Pages

Diam Lebih Nyaring dari Ribuan Komentar Netizen

 Diam Lebih Nyaring dari Ribuan Komentar Netizen

Oleh: Syafaat

Di sebuah perumahan padat, jarak antar rumah hanya selembar dinding. Suara batuk dari ruang tamu bisa jadi terdengar sampai ke rumah sebelah, rahasia keluarga yang dibicarakan di kamar sering kali bocor tanpa disengaja karena tembok tipis tak sanggup menahan getar suara. Dalam suasana seperti itu, masalah kecil bisa membesar, perselisihan tentang parkir kendaraan di jalan perumahan, suara musik yang terlalu keras, atau percakapan yang salah tangkap bisa berlanjut menjadi keretakan yang panjang. Namun, selama masih berada di lingkup perumahan, masalah itu bisa diatasi lewat musyawarah kecil, lewat tegur sapa, atau setidaknya lewat dinginnya diam yang akhirnya meluruhkan amarah.

Akan tetapi, ketika masalah serupa berpindah ke media sosial, ia seakan menemukan sayap terbang, persoalan sederhana tentang parkir mobil bisa melompat menjadi tontonan ribuan orang. Pertengkaran antar tetangga bisa disaksikan jutaan mata yang sama sekali tidak mengenal para pelaku. Masalah yang mestinya cukup diselesaikan dengan duduk di beranda rumah sambil ngopi berubah menjadi perdebatan panjang yang menyeret opini tokoh publik, bahkan kadang pejabat negara sekelas gubernur bisa nimbrung. Yang lebih menakjubkan sekaligus menakutkan, kasus sepele itu bisa menyeberang batas negara tanpa paspor, tanpa visa, tanpa penghalang apa pun, hanya karena sebuah unggahan yang viral.

Fenomena ini tidak hanya bicara tentang teknologi. Ia lebih mirip cermin yang memantulkan wajah batin masyarakat, mqqqqedia sosial memberi panggung tanpa batas, memberi mikrofon tanpa mati, dan menyediakan penonton yang tak pernah bubar. Siapa pun bisa berbicara, siapa pun bisa bersuara, siapa pun bisa menilai. Hasilnya, banyak yang lebih cepat mengetik daripada merenung, lebih rajin mengomentari daripada menyimak.

Ruang digital yang mestinya bisa menjadi lahan doa, sering kali berubah menjadi ladang iri, dengki, dan amarah. Kata-kata yang lahir dari jari manusia terlempar ke ruang maya seakan tanpa bobot, padahal setiap huruf adalah bagian dari diri, setiap kalimat adalah catatan yang kelak dibuka kembali di hadapan Tuhan. Betapa sering nasihat sederhana Rasulullah ﷺ diabaikan: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” Satu kalimat yang tampak ringan, tetapi begitu sulit diterapkan ketika jari sudah menari di atas layar. 


Anonimitas memberi keberanian palsu. Orang bisa menyembunyikan wajah, menyamarkan nama, lalu melontarkan kata-kata yang tak pernah ia ucapkan di warung kopi. Dunia maya seperti pesta topeng, di mana setiap orang bisa menjadi siapa saja, bisa berkata apa saja, tanpa harus mempertanggungjawabkan wajah aslinya. Mereka yang pendiam di dunia nyata tiba-tiba berubah garang di dunia maya. Mereka yang sopan dalam percakapan sehari-hari, di ruang digital bisa menjadi pengadil yang paling keras. Dunia maya membiakkan wajah kedua manusia, wajah yang lebih liar, wajah yang sering kali lebih jujur sekaligus lebih kejam.

Kata-kata di layar sering dianggap main-main. “Itu hanya komentar,” begitu alasan yang kerap muncul. Tetapi sesungguhnya tidak ada yang sekadar komentar. Setiap kalimat menempel di hati orang lain, bisa menorehkan luka, bisa menyalakan harapan. Kalimat yang ditulis dengan ringan bisa menjadi beban berat di hati penerimanya. Dan yang lebih dalam, setiap kata adalah amal. Ia ditulis tidak hanya di layar, tetapi juga di lembar catatan malaikat.

Julid, sebuah kata yang lahir dari kebiasaan menyindir, kini menjadi salah satu wajah paling nyata dari kehidupan digital. Ia tidak sekadar komentar pedas, tetapi semacam bayangan batin bangsa yang sedang belajar mengelola kebebasan kata. Julid lahir dari iri, dari keinginan untuk merendahkan kebahagiaan orang lain. Seseorang memajang foto liburan, segera dituduh pamer. Seseorang menulis tentang keberhasilan, segera dihujani komentar sinis. Padahal kebahagiaan orang lain tidak pernah mengurangi kebahagiaan diri sendiri, sebagaimana tetes hujan yang jatuh di halaman tetangga tidak membuat halaman rumah menjadi kering.

Ketiadaan rasa syukur membuat hati mudah karatan. Nabi ﷺ mengingatkan, “Hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat.” Karat hati adalah iri dan dengki, kebiasaan melihat nikmat orang lain lebih besar daripada nikmat sendiri. Media sosial hanyalah kaca pembesar bagi karat itu. Di layar, iri tampak lebih gamblang, dengki tampak lebih telanjang.

Budaya ikut-ikutan memperparah keadaan. Bangsa yang besar ini sering larut dalam keramaian. Satu orang julid, seribu ikut. Satu topik viral, semua latah. Ramai lebih menarik daripada sepi, kerumunan lebih menggoda daripada kesunyian doa. Dunia maya menjelma seperti pasar malam digital: lampu warna-warni berkelip, musik berdentum, orang-orang berdesakan tanpa tahu apa yang diperebutkan.

Kesopanan digital di negeri ini pernah dicatat rendah oleh survei internasional. Itu bukan sekadar angka, melainkan cermin budaya. Banyak yang pandai membeli gawai, tetapi miskin dalam mengelola kebebasan digital. Banyak yang pandai menggulir layar, tetapi enggan membuka lembar buku, banyak yang piawai berkomentar, tetapi kaku dalam berdoa.

Media sosial menyingkap dua wajah manusia. Di dunia nyata, orang menjaga basa-basi, takut menyinggung tetangga, takut malu di hadapan teman. Di dunia maya, orang bisa kasar, berani, dan tega. Pertanyaan yang muncul: manakah wajah yang asli? Mungkin keduanya adalah benar. Media sosial hanyalah cermin, yang memantulkan isi hati. Bila hati penuh kasih, yang keluar adalah doa. Bila hati penuh iri, yang lahir adalah sindiran dan caci maki.

Fenomena julid memperlihatkan bahwa yang sering terluka bukan hanya orang yang disindir, tetapi juga orang yang menyindir. Barangkali para netizen julid itu bukanlah orang jahat, melainkan orang yang sedang kalah dalam pertarungan dengan dirinya sendiri. Orang yang kehilangan ruang sehat untuk meluapkan emosi, lalu memilih menumpahkannya di kolom komentar.

Al-Qur’an memberi panduan yang begitu jelas: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan menimbulkan perselisihan di antara mereka.” (QS. Al-Isra: 53). Bila ayat ini dihayati, seharusnya setiap komentar menjadi cahaya, setiap kata menjadi doa. Tetapi kenyataan menunjukkan sebaliknya, banyak kata dipakai untuk memadamkan cahaya.

Nabi ﷺ pernah ditanya tentang amalan yang paling banyak memasukkan manusia ke surga. Beliau menjawab: “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Akhlak yang baik mencakup akhlak berkata-kata. Dunia digital bukan pengecualian. Setiap kata di layar adalah bagian dari akhlak, adalah bagian dari iman diam sering kali menjadi pilihan yang lebih nyaring daripada komentar. Diam bukan kelemahan. Diam bisa menjadi doa dalam senyap, bisa menjadi benteng dari dosa yang lahir dari lisan dan tulisan. Dalam dunia digital yang gaduh, diam sering lebih lantang daripada ribuan komentar yang melukai.

Kelak, ketika lidah dikunci dan tangan bersaksi, setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban. Setiap komentar yang pernah diketik akan kembali hadir di hadapan Tuhan. Saat itu, barangkali yang paling disesali adalah kalimat-kalimat yang ditulis tanpa berpikir, komentar-komentar yang lahir dari iri dan amarah.

Diam bisa menyelamatkan lebih banyak daripada seribu kata, diam adalah ruang untuk menimbang, untuk menahan, untuk mencegah diri agar tidak menambah luka di dunia yang sudah terlalu banyak berdarah oleh kata-kata. Dan mungkin, di hadapan Allah, diam itu lebih mulia daripada seribu komentar yang lahir dari hati yang berkarat.

Media sosial tidak pernah benar-benar sunyi. Ia terus bergerak, terus berisik, terus menyodorkan ribuan kata setiap detik. Tetapi manusia selalu punya pilihan: ikut dalam riuh itu, atau menjaga diri dalam sepi. Setiap kata akan tetap hidup, menunggu hari ketika semua catatan dibuka. Dan pada hari itu, diam yang dijaga dengan sabar akan berbicara lebih nyaring daripada semua komentar yang pernah ditulis di layar.

Ketua Lentera Sastra Banyuwangi 

Doa Samar Wulu di KUA Cluring


Doa Samar Wulu di KUA Cluring


Senja di langit Cluring seperti menutup tirai perlahan, lembayung menggantung di udara, angin membawa bau semen dan cat baru dari bangunan KUA yang hendak ditempati. Di Jawa, sebelum bangunan baru dihuni, selalu ada selamatan. Doa, syukur, dan permohonan keselamatan, di Cluring, selamatan itu diwujudkan dalam salat Magrib berjamaah. Magrib dipilih bukan tanpa alasan, magrib adalah garis tipis, batas antara terang dan gelap, antara kepastian dan keraguan. Dalam bahasa Osing, waktu itu disebut samar wulu—saat ketika cahaya mulai luntur, sementara gelap belum sepenuhnya datang. Ada keindahan sekaligus kegetiran dalam samar wulu: keindahan karena langit lembayung, kegetiran karena ia mengingatkan bahwa tidak ada yang abadi. 


Samar wulu adalah wajah kehidupan: tidak seluruhnya jelas, tidak seluruhnya gelap, kita selalu berada di antara yakin dan ragu, bahagia dan sedih, sehat dan sakit. Al-Qur’an mengingatkan, “Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda…” (QS. Al-Isra: 12). Tetapi di antara dua tanda itu ada ruang samar, ruang yang tidak disebut, ruang yang hanya bisa kita lewati dengan pasrah.

Kami menundukkan kepala di ruang baru itu, sujud pertama di lantai dingin, dinding masih asing, udara masih menyengat cat, tetapi doa bersama membuat segalanya menjadi hangat, seakan-akan sesuatu sedang ditanamkan: bahwa bangunan tidak hanya berdiri dari semen, tetapi juga dari doa yang dititipkan.

Orang Jawa selalu paham bagaimana menautkan iman dan budaya, selamatan bukan sekadar makan bersama. Tumpeng adalah kitab bisu: nasi mengerucut ke atas melambangkan hubungan manusia dengan Tuhannya, lauk-pauk di sekelilingnya melambangkan hubungan dengan sesama. Dua arah itu tidak boleh dipisahkan. Saya teringat doa Nabi Ibrahim: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berikanlah rezeki kepada penduduknya…” (QS. Al-Baqarah: 126). Selamatan adalah ikhtiar kecil agar bangunan ini aman, rezeki mengalir, keberkahan turun.b


Lebih dari lima tahun saya pernah bertugas di KUA Cluring, ada kisah lucu, ada kisah aneh, ada yang membuat bulu kuduk berdiri. Pernah seorang teman berlari ketakutan keluar dari kamar mandi, karena melihat penggosok lantai bergerak sendiri seakan ada yang menggerakkan dan sedang membersihkan kamar mandi. Pernah sebuah berkas hilang dari meja, lalu beberapa saat kemudian kembali, diletakkan rapi seperti ada tangan gaib yang mengurusnya. Bagi kami hidup di dunia ini memang tidak boleh egois, kita hidup dengan makhluk hidup yang lain, baik terlihat maupun tidak terlihat, yang gaib bukan untuk ditakuti, melainkan untuk saling menghormati. Bukankah iman sendiri adalah percaya pada adanya yang ghaib? Dunia ini dihuni oleh banyak makhluk, yang terlihat maupun yang tak terlihat, dan kita bisa hidup berdampingan dengan sesama makhluk.

Tetapi yang paling lekat dalam ingatan saya bukan kisah gaib, melainkan kisah manusia, saya masih ingat seorang perempuan muda dengan baju sederhana. Ia datang membawa map berisi berkas pernikahan, ingin konsultasi daftar nikah karena calon suami masih bekerja ditempat yang jauh. Saat map itu dibuka, diperiksa berkas-berkas, dan ada bungkusan dari kertas kecil yang dikiranya foto calon manten, jatuhlah sejumput rambut hitam, agak keriting. Wajah perempuan tersebut memerah, ia terbata menjelaskan bahwa itu rambut dari bagian tubuh yang tidak boleh ilihat selain dirinya dan suaminya, dicukur sebelum haid dan sebelum nikah. Saya menyuruhnya segera memungutnya, karena berceceran di lantai, saya tidak tertawa, sebab ada hal-hal yang terlalu rapuh untuk dijadikan olok-olok. Maksudnya baik, bulu tersebut dicukur ditempat tersembunyi, ditaruh ditempat khusus untuk dibuang ditempat yang tersembunyi juga, tetapi dia lupa ketika ditaruh di map berkas manten dan lupa pula membuangnya. Begitulah KUA: ia menyimpan kisah-kisah kecil yang tidak tercatat di akta, tetapi tetap hidup di dindingnya.

Dan ada satu kisah lain, yang lebih sunyi, lebih berat. Selama bertugas di Cluring, saya tiga kali mengurus cuti sakit untuk tiga orang teman. Satu per satu, mereka akhirnya berpulang. Kebetulan ketika wafat, mereka masih bertugas di Cluring. Saya tidak percaya ini karena Cluring. Tidak ada tempat yang membawa maut bagi seseorang. Semua hanyalah kebetulan yang digariskan. “Tiap-tiap umat mempunyai ajal; apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun, dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34). Namun tetap saja, ada rasa yang membekas, ketika mengingat berkas cuti itu, saya merasa seperti sedang membaca catatan samar dari kehidupan: selembar kertas yang diam-diam menjadi tanda terakhir. Samar wulu kehidupan—antara sakit dan sehat, antara hadir dan tiada.

Tanah tempat KUA ini berdiri juga punya riwayat samar. Dulu ia pasar. Sebelum pasar, ia makam, meskipun hanya beberapa jasat. Sebelum makam, ia aliran sungai yang kering, di peta krawangan, ia bahkan tidak tergambar. Dari tanah samar menjadi tanah yang sah bersertifikat, dari terlupakan menjadi bernilai. Bukankah begitu juga perjalanan manusia? Dari tidak dikenal menjadi dikenal, dari samar menjadi nyata. Saya percaya, setiap bangunan menyimpan doa pertama yang dipanjatkan di dalamnya. Doa itu menjadi akar. Ia menahan bangunan meski angin zaman bertiup. Beton menguatkan dinding, tetapi doa yang menguatkan jiwa.

Gedung KUA Cluring ini akan menyimpan tangis pengantin yang gugup saat ijab, juga doa lirih seorang yang baru kehilangan pasangan hidupnya. Ia akan menyimpan rahasia kecil: tanda tangan yang gemetar, wajah memerah karena malu, doa yang tak selesai diucapkan. Semua itu akan menempel di ruang-ruangnya.

Selamatan Magrib di hari peresmian hanyalah awal. Sesudahnya, akan datang orang-orang dengan cerita masing-masing: ada yang membawa harapan, ada yang membawa luka dan ingin menyembuhkan luka tak berdarah. Gedung ini akan mendengar semuanya, menjadi saksi bisu yang sabar.

Hidup memang samar wulu. Kita berjalan di batas antara terang dan gelap. Kita hadir, lalu hilang. Kita tertawa, lalu diam. Kita sehat, lalu sakit. Kita hidup, lalu pulang. Dan dalam samar itu, manusia belajar menunduk, berdoa, percaya.bBangunan KUA Cluring, pada akhirnya, bukan hanya milik negara, tetapi milik doa. Ia berdiri di atas tanah yang dulunya samar, kini menjadi terang. Seperti Magrib, ia akan selalu berada di perbatasan: antara dunia yang tampak dan dunia yang tersembunyi. Karena yang samar itulah yang mengajarkan kita untuk berhati-hati, yang samar itulah yang membuat kita berdoa. Yang samar itulah yang menyisakan ruang bagi iman.


Penulis : Syafaat 

Jika Ini Nafas Terahir

 Jika Ini Nafasku yang Terakhir

Oleh; Lulu' Anwariyah 


Jika ini nafasku yang terakhir,

Aku ingin meninggalkan semua kenangan itu

Sebuah kenangan yang yang bermakna

Dengan orang-orang yang aku cinta


Aku ingin memandang wajah manisnya

Satu kali lagi, sebelum aku pergi,

Aku ingin merasakan hangatnya,

Pelukan yang selalu memberikan ketenangan 



Jika ini nafasku yang terakhir,

Aku ingin mengucapkan terima kasih,

Kepada mereka yang selalu support langkahku,

Menghadapi kesulitan dan kebahagiaan.


Aku ingin meninggalkan pesan,

Bahwa hidup ini indah dan sangat berharga,

Tak perlu disesali meski tak selaras dan sehati

Tetaplah melangkah dan jangan pernah ragu.


Jika ini nafasku yang terakhir,

Aku ingin membisikkan kata sayang dengan manja

Kepada orang-orang yang aku cinta.

Semoga takdir indah akan mempertemukan 

Pada tempat yang jauh lebih indah.


Banyuwangi, 10 Februari 2025

Negeri Receh

 Negeri Receh

Lulu' Anwariyah 


Negeri yang konon kaya raya

Negeri dengan segudang penghasilan alam

Negeri dengan julukan Gemah Ripah loh jinawi

Pemandangan yang indah, suasana yang teduh, gemericik air mengalir pada gunung dan Padang ilalang 

Rakyatnya hidup rukun dan damai.


Di Negeri receh yang mempesona 

Kini rakyatnya terhimpit dalam ketidakadilan dan keserakahan 

Pendidikan diperdagangkan 

Jabatan diperjual belikan

Harga diri dibuang pergi

Manusia mengejar mimpi yang tak bertepi

Saudara jadi lawan

Lawan jadi kawan

Yang penting ada uang segala urusan menjadi lancar

Kebiadaban mental para koruptor negeri

Merajalela tak mampu berhenti

Yang kaya semakin kaya yang miskin semakin merana

Dimana keadilan, dimana kejujuran tertutup, tertumpuk, dengan segudang receh.


Di negeri receh banyak orang bertopeng kebaikan dan kearifan 

Hanya untuk memenangkan impian nafsu dunia

Bukan karena apa dan siapa

Hanya karena gengsi semata

Jabatan, kekuasaan menjadi kekuatan untuk menaklukkan sendiri kehidupan 

Negeri bertaburan receh dimana-mana

Hedonisme, kapitalisme merajai otak para penguasa.

Di negeri receh, rakyat berlomba menggapai angan dan impian dengan segenggam receh di tangan.


Kedungsumur, 25 September 2025

Tepuk Sakinah dan Mulut Netizen

 Tepuk Sakinah dan Mulut Netizen


Saya kira tidak ada yang istimewa dari sebuah tepukan tangan. Anak-anak di taman kanak-kanak sudah melakukannya untuk menghafal doa sebelum makan, di sekolah dasar guru-guru menjadikannya permainan agar pelajaran tidak membosankan. Bahkan di pengajian kampung, ibu-ibu kadang menepuk tangan untuk mengiringi lagu shalawat anak-anak. Dan di gerakkan Pramuka seperti sebuah kewajiban. Tetapi tiba-tiba, di sebuah aula kecil bercampur dengan ruang arsip KUA Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi, karena gedungnya tidak terlalu besar, sebuah “tepukan” menjadi bahan pembicaraan nasional. Namanya Tepuk Sakinah.

Video itu beredar, diputar ulang jutaan kali di TikTok, dibagikan ulang di Facebook, diperbincangkan di ruang-ruang WhatsApp keluarga. Ia menjelma menjadi sesuatu yang lebih besar daripada niat asalnya. Dan seperti biasa, begitu sesuatu masuk ke media sosial, ia tidak pernah datang sendirian. Ia datang dengan komentar.

Ada komentar yang hangat: “Lucu, kreatif, bisa bikin suasana cair.”

Ada yang datar: “Ah, biasa saja.”

Ada yang menyindir: “Pernikahan itu janji suci, kok disederhanakan jadi tepuk tangan.”

Mulut netizen memang begitu: tidak pernah kering, selalu menemukan celah untuk menilai, menimbang, lalu menambah bumbu yang sering lebih banyak daripada isi. Padahal ini bukan kali pertama, jauh sebelumnya, di banyak Bimbingan Perkawinan, “tepuk” semacam itu sudah diperagakan. Bahkan sudah disosialisasikan dalam forum-forum resmi. Tetapi algoritma media sosial bekerja dengan caranya sendiri: ia bisa membuat hal lama terasa baru, dan hal kecil tampak seperti urusan besar.

Saya menonton video itu dengan rasa yang sulit saya uraikan. Ada geli, ada iba, ada kagum juga. Geli, karena irama yel-yelnya mengingatkan saya pada anak-anak kecil yang belajar hafalan dengan lagu. Iba, karena saya tahu betapa mudahnya orang menertawakan sesuatu tanpa mau tahu konteks. Kagum, karena ternyata fasilitator di KUA bisa secerdas itu: mengubah materi kaku menjadi permainan sederhana agar calon pengantin tidak bosan. Ada intonasi khas, artikulasi unik, bahkan ada semangat yang tulus terasa di balik suara fasilitator.

Yang orang tidak lihat dari video itu adalah konteks., bahwa Bimbingan Perkawinan bukan hanya soal tepuk tangan, ada materi tentang kewajiban suami-istri, ada penjelasan tentang kesehatan reproduksi, ada diskusi tentang cara menyelesaikan konflik rumah tangga. Ada pembekalan psikologis agar pasangan muda tidak patah ketika badai rumah tangga datang.

Tepuk sakinah hanyalah jeda. Ice breaking, selingan kecil agar kepala yang penat oleh teori dan dalil bisa kembali segar, tetapi kamera merekam, jari-jemari mengunggah, algoritma bekerja, dan tiba-tiba yang bukan inti menjadi inti. Sudah ada rambu-rambu yang dilalui, tepuk sakinah tidak wajib, bahkan ketika mengambil video juga minta persetujuan, karena tidak semua peserta rela di viralkan.

Saya jadi teringat sebuah ayat: wa qul lin-nāsi ḥusnā — katakanlah yang baik kepada manusia, tetapi di zaman ini, kebaikan sering kalah cepat dengan komentar, lidah sudah berubah menjadi keyboard., fitnah lisan bermigrasi menjadi fitnah komentar. Dan komentar, seperti kita tahu, sering lebih kejam daripada fakta.

Barangkali yang paling menyedihkan bukanlah komentar yang kasar. Yang paling menyedihkan adalah komentar yang lahir dari ketidaktahuan. Menonton 30 detik, lalu merasa paham 3 jam. Membaca satu kalimat, lalu merasa tahu seluruh buku. Kita hidup di zaman potongan. Zaman yang suka memotong video, memotong kalimat, memotong makna, lalu menilainya seakan-akan utuh.

Saya mencoba membayangkan manfaat “tepuk sakinah” itu di ruang nyata, katakanlah ada pasangan muda yang bertengkar suatu malam. Suami meninggikan suara, istri memalingkan wajah. Lalu salah satu menepuk tangan sambil berkata, “Ingat ya, janji kita itu mitsaqan ghalizan.” Bukankah itu bisa membuat keduanya tertawa, dan pertengkaran berhenti di situ? Bukankah itu lebih baik daripada saling mendiamkan sampai berhari-hari?b


Di situlah letak nilai sederhana dari tepuk sakinah: ia bukan substansi, tetapi ia bisa menjadi pintu kecil menuju substansi. Sebuah jembatan kecil untuk mengingatkan kembali pada yang besar. Saya tidak tahu kenapa manusia sering terjebak pada kulit, kita menertawakan gerakan tangan, tetapi lupa pada pesan yang dibawanya. Kita menganggap enteng sebuah metode, padahal metode itu sedang berusaha menyelamatkan generasi dari perceraian yang makin hari makin tinggi.

Mungkin inilah penyakit kita: lebih sibuk menertawakan sesuatu yang viral daripada merenungkan substansi yang sebenarnya, kita rela menghabiskan waktu berjam-jam membaca komentar, tapi enggan meluangkan lima menit untuk merenungi inti. Saya teringat sabda Nabi: inna minasy-syari la-fuhsyu fi-l kalām—sesungguhnya di antara keburukan adalah buruknya ucapan. Hari ini, ucapan itu tidak selalu di mulut. Ia bisa lahir dari jari-jari yang mengetik. Ia bisa muncul dari “mulut netizen” yang sebenarnya tak berwajah. Namun saya percaya satu hal: doa bisa sembunyi di mana saja, kadang ia ada di tikar sajadah, kadang ia bersembunyi di balik tawa anak kecil. Kadang ia menempel di tepukan tangan yang dianggap remeh oleh netizen.

Dan mungkin, tanpa sadar, tepuk sakinah sedang berdoa dengan caranya sendiri: doa agar pasangan-pasangan muda menemukan jalan keutuhan, doa agar rumah tangga mereka tidak mudah runtuh oleh badai, doa agar janji suci itu selalu diingat meski lewat sesuatu yang ringan. Maka, biarlah mulut netizen tetap ramai, biarlah mereka menertawakan, memuji, atau mencemooh. Pada akhirnya, rumah tangga yang sakinah tidak dibangun oleh komentar orang, melainkan oleh kesabaran suami-istri, oleh janji yang ditepati, oleh cinta yang dijaga.

Dan jika sebuah tepukan tangan bisa mengingatkan orang pada lima pilar rumah tangga, zawaj, mitsaqan ghalizan, mu‘asyarah bil ma‘ruf, musyawarah, taradhin, maka tepukan itu lebih suci daripada seribu komentar yang lahir dari mulut netizen.

Saya kira begitu saja, karena pada akhirnya, ketika layar ponsel dimatikan, semua orang kembali pada rumahnya masing-masing. Dan di situlah, jauh dari sorot kamera dan riuh komentar, tepuk sakinah yang sesungguhnya diuji.


penulis: Syafaat (Lensa Banyuwangi)


Cinta dalam Rias Mupus Braen Blambangan

 Cinta dalam Rias Mupus Braen Blambangan

Malam penutupan Festival Banyuwangi tempo dulu adalah malam yang penuh bayangan. Lampu-lampu panggung menyalakan cahaya seperti kunang-kunang yang terjebak di jaring raksasa, sementara angin dari selat membawa aroma laut samar, orang-orang berdiri rapat, sebagian duduk di barisan undangan dan sebagian lainnya duduk bersila di tikar yang digelar terburu-buru, sebagian lagi sibuk mencari sudut yang nyaman untuk menyaksikan pertunjukan, mengambil gambar atau video dengan kamera kecil yang menyatu dengan telepon genggam. Saya di sana, dyduk di deretan undangan , mencoba meraih sepotong makna dari sebuah panggung yang malam itu menampilkan tradisi pernikahan khas Banyuwangi: Mupus Braen Blambangan. 


Saya tidak pernah bisa menolak undangan semacam ini, ada sesuatu yang membuat saya selalu datang pada acara yang mengangkat tradisi, barangkali karena saya lahir di tanah ini, tanah yang kaya oleh percampuran, oleh riwayat migrasi, oleh pertemuan banyak bangsa, tapi saya juga selalu merasa seperti orang asing di rumah sendiri.

Ketika kecil, di sekolah, teman-teman kerap memanggil saya dengan sebutan wong jowo kulon, sebutan itu bukan sekadar panggilan main-main. Ia adalah penanda sosial, sebuah garis yang memisahkan: bahwa saya Jawa, bukan Osing, bahwa saya berasal dari orang-orang yang datang dari barat, dari arah Mataraman, Tulungagung, Kediri, dan seterusnya. Di Banyuwangi, ketika saya kecil, orang Jawa semacam saya dibedakan dari orang Osing, suku asli tanah ini, saya tumbuh dengan sebutan itu, dan tanpa sadar, sebutan itu membuat saya sering merasa sedang singgah, meski saya lahir di sini.

Tapi malam itu, ketika musik gamelan ditabuh, dan pengantin Mupus Braen memasuki panggung dengan segala keindahan riasan mereka, saya seperti sedang dipanggil pulang oleh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar darah atau garis keturunan, saya merasa sedang diajak duduk di sebuah meja besar, meja warisan leluhur, tempat semua orang Banyuwangi boleh duduk: Osing, Jawa, Madura, Bali, Arab, Cina, Bugis, merasa memiliki yang sama.

Dan cinta, rupanya, adalah bahasa universal yang membuat semua pintu terbuka. Mupus Braen: Puncak Keindahan Sekali Seumur Hidup

Mupus berasal dari kata pupus, daun muda di pucuk pohon. Ia adalah simbol: pengantin yang masih muda, yang sedang berada di puncak kehidupan, di pucuk keindahan. Braen berarti indah, cantik, menawan. Maka Mupus Braen adalah puncak berdandan, puncak merias diri, dan hanya sekali dilakukan: saat menikah.

Saya menatap pengantin di panggung itu, wajah mereka penuh riasan pakaian merah dan hitam. Merah untuk keberanian menghadapi hidup rumah tangga. Hitam untuk doa agar langgeng sampai maut, di atas kepala, bunga melati disematkan: putih, suci, harum, mahkota emas menambah keagungan.

Saya tiba-tiba sadar: riasan itu bukan sekadar kosmetik. Ia adalah kitab yang dibaca dengan mata. Merah, hitam, putih, emas, setiap warna adalah doa, setiap perhiasan adalah nasihat. Cinta, ternyata, tidak cukup hanya dengan perasaan. Ia butuh keberanian, ia butuh doa, ia butuh kesucian, ia butuh keagungan, selain buku nikah sebagai pengikat hukum.

Dan betapa kontrasnya dengan cinta-cinta yang saya saksikan di luar panggung, cinta yang sering tergesa, cinta yang mudah tumbuh tapi juga mudah layu, cinta yang kadang berakhir sebelum sempat dirayakan. Mupus Braen mengajarkan sebaliknya: bahwa cinta adalah puncak yang dicapai lewat kesabaran.

Ada aturan yang ketat: Mupus Braen hanya untuk anak bungsu. Untuk kemunjilan. Untuk yang terakhir. Saya bertanya dalam hati: mengapa hanya anak bungsu? Mengapa yang lain tidak berhak? Saya tidak menemukan jawabannya malam itu. Tapi semakin saya renungi, semakin saya merasa bahwa ada filosofi cinta yang tersembunyi di balik aturan ini. Anak bungsu adalah akhir dari sebuah garis, penutup sebuah generasi. Mungkin itu simbol bahwa cinta sejati adalah yang terakhir, yang benar-benar mengikat, yang bukan lagi permainan atau percobaan.

Apakah itu berarti setiap orang akan jatuh cinta berkali-kali, sampai akhirnya menemukan yang terakhir? Saya tidak tahu. Tapi saya tahu, di usia tertentu, cinta memang berhenti menjadi bunga liar yang tumbuh di mana saja. Ia menjadi pohon besar yang menuntut akar dalam, yang membutuhkan keteguhan.

Ubarampe: Nasihat yang Disamarkan

Tradisi ini juga membawa banyak ubarampe: bantal, guling, tikar, ayam, telur, kelapa, kampil putih. Semua dengan makna. Semua dengan doa.

Saya suka membayangkan, bahwa cinta juga membutuhkan ubarampe seperti itu. Bantal untuk tempat beristirahat, guling untuk sandaran, tikar untuk alas, ayam dan telur untuk keberlangsungan hidup, kelapa untuk keteguhan, kampil putih untuk kesederhanaan. Tidak ada cinta yang bisa bertahan hanya dengan ciuman dan janji. Ia membutuhkan ubarampe sehari-hari: kesabaran, pengertian, pengorbanan, tawa, doa.

Di situlah saya menemukan ironi. Banyak orang ingin cinta yang indah, tapi malas mengumpulkan ubarampe. Padahal, tanpa ubarampe, cinta hanya akan jadi pesta semalam, lalu mati ketika lampu dipadamkan.

Cinta sebagai Tradisi

Malam itu, ketika pertunjukan selesai, orang-orang bertepuk tangan. Saya berdiri diam. Saya tahu saya tidak sedang menonton tari-tarian biasa. Saya sedang menonton tafsir tentang cinta.

Cinta, rupanya, adalah tradisi. Ia tidak hanya lahir dari perasaan dua orang. Ia lahir dari doa leluhur, dari nasihat orang tua, dari harapan anak-anak yang belum lahir. Cinta adalah ritual kecil sehari-hari: menunggu, menjemput, memberi kabar, menahan amarah, memaafkan.

Dan Mupus Braen mengajarkan itu dengan bahasa yang indah. Bahwa cinta adalah daun muda yang rapuh, tapi juga indah. Bahwa cinta adalah warna merah keberanian, hitam doa panjang, putih kesucian, emas keagungan. Bahwa cinta adalah ubarampe sederhana yang tidak boleh dilupakan.

Saya pulang dari festival itu dengan langkah pelan. Angin malam menyapa wajah saya, seperti tangan yang menyentuh dengan lembut. Saya tahu, cinta bukan lagi sekadar perasaan. Ia adalah upacara. Ia adalah doa yang harus dipelihara setiap hari.

Dan di Banyuwangi, doa itu diwariskan lewat Mupus Braen Blambangan.

Syafaat. Lentera Sastra Banyuwangi 

Workshop Gemar Berbahasa Asing Dorong Guru MI Banyuwangi Tingkatkan Kompetensi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Sebanyak 140 guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kabupaten Banyuwangi mengikuti Workshop Gemar Berbahasa Asing yang digelar Kelompok Kerja Guru Kelas MI pada Kamis, 25 September 2025, di aula bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. 


Panitia penyelenggara, Siti Nur Khofifah, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan agar madrasah mampu mengikuti arus perkembangan zaman. “Apalagi Banyuwangi dengan sektor pariwisatanya yang tinggi menuntut penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, sebagai sebuah keniscayaan,” ungkapnya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, dalam sambutannya menekankan pentingnya peran guru MI dalam membentuk memori positif siswa. “Guru madrasah ibtidaiyah adalah sosok yang paling diingat anak setelah guru RA. Maka jangan sampai yang diingat justru hal negatif,” pesannya.

Chaironi juga menambahkan bahwa akselerasi bahasa Inggris di Banyuwangi patut diapresiasi karena semakin terpacu oleh geliat sektor pariwisata yang dibanjiri wisatawan asing. Menurutnya, kompetensi personal seorang guru sangat penting karena yang pertama kali dilihat siswa adalah figur gurunya. Ia juga menyinggung keteladanan Zaid bin Tsabit, juru tulis Nabi Muhammad SAW, yang mampu menguasai bahasa asing hanya dalam 17 hari. “Ini menunjukkan pentingnya kemampuan bahasa sebagai jembatan hubungan antarbangsa,” ujarnya. 


Dalam sesi pertama workshop, hadir dua narasumber. Syafaat, S.H., M.H.I., dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, menyampaikan materi tentang branding madrasah melalui penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan media sosial dan keterampilan berbahasa untuk meningkatkan citra madrasah di tengah masyarakat.

Narasumber kedua, Dimas Supartono, berbagi kiat-kiat mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa agar terasa menyenangkan. Menurutnya, pembelajaran bahasa asing di madrasah harus dikemas kreatif sehingga mampu menumbuhkan minat dan kegemaran siswa dalam belajar.

Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal dalam meningkatkan kualitas guru MI Banyuwangi agar lebih siap menghadapi tantangan global, sekaligus mendukung pengembangan pendidikan berbasis kearifan lokal yang selaras dengan kebutuhan zaman. (Syaf)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger