Pages

Home » » Ketika Kanvas Perempuan Jatuh Cinta pada Waktu

Ketika Kanvas Perempuan Jatuh Cinta pada Waktu

 Ketika Kanvas Perempuan Jatuh Cinta pada Waktu

Di Gedung Juang, waktu tidak lagi berani berlari. Ia seperti seseorang yang tiba-tiba jatuh cinta pada kesunyian, lalu sadar bahwa tergesa hanya akan melukai perasaan. Maka ia memilih duduk, menautkan jemarinya pada detak jantung manusia, mendengarkan napas yang naik-turun dengan sabar, lalu berzikir pelan. Setiap detiknya melambat, mengendap, seperti embun yang menahan diri agar tidak segera jatuh dari daun—takut jika terlalu cepat, ia hanya akan menghilang tanpa sempat dikenang. Waktu tahu, ada momen-momen yang hanya bisa dipahami oleh hati yang bersedia tinggal, bukan oleh kaki yang sibuk berlari.

Dinding-dinding tua yang pernah menyimpan letih sejarah—teriakan yang patah di udara, doa-doa yang dilangitkan dengan tangan gemetar, dan kesunyian orang-orang yang telah pergi—kini berdiri sebagai saksi bisu erosi yang lembut. Bukan erosi tanah semata, melainkan kikisan yang lebih halus dan lebih perih: perasaan yang perlahan tumpul, keyakinan yang digerogoti keraguan, kesabaran yang aus oleh dunia yang menuntut segalanya serba cepat. Gedung itu tidak menghakimi siapa pun. Ia hanya menampung, seperti dada seorang ibu yang membiarkan anaknya menangis sampai lelah, percaya bahwa air mata pun punya hak untuk selesai dengan sendirinya.

Di antara garis-garis yang saling menyapa dan warna-warna yang berbisik, para perupa perempuan hadir seperti kekasih yang mencintai tanpa syarat. Mereka tidak menuntut balasan, tidak memaksa untuk dipahami sepenuhnya. Mereka datang membawa sunyi yang hangat, seperti bahu yang siap disandari, doa yang tidak memaksa langit segera menjawab. Ada keteguhan dalam cara mereka berdiri di hadapan kanvas—keteguhan orang-orang yang telah lama mengerti bahwa cinta sejati tidak perlu banyak pembuktian, cukup kesediaan untuk bertahan.

Tidak ada teriakan, tidak ada pamer keberanian yang gemar mencari tepuk tangan. Yang ada hanya kesabaran—sejenis kesetiaan yang sering disalahpahami sebagai kelemahan. Padahal justru dari sanalah daya mereka bekerja. Seperti air yang terus mengalir tanpa perlu mengumumkan dirinya sebagai sungai, mereka mengikat mata dan hati tanpa paksaan. Kita berhenti di depan karya-karya itu bukan karena disuruh, melainkan karena merasa dipanggil, seperti seseorang yang tiba-tiba menoleh ketika namanya disebut dengan lembut.

Inama berdiri di antara kanvas-kanvasnya seperti seseorang yang telah lama berdamai dengan dirinya sendiri. Wajahnya tenang, matanya jernih, seolah tidak sedang menunggu pengakuan apa pun dari luar. Ia tidak menulis dengan kata, melainkan dengan rasa. Setiap sapuan warna adalah kalimat yang sengaja dibiarkan tidak selesai, memberi ruang bagi siapa pun untuk melanjutkan maknanya sendiri. Karyanya mengalir dalam dan setia, seperti sungai yang tahu bahwa perjalanan panjang—dengan belokan, rintangan, dan kelelahan—selalu lebih bermakna daripada muara yang cepat. Ia tidak memohon untuk dipahami. Ia hanya membuka pintu, membiarkannya setengah terbuka, dan percaya bahwa siapa pun yang masuk adalah mereka yang memang siap tinggal. Dalam sikap itu, seni berubah menjadi peristiwa romantis: perjumpaan dua keheningan yang saling mengakui keberadaan satu sama lain. Tidak ada dominasi, tidak ada penaklukan—hanya kesediaan untuk mendengarkan tanpa menyela, mencintai tanpa ingin memiliki.

Di dunia seni rupa yang kerap gaduh oleh ego, konsep, dan ambisi untuk segera dikenang, sikap semacam ini terasa seperti cinta lama yang tak lekang oleh waktu. Kejujuran selalu lahir dari keheningan, dan keheningan adalah ruang paling intim antara manusia dan Yang Maha Ada. Di sanalah seni berlutut—bukan untuk menyerah, tetapi untuk setia. Setia pada proses yang panjang, pada luka yang tidak selalu bisa disembuhkan, pada kemungkinan-kemungkinan kecil yang sering diabaikan karena dianggap tidak spektakuler. Pelukis-pelukis perempuan lain yang kembali hadir di Banyuwangi tampak seperti pasangan setia yang terus pulang ke rumah yang sama. Mereka mengenal sudut-sudutnya, memahami bunyi lantainya ketika diinjak pelan, dan tidak pernah bosan pada aroma kenangan yang tinggal di udara. Mereka tidak mengejar sorak, tidak mabuk pujian. Kehadiran mereka lebih mirip janji yang ditepati dengan diam-diam, bukan ambisi yang dikejar dengan tergesa.

Aliran dekoratif naif yang mereka rawat sering disalahpahami sebagai kekurangan, seolah kesederhanaan adalah tanda ketertinggalan. Padahal justru di situlah kecerdasan cinta bekerja: memilih jujur di tengah dunia yang gemar berlebih-lebihan. Kepolosan mereka bukan ketidaktahuan, melainkan keberanian untuk tidak bersembunyi di balik kerumitan palsu. Seperti cinta pertama—ia mungkin tampak sederhana, bahkan kikuk, tetapi justru karena itulah ia meninggalkan jejak paling lama.

Di antara para perupa yang telah matang, Praya Mitha hadir seperti pertemuan pertama yang canggung sekaligus menggetarkan. Langkahnya masih ragu, tetapi matanya bercahaya—cahaya orang yang belum lelah berharap, belum terlalu sering kecewa. Ini pameran pertamanya, dan rasa terima kasih yang ia ucapkan bukan sekadar formalitas. Ada getar tulus di sana, seperti seseorang yang baru saja diterima apa adanya, tanpa syarat dan tanpa penilaian berlebihan. Ia tidak datang untuk menaklukkan siapa pun. Ia datang untuk belajar mencintai proses, mencintai waktu, mencintai kemungkinan gagal yang selalu mengintai di setiap langkah awal. Banyuwangi menyambutnya dengan pelukan hangat, seperti kota yang tahu bahwa awal selalu rapuh dan karena itu harus dirawat, bukan diuji terlalu keras.

Sejarah seni rupa dunia pun telah lama jatuh cinta pada cara perempuan mencipta. Frida Kahlo melukis luka seperti menulis surat cinta kepada hidup yang keras—jujur, menyakitkan, dan tak bisa ditarik kembali. Georgia O’Keeffe membuat bunga-bunga mekar sebagai doa yang tak pernah layu, seolah keindahan adalah bentuk lain dari iman. Yayoi Kusama mengulang titik-titiknya seperti menyebut nama kekasih dalam tasbih yang panjang, sementara Louise Bourgeois menjahit trauma menjadi pengakuan paling intim tentang takut dan harap. Dari mereka kita belajar: bahwa seni perempuan tidak lahir dari keinginan menaklukkan, melainkan dari kebutuhan untuk bertahan dan tetap mencintai.

Pameran Lereme Roso—yang digelar dalam peringatan Hari Jadi Banyuwangi—akhirnya bukan hanya tentang erosi tanah atau nilai yang memudar. Ia adalah kisah cinta yang pelan dan panjang: tentang perempuan-perempuan yang mengikis batas dengan kesetiaan. Batas antara pinggiran dan pusat, antara diam dan suara, antara yang diremehkan dan yang diagungkan. Semua itu didekati bukan dengan benturan, melainkan dengan kesabaran. 

Indonesia, dengan deretan pelukis perempuannya—dari Emiria Soenassa hingga Christine Ay Tjoe—menunjukkan bahwa cinta pada seni bukanlah letupan sesaat, melainkan perjalanan panjang yang ditempuh dengan napas yang teratur dan hati yang tabah. Ia tidak tumbuh dari ambisi untuk segera dikenang, tetapi dari kesediaan untuk terus berjalan meski jalan sering sepi dan sunyi. Para perempuan itu melukis bukan sekadar untuk dilihat, melainkan untuk bertahan, untuk menjaga agar api di dalam dada tidak padam oleh waktu yang kerap abai.

Emiria Soenassa, pada zamannya, melangkah seperti perempuan yang berjalan sendirian di jalan panjang tanpa penunjuk arah. Ia melukis ketika ruang bagi perempuan masih sempit, ketika keberanian sering disalahartikan sebagai pembangkangan. Namun ia tetap setia, seperti seseorang yang mencintai dalam diam. Sementara Christine Ay Tjoe, di masa yang berbeda, mengolah kegelisahan batin menjadi bahasa abstraksi yang mendunia—tanpa kehilangan akar, tanpa meninggalkan luka yang pernah membentuknya. Di antara keduanya, terbentang benang panjang kesetiaan: generasi demi generasi perempuan yang memilih seni bukan karena mudah, melainkan karena tak ada pilihan lain selain mencintainya.


Cinta pada seni, bagi mereka, tidak selalu berakhir pada sorotan lampu galeri atau tepuk tangan yang panjang. Sering kali ia justru hidup dalam ruang-ruang kecil: di studio yang sunyi, di malam yang sepi, di hadapan kanvas yang menunggu dengan sabar. Namun justru di situlah seni menemukan rumahnya. Ia menetap di hati mereka yang mau tinggal lebih lama, yang bersedia menunggu tanpa kepastian, yang mencintai tanpa tergesa dan tanpa syarat. Seperti cinta yang dewasa, seni perempuan Indonesia tumbuh bukan untuk membuktikan apa pun, melainkan untuk setia—pada proses, pada luka, dan pada harapan yang terus dipelihara meski dunia berubah terlalu cepat.

Di Gedung Juang itu, seni rupa tidak sedang memamerkan kemenangan. Ia sedang merawat hubungan—antara manusia dan rasa, antara luka dan harapan, antara waktu dan kesabaran. Dan barangkali, di situlah seni menemukan makna romantisnya yang paling jujur:
bukan untuk menaklukkan dunia, melainkan untuk mencintainya, pelan-pelan, sepenuh hati.

Syafaat ; Lentera Sastra Banyuwangi.

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Creating Website

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jaga kesopanan dalam komentar

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger