Pages

Selendang Sang Gandrung

 Selendang Sang Gandrung

Oleh: Syafaat

Malam di stadion Diponegoro Banyuwangi, (perlu saya tulis kata Banyuwangi, karena nama stadion tersebut tidak menggunakan nama pahlawan dari Banyuwangi), seperti tubuh raksasa yang bernafas pelan, lampu-lampu sorot menggantung di udara, memantulkan cahaya ke seribu lebih penari yang tengah berlatih. Di atas tanah yang berdebu, mereka bergerak serempak: mengangkat tangan, memutar tubuh, mengibaskan selendang merah yang berkibar seperti nyala api yang tak pernah padam.

Mereka menari bukan untuk memanggil tepuk tangan, mereka menari untuk memanggil sesuatu yang lebih tua dari mereka, sesuatu yang hidup dalam ingatan tanah Banyuwangi, yang bersemayam di setiap desir angin dari Ijen hingga pantai Boom.

Tema tahun ini: Selendang Sang Gandrung, sebuah nama yang terdengar manis di lidah, tapi sesungguhnya seperti sisipan mantra. Ada kisah lama yang beredar di bumi Blambangan, bahwa selendang pertama milik penari Gandrung bukanlah kain biasa. Ia bukan dijahit, melainkan “lahir” dari kabut dini hari di lereng gunung ijen. Menurut cerita para tetua, selendang itu bukan sekedar kain, tetapi juga ada mantra jelmaan embun yang menyerap doa para petani, lalu mengering di bawah sinar matahari pertama, sejak itu, siapa pun yang mengenakannya dalam tarian, akan membawa suara tanah, laut, dan langit ke dalam geraknya.v


Konon, sebelum ada istilah “Gandrung Sewu”, sudah ada penari yang menari di tepi pantai, dalam beberapa ritual, seperti petik laut. Ia tidak diketahui namanya, hanya dengan panggilan Sang Penari. Ia menari di antara suara ombak, mengibaskan selendang merah yang seakan berbicara dengan angin, setiap kibasan adalah doa, setiap ayunan tangan adalah pengingat bahwa manusia dicipta bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk mengucap syukur dengan cara yang indah.

Ketika orang-orang meniru geraknya, mereka menyebutnya “tarian Gandrung”, tarian yang lahir dari rasa cinta, dari pesona, dari keterpesonaan kepada kehidupan itu sendiri.

Kini, beberapa tahun kemudian, ribuan anak muda berdiri di bawah lampu stadion dengan selendang yang sama warnanya: merah darah, merah cinta, merah semangat, mereka datang dari berbagai daerah, dari Malang, Kediri, Bali, Situbondo, bahkan Papua dan Sumatera Selatan.

Tak ada yang bertanya siapa mereka, dari suku apa, dari agama mana. Yang penting adalah bagaimana mereka bisa menari dalam satu napas, satu irama, satu kesatuan, di udara malam yang hangat, selendang itu bergetar seperti gelombang laut, dari atas drone, formasi mereka tampak sempurna: lautan merah dan kipas putih yang menyala di tengah gelapnya tanah. Tapi jika dilihat lebih dekat, setiap penari memiliki caranya sendiri untuk menafsirkan gerak, ada yang lembut seperti kabut pagi, ada yang kuat seperti ombak pasang. Di sanalah rahasia Gandrung bersemayam: keindahan lahir bukan dari keseragaman, melainkan dari keragaman yang bergerak dalam satu harmoni.

Para tetua di Blambangan percaya, setiap kali ribuan penari mengibaskan selendang merah bersama-sama, arwah para leluhur akan turun menonton, bukan dalam bentuk hantu, tapi dalam bentuk angin lembut yang menyentuh kulit, membuat bulu tangan berdiri tanpa sebab. Itu bukan rasa dingin, itu getaran restu.

Sebab bagi orang Banyuwangi, tarian bukan hiburan. Ia adalah bahasa doa, setiap gerak tangan, setiap langkah kaki, setiap senyum di wajah penari, adalah bagian dari zikir panjang yang disampaikan kepada alam semesta.

Ketika selendang dikibaskan ke kanan, itu tanda penghormatan, ketika dikibaskan ke kiri, itu tanda penolakan terhadap bala.

Ketika diangkat ke atas, itu tanda kesetiaan pada langit dan tanah tempat mereka berpijak.

Maka jangan heran, jika di tengah latihan, selalu ada momen ketika seseorang tiba-tiba menitikkan air mata tanpa tahu sebabnya. Mungkin karena selendang itu masih menyimpan suara masa lalu, suara laki-laki dan perempuan kuat yang dulu menari di tengah hutan, membawa pesan perlawanan dalam kelembutan gerak.

Dalam pandangan para penari tua, selendang adalah bagian tubuh kedua. Ia hidup ketika disentuh, ia bernyanyi ketika digerakkan, bahkan ada kepercayaan lama, bahwa jika seorang penari meletakkan selendangnya di tanah dengan hati yang gelisah, maka tanah akan bergetar pelan, seolah tidak rela menerima benda yang membawa jiwa.

Selendang bukan milik pribadi. Ia adalah perpanjangan dari cinta kolektif, karena itu, warnanya tidak pernah benar-benar sama, di bawah cahaya, merahnya kadang tampak oranye, kadang darah tua, kadang seperti bunga flamboyan yang baru mekar.

Seperti kehidupan: satu warna yang terus berubah, tapi tak pernah kehilangan maknanya.

Mitos lain mengatakan, warna merah pada selendang Gandrung berasal dari darah para pejuang Blambangan yang tumpah di Padang Puputan, ketika mereka melawan pasukan kompeni.

Ketika perang usai dan tanah menjadi gelap, seseorang mngangkat kain putih yang menjadi warna merah darah. “Agar tanah ini tak lupa, dengan perjuangan leluhurnya” katanya.

Sejak itu, merah menjadi warna abadi dalam setiap selendang Gandrung, warna keberanian yang disembunyikan di balik kelembutan.

Itulah paradoks yang indah dari Banyuwangi: bahwa kelembutan tidak pernah berarti lemah. Justru dari kelembutanlah lahir kekuatan yang paling murni.

Seperti doa yang berbisik di malam hari, tak terdengar keras tapi mampu mengguncang langit.

Anak-anak kecil yang menari di barisan depan disebut “penjaga gerbang tari”. Mereka adalah simbol kemurnian, lambang masa depan, mengajari mereka menari bukan perkara mudah, tetapi para pelatih tahu: kesalahan anak-anak tidak pernah dianggap dosa, melainkan keindahan yang belum sempurna.

Kesalahan orang dewasa adalah kehancuran formasi, dan kesalahan anak-anak adalah bagian dari kejujuran hidup itu sendiri.

Para penari Gandrung belum dianggap penari sebelum mengikuti wisuda, ritual meras Gandrung merupakan keniscayaan sebelum benar-benar dianggap penari. Begitulah Banyuwangi memahami kesatuan: tidak dari kesempurnaan, tapi dari penerimaan terhadap ketidaksempurnaan, seperti selendang yang kadang terlepas dari bahu, tapi tetap indah ketika diayunkan kembali.

Di tepi pantai nanti, ketika Gandrung Sewu digelar, seribu lebih selendang akan melambai bersamaan, dari jauh, mereka tampak seperti sayap burung merah yang menari di atas ombak. Langit, laut, dan bumi akan menjadi satu panggung, dan di tengah itu semua, mungkin roh Sang Penari pertama akan menampakkan diri, bukan dalam wujud manusia, tapi dalam bentuk bayangan di antara cahaya senja, atau desir angin yang membelai rambut penari muda.bIa tidak datang untuk menakuti. Ia datang untuk mengingatkan: bahwa setiap gerak adalah doa, setiap tari adalah persembahan, dan setiap selendang adalah kitab yang menulis ulang sejarah dengan bahasa tubuh.

Dalam keheningan itu, mungkin terdengar tembang Gurit Mangir, tembang lama yang dinyanyikan dengan suara serak para sinden dewasa. Tembang itu bercerita tentang perempuan yang menenun cahaya fajar menjadi kain, lalu menyerahkannya kepada bumi agar manusia tidak lupa menari. Setiap nada dari tembang itu seperti benang takdir yang menautkan masa lalu dan masa kini.

Dan di sanalah, Selendang Sang Gandrung menjadi lebih dari sekadar tema pertunjukan: ia menjadi mitos yang hidup.

Jika ditanya apa makna selendang Gandrung, mungkin tak seorang pun bisa menjawab dengan kalimat tunggal, bagi sebagian orang, ia adalah simbol cinta, bagi yang lain, simbol perjuangan.

Bagi para penari muda, mungkin hanya kain merah yang wajib dibawa di setiap latihan, tetapi bagi tanah Banyuwangi, selendang itu adalah nadi yang masih berdenyut, nadi yang menghubungkan manusia dengan leluhurnya, masa kini dengan masa lalu, menghubungkan tubuh dengan jiwa.

Malam di stadion itu akhirnya berakhir, penari satu per satu keluar arena. Tapi di udara, masih tersisa gema gerak dan suara angin yang mengusap pelan, selendang merah yang tadi melambai kini terlipat rapi di dada para penari. Tapi entah mengapa, dalam kegelapan yang tiba-tiba sunyi, terasa seolah selendang itu masih hidup, bergetar lembut di antara dada mereka, seperti masih menari sendiri dalam diam. Mungkin karena selendang itu memang bukan kain. Ia adalah jiwa yang menyaru menjadi kain, agar manusia tak lupa menari di dunia yang semakin sibuk berjalan.

Dan mungkin, di ujung waktu nanti, ketika dunia berhenti berputar dan cahaya terakhir meredup, akan tampak satu sosok penari terakhir, berdiri di tepi laut Banyuwangi, mengibaskan selendang merahnya untuk terakhir kali, sebagai tanda bahwa manusia pernah menari dengan penuh cinta di bumi ini.

Sebab selendang sang Gandrung bukan sekadar kain. Ia adalah doa yang menari di antara dua dunia: dunia manusia yang fana, dan dunia roh yang abadi.

Peluncuran 29 Buku di Ajang KIK ke-34: HISKI Kukuhkan Kiprah Akademik dan Literasi Nasional

Surabaya, (Warta Blambangan) Kongres Internasional Kesusastraan (KIK) ke-34 yang diselenggarakan Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) menjadi momentum istimewa bagi para akademisi dan sastrawan tanah air. Salah satu acara bergengsi dalam kegiatan tersebut adalah peluncuran 29 buku baru karya anggota HISKI dari berbagai komisariat di Indonesia, yang menandai semangat kolaboratif dan produktivitas tinggi komunitas akademik bahasa, sastra, dan budaya.

Kegiatan peluncuran ini dipimpin oleh Dr. Drs. Much. Khoiri, M.Si. (HISKI Universitas Negeri Surabaya) selaku PIC Peluncuran Buku, didampingi oleh perwakilan HISKI Pusat dan para penulis dari berbagai daerah. Dalam sambutannya, Khoiri menegaskan bahwa peluncuran buku-buku ini merupakan bukti konkret kiprah HISKI dalam meneguhkan eksistensi ilmu humaniora di tengah era digital.

“Setiap buku yang diluncurkan hari ini adalah sumbangan intelektual yang berakar pada keilmuan, kebudayaan, dan kreativitas. HISKI ingin terus menghadirkan karya yang membumi, mendidik, dan menginspirasi,” ujarnya.

Daftar 29 Buku yang Diluncurkan dalam KIK ke-34 HISKI

Prof. Wan Syaifuddin, M.A., Ph.D. (Komisariat Sumatera Utara)

Historiografi & Politik Melayu Sumatera Timur (2025)

Muhammad Fadli Muslimin, M.A. (Institut Seni Budaya Indonesia Aceh & HISKI Aceh)

Aroma Rasa (2025)

Prof. Dr. Dra. Esti Ismawati, M.Pd. (Universitas Widya Dharma Klaten)

Evaluasi Pengajaran Bahasa dan Sastra yang HOTS (2025)

Dr. Ari Ambarwati, S.S., M.Pd. (HISKI Malang)

Melampaui Sastra Anak (2025)

Prof. Dr. Wiyatmi, M.Hum. (HISKI Universitas Negeri Yogyakarta)

Ekokritik & Ekopedagogi dalam Sastra Indonesia (2024)

Prof. Dr. Wiyatmi, M.Hum. (HISKI Universitas Negeri Yogyakarta)

Perjalanan Perempuan (2025)

Dr. Cahyaningrum Dewojati, M.Hum. (Universitas Gadjah Mada)

Perempuan dalam Sastra Etnografi Indonesia (2025)

Eirenne Pridari Sinsya Dewi, S.S., M.Ed. (Universitas Udayana)

Jamuan Malam (2025)

Ahmad Sahidah (Universitas Nurul Jadid)

Teknik Dakwah dalam Sastra Kontemporer (2025)

Dr. Maria Ulviani, S.Pd., M.Pd. (Universitas Muhammadiyah Makassar)

Feminisme di Balik Lembar Sastra: Kajian Novel Indonesia Modern (2025)

Novi Andari, S.S., M.Pd. (Untag Surabaya)

Budaya di Kampung Seni (2025)

Novi Andari, S.S., M.Pd. (Untag Surabaya)

Fungsi Terapan Dongeng Tematik (2025)

Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., dkk. (HISKI Pusat)

Humaniora Digital (2025)

Prof. Paulus Sarwoto, Ph.D. (Universitas Sanata Dharma)

Caliban dan Baron Sekeber dalam Tegangan Poskolonialitas (2025)

Dr. Haryadi, M.Pd. (HISKI Sumatera Selatan)

Gambaran Struktur & Gangguan Psikis: Novel-novel Karya Iwan Simatupang (2024)

Dr. Haryadi, M.Pd. (HISKI Sumatera Selatan)

Ketika Iman Dikhianati (Novel) (2025)

Dr. Haryadi, M.Pd. (HISKI Sumatera Selatan)

Perjalanan Inspiratif Haryo (Kumpulan Cerpen) (2025)

Helmi Wicaksono, S.Pd., M.Pd. (HISKI Malang)

Penulisan Kreatif Sastra: Puisi, Cerpen, dan Drama (2024)

Dr. Rita Inderawati, M.Pd. (HISKI Sumatera Selatan)

Empowering ELT through Podcast: Innovative Approaches for Language Skills and Beyond (2025)

Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd. (HISKI Bandung)

Ronggeng: Perempuan dalam Kesusastraan Indonesia (2025)

Dr. Drs. Much. Khoiri, M.Si. (HISKI Universitas Negeri Surabaya)

Menyuarakan Creative (Nonfiction) Writing dari Ruang Ketiga (2024)

Dr. Drs. Much. Khoiri, M.Si. (HISKI Universitas Negeri Surabaya)

Becoming a Creative Writer: Proses Menulis Menuju Buku Paling Dicari (2025)

Dr. Drs. Much. Khoiri, M.Si., dkk., eds. (HISKI Universitas Negeri Surabaya)

Seni, Sastra, dan Budaya Lokal: Pendekatan Multi-, Inter-, dan Transdisipliner (2025)

Nurul Ludfia Rochmah, M.Pd., ed. (HISKI Banyuwangi)

Publikasi Artikel Siswa di Media Massa: Tema SDGs sebagai Pembelajaran Menulis (2024)

Dr. Drs. Sugit Zulianto, M.Pd. (Universitas Sebelas Maret)

Menyapa Ties Setyaningsih, Sahabat Semua: Memberikan Totalitas Keteladanan, Memajukan Regenerasi, Meraih Prestasi, Berkualitas Kreatif, dan Mandiri Berkelanjutan (2025)

Dr. Agustan, S.Pd., M.Pd., dkk. (HISKI Sulawesi Tengah)

Pedoman Pembelajaran Muatan Lokal Berbasis Prototipe Bahasa Kaili untuk Sekolah Dasar (2024)

Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. (HISKI Bali)

Identitas Lintas Budaya: Jejak Jepang dalam Teks Sastrawan Bali (2024)

Prof. Dr. Ali Imron Al-Ma’ruf, M.Hum., dkk. (HISKI Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Fenomena Korupsi dalam Novel Ladang Perminus: Perspektif Moral Ramadhan K.H. (2024)

Dr. I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, S.S., M.Hum. (HISKI Bali)

Rangda: Fenomena dan Tafsir Sastrawi (2024)


Peluncuran ini dihadiri oleh Ketua Umum HISKI, Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, para pengurus pusat, dan perwakilan komisariat dari seluruh Indonesia. Dalam pidatonya, Ketua Umum HISKI menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya bentuk apresiasi terhadap karya akademik, tetapi juga langkah strategis untuk memperkuat jalinan intelektual di bidang humaniora.

“Karya sastra dan ilmiah adalah wujud dari perjalanan budaya bangsa. HISKI berkomitmen menjaga nyala kreativitas dan keilmuan agar terus memberi pencerahan bagi masyarakat,” tutur Prof. Suminto.

Melalui peluncuran 29 buku ini, HISKI menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembangan kajian sastra, budaya, pendidikan, dan literasi digital, sekaligus memperluas peran akademisi dalam menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan melalui tulisan. (Lutfia)

Kita Tidak Pernah Benar-benar Mengenalnya

 

Kita Tidak Pernah Benar-benar Mengenalnya

Oleh: Syafaat

Kita tidak pernah benar-benar mengenal Chairil Anwar seperti mengenal tukang sayur yang lewat setiap pagi sambil berteriak “Lombok, tomat, cabai rawit!” di gang sempit kampung. Kita tahu Chairil lewat kata-kata yang dibakarnya sendiri, lewat jejak tinta yang seperti api di kertas. Tapi kita tidak tahu apakah ia punya kebiasaan menaruh sendok di sebelah kanan atau kiri piringnya. Kita tak tahu aroma apa yang paling ia sukai dari tubuh hujan. Kita hanya tahu ia mencintai hidup dengan cara yang liar, dan karena itu pula ia sering berperang dengan dirinya sendiri.

Chairil, seperti banyak penyair, hidup di wilayah antara: antara cahaya dan bayangan, antara kejujuran dan tipu daya kata-kata. Ia tidak hidup sepenuhnya di dunia nyata, tapi juga tidak sepenuhnya di dunia ide. Ia menggantungkan dirinya di tengah-tengah, seperti daun yang tak sempat jatuh karena angin ragu untuk berhembus.

Begitulah kira-kira sosok yang tak pernah kita kenal, tapi terus kita bicarakan. Begitulah juga Martinus Dwianto Setyawan. Ia lahir di Desa Sisir, kaki Batu yang dingin, 12 Agustus 1949. Di sana, udara pagi membawa kabar dari ladang dan suara sapi yang sedang menunduk mencari rumput. Tak ada yang menandakan bahwa seorang penulis besar akan tumbuh dari tanah itu, selain kebiasaan seorang anak kecil yang gemar bercerita kepada siapa pun yang mau mendengar.

Martinus tumbuh tanpa janji akan ketenaran. Ia menulis bukan untuk mencatat namanya di punggung buku sejarah, melainkan untuk menanam benih kecil di benak anak-anak. Ia tidak membangun monumen dari kata-kata, tapi membuat jalan setapak dari imajinasi. Lewat lebih dari seratus karya, ia seperti menyalakan lentera di lorong masa kecil banyak orang: Sersan Grung-Grung, Kelompok 2 & 1, Kapten Pus, dan sekian banyak judul lain yang mungkin kini terselip di rak perpustakaan sekolah dasar yang sunyi.

Ia menulis bukan untuk membuat kagum, melainkan agar dunia kecil anak-anak tetap hidup, tetap punya warna, tetap punya suara. Ia tidak menulis karena ingin dikenal, melainkan karena tak sanggup melihat dunia tanpa dongeng. Tak banyak orang yang tahu bagaimana suaranya. Barangkali lembut. Barangkali seperti suara guru yang sabar membacakan cerita di depan kelas. Tapi dari tulisannya, kita tahu ia menyembunyikan sesuatu: kesedihan yang jinak, cinta yang tidak ingin diumumkan. Ia menulis seperti orang yang tahu bahwa yang paling berharga dari hidup bukanlah sorak sorai, melainkan kesunyian yang dijaga.


Ia wafat pada 1 Juni 2024. Pergi seperti musim yang tahu kapan harus diam. Tidak menimbulkan ribut, tidak meninggalkan perpisahan yang megah. Tapi kata-katanya tetap ada, hidup di tangan pembaca kecil yang kini sudah tumbuh besar, membawa kenangan itu di dalam kepala mereka. Di rumahnya di Jalan Samadi, antara tumpukan kertas dan aroma tinta, Dwianto membangun DS Grup—bukan lembaga megah, melainkan rumah bagi yang ingin belajar mencintai cerita. Anak-anak datang membawa mimpi, pelukis datang membawa warna, penyair datang membawa kata. Ia tidak ingin menjadi pusat. Ia ingin menjadi pelukan.

Tahun 1990-an, ia memimpin tabloid anak Hoplaa. Isinya ringan, tapi berumur panjang di hati pembacanya. Ada warna merah muda, hijau muda, biru muda—warna yang kemudian memudar di ingatan, tapi meninggalkan rasa yang sulit dijelaskan: rasa bahwa masa kecil pernah seindah itu. Ia menikahi Irawati tahun 1975. Hidup mereka berjalan seperti lagu anak-anak: sederhana, lembut, dan tidak pernah selesai dinyanyikan. Mereka menua bersama buku-buku. Tidak banyak bicara tentang masa lalu, tapi setiap halaman yang dibuka adalah cara mereka mengingat.

Kini, buku-bukunya dicetak ulang. Anak-anak membaca, dan para orangtua tersenyum sambil berkata, “Ini buku waktu kecilku dulu.” Sebuah kalimat sederhana, tapi di dalamnya ada waktu yang kembali. Ada tangan-tangan kecil yang membuka halaman dengan mata yang berbinar. Dwianto bukan sekadar sastrawan. Ia semacam penjaga. Penjaga imajinasi anak-anak agar tak punah ditelan layar. Penjaga kebaikan agar tetap punya tempat di dunia yang tergesa-gesa. Ia menulis bukan untuk menjadi terkenal, tapi agar dunia tetap punya ruang bermain bagi hati yang lembut.

Barangkali itulah bentuk cinta yang paling suci: tidak menuntut, tidak berisik, hanya tinggal di sana, seperti aroma tanah basah setelah hujan. Kita tidak pernah benar-benar mengenalnya. Tapi bukankah begitu juga cara kita mengenal cinta? Kita tak tahu dari mana datangnya, kita tak tahu kapan perginya, tapi kita tahu saat ia ada, dunia menjadi lebih bisa ditanggung. Martinus menulis dengan cinta yang tenang. Ia tidak menciptakan pahlawan besar, hanya anak-anak kecil yang berani bermimpi. Ia tidak menulis kisah perang, tapi menulis cara tertawa di tengah kekalahan. Ia tidak menulis tentang negeri yang megah, tapi tentang hati yang jujur. Dan itu cukup.

Bayangkan suatu pagi di Batu. Udara lembap, daun jambu berjatuhan. Di sebuah rumah dengan jendela menghadap timur, seorang lelaki tua duduk sambil menatap halaman. Di tangannya ada secangkir teh yang mulai dingin. Ia tersenyum kecil, mungkin karena baru saja menemukan kalimat terakhir yang sudah lama ia cari. Mungkin ia tahu, setiap cerita punya nyawa sendiri. Ia tahu, jika sebuah cerita ditulis dengan cinta, maka ia tak akan mati—hanya berganti bentuk: menjadi suara dalam kepala, menjadi kenangan di malam yang sepi, menjadi cahaya kecil di mata anak-anak yang membaca dengan jujur.

Dunia akan terus berubah, tapi cerita-cerita seperti karyanya akan tetap menjadi jangkar yang menahan masa kecil kita agar tidak hanyut. Karena satu cerita yang ditulis dengan hati, bisa menjadi doa. Bisa menjadi arah. Bisa menjadi rumah. Kita tidak pernah benar-benar mengenalnya, tapi lewat cerita-ceritanya, ia mengenal kita lebih dulu. Ia tahu di mana hati pembacanya tinggal, dan di sanalah ia memutuskan untuk menetap. Tanpa pamit. Tanpa tanda. Tapi dengan cinta yang akan terus bernafas, di setiap halaman yang dibuka, di setiap anak yang masih percaya bahwa dunia, betapa pun beratnya, masih bisa diselamatkan oleh cerita.

Top of Form

 

Bottom of Form

Penulis : Syafaat (Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 Peluncuran Buku HISKI Meriahkan KIK Ke-34: Menyongsong 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer

Surabaya, 2025 — Menjelang peringatan 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer yang tinggal 82 hari lagi masa berlakunya, para akademisi, sastrawan, dan pegiat literasi dari berbagai daerah di Indonesia segera berjibaku mempersiapkan peluncuran buku yang akan menjadi salah satu momen penting dalam Kongres Internasional HISKI (KIK) ke-34. Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda utama KIK 2025 dan diselenggarakan dengan semangat kolaboratif lintas komisariat. Sebanyak 29 penulis dan editor dari berbagai universitas dan komisariat HISKI akan naik ke panggung untuk mempertontonkan karya mereka masing-masing, menandai tonggak produktivitas akademik dan kebangkitan humaniora Indonesia. Para peserta peluncuran buku diminta hadir dengan membawa buku karya mereka sendiri, yang akan ditampilkan secara simbolis di hadapan publik. Video peluncuran resmi akan diputar saat masing-masing penulis tampil di panggung, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya seremoni, melainkan perayaan hidup atas gagasan dan kerja intelektual.

Salah satu buku yang akan menjadi penanda penting tahun ini adalah karya kolaboratif Humaniora Digital (2025) yang digawangi oleh Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., dkk., yang juga menjadi mitra dalam sesi diskusi bersama Humaniora Digital esok hari. Buku ini menjadi jembatan konseptual menuju era baru penelitian dan kreativitas sastra di ruang digital. Peluncuran buku dalam rangka KIK ke-34 ini juga akan menampilkan berbagai karya unggulan yang merepresentasikan keragaman tema, pendekatan, dan perspektif dalam ranah humaniora Indonesia. Di antara karya yang akan diluncurkan ialah Ekokritik & Ekopedagogi dalam Sastra Indonesia karya Prof. Dr. Wiyatmi, M.Hum., yang menyoroti hubungan antara sastra, lingkungan, dan pendidikan ekologi; Perempuan dalam Sastra Etnografi Indonesia karya Dr. Cahyaningrum Dewojati, M.Hum., yang mengulas representasi perempuan dalam karya sastra berbasis etnografi; serta Publikasi Artikel Siswa di Media Massa: Tema SDGs sebagai Pembelajaran Menulis karya Nurul Ludfia Rochmah, M.Pd., yang mengintegrasikan literasi siswa dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Selain itu, terdapat pula Caliban dan Baron Sekeber dalam Tegangan Poskolonialitas karya Prof. Paulus Sarwoto, Ph.D., yang menghadirkan pembacaan kritis atas relasi kuasa dan identitas dalam sastra, serta Menyuarakan Creative (Nonfiction) Writing dari Ruang Ketiga karya Dr. Much. Khoiri, M.Si., yang mengeksplorasi gagasan tentang penulisan kreatif nonfiksi dalam ruang lintas batas disiplin. 

Beragam karya tersebut menjadi wujud nyata produktivitas akademik dan kreativitas sastra yang menggambarkan keluasan wilayah, kedalaman kajian, serta semangat kolaboratif HISKI di seluruh Indonesia.Menurut Much. Khoiri, selaku PIC kegiatan, peluncuran buku ini bukan hanya ajang seremonial, tetapi juga bentuk nyata dari komitmen HISKI dalam mendorong regenerasi, kolaborasi ilmiah, dan penguatan literasi humaniora. “Setiap buku yang lahir adalah representasi semangat berkarya di tengah zaman digital. Melalui panggung ini, kita tidak hanya meluncurkan karya, tetapi juga merayakan keberlanjutan intelektual,” ujarnya.

Kegiatan peluncuran buku HISKI di KIK ke-34 ini sekaligus menjadi pra-perayaan 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, sosok pengarang besar yang menjadi inspirasi bagi perjalanan literasi bangsa. Dengan semangat “berjibaku bersama karya”, HISKI meneguhkan diri sebagai rumah besar bagi akademisi dan seniman yang terus menulis, meneliti, dan menghidupkan kemanusiaan melalui kata. (Lutfia)


KIK ke-34 HISKI Resmi Dibuka di BBPMP Jawa Timur: Soroti Sastra dan Aktivisme Sosial di Era Digital

Surabaya, (Warta Blambangan) Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) secara resmi membuka Konferensi Internasional Kesusastraan (KIK) ke-34 di Graha Wiyata Hall, Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur, Jumat (10/10). Tahun ini, konferensi mengangkat tema besar “Sastra dan Aktivisme Sosial”, menyoroti peran sastra dalam mengartikulasikan isu-isu kemanusiaan, lingkungan, dan teknologi digital.

Acara pembukaan dimulai pukul 13.00 WIB, diawali dengan registrasi peserta dan makan siang bersama, dilanjutkan dengan laporan Ketua Pelaksana Prof. Pratiwi Retnaningdyah, Ph.D., serta sambutan dari Ketua Umum HISKI, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., dan Rektor Universitas Negeri Surabaya, Prof. Dr. Nurhasan. Dalam kesempatan itu, HISKI juga menyerahkan penghargaan “Tokoh Peduli Pantun” serta melakukan penandatanganan MoU antara HISKI Pusat dan UNESA sebagai wujud kolaborasi akademik lintas lembaga. 

Acara turut dimeriahkan dengan peluncuran buku oleh Dr. Much. Koiri, diikuti sesi pleno menghadirkan tiga pembicara utama: Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si., Annisa Beta, Ph.D. (University of Melbourne), dan Prof. Milena Mileva (Slovenia).

Setelah sesi utama, peserta mengikuti sesi paralel I dan II yang menghadirkan ratusan pemakalah dari berbagai universitas dan komisariat HISKI di seluruh Indonesia. Sesi ini membahas beragam topik mulai dari ekosastra, feminisme, sastra digital, hingga pendidikan literasi berbasis nilai kemanusiaan.

Konferensi berlanjut pada Sabtu, 11 Oktober 2025, dengan agenda pleno internasional menghadirkan tiga pembicara terkemuka: Dr. Annette Damayanti Lienau dari Harvard University, Dr. Ai Takeshita dari Tokyo University of Foreign Studies, dan Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro, tokoh pendidikan nasional.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sesi paralel III, Rapat Koordinasi Nasional HISKI Pusat dan Daerah (RAKORNAS), penampilan keroncong, serta penutupan dan penyerahan penghargaan pada sore hari.

Ketua Umum HISKI, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, menegaskan bahwa konferensi ini bukan hanya ajang akademik, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral komunitas sastra untuk merespons tantangan sosial dan kemanusiaan. “Sastra hari ini bergerak dalam ruang aktivisme. Sastra diharapkan kuat berbicara tentang lingkungan, kesetaraan, spiritualitas, dan teknologi sebagai buah refleksi dari dunia yang terus berubah,” ujarnya. 


Dengan lebih dari 140 pemakalah dan sembilan subtema utama, KIK ke-34 HISKI diharapkan menjadi forum penting bagi pertukaran gagasan, kolaborasi penelitian, dan penguatan jejaring akademik lintas disiplin untuk kemajuan ilmu kesusastraan Indonesia. (Lutfia)

Membaca Novel Robohnya Surau Kami

 Membaca Novel Robohnya Surau Kami

Oleh: Syafaat

 

Membaca Kumpulan cerita pendek Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis, bagi saya, seperti membaca kisah tentang diri kita sendiri yang diam-diam sedang kehilangan arah. Haji Saleh dalam cerita itu bukan sekadar tokoh fiksi dari Minangkabau tahun 1950-an; ia adalah bayangan manusia hari ini, rajin beribadah, tapi lupa menengok sekeliling. Cerpen itu, yang ditulis dengan bahasa sederhana dan getir, terasa seperti teguran yang dititipkan Tuhan melalui pena seorang sastrawan.

Barangkali benar kata Navis: surau bisa roboh bukan karena gempa, bukan karena hujan deras, tapi karena kosong. Kosong dari kehidupan, kosong dari kasih, kosong dari manusia, atau surau itu benar-benar roboh karena kosong pondasi, kosong perencanaan, kosong pengetahuan tentang banguan. Setiap kali saya mendengar berita sebuah mushala, pesantren atau bangunan peribadata ambruk, entah karena usia atau kesalahan teknis, saya tidak hanya melihat tragedi bangunan., ada sesuatu yang lebih dalam, lebih menyesakkan: jangan-jangan yang sebenarnya roboh bukan hanya temboknya, melainkan maknanya. Jangan-jangan kita sudah terlalu sibuk membangun rumah Tuhan, tapi lupa meihat pondasi yang menumbuhkan penghuni setia, aman dan nyaman di dalamnya.

Saya pernah tinggal di pesantren tua yang didirikan sekitar tahun 1950-an, bangunannya tiga lantai, yang dibangun ulang setelah sebelumnya di zaman agresi pesantren tersebut sempat dibakar oleh tentara Belanda hingga ludes nyaris tanpa bekas. Lantai bawah untuk kamar para santri, lantai dua juga kamar tapi berpapan kayu jati yang tebal, dan lantai tiga adalah aula tempat mengaji, berpidato, atau menulis surat untuk orang tua di malam hari. tidak ada beton, tidak ada baja ringan, hanya bata merah, kayu jati, dan niat yang lurus. Bangunan itu dibangun dengan perencanaan matang yang membuat penghuninya yakin dengan kekuatannya. Yang atas tidak membebani yang bawah, bahkan cenderung mengayomi.

Setiap kali menaiki tangga, kayunya berderit pelan, tapi bunyi itu bukan tanda rapuh, melainkan tanda hidup. Ia menanggung langkah-langkah kecil yang penuh cita-cita. Di sanalah kami tertawa, berdoa, belajar, dan menangis. Lantai itu tahu betul siapa yang rajin tahajud, siapa yang sering kesiangan, tahu betul bahwa hidup kami memang sederhana, seperti cita-cita kami yang juga sederhana. Bangunan itu tak pernah roboh, meski beberapa kali diguncang gempa kecil, saya percaya, bukan semata karena bahan bangunannya kuat, tapi karena ia dibangun dengan cinta. Setiap bata ditempelkan dengan keikhlasan doa, setiap papan dipasang dengan kesungguhan. Tak ada arsitek dari perguruan tinggi ternama, tapi ada iman. Tak ada rancangan rumit, tapi teliti dan ada dzikir di setiap ayunan palu. Pondasinya dalam, bukan hanya karena tanahnya digali, tapi karena hati para pembangunnya ikut ditanam di sana. Dan barangkali di situlah perbedaan antara bangunan yang berdiri karena proyek, dan bangunan yang berdiri karena doa. Namun saya sering bertanya: kalaupun bangunannya masih berdiri, apakah suraunya masih hidup?

 

Hari ini kita hidup di zaman yang mencintai kemegahan. Masjid dan musala menjulang dengan kubah berlapis marmer, lantai berkilau, dan lampu-lampu kristal yang berpendar seperti bintang di langit malam. Di setiap sudutnya ada pengeras suara, udara di dalamnya sejuk oleh pendingin ruangan, seolah-olah surga bisa diciptakan dengan rancangan arsitektur. Tapi entah mengapa, di dalamnya semakin sunyi. Jamaah kian berkurang, suara adzan yang dulu menggetarkan kini hanya bersahut pada ruang kosong. Anak-anak yang dulu berlari di halaman surau, kini berdiam di depan layar ponsel, bermain di dunia yang tanpa wudu, tanpa kiblat, tanpa jeda. Tadarus yang dulu bergaung setiap Ramadan kini hanya tinggal gema masa lalu, seperti suara masa kecil yang hilang di balik riuh kota.

Kita membangun rumah Tuhan dengan megah, tapi membiarkan hati manusia menjadi reruntuhan. Dindingnya tinggi, tapi jiwa-jiwa yang seharusnya bersandar di sana telah menjauh, tersesat dalam gemerlap yang menipu. Kita sibuk mempercantik mihrab, tetapi lupa menambal lubang-lubang dalam iman. Kita memperindah rumah Tuhan, tapi jarang membersihkan jalan menuju ke sana. Dan mungkin di situlah ironi zaman ini bersembunyi, kita membuat tempat sujud semakin nyaman, tapi tak lagi tahu bagaimana rasanya berlutut dengan hati yang benar-benar tunduk. Kita mencintai kemegahan, namun kehilangan kesederhanaan yang dulu membuat doa terasa dekat. Rumah Tuhan berdiri megah, tapi anak-anak Tuhan berjalan menjauh.

Dalam cerpen Navis, Haji Saleh mengira ibadahnya sempurna. Ia mengira surga sudah menunggunya. Tapi Tuhan bertanya dengan satu kalimat yang menembus dasar hati:

“Apa yang kau lakukan selama hidupmu?”

“Aku beribadah, ya Tuhan.”

“Untuk siapa kau beribadah?”

Pertanyaan itu pecah seperti cermin di depan wajah kita. Betapa sering kita beribadah hanya untuk diri sendiri, agar terlihat saleh, agar merasa aman. Kita menunaikan kewajiban, tapi lupa menyalakan kasih sayang. Kita sujud berulang kali, tapi lupa menegakkan kemanusiaan.


Saya masih ingat mushala kecil di kampung, dindingnya retak, karpetnya tipis, kipas anginnya berdecit. Tapi setiap azan berkumandang, jamaah datang. Anak-anak berlari kecil, orang tua menenteng sajadah lusuh, dan suara muazin naik perlahan dari mulut yang tak lagi muda. Surau itu hidup, karena ada manusia di dalamnya yang masih setia menengadahkan tangan, meski hidup mereka sendiri sering tak mudah. Sebaliknya, di kota, saya pernah melihat mushala megah, kubahnya berlapis marmer, karpetnya harum, udaranya dingin, tapi sepi. Tak ada tadarus, tak ada anak-anak mengaji. Ia hanya ramai ketika hari raya, atau ketika kamera dating, surau itu indah, tapi dingin. Kokoh, tapi kosong.

Mungkin beginilah yang dimaksud Navis ketika mengatakan “robohnya surau kami.” Ia bukan tentang bangunan, melainkan tentang ruh. Tentang bagaimana manusia modern terlalu sibuk memoles wujud agama, tapi lupa menanamkan maknanya. Seorang kiai tua pernah berkata pada saya:

“Nak, Tuhan tidak butuh rumah. Ia sudah punya langit dan bumi. Surau itu bukan tempat Tuhan tinggal, tapi tempat manusia belajar mencintai.”

Kalimat itu sederhana, tapi menancap, mungkin itu sebabnya, banyak surau hari ini tampak kokoh tapi tak lagi punya jiwa, kita bangun gedungnya, tapi tidak menanamkan kasih, kita cat temboknya, tapi membiarkan hati jamaahnya retak.

Saya teringat surau kecil peninggalan kakek saya di kampung, dulu tempat kami mengaji, tempat kami mengenal huruf-huruf hijaiyah dengan suara terbata. Setelah beliau wafat, surau itu dibiarkan kosong, atapnya bocor, dindingnya lapuk, hingga suatu hari dianggap membahayakan, lalu dibongkar, surau itu hilang, tinggal pondasi yang ditumbuhi Semak. Saya sedih. Seolah bukan bangunan yang diruntuhkan, tapi kenangan masa kecil kami yang ikut rubuh.

Beberapa tahun kemudian, bersama warga kampung, saya mencoba membangunnya Kembali, kami menamainya Baitus Syafaat, rumah pertolongan. Saya ingin surau itu menjadi tempat hidup kembali: tempat belajar agama, tempat anak-anak mengenal sujud, tempat orang-orang dewasa beristirahat dari lelah dunia. Saya tidak ingin surau itu sepi lagi, saya tidak ingin ia roboh, bukan karena tanah, tapi karena kita abai, sebab membangun itu lebih mudah daripada menjaga agar surau itu tidak sunyi, agar anak-anak menarasa senang mendatanginya, agar orang-orang yang mampir sekedar ikut sembahyang juga merasa nyaman.

Setiap kali mendengar berita tentang surau roboh, saya membayangkan bukan hanya reruntuhan bata dan papan, tapi reruntuhan hati manusia yang sudah lama tak berdoa, surau yang runtuh hari ini mungkin hanya cerminan dari doa-doa yang kita abaikan kemarin. Kita hidup di masa ketika tangan sibuk menggenggam ponsel, tapi jarang terangkat untuk berdoa, ketika mulut fasih bicara tentang agama, tapi kaku menyebut nama Tuhan dengan lembut, ketika waktu salat lewat begitu saja, tergantikan oleh notifikasi yang lebih mendesak, kita rajin membangun menara, tapi lupa membangun pondasi jiwa.

Padahal pondasi surau bukan hanya semen dan besi, pondasinya adalah kesadaran bahwa ibadah sejati bukan hanya menunduk di sajadah, tapi juga menegakkan keadilan di luar sajadah. Bahwa doa bukan sekadar suara yang naik ke langit, tapi juga tindakan yang turun ke bumi. Dan mungkin, surau yang paling suci bukan yang berdiri di atas tanah wakaf, tapi yang berdiri di dalam dada manusia. Surau yang diisi oleh rindu, dzikir, dan kasih. Surau yang tak bisa dirobohkan oleh gempa, tak bisa dibakar oleh zaman. Sebab kalau surau di dalam hati masih tegak, maka meski dunia runtuh, kita tetap punya tempat untuk bersujud.

Dan jika suatu hari Tuhan bertanya pada kita seperti Ia bertanya pada Haji Saleh, semoga kita bisa menjawab tanpa gugup:

 “Ya Tuhan, aku tidak hanya membangun rumah-Mu. Aku juga menjaga agar ia tak sepi. Aku menjaga agar surau-Mu tetap hidup.”

Kita sering sibuk menegakkan dinding-dinding baru, menambah lantai demi lantai, membuat kehidupan ini tampak tinggi menjulang. Kita menghitung kekuatan besi, mengukur kedalaman pondasi, memastikan tak ada retak yang bisa membuatnya goyah. Tapi jarang sekali kita menanyakan: di atas apa sesungguhnya bangunan jiwa ini berdiri?

Seperti gedung bertingkat yang butuh pondasi kokoh, perhitungan matang dan waktu yang tepat,  iman pun memerlukan tanah kesadaran yang dalam, tak cukup dengan pengetahuan yang dipajang di kepala; ia perlu keyakinan yang hidup di dada. Karena jika kesadaran itu rapuh, sehebat apa pun bangunan amal akan retak, dan setinggi apa pun menara kebaikan akan runtuh dalam sunyi. Roboh itu tidak selalu terdengar, kadang ia diam, terjadi perlahan, ketika seseorang berhenti berdoa karena merasa semua baik-baik saja. Ketika sujud kehilangan makna, dan zikir hanya tinggal bunyi tanpa arah, maka yang runtuh bukan tembok, melainkan ruang dalam hati yang tak lagi mampu menampung cahaya.

Iman tidak tumbuh dari banyaknya ayat yang kita hafal, melainkan dari seberapa jujur kita menundukkan diri. Ia seperti tanah liat, lembut tapi kuat, yang mesti dibasahi air penyesalan agar bisa dibentuk menjadi sesuatu yang bernilai. Tanpa itu, ia akan mengeras, kering, dan pecah, bahkan sebelum sempat dijadikan apa pun. Karena itu, sebelum membangun kehidupan setinggi langit, pastikan pondasinya menancap ke bumi sujud, sebab tidak ada bangunan yang lebih indah dari hati yang tahu caranya kembali berlutut.

Penulis adalah ASN/ Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.

 

 

 

 

Rayakan HUT ke-80, Kodim 0825 adakan Upacara dan Pembagian Sembako kepada BCM Taman Blambangan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke-80, Kodim 0825 Banyuwangi menggelar upacara khidmat di Taman Blambangan, Minggu (5/10/2025). Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Dandim 0825 Banyuwangi, Letkol (Arm) Triyadi Indrawijaya, S.H., M.I.P., dan berlangsung tertib serta penuh semangat kebangsaan.

Momentum peringatan HUT TNI kali ini terasa lebih istimewa karena diakhiri dengan kegiatan sosial berupa pembagian sembako kepada para pelaku UMKM yang tergabung dalam Banyuwangi Creative Market (BCM) di sekitar Taman Blambangan. Aksi sosial tersebut menjadi wujud kepedulian dan kedekatan TNI dengan masyarakat kecil, khususnya para pelaku ekonomi kreatif lokal.b


“Bakti sosial ini merupakan bentuk nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat. Kami ingin kebahagiaan HUT TNI juga dirasakan oleh masyarakat, terutama mereka yang setiap hari berjuang menghidupi keluarga lewat usaha kecil,” ujar Letkol Triyadi usai kegiatan.

Pada usia ke-80, TNI mengusung tema besar “TNI Prima, TNI Rakyat, Indonesia Maju.” Tema tersebut mengandung makna filosofis yang mendalam. Kata prima merupakan akronim dari profesional, responsif, integratif, modern, dan adaptif, yang mencerminkan tekad TNI untuk terus meningkatkan kualitas prajurit agar siap menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Sementara frasa “TNI Rakyat” menegaskan kembali jati diri TNI sebagai penjaga kedaulatan yang lahir dari rakyat, berjuang untuk rakyat, dan senantiasa hadir di tengah-tengah rakyat. Adapun “Indonesia Maju” menjadi tujuan akhir sinergi antara TNI dan masyarakat, yakni mewujudkan bangsa yang berdaulat, mandiri, serta sejahtera.

Letkol Triyadi menambahkan, kemanunggalan TNI dengan rakyat adalah kekuatan utama dalam menjaga keutuhan NKRI. “Kami akan terus berupaya menjadi garda terdepan dalam pertahanan, sekaligus menjadi sahabat rakyat dalam setiap langkah menuju Indonesia yang maju,” tegasnya.

Upacara HUT TNI ke-80 di Taman Blambangan berjalan lancar, diiringi antusiasme masyarakat yang memadati area taman. Suasana penuh keakraban antara prajurit dan warga menjadi bukti nyata semangat kebersamaan dan nasionalisme yang terus tumbuh di Banyuwangi.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger