Pages

Festival Padhang Ulanan: Strategi Pemerintah Daerah Banyuwangi dalam Pelestarian Seni Budaya Melalui Partisipasi Pelajar

BANYUWANGI (Warta Blambangan) – Pelestarian budaya lokal tidak semata menjadi aspek simbolik dalam pembangunan daerah, namun merupakan bagian integral dari upaya mempertahankan identitas kolektif dan memperkuat kohesi sosial masyarakat. Dalam konteks ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menunjukkan komitmennya terhadap keberlanjutan warisan budaya melalui program Festival Padhang Ulanan, sebuah kegiatan seni yang secara rutin melibatkan ribuan peserta didik dari jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.b


Diselenggarakan setiap bulan secara bergilir di seluruh kecamatan, Festival Padhang Ulanan menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus instrumen edukatif yang memperkenalkan kembali berbagai bentuk kesenian khas Banyuwangi kepada generasi muda. Kegiatan ini bukan hanya menempatkan pelajar sebagai penampil, tetapi juga sebagai subjek aktif dalam reproduksi budaya lokal.

“Festival ini kami gelar sebagai bentuk komitmen dalam melestarikan kesenian dan budaya daerah. Anak-anak muda kami libatkan, agar mereka mempelajari dan mencintai seni budaya daerah,” ujar Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, pada Minggu (18/5/2025).

Pada pelaksanaan yang berlangsung di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Sabtu (17/5/2025), tercatat sekitar 300 pelajar tampil dalam beragam pertunjukan seni. Repertoar yang ditampilkan meliputi tari tradisional Gandrung Marsan dan Niskala Seblang, pertunjukan wayang kulit, sandiwara rakyat, syair tradisional Osing, serta pembacaan naskah klasik dalam tradisi Mocoan Pacul Goang yang mengangkat teks Lontar Yusuf disertai dengan fragmen komedi bernuansa edukatif.

Model pendekatan ini menunjukkan adanya integrasi antara pendekatan pelestarian budaya dengan strategi pembelajaran kontekstual. Partisipasi aktif pelajar tidak hanya menjadi sarana regenerasi pelaku seni, tetapi juga berkontribusi terhadap penguatan jati diri budaya serta pengembangan karakter melalui internalisasi nilai-nilai lokal.

Bupati Ipuk menambahkan bahwa Festival Padhang Ulanan akan terus digelar secara berkala hingga akhir tahun dengan tema yang disesuaikan pada kearifan lokal masing-masing kecamatan. Hal ini mencerminkan upaya dekonsentrasi kegiatan budaya agar menjangkau seluruh wilayah dan lapisan masyarakat.

Harapan akan lahirnya generasi baru pelaku seni menjadi salah satu tujuan strategis kegiatan ini. “Dengan melibatkan ribuan siswa dalam kegiatan seni, kami berharap muncul talenta-talenta baru yang akan melanjutkan dan mengembangkan kesenian Banyuwangi,” imbuh Ipuk.

Respons peserta dan masyarakat menunjukkan antusiasme yang tinggi. Siva Nadia Putri (11), salah satu penampil tari tradisional, mengungkapkan kebahagiaannya dapat tampil di panggung festival. “Senang sekali diberi panggung bagus untuk bisa tampil di hadapan orang-orang. Hobi saya memang menari, semoga kelak besar tetap bisa menekuni seni tari,” ujarnya.

Kegiatan ini juga memiliki nilai tambah dalam ranah psikososial, antara lain melalui peningkatan kepercayaan diri anak dan penguatan peran keluarga dalam mendukung bakat anak. “Melihat bakat anak saya tersalurkan ini bikin kami bangga. Ini juga ajang menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak,” ungkap Jumenah, salah satu orang tua siswa.

Secara keseluruhan, Festival Padhang Ulanan menjadi bagian dari ekosistem kebudayaan Banyuwangi yang terus berkembang. Pemerintah daerah secara konsisten menggelar berbagai kegiatan kebudayaan lainnya, seperti Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), Gandrung Sewu, Festival Band Pelajar, dan berbagai ajang seni lainnya, yang seluruhnya diarahkan untuk membangun keberlanjutan budaya berbasis partisipasi publik dan regenerasi pelaku.

Dengan demikian, Festival Padhang Ulanan bukan sekadar ajang pertunjukan, melainkan sebuah model kebijakan kultural yang mengintegrasikan edukasi, pelestarian, dan pembangunan karakter generasi muda dalam bingkai budaya lokal. (*)

Dispertan Banyuwangi Pastikan Hewan Kurban Sehat, Pemeriksaan Serentak Digelar di Semua Kecamatan

BANYUWANGI, (Warta Blambangan) — Menjelang Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah, Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Banyuwangi menggencarkan pemeriksaan kesehatan hewan kurban di lapak-lapak pedagang musiman. Pemeriksaan dilakukan serentak di seluruh kecamatan, termasuk di wilayah Kota Banyuwangi dan Kecamatan Giri, Rabu (28/5/2025). 


Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Ilham Juanda, menyampaikan bahwa pemeriksaan ini bertujuan memastikan seluruh hewan kurban yang diperjualbelikan dalam kondisi sehat dan layak potong.

“Hari ini pemeriksaan dilakukan serempak se-Kabupaten Banyuwangi. Kami fokuskan pada pedagang musiman yang menjual hewan kurban di titik-titik strategis,” ujar Ilham.

Pemeriksaan dilakukan oleh tim dari Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner. Pemeriksaan bersifat antemortem atau dilakukan sebelum pemotongan hewan. Kepala bidang tersebut, drh Nanang Sugiharto, menjelaskan bahwa langkah ini untuk memastikan hewan tidak terinfeksi penyakit yang dapat membahayakan masyarakat atau ternak lain.

“Dengan pemeriksaan ini, masyarakat bisa merasa tenang. Hewan yang mereka beli sehat dan sesuai syariat,” kata Nanang.

Di lapak milik M Naseh di Jalan Kepiting, Kelurahan Sobo, misalnya, tim menemukan 70 ekor kambing dan 20 ekor domba dalam kondisi sehat. Tak ditemukan gejala penyakit menular, seperti demam, lesu, atau luka di mulut dan kuku.

Selain pemeriksaan fisik, Dispertan juga menganjurkan pedagang menjaga kebersihan kandang. Petugas memberikan disinfektan dan mengimbau penyemprotan kandang secara berkala untuk mencegah penyebaran penyakit, termasuk Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang masih menjadi perhatian.

“Penyemprotan ini juga agar lingkungan sekitar tidak terganggu bau tak sedap. Apalagi kandang-kandang ini berada di sekitar permukiman,” tambah Nanang.

Ia memastikan, stok hewan kurban di Banyuwangi cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Berdasarkan data Dispertan, jumlah sapi kurban mengalami surplus sekitar 1.200 ekor. Untuk domba, terdapat kelebihan antara 2.000 hingga 5.000 ekor dibandingkan kebutuhan pada Idul Adha tahun sebelumnya.

Dispertan akan terus melakukan pemantauan hingga hari tasyrik terakhir untuk memastikan distribusi dan kesehatan hewan tetap terjaga. “Kami imbau masyarakat membeli hewan kurban dari pedagang yang lapaknya sudah diperiksa oleh petugas,” kata Nanang.

Dandim 0825 Terima Audiensi GM FKPPI, Bahas Sinergi Kebangsaan dan Perayaan Hari Lahir Pancasila 2025

 


BANYUWANGI (Warta Blambangan) – Komandan Kodim (Dandim) 0825/Banyuwangi, Letkol Arh Joko Sukoyo, S.Sos., M.Han., menerima audiensi jajaran pengurus GM FKPPI PC-1325 Banyuwangi, pada Kamis (29/5/2025) siang. Pertemuan strategis yang berlangsung di Join Selangkung Makodim 0825 ini, menjadi ajang konsolidasi lintas elemen dalam rangka menyambut Hari Lahir Pancasila 2025 dan memperkuat peran generasi muda melalui pendekatan sosial, budaya, dan intelektual.


Dengan mengusung tema “Pancasila dalam Tindakan: Semangat Gotong Royong GM FKPPI Membangun Negeri”, GM FKPPI menyiapkan rangkaian kegiatan selama empat hari, dari 29 Mei hingga 1 Juni, mulai dari lomba seni dan pidato kebangsaan, hingga diskusi publik dan konser kolaboratif lintas iman.

“Ini bukan sekadar seremoni, tapi perwujudan nilai Pancasila dalam kehidupan sosial yang inklusif dan relevan dengan zaman,” tegas Ketua GM FKPPI Banyuwangi, KH. Ir. Achmad Wahyudi, S.H., M.H.

Dalam audiensi tersebut, Dandim 0825/Banyuwangi Letkol Arh Joko Sukoyo, menyoroti pentingnya inovasi dan kolaborasi lintas sektor. Ia mencontohkan kemajuan sektor pertanian di Banyuwangi yang kini mampu panen tiga hingga empat kali dalam setahun berkat bibit unggul, air yang stabil, dan teknologi modern.

“Satu hektare sawah kini bisa dipanen hanya dalam satu jam. Ini bukti kemajuan luar biasa. Pertanian kita sudah jauh melesat,” ungkap Dandim.

Dandim juga menyambut baik pendekatan GM FKPPI yang tidak hanya menonjolkan disiplin dan militansi, tetapi juga semangat pluralisme. “TNI kita lengkap di Banyuwangi, dari TNI AD, TNI AL, dan TNI AU yang jarang dimiliki kabupaten lain. Tapi kekuatan terbesar adalah bila seluruh elemen sipil dan militer berjalan bersama,” ujarnya.

Dalam sesi dialog yang berlangsung penuh keakraban dan substansi ini, Ketua GM FKPPI menegaskan arah baru organisasi yang kini memasuki fase ketiga, yakni ekspansi budaya dan akademik. 

“Doreng kami hari ini bukan simbol baris-berbaris, melainkan simbol kebhinekaan. Struktur pengurus GM FKPPI Banyuwangi pun mencerminkan hal tersebut: Dewan Penasehat berasal dari kalangan pendeta, Sekretaris beragama Katolik, dan Ketua adalah seorang kyai. Ini menjadi preseden penting dalam model kepemimpinan inklusif berbasis nilai-nilai Pancasila,” jelas Ir Achmad Wahyudi.

Acara puncak peringatan Hari Lahir Pancasila akan ditutup dengan konser kolaboratif Suara Emas Banyuwangi, menampilkan 20 keyboardis dan penyanyi lintas agama. “Kami ingin menyampaikan pesan, bahwa seni dan nasionalisme bisa berjalan beriringan dalam harmoni,” imbuhnya.

Menanggapi isu nasional seperti revisi UU TNI, Dandim menegaskan pentingnya ruang dialog terbuka. “Mahasiswa itu teoritisi, bukan praktisi. Maka harus ada keseimbangan dalam memahami isu. TNI hadir untuk mendampingi, bukan membenturkan. Hanya lewat dialog kita bisa menjaga keutuhan bangsa,” tuturnya.

Audiensi ini juga dihadiri jajaran pengurus GM FKPPI Banyuwangi, antara lain Kries Febriyanto (Waka Bidang Orta), Eko Herwanto (Waka Bidang Senbud), Candra Yulianto (Waka Bidang Pengmas), Ir. Oktavius Bali Suki (Waka Bidang Hubla Pemormas), Ruslan Abdul Gani (Biro Publikasi dan Dokumentasi), dan Fatah Hidayat, S.P., S.Sos., M.Si. selaku Ketua Panitia.

Mengakhiri pertemuan, Ir Achmad Wahyudi, menegaskan bahwa GM FKPPI siap menjadi wadah lintas generasi yang memadukan spirit nasionalisme, kearifan lokal, dan keberagaman dalam satu gerakan yang utuh.

“Tak banyak organisasi yang bisa menyatukan ulama, seniman, santri, mahasiswa, hingga TNI-Polri dalam satu forum. Kami ingin menjadi jangkar kebangsaan di tengah ombak zaman,” pungkasnya.


Audiensi ditutup dengan komitmen bersama antara Kodim 0825 dan GM FKPPI Banyuwangi untuk terus memperkuat peran strategis generasi muda dalam merawat nilai-nilai Pancasila, melalui pendekatan yang humanis, kultural, dan solutif.


Dandim menyatakan kesediaannya untuk menghadiri langsung dua agenda utama, yakni Diskusi Publik dan Inagurasi Malam Puncak Peringatan Hari Lahir Pancasila, sebagai bentuk dukungan nyata terhadap gerakan kolaboratif yang digagas GM FKPPI PC-1325 Banyuwangi. 

(sumber: Biro Publikasi dan Dokumentasi GM FKPPI 1325 Banyuwangi)

Dunia Obah, Kata Bergelombang: Malam Sastra di Banyuwangi Bersama Tengsoe Tjahjono

Banyuwangi, ( Warta Blambangan) Kamis malam (29/5/25) — Angin berembus pelan di palinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi. Bulan separuh wajahnya menengadah, menyaksikan kata-kata menari di udara. Dunia itu obah, dunia itu berubah. Seperti air yang tak mau diam, sastra pun mengalir, menggulung logika dan rasa dalam satu gelas wacana.

Malam itu, Dewan Kesenian Blambangan (DKB) memanggil para pencinta kata dan perenung makna. Di antara mereka, hadir sosok yang telah menakik kata menjadi senjata pemahaman—Dr. Tengsoe Tjahjono, sastrawan dan akademisi dari Universitas Brawijaya. Ia tak datang sebagai guru, melainkan penyala api kecil di tengah semesta yang gelap oleh repetisi. 

Didampingi oleh Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, diskusi ini bukan sekadar ajang bertukar pikiran. Ia adalah perjamuan batin, tempat kenyataan dirajam oleh pertanyaan dan keindahan dibalut kesadaran. Tengsoe membuka perbincangan dengan metafora yang menghentak, “Di tangan ilmuwan, A menjadi A. Tapi di tangan penyair, A bisa menjadi A plus.”

Dan malam pun mulai menggigil oleh kehangatan makna.

Tak ada yang terlalu baku dalam diskusi ini. Kalimat-kalimat lahir seperti kabut di pagi hari—tak perlu padat, asal menyentuh. Tengsoe melemparkan sebuah renungan yang membuat banyak kepala mengangguk dalam diam. Menurutnya, penyair bukan tukang catat, tapi pemahat jiwa. “Tugas penyair bukan menduplikasi kenyataan, tapi memberi napas baru pada realita yang biasa-biasa saja,” katanya, seolah membelah langit kata yang selama ini stagnan dalam logika.

Ada pula mitos yang dibongkar malam itu. Bahwa sastrawan hidup dalam lapar, bahwa puisi hanya menyentuh angin. “Katanya sastrawan tidak bisa hidup dari sastra. Tapi lihatlah, banyak penyair yang justru hidup dari puisi. Mereka keliling dunia karena kata-katanya,” ucapnya lirih namun tajam, seperti mata pena yang menari di atas luka.

Ia mengajak semua, dari petani sampai nelayan, dari sopir sampai guru honorer, untuk menulis. Tak perlu rumit. Tak perlu jadi sastrawan dulu untuk mulai merangkai kalimat. Cukup sadari hidup sebagai teks yang menunggu dibaca, ditulis, dan diarsipkan.

Malam tak hanya berbicara tentang puisi dan manusia, tetapi juga tentang zaman yang kian lihai mencipta ilusi. Ketika pertanyaan soal AI meluncur ke udara, Tengsoe menjawab dengan senyum penuh arti. “AI itu cerdas. Tapi tidak bisa nakal. Dan justru kenakalan itulah yang melahirkan puisi,” katanya. Kalimat itu, seperti tamparan sekaligus pelukan untuk zaman digital yang kehilangan denyut rasa.

Baginya, puisi bukan sekadar teks. Ia adalah resonansi batin. Maka dari itu, ia mengingatkan agar hasil kerja mesin harus tetap melalui mata dan hati manusia. Sebab puisi, seperti juga cinta, tak bisa dirumuskan oleh algoritma.

“Orang yang menulis tapi tidak membaca, puisinya akan terasa hampa. Pengetahuannya sempit. Terlihat dari cara memilih kata dan membangun metafora,” lanjutnya. Di titik ini, sastra seolah bukan sekadar seni, tapi jalan hidup yang memerlukan asupan, olah rasa, dan napas panjang.


Tokoh dan Tekad, Imajinasi dan Sindiran

Hadir malam itu, para penjaga api kesenian Banyuwangi. Hasan Basri, Ayung Notonegoro, S.A.Wm Notodiharjo, dan Elvin Hendrata mengisi ruang dengan aura kreatif yang hangat. Dari Basecamp Karangrejo, Hakim Said datang membawa semangat nyeleneh tapi jujur. “Kita harus berani membayangkan masa depan: rumah, mobil, bahkan punya istri dua,” katanya sambil tertawa, membuat ruangan sejenak menjadi panggung lawak yang filosofis. 

Di balik canda itu, ada keseriusan yang kentara. Hakim Said menegaskan dukungannya pada geliat kesusastraan lokal. Rumah Kebangsaan, katanya, akan menjadi rumah bagi siapa pun yang mau menyulap realitas menjadi kemungkinan.

Hasan Basri, dengan suara datar namun dalam, menyentil kebiasaan lomba puisi di sekolah. “Puisi tidak seharusnya dilombakan. Tapi kenyataannya, justru dijadikan ajang kompetisi. Kita perlu rumusan baru agar ekspresi tidak dikekang format,” katanya. Ia menyinggung pentingnya membuat indikator baru untuk membaca puisi sebagai jiwa, bukan sebagai teknik.


Diskusi makin hangat ketika para peserta mulai berbagi. Seorang pemuda bertanya bagaimana caranya menjadikan obrolan di warung kopi atau tontonan televisi sebagai cerita pendek yang menggugah. Tengsoe menjawab pendek tapi menohok, “Menjadi penulis adalah menjadi pembaca yang baik. Entah itu membaca buku, membaca peristiwa, atau membaca manusia.”

Kalimat itu menggantung di udara. Seperti puisi yang tak selesai, atau mungkin sengaja dibiarkan terbuka agar siapa pun bisa mengisinya dengan tafsir masing-masing.

Sebagai penutup, beberapa peserta membacakan puisi. Tak ada panggung tinggi. Tak ada batas antara penonton dan pembaca. Hanya ada suara, dan kata-kata yang mengalir seperti sungai kecil di tengah kota yang kian berisik.

Ketua DKB menutup acara dengan catatan kecil: bahwa malam ini bukan akhir dari pertemuan, melainkan pembuka dari perjalanan panjang. Perjalanan menggali batin, menyulam lokalitas, dan menghidupkan kembali sastra sebagai denyut hidup Banyuwangi.

Dan ketika malam benar-benar turun, para penyair itu pun pulang. Tapi kata-kata mereka tetap tinggal, menggema di lorong-lorong kota, menunggu pembaca berikutnya untuk meraba dan menghidupkannya kembali.

Obahlah, dunia. Sebab kata akan selalu punya cara untuk menyusup ke dalam perubahan.

Hasan Basri Soroti Ekonomi Kreatif Berbasis Tradisi Lisan dan Manuskrip di Hari Kedua Lokakarya HISKI Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan)  Lokakarya Penulisan Sastra dan Pembuatan Karya Inovatif Berbasis Tradisi Lisan dan Manuskrip yang digelar selama dua hari di Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Banyuwangi memasuki sesi ketiga pada hari kedua. Bertempat di ruang Mini Bioskop lantai tiga, sesi ini menghadirkan Hasan Basri, Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB), sebagai narasumber utama.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara HISKI Pusat, HISKI Komisariat Banyuwangi, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Dana Indonesiana, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Dewan Kesenian Blambangan, dan UNTAG Banyuwangi. Sinergi berbagai lembaga ini menunjukkan komitmen bersama untuk mengangkat kembali kekayaan budaya Banyuwangi agar mampu menjawab tantangan zaman dan memberi kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah. 


Dalam paparannya yang berjudul “Alihwahana dan Produk Ekonomi Kreatif Berbasis Tradisi Lisan dan Manuskrip Banyuwangi,” Hasan Basri menekankan pentingnya mengembangkan ekonomi kreatif dengan bersumber pada kearifan lokal. Ia menyebutkan bahwa Banyuwangi memiliki modal budaya yang sangat kaya, seperti cerita rakyat, lagu daerah, babad, dan manuskrip kuno—termasuk Lontar Yusuf, Lontar Sri Tanjung, dan Babad Tawangalun—yang belum sepenuhnya dimanfaatkan secara maksimal.

“Tradisi lisan dan manuskrip bukan sekadar warisan, melainkan sumber daya kreatif yang dapat dialihwahanakan menjadi produk-produk ekonomi yang bernilai jual tinggi. Lewat pendekatan inovatif, warisan ini bisa diolah menjadi aplikasi digital, gim edukatif, desain visual, karya kriya, fesyen bermotif lokal, hingga seni pertunjukan yang dikemas modern,” tegas Hasan.

Ia juga memaparkan tujuh manfaat strategis dari pengembangan ekonomi kreatif, antara lain penciptaan lapangan kerja, peningkatan citra daerah, pengembangan destinasi pariwisata, dan pengentasan kemiskinan berbasis komunitas. Produk-produk kreatif seperti yang telah dilakukan oleh kelompok GEMBRUNG menjadi contoh nyata bagaimana tradisi dapat menjadi pondasi lahirnya inovasi, sekaligus mendongkrak perekonomian lokal.

Selain memantik diskusi tentang strategi alihwahana budaya, sesi ini juga menggarisbawahi pentingnya keberlanjutan dan tanggung jawab sosial dalam setiap produk kreatif yang dihasilkan. Kreativitas, menurut Hasan, harus selalu berpijak pada nilai dan identitas lokal, agar tidak kehilangan akar di tengah arus globalisasi. 


Dalam penutupan sesi, HISKI Komisariat Banyuwangi menyampaikan harapannya agar lokakarya ini tidak hanya menjadi ruang reflektif, tetapi juga pemantik aksi nyata bagi para seniman, sastrawan, dan budayawan Banyuwangi. “Kami berharap kegiatan ini menjadi energi baru untuk membangun Banyuwangi melalui seni dan sastra, sekaligus mengajak pelaku budaya untuk lebih berani memanfaatkan teknologi digital demi memperluas jangkauan dan dampak karya mereka,” ungkap perwakilan HISKI Komisariat.

Dengan semangat kebersamaan dan keberanian berinovasi, sesi ketiga ini menjadi titik penting yang menunjukkan bahwa tradisi bukanlah beban masa lalu, melainkan bahan bakar masa depan yang kaya potensi dan layak digarap secara kreatif.

Di Antara Naskah dan Narasi: Banyuwangi Menuliskan Dirinya Kembali

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Angin pagi di kaki Gunung Ijen membawa semilir wangi kenangan, ketika 30 jiwa dari pelbagai latar berkumpul dalam ruang yang tak sekadar aula kampus — melainkan semesta kecil tempat kata-kata dilahirkan kembali. Lokakarya bertajuk Penulisan Kreatif Sastra dan Produk Kreatif Berbasis Tradisi Lisan dan Manuskrip resmi digelar di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi. Selama dua hari, 28–29 Mei 2025, para penulis, pelajar, budayawan, dan akademisi menyulam ulang masa lalu dalam kain narasi yang baru dan hidup. 


Diselenggarakan oleh HISKI (Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia) Komisariat Banyuwangi, dengan dukungan Dana Indonesiana dan LPDP, lokakarya ini bukan hanya menyuarakan kata-kata, tetapi membangkitkan roh yang lama terlelap dalam tradisi lisan dan manuskrip tua. Seperti mendengar kembali kisah-kisah nenek moyang yang pernah berbisik di sela hujan malam, peserta diajak menelusuri kembali akar sejarah budaya lokal dan mengubahnya menjadi karya sastra kontemporer yang bernyawa.

Nurul Ludfia Rochmah, perempuan tangguh yang memimpin HISKI Banyuwangi, menuturkan bahwa kegiatan ini bukan semata spontanitas, melainkan hasil dari proses panjang dan reflektif. “Kami menggelar dua kali FGD sebelum lokakarya dimulai. Di situ, benih-benih pemahaman ditanam agar para peserta tidak sekadar menulis, tetapi menulis dengan kesadaran akan warisan,” ucapnya lirih, namun penuh makna.

M

Sebanyak 30 peserta hadir dengan wajah-wajah yang membawa cerita: dari ruang kelas, studio tari, bangku pemerintahan, hingga panggung pertunjukan rakyat. Masing-masing datang membawa peta batinnya sendiri, namun disatukan oleh satu kompas: cinta kepada tradisi dan hasrat untuk membisikkan ulang kisah lama dalam bahasa yang kini.

Di atas panggung ilmu, para pemikir nasional hadir menyampaikan cahaya dari pelita pengalaman: Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, Dr. Munawar Holil, Dr. Pudentia MPSS, Dr. Tengsoe Tjahjono, dan Dr. Yeni Artanti. Di bawah panduan Sudartomo Macaryus yang tenang namun tajam, para narasumber tak hanya menyampaikan materi, tetapi merapal mantra ilmu — bahwa sastra tak lahir dari ruang hampa, melainkan dari perjumpaan manusia dengan akar dan angkasa.

Prof. Novi berbicara tentang bagaimana manuskrip lama sesungguhnya tak pernah tua, hanya menunggu dibuka. Dr. Munawar menunjukkan bahwa naskah-naskah tua Indonesia adalah museum hidup yang menunggu disapa. Sementara Pudentia menuturkan bahwa tradisi lisan bukanlah suara masa silam, melainkan napas yang terus bergema — asal kita bersedia mendengarnya kembali.

Lalu, dari rahim lokakarya itu, lahirlah anak-anak kata: sebuah buku kumpulan karya peserta, ditulis dengan darah imajinasi dan tinta kebudayaan. Tak hanya itu, para peserta juga menciptakan alih wahana sastra — menyalin suara tradisi menjadi visual multimedia yang diunggah di platform digital. Lima karya individu terbaik diberi penghargaan sebesar Rp1.000.000, bukan untuk membeli pujian, tetapi sebagai penghormatan bagi keberanian menafsir ulang masa lalu.

Tak ketinggalan, lima kelompok kreatif turut menari dalam irama kolaborasi. Mereka menggubah karya multimedia berbasis sastra lokal dan menerima dana pembinaan masing-masing Rp3.500.000 — sebagai pupuk untuk terus menumbuhkan pohon-pohon cerita yang lebih rindang.

Sebagai buah dari ranum akademik, lahir pula satu artikel ilmiah tentang alih wahana sastra Banyuwangi, disiapkan untuk mengisi halaman jurnal bereputasi SINTA. Dan lebih dari itu, empat belas karya peserta akan didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual — karena sastra, sebagaimana tanah dan air, juga layak dilindungi dari perampasan dan pelupaan.

Namun, puncak dari segalanya bukanlah uang, bukan pula pengakuan, tetapi perayaan. Seluruh produk lokakarya ini akan dipentaskan dalam Festival dan Dialog Sastra HISKI, yang merupakan bagian dari Kalender Festival Banyuwangi 2025, bertajuk “Banyuwangi Kolo Semono” — sebuah momen di mana tradisi tidak hanya dilestarikan, tetapi dipertunjukkan, dipertanyakan, dan diciptakan ulang.

Di sanalah, sastra tak lagi sekadar tulisan di kertas, tapi menjadi tarian, lagu, visual, bahkan bisik-bisik antargenerasi. Banyuwangi, dalam cahaya lokakarya ini, telah menulis dirinya sendiri — bukan dengan pena birokrasi, tetapi dengan tangan-tangan pencinta yang menyulam antara masa lalu dan masa depan.

Di tengah zaman yang terburu dan gaduh, kegiatan ini menjadi ruang jeda. Seperti zikir panjang yang mengajak kita kembali pada akar. Seperti mantra lama yang menolak dilupakan. Dan seperti puisi, ia tak selalu harus dipahami — cukup dirasakan, dan akan hidup di dalam hati mereka yang membacanya.

Sastra, tradisi, dan inovasi — bukan tiga kata yang saling bertentangan, tetapi satu irama yang disatukan oleh Banyuwangi di hari-hari akhir Mei ini.

Rukyatul Hilal Penentu Dzulhijjah 1446 H Digelar di Pantai Pancur Alas Purwo

Hilal Tak Terlihat, Hasil Tetap Dilaporkan ke Kementerian Agama RI


Banyuwangi, (Warta Blambangan) — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi kembali menggelar rukyatul hilal guna menentukan awal bulan Dzulhijjah 1446 H. Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa (27/5) ini berlangsung di Pantai Pancur, kawasan Taman Nasional Alas Purwo, dan merupakan bagian dari agenda nasional Kementerian Agama Republik Indonesia.



Tim rukyat yang terdiri dari unsur Kementerian Agama, Pengadilan Agama Banyuwangi, perwakilan ormas Islam, tim hisab rukyat, dan sejumlah instansi terkait hadir secara langsung dalam proses pengamatan hilal. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyampaikan bahwa hilal belum berhasil terlihat dari titik pantauan tersebut.


“Meskipun sore ini hilal tidak tampak karena kondisi cuaca yang berawan, kegiatan ini tetap penting dan hasilnya tetap kami laporkan ke Kementerian Agama RI sebagai bagian dari data nasional dalam penentuan awal Dzulhijjah,” ungkapnya.


Pantai Pancur dipilih sebagai lokasi rukyat karena letaknya yang strategis di ujung timur Pulau Jawa serta minim polusi cahaya. Kondisi geografis ini menjadikan Pantai Pancur sebagai salah satu titik pengamatan hilal yang diandalkan di Jawa Timur.


Rukyatul hilal menjadi bagian penting dalam penentuan waktu-waktu ibadah umat Islam, khususnya Idul Adha. Hasil dari seluruh titik pengamatan se-Indonesia kemudian dibahas dalam sidang isbat oleh Kementerian Agama RI.


Berdasarkan hasil sidang isbat yang digelar pada Selasa malam, pemerintah secara resmi menetapkan 1 Dzulhijjah 1446 H jatuh pada Rabu, 28 Mei 2025. Dengan demikian, Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1446 H ditetapkan jatuh pada Jumat, 6 Juni 2025.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger