Pages

Home » » Bahagia dengan Kas Sejuta: Refleksi Akhir Tahun Aura Lentera

Bahagia dengan Kas Sejuta: Refleksi Akhir Tahun Aura Lentera

 


BANYUWANGI (31/12/2025) - Siang itu, hujan tipis menyelimuti Dusun Watu Ulo, Glagah, Banyuwangi. Di sebuah sudut Ajeg Resto, sekelompok orang duduk melingkar, makan siang bersama, tertawa, lalu perlahan masuk ke dalam perbincangan yang jauh dari kesan formal. Mereka adalah para relawan Yayasan Aura Lentera Indonesia—orang-orang yang selama bertahun-tahun bergerak senyap memperjuangkan hak penyandang disabilitas.

Tanggal 31 Desember 2025 bukan sekadar penutup tahun bagi mereka. Hari itu menjadi momen berhenti sejenak, menengok ke belakang, lalu menarik napas panjang untuk menatap jalan ke depan.

Pertemuan dibuka oleh Ali, yang akrab disapa Cik Nang. Suasana langsung cair ketika Aguk, sesepuh Aura Lentera, menyampaikan sambutan. Dengan nada reflektif, ia mengenang perjalanan panjang mendampingi Aura Lentera—dari kerja-kerja advokasi, liputan media, hingga obrolan-obrolan kecil yang justru menguatkan perjuangan besar: ekosistem inklusif dan kesetaraan hak bagi difabel.

Ketua Yayasan Aura Lentera Indonesia, Windoyo, kemudian berbicara dengan rendah hati. “Sebetulnya tidak banyak yang kita lakukan,” katanya. Namun dari hal-hal kecil itulah, kesadaran tentang hidup inklusif tumbuh—dimulai dari keluarga, sekolah, dan lingkungan terdekat.

Tahun 2025 menjadi penanda sejarah. Setelah berjuang sejak 2006 sebagai komunitas relawan tanpa badan hukum, Aura Lentera akhirnya resmi menjadi yayasan pada 7 Februari 2025. Legalitas yang dulu dianggap tak penting, kini justru menjadi pintu untuk melangkah lebih jauh.

“Tanpa legalitas, advokasi kita sering jalan di tempat,” ujar Windoyo. Banyak pihak ingin bergabung dan bekerja sama, tetapi terhalang status kelembagaan. Kini, dengan dokumentasi, SOP, dan tata kelola yang mulai dibenahi, Aura Lentera bersiap bergerak lebih profesional—tanpa kehilangan ruh kerelawanannya.

Laporan kegiatan dibacakan oleh Robin, aktivis yang lama berkecimpung di Aura Lentera. Sepanjang 2025, yayasan ini hadir di banyak ruang: dari jambore nasional penanggulangan bencana, rembug disabilitas, diskusi lintas pemangku kepentingan, hingga konvoi Hari Disabilitas Internasional. Mereka juga menjalin kerja sama dengan lembaga nasional dan internasional untuk memperkuat pemberdayaan anak disabilitas dan penyintas kusta.

Namun momen paling mengundang tawa datang saat laporan keuangan disampaikan. Titis, sang bendahara, menyebutkan angka pemasukan Rp2,6 juta dan pengeluaran Rp1,3 juta. “Untuk pertama kalinya, Aura Lentera punya kas,” katanya, disambut tawa dan tepuk tangan.

Kas tersisa sekitar satu juta rupiah. Angka yang mungkin kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi Aura Lentera, itu adalah kebahagiaan besar.



Indah, relawan senior yang telah malang melintang di level internasional, menegaskan makna kebahagiaan itu. “Tidak ada organisasi yang kasnya cuma sejuta tapi bahagia setengah mati, kecuali kita,” ujarnya sambil tertawa.

Menurutnya, kekayaan Aura Lentera justru terletak pada hal-hal yang tak tercatat: uang pribadi relawan yang menalangi kegiatan, kopi dan mie instan untuk keluarga difabel yang didampingi, serta tenaga dan waktu yang diberikan tanpa bayaran. Ada banyak relawan yang jarang hadir rapat, namun selalu sigap bergerak saat dibutuhkan. Itulah kekuatan sejati Aura Lentera.

Menjelang sore, obrolan beralih ke masa depan. Tantangan profesionalisme, kerja sama dengan lembaga donor, dan peningkatan manajemen keuangan menanti di depan. Namun satu hal tetap sama: semangat kebersamaan.

Di akhir tahun 2025, Aura Lentera tak hanya menutup buku laporan. Mereka menegaskan kembali satu keyakinan—bahwa perubahan besar bisa lahir dari langkah kecil, dari kas yang sederhana, dan dari hati para relawan yang tak pernah berhenti peduli.

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Creating Website

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jaga kesopanan dalam komentar

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger