Pages

Tentang Soeharto, Gelar Pahlawan, dan Luka yang Enggan Sembuh

 Tentang Soeharto, Gelar Pahlawan, dan Luka yang Enggan Sembuh

Oleh : Syafaat

Di suatu malam yang lembut, ketika angin hanya berani menyentuh daun-daun dengan ujung jarinya, berita mengenai seorang presiden yang akhirnya dianugerahi gelar pahlawan nasional hadir seperti bisikan dari masa lampau, namanya Soeharto. Kabar itu menggugah ruang batin yang lama tak dibuka, seakan setiap huruf membawa debu sejarah yang perlu ditiup pelan agar bentuknya terlihat jelas. Malam itu memanjang seperti ruang doa, dan sejarah duduk di hadapan bangsa ini dengan wajah-wajah yang pernah tersenyum, sekaligus wajah-wajah yang hilang.

Tidak ada sejarah yang sepenuhnya suci, kecuali sejarah para nabi. Selain itu, semuanya tersusun dari tangan manusia, tangan yang gemetar, tangan yang sesekali teguh, tangan yang dapat menanam kebaikan dan sekaligus menyakiti. Mungkin karena itu perdebatan tentang Soeharto tak pernah tuntas: yang diperbincangkan bukan hanya orangnya, tetapi juga cara bangsa ini memilih mengingat, mengampuni, atau tidak mengampuni masa lalu.

Di satu sisi, banyak yang mengingat Soeharto seperti ayah tua yang bekerja dalam diam: membangun sawah, menghadirkan puskesmas, mendirikan sekolah, menciptakan stabilitas. Tahun 1984 disebut seperti tahun ketika hujan turun setelah kemarau Panjang, tahun ketika Indonesia meraih swasembada beras. Nama Soeharto juga digandengkan dengan julukan “Bunga Pertempuran” dari Jenderal Soedirman, Serangan Umum 1 Maret, serta operasi merebut Papua ketika banyak bagian negeri masih diguncang ketidakpastian. Bagi sebagian orang, figur itu hadir setiap kali republik hampir pingsan. 


Namun ada sisi lain yang menyimpan bayang-bayang panjang. Bagi sebagian rakyat, Soeharto dikenang seperti malam yang terlalu gelap: dingin, tajam, penuh ketakutan. Mereka mengingat pelanggaran HAM yang tak pernah diuji tuntas di pengadilan, penangkapan dan penghilangan, tubuh-tubuh yang tak pernah kembali, dan ibu-ibu yang menua tanpa sempat mendengar kabar anaknya. Mereka mengingat Timor Timur, operasi militer, serta fusi partai, lorong politik yang meredupkan banyak suara. Mereka juga mengingat KKN yang menjadi jaring raksasa selama berpuluh-puluh tahun.

Ketika Presiden Prabowo menganugerahkan gelar pahlawan kepada Soeharto pada 2025, perdebatan pun membara seperti bara yang lama tertimbun di bawah abu. Ada yang melihat keputusan itu sebagai bentuk penghormatan: jasa pembangunan, ketahanan pangan, stabilitas negeri yang pernah goyah. Namun seakan-akan sebagian bangsa lupa bahwa kebaikan sebesar apa pun tak pernah otomatis menghapus dosa sejarah. Cahaya tetap cahaya, namun bayangan tetap menempel pada siapa pun yang pernah berdiri di bawah matahari kekuasaan.

Negara bukan dipimpin langsung oleh Tuhan. Negara bekerja melalui prosedur, rapat, rekomendasi, tanda tangan, dan suara-suara yang disaring oleh meja pertemuan. Sedangkan luka bekerja melalui ingatan, dan ingatan tak mengenal mekanisme administratif. Luka datang seperti zikir malam, diulang, bergetar, dan tak pernah benar-benar hilang. Ia hidup di dada para keluarga korban, hidup dalam cerita yang tak sempat ditulis, hidup dalam kecemasan yang diwariskan diam-diam kepada generasi berikutnya.

Lalu muncullah suara-suara yang menentang: bagaimana mungkin seseorang yang didemo mahasiswa pada 1998 kini disebut pahlawan? Argumen itu meluncur deras, seolah sejarah dapat dilihat hanya dari satu jendela. Mereka lupa sesuatu yang sederhana: pada 1998, Soeharto belum disebut pahlawan. Seperti ketika pada akhir 1960-an demonstrasi terhadap Soekarno berkobar di jalanan; saat itu Soekarno masih hidup, masih memikul beban politiknya sendiri, dan belum menyandang gelar pahlawan. Dalam tradisi negeri ini, gelar pahlawan adalah kabar setelah kematian, sebuah doa yang diberikan saat napas telah berhenti, bukan saat riuh dunia masih mengepung.

Mereka yang turun ke jalan pada 1998 bukan sedang mendemo seorang pahlawan; mereka sedang memprotes seorang pemimpin yang sedang berkuasa, sedang membongkar tembok ketakutan yang dibangun puluhan tahun. Sama seperti mereka yang berdemo terhadap Soekarno bukan sedang mencaci seorang pahlawan, melainkan menantang seorang presiden yang masih bergerak dalam sejarah hidup. Gelar pahlawan datang kemudian, datang dengan proses yang lain, dengan penilaian yang bukan lagi pada tubuh yang bernapas, tetapi pada warisan yang tertinggal setelah keheningan.

Namun sebagaimana setiap keputusan negara, pemberian gelar ini tetap saja mengaduk-aduk ruang batin bangsa. Ada yang merayakan, ada yang menangis, ada yang terdiam karena luka lama kembali membuka pintu. Dalam agama, manusia diajarkan bahwa Tuhan menimbang amal dan dosa dengan keseimbangan yang hanya Dia yang memahami. Tetapi negara tak punya timbangan seperti itu. Negara hanya punya arsip, rapat, rekomendasi, dan tafsir kekuasaan. Di titik itulah sering terselip kegelisahan: apakah gelar pahlawan adalah bentuk penghormatan, atau justru cara paling halus untuk merapikan masa lalu?

Sejarah berjalan seperti angin sore yang lembut tetapi membawa aroma masa silam. Dan bangsa ini, mau tak mau, harus belajar membedakan antara menghormati jasa dan memutihkan luka; antara mengingat dengan jujur dan mengingat dengan tujuan. Sebab keberanian sejati bukanlah memberi gelar, melainkan berani mengakui seluruh cerita: cahaya dan gelapnya, doa dan dendamnya, jasa dan darahnya, tanpa meninggalkan satu pun dari keduanya.

Bangsa ini sering menilai tokoh sejarah seperti menilai malaikat atau setan, seolah manusia hanya boleh berdiri di dua ujung yang saling meniadakan. Padahal manusia, siapa pun dia, selalu hidup di wilayah senja: ruang tengah yang tidak sepenuhnya terang, tidak pula sepenuhnya gelap. Di sanalah kebaikan dan keburukan melekat seperti dua sisi selembar daun yang tumbuh dari batang yang sama. Sisi pertama menangkap cahaya, sisi lainnya menampung bayang; tetapi yang tumbuh tetaplah satu daun, satu riwayat, satu napas yang pernah melintasi bumi ini.

Dalam ruang senja itulah nama Soeharto mendesis dari halaman Sejarah, kadang sebagai cahaya yang menerangi jalan pembangunan, kadang sebagai bayang-bayang yang tak mudah dihapus. Ada yang mengutip Ricklefs tentang pendidikan militernya di bawah Belanda dan Jepang, seolah karakter seorang pemimpin dibentuk dari mata bajak yang diasah dua kekuatan penjajah. Ada pula yang mengingat kenaikan pangkatnya setelah G30S, tongkat Kostrad yang digenggam seperti takdir, serta lembaran Supersemar yang menjadi pintu ke arah kekuasaan yang panjang.

Langkah-langkahnya menuju puncak itu bagai langkah seorang manusia yang sedang diuji Tuhan: setiap pijakan menyimpan tanda tanya, setiap keputusan menyisakan jejak antara amanah dan ambisi. Tidak ada yang tahu dengan pasti apakah ia sedang mengangkat beban bangsa atau justru menumpukkan beban baru di punggung rakyat. Sejarah bergerak seperti sungai malam, airnya mengalir, tapi kedalamannya tidak pernah benar-benar terlihat.

Namun ada pula catatan lain yang kerap terlipat di antara debu arsip dan riuh perdebatan: bahwa pada tahun 1960-an, ketika suara untuk mengadili Soekarno menggema dari gedung MPR seperti gelombang yang mencari tebing untuk dihantam, Soeharto justru memilih diam yang penuh makna. Diam yang bukan pengecut, tetapi penyangga marwah. Ia menolak desakan itu. Alasannya sederhana namun berlapis seperti ayat-ayat yang menunggu dibaca dengan hati yang bening: menghormati Sang Proklamator, menjaga martabat seorang ayah bangsa, melaksanakan amanah leluhur (mikul duwur mendhem jero). Dalam kerapuhan zaman itu, sikap tersebut menjelma setetes embun yang jatuh di tengah badai, bening dan kecil, tetapi mampu menenangkan sekeping nurani yang belum padam.

Di tanah Jawa, para ksatria lama menjaga adab seperti menjaga pusaka: tidak menelanjangi pendahulu di hadapan zaman, tidak meruntuhkan nama yang pernah menyalakan obor pertama. Sikap itu seperti sisa cahaya dari tradisi yang percaya bahwa hormat kepada yang dahulu adalah bagian dari kesempurnaan laku, bagian dari perjalanan ruhani seorang pemimpin yang memahami bahwa kekuasaan bukan hanya soal memerintah, tetapi juga soal merawat jejak sejarah dengan hati yang bersih.

Peristiwa-peristiwa itu saling mengait seperti tasbih yang terulur. Setiap butir mengandung makna yang berbeda: ada butir jasa, ada butir luka, ada butir yang belum jelas apakah ia adalah doa atau peringatan. Sejarah tak pernah meminta manusia untuk memilih satu sisi saja; sejarah hanya meminta untuk melihat semuanya, lalu menundukkan kepala, karena yang dibicarakan bukan hanya nama, melainkan perjalanan seorang manusia yang berjalan dalam cahaya dan bayang sekaligus.

Dan bangsa ini, mungkin suatu hari nanti, akan belajar menilai tokoh sejarah tidak dengan mata yang memutihkan atau menghitamkan, tetapi dengan mata yang mampu melihat senja: wilayah di mana malaikat dan setan tak berdiri di dua kutub, melainkan menyelinap bersama-sama dalam diri setiap manusia yang pernah diberi kuasa. Namun sejarah tidak pernah sesederhana itu. Sejarah lebih mirip air wudu: kadang jernih, kadang keruh, tergantung siapa yang menampung. Ia bisa membersihkan, tetapi juga dapat meninggalkan rasa dingin yang menggigit.

Bangsa ini mungkin seperti seorang tua yang berjalan perlahan menuju masjid pada waktu subuh. Di satu tangan ada tasbih, di tangan lain ada ingatan yang berat. Ia ingin memaafkan, tetapi beberapa luka terlalu dalam untuk sekadar ditutup dengan kata “pahlawan.” Ia ingin melupakan, tetapi nama-nama yang hilang tetap terukir di batu nisan ingatan kolektif.

Pertanyaan pun muncul: apakah negara boleh memberikan gelar pahlawan ketika sebagian besar luka belum sempat diseka? Apakah penghormatan adalah bentuk kesalehan sosial atau cara paling halus untuk memutihkan masa lalu? Dalam agama, keadilan disebut sebagai cahaya, tetapi dalam sejarah, keadilan sering hanya bayang-bayang dari cahaya itu, bergerak sedikit setiap kali didekati.

Orde Baru mengajarkan bahwa stabilitas bisa dibeli, tetapi harganya mahal. Ketika Soeharto akhirnya mundur pada 1998, dentuman sejarah yang tertahan selama puluhan tahun pun pecah. Mahasiswa turun ke jalan, kaca pecah, suara-suara yang lama dikurung keluar seperti burung yang terbebas dari sangkar gelap. Soeharto telah membangun banyak hal, tetapi juga meninggalkan luka-luka besar. Gelar pahlawan mungkin bisa diberikan, tetapi ingatan tak boleh dipaksa ikut tunduk. Jasa harus dihormati, luka harus diakui, dan sejarah tidak boleh disucikan dengan tergesa-gesa.

Seperti azan dari surau kecil di ujung gang sering terdengar seperti pesan halus bahwa manusia hanya mampu melihat sebagian dari kebenaran. Tuhan Maha Melihat keseluruhannya. Tugas manusia hanya satu: jujur. Jujur pada jasa, jujur pada luka, jujur pada sejarah. Dan ketika bangsa ini lebih matang, mungkin nama Soeharto akan dipandang dengan lebih jernih, bukan sebagai malaikat, bukan sebagai setan, melainkan sebagai manusia yang meninggalkan jejak panjang yang harus dipelajari, bukan diputihkan.

Ingatan harus dijaga seperti menjaga air wudu: dengan hati-hati, karena ia mudah batal, tetapi tetap harus dijaga agar kebenaran tidak hilang ditelan waktu.

Penulis adalah ASN Kemenag / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

Negara yang Diselamatkan oleh Peretasnya Sendiri

 Negara yang Diselamatkan oleh Peretasnya Sendiri

Oleh : Syafaat

 Suatu hari, di tengah hiruk-pikuk ibukota yang menua oleh kebijakan, seorang menteri berdiri dengan ketenangan yang aneh, seolah baru saja memindahkan bidak terakhir dalam permainan catur yang tak pernah dimenangkan siapa pun. Purbaya Yudhi Sadewa, sang Menteri Keuangan, berbicara tentang langkah baru yang tak pernah dibayangkan oleh para birokrat masa lalu: negara akan memanggil para hacker, para penembus dinding digital, untuk menambal bocornya jantung data pajak bangsa yang bernama Coretax. Di balik nadanya yang datar terselip sesuatu yang samar: rasa bangga yang berbaur dengan kegelisahan. Sebab apa yang lebih menakutkan daripada sebuah negara yang harus diselamatkan oleh para peretasnya sendiri?

Di dunia yang lain, beberapa bulan sebelumnya, seperti ditulis Denny JA dengan judul “Dan Artificial Intelligence Pun Diangkat Menjadi Menteri” bercerita tentang sebuah berita dari Albania, negara kecil di Balkan yang tiba-tiba melompat jauh ke masa depan. Di sana, pemerintah mengangkat sosok digital bernama Diella, sebuah Artificial Intelligence yang diberi gelar menteri dan diberi tugas memberantas korupsi. Ia tidak bernafas, tidak mengenal lapar, tidak mengenal rasa takut. Tak ada darah, tapi penuh logika, tak ada kepentingan, hanya algoritma yang bekerja seperti doa yang tak bisa disuap.

Diella tampil dalam wujud perempuan berpakaian adat rakyat Albania, suaranya jernih, tidak menuntut kepercayaan, namun justru menimbulkan ketakziman baru, karena untuk pertama kalinya, janji pemberantasan korupsi diucapkan oleh sesuatu yang bukan manusia. Dunia menatapnya dengan rasa takjub bercampur gentar, seperti anak kecil yang melihat api untuk pertama kali: indah, tapi tak bisa disentuh.


Bayangan tentang Diella menimbulkan gema yang aneh di kepala, ada sesuatu yang terasa familiar, seperti deja vu dari dunia sinema dua dekade lalu. S1m0ne, film lama dari tahun 2002, berkisah tentang sutradara yang menciptakan aktris digital bernama Simulation One (Simone) sebuah ciptaan sempurna yang memikat dunia dengan pesonanya. Simone tidak pernah ada, namun dunia mengidolakannya, bahkan mencintainya. dan di situlah paradoks itu lahir: manusia selalu ingin sesuatu yang murni, tapi hanya mampu menciptakannya dalam bentuk ilusi.



Kini, ilusi itu berjalan di antara kita, dengan bentuk yang lebih halus, lebih nyata, lebih sistematis, dalam dunia yang dikendalikan data, manusia mulai bernegosiasi dengan algoritma dan berunding dengan kode. Bayangkan jika suatu pagi, di Jakarta yang masih berkabut oleh debu politik, pemerintah mengumumkan hadirnya seorang Dirjen Pajak digital, AI yang menghitung semua transaksi dengan ketepatan sempurna, yang tidak mengenal amplop, tidak mengenal kasihan, dan tidak pernah tidur. Publik mungkin akan bersorak karena merasa menemukan obat bagi penyakit lama, namun di balik sorak itu, ada rasa waswas yang menggantung: manusia selalu takut pada ciptaannya sendiri ketika ciptaan itu mulai melampaui batas tuannya.

Para hacker yang kini dipanggil oleh sang menteri bisa saja menjadi para patriot digital, penjaga baru negeri yang retak oleh kebocoran data dan korupsi yang tak pernah benar-benar mati. Mereka bekerja di sunyi, di hadapan layar yang memantulkan wajah mereka sendiri, dengan mata yang menyala oleh cahaya biru system, dalam diam, mereka memegang kunci dunia yang tak terlihat: dunia di mana uang bisa menguap tanpa jejak, dan kebenaran bisa dihapus dengan satu perintah.Namun di sisi lain, mereka juga bagian dari paradoks itu sendiri, manusia yang mampu menembus sistem, tapi tak selalu mampu menembus nuraninya.

Artificial Intelligence bisa bekerja lebih cepat dari detak jantung manusia, dan mungkin lebih akurat dari nurani yang telah lama aus oleh godaan dunia. Ia tidak mengenal lapar, tidak pernah lelah, dan tidak butuh pujian, di tangan algoritma, angka menjadi ayat yang tak bisa dibantah, keputusan menjadi sebersih logika yang tak punya selera. Mungkin jika suatu hari ia diangkat menjadi pejabat, meja birokrasi akan berhenti berdebu oleh amplop. Tak akan ada lagi tanda tangan yang gemetar oleh rasa takut kehilangan jabatan, atau laporan yang disusun dengan tinta kepentingan, di ruang-ruang kantor yang selama ini berisi bisik-bisik transaksi, hanya akan terdengar dengung mesin yang setia menghitung tanpa menipu.

Dalam sejarah negeri ini, pernah ada masa ketika para petani, santri, dan penyair menjadi penyelamat bangsa. Mereka bangkit dari tanah, dari sajadah, dari lembar-lembar kertas yang berdebu, membawa harapan dalam bentuk yang paling sederhana: cangkul yang menggali kehidupan, doa yang menegakkan langit, dan kata-kata yang menghidupkan kembali jiwa yang letih. Dari kesunyian sawah, dari pesantren di pinggir sungai, dari rumah-rumah bambu yang penuh cahaya lampu minyak, lahirlah kesetiaan pada tanah air, pada manusia, pada kejujuran yang tak bisa dijual dengan apapun. Mereka bukan pemilik algoritma, tapi mereka memahami ritme bumi dan rahasia hati.

Kini, zaman telah berpindah arah. Di tempat yang dulu berdiri lumbung dan langgar, kini menjulang menara-menara sinyal. Dunia yang dulu diikat oleh sabda, kini diatur oleh sistem. Dan mungkin, penyelamat itu datang dalam wujud yang tak pernah dibayangkan oleh para pendahulu: mereka yang hidup di dunia maya, bernafas melalui jaringan, bekerja dalam kesunyian cahaya biru layar. Mereka bukan malaikat, tidak pula nabi, namun di jari-jarinya mengalir bahasa baru—bahasa yang hanya dimengerti oleh mesin, tapi perlahan menulis ulang nasib manusia. Mereka duduk di hadapan layar seperti para rahib digital, menatap baris-baris kode seperti ayat yang terus diperbarui. Tak ada aroma tanah, tak ada denting azan, hanya suara kipas prosesor yang terus berputar, seolah zikir yang tak henti-henti. Dari balik cahaya itu, mereka mencoba menambal retak dunia—mencegah bocornya data, menjaga kejujuran yang telah kehilangan alamat.

Di tangan mereka tersimpan kemungkinan baru: masa depan yang tidak lagi digerakkan oleh tangan, melainkan oleh logika yang tak punya rasa. Sebuah dunia yang bersih tapi beku, jujur tapi sunyi, efisien tapi tanpa getar kasih. Dan entah bagaimana, manusia harus belajar hidup di dalamnya, antara rindu pada masa lalu yang hangat dan keyakinan pada masa depan yang serba pasti. Sebab zaman terus bergerak, dan penyelamat selalu berganti rupa. Dulu mereka datang dengan cangkul, tasbih, dan pena; kini mereka datang dengan algoritma, jaringan, dan layar tanpa wajah. Namun satu hal tak berubah: mereka tetap berjuang, dengan cara mereka masing-masing, untuk menjaga sesuatu yang nyaris hilang—jiwa manusia di tengah dunia yang perlahan menjadi mesin.

Diella di Albania mungkin sedang menatap ke arah selatan dunia, ke negeri yang sedang mencoba menambal lubang-lubang digitalnya dengan cara-cara lama yang dibungkus istilah baru. Jika ia mampu tersenyum, mungkin ia akan tersenyum. Karena pada akhirnya manusia memang selalu berlari di belakang ciptaannya sendiri—menciptakan mesin untuk menambal kesalahan manusia, dan menciptakan manusia untuk memperbaiki kesalahan mesin.

Negeri ini, seperti kapal tua di tengah badai, berderit di setiap sisinya. Bukan karena angin politik, melainkan karena gelombang data yang tak kasat mata, yang bergerak lebih cepat daripada logika para pengelolanya. Para hacker itu hanyalah penambal sementara, peretas bocor demi bocor, dalam kapal yang terus berlayar di tengah lautan algoritma. Mungkin di ujung perjalanan nanti, akan lahir versi Indonesia dari Diella—sebuah entitas digital yang duduk di kursi birokrasi, menandatangani kebijakan tanpa tremor, berbicara tanpa salah diksi, dan tak mengenal kampanye. Negara akan memujanya, sebagaimana dulu memuja dewa-dewa di masa lampau.

Namun di antara semua kemungkinan itu, masih tersisa satu ruang kecil yang tidak bisa dijangkau mesin mana pun: ruang di mana manusia menyimpan rasa malu, cinta, dan doa. Selama ruang itu masih ada, dunia belum sepenuhnya kehilangan jiwanya, karena ada sesuatu dalam diri manusia yang tak bisa diretas, bukan oleh hacker paling jenius, bukan oleh Diella dari Albania, dan bahkan bukan oleh Simone yang tak pernah benar-benar hidup.

Sesuatu yang tak terukur, tapi ada. Seperti keyakinan. Seperti nurani. Seperti iman.


Penulis adalah ASN Kemenag / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.


LSF RI Gelar Literasi Penyensoran Film dan Bimbingan Teknis e-SiAS di Banyuwangi


BANYUWANGI (19/11/2025) — Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) menggelar kegiatan Literasi Layanan Penyensoran Film dan Iklan Film serta Bimbingan Teknis Pembuatan Akun e-SiAS di Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center, Rabu (19/11). Kegiatan ini diikuti para pemangku kepentingan perfilman se-Jawa Timur.

Acara ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat dan pembuat film mengenai penggolongan usia penonton, kriteria sensor, serta pentingnya memilih tontonan yang aman dan bermutu. Selain itu, kegiatan ini mendorong para sineas memahami pedoman sensor agar menghasilkan karya yang layak tayang.

Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Taufik Rohman, M.Si., membuka kegiatan dengan menyampaikan apresiasi atas terpilihnya Banyuwangi sebagai tuan rumah. Ia menegaskan bahwa perkembangan perfilman di daerah ini cukup pesat.

“Produksi film kini lebih mudah berkat teknologi. Meski begitu, isi film tetap harus mematuhi aturan hukum dan regulasi. Harapannya, dari Banyuwangi hadir film-film berkualitas,” ujarnya.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Hairus Salim, Ketua Subkomisi Desa Sensor Mandiri dan Komunitas LSF RI. Ia menekankan pentingnya seluruh pembuat film mendaftarkan karya mereka ke LSF untuk peninjauan resmi.

Ia juga mengingatkan bahwa pengawasan tontonan sebaiknya dimulai dari lingkungan keluarga. “Sekarang anak di rumah pun perlu diawasi karena internet menyajikan berbagai konten, tidak semuanya layak,” katanya. Ia menegaskan bahwa bioskop tidak akan menayangkan film tanpa Surat Tanda Lulus Sensor (STLS).

Acara utama dipandu oleh budayawan Banyuwangi, Drs. Aekanu Haryono, dengan narasumber Ainur Rofiq, Kabid Pemasaran Disbudpar Banyuwangi, dan keynote speaker Hadi Artomo, Ketua Subkomisi Penyensoran LSF RI.

Dalam materi pertama, Ainur Rofiq, S.Sos., M.M., menyampaikan bahwa Banyuwangi memiliki potensi besar dalam industri perfilman. Menurutnya, film dapat menjadi sarana promosi daerah yang mampu menggerakkan pariwisata dan memberikan manfaat ekonomi. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sineas dan pemerintah daerah untuk memajukan industri kreatif.

Keynote speaker Hadi Artomo memberikan materi mengenai prinsip penyensoran, regulasi, serta prosedur pendaftaran film. Ia juga mengajarkan langsung cara membuat akun e-SiAS, mulai registrasi hingga pengunggahan berkas film. Hadi menjelaskan bahwa pendaftaran film kini dapat dilakukan melalui direktorat lembaga seni di masing-masing kota untuk mendapatkan Tanda Penerimaan Pendaftaran Film (TPPF).


“Jika ingin syuting di lokasi tertentu, TPPF penting sebagai pengantar perizinan,” jelasnya. Ia juga mengingatkan pentingnya meminta izin masyarakat sekitar lokasi syuting untuk mencegah sengketa.

Dalam sesi diskusi, Safarudin dari Yayasan Aura Lentera menanyakan aturan agar film dapat diakses penyandang disabilitas, terutama yang memiliki hambatan pendengaran. Pihak LSF menyambut baik pertanyaan tersebut dan menyatakan komitmennya untuk mendorong pedoman teknis agar film lebih ramah disabilitas.

Kegiatan ditutup dengan harapan bahwa insan perfilman di Jawa Timur, khususnya Banyuwangi, semakin memahami pentingnya sensor, regulasi, dan etika produksi sehingga dapat melahirkan karya yang aman, berkualitas, dan bermanfaat bagi masyarakat. (AW) 



Rapat Koordinasi Festival Kebangsaan 2025 Banyuwangi Matangkan Persiapan Akhir







Banyuwangi, 19 November 2025 — Rapat Koordinasi Festival Kebangsaan 2025 Banyuwangi digelar siang ini, Rabu (19/11), bertempat di Pondok Harmoni Bakesbangpol Kabupaten Banyuwangi, Jl. Agus Salim. Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan berbagai instansi, UPTD terkait, anggota Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), serta unsur media.

Rapat dimulai pukul 13.30 WIB dan dibuka oleh Drs. HM Nasrudin, Kabid Kesatuan Bangsa dan Politik Bakesbangpol Banyuwangi. Pertemuan ini difokuskan pada finalisasi pembagian tugas lintas instansi demi kelancaran Festival Kebangsaan yang akan diselenggarakan pada 22 November 2025.

Perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika Banyuwangi, Nafi Ferdian, menyampaikan kesiapan pihaknya untuk menyiarkan rangkaian acara secara live streaming, sehingga dapat diakses oleh masyarakat luas. Sementara itu, dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Darmanto menekankan pentingnya mitigasi cuaca mengingat kegiatan berlangsung pada musim hujan. Hal tersebut turut didukung oleh Miskawi, Ketua FPK Banyuwangi.

Miskawi juga menegaskan perlunya penataan alur acara secara rapi agar tidak ada waktu yang terbuang. Ia mengusulkan pelaksanaan gladi bersih agar seluruh rangkaian dapat berjalan sesuai rencana.

Selain pembahasan teknis, rapat juga mengulas rencana penampilan seni budaya dari berbagai etnis. Dari unsur Forum Komunikasi Pembauran (FKP) direncanakan tampil barongsai dari etnis Tionghoa, serta rangkaian tari dari etnis Jawa, Mandar, dan Madura. Penonton juga akan disuguhkan Tari Kolosal Sekar Seronce, karya maestro seni Banyuwangi, Sabar, yang menggambarkan keragaman budaya di daerah tersebut.

Menutup rapat, Drs. R. Agus Mulyono, S.Sos., Plt. Kepala Bakesbangpol Banyuwangi, menyampaikan bahwa Festival Kebangsaan tahun ini akan tampil berbeda dari sebelumnya. Mengusung semangat kebersamaan, festival kali ini menonjolkan Trilogi Aktivitas Pemuda, yakni:

  • Lomba Band Kebangsaan
  • Lomba Video Kebangsaan
  • Tari & Kolaborasi Kesenian Suku

Dengan mengangkat tema “Perayaan Kesatuan” atau “Bangga Berbeda Bersatu Menuju Indonesia Berdaya”, Festival Kebangsaan 2025 diharapkan menjadi momentum memperkuat persatuan dan keberagaman budaya di Banyuwangi.

Festival ini menjadi wujud nyata kolaborasi lintas etnis dan instansi dalam merayakan kemajemukan Indonesia.(AW)

Omzet Pedagang Tembus Lebih 150 Juta, Pagi BCM di Taman Blambangan Serupa Pesta Cahaya

Banyuwangi (Warta Blambangan) Setiap Minggu pagi, Taman Blambangan seakan membuka lembaran baru yang lebih hidup daripada minggu sebelumnya. Pagi itu, Minggu (16/11/2025), matahari belum tinggi, tetapi denyut manusia sudah memenuhi ruang hijau di jantung kota Banyuwangi. Banyuwangi Creatif Market (BCM) kembali menggeliat—bukan sekadar sebagai pasar, melainkan perayaan kecil yang menautkan ekonomi, seni, dan kebersamaan dalam satu napas.

Jalur jogging yang mengelilingi taman tampak seperti sungai manusia yang mengalir perlahan. Ada langkah-langkah yang menyimpan semangat, ada tawa yang mengudara ringan, dan ada aroma kuliner lokal yang menari di sela-sela angin pagi. Setelah berlari atau sekadar berjalan santai, warga berhenti di deretan stand kuliner. Di sanalah dapur-dapur UMKM Banyuwangi berbicara dalam bahasa rasa—original, jujur, dan lahir dari tangan-tangan yang mencintai pekerjaannya. 


Tak jauh dari situ, anak-anak berlarian di zona permainan sehat. Taman seolah menjelma menjadi panggung kecil kebahagiaan; sorak tawa mereka memantul ke daun trembesi, menghidupkan pagi yang terus mengembang.

Lalu, musik pun menyapa. Grup musik lokal—yang menjadi roh dari BCM—mengirimkan nada-nada yang membawa semangat Banyuwangi. Ibu-ibu yang tadinya hanya menonton perlahan ikut bernyanyi, seolah pagi adalah pesta yang mengundang siapa saja untuk masuk tanpa tiket. Ada kegembiraan yang sederhana, tapi justru di situlah keindahan tumbuh: pada kebersamaan yang lahir tanpa paksaan.

Di tengah suasana yang menghangat itu, Rahmat, Ketua Komunitas BCM, menyampaikan kabar yang tak kalah menyenangkan. “Omzet para pedagang hari ini bisa menembus lebih dari 150 juta rupiah,” ujarnya. Angka itu bukan sekadar rupiah—ia adalah denyut ekonomi yang hidup, harapan yang tumbuh, dan bukti bahwa kreativitas bisa menjelma menjadi kesejahteraan.

Rahmat juga menuturkan bahwa konsistensi penyelenggaraan BCM setiap Minggu pagi ibarat pupuk bagi UMKM lokal. “Pasar kreatif ini bukan hanya menggerakkan ekonomi, tetapi juga merajut interaksi sosial. Ia menjadi ruang di mana masyarakat saling menyapa, para pelaku UMKM saling menguatkan, dan budaya kota ini terus berputik,” tutur Rahmat.

Dengan antusiasme yang semakin membesar, BCM kian kokoh berdiri sebagai panggung ekonomi kreatif Banyuwangi. Ia bukan lagi sekadar agenda mingguan, tetapi ikon baru yang membawa wajah cerah kota ini ke masa depan—masa depan yang mungkin saja dibangun dari tawa anak-anak, langkah pengunjung, aroma kuliner, dan musik sederhana di bawah langit Taman Blambangan.

Bimbingan Keluarga Sakinah: Ketika Dua Jiwa Mengetuk Pintu Langit yang Mencari Jalan Pulangnya

 

Bimbingan Keluarga Sakinah: Ketika Dua Jiwa Mengetuk Pintu Langit yang Mencari Jalan Pulangnya

Oleh : Syafaat

Ada masa ketika dua manusia duduk saling berhadapan dan tiba-tiba menyadari bahwa hidup ini bukan hanya tentang saling mencintai, tetapi tentang saling menuntun. Kelak, setiap perkawinan akan menemukan jalannya sendiri. Ada yang berkelok seperti sungai purba mencari muara yang jauh, memantulkan cahaya matahari di antara bebatuan sabar. Ada yang mengalir senyap seperti doa yang dipanjatkan di sepertiga malam, hanya terdengar oleh malaikat yang menjaga langit. Ada pula yang deras seperti hujan yang turun membawa berkah, namun tetap memerlukan tadah yang kuat agar tak menjadi luapan yang tak tertampung. Dan sebelum dua manusia itu memutuskan berjalan beriringan, keduanya harus mengerti bagaimana berdiri sebagai pribadi yang matang—sebagaimana pohon yang baru mampu menaungi burung-burung dan manusia apabila akarnya telah bersahabat dengan tanah tempat ia bersujud.

Di hadapan dirinya sendiri, manusia adalah cermin yang tak bisa berbohong, dalam pantulan itu, ia belajar memandang hirarki nilainya yang sesungguhnya. Menimbang kelebihan yang kadang dibanggakan dengan suara paling nyaring, meneliti kekurangan yang selama ini disembunyikan di balik tawa paling ramah. Kesadaran diri bukan sekadar latihan batin; ia adalah pintu pertama yang harus dibuka sebelum seseorang mengetuk pintu hati pasangannya. Bagaimana mungkin seseorang mengasuh jiwa orang lain bila ia belum selesai merawat carut-marut jiwanya sendiri?, bagaimana mungkin ia memeluk kegelisahan orang lain bila sumber gelisahnya sendiri tak pernah ia kenali?


Dan ketika dua manusia duduk saling menatap, menyebut perlahan satu per satu nilai hidup yang mereka junjung, kelebihan yang ingin dibagi, kekurangan yang ingin ditata ulang, serta bahan bakar cinta yang menggerakkan langkah keduanya—sebenarnya mereka sedang menyerahkan peta masing-masing. Peta yang tak pernah lengkap, yang selalu memuat jejak langkah tersandung, coretan koreksi, noda yang tak sempat dilap. Namun justru dari ketidaksempurnaan itulah perjalanan dimulai. Dari keberanian untuk berkata, “Inilah aku apa adanya, dengan langkah-langkah yang pernah goyah, dengan harapan panjang yang sedang kutanam, dan dengan luka yang sedang kucicil sembuhnya.” Setiap pengakuan kecil adalah jembatan. Setiap kejujuran adalah mercusuar yang menuntun agar mereka tak saling kehilangan di tengah kabut waktu.

Pada akhirnya, setiap pasangan akan sampai pada pertanyaan yang lebih besar daripada “mampukah kita bersama?” Pertanyaan itu, entah mengapa, sering muncul di malam yang paling sunyi: “Apa yang ingin kita capai dengan kebersamaan ini? Ke mana arah sungai kehidupan kita mengalir? Apakah kita hanya ingin dikenal oleh dunia ataukah dikenang oleh langit?” Di titik itulah perjalanan dunia bertemu perjalanan akhirat. Sebab hidup manusia bukan hanya untuk meninggalkan jejak di lantai bumi yang akan lunas oleh hujan, tetapi untuk membangun kesaksian di hadapan Allah—pada hari ketika lidah terkunci, ketika tangan berbicara, ketika kaki memberi kesaksian tentang langkah mana yang mendekat dan mana yang menjauh dari-Nya. Ketika peserta diminta membayangkan bagaimana ingin dikenang oleh Tuhannya, sesungguhnya mereka sedang menuliskan visi paling dalam dari sebuah keluarga: ketenteraman yang tak hanya dirasakan di ruang tamu rumah, tetapi juga di mahkamah Rabb yang Maha Menyaksikan.

Musyawarah dalam rumah tangga adalah rakit yang dirakit dari dua pasang tangan yang mungkin tak sama kuat, tak sama cekatan, namun punya niat yang sama: sampai tujuan dengan selamat. Tanpa musyawarah, suami dan istri akan hanyut menuju arah berbeda, sebagaimana barisan yang bubar karena setiap orang bergerak menurut langkahnya sendiri. Musyawarah mengikat kaki agar melangkah serempak, mengikat hati agar tidak terbelah, mengikat pandangan agar tetap pada arah yang sama. Keluarga sakinah tak lahir dari dua manusia yang sempurna—sebab kesempurnaan hanyalah milik Allah—tetapi dari dua manusia yang mau terus belajar untuk mendengarkan dan bersedia diperdengarkan, untuk memahami sebelum meminta dipahami, untuk mencintai tanpa menghapuskan tanggung jawabnya terhadap Allah.

Lima pilar itu—zawaj, mitsaqan ghalizhan, mu’asyaroh bil-ma’ruf, musyawarah, dan taradhin—bukan sekadar aturan yang dibacakan pada bimtek atau pelatihan pranikah. Ia adalah taman yang mesti dipelihara setiap hari. Disiram dengan doa yang terbit dari hati yang jernih, dipangkas dengan kesabaran yang panjang, dijaga dengan akhlak terbaik yang menjadi wangi keharuman rumah itu sendiri. Suami menjadi pakaian bagi istri, dan istri menjadi pakaian bagi suami. Mereka saling menutupi aib sebagaimana kain menutupi tubuh, saling menghangatkan ketika malam kesulitan datang, saling melindungi dari dinginnya dunia yang sering menguji ketabahan.

Ketika ikrar suci dibacakan, tangan saling menggenggam, mata saling menatap malu-malu tetapi penuh keyakinan—ada sesuatu yang lebih halus daripada kata-kata ikut turun menyertai mereka. Itu sesuatu yang lembut seperti angin subuh yang menyusup dari celah jendela, sesuatu yang jernih seperti ridha yang turun perlahan dari langit. Pada saat itu, keduanya bukan hanya menyatukan dua tubuh atau dua nama keluarga, tetapi sedang mengikrarkan bahwa rumah yang akan mereka bangun kelak bukan sekadar tempat istirahat, tetapi tempat ibadah; bukan sekadar tempat berteduh, tetapi tempat bertumbuh; bukan sekadar tempat pulang, tetapi tempat memulihkan iman.

Dalam sesi pembelajaran, peserta mengeksplorasi ciri kehidupan perkawinan yang sukses dan yang gagal, sehingga mereka dapat membaca ulang peta tantangan dalam kehidupan keluarga. Mereka mempelajari komponen penting hubungan pasangan, tahap perkembangan relasi suami-istri, pembangun dan penghancur hubungan, serta hal-hal yang wajib diselamatkan agar pernikahan tetap bernyawa. Peserta juga diajak menelusuri potensi konflik dan cara mengelolanya—sebab rumah mana yang tak pernah retak, hati mana yang tak pernah goyah, namun semua itu dapat diselamatkan bila dikelola dengan iman dan saling pengertian.

Kedekatan emosi tumbuh dari kasih sayang, mawaddah, dan rahmah—sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ar-Rum (30:21). Mereka menjadikan pasangan sebagai pasangan jiwa, tempat berbagi kehidupan yang sesungguhnya. Gairah menjadi komponen lain yang tak bisa diabaikan. Dorongan untuk saling memberi kepuasan halal adalah bagian dari tujuan pernikahan itu sendiri, sebagaimana digariskan dalam QS. Al-Baqarah (2:187). Dan komitmen—itulah tiang yang menyangga semuanya. Komitmen yang disebut Al-Qur’an sebagai mitsaqan ghalizhan (QS. An-Nisa, 4:21), ikatan yang sangat kokoh, yang dibangun agar rumah tangga tidak roboh oleh badai kecil.

Perkawinan, akhirnya, adalah dua manusia yang berjanji untuk selalu kembali kepada Allah bahkan ketika mereka saling tersesat; untuk saling memperbaiki diri bahkan ketika luka kembali terbuka; untuk menjaga cinta bukan hanya agar tetap hangat, tetapi agar tetap suci. Relasi harmonis terbangun ketika dua jiwa bersepakat untuk menempuh satu jalan—jalan yang mungkin panjang, mungkin berdebu, mungkin sunyi, tetapi diterangi cahaya tauhid yang tak pernah padam.

Dan keluarga sakinah adalah ketika jalan itu ditembus oleh cahaya-Nya—hingga setiap langkah menjadi ibadah, setiap pelukan menjadi doa, dan setiap kesulitan berubah menjadi ladang pahala.

ASN / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.

 

Film Horor Lokal "Darma Malam Kelahiranku" Gelar Screening di Disbudpar Banyuwangi

 


BANYUWANGI – Geliat dunia perfilman Banyuwangi kembali ditunjukkan oleh para sineas mudanya. Kresek Entertainment, komunitas film yang berbasis di Srono, secara resmi meluncurkan film horor berjudul "Darma Malam Kelahiranku". Karya yang disutradarai oleh Muftiurrahman ini mengangkat kepercayaan lokal masyarakat Jawa tentang pamali bepergian di hari weton (kelahiran) sendiri.

Screening film ini digelar di Ruang Sinema Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Jumat (14 November 2025). Acara tersebut dibuka dan dimoderatori oleh Kabid Pemasaran Disbudpar, Ainur Rofiq, dan dihadiri oleh beberapa sineas senior Banyuwangi seperti Bambang Harjito serta berbagai kelompok pemerhati film lokal.

Syuting di 'Swiss van Banyuwangi' dan Kisahkan Mistis Weton

Film yang digarap di kawasan hutan pinus Songgon—yang dijuluki "Swiss van Banyuwangi"—ini menceritakan petualangan empat remaja: Darma dan ketiga kawannya. Dalam pendakian mereka, seorang kuncen hutan memperingatkan untuk segera pulang. Namun, peringatan itu diabaikan, yang kemudian berakibat pada rangkaian peristiwa mistis yang merenggut nyawa, termasuk Darma yang tewas tepat pada hari dan weton kelahirannya.

Film yang disajikan dalam bahasa Indonesia dan Jawa ini mendapat apresiasi sekaligus kritikan.  Andre Waluyo dari Sanggar Merah Putih 45 memuji aspek teknis film. "Untuk ukuran film produksi anak muda, hasilnya sangat baik, terutama dalam hal sinematografi dan manajemen scene", ujarnya.

Namun, beberapa kritikan juga mengemuka, seperti ketidaknaturalan akting yang dianggap masih seperti drama teater, makeup dan kostum yang perlu perbaikan, serta ketidaktepatan dalam proses casting di beberapa peran.


Koreksi Konsep "Based on True Story" dari Sineas Senior

Kritik mendalam datang dari sineas senior Bambang Harjito. Ia mengoreksi penggunaan terminologi "Based on True Story" dalam film ini. Menurutnya, film yang diangkat dari kultur atau kepercayaan masyarakat, bukan dari peristiwa nyata yang spesifik, seharusnya mencantumkan "Based on Culture".

"Jika mencantumkan 'Based on True Story', berarti film itu dibuat dari kisah yang betul-betul pernah terjadi peristiwanya. Kalau ini berdasarkan kultur, seharusnya 'Based on Culture'," jelas Bambang, menekankan pentingnya memahami perbedaan konsep tersebut.

Terlepas dari berbagai catatan, kehadiran "Darma Malam Kelahiranku" dinilai sebagai langkah positif yang tidak hanya menghibur tetapi juga melestarikan nilai-nilai budaya lokal melalui medium film.(AW)



 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger