Pages

Suara Kecil dari Cluring yang Menggema di Jember

 *Suara Kecil dari Cluring yang Menggema di Jember*


Malam itu, dari sebuah grup WhatsApp yang sunyi dan biasanya hanya dipenuhi puisi dan ulasan sastra, tiba-tiba muncul kabar yang membuat saya menghentikan sejenak langkah kaki menuju dapur. Kabar itu datang dari Mas Punjul Ismuwardoyo, budayawan berambut gondrong dari Tegaldlimo, yang juga takmir masjid dan pengasuh sanggar seni bernama Alang-alang Kumitir. Ia mengabarkan bahwa seorang anak perempuan dari Cluring berhasil menyabet juara dua lomba pidato dai cilik tingkat provinsi Jawa Timur. (7-9/06/2025)

Namanya Naufalyn Mughny Shaliha. Panjang dan lembut. Nama itu seperti potongan ayat yang terselip di antara helaian sajadah tua di musholla belakang rumah. Ia siswa MI Nahdlotus Shibyan, Desa Tamanagung, Cluring. Tempat yang tidak ada di peta-peta mewah hotel bintang lima, tapi ada dalam peta kecil para pejalan sunyi yang percaya bahwa suara seorang anak bisa lebih murni dari pidato pejabat mana pun.

Saya tidak mengenal Naufalyn. Tapi saya mengenal betul wajah-wajah semangat dari anak-anak madrasah. Wajah yang pucat tapi tekun. Wajah yang tahu bagaimana caranya menahan lapar sambil menghafal teks dakwah. Mereka sering kita anggap kecil. Tapi siapa sangka suara mereka bisa melompati pagar-pagar administratif, melompati nama-nama besar, dan menjatuhkan embun di hati juri.

Mas Muncul, dalam pesannya, menyebut bahwa suara anak ini sangat kuat. Mentalnya pun demikian. Seperti potongan besi yang ditempa doa ibu di dini hari. Tapi ia juga menyebut ada kekurangan. Teks yang dibacakan Naufalyn adalah hasil karya guru di madrasah. Ia menghafal. Bukan menyusun. Dan di sinilah, terkadang, letak masalah kita dalam menyiapkan anak-anak menuju mimbar lebih tinggi. Kita lebih rajin membentuk lidah mereka, tapi lupa mengasah isi kepala mereka.

Saya pernah duduk berdampingan dengan beberapa orang tua murid yang anak-anaknya masuk lomba pidato. Mereka selalu khawatir soal gaya. Tentang busana. Tentang intonasi. Tapi lupa bertanya: “Apa yang kamu pikirkan soal ceramahmu?” Anak-anak kita belum diberi ruang untuk berpikir. Mereka baru disuruh menghafal. Maka pantas saja jika pidato terasa seperti mendengar kaset lawas yang diputar ulang. Hanya ketika hati mereka yang berbicara, kita bisa mendengar kejujuran, bukan sekadar susunan kata yang manis.

Namun, Naufalyn berbeda. Setidaknya begitu kata Syafaat, salah satu Juri dari Lentera Sastra Banyuwangi. Katanya, anak ini adalah bahan mentah yang sangat potensial. Ia bukan marmer. Ia batu kali yang siap dipahat. Dan sungguh, seorang dai yang baik adalah batu yang belum terlalu halus. Ia harus kasar dahulu. Harus dilukai dahulu. Harus dihadapkan pada sorot lampu panggung, supaya kelak bisa bicara bukan hanya di mimbar musala, tapi di pelataran hati manusia. 


Saya membayangkan, setelah malam itu, Naufalyn pulang ke rumahnya yang sederhana. Mungkin disambut senyum malu ibunya. Mungkin bapaknya mengelus kepala dengan tangan yang juga biasa mengangkat karung. Tak ada confetti. Tak ada spanduk. Tapi di dalam dada mereka, ada rasa yang tak bisa digambarkan. Seperti selembar langit yang dipasang tepat di atas ranjang bambu.

Kemenangan ini, kata Mas Muncul, begitu tipis. Juara satu jatuh ke tuan rumah. Tapi siapa peduli? Kita sudah cukup sering belajar bahwa dalam lomba-lomba seperti ini, rumah adalah medan magnet yang bisa menarik perhatian juri. Kita juga tahu, juri, sekokoh apapun niatnya, kadang masih juga manusia. Dan manusia, seperti kita tahu, punya kelemahan di titik-titik tak terduga. Maka juara dua, dalam kondisi ini, terasa lebih sahih, lebih tulus, lebih jernih.

Sehari kemudian, saya mendengar kabar tambahan. Ada seorang kepala madrasah tsanawiyah negeri yang terkenal di Banyuwangi, menawarkan beasiswa penuh untuk Naufalyn. Saya tidak tahu siapa kepala madrasah ini. Tapi saya ingin menjabat tangannya. Karena di zaman ini, menawarkan beasiswa kepada anak kecil bukan hanya soal membentuk siswa, tapi soal menyiram benih mimpi yang hampir layu di ladang yang terlalu panas, tentu, beasiswa bukan jaminan bahwa Naufalyn kelak akan menjadi dai besar. Tapi setidaknya itu jembatan. Dan kadang, dalam hidup ini, jembatan lebih penting daripada istana.

Kita membutuhkan lebih banyak anak seperti Naufalyn. Anak-anak yang tidak takut berdiri di mimbar. Anak-anak yang bisa menatap ratusan pasang mata tanpa kehilangan akal sehatnya. Anak-anak yang bisa mengangkat tangan, bukan untuk menunjuk, tapi untuk menyapa. Anak-anak yang bisa mengubah ruang kelas menjadi panggung perubahan, bukan hanya ruang untuk mencatat pelajaran.

Saya membayangkan masa depan yang tenang. Di mana anak-anak seperti Naufalyn menjadi guru. Menjadi jurnalis. Menjadi pembaca puisi. Menjadi dai. Menjadi apa saja yang mereka cintai. Karena sejak kecil mereka telah belajar bahwa bicara bukan hanya perkara suara, tapi perkara keberanian. Dan keberanian, seperti kita tahu, adalah sumber dari hampir semua perubahan besar di dunia ini, kita mungkin lupa pidatonya. Kita mungkin tak ingat bait-bait yang diucapkannya malam itu. Tapi kita akan ingat bahwa pernah, dari sebuah desa kecil bernama Tamanagung, Cluring, ada suara kecil yang menggema sampai ke telinga-telinga orang dewasa di Jember. Dan itu cukup. Cukup untuk menyalakan lagi lilin di hati kita yang hampir padam.

Terima kasih, Naufalyn. Kau telah mengajari kami arti keberanian dalam bentuk paling sederhana: berdiri, bicara, dan percaya pada suaramu sendiri.

Kemenag Banyuwangi Gelar FGD Penguatan Early Warning System (EWS) Berdimensi Keagamaan untuk Mitigasi Konflik Sosial

Banyuwangi (Warta Blambangan);Dalam rangka meningkatkan kapasitas mitigasi konflik sosial berbasis komunitas, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penguatan Early Warning System (EWS) Berdimensi Keagamaan dalam Mencegah Potensi Konflik Sosial di Masyarakat”, pada Rabu (9/7/2025), bertempat di Meeting Room MAN 1 Banyuwangi.

Kegiatan ini bertujuan memperkuat integrasi antara pendekatan keagamaan dan sistem deteksi dini konflik (EWS), melalui penguatan kolaborasi multipihak, termasuk tokoh agama, lembaga keagamaan, serta unsur pemerintah daerah. FGD diselenggarakan secara partisipatif, dimoderatori oleh H. Syafaat, S.H., M.H.I., dengan format dialog terbuka dan pertukaran gagasan lintas sektoral. 

Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., menegaskan bahwa pengelolaan keberagaman di masyarakat memerlukan kedewasaan sosial serta ketahanan terhadap provokasi berbasis perbedaan. Ia menyampaikan bahwa terdapat lima indikator utama yang sering kali menjadi pemicu konflik, yaitu: (1) rasa superioritas kelompok; (2) ketidakadilan distribusi; (3) kerentanan sosial yang tinggi; (4) krisis kepercayaan antar kelompok; dan (5) perasaan tidak diberdayakan. 


“Konflik bukan semata akibat perbedaan, melainkan cara kita menyikapi perbedaan tersebut. Oleh karena itu, kedewasaan menjadi parameter penting dalam mencegah eskalasi konflik,” ujar Chaironi.

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, H. Mastur, S.Ag., M.Pd.I., menambahkan bahwa sistem EWS tidak cukup hanya bersifat administratif-formal, melainkan harus adaptif terhadap dinamika sosial yang berkembang di akar rumput. Menurutnya, penyusunan kebijakan berbasis EWS memerlukan keterlibatan langsung masyarakat serta pemangku kepentingan keagamaan untuk memastikan keberterimaan dan efektivitas implementasi.

Di sisi lain, Kasubbag Tata Usaha Kemenag Banyuwangi sekaligus anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Drs. H. Moh. Jali, M.Pd.I., dalam pemaparannya menyatakan bahwa pendekatan berbasis keagamaan merupakan instrumen strategis dalam meredam potensi konflik yang dibungkus oleh isu identitas. Ia menyebut bahwa konflik bernuansa agama kerap kali merupakan manifestasi dari konflik struktural lain, seperti perebutan sumber daya, dominasi politik, atau ketimpangan ekonomi.


“Keberhasilan mitigasi konflik bergantung pada sejauh mana tokoh agama mampu menjadi agen moderasi. Keteladanan dan legitimasi sosial para tokoh agama menjadi kunci,” terang Jali.

FGD ini turut menghadirkan peserta lintas organisasi keagamaan dan sosial di tingkat kabupaten, antara lain Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC-NU), Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Aisyiyah, Muslimat NU, Fatayat NU, Al-Irsyad, Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Penyuluh Agama Islam, serta para Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) di Kabupaten Banyuwangi.

Diharapkan, hasil forum ini dapat dirumuskan menjadi policy brief yang bersifat operasional, serta menjadi model kolaboratif dalam penguatan sistem peringatan dini berbasis nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal, untuk mencegah serta mereduksi eskalasi konflik sosial di tingkat komunitas.

Pildacil Madrasah Provinsi Jawa Timur : Anak yang Berbicara Seperti Langit

 Anak yang Berbicara Seperti Langit

Oleh: Juri Porseni Pildacil Kab. Banyuwangi

Malam itu saya mendengar kabar baik. Satu lagi anak Banyuwangi naik ke podium. Juara dua lomba pidato da’i cilik Porseni Madrasah ibtidaiyah tingkat provinsi Jawa Timur. Saya lupa namanya. Tapi saya ingat betul bagaimana naskah pidatonya dulu sempat saya tengok dan bantu sedikit memperhalus isinya. Ia putri kecil dari Madrasah Ibtidaiyah, entah dari kecamatan mana. Saya tidak hafal. Tapi saya tahu suaranya telah menyentuh langit.

Dalam hati saya menggumam: anak-anak seperti inilah yang kelak akan menjadi penyampai kebenaran. Mereka akan tumbuh, dan bila dunia tidak terlalu jahat padanya, mereka akan menyampaikan kebaikan kepada siapa saja yang masih sudi duduk dan mendengar. 


Saya bukan guru. Bukan pula pendidik. Anak itu bukan anak kandung saya, bukan murid saya, bahkan saya hanya sekali bertemu dengannya saat menjadi juri lomba. Tapi anehnya, saya merasa bangga seperti seorang ayah yang mendengar anaknya naik mimbar masjid besar dan disimak oleh ratusan orang. Perasaan ini datang begitu saja, seperti angin yang tahu kapan harus menyejukkan.

Saya beberapa kali menjadi juri dalam lomba semacam itu. Pildacil. Bahasa Indonesianya: pidato da’i cilik. Biasanya digelar di aula Kemenag atau aula madrasah yang kursinya masih dilapisi plastik. Dari pagi sampai zuhur, bahkan kadang melewati adzan asar. Pesertanya lebih dari lima puluh. Masing-masing kecamatan mengirimkan satu, kadang dua anak. Semuanya menghafal, pernah ada yang menangis ketika tidak juara. Sebagian berdiri dengan percaya diri seperti sudah pernah menjadi khatib Jumat di Masjid Istiqlal.

Sebagai juri, kami menilai dengan angka dan catatan. Tapi yang paling saya suka adalah bagian mencatat. Karena angka hanya mewakili hasil, sementara catatan menyimpan kemungkinan. Catatan itulah yang bisa menjadi bahan perbaikan. “Suara bagus, intonasi perlu diperhatikan.” Atau: “Isi menyentuh, perlu perbanyak contoh aktual.” Dan: “Coba dikurangi bagian meniru ustaz kondang, biar lebih alami.” Catatan itu semacam doa-doa kecil yang kita titipkan agar kelak ia menemukan jalannya sendiri dalam berdakwah.

Biasanya setelah seleksi kabupaten selesai, panitia akan kembali menghubungi kami, para juri. Bukan untuk memberi hadiah. Tapi untuk satu tugas tambahan yang tidak dibayar: membantu merevisi naskah pidato anak yang akan maju ke tingkat provinsi. Saya tidak keberatan. Bahkan saya menikmatinya.

Tentu saya tidak mengubah semua. Hanya menyisipkan kejujuran-kejujuran kecil. Menata ulang metafora. Membuang kalimat-kalimat yang terasa seperti hasil unduhan Google. Dan, yang terpenting, saya mencoba membayangkan anak itu membacakannya.

Saya bayangkan: bagaimana suaranya? Bagaimana sorot matanya? Seberapa tinggi badannya? Bagaimana dia mengangkat tangannya untuk menekankan kalimat “Wahai umat Islam yang saya cintai”? Kadang saya bertanya kepada guru pendampingnya: “Anak ini kalau sedih seperti apa wajahnya?” Karena dengan itu saya bisa menyisipkan rasa dalam tulisannya. Karena pidato bukan sekadar bacaan. Ia adalah perasaan yang dibentuk menjadi suara.

Dulu saya pernah menyusun naskah pidato untuk lomba remaja masjid tingkat kabupaten. Yang membacakannya anak SMA. Saya sendiri yang menyusun. Anak itu tidak menang. Tapi panitia memberi pengumuman khusus: naskah pidato terbaik tahun itu adalah yang dibawakan oleh anak kami. Saya hanya senyum. Rasanya seperti menang tapi tidak ikut lari.

Saya memang tidak jago berpidato. Saya lebih senang menyusun kata-kata di kertas, daripada menyampaikannya dengan suara. Saya percaya bahwa tidak semua yang bisa menulis harus bisa bicara. Dan tidak semua yang bisa bicara harus pandai menyusun kata. Kadang yang satu menulis dan yang lain menyuarakan. Dunia ini bisa lebih adil jika dua itu saling percaya dan tidak saling menuntut.

Anak-anak sekarang sering menyusun pidato dengan cara yang ajaib: menyalin dari internet. Saya tahu. Karena pernah saya temukan tiga peserta lomba yang membawa naskah pidato yang sama. Hanya nama madrasahnya yang diubah. Itu sebabnya saya tidak pernah mengambil bahan dari internet. Saya lebih percaya pada pengalaman, dan pada rasa.

Ketika saya menyusun naskah, saya membayangkan saya adalah anak itu. Saya menjadi lidahnya. Saya memakai pecinya. Saya berdiri di mimbar. Saya menatap hadirin. Dan saya tahu saya harus bicara dari hati.

Saya percaya, pidato yang bagus tidak harus panjang. Tapi harus menyentuh. Tidak harus berteriak-teriak. Tapi harus sampai. Anak-anak itu seperti air jernih. Bila naskahnya kotor, airnya keruh. Bila naskahnya jernih, airnya memantulkan cahaya langit.

Dan anak itu, si juara dua dari Banyuwangi itu, telah membuktikan bahwa cahaya bisa dipantulkan bahkan dari suara kecil seorang da’i cilik. Ia berdiri di podium provinsi. Membaca naskah yang ia hafalkan, yang sebagian saya bantu tulis. Ia menyuarakan sesuatu yang jauh lebih besar dari tubuhnya: iman.

Kelak, ia akan tumbuh. Suaranya mungkin akan berubah. Tapi saya berharap, yang tidak berubah adalah keyakinannya. Bahwa menyampaikan kebaikan bukan hanya tugas ustaz. Tapi tugas siapa pun yang percaya bahwa dunia bisa lebih baik bila satu suara kecil mau bicara dari hati.

Saya tidak tahu apakah ia akan menjadi da’i internasional. Tapi saya tahu, setiap kali anak-anak naik ke mimbar dengan suara gemetar dan mata berbinar, dunia sedang didoakan dengan cara yang paling jujur.

Dan untuk itu, saya ingin mengucapkan terima kasih pada semua guru yang dengan sabar menyusun, menyunting, dan mengajarkan naskah pidato. Karena lewat tangan kalian, anak-anak tidak hanya belajar berbicara. Tapi belajar merasakan kebenaran.

Karena pidato yang baik bukan hanya tentang bicara. Tapi tentang keberanian untuk percaya, bahwa suara sekecil apapun bisa mengubah dunia.

Dafitha Nizza Anindia Jasmine. juara Baca Puisi Porseni Jawa Timur

Pembaca Puisi. Kemenangan yang Tidak Saya Miliki
oleh : Yang Pernah Jadi Juri Ketika Seleksi di Kecamatan 

Sore ini, seperti sore-sore lain yang tenang dan malas, saya mendapat kabar dari grup WhatsApp. Kabar itu sederhana: seorang anak dari MI Autharussalaf, Suko, Gombengsari, Kalipuro, Banyuwangi, menjadi juara baca puisi Porseni MI tingkat Provinsi Jawa Timur yang di laksanakan di Jember. Namanya Dafitha Nizza Anindia Jasmine.

Saya membaca kabar itu sambil diam. Tak ada yang menandai saya. Tak ada yang menyebut saya. Dan sebetulnya tidak ada alasan saya merasa punya hubungan apa-apa dengan kemenangan itu. Saya bukan gurunya. Bukan pelatihnya. Bahkan bukan panitia, bukan pula bagian dari sekolahnya. Tapi entah kenapa, hati saya ikut berbunga. 

Mungkin karena saya pernah bertemu dengan anak ini. Waktu itu saya diminta menjadi juri lomba baca puisi tingkat kecamatan. Sudah tiga kali saya jadi juri kegiatan Porseni di Kabupaten Banyuwangi. Tapi biasanya di tingkat kabupaten. Kali ini, saya diminta juga di tingkat kecamatan. Kami hanya berdua menjadi juri, tanpa juri penengah. Tapi tidak masalah, sebab kami berdua punya akar yang sama: kami tumbuh di tanah yang bernama Sastra, di Lentera Sastra Banyuwangi dan di Dewan Kesenian Blambangan.


Saya masih ingat suaranya. Tidak terlalu besar, tapi jernih. Tidak terlalu dibuat-buat, tapi menyentuh. Ia tidak menampilkan puisi. Ia menyampaikan puisi. Dan itu perbedaan yang sangat penting. Puisi, sebagaimana doa, bukan pertunjukan. Puisi adalah ziarah batin.

Kami berdua, saya dan juri satunya, sepakat bahwa anak ini punya potensi yang besar. Artikulasi jelas. Ekspresi pas. Tidak berlebihan. Tidak terjebak gaya lama deklamasi zaman lampau. Ada ketulusan dalam caranya membaca, seperti seseorang yang tidak sedang berusaha memenangkan lomba, melainkan sedang berusaha memahami hidup, saya memberikan beberapa saran kepadanya untuk perbaikan bacaan yang biasanya saya tulis di kolom keterangan nilai, dan biasanya para guru melihat catatan saya tersebut untuk latihan berikutnya.

Beberapa saat setelah lomba, saya tanya ke gurunya, siapa yang mengajari? Ternyata gurunya sendiri. Dan guru itu, kata guru lain, adalah murid dari teman saya yang jadi juri.. Teman saya itu dulu juga juara lomba baca puisi tingkat kabupaten. Saya juga pernah jadi juara tapi sudah cukup lama, sewaktu di MI juga pernah ikut Porsen, tetapi tidak juara. Dan begitulah waktu menciptakan lingkaran: yang dulu dinilai kini menjadi pelatih, yang dulu belajar kini mengajar, yang dulu membaca kini mendengar.

Saya pernah pula diminta membantu anak lain. Dikirimkan video pembacaannya. Dari awal saya tahu ini akan sulit. Bukan karena anaknya kurang bagus, tapi karena anak ini sudah terlalu lama belajar pada orang yang salah. Ia jadi tiruan. Ia jadi cermin retak dari pelatihnya. Bukan menjadi dirinya sendiri, terapi duplikasi dari pelatihnya.

Saya menyarankan ganti puisi. Tapi waktunya mepet. Hanya seminggu sebelum lomba. Dan orang tuanya berat hati. Saya mengerti. Tapi begitulah nasib puisi di tangan mereka yang ingin membacanya saja..

Membaca puisi, bagi saya, sama seperti berpidato, bercerita, atau berceramah. Ini semua adalah bagian dari seni berbicara. Seni menyampaikan makna. Dan kalau seseorang membaca puisi tetapi yang mendengar tidak paham apa-apa, maka sesungguhnya ia telah gagal membaca.bKita sering terjebak dalam gaya. Dalam pantomim. Dalam drama suara. Padahal suara manusia yang paling menyentuh adalah suara yang datang dari dalam, bukan dari latihan teknik panggung.

Saya senang, Dafitha tidak seperti itu. Ia membawa puisinya seperti seorang anak membawa kendi berisi air ke masjid. Hati-hati. Tidak tumpah. Tidak sombong. Tapi cukup untuk membuat orang lain bersuci. Dan ia menang.

Menang di tingkat provinsi. Di Jember. Di hadapan juri yang tidak ia kenal. Di panggung yang jauh dari rumahnya. Seni memang bukan lomba lari. Tidak ada garis akhir yang bisa diukur dengan stopwatch. Tidak ada garis jelas seperti siapa duluan masuk garis finis. Seni adalah wilayah yang cair. Bisa suka atau tidak suka. Bisa menang atau tidak tergantung selera juri.

Tapi bersyukurlah sekarang ada live streaming. Setidaknya, kita semua bisa menonton. Setidaknya, juri akan berpikir dua kali sebelum bermain-main. Setidaknya, semua menjadi lebih terbuka. Dan anak-anak bisa belajar, bahwa seni bukan hanya tentang menang, tapi tentang mempertanggungjawabkan cara mereka menang. Saya berharap di jenjang lebih tinggi dan yang lain nanti pun seni tetap disiarkan langsung. Agar seni tak lagi jadi ruang gelap yang penuh bisik-bisik. Tapi jadi ruang terang, di mana kejujuran tumbuh dan rasa hormat lahir.

Saya menulis ini bukan untuk mengklaim kemenangan Dafitha. Saya bukan bagian dari itu. Tapi saya menulis karena saya tahu: satu anak kecil membaca puisi dengan benar, bisa membuat dunia jadi lebih baik. Bisa membuat kita semua percaya bahwa kata-kata belum sepenuhnya kehilangan daya.

Dan di suatu sore, yang cahaya mataharinya mulai miring ke barat, saya membaca pesan WA, dan tahu: seorang anak dari Gombengsari sebuah kelurahan di lereng pegunungan, baru saja mengangkat puisi ke tempat yang lebih tinggi.

Ia membacanya bukan untuk tepuk tangan. Tapi untuk menyampaikan sesuatu kepada langit. Dan saya, di sini, hanya ingin mengatakan: saya bangga pernah mendengar suaranya. Suara anak yang bukan anak saya, tapi entah kenapa terasa begitu dekat di dada.

Banyuwangi, 08-07-2025

Ipuk Fiestiandani Kembali Dilantik Jadi Ketua Mabicab Pramuka Banyuwangi 2025–2030

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani kembali dilantik sebagai Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Mabicab) Gerakan Pramuka Banyuwangi masa bakti 2025–2030. Pelantikan dilakukan oleh Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur, Arum Sabil, di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Senin (7/7/2025). 


Selain Ipuk, sejumlah pejabat daerah juga masuk dalam jajaran Mabicab, di antaranya Dandim 0825 Banyuwangi, Kapolresta Banyuwangi, Danlanal Banyuwangi, Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Kepala Pengadilan Negeri Banyuwangi, dan Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi.

Pada kesempatan yang sama, turut dilantik pula Pengurus Kwartir Cabang Banyuwangi serta Lembaga Pemeriksa Keuangan (LPK) masa bakti 2025–2040.

Ketua Kwarda Jatim Arum Sabil mengapresiasi solidnya kolaborasi para pembina Pramuka di Banyuwangi yang dinilai turut berkontribusi besar dalam kemajuan daerah. Menurutnya, kolaborasi yang baik antara Mabicab dan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci utama perkembangan Pramuka yang berdampak pada kemajuan Banyuwangi.

“Kolaborasi Mabicab di Banyuwangi sangat baik hingga bisa mengantarkan daerah ini berkembang pesat,” ujar Arum.

Arum juga menekankan pentingnya peran strategis Gerakan Pramuka dalam membentuk karakter generasi muda menjelang masa bonus demografi Generasi Emas 2045. Ia menilai Pramuka merupakan jalur pendidikan non-formal yang sangat penting dalam membekali pemuda dengan keterampilan dan pengetahuan yang tidak diperoleh dari bangku sekolah.

“Anak-anak usia 15–25 tahun hari ini adalah calon pemimpin di tahun 2045. Maka mereka perlu disiapkan tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga karakter, kepemimpinan, dan kemandirian. Gerakan Pramuka bisa menjadi wadah itu,” tegasnya.

Sementara itu, Ipuk Fiestiandani sebagai Ketua Mabicab yang baru dilantik, menegaskan komitmennya untuk terus mendorong program-program strategis Gerakan Pramuka di Banyuwangi. Ia menyebutkan sejumlah rencana seperti pelatihan kepemimpinan berbasis teknologi, peningkatan kapasitas kewirausahaan, hingga kegiatan inovasi sosial.


“Kami juga akan memperkuat sinergi antara gugus depan di sekolah dan komunitas dengan berbagai stakeholder daerah, agar lahir pemuda-pemuda yang siap dalam pembangunan nasional di masa depan,” ujar Ipuk.


Gerakan Pramuka Banyuwangi dinilai telah menunjukkan geliat positif dengan berbagai program produktif yang menyentuh langsung masyarakat. Harapannya, peran serta seluruh elemen dalam kepengurusan baru akan makin memperkuat kontribusi Pramuka bagi pembangunan karakter dan kemajuan daerah. (*)

Jasa Raharja Verifikasi Data Korban KMP Tunu Pratama Jaya untuk Penyaluran Santunan

BANYUWANGI (Warta Blambangan) PT Jasa Raharja mulai melakukan verifikasi data korban meninggal dunia dalam insiden tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di perairan Selat Bali. Verifikasi ini menjadi syarat utama sebelum penyaluran santunan kepada ahli waris. 


Plt. Direktur Utama Jasa Raharja, Rubi Handojo, menegaskan bahwa santunan akan diberikan kepada seluruh korban yang memenuhi persyaratan administrasi. Salah satu dokumen penting adalah surat rekomendasi dari pihak berwenang seperti ASDP, pemerintah daerah, atau KSOP, yang menyatakan bahwa korban terdata secara resmi dalam kecelakaan laut tersebut.

“Surat itu harus menerangkan bahwa yang bersangkutan adalah korban meninggal dalam peristiwa tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya,” kata Rubi saat mendampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Minggu (6/7/2025).

Selain surat rekomendasi, pihak Jasa Raharja juga melakukan pencocokan data korban melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) untuk memastikan keabsahan hubungan keluarga yang menjadi dasar penyaluran santunan.

“Jika semua data telah cocok, santunan akan diberikan sebesar Rp50 juta per ahli waris korban meninggal dunia,” tambahnya.

Rubi juga menyampaikan bahwa Jasa Raharja akan menanggung biaya pengobatan korban selamat yang masih menjalani perawatan medis. “Kami menanggung biaya sesuai tagihan dari rumah sakit,” ujarnya.

Sementara itu, proses pencarian korban masih terus berlangsung. Pada hari keempat pencarian, Minggu (6/7/2025), tim SAR kembali menemukan satu jenazah pria dengan ciri-ciri mengenakan kaos oblong biru dan celana pendek cokelat. Tinggi tubuh korban diperkirakan sekitar 170 cm.

Tim SAR belum dapat memastikan apakah jenazah tersebut merupakan korban dari KMP Tunu Pratama Jaya, karena masih menunggu hasil identifikasi dari pihak berwenang.

Berdasarkan data manifest, kapal KMP Tunu Pratama Jaya membawa 65 orang saat tenggelam pada Rabu malam (2/7/2025). Hingga pencarian hari ketiga pada Sabtu (5/7/2025), tercatat 30 orang selamat, 6 meninggal dunia, dan 29 masih dalam pencarian.

(*)

Kebo-Keboan Alasmalang: Ketika Sawah Menjadi Panggung, dan Doa Menjelma Tanduk di Kepala

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Ritual Adat Kebo-Keboan yang digelar di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, kembali menyedot perhatian ribuan mata dan batin, Minggu, 6 Juli 2025. Tradisi yang lekat dengan doa para petani ini digelar tiap bulan Suro, sebagai warisan tak tertulis dari tanah yang tak pernah ingkar musim.

Desa menjadi gemuruh. Teriakan, tabuhan, bau dupa, dan tanah basah menjadi satu dalam peristiwa budaya yang makin matang dalam konsep dan penyajian. Warga dari berbagai dusun, bukan hanya dari Krajan seperti biasanya, kini bersatu sebagai pelaku, menjadikan ritual ini lebih guyup dan penuh semangat kolektif.


“Ini bukan hanya pertunjukan. Ini adalah syukur kami atas rezeki dari langit dan bumi, sekaligus doa agar panen mendatang tak dihantam hama dan bencana,” ujar Abdul Munir, Kepala Desa Alasmalang, sambil menyeka peluh yang menyatu dengan aroma dupa di udara.

Kebo-Keboan adalah laku spiritual yang ditampilkan dengan cara tubuh petani yang dirias menjadi kerbau. Mereka mengenakan tanduk, menggenggam bajak, lalu memainkan ulang seluruh rangkaian bercocok tanam: membajak, menanam, dan mengairi sawah, seolah tanah sedang dibaca ulang dengan bahasa tubuh dan niat.

Di sela ritus itu, muncul sosok Dewi Sri—diperankan oleh seorang perempuan muda berbalut kebaya hijau padi. Ia turun dari panggung bambu, melangkah pelan di antara para ‘kerbau’, membawa beras dan benih. Di tangannya, tumbuh-tumbuhan menjadi persembahan dan harapan. Saat ia mulai menaburkan bibit ke arah para petani, penonton bersorak dan terlibat dalam fragmen interaktif—sebuah pengejaran simbolik terhadap berkah.

“Penampilan tahun ini lebih tertata, lebih menyentuh,” ucap Yulia Saraswati, seorang wisatawan dari Jakarta yang hadir bersama anaknya. “Saya merasa ikut berdoa, ikut merasa menjadi bagian dari cerita.”

Ritual ini bukan hanya memanggil kenangan agraris masa lalu, tapi juga menampar realitas modern yang kerap lupa darimana makanan berasal. Sawah yang menjadi panggung Kebo-Keboan bukanlah properti seni, melainkan tanah sungguhan yang dilalui cangkul sehari-hari.

Pemerintah desa pun menyatakan komitmen kuat mendukung kelestarian tradisi ini. Bagi mereka, Kebo-Keboan bukan sekadar warisan. Ia adalah identitas, akar dari wajah Banyuwangi yang rukun dan spiritual.

“Kami ingin ritual ini tetap hidup. Tetap punya napas. Tetap punya ruang di hati anak-anak muda,” tutup Abdul Munir.

Dan sore itu, ketika mentari tergelincir dan debu kembali mengendap, para pelaku Kebo-Keboan kembali menjadi manusia. Tapi jejak tanduk yang tertinggal di tanah basah—itulah jejak doa yang tak pernah lenyap.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger