Pages

Sego Liwet dan Nasi Kebuli Warnai Syukuran HAB ke-80 Kemenag Banyuwangi

BANYUWANGI – (Warta Blambangan) Dalam rangka mengungkapkan rasa syukur atas Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia ke-80 tahun 2026, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar acara syukuran pada Jumat (2/1/2026). Kegiatan ini berlangsung sederhana namun penuh kehangatan di lingkungan Kantor Kemenag Banyuwangi.

Syukuran HAB ke-80 terasa istimewa dengan hadirnya sajian khas Nusantara yang tidak lazim disuguhkan dalam kegiatan kedinasan, seperti sego liwet dan nasi kebuli. Hidangan tersebut menjadi simbol keberagaman budaya sekaligus kekayaan tradisi kuliner yang selaras dengan semangat Kementerian Agama dalam merawat dan memperkuat kebhinekaan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa kegiatan syukuran ini melibatkan seluruh Kepala Madrasah, Kepala KUA Kecamatan, serta pejabat dan pegawai di lingkungan Kemenag Banyuwangi. Menurutnya, peringatan HAB ke-80 menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang pengabdian Kementerian Agama dalam melayani umat, bangsa, dan negara.

“Kegiatan ini bukan sekadar syukuran, tetapi juga wujud kebersamaan dan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas pengabdian Kementerian Agama selama delapan dekade,” ujar Chaironi.

Ia menambahkan, kebersamaan yang terbangun dalam suasana sederhana namun penuh makna diharapkan mampu memperkuat soliditas serta semangat pengabdian seluruh jajaran Kementerian Agama di Kabupaten Banyuwangi. 


Acara tersebut turut dihadiri oleh mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Drs. H. Slamet, sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian para pendahulu dan kesinambungan sejarah institusi.

Dalam kesempatan yang sama, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi juga menyerahkan tanda kehormatan Satyalancana Pengabdian kepada sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang telah mengabdi selama 10 tahun, 20 tahun, hingga 30 tahun. Penganugerahan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi negara atas dedikasi, loyalitas, dan pengabdian para ASN di lingkungan Kementerian Agama.

Rangkaian acara syukuran HAB ke-80 Kementerian Agama ini ditutup dengan doa bersama, sebagai harapan agar Kementerian Agama ke depan semakin kuat, profesional, dan terus berperan sebagai perekat persatuan dalam keberagaman.

Bahagia dengan Kas Sejuta: Refleksi Akhir Tahun Aura Lentera

 


BANYUWANGI (31/12/2025) - Siang itu, hujan tipis menyelimuti Dusun Watu Ulo, Glagah, Banyuwangi. Di sebuah sudut Ajeg Resto, sekelompok orang duduk melingkar, makan siang bersama, tertawa, lalu perlahan masuk ke dalam perbincangan yang jauh dari kesan formal. Mereka adalah para relawan Yayasan Aura Lentera Indonesia—orang-orang yang selama bertahun-tahun bergerak senyap memperjuangkan hak penyandang disabilitas.

Tanggal 31 Desember 2025 bukan sekadar penutup tahun bagi mereka. Hari itu menjadi momen berhenti sejenak, menengok ke belakang, lalu menarik napas panjang untuk menatap jalan ke depan.

Pertemuan dibuka oleh Ali, yang akrab disapa Cik Nang. Suasana langsung cair ketika Aguk, sesepuh Aura Lentera, menyampaikan sambutan. Dengan nada reflektif, ia mengenang perjalanan panjang mendampingi Aura Lentera—dari kerja-kerja advokasi, liputan media, hingga obrolan-obrolan kecil yang justru menguatkan perjuangan besar: ekosistem inklusif dan kesetaraan hak bagi difabel.

Ketua Yayasan Aura Lentera Indonesia, Windoyo, kemudian berbicara dengan rendah hati. “Sebetulnya tidak banyak yang kita lakukan,” katanya. Namun dari hal-hal kecil itulah, kesadaran tentang hidup inklusif tumbuh—dimulai dari keluarga, sekolah, dan lingkungan terdekat.

Tahun 2025 menjadi penanda sejarah. Setelah berjuang sejak 2006 sebagai komunitas relawan tanpa badan hukum, Aura Lentera akhirnya resmi menjadi yayasan pada 7 Februari 2025. Legalitas yang dulu dianggap tak penting, kini justru menjadi pintu untuk melangkah lebih jauh.

“Tanpa legalitas, advokasi kita sering jalan di tempat,” ujar Windoyo. Banyak pihak ingin bergabung dan bekerja sama, tetapi terhalang status kelembagaan. Kini, dengan dokumentasi, SOP, dan tata kelola yang mulai dibenahi, Aura Lentera bersiap bergerak lebih profesional—tanpa kehilangan ruh kerelawanannya.

Laporan kegiatan dibacakan oleh Robin, aktivis yang lama berkecimpung di Aura Lentera. Sepanjang 2025, yayasan ini hadir di banyak ruang: dari jambore nasional penanggulangan bencana, rembug disabilitas, diskusi lintas pemangku kepentingan, hingga konvoi Hari Disabilitas Internasional. Mereka juga menjalin kerja sama dengan lembaga nasional dan internasional untuk memperkuat pemberdayaan anak disabilitas dan penyintas kusta.

Namun momen paling mengundang tawa datang saat laporan keuangan disampaikan. Titis, sang bendahara, menyebutkan angka pemasukan Rp2,6 juta dan pengeluaran Rp1,3 juta. “Untuk pertama kalinya, Aura Lentera punya kas,” katanya, disambut tawa dan tepuk tangan.

Kas tersisa sekitar satu juta rupiah. Angka yang mungkin kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi Aura Lentera, itu adalah kebahagiaan besar.



Indah, relawan senior yang telah malang melintang di level internasional, menegaskan makna kebahagiaan itu. “Tidak ada organisasi yang kasnya cuma sejuta tapi bahagia setengah mati, kecuali kita,” ujarnya sambil tertawa.

Menurutnya, kekayaan Aura Lentera justru terletak pada hal-hal yang tak tercatat: uang pribadi relawan yang menalangi kegiatan, kopi dan mie instan untuk keluarga difabel yang didampingi, serta tenaga dan waktu yang diberikan tanpa bayaran. Ada banyak relawan yang jarang hadir rapat, namun selalu sigap bergerak saat dibutuhkan. Itulah kekuatan sejati Aura Lentera.

Menjelang sore, obrolan beralih ke masa depan. Tantangan profesionalisme, kerja sama dengan lembaga donor, dan peningkatan manajemen keuangan menanti di depan. Namun satu hal tetap sama: semangat kebersamaan.

Di akhir tahun 2025, Aura Lentera tak hanya menutup buku laporan. Mereka menegaskan kembali satu keyakinan—bahwa perubahan besar bisa lahir dari langkah kecil, dari kas yang sederhana, dan dari hati para relawan yang tak pernah berhenti peduli.

Simfoni Aksara di Ambang Delapan Dasawarsa Kementerian Agama

 Simfoni Aksara di Ambang Delapan Dasawarsa Kementerian Agama

Catatan Seorang Juri: Menemukan Intan di Antara Goresan Tangan dan Kecerdasan Buatan

Pentigraf adalah paradoks yang diam-diam menuntut kedewasaan. Ia hanya meminta tiga paragraf, tetapi menagih kejujuran yang sering kali tidak selesai dituliskan seumur hidup. Ia pendek, namun tak memberi ruang bagi kebohongan. Setiap kata harus tiba tepat waktu, setiap kalimat harus tahu kapan berhenti. Seperti doa pendek yang dilafalkan tanpa pengeras suara, pentigraf mengajarkan bahwa yang ringkas tidak selalu dangkal, dan yang singkat tidak identik dengan sederhana. Di tengah peringatan Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama, saya diamanahi untuk membedah lebih dari dua ratus pentigraf, dua ratus dunia kecil yang masing-masing membawa harap, gugup, dan keberanian.


Tugas itu pada mulanya terdengar administratif: menilai, memilah, memberi skor. Namun sejak karya pertama dibuka, saya tahu ini bukan sekadar pekerjaan teknis. Yang datang ke hadapan saya bukan tumpukan teks yang seragam, melainkan keragaman yang hidup. Ada pentigraf yang lahir dari tangan-tangan terlatih, dengan struktur yang rapi dan kejutan yang terukur. Ada pula yang datang dengan kepolosan yang nyaris telanjang, cerita yang belum sepenuhnya matang, namun jujur dalam kebimbangannya. Di sanalah saya menyadari bahwa sastra, bahkan dalam bentuk paling singkatnya, selalu menjadi cermin batin penulisnya.

Yang paling menggetarkan bukan hanya isi cerita, melainkan cara karya-karya itu sampai kepada saya. Sebagian hadir sebagai dokumen digital yang tertata, tetapi tak sedikit yang tiba dalam bentuk foto kertas kusam, tulisan tangan yang miring, dan cahaya temaram yang membuat mata harus bekerja lebih keras. Saya membayangkan proses di baliknya: seseorang menulis di meja dapur, di teras rumah, di sela-sela pekerjaan, lalu memotret dengan ponsel seadanya, berharap file itu cukup terbaca untuk sampai kepada juri. Mereka adalah anak-anak didik kita yang baru saja selesai membasuh diri di telaga pelatihan literasi. Kemampuan mereka beragam, tetapi niat mereka satu: ingin didengar.

Peraturan panitia tentu berdiri dengan wibawanya sendiri. Format digital, dokumen PDF, kerapian administrasi, semua itu penting dalam sebuah sistem. Namun kehidupan jarang berjalan seideal buku panduan. Di lapangan, saya bertemu kenyataan yang lebih manusiawi: ada peserta yang hanya memiliki sebatang pena dan kertas karena laptop masih menjadi barang mewah. Ada yang bertarung dengan aplikasi WPS di layar ponsel kecil, menata kata demi kata dengan jari yang lelah, demi memenuhi janji batin untuk berkarya. Dalam situasi seperti itu, aturan tidak lagi sekadar alat penertiban, melainkan juga ujian nurani.

Saya bertanya pada diri sendiri: bagaimana mungkin kita merayakan Hari Amal Bakti, tetapi menutup pintu bagi mereka yang datang dengan segala keterbatasannya? Bagaimana mungkin lembaga yang lahir dari nilai-nilai keagamaan justru menghakimi niat tulus hanya karena kesalahan format? Membuang karya mereka karena tidak sesuai spesifikasi teknis terasa seperti mengkhianati esensi bakti itu sendiri. Sebab bakti, pada dasarnya, adalah tentang memuliakan usaha, bukan sekadar menegakkan aturan.

Maka saya memilih jalan yang lebih panjang dan lebih melelahkan. Ketika mata mulai perih karena harus membelalak mengeja lekuk tulisan tangan pada foto yang buram, saya memanggil seorang “sahabat baru” bernama Kecerdasan Buatan. Teknologi itu tidak saya posisikan sebagai penentu nilai, apalagi pengganti rasa, melainkan sebagai jembatan. Ia membantu saya mengonversi guratan tinta manual menjadi teks digital agar maknanya bisa saya selami dengan lebih adil. Ironis sekaligus puitis: teknologi paling mutakhir saya gunakan untuk menjangkau ketulusan yang paling purba.

Tidak selalu berhasil. Ada tulisan yang bahkan AI pun ragu membacanya. Ada kata yang harus ditebak dengan intuisi, ada kalimat yang harus dipahami lewat konteks, bukan ejaan. Di titik-titik itulah, saya merasa benar-benar sedang membaca dengan hati, bukan sekadar dengan mata. Waktu satu hari yang dijanjikan perlahan memuai menjadi berhari-hari. Kalender kerja terlampaui, malam-malam memendek, tetapi justru di situlah saya menemukan keajaiban-keajaiban kecil: keberanian seorang anak desa menulis tentang toleransi, kegugupan remaja yang mencoba memadatkan luka keluarganya dalam tiga paragraf, atau kesederhanaan cerita yang mengingatkan saya pada fungsi awal sastra, menyampaikan yang tak sanggup diucapkan secara langsung.

Menilai pentigraf-pentigraf ini akhirnya bukan soal siapa yang paling lihai merangkai kejutan di paragraf terakhir. Ia berubah menjadi proses menghargai keberanian untuk mengekspresikan diri. Setiap paragraf yang mereka susun adalah bentuk amal bakti mereka kepada ilmu pengetahuan. Dalam keterbatasan alat dan pengalaman, mereka tetap memilih menulis, sebuah pilihan yang hari ini terasa semakin langka. Memaklumi keterbatasan mereka adalah wujud nyata dari moderasi dan empati yang selama ini kita gaungkan dalam pidato-pidato resmi.

Tema besar “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju” menemukan maknanya justru di sini. Kerukunan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk memahami perbedaan. Sinergi tidak selalu berbentuk kolaborasi megah, tetapi bisa hadir dalam keputusan kecil: bersedia membaca lebih lama, bersabar menghadapi kekurangan, dan menggunakan kemajuan teknologi untuk merangkul, bukan menyingkirkan. Di meja penilaian itu, saya belajar bahwa Indonesia yang damai dan maju dibangun dari hal-hal remeh yang sering luput diperhitungkan.

Kita tidak boleh memadamkan api yang baru saja menyala di tangan mereka. Dari tulisan tangan yang miring dan foto yang buram itulah, kita melihat kejujuran yang tak dibuat-buat. Mereka tetap mengirimkan karya meski harus bersusah payah dan itu adalah sebuah kehormatan bagi kita yang menerimanya. Sebagai juri, saya memilih untuk tidak hanya membaca dengan mata, tetapi dengan hati. Setiap karya harus diberi tempat, setiap usaha layak mendapat apresiasi.

Di usia ke-80 ini, Kementerian Agama kembali diingatkan bahwa bakti tidak selalu berupa upacara besar atau spanduk perayaan. Bakti bisa menjelma sebagai kesabaran, sebagai empati, sebagai keputusan untuk melampaui batas administratif demi menjaga martabat manusia. Di hadapan sastra dan di hadapan Tuhan, bukan format fail yang akan ditimbang, melainkan seberapa besar kesungguhan yang dititipkan dalam setiap goresan pena. Biarlah literasi ini menjadi amal jariyah yang tak putus, mengalir dari ujung pena anak bangsa, menyeberangi keterbatasan, dan kelak berlabuh di relung langit. (syafaat)

 

 

Duet H. Mujiono & Sururudin Pimpin BKPRMI Kabupaten Banyuwangi Masa Khidmat 2025-2030

Musda IIII Badan Komunikasi Remaja Pemuda Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Banyuwangi secara aklamasi mufakat memilih dan menetapkan duet H. Mujiono, SH sebagai Ketua Umum dan Achmad Sururudin, SE, M. Si, M. Pd sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Daerah masa khiidmad 2025-2030 pada perhelatan di hari Minggu(28/12/25) atau bertepatan Ahad 8 Rajab 1447 H di Hotel Aston. 


Pimpinan Sidang Alim Sulaiman, M. Pd Sekretaris Umum BKPRMI Wilayah Jawa Timur usai menyatakan kepengurusan demisioner, menawarkan ke audiens yang pengurus DPD dan 25 DPK, apakah ada yang mencalonkan diri sebagai Ketua Umum dan bila lebih dari 1 maka semuanya berkesempatan untuk kampanye sampaikan visi misi. Namun tak ada seorangpun yang mengajukan diri. Hingga akhirnya utusan DPK Rogojampi , Singojuruh dan Kalipuro berpandangan mantan ketua umum. Ditetapkan sebagai MPD dan H Mujiono sebagai penggantinya maka secara aklamasi ditetapkan. 


Ketika diberi kesempatan, H Mujiono awal sampaikan innalillahi karena tak pernah bermimpi dan mengira jadi imam organisasi yang bergerak memakmurkan rumah Allah dan punya ikon Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) yang berjenjang ke nasional 2 tahun sekali itu. "Baik saya menerima amanat ini dengan syarat dukungan semuanya serta yang ditunjuk tim formatur untuk juga tak menolak amanat  memajukan organisasi! " tuturnya yang disanggupi hadirin. 


Musda III yang dibuka oleh  Yusdi Irawan, SE,M.Si Kabag Kesra Setda Banyuwangi mewakili Bupati mengucapkan Terima kasih atas sinergi dan kontribusi BKPRMI yang menjadikan Banyuwangi kondusif dan Berprestasi. (AWN/Shodiqin/JN-SW) 


Ketika Kanvas Perempuan Jatuh Cinta pada Waktu

 Ketika Kanvas Perempuan Jatuh Cinta pada Waktu

Di Gedung Juang, waktu tidak lagi berani berlari. Ia seperti seseorang yang tiba-tiba jatuh cinta pada kesunyian, lalu sadar bahwa tergesa hanya akan melukai perasaan. Maka ia memilih duduk, menautkan jemarinya pada detak jantung manusia, mendengarkan napas yang naik-turun dengan sabar, lalu berzikir pelan. Setiap detiknya melambat, mengendap, seperti embun yang menahan diri agar tidak segera jatuh dari daun—takut jika terlalu cepat, ia hanya akan menghilang tanpa sempat dikenang. Waktu tahu, ada momen-momen yang hanya bisa dipahami oleh hati yang bersedia tinggal, bukan oleh kaki yang sibuk berlari.

Dinding-dinding tua yang pernah menyimpan letih sejarah—teriakan yang patah di udara, doa-doa yang dilangitkan dengan tangan gemetar, dan kesunyian orang-orang yang telah pergi—kini berdiri sebagai saksi bisu erosi yang lembut. Bukan erosi tanah semata, melainkan kikisan yang lebih halus dan lebih perih: perasaan yang perlahan tumpul, keyakinan yang digerogoti keraguan, kesabaran yang aus oleh dunia yang menuntut segalanya serba cepat. Gedung itu tidak menghakimi siapa pun. Ia hanya menampung, seperti dada seorang ibu yang membiarkan anaknya menangis sampai lelah, percaya bahwa air mata pun punya hak untuk selesai dengan sendirinya.

Di antara garis-garis yang saling menyapa dan warna-warna yang berbisik, para perupa perempuan hadir seperti kekasih yang mencintai tanpa syarat. Mereka tidak menuntut balasan, tidak memaksa untuk dipahami sepenuhnya. Mereka datang membawa sunyi yang hangat, seperti bahu yang siap disandari, doa yang tidak memaksa langit segera menjawab. Ada keteguhan dalam cara mereka berdiri di hadapan kanvas—keteguhan orang-orang yang telah lama mengerti bahwa cinta sejati tidak perlu banyak pembuktian, cukup kesediaan untuk bertahan.

Tidak ada teriakan, tidak ada pamer keberanian yang gemar mencari tepuk tangan. Yang ada hanya kesabaran—sejenis kesetiaan yang sering disalahpahami sebagai kelemahan. Padahal justru dari sanalah daya mereka bekerja. Seperti air yang terus mengalir tanpa perlu mengumumkan dirinya sebagai sungai, mereka mengikat mata dan hati tanpa paksaan. Kita berhenti di depan karya-karya itu bukan karena disuruh, melainkan karena merasa dipanggil, seperti seseorang yang tiba-tiba menoleh ketika namanya disebut dengan lembut.

Inama berdiri di antara kanvas-kanvasnya seperti seseorang yang telah lama berdamai dengan dirinya sendiri. Wajahnya tenang, matanya jernih, seolah tidak sedang menunggu pengakuan apa pun dari luar. Ia tidak menulis dengan kata, melainkan dengan rasa. Setiap sapuan warna adalah kalimat yang sengaja dibiarkan tidak selesai, memberi ruang bagi siapa pun untuk melanjutkan maknanya sendiri. Karyanya mengalir dalam dan setia, seperti sungai yang tahu bahwa perjalanan panjang—dengan belokan, rintangan, dan kelelahan—selalu lebih bermakna daripada muara yang cepat. Ia tidak memohon untuk dipahami. Ia hanya membuka pintu, membiarkannya setengah terbuka, dan percaya bahwa siapa pun yang masuk adalah mereka yang memang siap tinggal. Dalam sikap itu, seni berubah menjadi peristiwa romantis: perjumpaan dua keheningan yang saling mengakui keberadaan satu sama lain. Tidak ada dominasi, tidak ada penaklukan—hanya kesediaan untuk mendengarkan tanpa menyela, mencintai tanpa ingin memiliki.

Di dunia seni rupa yang kerap gaduh oleh ego, konsep, dan ambisi untuk segera dikenang, sikap semacam ini terasa seperti cinta lama yang tak lekang oleh waktu. Kejujuran selalu lahir dari keheningan, dan keheningan adalah ruang paling intim antara manusia dan Yang Maha Ada. Di sanalah seni berlutut—bukan untuk menyerah, tetapi untuk setia. Setia pada proses yang panjang, pada luka yang tidak selalu bisa disembuhkan, pada kemungkinan-kemungkinan kecil yang sering diabaikan karena dianggap tidak spektakuler. Pelukis-pelukis perempuan lain yang kembali hadir di Banyuwangi tampak seperti pasangan setia yang terus pulang ke rumah yang sama. Mereka mengenal sudut-sudutnya, memahami bunyi lantainya ketika diinjak pelan, dan tidak pernah bosan pada aroma kenangan yang tinggal di udara. Mereka tidak mengejar sorak, tidak mabuk pujian. Kehadiran mereka lebih mirip janji yang ditepati dengan diam-diam, bukan ambisi yang dikejar dengan tergesa.

Aliran dekoratif naif yang mereka rawat sering disalahpahami sebagai kekurangan, seolah kesederhanaan adalah tanda ketertinggalan. Padahal justru di situlah kecerdasan cinta bekerja: memilih jujur di tengah dunia yang gemar berlebih-lebihan. Kepolosan mereka bukan ketidaktahuan, melainkan keberanian untuk tidak bersembunyi di balik kerumitan palsu. Seperti cinta pertama—ia mungkin tampak sederhana, bahkan kikuk, tetapi justru karena itulah ia meninggalkan jejak paling lama.

Di antara para perupa yang telah matang, Praya Mitha hadir seperti pertemuan pertama yang canggung sekaligus menggetarkan. Langkahnya masih ragu, tetapi matanya bercahaya—cahaya orang yang belum lelah berharap, belum terlalu sering kecewa. Ini pameran pertamanya, dan rasa terima kasih yang ia ucapkan bukan sekadar formalitas. Ada getar tulus di sana, seperti seseorang yang baru saja diterima apa adanya, tanpa syarat dan tanpa penilaian berlebihan. Ia tidak datang untuk menaklukkan siapa pun. Ia datang untuk belajar mencintai proses, mencintai waktu, mencintai kemungkinan gagal yang selalu mengintai di setiap langkah awal. Banyuwangi menyambutnya dengan pelukan hangat, seperti kota yang tahu bahwa awal selalu rapuh dan karena itu harus dirawat, bukan diuji terlalu keras.

Sejarah seni rupa dunia pun telah lama jatuh cinta pada cara perempuan mencipta. Frida Kahlo melukis luka seperti menulis surat cinta kepada hidup yang keras—jujur, menyakitkan, dan tak bisa ditarik kembali. Georgia O’Keeffe membuat bunga-bunga mekar sebagai doa yang tak pernah layu, seolah keindahan adalah bentuk lain dari iman. Yayoi Kusama mengulang titik-titiknya seperti menyebut nama kekasih dalam tasbih yang panjang, sementara Louise Bourgeois menjahit trauma menjadi pengakuan paling intim tentang takut dan harap. Dari mereka kita belajar: bahwa seni perempuan tidak lahir dari keinginan menaklukkan, melainkan dari kebutuhan untuk bertahan dan tetap mencintai.

Pameran Lereme Roso—yang digelar dalam peringatan Hari Jadi Banyuwangi—akhirnya bukan hanya tentang erosi tanah atau nilai yang memudar. Ia adalah kisah cinta yang pelan dan panjang: tentang perempuan-perempuan yang mengikis batas dengan kesetiaan. Batas antara pinggiran dan pusat, antara diam dan suara, antara yang diremehkan dan yang diagungkan. Semua itu didekati bukan dengan benturan, melainkan dengan kesabaran. 

Indonesia, dengan deretan pelukis perempuannya—dari Emiria Soenassa hingga Christine Ay Tjoe—menunjukkan bahwa cinta pada seni bukanlah letupan sesaat, melainkan perjalanan panjang yang ditempuh dengan napas yang teratur dan hati yang tabah. Ia tidak tumbuh dari ambisi untuk segera dikenang, tetapi dari kesediaan untuk terus berjalan meski jalan sering sepi dan sunyi. Para perempuan itu melukis bukan sekadar untuk dilihat, melainkan untuk bertahan, untuk menjaga agar api di dalam dada tidak padam oleh waktu yang kerap abai.

Emiria Soenassa, pada zamannya, melangkah seperti perempuan yang berjalan sendirian di jalan panjang tanpa penunjuk arah. Ia melukis ketika ruang bagi perempuan masih sempit, ketika keberanian sering disalahartikan sebagai pembangkangan. Namun ia tetap setia, seperti seseorang yang mencintai dalam diam. Sementara Christine Ay Tjoe, di masa yang berbeda, mengolah kegelisahan batin menjadi bahasa abstraksi yang mendunia—tanpa kehilangan akar, tanpa meninggalkan luka yang pernah membentuknya. Di antara keduanya, terbentang benang panjang kesetiaan: generasi demi generasi perempuan yang memilih seni bukan karena mudah, melainkan karena tak ada pilihan lain selain mencintainya.


Cinta pada seni, bagi mereka, tidak selalu berakhir pada sorotan lampu galeri atau tepuk tangan yang panjang. Sering kali ia justru hidup dalam ruang-ruang kecil: di studio yang sunyi, di malam yang sepi, di hadapan kanvas yang menunggu dengan sabar. Namun justru di situlah seni menemukan rumahnya. Ia menetap di hati mereka yang mau tinggal lebih lama, yang bersedia menunggu tanpa kepastian, yang mencintai tanpa tergesa dan tanpa syarat. Seperti cinta yang dewasa, seni perempuan Indonesia tumbuh bukan untuk membuktikan apa pun, melainkan untuk setia—pada proses, pada luka, dan pada harapan yang terus dipelihara meski dunia berubah terlalu cepat.

Di Gedung Juang itu, seni rupa tidak sedang memamerkan kemenangan. Ia sedang merawat hubungan—antara manusia dan rasa, antara luka dan harapan, antara waktu dan kesabaran. Dan barangkali, di situlah seni menemukan makna romantisnya yang paling jujur:
bukan untuk menaklukkan dunia, melainkan untuk mencintainya, pelan-pelan, sepenuh hati.

Syafaat ; Lentera Sastra Banyuwangi.

Gelar Gandrung dari Masa ke Masa, Kompetisi Tari Gandrung Banyuwangi Diikuti Ribuan Peserta dari Jawa - Bali

BANYUWANGI ( Warta Blambangan) Sebagai upaya melestarikan sekaligus mempromosikan Tari Gandrung secara berkelanjutan, Banyuwangi menggelar kompetisi Tari gandrung yang dikemas dalam Festival Gandrung “Dari Masa ke Masa”. Kompetisi ini diikuti ribuan peserta yang berasal dari sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Bali.

Festival Tari Gandrung “Dari Masa ke Masa” berlangsung selama tiga hari mulai 24-26 Desember di Gelanggang Kesenian Banyuwangi (Gesibu). Event ini diikuti 1500 peserta mulai dari tingkat TK-SMA dan umum. Ada yang dari Jogja, Gresik, Lumajang, Situbondo, Bondowoso, hingga Bali. 

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan Tari Gandrung adalah identitas budaya Banyuwangi yang sarat makna sejarah, filosofi, dan nilai kebersamaan. Lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga upaya melestarikan warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.

“Lomba ini Juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mencintai dan mengembangkan seni tradisi,” kata Ipuk, Sabtu (27/12/2025).

Ipuk menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya atas upaya dan dukungan berbagai pihak yang secara konsisten melakukan regenerasi penari Gandrung serta mempromosikan Gandrung hingga ke kancah nasional dan internasional. 

“Terima kasih pada semua pihak yang telah menginisiasi kegiatan ini,” ujar Ipuk.

Inisiator sekaligus penyelenggara Festival Gandrung “Dari Masa ke Masa” Sabar Haryanto, mengatakan event ini metupakan tahun ketiga penyelengaraan. Setiap tahunnya ribuan peserta berpartisipasi dalam lomba ini.

“Sebagai pegiat seni daerah ini adalah bentuk dukungan dan partisipasi kami bersama -sama dengan pemerintah untuk terus menghidupkan dan melestarikan Gandrung khususnya pada generasi muda,” kata Sabar yang juga Pengasuh Sangar Tari Lang Lang Buana Banyuwangi.

Pada tahun ini pihaknya sengaja mengundang sanggar dan komunitas Tari dari sejumlah daerah untuk ikut berpartisipasi karena Tari Gandrung sudah banyak ditarikan oleh penari di luar daerah. 


“Alhamdulillah peserta lomba dari luar kota cukup banyak, padahal kami hanya berkabar melalui surat. Ini menunjukkan kalau Tari Gandrung memang sudah familiar bagi mereka,” katanya.


Ada delapan variasi tari Gandrung yang dibawakan oleh para peseta dalam kompetisi tersebut. Yakni Gandrung Seblang Lukinto, Gandrung Gurit Mangir, Gandrung Jaran Dawuk, Gandrung Variasi, Gandrung Sri Dewi, Gandrung Kembang Menur, Gandrung Marsan.


“Kompetisi ini juga sebagai cara mengenalkan berbagai jenis atau variasi Tarian Gandrung. Karena Tari Gandrung punya banyak variasi yang berkembang sesuai konteks budaya, cerita rakyat, maupun kreativitas seniman,” terang Sabar.


Salah satu pelatih Tari dari Lumajang Nasseh, mengatakan ia menurunkan dua grup untuk mengikuti kompetisi di Banyuwangi. Tari Gandrung telah menjadi tarian yang biasa ditarikan di komunitasnya.

“Kami berlatih khusus untuk kompetisi mulai November. Tapi tidak terlalu kesulitan karena teman-teman sudah mengenal Gandrung,” ujarnya.

Sementara itu salah satu penarinya Ikrom, pelajar kelas 9 SMPN 1 Tempeh Lumajang mengaku sangat senang bisa mengikuti Lomba Tari Gandrung di Banyuwangi. Dengan basic penari berbagai genre, ia tidak begitu kesulitan untuk menari Gandrung.

“Gerakannya susah-susah gampang saat latihan, tapi bersyukur bisa, dan masuk final,” ujar Ikrom yang membawakan Tari Gandrung Marsan atau Tari Gandrung yang khusus dibawakan oleh laki-laki. (*)

Diskusi Natal Group KUA Innovation

 Diskusi Natal Group KUA Innovation

 

Setiap Natal, perbincangan itu selalu kembali. Seperti hujan tahunan yang tidak pernah benar-benar kita tunggu, tetapi selalu kita kenali bunyinya. Tidak pernah ada kesepakatan final, kecuali satu hal yang justru paling manusiawi: saling menghormati perbedaan pendapat.

Pagi itu saya tidak berniat membaca apa pun selain pesan-pesan pendek yang lewat seperti angin: salam yang singgah sebentar, emotikon yang tersenyum tanpa suara, atau pengingat agenda yang cepat terlupa. Jari saya hanya ingin lewat, tidak menetap. Namun grup WhatsApp KUA Innovation justru menahan geraknya. Bukan karena gaduh, bukan pula karena emosi, melainkan karena kehati-hatiannya yang nyaris terasa seperti jeda doa. Di ruang kecil bernama gawai itu, berkumpul para penghulu dan pegawai Kantor Urusan Agama, orang-orang yang hidupnya sehari-hari bersentuhan dengan kata “batas”. Batas administrasi yang harus presisi, batas hukum yang tidak boleh dilangkahi, dan batas akidah yang dijaga dengan kesungguhan batin. Mereka bukan sekadar pembaca dalil, melainkan penghafalnya. Bukan hanya pengutip ayat, tetapi penjaga maknanya agar tidak tergelincir ke tangan emosi.


Saya membaca pelan-pelan, seperti orang melangkah di lantai kayu tua agar tidak menimbulkan bunyi. Setiap kalimat terasa ditimbang, setiap kata seolah diletakkan setelah melalui wudu pikiran. Tidak ada umpatan, tidak ada klaim paling suci. Yang ada hanyalah kehati-hatian: bagaimana bersikap tanpa merusak iman, dan bagaimana menjaga iman tanpa melukai kemanusiaan. Mereka adalah orang-orang pilihan yang tahu bahwa dalil bukan senjata, melainkan amanah. Bahwa ayat dan hadis bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan untuk menuntun sikap. Di tangan mereka, toleransi tidak dipahami sebagai kelonggaran tanpa batas, tetapi sebagai disiplin akhlak. Menjaga agar perbedaan tetap berada di jalurnya, tidak tumpah menjadi curiga, apalagi kebencian.

Di grup itu, saya merasakan satu hal yang jarang terdengar di ruang publik: kesadaran bahwa menjadi penjaga toleransi beragama justru menuntut keteguhan iman. Sebab toleransi yang lahir dari iman rapuh hanya akan menjadi basa-basi. Sementara toleransi yang lahir dari iman yang kokoh tahu kapan harus mendekat, dan kapan harus berhenti satu langkah sebelum melanggar, saya belajar bahwa kehati-hatian juga bentuk keberanian. Bahwa menahan diri untuk tidak tergesa-gesa berkesimpulan adalah laku spiritual. Dan bahwa di tangan para penghulu, yang terbiasa berdiri di antara teks dan realitas, agama tidak diteriakkan, melainkan dirawat, agar tetap menjadi cahaya yang menuntun, bukan api yang membakar.

Saya tergoda untuk menggulir pesan-pesan itu dari atas. Pelan-pelan. Seperti orang membaca kitab tua yang halaman-halamannya sudah sering diperdebatkan, tetapi tak pernah benar-benar selesai ditafsirkan. Di sana, toleransi tidak diperlakukan sebagai slogan. Ia dibicarakan sebagai garis. Ada yang berkata: toleransi adalah membiarkan perbedaan, bukan berkolaborasi dalam ibadah. Ada yang menegaskan: memberi hadiah di hari raya agama lain adalah haram menurut empat mazhab. Ada pula yang mengingatkan: hadiah di luar hari raya boleh, sebab kemanusiaan tidak mengenal kalender teologis.

Diskusi itu tenang, meski isinya tajam. Seperti pisau yang diletakkan di atas meja, tidak diarahkan ke leher siapa pun. Saya membaca satu kalimat yang terasa seperti paku: menjaga kemurnian akidah lebih penting dari segalanya. Nama Buya Hamka disebut. Tentang keberanian meletakkan jabatan demi keyakinan. Di sini, akidah diposisikan sebagai rumah. Bukan ruang tamu, melainkan ruang sujud. Tidak semua orang boleh masuk, bahkan dengan niat baik. Namun suara lain menyela, tidak dengan teriakan, melainkan dengan argumen: memberi hadiah dan mengucap selamat bukan urusan ibadah, melainkan urusan kemanusiaan. Ukhuwah basyariyah, kata mereka, persaudaraan manusia yang lahir lebih dulu daripada sekat-sekat iman. Di titik ini, toleransi bukan lagi jarak dingin, melainkan jabat tangan dari pagar ke pagar.

Perdebatan tentang ucapan Natal sejatinya bukan soal dua kata: selamat dan Natal. Ia adalah perbincangan tentang rasa takut dan rasa percaya. Takut bahwa satu ucapan akan menggeser tauhid; percaya bahwa satu ucapan hanyalah etika sosial. Di antara takut dan percaya itu, manusia sering berdiri kikuk, tak sepenuhnya yakin ke mana harus melangkah. Sejarah pun dipanggil. Ada yang berkata: Natal baru dirayakan abad keempat; Nabi tiak pernah mengucapkannya. Yang lain menjawab pelan: Nabi juga tidak hidup di dunia media sosial, tidak menjadi ASN, dan tidak memimpin masyarakat plural seperti hari ini. Sejarah diminta menjadi saksi, sementara konteks terus berjalan tanpa menunggu persetujuan masa lalu.

Yang menenangkan, diskusi ini tidak berakhir dengan vonis. Ia berakhir dengan kesadaran: kembali ke masing-masing. Kalimat sederhana, tetapi di situlah letak kedewasaan iman. Tidak semua perbedaan harus dimenangkan. Ada perbedaan yang cukup dipahami. Bagi saya, toleransi memang bukan menyamakan iman. Tetapi ia juga bukan sekadar membiarkan dari jauh dengan wajah dingin. Toleransi adalah seni menjaga jarak tanpa memutus silaturahmi. Seperti tetangga yang paham batas pekarangan, tetapi tetap saling menyapa di pagi hari.

QS. Al-Kafirun kerap dikutip: Lakum dinukum waliyadin. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Ayat ini sering dipahami sebagai tembok tinggi, padahal ia lebih mirip pagar rendah, cukup untuk menandai wilayah keyakinan, tidak cukup untuk menghalangi pandangan. Dalam fikih sosial, ayat ini bukan hanya penegasan identitas, melainkan etika hidup berdampingan: iman dijaga, konflik dicegah. QS. Maryam ayat 33 bahkan menunjukkan bahwa salam dalam wahyu dapat melintasi sejarah figur yang berbeda keyakinan, tanpa harus mengadopsi teologinya. Di sinilah teks suci menuntut pembacaan yang tidak hanya literal, tetapi juga berjiwa maqashid: mencari kemaslahatan, bukan sekadar kemenangan argumen.

Meminjam bahasa Gus Dur, toleransi bukan kompromi iman, melainkan konsekuensi akhlak. Agama kehilangan maknanya ketika ia tidak lagi menjaga martabat manusia. Iman yang matang tidak panik oleh ucapan, sebab ia tahu siapa dirinya, dan kepada siapa ia bersujud. Natal akan selalu datang setiap tahun. Perdebatan pun mungkin akan selalu mengikutinya. Tidak pernah ada kesepakatan mutlak, dan mungkin memang tidak perlu. Sebab yang paling penting bukan siapa yang paling benar, melainkan siapa yang paling mampu menjaga adab: kepada Tuhan, dan kepada sesama manusia.

Pada akhirnya, teks suci hadir bukan sebagai peluru, melainkan sebagai jeda. Bukan untuk melukai, melainkan untuk mengingatkan: bahwa agama juga mengenal bahasa damai, bahasa yang menjaga iman tanpa mencederai kemanusiaan. (Syafaat)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger