Pages

Kongres ISNU Ketiga di Balikpapan: Antara Perjalanan, Pilihan, dan Terpilihnya Prof. Dr. Kamarudin Amin sebagai Ketua Umum

 

Kongres ISNU Ketiga di Balikpapan: Antara Perjalanan, Pilihan, dan Terpilihnya Prof. Dr. Kamarudin Amin sebagai Ketua Umum

Oleh : Syafaat


        Kamis pagi yang cerah, saya menerima pesan WhatsApp dari seorang dosen, sekaligus pengurus cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) di  Kabupaten Banyuwangi. Pesan itu mengajak saya ikut serta dalam Kongres  ISNU yang akan digelar di Balikpapan. Saya membaca pesan tersebut sambil mengaduk kopi di teras rumah, sedikit ragu. Jarak Banyuwangi ke Balikpapan memang cukup jauh, tapi tentu saja kita tidak akan menempuhnya dengan kapal laut, apalagi berenang. Pesawat terbang bisa membawa kita sampai ke sana dalam beberapa jam saja.Ajakan itu terasa cukup menggoda. Setelah kongres, ada agenda tambahan yang dirancang untuk mengunjungi Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, proyek monumental yang menjadi perhatian nasional. Sebagai seorang ASN di Kementerian Agama, kunjungan ke IKN menawarkan daya tarik tersendiri, sebuah kesempatan untuk melihat langsung pembangunan yang kelak menjadi pusat pemerintahan Indonesia.

Beberapa malam sebelumnya, saya dan teman-teman pengurus ISNU cabang Banyuwangi berkumpul di sebuah rumah sahabat. Malam itu dihabiskan dengan membakar ikan segar hasil tangkapan nelayan Muncar. Obrolan kami mengalir santai, dari topik politik lokal hingga cerita-cerita ringan tentang kehidupan sehari-hari. Namun, pembicaraan malam itu lebih banyak berfokus pada dua hal: pilkada yang akan datang esok hari dan kisah seorang perempuan.


Perempuan itu imut, cantik, dan anggun. Usianya berada di masa keemasan seorang wanita, matang dalam pandangan dan tutur kata meskipun sering kekanak-kanakan. Dalam imajinasi saya, jika dia menikah muda dan memiliki anak perempuan yang beranjak remaja, orang mungkin akan mengira mereka adalah saudara atau bahkan kembar. Sosoknya menjadi perbincangan hangat malam itu, seolah menyihir seluruh suasana. Perempuan imut itu sering membahas tentang poligami yang membawa traveling para lelaki untuk beristri lebih dari satu, saya hanya berharap perempuan imut itu mendapatkan jodoh sesuai pribadinya.

Sayangnya, di tengah kehangatan pertemuan malam itu, tak seorang pun dari kami yang sempat membahas konggres ISNU, pikiran dan khayal tak cukup membahas yang serius,  Kami sibuk memikirkan pilkada yang kian dekat, rencana silaturahmi pasca pemilihan, dan bagaimana menjaga hubungan baik dengan semua calon bupati yang notabene adalah teman dekat kami, begitulah yang biasa kita lakukan, membahas masalah secara tidak serius namun hasilnya sanga serius, bisa jadi melebihi hasil rapat di gedung mewah yang penuh dengan seremoni.

Pagi itu, setelah membaca pesan WhatsApp, saya terdiam sejenak. Menghadiri konggres berarti harus meninggalkan beberapa agenda penting. Di kantor, pekerjaan akhir tahun menumpuk, laporan-laporan yang harus diselesaikan sebelum tutup tahun sudah menanti. Tak hanya itu, Jumat sore nanti, saya sudah berjanji bertemu dengan seorang kolega dari Jakarta, seorang staf ahli Menko Polhukam yang juga menjabat sebagai komisaris utama di sebuah BUMN, penyair yang beberapa minggu sebelumnya juga hadir di Banyuwangi dalam agenda JSAT (Jambore Sastra Asia Tenggara),. Pertemuan itu sudah lama direncanakan dan sulit untuk dibatalkan.

Akhirnya, dengan berat hati, saya memutuskan untuk tidak ikut dalam Konggres. Godaan mengunjungi IKN memang menarik, tapi masih kalah dengan komitmen yang telah saya buat sebelumnya. Lagipula, dalam hati saya yakin bahwa agenda nasional seperti konggres akan berjalan lancar tanpa kehadiran saya.

Kabar dari Balikpapan: Terpilihnya Kamarudin Amin

Hari Sabtu pagi, kabar itu sampai ke group WA: Prof. Dr. Phil. Kamarudin Amin, M.A., Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, terpilih sebagai Ketua Umum ISNU periode 2025-2029.

Nama Kamarudin Amin memang bukan asing bagiku. Sebagai ASN Kementerian Agama di bawah naungan Ditjen Bimas Islam, saya mengikuti kiprah beliau dari jauh. Sosoknya dikenal sebagai birokrat cerdas dengan visi yang tajam. Beliau bukan hanya seorang akademisi, tetapi juga seorang pemimpin dengan pengalaman panjang di berbagai jabatan strategis.

Saya Brousing kembali perjalanan karirnya. Sebelum menjabat sebagai Dirjen Bimas Islam sejak 2020, beliau pernah menjadi Dirjen Pendidikan Islam selama enam tahun, dari 2014 hingga 2020. Tak hanya itu, beliau juga pernah menjabat sebagai Plt. Dirjen Bimas Islam pada 2017, Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, dan Wakil Rektor UIN Alauddin Makassar selama dua periode.

Di luar birokrasi, kiprah Kamarudin Amin di berbagai organisasi keagamaan dan sosial juga patut diacungi jempol. Beliau adalah Ketua Umum Majelis Dai Kebangsaan Nasional, Ketua Badan Kesejahteraan Masjid Nasional, hingga Komisioner BAZNAS dan BWI. Figur seperti beliau memang tepat memimpin ISNU. Dengan jaringan yang luas, pengalaman birokrasi, serta latar belakang akademis yang kuat, saya yakin ISNU akan semakin berkembang di bawah kepemimpinannya.

Namun, di balik segala pujian, saya merenung. ISNU bukan sekadar organisasi yang menghimpun para sarjana. Lebih dari itu, ISNU adalah wadah yang menghimpun pemikiran-pemikiran strategis untuk kemajuan bangsa, khususnya dalam bingkai keislaman yang moderat. Di tingkat cabang saja, banyak pengurus yang menyandang gelar magister dan doktor. Mereka adalah akademisi, birokrat, bahkan praktisi yang memberikan sumbangsih pemikiran bagi daerah dan kebijakan nasional. Ada cinta dan rindu yang mengalir dalam setiap langkah mereka—cinta kepada negeri dan rindu akan peradaban Islam yang berkemajuan.

Saya teringat percakapan dengan seorang teman di kantor beberapa waktu lalu. Ia berkata, “ISNU itu unik. Meski kita berlabel ikatan sarjana, kontribusi kita jauh melampaui gelar akademik. Kita bekerja dengan hati, dengan landasan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal.” Kata-kata itu terus terngiang di benakku. Dalam hati, saya percaya bahwa ISNU di bawah kepemimpinan Kamarudin Amin akan membawa angin segar. Beliau adalah sosok yang tidak hanya paham birokrasi, tetapi juga memahami dinamika sosial dan keagamaan di Indonesia.

 

Hari berlalu. Dalam agenda liburan bertemu dengan beberapa rekan. Namun, pikiranku sesekali melayang ke Balikpapan. Saya membayangkan suasana Munas, diskusi-diskusi hangat, dan agenda-agenda strategis yang dirumuskan di sana.

Saya membayangkan wajah-wajah optimis para pengurus cabang dan pengurus wilayah dari seluruh Indonesia yang datang dengan harapan besar. Mereka mungkin lelah setelah perjalanan jauh, tetapi semangat mereka tidak pernah surut. Dan di tengah-tengah mereka, seorang Kamarudin Amin berdiri sebagai nahkoda baru, membawa kapal besar bernama ISNU ke arah yang lebih maju.


Malam itu, saya menatap langit Banyuwangi yang cerah. Bintang-bintang bertaburan, seolah berbisik tentang masa depan yang cerah. Saya teringat kembali perempuan imut yang sempat menjadi bahan pembicaraan kami. Hidup memang penuh kejutan. Kadang kita terjebak dalam rutinitas, kadang kita harus memilih antara tanggung jawab dan kesempatan, besok malam saya juga ada agenda dengan Perempuan imut itu yang juga seorang pelukis, pada pameran lukisan Harjaba (Hari jadi Banyuwangi) di gedung Juang, goresan lukisannya cukup memberikan warna.

Saya yakin, di suatu waktu, saya akan bertemu dengan Prof. Kamarudin Amin. Mungkin di forum resmi, mungkin di acara keagamaan, atau bahkan di kesempatan yang tidak terduga. Yang pasti, saya ingin menjadi bagian dari perjalanan besar ini. Perjalanan ISNU, perjalanan membangun peradaban yang berlandaskan cinta, ilmu, dan keimanan.

Dan meski saya tidak hadir di Balikpapan, hatiku juga ada di sana—bersama mereka yang berjuang untuk membawa perubahan, bersama seorang pemimpin baru yang akan membawa ISNU melangkah lebih jauh.

Akhir kata, selamat mengemban amanah, Prof. Kamarudin Amin. Semoga ISNU di bawah kepemimpinan Anda menjadi cahaya bagi bangsa dan umat.

 

Kepala Kemenag Banyuwangi Tekankan Pentingnya Pemeriksaan Wali Nikah dan Evaluasi Penyuluh dengan CAT

Wongsorejo (Bimas Islam) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, melalui Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, menegaskan pentingnya pemeriksaan wali nikah guna mencegah kesalahan dalam prosesi akad nikah. Penekanan ini disampaikan dalam acara yang digelar pada Selasa, 26 November 2024, bertempat di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Wongsorejo.


Dalam kesempatan tersebut, Kepala Seksi Bimas Islam menyampaikan bahwa pemeriksaan wali nikah merupakan langkah preventif untuk memastikan keabsahan pernikahan sesuai hukum Islam dan undang-undang yang berlaku.


"Proses pemeriksaan wali nikah harus dilakukan dengan teliti. Hal ini sangat penting untuk menghindari kesalahan yang dapat mempengaruhi sah atau tidaknya akad nikah. Penyuluh Agama Islam juga perlu berperan aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat terkait hal ini," ujarnya.


Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa KUA memiliki peran strategis sebagai ujung tombak pelayanan pernikahan di tingkat kecamatan. Oleh karena itu, semua pihak yang terlibat, mulai dari penghulu hingga penyuluh agama, harus memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai aturan dan ketentuan pernikahan.


Selain menyoroti pentingnya pemeriksaan wali nikah, Kepala Seksi Bimas Islam juga menyampaikan informasi terkait evaluasi kinerja Penyuluh Agama Islam (PAI). Evaluasi tersebut akan dilakukan dengan menggunakan metode Computer Assisted Test (CAT), yang direncanakan berlangsung dalam waktu dekat.



"Evaluasi kinerja melalui CAT merupakan upaya kami untuk memastikan profesionalisme para penyuluh. Dengan sistem ini, penilaian akan lebih objektif dan transparan," jelasnya.


Ia menambahkan, penyuluh agama memiliki peran penting dalam membina masyarakat, terutama dalam memberikan penyuluhan terkait kehidupan beragama, hukum Islam, serta penguatan moderasi beragama. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi dan evaluasi kinerja secara berkala menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.


Acara yang berlangsung di KUA Kecamatan Wongsorejo ini dihadiri oleh para penghulu, penyuluh agama, serta staf KUA. Dalam diskusi yang berlangsung, sejumlah penyuluh agama menyampaikan aspirasi dan tantangan yang dihadapi dalam melaksanakan tugas di lapangan.


Kepala KUA Kecamatan Wongsorejo Fakhrus Shofi menyambut baik kebijakan evaluasi berbasis CAT. Menurutnya, langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat.


"Kami berharap melalui evaluasi ini, para penyuluh semakin termotivasi untuk meningkatkan kinerja. Pada akhirnya, ini akan berdampak positif pada kualitas layanan keagamaan yang diberikan kepada masyarakat," tuturnya.


Sementara itu, salah satu penyuluh agama yang hadir, Luluk Atin, mengaku mendukung penuh kebijakan tersebut.


"Dengan adanya CAT, kami bisa mengetahui sejauh mana kompetensi yang kami miliki. Ini juga menjadi peluang untuk terus belajar dan memperbaiki kekurangan," katanya.


Supervisi dan Evaluasi di KUA Kecamatan Wongsorejo ini tidak hanya menjadi momen untuk menyampaikan kebijakan, tetapi juga sarana membangun sinergi antara Kepala Kemenag Banyuwangi, penyuluh agama, dan KUA dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.


Dengan penekanan pada pemeriksaan wali nikah yang lebih ketat dan evaluasi kinerja penyuluh berbasis CAT, diharapkan kualitas pelayanan keagamaan di Kabupaten Banyuwangi semakin meningkat dan sesuai dengan harapan masyarakat.


Artificial Intelligence dan Pengaruhnya Terhadap Pendidikan

 

Artificial Intelligence dan Pengaruhnya Terhadap Pendidikan

Oleh : Syafaat

 

Sebagaimana tertuang dalam Hymne Madrasah Kementerian Agama, pendidikan hadir untuk “menjawab arus tantangan zaman” sekaligus menjadi “benteng runtuhnya moral.” Dalam hal ini, guru adalah benteng pertama yang melindungi generasi muda dari dampak negatif kemajuan teknologi. 



    

Keteladanan adalah cara paling efektif dalam menanamkan nilai moral. Guru yang menunjukkan sikap jujur, disiplin, adil, dan empati akan menjadi inspirasi bagi siswa. Ketika siswa melihat nilai-nilai ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh guru mereka, nilai-nilai tersebut lebih mudah diinternalisasi.  Nilai-nilai moral dapat disisipkan dalam berbagai mata pelajaran. Misalnya, pelajaran sejarah dapat digunakan untuk menyoroti pentingnya keadilan dan tanggung jawab melalui kisah-kisah tokoh bersejarah. Dalam sains, guru dapat menekankan pentingnya integritas dalam penelitian. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami teori tetapi juga mendapatkan wawasan tentang penerapan nilai etika dalam kehidupan.  Siswa sering menghadapi situasi yang kompleks secara moral, seperti tekanan teman sebaya, cyberbullying, atau konflik nilai. Guru dapat membantu mereka melalui dialog terbuka dan diskusi mendalam, memberikan perspektif yang seimbang, serta membimbing siswa untuk membuat keputusan yang didasarkan pada prinsip moral. 

Tantangan era digital seperti plagiarisme, penyebaran informasi palsu, dan pelanggaran privasi memerlukan perhatian serius. Guru harus mengajarkan siswa untuk menggunakan media digital secara bertanggung jawab, menghormati privasi, serta memverifikasi kebenaran informasi sebelum membagikannya.  AI bukanlah pengganti guru, melainkan alat yang dapat mendukung proses belajar-mengajar. Teknologi ini membantu dalam berbagai aspek, seperti analisis data, umpan balik otomatis, dan penyampaian materi interaktif. Namun, kreativitas, empati, dan kemampuan guru dalam membangun hubungan personal tetap menjadi kunci keberhasilan pendidikan.  Guru harus memandang AI sebagai mitra strategis yang dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan menggunakan teknologi secara bijak, guru dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih inklusif dan memenuhi kebutuhan siswa yang beragam. 

Di tengah perkembangan teknologi, guru tetap menjadi pilar utama dalam pendidikan. Dengan menjadi teladan moral, mengintegrasikan nilai-nilai etika dalam pembelajaran, dan membimbing siswa menghadapi tantangan era digital, guru tidak hanya mentransfer pengetahuan tetapi juga membentuk karakter siswa. 

 

Kemajuan teknologi, termasuk AI, harus dilihat sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Namun, nilai-nilai moral dan etika tetap menjadi fondasi yang tidak tergantikan. Dengan peran strategis guru, generasi muda dapat tumbuh menjadi individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas, empati, dan tanggung jawab sosial. Melalui sinergi antara teknologi dan pendidikan, kita dapat membangun peradaban yang lebih baik di masa depan. 

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence, AI) telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. AI menawarkan peluang luar biasa untuk meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar, tetapi juga menghadirkan tantangan yang tidak kalah besar. Guru, sebagai pilar utama pendidikan, kini dihadapkan pada tugas baru: mengintegrasikan teknologi canggih, memanfaatkan potensinya, sekaligus mempertahankan nilai-nilai humanis dalam pendidikan. Dalam hal ini, guru tidak hanya dituntut untuk memahami teknologi, tetapi juga tetap menjadi teladan moral dan pembimbing yang andal bagi siswa. 

Era AI menyediakan berbagai inovasi yang bermanfaat bagi pendidikan, seperti platform pembelajaran adaptif, chatbot edukasi, dan analisis data siswa. Alat-alat ini memungkinkan proses belajar-mengajar yang lebih personal, efektif, dan inklusif. Teknologi ini mampu menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan siswa, memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam. Namun, keberhasilan implementasi teknologi ini sangat bergantung pada kesiapan guru untuk memanfaatkannya secara bijak dan strategis. 

Salah satu tantangan utama adalah memastikan guru tidak "gaptek" atau gagap teknologi. Di era digital, ketidaktahuan terhadap teknologi dapat menjadi penghambat besar. Ketika siswa, terutama generasi muda, semakin mahir menggunakan platform digital bahkan melebihi orang dewasa, guru perlu mengejar ketertinggalan. Oleh karena itu, institusi pendidikan dan pemerintah harus menyediakan pelatihan teknologi yang relevan bagi guru. Selain itu, guru harus proaktif belajar secara mandiri melalui kursus daring, pelatihan, atau komunitas pembelajaran. 

AI telah mengubah peran tradisional guru. Dari penyampai pengetahuan, guru kini berfungsi sebagai fasilitator yang membimbing siswa untuk memilah informasi yang valid dari arus informasi yang melimpah di era digital. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis agar dapat memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara etis. 

Meskipun AI mampu memberikan efisiensi dalam penyampaian materi pembelajaran, teknologi ini tidak memiliki kemampuan untuk memahami kebutuhan emosional atau sosial siswa. Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Guru tetap diperlukan sebagai mentor yang membangun hubungan personal, memberikan inspirasi, dan mendukung pengembangan karakter siswa. Teknologi sebaiknya digunakan untuk mendukung tugas-tugas administratif, seperti pengelolaan data atau penilaian otomatis, sehingga guru memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada interaksi langsung dengan siswa. 

 

Pendidikan tidak hanya tentang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter. Di tengah tantangan sosial, budaya, dan teknologi, penanaman moralitas dan etika menjadi semakin krusial. Guru memegang tanggung jawab besar untuk memastikan siswa tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki karakter yang kuat. 

*Syafaat: Ketua Lentera Sastra Banyuwangi*

Catatan Kecil Perjalanan Petugas Haji Karya Syafaat Dibedah Akademisi

Banyuwangi –(Warta Blambangan) Aula PC NU Banyuwangi menjadi saksi diskusi inspiratif dalam acara bedah buku Catatan Kecil Perjalanan Petugas Haji karya Syafaat, Jumat (23/11/2024). Buku yang merekam pengalaman seorang petugas haji ini dibedah oleh empat narasumber kompeten, dengan menggali berbagai perspektif dan refleksi mendalam dari isi buku tersebut.


Acara ini diprakarsai oleh Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Banyuwangi dengan ketua pelaksana Abdul Azis, S.Ag., M.H.I.,  Dalam sambutannya, Abdul Azis menegaskan pentingnya memahami dinamika pelayanan haji dan pembelajaran nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya.



Refleksi Pengalaman dan Filosofi Kehidupan

Dr. Hj. Emi Hidayati, S PD., M.Si., dosen IAII Genteng, membuka pembahasan dengan menyoroti sisi filosofis buku ini. Ia menyebut buku ini sebagai gambaran nyata bahwa ideologi tidak cukup menjadi landasan tunggal. “Filosofi di atas ideologi adalah pelajaran besar yang dapat kita petik dari perjalanan ini,” ujar Emy yang berangkat haji tahun 2017, bersamaan dengan penulis menjadi petugas haji pertama kali.


Lebih lanjut Emi Hidayati,  menyampaikan bahwa Mengelola rasa cemburu menjadi salah satu ujian batin. Ketika petugas melihat perhatian lebih terhadap jamaah lain di situlah kita belajar menempatkan kepentingan umat di atas ego pribadi,” katanya.


Perspektif Manajerial dan Organisasi disampaikan 

Dr. Kurniyatul Faizah S.Ag.,M.Pd, Dosen IAII Genteng mengulas manajemen pelaksanaan haji yang tertuang dalam buku ini. 


Penjelasan lebih rinci tentang konsep syarikah ini dijelaskan oleh H. Abdul Azis, S.Ag., M.Pd.I, Kepala KUA Kecamatan Banyuwangi yang juga beberapa kali bertugas sebagai petugas haji . “Tulisan ini mengingatkan kita bahwa pelayanan jamaah haji bukan hanya tugas pemerintah, tetapi sinergi yang melibatkan banyak pihak, termasuk penyelenggara swasta,” ujarnya.

Acara dengan moderator Dr. Nur Anim Jauhariyah, S.Pd., M.Si, Dosen Universitas KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Blokagung ini berjalan dinamis, hadir juga dalam diskusi, mitra tim penulis dalam tugas haji dari tim Kesehatan Hj. Deny Fitria yang sehari harinya dinas di RSUD Blambangan.


Penulis buku Catatan Kecil Perjalanan Petugas Haji, H. Syafaat, S.H., M.H.I. menyampaikan ucapan terima kasih atas saran dan masukan.

"Masukkan agar cerita lebih detail dan lebih mengena bagi mereka yang belum pernah haji maupun umrah sangat bagus" kata Syafaat.


Antusiasme dan Harapan

Peserta yang hadir, terdiri dari berbagai kalangan akademisi, tokoh masyarakat, dan mahasiswa, terlihat antusias mengikuti jalannya acara. Diskusi hangat dan sesi tanya jawab memberikan pemahaman lebih mendalam tentang dinamika tugas seorang petugas haji, memberikan motivasi untuk menjadi petugas haji.


Di akhir sesi, Peraih sastratama (Sastrawan utama) Nur Khofifah membacakan salah satu puisi karya Syafaat yang ada dalam buku dengan judul "sudut sujud".

"puisi ini mempunyai makna mendalam tentang panggilan menunaikan ibadah haji" kata Vieva (panggilan akrabnya) yang juga anggota Lentera Sastra. (syaf)

Sosialisasi Saber Pungli di Banyuwangi: Komite Sekolah di Persimpangan Dilema


WARTA BLAMBANGAN,  BANYUWANGI, -  Dalam upaya mencegah praktik pungutan liar (pungli) di sekolah dan madrasah, Inspektorat Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bekerja sama dengan Unit Pemberantasan Pungli Polresta Banyuwangi menggelar kegiatan "Sosialisasi Saber Pungli & Gesah Bareng". Acara ini berlangsung pada Kamis, 21 November 2024, di Ballroom Harvest Licin Banyuwangi dan dihadiri oleh perwakilan Komite Sekolah dan Madrasah se-Kabupaten Banyuwangi.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, diantaranya Wakapolresta Banyuwangi AKBP Dewa Putu Eka Darmawan, serta Kasi Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Banyuwangi Rustamaji Yudica Adi Nugraha, S.H, Kasat Binmas Polresta Banyuwangi, Kompol Toni Irawan, dan Sekretaris Inspektorat Kabupaten Banyuwangi Muhammad Lutfi. 

Wakapolresta AKBP Dewa Putu Eka Darmawan memberikan ssmbutan pertama sekaligus membuka acara diteruskan dengan paparan singkatnya terkait pengertian pungutan liar (pungli) serta dampak buruk pungli dan langkah-langkah pencegahannya.

Dalam sesi diskusi yang dipandu oleh Hakim Said dari Rumah Kebangsaan, suasana berlangsung dinamis dan hangat. Banyak perwakilan Komite Sekolah menyampaikan keluhan, terutama terkait aturan yang dianggap membatasi fleksibilitas penggalangan dana. Salah satu sorotan utama adalah penggalangan dana yang dinilai tidak mencukupi kebutuhan operasional sekolah karena dana BOS hanya menutupi sebagian kecil kebutuhan.

AKBP Dewa Putu Eka

Pemahaman Aturan dan Tantangan Komite Sekolah

AKBP Dewa Putu ED menegaskan pentingnya mematuhi Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016. “Sumbangan sukarela diperbolehkan, tetapi pungutan yang mengikat dengan nominal dan waktu tertentu melanggar aturan,” ujarnya. Muhammad Lutfi menjelaskan perbedaan mendasar antara sumbangan dan pungutan, sementara Rustamaji menekankan bahwa kejaksaan melihat niat di balik tindakan komite. “Jika tidak ada mensrea atau niat jahat, maka kasus tidak akan diproses lebih lanjut,” tegasnya.

Meski demikian, beberapa Ketua Komite SMAN 1 Glagah, H. Mujiono, Ketua Komite MTsN 10 Banyuwangi, Sucipto, dan Subur Riyanto, Ketua Komite SMAN 1 Glenmore, mengungkapkan dilema yang mereka hadapi. Larangan pungutan dinilai menyulitkan pelaksanaan program sekolah, mengingat dana BOS hanya mencakup kurang dari setengah kebutuhan. Hal ini menempatkan mereka pada situasi sulit: menjalankan program sekolah dengan risiko melanggar aturan, atau mematuhi aturan tetapi membatasi perkembangan sekolah.

Moderator Hakim Said dari Rumah Kebangsaan

Arahan dan Harapan ke Depan

AKBP Dewa Putu memberikan pesan agar Komite Sekolah bertindak bijak dalam mengambil langkah. “Tugas Komite Sekolah adalah tugas mulia, tapi penuh tantangan. Komite harus matang dalam bertindak agar tidak terjerat masalah hukum. Sebaiknya, dalam hal ekonomi, anggota komite sudah selesai dengan dirinya sendiri,” ujarnya.

Kegiatan ini memberikan kesadaran akan perlunya perhatian lebih dari pemerintah terhadap regulasi yang tidak hanya memberikan kepastian hukum, tetapi juga mempertimbangkan keadilan dan kebutuhan nyata di lapangan. Harapannya, kebijakan yang lebih adaptif dapat dirumuskan untuk mendukung keberlangsungan pendidikan yang lebih baik. (AW)



Ujian CAT PPIH Kloter dan Non Kloter Tingkat Kabupaten Banyuwangi Sukses Digelar


Banyuwangi (Warta Blambangan) Ujian berbasis Computer Assisted Test (CAT) untuk calon Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kloter dan Non Kloter tingkat Kabupaten Banyuwangi telah sukses dilaksanakan pada Kamis (21/11/2024). Kegiatan ini berlangsung di aula bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi dengan diikuti oleh 81 peserta.


Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah, selaku panitia penyelenggara, menjelaskan bahwa ujian ini merupakan salah satu tahapan penting dalam proses seleksi petugas haji tahun 2024. “Kami memastikan bahwa setiap peserta memiliki kesiapan dan kompetensi untuk menjalankan tugas sebagai petugas haji, baik di tingkat kloter maupun non kloter,” ungkapnya.



Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, dr. Chaironi Hidayat, menekankan bahwa menjadi petugas haji bukan sekadar tugas administratif, tetapi juga merupakan tugas ibadah yang memerlukan komitmen dan integritas. "Petugas haji memiliki tanggung jawab besar untuk melayani para jamaah dengan sepenuh hati. Ini adalah bagian dari ibadah kita kepada Allah SWT," ujarnya.


Para peserta ujian tampak serius mengikuti setiap tahapan seleksi. Hasil ujian ini nantinya akan menentukan siapa saja yang berhak menjadi bagian dari tim PPIH untuk musim haji mendatang.


Dengan suksesnya pelaksanaan ujian CAT ini, diharapkan petugas haji Kabupaten Banyuwangi tahun 2024 dapat memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah haji, sesuai dengan prinsip Haji Mabrur Melayani Jamaah Sepenuh Hati.

Sinergi Dinas Perpusip dengan Penulis Lentera Sastra Kemenag Kabupaten Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Program penerbitan buku kekhasan lokal Banyuwangi yang dikenal dengan nama Pusaka Banyuwangi dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusip) Kabupaten Banyuwangi berhasil masuk enam besar nominasi Anugerah Inotek Award 2024. Pengumuman tersebut disampaikan oleh tim penilai dalam sesi penjurian yang digelar di Meeting Room Dinas Perpusip Banyuwangi.


Kepala Dinas Perpusip Banyuwangi Zen Kostolani , dalam sambutannya, menyampaikan rasa syukur dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam mendukung program ini. "Capaian ini adalah buah dari kerja keras bersama, dan kami sangat menghargai setiap dukungan yang diberikan," ujarnya.


Hadir dalam acara tersebut Kepala Bappeda Kabupaten Banyuwangi, Dr. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, M.Si., yang turut memberikan apresiasi atas inovasi yang mampu mengangkat potensi budaya lokal Banyuwangi melalui literasi.



Dalam proses penjurian, tim penilai memberikan ruang testimoni kepada beberapa penulis yang karya-karyanya diterbitkan oleh Dinas Perpusip Banyuwangi. Wiwin Indiarti, dosen Universitas Bakti Indonesia (Uniba), berbagi pengalaman tentang upayanya menerjemahkan naskah-naskah kuno, yang kini menjadi bagian dari dokumentasi kekayaan literasi daerah.


Sementara itu, Sri Endah Zulaikhatul Kharimah, Kepala MTsN 8 Banyuwangi, menyampaikan bagaimana penerbitan karya siswa-siswinya, yang telah mencapai lebih dari 10 judul buku, turut menunjang prestasi madrasah sebagai juara pertama Acer Smart School Award tingkat nasional untuk jenjang SMP/MTs.


Syafaat, perwakilan dari Lentera Sastra Banyuwangi, yang juga telah menerbitkan buku melalui program ini, mengungkapkan harapannya ke depan. “Insyaallah, artikel karya tulis ilmiah Al-Qur'an dari LPTQ Kabupaten Banyuwangi tahun ini juga akan diterbitkan oleh Dinas Perpusip,” ujarnya penuh semangat.


Selain itu, Ketua Dewan Kesenian Belambangan, Hasan Basri, serta Nur Khofifah, guru MIN 1 Banyuwangi, juga memberikan testimoni mengenai dampak positif program ini terhadap pengembangan literasi dan seni di Banyuwangi.


Dengan masuknya program Pusaka Banyuwangi dalam nominasi Anugerah Inotek Award 2024, diharapkan semangat pelestarian dan pengembangan literasi lokal terus meningkat, sehingga mampu membawa nama Banyuwangi semakin dikenal luas melalui kekayaan budaya dan inovasinya.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger