Pages

tentang Zainur Rofik, seorang kepala sekolah negeri di Banyuwangi yang menjadi Petugas Pembimbing Ibadah Haji Tahun 2025

Tentang Zainur Rofik, seorang kepala sekolah negeri di Banyuwangi yang menjadi Petugas Pembimbing Ibadah Haji Tahun 2025

Zainur Rofik tidak sedang pergi dari dunia pendidikan. Ia hanya menepi sebentar, mencatat hal-hal yang tak bisa diajarkan di ruang kelas. Ia bukan lagi kepala sekolah yang menilai ulangan siswa dan menandatangani rapor atau ijazah akhir tahun. Ia sekarang adalah musafir ruhani yang dititipi amanah di tengah gurun, di antara debu dan doa-doa. Ia tidak lagi mengurusi absen guru, tapi absen jemaah; tidak membagikan buku paket, tapi membagikan sabar kepada lansia yang ingin beribadah dengan benar, meski lututnya tak lagi sempurna menahan ruku.

Dan semua ini berawal dari keberangkatannya ke tanah suci tahun lalu. Tahun 2024, Rofik dan istrinya menunaikan ibadah haji sebagai jemaah, tergabung dalam kloter SUB-58. Sebagai ketua rombongan, ia merasakan bagaimana susahnya mengorganisasi para jemaah yang terdiri dari berbagai latar, usia, dan ego. Tapi justru dari situ, ia belajar: haji bukan tentang kekhusyukan pribadi, melainkan bagaimana seseorang menghadirkan diri bagi orang lain dalam situasi yang melelahkan sekalipun.

Di tengah segala hiruk pikuk Arafah dan tenda Mina yang pengap, ia tidak hanya menjadi kepala rombongan, ia menjadi tempat bertanya, tempat mengeluh, tempat menangis diam-diam. Lalu, entah dari ketulusan mana, Ketua Kloter SUB-58 menyarankan agar ia mengikuti sertifikasi petugas haji. Dan Rofik menurut. Tahun 2025, ia resmi menjadi Petugas Pembimbing Ibadah Haji Kloter (PPIHK). Ini hal yang tidak biasa. Baru pertama kali seorang PNS dari luar Kementerian Agama diterima sebagai PPIH. Selama ini, posisi itu seakan-akan hanya milik mereka yang mengenakan sarung dan peci putih sejak remaja, mereka yang lulusan pesantren, atau mereka yang telah menjadi bagian dari sistem birokrasi Kemenag. 


Rofik datang dari dunia sekolah negeri, dari ruang-ruang kelas yang dindingnya penuh peta dan papan tulis, bukan dari surau atau pesantren. Ia mendobrak anggapan lama, tanpa suara keras. Tanpa menyombongkan bahwa ia ‘yang pertama’, ia melangkah tenang ke Makkah, bukan sebagai jemaah biasa, tapi sebagai pelayan tamu Allah. Tapi tahun ini berbeda. Tahun lalu, ia hanya membimbing satu rombongan. Sekarang, ia menjadi penanggung jawab spiritual untuk ratusan jiwa yang mengandalkannya sebagai penunjuk jalan. Tahun lalu, ia hanya sesekali memberi tahu arah ke Jamarat. Tahun ini, ia harus mempersiapkan mental jemaah dari sebelum berangkat, saat di tanah suci, hingga ketika hendak pulang. Tahun lalu, setiap jemaah dibekali kartu Nusuk, yang membantu pelacakan dan manajemen. Tahun ini, sistem berubah. Lebih banyak tantangan administratif, lebih banyak pertanyaan yang datang pada saat ia sendiri sedang bingung. Namun, pengalaman sebagai ketua rombongan memberinya modal besar. Ia tahu titik-titik lelah para jemaah. Ia tahu bahasa yang bisa meluruhkan ketegangan. Ia tahu bahwa untuk membantu orang tua naik bus, bukan hanya dibutuhkan tenaga, tetapi kesabaran seperti yang dimiliki Ibrahim ketika meninggalkan Ismail di padang tandus.

Lalu datanglah hari itu. Hari di mana kloter SUB-44 seharusnya pulang ke tanah air, namun diberi kabar penundaan. Hanya dua kloter yang ditunda, sedangkan kloter-kloter setelahnya tetap pulang sesuai jadwal. Dan itu memunculkan kecurigaan, pertanyaan, dan bahkan penolakan dari beberapa ketua rombongan. Beberapa menolak menyampaikan kabar itu, khawatir diprotes jemaah. Mereka bilang: “Kenapa hanya kami? Kenapa tidak semuanya?”

Rofik berdiri di tengah keresahan itu. Ia tidak memilih diam. Ia tidak menyuruh orang lain yang menjelaskan. Ia turun sendiri ke hadapan para jemaah, wajah-wajah lelah yang sudah menanti rumah dan kampung halaman. Ia tidak membawa dokumen, tidak membawa catatan. Ia hanya membawa suara tenang dan kalimat-kalimat sederhana yang tumbuh dari empati.

“Penundaan ini bukan karena kami pilih-pilih,” katanya. “Ini semata karena alasan keselamatan penerbangan. Tidak ada satu pun di antara kita yang ingin kembali dengan terburu-buru, lalu menyesal karena ada hal-hal yang tidak diperhitungkan. Allah mencintai orang yang bersabar, dan mungkin inilah cara Allah mengajari kita sabar untuk terakhir kalinya dalam perjalanan haji ini.”

Beberapa jemaah menangis. Bukan karena sedih ditunda, tapi karena mereka merasa dihargai, dianggap dewasa, dan diperlakukan sebagai manusia seutuhnya. Seseorang merekam penjelasan itu. Videonya tersebar. Viral. Tapi Rofik tidak berubah. Ia tetap berdiri sebagai petugas yang tahu bahwa tugasnya bukan hanya mendampingi, tapi memahami. Orang-orang bilang, ibadah haji adalah perjalanan puncak spiritual. Tapi bagi Rofik, puncak itu bukan saat ia melempar jumrah, bukan saat berdoa di Multazam, bukan saat melihat Ka'bah untuk pertama kalinya. Puncaknya adalah ketika ia bisa menjelaskan sebuah kebijakan dengan penuh kasih, dan orang-orang yang mendengarnya menjadi lebih ikhlas, bukan lebih marah. Saat itu, ia merasa seolah Allah berbisik, “Begitulah caraku menugaskanmu, bukan untuk menyuruh mereka tunduk, tapi untuk membuat mereka rela.”

Kelak, mungkin akan ada lebih banyak ASN dari luar Kementerian Agama yang ikut menjadi petugas haji. Akan ada guru sejarah yang menenangkan jemaah, kepala dinas yang membersihkan sandal jamaah, atau pengawas sekolah yang mendorong kursi roda nenek-nenek yang ingin thawaf. Karena pelayanan bukan soal instansi, ia soal hati, dan Zainur Rofik sudah menuliskannya di batu-batu Mina dan langkah-langkah thawaf, bahwa pengabdian itu tidak punya batas, selama seseorang membawa cinta yang tak malu-malu kepada Tuhan dan sesama manusia. Lalu bagaimana kita bisa membayangkan peristiwa semacam ini di tengah dunia yang sedang retak? Ketika perang Iran-Israel meletup seperti bisikan kiamat yang tertunda, dan langit dunia digambar ulang oleh roket dan drone? Ketika satu sisi menafsir agama dengan rudal, dan sisi lain membalas dengan embargo dan propaganda?

Apa yang terjadi di Mina dan Makkah tak luput dari gemuruh geopolitik itu. Jamaah dari Iran dicekam ketakutan. Mereka mungkin berdoa sambil memikirkan nasib keluarganya yang tinggal dekat perbatasan. Jamaah dari Lebanon menyelipkan doa bukan untuk dirinya, tapi untuk keamanan negaranya yang bisa lenyap dalam semalam. Dan petugas seperti Rofik, yang tidak punya hubungan langsung dengan konflik itu, tiba-tiba harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang dalam bisik: "Apakah kita akan selamat pulang?"

Sementara sebagian dari dunia bersiap-siap membangun bunker atau menimbun bahan pokok, Rofik malah menenangkan jamaah lansia dengan membaca surah Ar-Rahman. Ia percaya, jika tak bisa mengubah geopolitik dunia, ia bisa menjaga satu hal: tenang. Satu jamaah yang tenang adalah satu dunia kecil yang damai. Dan jika damai itu bisa menjalar ke sebelahnya, dan sebelahnya lagi, mungkin kita masih punya harapan di tengah huru-hara dunia. Zainur Rofik bukan diplomat. Bukan ulama besar. Bukan juru bicara. Tapi ia telah menjadi utusan dalam makna yang paling sunyi: utusan bagi ketenangan. Di antara drone dan diplomasi, ia adalah jeda. Seorang jeda yang tahu kapan harus diam, kapan harus bicara, dan kapan cukup memijit punggung jamaah yang pegal setelah lempar jumrah.

Dan barangkali, dalam dunia yang dikuasai algoritma, perang citra, dan pertarungan kuasa, keberadaan orang seperti Rofik adalah penyeimbang yang kita butuhkan. Ia tidak tampil di forum internasional. Tidak ikut merancang perdamaian dunia. Tapi ia membuat satu lansia tersenyum, satu jemaah mengucap syukur, satu hati merasa didengar. Bukankah dunia yang damai adalah akumulasi dari jiwa-jiwa kecil yang merasa teduh?Zainur Rofik, lelaki muda dari Banyuwangi Utara, telah menjadi bagian dari kisah mereka. Tanpa harus tampil di depan, tanpa harus disebut dalam laporan resmi. Ia seperti angin padang . pasir: datang diam-diam, pergi tanpa jejak, tapi meninggalkan keteduhan.

Dan mungkin, itulah sebenar-benarnya bimbingan. Di antara puluhan ribu langkah kaki yang berjejal di jalanan Makkah musim haji 2025, ada satu langkah yang tidak tampak mencolok. Tapi langkah itu menyimpan arah, menyimpan nalar, menyimpan perasaan seorang lelaki muda yang mengabdikan dirinya pada sunyi: H. Zainur Rofik.

Ziarah tidak pernah selesai, selama masih ada hati yang ingin melayani.

Kabar Pemindahan Lokasi CFD Resahkan Pedagang, Omzet Tembus Rp125 Juta

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kabar pemindahan lokasi Car Free Day (CFD) Banyuwangi menimbulkan keresahan di kalangan pedagang. Pada Minggu pagi, 29 Juni 2025, usai berdagang di lokasi CFD yang selama ini berada di kawasan pusat kota dan menghasilkan omzet lebih dari Rp125 juta, ratusan pedagang berkumpul untuk bermusyawarah.

Pertemuan yang dipimpin oleh Rahmat itu berlangsung spontan namun tertib di salah satu sudut lokasi CFD yang mulai dikenal masyarakat luas sebagai ruang kuliner, olahraga, dan rekreasi keluarga setiap akhir pekan. Para pedagang mengaku cemas dengan rencana pemindahan yang menurut mereka dapat mengancam keberlangsungan usaha mikro yang telah mereka bangun sejak lama.b


Turut hadir dalam musyawarah tersebut, Moh. Lutfi, mantan Camat Banyuwangi yang kini dikenal sebagai tokoh masyarakat. Ia mengajak para pedagang untuk tetap berpikir positif terhadap kebijakan pemerintah.

“Kalau pemindahan ini karena alasan revitalisasi, mari kita tunggu dan kawal bersama proses revitalisasinya. Jangan buru-buru berprasangka buruk,” ujar Lutfi.

Namun, Lutfi juga menegaskan pentingnya menjaga prinsip kedaulatan rakyat dalam setiap kebijakan publik. “Kedaulatan itu seharusnya di tangan rakyat. Kita ini juragan di tanah sendiri, kok malah seolah-olah diusir?”

Para pedagang menyuarakan harapan untuk tetap bisa berjualan di lokasi semula, mengingat area CFD tersebut telah memiliki “brand” tersendiri di mata masyarakat. Mereka menyebutkan bahwa pemindahan tempat berisiko menurunkan jumlah pengunjung dan menghapus nilai historis serta emosional yang telah terbangun selama bertahun-tahun.

“CFD ini bukan sekadar jualan, tapi juga tempat anak-anak bermain, remaja bersantai setelah olahraga, dan warga mencari sarapan khas Banyuwangi. Kalau dipindah, hilang semua nuansa itu,” ungkap salah satu pedagang.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak pemerintah daerah terkait waktu maupun lokasi baru CFD. Para pedagang berencana mengirimkan surat aspirasi kepada bupati dalam waktu dekat.

Mereka yang Berbincang di Jalan yang Dikosongkan Setiap Minggu

 *Mereka yang Berbincang di Jalan yang Dikosongkan Setiap Minggu*

oleh.: Orang yang dataydi CFD

Pagi masih basah. Embun belum sepenuhnya terhapus dari dedaunan yang menempel di sepanjang trotoar. Suara langkah kaki terdengar ringan dan lambat di antara tawa-tawa kecil anak-anak yang berlarian tanpa sepatu, diiringi deru sepeda roda tiga yang digowes ayah muda.

Itu Minggu pagi, pukul enam lebih sepuluh menit. Udara masih ramah. Dan seperti biasa, jalan utama kota ini ditutup dari kendaraan bermotor. Trotoar menjadi lintasan bebas  bukan hanya untuk pejalan kaki, tapi juga untuk cinta yang malas terburu-buru, dan kerinduan yang baru saja tahu tempat untuk pulang.


Aku duduk di bangku semen yang dicat hijau muda, di dekat pohon trembesi yang sudah dua puluh tahun berdiri di sana. Di sebelahku ada dia  seseorang yang pernah kulewatkan begitu saja di koridor SMA, tapi pagi ini berbicara seperti ia tahu isi hatiku sejak dulu.

“Kau dengar kabar itu?” tanyanya, setelah menyesap es teh dalam gelas plastik. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

“Kabar yang mana?” tanyaku, padahal aku tahu maksudnya. Aku hanya ingin membuat percakapan lebih panjang, lebih lama.

“CFD akan dipindah,” katanya, aku mengangguk, lalu diam. Dan di dalam diam itu, sebenarnya ada banyak hal yang hendak kukatakan: tentang bagaimana aku mengingat pertemuan kami tiga bulan lalu, di titik ini juga. Tentang anak-anak yang mengayuh sepeda kecil mereka seperti sedang berlomba menuju langit. Tentang pasangan paruh baya yang tiap minggu berjalan 2 kilometer hanya untuk membeli bubur ayam dari pedagang yang sama  pedagang yang tahu mereka tidak suka cakwe. Tentang semua itu.

“Katanya, akan dipindah ke selatan kota. Jalan baru yang sepi. Lebih luas, katanya. Lebih strategis,” lanjutnya.

“Kau percaya?” tanyaku. Dia menoleh padaku. “Entah. Tapi aku tidak ingin kehilangan tempat ini.”

Aku mengerti. Bukan hanya soal tempat. Tapi juga tentang yang sudah tertanam dalam tubuh kita sebagai kebiasaan: detak jantung yang menyesuaikan dengan ritme kota, napas yang menyesuaikan dengan aroma roti bakar dan kopi susu sachet di pojokan jalan, tawa anak-anak yang mengejar balon sabun, dan remaja-remaja yang saling melempar pandang sambil menyeka peluh dengan tisu warung.

Ada yang lebih dari sekadar lokasi  ada kehidupan yang berjejal di dalamnya, dan di balik semua percakapan romantis yang tampak sepele itu, terselip kekhawatiran yang sama: bahwa ketika pemerintah memindahkan satu kegiatan publik, mereka bukan hanya memindahkan keramaian, tapi bisa saja mencabut akar yang sudah ditanam sendiri oleh rakyat selama bertahun-tahun.

Pedagang tahu itu. Mereka yang menyusun meja sejak pukul lima pagi, mengangkat galon, memotong jeruk untuk es peras, menanak nasi, mengisi gas. Mereka bukan hanya ‘ikut serta’ dalam keramaian. Mereka membangunnya.

“Pernah dengar kata-kata ini?” kata dia tiba-tiba, menyentakkan lamunanku. “Rakyat itu juragan. Pemerintah itu pelayan.”

Aku tersenyum. “Siapa yang bilang?”

“Pedagang lontong tahu, di sebelah gerobak jus alpukat.”

Kami tertawa pelan. Tapi tawa itu menggantung seperti lampu hias di pagi hari  terang tapi tak menyilaukan, bayangkan, bagaimana nanti jika anak-anak tidak lagi bisa bermain bola plastik di jalan yang kosong, karena CFD dipindah ke tempat yang lebih jauh, lebih steril, lebih ‘sesuai rencana kota’? Bagaimana jika remaja-remaja yang baru mengenal cinta tidak lagi punya tempat untuk berjalan pelan sambil berbagi cerita dari minggu yang berat?

Dan bagaimana denganku? Bagaimana jika pagi-pagi seperti ini tak lagi bisa kujadikan alasan untuk duduk berdua dengannya, dengan teh plastik dan obrolan ringan yang diam-diam menumbuhkan rasa?

Ada kota yang tumbuh dalam rencana para pejabat, dan ada kota yang hidup di dalam hati warganya. Yang pertama penuh rapat dan bagan. Yang kedua penuh kenangan dan napas.

Kami tidak membenci rencana. Tapi mungkin kami hanya ingin didengar. Karena cinta juga butuh ruang  dan ruang itu tidak selalu bisa dipindah begitu saja, seperti memindahkan tiang listrik atau halte.

Karena kota ini tumbuh bukan karena program, tapi karena pertemuan-pertemuan kecil yang terjadi tanpa rencana seperti perbincangan kami pagi ini, yang nyaris tak penting, tapi justru terasa paling hidup.

Dan aku ingin mengatakan padanya, sambil menatap wajahnya yang sudah mulai diterpa matahari pukul tujuh:

“Jika CFD benar-benar dipindah, bolehkah aku tetap mengajakmu berjalan-jalan ke sini? Meskipun jalan ini tidak lagi kosong, dan suara motor kembali meraung, tapi mungkin... perasaan kita masih bisa menemukan ruang untuk tetap diam di sini.”

Dia tidak menjawab. Tapi dari senyumnya, aku tahu: cinta tidak butuh CFD. Tapi CFD membuat cinta lebih mudah tumbuh. Dan kota yang mencintai warganya, mestinya tidak memindahkan cinta begitu saja.

Bimbingan Ibadah Haji Mandiri

Saya berziarah haji, bukan ke Tanah Suci, tapi ke rumah seorang sahabat lama selepas salat Isya. Rumahnya di perempatan jalan perumahan yang temaram, di mana lampu-lampu gantung menggantung tanpa semangat, dan kopi hitam diseduh tanpa banyak basa-basi, bersanding kurma, dan  air zamzam, bukan hanya aroma kopi yang menyerupai doa yang tak selesai.

Kami duduk bersisian di teras, seperti para lelaki yang tahu bahwa usia mengubah haluan cinta, dan persahabatan bukan lagi perihal bercerita panjang-panjang, tapi duduk diam sambil menyimak semesta lewat bunyi sendok beradu pelan di dasar gelas, yang paling penting saat ziarah haji bukanlan ceritanya, apalagi oleh-oleh yang tak seberapa. kita hanya butuh doa, butuh motivasi agar bisa kembali ke tanah misteri. 

Ia adalah teman satu fakultas saat kami belajar hukum. Sekarang berpangkat komisaris polisi. Tahun ini dia berangkat haji. Tapi pembicaraan kami tidak pernah benar-benar tentang ibadah sebagai teori. Ia lebih tertarik menceritakan tentang logistik, strategi lapangan, dan pengalaman menyiasati rute manusia yang tak tertebak, kita adalah sekumpulan laki-laki yang ketika berkumpul akan mengalir banyak cerita, tentang masa lalu atau masa sekarang.

"Saya ini polisi. Hari kerja itu kami sibuk tangani perkara," katanya soal alasannya memilih KBIHU ketimbang hanya bimbingan dari pemerintah. Bimbingan dari kementerian terlalu sering bentrok dengan jam dinas. Ia butuh sesuatu yang fleksibel, KBIHU melaksanakan bimbingan di hari libur, sehingga meskipun harus bayar tetapi kita bisa mengikutinya. dan ini merupakan resiko bagi kita yang tidak ingin meninggalkan tugas untuk mengkuti bimbingan, meskipun oleh pimpinan juga diizinkan, sehingga dia juga beberapa kali mengikuti bimbingan dari Kementerian Agama, karena bimbingan di Kementerian Agama lebih lengkap karena ada kurikulum yang wajib diterapkan.

Ia memilih KBIHU karena janjinya: pembimbing dari swasta akan ikut menyertai hingga ke Makkah dan Madinah. Saya tertawa kecil mendengarnya. Janji di tanah air memang indah. Tapi sejarah, seperti biasa, punya kehendaknya sendiri. 


Tahun 2025, sistem delapan syarikah resmi berlaku. Dan tiba-tiba haji bukan lagi rombongan kompak dari bandara ke hotel yang sama, tapi seperti serpihan mozaik yang dibuang angin: satu kloter bisa menginap di delapan titik hotel berbeda. Teman saya menginap di Misfalah. Pembimbing KBIHU-nya malah tinggal di Syisyah. Dua titik yang termialnya saja di Masjidil Haram terpisah satu setengah kilometer dan ribuan manusia.

"Itu bukan jalan pagi di taman kota," katanya. "Kadang seperti pasar, kadang seperti banjir." Maka pembimbing yang dijanjikan tidak pernah benar-benar bisa hadir. Dan janji yang dibungkus manis di tanah air meleleh di panasnya tanah suci, tertakdirkan oleh syarikah yang kurang memahami kondisi bangsa Indonesia yang bereda suku, meskipun kita sudah terbiasa dengan perbedaan suku dan budaya ketika di tanah air, tetapi butuh waktu panjang untuk menyesuaikannya.

Tapi sahabat saya bukan tipe orang yang mudah gelagapan. Ia terbiasa memimpin sektor kepolisian, menghadapi unjuk rasa dan massa yang kehilangan akal sehat. Ketika ditunjuk sebagai ketua rombongan, ia membentuk struktur kecil: ada yang memimpin salat, mengurus lansia, logistik, hingga komunikasi. Ia sendiri jadi semacam komandan lapangan. "Tawaf itu bukan cuma urusan spiritual. Itu juga urusan koordinasi," katanya.

Ia membekali rombongan dengan semangat kebersamaan. Dalam pusaran mataf yang penuh sesak, semangat itu menjadi jangkar visual. Ia memberi instruksi: "saling melindungi, dan perempuan serta orang tua berada di tengah barisan" Saya membayangkan formasi mereka seperti ikan kecil di antara paus-paus besar. Dan suara komandonya, "ke kiri! ke kiri!" lebih mirip arahan evakuasi bencana dibanding ritual ibadah.

Ada sesuatu yang tak diajarkan di buku manasik: bertahan bersama. Kita diajarkan tentang rukun, wajib, larangan. Tapi tak diajarkan bagaimana tetap utuh saat satu orang hilang arah,atau pintu Masjidil Haram tiba-tiba ditutup, bisa jadi ketika jamaah keluar masjid secara terpisah, tidak tahu arah terminal, tidak tahu arah pulang.

"Keluar dari pintu berbeda lima menit saja, bisa tersesat setengah hari," katanya. Tapi tak ada pelatihan cara membaca arus manusia, cara mengenali pintu, atau cara mendekati askar yang setengah galak.

"Haji itu bukan cuma ibadah," katanya. "Itu juga soal logistik, soal daya tahan, dan soal bagaimana tidak saling kehilangan."

Saya menyesap kopi, yang kini mulai dingin. Tapi malam itu menjadi hangat oleh kesadaran baru: mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencatat apa yang sah dan tidak sah dalam haji, sampai lupa bahwa ibadah juga soal bagaimana tidak membuat orang di sebelah kita merasa sendiri. Bahwa tawaf paling khusyuk mungkin bukan yang paling banyak doa, tapi yang dilakukan bersama, dengan orang-orang yang saling menjaga. Ia bilang, tak satu pun dari rombongannya hilang. Tak ada yang tersesat. Tak ada yang tertinggal. Tak ada yang patah hati karena kehilangan arah di tempat yang katanya paling dekat dengan Tuhan. Dan mungkin, di titik itulah ia benar-benar berhaji.

Saya pulang malam itu membawa pemahaman baru: bahwa cinta dan ibadah tak selalu berbentuk ayat dan dzikir. Kadang ia hadir dalam bentuk pita kuning, dalam strategi jalan kaki, dalam kejelian membaca arah massa. Kadang pembimbing terbaik bukan yang fasih tentang fiqih, tapi yang tahu kapan harus berhenti, kapan harus menoleh ke belakang.

Bahwa sebagian ibadah justru lahir dari tangan yang menggenggam di tengah kerumunan, dari suara pelan yang berkata, "ke kiri, ke kiri," dari kesediaan berjalan pelan agar yang tua tidak tertinggal. Dan itu, lebih dari apa pun, adalah ziarah paling sunyi yang bisa kita lakukan. 

Kapolresta Banyuwangi Tinjau Lokasi Pencarian Pelajar Hanyut di Sungai Badeng

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., meninjau langsung lokasi pencarian pelajar yang hanyut di aliran Sungai Badeng, kawasan wisata Hutan Pinus, Dusun Sumberagung, Desa Sumberbulu, Kecamatan Songgon, Sabtu (28/6/2025). Pencarian terhadap korban yang diketahui bernama Sahril Hamdani (16), pelajar asal Dusun Krajan, Desa Sumberbulu, masih terus dilakukan oleh tim gabungan.



Korban dilaporkan hanyut setelah sepeda motor yang dikendarainya bersama rekannya, berinisial AH (42), tergelincir ke sungai saat melintas di tepi aliran Sungai Badeng yang sedang banjir. Rekannya berhasil selamat, sementara Sahril terbawa arus deras.

Kapolresta didampingi jajaran Polsek Songgon, TNI, BPBD Banyuwangi, serta relawan masyarakat, turun langsung meninjau lokasi dan memimpin koordinasi lintas sektor dalam upaya pencarian. Ia menegaskan bahwa seluruh personel dikerahkan agar proses pencarian berjalan maksimal.

“Kami terus melakukan penyisiran di sepanjang aliran sungai. Kami juga mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati, terutama di area sungai dan kawasan wisata saat cuaca ekstrem seperti ini,” ujar Kombes Pol. Rama Samtama Putra kepada awak media.

Sejauh ini, barang bukti berupa helm dan jas hujan milik korban telah ditemukan dan diamankan. Namun, keberadaan korban masih belum diketahui.

Polresta Banyuwangi mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi bahaya di wilayah sungai dan lokasi wisata alam, serta selalu mengutamakan keselamatan diri dalam kondisi cuaca yang tidak menentu.

Kamar Barokah dan Syarikah: Catatan tentang Haji yang Semakin Privat dan Profesional"

 Kamar Barokah dan Syarikah: Catatan tentang Haji yang Semakin Privat dan Profesional"



Beberapa kali saya menerima pesan WhatsApp yang nadanya serupa: tanya ini-tanya itu tentang haji. Mungkin karena tahun lalu saya menjadi petugas haji, lalu tiba-tiba dianggap tahu segalanya. Jamaah yang dulu saya bantu kini menempatkan saya dalam posisi seorang konsultan lintas batas: perihal manasik, akomodasi, bahkan... kamar barokah. Ya, kamar barokah. Satu istilah yang terdengar jenaka tapi sangat manusiawi. Ini bukan sekadar tentang tempat tidur dan pasangan halal. Ini tentang privasi di tanah suci, di tengah jutaan manusia yang sedang menjalani ibadah yang paling sakral dalam hidup mereka.

Seseorang bertanya: "Ustaz, kamar barokah itu boleh dipakai kapan saja?"

Saya tidak langsung jawab. Saya kirim emoji tertawa dulu, baru kemudian menulis: "Boleh, asal belum berniat umroh atau haji dan kalau sudah niat haji menjelang Arofah sudah thawaf ifadah dan tidak ihram. Tapi... jaga etika."

Di tengah semrawutnya logistik, padatnya jadwal ibadah, dan sengatan suhu gurun yang melebihi 40 derajat Celsius, pertanyaan-pertanyaan semacam itu justru terasa sangat membumi. Ia menunjukkan bahwa para jamaah, seberapa pun khusyuknya mereka di tanah suci, tetaplah manusia: dengan rindu, dengan hasrat, dengan keinginan untuk merasa dimanusiakan. Tahun ini berbeda. Tahun 2025 ini, skema pelayanan haji berubah cukup drastis. Kementerian Agama RI menggandeng delapan syarikah, perusahaan penyedia layanan haji dari Arab Saudi, untuk melayani jamaah reguler. Ini langkah yang besar. Bagi saya, ini juga revolusi diam-diam yang dampaknya tidak main-main.

Tapi perubahan, sekecil apa pun, selalu mengundang guncangan. Seorang jamaah bercerita, ia berada dalam satu kloter tapi berbeda hotel dengan teman sekamarnya sejak di tanah air. Temannya itu ogah ke masjid bareng karena merasa bukan “serombongan KBIHU”. Ia jadi seperti anak rantau dalam rombongan sendiri. Saya teringat kisah viral sepasang suami istri yang hotelnya berjauhan, satu di Misfalah, satu di Misfalah. Tapi mereka tetap bahagia, bahkan terlihat "enjoi" padahal jarnya cukup jauh, terminal di Masjidil Haram juga berjauhan, satu di Syib Amir dan satunya di Ajyad yang jaraknya 1,5 Km. Mereka sesekali saling mengunjungi, membawakan bekal, dan membuat video dengan gaya “pulang kampung”. Dalam keterpisahan, mereka justru menciptakan cerita. Bukankah itu cara Tuhan mengajarkan makna dari keikhlasan?

Namun tak semua seindah TikTok. Ada yang mengeluh, protes, sampai membawa masalah ke petugas sektor. Mereka menuntut agar bisa dikembalikan ke hotel asal. Tapi sistem tidak semudah menggeser nama di spreadsheet. Ada kontrak, ada komitmen layanan, ada sekat yang tidak bisa ditembus hanya dengan air mata. Saya paham keresahan para jamaah. Tapi saya juga paham dinamika para petugas. Di balik layar, kerja mereka tidak main-main. Mereka harus memastikan bahwa delapan syarikah yang kini bergabung benar-benar menjalankan tugas sesuai perjanjian. Ini pertama kalinya Indonesia tak lagi bergantung pada satu muassasah. Sekarang ada persaingan. Ada pilihan. Ada evaluasi. Dan seperti hukum alam: persaingan itu sehat. Ia melahirkan standar baru.

Di Arafah, Muzdalifah, dan Mina , tiga titik krusial dalam ibadah haji, kualitas tenda mulai berbeda. Dulu, semua seragam. Sekarang, ada yang pendinginnya lebih baik, ada yang kateringnya lebih manusiawi, ada juga yang tetap seperti masa lalu , seadanya.

Saya pun mencatat satu hal penting: transformasi ini bukan hanya soal tenda yang lebih nyaman atau makanan yang lebih bergizi. Ini soal arah baru penyelenggaraan haji. Skema syarikah adalah semacam privatisasi dalam ruang suci. Tapi jika dijalankan dengan jujur dan profesional, ini bisa jadi jawaban bagi jutaan jamaah yang ingin lebih dari sekadar "selamat" di Tanah Haram.

Di tengah semua modernisasi ini, persoalan lama tetap muncul: visa yang telat, manifes yang berubah, data yang tak sinkron. Kloter jadi campur aduk, ada yang merasa tak lagi "sekloter" secara batin meski secara administratif masih satu kode keberangkatan. Namun petugas selalu menekankan: “Penempatan hotel di Madinah tetap sesuai kloter, demi kenyamanan. Tapi di Makkah, berdasarkan syarikah.” Artinya, jamaah harus bersiap dengan kemungkinan tidak sejalan dengan rombongan awal. Harus adaptif. Harus ikhlas.

Sungguh, dua kata terakhir itu, adaptif dan ikhlas, terasa begitu berat untuk diterjemahkan di lapangan. Tapi, itulah haji. Ia bukan sekadar ibadah jasmani dan rohani. Ia adalah ujian mental, psikologis, dan sosial. Ada seorang ibu yang saya temui di lobi hotel. Ia menangis karena tidak tahu di mana koper suaminya. Mereka terpisah hotel. Suaminya tak bisa dihubungi karena ponselnya tertinggal di koper yang raib itu. Saya duduk di sebelahnya, mendengarkan kisahnya seperti sedang mendengar dongeng malam hari. Ibu itu tidak menuntut solusi. Ia hanya ingin didengar. Itu saja. Satu hal yang membedakan haji zaman ini dengan zaman dahulu adalah kartu. Ya, kartu Nusuk. Kartu ini adalah identitas digital jamaah. Dengan kartu ini, mereka bisa masuk ke Arafah, Muzdalifah, Mina, dan fasilitas lainnya.

Ada juga cerita lucu. Seorang bapak kehilangan kartu Nusuk-nya karena ia masukkan ke dalam dompet, lalu dompet itu disimpan di koper besar, dan koper besar itu dikirim ke gudang logistik. Ia lupa di mana. Ketika ditanya kenapa disimpan di koper, jawabannya sederhana: “Saya kira cuma buat kenang-kenangan.”

Pertanyaan penting dalam kepala saya selama di tanah suci adalah ini: apakah layanan yang makin profesional akan membuat ibadah haji makin spiritual atau justru makin terasing? Karena ketika semua sudah dikelola secara sistematis, hotel ditentukan berdasarkan syarikah, makanan dijatah harian, perjalanan diatur dengan skema transportasi yang presisi maka ruang spontanitas dan kebersamaan jadi semakin sempit.

Dulu, jamaah satu rombongan saling membantu, saling mencari. Sekarang, ada yang bahkan tidak kenal siapa teman sekamarnya karena gonta-ganti hotel. Mereka datang, tidur, pergi, seperti pejalan bisnis yang transit di bandara. Tapi barangkali, di situlah letak ujiannya. Bagaimana tetap bisa saling peduli dalam sistem yang kian steril dan individual. Haji tahun ini adalah tentang keberanian berubah. Tentang bagaimana pemerintah kita melalui Kementerian Agama dan PPIH bersedia menempuh jalan baru demi kualitas pelayanan yang lebih baik. Tapi seperti semua perubahan, pasti ada yang tertinggal. Ada yang bingung. Ada yang bertanya-tanya.

Di akhir musim haji nanti, semua jamaah akan pulang. Mereka akan bercerita. Ada yang bercerita tentang cuaca panas, tentang tenda nyaman, tentang makanan yang asin, tentang hotel yang jauh, tentang kamar barokah yang tak sempat terpakai, atau tentang kartu Nusuk yang sempat tertinggal di koper. Tapi saya percaya, di balik semua itu, mereka juga akan membawa sesuatu yang tak bisa dicetak di paspor atau dibaca oleh barcode. Yaitu, cerita. Cerita bahwa mereka pernah berada di tanah paling suci, menjalani ibadah paling penting, di tengah sistem yang sedang berbenah.

Dan mungkin, cerita-cerita itulah yang akan mengalir dari mulut ke mulut, dari mushola ke mushola, dari grup WA ke grup RT, menyampaikan satu pesan sederhana: Haji bukan hanya soal rukun dan wajib. Ia juga tentang kesabaran dalam antre, keikhlasan dalam kepisahan, dan ketulusan dalam menyambut perubahan.

Haji tahun ini adalah tentang syarikah, ya. Tapi lebih dari itu, ia tentang manusia.

Talk Show HANI 2025 di Banyuwangi: Kolaborasi Lintas Sektor dan Lintas Agama Perangi Narkoba sebagai Musuh dalam Selimut

Banyuwangi, (Warta Blambangan) — Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menunjukkan keseriusannya dalam memerangi penyalahgunaan narkoba melalui pelaksanaan Talk Show Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2025 yang digelar di Hall Room STIKES Banyuwangi. Kegiatan edukatif ini diselenggarakan oleh Gerakan Mencegah dan Mengobati (GMDM) DPW Banyuwangi bekerja sama dengan Yayasan Anti Narkoba (YAN LPSS) Banyuwangi. Herman Sjahthi, M.Pd., M.Th., CBC bertindak selaku Ketua Pelaksana acara. 


Acara ini merupakan forum strategis yang mempertemukan unsur pemerintah, lembaga penegak hukum, institusi pendidikan, tenaga kesehatan, dan tokoh agama lintas iman. Dalam sambutannya, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyuwangi, M. Yanuar Bramudya, yang hadir mewakili Bupati, menekankan pentingnya sinergi dalam upaya pemberantasan narkoba.

> “Narkoba itu ada di sekitar kita, seperti musuh dalam selimut. Ini adalah musuh bersama yang harus kita lawan dengan kebersamaan dan kesadaran lintas sektor,” ungkapnya.

Talk show ini menghadirkan tiga narasumber utama dari institusi penegakan hukum, yaitu Kombes Pol. Faisol Wahyudi, S.I.K. (Kepala BNNK Banyuwangi), AKP Nanang Sugiyono, S.H., M.H. (Kasatresnarkoba Polresta Banyuwangi), dan Agus Hariono, S.H. (Kasi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Banyuwangi). Ketiganya menguraikan tantangan penegakan hukum terhadap peredaran narkoba di wilayah Banyuwangi dan menyoroti tren penyalahgunaan yang mengancam kelompok usia produktif, khususnya generasi muda. 


Diskusi diperluas melalui kehadiran para panelis yang berasal dari lintas sektor. Mereka adalah Drs. R. Agus Mulyono, M.Si. (Kepala Bakesbangpol Banyuwangi), Amir Hidayat, M.Kes. (Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi), Dr. H. Soekardjo, S.Kep., MM, MBA (Ketua STIKES Banyuwangi), dan Achmad Shiddiq (Penyuluh Agama Islam dari KUA Kalipuro). Forum ini dipandu secara interaktif oleh Hakim Said, S.H. selaku moderator.

Kegiatan tersebut diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, guru, penyuluh agama Islam, Katolik, Hindu, dan Budha yang tergabung dalam binaan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Menurut Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, kehadiran penyuluh lintas agama adalah bentuk konkret sinergi spiritual dalam membentengi generasi muda dari pengaruh negatif narkoba.

> “Kami hadirkan Penyuluh Agama Islam, Katolik, Hindu, dan Budha. Ini bentuk nyata sinergi spiritual lintas agama untuk menguatkan benteng moral generasi muda dalam melawan narkoba,” tegasnya melalui pernyataan daring.

Talk Show HANI 2025 juga menjadi ruang kolaboratif antara unsur masyarakat sipil dan pemerintah dalam mengembangkan strategi preventif berbasis edukasi dan nilai moral. Di penghujung acara, seluruh peserta menandatangani Deklarasi Bersama Stop Narkoba, sebagai simbol komitmen kolektif untuk menjauhi narkoba dan mengedukasi masyarakat sekitarnya.

Acara ini turut diperkuat dengan dukungan Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo, yang sebelumnya menjadi ruang diskusi awal lintas komunitas terkait peringatan HANI. Seluruh rangkaian kegiatan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube sebagai bentuk keterbukaan dan perluasan jangkauan edukasi publik. Melalui pendekatan kolaboratif ini, Banyuwangi mempertegas dirinya sebagai wilayah yang aktif dalam membangun ketahanan sosial terhadap bahaya laten narkotika.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger