesa. “Mas, panjenengan harus ke Gedung Juang. Penting.” Saya berpikir acara sudah selesai. Pembukaan biasanya tak sampai malam. Tapi kata “penting” itu seperti ayat pendek yang memaksa dibaca ulang. Saya berangkat tanpa banyak tanya.

Di sanalah saya berdiri, menjadi saksi keterlambatan yang berubah menjadi makna. Setelah prasasti ditandatangani, kami diajak berkeliling. Seratus lima puluh enam, atau seratus lima puluh tujuh, karya dipajang. Angka-angka menjadi relatif ketika berhadapan dengan niat. Para pelukis datang bukan hanya dari Banyuwangi, tetapi dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka membawa kanvas, warna, dan sesuatu yang lebih sunyi: harapan agar seni tidak sekadar berhenti sebagai tontonan, melainkan menjelma menjadi doa yang bisa disentuh.

Salah satu lukisan menyedot perhatian seperti magnet yang bekerja perlahan. Wajah Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, dilukis dengan detail yang nyaris realis. Namun yang membuatnya tidak berhenti sebagai potret kekuasaan adalah lapisan-lapisan lain yang menyertainya: motif, tekstur, penari yang distilasi, lanskap yang menyatu, dan, ini yang paling menentukan, doa-doa yang ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa anak-anak. Doa itu ditulis oleh anak-anak madrasah. Sebagian dari mereka siswa RA dan MI di Telemung, Kalipuro. Ketika saya mendekat, lukisan itu berubah dari citra menjadi peristiwa batin. Dari jauh, ia tampak seperti potret pemimpin. Dari dekat, ia adalah sekumpulan permohonan kecil yang dititipkan kepada Tuhan melalui kanvas.

Harga lukisan itu disebutkan: satu triliun rupiah. Angka yang membuat orang tertawa, mencibir, atau menganggapnya lelucon. Saya sendiri sempat tertegun. Apakah realistis? Jika yang dihitung hanya cat, kanvas, dan reputasi pelukis, tentu tidak. Tapi seni, seperti doa, jarang bisa diukur dengan logika transaksi. Seorang teman berbisik, “Itu untuk mencari harga tertinggi yang menarik.” Lalu ia menambahkan, seolah membacakan niat di balik angka: hasil lelang akan diserahkan untuk perbaikan gedung madrasah di Desa Telemung yang rusak parah, sekaligus membantu pembiayaan santrinya. Di titik itu, satu triliun berhenti sebagai angka dan berubah menjadi simbol: tentang sejauh apa kita berani memimpikan kebaikan.

Pelukisnya, Mohammed Harahap, bukan nama yang asing. Ia pelukis kawakan nasional yang berdomisili di Banyuwangi, telah menghasilkan ribuan karya, dan sebagian besar telah berkelana ke tangan kolektor mancanegara. Namun pada lukisan ini, ia seperti sengaja menanggalkan sebagian ambisi estetik yang biasa dikejar pasar seni. Ia memilih berkolaborasi dengan doa. Ia memilih menempatkan tangan anak-anak madrasah sebagai co-creator, bukan sekadar objek belas kasihan. Di situ seni tidak lagi berdiri di atas pedestal keindahan semata, melainkan menunduk, memberi ruang bagi suara yang sering kita anggap terlalu kecil untuk didengar.

Saya teringat cerita kepala madrasah tsanawiyah yang juga ketua yayasan di Kalipuro. Sehari sebelum malam itu, ia mengatakan bahwa pada hari pertama, lukisan tersebut sudah ditawar seratus juta. Entah berapa akhirnya akan laku. Angka itu, sekali lagi, bukan hal terpenting. Yang penting adalah keberanian untuk memulai dari niat yang bersih: memajukan madrasah, merawat pendidikan, dan mengembalikan kepercayaan publik bahwa sekolah agama bukan sekadar alternatif, melainkan rumah bagi nilai-nilai yang semakin langka di luar sana.

Tema pameran ini, Lereme Roso, seperti bisikan yang pelan tapi menetap. Ia bukan sekadar judul, melainkan ajakan. Meredakan rasa. Menengok ke dalam diri. Menjernihkan jiwa. Dalam bahasa religius, itu mirip dengan muhasabah: sebuah latihan batin untuk mengukur jarak antara apa yang kita pamerkan dan apa yang benar-benar kita imani. Gedung Juang 45, dengan sejarahnya, menjadi ruang yang tepat. Di sana, seni bertemu dengan ingatan kolektif. Di sana, doa-doa kecil dipertemukan dengan sejarah besar.

Saya bagian dari Dewan Kesenian Blambangan. Kami terbiasa saling mendukung. Ketika satu komite menggelar kegiatan, yang lain hadir sebagai penyangga. Saya di komite bahasa dan sastra. Dalam pameran lukisan, kami sering diminta mengisi pembacaan puisi. Kata-kata menjadi jembatan antara warna dan makna. Malam itu, saya tidak membaca puisi. Saya justru membaca diri sendiri: tentang lupa, tentang datang terlambat, tentang bagaimana Tuhan kadang menaruh kita di posisi yang tidak kita rencanakan agar kita belajar melihat dengan cara yang baru.

Lukisan itu, jika dianalisis secara akademik, bisa dimasukkan ke dalam aliran kontemporer realisme dengan sentuhan dekoratif. Wajah digarap detail, proporsional, menyerupai aslinya. Latar dipenuhi motif, penari gandrung yang distilasi, lanskap alam. Ada teknik layering yang kaya, penggunaan titik-titik warna yang memberi tekstur pada hijab dan langit emas. Emas itu memberi kesan sakral, seolah mengingatkan bahwa kekuasaan, jika ingin bermakna, harus selalu dilingkari oleh cahaya yang tidak berasal dari dirinya sendiri.

Kaligrafi di bagian atas lukisan, doa-doa keselamatan, harapan agar amanah dijalankan dengan perlindungan Tuhan, menggeser pusat makna dari figur ke niat. Teks Latin di bawahnya, “Mohon doa restunya… semoga selalu dalam perlindungan… amanah… Aamiin”, membuat lukisan itu seperti surat terbuka yang ditujukan kepada langit. Ini bukan sanjungan kosong kepada pemimpin, melainkan pengingat bahwa jabatan adalah beban yang harus dipanggul dengan doa banyak orang, termasuk doa anak-anak yang tidak punya apa-apa selain keyakinan.

Di titik inilah seni bertemu dengan sastra religi. Ia tidak berteriak, tidak menggurui, tidak memaksa. Ia hanya menaruh kita di hadapan pertanyaan yang sunyi: apa yang sebenarnya kita beli ketika membeli sebuah karya seni? Apakah kita membeli keindahan, prestise, atau kesempatan untuk terlibat dalam kebaikan yang lebih besar dari diri kita sendiri? Siapa pun yang kelak membeli lukisan itu, jika memang ada, sesungguhnya tidak sedang membeli potret seorang bupati. Ia membeli partisipasi dalam doa. Ia membeli tanggung jawab moral untuk ikut menjaga sebuah madrasah agar tetap berdiri, agar anak-anak di dalamnya tetap punya ruang untuk belajar mengeja iman dan pengetahuan.

Madrasah, dalam konteks ini, bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia adalah simpul kepercayaan. Di tengah dunia yang kian bising oleh standar keberhasilan material, banyak orang tua memilih madrasah karena di sana pendidikan agama mendapat porsi yang lebih besar. Mereka berharap anak-anaknya tidak hanya pandai menghitung, tetapi juga tahu bagaimana cara bersyukur. Tidak hanya mahir membaca, tetapi juga peka terhadap penderitaan orang lain. Lukisan itu, dengan segala kontroversi harganya, justru mengafirmasi harapan itu: bahwa seni bisa menjadi sarana dakwah yang halus, yang tidak menyebut-nyebut surga dan neraka, tetapi menghadirkan keduanya dalam bentuk tanggung jawab sosial.

Saya pulang malam itu dengan kepala penuh. Keterlambatan saya ternyata bukan kesalahan, melainkan metode. Saya datang tanpa ekspektasi, dan karena itu saya pulang dengan pertanyaan yang lebih jujur. Tentang posisi seni dalam hidup beragama. Tentang bagaimana kita memaknai angka-angka fantastis di tengah kebutuhan yang nyata. Tentang cara kita memandang pemimpin: apakah sebagai objek puja, atau sebagai amanah yang harus terus didoakan.

Peristiwa ini sederhana. Di puncaknya: sebuah pameran seni rutin tahunan, Banyuwangi Art Exhibition, yang digelar Dewan Kesenian Blambangan, menampilkan ratusan karya seniman lokal dan nasional. Di bawahnya: sebuah lukisan potret bupati dengan harga yang mengundang perdebatan. Lebih ke bawah lagi: niat untuk mendonasikan hasil penjualan bagi renovasi madrasah. Dan di dasar yang paling lebar, yang sering luput kita lihat: doa-doa anak madrasah, kepercayaan masyarakat pada pendidikan agama, dan keyakinan bahwa kebaikan kadang perlu jalan yang tidak biasa agar bisa sampai.

Jika seni hanya berhenti sebagai estetika, ia mudah dilupakan. Jika agama hanya berhenti sebagai slogan, ia mudah diperdebatkan. Tetapi ketika keduanya bertemu dalam tindakan yang konkret, membantu madrasah, merawat pendidikan, mengajak kita menengok ke dalam diri, di sanalah sastra menemukan bentuknya yang paling jujur. Ia tidak mengklaim kebenaran, tetapi mengundang kita untuk ikut merawatnya.

Saya ingat kembali pakaian saya malam itu: kaos dan celana jean. Tidak pantas untuk seremoni, kata sebagian orang. Tapi barangkali justru itulah pelajaran kecilnya. Bahwa Tuhan tidak terlalu sibuk menilai penampilan kita ketika kita datang membawa niat untuk memahami. Bahwa keterlambatan bisa menjadi berkah jika ia membuka pintu kesadaran. Dan bahwa sebuah lukisan, betapapun mahal atau kontroversial harganya, bisa menjadi sajadah panjang tempat banyak doa dititipkan, asal kita mau mendekat dan membaca dengan hati yang tidak tergesa.

Pada akhirnya, saya tidak pulang membawa foto bersama bupati, tidak pula membawa katalog pameran dengan tanda tangan pelukis. Saya pulang membawa rasa: lereme roso, meredakan rasa. Rasa kagum, rasa heran, rasa percaya bahwa di Banyuwangi, di gedung tua bernama Juang 45, seni, agama, dan kemanusiaan sempat duduk bersama, saling menyimak, tanpa perlu saling mengalahkan. Dan mungkin, di situlah makna paling religius dari sebuah pameran: bukan pada apa yang dipajang di dinding, melainkan pada apa yang diam-diam tumbuh di dalam dada.

Penulis Ketua Lensa Banyuwangi

 

Ibadah Sosial di Tengah Krisis Ekologis dan Hegemoni Elit

 Ibadah Sosial di Tengah Krisis Ekologis dan Hegemoni Elit.

Emi Hidayati – Dosen Fak. Dakwah UNIIB

    Rasanya telah terlalu sering, kita sebagai bangsa yang kaya sumberdaya alam ini, menyaksikan rangkaian bencana ekologis yang terus berulang: banjir besar di berbagai wilayah, longsor akibat penebangan hutan, krisis air bersih, serta konflik agraria yang bersumber dari pemberian konsesi tambang dan penguasaan sumber daya alam oleh segelintir elit dan organisasi. Fenomena ini kerap dibingkai sebagai persoalan teknis tata kelola lingkungan atau kegagalan mitigasi bencana. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, akar masalahnya bukan semata terletak pada aspek teknis pengelolaan sumber daya, melainkan pada hilangnya musyawarah substantif dalam proses pengambilan keputusan public yaitu tentang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, jujur, berbasis ilmu, dan berpihak pada kemaslahatan. Senyatanya musyawarah merupakan ibadah sosial di tengah krisis ekologis dan hegemoni elit.

    Kebijakan yang menyangkut ruang hidup—hutan, sungai, tanah, dan energi—lebih sering ditentukan secara elitis, tertutup, dan berbasis kalkulasi risiko ekonomi serta peluang penguasaan sumber daya. Orientasi kemaslahatan masyarakat yang terdampak justru menjadi variabel sekunder. Dalam situasi ini, musyawarah direduksi menjadi formalitas administratif atau sekadar sosialisasi kebijakan yang telah diputuskan sebelumnya. Padahal, bagi masyarakat yang hidup di sekitar hutan, sungai, dan wilayah tambang, keputusan tersebut menyentuh langsung keberlangsungan hidup mereka.

Kondisi ini mencerminkan pengingkaran terhadap prinsip dasar kepemimpinan dan pengelolaan ruang hidup. Pesan agama menegaskan bahwa urusan publik seharusnya diputuskan melalui musyawarah (QS. Ash-Shura: 38), sementara hadis Nabi SAW tentang kepemilikan bersama atas padang rumput, air, dan api menegaskan bahwa sumber daya strategis adalah milik bersama umat. Pesan normatif hadis ini jelas: sumber daya yang menyangkut hajat hidup orang banyak tidak boleh dikelola secara sepihak atau semata-mata berdasarkan logika keuntungan dan risiko ekonomi.


Ketika musyawarah diabaikan, yang terjadi adalah apa yang dalam teori modern disebut sebagai Tragedy of the Commons. Garrett Hardin menjelaskan bahwa sumber daya bersama akan rusak ketika dikuasai oleh aktor-aktor yang bertindak rasional demi kepentingan sempit tanpa kesepakatan kolektif. Banjir akibat deforestasi, konflik lahan, dan degradasi lingkungan adalah manifestasi nyata dari tragedi tersebut. Agama mengajarkan, melalui prinsip amanah dan larangan menimbulkan mudarat (lā ḍarar wa lā ḍirār), telah lama mengingatkan bahwa eksploitasi ruang hidup tanpa pertimbangan kemaslahatan adalah bentuk kezaliman struktural.

Dari sudut pandang teori politik kontemporer, pengabaian musyawarah juga berarti menanggalkan legitimasi moral kebijakan. Habermas menekankan bahwa keputusan publik hanya sah ketika lahir dari proses deliberatif yang inklusif ( musyawarah mufakat ), di mana suara masyarakat terdampak menjadi bagian dari diskursus rasional. Tanpa itu, kebijakan berubah menjadi instrumen dominasi elit. Dalam konteks ini, kegagalan negara bukan terletak pada keberadaan izin atau institusi, tetapi pada absennya ruang deliberasi yang sungguh-sungguh.

Lebih jauh, krisis ekologis nasional ini juga menunjukkan krisis amanah kepemimpinan, yang menempatkan pemimpin sebagai pelayan kepentingan public ( Khodimul ‘ummah). Ketika kebijakan sumber daya alam lebih berpihak pada kepentingan konsesi daripada kemaslahatan masyarakat, maka yang runtuh bukan hanya lingkungan, tetapi juga kepercayaan publik. Yaitu menghidupkan kembali musyawarah dalam pengambilan keputusan atas ruang hidup harus dipahami sebagai ibadah sosial  yang paling nyata. Ia bukan sekadar mekanisme demokratis, melainkan tindakan etis untuk menjaga kehidupan bersama. Tanpa musyawarah, “ niatan memaslahatkan ummat “ akan kehilangan ruh keadilan; tanpa keadilan, ruang hidup berubah menjadi sumber bencana.

 

Lereme Roso, Ketika Kanvas Menyanyi dan Kata Menjadi Cahaya

Banyuwangi (Warta Blambangan) Gedung Juang 45 kembali berdenyut oleh warna, bunyi, dan kata. Pada hari keempat pameran lukisan Lereme Roso, Kamis (25/12/2025), ruang sejarah itu diisi pagelaran musik dan puisi yang menyatukan perupa, penyair, dan pemusik dalam satu tarikan rasa. Sejak pagi hingga malam, pengunjung terus berdatangan, seolah enggan melewatkan percakapan sunyi antara kanvas dan suara.

Pada malam hari, panggung sastra-musik menghadirkan sejumlah tokoh, antara lain Elvin Hendrata, KRT Ilham Triadi, dan Aekanu Hariyono. Suasana memuncak ketika N. Kojin, ketua pelaksana kegiatan, membawakan puisi monolog berjudul Musyawarah Burung. Dengan iringan musik Taufik WR Hidayat dari Lesbumi dan Yons DD—penyanyi sekaligus pencipta lagu Osing—penonton terhenyak, larut dalam dialog simbolik yang bergerak antara bunyi dan makna.b


Sejumlah penyair turut membacakan karya mereka, di antaranya SAW Notodihardjo dari Muncar dan Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi yang membacakan puisi religi yang ditulis ketika di Makkah dengan diiringi musik yang dimainkan Taufik WR Hidayat dari Lesbumi dan Yon DD. Pramoe Soekarno juga tampil membacakan puisi dari antologi Yo Mung karya Samsudin Adlawi, mempertegas jembatan antara teks dan tafsir yang hidup di hadapan publik.

Pameran Lereme Roso menjadi ruang kolaborasi para penyair dan perupa—tempat lukisan, puisi, dan musik saling menyapa—dan akan berlangsung hingga 28 Desember 2025. Di Gedung Juang 45, seni tidak sekadar dipamerkan, tetapi dirayakan sebagai peristiwa bersama.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger