Pages

Ketika Para Perempuan NU Dilantik di Pendopo

 Ketika Para Perempuan NU Dilantik di Pendopo

Oleh : Syafaat

Di layar kecil gengaman tangan yang memantulkan wajah dan cahaya, hadir sosok Dr. Emy Hidayati, teman lama saya di pergerakan, suaranya tenang, namun setiap kata mengandung getar yang dalam, gesah virtual pasca pelantikan Muslimat NU itu bukan sekadar percakapan, melainkan semacam majelis ruhani yang menyulam harapan dengan kesadaran. Dalam tutur beliau, tersirat pesan yang meneduhkan: bahwa kepemimpinan bukan perkara jabatan, melainkan ladang pengabdian, bahwa perempuan Muslimat harus menjadi cahaya yang menerangi, bukan hanya di ruang publik, tetapi juga di ruang batin keluarga, di mana kasih sayang adalah tafsir terindah dari ajaran agama.

Pendopo itu, meski kini hanya menjadi latar di balik layar, seolah kembali hidup, seperti ruang yang mendengar dzikir, menyaksikan tekad, dan menyimpan doa-doa yang terbang dari hati yang berikrar untuk melanjutkan perjuangan para ibu terdahulu, dengan kelembutan yang tegas, dengan kesabaran yang berani, dan dalam setiap jeda gesah itu, terasa seperti ayat yang baru diturunkan: bahwa harapan bukanlah ucapan, melainkan cahaya yang tumbuh di dada, menuntun langkah Muslimat untuk terus menebar rahmat di bumi Banyuwangi yang diberkahi.

Di bawah atap pendopo yang teduh, para perempuan berseragam hijau itu duduk berbaris dengan wajah penuh cahaya, di sebagian tangan mereka, tasbih menggantung pelan seperti menunggu lafaz doa yang akan lahir dari hati, di sana, di ruang yang tidak hanya menampung tubuh tetapi juga niat, pelantikan kepemimpinan Muslimat NU berlangsung dengan khidmat. Pendopo itu bukan sekadar bangunan tua tempat acara digelar; ia seperti saksi dari kesungguhan hati perempuan-perempuan yang datang bukan untuk berkuasa, tetapi untuk berkhidmat, angin sore yang menyusup di sela-sela tiang kayu membawa harum bunga melati,  wangi yang mengingatkan bahwa pengabdian selalu bermula dari kesucian niat.

Pelantikan Muslimat NU bukan sekadar seremoni, melainkan pembacaan ulang atas makna rahmah dalam kehidupan sosial, dalam wajah-wajah yang tertunduk penuh syukur itu, terbaca tekad untuk menegakkan nilai-nilai kemaslahatan sebagaimana diajarkan maqāṣid al-syarī‘ah: menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Tapi ada satu penjagaan lain yang tidak disebut dalam kitab-kitab fikih, yaitu menjaga kasih sayang agar tidak hilang dari bumi manusia. Sebab tanpa kasih sayang, kepemimpinan menjadi dingin, tanpa kelembutan, kekuasaan menjadi keras. Dan tanpa doa, semua perjuangan kehilangan arah.

Ayat dalam Surah An-Nisā’ seakan bergema di ruang pendopo itu:

"Tidak ada kebaikan dalam kebanyakan pembicaraan mereka, kecuali yang mengajak kepada sedekah, kebaikan, dan perdamaian di antara manusia."

Ayat itu seperti turun langsung ke dada para Muslimat yang baru saja dilantik, mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan tentang banyaknya kegiatan, tetapi tentang makna di balik setiap langkah. Bahwa rapat, diskusi, dan program sosial hanya bernilai ketika berorientasi pada tiga hal: menolong yang lemah, menebar kebaikan publik, dan memelihara kedamaian sosial.


Dari pendopo itu, harapan baru dipanjatkan, harapan agar Muslimat NU tetap menjadi penyangga moral di tengah krisis kemanusiaan, agar kepemimpinan mereka menolak keserakahan material dan menggantinya dengan spiritualitas sosial, paradigma pembangunan yang menolak logika proyek dan menggantinya dengan logika cinta. Dalam setiap gerak langkahnya, Muslimat NU telah membuktikan bahwa kerelawanan tidak pernah mati. Ia hadir di dapur-dapur pesantren, di posko bencana, di jalanan tempat anak-anak kecil belajar mengaji di bawah lampu temaram, mereka datang bukan membawa spanduk, tapi membawa doa, tidak berteriak tentang program, tapi bekerja dalam senyap yang penuh keberkahan.

Kepemimpinan sejati, sebagaimana yang hidup dalam napas Muslimat NU, bukan tentang sorotan kamera, melainkan tentang tangan-tangan yang rela kotor demi membersihkan luka masyarakat. Bukan tentang suara yang lantang di panggung, melainkan tentang bisikan lembut di telinga anak yatim: “Sabar, Nak, Allah tidak pernah meninggalkanmu.” Dalam pandangan Islam, manusia bukan sumber daya, melainkan amanah. Maka kerja sosial adalah ibadah, bukan proyek, kepemimpinan adalah amanah, bukan posisi. Itulah sebabnya pendopo Muslimat bukan sekadar tempat pelantikan, melainkan tempat zikir sosial berlangsung, di sana, doa dan tanggung jawab berpelukan erat, di sana, spiritualitas tidak berhenti di sajadah, tetapi menjelma menjadi tindakan nyata, menolong, mendidik, dan merawat kehidupan. Keteladanan Muslimat NU tampak pada tiga keindahan:

husnul mu‘āmalah, berinteraksi dengan akhlak mulia,

husnul musyārakah, berpartisipasi dengan semangat kebersamaan,

dan husnul mu‘āsyarah, hidup rukun dalam keberagaman.

Tiga keindahan ini bukan hanya sekumpulan konsep moral, melainkan jalan sunyi yang ditempuh dengan kesadaran batin. Dalam husnul mu‘āmalah, seorang Muslimat belajar untuk menjadikan setiap perjumpaan sebagai ladang kebaikan. Ia berbicara dengan kelembutan, memberi dengan ketulusan, dan memaafkan tanpa menunggu permintaan. Akhlak mulia bukan sekadar sopan santun di depan publik, melainkan cara menjaga cahaya Tuhan agar tetap menyala di dalam dada.

Dalam husnul musyārakah, tampaklah kebersamaan yang tumbuh seperti taman: setiap bunga punya warna dan aroma sendiri, namun semuanya saling melengkapi dalam keindahan. Muslimat memahami bahwa berpartisipasi bukan berarti menonjolkan diri, melainkan menguatkan yang lain. Mereka terlibat dalam kerja sosial, dalam pendidikan anak-anak, dalam membantu masyarakat yang tertimpa musibah, bukan karena ingin dikenal, melainkan karena di dalam hati mereka ada ayat yang hidup: wa ta‘āwanū ‘alal birri wat-taqwā,  “Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan takwa.”

Dan dalam husnul mu‘āsyarah, keindahan itu menemukan bentuk paling lembutnya. Hidup rukun dalam keberagaman adalah seni yang hanya bisa dijalankan oleh jiwa yang lapang. Di tengah masyarakat yang beragam keyakinan, suku, dan bahasa, Muslimat hadir bukan sebagai tembok pembeda, tetapi jembatan penghubung. Mereka tahu bahwa kedamaian tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kasih yang mampu menampung perbedaan.

Tiga keindahan ini, mu‘āmalah, musyārakah, dan mu‘āsyarah, adalah akar dari peradaban yang berakar pada iman dan berbuah pada kemanusiaan. Bila tiga keindahan ini tumbuh di hati para pemimpin, maka bangsa akan tumbuh dalam damai. Karena pemimpin yang lahir dari rahim akhlak tidak mencari kekuasaan, melainkan keberkahan. Mereka yang memimpin dengan husnul mu‘āmalah akan menebarkan kasih, bukan ketakutan. Mereka yang berjuang dengan husnul musyārakah akan menguatkan rakyat, bukan mengeksploitasi mereka. Dan mereka yang hidup dengan husnul mu‘āsyarah akan menata perbedaan menjadi harmoni, bukan konflik.

Dalam keheningan malam, ketika dzikir Muslimat berputar di pesantren, atau musala kecil di ujung desa, mungkin di situlah Tuhan sedang menatap mereka dengan senyum lembut. Sebab di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh ambisi, masih ada perempuan-perempuan yang memilih jalan kesederhanaan dan pengabdian, mereka tidak selalu tampil di layar televisi, tetapi dari tangan dan doa mereka, bangsa ini tetap bertahan dalam kesejukan. Keteladanan Muslimat adalah cahaya yang tidak berteriak, namun menerangi. Ia tumbuh dari dalam rumah, dari ruang pengajian, dari langkah-langkah kecil menuju majelis ilmu, dan setiap kali mereka menebar salam, sesungguhnya mereka sedang mengajarkan kepada dunia bahwa peradaban tidak dibangun oleh kekuatan, melainkan oleh kelembutan yang bersumber dari iman.

Maka ketika tiga keindahan itu menyatu, mu‘āmalah, musyārakah, dan mu‘āsyarah, bangsa ini akan menemukan dirinya kembali: tenang, santun, dan bersinar dalam damai. Sebab akar peradaban sejati tidak tumbuh di istana yang megah, tidak pula di ruang sidang yang riuh oleh retorika, melainkan di hati yang telah belajar mencintai tanpa batas. Dari hati yang lembut itu lahir tindakan-tindakan kecil yang menumbuhkan keindahan: senyum yang tulus pada tetangga, tangan yang menolong tanpa pamrih, dan doa yang lirih di tengah malam untuk keselamatan sesama. Inilah peradaban yang tumbuh diam-diam, bukan dengan pekik kemenangan, tetapi dengan bisikan kasih yang meneduhkan.

Ketika mu‘āmalah menjadi napas setiap pergaulan, maka manusia tidak lagi memandang dengan prasangka, melainkan dengan kasih. Ketika musyārakah menjadi semangat dalam bekerja, maka bangsa ini tidak lagi berkompetisi untuk mengalahkan, tetapi bergandeng tangan untuk membangun. Dan ketika mu‘āsyarah menjadi sikap hidup, maka keberagaman tidak lagi menjadi alasan untuk berjarak, melainkan ruang untuk saling mengenal sebagaimana firman Allah: “Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” Dalam kesatuan tiga keindahan itu, Indonesia tidak hanya akan damai di permukaan, tetapi juga tenteram di dalam jiwanya. Sebab damai yang sejati bukanlah hasil perjanjian politik, melainkan buah dari akhlak yang tumbuh di dada manusia yang ikhlas.
Dan bangsa yang memiliki akhlak seperti itu tidak akan mudah goyah oleh zaman, sebab ia berdiri di atas pondasi cinta,  cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama, dan cinta kepada tanah air.

Maka biarlah istana tetap berdiri megah di pusat kota, namun biarkan juga taman-taman kasih tumbuh di hati rakyat yang sederhana. Sebab dari merekalah cahaya bangsa memancar, dari rumah yang bersahaja, dari tangan yang menanak nasi, dari lidah yang berdoa pelan sebelum fajar. Di sanalah akar peradaban sejati menancap: bukan pada kekuasaan, tetapi pada kelembutan; bukan pada jabatan, tetapi pada kesetiaan hati. Dan selama hati manusia masih sanggup mencintai dengan ikhlas, selama doa masih naik dari dapur dan langgar kecil di kampung, bangsa ini tidak akan kehilangan arah. Sebab sejatinya, peradaban bukan bangunan dari batu, melainkan bangunan dari cinta, dan cinta itu, sebagaimana tiga keindahan itu, tumbuh tanpa pamrih, mengalir dari hati yang mengenal Tuhan, dan meneduhkan siapa pun yang singgah di bawah rindangnya.

Perempuan memang punya cara sendiri untuk memimpin: dengan kesabaran yang panjang, dengan doa yang tidak bersuara, dengan air mata yang menjadi hujan bagi kehidupan, dari kelembutan mereka, lahir kekuatan yang tidak tampak tapi bekerja, seperti akar yang menegakkan pohon besar tanpa pernah menuntut dilihat. Maka pelantikan di pendopo itu akan selalu punya cerita, setiap kursi di dalamnya menyimpan nama-nama perempuan yang berkhidmat dalam diam, setiap pilarnya mungkin pernah mendengar ayat-ayat dibaca dengan suara bergetar. Dan setiap langkah keluar dari pendopo itu, sejatinya adalah langkah menuju pengabdian yang lebih luas, di jalan rahmah, di jalan kasih sayang. Muslimat NU tidak hanya memimpin dengan program, tapi dengan cinta, tidak hanya menggerakkan organisasi, tapi menghidupkan nilai, mereka membangun peradaban bukan dengan kekuasaan, tapi dengan doa.

Dari pendopo yang dibangun para pendahulu itu, rahmah dipantulkan ke langit, lalu turun kembali menjadi cahaya yang menerangi bumi. Selamat berkhidmat, para perempuan rahmah, semoga setiap langkah menjadi ayat hidup, setiap keputusan menjadi amal shalih, dan setiap senyum menjadi doa yang menyejukkan dunia. Amin.

Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

.

Gema Madrasah di Liga Puisi

 Gema Madrasah di Liga Puisi

Oleh: Syafaat

Liga Puisi 4 yang digelar Jawa Pos Radar Banyuwangi memang telah berakhir, namun gema dan napasnya belum benar-benar pergi. Ia masih berputar di udara seperti gema adzan di dada yang belum selesai berdzikir. Setiap kali kenangan itu disentuh, terdengar kembali suara-suara anak madrasah yang membaca puisi dengan wajah serius, suara yang mungkin sedikit gemetar, namun jujur. Suara yang tidak hanya mengucapkan kata, tetapi menyalakan lentera kecil di dalam dirinya sendiri.

Dari empat kategori jenjang yang dilombakan, tiga juara pertama diraih oleh insan madrasah: SD/MI, SMP/MTs, dan kategori guru. Tiga kemenangan itu seperti tiga bait dalam satu puisi panjang tentang kesabaran, bait pertama ketulusan, bait kedua keuletan, bait ketiga doa yang tak bersuara. Orang bisa menyebutnya keberuntungan, tetapi siapa pun yang memahami denyut hidup di madrasah akan tahu: ini bukan kebetulan. Ini buah dari kerja panjang yang senyap, dari peluh yang jatuh di antara dhuha dan ashar, dari latihan-latihan kecil yang tak pernah dimuat di berita, tapi menyimpan cahaya di baliknya, seperti lampu minyak yang terus menyala di tengah malam panjang. 


Madrasah adalah dunia kecil yang melatih kepekaan dengan cara paling sederhana. Di sana anak-anak belajar membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar, melagukan Tilawah dengan suara yang bening, lalu tanpa sadar belajar pula membaca kehidupan dengan rasa yang halus. Dua tahun sekali mereka mengadakan Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) hingga ke tingkat provinsi—dan membaca puisi selalu menjadi cabang lomba yang ditunggu, seperti zikir yang berubah rupa menjadi suara. Di madrasah, puisi bukan pelarian dari kenyataan, melainkan pelengkap iman. Anak-anak membaca dan menulis tentang ibu yang tak pernah berhenti berdoa, tentang guru yang berjalan di bawah gerimis membawa spidol, tentang langit pagi yang disapa dengan salam dan harapan.

Sering kali terlupa bahwa di balik seragam hijau tua itu, tersimpan anak-anak yang memendam mimpi menjadi penyair. Mereka mungkin tak memiliki banyak buku sastra, tetapi mereka punya guru yang mengajarkan makna kata ikhlas. Mungkin karena itu, setiap kali mereka membaca puisi, ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan, getar yang membuat penonton diam sejenak sebelum bertepuk tangan. Bukan karena kagum, tetapi karena terharu. Sebab yang berbicara di atas panggung bukan sekadar anak madrasah, melainkan hati yang sedang mencari cara untuk bersyukur.

Kini banyak madrasah menggandeng pelatih profesional, bukan karena kurang percaya diri, melainkan karena ingin belajar dari yang terbaik. Mereka tahu, membaca puisi bukan hanya tentang suara, tetapi tentang keberanian membuka hati. Di antara anak-anak itu, ada yang dulunya pemalu, tak berani bicara di depan kelas. Namun ketika diberi teks puisi dan diminta membaca, sesuatu di dalam dirinya menyala. Puisi memberi ruang untuk menjadi diri sendiri, memberi tempat bagi jiwa untuk berbicara tanpa takut dihakimi.

Kementerian Agama dalam beberapa tahun terakhir semakin giat menumbuhkan gerakan literasi dan sastra. Guru-guru madrasah dan ASN membentuk komunitas, menerbitkan antologi, menulis di media. Sebagian dari mereka bahkan rutin mengadakan pelatihan menulis di sela jam mengajar, di antara azan dan ujian. Literasi di madrasah bukan sekadar program, melainkan jalan menuju empati; bukan lomba untuk menang, tetapi perjalanan menuju pencerahan.

Entah dengan rahasia apa, madrasah selalu punya cara yang lembut namun dalam dalam menanak rasa. Kata-kata di sana tumbuh dari tanah yang disiram doa dan diterangi ayat. Saat para santri menulis, ada aroma kitab yang baru saja dibuka, wangi kertas, tinta, dan kesunyian yang penuh makna. Di antara diksi-diksi mereka tercium jejak sujud yang panjang, langkah kecil menuju pemahaman yang tak selalu perlu dijelaskan. Dan ketika mereka membaca, suara mereka datang dari ruang yang lebih jauh dari sekadar panggung, ada gema doa di setiap jeda, ada dzikir yang bersembunyi di antara tanda baca. Bahasa mereka mungkin belum semegah para penyair besar, tetapi kejujuran mereka berdenyut lebih hangat, lebih hidup—seperti embun yang tak tahu bahwa dirinya sedang memantulkan cahaya matahari. Sebab di madrasah, kata-kata tak pernah dikejar untuk dipuji, melainkan dijaga agar tetap suci. Di sana, kalimat lahir dari hati yang terbiasa tunduk pada makna, dan setiap makna adalah perjalanan pulang menuju Yang Maha Kata.

Liga Puisi bukan sekadar ajang, melainkan cermin kecil dari apa yang telah mereka tanam bertahun-tahun. Kemenangan bukan tujuan utama, mereka datang bukan hanya untuk bersaing, tetapi untuk berbagi ruh. Ada murid MI yang membaca puisi tentang pendidikan dan kemiskinan, guru madrasah yang menulis tentang sunyi ruang kelas dan karut-marut nasib anak bangsa, siswi MTs yang suaranya nyaris pecah menahan tangis saat membaca tentang perjuangan orang tua. Tak satu pun dari itu dibuat-buat, semuanya lahir dari hati yang mengenal kehilangan dan doa.

Layak diteladani, bagaimana mereka saling mendukung tanpa iri, tanpa ingin tampil paling indah. Di ruang lomba itu, terpantul semangat lama: bahwa puisi tidak dilahirkan dari kepandaian, melainkan dari kepedihan yang diterima dengan sabar. Dan barangkali di situlah madrasah menang, karena mereka telah terbiasa menulis dan membaca dengan kesabaran, seperti santri yang belajar menulis huruf arab satu demi satu hingga menjadi doa yang utuh.

Madrasah, dengan segala kesederhanaannya, kini menjelma taman kata. Di sana, iman dan imajinasi saling berpelukan seperti dua sahabat lama yang tak pernah benar-benar berpisah. Anak-anak belajar shalawat sambil belajar metafora, menulis bukan untuk terkenal, melainkan agar langit mendengar. Setiap bait menjadi doa yang disusun dalam bentuk baru; setiap kata adalah zikir yang disampaikan dengan nada lembut. Suatu hari nanti, tak ada lagi yang heran melihat madrasah terus melahirkan penyair. Sebab di sana, puisi tak pernah diajarkan sebagai pelajaran, tetapi dihidupkan sebagai kehidupan. Membaca puisi menjadi cara lain untuk bersyukur, menulis puisi menjadi bentuk zikir yang paling sunyi.

Dan ketika panggung Liga Puisi telah kosong, mikrofon dimatikan, para juri meninggalkan tepat, gema itu masih tinggal. Ia bergetar di dada para guru yang tersenyum bangga, berbisik di hati anak-anak yang malamnya masih mengulang bait-baitnya di depan cermin. Di dunia yang semakin bising ini, madrasah telah memberi satu anugerah paling berharga: kemampuan untuk mendengarkan suara hati sendiri, suara yang lirih namun abadi, yang kelak tumbuh menjadi puisi kehidupan itu sendiri.


Penulis adalah Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

Pesan Moral Pelantikan Kepemimpinan Muslimat NU

Pesan Moral Pelantikan Kepemimpinan Muslimat NU

Emi Hidayati : Wakil Ketua PC Muslimat NU Banyuwangi

Pelantikan kepemimpinan Muslimat NU bukan sekadar peristiwa seremonial, melainkan momentum spiritual dan sosial untuk memperbarui niat, arah, dan tanggung jawab kolektif dalam membangun peradaban berbasis kasih sayang (rahmah). Dalam bingkai maqāṣid al-syarī‘ah — menjaga agama (hifz ad-dīn), jiwa (hifz an-nafs), akal (hifz al-‘aql), keturunan (hifz an-nasl), dan harta (hifz al-māl) — Muslimat NU memiliki peran mulia untuk menegakkan nilai-nilai kemaslahatan yang berpihak pada kaum lemah, memuliakan perempuan, dan memperkuat keadaban sosial umat.

Sebagaimana pelajaran dalam Surah An-Nisā’ ayat 114:

"Lā khaira fī katsīrin min najwāhum illā man amara biṣ-ṣadaqatin aw ma‘rūfin aw iṣlāḥin baina an-nās."

"Tidak ada kebaikan sama sekali bagimu dalam berorganisasi, rapat-rapat, diskusi-diskusi, seminar-seminar, bahkan dalam bernegarapun tidak ada artinya kecuali mempunyai agenda besar. Pertama ,peduli terhadap fakir miskin dan sesama melalui amal sosial dan sedekah, kedua, menebarkan amal kebajikan dan kebaikan publik (al-ma‘rūf), dan ketiga membangun rekonsiliasi serta kedamaian sosial (iṣlāḥ baina an-nās)”. Inilah tiga agenda penting yang harus menjadi napas dan orientasi Muslimat NU dalam menjalankan amanah kepemimpinan. 


Kepemimpinan Muslimat NU yang baru dilantik perlu meneguhkan paradigma pembangunan berbasis kerelawanan dan spiritualitas sosial — sebuah paradigma yang menolak keserakahan material dan menggantinya dengan semangat kesederhanaan, gotong royong, dan cinta kasih. Dalam konteks maqāṣid al-syarī‘ah, kerja sosial Muslimat bukan semata amal, melainkan ibadah yang menjaga kehidupan manusia secara menyeluruh. Gerakan ini menolak logika pembangunan modern yang eksploitatif, dan mengembalikannya menjadi pembangunan yang memanusiakan manusia, memperkuat ukhuwah insaniyyah, serta menumbuhkan akhlakul karimah dalam kehidupan bersama.

Dalam praksisnya, kepemimpinan Muslimat NU harus menjadi teladan husnul mu‘āmalah (berinteraksi dengan akhlak mulia), husnul musyārakah (berpartisipasi dengan semangat kebersamaan), dan husnul mu‘āsyarah (hidup rukun dalam keberagaman). Semua itu berpuncak pada cita-cita besar: membangun masyarakat yang shāliḥ, berkeadaban, dan berkeimanan yang kuat. Inilah bentuk nyata iṣlāh sosial — memperbaiki kehidupan umat dari akar kemiskinan, kebodohan, dan perpecahan, menuju masyarakat yang penuh kasih, adil, dan bermartabat.

Muslimat NU dipanggil untuk menegaskan kembali ruh kerelawanan sosial yang menjadi inti gerakan Islam rahmatan lil ‘ālamīn. Di tengah krisis kemanusiaan dan moral global, kerelawanan bukan hanya sikap individual, melainkan jalan perjuangan kolektif yang menyatukan spiritualitas dan solidaritas. Ia menjadi bentuk kemiskinan yang ramah — kesediaan untuk hidup sederhana, berbagi dengan tulus, dan menempatkan kemaslahatan umum di atas kepentingan pribadi.

Melalui semangat ini, Muslimat NU dapat menjadi penyangga moral bangsa, menginspirasi perempuan untuk berdaya tanpa kehilangan kelembutan, berjuang tanpa kehilangan keikhlasan, dan memimpin tanpa kehilangan ketawadhuan. Kepemimpinan yang lahir dari rahim kerelawanan dan ketulusan inilah yang akan menjaga keseimbangan sosial, memperbaiki kerusakan, dan menuntun umat menuju peradaban yang berkeadilan, beradab, dan beriman.

Selamat berkhidmat kepada seluruh jajaran kepemimpinan Muslimat NU yang baru dilantik.

Semoga setiap langkah dan keputusan menjadi amal shalih yang menebar manfaat, menumbuhkan cinta kasih, dan memperkuat peradaban rahmah di bumi pertiwi. 

Membaca Ulang Sastra Santri dan Pesantren

Membaca Ulang Sastra Santri dan Pesantren

Oleh : Syafaat


Tahun lalu, dalam perhelatan Jambore Sastra Asia Tenggara di Banyuwangi, ada satu denyut yang menggugah kesadaran: denyut dari balik tembok pesantren. Dari ratusan puisi yang mengalir menuju meja panitia, banyak di antaranya lahir dari tangan-tangan santri, dari ruang-ruang sunyi Kementerian Agama dan pesantren yang tersebar dari Riau hingga Madura, dari Tapal Kuda hingga lereng-lereng pesantren tua di timur Jawa. Fenomena ini tentu bukan kebetulan. Ia seperti getar halus dari sejarah yang tengah menulis dirinya sendiri, bahwa pesantren kini sedang membuka babak baru dalam kesusastraan Indonesia. Dari balik dinding yang dulu hanya bergema lantunan kitab kuning, desiran syi’ir selepas adzan, kidung puji-pujian sebelum jamaah berkumpul untuk shalat, dan bisikan wirid Subuh yang merambat lembut di antara detik-detik pagi, kini mengalir pula sajak-sajak yang berbahasa Indonesia: puisi yang tetap berjiwa religius namun menatap dunia dengan mata kemanusiaan.

Dan ketika Sastra Timur Jawa menggelar Temu Karya Serumpun 2025, gema itu kembali terdengar. Di antara halaman-halaman tebal antologi yang disusun dari penulis lintas negara, puisi-puisi santri turut menorehkan warna, lembut tapi teguh, sederhana namun memancarkan kedalaman batin. Sastra pesantren telah menjelma bukan hanya gema spiritual, tetapi juga pernyataan estetik: bahwa dari rahim kesunyian, lahir puisi yang membawa cahaya. 


Puisi di pesantren tumbuh dari keseharian yang sederhana, dari ketukan waktu yang diatur oleh adzan, dari denyut kehidupan asrama yang bersahaja, dari perenungan malam di serambi mushala yang remang. Puisi santri lahir bukan dari ruang akademik atau ruang baca yang tenang, tetapi dari ruang-ruang batin yang penuh dzikir dan kesunyian. Mereka menulis di antara waktu belajar Nahwu dan Shorof, di antara doa dan kerja bakti, di antara rindu dan kepatuhan. Karena itu, puisi-puisi mereka sering kali tidak berambisi menjadi “modern” atau “eksperimental” dalam pengertian estetika kota, tetapi jujur dan bersumber dari getaran iman yang paling dalam.

Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru, tradisi puisi sudah lama menjadi bagian dari kehidupan pesantren, bahkan sejak masa-masa awal penyebaran Islam di Nusantara. Syi’ir-syi’ir berbahasa Arab dan Jawa dengan aksara Pegon digunakan sebagai media pengajaran dan dakwah. Nadzoman tentang akhlak, fiqih, dan tasawuf dilagukan dengan nada yang indah agar mudah dihafal. Para santri belajar ilmu sekaligus belajar estetika: bagaimana kata bisa menuntun hati, bagaimana irama bisa menjadi jalan menuju Tuhan. Dalam suasana seperti itulah lahir ungkapan terkenal bahwa “setiap ilmu yang tidak disertai adab adalah kegelapan, dan setiap kata tanpa niat adalah suara kosong.”

Sastra pesantren, dalam beragam bentuknya, hikayat, serat, kisah, cerita, puisi, roman, novel, syi’ir, dan nadzoman, merupakan cermin dari upaya manusia pesantren memahami dunia. Ia lahir dari pergulatan antara teks dan konteks, antara tradisi keilmuan dan realitas sosial. Karya-karya ini dibacakan di surau, di langgar, di rumah-rumah kiai, dan di sela pengajian. Orang-orang tua dan muda mendengarkannya bersama, lalu menurunkannya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itulah sastra pesantren memiliki sifat komunal, ia milik bersama, bukan milik individu semata.

Berbicara tentang “sastra pesantren” berarti berbicara tentang kesadaran budaya yang tumbuh dari pengalaman religius. Ia bukan sekadar catatan kehidupan kaum santri, tetapi juga cermin dari subyektivitas kreatif mereka dalam menafsirkan dunia. Sejarah mencatat bahwa sejak abad ke-17, pesantren telah menjadi tempat persemaian para pujangga dan penulis. Yasadipura I (Raden Ngabehi Yasadipura I), Yasadipura II (Tumenggung Sastronagoro), dan Ranggawarsita yang hidup di Kasunanan Surakarta adalah contoh klasik: mereka pernah nyantri, menguasai bahasa Arab dan Jawa, dan menulis karya-karya besar yang menggabungkan hikmah spiritual dengan pengalaman sejarah bangsanya.

Yasadipura I, misalnya, melalui karyanya Serat Cabolek, adalah sebuah cermin zaman — cermin yang merekam denyut ketegangan antara syariat dan makrifat, antara akal yang tunduk pada hukum dan hati yang mencari makna di balik hukum itu sendiri. Di dalamnya bergolak perdebatan antara Ketib Anom, sang penjaga kemurnian ajaran syariat, dengan Haji Mutamakkin, pengembara ruhani yang menapaki lorong-lorong mistik Jawa. Keduanya berhadap-hadapan di hadapan para ulama dan bangsawan Keraton Kartasura, di mana agama dan kekuasaan bersilang pandang, dan bahasa langit bernegosiasi dengan bahasa bumi. Melalui karya Yasadipura I, kisah itu menjelma bukan sekadar pertentangan dua tokoh, melainkan pertemuan dua arus besar peradaban: pesantren dan kraton, kitab dan kebudayaan, syariat dan rasa. Di sana, pesantren tampak tidak lagi semata sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi menjelma menjadi pusat kebudayaan jiwa Jawa — ruang di mana aksara berdoa, dan doa berubah menjadi aksara

Dalam berbagai daerah Nusantara, karya-karya santri juga berkembang dalam bentuk lokalnya masing-masing. Di Jawa Barat muncul Tjarita Ibrahim dan Tjarita Nurulqamar; di pesisir Jawa Tengah hidup Serat Jatiswara dan Serat Centhini; di Sumatera terdapat Hikayat Pocut Muhammad dan Hikayat Indrapura; bahkan di Sulawesi Selatan, kisah I La Galigo disisipkan unsur pesantren, ketika tokoh Sawerigading dalam versi santri digambarkan pergi menuntut ilmu ke Mekkah dan pulang mendirikan masjid. Proses penyisipan dan penyesuaian ini menunjukkan daya kreatif kaum pesantren dalam mentransformasikan kebudayaan lokal menjadi kebudayaan Islam Nusantara.

Tradisi puisi dalam pesantren memiliki kekuatan spiritual yang khas. Ia tidak semata berbicara tentang cinta atau keindahan, tetapi juga tentang perjalanan jiwa. Dalam syi’ir-syi’ir pesantren, cinta selalu mengarah pada Tuhan, dan keindahan adalah cermin dari keagungan-Nya. Puisi menjadi alat tafakur, sarana tazkiyah (penyucian jiwa). Santri belajar menulis bukan untuk menjadi penyair besar, melainkan untuk memahami makna diri. Dan dalam keheningan malam, mereka melafalkan kata-kata yang seolah menembus batas antara manusia dan Tuhan.

Puisi-puisi itu kini menemukan bentuk barunya. Para santri muda menulis di koran, di majalah sastra, dan di media sosial. Mereka menulis tentang kehidupan pesantren dengan bahasa yang segar, namun tetap membawa nilai-nilai keislaman dan etika sufistik. Karya-karya penyair seperti D. Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus), dan Ahmad Tohari menjadi bukti bahwa dunia pesantren masih memancarkan cahaya bagi kesusastraan Indonesia. Mereka membawa kesederhanaan hidup santri ke panggung nasional, tanpa kehilangan ruh spiritual yang membentuknya.

Sebut saja dua puisi Acep Zamzam Noor dalam antologi Semesta Ingatan, Trauma, dan Imaji Kebebasan, dua puisi (Fajar bagi Kata-kata, dan Teluk Nipah) yang memantulkan aroma pesantren, serupa dupa yang menyala perlahan di ruang hati. Di antara bait-baitnya, tercium wangi kesunyian, getir pengalaman, dan cahaya makrifat yang menetes lembut dari langit penghayatan. Acep, penyair yang menempuh jalan sunyi antara sastra dan tasawuf, seolah menulis dengan tinta yang dicelup dari air wudhu. Puisinya bukan sekadar rangkaian kata, melainkan dzikir yang berirama, doa yang disamarkan dalam keindahan metafora. Ketika ia hadir dalam Liga Puisi 2025 di Banyuwangi, suaranya bukan hanya membaca, ia menafsirkan diri sendiri. Setiap larik yang keluar dari bibirnya seperti menyentuh ruang batin para pendengar; menyapa yang jauh, memeluk yang luka, dan mengingatkan bahwa kata sejati selalu lahir dari jiwa yang bersujud. 

Juga KHR Ahmad Azzaim Ibrahimy, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, turut menorehkan cahaya dalam antologi Semesta Ingatan, Trauma, dan Imaji Kebebasan. Puisinya yang berjudul “Allahumma Ampelkan Jiwa Raga” adalah napas panjang dari seorang salik yang berjalan di jalan sunyi menuju Yang Maha Cinta. Dalam larik-lariknya, kata tidak hanya menjadi bunyi, melainkan doa yang berdenyut, dzikir yang bergetar, dan cahaya yang menuntun jiwa. Puisi itu seolah lahir dari kedalaman malam di mana seorang kekasih berbicara diam-diam dengan Tuhannya.

Aroma tasawuf begitu kental di dalamnya, seakan setiap kata telah dimandikan oleh air mata rindu yang tak pernah kering. Ia menulis bukan untuk memamerkan keindahan bahasa, melainkan untuk mengembalikan bahasa kepada asalnya: sebagai jalan pulang. Dan dari bait-bait itu, kita merasakan sesuatu yang melampaui wacana, semacam getar halus dari hati yang telah luluh di hadapan Sang Maha Segalanya. Dalam puisi Allahumma Ampelkan Jiwa Raga, kata “Ampelkan” bukan sekadar seruan, tetapi permohonan seorang hamba agar raganya pun berlabuh di pelukan Ilahi.

Namun demikian, posisi sastra pesantren, termasuk puisi pesantren, masih berada di pinggiran dalam peta sastra Indonesia. Karya-karya mereka sering dianggap kurang “modern”, atau terlalu “moralistik”. Padahal, di tengah krisis spiritual masyarakat modern, suara-suara dari pesantren justru menawarkan keseimbangan. Mereka mengingatkan bahwa sastra bukan hanya permainan bentuk, tetapi juga laku batin; bukan hanya tentang estetika, tetapi juga etika; bukan sekadar tentang kata-kata, tetapi tentang kejujuran hati.

Dalam pandangan ini, sastra pesantren bukan sekadar genre, melainkan cara hidup. Ia mengajarkan bahwa menulis adalah bagian dari ibadah, membaca adalah bagian dari tafakur, dan mendengar adalah bagian dari dzikir. Santri yang menulis puisi sesungguhnya sedang belajar memahami dirinya sendiri: bagaimana ia mencintai, bagaimana ia percaya, bagaimana ia berdoa. Dalam setiap bait puisi, selalu ada jejak sujud yang tak kelihatan.

Di Banyuwangi, sastra pesantren tumbuh seperti pohon tua yang akarnya menembus masa lalu dan pucuknya menatap langit masa kini. Jejaknya kentara, berdenyut dalam nadi para santri dan insan Kementerian Agama yang menulis bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk menyucikan ingatan. Sebut saja Shalawat Badar, yang ditulis oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pada tahun 60-an, sebuah kidung yang melampaui zaman, menjadi gema dari masa ketika puisi masih lahir dari sujud dan air mata. Dari tangan seorang abdi negara, lahirlah syair yang bukan sekadar karya sastra, melainkan dzikir yang berpakaian bahasa.

Kini, ketika dunia semakin bising oleh kata-kata yang kehilangan makna, puisi pesantren hadir sebagai suara yang lembut namun tegas. Ia tidak berteriak, tidak menggurui, tapi mengalir seperti air yang jernih, menyentuh yang mau disapa, dan menghidupkan yang haus akan makna. Dalam setiap puisinya, ada doa yang disamarkan, ada cinta yang disembunyikan, dan ada pengakuan kecil bahwa manusia selalu butuh Tuhan dalam setiap perjalanan menulisnya.

Mungkin di situlah letak keabadian sastra pesantren: ia tidak mencari kemegahan, tapi ketulusan. Ia tidak mengejar abadi, tapi karena keikhlasanlah, ia bertahan dalam keabadian.


Penulis adalah ASN/Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.

Insan Madrasah Guncang Panggung Liga Puisi 2025: Dominasi Total, Kemenag Banyuwangi Torehkan Sejarah Sastra!

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Dentuman sastra menggema di panggung Liga Puisi Jawa Pos Radar Banyuwangi 2025! Dalam ajang paling bergengsi bagi para penikmat kata dan penyalur rasa itu, insan madrasah di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyuwangi tampil bagai meteor yang menyambar langit kompetisi. Hasil akhir penjurian menegaskan satu fakta monumental: hampir seluruh juara pertama disapu bersih oleh peserta madrasah.

Keberhasilan luar biasa ini bukan sekadar kemenangan dalam lomba baca puisi—ia adalah penanda kebangkitan dunia literasi madrasah. Di saat sebagian lembaga pendidikan masih bergulat dengan tantangan era digital, madrasah justru melesat sebagai kawah candradimuka lahirnya generasi literat, estetis, dan religius.

Pada kategori Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar (MI/SD), dominasi madrasah nyaris absolut. Dari lima finalis, empat merupakan duta madrasah yang melangkah dengan percaya diri. Panggung juara pertama direbut dengan gemilang oleh Aura Latisha Ramadhani dari MIN 1 Banyuwangi, disusul Azka Dzakiyatus Shaleha (MI Darunnajah 2 Banyuwangi), Avilla Fikratud Putri Yuwono, dan Refli Ahsan Mubaroqi (MI Islamiyah Rogojampi). Deretan nama ini bukan sekadar peserta lomba—mereka adalah bukti bahwa madrasah telah menjelma menjadi laboratorium rasa dan ruang kelahiran penyair-penyair masa depan. 


Sementara itu, di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), kejayaan madrasah kembali membahana. Azkia Kiska Al Kholid dari MTsN 1 Banyuwangi tampil memukau dan berhasil menggondol juara pertama. Dengan teknik deklamasi yang matang, diksi tajam, dan penghayatan mendalam, ia menegaskan bahwa sastra bukan sekadar pelajaran tambahan—melainkan napas yang hidup di lingkungan madrasah.

Tidak berhenti di situ, keunggulan madrasah juga merembet ke ranah tenaga pendidik. Nuhbatul Fakhiroh, guru MTsN 1 Banyuwangi, yang tahun lalu hanya berhenti di posisi juara dua, kini berhasil menuntaskan dahaga kemenangan dengan menjadi juara pertama. Ia membuktikan bahwa guru madrasah bukan hanya pengajar, tapi juga pelaku dan penggerak kebudayaan.

Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya. Dalam keterangannya, ia menyebut kemenangan ini sebagai buah dari kerja panjang dan dedikasi luar biasa.

> “Prestasi ini adalah gema dari kesungguhan para guru dan pembimbing madrasah dalam menanamkan nilai-nilai literasi dan kecintaan terhadap sastra. Ini bukan sekadar lomba, tetapi tonggak peradaban baru di dunia pendidikan madrasah,” tegasnya penuh semangat.

Sementara itu, Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, yang turut hadir sebagai pengamat, menyebut dominasi madrasah dalam Liga Puisi 2025 sebagai hasil dari proses pembinaan yang matang dan berkelanjutan.

> “Beberapa madrasah telah lama menjalin kerja sama dengan Lentera Sastra Banyuwangi dalam pelatihan baca puisi dan penulisan kreatif. Kami ingin menjadikan madrasah sebagai episentrum sastra di Banyuwangi—tempat di mana iman, ilmu, dan imajinasi berpadu dalam harmoni,” ujarnya.

Kompetisi tahun ini tak hanya diikuti oleh sekolah dan madrasah Banyuwangi, tetapi juga oleh peserta lintas daerah, termasuk santri dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Persaingan yang kian ketat justru menyalakan bara semangat baru bagi peserta madrasah, yang tampil bukan sekadar membaca puisi, tetapi menghidupkan makna dan mengguncang nurani penonton.

Ajang Liga Puisi Radar Banyuwangi 2025 pun akhirnya menjadi panggung pembuktian: bahwa madrasah bukan hanya benteng nilai-nilai religius, tetapi juga mercusuar kebudayaan dan peradaban literasi.

Dengan torehan prestasi ini, madrasah di bawah Kemenag Banyuwangi menegaskan diri sebagai kekuatan baru dalam dunia sastra Indonesia. Mereka bukan hanya mencetak hafidz dan ulama, tapi juga penyair, seniman kata, dan penggerak kebudayaan bangsa.

Sebuah babak baru telah dimulai—babak di mana madrasah menulis sejarahnya sendiri dengan tinta puisi dan cahaya keilmuan.

Lentera Sastra Banyuwangi Hadir dalam Diskusi Sastra Bersama Acep Zamzam Noor di Ajang Liga Puisi Radar Banyuwangi

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Komunitas Lentera Sastra Banyuwangi turut hadir dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan Diskusi Sastra yang menghadirkan narasumber Acep Zamzam Noor, seorang sastrawan, penyair, dan pelukis kenamaan Indonesia berdarah Sunda yang dibesarkan di lingkungan pesantren. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Liga Puisi Radar Banyuwangi 2025, yang berlangsung mulai tanggal 27 hingga 30 Oktober 2025. 


Kehadiran Lentera Sastra Banyuwangi memberikan warna tersendiri dalam ajang tersebut. Mereka datang untuk memberikan motivasi dan dukungan kepada para peserta dari unsur Kementerian Agama, baik dari kalangan siswa madrasah maupun para guru, agar tampil maksimal dan berprestasi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

“Banyak siswa madrasah dan guru yang berhasil meraih juara pada Liga Puisi tahun lalu. Kami berharap semangat itu terus menyala dan menjadi inspirasi bagi peserta tahun ini,” ujar salah satu perwakilan Lentera Sastra Banyuwangi.

Kegiatan yang juga dihadiri oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, tersebut berlangsung hangat dan penuh semangat kebersamaan. Para peserta tampak antusias mengikuti sesi diskusi bersama Acep Zamzam Noor, yang berbagi pengalaman tentang perjalanan kreatifnya di dunia sastra dan seni rupa, serta pentingnya menjaga kejujuran dan spiritualitas dalam berkarya.

Sementara itu, Direktur Radar Banyuwangi sekaligus Ketua Panitia Pelaksana, Syamsudin Aglawi, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi atas dukungan dan partisipasinya dalam kegiatan ini.

“Dukungan dari Kementerian Agama sangat luar biasa. Banyak siswa dan guru madrasah yang ikut berkompetisi dalam Liga Puisi tahun ini. Ini menunjukkan bahwa semangat literasi dan seni terus tumbuh di lingkungan pendidikan agama,” ujarnya.

Liga Puisi Radar Banyuwangi kini telah menjadi ajang tahunan yang ditunggu-tunggu oleh para pecinta sastra di Bumi Blambangan. Melalui kegiatan ini, karya-karya para penyair muda dan pendidik dari berbagai latar belakang diharapkan dapat semakin memperkuat ekosistem sastra lokal sekaligus menjadi ruang ekspresi yang mempersatukan berbagai kalangan.

Merangkul Keberagaman dari Pesantren hingga Gereja di Banyuwangi

 Merangkul Keberagaman dari Pesantren hingga Gereja di Banyuwangi

Oleh: Ratna Septianingsih


Saya tida


k pernah menyangka bahwa langkah kaki saya yang berawal dari pondok pesantren di Krapyak, Yogyakarta, akan berujung di Banyuwangi, di sebuah ruangan kerja yang menaungi penyelenggaraan kehidupan umat Katolik. Begitu menerima surat penempatan itu, saya sempat terpaku. Antara takjub dan ragu.

Dalam hati saya bertanya, “Ya Allah, mengapa Engkau tempatkan aku di sini?”

Namun pelan-pelan, saya belajar bahwa setiap penempatan adalah bagian dari takdir yang membawa pesan tersendiri. Allah tidak pernah salah menempatkan hamba-Nya. 

Saya lahir dan tumbuh dalam suasana yang kental dengan tradisi keislaman. Hidup saya terbiasa di lingkungan yang penuh dengan lantunan ayat suci, shalawat, dan diskusi keagamaan. Ketika saya kuliah di Universitas Islam Negeri, lingkungan saya pun tidak jauh berbeda, dunia yang penuh dengan semangat keilmuan Islam dan nilai-nilai dakwah.

Maka, ketika saya mengetahui bahwa saya ditempatkan di seksi Penyelenggara Katolik, rasanya seperti dipindahkan ke dunia baru. Saya sempat bingung, bahkan sedikit takut salah langkah. Bagaimana saya yang berasal dari latar belakang pesantren bisa berinteraksi, memahami, dan bekerja di lingkungan yang melayani umat Katolik?

Namun waktu menunjukkan bahwa kegelisahan saya tidak berdasar.

Seiring hari-hari berlalu, saya justru merasakan bahwa kasih Tuhan hadir di mana pun manusia mau membuka hati. Rekan-rekan kerja saya, baik yang Muslim maupun Katolik, menyambut saya dengan hangat. Tidak ada sekat, tidak ada kecurigaan. Mereka memperlakukan saya sebagai bagian dari keluarga besar, bukan “orang baru” yang berbeda keyakinan.

Saya teringat satu ayat Al-Qur’an yang begitu menenangkan hati:

> “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.”

(QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini terasa hidup di Banyuwangi. Saya menyaksikan langsung bagaimana perbedaan bukan menjadi jarak, melainkan jembatan untuk saling mengenal dan memahami. Di sinilah saya belajar makna nyata dari tasamuh, toleransi, yang dulu hanya saya dengar dari ceramah para kiai di pesantren.

Ketika saya berkunjung ke gereja untuk menghadiri kegiatan umat Katolik, sambutan para Romo begitu hangat. Tidak ada rasa canggung. Saya tetap dengan jilbab dan identitas saya sebagai seorang muslimah, sementara mereka menyapa dengan senyum dan keramahan yang tulus. Dalam momen-momen seperti itulah saya merasakan bahwa nilai-nilai kasih dan perdamaian sejatinya bersumber dari Tuhan yang sama, meskipun manusia memanggil-Nya dengan nama yang berbeda.

Banyuwangi, bagi saya, adalah miniatur Indonesia yang sesungguhnya. Di sini, masyarakat hidup dalam keberagaman agama, etnis, dan budaya. Namun justru dalam keberagaman itulah tumbuh rasa persaudaraan yang kuat. Saya sering berpikir, barangkali ini yang dimaksud Rasulullah SAW dalam sabdanya:

> “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.”

(HR. Abu Daud)

Ketika kita mau memantulkan kebaikan kepada sesama, siapa pun mereka, maka yang kembali kepada kita pun adalah kebaikan.

Saya bersyukur ditempatkan di Banyuwangi. Dari cerita beberapa teman CPNS di daerah lain, ada yang merasa kurang diterima atau sulit beradaptasi. Sementara di sini, saya justru merasa dirangkul. Para senior, baik PNS maupun P3K tidak membeda-bedakan siapa datang dari mana atau apa agamanya. Mereka mencontohkan bagaimana nilai-nilai moderasi beragama dijalankan bukan hanya dengan ucapan, tapi lewat tindakan nyata.

Saya meyakini bahwa tugas saya di Kementerian Agama bukan sekadar administratif. Ia adalah amanah spiritual.

Menjadi abdi negara di bidang yang mengurus kehidupan beragama berarti menjadi jembatan antara nilai ilahi dan kehidupan sosial. Dan untuk menjalankan amanah itu, seseorang harus memiliki hati yang lapang, sebagaimana Allah mengajarkan kepada kita tentang rahmah (kasih sayang) dan hikmah (kebijaksanaan).


Kini saya mengerti bahwa perjalanan dari pesantren menuju dunia lintas iman bukanlah perpindahan tempat, melainkan perluasan jiwa.

Saya belajar bahwa menjadi muslim sejati bukan berarti hidup dalam batas-batas eksklusif, melainkan membawa nilai Islam yang penuh kedamaian ke mana pun kaki melangkah.


Moderasi beragama, bagi saya, bukan sekadar program pemerintah. Ia adalah cara Allah mendidik manusia agar saling memahami dan menghormati.

Ketika seorang muslimah bisa berkunjung ke gereja tanpa rasa takut, dan ketika seorang Romo bisa menyapa dengan tulus kepada seorang perempuan berhijab, di situlah rahmat Allah sedang bekerja, mengikat hati-hati manusia dalam kasih yang lebih luas daripada sekat agama.

Saya percaya, selama niat kita adalah ibadah, setiap langkah akan bernilai di sisi-Nya. Maka saya bersyukur, karena dari Krapyak hingga Banyuwangi, dari lingkungan pesantren hingga kantor penyelenggara Katolik, Saya belajar bahwa Tuhan memang Maha Luas, dan kasih-Nya hadir dalam setiap perjumpaan manusia yang mau membuka hati.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger