Pages

KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam di Selat Bali, Tim SAR Masih Lakukan Pencarian

BANYUWANGI, (Warta Blambangan) Kapal penyeberangan KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di perairan Selat Bali pada Rabu (2/7/2025) malam setelah dilaporkan mengalami kebocoran pada ruang mesin. Insiden yang terjadi sekitar pukul 23.25 WIB ini mengguncang jalur vital penyeberangan Jawa-Bali, dan hingga Kamis dini hari tim SAR masih melakukan pencarian korban. 


Kapal yang berangkat dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali itu sempat mengirim sinyal darurat pada pukul 22.17 WIB. Beberapa saat kemudian, komunikasi dengan kapal hilang. Lima menit menjelang pukul 23.30 WIB, kapal dinyatakan tenggelam.

Dalam laporan resmi dari Dermaga LCM Gilimanuk yang diterima Kamis dini hari, kronologi insiden mencatat bahwa kapal mengalami blackout total pada pukul 00.19 WITA. Tiga menit berselang, kapal lain milik perusahaan yang sama, KMP Tunu Pratama Jaya 3888, melaporkan bahwa kapal utama telah terbalik dan hanyut ke arah selatan.

Titik koordinat lokasi terakhir kapal tercatat di posisi -08°09.371′, 114°25.1569′.

Sejak insiden terjadi, tim gabungan yang terdiri atas personel Basarnas, Polairud, TNI AL, relawan, serta petugas ASDP dan pelabuhan dikerahkan ke lokasi untuk melakukan pencarian dan evakuasi. Beberapa kapal penyelamat terlihat bergerak cepat menyisir area tenggelamnya kapal.

"Situasi masih sangat dinamis. Kami fokus pada pencarian dan evakuasi. Segala perkembangan akan disampaikan setelah ada kepastian," ujar salah satu petugas SAR yang ditemui di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.

Puluhan anggota keluarga penumpang kapal kini berkumpul di Pelabuhan Ketapang dan Pantai Boom, Banyuwangi. Mereka menanti kabar dari tim penyelamat sambil menahan kecemasan. Beberapa di antaranya terlihat menangis dan memeluk kerabat.

Belum ada informasi resmi mengenai jumlah pasti penumpang maupun korban dalam kejadian ini. Proses pendataan dan verifikasi masih dilakukan pihak berwenang.

Penyeberangan Ketapang–Gilimanuk merupakan jalur laut tersibuk yang menghubungkan Jawa dan Bali. Insiden ini memunculkan kembali kekhawatiran tentang standar keselamatan pelayaran di jalur vital tersebut. Pemerintah daerah bersama otoritas pelabuhan diminta segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kelayakan kapal-kapal yang beroperasi.

“Perjalanan yang Selesai dengan Doa”

 

“Perjalanan yang Selesai dengan Doa”

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Berita itu datang seperti angin malam yang membuka jendela dengan pelan-pelan, tidak membanting, tidak juga tergesa. Hanya membuka dan membiarkan malam masuk. Lalu dari gelap itulah terdengar kabar:
Bapak H. Kajim Susanto telah berpulang ke Rahmatullah.

Saya sempat bertemu beliau di malam itu yang ramai. Hari pemberangkatan jemaah haji, di depan kantor Bupati Banyuwangi. Tenda putih berdiri, bintang bertabur terang, dan suara adzan dan doa terdengar dari pengeras suara yang kadang sumbang tapi tulus. Di antara ratusan wajah yang mengambang antara bahagia dan haru, saya melihat beliau dan istrinya, Ibu Istiadah. 


Beliau tak banyak bicara. Hanya menangkupkan tangan, tersenyum, dan berbisik lirih, "Mohon doanya."
Saya mengangguk, dan menjawab pelan, "Semoga mabrur."
Entah kenapa malam itu seperti melipat waktu. Rasanya baru kemarin.

Kematian memang tidak pernah benar-benar tiba-tiba. Ia selalu punya niat. Tapi kita seringkali mengabaikannya, atau menutup pintu rapat-rapat agar ia tak sempat masuk. Padahal ia bukan tamu. Ia tuan rumah. Kita hanya singgah.

Maka ketika saya mendengar bahwa beliau wafat setelah pulang dari Tanah Suci, saya tahu bahwa beliau sudah sampai. Bukan hanya di bandara Indonesia, tapi sampai di puncak dari seluruh perjalanan hidup yang pernah ia tempuh. Dari seorang guru, dari seorang ayah, dari seorang hamba.

Saya yakin, kematian ini bukan akhir. Ini pintu.
Pintu yang hanya dibuka oleh mereka yang sudah selesai dengan dunianya. Saya ingat betul, sebelum keberangkatan haji itu, kami dari Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi juga hadir ke rumah beliau. Sederhana. Ramah. Ada suguhan pisang goreng yang rasanya lebih banyak dari yang kami sanggup habiskan. Tapi yang paling saya ingat, adalah doa beliau yang tidak egois. 

“Semoga bukan cuma saya dan istri yang bisa ke sana,” katanya. “Semoga panjenengan semua juga bisa. Kita semua.”
Doa yang mengajak. Bukan doa yang membatasi.

Dan begitulah beliau. Tidak riuh. Tidak ingin dipuja. Tapi selalu hadir dengan benih yang pelan-pelan tumbuh menjadi kebaikan.
Beliau memang punya riwayat sakit. Tapi siapa yang tak punya? Bahkan orang paling sehat pun tidak pernah benar-benar tahu apakah paru-parunya masih mengembang sempurna atau hatinya sudah diam-diam retak. Tapi beliau berangkat haji. Dan menyelesaikannya.

Kita menyebutnya mabrur.
Kita menyebutnya perjalanan yang tak hanya kembali, tapi juga mengangkatnya ke derajat yang tak bisa dihitung dengan angka.

Ada orang-orang yang pergi meninggalkan dunia dalam keadaan bersembunyi dari kebaikan. Tapi ada juga yang pergi setelah menggenapkan ibadahnya. Setelah thawaf. Setelah sa’i. Setelah bermunajat. Setelah segala tetes air mata bercampur dengan debu tanah Mekkah yang kering tapi suci.

Kita tak bisa memilih kapan dan di mana akan mati. Tapi kita bisa memohon pada Tuhan agar di saat kematian datang, kita sedang dekat dengan-Nya. Sedang tidak sibuk dengan urusan dunia. Sedang tidak membawa dendam atau niat buruk.

Dan saya percaya, Bapak H. Kajim Susanto dipanggil pulang dalam keadaan paling baik:
Setelah haji. Setelah menuntaskan rukun-rukun cinta kepada Allah.
Setelah menabur senyum kepada istri, sahabat, dan murid-muridnya.
Setelah mengajari kita bahwa hidup bukan soal panjangnya, tapi soal keberkahannya.

Saya bayangkan, suatu sore di langit Madinah yang warnanya seperti madu yang dituangkan perlahan, beliau duduk di depan Masjid Nabawi. Tangannya bersedekap. Hatinya tenang. Ia melihat burung-burung terbang rendah di antara kubah masjid, dan tahu bahwa hidup ini indah.

Lalu malam tiba. Dan ada suara yang tidak terdengar oleh kita, tapi sangat jelas baginya:
"Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu, dengan ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku."

Dan beliau pulang. Senyap. Damai. Seperti seorang ayah yang tahu bahwa seluruh tanggung jawabnya sudah selesai.

Kita yang tinggal, hanya bisa menunduk. Mengamini.
Dan menyambung doa beliau yang terpotong oleh kematian:
Agar semua kita pun kelak menyusul dalam keadaan husnul khatimah.

Amin.
Selamat jalan, guru kami.
Semoga engkau kini sedang tersenyum di taman surga, mendengarkan ayat-ayat Alquran yang dibacakan para malaikat.
Dan semoga cinta yang kau tinggalkan menjadi pohon yang terus tumbuh di hati kami.


GM FKPPI Banyuwangi Pasang 15 Baliho Patriotik Dukung Polri Jelang Hari Bhayangkara ke-79

Banyuwangi (Warta Blambangan) Menjelang peringatan Hari Bhayangkara ke-79 yang jatuh pada 1 Juli 2025, Generasi Muda Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-POLRI (GM FKPPI) PC-1325 Banyuwangi menunjukkan dukungan dan apresiasi terhadap Kepolisian Republik Indonesia dengan memasang baliho dan billboard secara serentak di 15 titik strategis se-Kabupaten Banyuwangi, pada Senin malam (30/06/2025).


Baliho dan billboard tersebut bertema patriotik dan memuat pesan penghormatan kepada institusi Polri, berbunyi:
“Selamat Hari Bhayangkara ke-79. Terima Kasih Polri Atas Pengabdianmu untuk Negeri. Semoga Polri Semakin Profesional, Dicintai Rakyat dan Menjadi Garda Terdepan Dalam Menjaga NKRI.”

Aksi pemasangan ini merupakan bagian dari gerakan moral dan kebangsaan yang diinisiasi GM FKPPI Banyuwangi sebagai bentuk sinergi masyarakat dengan aparat penegak hukum, khususnya dalam menjaga stabilitas nasional dan membangun kepercayaan publik terhadap institusi Polri.

Ketua GM FKPPI Banyuwangi, KH. Ir. Achmad Wahyudi, S.H., M.H., menyatakan bahwa aksi ini bukan sekadar simbolik, melainkan bentuk konkret dukungan moral terhadap Polri dalam menjalankan amanat reformasi institusi dan pengabdian kepada rakyat.

“Polri adalah pilar utama keamanan dan ketertiban bangsa. Di tengah kompleksitas tantangan zaman, GM FKPPI ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih atas pengabdian tanpa henti jajaran Polri kepada negeri. Harapan kami, Polri semakin profesional, humanis, dan terus dicintai rakyat,” ujar Achmad Wahyudi kepada awak media.

Ia menambahkan bahwa generasi muda dari keluarga besar TNI-Polri memiliki tanggung jawab moral untuk merawat nilai-nilai nasionalisme dan mendukung stabilitas negara, termasuk memperkuat hubungan antara rakyat dan aparat.

Senada dengan itu, Sekretaris GM FKPPI Banyuwangi, Marselinus Moa Dany, K., S.Pd., menjelaskan bahwa pemasangan baliho dan billboard tidak hanya dilakukan di pusat kota, tetapi juga menjangkau kawasan perbatasan.

“Kami ingin pesan moral dan apresiasi terhadap Polri dapat dilihat, dirasakan, dan menginspirasi seluruh elemen masyarakat. Ini bagian dari edukasi publik agar masyarakat terus menghargai peran strategis Polri dalam menjaga kedaulatan hukum dan keamanan nasional,” terangnya.

Langkah GM FKPPI Banyuwangi ini mendapat sambutan positif dari berbagai tokoh masyarakat dan aparat keamanan. Banyak yang menilai, aksi tersebut sebagai bentuk kemitraan produktif antara organisasi kemasyarakatan dengan institusi negara dalam membangun suasana yang kondusif, berkeadaban, dan menjunjung tinggi nilai kebangsaan.


Malam Ketika Jamaah Haji Berada di Hotel Bintang Lima Jeddah

 

Malam Ketika Jamaah Haji Berada di Hotel Bintang Lima Jeddah

Saya tidak pernah berencana pergi malam itu. Tapi seperti banyak hal dalam hidup, kepergian saya ke rumah itu bukan karena kehendak saya sendiri. Ada tangan halus yang menggiring langkah kita ke arah yang tak kita duga. Tangan yang sering kita sebut sebagai kebetulan, padahal sebenarnya ketetapan yang malu-malu.

Rumah itu bukan rumah siapa-siapa. Tapi entah bagaimana, sejak saya melepas sandal dan duduk di atas karpet bercorak Timur Tengah, rumah itu terasa seperti bagian dari saya. Seperti ruang kecil dalam hati yang lama tidak saya buka. Ada air Zamzam di meja. Ada kurma yang tidak manis, tapi entah mengapa menghangatkan dada. Dan ada satu perempuan yang duduk di depan saya—perempuan yang saya rasa pernah saya temui entah di mana. Di mimpi? Di antrean haji tahun lalu? Atau di lorong waktu yang saya sendiri tidak pernah hafal pintunya? 


Namanya Hj. Danny Fardah Mihmidati. Perempuan itu duduk seperti seseorang yang sudah berdamai dengan waktu. Ia mengenakan gamis warna krem, kacamatanya tipis, dan sudut bibirnya menyimpan senyum yang tidak selesai. Senyum yang tidak menawarkan bahagia, tidak pula mengundang iba. Hanya senyum yang tahu caranya bersabar. Kloter SUB-44. Itulah rombongan hajinya. Rombongan yang oleh berita-berita dikabarkan sebagai “kloter tertunda.” Tapi saya merasa: tidak ada yang benar-benar tertunda, kecuali orang-orang yang terlalu cepat menuntut kepastian.

“Tertunda, Mas,” katanya pelan. “Tapi ternyata yang tertunda itu bukan hanya kepulangan. Tapi juga kesedihan.”

Saya mendengarkan kalimat itu seperti orang yang baru pertama kali belajar membaca. Saya mengucapkannya dalam hati, lalu menekuri maknanya, seakan sedang merenungkan ayat yang turun di luar jadwal. Ia bercerita. Tentang malam-malam di Jeddah. Tentang kepanikan awal ketika pengumuman penundaan disampaikan. Tentang jamaah yang menangis, yang mengeluh, yang pasrah, dan yang diam. Tapi yang paling mengejutkan bukanlah keterlambatan itu. Melainkan hadiah yang diam-diam diselipkan Tuhan ke dalam koper mereka: hotel bintang lima. Hotel dengan lift yang berjalan pelan seperti dzikir. Hotel dengan kasur empuk seperti dada yang telah memaafkan. Hotel dengan sarapan yang membuat lidah kampung kehilangan kata.

“Awalnya kami sedih,” kata Danny. “Tapi begitu masuk kamar hotel itu, kami tertawa, seperti anak-anak dapat permen.”

Saya tertawa. Tapi tawa saya tertahan di tenggorokan. Ada rasa bersalah yang menggumpal. Rasa bersalah karena saya ingat betapa sering saya kecewa ketika rencana kecil saya tak sesuai jadwal. Padahal Tuhan sedang menyusun kejutan. Hotel itu bukan hanya tempat menginap. Ia adalah ayat yang dilipat dalam selimut. Ia adalah tanda bahwa Tuhan bisa menyewa hotel bintang lima untuk hamba-hamba-Nya yang sabar. Tanpa pesan. Tanpa down payment. Tanpa jaminan. Mereka tidak membayar malam itu. Tapi malam itu membayar banyak luka. Dani lalu mengatakan sesuatu yang bagi saya terdengar seperti doa yang disamarkan:

“Mas, kadang kita tidak perlu terburu-buru pulang. Karena Tuhan juga tidak selalu terburu-buru memberi. Tapi Ia pasti memberi. Itu pasti.”

Saya menunduk. Mencium aroma teh yang disuguhkan, seperti mencium ketenangan yang tak bisa dibeli. Lalu, dalam percakapan yang entah mengapa terasa seperti pengakuan dosa di pinggiran kota, saya bertanya dengan nada main-main, “Apa doa Ibu ketika di Multazam?”

Dia mengangkat bahu. Gerak kecil, tapi saya tahu beratnya seperti menahan gerimis agar tidak jatuh.

“Saya tidak berani berdoa banyak-banyak. Takut tidak kuat menerima,” katanya.

Kalimat itu membuat saya diam cukup lama.

“Saya hanya bilang, ‘Ya Allah, saya terima apapun. Asal Engkau tetap jadi arah saya pulang.’”

Saya mendengar kalimat itu seperti sedang membaca puisi dari buku tua yang belum selesai ditulis penulisnya.

“Kalau soal keinginan-keinginan pribadi,” katanya lagi, “saya pasrahkan ke orang yang minta didoakan. Biarlah mereka berdoa, saya yang mengaminkan.”

Saya tercekat. Di dunia yang penuh dengan orang yang sibuk meminta, saya bertemu seseorang yang bersedia menjadi peng-amin. Ia tidak ingin menjadi pusat dari doa-doa. Ia ingin jadi gema kecil. Menjadi amin di ujung doa orang lain. Ia adalah jalan sunyi dari spiritualitas yang tidak ingin dipamerkan.

Saya lalu teringat cerita dari pembimbing ibadah kloter itu, yang dulu adalah Ketua Rombongan satu SUB-58. Tahun lalu saya ketua kloternya. Kami pernah berbagi malam-malam tanpa tidur di Mina, meyakinkan jamaah yang hilang arah, atau membagi makanan untuk jamaah. Dan di sanalah saya menyadari: ibadah haji adalah ibadah yang kolektif, tapi hati tetap bekerja sendiri-sendiri.

Saya pulang malam itu di atas motor tua. Jalanan sepi. Tapi kepala saya penuh suara. Seperti malam sedang membacakan catatan harian yang tidak pernah saya tulis. Dan catatan itu berkata: tidak semua penundaan adalah musibah. Kadang ia adalah bungkus hadiah yang belum siap kita buka. Saya memikirkan kolam renang di hotel bintang lima itu. Kolam yang tidak disentuh para jamaah karena menjaga wudhu. Dan saya tersenyum pahit. Di kota ini, banyak orang yang berenang dalam dosa, tapi tetap bangga dengan pakaian ibadahnya.

Dani tidak sedang bercerita tentang mewahnya hotel. Ia sedang menyampaikan: bahwa dalam perjalanan menuju Tuhan, ikhlas bukan hanya kunci. Ia adalah rumah. Dan rumah itu tidak perlu besar. Cukup tenang. Ia tidak meminta surga, tidak menuntut umur panjang, tidak pula memohon harta. Ia hanya ingin tetap berdoa. Dan menjadi suara amin bagi mereka yang ingin meminta. Saya merasa telah berziarah malam itu. Bukan ke makam wali, bukan ke Madinah atau Arafah. Tapi ke hati seorang perempuan yang sudah haji bukan hanya dengan fisik, tapi dengan pasrah yang tidak dibuat-buat. Di jalan pulang, angin mengusik helm saya. Tapi saya tidak peduli. Saya masih memikirkan satu hal: Tuhan ternyata bisa menyewa hotel bintang lima. Dan malam ini, Ia juga telah menyewa ruang dalam hati saya—untuk saya diami dengan diam, untuk saya renungi dengan takut, dan untuk saya isi dengan kata paling sederhana dalam ibadah: Amin.

Di Jeddah, Cinta Tiba Terakhir

 Di Jeddah, Cinta Tiba Terakhir

Saya mendengar cerita ini dari seseorang yang tidak sedang menulis sejarah, melainkan sedang mengendapkan cinta. Bukan cinta yang gaduh, bukan cinta yang membuat orang bersajak atau membentangkan spanduk, melainkan cinta yang sabar. Yang tahu cara menunggu. Yang tahu tempat untuk tidak tergesa pulang.

Namanya Dimyati. Ketua Kloter SUB-43. Asalnya dari Dusun Suwaluh Desa Sumbersari, sebuah desa yang jika matahari sore melorot ke balik bukit, akan terdengar kokok ayam jantan seperti memanggil pulang masa kecil saya, kita pernah sekolah di madrasah yang sama, meskipun dengan tahun berbeda. Desa kita bersebelahan, ada pesantren tua yang banyak memunculkan banyak tokoh nasional.


Saya tidak tahu apakah Dimyati tahu bagaimana menciptakan sejarah. Tapi dari cerita yang sampai ke saya, ia tampaknya lebih tahu bagaimana cara tidak merusaknya.

Dia bukan jenis ketua kloter yang berdiri di depan podium lalu menghilang ke kursi eksekutif. Ia tidak mengenakan nada suara keras ketika berbicara, tidak pula menginstruksikan seperti komandan yang sedang mengatur barisan. Tapi orang-orang mendengarkannya. Karena ia lebih dulu mendengarkan. Dia mencatat nama. Menghafal wajah. Mengenali nada suara. Mengerti ketegangan di antara helaan napas yang terengah saat berjalan menuju Masjidil Haram. Ia tahu kapan seseorang hanya butuh sebotol air zamzam dingin, bukan tausiyah. Ia tahu siapa yang lebih butuh didengarkan ketimbang dibimbing. Ia tidak sedang menjalankan tugas administratif. Ia sedang menanggung ruhani.

Waktu yang Tertunda, Kloter SUB-43 menjadi kloter terakhir dari Banyuwangi yang pulang. Mereka pulang belakangan. Lewat dari jadwal. Tertunda karena ketegangan politik di Timur Tengah. Saya membayangkan, dari Bandara King Abdulaziz di Jeddah, para petugas maskapai menjelaskan dengan wajah datar bahwa jadwal penerbangan belum pasti. Saya membayangkan sekelompok orang yang sudah lelah namun tetap duduk tegak. Yang sudah rindu anak dan cucu namun tetap bersabar. Yang seharusnya marah, namun justru tersenyum.

Saya pernah berada di antara orang-orang yang kehilangan koper di Madinah dan menyaksikan mereka menyumpah-nyumpah dalam bahasa yang bahkan Tuhan pun mungkin enggan menerjemahkannya. Tapi cerita Dimyati ini tidak seperti itu.

Mereka tidak marah. Tidak gelisah. Tidak menyalahkan siapa pun. Mereka tahu bahwa tidak semua penundaan adalah musibah. Beberapa penundaan adalah jawaban dari doa yang bahkan tak sempat mereka panjatkan.

Jeddah: Hotel, Takdir, dan Sepi yang Indah, dan inilah bagian yang paling membuat saya berhenti sejenak dari membaca pesan suara Dimyati:

> “Karena akhirnya kami bisa berdua,” kata seorang jamaah pria dengan pipi keriput yang tersipu seperti anak muda jatuh cinta.

Saya kira itu kalimat paling jujur dari seseorang yang pernah mendefinisikan ulang arti bulan madu. Selama lebih dari 40 hari mereka berbagi kamar dengan orang asing. Berbagi dengkuran, berbagi keluhan, berbagi sandalnya hilang di pelataran Masjid Nabawi. Mereka tahu terlalu banyak tentang dengkul orang lain dan terlalu sedikit tentang tangan istrinya sendiri.

Dan di Jeddah, karena penundaan itu, mereka diberi satu kamar, Berdua, suami dan istri. Satu malam. Dua malam. Entah berapa kali mereka berbulan madu. Dan itu adalah malam-malam yang lebih sakral daripada ijab kabul.

Mereka berangkat sebagai jamaah. Tapi di Jeddah, mereka kembali seperti pasangan baru. Bukan karena sesuatu yang dikatakan petugas kloter, tapi karena sesuatu yang ditiupkan oleh sunyi. Dan saya membayangkan seseorang sedang menanak air untuk kopi. Istrinya menunggu sambil membaca surat kabar dari tanah air yang sudah kusut. Tidak banyak percakapan. Tidak banyak rencana. Tapi dalam diam itu, ada ruang yang tiba-tiba terisi. Seperti cinta yang tiba paling akhir. Tapi datang dengan tangan yang utuh. Jamaah Terakhir, Tapi Pulang Paling Siap

Beberapa orang menyebut keterlambatan mereka sebagai “bonus dari langit.”

Saya menyebutnya sebagai pertemuan antara kesabaran dan karunia. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluh. Tidak ada yang meminta tiket pulang lebih cepat. Tidak ada yang menanyakan kompensasi. Mereka sudah terlalu kaya oleh pengalaman. Karena sesungguhnya, orang-orang seperti Dimyati dan para jamaah kloter SUB-43 telah menyelesaikan haji mereka bukan dengan ritual, tapi dengan cara menerima.

Menerima bahwa tak semua cinta harus ditunjukkan. Menerima bahwa tak semua kerinduan harus segera sampai. Menerima bahwa Jeddah bisa menjadi kota singgah yang lebih manis daripada kampung halaman, asal yang bersamanya adalah orang yang seharusnya.bDi Antara Doa dan Detak Jantung Terakhir Satu jamaah meninggal sebelum kepulangan. Dan itu bukan duka. Itu pertemuan.

Dimyati, dari yang saya dengar, menangani itu sendiri. Tidak dengan prosedur kaku, tapi dengan tangan yang menepuk pundak. Dengan kata-kata pendek yang tak tertulis dalam SOP. Karena kadang, pemimpin sejati bukan yang tahu semua aturan, melainkan yang tahu kapan harus diam dan memberi pelukan.

Saya membayangkan di Makkah, di antara jutaan manusia, Dimyati menyebut satu nama di dalam doanya. Menyebutnya pelan, seperti menyebut nama sendiri. Karena ia tahu, ia tidak sedang memimpin perjalanan.

Ia sedang mengantarkan kepulangan. Takdir yang Tidak Terburu-Buru, Kita selalu membayangkan cinta sebagai sesuatu yang terburu-buru. Seolah yang cepat adalah yang sahih. Seolah yang pertama datang adalah yang paling setia.

Tapi di Jeddah, cinta tiba terakhir. Dan justru karena itu, ia datang dengan paling banyak membawa waktu. Mereka—para suami istri yang telah puluhan tahun menikah—tiba-tiba menjadi pengantin baru di kota pelabuhan yang selama ini hanya dikenal karena toko emas dan ikan bakar.

Mereka tidak meminta tempat tidur yang empuk. Tidak bertanya apakah AC berfungsi. Mereka hanya ingin satu hal: bersama, dalam ruang yang cukup. Dan itu cukup. Kamar mewah, kamar pengantin, Kamar-Kamar yang Menyimpan Rahasia

Saya tidak tahu nomor kamar mereka. Tapi saya yakin kamar-kamar itu menyimpan percakapan-percakapan yang hanya dipahami oleh waktu. Mungkin seorang istri memijit kaki suaminya yang bengkak. Mungkin seorang suami membacakan ulang doa wukuf dengan suara parau.

Mungkin mereka duduk di balkon, melihat pelabuhan Jeddah yang remang, dan untuk pertama kalinya, merasa bahwa dunia ini tidak terlalu luas. Karena yang luas bukanlah ruang, melainkan hatimu saat tidak ingin buru-buru pulang.

Pulang yang Tidak Sama Lagi Ketika akhirnya mereka tiba di Banyuwangi, mereka turun dari bus dengan wajah yang lain. Mereka tidak hanya membawa koper. Mereka membawa kamar. Mereka membawa malam-malam Jeddah yang pelan dan penuh debar.

Dan saya percaya, beberapa cinta tidak lahir dari pelaminan. Tapi dari ketertundaan. Dari keterpaksaan yang akhirnya menjadi anugerah. Dari kota-kota asing yang diam-diam menyusun ulang perasaan kita. Dan di Jeddah, cinta itu tiba terakhir. Tapi tidak terlambat. Karena cinta yang datang di akhir, adalah cinta yang paling tahu mengapa ia perlu menunggu.

Ditulis untuk yang tidak tergesa mencintai, dan yang tahu bahwa pulang bukan soal waktu, melainkan siapa yang masih menggenggam tanganmu ketika semua orang sudah melepaskan. (syaf)

Di Antara Delapan Syarikah dan Satu Nama: Guntur Al Baderi

Di Antara Delapan Syarikah dan Satu Nama: Guntur Al Baderi


Saya seharusnya berangkat haji tahun ini. Tahun 2025. Bukan karena panggilan batin saya sendiri. Tapi karena panggilan cinta yang pelan-pelan dibisikkan dari masa lalu oleh kedua orang tua saya. Mereka bilang, “Kalau kami haji, kami ingin kamu yang mendampingi.” Kalimat itu pendek, tapi seperti biji kurma, kecil namun mengandung kehidupan yang bisa tumbuh dalam perut gurun yang paling kering.        

Dari lima anak, hanya saya yang sudah berhaji. Itu pun karena saya dulu pernah menjadi petugas. Dan dalam banyak hal, menjadi petugas adalah pengalaman yang rumit. Kau harus menyatu dengan kerumunan, tapi juga harus berdiri sedikit lebih tinggi darinya agar bisa menuntun. Kau harus hafal arah, waktu, bahkan jeda napas para jamaah. Tapi bukan itu inti dari kisah ini. 


     

Saya ingin mengisahkan sesuatu yang lebih dari daftar tugas. Saya ingin bercerita tentang persahabatan, tentang kehilangan kecil, dan tentang bagaimana kita kadang tak jadi berangkat haji, tapi sesungguhnya sedang berhaji di hati kita yang paling dalam.       

Saya sudah mempersiapkan semuanya. Paspor saya, paspor anak saya, bahkan paspor kedua orang tua saya. Kami sudah mengikuti manasik, berkali-kali. Saya dan teman saya, Guntur Al Badri, sudah membayangkan bagaimana kami akan mengisi 42 hari di Tanah Suci. Kami tahu, puncaknya hanya 5 atau 6 hari. Tapi manusia tidak hidup dari puncak ke puncak saja. Kami mempersiapkan yang datar-datar juga. Yang sepi-sepi juga. Kami merencanakan wisata religi. Kami bahkan menyiapkan obrolan, guyonan, dan jadwal shalat malam.      

Saya mengenal Guntur sebelum kami jadi PNS. Dulu, kami sama-sama aktivis di masyarakat. Saya di PNPM. Dia mengirim saya kritik. Kritik itu singkat, tapi tidak pendek. Ia tajam seperti kerikil di sepatu. Mengganggu, tapi menyadarkan bahwa ada yang perlu dikendurkan, ada yang perlu dikencangkan.       

Saya tidak marah. Kritik itu datang dari orang yang peduli. Orang yang marah biasanya karena merasa tak dihargai. Tapi kritik justru adalah bentuk tertinggi dari penghargaan. Ia adalah tanda bahwa seseorang sudi memperhatikan pekerjaan kita, cukup dalam untuk berani berkata, “Hei, ini salah.”        

Sejak itu kami berteman. Kami sama-sama jadi PNS, sama-sama sempat terjebak nostalgia aktivisme, dan sama-sama tahu bahwa menjadi pegawai negeri tidak berarti harus kehilangan nyali.      

Tapi takdir, seperti biasa, punya rencana lain. Kedua orang tua saya ternyata belum berangkat. Namanya belum tercantum. Entah kenapa. Padahal semua sudah siap. Mungkin Tuhan ingin saya lebih sabar. Mungkin Tuhan ingin memberi pelajaran bahwa keinginan manusia tak akan pernah setajam kehendak-Nya. Maka saya tidak jadi berangkat. Dan Guntur, bersama beberapa teman kami, tetap berangkat. Tanpa saya.         

Saya bukan kecewa. Tapi saya mengakui ada ruang kosong yang tidak bisa saya isi dengan apapun. Saya ingin bersama mereka. Tapi saya harus tetap bersama orang tua saya di sini. Saya tetap terhubung dengan mereka lewat WhatsApp. Percakapan digital yang tidak bisa menggantikan pelukan sahabat, tapi cukup untuk menguatkan ikatan.      

   Kami masih komunikasi dengan para jamaah terutama dengan Guntur Al Badri karena beberapa hal memang yang sudah kita rencanakan harus berjalan dan saya dianggap yang tahu tentang travel atau biro perjalanan yang ada di Makkah maupun di Madinah beberapa hari sebelum kepulangan ke tanah air Guntur juga pa kepada saya menanyakan tentang makam dari mertuanya karena mertuanya meninggal ketika melaksanakan ibadah haji tahun 2017 dan saat itu saya sebagai ketua kloternya,b ayah mertua Guntur meninggal ketika kami sudah berada di tanah air saat itu bulannya harus kita tinggal di Mekkah setelah melaksanakan ibadah haji karena harus dirawat di rumah sakit kami mendengar beliau meninggal dunia 2 hari setelah kami berada di rumah sakit dan biasanya untuk jamaah di Indonesia yang meninggal saat itu dimakamkan di Seraya bukan di ma'la, karena hanya orang-orang tertentu saja yang dimakamkan di ma'la selebihnya di Seraya.   

Tahun 2025 ini, pemerintah membuat kebijakan baru: delapan syarikah. Delapan perusahaan yang mengelola jamaah. Maka dalam satu kloter, jamaah bisa tersebar di sepuluh hotel. Seperti buih yang dipisahkan ombak. Dalam satu cerita, ada satu jamaah perempuan yang baru bayar. Dia dapat kamar bersama jamaah lain, masih dari Banyuwangi, tapi beda rombongan. Lalu, sebagaimana manusia yang kadang terlalu terikat pada batas administratif, dia tak diajak pergi ke Masjidil Haram oleh teman sekamarnya.      

Alasannya sederhana: “Bukan kelompok kita.” Kalimat yang singkat, dan dalam konteks ini, menyakitkan.      

Saya tahu cerita ini dari Guntur. Saya minta tolong padanya. “Fasilitasi dia. Sampaikan pada teman sekamarnya bahwa perempuan ini bagian dari kita, dari Banyuwangi, dari Indonesia, dari Adam dan Hawa yang sama.” Agama ini tidak mengenal kloter dalam cinta. Islam ini tidak mengenal batas dalam kasih sayang. Tapi memang, kadang manusia lebih tunduk pada struktur daripada nurani.        

Ketika di Arafah, di puncak haji, bahkan kloter tidak berlaku. Jamaah dibagi berdasarkan kafilah. Satu kafilah bisa terdiri dari beberapa kloter, bahkan dari beberapa embarkasi. Bisa saja orang Banyuwangi sekamar dengan orang Medan. Bisa jadi yang dulu satu desa, sekarang terpencar ke lima kemah. Begitulah hidup. Ia membagi-bagi agar kita belajar menemukan kembali.       

Dan saya, yang tidak ikut berangkat, merasa sedang menjalani haji dalam bentuk yang lain. Saya melihat dari jauh. Saya mendengarkan kabar-kabar. Saya membantu mengurai persoalan dari ribuan kilometer. Dan saya mulai mengerti, mungkin inilah haji saya: haji melalui kehadiran yang tidak terlihat. Seperti doa, seperti cinta, seperti malaikat.      

Saya tidak bisa memeluk Guntur ketika dia masuk Raudhah. Saya tidak bisa menggenggam tangan jamaah perempuan itu dan berkata, “Kamu tidak sendiri.” Tapi saya percaya, bahwa dalam satu kalimat yang dituliskan melalui layar kecil, saya sedang memikul satu beban. Dan beban itulah yang mendekatkan saya pada makna haji itu sendiri.        

Orang tua saya belum berangkat. Tapi saya yakin, Tuhan belum selesai menulis cerita kami. Mungkin tahun depan. Mungkin lewat jalur yang lain. Tapi pasti, lewat jalan yang lebih mengajarkan.     

Dan Guntur, sahabat lama saya, yang pernah mengirim kritik itu dulu, yang sekarang membantu saya mengurai peliknya delapan syarikah, tetap menjadi nama yang saya simpan dalam hati. Bukan hanya karena kami pernah merencanakan keberangkatan bersama. Tapi karena dia adalah orang yang memahami satu hal penting: haji bukan hanya urusan fisik, tapi juga urusan nurani.         

Dan ketika nurani sudah terlatih, ketika hati sudah berhaji sebelum kaki melangkah, maka sesungguhnya kita telah menunaikannya. Setidaknya, sebagian darinya. Sebagian yang paling dalam. Yang tidak bisa dilihat oleh visa, paspor, atau petugas imigrasi.      

Maka saya katakan:        

Tahun ini saya tidak jadi berangkat.       

Tapi saya tetap pergi.        

Ke tempat yang lebih jauh dari Tanah Suci.        

Ke tempat yang disebut Tuhan dalam diam: Hati.      


Ziarah ke Petugas Haji, dan Cerita Tentang Raudhah yang Jauh dari Misfalah

 Ziarah ke Petugas Haji, dan Cerita Tentang Raudhah yang Jauh dari Misfalah

Oleh: Peziarah Haji 


Saya berziarah, bukan dalam makna yang lazim dipahami orang-orang. Saya tidak datang membawa bunga, doa, atau air mawar. Saya datang membawa secangkir kopi sachet dua ribu perak yang sudah saya larutkan di gelas plastik dari rumah. Saya tahu dia suka kopi, meskipun sore itu kami tak benar-benar sempat menyeruputnya bersama.

Teman saya itu, lelaki dengan janggut tipis yang akhir-akhir ini lebih sering memeluk sunyi, adalah seorang petugas haji daerah. Tahun ini, 2025, ia ditugaskan ke tanah yang mengajarkan ribuan makna kepada siapa pun yang bersedia mengalami. Ia bukan orang sembarangan, juga bukan orang yang ingin terlihat istimewa. Tapi ia kini berada dalam sebuah sistem yang membuatnya tampak begitu kecil. Ia menunggu saya di beranda rumahnya dengan sorot mata yang tidak sepenuhnya selesai tidur.

Kami tak langsung bicara tentang apa pun. Angin sore lebih dahulu menyela. Ada nyanyian jangkrik dari kebun tetangganya yang tidak pernah ia kenal benar. Lalu suara motor sayup dari jalan depan. Seperti hidup yang terus berjalan, bahkan ketika kita merasa terjebak di satu titik.

“Aku dengar kabar buruk tentang petugas haji,” saya memulai, hati-hati.

“Kabar buruk selalu lebih cepat tiba dibanding kabar baik,” katanya tersenyum kecil.

Saya tak ingin membantah. Saya hanya ingin mendengar. Katanya, tahun ini berbeda. Haji 2025 adalah lembaran baru yang ditulis ulang oleh delapan syarikah yang tak sepenuhnya bisa dikendalikan. Syarikah—semacam lembaga penyedia layanan jamaah haji di Arab Saudi—telah membuat peta tugas dan layanan menjadi lebih luas, lebih rumit, dan kadang membingungkan. 


“Kau tahu,” katanya, “aku bahkan terpisah dari jamaahku sendiri. Mereka di Misfalah. Aku di Raudhah.”

Saya mengangguk, meskipun saya tak sepenuhnya paham makna jarak itu sebelum dia melanjutkan.

“Terminal bisnya saja beda 1,5 kilometer,” ujarnya. “Jangankan mengurus mereka setiap waktu, untuk bertemu satu dua orang pun seperti mendaki malam tanpa lampu.”

Ia terdiam. Saya tahu diamnya bukan karena kehilangan kata. Ia sedang menyusun perasaan. Itu yang sering dilakukan orang-orang yang tak ingin menyalahkan apa pun.

“Tapi kan tugas ya tetap tugas?”

“Ya,” katanya. “Tugas tetap dijalankan. Meski tidak maksimal.”

Saya ingin menertawakan kalimat itu, bukan karena lucu, tapi karena begitu jujurnya. Di negeri kita, kalimat seperti itu sering diputarbalikkan. Ketika seseorang berkata ‘tidak maksimal’, ia akan segera dibungkam oleh seribu alasan pembenar. Tapi teman saya tidak sedang membenarkan diri. Ia sedang mencoba jujur dalam dunia yang sering meminta orang berpura-pura.

Satu hari menjelang keberangkatan haji, katanya, ia dipindahkan ke kloter lain. Bukan karena ingin, tapi karena sistem syarikah yang memisahkannya. Begitu juga saat tiba, dalam satu kloter yang seharusnya berjalan bersama, mereka malah tersebar di delapan hotel berbeda, satu untuk tiap syarikah. Ia bilang, yang menyatukan mereka hanya waktu kepulangan. Saat pesawat pulang sudah disiapkan dan koper-koper dibaringkan seperti jenazah yang menunggu doa.

“Lalu, bagaimana kamu mengurus jamaah yang bukan kamu kenal?” saya bertanya.

“Dengan sebaik mungkin, dan selemah mungkin,” jawabnya pelan. “Tak ada orang kuat di sana. Yang ada hanya orang yang berusaha sekuat-kuatnya.”

Ia tertawa. Saya juga tertawa. Mungkin itulah satu-satunya momen kami merasa ringan.

“Orang bilang petugas itu nebeng haji,” saya menggoda. “Katanya, dapat fasilitas gratis, bisa tawaf sambil selfie, bisa ziarah sambil ngopi.”

Ia tak menjawab. Tapi matanya memandang saya dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang pernah hampir kehilangan dirinya sendiri.

“Tak ada nebeng dalam pekerjaan ini,” katanya akhirnya. “Yang ada hanya keberanian untuk menanggung yang tidak mungkin. Menjaga orang-orang yang tidak selalu kita tahu namanya. Membantu mereka wukuf, melontar, thawaf, dengan tubuh yang mulai kehilangan tenaga.”

Saya terdiam.

“Orang luar lihatnya enak, selfie di depan Ka’bah, pakai rompi petugas. Padahal kadang kita menangis sendiri di lorong hotel. Merindukan rumah. Takut salah. Tak bisa tidur karena jamaah lansia hilang jalur pulang. Dan kita harus menunggu hingga dini hari tanpa tahu harus melapor ke siapa.”

Saya membayangkan itu. Jalan-jalan sempit Makkah, hotel-hotel dengan lift rusak, tempat makan yang berpindah-pindah. Dan delapan syarikah yang seperti menggandakan delapan kepala dalam satu tubuh.

“Kalau boleh memilih,” katanya pelan, “aku lebih suka mengurus anak-anak kelas madrasah seperti dulu. Karena mereka tahu cara menghormat. Karena mereka, setidaknya, mencatat namamu.”

Saya tahu ia bukan bicara tentang nama dalam absen, tapi nama dalam hati. Dan hari itu, di bawah lampu beranda yang mulai redup, saya tahu: dia bukan hanya petugas haji. Ia adalah penanggung beban, dalam sistem yang membebaninya tanpa pelatihan tentang bagaimana menghadapi delapan syarikah yang berbeda-beda arah, perintah, dan hotel.

Saya pamit tak lama setelah azan magrib. Saya tahu ia lelah, meski tak mengakuinya. Ia tidak minta dibela. Ia tidak minta dijelaskan kepada publik. Ia hanya ingin mendengar seseorang berkata: aku mengerti.

Dan saya tahu, itu tak cukup. Tapi kadang, satu kalimat seperti itu lebih penting daripada laporan resmi yang panjang.

Saya tidak tahu apakah esok ia masih ingin kembali menjadi petugas. Tapi saya tahu, ia tidak akan pernah menjadi sama. Tidak setelah berjalan 1,5 kilometer setiap hari hanya untuk berkata: “Apa kabar, Pak Haji?”

Dan tak sekali pun dipanggil kembali dengan namanya sendiri.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger