Pages

Sambut 1 Suro, Panji Blambangan Gelar Jamasan Pusaka, Dihadiri Tokoh-Tokoh Seni dan Budaya Banyuwangi

BANYUWANGI –(Warta Blambangan)Tradisi menyambut 1 Suro di Banyuwangi kembali semarak. Paguyuban Panji Blambangan (Paguyuban Pelestari Tosan Aji Blambangan Banyuwangi) menggelar Gelar Budaya Keris 2026 di kawasan Cafe Museum Banyoewangi Tempo Doeloe, lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Rabu (17/6/2026). Kegiatan jamasan dan pameran pusaka yang dipandu budayawan sekaligus kurator pusaka nasional KRT Ilham Triadi Nagoro ini dihadiri sejumlah tokoh seni dan budaya Banyuwangi, di antaranya Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri, Punjul Ismu Wardoyo dari Padepokan Alang-Alang Kumitir, penyair Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi, Aekanu Hariyono dari Kiling Osing Banyuwangi, penyanyi sekaligus pencipta lagu Osing Yons DD, serta budayawan senior Ki Pramoe Karno Sakti.

Kegiatan yang merupakan bagian dari peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah dan Bulan Suro itu dipusatkan di Pelinggihan dan Serambi Museum Blambangan. Tradisi jamasan pusaka menjadi agenda utama sebagai ritual pembersihan keris, tombak, dan berbagai tosan aji yang telah diwariskan secara turun-temurun dalam budaya Jawa.


Menurut KRT Ilham Triadi Nagoro, tradisi ini merupakan bentuk komitmen nyata dalam merawat, melestarikan, sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai nilai sejarah, filosofi, dan kebudayaan yang terkandung dalam benda-benda pusaka Nusantara.

"Bulan Suro dipilih karena merupakan momentum awal tahun baru yang baik untuk memulai segala sesuatu dengan energi yang bersih. Jamasan bukan sekadar membersihkan fisik pusaka, tetapi juga menjadi pengingat agar manusia membersihkan hati dan memperkuat nilai-nilai kebajikan," ujarnya.

Selama kegiatan berlangsung, ruang Pelinggihan Disbudpar Banyuwangi disulap menjadi galeri pameran temporer yang menampilkan berbagai koleksi keris kuno dari era Singhasari, Majapahit hingga Blambangan. Berbagai pusaka tersebut menarik perhatian para pecinta budaya, kolektor, hingga wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat sejarah perkerisan Nusantara.

Selain membersihkan fisik pusaka, Panji Blambangan juga membuka layanan konsultasi bagi masyarakat yang ingin mengetahui estimasi usia atau tangguh pusaka yang dimiliki sekaligus memperoleh edukasi mengenai teknik perawatan pusaka secara mandiri.

"Khusus tahun ini kami juga membuka layanan sertifikasi pusaka dan tosan aji. Harapannya masyarakat semakin memahami nilai historis pusaka yang dimiliki sehingga dapat dirawat dengan baik," jelas Ilham.

Ia menegaskan bahwa tradisi perkerisan tidak boleh dipandang semata dari sisi mistis, melainkan sebagai bagian dari kearifan lokal yang mengandung nilai seni, teknologi, sejarah, dan identitas budaya bangsa.


"Generasi muda harus tahu bahwa keris bukan sekadar benda tajam, tetapi simbol jati diri dan kedaulatan budaya. Ini adalah warisan luhur yang harus terus dijaga," tegasnya.

Kehadiran para tokoh seni dan budaya tersebut semakin memperkuat makna Gelar Budaya Keris 2026 sebagai ruang silaturahmi sekaligus forum pelestarian warisan leluhur. Acara ini menjadi wadah bertemunya para budayawan, seniman, pegiat sastra, dan pemerhati budaya untuk bersama-sama menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga pusaka sebagai identitas bangsa.

Tradisi jamasan juga berhasil memikat perhatian wisatawan mancanegara. Seorang wisatawan asal Prancis, Zoe Couliard, mengaku terkesan melihat benda-benda pusaka berusia ratusan tahun yang masih terawat dengan baik hingga kini.

"Saya tidak sengaja melewati tempat ini. Di negara saya tidak ada tradisi seperti ini. Sangat mengagumkan melihat benda-benda kuno yang usianya ratusan tahun masih dirawat dan dijaga oleh generasi penerus," ungkap Zoe.

Melalui Gelar Budaya Keris 2026, Panji Blambangan berharap masyarakat, khususnya generasi muda, semakin mengenal kekayaan budaya bangsa dan tumbuh kesadaran untuk menjaga pusaka sebagai bagian dari identitas serta warisan luhur Indonesia. (Syaf)

Kemenag Banyuwangi dan LKKNU Tandatangani MoA, Perkuat Ketahanan Keluarga dan Cegah Perkawinan Anak


Banyuwangi
 (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi bersama Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) PCNU Banyuwangi menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) tentang sinergi program keluarga maslahah, bimbingan perkawinan, penguatan ketahanan keluarga, pencegahan perkawinan anak, isbat nikah terpadu, dan pelayanan keagamaan bagi masyarakat. Penandatanganan MoA tersebut dilaksanakan di Hedon Cafe Banyuwangi, Rabu (17/6/2026).

MoA ditandatangani oleh Ketua LKKNU PCNU Banyuwangi, Dalilatus Sa’adah, dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat. Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan keluarga berbasis nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah sekaligus menjawab berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa tantangan keluarga saat ini semakin kompleks. Salah satu yang menjadi perhatian adalah derasnya arus informasi di media sosial yang dipengaruhi algoritma digital.

“Saat ini algoritma media sosial sangat masif. Yang muncul bukan hanya konten-konten positif, tetapi tidak jarang juga konten negatif yang dapat memengaruhi moral dan pola pikir remaja. Karena itu diperlukan penguatan keluarga dan pendidikan nilai-nilai keagamaan agar generasi muda memiliki filter yang kuat dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi,” ujarnya.

Menurut Chaironi, LKKNU memiliki posisi strategis sebagai mitra pemerintah dalam membangun ketahanan keluarga dan melakukan edukasi kepada masyarakat. Melalui jaringan yang dimiliki hingga tingkat akar rumput, LKKNU diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam membina keluarga dan mencegah berbagai persoalan sosial.

Ia juga menyoroti masih tingginya angka perceraian dan perkawinan anak di Banyuwangi. Kondisi tersebut membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, organisasi keagamaan, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen bangsa.

“LKKNU menjadi salah satu organisasi yang dapat membantu mengurangi persoalan tersebut. Kita berharap melalui program-program pendampingan keluarga, bimbingan perkawinan, edukasi keluarga sakinah, dan pencegahan perkawinan anak, angka perceraian maupun perkawinan anak di Banyuwangi dapat terus ditekan,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua LKKNU Banyuwangi menyampaikan bahwa kerja sama ini akan menjadi landasan pelaksanaan berbagai program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Program-program tersebut meliputi penguatan keluarga maslahah, konseling keluarga, bimbingan perkawinan bagi calon pengantin, pendampingan pascanikah, pencegahan perkawinan anak, pembinaan keluarga sakinah, penyuluhan keagamaan, hingga pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.


Dalam MoA tersebut juga ditegaskan bahwa salah satu tujuan kerja sama adalah mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, meningkatkan kualitas kehidupan keluarga muslim, menurunkan angka perceraian dan perkawinan anak, serta memperkuat pelayanan keagamaan kepada masyarakat.

Melalui sinergi antara Kementerian Agama dan LKKNU Banyuwangi ini, diharapkan lahir berbagai program nyata yang mampu memperkuat fondasi keluarga sebagai benteng utama dalam menghadapi tantangan zaman, sehingga tercipta masyarakat Banyuwangi yang lebih tangguh, harmonis, dan berdaya saing. (dll)

Merawat Keluarga, Merawat Bangsa: Khidmah Marifatul Kamila dalam Penguatan Kemaslahatan Umat di LKKNU Banyuwangi

 Merawat Keluarga, Merawat Bangsa: Khidmah Marifatul Kamila dalam Penguatan Kemaslahatan Umat

Di tengah meningkatnya berbagai persoalan keluarga—mulai dari perceraian, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga persoalan administrasi kependudukan—kehadiran Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Banyuwangi menjadi semakin relevan. Berbagai program yang digagasnya bukan sekadar kegiatan organisasi, melainkan ikhtiar membangun fondasi masyarakat dari unit terkecil bernama keluarga. Dalam kerja-kerja kemaslahatan itu, keberadaan Dewan Pakar menjadi salah satu kekuatan penting yang memberikan arah, pandangan, sekaligus jembatan antara gagasan dan kebijakan publik.


Salah satu sosok yang mengisi ruang strategis tersebut adalah Marifatul Kamila, S.H., atau yang akrab disapa Rifa. Keterlibatannya sebagai Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi bukan sekadar melengkapi struktur organisasi, tetapi menghadirkan pengalaman panjang di bidang pemerintahan, hukum, dan pelayanan masyarakat. Sebagai Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Banyuwangi dari Fraksi Partai Golkar, Rifa terbiasa berhadapan dengan berbagai persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan warga. Mulai dari pelayanan publik, perlindungan perempuan dan anak, hingga penguatan tata kelola pemerintahan menjadi bagian dari kesehariannya sebagai legislator.

Karena itu, ketika LKKNU Banyuwangi memilih memperkuat gerakan penguatan keluarga melalui sinergi dengan berbagai lembaga pemerintah, kehadiran Rifa menjadi sangat relevan. Pengalaman menyusun kebijakan publik berpadu dengan kepekaan terhadap realitas sosial masyarakat, sehingga mampu memberikan perspektif yang dibutuhkan dalam merancang program-program yang benar-benar menyentuh kebutuhan umat.

Hal tersebut terlihat dari langkah-langkah yang kini dijalankan LKKNU Banyuwangi. Organisasi ini aktif membangun kerja sama dengan berbagai instansi, di antaranya Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Banyuwangi untuk memberikan pendampingan administrasi kependudukan bagi masyarakat. Program pelayanan pembuatan KTP, Kartu Keluarga, hingga dokumen kependudukan lainnya bukan hanya urusan administratif, tetapi menyangkut hak-hak dasar warga negara yang menjadi pintu masuk terhadap layanan pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan hukum.

Tidak berhenti di situ, LKKNU juga memperluas kemitraan dengan Dinas Sosial serta Pengadilan Agama Banyuwangi melalui program pembinaan calon pengantin. Langkah ini menunjukkan bahwa membangun keluarga yang kuat tidak cukup dimulai ketika persoalan telah muncul, tetapi sejak sebelum akad nikah dilaksanakan. Pembekalan mengenai kesiapan mental, tanggung jawab, hak dan kewajiban suami istri, hingga tertib administrasi menjadi investasi sosial yang sangat penting dalam membangun rumah tangga yang kokoh.

Program pernikahan massal yang didukung LKKNU juga memiliki makna lebih dari sekadar seremoni. Legalitas pernikahan memberikan kepastian hukum bagi pasangan maupun anak-anak yang lahir dari keluarga tersebut. Dalam perspektif Islam, menjaga keturunan (hifzh an-nasl) merupakan salah satu tujuan utama syariat yang harus diwujudkan melalui perlindungan terhadap hak-hak keluarga.

Selain pelayanan langsung kepada masyarakat, LKKNU Banyuwangi terus menghadirkan ruang edukasi melalui berbagai forum seperti Intimate Sharing Session. Forum ini menjadi tempat berdialog mengenai komunikasi dalam rumah tangga, pola pengasuhan anak, kesehatan mental keluarga, hingga tantangan kehidupan digital yang kini semakin memengaruhi hubungan antaranggota keluarga. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa ketahanan keluarga tidak cukup dibangun melalui ceramah, tetapi juga melalui ruang belajar bersama yang terbuka dan solutif.

Dalam seluruh rangkaian program tersebut, Dewan Pakar memiliki fungsi yang sangat strategis. Mereka menjadi tempat bertemunya pengalaman, ilmu pengetahuan, dan kebijakan. Organisasi yang besar tidak hanya membutuhkan pengurus yang bekerja di lapangan, tetapi juga para pemikir yang mampu melihat persoalan secara lebih luas dan memberikan arah jangka panjang. Di sinilah peran Marifatul Kamila menemukan maknanya.

Pengalaman Rifa dalam dunia legislatif membuatnya memahami bahwa pembangunan sejati tidak hanya diukur dari berdirinya jalan, jembatan, atau gedung-gedung megah. Pembangunan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat memiliki keluarga yang sehat, perempuan merasa aman, anak-anak tumbuh dengan kasih sayang, dan setiap warga memperoleh hak-hak dasarnya secara adil.

Cara pandang tersebut tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari lingkungan keluarga Nahdliyin yang kuat. Ayahnya, Salimi Irfan, merupakan Kepala Kantor Urusan Agama yang dikenal sebagai sosok sederhana dan penuh dedikasi dalam melayani masyarakat melalui Kementerian Agama. Dari lingkungan keluarga itulah Rifa belajar bahwa jabatan bukanlah simbol kehormatan, melainkan amanah yang harus diwujudkan melalui pelayanan.

Tradisi Nahdlatul Ulama yang akrab dengan kehidupan keluarganya juga membentuk karakter kepedulian sosial sejak dini. Ia memahami bahwa agama tidak berhenti pada ibadah ritual, tetapi harus hadir dalam penyelesaian persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Nilai-nilai itulah yang kemudian terus dibawa dalam perjalanan politik maupun aktivitas sosialnya.

Karena itu, kehadiran Rifa di LKKNU Banyuwangi terasa sebagai kelanjutan dari jalan pengabdian yang telah ditempuh sejak lama. Politik, organisasi kemasyarakatan, dan pelayanan umat bukanlah tiga ruang yang terpisah, melainkan saling melengkapi dalam menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Dalam pandangan Islam, keluarga merupakan madrasah pertama tempat nilai-nilai keimanan, akhlak, kasih sayang, dan tanggung jawab ditanamkan. Dari keluarga yang sehat lahir generasi yang akan memimpin masyarakat pada masa depan. Sebaliknya, ketika keluarga rapuh, berbagai persoalan sosial akan bermunculan dan sulit diselesaikan hanya melalui kebijakan pemerintah.

Karena itu, setiap ikhtiar memperkuat keluarga sejatinya adalah investasi peradaban. Program-program yang dijalankan LKKNU Banyuwangi mungkin tidak selalu menjadi sorotan, tetapi manfaatnya akan dirasakan dalam jangka panjang. Di balik pelayanan administrasi, pembinaan calon pengantin, edukasi keluarga, hingga pendampingan masyarakat, tersimpan harapan besar untuk melahirkan keluarga-keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Marifatul Kamila menjadi salah satu contoh bahwa pengalaman di dunia kebijakan publik dapat berjalan seiring dengan semangat khidmah di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ketika kebijakan bertemu kepedulian, dan pengalaman berpadu dengan nilai-nilai keagamaan, maka lahirlah pengabdian yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga menyiapkan masa depan.

Sebab bangsa yang kuat selalu dimulai dari keluarga yang kuat. Dan keluarga yang kuat hanya dapat dibangun melalui kehadiran orang-orang yang bersedia mengabdikan ilmu, pengalaman, dan waktunya untuk kemaslahatan umat. Itulah ikhtiar yang sedang dirawat LKKNU Banyuwangi, bersama para pengurusnya, para Dewan Pakarnya, dan seluruh elemen masyarakat yang meyakini bahwa membangun keluarga berarti sedang membangun peradaban. (dll)

Sambut Tahun Baru Hijriah, PCNU Banyuwangi Gelar Sholawatan dan Musikalitas Puisi Sembari Menanti Hasil Hilal


Banyuwangi – Menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, PCNU Banyuwangi menghadirkan cara berbeda melalui kegiatan sholawatan, dzikir, dan musikalitas puisi yang digelar di halaman Kantor PCNU Banyuwangi, Senin malam (15/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang spiritual sekaligus kultural sembari menanti informasi resmi hasil rukyatul hilal awal Muharram dari PBNU.

Sejak pukul 18.00 WIB, suasana di depan kantor PCNU Banyuwangi dipenuhi lantunan tahlil, doa, dan sholawat yang dibawakan secara khidmat dengan iringan musik religi dari al-Faruq Entertainment, serta dukungan tata suara dari Sultan Production Muncar. Kegiatan itu menarik perhatian masyarakat yang melintas untuk turut menyimak syiar keagamaan bernuansa seni tersebut.

Tidak sekadar seremoni menyambut pergantian tahun Hijriah, acara dikemas sebagai media pendekatan dakwah yang lebih akrab dengan masyarakat. Spirit religius dipadukan dengan ekspresi seni melalui pembacaan puisi dan lagu-lagu Islami yang dibawakan para pengurus NU.

Sekretaris PCNU Banyuwangi, H. Bisri Musthofa, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan syiar Islam yang menenangkan sekaligus mendekatkan masyarakat kepada tradisi keagamaan Nahdlatul Ulama.

“Kami ingin malam pergantian tahun Hijriah ini diisi dengan doa, sholawat, sekaligus ekspresi budaya Islam. Ada nilai syiar, hiburan yang mendidik, juga edukasi kepada masyarakat tentang proses penetapan awal bulan Hijriah,” ujarnya.

Suasana semakin khidmat ketika sekitar pukul 20.00 WIB diumumkan hasil rukyatul hilal dari PBNU. Di sela kegiatan, Haikal Kafili, Kepala Staf Kantor sekaligus Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi, menyampaikan keputusan terkait awal bulan Muharram kepada para peserta.

Ia menyebutkan bahwa berdasarkan laporan rukyat di berbagai titik, hilal belum berhasil terlihat sehingga bulan Dzulhijjah disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal).

“Karena hilal tidak tampak, maka dilakukan istikmal. Dengan demikian, 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada hari Rabu, 17 Juni 2026,” jelasnya di hadapan jamaah dan masyarakat yang hadir.

Usai pengumuman, acara berlanjut dengan pembacaan musikalitas puisi oleh sejumlah fungsionaris PCNU Banyuwangi. Di antaranya tampil H. Guntur Al Badri, H. Bisri Musthofa, serta pengurus lainnya yang membacakan puisi bertema Muharram, refleksi perjuangan, hingga renungan tentang pengabdian dalam berkhidmat di NU.

Sebagian besar puisi yang dibacakan memuat pesan introspeksi dan otokritik organisasi, mengajak warga NU untuk terus menjaga semangat pelayanan, persatuan, dan kebermanfaatan sosial.

Menjelang akhir acara, seluruh peserta larut dalam suasana kebersamaan saat Sholawat Badar dan Yalal Wathon dikumandangkan bersama. Tepat pukul 23.00 WIB, kegiatan ditutup dengan doa bersama, meninggalkan kesan bahwa malam penantian hilal dapat menjadi ruang syiar yang hangat, damai, dan sarat makna.

Ribuan Warga Padati Taman Blambangan, Polresta Banyuwangi Gelar Wayang Kulit Sambut Hari Bhayangkara ke-80

 

Banyuwangi (Warta Blambangan)Malam di Taman Blambangan Banyuwangi berubah menjadi lautan manusia dan cahaya budaya. Ribuan warga dari berbagai penjuru Banyuwangi memadati alun-alun kota untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit yang digelar Polresta Banyuwangi dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80, Sabtu (13/6) malam.

Di bawah langit Banyuwangi yang teduh, denting gamelan dan suluk dalang berpadu menghadirkan suasana religius dan khidmat. Pagelaran wayang kulit dengan lakon Pandawa Mbangun Praja menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati lahir dari pengabdian, kejujuran, dan keberpihakan kepada rakyat.


Dalang Ki MPP Bayu Aji membawakan kisah Pandawa yang membangun negeri dengan penuh kebijaksanaan dan pengorbanan. Lakon ini sarat nilai moral tentang pentingnya menegakkan kebenaran, menjaga amanah, serta menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Acara tersebut dihadiri Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Wakil Bupati Mujiono, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan, Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara, jajaran Forkopimda, tokoh agama, serta tokoh masyarakat.

Kapolda Jatim: Wayang Kulit Menguatkan Semangat Polri untuk Masyarakat

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto mengatakan, pagelaran wayang kulit menjadi bagian dari rangkaian Hari Bhayangkara ke-80 sekaligus ikhtiar mempererat hubungan Polri dengan masyarakat melalui pelestarian budaya bangsa.

Menurutnya, nilai-nilai dalam lakon Pandawa Mbangun Praja sejalan dengan semangat Polri dalam memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

"Polri terus membangun dan memperbaiki diri melalui tema besar Polri untuk Masyarakat. Sosok Pandawa merupakan representasi pelindung dan pengayom masyarakat yang rela berkorban demi tegaknya kebenaran dan keadilan," ujar Nanang.

Ia menegaskan, peringatan Hari Bhayangkara bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum muhasabah bagi seluruh anggota Polri agar terus meningkatkan kualitas pelayanan dan kehadiran di tengah masyarakat.

"Seluruh anggota Polri harus senantiasa hadir di tengah masyarakat, memberikan rasa aman, mencegah berbagai bentuk kejahatan dan ketidakadilan, serta menjadi teladan dalam memberikan pelayanan yang prima," katanya.

Lebih lanjut, Nanang menyebut nilai-nilai pewayangan tersebut juga selaras dengan semangat Jogo Jawa Timur, yakni membangun sinergi antara aparat keamanan, ulama, umaro, dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keamanan serta kondusivitas daerah.

Bupati Banyuwangi: Wayang Kulit Bukan Sekadar Hiburan

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi inisiatif Polresta Banyuwangi yang menghadirkan pertunjukan budaya sebagai bagian dari peringatan Hari Bhayangkara.

Menurutnya, wayang kulit bukan hanya tontonan rakyat, melainkan media dakwah budaya yang sarat nilai moral, kebersamaan, dan semangat persatuan.

"Pagelaran budaya seperti ini penting untuk terus dilestarikan. Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, juga menjadi sarana memperkuat persatuan dan menjaga warisan budaya bangsa," ujar Ipuk.

Ia menambahkan, Banyuwangi selama ini dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai keberagaman dan kerukunan antarwarga. Karena itu, seluruh elemen masyarakat diharapkan terus menjaga harmoni yang telah terbangun dengan baik.

"Kebersamaan dan gotong royong menjadi modal penting dalam menjaga Banyuwangi tetap aman, damai, dan kondusif," tuturnya.

Budaya, Religi, dan Kebersamaan Menjadi Satu

Pagelaran wayang kulit yang berlangsung hingga larut malam itu mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Anak-anak, orang tua, hingga para santri tampak larut dalam alur cerita dan tembang-tembang Jawa yang mengandung petuah kehidupan.

Melalui kegiatan ini, Polresta Banyuwangi tidak hanya memperingati Hari Bhayangkara ke-80, tetapi juga menunjukkan komitmen untuk terus mendekatkan diri dengan masyarakat melalui pendekatan budaya yang sarat makna religi dan kebangsaan.

Di tengah derasnya arus modernisasi, malam itu Taman Blambangan menjadi saksi bahwa seni tradisi tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Wayang kulit bukan sekadar warisan leluhur, melainkan cahaya nilai yang terus menuntun kehidupan: menjaga kebenaran, merawat persaudaraan, dan menebarkan kedamaian.

Dr. Moh. Amak Burhanudin, Menanam Doa dari Pelaminan: Ketika Bibit Sawo Kecik Menjadi Sedekah Kehidupan

Kediri (Warta Blambangan) Di antara lantunan doa yang mengiringi akad dan resepsi pernikahan, terselip sebuah pesan sunyi yang kelak akan tumbuh menjulang ke langit. Bukan sekadar rangkaian bunga atau suvenir kenangan, para tamu yang menghadiri resepsi putra pertama Dr. Moh. Amak Burhanudin, Kabid PAIS Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, di Convention Hall Simpang Lima Gumul, Kediri, Sabtu (13/6/2026), membawa pulang bibit pohon sawo kecik—sebuah amanah untuk ditanam dan dirawat sebagai bagian dari ikhtiar menjaga bumi.

Di tangan para tamu, bibit-bibit kecil itu bukan hanya tanaman. Ia adalah doa yang dibungkus tanah, harapan yang dititipkan kepada musim, serta sedekah hijau yang kelak menghadirkan manfaat bagi kehidupan.


Langkah sederhana tersebut menjadi bagian dari gerakan ekoteologi yang terus digelorakan Kementerian Agama. Sebuah ikhtiar untuk menghadirkan kesadaran bahwa mencintai lingkungan sejatinya merupakan bagian dari penghambaan kepada Allah SWT. Sebab bumi bukan sekadar tempat berpijak, melainkan amanah yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan baik.

Pilihan pada pohon sawo kecik pun bukan tanpa makna. Dalam kearifan budaya Jawa, sawo kecik dikenal melalui ungkapan sarwa becik yang berarti serba baik. Pohon yang bernama ilmiah Manilkara kauki itu menjadi simbol harapan agar setiap manusia mampu menebarkan kebaikan sebagaimana pohon yang memberi keteduhan, menghasilkan buah, dan tetap berdiri teguh meski diterpa musim yang silih berganti.

Filosofi itu terasa sejalan dengan makna sebuah pernikahan. Dua insan yang dipersatukan dalam ikatan suci tidak hanya membangun rumah tangga, tetapi juga menanam benih-benih kebaikan yang diharapkan tumbuh menjadi keberkahan bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya.

Selain sarat nilai simbolik, sawo kecik juga dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan. Buahnya kaya nutrisi yang membantu menjaga kesehatan tubuh, sementara kayunya yang kuat sejak lama dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Seperti halnya amal saleh, manfaat pohon ini terus mengalir bahkan setelah waktu berlalu.

Hadir dalam acara tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Chaironi Hidayat, menyampaikan apresiasi atas langkah keluarga mempelai yang menjadikan momentum pernikahan sebagai sarana menebarkan kesadaran ekologis.

Menurutnya, gerakan menanam pohon yang saat ini terus didorong Kementerian Agama merupakan bagian dari implementasi ekoteologi yang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Bahkan, calon pengantin juga dianjurkan untuk menanam pohon sebagai simbol tanggung jawab terhadap keberlanjutan kehidupan.

“Gerakan menanam pohon ini merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran ekologis masyarakat. Saat ini Kementerian Agama terus menggalakkan program ekoteologi, termasuk mendorong calon pengantin untuk ikut menanam pohon. Harapannya, setiap peristiwa bahagia juga membawa manfaat bagi lingkungan dan generasi yang akan datang,” ujarnya.


Resepsi yang berlangsung penuh kehangatan itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan penyatuan dua keluarga. Ia menjelma majelis kebajikan yang mengajarkan bahwa cinta tidak hanya diwujudkan dalam janji setia antarmanusia, tetapi juga dalam kepedulian terhadap alam semesta.

Kelak, ketika bibit-bibit sawo kecik itu tumbuh menjadi pohon yang rindang, mengeluarkan buah, dan memberi teduh bagi siapa saja yang singgah di bawahnya, akan tersimpan sebuah kenangan indah: bahwa pada hari bahagia itu, para tamu tidak hanya pulang membawa suvenir, melainkan juga membawa sebutir amanah untuk menanam kehidupan.

Sebab setiap pohon yang tumbuh adalah tasbih yang tak bersuara, setiap daun yang berembun adalah doa yang terus dipanjatkan, dan setiap kebaikan yang ditanam dengan ikhlas akan kembali kepada penanamnya sebagai keberkahan yang tak pernah putus.

Porsadin Banyuwangi Jadi Panggung Bakat Santri, Lomba Puisi Dinilai Seniman Dewan Kesenian Belambangan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Ratusan santri Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) se-Kecamatan Banyuwangi menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam ajang Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah Takmiliyah (Porsadin) Tahun 2026 yang berlangsung di Madin At Taqwa Wustho, Kompleks MA Muhammadiyah 1 Pakis Duren Banyuwangi, Ahad (14/6/2026).

Kegiatan yang mengangkat tema “Berkhidmah Bersama Madrasah Diniyah Membangun Karakter Bangsa” tersebut menjadi sarana pembinaan sekaligus pengembangan potensi santri dalam bidang keagamaan, seni, dan keterampilan. Semangat yang diusung dalam Porsadin kali ini terangkum dalam slogan “Berprestasi dalam Iman, Unggul dalam Akhlak, Sportif dalam Kompetisi.”


Sejak pagi, para peserta tampak antusias mengikuti berbagai cabang perlombaan yang digelar panitia. Di antaranya Tahfidz Juz Amma, MTQ, Murottal wal Imla’, Adzan, Pidato Bahasa Indonesia, Pidato Bahasa Arab, hingga Lomba Puisi Islami.

Cabang puisi menjadi salah satu perlombaan yang menyita perhatian. Selain menampilkan kemampuan santri dalam mengolah kata dan rasa, lomba ini menghadirkan dua tokoh seni Banyuwangi sebagai dewan juri, yakni H. Bambang Lukito dan H. Syafaat, ASN Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang juga dikenal sebagai Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.

Kehadiran keduanya memberikan sentuhan tersendiri dalam proses penilaian. Para peserta tidak hanya diuji kemampuan membaca puisi, tetapi juga penghayatan, ekspresi, artikulasi, serta kemampuan menyampaikan nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam karya yang dibacakan.

Adapun puisi yang wajib dibawakan peserta merupakan karya para sastrawan dan budayawan terkemuka Indonesia, yaitu Ibu karya Gus Mus, Ketika Engkau Bersembahyang karya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Doa karya Chairil Anwar, Sajadah Panjang karya Taufiq Ismail, dan Tiarap karya KH D. Zawawi Imron.

Ketua FKDT Kabupaten Banyuwangi, Ahmad Masruhan Hamidi, S.E.I., menilai pelaksanaan Porsadin Kecamatan Banyuwangi berjalan dengan baik dan layak menjadi contoh bagi kecamatan lainnya.

“Porsadin bukan hanya tentang mencari juara. Yang lebih penting adalah membangun karakter santri, menumbuhkan rasa percaya diri, serta memperkuat persaudaraan antar-lembaga madrasah diniyah,” ungkapnya.

Menurut Ahmad Masruhan, Madrasah Diniyah Takmiliyah memiliki kontribusi besar dalam membentuk generasi muda yang berakhlak dan memiliki pemahaman agama yang baik. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat, keberadaan madrasah diniyah menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Ia juga melihat perkembangan madrasah diniyah di Banyuwangi terus menunjukkan kemajuan. Tidak hanya berkembang di lingkungan pedesaan, lembaga pendidikan keagamaan tersebut kini semakin diminati masyarakat perkotaan.

“Ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan agama semakin meningkat. Karena itu, madrasah diniyah harus terus didorong agar semakin maju dan mampu menjawab tantangan zaman,” katanya.

Melalui Porsadin 2026, FKDT berharap lahir generasi santri yang tidak hanya unggul dalam kemampuan akademik dan keagamaan, tetapi juga memiliki karakter kuat, kecintaan terhadap seni budaya, serta semangat kompetisi yang sehat. Ajang ini sekaligus menjadi ruang bagi santri untuk menunjukkan bahwa pendidikan diniyah mampu melahirkan pribadi-pribadi yang berprestasi dan berkontribusi bagi bangsa.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger