Pages

Syukuran Sertifikasi Ahli Cagar Budaya Banyuwang

Banyuwangi (Warta Blambangan) Senja 25 Desember 2025 di Omah Kopi Telemung tidak hanya menghadirkan aroma kopi dan percakapan hangat, tetapi juga kabar baik bagi perjalanan kebudayaan Banyuwangi. Dalam forum bedah kebudayaan yang dihadiri para budayawan, KRT Ilham Triadi menyampaikan capaian terbarunya: ia resmi mengantongi Sertifikat Ahli Cagar Budaya dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Sertifikat itu melengkapi laku panjang yang telah ditempuhnya. Sebelumnya, ia lebih dahulu memperoleh Sertifikat Ahli Perkerisan, juga dari BNSP—sebuah penanda bahwa pengetahuan, ketekunan, dan tanggung jawab kebudayaan tidak datang secara tiba-tiba, melainkan melalui pengendapan waktu.

Ketua Dewan Kesenian Belambangan, Hasan Basri, menyampaikan bahwa hingga hari ini KRT Ilham Triadi menjadi satu-satunya putra Banyuwangi yang berhasil meraih sertifikasi Ahli Cagar Budaya. Sebuah capaian yang, menurutnya, bukan sekadar prestasi personal, melainkan kepercayaan negara atas kompetensi dalam merawat ingatan kolektif.

“Ini bukan hanya sertifikat, tetapi amanah,” ujarnya, seraya menegaskan pentingnya peran ahli cagar budaya dalam menjaga jejak sejarah agar tidak terhapus oleh waktu dan pembangunan yang tergesa.

Forum kebudayaan itu dihadiri para penggiat seni dan sejarah Banyuwangi: Samsudin Adlawi, Elvin Hendrata, Ribut Kalembuan, serta Aekanu Hariyono—pemandu wisata bersertifikat internasional—dan Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi. Mereka duduk setara, berbagi pandang, seolah merajut kembali simpul-simpul kebudayaan yang kerap tercerai.


Dalam pernyataannya, KRT Ilham Triadi berharap sertifikasi yang diraihnya dapat menjadi jalan manfaat bagi Banyuwangi. Bukan hanya untuk melindungi benda dan situs, tetapi juga merawat makna, ruh, dan kisah yang berdiam di dalamnya.

Di Omah Kopi Telemung sore itu, sertifikat tak diperlakukan sebagai piala. Ia hadir sebagai penanda tanggung jawab—bahwa kebudayaan, seperti kopi, harus dirawat dengan sabar, diseduh dengan kesadaran, dan diwariskan dengan rasa.

Bedah Buku Yo Mung: Puisi yang Pulang ke Kesahajaan di Omah Kopi Telemung


Banyuwangi (Warta Blambangan) Omah Kopi Telemung pada senja itu tidak hanya dipenuhi aroma kopi, tetapi juga denyut kata dan getar makna. Antologi puisi Yo Mung karya Samsudin Adlawi dibedah dengan suasana hangat dan reflektif, menghadirkan perjumpaan antara penyair, budayawan, sejarawan, dan pegiat sastra Banyuwangi.

Hadir dalam forum tersebut Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri, Ketua Komunitas Panji Blambangan KRT Ilham Triadi, budayawan Killling Osing Banyuwangi Aekanu Hariyono, sejarawan Elvin Hendrata, Pramoe Soekarno, Ribut Kalembuan, serta para pegiat sastra. Diskusi dipandu dengan cair dan tajam oleh Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi.

Hasan Basri menekankan kejujuran estetik dalam Yo Mung. Menurutnya, penggunaan bahasa daerah—bahkan dijadikan judul antologi—adalah langkah berani dan jarang ditemui dalam puisi Indonesia. “Ini upaya konkret menjalankan jargon: utamakan Bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah,” ujarnya, seraya menilai puisi-puisi dalam buku ini hadir apa adanya, tanpa pretensi.

Sejarawan Elvin Hendrata menggarisbawahi produktivitas Samsudin Adlawi di tengah kesibukannya. Ia menyebut Samsudin konsisten menulis, terutama karya-karya yang berkelindan dengan Banyuwangi—sebuah kesetiaan pada lokalitas yang terus dirawat melalui sastra. Senada, Fatah Yasin Nor menilai Yo Mung berbeda dari buku puisi Samsudin sebelumnya: bahasanya sederhana, namun berlapis makna dan mengajak pembaca merenung lebih dalam.

Pada senja yang perlahan meredup, pembacaan puisi turut menghidupkan diskusi. Pramoe Soekarno membacakan puisi tentang tsunami Aceh dua dekade silam, yang memantik kesadaran bahwa luka sejarah kerap berulang dalam wujud berbeda—seperti luka yang baru sembuh, kembali tersentuh. Aekanu Hariyono, guide internasional, mengaku tertarik pada puisi-puisi dalam antologi ini karena sarat kearifan lokal Banyuwangi yang jernih dan membumi.

Syafaat menyoroti kekhasan Yo Mung yang ringkas namun dalam. “Puisi-puisi ini menuntut pembacaan berulang,” katanya. Ia juga mengangkat satu detail menarik dari puisi “Pada Lupa”, pada baris terakhir tertulis “hitam lenyak seketika”. Syafaat sempat mempertanyakan apakah ada kesalahan cetak karena kata yang terasa ganjil, hingga pembaca terdorong membuka kamus—sebuah bukti bahwa puisi mengajak dialog, bukan memberi jawaban tunggal. Perbedaan makna antara penulis dan pembaca, menurutnya, adalah ruang hidup puisi.

KRT Ilham Triadi membagikan pengalamannya saat membacakan puisi pendek yang terasa sangat personal—seolah menyuarakan kegelisahan yang ia alami sendiri di hening senja. Pengalaman itu menegaskan bahwa puisi dalam Yo Mung mampu menjembatani perasaan penulis dan pembaca, meski tidak selalu mudah dipahami secara instan.

Mayoritas peserta bedah buku menyampaikan apresiasi, seraya mengakui bahwa kedalaman puisi-puisi Samsudin Adlawi tidak selalu mudah dijangkau semua pembaca. Menanggapi hal itu, Samsudin menyampaikan terima kasih atas pembacaan yang beragam. Ia mengungkapkan bahwa puisinya lahir dari perenungan panjang, referensi yang dalam, dan napas sufisme—yang juga dikuatkan oleh endorsemen Acep Zamzam Noor, penyair dengan jiwa tasawuf, dalam ulasan terhadap antologi ini.

“Puisi-puisi dalam antologi ini bagi saya terasa menyejukkan, ungkapannya singkat, jernih,
menyaran tema kesederhanaan, keseharian, peristiwa biasa—bahkan yang tampak kecil di pagi hari—namun dilukiskan menjadi sesuatu yang tidak hanya personal, melainkan juga universal.” kata Acep dalam Endorsemennya. 

Senja di Omah Kopi Telemung pun ditutup dengan kesan bahwa Yo Mung bukan sekadar buku puisi, melainkan undangan untuk berhenti sejenak—membaca ulang hidup, dari hal-hal yang paling sederhana.(syaf)

Gedung Juang Tetap Ramai di Hari Ketiga Pameran Lereme Roso

Banyuwangi (Warta Blambangan) Hari ketiga pameran lukisan Lereme Roso yang digelar Dewan Kesenian Blambangan, Rabu (24/12/2025), masih dipadati pengunjung. Sejak pagi hingga malam, langkah-langkah datang silih berganti memenuhi Gedung Juang, membawa rasa ingin tahu dan keheningan yang sama. 

Pameran bertema Lereme Roso ini akan berlangsung hingga 28 Desember 2025. Dari berbagai daerah, pengunjung datang bukan sekadar melihat lukisan, tetapi juga mendengarkan cerita di baliknya. Ketua Panitia, N. Kojin, dengan sabar menjelaskan makna setiap karya—tentang rasa, jeda, dan perenungan yang pelan.

Ketua Dewan Kesenian Blambangan, Hasan Basri, menyampaikan bahwa pameran ini merupakan agenda tahunan yang selalu digelar setiap akhir tahun, bertepatan dengan Hari Jadi Banyuwangi. Tahun ini, simbol ular merah dihadirkan sebagai tema, mengikat rasa atas kondisi bangsa yang tengah diuji bencana di berbagai wilayah.

“Lewat seni, kita diajak mendinginkan perasaan,” ujarnya. “Agar apa pun yang terjadi pada bangsa ini, dapat dipikirkan dengan kepala dan hati yang tenang.”

Di ruang pamer itu, lukisan-lukisan berbicara lirih. Mengajak setiap mata yang memandang untuk berhenti sejenak—merenung, dan merasakan.

Eskalasi Simbolik: Kombes Pol Dr. Rama Samtama Putra dalam Deklarasi Warga Kehormatan Suku Osing

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Di bawah naungan cakrawala malam Bumi Blambangan, tepat pada Selasa (23/12), sebuah manifestasi sosiokultural yang sublim terjadi di Rumah Kebangsaan (Basecamp) Karangrejo. Acara silaturahmi sekaligus pamitan Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Dr. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., bertransformasi menjadi sebuah ritus pengukuhan entitas melalui penganugerahan gelar Warga Kehormatan Suku Osing.

Secara fenomenologis, penobatan ini bukan sekadar seremoni formalitas, melainkan sebuah pengakuan kolektif atas dedikasi yang terbentang selama 15 bulan masa bakti. Penyerahan selendang kehormatan kepada Kapolresta dan Ibu Bhayangkari merepresentasikan simbiolisis mutualisme antara aparat penegak hukum dengan kearifan lokal (local wisdom). Selendang tersebut menjadi artefak simbolik yang mengikat doa restu dan legitimasi spiritual dari tetua adat Osing.

Kegiatan yang berlangsung di Jalan MT Haryono No. 2 ini dihadiri oleh beragam elemen strategis, menciptakan sebuah lanskap mikrokosmos dari harmoni kebangsaan. Hadirnya jajaran Forkopimda, unsur TNI-Polri, serta para budayawan menunjukkan adanya kohesi sosial yang kuat.

Hakim Sa’id, selaku tuan rumah sekaligus tokoh sentral dalam kegiatan tersebut, memberikan parameter kepemimpinan Kombes Pol Rama sebagai sosok yang mampu mengorkestrasi sinergi antar-elemen masyarakat.

"Amanah baru di Polda Papua merupakan sebuah dialektika pengabdian yang lebih luas. Beliau telah menanamkan fundamen kebersamaan yang kokoh di Bumi Blambangan," ungkap Hakim Sa'id dalam narasinya.

Dalam pidato perpisahannya, Kombes Pol Dr. Rama Samtama Putra menunjukkan retorika yang sarat akan humilitas (kerendahan hati). Ia melakukan refleksi kritis atas masa tugasnya, menyadari bahwa setiap dinamika kepemimpinan selalu berkelindan dengan kekurangan.

“Selama satu tahun tiga bulan saya bertugas di Banyuwangi, apabila masih terdapat kekurangan atau hal yang kurang berkenan, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih atas dukungan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat Banyuwangi,” tuturnya dengan nada yang menyentuh ranah afektif para hadirin.

Penganugerahan ini menandai berakhirnya sebuah fase kepemimpinan di Banyuwangi dengan catatan historis yang positif. Gelar Warga Kehormatan Osing menjadi jangkar identitas yang akan terus melekat pada Kombes Pol Rama saat ia melangkah menuju penugasan baru di tanah Papua.


“Lereme Roso” Tajuk Banyuwangi Art Exhibition di Gedung Juang 45 Peringati Harjaba ke-254

Banyuwangi (Warta Blambangan) Bertepatan dengan peringatan Hari Ibu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani membuka secara resmi pameran lukisan dan seni rupa bertajuk “Lereme Roso” dalam rangka memperingati Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254. Pameran yang digelar oleh Dewan Kesenian Blambangan (DKB) tersebut berlangsung di Gedung Juang 45 Banyuwangi mulai Senin (22/12/2025) hingga Minggu (28/12/2025).

Pameran seni rupa ini menjadi bagian dari rangkaian Banyuwangi Art Exhibition yang menghadirkan sebanyak 157 karya lukisan dan seni rupa dari pelukis lokal Banyuwangi serta perupa nasional dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan digelar selama sepekan ke depan. 


Ketua Panitia Pameran, Kojin, menjelaskan bahwa tema “Lereme Roso” dipilih sebagai ajakan reflektif kepada masyarakat. Menurutnya, pameran ini tidak semata-mata menjadi ruang memamerkan karya seni, melainkan juga sarana kontemplasi batin.

“Lereme Roso berarti meredakan rasa. Harapannya, pameran ini mengajak masyarakat untuk menengok ke dalam diri, meredakan emosi, dan menjernihkan jiwa melalui karya seni,” ujar Kojin.

Salah satu daya tarik utama dalam pameran ini adalah kehadiran lukisan karya Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Lukisan tersebut menyita perhatian pengunjung karena menampilkan gaya realistik yang kuat dan detail, menunjukkan sisi lain dari pemimpin daerah yang juga menekuni dunia seni rupa.

Bupati Ipuk dalam sambutannya mengapresiasi peran Dewan Kesenian Blambangan dan para perupa yang terus konsisten menghadirkan ruang ekspresi seni di Banyuwangi. Ia menilai seni rupa memiliki peran penting dalam membangun kepekaan rasa, memperkuat identitas budaya, sekaligus menjadi medium dialog antara seniman dan masyarakat. 


“Pameran seni seperti ini menjadi ruang pertemuan antara karya, rasa, dan publik. Seni bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk direnungi dan dimaknai bersama,” ungkap Ipuk.

Melalui Banyuwangi Art Exhibition bertema “Lereme Roso” ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama Dewan Kesenian Blambangan berharap peringatan Harjaba ke-254 tidak hanya dirayakan secara seremonial, tetapi juga diisi dengan kegiatan kebudayaan yang menumbuhkan kesadaran, kehalusan rasa, dan kebanggaan terhadap identitas Banyuwangi

Sosialisasi Hasil Rapat Koordinasi Nasional LPTQ Tahun 2025 di Lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Hasil Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Tahun 2025 pada Senin, 22 Desember 2025, bertempat di Aula Bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini diikuti oleh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan se-Kabupaten Banyuwangi serta para pembina LPTQ tingkat kecamatan.

Kegiatan sosialisasi disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Subbagian Tata Usaha, H. Moh. Jali. Sosialisasi ini bertujuan untuk mendiseminasikan hasil, rekomendasi, serta arah kebijakan nasional LPTQ yang dihasilkan melalui Rakornas LPTQ 2025 yang dilaksanakan di Tangerang Selatan pada November 2025. 


Dalam pemaparannya, H. Moh. Jali menjelaskan bahwa Rakornas LPTQ 2025 menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis dalam rangka penguatan pembinaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di tingkat daerah. Salah satu rekomendasi utama adalah perlunya penerapan pola pembinaan MTQ yang lebih panjang, terstruktur, dan terukur, dengan rentang waktu pembinaan antara delapan hingga sepuluh bulan. Pola ini dinilai lebih efektif dalam meningkatkan kompetensi peserta secara berkelanjutan dibandingkan pembinaan jangka pendek.

Rakornas juga merekomendasikan percepatan revisi regulasi LPTQ guna memperkuat aspek kelembagaan, profesionalitas pengelolaan, serta konsistensi sistem pembinaan di seluruh wilayah. Selain itu, dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan MTQ, termasuk kajian mengenai kemungkinan penyelenggaraan MTQ secara tahunan sebagai upaya menjaga kesinambungan pembinaan dan peningkatan kualitas kafilah di daerah.

Lebih lanjut disampaikan bahwa Rakornas LPTQ 2025 membentuk beberapa komisi yang secara khusus membahas isu kelembagaan, pelaksanaan musabaqah dan sistem perhakiman, serta kepesertaan. Hasil kerja komisi tersebut menghasilkan rekomendasi konkret terkait penyesuaian standar penyelenggaraan MTQ, baik dari aspek manajerial, teknis lomba, maupun perhakiman, agar selaras dengan tuntutan kualitas dan objektivitas penilaian.

Pengalaman dan laporan dari sejumlah daerah, seperti Aceh dan Kalimantan Tengah, menunjukkan bahwa pembinaan yang berkelanjutan serta pola penyelenggaraan MTQ yang lebih rutin memiliki korelasi positif terhadap peningkatan kualitas kafilah dan daya saing di tingkat nasional. Temuan tersebut menjadi salah satu dasar penguatan rekomendasi Rakornas LPTQ 2025.

Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan seluruh Kepala KUA dan pembina LPTQ kecamatan di Kabupaten Banyuwangi dapat mengimplementasikan hasil Rakornas LPTQ 2025 secara terintegrasi dan kontekstual sesuai dengan karakteristik daerah. Dengan demikian, sistem pembinaan MTQ di Kabupaten Banyuwangi diharapkan semakin terencana, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan mutu pembinaan Al-Qur’an.

Melati di Telapak Waktu: Ibu, Perempuan, dan Jalan Sunyi Menuju Indonesia Emas

 Melati di Telapak Waktu: Ibu, Perempuan, dan Jalan Sunyi Menuju Indonesia Emas

Oleh : Syafaat

Rahim itu sunyi, tak tampak dalam pidato dan perayaan, namun di sanalah masa depan disusui dengan kesabaran, doa, dan pengorbanan. Maka ketika Hari Ibu diperingati, yang sesungguhnya kita hormati bukan sekadar sosok ibu, melainkan rahim peradaban itu sendiri, tempat kehidupan dimulai, nilai ditanamkan, dan arah bangsa diarahkan. Logo Hari Ibu dengan bunga melatinya hadir sebagai isyarat lirih: bahwa kekuatan sejati tidak selalu bersuara keras, dan masa depan tidak dilahirkan dari ambisi, melainkan dari rahim kesucian, ketulusan, dan kasih yang setia merawat waktu.

Logo Hari Ibu tahun ini menghadirkan bunga melati, kecil, putih, nyaris tak bersuara. Ia seperti doa yang dilafalkan dalam rahim sunyi, tak diperdengarkan, namun sampai ke hadirat-Nya. Dalam kemerdekaan melaksanakan dharma, melati tidak memekik seperti mawar yang menuntut pandang, tidak pula mencolok seperti anggrek yang ingin dipuji. Ia memilih jalan rendah, dan justru dari kerendahan itulah kesucian bersemi. Melati tidak meminta disanjung; ia mengharumkan ruang dengan setia. Begitulah ibu: sering tak disebut dalam pidato, jarang diangkat dalam perayaan, namun dari rahim dan kesabarannya arah hidup dituntun. Ia memerdekakan dengan kasih, mendidik dengan diam, dan menguatkan dunia tanpa suara. Tanpanya, hidup kehilangan poros, sebab doa-doa paling sampai sering lahir dari yang paling sunyi.

Melati tumbuh dari akar budaya yang panjang, berjejak pada tanah yang sabar menerima musim. Ia tidak lahir dari tanah yang tergesa-gesa, melainkan dari bumi yang diolah dengan ketekunan. Di sanalah ia belajar bertahan: dari hujan yang tak selalu ramah, dari panas yang menguji keteguhan. Melati mengajarkan bahwa kekuatan perempuan Indonesia bukanlah kekuasaan yang menghentak meja, bukan suara yang meninggi untuk menang. Kekuatan itu adalah ketabahan yang setia merawat waktu, menunggu benih menjadi pohon, menunggu luka menjadi pelajaran, menunggu bangsa dewasa dalam nurani.

Warna emas dan merah putih yang mengiringinya bukan sekadar perhiasan visual. Emas adalah ingatan tentang kejayaan yang seharusnya diraih dengan keluhuran budi, bukan dengan tipu daya dan lupa diri. Ia mengingatkan bahwa kemuliaan tidak lahir dari kerakusan, melainkan dari kejujuran yang dijaga meski sunyi. Emas adalah cahaya yang seharusnya menerangi, bukan menyilaukan. Sementara merah putih bukan sekadar warna, melainkan darah dan doa yang menjelma tanda. Merah adalah keberanian yang berdetak di nadi bangsa, denyut yang lahir dari luka dan pengorbanan. Putih adalah niat yang dijaga tetap bening, agar perjuangan tidak tercemar oleh dendam dan kepentingan sempit. Di dalamnya tersimpan kerja yang tak selalu tampak, keringat yang tak selalu mendapat nama, serta pengorbanan yang sering luput dari catatan sejarah. Semuanya berpaut pada satu keyakinan sunyi: bangsa ini tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari rahim perjuangan yang panjang.

Dan rahim, selalu milik perempuan. Ia adalah tempat ternyaman dan teraman bagi tumbuhnya kehidupan, ruang sunyi tempat harapan dirawat dalam gelap. Dari rahim itulah kehidupan dimulai, dari sakit yang diterima dengan ikhlas, dari doa yang dipanjatkan tanpa pamrih, dari kesabaran yang tak menuntut balasan. Namun dari mulut rahim yang sama, sering pula lahir kecemasan dan persoalan: tangisan, risiko, bahkan kehilangan. Di sanalah perempuan menanggung paradoks kehidupan, menjadi pintu masuk bagi kehidupan sekaligus menanggung segala kemungkinan deritanya. Tetapi justru dari keberanian menanggung itulah, peradaban menemukan maknanya yang paling dalam. 


Maka logo itu sesungguhnya bukan sekadar gambar. Ia adalah pengingat. Bahwa di balik kemajuan yang ingin kita capai, ada nilai-nilai yang harus tetap dijaga. Bahwa sebelum bangsa ini bermimpi menjadi emas, ia harus terlebih dahulu setia pada kesucian, ketulusan, dan kesabaran, nilai-nilai yang sejak awal dirawat oleh perempuan, setia, dalam sunyi. Namun, simbol hanya akan menjadi poster jika tidak diterjemahkan dalam laku. Kepemimpinan perempuan yang digaungkan tidak cukup berhenti pada kursi jabatan atau angka keterwakilan. Kepemimpinan perempuan sejati adalah kepemimpinan yang memanusiakan. Ia tahu kapan harus tegas, dan kapan harus menunggu. Ia tahu bahwa keberlanjutan bukan sekadar pembangunan yang ramah lingkungan, tetapi juga ramah batin. Dunia yang rusak seringkali bukan karena kurang teknologi, melainkan karena kehilangan kasih.

Sejarah Hari Ibu di Indonesia lahir dari Kongres Perempuan 1928. Saat itu, perempuan belum berbicara tentang bonus demografi atau revolusi digital. Mereka berbicara tentang martabat, pendidikan, dan nasib anak-anak perempuan yang ingin keluar dari gelap. Di ruang sederhana Yogyakarta itu, para perempuan menanam benih peradaban. Mereka tidak tahu bahwa puluhan tahun kemudian, benih itu akan kita sebut sebagai fondasi Indonesia Emas. Tetapi mereka tahu satu hal: bangsa tidak akan pernah besar jika setengah dari jiwanya dibiarkan kecil.

Dalam ajaran agama, ibu menempati posisi yang nyaris tak tertandingi. Nabi menyebut “ibumu” tiga kali sebelum “ayahmu”, seakan ingin menegaskan bahwa cinta paling sunyi justru yang paling berat bebannya. Surga diletakkan di bawah telapak kaki ibu, bukan karena ibu ingin disembah, tetapi karena dari ketaatan kepada ibu, manusia belajar merendahkan ego. Doa ibu melesat tanpa sekat, sebab ia lahir dari luka yang tidak pernah benar-benar sembuh: luka mengandung, melahirkan, menyusui, dan melepaskan.

Ibu adalah madrasah pertama. Dari suaranya, anak belajar mengenal Tuhan. Dari pelukannya, anak mengenal dunia. Maka ketika kita bicara tentang Indonesia Emas 2045, pertanyaan paling jujur bukanlah seberapa cepat teknologi kita, melainkan seberapa sehat rahim sosial kita. Apakah perempuan diberi ruang aman untuk tumbuh? Apakah ibu diberi waktu untuk mendidik tanpa dihimpit ketakutan ekonomi? Apakah kepemimpinan perempuan dimaknai sebagai kekuatan etik, bukan sekadar kosmetik demokrasi?

Gerakan perempuan yang progresif, sebagaimana dibayangkan dalam desain Hari Ibu 2025, seharusnya melangkah ke depan tanpa kehilangan jejaknya di tanah asal. Ia boleh berlari bersama zaman, menyentuh teknologi, menembus batas-batas lama, tetapi akarnya mesti tetap menghunjam ke bumi nilai. Sebab pohon yang tumbuh tinggi tanpa akar yang kuat hanya menunggu waktu untuk tumbang. Kemajuan yang tercerabut dari kearifan hanya akan melahirkan kelelahan baru, bukan peradaban.

Perempuan Indonesia tidak sedang menuntut keistimewaan, apalagi pengunggulan yang meminggirkan yang lain. Yang diminta hanyalah kehadiran yang utuh dan adil. Kehadiran sebagai pemikir yang suaranya didengar, sebagai pengasuh yang jerih payahnya dihargai, sebagai pemimpin yang kebijaksanaannya dipercaya, dan sebagai penjaga nurani bangsa yang kepekaannya tidak diremehkan. Dalam diri perempuan, akal dan kasih tidak saling meniadakan. Justru di sanalah keduanya berdamai, lalu melahirkan keputusan yang manusiawi.

Hari Ibu bukanlah perayaan sentimentil yang cukup ditebus dengan bunga dan unggahan media sosial. Ia bukan sekadar hari untuk mengucapkan terima kasih lalu kembali lupa esok pagi. Hari Ibu adalah saat berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan bertanya dengan jujur kepada nurani kolektif kita: apakah bangsa ini telah cukup adil kepada perempuan? Apakah kebijakan yang lahir dari meja-meja rapat sungguh ramah kepada ibu, atau justru menambah beban yang harus dipikul dalam diam? Apakah masa depan yang kita bangun hari ini layak diwariskan kepada anak-anak yang baru belajar mengeja kehidupan dari kata paling awal yang mereka kenal: “ibu”?

Jika Indonesia sungguh ingin menjadi emas, maka kilau itu tidak boleh hanya tampak di statistik dan pidato. Ia harus memancar dari nilai yang hidup, dari keadilan yang dirasakan, dari kasih yang diwujudkan dalam kebijakan dan laku sehari-hari. Dan nilai itu, sejak awal sejarah, dijaga dengan setia oleh perempuan. Seperti melati, ia tidak berisik, tidak menuntut sorak. Tetapi tanpanya, rumah kehilangan aroma, dan bangsa kehilangan arah pulang.

Penulis adalah ASN / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

 

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger