Pages

Doa Samar Wulu di KUA Cluring


Doa Samar Wulu di KUA Cluring


Senja di langit Cluring seperti menutup tirai perlahan, lembayung menggantung di udara, angin membawa bau semen dan cat baru dari bangunan KUA yang hendak ditempati. Di Jawa, sebelum bangunan baru dihuni, selalu ada selamatan. Doa, syukur, dan permohonan keselamatan, di Cluring, selamatan itu diwujudkan dalam salat Magrib berjamaah. Magrib dipilih bukan tanpa alasan, magrib adalah garis tipis, batas antara terang dan gelap, antara kepastian dan keraguan. Dalam bahasa Osing, waktu itu disebut samar wulu—saat ketika cahaya mulai luntur, sementara gelap belum sepenuhnya datang. Ada keindahan sekaligus kegetiran dalam samar wulu: keindahan karena langit lembayung, kegetiran karena ia mengingatkan bahwa tidak ada yang abadi. 


Samar wulu adalah wajah kehidupan: tidak seluruhnya jelas, tidak seluruhnya gelap, kita selalu berada di antara yakin dan ragu, bahagia dan sedih, sehat dan sakit. Al-Qur’an mengingatkan, “Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda…” (QS. Al-Isra: 12). Tetapi di antara dua tanda itu ada ruang samar, ruang yang tidak disebut, ruang yang hanya bisa kita lewati dengan pasrah.

Kami menundukkan kepala di ruang baru itu, sujud pertama di lantai dingin, dinding masih asing, udara masih menyengat cat, tetapi doa bersama membuat segalanya menjadi hangat, seakan-akan sesuatu sedang ditanamkan: bahwa bangunan tidak hanya berdiri dari semen, tetapi juga dari doa yang dititipkan.

Orang Jawa selalu paham bagaimana menautkan iman dan budaya, selamatan bukan sekadar makan bersama. Tumpeng adalah kitab bisu: nasi mengerucut ke atas melambangkan hubungan manusia dengan Tuhannya, lauk-pauk di sekelilingnya melambangkan hubungan dengan sesama. Dua arah itu tidak boleh dipisahkan. Saya teringat doa Nabi Ibrahim: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berikanlah rezeki kepada penduduknya…” (QS. Al-Baqarah: 126). Selamatan adalah ikhtiar kecil agar bangunan ini aman, rezeki mengalir, keberkahan turun.b


Lebih dari lima tahun saya pernah bertugas di KUA Cluring, ada kisah lucu, ada kisah aneh, ada yang membuat bulu kuduk berdiri. Pernah seorang teman berlari ketakutan keluar dari kamar mandi, karena melihat penggosok lantai bergerak sendiri seakan ada yang menggerakkan dan sedang membersihkan kamar mandi. Pernah sebuah berkas hilang dari meja, lalu beberapa saat kemudian kembali, diletakkan rapi seperti ada tangan gaib yang mengurusnya. Bagi kami hidup di dunia ini memang tidak boleh egois, kita hidup dengan makhluk hidup yang lain, baik terlihat maupun tidak terlihat, yang gaib bukan untuk ditakuti, melainkan untuk saling menghormati. Bukankah iman sendiri adalah percaya pada adanya yang ghaib? Dunia ini dihuni oleh banyak makhluk, yang terlihat maupun yang tak terlihat, dan kita bisa hidup berdampingan dengan sesama makhluk.

Tetapi yang paling lekat dalam ingatan saya bukan kisah gaib, melainkan kisah manusia, saya masih ingat seorang perempuan muda dengan baju sederhana. Ia datang membawa map berisi berkas pernikahan, ingin konsultasi daftar nikah karena calon suami masih bekerja ditempat yang jauh. Saat map itu dibuka, diperiksa berkas-berkas, dan ada bungkusan dari kertas kecil yang dikiranya foto calon manten, jatuhlah sejumput rambut hitam, agak keriting. Wajah perempuan tersebut memerah, ia terbata menjelaskan bahwa itu rambut dari bagian tubuh yang tidak boleh ilihat selain dirinya dan suaminya, dicukur sebelum haid dan sebelum nikah. Saya menyuruhnya segera memungutnya, karena berceceran di lantai, saya tidak tertawa, sebab ada hal-hal yang terlalu rapuh untuk dijadikan olok-olok. Maksudnya baik, bulu tersebut dicukur ditempat tersembunyi, ditaruh ditempat khusus untuk dibuang ditempat yang tersembunyi juga, tetapi dia lupa ketika ditaruh di map berkas manten dan lupa pula membuangnya. Begitulah KUA: ia menyimpan kisah-kisah kecil yang tidak tercatat di akta, tetapi tetap hidup di dindingnya.

Dan ada satu kisah lain, yang lebih sunyi, lebih berat. Selama bertugas di Cluring, saya tiga kali mengurus cuti sakit untuk tiga orang teman. Satu per satu, mereka akhirnya berpulang. Kebetulan ketika wafat, mereka masih bertugas di Cluring. Saya tidak percaya ini karena Cluring. Tidak ada tempat yang membawa maut bagi seseorang. Semua hanyalah kebetulan yang digariskan. “Tiap-tiap umat mempunyai ajal; apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun, dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34). Namun tetap saja, ada rasa yang membekas, ketika mengingat berkas cuti itu, saya merasa seperti sedang membaca catatan samar dari kehidupan: selembar kertas yang diam-diam menjadi tanda terakhir. Samar wulu kehidupan—antara sakit dan sehat, antara hadir dan tiada.

Tanah tempat KUA ini berdiri juga punya riwayat samar. Dulu ia pasar. Sebelum pasar, ia makam, meskipun hanya beberapa jasat. Sebelum makam, ia aliran sungai yang kering, di peta krawangan, ia bahkan tidak tergambar. Dari tanah samar menjadi tanah yang sah bersertifikat, dari terlupakan menjadi bernilai. Bukankah begitu juga perjalanan manusia? Dari tidak dikenal menjadi dikenal, dari samar menjadi nyata. Saya percaya, setiap bangunan menyimpan doa pertama yang dipanjatkan di dalamnya. Doa itu menjadi akar. Ia menahan bangunan meski angin zaman bertiup. Beton menguatkan dinding, tetapi doa yang menguatkan jiwa.

Gedung KUA Cluring ini akan menyimpan tangis pengantin yang gugup saat ijab, juga doa lirih seorang yang baru kehilangan pasangan hidupnya. Ia akan menyimpan rahasia kecil: tanda tangan yang gemetar, wajah memerah karena malu, doa yang tak selesai diucapkan. Semua itu akan menempel di ruang-ruangnya.

Selamatan Magrib di hari peresmian hanyalah awal. Sesudahnya, akan datang orang-orang dengan cerita masing-masing: ada yang membawa harapan, ada yang membawa luka dan ingin menyembuhkan luka tak berdarah. Gedung ini akan mendengar semuanya, menjadi saksi bisu yang sabar.

Hidup memang samar wulu. Kita berjalan di batas antara terang dan gelap. Kita hadir, lalu hilang. Kita tertawa, lalu diam. Kita sehat, lalu sakit. Kita hidup, lalu pulang. Dan dalam samar itu, manusia belajar menunduk, berdoa, percaya.bBangunan KUA Cluring, pada akhirnya, bukan hanya milik negara, tetapi milik doa. Ia berdiri di atas tanah yang dulunya samar, kini menjadi terang. Seperti Magrib, ia akan selalu berada di perbatasan: antara dunia yang tampak dan dunia yang tersembunyi. Karena yang samar itulah yang mengajarkan kita untuk berhati-hati, yang samar itulah yang membuat kita berdoa. Yang samar itulah yang menyisakan ruang bagi iman.


Penulis : Syafaat 

Jika Ini Nafas Terahir

 Jika Ini Nafasku yang Terakhir

Oleh; Lulu' Anwariyah 


Jika ini nafasku yang terakhir,

Aku ingin meninggalkan semua kenangan itu

Sebuah kenangan yang yang bermakna

Dengan orang-orang yang aku cinta


Aku ingin memandang wajah manisnya

Satu kali lagi, sebelum aku pergi,

Aku ingin merasakan hangatnya,

Pelukan yang selalu memberikan ketenangan 



Jika ini nafasku yang terakhir,

Aku ingin mengucapkan terima kasih,

Kepada mereka yang selalu support langkahku,

Menghadapi kesulitan dan kebahagiaan.


Aku ingin meninggalkan pesan,

Bahwa hidup ini indah dan sangat berharga,

Tak perlu disesali meski tak selaras dan sehati

Tetaplah melangkah dan jangan pernah ragu.


Jika ini nafasku yang terakhir,

Aku ingin membisikkan kata sayang dengan manja

Kepada orang-orang yang aku cinta.

Semoga takdir indah akan mempertemukan 

Pada tempat yang jauh lebih indah.


Banyuwangi, 10 Februari 2025

Negeri Receh

 Negeri Receh

Lulu' Anwariyah 


Negeri yang konon kaya raya

Negeri dengan segudang penghasilan alam

Negeri dengan julukan Gemah Ripah loh jinawi

Pemandangan yang indah, suasana yang teduh, gemericik air mengalir pada gunung dan Padang ilalang 

Rakyatnya hidup rukun dan damai.


Di Negeri receh yang mempesona 

Kini rakyatnya terhimpit dalam ketidakadilan dan keserakahan 

Pendidikan diperdagangkan 

Jabatan diperjual belikan

Harga diri dibuang pergi

Manusia mengejar mimpi yang tak bertepi

Saudara jadi lawan

Lawan jadi kawan

Yang penting ada uang segala urusan menjadi lancar

Kebiadaban mental para koruptor negeri

Merajalela tak mampu berhenti

Yang kaya semakin kaya yang miskin semakin merana

Dimana keadilan, dimana kejujuran tertutup, tertumpuk, dengan segudang receh.


Di negeri receh banyak orang bertopeng kebaikan dan kearifan 

Hanya untuk memenangkan impian nafsu dunia

Bukan karena apa dan siapa

Hanya karena gengsi semata

Jabatan, kekuasaan menjadi kekuatan untuk menaklukkan sendiri kehidupan 

Negeri bertaburan receh dimana-mana

Hedonisme, kapitalisme merajai otak para penguasa.

Di negeri receh, rakyat berlomba menggapai angan dan impian dengan segenggam receh di tangan.


Kedungsumur, 25 September 2025

Tepuk Sakinah dan Mulut Netizen

 Tepuk Sakinah dan Mulut Netizen


Saya kira tidak ada yang istimewa dari sebuah tepukan tangan. Anak-anak di taman kanak-kanak sudah melakukannya untuk menghafal doa sebelum makan, di sekolah dasar guru-guru menjadikannya permainan agar pelajaran tidak membosankan. Bahkan di pengajian kampung, ibu-ibu kadang menepuk tangan untuk mengiringi lagu shalawat anak-anak. Dan di gerakkan Pramuka seperti sebuah kewajiban. Tetapi tiba-tiba, di sebuah aula kecil bercampur dengan ruang arsip KUA Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi, karena gedungnya tidak terlalu besar, sebuah “tepukan” menjadi bahan pembicaraan nasional. Namanya Tepuk Sakinah.

Video itu beredar, diputar ulang jutaan kali di TikTok, dibagikan ulang di Facebook, diperbincangkan di ruang-ruang WhatsApp keluarga. Ia menjelma menjadi sesuatu yang lebih besar daripada niat asalnya. Dan seperti biasa, begitu sesuatu masuk ke media sosial, ia tidak pernah datang sendirian. Ia datang dengan komentar.

Ada komentar yang hangat: “Lucu, kreatif, bisa bikin suasana cair.”

Ada yang datar: “Ah, biasa saja.”

Ada yang menyindir: “Pernikahan itu janji suci, kok disederhanakan jadi tepuk tangan.”

Mulut netizen memang begitu: tidak pernah kering, selalu menemukan celah untuk menilai, menimbang, lalu menambah bumbu yang sering lebih banyak daripada isi. Padahal ini bukan kali pertama, jauh sebelumnya, di banyak Bimbingan Perkawinan, “tepuk” semacam itu sudah diperagakan. Bahkan sudah disosialisasikan dalam forum-forum resmi. Tetapi algoritma media sosial bekerja dengan caranya sendiri: ia bisa membuat hal lama terasa baru, dan hal kecil tampak seperti urusan besar.

Saya menonton video itu dengan rasa yang sulit saya uraikan. Ada geli, ada iba, ada kagum juga. Geli, karena irama yel-yelnya mengingatkan saya pada anak-anak kecil yang belajar hafalan dengan lagu. Iba, karena saya tahu betapa mudahnya orang menertawakan sesuatu tanpa mau tahu konteks. Kagum, karena ternyata fasilitator di KUA bisa secerdas itu: mengubah materi kaku menjadi permainan sederhana agar calon pengantin tidak bosan. Ada intonasi khas, artikulasi unik, bahkan ada semangat yang tulus terasa di balik suara fasilitator.

Yang orang tidak lihat dari video itu adalah konteks., bahwa Bimbingan Perkawinan bukan hanya soal tepuk tangan, ada materi tentang kewajiban suami-istri, ada penjelasan tentang kesehatan reproduksi, ada diskusi tentang cara menyelesaikan konflik rumah tangga. Ada pembekalan psikologis agar pasangan muda tidak patah ketika badai rumah tangga datang.

Tepuk sakinah hanyalah jeda. Ice breaking, selingan kecil agar kepala yang penat oleh teori dan dalil bisa kembali segar, tetapi kamera merekam, jari-jemari mengunggah, algoritma bekerja, dan tiba-tiba yang bukan inti menjadi inti. Sudah ada rambu-rambu yang dilalui, tepuk sakinah tidak wajib, bahkan ketika mengambil video juga minta persetujuan, karena tidak semua peserta rela di viralkan.

Saya jadi teringat sebuah ayat: wa qul lin-nāsi ḥusnā — katakanlah yang baik kepada manusia, tetapi di zaman ini, kebaikan sering kalah cepat dengan komentar, lidah sudah berubah menjadi keyboard., fitnah lisan bermigrasi menjadi fitnah komentar. Dan komentar, seperti kita tahu, sering lebih kejam daripada fakta.

Barangkali yang paling menyedihkan bukanlah komentar yang kasar. Yang paling menyedihkan adalah komentar yang lahir dari ketidaktahuan. Menonton 30 detik, lalu merasa paham 3 jam. Membaca satu kalimat, lalu merasa tahu seluruh buku. Kita hidup di zaman potongan. Zaman yang suka memotong video, memotong kalimat, memotong makna, lalu menilainya seakan-akan utuh.

Saya mencoba membayangkan manfaat “tepuk sakinah” itu di ruang nyata, katakanlah ada pasangan muda yang bertengkar suatu malam. Suami meninggikan suara, istri memalingkan wajah. Lalu salah satu menepuk tangan sambil berkata, “Ingat ya, janji kita itu mitsaqan ghalizan.” Bukankah itu bisa membuat keduanya tertawa, dan pertengkaran berhenti di situ? Bukankah itu lebih baik daripada saling mendiamkan sampai berhari-hari?b


Di situlah letak nilai sederhana dari tepuk sakinah: ia bukan substansi, tetapi ia bisa menjadi pintu kecil menuju substansi. Sebuah jembatan kecil untuk mengingatkan kembali pada yang besar. Saya tidak tahu kenapa manusia sering terjebak pada kulit, kita menertawakan gerakan tangan, tetapi lupa pada pesan yang dibawanya. Kita menganggap enteng sebuah metode, padahal metode itu sedang berusaha menyelamatkan generasi dari perceraian yang makin hari makin tinggi.

Mungkin inilah penyakit kita: lebih sibuk menertawakan sesuatu yang viral daripada merenungkan substansi yang sebenarnya, kita rela menghabiskan waktu berjam-jam membaca komentar, tapi enggan meluangkan lima menit untuk merenungi inti. Saya teringat sabda Nabi: inna minasy-syari la-fuhsyu fi-l kalām—sesungguhnya di antara keburukan adalah buruknya ucapan. Hari ini, ucapan itu tidak selalu di mulut. Ia bisa lahir dari jari-jari yang mengetik. Ia bisa muncul dari “mulut netizen” yang sebenarnya tak berwajah. Namun saya percaya satu hal: doa bisa sembunyi di mana saja, kadang ia ada di tikar sajadah, kadang ia bersembunyi di balik tawa anak kecil. Kadang ia menempel di tepukan tangan yang dianggap remeh oleh netizen.

Dan mungkin, tanpa sadar, tepuk sakinah sedang berdoa dengan caranya sendiri: doa agar pasangan-pasangan muda menemukan jalan keutuhan, doa agar rumah tangga mereka tidak mudah runtuh oleh badai, doa agar janji suci itu selalu diingat meski lewat sesuatu yang ringan. Maka, biarlah mulut netizen tetap ramai, biarlah mereka menertawakan, memuji, atau mencemooh. Pada akhirnya, rumah tangga yang sakinah tidak dibangun oleh komentar orang, melainkan oleh kesabaran suami-istri, oleh janji yang ditepati, oleh cinta yang dijaga.

Dan jika sebuah tepukan tangan bisa mengingatkan orang pada lima pilar rumah tangga, zawaj, mitsaqan ghalizan, mu‘asyarah bil ma‘ruf, musyawarah, taradhin, maka tepukan itu lebih suci daripada seribu komentar yang lahir dari mulut netizen.

Saya kira begitu saja, karena pada akhirnya, ketika layar ponsel dimatikan, semua orang kembali pada rumahnya masing-masing. Dan di situlah, jauh dari sorot kamera dan riuh komentar, tepuk sakinah yang sesungguhnya diuji.


penulis: Syafaat (Lensa Banyuwangi)


Cinta dalam Rias Mupus Braen Blambangan

 Cinta dalam Rias Mupus Braen Blambangan

Malam penutupan Festival Banyuwangi tempo dulu adalah malam yang penuh bayangan. Lampu-lampu panggung menyalakan cahaya seperti kunang-kunang yang terjebak di jaring raksasa, sementara angin dari selat membawa aroma laut samar, orang-orang berdiri rapat, sebagian duduk di barisan undangan dan sebagian lainnya duduk bersila di tikar yang digelar terburu-buru, sebagian lagi sibuk mencari sudut yang nyaman untuk menyaksikan pertunjukan, mengambil gambar atau video dengan kamera kecil yang menyatu dengan telepon genggam. Saya di sana, dyduk di deretan undangan , mencoba meraih sepotong makna dari sebuah panggung yang malam itu menampilkan tradisi pernikahan khas Banyuwangi: Mupus Braen Blambangan. 


Saya tidak pernah bisa menolak undangan semacam ini, ada sesuatu yang membuat saya selalu datang pada acara yang mengangkat tradisi, barangkali karena saya lahir di tanah ini, tanah yang kaya oleh percampuran, oleh riwayat migrasi, oleh pertemuan banyak bangsa, tapi saya juga selalu merasa seperti orang asing di rumah sendiri.

Ketika kecil, di sekolah, teman-teman kerap memanggil saya dengan sebutan wong jowo kulon, sebutan itu bukan sekadar panggilan main-main. Ia adalah penanda sosial, sebuah garis yang memisahkan: bahwa saya Jawa, bukan Osing, bahwa saya berasal dari orang-orang yang datang dari barat, dari arah Mataraman, Tulungagung, Kediri, dan seterusnya. Di Banyuwangi, ketika saya kecil, orang Jawa semacam saya dibedakan dari orang Osing, suku asli tanah ini, saya tumbuh dengan sebutan itu, dan tanpa sadar, sebutan itu membuat saya sering merasa sedang singgah, meski saya lahir di sini.

Tapi malam itu, ketika musik gamelan ditabuh, dan pengantin Mupus Braen memasuki panggung dengan segala keindahan riasan mereka, saya seperti sedang dipanggil pulang oleh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar darah atau garis keturunan, saya merasa sedang diajak duduk di sebuah meja besar, meja warisan leluhur, tempat semua orang Banyuwangi boleh duduk: Osing, Jawa, Madura, Bali, Arab, Cina, Bugis, merasa memiliki yang sama.

Dan cinta, rupanya, adalah bahasa universal yang membuat semua pintu terbuka. Mupus Braen: Puncak Keindahan Sekali Seumur Hidup

Mupus berasal dari kata pupus, daun muda di pucuk pohon. Ia adalah simbol: pengantin yang masih muda, yang sedang berada di puncak kehidupan, di pucuk keindahan. Braen berarti indah, cantik, menawan. Maka Mupus Braen adalah puncak berdandan, puncak merias diri, dan hanya sekali dilakukan: saat menikah.

Saya menatap pengantin di panggung itu, wajah mereka penuh riasan pakaian merah dan hitam. Merah untuk keberanian menghadapi hidup rumah tangga. Hitam untuk doa agar langgeng sampai maut, di atas kepala, bunga melati disematkan: putih, suci, harum, mahkota emas menambah keagungan.

Saya tiba-tiba sadar: riasan itu bukan sekadar kosmetik. Ia adalah kitab yang dibaca dengan mata. Merah, hitam, putih, emas, setiap warna adalah doa, setiap perhiasan adalah nasihat. Cinta, ternyata, tidak cukup hanya dengan perasaan. Ia butuh keberanian, ia butuh doa, ia butuh kesucian, ia butuh keagungan, selain buku nikah sebagai pengikat hukum.

Dan betapa kontrasnya dengan cinta-cinta yang saya saksikan di luar panggung, cinta yang sering tergesa, cinta yang mudah tumbuh tapi juga mudah layu, cinta yang kadang berakhir sebelum sempat dirayakan. Mupus Braen mengajarkan sebaliknya: bahwa cinta adalah puncak yang dicapai lewat kesabaran.

Ada aturan yang ketat: Mupus Braen hanya untuk anak bungsu. Untuk kemunjilan. Untuk yang terakhir. Saya bertanya dalam hati: mengapa hanya anak bungsu? Mengapa yang lain tidak berhak? Saya tidak menemukan jawabannya malam itu. Tapi semakin saya renungi, semakin saya merasa bahwa ada filosofi cinta yang tersembunyi di balik aturan ini. Anak bungsu adalah akhir dari sebuah garis, penutup sebuah generasi. Mungkin itu simbol bahwa cinta sejati adalah yang terakhir, yang benar-benar mengikat, yang bukan lagi permainan atau percobaan.

Apakah itu berarti setiap orang akan jatuh cinta berkali-kali, sampai akhirnya menemukan yang terakhir? Saya tidak tahu. Tapi saya tahu, di usia tertentu, cinta memang berhenti menjadi bunga liar yang tumbuh di mana saja. Ia menjadi pohon besar yang menuntut akar dalam, yang membutuhkan keteguhan.

Ubarampe: Nasihat yang Disamarkan

Tradisi ini juga membawa banyak ubarampe: bantal, guling, tikar, ayam, telur, kelapa, kampil putih. Semua dengan makna. Semua dengan doa.

Saya suka membayangkan, bahwa cinta juga membutuhkan ubarampe seperti itu. Bantal untuk tempat beristirahat, guling untuk sandaran, tikar untuk alas, ayam dan telur untuk keberlangsungan hidup, kelapa untuk keteguhan, kampil putih untuk kesederhanaan. Tidak ada cinta yang bisa bertahan hanya dengan ciuman dan janji. Ia membutuhkan ubarampe sehari-hari: kesabaran, pengertian, pengorbanan, tawa, doa.

Di situlah saya menemukan ironi. Banyak orang ingin cinta yang indah, tapi malas mengumpulkan ubarampe. Padahal, tanpa ubarampe, cinta hanya akan jadi pesta semalam, lalu mati ketika lampu dipadamkan.

Cinta sebagai Tradisi

Malam itu, ketika pertunjukan selesai, orang-orang bertepuk tangan. Saya berdiri diam. Saya tahu saya tidak sedang menonton tari-tarian biasa. Saya sedang menonton tafsir tentang cinta.

Cinta, rupanya, adalah tradisi. Ia tidak hanya lahir dari perasaan dua orang. Ia lahir dari doa leluhur, dari nasihat orang tua, dari harapan anak-anak yang belum lahir. Cinta adalah ritual kecil sehari-hari: menunggu, menjemput, memberi kabar, menahan amarah, memaafkan.

Dan Mupus Braen mengajarkan itu dengan bahasa yang indah. Bahwa cinta adalah daun muda yang rapuh, tapi juga indah. Bahwa cinta adalah warna merah keberanian, hitam doa panjang, putih kesucian, emas keagungan. Bahwa cinta adalah ubarampe sederhana yang tidak boleh dilupakan.

Saya pulang dari festival itu dengan langkah pelan. Angin malam menyapa wajah saya, seperti tangan yang menyentuh dengan lembut. Saya tahu, cinta bukan lagi sekadar perasaan. Ia adalah upacara. Ia adalah doa yang harus dipelihara setiap hari.

Dan di Banyuwangi, doa itu diwariskan lewat Mupus Braen Blambangan.

Syafaat. Lentera Sastra Banyuwangi 

Workshop Gemar Berbahasa Asing Dorong Guru MI Banyuwangi Tingkatkan Kompetensi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Sebanyak 140 guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kabupaten Banyuwangi mengikuti Workshop Gemar Berbahasa Asing yang digelar Kelompok Kerja Guru Kelas MI pada Kamis, 25 September 2025, di aula bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. 


Panitia penyelenggara, Siti Nur Khofifah, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan agar madrasah mampu mengikuti arus perkembangan zaman. “Apalagi Banyuwangi dengan sektor pariwisatanya yang tinggi menuntut penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, sebagai sebuah keniscayaan,” ungkapnya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, dalam sambutannya menekankan pentingnya peran guru MI dalam membentuk memori positif siswa. “Guru madrasah ibtidaiyah adalah sosok yang paling diingat anak setelah guru RA. Maka jangan sampai yang diingat justru hal negatif,” pesannya.

Chaironi juga menambahkan bahwa akselerasi bahasa Inggris di Banyuwangi patut diapresiasi karena semakin terpacu oleh geliat sektor pariwisata yang dibanjiri wisatawan asing. Menurutnya, kompetensi personal seorang guru sangat penting karena yang pertama kali dilihat siswa adalah figur gurunya. Ia juga menyinggung keteladanan Zaid bin Tsabit, juru tulis Nabi Muhammad SAW, yang mampu menguasai bahasa asing hanya dalam 17 hari. “Ini menunjukkan pentingnya kemampuan bahasa sebagai jembatan hubungan antarbangsa,” ujarnya. 


Dalam sesi pertama workshop, hadir dua narasumber. Syafaat, S.H., M.H.I., dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, menyampaikan materi tentang branding madrasah melalui penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan media sosial dan keterampilan berbahasa untuk meningkatkan citra madrasah di tengah masyarakat.

Narasumber kedua, Dimas Supartono, berbagi kiat-kiat mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa agar terasa menyenangkan. Menurutnya, pembelajaran bahasa asing di madrasah harus dikemas kreatif sehingga mampu menumbuhkan minat dan kegemaran siswa dalam belajar.

Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal dalam meningkatkan kualitas guru MI Banyuwangi agar lebih siap menghadapi tantangan global, sekaligus mendukung pengembangan pendidikan berbasis kearifan lokal yang selaras dengan kebutuhan zaman. (Syaf)

Pelantikan di Tempat Sampah: Dari Pelayan Menjadi Cermin Birokrasi Banyuwangi

 *Pelantikan di Tempat Sampah: Dari Pelayan Menjadi Cermin Birokrasi Banyuwangi*

ASN adalah pelayan masyarakat, kalimat itu sederhana, seberat gunung, sering kita dengar dalam pidato pejabat, keluar dari mulut dengan intonasi tegas, kadang dengan tatapan yang ingin meyakinkan, namun, seperti doa yang terlalu sering diulang, ia kerap kehilangan makna, di banyak kantor, di banyak meja dengan tumpukan berkas, kalimat itu tak lebih dari hiasan dinding. ASN, alih-alih melayani, duduk seperti penguasa kecil, menunggu rakyat datang dengan segala ketidakberdayaan, lalu dengan satu tanda tangan menentukan arah hidup orang banyak. Sejarah panjang birokrasi kita mengabadikan wajah-wajah itu: wajah yang lebih suka dilayani daripada melayani, tetapi Banyuwangi, dalam beberapa tahun terakhir, mencoba berbicara dengan bahasa simbol, sebuah eksperimen kecil tentang bagaimana sebuah pelantikan bisa berubah menjadi pesan moral, simbolisasi, yang biasanya hanya ada di ruang seni, tiba-tiba hadir di ruang birokrasi. Mujiono, dulu Kepala Dinas PU CKPP, kini Wakil Bupati, pernah dilantik sebagai Sekda di halaman Mal Pelayanan Publik, pada 28 September 2019. Ia tidak berdiri di panggung hotel, tidak di pendopo atau aula dengan karpet merah, melainkan di jantung kota, tempat rakyat antre panjang untuk mengurus KTP, akta kelahiran, surat izin, dokumen yang menentukan kelangsungan hidup, dari sana, pesan yang ingin dibawa jelas: pejabat tidak boleh hanya duduk di kursi empuk, ia harus terbiasa berada di tengah denyut rakyat, di tengah keringat dan keluh kesah, di ruang tempat birokrasi benar-benar diuji.

Lima tahun kemudian, giliran Dr. Ir. H. Guntur Priambodo, MM, menerima mandat Sekretaris Daerah, dan tempat yang dipilih lebih ekstrem: sebuah lokasi pengelolaan sampah, dengan bau yang tidak pernah bisa ditutup parfum, dengan suasana yang tidak pernah bisa dikemas menjadi mewah, di situlah ia berdiri, di tengah tumpukan yang sering dianggap jijik, menerima beban tanggung jawab, simbol itu tidak main-main: birokrasi harus berani turun ke ruang kotor, ruang berbau, ruang yang rumit, sebab di sanalah rakyat sebenarnya berjuang, dalam persoalan yang tidak wangi, dalam sampah-sampah kehidupan yang harus diurai, pertanyaannya, sebagaimana selalu muncul dalam hati rakyat: apakah simbol itu akan tinggal simbol?, apakah pelantikan di mal dan di TPS akan berhenti di galeri berita, atau benar-benar menjadi kompas moral birokrasi?, rakyat, yang sabarnya sering diuji oleh antrean panjang dan wajah dingin petugas, tidak lagi percaya pada simbol belaka, mereka menunggu bukti: apakah pelayanan publik benar-benar lebih mudah?, apakah birokrasi lebih transparan?, apakah ASN berhenti menjadi penguasa kecil dan benar-benar hadir sebagai pelayan?

Guntur, dengan pengalaman panjang, membawa reputasi sebagai pejabat yang komit pada transparansi. Ia sering disebut disiplin, konsisten, seperti seorang pesepeda yang tahu betul bahwa kayuhan panjang tidak boleh terhenti di tanjakan, kini ia harus mengayuh bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk seluruh Banyuwangi. Ia dituntut menjaga ritme, merawat semangat, sekaligus menghadirkan wajah birokrasi yang lebih humanis, tetapi publik tidak pernah buta, mereka tahu ASN menerima gaji tetap, tunjangan, fasilitas, mereka tahu tanda tangan pejabat tidak boleh dijual dengan harga tak pantas, mereka tahu kalimat “ASN adalah pelayan masyarakat” bukan kutipan indah, melainkan janji yang harus dibuktikan di meja pelayanan. Perbandingan dua pelantikan Sekda ini menarik untuk dicatat: satu di Mal Pelayanan Publik, satu di Tempat Pengelolaan Sampah, dua tempat yang sama-sama penuh manusia, meski fungsinya berbeda, di mal, rakyat datang dengan harapan: mengurus dokumen, menata kehidupan, di TPS, rakyat datang dengan sisa kehidupan: sampah rumah tangga, limbah usaha, residu yang sudah tidak berguna. Dua-duanya adalah kenyataan yang tidak bisa dipisahkan dari birokrasi. ASN tidak boleh hanya mengurusi dokumen yang rapi, mereka juga harus berani masuk ke ruang-ruang berbau busuk, tempat masalah riil berserakan. Simbol ini mengandung ironi sekaligus harapan. Ironi, karena birokrasi sering dianggap sebagai sampah itu sendiri: tempat orang harus membayar lebih, menunggu lebih lama, menghadapi wajah masam, harapan, sebab dari ruang sampah kita belajar: yang bau bisa diolah, yang kotor bisa dibersihkan, yang rumit bisa ditata, sampah adalah cermin: ia mengingatkan kita bahwa manusia tidak pernah steril, hidup selalu menghasilkan residu. Birokrasi, kalau mau jujur, hanyalah mesin pengelolaan residu sosial.

Apa sebenarnya birokrasi yang humanis? Bukan sekadar menempelkan senyum di poster. Humanis berarti memahami bahwa setiap orang yang datang membawa beban: ada yang cemas karena urusannya genting, ada yang lelah karena sudah berhari-hari bolak-balik, ada yang buta huruf dan tidak tahu harus mengisi formulir apa. Birokrasi yang humanis tidak memperlakukan mereka sebagai “pemohon,” melainkan sebagai sesama manusia yang membutuhkan pertolongan. ASN yang humanis sadar bahwa satu tanda tangan bisa menentukan apakah seorang anak bisa masuk sekolah, apakah sebuah usaha bisa berjalan, apakah seorang ibu bisa mendapat akses kesehatan, pelayanan bukan sekadar administrasi; ia adalah jembatan keadilan sosial, namun, jalan itu tidak pernah mudah. Guntur kini berada di posisi yang sulit. Ia harus menjaga ritme birokrasi yang kaku, penuh aturan, tetapi pada saat yang sama diminta memberi wajah yang lembut, ramah, dan cepat. Banyuwangi, dengan segala prestasi yang sudah ditulis di laporan pembangunan, tidak boleh berhenti di euforia. Ia butuh nafas baru, agar birokrasi tidak menjadi museum penghargaan.

ASN harus belajar ulang dari hal-hal sederhana: dari cara menyapa, dari kecepatan layanan, dari keberanian menolak gratifikasi. Digitalisasi, misalnya, bukan hanya soal aplikasi, tetapi soal apakah aplikasi itu benar-benar membantu rakyat atau justru menambah kebingungan. Jangan sampai teknologi menjadi tembok baru yang lebih tinggi.

Pelantikan di TPS adalah pengingat yang keras: birokrasi tidak boleh hanya wangi di laporan tahunan, tetapi harus rela berkeringat di lapangan. Ia bukan soal pidato pejabat, melainkan soal bagaimana rakyat merasakan perubahannya. ASN, pada akhirnya, adalah cermin negara, kalau ASN buruk rupa, negara ikut terlihat buruk, kalau ASN lambat, negara dianggap lambat, kalau ASN meminta imbalan, negara seolah sedang menjual dirinya. Maka, pelantikan Guntur bukan sekadar pergantian pejabat. Ia adalah ujian bagi janji ASN sebagai pelayan, tidak ada yang bisa ia lakukan dalam sekejap, tetapi setidaknya ia bisa memastikan satu hal: bahwa birokrasi Banyuwangi tidak lagi ingin diperlakukan sebagai penguasa, melainkan benar-benar hadir sebagai pelayan. Rakyat, sebagaimana selalu, akan menilai dengan mata mereka sendiri: apakah simbol-simbol itu menjadi kenyataan, atau hanya menjadi catatan kecil dalam berita pelantikan.

Dan di antara bau sampah yang menyengat itu, mungkin rakyat berbisik dalam hati: jangan biarkan simbol hanyut seperti plastik sekali pakai, jadikan ia kompas, sebab hanya dengan begitu, birokrasi yang sering dicaci sebagai sampah bisa berubah menjadi pupuk: memberi kesuburan bagi kehidupan bersama.

Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger