Pages

BAZNAS dan LKKNU Banyuwangi Percepat Program Isbat Nikah: Zakat Harus Hadir Menjawab Kebutuhan Umat

BANYUWANGI – Upaya memberikan kepastian hukum bagi pasangan suami istri dari keluarga kurang mampu terus diperkuat. Menindaklanjuti kerja sama antara Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Banyuwangi, Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) akan segera melaksanakan program Isbat Nikah Terpadu bagi masyarakat yang belum memiliki buku nikah.

Program tersebut menyasar pasangan yang telah menikah secara agama, namun belum tercatat secara resmi oleh negara. Kondisi ini selama ini menjadi kendala bagi masyarakat dalam mengurus berbagai dokumen kependudukan maupun mengakses layanan publik.

Ketua LKKNU PCNU Banyuwangi, Dalilatus Sa'adah, S.H.I., menjelaskan bahwa legalitas perkawinan merupakan hak dasar setiap keluarga. Karena itu, LKKNU akan melakukan pendataan sekaligus pendampingan kepada calon peserta agar proses isbat nikah dapat berjalan lebih mudah dan tertib.

"Kami ingin memastikan masyarakat yang selama ini terkendala biaya maupun administrasi dapat memperoleh kepastian hukum atas pernikahannya. Setelah isbat nikah selesai, mereka juga akan didampingi hingga mendapatkan dokumen kependudukan yang dibutuhkan," ujarnya.

Ruang lingkup kerja sama antara PCNU Banyuwangi dan BAZNAS memang mencakup pendataan pasangan yang belum memiliki buku nikah, fasilitasi pelaksanaan isbat nikah, pendampingan administrasi kependudukan, hingga pembiayaan bagi keluarga miskin dan mustahik.


Sementara itu, Ketua BAZNAS Kabupaten Banyuwangi, Drs. H. Dwi Yanto, M.AP., menegaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari komitmen BAZNAS dalam menghadirkan manfaat zakat yang menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat.

"Zakat tidak hanya diwujudkan dalam bentuk bantuan konsumtif, tetapi juga harus mampu menyelesaikan persoalan sosial yang dihadapi masyarakat. Melalui program isbat nikah ini, kami ingin membantu keluarga kurang mampu memperoleh kepastian hukum sehingga mereka dapat mengakses hak-hak sipilnya dengan lebih mudah."

Menurut Dwi Yanto, kolaborasi dengan PCNU Banyuwangi menjadi langkah strategis karena jaringan Nahdlatul Ulama hingga tingkat desa dinilai mampu membantu proses pendataan dan pendampingan masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

"Kolaborasi ini akan membuat penyaluran dana zakat lebih tepat sasaran. Harapan kami, semakin banyak keluarga yang memperoleh manfaat, bukan hanya dari sisi bantuan biaya, tetapi juga perlindungan hukum dan peningkatan kesejahteraan keluarga," tambahnya.

Program Isbat Nikah Terpadu ini diharapkan segera direalisasikan setelah proses pendataan calon peserta selesai. Selain memberikan legalitas perkawinan, program tersebut juga membuka akses masyarakat terhadap berbagai layanan administrasi, seperti penerbitan buku nikah, kartu keluarga, akta kelahiran anak, hingga pelayanan publik lainnya.

Sinergi antara LKKNU PCNU Banyuwangi dan BAZNAS Kabupaten Banyuwangi menjadi wujud nyata kolaborasi dalam membangun keluarga yang lebih kuat, terlindungi secara hukum, dan sejahtera melalui pemanfaatan dana zakat yang produktif dan berdampak luas bagi masyarakat.

26 Santri Banyuwangi Berebut Kesempatan Kuliah di Al-Azhar Mesir Melalui Jalur Beasiswa PBNU

BANYUWANGI – Impian menimba ilmu di Universitas Al-Azhar Mesir terus membakar semangat para santri Banyuwangi. Hingga Kamis (18/6/2026), sebanyak 26 santri tercatat telah mengajukan surat rekomendasi kepada PCNU Banyuwangi untuk mengikuti seleksi Beasiswa Al-Azhar Mesir jalur PBNU tahun 2026.

Jumlah tersebut meningkat setelah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperpanjang masa pendaftaran yang semula berakhir pada 17 Juni menjadi 21 Juni 2026. Keputusan itu diambil karena tingginya minat santri dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengikuti program beasiswa tersebut.

Salah satu santri yang memanfaatkan perpanjangan waktu tersebut adalah Abrar Khairunnata, santri asal Desa Pendarungan, Kecamatan Kabat. Bersama ibundanya, Abrar datang ke Kantor PCNU Banyuwangi untuk mengurus surat rekomendasi yang menjadi salah satu syarat pendaftaran.

Bagi Abrar, kesempatan tersebut menjadi secercah harapan baru. Setelah sebelumnya belum memperoleh kesempatan melalui program beasiswa ke Maroko, kini ia bertekad melanjutkan perjuangan dengan mengikuti seleksi menuju Al-Azhar Mesir, salah satu perguruan tinggi Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia.

Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi, Haikal Kafili, S.H., S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa tingginya minat santri Banyuwangi menunjukkan semakin kuatnya kesadaran generasi muda pesantren terhadap pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan perluasan jaringan pendidikan internasional.

"Ini bukan sekadar tentang melanjutkan studi ke luar negeri. Lebih dari itu, ini adalah gambaran bahwa semangat belajar para santri Banyuwangi terus tumbuh. Mereka memiliki cita-cita besar untuk memperdalam ilmu dan membawa manfaat yang lebih luas bagi umat dan bangsa," ujarnya.

Menurut Haikal, PCNU Banyuwangi memandang antusiasme tersebut sebagai modal penting dalam menyiapkan generasi penerus NU yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar tradisi keilmuan pesantren.

Ia menambahkan bahwa pihaknya berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada para santri yang membutuhkan rekomendasi. Dukungan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar organisasi dalam membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi kader-kader muda Nahdlatul Ulama.

Meski peluang yang tersedia cukup terbatas, Haikal meminta para peserta untuk tetap optimistis. Tahun ini PBNU hanya membuka kuota sebanyak 30 penerima beasiswa dari seluruh Indonesia, terdiri atas 15 mahasiswa pada fakultas keagamaan dan 15 mahasiswa pada fakultas non-keagamaan.

"Keterbatasan kuota jangan sampai memadamkan semangat. Setiap perjuangan memiliki nilai. Jika hari ini belum berhasil, pengalaman yang diperoleh akan menjadi bekal untuk langkah berikutnya. Yang terpenting adalah keberanian untuk mencoba dan kesungguhan dalam berikhtiar," katanya.

Haikal juga mengingatkan bahwa sejarah Nahdlatul Ulama mengajarkan pentingnya ketekunan dalam memperjuangkan cita-cita. Berbagai pencapaian besar yang dirasakan umat saat ini lahir dari proses panjang yang dijalani para ulama dan pendiri organisasi dengan penuh kesabaran dan pengorbanan.

Melalui semangat yang ditunjukkan para santri Banyuwangi, PCNU berharap akan lahir lebih banyak kader ulama dan intelektual yang mampu mengharumkan nama daerah, bangsa, serta Nahdlatul Ulama di tingkat internasional.(HKL)

"Semoga setiap langkah yang ditempuh para santri menjadi bagian dari ikhtiar mencari ilmu yang berkah dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat. Kami mendoakan yang terbaik untuk seluruh peserta seleksi," pungkasnya.

LKKNU Banyuwangi Jalin Sinergi dengan Dinas Kesehatan, Perkuat Ketahanan Keluarga dan Kesehatan Masyarakat

BANYUWANGI – Upaya membangun keluarga sehat dan maslahah terus diperkuat melalui kolaborasi lintas lembaga. Hal tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) PCNU Banyuwangi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi yang berlangsung di Hedon Cafe and Resto Banyuwangi, Rabu (17/6/2026).


Kegiatan yang dirangkaikan dengan pengukuhan pengurus LKKNU PCNU Banyuwangi itu dihadiri jajaran pengurus PCNU dan LKKNU Banyuwangi, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, perwakilan Pengadilan Agama, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB), Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), serta Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Banyuwangi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, Amir Hidayat, yang berhalangan hadir, diwakili Sekretaris Dinas Kesehatan Firman Sanyoto. Dalam sambutannya, Firman menegaskan bahwa kesehatan merupakan anugerah yang harus dijaga bersama sebagai fondasi utama kehidupan keluarga dan masyarakat.

“Menjaga kesehatan bukan hanya tanggung jawab tenaga medis, tetapi menjadi kewajiban seluruh elemen masyarakat. Keluarga yang sehat akan melahirkan generasi yang kuat, produktif, dan berdaya saing,” ujarnya.

Firman juga mengapresiasi langkah LKKNU Banyuwangi yang mengambil peran strategis dalam pendampingan keluarga melalui berbagai program kemaslahatan. Menurutnya, sinergi antara organisasi kemasyarakatan dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat.

Melalui kerja sama tersebut, LKKNU dan Dinas Kesehatan akan berkolaborasi dalam berbagai program kesehatan keluarga, pencegahan stunting, kesehatan ibu dan anak, kesehatan reproduksi, serta penguatan keluarga maslahah. Kerja sama ini juga mencakup edukasi pola hidup bersih dan sehat, pendampingan keluarga berisiko stunting, pembinaan kesehatan remaja dan lansia, hingga penguatan kesehatan mental keluarga.

Ketua LKKNU PCNU Banyuwangi, Dalilatus Sa’adah, menyampaikan bahwa keluarga merupakan pondasi utama dalam membangun masyarakat yang sejahtera. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga harus dilakukan secara terencana dan melibatkan berbagai pihak.

“LKKNU hadir untuk mendampingi keluarga dari berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga ketahanan sosial. Melalui kolaborasi ini, kami berharap program-program kemaslahatan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas,” ungkapnya.

Kegiatan berlangsung penuh keakraban dan semangat kebersamaan. Kehadiran berbagai instansi dan lembaga mitra menunjukkan komitmen bersama dalam mewujudkan keluarga Banyuwangi yang sehat, tangguh, dan berdaya guna sebagai fondasi pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Sambut 1 Suro, Panji Blambangan Gelar Jamasan Pusaka, Dihadiri Tokoh-Tokoh Seni dan Budaya Banyuwangi

BANYUWANGI –(Warta Blambangan)Tradisi menyambut 1 Suro di Banyuwangi kembali semarak. Paguyuban Panji Blambangan (Paguyuban Pelestari Tosan Aji Blambangan Banyuwangi) menggelar Gelar Budaya Keris 2026 di kawasan Cafe Museum Banyoewangi Tempo Doeloe, lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Rabu (17/6/2026). Kegiatan jamasan dan pameran pusaka yang dipandu budayawan sekaligus kurator pusaka nasional KRT Ilham Triadi Nagoro ini dihadiri sejumlah tokoh seni dan budaya Banyuwangi, di antaranya Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri, Punjul Ismu Wardoyo dari Padepokan Alang-Alang Kumitir, penyair Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi, Aekanu Hariyono dari Kiling Osing Banyuwangi, penyanyi sekaligus pencipta lagu Osing Yons DD, serta budayawan senior Ki Pramoe Karno Sakti.

Kegiatan yang merupakan bagian dari peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah dan Bulan Suro itu dipusatkan di Pelinggihan dan Serambi Museum Blambangan. Tradisi jamasan pusaka menjadi agenda utama sebagai ritual pembersihan keris, tombak, dan berbagai tosan aji yang telah diwariskan secara turun-temurun dalam budaya Jawa.


Menurut KRT Ilham Triadi Nagoro, tradisi ini merupakan bentuk komitmen nyata dalam merawat, melestarikan, sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai nilai sejarah, filosofi, dan kebudayaan yang terkandung dalam benda-benda pusaka Nusantara.

"Bulan Suro dipilih karena merupakan momentum awal tahun baru yang baik untuk memulai segala sesuatu dengan energi yang bersih. Jamasan bukan sekadar membersihkan fisik pusaka, tetapi juga menjadi pengingat agar manusia membersihkan hati dan memperkuat nilai-nilai kebajikan," ujarnya.

Selama kegiatan berlangsung, ruang Pelinggihan Disbudpar Banyuwangi disulap menjadi galeri pameran temporer yang menampilkan berbagai koleksi keris kuno dari era Singhasari, Majapahit hingga Blambangan. Berbagai pusaka tersebut menarik perhatian para pecinta budaya, kolektor, hingga wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat sejarah perkerisan Nusantara.

Selain membersihkan fisik pusaka, Panji Blambangan juga membuka layanan konsultasi bagi masyarakat yang ingin mengetahui estimasi usia atau tangguh pusaka yang dimiliki sekaligus memperoleh edukasi mengenai teknik perawatan pusaka secara mandiri.

"Khusus tahun ini kami juga membuka layanan sertifikasi pusaka dan tosan aji. Harapannya masyarakat semakin memahami nilai historis pusaka yang dimiliki sehingga dapat dirawat dengan baik," jelas Ilham.

Ia menegaskan bahwa tradisi perkerisan tidak boleh dipandang semata dari sisi mistis, melainkan sebagai bagian dari kearifan lokal yang mengandung nilai seni, teknologi, sejarah, dan identitas budaya bangsa.


"Generasi muda harus tahu bahwa keris bukan sekadar benda tajam, tetapi simbol jati diri dan kedaulatan budaya. Ini adalah warisan luhur yang harus terus dijaga," tegasnya.

Kehadiran para tokoh seni dan budaya tersebut semakin memperkuat makna Gelar Budaya Keris 2026 sebagai ruang silaturahmi sekaligus forum pelestarian warisan leluhur. Acara ini menjadi wadah bertemunya para budayawan, seniman, pegiat sastra, dan pemerhati budaya untuk bersama-sama menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga pusaka sebagai identitas bangsa.

Tradisi jamasan juga berhasil memikat perhatian wisatawan mancanegara. Seorang wisatawan asal Prancis, Zoe Couliard, mengaku terkesan melihat benda-benda pusaka berusia ratusan tahun yang masih terawat dengan baik hingga kini.

"Saya tidak sengaja melewati tempat ini. Di negara saya tidak ada tradisi seperti ini. Sangat mengagumkan melihat benda-benda kuno yang usianya ratusan tahun masih dirawat dan dijaga oleh generasi penerus," ungkap Zoe.

Melalui Gelar Budaya Keris 2026, Panji Blambangan berharap masyarakat, khususnya generasi muda, semakin mengenal kekayaan budaya bangsa dan tumbuh kesadaran untuk menjaga pusaka sebagai bagian dari identitas serta warisan luhur Indonesia. (Syaf)

Kemenag Banyuwangi dan LKKNU Tandatangani MoA, Perkuat Ketahanan Keluarga dan Cegah Perkawinan Anak


Banyuwangi
 (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi bersama Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) PCNU Banyuwangi menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) tentang sinergi program keluarga maslahah, bimbingan perkawinan, penguatan ketahanan keluarga, pencegahan perkawinan anak, isbat nikah terpadu, dan pelayanan keagamaan bagi masyarakat. Penandatanganan MoA tersebut dilaksanakan di Hedon Cafe Banyuwangi, Rabu (17/6/2026).

MoA ditandatangani oleh Ketua LKKNU PCNU Banyuwangi, Dalilatus Sa’adah, dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat. Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan keluarga berbasis nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah sekaligus menjawab berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa tantangan keluarga saat ini semakin kompleks. Salah satu yang menjadi perhatian adalah derasnya arus informasi di media sosial yang dipengaruhi algoritma digital.

“Saat ini algoritma media sosial sangat masif. Yang muncul bukan hanya konten-konten positif, tetapi tidak jarang juga konten negatif yang dapat memengaruhi moral dan pola pikir remaja. Karena itu diperlukan penguatan keluarga dan pendidikan nilai-nilai keagamaan agar generasi muda memiliki filter yang kuat dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi,” ujarnya.

Menurut Chaironi, LKKNU memiliki posisi strategis sebagai mitra pemerintah dalam membangun ketahanan keluarga dan melakukan edukasi kepada masyarakat. Melalui jaringan yang dimiliki hingga tingkat akar rumput, LKKNU diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam membina keluarga dan mencegah berbagai persoalan sosial.

Ia juga menyoroti masih tingginya angka perceraian dan perkawinan anak di Banyuwangi. Kondisi tersebut membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, organisasi keagamaan, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen bangsa.

“LKKNU menjadi salah satu organisasi yang dapat membantu mengurangi persoalan tersebut. Kita berharap melalui program-program pendampingan keluarga, bimbingan perkawinan, edukasi keluarga sakinah, dan pencegahan perkawinan anak, angka perceraian maupun perkawinan anak di Banyuwangi dapat terus ditekan,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua LKKNU Banyuwangi menyampaikan bahwa kerja sama ini akan menjadi landasan pelaksanaan berbagai program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Program-program tersebut meliputi penguatan keluarga maslahah, konseling keluarga, bimbingan perkawinan bagi calon pengantin, pendampingan pascanikah, pencegahan perkawinan anak, pembinaan keluarga sakinah, penyuluhan keagamaan, hingga pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.


Dalam MoA tersebut juga ditegaskan bahwa salah satu tujuan kerja sama adalah mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, meningkatkan kualitas kehidupan keluarga muslim, menurunkan angka perceraian dan perkawinan anak, serta memperkuat pelayanan keagamaan kepada masyarakat.

Melalui sinergi antara Kementerian Agama dan LKKNU Banyuwangi ini, diharapkan lahir berbagai program nyata yang mampu memperkuat fondasi keluarga sebagai benteng utama dalam menghadapi tantangan zaman, sehingga tercipta masyarakat Banyuwangi yang lebih tangguh, harmonis, dan berdaya saing. (dll)

Merawat Keluarga, Merawat Bangsa: Khidmah Marifatul Kamila dalam Penguatan Kemaslahatan Umat di LKKNU Banyuwangi

 Merawat Keluarga, Merawat Bangsa: Khidmah Marifatul Kamila dalam Penguatan Kemaslahatan Umat

Di tengah meningkatnya berbagai persoalan keluarga—mulai dari perceraian, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga persoalan administrasi kependudukan—kehadiran Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Banyuwangi menjadi semakin relevan. Berbagai program yang digagasnya bukan sekadar kegiatan organisasi, melainkan ikhtiar membangun fondasi masyarakat dari unit terkecil bernama keluarga. Dalam kerja-kerja kemaslahatan itu, keberadaan Dewan Pakar menjadi salah satu kekuatan penting yang memberikan arah, pandangan, sekaligus jembatan antara gagasan dan kebijakan publik.


Salah satu sosok yang mengisi ruang strategis tersebut adalah Marifatul Kamila, S.H., atau yang akrab disapa Rifa. Keterlibatannya sebagai Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi bukan sekadar melengkapi struktur organisasi, tetapi menghadirkan pengalaman panjang di bidang pemerintahan, hukum, dan pelayanan masyarakat. Sebagai Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Banyuwangi dari Fraksi Partai Golkar, Rifa terbiasa berhadapan dengan berbagai persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan warga. Mulai dari pelayanan publik, perlindungan perempuan dan anak, hingga penguatan tata kelola pemerintahan menjadi bagian dari kesehariannya sebagai legislator.

Karena itu, ketika LKKNU Banyuwangi memilih memperkuat gerakan penguatan keluarga melalui sinergi dengan berbagai lembaga pemerintah, kehadiran Rifa menjadi sangat relevan. Pengalaman menyusun kebijakan publik berpadu dengan kepekaan terhadap realitas sosial masyarakat, sehingga mampu memberikan perspektif yang dibutuhkan dalam merancang program-program yang benar-benar menyentuh kebutuhan umat.

Hal tersebut terlihat dari langkah-langkah yang kini dijalankan LKKNU Banyuwangi. Organisasi ini aktif membangun kerja sama dengan berbagai instansi, di antaranya Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Banyuwangi untuk memberikan pendampingan administrasi kependudukan bagi masyarakat. Program pelayanan pembuatan KTP, Kartu Keluarga, hingga dokumen kependudukan lainnya bukan hanya urusan administratif, tetapi menyangkut hak-hak dasar warga negara yang menjadi pintu masuk terhadap layanan pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan hukum.

Tidak berhenti di situ, LKKNU juga memperluas kemitraan dengan Dinas Sosial serta Pengadilan Agama Banyuwangi melalui program pembinaan calon pengantin. Langkah ini menunjukkan bahwa membangun keluarga yang kuat tidak cukup dimulai ketika persoalan telah muncul, tetapi sejak sebelum akad nikah dilaksanakan. Pembekalan mengenai kesiapan mental, tanggung jawab, hak dan kewajiban suami istri, hingga tertib administrasi menjadi investasi sosial yang sangat penting dalam membangun rumah tangga yang kokoh.

Program pernikahan massal yang didukung LKKNU juga memiliki makna lebih dari sekadar seremoni. Legalitas pernikahan memberikan kepastian hukum bagi pasangan maupun anak-anak yang lahir dari keluarga tersebut. Dalam perspektif Islam, menjaga keturunan (hifzh an-nasl) merupakan salah satu tujuan utama syariat yang harus diwujudkan melalui perlindungan terhadap hak-hak keluarga.

Selain pelayanan langsung kepada masyarakat, LKKNU Banyuwangi terus menghadirkan ruang edukasi melalui berbagai forum seperti Intimate Sharing Session. Forum ini menjadi tempat berdialog mengenai komunikasi dalam rumah tangga, pola pengasuhan anak, kesehatan mental keluarga, hingga tantangan kehidupan digital yang kini semakin memengaruhi hubungan antaranggota keluarga. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa ketahanan keluarga tidak cukup dibangun melalui ceramah, tetapi juga melalui ruang belajar bersama yang terbuka dan solutif.

Dalam seluruh rangkaian program tersebut, Dewan Pakar memiliki fungsi yang sangat strategis. Mereka menjadi tempat bertemunya pengalaman, ilmu pengetahuan, dan kebijakan. Organisasi yang besar tidak hanya membutuhkan pengurus yang bekerja di lapangan, tetapi juga para pemikir yang mampu melihat persoalan secara lebih luas dan memberikan arah jangka panjang. Di sinilah peran Marifatul Kamila menemukan maknanya.

Pengalaman Rifa dalam dunia legislatif membuatnya memahami bahwa pembangunan sejati tidak hanya diukur dari berdirinya jalan, jembatan, atau gedung-gedung megah. Pembangunan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat memiliki keluarga yang sehat, perempuan merasa aman, anak-anak tumbuh dengan kasih sayang, dan setiap warga memperoleh hak-hak dasarnya secara adil.

Cara pandang tersebut tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari lingkungan keluarga Nahdliyin yang kuat. Ayahnya, Salimi Irfan, merupakan Kepala Kantor Urusan Agama yang dikenal sebagai sosok sederhana dan penuh dedikasi dalam melayani masyarakat melalui Kementerian Agama. Dari lingkungan keluarga itulah Rifa belajar bahwa jabatan bukanlah simbol kehormatan, melainkan amanah yang harus diwujudkan melalui pelayanan.

Tradisi Nahdlatul Ulama yang akrab dengan kehidupan keluarganya juga membentuk karakter kepedulian sosial sejak dini. Ia memahami bahwa agama tidak berhenti pada ibadah ritual, tetapi harus hadir dalam penyelesaian persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Nilai-nilai itulah yang kemudian terus dibawa dalam perjalanan politik maupun aktivitas sosialnya.

Karena itu, kehadiran Rifa di LKKNU Banyuwangi terasa sebagai kelanjutan dari jalan pengabdian yang telah ditempuh sejak lama. Politik, organisasi kemasyarakatan, dan pelayanan umat bukanlah tiga ruang yang terpisah, melainkan saling melengkapi dalam menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Dalam pandangan Islam, keluarga merupakan madrasah pertama tempat nilai-nilai keimanan, akhlak, kasih sayang, dan tanggung jawab ditanamkan. Dari keluarga yang sehat lahir generasi yang akan memimpin masyarakat pada masa depan. Sebaliknya, ketika keluarga rapuh, berbagai persoalan sosial akan bermunculan dan sulit diselesaikan hanya melalui kebijakan pemerintah.

Karena itu, setiap ikhtiar memperkuat keluarga sejatinya adalah investasi peradaban. Program-program yang dijalankan LKKNU Banyuwangi mungkin tidak selalu menjadi sorotan, tetapi manfaatnya akan dirasakan dalam jangka panjang. Di balik pelayanan administrasi, pembinaan calon pengantin, edukasi keluarga, hingga pendampingan masyarakat, tersimpan harapan besar untuk melahirkan keluarga-keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Marifatul Kamila menjadi salah satu contoh bahwa pengalaman di dunia kebijakan publik dapat berjalan seiring dengan semangat khidmah di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ketika kebijakan bertemu kepedulian, dan pengalaman berpadu dengan nilai-nilai keagamaan, maka lahirlah pengabdian yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga menyiapkan masa depan.

Sebab bangsa yang kuat selalu dimulai dari keluarga yang kuat. Dan keluarga yang kuat hanya dapat dibangun melalui kehadiran orang-orang yang bersedia mengabdikan ilmu, pengalaman, dan waktunya untuk kemaslahatan umat. Itulah ikhtiar yang sedang dirawat LKKNU Banyuwangi, bersama para pengurusnya, para Dewan Pakarnya, dan seluruh elemen masyarakat yang meyakini bahwa membangun keluarga berarti sedang membangun peradaban. (dll)

Sambut Tahun Baru Hijriah, PCNU Banyuwangi Gelar Sholawatan dan Musikalitas Puisi Sembari Menanti Hasil Hilal


Banyuwangi – Menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, PCNU Banyuwangi menghadirkan cara berbeda melalui kegiatan sholawatan, dzikir, dan musikalitas puisi yang digelar di halaman Kantor PCNU Banyuwangi, Senin malam (15/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang spiritual sekaligus kultural sembari menanti informasi resmi hasil rukyatul hilal awal Muharram dari PBNU.

Sejak pukul 18.00 WIB, suasana di depan kantor PCNU Banyuwangi dipenuhi lantunan tahlil, doa, dan sholawat yang dibawakan secara khidmat dengan iringan musik religi dari al-Faruq Entertainment, serta dukungan tata suara dari Sultan Production Muncar. Kegiatan itu menarik perhatian masyarakat yang melintas untuk turut menyimak syiar keagamaan bernuansa seni tersebut.

Tidak sekadar seremoni menyambut pergantian tahun Hijriah, acara dikemas sebagai media pendekatan dakwah yang lebih akrab dengan masyarakat. Spirit religius dipadukan dengan ekspresi seni melalui pembacaan puisi dan lagu-lagu Islami yang dibawakan para pengurus NU.

Sekretaris PCNU Banyuwangi, H. Bisri Musthofa, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan syiar Islam yang menenangkan sekaligus mendekatkan masyarakat kepada tradisi keagamaan Nahdlatul Ulama.

“Kami ingin malam pergantian tahun Hijriah ini diisi dengan doa, sholawat, sekaligus ekspresi budaya Islam. Ada nilai syiar, hiburan yang mendidik, juga edukasi kepada masyarakat tentang proses penetapan awal bulan Hijriah,” ujarnya.

Suasana semakin khidmat ketika sekitar pukul 20.00 WIB diumumkan hasil rukyatul hilal dari PBNU. Di sela kegiatan, Haikal Kafili, Kepala Staf Kantor sekaligus Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi, menyampaikan keputusan terkait awal bulan Muharram kepada para peserta.

Ia menyebutkan bahwa berdasarkan laporan rukyat di berbagai titik, hilal belum berhasil terlihat sehingga bulan Dzulhijjah disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal).

“Karena hilal tidak tampak, maka dilakukan istikmal. Dengan demikian, 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada hari Rabu, 17 Juni 2026,” jelasnya di hadapan jamaah dan masyarakat yang hadir.

Usai pengumuman, acara berlanjut dengan pembacaan musikalitas puisi oleh sejumlah fungsionaris PCNU Banyuwangi. Di antaranya tampil H. Guntur Al Badri, H. Bisri Musthofa, serta pengurus lainnya yang membacakan puisi bertema Muharram, refleksi perjuangan, hingga renungan tentang pengabdian dalam berkhidmat di NU.

Sebagian besar puisi yang dibacakan memuat pesan introspeksi dan otokritik organisasi, mengajak warga NU untuk terus menjaga semangat pelayanan, persatuan, dan kebermanfaatan sosial.

Menjelang akhir acara, seluruh peserta larut dalam suasana kebersamaan saat Sholawat Badar dan Yalal Wathon dikumandangkan bersama. Tepat pukul 23.00 WIB, kegiatan ditutup dengan doa bersama, meninggalkan kesan bahwa malam penantian hilal dapat menjadi ruang syiar yang hangat, damai, dan sarat makna.
 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger