Simfoni Aksara di Ambang Delapan Dasawarsa Kementerian Agama
Catatan Seorang Juri: Menemukan Intan di Antara Goresan
Tangan dan Kecerdasan Buatan
Pentigraf adalah paradoks yang diam-diam menuntut kedewasaan. Ia hanya meminta tiga paragraf, tetapi menagih kejujuran yang sering kali tidak selesai dituliskan seumur hidup. Ia pendek, namun tak memberi ruang bagi kebohongan. Setiap kata harus tiba tepat waktu, setiap kalimat harus tahu kapan berhenti. Seperti doa pendek yang dilafalkan tanpa pengeras suara, pentigraf mengajarkan bahwa yang ringkas tidak selalu dangkal, dan yang singkat tidak identik dengan sederhana. Di tengah peringatan Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama, saya diamanahi untuk membedah lebih dari dua ratus pentigraf, dua ratus dunia kecil yang masing-masing membawa harap, gugup, dan keberanian.
Tugas itu pada mulanya terdengar administratif: menilai,
memilah, memberi skor. Namun sejak karya pertama dibuka, saya tahu ini bukan
sekadar pekerjaan teknis. Yang datang ke hadapan saya bukan tumpukan teks yang
seragam, melainkan keragaman yang hidup. Ada pentigraf yang lahir dari
tangan-tangan terlatih, dengan struktur yang rapi dan kejutan yang terukur. Ada
pula yang datang dengan kepolosan yang nyaris telanjang, cerita yang belum
sepenuhnya matang, namun jujur dalam kebimbangannya. Di sanalah saya menyadari
bahwa sastra, bahkan dalam bentuk paling singkatnya, selalu menjadi cermin
batin penulisnya.
Yang paling menggetarkan bukan hanya isi cerita,
melainkan cara karya-karya itu sampai kepada saya. Sebagian hadir sebagai
dokumen digital yang tertata, tetapi tak sedikit yang tiba dalam bentuk foto
kertas kusam, tulisan tangan yang miring, dan cahaya temaram yang membuat mata
harus bekerja lebih keras. Saya membayangkan proses di baliknya: seseorang
menulis di meja dapur, di teras rumah, di sela-sela pekerjaan, lalu memotret
dengan ponsel seadanya, berharap file itu cukup terbaca untuk sampai kepada juri.
Mereka adalah anak-anak didik kita yang baru saja selesai membasuh diri di
telaga pelatihan literasi. Kemampuan mereka beragam, tetapi niat mereka satu:
ingin didengar.
Peraturan panitia tentu berdiri dengan wibawanya sendiri.
Format digital, dokumen PDF, kerapian administrasi, semua itu penting dalam
sebuah sistem. Namun kehidupan jarang berjalan seideal buku panduan. Di
lapangan, saya bertemu kenyataan yang lebih manusiawi: ada peserta yang hanya
memiliki sebatang pena dan kertas karena laptop masih menjadi barang mewah. Ada
yang bertarung dengan aplikasi WPS di layar ponsel kecil, menata kata demi kata
dengan jari yang lelah, demi memenuhi janji batin untuk berkarya. Dalam situasi
seperti itu, aturan tidak lagi sekadar alat penertiban, melainkan juga ujian
nurani.
Saya bertanya pada diri sendiri: bagaimana mungkin kita
merayakan Hari Amal Bakti, tetapi menutup pintu bagi mereka yang datang dengan
segala keterbatasannya? Bagaimana mungkin lembaga yang lahir dari nilai-nilai
keagamaan justru menghakimi niat tulus hanya karena kesalahan format? Membuang
karya mereka karena tidak sesuai spesifikasi teknis terasa seperti mengkhianati
esensi bakti itu sendiri. Sebab bakti, pada dasarnya, adalah tentang memuliakan
usaha, bukan sekadar menegakkan aturan.
Maka saya memilih jalan yang lebih panjang dan lebih
melelahkan. Ketika mata mulai perih karena harus membelalak mengeja lekuk
tulisan tangan pada foto yang buram, saya memanggil seorang “sahabat baru”
bernama Kecerdasan Buatan. Teknologi itu tidak saya posisikan sebagai penentu
nilai, apalagi pengganti rasa, melainkan sebagai jembatan. Ia membantu saya
mengonversi guratan tinta manual menjadi teks digital agar maknanya bisa saya
selami dengan lebih adil. Ironis sekaligus puitis: teknologi paling mutakhir saya
gunakan untuk menjangkau ketulusan yang paling purba.
Tidak selalu berhasil. Ada tulisan yang bahkan AI pun
ragu membacanya. Ada kata yang harus ditebak dengan intuisi, ada kalimat yang
harus dipahami lewat konteks, bukan ejaan. Di titik-titik itulah, saya merasa
benar-benar sedang membaca dengan hati, bukan sekadar dengan mata. Waktu satu
hari yang dijanjikan perlahan memuai menjadi berhari-hari. Kalender kerja
terlampaui, malam-malam memendek, tetapi justru di situlah saya menemukan
keajaiban-keajaiban kecil: keberanian seorang anak desa menulis tentang toleransi,
kegugupan remaja yang mencoba memadatkan luka keluarganya dalam tiga paragraf,
atau kesederhanaan cerita yang mengingatkan saya pada fungsi awal sastra, menyampaikan
yang tak sanggup diucapkan secara langsung.
Menilai pentigraf-pentigraf ini akhirnya bukan soal siapa
yang paling lihai merangkai kejutan di paragraf terakhir. Ia berubah menjadi
proses menghargai keberanian untuk mengekspresikan diri. Setiap paragraf yang
mereka susun adalah bentuk amal bakti mereka kepada ilmu pengetahuan. Dalam
keterbatasan alat dan pengalaman, mereka tetap memilih menulis, sebuah pilihan
yang hari ini terasa semakin langka. Memaklumi keterbatasan mereka adalah wujud
nyata dari moderasi dan empati yang selama ini kita gaungkan dalam
pidato-pidato resmi.
Tema besar “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan
Maju” menemukan maknanya justru di sini. Kerukunan tidak lahir dari
keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk memahami perbedaan. Sinergi tidak
selalu berbentuk kolaborasi megah, tetapi bisa hadir dalam keputusan kecil:
bersedia membaca lebih lama, bersabar menghadapi kekurangan, dan menggunakan
kemajuan teknologi untuk merangkul, bukan menyingkirkan. Di meja penilaian itu,
saya belajar bahwa Indonesia yang damai dan maju dibangun dari hal-hal remeh yang
sering luput diperhitungkan.
Kita tidak boleh memadamkan api yang baru saja menyala di
tangan mereka. Dari tulisan tangan yang miring dan foto yang buram itulah, kita
melihat kejujuran yang tak dibuat-buat. Mereka tetap mengirimkan karya meski
harus bersusah payah dan itu adalah sebuah kehormatan bagi kita yang
menerimanya. Sebagai juri, saya memilih untuk tidak hanya membaca dengan mata,
tetapi dengan hati. Setiap karya harus diberi tempat, setiap usaha layak
mendapat apresiasi.
Di usia ke-80 ini, Kementerian Agama kembali diingatkan
bahwa bakti tidak selalu berupa upacara besar atau spanduk perayaan. Bakti bisa
menjelma sebagai kesabaran, sebagai empati, sebagai keputusan untuk melampaui
batas administratif demi menjaga martabat manusia. Di hadapan sastra dan di
hadapan Tuhan, bukan format fail yang akan ditimbang, melainkan seberapa besar
kesungguhan yang dititipkan dalam setiap goresan pena. Biarlah literasi ini
menjadi amal jariyah yang tak putus, mengalir dari ujung pena anak bangsa,
menyeberangi keterbatasan, dan kelak berlabuh di relung langit. (syafaat)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jaga kesopanan dalam komentar