Pages

Pemkab Banyuwangi Kembali Raih Penghargaan Kabupaten Layak Anak Kategori Nindya


BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kabupaten Banyuwangi kembali meraih predikat Kabupaten Layak Anak (KLA) Kategori Nindya dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA). Penghargaan ini diserahkan Wakil Menteri PPPA Veronica Tan bersama Kepala BNPT Komjen Pol Eddy Hartono, dan diterima Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Banyuwangi Henik Setyorini, di Auditorium KH. M. Rasjidi Kementerian Agama RI, Jakarta, Jumat malam (8/8/2025). 

Capaian ini menandai keberhasilan Banyuwangi mempertahankan predikat Nindya selama dua tahun berturut-turut. Penilaian Kemen PPPA diberikan atas komitmen pemerintah daerah mewujudkan lingkungan aman, nyaman, dan ramah bagi tumbuh kembang anak.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut penghargaan tersebut sebagai hasil kerja kolektif berbagai pihak. “Kita bersyukur upaya menciptakan ruang nyaman bagi tumbuh kembang anak mendapat apresiasi. Ini adalah komitmen bersama menjadikan Banyuwangi semakin ramah anak,” ujarnya, Sabtu (9/8/2025).

Ipuk menegaskan, kontribusi pemerintah, sekolah, masyarakat, dunia usaha, TNI-Polri, hingga peran aktif orang tua menjadi faktor kunci. Pemkab, lanjutnya, terus menghadirkan program berpihak pada anak seperti penyediaan fasilitas publik ramah anak, pemerataan akses pendidikan dan kesehatan, serta pengembangan ruang kreatif untuk partisipasi anak.

“Kami juga aktif membuka konsultasi bagi anak dan remaja untuk menjaga kesehatan mental mereka, rutin menggelar musrenbang anak, serta menindaklanjuti aspirasi dan rekomendasi yang mereka sampaikan,” kata Ipuk.

Bupati Banyuwangi itu mengajak seluruh elemen masyarakat berperan menciptakan lingkungan ramah anak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga ruang publik. “Ini tanggung jawab bersama. Semua pihak harus terlibat agar daerah kita benar-benar layak anak,” tegasnya.


Menjadi Intelektual Organik di Tengah Keterbatasan: Refleksi atas Pengalaman Bersama ISNU

 

Menjadi Intelektual Organik di Tengah Keterbatasan: Refleksi atas Pengalaman Bersama ISNU

Oleh: Syafaat

Ada banyak organisasi yang bisa diikuti oleh mereka yang pernah mencicip bangku kuliah. Ikatan alumni, baik alumni kampus mapun alumni organisasi ekstra kampus, organisasi masyarakat keagamaan. Beberapa memilih Muhammadiyah, sebagian memilih Nahdlatul Ulama atau yang lain. Sebagian lagi hanya menjadi penonton, menepi dari segala keramaian, dan memilih membaca sunyi.

Tapi bagi aparatur sipil negara, ada batas tipis yang harus dijaga. Panggilan organisasi tak boleh membuat tugas utama terbengkalai. Di meja kerja, laporan harus disusun. Data keagamaan harus diverifikasi. Warga datang dengan urusan pernikahan, perceraian, warisan, hingga anak-anak yang putus sekolah. Tugas-tugas itu tak mengenal musim. Tak ada spanduk, tak ada panggung, tak ada kamera. Tapi semua harus selesai. Dalam situasi seperti itu, organisasi keilmuan menjadi semacam jalan samping yang sunyi, tempat orang-orang berpaling sejenak untuk menyusun ulang makna. Salah satunya adalah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)

Tidak banyak yang tahu bagaimana ISNU bekerja di daerah. Tidak ada kantor permanen. Rapat kadang di warung kopi. Agenda pelatihan disusun lewat pesan singkat. Tapi justru di tengah keterbatasan semacam itu, kerja-kerja intelektual menemukan ruangnya yang paling otentik. Tidak ada yang mengejar panggung. Tidak ada yang sibuk mengejar pujian. Pengurus ISNU adalah para guru, dosen, ASN, peneliti muda, dan mahasiswa pascasarjana yang pulang kampung. Mereka tak pernah diberi gaji bulanan. Tapi setiap pekan, mereka datang: memberi pelatihan literasi, menyusun modul moderasi beragama, menjadi narasumber untuk forum kecil, menyambangi sekolah-sekolah yang nyaris dilupakan.

Di tangan mereka, ilmu tak hanya berada di ruang kelas. Ilmu menjelma menjadi suara yang menenangkan anak-anak muda. Menjadi nasihat yang bisa dipahami oleh petani. Menjadi semangat bagi ibu-ibu yang sedang membuka kelompok belajar. Ilmu, di sini, bukan untuk menara gading, tapi untuk jalanan desa yang tak beraspal. Antonio Gramsci pernah menyebut tentang "intelektual organik",  mereka yang tidak terpisah dari masyarakat, melainkan tumbuh bersama denyut nadinya. Dalam tubuh ISNU, istilah itu mendapat wajahnya yang baru. Tidak perlu nama besar. Tidak perlu pidato hebat. Cukup dengan kehadiran yang konsisten, bahkan dalam bentuk yang paling sederhana.

Pierre Bourdieu menyebut kerja semacam ini sebagai bagian dari habitus. Tidak spektakuler, tidak viral, tapi terus-menerus mengakar. Kapital kultural yang lahir dari proses seperti itu tak selalu dicatat dalam jurnal ilmiah. Tapi bisa ditemukan dalam cara orang mendengar, cara mereka berubah, cara mereka mulai berani berbicara di depan forum. Ilmu yang dikejar demi ranking dan pengakuan cenderung mudah kering. Tapi ilmu yang dipraktikkan dalam kesunyian, justru tumbuh menjadi akar yang kuat. Dalam pelatihan-pelatihan ISNU, materi disampaikan dengan spidol yang mulai pudar. Slide presentasi diputar dengan laptop pinjaman. Tapi tak ada yang mengeluh. Karena yang dibangun bukan citra, melainkan kesadaran.

Banyak orang sibuk m


engejar publikasi. Sibuk menulis untuk jurnal yang tak pernah dibaca oleh petani atau guru madrasah. Tapi di ruang kecil tempat ISNU bekerja, ilmu menjelma menjadi diskusi tentang pola asuh, tentang ekonomi keluarga, tentang ketahanan pangan. Mereka tidak bicara tentang teori besar. Tapi membahas bagaimana cara menghidupkan kembali kelompok tani, atau membangun rumah baca di mushola. Di dunia yang dikuasai algoritma, kerja semacam ini dianggap pinggiran. Tapi justru dari pinggiranlah kehidupan sering dimulai. Dari obrolan setelah isya, dari pertemuan tak resmi di emperan kantor, dari sapaan kepada anak-anak sekolah yang pulang jalan kaki. ISNU tidak dibangun dengan semangat korporasi. Tapi dengan keikhlasan yang kadang sulit dinalar.

Banyak organisasi yang lahir untuk menjadi besar. Tapi ISNU tumbuh pelan-pelan. Kadang hanya dua orang yang datang ke rapat. Kadang harus patungan membeli air mineral untuk peserta pelatihan. Tapi yang sedikit itu pun tetap berjalan. Karena dalam dunia kerja sunyi, ukuran bukan pada jumlah, tapi pada keberlanjutan.

Tugas aparatur sipil negara tidak pernah mudah. Di satu sisi ada target administrasi, di sisi lain ada kebutuhan masyarakat yang tak bisa dibaca dengan angka. Di tengah itu, ISNU hadir sebagai jembatan. Bukan untuk menghindari tanggung jawab, tapi untuk memperluas medan pengabdian. Tugas negara tetap dijalankan. Tapi setelah jam kerja, pengabdian kepada ilmu dilanjutkan. Tak ada honor, tak ada liputan, tak ada tepuk tangan. Hanya secangkir kopi dan wajah-wajah yang tetap datang malam-malam.

Sudah saatnya negara membuka mata. Ada banyak kerja intelektual yang tak terindeks dalam Google Scholar, tapi nyata dampaknya. Ada banyak pengabdian yang tak tertulis dalam laporan proyek, tapi mengubah hidup orang. Negara seharusnya hadir bukan hanya sebagai pemberi perintah, tapi juga pelindung ruang-ruang kecil tempat ilmu dikerjakan dengan cinta.

Tak banyak yang tahu bahwa para sarjana Nahdlatul Ulama tidak hanya sibuk di balik meja kerja atau podium seminar. Ada sekelompok orang yang percaya bahwa pengetahuan yang mereka miliki sebaiknya tidak sekadar diabadikan dalam makalah akademik atau catatan kaki tesis. Mereka memilih jalan yang lebih sunyi: menyusun program, membangun skema pemberdayaan, dan perlahan menyusuri jalan terjal menuju perubahan yang lebih nyata. mereka memberi nama pada arah langkah itu: pemberdayaan sumber daya manusia NU, transformasi digital, dan penguatan ekonomi umat. Tujuannya bukan sekadar menggugurkan kewajiban organisasi. Ada angan yang lebih jauh dari itu: ikut serta menyiapkan Indonesia Emas 2045.

Maka bergeraklah mereka, menyusun satu demi satu program. Ada Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKM-NU) yang coba memetakan ulang harapan keluarga-keluarga NU di tengah gelombang zaman yang cepat berubah. Ada juga upaya menghadirkan koperasi tani berbasis pesantren, sebuah gagasan lama yang selalu tampak baru bila dilihat dari sisi yang tepat. Transformasi digital tak sekadar menjadi istilah yang digantungkan di spanduk seminar. Ia diterjemahkan ke dalam pelatihan, platform, dan kanal distribusi yang memberi ruang lebih luas bagi warga NU untuk menyusuri dunia digital tanpa kehilangan akar.

Di sisi lain, ada pula pendampingan kewirausahaan pangan yang lebih bersifat mendekatkan, bukan menggurui. Mereka duduk bersama para pelaku kecil dan menengah, mencoba memahami alur kerja mereka, mencatat kebutuhan, lalu menyambungkan dengan akses permodalan. Seringkali, yang dibutuhkan bukanlah dana besar, melainkan pintu yang terbuka. ISNU tak hendak bekerja dalam diam sepenuhnya, para sarjana ini tampak tenang. Mereka tahu bahwa kerja kebudayaan dan pemberdayaan tak akan pernah selesai. Mereka juga sadar, bahwa yang dibangun bukan sekadar program kerja, tetapi daya tahan. Sebab yang akan datang nanti bukan sekadar masa depan, melainkan masa depan yang menuntut kesiapan dari sekarang.

Dukungan tak harus berupa anggaran besar. Kadang cukup dengan pengakuan. Dengan ruang. Dengan tidak mencurigai mereka yang aktif di organisasi keilmuan. Dengan memberi waktu luang yang tak dihitung dengan curiga. Aparatur sipil negara adalah manusia juga. Mereka butuh saluran untuk berpikir, untuk menulis, untuk mengajar. Karena jika tidak, birokrasi akan jadi kuburan bagi potensi. Dalam kerja-kerja ISNU, yang dicari bukan kehormatan, melainkan kebermanfaatan. Bukan status, melainkan jejak. Kadang hanya satu anak muda yang berubah setelah ikut pelatihan. Tapi dari satu itu, lahir perubahan lain. Seperti benih kecil yang disimpan di tanah tandus, dan tiba-tiba tumbuh setelah hujan pertama turun.

Dan di dunia yang makin penuh suara ini, kadang yang dibutuhkan hanyalah ruang tenang. Tempat orang bisa berpikir tanpa tekanan. Tempat orang bisa berbagi ilmu tanpa pamer. Tempat orang bisa merasa berguna tanpa harus menjadi bintang, di tempat seperti itu, bukan sekadar organisasi. Ia adalah cara untuk tetap waras. Untuk tetap percaya bahwa ilmu bisa mengubah hidup. Bahwa pengabdian tidak harus menunggu jabatan. Dan bahwa menjadi manusia yang berguna tak selalu butuh mikrofon.

Ada kerja-kerja yang tak terlihat. Tapi bukan berarti tak bermakna. Di ruang-ruang itu, cahaya dijaga. Ditiup perlahan agar tidak padam. Dan dalam diam, orang-orang itu terus berjalan, menjadi penjaga cahaya, meski tak pernah disebut namanya.

Penulis adalah ASN Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

Tasyakuran Setahun Madrasah Diniyah Takmiliyah SMPN 3 Rogojampi


Mengenang setahun program inovasi Madrasah Diniyah (Madin) Takmiliyah diperingati pada Hari Kamis, 7 Agustus 2025,ditandai doa bersama warga sekolah dan tumpengan di gazebo SMPN 3 Rogojampi. 

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi yang diwakili Kabid SMP Didik Eko Wahyudi, S. Pd yang sempat jadi Plt Kepala SMPN 3 Rogojampi  yang melaunching inovasi literasi Al-Qur'an yang pertama untuk sekolah menengah pertama negeri di Kab.Banyuwang pada Tanggal 7 Agustus 2024 itu disaksikan pengawas H.M.Hasan, S. Ag. M. Pd. I dan segenap pengurus Komite maupun guru dan tenaga kependidikan berikut murid kelas 7 yang kini naik ke kelas 8 yang beragama Islam masih tetap tiap hari Selasa, Rabu dan Kamis jam ke nol mempelajari kitab Suci Al-Qur'an serta doa sehari-hari terlebih doa untuk orang tua. Dan untuk tahun ini ditambahi sholat dhuhur berjamaah plus iqro' bagi yang halangan hadir pada jam ke nol. 

Direktur Madin Takmiliyah, Muslih, S. Ag sampaikan usai   MPLS Dewan Assatidz sejumlah 17 orang telah melakukan tes kemampuan yang hasilnya 50 anak sama sekali tak tahu huruf dan angka hijaiyah, 35 anak agak bisa baca juz amma serta 106 anak relatif lancar baca Al-Qur'an. Maka dari pemetaan itu sebagai dasar untuk masuk kelas Ula, Wustho dan Ulya. "Alhamdulillah dalam perjalanan setahun ini ada peningkatan kemampuan BTS serta ada prestasi qiroah di Festival Anak Sholeh, dapat apresiasi juara 1 SRC Kemenag Kabupaten  Banyuwangi sebagai sekolah yang menerapkan budaya religius serta dapat hibah 600 Al-Qur'an dari Yayasan Al-Fatihah Semarang! ' tutur Direktur yang juga Wakasek Kesiswaan ini seraya menyitir ayat barang siapa bersyukur maka Allah akan menambah nikmat-Nya. 

Plt Kepala SMPN 3 Rogojampi Dra. Hj. Sri Utami sampaikan bila Madin  Takmiliyah sesuai visi sekolah yakni Berakhlak mulia, berprestasi dan berbudaya. Dan umumnya di fase jelang remaja anak malu untuk mengaji di kampungnya. "Maka program Madin jadi solusi untuk bekal sukses dunia akherat. Dan penerapan keyakinan sekolah bareng tim BK jadi lebih sinergi arahkan perilaku anak didik yang berkarakter! " tutur guru  matematika yang putra-putrinya ada yang jadi dokter dan calon guru ikuti jejak orangtuanya. 


Sementara itu Ketua Komite Ir Isnain berharap lulus dari Sempega harus bisa baca Al-Qur'an bagi yang muslim serta lanjutkan hingga lulus SMA/SMK/MA. Dan orangtua siap mendukung shodaqoh infaq buat pendidikan yang  keberkahan ilmu, berbudi luhur serta berorientasi kebahagian dunia akherat. "Kami berpesan buat guru dan ustadz untuk sabar, ikhlas serta jangan sampai emosi  hingga lakukan kekerasan apalagi dendam saat membimbing dan mengajar peserta didik! " tukas purnatugas guru MTsN 10 ini sembari senyum dengan pesan juga Madin laksana Taman yang menyenangkan dan bergabung ke Lembaga Pembinaan  dan Pengembangan Taman Pendidikan Al-Qur'an-BKPRMI yang jadi binaan DMI dan MUI. (Aguk/YC/JN-SW)

Rumah yang Bernama Indonesia

Rumah yang Bernama Indonesia

oleh : Syafaat 

Tidak ada rumah yang sempurna. Bahkan rumah yang dibangun dengan cinta pun bisa bocor di musim hujan. Gentengnya bisa bergeser, dindingnya bisa retak, lantainya bisa menjadi dingin saat malam tiba. Tapi rumah tetaplah rumah. Tempat kau kembali setelah dunia terlalu gaduh, tempat kau menyimpan luka dan tawa, tempat di mana bau kayu tua dan masakan ibu bertahan lebih lama dari ingatanmu sendiri.

Indonesia, rumah besar ini, tak pernah mengklaim dirinya sempurna. Ia hanya berdiri seadanya, dengan fondasi yang ditanam oleh peluh para petani dan darah para pemberontak yang menolak dijajah. Ia berdiri dari doa-doa ibu di lereng gunung dan dari air mata istri nelayan yang setiap pagi menatap laut tanpa tahu apakah suaminya akan pulang. Rumah ini kini sedang dalam masa yang tak mudah. Tapi bukan karena cintanya telah padam. Bukan pula karena tiangnya patah. Ia hanya sedang terlalu banyak dihuni oleh tangan yang lupa caranya menyapu halaman. Oleh mulut-mulut yang rajin menyalahkan, tapi enggan memungut sampah di depan pintu. Namun rumah tetaplah rumah. Kau boleh marah saat listrik padam. Boleh mengeluh saat harga beras melonjak dan suara rakyat tenggelam dalam rapat-rapat yang terlalu dingin karena pendingin ruangan. Tapi jangan pernah kau menjelekkan rumah ini di hadapan orang luar. Karena jika satu atap roboh, semua akan kehujanan. Jika satu dinding runtuh, kita semua akan kehilangan tempat bersandar. 


Korupsi, ketidakadilan, kerusakan lingkungan—itu bukan hanya isu. Itu adalah retakan kecil yang kadang tak kasatmata, tapi jika dibiarkan, bisa membuat temboknya roboh. Rumah ini tidak membutuhkan penghuni yang sempurna. Ia hanya butuh orang-orang yang tahu cara menambal dan membersihkan.

Di sudut-sudut negeri, ada orang-orang yang setiap hari menambal retakan itu dengan tangan kosong. Seorang ibu yang menenun di Flores, seorang anak yang menyusuri jalan berlumpur ke sekolah, seorang nelayan yang bertarung dengan gelombang agar ada nasi di piring malam nanti. Mereka bukan pahlawan di buku sejarah, tapi mereka adalah tiang-tiang yang tak pernah tumbang.

Indonesia bukan sekadar pulau-pulau. Ia adalah ruang batin. Tempat seorang Dayak duduk berdampingan dengan seorang Batak di bus malam, tempat seorang Madura menyeduhkan kopi untuk seorang Sunda yang baru datang dari kota. Kita tak perlu mengenal semua wajah, cukup mengenali bahwa kita sama-sama penghuni rumah yang sedang belajar saling mengerti. Dan seperti rumah mana pun, ia butuh dirawat. Butuh dipeluk. Bukan oleh kekuasaan, tapi oleh keikhlasan.

Ketika dunia semakin gaduh dan bangsa-bangsa saling melotot, rumah ini hanya ingin tenang. Ia tak meminta semua setuju, ia hanya ingin semua sadar bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menyingkirkan.

Banyak yang ingin rumah ini gagal. Dari luar dan dari dalam. Tapi harapan tidak pernah mati jika masih ada orang yang menyalakan lilin meski tahu malam akan panjang. Jika masih ada yang menatap merah-putih dengan mata yang basah, bukan karena sedih, tapi karena cinta yang terlalu dalam untuk dijelaskan dengan kalimat. Tidak perlu menjadi pahlawan. Cukup menjadi tetangga yang tahu kapan harus mengetuk pintu dan kapan harus membantu memperbaiki pagar. Rumah ini tidak akan utuh karena satu orang hebat, tapi karena semua orang saling menambal retaknya.

Kita dulu bangsa besar. Bukan karena senjata, bukan karena tambang, tapi karena semangat yang menyala di dada-dada yang nyaris tak punya apa-apa. Guru-guru berjalan kaki membawa buku, petani-petani menanam doa di sela benih, ibu-ibu melilitkan kain di tubuh anak-anaknya sambil mengajarkan sabar.

Saat dunia masih gelap oleh penjajahan, negeri ini memekikkan kemerdekaan. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk dunia. Kita menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika bukan untuk pamer diplomasi, tapi untuk menyatakan bahwa keadilan bisa dibicarakan, bahwa kemerdekaan bisa dijemput bukan hanya dengan peluru, tapi juga dengan puisi dan jabat tangan.

Negeri ini pernah mengirim guru ke negeri-negeri lain. Tanpa berharap balasan. Karena kita percaya, cahaya yang dibagi tidak membuat pelitiknya sendiri padam. Sekarang mungkin kita tertinggal. Jalan mereka lebih mulus, gedung mereka lebih tinggi, uang mereka lebih kuat. Tapi itu bukan akhir cerita. Sebab rumah bukan dinilai dari cat dindingnya, tapi dari bagaimana penghuninya menjaga nilai-nilai yang dibangun sejak awal. Masalah negeri ini bukan pada kekurangan, tapi pada lupa. Kita lupa bahwa rumah ini harus dijaga bersama. Kita mulai saling curiga, saling membandingkan, saling menyalahkan. Padahal rumah hanya ingin dihuni oleh mereka yang tahu cara saling menyapa.

Tapi belum terlambat. Dindingnya masih berdiri. Ada bunga yang baru tumbuh di pekarangan. Masih ada anak-anak yang menatap huruf pertama dengan mata berbinar. Masih ada remaja yang bisa menulis kode dan puisi dengan imajinasi yang lebih kaya dari APBN. Rumah ini belum habis. Yang kita butuhkan bukan pidato baru. Bukan jargon. Bukan perayaan dengan kembang api. Kita hanya butuh ingatan—bahwa kita pernah menyala, dan bisa menyala lagi.

Tidak perlu menjadi bangsa yang sempurna. Cukup menjadi keluarga yang tahu bagaimana cara menjaga rumah. Karena rumah ini, betapa pun retaknya, tetap milik kita. Dan jika kita bisa saling menjaga, pekerjaan berat pun bisa berubah menjadi ladang harapan. Yang pernah menyala, tak akan selamanya gelap. Asal ada yang rela meniup bara dengan sabar. Asal ada yang tahu bahwa rumah ini dibangun dari sabar, dari luka, dari doa-doa ibu yang tidak pernah lelah meski malam-malam makin sunyi.

Rumah ini indah. Bukan karena emas dan tambangnya. Tapi karena ia dihuni oleh orang-orang yang pernah bersumpah untuk saling menjaga. Namun sumpah itu sekarang terdengar seperti gema. Tak jelas. Tak bulat. Kadang sekadar seremonial yang diulang tanpa jiwa. Permata-permata itu masih ada. Tapi ia hanya bisa digali oleh tangan yang bersih dan niat yang jernih.

Dan rumah ini, yang dibangun oleh syuhada dan tangis diam para perempuan tua, tidak boleh dikelola dengan rakus. Jika rumah ini ladang, hasilnya harus bisa dimakan semua orang. Bukan hanya mereka yang memegang kunci gudang.

Masjid boleh megah. Tapi adzan harus tetap lebih nyaring dari suara mesin tambang. Al-Qur’an masih dibaca, tapi isinya harus sampai ke keputusan-keputusan penting. Sekolah agama jangan hanya ramai saat pagi, tapi harus menghidupkan kasih sayang dan keadilan sampai ke ruang sidang. Anak-anak rumah ini harus belajar menanam, bukan mencuri. Belajar memetik, bukan merampas.

Dan jika suatu saat mereka cukup dewasa, biarlah mereka menggali permata itu dengan dzikir, bukan dengan tipu daya. Sebab permata yang digali dengan dzikir akan bercahaya lebih lama daripada permata yang dicuri dalam gelap.

Rumah ini bukan milik kita semata. Ia adalah titipan masa lalu dan warisan masa depan. Maka jagalah ia sebagaimana kau menjaga tubuhmu: diberi makan yang baik, dibersihkan dari penyakit hati, dan dilindungi dari hawa nafsu yang membutakan. Karena rumah ini akan bertanya padamu kelak: Apa yang kau lakukan saat rumahmu hampir retak? Apakah kau memperbaiki, atau justru ikut menambahi retaknya?

Jika yang kau jawab adalah kebaikan, rumah ini akan tetap berdiri. Tidak hanya di bumi. Tapi juga di langit.

Karena rumah ini, meski letih, masih percaya pada cinta.
Dan cinta yang setia—akan selalu menemukan jalan untuk pulang.

.

Catatan Seorang Sarjana Desa di Rumah Sunyi Bernama ISNU

Catatan Seorang Sarjana Desa di Rumah Sunyi Bernama ISNU

Oleh: Syafaat 


Langit belum sepenuhnya terang ketika saya berangkat dari rumah. Hanya ada kabut tipis, suara ayam bersahutan, dan azan Subuh yang datang dari surau kecil di seberang sawah. Seperti biasa, saya memulai hari sebagai pegawai negeri di kantor Kementerian Agama, mengurus hal-hal yang tak selalu bisa dijelaskan dengan cepat: bimbingan masyarakat Islam, data majelis taklim, kadang surat keterangan nikah yang terlambat dimasukkan.

Hidup saya, kalau boleh jujur, berjalan seperti jam tua yang tetap berdetakbpelan, pasti, dan kadang dilupakan. Tapi beberapa bulan lalu, sebuah pesan datang. Teman lama, yang pernah bersama saya di jalanan demonstrasi dan diskusi kampus, mengajak saya bergabung ke dalam kepengurusan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama. ISNU. Sebuah nama yang dulu hanya saya dengar sekilas di ujung obrolan. Saya pikir, apa pentingnya lagi bergabung ke organisasi? Saya ini bukan siapa-siapa. Hanya seorang sarjana dari desa, pegawai biasa, bukan pemikir besar, bukan pula pembicara seminar. Tapi ajakan itu terus berputar di kepala saya, seperti suara kecil yang lama-lama jadi gema. Dan akhirnya saya ikut. 


Saya tak pernah membayangkan, bahwa ruang-ruang ISNU yang kecil, kadang berdebu, kadang tanpa spanduk, akan menjadi tempat paling sunyi namun paling dalam yang pernah saya masuki. Tak ada panggung megah, tak ada pencitraan digital. Yang ada hanya orang-orang biasa—tapi dengan hati yang tak biasa. Mereka datang bukan untuk mencari nama. Mereka datang karena tahu, hidup terlalu berharga jika hanya dipakai untuk mengejar insentif. Di ISNU, saya bertemu kembali dengan wajah-wajah lama: seorang dosen yang mengajar sambil menjaga ayahnya yang stroke, seorang peneliti muda yang lebih sering menyumbang bensin ketimbang bicara, seorang guru pesantren yang menulis makalah pakai kertas bekas karena laptopnya rusak bertahun-tahun lalu. Tak ada yang “teraliki”—tidak bisa diukur, tidak bisa dikejar, dan barangkali, memang tidak bisa dijelaskan. Tapi saya tahu, saya berada di tempat yang benar.

Mereka tidak bicara dengan suara keras. Mereka bicara dengan waktu. Dengan hadir. Dengan terus kembali meski tak pernah disebut dalam laporan. Di ISNU, saya belajar bahwa menjadi sarjana tidak selalu berarti berbicara di forum akademik. Kadang ia berarti membuat jadwal pelatihan di balai desa. Kadang hanya mendampingi anak muda yang ingin lanjut kuliah tapi bingung isi formulir. Saya sempat merasa minder. Saya ini hanya pegawai kecil, hidup di desa, tak punya gelar doktor atau pengalaman luar negeri. Tapi di ISNU, semua itu seperti larut. Tak ada yang tanya siapa kamu. Yang ditanya adalah: apa yang bisa kamu beri? Dan dari situlah saya sadar: ISNU bukan organisasi. Ia lebih mirip jalan sunyi. Jalan di mana ilmu bukan untuk dipamerkan, tapi untuk disedekahkan. Jalan di mana amal tak perlu panggung. Jalan di mana doa tidak dibisikkan ke langit, tapi disisipkan ke kerja.

Saya pernah membaca, “Orang besar tak selalu terdengar. Tapi mereka selalu meninggalkan jejak.” Dan ISNU dipenuhi oleh orang-orang seperti itu. Saya tahu, organisasi ini tidak sempurna. Kadang rapat molor. Kadang notulensi hilang. Kadang hanya lima orang yang datang dari lima puluh yang diundang. Tapi anehnya, semangat itu tetap ada. Karena mereka yang datang, datang bukan untuk hadir, tapi untuk memberi. Seorang teman pernah berkata pada saya di akhir pertemuan, “Kita ini hanya menanam. Mungkin bukan kita yang memetik. Tapi kalau tidak ada yang menanam, siapa yang akan menumbuhkan?” Dan saya terdiam lama sekali setelahnya.

Kini, setiap kali saya membuka buku-buku tua di rak, saya tak lagi membacanya hanya untuk diri sendiri. Saya membacanya dengan niat baru: supaya saya bisa berbagi. Kadang lewat pelatihan sederhana. Kadang lewat ceramah kecil di masjid kampung. Kadang hanya lewat tulisan di grup WhatsApp. Saya percaya, bahwa ilmu, jika tidak dipakai untuk melayani, akan menjadi beban. Dan ISNU memberi saya tempat untuk meletakkan beban itu—dengan ikhlas. Saya juga percaya, bahwa di masa depan, ketika anak-anak kita bertanya apa yang kita lakukan selama hidup, kita tidak harus menjawab dengan CV. Cukup dengan cerita-cerita kecil: bahwa kita pernah hadir di rapat sunyi, pernah menulis modul sederhana, pernah membuat lomba baca puisi Islami di sekolah menengah yang hampir ditutup.

Dan itu cukup. Di ISNU, saya menemukan kembali kepercayaan saya pada makna kecil. Pada pertemuan tanpa tanda tangan. Pada kesepakatan tanpa materai. Pada zikir yang dibisikkan pelan saat menyusun program kerja. Saya tidak tahu apakah tulisan ini akan dibaca. Tapi saya tahu, saya harus menulisnya. Sebagai saksi. Bahwa di sebuah tempat bernama ISNU, di sebuah kabupaten kecil yang tak masuk radar media nasional, ada sekelompok sarjana yang diam-diam sedang berusaha menjaga cahaya.

Cahaya itu tak teraliki, tapi dari cahaya itu, kita bisa menulis ulang arti menjadi manusia.

“Barangkali, mereka yang paling sunyi justru sedang bekerja paling dalam. Bukan untuk dunia. Tapi untuk masa depan yang lebih teduh.”


71 Majelis Taklim di Gambiran Terima SKT, Simbol Tertibnya Penataan Umat

Gambiran (Warta Blambangan) – Sebanyak 71 majelis taklim di Kecamatan Gambiran resmi menerima Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dari Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Penyerahan dilakukan secara simbolis di mushola Kantor Urusan Agama (KUA) Gambiran, menandai langkah penting dalam penataan kelembagaan keagamaan di tingkat akar rumput. 


Acara yang digelar sederhana namun penuh makna tersebut dihadiri oleh para tokoh agama, pengelola majelis taklim, serta para penyuluh agama Islam. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi diwakili oleh Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, Mastur, yang dalam sambutannya menyampaikan pentingnya SKT sebagai instrumen legalitas dan arah dakwah yang lebih tertata.

> “SKT bukanlah sekadar lembaran administrasi. Ia adalah bukti hadirnya negara untuk menguatkan jalan dakwah, untuk menata gerak pengajian agar semakin terarah dan membawa maslahat,” ungkap Mastur.

Mastur juga menekankan bahwa majelis taklim bukan hanya tempat berkumpulnya masyarakat untuk mengaji, tetapi merupakan pilar peradaban Islam yang menanamkan nilai iman, takwa, dan ukhuwah.

Senada dengan itu, Kepala KUA Gambiran, Ghufron Mustofa, menegaskan bahwa proses penyerahan SKT ini merupakan hasil dari kerja keras dan sinergi antara para penyuluh, pengurus majelis taklim, serta jajaran KUA. Ia menambahkan bahwa SKT menjadi penanda jati diri kelembagaan yang sah dan kuat bagi setiap majelis taklim.

> “Kami tidak hanya menyerahkan SKT, tetapi juga menanam benih ketertiban dan kejelasan arah. Dengan SKT, majelis taklim memiliki dasar hukum yang kokoh,” ujarnya.

Ghufron juga memberikan apresiasi khusus kepada Dalilatus Sa’adah, penyuluh agama Islam yang dengan dedikasi tinggi memimpin proses pendataan dan pendampingan majelis taklim hingga tuntas.

Suasana haru menyelimuti acara. Banyak pengurus majelis taklim yang hadir menyambut SKT ini dengan rasa syukur dan harapan baru. Bagi mereka, dokumen ini adalah bentuk pengakuan atas perjuangan dakwah yang telah mereka jalani dengan penuh keikhlasan.

> “Selama ini kami berjalan dengan niat. Kini kami berjalan pula dengan arah yang jelas dan landasan hukum yang sah,” ujar seorang pengurus majelis taklim dari Dusun Lidah.

Mereka berharap, penerbitan SKT akan menjadi awal dari pembinaan yang lebih terstruktur, pelatihan rutin, serta dukungan pemerintah dalam penguatan kapasitas kelembagaan. Majelis taklim diharapkan tidak hanya menjadi ruang pengajian, tetapi juga pusat tumbuhnya nilai kebajikan dan pendidikan Qur’ani.

Penyerahan SKT ini bukanlah akhir dari proses, melainkan awal dari tata kelola keagamaan yang lebih rapi. Dari mushola kecil di Gambiran, cahaya gerakan dakwah yang tertib mulai menyala—membawa harapan besar bagi masa depan umat yang lebih terdidik, bersatu, dan penuh rahmat.


Hoki BCM yang Tertinggal di Taman Blambangan

 *Hoki BCM yang Tertinggal di Taman Blambangan*


Car Free Day di Taman Blambangan sudah berlangsung enam tahun. Tidak panjang sebenarnya, tapi cukup untuk menciptakan satu rutinitas sosial yang halus, nyaris tak terdengar, namun bekerja seperti detak jam dinding yang sudah akrab di telinga: diam-diam ada, diam-diam ditunggu. Setiap Minggu pagi, sejak pukul lima sampai sekitar pukul sepuluh, ada sesuatu yang lebih dari sekadar orang-orang berolahraga. Ada aroma nasi tempong yang baru matang. Ada suara penggorengan mendesis dan tawa anak-anak yang merengek dibelikan mainan dari kayu atau sabun. Ada lapak-lapak yang dihamparkan malam hari dan digulung kembali ketika mentari menjelang siang. Semua ini berlangsung tanpa riuh, tanpa protes, tanpa proposal bantuan. Seperti semesta kecil yang bekerja berdasarkan saling percaya.



Kita sering mendengar kalimat seperti ini di media: “Pemerintah tidak akan memberikan pekerjaan kepadamu. Tapi ketika kamu mulai mendapat penghasilan, maka pemerintah akan datang untuk menagih pajakmu.” Kita bisa menyepakati kalimat itu dengan senyum masam atau geleng kepala. Tapi buat kawan-kawan yang berdagang di BCM (Banyuwangi Creative Market) yang selama ini setia menata lapak di seputaran Taman Blambangan, itu bukan kalimat kiasan. Itu adalah kenyataan. Mereka tak menuntut gaji, tak berharap proyek, apalagi tunjangan. Mereka hanya butuh ruang. Bukan ruang yang mewah. Hanya beberapa meter untuk membentangkan tikar, menata kerajinan tangan, menyusun minuman tradisional, dan menunggu pembeli yang mereka tahu akan datang karena telah menjadi langganan, telah menjadi bagian dari siklus sosial selama enam tahun. Tapi sekarang, ruang kecil itu hendak digeser. Mereka diminta pindah ke jalan Ahmad Yani, Mungkin ini urusan estetika. Mungkin pemerintah menganggap Taman Blambangan sudah terlalu ramai. Atau mungkin pemerintah sedang ingin menunjukkan bahwa mereka sedang menata kota. Bukankah relokasi selalu punya kata pembenaran yang elegan? Penataan. Penertiban. Estetika. Kerapian. Semua terdengar baik. Tapi kita tahu, dalam praktiknya, tidak semua yang rapi itu adil.


Saya percaya pada yang namanya hoki. Sebagian dari kita menyebutnya keberuntungan, sebagian menyebutnya aura rezeki. Tapi bagi para pedagang kecil, hoki adalah bagian dari strategi bertahan hidup. Tempat yang ramai bukan selalu berarti tempat yang menghasilkan. Di Ahmad Yani, lalu lintasnya padat. Orang banyak lalu lalang. Tapi tak semua yang datang berminat belanja. Sementara di Taman Blambangan, para pembeli bukan sekadar lewat. Mereka datang memang untuk membeli. Untuk mampir. Untuk menyapa. Untuk jajan setelah jogging. Ada relasi sosial yang dibangun perlahan dan setia. Ada pedagang yang akhirnya mencoba pindah ke Ahmad Yani. Hasilnya? Banyak yang datang. Tapi tidak banyak yang membeli. Seperti tamu undangan yang datang ke pameran, hanya melihat-lihat, sekfi lalu pulang. Bukan pengunjung. Bukan pembeli. Tidak ada interaksi. Tidak ada "hoki."


Saya selalu berpikir bahwa ruang publik adalah cermin bagaimana kita memperlakukan warganya. Jika sebuah kota tidak menyediakan ruang yang manusiawi bagi warganya untuk bertahan hidup secara layak, maka kota itu bukan sedang ditata, melainkan sedang didekorasi. Dan dekorasi hanya menutupi yang seharusnya dibuka. Kota ini tidak kekurangan ruang. Tapi sering kali ruang-ruang itu disediakan untuk yang besar, yang punya modal, yang berjejaring dengan kekuasaan. Sedangkan yang kecil, yang menunduk pelan, yang hanya ingin menjual minuman kunyit asam dan bros dari kain perca, harus berpindah. Harus menyesuaikan. Harus menelan penjelasan birokrasi yang tak pernah benar-benar mengerti bahwa rezeki tak hanya soal strategi pasar. Tapi juga soal kenyamanan. Soal relasi batin. Soal tempat yang akrab. Saya pernah melihat seorang ibu tua membuka lapaknya pukul setengah lima pagi. Di lapaknya ada keripik singkong, peyek udang, dan kerajinan dari limbah koran. Ia duduk tenang. Senyumnya muncul ketika pembeli datang. Kadang hanya tanya-tanya, kadang benar-benar membeli. Tapi ia tahu, setiap Minggu akan ada saja yang kembali. Yang mencari lagi. Yang menunggu rasa pedas peyek udangnya. Kalau kemudian ia diminta pindah, bukan hanya tempatnya yang hilang. Tapi juga langganannya. Jejak-jejak kecil yang telah ia ukir perlahan. Kota ini mungkin tak akan merasa kehilangan. Tapi ibu itu akan kehilangan. Dan itu bukan sekadar kehilangan penghasilan, tapi kehilangan kehidupan.


Kita tidak sedang berbicara soal menata ulang pasar. Kita sedang bicara soal keberlangsungan. Soal keberanian untuk mengakui bahwa terkadang yang kecil dan bersahaja itu lebih berkontribusi pada wajah kota daripada bangunan megah yang sepi. Kita sedang bicara tentang taman yang bukan hanya tempat selfie atau konser. Tapi tempat di mana kehidupan kecil tumbuh dan bertahan.


Car Free Day bukan hanya tentang bebas kendaraan. Tapi juga tentang ruang hidup. Ruang sosial. Ruang ekonomi. Dan ketika ruang itu dipersempit atau dipindah tanpa mempertimbangkan ekosistem kecil yang telah tumbuh di dalamnya, maka yang kita hasilkan bukanlah penataan, melainkan pengusiran yang halus. Saya kira, para pedagang BCM itu bukan menolak perubahan. Mereka hanya ingin diajak bicara. Diajak mendesain bersama. Diberi ruang untuk menyampaikan rasa. Karena pada akhirnya, sebuah kota bukan dibangun dari beton semata, tapi dari dialog. Dari empati. Dari cara kita mendengar suara-suara kecil yang selama enam tahun telah membantu kota ini berdenyut setiap Minggu pagi. Dan mungkin, sesederhana ini permintaan mereka: biarkan kami tetap di tempat yang sudah kami rawat. Karena di sanalah rezeki kami tinggal. Di sanalah hoki kami menunggu.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger