Pages

Kopi 11 Banyuwangi Jadi Daya Tarik Stan MTsN 11 pada Bazar UMKM HAB ke-80 Kemenag

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Semarak peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia di Kabupaten Banyuwangi turut diwarnai oleh kehadiran bazar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang digelar pada Minggu, 4 Januari 2026. Salah satu peserta yang menarik perhatian pengunjung adalah stan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 11 Banyuwangi.

Sebagai Madrasah Tsanawiyah Negeri pertama yang berdiri di wilayah Kalibaru, MTsN 11 Banyuwangi menghadirkan produk unggulan bertajuk “Kopi 11 Banyuwangi”. Produk ini merupakan hasil pengolahan kopi lokal yang dikembangkan melalui pembinaan madrasah sebagai bagian dari penguatan jiwa kewirausahaan.

Beragam varian kopi ditampilkan, di antaranya kopi robusta Kalibaru, kopi luwak robusta, serta kopi lanang. Ketiga jenis kopi tersebut dikenal memiliki karakter rasa yang khas, mencerminkan kualitas kopi Kalibaru yang telah lama menjadi salah satu ikon perkebunan di Banyuwangi.


Kepala MTsN 11 Banyuwangi, Wahyudi Eko Santoso, menjelaskan bahwa partisipasi dalam bazar UMKM ini tidak sekadar untuk memeriahkan HAB ke-80, tetapi juga sebagai media promosi potensi lokal sekaligus sarana pembelajaran kewirausahaan bagi warga madrasah.

“Melalui Kopi 11 Banyuwangi, kami ingin menumbuhkan semangat kreatif dan mandiri, serta mengenalkan produk lokal kepada masyarakat yang lebih luas,” ungkapnya.

Antusiasme pengunjung terlihat dari ramainya stan MTsN 11 Banyuwangi yang disinggahi peserta bazar. Banyak pengunjung tertarik untuk mengenal lebih dekat sekaligus mencicipi kopi khas Kalibaru yang ditawarkan.

Kegiatan bazar UMKM ini menjadi salah satu wujud nyata sinergi Kementerian Agama dengan satuan pendidikan dalam mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat, sejalan dengan semangat HAB ke-80 Kemenag RI.

Guru MTsN 8 Banyuwangi Menyuguhkan Gandrung Lanang di Panggung Kerukunan HAB ke-80 Kemenag RI

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Minggu, 4 Januari 2025, berdenyut dalam irama langkah dan senyum. Ribuan kaki melangkah ringan dalam Gebyar Jalan Sehat dan Pameran UMKM, rangkaian Bazar UMKM Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia. Di antara hiruk-pikuk kebersamaan itu, sebuah tarian bangkit dari ingatan sejarah, menari bukan sekadar untuk ditonton, tetapi untuk diingat.

Adalah Gilang Ilham, guru seni budaya MTsN 8 Banyuwangi di Kecamatan Genteng, yang menghadirkan Tari Gandrung Lanang ke hadapan publik. Geraknya luwes, tatapannya tajam namun lembut, seolah mengajak penonton menelusuri lorong waktu, kembali ke masa ketika Gandrung pertama kali ditarikan oleh lelaki—sebelum zaman mengubah wajahnya.

Di tengah tema besar kegiatan, “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, Gandrung Lanang tampil sebagai simbol: bahwa kerukunan tidak hanya dirawat lewat kata dan seremonial, tetapi juga melalui ingatan budaya yang dijaga dengan penuh hormat. ASN Kementerian Agama, pelaku UMKM, insan madrasah, dan masyarakat umum larut dalam pesona tarian yang bukan sekadar hiburan, melainkan pelajaran sunyi tentang asal-usul. 


Gilang Ilham tidak sekadar menari; ia berkisah dengan tubuhnya. Setiap gerak adalah pengingat bahwa Gandrung Lanang merupakan akar dari pohon kebudayaan Banyuwangi. “Ini bukan nostalgia,” seolah demikian pesan yang disampaikan, “melainkan tanggung jawab untuk mengenalkan sejarah kepada generasi yang tumbuh di tengah arus modernitas.”

Kepala MTsN 8 Banyuwangi pun menegaskan bahwa madrasah bukan hanya ruang belajar angka dan huruf, melainkan juga taman tempat nilai dan jati diri ditumbuhkan. Pelestarian seni budaya lokal, menurutnya, adalah bagian dari pendidikan karakter—agar peserta didik mengenal siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan ke mana ia melangkah.

Dengan penampilan Gandrung Lanang itu, peringatan HAB ke-80 Kementerian Agama RI menjelma lebih dari sekadar perayaan tahunan. Ia menjadi ruang temu antara agama dan budaya, antara nilai spiritual dan kearifan lokal, antara denyut ekonomi umat dan ingatan sejarah. Di panggung sederhana itu, Banyuwangi kembali mengajarkan satu hal penting: bahwa kemajuan sejati selalu berpijak pada akar yang dijaga.

Jalan Sehat Kerukunan sebagai Instrumen Penguatan Kohesi Sosial pada Peringatan HAB ke-80 Kementerian Agama di Banyuwangi



BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan kegiatan Jalan Sehat Kerukunan dalam rangka memperingati Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, pada Minggu, 4 Januari 2026. Kegiatan yang dipusatkan di GOR Tawang Alun Banyuwangi ini merupakan bagian dari strategi institusional Kementerian Agama dalam memperkuat kohesi sosial dan internalisasi nilai-nilai kerukunan di tengah masyarakat multikultural.


Kegiatan tersebut diikuti oleh lebih dari 5.000 peserta yang berasal dari berbagai unsur, meliputi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi dan Kantor Urusan Agama (KUA) se-kabupaten, peserta didik madrasah di wilayah perkotaan Banyuwangi, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan lintas agama. Tingginya partisipasi lintas sektor ini mencerminkan adanya kesadaran kolektif terhadap pentingnya penguatan harmoni sosial sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa jalan sehat kerukunan berfungsi sebagai medium edukatif dalam menanamkan nilai toleransi, kebersamaan, dan persatuan. Menurutnya, kerukunan umat beragama merupakan modal sosial strategis yang berkontribusi signifikan terhadap stabilitas sosial dan keberlanjutan pembangunan nasional.

Dalam konteks peringatan HAB ke-80, kegiatan ini dimaknai sebagai momentum reflektif untuk mempererat jejaring sosial dan memperkuat solidaritas antarkelompok masyarakat. Kerukunan, lanjutnya, tidak cukup dipahami secara normatif, melainkan perlu diaktualisasikan melalui aktivitas kolektif yang melibatkan partisipasi aktif berbagai elemen masyarakat.

Pemilihan rute kegiatan di sekitar kawasan GOR Tawang Alun didasarkan pada pertimbangan teknis dan fungsional, khususnya terkait aspek keamanan, kenyamanan peserta, serta efektivitas pengelolaan arus lalu lintas. Penataan rute ini bertujuan memastikan kegiatan berlangsung secara tertib, aman, dan tidak mengganggu aktivitas publik di pusat Kota Banyuwangi. 

Secara konseptual, jalan sehat kerukunan ini tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas promotif kesehatan, tetapi juga sebagai representasi empiris sinergi lintas iman, lintas generasi, dan lintas kelembagaan. Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama menegaskan perannya sebagai institusi strategis dalam membangun dan memelihara kohesi sosial masyarakat dalam bingkai persatuan dan kerukunan nasional.

Bedah Buku Hadis Warnai Peringatan HAB ke-80 Kemenag di Banyuwangi

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia di Kabupaten Banyuwangi tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga dengan penguatan tradisi literasi dan diskursus keagamaan. Salah satunya melalui kegiatan bedah buku yang diselenggarakan Panitia HAB Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pada Sabtu, 3 Januari 2026, di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Banyuwangi, Kecamatan Genteng.

Buku yang dibahas berjudul Fondasi Iman dan Akhlak: Refleksi Mendalam 13 Hadits Arbain Imam Nawawi, karya Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur pemangku kepentingan di bidang keagamaan dan pendidikan, mulai dari Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), kepala madrasah, penghulu, penyuluh agama Islam, hingga pegiat literasi dan komunitas budaya di Banyuwangi. 


Ketua Dewan Kesenian Blambangan, Hasan Basri, yang hadir sebagai narasumber pembanding, menilai bahwa buku tersebut menawarkan pendekatan kontekstual dalam memahami hadis. Menurutnya, penulis berupaya mengaitkan pesan-pesan normatif hadis dengan realitas sosial dan budaya lokal, sehingga ajaran agama tidak berhenti pada tataran teks, tetapi dapat dipahami sebagai pedoman etis dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi, Samsudin Adlawi. Ia menekankan bahwa forum bedah buku merupakan ruang penting dalam membangun budaya literasi yang kritis dan produktif. Diskusi, kritik, dan pertukaran gagasan dalam forum semacam ini, menurutnya, menjadi bagian dari proses pengayaan pemahaman dan pendewasaan karya tulis keagamaan.

Dari perspektif sastra, Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Banyuwangi, Nurul Ludfia Rohmah, menyoroti kekuatan naratif dalam buku tersebut. Ia menilai bahwa penyajian hadis melalui narasi yang runtut dan komunikatif mampu menjembatani teks klasik dengan konteks masyarakat modern yang terus berkembang.

Sesi diskusi melibatkan berbagai pegiat literasi, di antaranya Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi, Aekanu Haryono dari Komunitas Kiling Osing Banyuwangi, serta Rahmatullah Jhon. Para peserta menyampaikan apresiasi sekaligus catatan kritis terkait perbedaan penafsiran terhadap beberapa hadis yang dikaji. Perbedaan tersebut dinilai masih berada dalam wilayah khilafiyah dan tidak menyentuh aspek prinsipil ajaran ibadah.

Menanggapi berbagai pandangan yang berkembang, Dr. Chaironi Hidayat menyampaikan bahwa perbedaan interpretasi merupakan bagian dari dinamika keilmuan Islam. Ia menegaskan pentingnya sikap terbuka dan dialogis dalam memahami ajaran agama, agar nilai-nilai keimanan dan akhlak dapat diaktualisasikan secara moderat dan kontekstual dalam kehidupan bermasyarakat.

Kegiatan bedah buku ini dilaksanakan setelah upacara peringatan Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia di MAN 2 Banyuwangi. Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan HAB ke-80 di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi berlangsung tertib dan mencerminkan komitmen lembaga dalam penguatan literasi keagamaan yang berkelanjutan.

Sego Liwet dan Nasi Kebuli Warnai Syukuran HAB ke-80 Kemenag Banyuwangi

BANYUWANGI – (Warta Blambangan) Dalam rangka mengungkapkan rasa syukur atas Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia ke-80 tahun 2026, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar acara syukuran pada Jumat (2/1/2026). Kegiatan ini berlangsung sederhana namun penuh kehangatan di lingkungan Kantor Kemenag Banyuwangi.

Syukuran HAB ke-80 terasa istimewa dengan hadirnya sajian khas Nusantara yang tidak lazim disuguhkan dalam kegiatan kedinasan, seperti sego liwet dan nasi kebuli. Hidangan tersebut menjadi simbol keberagaman budaya sekaligus kekayaan tradisi kuliner yang selaras dengan semangat Kementerian Agama dalam merawat dan memperkuat kebhinekaan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa kegiatan syukuran ini melibatkan seluruh Kepala Madrasah, Kepala KUA Kecamatan, serta pejabat dan pegawai di lingkungan Kemenag Banyuwangi. Menurutnya, peringatan HAB ke-80 menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang pengabdian Kementerian Agama dalam melayani umat, bangsa, dan negara.

“Kegiatan ini bukan sekadar syukuran, tetapi juga wujud kebersamaan dan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas pengabdian Kementerian Agama selama delapan dekade,” ujar Chaironi.

Ia menambahkan, kebersamaan yang terbangun dalam suasana sederhana namun penuh makna diharapkan mampu memperkuat soliditas serta semangat pengabdian seluruh jajaran Kementerian Agama di Kabupaten Banyuwangi. 


Acara tersebut turut dihadiri oleh mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Drs. H. Slamet, sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian para pendahulu dan kesinambungan sejarah institusi.

Dalam kesempatan yang sama, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi juga menyerahkan tanda kehormatan Satyalancana Pengabdian kepada sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang telah mengabdi selama 10 tahun, 20 tahun, hingga 30 tahun. Penganugerahan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi negara atas dedikasi, loyalitas, dan pengabdian para ASN di lingkungan Kementerian Agama.

Rangkaian acara syukuran HAB ke-80 Kementerian Agama ini ditutup dengan doa bersama, sebagai harapan agar Kementerian Agama ke depan semakin kuat, profesional, dan terus berperan sebagai perekat persatuan dalam keberagaman.

Bahagia dengan Kas Sejuta: Refleksi Akhir Tahun Aura Lentera

 


BANYUWANGI (31/12/2025) - Siang itu, hujan tipis menyelimuti Dusun Watu Ulo, Glagah, Banyuwangi. Di sebuah sudut Ajeg Resto, sekelompok orang duduk melingkar, makan siang bersama, tertawa, lalu perlahan masuk ke dalam perbincangan yang jauh dari kesan formal. Mereka adalah para relawan Yayasan Aura Lentera Indonesia—orang-orang yang selama bertahun-tahun bergerak senyap memperjuangkan hak penyandang disabilitas.

Tanggal 31 Desember 2025 bukan sekadar penutup tahun bagi mereka. Hari itu menjadi momen berhenti sejenak, menengok ke belakang, lalu menarik napas panjang untuk menatap jalan ke depan.

Pertemuan dibuka oleh Ali, yang akrab disapa Cik Nang. Suasana langsung cair ketika Aguk, sesepuh Aura Lentera, menyampaikan sambutan. Dengan nada reflektif, ia mengenang perjalanan panjang mendampingi Aura Lentera—dari kerja-kerja advokasi, liputan media, hingga obrolan-obrolan kecil yang justru menguatkan perjuangan besar: ekosistem inklusif dan kesetaraan hak bagi difabel.

Ketua Yayasan Aura Lentera Indonesia, Windoyo, kemudian berbicara dengan rendah hati. “Sebetulnya tidak banyak yang kita lakukan,” katanya. Namun dari hal-hal kecil itulah, kesadaran tentang hidup inklusif tumbuh—dimulai dari keluarga, sekolah, dan lingkungan terdekat.

Tahun 2025 menjadi penanda sejarah. Setelah berjuang sejak 2006 sebagai komunitas relawan tanpa badan hukum, Aura Lentera akhirnya resmi menjadi yayasan pada 7 Februari 2025. Legalitas yang dulu dianggap tak penting, kini justru menjadi pintu untuk melangkah lebih jauh.

“Tanpa legalitas, advokasi kita sering jalan di tempat,” ujar Windoyo. Banyak pihak ingin bergabung dan bekerja sama, tetapi terhalang status kelembagaan. Kini, dengan dokumentasi, SOP, dan tata kelola yang mulai dibenahi, Aura Lentera bersiap bergerak lebih profesional—tanpa kehilangan ruh kerelawanannya.

Laporan kegiatan dibacakan oleh Robin, aktivis yang lama berkecimpung di Aura Lentera. Sepanjang 2025, yayasan ini hadir di banyak ruang: dari jambore nasional penanggulangan bencana, rembug disabilitas, diskusi lintas pemangku kepentingan, hingga konvoi Hari Disabilitas Internasional. Mereka juga menjalin kerja sama dengan lembaga nasional dan internasional untuk memperkuat pemberdayaan anak disabilitas dan penyintas kusta.

Namun momen paling mengundang tawa datang saat laporan keuangan disampaikan. Titis, sang bendahara, menyebutkan angka pemasukan Rp2,6 juta dan pengeluaran Rp1,3 juta. “Untuk pertama kalinya, Aura Lentera punya kas,” katanya, disambut tawa dan tepuk tangan.

Kas tersisa sekitar satu juta rupiah. Angka yang mungkin kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi Aura Lentera, itu adalah kebahagiaan besar.



Indah, relawan senior yang telah malang melintang di level internasional, menegaskan makna kebahagiaan itu. “Tidak ada organisasi yang kasnya cuma sejuta tapi bahagia setengah mati, kecuali kita,” ujarnya sambil tertawa.

Menurutnya, kekayaan Aura Lentera justru terletak pada hal-hal yang tak tercatat: uang pribadi relawan yang menalangi kegiatan, kopi dan mie instan untuk keluarga difabel yang didampingi, serta tenaga dan waktu yang diberikan tanpa bayaran. Ada banyak relawan yang jarang hadir rapat, namun selalu sigap bergerak saat dibutuhkan. Itulah kekuatan sejati Aura Lentera.

Menjelang sore, obrolan beralih ke masa depan. Tantangan profesionalisme, kerja sama dengan lembaga donor, dan peningkatan manajemen keuangan menanti di depan. Namun satu hal tetap sama: semangat kebersamaan.

Di akhir tahun 2025, Aura Lentera tak hanya menutup buku laporan. Mereka menegaskan kembali satu keyakinan—bahwa perubahan besar bisa lahir dari langkah kecil, dari kas yang sederhana, dan dari hati para relawan yang tak pernah berhenti peduli.

Simfoni Aksara di Ambang Delapan Dasawarsa Kementerian Agama

 Simfoni Aksara di Ambang Delapan Dasawarsa Kementerian Agama

Catatan Seorang Juri: Menemukan Intan di Antara Goresan Tangan dan Kecerdasan Buatan

Pentigraf adalah paradoks yang diam-diam menuntut kedewasaan. Ia hanya meminta tiga paragraf, tetapi menagih kejujuran yang sering kali tidak selesai dituliskan seumur hidup. Ia pendek, namun tak memberi ruang bagi kebohongan. Setiap kata harus tiba tepat waktu, setiap kalimat harus tahu kapan berhenti. Seperti doa pendek yang dilafalkan tanpa pengeras suara, pentigraf mengajarkan bahwa yang ringkas tidak selalu dangkal, dan yang singkat tidak identik dengan sederhana. Di tengah peringatan Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama, saya diamanahi untuk membedah lebih dari dua ratus pentigraf, dua ratus dunia kecil yang masing-masing membawa harap, gugup, dan keberanian.


Tugas itu pada mulanya terdengar administratif: menilai, memilah, memberi skor. Namun sejak karya pertama dibuka, saya tahu ini bukan sekadar pekerjaan teknis. Yang datang ke hadapan saya bukan tumpukan teks yang seragam, melainkan keragaman yang hidup. Ada pentigraf yang lahir dari tangan-tangan terlatih, dengan struktur yang rapi dan kejutan yang terukur. Ada pula yang datang dengan kepolosan yang nyaris telanjang, cerita yang belum sepenuhnya matang, namun jujur dalam kebimbangannya. Di sanalah saya menyadari bahwa sastra, bahkan dalam bentuk paling singkatnya, selalu menjadi cermin batin penulisnya.

Yang paling menggetarkan bukan hanya isi cerita, melainkan cara karya-karya itu sampai kepada saya. Sebagian hadir sebagai dokumen digital yang tertata, tetapi tak sedikit yang tiba dalam bentuk foto kertas kusam, tulisan tangan yang miring, dan cahaya temaram yang membuat mata harus bekerja lebih keras. Saya membayangkan proses di baliknya: seseorang menulis di meja dapur, di teras rumah, di sela-sela pekerjaan, lalu memotret dengan ponsel seadanya, berharap file itu cukup terbaca untuk sampai kepada juri. Mereka adalah anak-anak didik kita yang baru saja selesai membasuh diri di telaga pelatihan literasi. Kemampuan mereka beragam, tetapi niat mereka satu: ingin didengar.

Peraturan panitia tentu berdiri dengan wibawanya sendiri. Format digital, dokumen PDF, kerapian administrasi, semua itu penting dalam sebuah sistem. Namun kehidupan jarang berjalan seideal buku panduan. Di lapangan, saya bertemu kenyataan yang lebih manusiawi: ada peserta yang hanya memiliki sebatang pena dan kertas karena laptop masih menjadi barang mewah. Ada yang bertarung dengan aplikasi WPS di layar ponsel kecil, menata kata demi kata dengan jari yang lelah, demi memenuhi janji batin untuk berkarya. Dalam situasi seperti itu, aturan tidak lagi sekadar alat penertiban, melainkan juga ujian nurani.

Saya bertanya pada diri sendiri: bagaimana mungkin kita merayakan Hari Amal Bakti, tetapi menutup pintu bagi mereka yang datang dengan segala keterbatasannya? Bagaimana mungkin lembaga yang lahir dari nilai-nilai keagamaan justru menghakimi niat tulus hanya karena kesalahan format? Membuang karya mereka karena tidak sesuai spesifikasi teknis terasa seperti mengkhianati esensi bakti itu sendiri. Sebab bakti, pada dasarnya, adalah tentang memuliakan usaha, bukan sekadar menegakkan aturan.

Maka saya memilih jalan yang lebih panjang dan lebih melelahkan. Ketika mata mulai perih karena harus membelalak mengeja lekuk tulisan tangan pada foto yang buram, saya memanggil seorang “sahabat baru” bernama Kecerdasan Buatan. Teknologi itu tidak saya posisikan sebagai penentu nilai, apalagi pengganti rasa, melainkan sebagai jembatan. Ia membantu saya mengonversi guratan tinta manual menjadi teks digital agar maknanya bisa saya selami dengan lebih adil. Ironis sekaligus puitis: teknologi paling mutakhir saya gunakan untuk menjangkau ketulusan yang paling purba.

Tidak selalu berhasil. Ada tulisan yang bahkan AI pun ragu membacanya. Ada kata yang harus ditebak dengan intuisi, ada kalimat yang harus dipahami lewat konteks, bukan ejaan. Di titik-titik itulah, saya merasa benar-benar sedang membaca dengan hati, bukan sekadar dengan mata. Waktu satu hari yang dijanjikan perlahan memuai menjadi berhari-hari. Kalender kerja terlampaui, malam-malam memendek, tetapi justru di situlah saya menemukan keajaiban-keajaiban kecil: keberanian seorang anak desa menulis tentang toleransi, kegugupan remaja yang mencoba memadatkan luka keluarganya dalam tiga paragraf, atau kesederhanaan cerita yang mengingatkan saya pada fungsi awal sastra, menyampaikan yang tak sanggup diucapkan secara langsung.

Menilai pentigraf-pentigraf ini akhirnya bukan soal siapa yang paling lihai merangkai kejutan di paragraf terakhir. Ia berubah menjadi proses menghargai keberanian untuk mengekspresikan diri. Setiap paragraf yang mereka susun adalah bentuk amal bakti mereka kepada ilmu pengetahuan. Dalam keterbatasan alat dan pengalaman, mereka tetap memilih menulis, sebuah pilihan yang hari ini terasa semakin langka. Memaklumi keterbatasan mereka adalah wujud nyata dari moderasi dan empati yang selama ini kita gaungkan dalam pidato-pidato resmi.

Tema besar “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju” menemukan maknanya justru di sini. Kerukunan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk memahami perbedaan. Sinergi tidak selalu berbentuk kolaborasi megah, tetapi bisa hadir dalam keputusan kecil: bersedia membaca lebih lama, bersabar menghadapi kekurangan, dan menggunakan kemajuan teknologi untuk merangkul, bukan menyingkirkan. Di meja penilaian itu, saya belajar bahwa Indonesia yang damai dan maju dibangun dari hal-hal remeh yang sering luput diperhitungkan.

Kita tidak boleh memadamkan api yang baru saja menyala di tangan mereka. Dari tulisan tangan yang miring dan foto yang buram itulah, kita melihat kejujuran yang tak dibuat-buat. Mereka tetap mengirimkan karya meski harus bersusah payah dan itu adalah sebuah kehormatan bagi kita yang menerimanya. Sebagai juri, saya memilih untuk tidak hanya membaca dengan mata, tetapi dengan hati. Setiap karya harus diberi tempat, setiap usaha layak mendapat apresiasi.

Di usia ke-80 ini, Kementerian Agama kembali diingatkan bahwa bakti tidak selalu berupa upacara besar atau spanduk perayaan. Bakti bisa menjelma sebagai kesabaran, sebagai empati, sebagai keputusan untuk melampaui batas administratif demi menjaga martabat manusia. Di hadapan sastra dan di hadapan Tuhan, bukan format fail yang akan ditimbang, melainkan seberapa besar kesungguhan yang dititipkan dalam setiap goresan pena. Biarlah literasi ini menjadi amal jariyah yang tak putus, mengalir dari ujung pena anak bangsa, menyeberangi keterbatasan, dan kelak berlabuh di relung langit. (syafaat)

 

 

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger