Ketika Kanvas Perempuan Jatuh Cinta pada Waktu
Di Gedung Juang, waktu tidak lagi berani berlari. Ia seperti
seseorang yang tiba-tiba jatuh cinta pada kesunyian, lalu sadar bahwa tergesa
hanya akan melukai perasaan. Maka ia memilih duduk, menautkan jemarinya pada
detak jantung manusia, mendengarkan napas yang naik-turun dengan sabar, lalu
berzikir pelan. Setiap detiknya melambat, mengendap, seperti embun yang menahan
diri agar tidak segera jatuh dari daun—takut jika terlalu cepat, ia hanya akan
menghilang tanpa sempat dikenang. Waktu tahu, ada momen-momen yang hanya bisa
dipahami oleh hati yang bersedia tinggal, bukan oleh kaki yang sibuk berlari.
Dinding-dinding tua yang pernah menyimpan letih
sejarah—teriakan yang patah di udara, doa-doa yang dilangitkan dengan tangan
gemetar, dan kesunyian orang-orang yang telah pergi—kini berdiri sebagai saksi
bisu erosi yang lembut. Bukan erosi tanah semata, melainkan kikisan yang lebih
halus dan lebih perih: perasaan yang perlahan tumpul, keyakinan yang digerogoti
keraguan, kesabaran yang aus oleh dunia yang menuntut segalanya serba cepat.
Gedung itu tidak menghakimi siapa pun. Ia hanya menampung, seperti dada seorang
ibu yang membiarkan anaknya menangis sampai lelah, percaya bahwa air mata pun
punya hak untuk selesai dengan sendirinya.
Di antara garis-garis yang saling menyapa dan warna-warna
yang berbisik, para perupa perempuan hadir seperti kekasih yang mencintai tanpa
syarat. Mereka tidak menuntut balasan, tidak memaksa untuk dipahami sepenuhnya.
Mereka datang membawa sunyi yang hangat, seperti bahu yang siap disandari, doa
yang tidak memaksa langit segera menjawab. Ada keteguhan dalam cara mereka
berdiri di hadapan kanvas—keteguhan orang-orang yang telah lama mengerti bahwa
cinta sejati tidak perlu banyak pembuktian, cukup kesediaan untuk bertahan.
Tidak ada teriakan, tidak ada pamer keberanian yang gemar
mencari tepuk tangan. Yang ada hanya kesabaran—sejenis kesetiaan yang sering
disalahpahami sebagai kelemahan. Padahal justru dari sanalah daya mereka
bekerja. Seperti air yang terus mengalir tanpa perlu mengumumkan dirinya
sebagai sungai, mereka mengikat mata dan hati tanpa paksaan. Kita berhenti di
depan karya-karya itu bukan karena disuruh, melainkan karena merasa dipanggil,
seperti seseorang yang tiba-tiba menoleh ketika namanya disebut dengan lembut.
Inama berdiri di antara kanvas-kanvasnya seperti seseorang
yang telah lama berdamai dengan dirinya sendiri. Wajahnya tenang, matanya
jernih, seolah tidak sedang menunggu pengakuan apa pun dari luar. Ia tidak
menulis dengan kata, melainkan dengan rasa. Setiap sapuan warna adalah kalimat
yang sengaja dibiarkan tidak selesai, memberi ruang bagi siapa pun untuk
melanjutkan maknanya sendiri. Karyanya mengalir dalam dan setia, seperti sungai
yang tahu bahwa perjalanan panjang—dengan belokan, rintangan, dan kelelahan—selalu
lebih bermakna daripada muara yang cepat. Ia tidak memohon untuk dipahami. Ia
hanya membuka pintu, membiarkannya setengah terbuka, dan percaya bahwa siapa
pun yang masuk adalah mereka yang memang siap tinggal. Dalam sikap itu, seni
berubah menjadi peristiwa romantis: perjumpaan dua keheningan yang saling
mengakui keberadaan satu sama lain. Tidak ada dominasi, tidak ada
penaklukan—hanya kesediaan untuk mendengarkan tanpa menyela, mencintai tanpa
ingin memiliki.
Di dunia seni rupa yang kerap gaduh oleh ego, konsep, dan
ambisi untuk segera dikenang, sikap semacam ini terasa seperti cinta lama yang
tak lekang oleh waktu. Kejujuran selalu lahir dari keheningan, dan keheningan
adalah ruang paling intim antara manusia dan Yang Maha Ada. Di sanalah seni berlutut—bukan
untuk menyerah, tetapi untuk setia. Setia pada proses yang panjang, pada luka
yang tidak selalu bisa disembuhkan, pada kemungkinan-kemungkinan kecil yang
sering diabaikan karena dianggap tidak spektakuler. Pelukis-pelukis perempuan
lain yang kembali hadir di Banyuwangi tampak seperti pasangan setia yang terus
pulang ke rumah yang sama. Mereka mengenal sudut-sudutnya, memahami bunyi
lantainya ketika diinjak pelan, dan tidak pernah bosan pada aroma kenangan yang
tinggal di udara. Mereka tidak mengejar sorak, tidak mabuk pujian. Kehadiran
mereka lebih mirip janji yang ditepati dengan diam-diam, bukan ambisi yang
dikejar dengan tergesa.
Aliran dekoratif naif yang mereka rawat sering disalahpahami
sebagai kekurangan, seolah kesederhanaan adalah tanda ketertinggalan. Padahal
justru di situlah kecerdasan cinta bekerja: memilih jujur di tengah dunia yang
gemar berlebih-lebihan. Kepolosan mereka bukan ketidaktahuan, melainkan
keberanian untuk tidak bersembunyi di balik kerumitan palsu. Seperti cinta pertama—ia
mungkin tampak sederhana, bahkan kikuk, tetapi justru karena itulah ia
meninggalkan jejak paling lama.
Di antara para perupa yang telah matang, Praya Mitha hadir
seperti pertemuan pertama yang canggung sekaligus menggetarkan. Langkahnya
masih ragu, tetapi matanya bercahaya—cahaya orang yang belum lelah berharap,
belum terlalu sering kecewa. Ini pameran pertamanya, dan rasa terima kasih yang
ia ucapkan bukan sekadar formalitas. Ada getar tulus di sana, seperti seseorang
yang baru saja diterima apa adanya, tanpa syarat dan tanpa penilaian
berlebihan. Ia tidak datang untuk menaklukkan siapa pun. Ia datang untuk
belajar mencintai proses, mencintai waktu, mencintai kemungkinan gagal yang
selalu mengintai di setiap langkah awal. Banyuwangi menyambutnya dengan pelukan
hangat, seperti kota yang tahu bahwa awal selalu rapuh dan karena itu harus
dirawat, bukan diuji terlalu keras.
Sejarah seni rupa dunia pun telah lama jatuh cinta pada cara
perempuan mencipta. Frida Kahlo melukis luka seperti menulis surat cinta kepada
hidup yang keras—jujur, menyakitkan, dan tak bisa ditarik kembali. Georgia
O’Keeffe membuat bunga-bunga mekar sebagai doa yang tak pernah layu, seolah
keindahan adalah bentuk lain dari iman. Yayoi Kusama mengulang titik-titiknya
seperti menyebut nama kekasih dalam tasbih yang panjang, sementara Louise
Bourgeois menjahit trauma menjadi pengakuan paling intim tentang takut dan
harap. Dari mereka kita belajar: bahwa seni perempuan tidak lahir dari
keinginan menaklukkan, melainkan dari kebutuhan untuk bertahan dan tetap
mencintai.
Pameran Lereme Roso—yang digelar dalam peringatan
Hari Jadi Banyuwangi—akhirnya bukan hanya tentang erosi tanah atau nilai yang
memudar. Ia adalah kisah cinta yang pelan dan panjang: tentang
perempuan-perempuan yang mengikis batas dengan kesetiaan. Batas antara
pinggiran dan pusat, antara diam dan suara, antara yang diremehkan dan yang
diagungkan. Semua itu didekati bukan dengan benturan, melainkan dengan
kesabaran.
Indonesia, dengan deretan pelukis perempuannya—dari Emiria
Soenassa hingga Christine Ay Tjoe—menunjukkan bahwa cinta pada seni bukanlah
letupan sesaat, melainkan perjalanan panjang yang ditempuh dengan napas yang
teratur dan hati yang tabah. Ia tidak tumbuh dari ambisi untuk segera dikenang,
tetapi dari kesediaan untuk terus berjalan meski jalan sering sepi dan sunyi.
Para perempuan itu melukis bukan sekadar untuk dilihat, melainkan untuk
bertahan, untuk menjaga agar api di dalam dada tidak padam oleh waktu yang
kerap abai.
Emiria Soenassa, pada zamannya, melangkah seperti perempuan yang berjalan sendirian di jalan panjang tanpa penunjuk arah. Ia melukis ketika ruang bagi perempuan masih sempit, ketika keberanian sering disalahartikan sebagai pembangkangan. Namun ia tetap setia, seperti seseorang yang mencintai dalam diam. Sementara Christine Ay Tjoe, di masa yang berbeda, mengolah kegelisahan batin menjadi bahasa abstraksi yang mendunia—tanpa kehilangan akar, tanpa meninggalkan luka yang pernah membentuknya. Di antara keduanya, terbentang benang panjang kesetiaan: generasi demi generasi perempuan yang memilih seni bukan karena mudah, melainkan karena tak ada pilihan lain selain mencintainya.
Cinta pada seni, bagi mereka, tidak selalu berakhir pada
sorotan lampu galeri atau tepuk tangan yang panjang. Sering kali ia justru
hidup dalam ruang-ruang kecil: di studio yang sunyi, di malam yang sepi, di
hadapan kanvas yang menunggu dengan sabar. Namun justru di situlah seni
menemukan rumahnya. Ia menetap di hati mereka yang mau tinggal lebih lama, yang
bersedia menunggu tanpa kepastian, yang mencintai tanpa tergesa dan tanpa
syarat. Seperti cinta yang dewasa, seni perempuan Indonesia tumbuh bukan untuk
membuktikan apa pun, melainkan untuk setia—pada proses, pada luka, dan pada
harapan yang terus dipelihara meski dunia berubah terlalu cepat.
Di Gedung Juang itu, seni rupa tidak sedang memamerkan
kemenangan. Ia sedang merawat hubungan—antara manusia dan rasa, antara luka dan
harapan, antara waktu dan kesabaran. Dan barangkali, di situlah seni menemukan
makna romantisnya yang paling jujur:
bukan untuk menaklukkan dunia, melainkan untuk mencintainya, pelan-pelan, sepenuh
hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jaga kesopanan dalam komentar