Pages

Ipuk Fiestiandani Kembali Dilantik Jadi Ketua Mabicab Pramuka Banyuwangi 2025–2030

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani kembali dilantik sebagai Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Mabicab) Gerakan Pramuka Banyuwangi masa bakti 2025–2030. Pelantikan dilakukan oleh Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur, Arum Sabil, di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Senin (7/7/2025). 


Selain Ipuk, sejumlah pejabat daerah juga masuk dalam jajaran Mabicab, di antaranya Dandim 0825 Banyuwangi, Kapolresta Banyuwangi, Danlanal Banyuwangi, Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Kepala Pengadilan Negeri Banyuwangi, dan Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi.

Pada kesempatan yang sama, turut dilantik pula Pengurus Kwartir Cabang Banyuwangi serta Lembaga Pemeriksa Keuangan (LPK) masa bakti 2025–2040.

Ketua Kwarda Jatim Arum Sabil mengapresiasi solidnya kolaborasi para pembina Pramuka di Banyuwangi yang dinilai turut berkontribusi besar dalam kemajuan daerah. Menurutnya, kolaborasi yang baik antara Mabicab dan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci utama perkembangan Pramuka yang berdampak pada kemajuan Banyuwangi.

“Kolaborasi Mabicab di Banyuwangi sangat baik hingga bisa mengantarkan daerah ini berkembang pesat,” ujar Arum.

Arum juga menekankan pentingnya peran strategis Gerakan Pramuka dalam membentuk karakter generasi muda menjelang masa bonus demografi Generasi Emas 2045. Ia menilai Pramuka merupakan jalur pendidikan non-formal yang sangat penting dalam membekali pemuda dengan keterampilan dan pengetahuan yang tidak diperoleh dari bangku sekolah.

“Anak-anak usia 15–25 tahun hari ini adalah calon pemimpin di tahun 2045. Maka mereka perlu disiapkan tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga karakter, kepemimpinan, dan kemandirian. Gerakan Pramuka bisa menjadi wadah itu,” tegasnya.

Sementara itu, Ipuk Fiestiandani sebagai Ketua Mabicab yang baru dilantik, menegaskan komitmennya untuk terus mendorong program-program strategis Gerakan Pramuka di Banyuwangi. Ia menyebutkan sejumlah rencana seperti pelatihan kepemimpinan berbasis teknologi, peningkatan kapasitas kewirausahaan, hingga kegiatan inovasi sosial.


“Kami juga akan memperkuat sinergi antara gugus depan di sekolah dan komunitas dengan berbagai stakeholder daerah, agar lahir pemuda-pemuda yang siap dalam pembangunan nasional di masa depan,” ujar Ipuk.


Gerakan Pramuka Banyuwangi dinilai telah menunjukkan geliat positif dengan berbagai program produktif yang menyentuh langsung masyarakat. Harapannya, peran serta seluruh elemen dalam kepengurusan baru akan makin memperkuat kontribusi Pramuka bagi pembangunan karakter dan kemajuan daerah. (*)

Jasa Raharja Verifikasi Data Korban KMP Tunu Pratama Jaya untuk Penyaluran Santunan

BANYUWANGI (Warta Blambangan) PT Jasa Raharja mulai melakukan verifikasi data korban meninggal dunia dalam insiden tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di perairan Selat Bali. Verifikasi ini menjadi syarat utama sebelum penyaluran santunan kepada ahli waris. 


Plt. Direktur Utama Jasa Raharja, Rubi Handojo, menegaskan bahwa santunan akan diberikan kepada seluruh korban yang memenuhi persyaratan administrasi. Salah satu dokumen penting adalah surat rekomendasi dari pihak berwenang seperti ASDP, pemerintah daerah, atau KSOP, yang menyatakan bahwa korban terdata secara resmi dalam kecelakaan laut tersebut.

“Surat itu harus menerangkan bahwa yang bersangkutan adalah korban meninggal dalam peristiwa tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya,” kata Rubi saat mendampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Minggu (6/7/2025).

Selain surat rekomendasi, pihak Jasa Raharja juga melakukan pencocokan data korban melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) untuk memastikan keabsahan hubungan keluarga yang menjadi dasar penyaluran santunan.

“Jika semua data telah cocok, santunan akan diberikan sebesar Rp50 juta per ahli waris korban meninggal dunia,” tambahnya.

Rubi juga menyampaikan bahwa Jasa Raharja akan menanggung biaya pengobatan korban selamat yang masih menjalani perawatan medis. “Kami menanggung biaya sesuai tagihan dari rumah sakit,” ujarnya.

Sementara itu, proses pencarian korban masih terus berlangsung. Pada hari keempat pencarian, Minggu (6/7/2025), tim SAR kembali menemukan satu jenazah pria dengan ciri-ciri mengenakan kaos oblong biru dan celana pendek cokelat. Tinggi tubuh korban diperkirakan sekitar 170 cm.

Tim SAR belum dapat memastikan apakah jenazah tersebut merupakan korban dari KMP Tunu Pratama Jaya, karena masih menunggu hasil identifikasi dari pihak berwenang.

Berdasarkan data manifest, kapal KMP Tunu Pratama Jaya membawa 65 orang saat tenggelam pada Rabu malam (2/7/2025). Hingga pencarian hari ketiga pada Sabtu (5/7/2025), tercatat 30 orang selamat, 6 meninggal dunia, dan 29 masih dalam pencarian.

(*)

Kebo-Keboan Alasmalang: Ketika Sawah Menjadi Panggung, dan Doa Menjelma Tanduk di Kepala

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Ritual Adat Kebo-Keboan yang digelar di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, kembali menyedot perhatian ribuan mata dan batin, Minggu, 6 Juli 2025. Tradisi yang lekat dengan doa para petani ini digelar tiap bulan Suro, sebagai warisan tak tertulis dari tanah yang tak pernah ingkar musim.

Desa menjadi gemuruh. Teriakan, tabuhan, bau dupa, dan tanah basah menjadi satu dalam peristiwa budaya yang makin matang dalam konsep dan penyajian. Warga dari berbagai dusun, bukan hanya dari Krajan seperti biasanya, kini bersatu sebagai pelaku, menjadikan ritual ini lebih guyup dan penuh semangat kolektif.


“Ini bukan hanya pertunjukan. Ini adalah syukur kami atas rezeki dari langit dan bumi, sekaligus doa agar panen mendatang tak dihantam hama dan bencana,” ujar Abdul Munir, Kepala Desa Alasmalang, sambil menyeka peluh yang menyatu dengan aroma dupa di udara.

Kebo-Keboan adalah laku spiritual yang ditampilkan dengan cara tubuh petani yang dirias menjadi kerbau. Mereka mengenakan tanduk, menggenggam bajak, lalu memainkan ulang seluruh rangkaian bercocok tanam: membajak, menanam, dan mengairi sawah, seolah tanah sedang dibaca ulang dengan bahasa tubuh dan niat.

Di sela ritus itu, muncul sosok Dewi Sri—diperankan oleh seorang perempuan muda berbalut kebaya hijau padi. Ia turun dari panggung bambu, melangkah pelan di antara para ‘kerbau’, membawa beras dan benih. Di tangannya, tumbuh-tumbuhan menjadi persembahan dan harapan. Saat ia mulai menaburkan bibit ke arah para petani, penonton bersorak dan terlibat dalam fragmen interaktif—sebuah pengejaran simbolik terhadap berkah.

“Penampilan tahun ini lebih tertata, lebih menyentuh,” ucap Yulia Saraswati, seorang wisatawan dari Jakarta yang hadir bersama anaknya. “Saya merasa ikut berdoa, ikut merasa menjadi bagian dari cerita.”

Ritual ini bukan hanya memanggil kenangan agraris masa lalu, tapi juga menampar realitas modern yang kerap lupa darimana makanan berasal. Sawah yang menjadi panggung Kebo-Keboan bukanlah properti seni, melainkan tanah sungguhan yang dilalui cangkul sehari-hari.

Pemerintah desa pun menyatakan komitmen kuat mendukung kelestarian tradisi ini. Bagi mereka, Kebo-Keboan bukan sekadar warisan. Ia adalah identitas, akar dari wajah Banyuwangi yang rukun dan spiritual.

“Kami ingin ritual ini tetap hidup. Tetap punya napas. Tetap punya ruang di hati anak-anak muda,” tutup Abdul Munir.

Dan sore itu, ketika mentari tergelincir dan debu kembali mengendap, para pelaku Kebo-Keboan kembali menjadi manusia. Tapi jejak tanduk yang tertinggal di tanah basah—itulah jejak doa yang tak pernah lenyap.

CFD di Blambangan ; Secangkir Kopi Pahit, Seutas Nasib Para Pedagang

 CFD di Blambangan ; Secangkir Kopi Pahit, Seutas Nasib Para Pedagang

Kita selalu tiba sebelum matahari tegak betul. Asap tipis dari gerobak satai telah bermesraan dengan embun yang belum selesai gugur; keduanya membentuk kabut wangi, meresapi lapisan pertama udara di Taman Blambangan. Inilah car free day—sebuah istilah yang terdengar gagah, padahal separuh aspal masih ditingkahi knalpot yang bersikeras lewat. Barangkali kebebasan di kota ini memang cuma separuh harga: cukup untuk selfie, belum sampai menebus sunyi. 


Di pinggir trotoar aku duduk bersama Toekang Tjerita, budayawan yang, seperti namanya, selalu punya cerita cadangan. Kami memeluk cangkir kopi hitam seharga sepuluh ribu rupiah: kopi tanpa gula, tanpa belas kasihan. Katanya, pahit adalah cara kafein berdoa lebih khusyuk. Kami percaya saja, sebab desis air mendidih di atas kompor portabel terdengar seperti ayat pendek yang baru dihafal, singkat, panas, menegur.

Di radius seratus meter, tubuh-tubuh bergerak dalam irama masing-masing. Ada ayah yang berlari pelan sambil menuntun balita bersepatu lampu sorot merah birunya berkedip lebih rajin daripada lampu lalu lintas. Ada pasangan lansia yang saling menggandeng, langkah mereka lambat tetapi saling menegakkan. Ada pula remaja yang berjubel di depan panggung kecil, menjeritkan lirik patah hati semerdu mungkin agar rasa sakit mereka sah di hadapan orang banyak. CFD, rupanya, adalah catwalk segala jenis hidup: setiap orang berlenggok dengan kuota oksigen dan harapan setara.

Lalu, diam-diam, kelegaan pagi itu retak oleh bisik-bisik pedagang. Mereka menyebut satu kata yang gesekannya lebih tajam daripada sendok di mulut piring: relokasi. Seperti rumor yang kehilangan tuan, isu itu beterbangan di sela tenda kanopi, menggelayut di sela kabel listrik, lalu jatuh di pangkuan siapa saja yang sedang menunggu kembalian.

Seorang ibu penjual bubur mengatakan, “Kami ini sudah punya brand alamat di kepala pembeli. Pindah satu blok saja, rezeki bisa nyasar.” Ia tidak sedang berpantun; ia sedang membaca peta paling rumit bernama naluri. Seorang penjual susu menimpali tentang hoki, sesuatu yang tak bisa dikaver BPJS, tapi konon ampuh menagih cicilan sekolah anak. Jauh sebelum teori pemasaran modern, orang Jawa menaruh percaya pada titik-titik koordinat gaib: di sudut mana angin berhembus, di tikungan mana dompet mudah terbuka.

Aku menyesap kopi yang mulai suam-suam. Pahitnya menyusut, menyisakan getir yang lebih jujur. Mungkin begitulah rasa sebuah ruang ketika diusir dari kenangan. Pemerintah, kata Toekang Tjerita, sedang menata ulang. Katanya UMKM harus naik kelas; kelas mana yang dimaksud, belum jelas. Kami terdiam sebentar, membayangkan tenda-tenda baru, lebih rapi, lebih steril, tetapi apa gunanya rapi jika pembeli belum sempat menghafal bau ikan bakar atau mendengar dengung gitar tua di pojok?

Di panggung kecil, penyanyi jalanan menutup lagu dengan falseto nyaris patah. Tepuk tangan terdengar seadanya, tapi sepasang turis asing mungkin dari mana saja mengacungkan ibu jari sambil menaruh koin. Kota ini selalu bersolek sebagai destinasi, seolah yang datang pasti tersesat dengan senang hati. Namun bukankah warga asli justru sering hilang di halaman rumah sendiri, tersandung papan pengumuman “segera direvitalisasi”?

Aku teringat kalimat seorang filsuf yang dibisiki kafein: “Manusia tak pernah benar-benar pindah; yang berpindah hanya perabot harapannya.” Pedagang-pedagang itu punya harapan sederhana: tinggal di tempat yang telah menumbuhkan bau minyak goreng mereka sendiri. Bau itulah merek sesungguhnya aroma yang ditagih pelanggan setiap Minggu.

Pukul sembilan, matahari mulai mengunyah bayang-bayang. Jalan searah di sisi timur belum juga ditutup sepenuhnya; deru motor berbaur dengan dengus nafasku setelah berlari satu putaran setengah. “Kau mau tambah putaran?” tanya Toekang Tjerita. Aku geleng. Kadang berlari terlalu jauh justru menjauhkan kita dari alasan berangkat.

Sekali lagi, aku memiringkan cangkir: tetes terakhir jatuh seperti gong kecil menandai akhir pertunjukan. Pahitnya menetap di lidah, tapi hati terasa ringan. Mungkin karena aku tahu pahit bukan musuh. Ia hanya rasa yang belum sempat kita beri jeda. Seperti ketakutan pedagang pahit, ya. Namun jika kita bersedia duduk bersama, mengunyah pelan-pelan, pahit bisa menjadi navigasi: menunjukkan letak luka, mengajari cara sehat menimbang manis.

Kelak pemerintah akan memutuskan sesuatu; semoga tak lupa bahwa pasar bukan sekadar barisan tenda, melainkan koordinat ingatan ribuan perut. Sementara itu, aku akan tetap pulang Minggu depan, mengulang ritual: jalan bebas kendaraan yang separuh, kabut satai, lagu patah hati, dan secangkir kopi hitam seharga sepuluh ribu. Jika harus pindah ke seberang jalan pun, aku akan mencarinya, sebab nikmat tidak selalu berwujud manis. Nikmat kadang berpakaian pahit, berjalan terburu, tapi menunggu kita di bangku plastik paling ujung.

Wapres Gibran Kunjungi Posko Korban KMP Tunu Pratama Jaya, Evaluasi Penanganan dan Proses Pencarian

BANYUWANGI (Warta Blambangan l);Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, melaksanakan kunjungan lapangan ke Posko Terpadu Penanganan Korban tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, pada Minggu pagi (6/7/2025). Kunjungan ini bertujuan untuk memperoleh pemutakhiran informasi mengenai proses pencarian korban serta memastikan pemberian dukungan psikososial dan administratif kepada keluarga korban.

Setibanya di Pelabuhan Ketapang pukul 07.15 WIB menggunakan helikopter dari Bali, Wakil Presiden disambut oleh sejumlah pejabat, termasuk Deputi Operasional dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), R. Eko Suyatno, yang memberikan penjelasan teknis mengenai progres pencarian korban hingga hari keempat pasca kejadian (H+4).

Berdasarkan laporan Basarnas, objek bawah laut yang diduga sebagai bangkai kapal telah terdeteksi di Selat Bali, dengan posisi bergeser sejauh 1–2 mil laut dari lokasi terakhir kapal dilaporkan hilang kontak. Proses pencarian terus dilakukan oleh tim Search and Rescue (SAR) gabungan dengan pendekatan berbasis data sonar dan pemetaan arus laut.

Turut hadir mendampingi Wapres dalam kegiatan tersebut antara lain Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, dan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. Pertemuan teknis berlangsung di lobi kantor ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang sebagai pusat koordinasi sementara penanganan pascakejadian.

Setelah menerima pemaparan situasi terkini, Wakil Presiden melakukan dialog langsung dengan beberapa keluarga korban meninggal serta menyerahkan santunan secara simbolis. Wapres kemudian melanjutkan kunjungan ke lantai dua ruang tunggu pelabuhan, yang difungsikan sebagai Posko Terpadu bagi keluarga korban yang hingga saat ini masih menanti informasi keberadaan anggota keluarganya.

Hingga hari keempat setelah insiden, berdasarkan data manifes resmi, sebanyak 29 individu masih dinyatakan hilang, sementara Basarnas telah menerima total 39 laporan orang hilang dari pihak keluarga. Ketidaksesuaian antara jumlah dalam manifes dan laporan masyarakat sedang dalam proses verifikasi administrasi dan penyelidikan lebih lanjut. 


Kegiatan kunjungan diakhiri dengan peninjauan singkat ke ruang Monitoring Room, tempat pemantauan hasil pencarian real-time yang terhubung dengan sistem pelacakan maritim. Usai meninjau fasilitas tersebut, Wapres Gibran Rakabuming Raka beserta rombongan melanjutkan agenda kenegaraan lainnya dan meninggalkan kawasan pelabuhan.


Kabar Mesra Dari Jeddah

 *Kabar Mesra dari Jeddah*

Pagi itu saya menerima kiriman video dari Jeddah. Video itu bukan kiriman acak. Itu dari seseorang yang dulu pernah sebentar singgah di hati dan menjadi pikiran. Ia tidak pernah benar-benar tinggal, tapi juga tidak pernah benar-benar pergi. Dan video itu, seperti dirinya, datang tanpa aba-aba. 

Di dalam video itu tak ada yang meledak atau terbakar. Tak ada gema takbir yang menggetarkan dada, tak ada tenda putih Arafah, tak ada Ka’bah. Hanya rekaman pendek: beberapa jamaah haji duduk di meja makan, bercakap pelan, terdengar sesekali gelak tertahan. Selebihnya hening. Tapi kalau kau tahu mereka mestinya sudah pulang dua hari lalu, video itu jadi semacam fragmen takdir yang lupa dikunci, yang lebih menggregetkan adalah dia juga mengirimkan suasana hotel yang dilengkapi kolam renang, kamar mewah yang ditempati oleh hanya dua orang. 


Penerbangan mereka tertunda. Dua hari. Dari 24 ke 26 Juni. Saya tahu karena seorang teman dari Kementerian Agama mengirimkan kabar dalam format paling resmi yang bisa dibayangkan—tanpa lampiran, tanpa salam, tanpa basa-basi:

> “SUB43/SV5302/24jun jam 03:50-21:10 berubah menjadi SV9302/26jun jam 03:50-21.10…”

Kalimat itu seperti sepotong pengumuman di papan pengumuman kantor RW: datar, pasti, tak bisa diganggu gugat.

Tapi kemudian muncul balasan. Kalimat yang entah kenapa terasa sangat dalam:

> “Selama penundaan ditanggung maskapai, jadi kita nikmati saja, semoga takdir terbaik dari Allah SWT.”

Kalimat itu terdengar seperti ucapan dari seseorang yang hidupnya sudah selesai marah, sudah selesai menuntut, dan sekarang tinggal duduk tenang sambil menyeruput teh panas. Saya mendengarnya seperti mendengar nasihat seorang guru tua yang bicara dengan suara parau, pelan-pelan: Tunggulah, kadang yang kita sebut penundaan adalah bonus dari langit.

Saya sempat berpikir: bagaimana jika saya jadi berangkat bersama mereka? Tadinya teman saya itu dan suaminya ingin berangkat bareng. Saya menunda, demi bisa berangkat bersama orang tua. Saya membayangkan andai saya ikut rombongan itu—mungkin saya akan menyaksikan sendiri kemesraan mereka, dan mungkin saya tidak tahu bagaimana harus berdamai dengan perasaan saya sendiri.

Jika Anda belum pernah berhaji, atau belum melihat orang tua Anda melakukannya, Anda mungkin membayangkan segalanya serba indah dan wangi kasturi. Tapi di balik itu, ada kelelahan yang panjang, dan nasi kotak yang datang tiga kali sehari. Satu menu untuk semua. Rasanya tidak buruk, tapi juga tidak cukup baik untuk dikenang. Maka, ketika pagi itu mereka turun dari kamar dan menemukan prasmanan hotel bintang lima—roti sobek lembut, buah potong, omelet dalam penghangat stainless—itu bukan sekadar makan. Itu seperti pulang ke rumah orang kaya setelah seminggu tidur di gubuk. Teman saya menuliskannya dengan polos:

> “Kita jamaah haji sudah 40 hari makan nasi kotak, tau-tau tadi pagi sarapan prasmanan standar hotel bintang 5. Susah sekali menceritakan kondisinya.”

Saya bayangkan seseorang duduk di sana. Mungkin dia mengambil dua potong semangka, menuang teh ke cangkir porselen, lalu diam agak lama. Ia tahu, ini bukan karena dibayar, tapi karena diberi. Takdir kadang seperti itu—mampir, memberi, lalu pergi.

Namun seberapa pun lezat omelet pagi itu, tetap tak cukup untuk menambal rindu yang perlahan-lahan meletup. Dan seseorang menuliskan:

> “Bagaimanapun mewahnya pelayanan, sebenarnya hati kami sudah di tanah air.”

Kalimat itu mestinya dijadikan puisi. Atau diletakkan di stiker koper haji. Atau digantung di langit-langit bandara: Hati kami sudah di tanah air.

Karena memang begitulah cara rindu bekerja. Ia tidak bisa dipuaskan oleh selimut tebal dan bantal empuk. Tidak oleh AC yang dinginnya sopan. Tidak oleh hotel mewah dan hidangan gratis. Rindu hanya bisa dibayar oleh rumah. Oleh suara sandal istri di dapur, suara anak-anak mengaji di musholla dekat rumah, atau senyum tetangga yang tak banyak berubah sejak 20 tahun lalu.

Saya rasa cerita ini cocok dibaca oleh orang-orang yang tak sabaran—yang marah jika makan siang telat sepuluh menit, yang kesal jika sinyal WiFi putus sejenak, yang menyumpah setiap kali pesawat delay satu jam. Mereka mungkin bisa belajar sedikit ketenangan dari para haji yang tersenyum saat tahu harus tinggal dua malam lagi. Mereka menyebutnya: Bonus dari Allah.

Dan saya percaya, tak semua orang mampu menikmati penundaan. Butuh usia tertentu. Butuh hati yang sudah cukup lama direndam doa. Butuh latihan untuk percaya bahwa Tuhan sedang menyusun sesuatu yang lebih baik dari rencana kita.

Teman-teman saya, para petugas kloter yang tahun lalu sempat menjadi jamaah, membisikkan info lain. Sebenarnya penundaan itu soal teknis biasa. Tapi karena berbarengan dengan situasi geopolitik Timur Tengah yang diguncang Iran dan Israel, semuanya jadi serba waspada. Ada yang bilang situasi jadi “serba dah dig dug.” Itu bukan frasa resmi. Tapi sangat menggambarkan rasa.

Dan saya kembali memutar video itu. Saya tidak tahu siapa yang merekam. Tapi saya tahu siapa yang mengirimkannya. Seorang perempuan yang pernah sebentar singgah di hati dan sampai sekarang tak pernah benar-benar pergi. Barangkali ia hanya ingin bilang, "Aku baik-baik saja." Tapi video itu seperti berkata lebih dari itu: bahwa takdir, dalam banyak hal, adalah penundaan yang paling tenang di dunia.

Dan saya, yang tak ikut berhaji, justru merasa seperti sedang dipanggil pulang.


Banyuwangii, 24-06-2025

Perjalanan Yang Tidak Melewatkan Miqot

Cerita ini datang dari seseorang yang tak sengaja menjadi saksi atas kebingungan manusia. Ia tidak sedang mengisahkan perang atau cinta yang ditolak, melainkan tentang seseorang yang ingin sampai kepada Tuhan tetapi tersesat di tengah prosedur, di antara nama-nama Syarikah dan kode rombongan.

Ia adalah pembimbing ibadah haji tahun ini. Tahun sebelumnya, istrinya yang bertugas. Tapi tahun ini, ia yang berangkat. Ia membawa nama negara, nama agama, dan nama-nama kecil dalam rombongan—nama-nama yang biasanya tak tercatat dalam sejarah, tapi sangat penting dalam kehidupan satu sama lain.v


Dia bertutur seperti orang yang tidak sedang ingin menyalahkan siapa-siapa, hanya menyampaikan keganjilan yang membuatnya merenung cukup lama. Tentang jamaah yang naik bis dari Madinah menuju Makkah, namun tak tahu bahwa mereka telah melewati miqat. Tentang pakaian ihram yang sudah dikenakan, tapi niat yang belum diucapkan. Tentang Masjid Bir Ali yang dikira Masjid Quba, dan tentang bis yang berhenti tanpa ada yang turun, karena semua mengira tempat itu bukan tujuan mereka.

"Padahal dari Madinah," katanya pelan, "sudah saya sampaikan bahwa kita akan miqat di Bir Ali."

Tapi ternyata antara kata yang diucapkan dan pemahaman yang sampai ada jarak yang tak bisa dijembatani dengan satu-dua kalimat dalam keramaian manasik. Apalagi jika kemudian realitas di lapangan berbeda dari imajinasi jamaah. Mereka pikir akan ada pembimbing di sana. Akan dikumpulkan dulu, diberi aba-aba, salat sunnah dua rakaat, lalu bersama-sama niat ihram.

Tapi itu tidak terjadi. Bis mereka hanya berhenti sebentar. Tidak ada yang turun. Tidak ada aba-aba. Tidak ada siapa pun yang memberi tahu bahwa inilah tempatnya, Masjid Bir Ali, bahwa inilah saatnya memulai ritual suci. Lalu bis melaju lagi. Waktu pun berlalu, hingga hari kedua di Makkah, ketika jamaah itu akhirnya sadar bahwa mereka belum niat. Mereka masih dalam pakaian ihram, tapi belum menjadi orang yang berihram. Mereka masih dalam kebingungan.

Mereka bertanya, “Bolehkah kami kembali ke Bir Ali untuk mengambil miqat?”

Temanku hanya menunduk. “Kalau sekarang,” katanya, “bukan miqat lagi namanya. Itu hanya nostalgia. Hukum sudah bicara lain.”

Seseorang yang melewati miqat tanpa berniat ihram telah meninggalkan salah satu kewajiban umrah. Dan jika itu terjadi, maka gantinya adalah dam. Denda. Menyembelih satu ekor kambing di Makkah dan memberikannya kepada fakir miskin. Sebuah tindakan simbolik, untuk menebus kekhilafan. Tapi dalam kasus ini, kekhilafan itu bukan datang dari keengganan, melainkan dari ketidaktahuan, dari kekacauan sistem, dari bahasa yang tak bertemu antara sopir bis dan para penumpangnya. Dan, seperti biasa, kambinglah yang jadi korban.

Kisah ini, bagi saya, lebih dari sekadar laporan teknis perjalanan haji. Ini adalah pengingat bahwa kadang kita terlalu percaya pada skema, pada sistem, pada asumsi bahwa segala sesuatu akan berjalan sebagaimana yang kita bayangkan. Kita lupa bahwa sebagian besar hidup justru terjadi dalam kekacauan kecil yang tidak kita siapkan.

Di sinilah letak pentingnya pendidikan sebelum ibadah. Pendidikan yang bukan hanya dalam bentuk ceramah di aula, tapi pelatihan nyata yang menyiapkan jamaah untuk berjalan sendiri. Karena memang pada akhirnya, setiap orang akan berjalan sendiri. Tidak semua akan mendapat kemewahan dikawal pembimbing dalam bis yang sama, atau diberi tahu kapan saatnya membaca niat. Kadang, satu-satunya pembimbing kita hanyalah pengetahuan yang kita simpan di dalam hati.

Tapi sayangnya, banyak dari kita yang berangkat dengan bekal keyakinan bahwa “akan ada yang mengurus.” Kita datang sebagai anak-anak manja yang berharap ada orang tua spiritual yang akan membimbing kita dari miqat hingga mabit. Padahal, dalam banyak situasi, satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan kita adalah diri kita sendiri.

Dan di sinilah seharusnya peran negara hadir—bukan hanya sebagai pengatur akomodasi dan makanan, tapi sebagai pemantik kesadaran spiritual yang mandiri. Sebab, sebanyak apa pun pembimbing disiapkan, selama mereka tak berada dalam satu kendaraan, satu ruang, dan satu waktu yang sama dengan jamaah, maka peran mereka akan kehilangan maknanya.

Teman saya bilang, tahun depan ini harus dievaluasi. Bahwa keberagaman Syarikah (perusahaan penyelenggara layanan) membuat segalanya jadi lebih rumit. Bahwa pembimbing tidak bisa lagi menemani jamaah secara langsung karena setiap rombongan dipecah, dibagi ke bis yang berbeda, sopir yang berbeda, dan SOP yang entah siapa yang pahami.

Maka, harapannya adalah agar jamaah dididik menjadi jamaah yang mandiri. Yang tidak hanya tahu rukun haji, tapi tahu bagaimana membacanya di tengah kekacauan sistem. Yang tidak hanya hafal syarat wajib, tapi tahu kapan harus bertanya dan kepada siapa. Yang tidak hanya paham teori niat, tapi tahu kapan saatnya mengucap sebelum segalanya terlambat.

Karena haji, pada akhirnya, bukan hanya tentang berangkat dan pulang. Tapi tentang menemukan jalan sendiri menuju Allah, bahkan ketika tak ada yang menuntun, bahkan ketika semua penunjuk jalan mendadak hilang. Karena haji, seperti hidup, adalah perjalanan yang dalam banyak hal kita jalani seorang diri—dengan pakaian ihram, dengan keraguan, dan dengan tekad untuk tidak menyerah meskipun kadang tak tahu ke mana harus turun dari bis yang melaju terlalu cepat. 

Dan dalam sunyi miqat yang tak sempat disentuh, kita belajar: bahwa tidak semua perjalanan bisa dituntaskan dengan sempurna, tapi semua perjalanan selalu bisa ditafsirkan kembali. Dalam tafsir itulah, mungkin, Tuhan menyisipkan pengampun.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger