Pages

Harjaba-Fest 2025 Hari Kedua : Lomba Baca Puisi dan Story Telling Semarakkan Panggung

 


Banyuwangi, 20 Desember 2025 – Semarak Hari Jadi Banyuwangi ke-254 dan peringatan Hari Ibu kembali dirayakan melalui Harjaba-Fest 2025 di Saestwo Café Klatak, Kalipuro, pada hari kedua, Sabtu (20/12/2025). Meskipun cuaca mendung, antusiasme peserta dan pendukung tak surut, dan acara berlangsung sukses serta lancar tanpa diguyur hujan.

Acara yang dipandu oleh Bung Aguk Darsono, Ketua Perkumpulan Gotong Royong Empat Puluh Lima, dibantu Yeti Chotimah, guru penggerak dan penulis senior Banyuwangi, dibuka dengan sambutan motivasi dari HM. Shodiqin, owner Saestwo Cafe. Dalam sambutannya, ia mengajak untuk melestarikan bahasa daerah, bangga berbahasa Indonesia, dan menguasai bahasa asing seperti Inggris, Arab, Cina dan lainnya.

Berbeda dengan hari pertama, lomba pada hari kedua—yaitu Baca Puisi dan Story Telling (bercerita dalam bahasa Inggris)—digelar secara bergantian di panggung utama, menciptakan dinamika yang menarik. Lomba Baca Puisi, yang diikuti peserta beragam mulai dari pelajar SMP, SMA/SMK, hingga pekerja dan guru, dinilai oleh dewan juri Andi Budi Setiawan, S.Pd dan Indriana Laili, S.Pd. Sementara Lomba Story Telling yang dikhususkan untuk pelajar SD dan MI, dinilai oleh Efa Endang Triyono, S.Pd dan Slamet Hariyadi, B.A.


Untuk mengisi jeda penilaian juri, sejumlah ibu dari komunitas Green Jasmine dan orang tua peserta turut menghibur dengan membacakan puisi, menambah kemeriahan suasana.

Daftar Pemenang Lomba Story Telling:

  • Juara 1: Berlian Ramadhani (MI Darunnajah II)
  • Juara 2: Queenbe Hilwa Tazkia (SD Lazuardi)
  • Juara 3: Abdul Ghani Ibrahim (MI Darussalam 1 Kalipuro)
  • Harapan 1: Adhira Kayyira Luneto (MI Darunnajah I)
  • Harapan 2: Zahsy Rouwan Haqueena Yadid (MI Darunnajah II)
  • Harapan 3: Chantika Irfa' (MI Darussalam I Kalipuro)

Seluruh pemenang Story Telling mendapat apresiasi berupa voucher kursus di ELC senilai Rp 1.000.000. Khusus juara 1, 2, dan 3, juga mendapatkan voucher Umroh senilai Rp 2.000.000 dari Tulus Hijrah Baitullah Tour & Travel.

Daftar Pemenang Lomba Baca Puisi:

  • Juara 1: Adilla Makhrisza Alharsi (SMAN 1 Rogojampi)
  • Juara 2: Mohammad Rizky Yulleo Altaf (SMK Muhammadiyah 8 Siliragung)
  • Juara 3: Muhammad Iqbal Maulana (SMPN 3 Rogojampi)
  • Harapan 1: Kristanto (Unsur Masyarakat Umum)
  • Harapan 2: Farras Aryantaqi (SMK Pelayaran Kalipuro)

Disamping tropy juara, seluruh pemenang juga mendapatkan voucher Umroh senilai Rp 2.000.000 dari Tulus Hijrah Baitullah Tour & Travel.

Keberhasilan hari kedua Harjaba-Fest 2025 ini menunjukkan semangat kebersayaan dan apresiasi terhadap seni serta pendidikan bahasa yang tetap hidup di Banyuwangi, meski di tengah rintik awan mendung.

Berikut kami sampaikan juga semua pemenang lomba yang diselenggarakan di hari pertama :

  • Lomba Pildacil:
    • Juara 1: Azka Dzakiyatus Shaleha (TPQ Safinatul Huda)
    • Juara 2: Muchamad Favian (SDI Al Khairiyah)
    • Juara 3: Zulfa Chasna Chabibah (Yayasan Rodlotul Jannah Karangrejo)
  • Lomba Bercerita Bahasa Using:
    • Juara 1: Afina Alana Qolbi (MI Darunajah 2)
    • Juara 2: Nayla Taqqiyah (MI Darunajah 2)
    • Juara 3: Lutfiyatul Ilmiyah (Rumah Tumbuh Bhakti Imamudin Zhaini/SMP Muhammadiyah 11 Rogojampi)
  • Lomba Melukis di Atas Kanvas:


Konser Kotak: Panggung Pulang, dan Ingatan yang Tidak Pernah Pergi

 

Konser Kotak: Panggung Pulang, dan Ingatan yang Tidak Pernah Pergi

Oleh : Syafaat

Ada musisi yang naik panggung untuk menunjukkan siapa dirinya. Ada pula yang naik panggung untuk pulang. Pada peringatan Hari Jadi Banyuwangi ke-254, konser Kotak di Gesibu Blambangan terasa lebih dekat dengan yang kedua. Malam itu, panggung tidak sekadar menjadi tempat suara dikeraskan, tetapi ruang batin tempat ingatan dipanggil pulang satu per satu. Musik menjelma ziarah, perjalanan sunyi yang menyingkap hubungan purba antara bunyi, tanah asal, dan rasa memiliki yang tak pernah benar-benar selesai.

Banyuwangi, yang telah berusia dua setengah abad lebih, bukan sekadar latar perayaan. Ia adalah ibu yang menunggu anak-anaknya kembali, meski hanya sebentar. Di usia yang matang itu, kota ini seolah berbisik bahwa pulang tidak selalu berarti menetap, tetapi mengingat dengan penuh hormat. Maka dentum gitar dan gema suara malam itu tidak berdiri sendiri; ia bertaut dengan debur laut, desir angin, dan jejak langkah masa lalu yang masih setia tinggal di tanah Blambangan.

Seperti judul lagu mereka sendiri, Pelan-Pelan Saja, ingatan memang tak suka dikejar. Ia datang ketika diberi ruang. Ia menyapa ketika tidak dipaksa. Dalam alunan itu, waktu melunak, masa lalu dan masa kini saling menatap tanpa canggung. Musik menjadi cara paling jujur untuk berkata: kita boleh pergi jauh, tetapi ada bagian dari diri yang selalu ingin kembali, kepada tanah yang pertama kali mengajarkan kita arti suara, luka, dan cinta.


Kotak, band yang lahir dari The Dream Band pada 27 September 2004, telah menempuh perjalanan panjang. Formasinya boleh berubah, tetapi denyutnya tetap sama: Tantri dengan suara yang tegas sekaligus retak—retak yang justru membuatnya jujur; Chua dengan bass yang setia menjaga nadi; dan Cella, Mario Marcella Handika Putra, gitaris yang seperti garis lurus di tengah peta yang sering berbelok, ia menjadi satu-satunya personel awal yang bertahan. Barangkali karena ada sesuatu dalam dirinya yang memilih setia: pada musik, pada proses, dan pada asal. Setia itu bukan keras kepala, melainkan Cinta Jangan Pergi.

Cella adalah anak Banyuwangi. Ia fasih berbahasa Osing, bahasa yang tidak hanya berisi kata, tetapi juga cara menahan rindu dan menamai kampung halaman. Maka ketika konser digelar di Gesibu Blambangan, panggung itu tidak sepenuhnya asing baginya. Bahkan ia memilih berdiri di sisi kiri panggung, bukan di tempat lazimnya, karena di situlah ia dulu berdiri sebagai remaja, saat mengikuti audisi, saat mimpi masih berupa kemungkinan yang rapuh. Di sana, waktu seperti melipat dirinya sendiri. Seolah ada bisik lirih: Berharap Bisa Kembali. Dan air matanyapu jika diizinkan juga akan menetes, dalam konser di tanah kelahirannya sendiri.

Tantri malam itu mengenakan jilbab hitam; pada lagu lain ia mengenakan kostum gandrung. Ia menyanyi diiringi penari gandrung Banyuwangi. Bukan sebagai gimmick budaya, melainkan sebagai isyarat penghormatan. Seolah musik rock pun tahu cara menundukkan kepala di hadapan tradisi. Di titik itu, panggung menjadi ruang dialog: antara gitar listrik dan gendang, antara masa depan dan masa lalu, antara hiruk-pikuk industri dan kesenyapan akar. Rock tidak berteriak; ia Beraksi dengan takzim.

Acara bertajuk “Tandang Bareng” tidak sekadar menyuguhkan konser, melainkan menghadirkan perjumpaan lintas rasa dan lintas ingatan. Ia menjelma perayaan yang tidak tergesa, sebuah panggung yang sengaja memberi ruang bagi napas tradisi sebelum hiruk-pikuk modern mengambil alih. Malam itu, seni tidak dipertontonkan untuk dikagumi dari kejauhan, melainkan dipertemukan—seperti keluarga besar yang duduk melingkar, saling menatap, saling menyapa, sebelum satu per satu cerita dimulai. Nada-nada lokal hadir lebih dulu, seperti salam sopan kepada tanah yang menjadi tuan rumah. Tradisi tidak berdiri sebagai hiasan, tetapi sebagai fondasi. Di sanalah musik modern belajar menjejakkan kaki dengan rendah hati. Kotak sendiri pernah melakukan hal serupa: mengawali sebuah lagu dengan intro musik gandrung. Sebuah isyarat kecil namun bermakna, bahwa sebelum suara diperkeras, ada baiknya kita mendengarkan denyut yang lebih tua; sebelum melangkah jauh, kita menoleh sebentar ke asal.

Dalam perjumpaan itu, gandrung tidak merasa ditinggalkan, dan rock tidak merasa dibatasi. Keduanya saling menyapa tanpa saling mengalahkan. Seolah musik sedang mengingatkan kita bahwa kemajuan tidak harus memutus ingatan, dan modernitas tidak perlu mengusir tradisi. Sebab seni, pada hakikatnya, adalah cara paling jujur manusia untuk pulang, kepada akar, kepada kebersamaan, dan kepada rasa hormat yang membuat setiap perayaan memiliki makna.

Pentas diawali oleh Kang Yons DD dengan Suling Montro. Nada-nadanya melayang pelan, seperti embun yang turun sebelum fajar, menyentuh tanah dengan lembut. Ia tidak meminta perhatian, tetapi mengundang keheningan. Lalu hadir Wandra dan Mak Temuk, membawa suara yang telah lama berdiam di lorong-lorong Banyuwangi, suara yang akrab dengan sawah, pasar, dan halaman rumah. Mereka bukan sekadar pengisi acara, melainkan penjaga pintu ingatan.

Musik lokal membuka jalan, memberi salam pada tanah sebelum dentuman rock mengambil alih. Seperti doa yang dibaca perlahan sebelum suara diperkeras, agar langkah tidak menjadi sombong, agar bunyi tidak kehilangan arah. Di titik inilah musik mengajarkan kita sesuatu yang sering kita lupa: keras tidak selalu berarti kasar; lantang bisa tetap santun. Tradisi tidak ditinggalkan, modernitas tidak ditolak. Keduanya berdiri berdampingan, saling menguatkan, saling memberi makna.

Lagu-lagu kebangsaan dan motivasi dilantunkan. Ada doa yang disisipkan untuk saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Aceh. Pada saat-saat seperti itu, musik berhenti menjadi hiburan. Ia berubah menjadi medium empati—cara manusia saling menguatkan ketika kata-kata terasa kurang. Nada menjadi pelukan; refrain menjadi Cinta Yang Sempurna, bukan karena tanpa cela, melainkan karena mau hadir.

Menariknya, para personel Kotak datang tidak sendiri. Mereka membawa keluarga, seakan ingin menjadikan Banyuwangi bukan sekadar kota singgah, melainkan halaman rumah tempat napas dilonggarkan. Di sela jadwal dan sorak penonton, mereka menikmati indahnya alam, laut yang tenang, hijau yang sabar, dan langit yang tidak menuntut apa-apa selain dipandangi. Liburan ini terasa seperti jeda yang disyukuri, bukan pelarian, melainkan kepulangan kecil di tengah perjalanan panjang.

Seolah mereka ingin mengatakan bahwa kesuksesan tidak harus menjauhkan seseorang dari rumah. Bahwa panggung tertinggi pun seharusnya tetap menyediakan ruang bagi anak-anak untuk berlari tanpa takut waktu, bagi istri untuk tersenyum tanpa jadwal, dan bagi kenangan lama untuk menyapa tanpa canggung. Di sanalah makna keberhasilan diuji: bukan pada seberapa terang lampu sorot menyala, tetapi pada seberapa hangat cahaya yang ikut pulang ke dapur, tempat cerita sederhana dibagi, dan hidup kembali menemukan wajah aslinya.

Konser itu berakhir, seperti semua konser. Lampu padam, suara reda, penonton pulang. Tetapi sesuatu tertinggal. Ingatan tentang seorang gitaris yang kembali ke titik awalnya. Tentang sebuah band yang tidak lupa pada tanah tempat salah satu nadinya berasal. Tentang Banyuwangi yang malam itu tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi rumah itu sendiri. Barangkali inilah makna paling sunyi dari musik: ia mengajarkan kita bahwa sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada panggung kecil di dalam dirinya yang ingin pulang. Dan pada malam itu, di Gesibu Blambangan, panggung kecil itu bernama Banyuwangi, tempat lagu-lagu tidak sekadar dinyanyikan, tetapi dikenang.

Penulis Adalah Ketua Lntera Sastra Banyuwangi

Keceriaan Da'i Cilik dan Dongeng Using Warnai Hari Pertama Harjaba-Fest 2025



Banyuwangi, 19 Desember 2025 – Suasana ceria mewarnai hari pertama pelaksanaan Harjaba-Fest 2025 di Saestwo Café Klatak, Kalipuro. Event yang digelar memperingati dua momen penting, yaitu Hari Jadi Banyuwangi ke-254 sekaligus PHBN Hari Ibu ini berlangsung sukses dan berkah. Kegiatan yang dipandu oleh Bung Aguk Darsono, Ketua Perkumpulan Komunitas Gotong Royong '45, secara resmi dibuka oleh H.M Shodiqin,S.Pd,MM,Guru Matematika SMKN 1 Kalipuro yang pernah mengabdi 20 tahun di Belu NTT berbatasan dengan Timtim. Dalam sambutannya, Shodiqin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan Harjaba-Fest 2025. Menutup sambutan pengurus BKPRMI dan Pergunu ini mengajak seluruh hadirin untuk bersama-sama menyanyikan lagu “Kasih Ibu” sebagai bentuk penghormatan kepada semua ibu yang telah mencintai, membesarkan, dan mendidik anak-anaknya. Hari pertama festival diisi dengan serangkaian lomba yang mengangkat seni, budaya, dan nilai-nilai keagamaan. Tiga jenis lomba yang digelar di hari pertama itu adalah: 
1. Lomba Pildacil (Pemilihan Da'i Cilik), menampilkan bakat dakwah para generasi muda. 
2. Lomba Bercerita (Mendongeng) dalam Bahasa Using, sebagai upaya melestarikan bahasa lokal Banyuwangi. 
3. Lomba Melukis di Atas Kanvas, wadah ekspresi kreativitas anak dan remaja. 
Dewan juri berasal dari berbagai latar belakang profesional, meliputi unsur Jurnalis, Pengawas MI Kementerian Agama, Pondok Pesantren, Sanggar Seni Merah Putih '45 dan Komunitas Peduli Pendidikan Banyuwangi (Koppiwangi). 



Daftar Pemenang Harjaba-Fest 2025 Hari Pertama: 
Lomba Pildacil: 
• Juara 1: Azka Dzakiyatus Shaleha (TPQ Safinatul Huda) 
• Juara 2: Muchamad Favian (SDI Al Khairiyah) 
• Juara 3: Zulfa Chasna Chabibah (Yayasan Rodlotul Jannah Karangrejo) 

Lomba Bercerita Bahasa Using: 
• Juara 1: Afina Alana Qolbi (MI Darunajah 2) 
• Juara 2: Nayla Taqqiyah (MI Darunajah 2) 
• Juara 3: Lutfiyatul Ilmiyah (Rumah Tumbuh Bhakti Imamudin Zhaini/SMP Muhammadiyah 11 Rogojampi) 

Lomba Melukis di Atas Kanvas: 
• Juara 1: Rizka (SMPN 2 Kalipuro) 
• Juara 2: Alira (SMPN 2 Kalipuro) 
• Juara 3: Tegar (Pondok Pesantren Sirojul Hasan- Rejosari Glagah) 

Disamping tropy juara, setiap pemenang mendapat voucher umroh senilai 2 juta rupiah dari Tulus Hijrah Baitullah Tour & Travel. Demikian pula bagi beberapa panitia yang beruntung. 

Acara ini menjadi lebih meriah ketika KOPPIWANGI (Komunitas Peduli Pendidikan Banyuwangi) yang saat itu juga hadir dalam rangka memeriahkan event ini, melakukan potong tumpeng dalam rangka merayakan hari jadinya satu dekade yang ke 10. "Maturnuwun relawan KOPPIWANGI yang bhakti buat negeri serta kolaborasi dengan pegiat sosial lainnya sesuai kepedulian nya.Dan terus guyub rukun tebar kebaikan Nong tanah kelahiran .”, tutur pengurus PERADI dan LPTQ ini dalam sambutannya di sesi peringatan Hari Jadi KOPPIWANGI yang dihadiri Mitra sejawat dan anggotanya yang pakai seragam batik. 
Didampingi istrinya, H Mujiono potong tumpeng untuk Ketua Umum BKPRMI dan Pengawas Kemenag. 

Kegembiraan para pemenang dan antusiasme peserta serta pengunjung menjadi bukti bahwa semangat pelestarian budaya, pendidikan karakter, dan kreativitas terus hidup di Banyuwangi. Harjaba-Fest 2025 diharapkan dapat terus menjadi agenda tahunan yang memperkaya khasanah event daerah dalam menyambut hari jadi Kabupaten Banyuwangi. (AW/Q"Nin/JN)



Efektivitas Pelaksanaan Bimbingan Remaja Usia Sekolah di Madrasah Aliyah An-Nur Kecamatan Kalibaru

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi melalui Seksi Bimbingan Masyarakat Islam melaksanakan kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di Madrasah Aliyah (MA) An-Nur, Kecamatan Kalibaru. Kegiatan ini diikuti oleh 150 peserta didik yang dikelompokkan ke dalam tiga kelompok belajar dan dilaksanakan selama kurang lebih delapan jam.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, H. Mastur, menyampaikan bahwa pelaksanaan BRUS merupakan bagian dari strategi pembinaan remaja dalam rangka penguatan karakter, pemahaman keagamaan, serta peningkatan literasi sosial dan moral peserta didik. Pada sesi penutupan, H. Mastur melakukan evaluasi partisipatif dengan meminta umpan balik langsung dari peserta terkait pelaksanaan kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta memiliki tingkat antusiasme yang tinggi serta memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru yang relevan dengan kebutuhan perkembangan remaja usia sekolah. 


Kepala MA An-Nur Kalibaru, Muhammad Isbat, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan BRUS di lingkungan madrasah yang dipimpinnya. Ia menilai kegiatan ini memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan kepribadian dan kesiapan sosial peserta didik. Lebih lanjut, ia berharap agar program bimbingan remaja usia sekolah dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak madrasah, khususnya madrasah swasta.

Dari sisi pelaksanaan, kegiatan BRUS difasilitasi oleh narasumber yang memiliki kompetensi di bidangnya, terdiri atas akademisi, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), penyuluh agama, serta praktisi terkait. Pendekatan multidisipliner ini dinilai mampu memberikan perspektif yang komprehensif kepada peserta dalam memahami isu-isu remaja, termasuk penguatan nilai keagamaan, sosial, dan moral.

Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Kalibaru, Anwar Luton, menjelaskan bahwa selain mendukung kegiatan BRUS yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, KUA Kecamatan Kalibaru juga secara aktif melaksanakan program sosialisasi pencegahan perkawinan usia dini melalui forum-forum keagamaan, seperti majelis taklim. Upaya tersebut merupakan bagian dari pendekatan preventif berbasis masyarakat dalam membina remaja agar memiliki kesiapan mental, sosial, dan spiritual.

Secara keseluruhan, pelaksanaan Bimbingan Remaja Usia Sekolah di MA An-Nur Kalibaru menunjukkan respons positif dari peserta dan pemangku kepentingan. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model pembinaan remaja berbasis pendidikan dan keagamaan yang berkelanjutan dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.

Banyuwangi, 254 Tahun: Kota yang Menyanyi dari Ingatan Panjang

 Banyuwangi, 254 Tahun: Kota yang Menyanyi dari Ingatan Panjang

Oleh : Syafaat

Dua ratus lima puluh empat tahun bukanlah sekadar deret angka yang dipahat di atas batu nisan sejarah, bukan pula sekadar hiasan umbul-umbul yang berkibar ditiup angin Selat Bali. Ia adalah usia yang lahir dari zikir panjang tanah ini, dari sujud-sujud sunyi para leluhur yang menggenggam iman sambil menahan pedang dan luka. Di kedalaman rahimnya, Banyuwangi adalah sebuah kitab besar, ditulis dengan tinta darah, air mata, dan doa yang ayat-ayatnya tak selalu dibaca di mimbar, tetapi terpatri di ladang, hutan, dan pantai.

Ketika kita merapal angka 254, sesungguhnya kita sedang membuka kembali lembar-lembar syahadat perlawanan yang pernah dikumandangkan di belantara Bayu. Syahadat bahwa tanah ini tidak tunduk selain kepada Yang Maha Merdeka. Syahadat bahwa manusia diciptakan untuk menjaga martabat, bukan menjualnya. Dari Minak Jinggo hingga para petani tanpa nama, dari ibu-ibu yang menyimpan beras di lumbung kecil hingga santri yang mengaji di surau bambu, semuanya adalah barisan panjang orang-orang beriman yang menolak tunduk pada ketidakadilan. Banyuwangi tumbuh bukan dari kemewahan istana, melainkan dari kesabaran. Ia dibesarkan oleh air sendang yang disakralkan, oleh kidung yang dilantunkan sebagai doa, oleh seni yang bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan. Gandrung, hadrah, macapat, hingga lantunan ayat suci, semuanya adalah cara tanah ini bersujud, cara masyarakatnya mengikat langit dan bumi agar tetap seimbang.


Maka, memperingati usia ke-254 bukanlah semata pesta cahaya dan panggung megah. Ia adalah miqat, titik berhenti untuk menengok kembali niat. Sudahkah kita setia pada amanah leluhur? Sudahkah pembangunan berjalan seiring dengan pemuliaan manusia dan alam? Ataukah kita hanya sibuk menghitung capaian, lupa menghitung luka yang tertinggal?

Di usia ini, Banyuwangi dipanggil untuk kembali menjadi tanah yang aman bagi perbedaan, subur bagi harapan, dan ramah bagi iman. Tanah yang memuliakan seni sebagai jalan kebijaksanaan, memelihara budaya sebagai kearifan, dan menjadikan agama sebagai cahaya, bukan bara. Dua ratus lima puluh empat tahun adalah doa yang belum selesai. Dan kitalah yang hari ini diminta melanjutkan kalimatnya, dengan kerja yang jujur, dengan hati yang bersih, dan dengan kesetiaan pada Tuhan serta sejarah. Kota ini tidak lahir dari rahim kesunyian yang pasif, melainkan dari rahim sejarah yang berdenyut oleh doa dan perlawanan. Ia dilahirkan oleh gemuruh dzikir para ksatria Blambangan, dzikir yang tak selalu dilafalkan dengan tasbih, tetapi dengan keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan pada martabat. Mereka menolak tunduk pada tirani, sebab dalam keyakinan terdalam mereka, tunduk hanya layak dipersembahkan kepada Yang Maha Esa.

Perang Puputan Bayu, 18 Desember 1771, bukanlah kisah tentang kalah dan menang dalam timbangan dunia. Ia adalah fajar shādiq, fajar sejati yang merekah dari luka dan darah, menandai lahirnya kesadaran kolektif bahwa kehormatan lebih bernilai daripada usia yang panjang tanpa harga diri. Di medan itulah, jasad boleh rebah, tetapi ruh berdiri tegak menghadap langit. Pedang dan doa menyatu, teriakan dan takbir bertaut, seakan bumi dan langit sepakat menyaksikan sumpah terakhir anak-anak Blambangan. Di Bayu, etika keberagamaan dan kebernegaraan menemukan simpulnya. Membela tanah kelahiran bukan sekadar naluri, melainkan ibadah; menjaga bumi bukan sekadar tugas sejarah, melainkan amanah ilahi. Tanah air dipahami sebagai titipan Tuhan yang harus dijaga dengan iman, bukan dieksploitasi dengan keserakahan. Dari sanalah Banyuwangi belajar bahwa nasionalisme yang sejati berakar pada spiritualitas, dan spiritualitas yang matang akan melahirkan keberanian moral.

Maka, hari jadi ini bukan sekadar penanda usia, tetapi mihrab perenungan. Ia memanggil kita untuk menyalakan kembali lentera di dalam dada, lentera yang pernah dinyalakan para leluhur dengan nyala keberanian dan keikhlasan. Agar di tengah riuhnya modernitas, di antara cahaya-cahaya palsu yang memukau mata namun menggelapkan hati, kita tidak tersesat dari asal-usul. Sebab kota ini hanya akan tetap hidup bila ingat pada doanya, setia pada lukanya, dan jujur pada imannya.

Hari ini, kita menyaksikan tetangga-tetangga kita ikut gairah, seakan bumi Tapal Kuda sedang berhias menyambut musim baru. Bandara-bandara ingin ikut membelah langit seperti Banyuwangi, landasan pacunya seperti sajadah panjang tempat harapan berangkat dan pulang. Jalan-jalan dibuka, aspal direntangkan laksana urat nadi yang mengalirkan rezeki, sementara pembangunan merayap pelan namun pasti ke sudut-sudut yang dahulu sunyi. Dalam kacamata duniawi yang sempit, semua ini kerap dibaca sebagai perlombaan, siapa lebih tinggi, lebih cepat, lebih gemerlap.

Namun bagi hati yang telah belajar tawaduk, kemajuan wilayah sekitar adalah tajallī, penampakan rahmat Tuhan yang tak mengenal pagar administrasi. Rezeki tidak pernah salah alamat, dan keberkahan tidak pernah berkurang hanya karena dibagi. Langit yang sama menaungi kita semua; angin yang sama membawa doa-doa dari desa ke desa. Maka, setiap landasan yang terbangun, setiap jalan yang terbuka, sejatinya adalah ayat-ayat Tuhan yang sedang diturunkan dalam bahasa pembangunan.

Banyuwangi tidak pernah memiliki watak rakus untuk menjadi pusat tunggal yang menelan sekelilingnya. Sejak awal, memori kolektif Blambangan adalah memori ruang yang luas, ruang persaudaraan, ruang lintasan budaya, ruang perjumpaan iman. Ia tumbuh dengan kesadaran bahwa kemuliaan tidak lahir dari menyingkirkan yang lain, melainkan dari kemampuan hidup berdampingan. Maka, ketika wilayah di sekitar kita bertumbuh, itu adalah gema dari keberhasilan kita menjaga keseimbangan dan stabilitas kawasan, doa yang diam-diam dikabulkan.

Kita tidak sedang berlomba lari dengan napas terengah dan siku saling menyikut. Kita sedang tandang bareng dalam sebuah kafilah besar menuju kesejahteraan, di mana setiap langkah saling menguatkan dan setiap singgah saling mendoakan. Persaingan hanyalah ilusi bagi mereka yang hatinya belum selesai dengan urusan kedengkian, mereka yang mengira cahaya bisa direbut, bukan dipantulkan. Banyuwangi memilih menjadi lilin yang menyulut lilin-lilin lain. Ia rela nyalanya dibagi, sebab ia tahu cahaya tidak pernah habis ketika disebarkan. Ia menolak menjadi api yang memadamkan nyala orang lain demi terlihat paling terang. Dalam pilihan itu, kota ini bersujud: kepada Tuhan yang Maha Luas rahmat-Nya, dan kepada sejarah yang mengajarkan bahwa terang sejati adalah yang mampu menerangi jalan banyak orang.

Kita harus jujur pada nurani: Apakah bandara yang megah itu telah menjadi jembatan doa bagi rakyat kecil? Ataukah ia hanya menjadi monumen bisu bagi mereka yang mampu terbang? Banyuwangi memahami bahwa pembangunan tanpa dimensi uluhiyah (ketuhanan) dan insaniyah (kemanusiaan) hanyalah raga tanpa ruh. Masyarakat tidak butuh angka-angka pertumbuhan ekonomi di atas kertas jika dapur mereka tidak mengepulkan asap syukur. Pembangunan yang sejati adalah pembangunan yang memuliakan martabat manusia. Pembangunan yang membuat seorang petani di kaki Gunung Raung merasa aman, seorang nelayan di Muncar merasa terlindungi, dan seorang guru ngaji di pelosok desa merasa dihargai. Inilah esensi dalam pembangunan: menjadikan kebijakan sebagai bentuk pengabdian, bukan sekadar urusan administrasi.

Di Banyuwangi, seni tidak pernah lahir sebagai hiburan yang kosong makna. Ia bukan sekadar tontonan bagi mata, melainkan tuntunan bagi jiwa. Jauh sebelum panggung-panggung festival berdiri megah dengan cahaya LED dan sorak kamera, Gandrung telah lebih dahulu menjadi sajadah panjang tempat masyarakat bersyukur kepada Sang Pemberi Rezeki. Setiap lenggoknya adalah ungkapan terima kasih kepada bumi yang subur, kepada hujan yang setia turun, kepada hidup yang masih diberi kesempatan bersemi.

Barong tidak hadir sebagai hiasan folklor belaka. Ia adalah simbol penjaga desa, personifikasi ikhtiar spiritual manusia dalam menghadapi marabahaya yang tak kasatmata. Di balik topeng dan geraknya, tersimpan kesadaran kolektif bahwa hidup tidak hanya bergulat dengan yang terlihat, tetapi juga dengan yang gaib, dan untuk itu, manusia harus rendah hati, saling menjaga, dan selalu mengingat Yang Maha Melindungi. Hadrah Kunthulan pun bukan sekadar irama yang menggerakkan kaki. Ia adalah detak jantung komunitas, denyut iman yang memadukan gerak raga dengan puji-pujian kepada Baginda Nabi. Rebana yang ditabuh bukan hanya menghasilkan bunyi, melainkan menata batin; mengingatkan bahwa tubuh dan ruh seharusnya berjalan seiring menuju kebaikan.

Seni di tanah ini adalah bahasa kami untuk berdialog dengan Tuhan. Ketika penari Gandrung melenggok, ada doa yang dipanjatkan lewat jemari—doa yang mungkin tak terucap oleh lisan, namun fasih dibaca oleh langit. Ketika kendang bertalu dan gong berdentang, ada getaran qalbu yang mengingatkan manusia pada harmoni kosmos, bahwa alam pun bertasbih dengan caranya sendiri. Karena itu, Banyuwangi Festival (B-Fest) semestinya tidak berhenti sebagai etalase pariwisata, apalagi sekadar kalender acara. Ia adalah madrasah kebudayaan, ruang belajar lintas generasi, tempat nilai diwariskan, bukan hanya dipamerkan. Di sanalah seni dirawat agar tidak membeku menjadi fosil yang mati, tetapi terus bergerak menjadi energi yang menghidupkan: menghidupkan ingatan, menghidupkan iman, dan menghidupkan harapan bahwa modernitas dapat berjalan seiring dengan kesetiaan pada akar.

Memasuki usia 254, tantangan kita tak lagi berwujud meriam penjajah yang menggelegar di medan laga, melainkan sesuatu yang lebih sunyi namun jauh lebih berbahaya: amnesia sejarah dan kekeringan spiritual. Musuh hari ini tidak datang dari laut dengan kapal perang, tetapi merayap pelan ke dalam ingatan, mengikis makna, memudarkan nilai, dan menggantinya dengan kilau sesaat yang sering kita salah sangka sebagai kemajuan. Jangan sampai bangunan-bangunan tinggi yang menjulang membuat pandangan kita lupa menunduk ke akar. Jangan sampai jalan-jalan lebar yang terbentang menjauhkan langkah kita dari jejak para leluhur. Kemajuan fisik yang tidak disertai kejernihan batin berisiko menjadikan kita asing di tanah sendiri, seperti musafir yang hafal peta, tetapi lupa arah pulang.

Kota yang besar bukan hanya yang kuat infrastrukturnya, melainkan yang utuh jiwanya. Kekayaan materi tanpa keluhuran tradisi hanyalah rumah megah tanpa ruh; berdiri, tetapi dingin dan sepi. Tradisi adalah ibu yang menyusui batin kolektif kita, tanpanya, kita akan tumbuh sebagai generasi yatim piatu secara kultural: hidup, tetapi kehilangan rasa memiliki. Di usia ini, Banyuwangi dipanggil untuk kembali berwudu pada sejarahnya, menyiram ingatan yang mulai kering dengan mata air spiritualitas. Agar setiap kemajuan menjadi sedekah, setiap pembangunan menjadi doa, dan setiap pencapaian menjadi jalan mendekat kepada Tuhan. Sebab hanya dengan begitu, kota ini tidak sekadar maju, tetapi juga beradab; tidak hanya bercahaya di mata dunia, tetapi hangat di pelukan sejarah dan iman, kita jadikan Hari Jadi Banyuwangi ini sebagai momentum untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri). Mari kita jaga harmoni antara kemajuan zaman dengan keteguhan iman. Kita ingin Banyuwangi yang modern, namun tetap memiliki bau tanah yang akrab bagi para petani; kita ingin Banyuwangi yang mendunia, namun tetap memiliki gema selawat yang syahdu di surau-surau.

Banyuwangi adalah sebuah "Lentera". Cahayanya harus mampu menerangi jalan bagi mereka yang gelap, memberi kehangatan bagi mereka yang kedinginan, dan menjadi penunjuk arah bagi mereka yang kehilangan makna hidup.

Penulis adalah :  Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi.

 

 

Kemenag Banyuwangi Gelar Musabaqoh Qiroatul Kutub untuk Perkuat Kompetensi ASN

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar Musabaqoh Qiroatul Kutub (MQK) dalam rangka memperingati Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia ke-80, Rabu (17/12/2025). Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Chaironi Hidayat, membuka kegiatan tersebut. Ia juga menjadi salah satu dewan juri bersama Ahmad Siddiq, Penyuluh Agama Islam KUA Kalipuro; Gufron, Kepala KUA Kecamatan Gambiran; serta Yusron, Kepala KUA Kecamatan Bangorejo yang bertindak sebagai penanggung jawab kegiatan. 


Chaironi mengatakan, Musabaqoh Qiroatul Kutub menjadi salah satu upaya Kementerian Agama untuk meningkatkan kompetensi aparatur sipil negara (ASN), khususnya Penyuluh Agama Islam, dalam penguasaan khazanah keilmuan Islam berbasis kitab kuning.

Menurut dia, kemampuan membaca dan memahami kitab kuning merupakan bagian penting dari profesionalitas ASN Kementerian Agama. Kompetensi tersebut dibutuhkan dalam menjalankan fungsi pembinaan dan pelayanan keagamaan kepada masyarakat.

Ia menambahkan, nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin yang terkandung dalam kitab kuning perlu terus dikontekstualisasikan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Nilai-nilai itu, kata dia, menjadi landasan dalam menjaga harmoni sosial serta memperkuat kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Chaironi juga menilai, MQK relevan dengan upaya penguatan moderasi beragama. Melalui peningkatan literasi keagamaan, penyuluh agama diharapkan mampu berperan aktif dalam menangkal pemahaman keagamaan yang ekstrem dan tidak sejalan dengan prinsip kebangsaan.

Sementara itu, Koordinator Kegiatan MQK, Ahmad Siddiq, menjelaskan bahwa pelaksanaan musabaqoh mengedepankan prinsip objektivitas dan sportivitas. Peserta diharapkan mengikuti seluruh ketentuan yang telah ditetapkan agar kegiatan berjalan tertib dan lancar.

Kemenag Banyuwangi Merajut Karakter Lewat Workshop Pentigraf

Banyuwangi (Warna Blambangan) Di bawah kegiatan peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyalakan obor literasi melalui Workshop Pentigraf—cerita pendek tiga paragraf—yang digelar secara hibrida, Selasa (26/12/2025). Aula MAN 3 Banyuwangi menjadi ruang temu luring, sementara layar-layar daring menghubungkan madrasah lain dalam satu tarikan napas yang sama: sastra sebagai jalan pembentukan karakter. 


Membuka kegiatan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menegaskan bahwa pentigraf bukan sekadar latihan merangkai kata. Ia adalah disiplin batin—cara berpikir holistik yang memaksa penulis memahami persoalan secara utuh, lalu merumuskannya dengan ringkas, padat, dan bermakna. Dalam kependekan, karakter diuji; dalam kesederhanaan, kedalaman dituntut.

Ketua Panitia HAB ke-80 Kementerian Agama RI pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Fathurrahman, menyambut kegiatan ini dengan rasa syukur. Berlatar pengalaman jurnalistik yang tumbuh tanpa bangku pelatihan formal, ia melihat workshop ini sebagai ladang subur bagi tumbuhnya insan literasi yang andal dan berkarakter—sebuah ikhtiar yang kini bersemi di lingkungan Kemenag Banyuwangi, diinisiasi oleh Lentera Sastra.

Dua suara menguatkan ikhtiar itu. Dr. Nurul Lutfia Rohmah dari Lentera Sastra—Ketua HISKI Komisariat Banyuwangi—membentangkan lanskap teori dan kepekaan sastra. Sementara Syafaat, Ketua Lentera Sastra, menautkan teori dengan laku: peserta tidak berhenti pada pemahaman, melainkan melangkah ke praktik. Mereka menulis, berlomba, dan karya terbaiknya kelak dibukukan—menjadi jejak yang dapat dibaca waktu.

Pelaksanaan hibrida menjahit jarak: materi disampaikan luring di MAN 3 Banyuwangi dan daring bersama siswa MTs Nurul Iman, Desa Sukojati, Kecamatan Blimbingsari. Dari ruang ke ruang, dari layar ke layar, sastra bekerja sebagai jembatan—menumbuhkan budaya literasi, mengasah kreativitas, dan meneguhkan karakter peserta didik. Di tiga paragraf, Banyuwangi belajar merangkum dunia; di sastra, ia menemukan arah.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger