Pages

Bussairi D. Nyak Diwa: KISAH-KISAHMU ABADI SEPANJANG MASA* *Kepada Martinus Dwianto Setyawan


 *Bussairi D. Nyak Diwa:*


*KISAH-KISAHMU ABADI SEPANJANG MASA*

*Kepada Martinus Dwianto Setyawan*


Menjalani masa kecil di kampung yang sunyi puluhan tahun lalu

selalu ditemani cerita yang menyenangkan hati 

di antara padi yang menguning 

ditengah sawah yang

dingin

wahai

engkaulah pahlawan

bagi anak-anak sebayaku dulu

melewati hari-hari dan malam-malam yang ceria

di surau sambil membaca cerita-ceritamu yang amat memukau


kini engkau telah tiada

tapi ceritamu tetap terlukis di hati

abadi, sepanjang usia masih setia dengan waktu

bayang-bayangmu masih saja menemani setiap ilusi jiwa

saat bercerita kepada anak-cucuku yang kini semua sudah dewasa


damailah di sana pahlawan literasi

kami setia mengirim doa

meski engkau tidak lagi bercerita

tapi kisah-kisahmu abadi sepanjang masa. 


Kotafajar, 10 Agustus 2025


BIODATA


Bussairi D. Nyak Diwa anak bungsu dari lima bersaudara dilahirkan di Bakongan Aceh Selatan pada 10 Juli 1965 dari ayah H. Datok Nyak Diwa dan Ibu Hj. Siti Ardat. Tahun 1995 melepas masa lajang dengan mempersunting seorang gadis santri; Sri Helma Rizqi. Memiliki enam orang anak; tiga laki-laki dan tiga perempuan, dan menetap di Jalan Syaikhuna No. 18, Kompleks Pesantren Darurrahmah, Kotafajar, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan.


Hingga saat ini baru menerbitkan dua kumpulan puisi dan dua kumpulan cerpen. Salah satu naskah kumpulan puisi dengan judul Ziarah Hati mendapat juara tiga tingkat nasional pada Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan yang diselenggarakan Pusat Perbukuan tahun 2010. Sementara itu cerpen dengan judul Bulohseuma memperoleh predikat terbaik tingkat nasional pada Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2009 dan memperoleh tropi dari Depdiknas. 


Menggeluti dunia kepenulisan puisi dan cerpen sejak 1985. Karya-karya terutama puisi dimuat di Harian Waspada, Serambi Indonesia, Mingguan Atjeh Pos, Peristiwa, Swadesi, Majalah Keluarga, Dunia Wanita, dan lain-lain. Sesekali juga menulis Kritik Sastra. Kritik Sastra dengan judul Wanita Berkalung Sorban; Sebuah Atraksi Kesewenang-wenangan Kaum Lelaki mendapat penghargaan dari Depdiknas dalam Lomba Menulis Kritik Sastra (LMKS) tahun 2011.


Sejak 1992 menjadi guru dan telah mengajar di delapan sekolah, di samping menjadi Tutor Universitas Terbuka (UT) selama kurang lebih empat tahun (2004 – 2008) dan menjadi Kepala Sekolah selama kurang lebih dua tahun (2020 – 2022). Selama menjalani profesi guru pernah memperoleh penghargaan Guru Pelopor IPTEK Tingkat Nasional tahun 2007, guru Berprestasi Tingkat Kabupaten Aceh Selatan tahun 2011, dan Guru Bidang Studi Berprestasi Provinsi Aceh tahun 2016. Dalam berkarya sering juga menggunakan nama pena B.S. Ende atau Bussairi Ende. Saat ini penulis adalah anggota Satupena Provinsi Aceh.

Endhog-Endhogan: Tradisi Transgenerasional Warga Banyuwangi dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Menapaki bulan Rabiul Awwal dalam kalender Hijriyah, seluruh sudut Banyuwangi diramaikan oleh gelombang tradisi endhog-endhogan, suatu praktik ritual budaya yang menempatkan telur sebagai simbol persembahan dan kecintaan umat kepada Nabi Muhammad SAW. Praktik ini, yang telah diwariskan secara lintas generasi, merupakan bentuk integrasi religiositas dengan estetika sosial budaya lokal.

Dalam pelaksanaannya, telur rebus dihias dengan bunga kertas, lalu ditancapkan pada batang pohon pisang yang turut dihias, yang dikenal dengan istilah jodhang. Struktur ini selanjutnya diarak mengelilingi kampung atau ditempatkan di masjid, diiringi oleh pembacaan selawat, barzanji, zikir, dan doa kolektif—sebuah perpaduan antara ekspresi spiritual dan performativitas kultural.

Salah satu manifestasi paling menonjol dari tradisi ini dapat diamati di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, pada Jumat (5/9/2025). Ribuan warga tumpah ruah dalam pawai endhog-endhogan sejauh 2,2 kilometer, dari Masjid Baiturrahman menuju Kantor Desa Kembiritan, sambil menampilkan beragam jodhang telur hias yang diperkaya iringan rebana dan lantunan selawat. 


Dilepas oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, pawai ini menghadirkan kreasi atraktif dengan nuansa islami yang kental. Ornamen megah seperti replika Ka’bah, perahu tumpeng berisi telur, pohon kurma, hingga unta dan penunggangnya, memperkaya visualisasi simbolik. Warga juga menampilkan plakat dengan nama Nabi Muhammad SAW, para sahabat, dan keluarganya, menegaskan dimensi naratif sejarah yang dikontekstualisasikan dalam ekspresi kultural kontemporer.

“Endhog-endhogan bukan sekadar festival yang penuh kemeriahan visual, melainkan representasi cinta dan penghormatan kita kepada Nabi Muhammad SAW,” ujar Bupati Ipuk. Ia menekankan pentingnya nilai kebersamaan, gotong royong, dan keguyuban dalam menjaga keberlangsungan tradisi ini, sekaligus menegaskan harapan agar masyarakat yang berpartisipasi mendapat syafaat Rasulullah SAW.

Salah satu atraksi yang paling mencuri perhatian adalah replika perahu tumpeng raksasa berisi 1.500–2.000 telur hias, karya warga Dusun Krajan Dua. Struktur ini memiliki panjang 6–7 meter dan dibangun secara kolaboratif oleh 30–40 orang selama seminggu penuh. “Ini dilakukan secara swadaya, menghabiskan biaya sekitar Rp7 juta, dengan pengerjaan pagi, sore, dan malam, sebagai wujud partisipasi kami dalam menyemarakkan Festival Endhog-endhogan,” jelas koordinator warga, Taufiq Hidayat.

Menurut Guntur, Ketua Takmir Masjid Baiturrahman dan panitia festival, tradisi tahun ini menampilkan kemeriahan yang lebih signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Sebanyak 221 kreasi dari tujuh dusun di Kembiritan dipamerkan, menegaskan dinamika kreatifitas kolektif masyarakat dalam merepresentasikan nilai budaya yang telah berusia turun-temurun.

“Alhamdulillah, setiap tahun tradisi ini kian berkembang, dan Endhog-endhogan Kembiritan selama dua tahun terakhir telah resmi masuk kalender Banyuwangi Festival (B-Fest),” ungkap Guntur. Festival diikuti lebih dari 1.000 peserta dan berlanjut dengan pembacaan dzikir maulid serta pengajian umum di Masjid Baiturrahman. Guntur menambahkan bahwa kegiatan ini diawali dengan gerakan membaca 1.000 selawat sejak awal Rabiul Awal, tepatnya 25 Agustus lalu, sebagai pembuka ritus spiritual yang berkesinambungan.

Tradisi endhog-endhogan, dengan segala simbolisme dan praktiknya, menjadi saksi hidup bagaimana komunitas lokal Banyuwangi mampu memadukan religiositas, estetika, dan kearifan sosial dalam suatu praktik budaya yang berkelanjutan.


Peringatan Maulid Nabi dan Telur Jodang di Banyuwangi

Di Banyuwangi, peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menjadi sekadar kalender rutin. Ia hadir seperti musim yang ditunggu. Orang-orang menyebutnya dengan berbagai nama, tetapi di desa-desa ia selalu datang dengan warna yang khas. Ada tabuhan rebana, ada suara shalawat yang saling sahut, ada arak-arakan yang memadati jalan kecil, dan ada simbol sederhana yang membuatnya berbeda dari tempat lain: sebutir telur yang dihias, ditancapkan pada batang pisang, lalu dipikul bersama keliling kampung.

Endhog-endhogan. Begitu orang Banyuwangi menyebutnya. Batang pisang yang menopang telur-telur itu dinamakan jodang atau jojohan gedang. Dari jauh, jodang tampak seperti pohon ajaib yang berbuah warna-warni. Dari dekat, ia lebih mirip kesabaran yang berdiri tegak: batang pisang yang rela menanggung beban, dan telur-telur yang bersinar karena dihias dengan cinta sederhana.

Saya pernah melihat seorang anak kecil, kira-kira usia sembilan tahun, berdiri di depan rumah sambil memandangi jodang yang sedang disiapkan bapaknya. Ia menatap telur-telur berwarna merah, biru, hijau, dan kuning yang menancap rapi. Wajahnya penuh kekaguman. Sesekali ia mengangkat tangannya, seolah ingin menyentuh, tetapi buru-buru ditahan. Seakan ia tahu, ada sesuatu yang sakral di sana. Kelak, ia akan ikut berarak, ikut menyanyikan shalawat dengan suara yang mungkin tak beraturan, tetapi penuh semangat. Dari wajah anak itu, saya merasakan betapa agama tidak selalu hadir lewat ceramah panjang. Kadang ia datang melalui warna kertas di sebutir telur.

Setiap Rabiul Awal, halaman rumah di desa berubah menjadi bengkel sederhana. Para ibu menyiapkan telur, merebusnya, menghiasnya dengan kertas minyak warna-warni, menambahkan bendera kecil di ujung tusuk. Para bapak menebang batang pisang di kebun belakang, mengukur panjangnya, menancapkan telur satu per satu hingga penuh. Di sekitar mereka, anak-anak menunggu dengan wajah berbinar, seperti menunggu hari raya. Ada aroma rebusan telur yang menyatu dengan suara orang-orang dewasa yang tertawa kecil sambil bekerja. Ada suasana gotong royong yang mengikat rumah-rumah dengan benang tak kasatmata.

Ketika pagi tiba, jodang-jodang dipikul bergantian. Shalawat mengalun, rebana dipukul, dan jalan-jalan desa yang biasanya sepi berubah menjadi ruang pertemuan. Di setiap langkah, ada doa yang berjalan. Di setiap tabuhan, ada kerinduan yang naik ke langit. Saya pernah berjalan di belakang arak-arakan itu. Dari jauh, saya melihat barisan jodang bergerak seperti hutan kecil yang berpindah. Dari dekat, saya mendengar suara orang-orang tua melantunkan Barzanji dengan suara yang bergetar. Saya pikir, inilah cara paling sederhana orang Banyuwangi mengingat Nabi: bukan dengan kata-kata besar, tetapi dengan telur yang diarak seperti hadiah kecil yang dipersembahkan untuk langit.v

Di masjid atau mushola, jodang-jodang disusun rapi. Kitab Al-Barzanji dibacakan. Nama Nabi Muhammad kembali disebut, kisah kelahiran beliau kembali dihidupkan. Satu per satu bait syair menyalakan ingatan, bahwa pernah ada manusia yang datang dengan kelembutan, yang mampu mengubah arah sejarah hanya dengan kasih. Beliau memimpin tanpa istana. Beliau menjadikan masjid sebagai pusat musyawarah. Beliau menegakkan Piagam Madinah sebagai tanda bahwa damai itu mungkin, bahkan di tengah perbedaan yang tajam. Semua dijalankan dengan kasih sayang, bukan kekerasan.

Tradisi endhog-endhogan adalah cermin kecil dari semangat itu. Telur bulat mengajarkan tentang kesempurnaan hidup. Lapisan di dalamnya—kulit, putih, dan kuning—adalah peringatan tentang Islam, Iman, dan Ihsan: tiga hal yang saling membungkus. Batang pisang sebagai jodang adalah gambaran kerendahan hati: mudah dipotong, mudah dibentuk, tetapi sanggup menopang beban tanpa keluhan. Arak-arakan adalah lambang kebersamaan. Sebuah pesan bahwa iman tak pernah berjalan sendirian, selalu ada bahu yang ikut memikul.

Di Banyuwangi, perbedaan etnis dan agama tidak pernah sepenuhnya menjadi sekat. Ia lebih sering berubah menjadi harmoni. Dan ketika Maulid tiba, harmoni itu semakin nyata: semua larut dalam satu perayaan yang sama, meski berasal dari latar berbeda. Di sinilah endhog-endhogan bekerja sebagai bahasa cinta. Sebuah bahasa yang lahir dari iman, tetapi dipeluk oleh budaya.

Ketika acara selesai, telur-telur itu dibagikan. Anak-anak berebut dengan tawa riang, orang-orang tua menatapnya dengan senyum lega. Sebutir telur yang biasa, tiba-tiba berubah menjadi berkah. Ada doa yang ikut termakan bersama putih dan kuningnya. Ada cinta Nabi yang diam-diam menyusup melalui tradisi.

Ada yang mungkin menertawakan semua ini. Mereka berkata: menghias telur tidak ada di zaman Nabi. Benar, bentuknya memang tidak pernah ada. Tetapi bukankah agama selalu menemukan bentuknya di dalam kebudayaan? Bukankah cinta bisa hadir lewat apa saja, bahkan lewat sebutir telur yang dihias dengan kertas warna? Selama tradisi ini mengajarkan syukur, cinta, dan kebersamaan, bukankah di situ letak ibadahnya?

Endhog-endhogan adalah cara masyarakat Banyuwangi merawat ingatan pada Nabi. Ingatan itu tidak hanya dibaca di kitab, tidak hanya didengar di mimbar, tetapi dihidupkan dalam bentuk yang bisa disentuh, diarak, dibagikan, dan dirasakan. Saya pikir, agama yang hidup adalah agama yang menyalakan ingatan. Dan ingatan itu harus menemukan bentuknya agar bisa diwariskan.

Dan setiap kali jodang dipikul keliling kampung, setiap kali shalawat mengalun dari mulut-mulut sederhana, seakan terdengar kembali bisikan paling halus dari Nabi: bahwa ajaran Islam adalah rahmat, bukan hanya bagi satu kaum, melainkan bagi seluruh alam.


Indonesia, Rumah Kita Sendiri

 Indonesia, Rumah Kita Sendiri

oleh: Syafaat

Indonesia adalah rumah besar yang tak pernah mengklaim kesempurnaan. Atapnya kadang bocor, dindingnya retak, lantainya dingin di malam sunyi. Namun tetaplah rumah, tempat luka dan tawa berlabuh, tempat pulang yang tak tergantikan. Ia berdiri dari peluh buruh dan petani, darah para pejuang, doa ibu di lereng gunung, dan air mata nelayan yang menatap laut tanpa kepastian. Kini rumah ini diuji, bukan karena cintanya pudar, tetapi karena penghuninya lupa cara menyapu halaman. Retakan bisa ditambal, asalkan kita merawatnya dengan cinta.

Tidak ada rumah yang benar-benar sempurna. Bahkan rumah yang dibangun dengan cinta pun bisa bocor di musim hujan. Gentengnya bisa bergeser, dindingnya bisa retak, lantai bisa dingin saat malam tiba. Tapi rumah tetaplah rumah. Tempat kembali setelah dunia terlalu gaduh, tempat menyimpan luka dan tawa, tempat di mana aroma kayu tua dan masakan ibu bertahan lebih lama dari ingatan kita sendiri. Rumah besar ini, Indonesia, berdiri seadanya, fondasinya ditanam dari peluh petani dan darah para pemberontak yang menolak dijajah, doa ibu di lereng gunung, air mata istri nelayan yang menatap laut tiap pagi tanpa kepastian.

Rumah ini kini dalam masa yang tak mudah. Bukan karena cintanya padam, bukan karena tiangnya patah. Ia hanya terlalu banyak dihuni oleh tangan yang lupa cara membersihkan halaman, oleh mulut-mulut yang rajin menyalahkan namun enggan memungut sampah di depan pintu. Namun rumah tetaplah rumah. Kau boleh marah saat listrik padam. Kau boleh mengeluh saat harga beras melonjak dan suara rakyat tenggelam dalam rapat dingin ber-AC. Tapi jangan pernah menjelekkan rumah ini di hadapan orang luar. Satu atap roboh, semua kehujanan. Satu dinding runtuh, kita semua kehilangan sandaran.

Korupsi, ketidakadilan, kerusakan lingkungan—itu retakan kecil yang kadang tak kasatmata, tapi jika dibiarkan, bisa membuat tembok roboh. Rumah ini tidak butuh penghuni sempurna. Ia hanya butuh orang-orang yang tahu cara menambal dan membersihkan. Indonesia bukan sekadar pulau-pulau. Ia tubuh yang bernapas, yang bisa terluka, yang bisa sembuh.

Di era digital, perpecahan tumbuh cepat. Media sosial menjadi pasar riuh sekaligus arena yang menelanjangi manusia. Ada anak muda yang bunuh diri karena dibuli komentar, ada yang diperas karena rekamannya tersebar. Dunia maya, jendela kebebasan yang berubah menjadi ruang penyiksaan. Retakan perahu hari ini bukan hanya politik dan ekonomi, tapi juga dari sikap kita: jari yang mengetik terlalu cepat, mulut yang ringan menghina, hati yang tipis empati.

Retakan bisa ditambal. Rumah bisa diperkuat kembali. Caranya sederhana tapi tidak mudah: kebersamaan, cinta tulus. Ambil semen kesadaran, pasir kesabaran, air pengertian, lalu tambal dinding rumah kita. Perahu bocor? Ambil papan persaudaraan, paku dengan tekad bersama, ikat dengan cinta—ia akan kuat kembali. Menambal retakan bukan pekerjaan satu orang. Semua harus bergerak, semua harus turun tangan.

Bayangkan Indonesia sebagai kekasih yang kita cintai sepenuh jiwa. Kekasih yang menangis ketika retakan muncul, tersenyum saat tangan kita menambal, berdebar saat kita mengingatnya. Kekasih yang dipeluk dalam doa panjang, dicintai para pejuang ketika darah menetes di tanah, dibisikkan para ibu saat melepas anak berperang. Kekasih ini, yang kita warisi, belum selesai kita cintai, tapi terus kita jaga.

Ketika dunia gaduh dan bangsa-bangsa saling menatap tajam, rumah ini hanya ingin tenang. Ia tidak meminta semua setuju, ia hanya ingin semua sadar bahwa perbedaan bukan alasan menyingkirkan. Negeri ini bukan sekadar tanah, udara, dan batu. Ia kekasih yang bernapas, menangis di senja, tersenyum di fajar. Lahir dari darah yang meresap ke bumi, dari keringat yang menempel di batu, dari rintihan sunyi yang dipanjatkan dalam doa. Para pendahulu mencintainya dengan pengorbanan yang tak masuk akal: senjata seadanya, perut keroncongan, tubuh ringkih, tapi hati mereka membara, tekad lebih keras dari baja. Dari penderitaan dan cinta itu lahirlah rumah bernama Indonesia, hati yang kita jaga bersama, rawat dengan harapan dan doa yang tak padam.

Rumah berdiri di atas kesepakatan bersama, cinta yang disepakati semua hati. Bahasa kita satu, nasib kita satu, perbedaan bukan alasan terpisah. Suku-suku ratusan jumlahnya, budaya bertubrukan di perempatan sejarah, keyakinan berbeda bahkan bertolak belakang—semua dipayungi satu kata yang lebih besar daripada ego: Indonesia. Di rumah itu, setiap suara adalah bisikan cinta, setiap langkah tarian hati, setiap tangan yang terulur bukan untuk diri sendiri semata, tapi untuk menahan dinding tetap tegak, agar atap tak roboh, agar jiwa rumah tetap hangat.

Perbedaan diolah menjadi harmoni rapuh namun indah, seperti sungai yang mengalir di antara batu-batu berwarna, menyatu tanpa kehilangan bentuk. Bahasa yang satu bukan sekadar kata, tapi rindu yang diamini bersama; nasib yang satu bukan sekadar nasib individu, tapi nasib kolektif yang menuntut pengorbanan, perhatian, dan kesadaran bahwa runtuhnya satu bagian akan menimpa seluruh rumah. Rumah ini menuntut kesabaran, keberanian mengakui kesalahan, kebijaksanaan menahan amarah, kasih untuk menambal setiap retak dengan kelembutan. Indonesia bukan sekadar nama, bukan sekadar tanah dan air, melainkan kekasih yang jiwa-jiwanya kita rawat bersama, sejarahnya menjadi doa panjang, harapannya cahaya yang tak pernah padam meski badai terus datang.

Tetapi rumah ini, betapapun megah, tak pernah selesai sekali jadi. Selalu ada genteng yang rembes saat hujan, dinding merekah dimakan waktu, kayu lapuk bila penghuninya sibuk menolong diri sendiri. Menjaga rumah ini adalah menjaga hati kita sendiri; keruntuhannya patah hati kita, keutuhannya kebahagiaan bersama.

Pada malam sunyi, ketika lampu padam dan jangkrik bernyanyi, terbayang rumah indah bernama Indonesia, dibangun dengan tergesa sekaligus cinta yang membara. Tiangnya kokoh namun belum dipoles, dinding menjulang tapi kasar, atap tegak meski banyak genteng belum rapat. Tergesa itu bukan sekadar ingin berteduh, tapi karena luka ingin segera diobati dengan persatuan, karena hati ingin segera dimiliki bersama. Rumah itu dibangun dari bahan seadanya tapi dengan doa tak putus, bata rapuh diperkuat harapan, kayu basah dipanaskan semangat. Ia berdiri bukan hanya sebagai tempat berteduh, tetapi sebagai pernyataan: bangsa ini memilih mencintai bersama, meski fondasinya belum sempurna, retakan kecil selalu muncul, dan hanya dengan kesabaran serta ketulusan rumah itu bisa bertahan.

Hari-hari berlalu. Rumah semakin ramai. Anak-anak lahir, cucu-cucu tumbuh. Ada yang rajin membersihkan, ada yang menumpang tidur. Ada yang menyumbang bata, ada yang mencuri kayu. Rumah besar itu mulai retak. Retakan kecil, awalnya bisa ditambal tipis, lama-lama dibiarkan. Kita terlalu sibuk, terlalu lelah, terlalu mementingkan diri sendiri.

Banyak yang ingin rumah ini gagal, dari luar dan dari dalam. Tapi harapan tidak pernah mati jika masih ada orang yang menyalakan lilin meski tahu malam panjang. Jika masih ada yang menatap merah-putih dengan mata basah, bukan karena sedih, tapi karena cinta terlalu dalam untuk dijelaskan dengan kalimat. Tidak perlu menjadi pahlawan. Cukup menjadi tetangga yang tahu kapan mengetuk pintu dan kapan membantu memperbaiki pagar. Rumah ini tidak utuh karena satu orang hebat, tapi karena semua orang saling menambal retaknya.


Kita dulu bangsa besar. Bukan karena senjata, bukan karena tambang, tapi karena semangat menyala di dada-dada yang nyaris tak punya apa-apa. Guru berjalan kaki membawa buku, petani menanam doa di sela benih, ibu melilitkan kain di tubuh anak sambil mengajarkan sabar. Saat dunia gelap oleh penjajahan, negeri ini memekikkan kemerdekaan. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk dunia. Konferensi Asia Afrika bukan untuk pamer diplomasi, tapi menyatakan keadilan bisa dibicarakan, kemerdekaan bisa dijemput bukan hanya dengan peluru, tapi dengan puisi dan jabat tangan.

Negeri ini pernah mengirim guru ke negeri lain tanpa berharap balasan, karena percaya, cahaya yang dibagi tidak membuat telempiknya padam. Sekarang mungkin kita tertinggal. Jalan mereka lebih mulus, gedung lebih tinggi, uang lebih kuat. Tapi itu bukan akhir cerita. Rumah bukan dinilai dari cat dinding, tapi dari bagaimana penghuninya menjaga nilai-nilai sejak awal. Masalah negeri bukan pada kekurangan, tapi pada lupa. Kita lupa rumah harus dijaga bersama. Kita mulai curiga, membandingkan, menyalahkan. Padahal rumah hanya ingin dihuni oleh mereka yang tahu cara saling menyapa.

Belum terlambat. Dinding masih berdiri. Ada bunga baru tumbuh di pekarangan. Anak-anak menatap huruf pertama dengan mata berbinar. Remaja menulis kode dan puisi dengan imajinasi lebih kaya dari APBN. Rumah belum habis. Yang dibutuhkan bukan pidato baru, bukan jargon, bukan kembang api. Cukup ingatan, bahwa kita pernah menyala, dan bisa menyala lagi.

Tidak perlu menjadi bangsa sempurna. Cukup menjadi keluarga yang tahu menjaga rumah. Karena rumah ini, betapapun retaknya, tetap milik kita. Jika kita saling menjaga, pekerjaan berat berubah menjadi ladang harapan. Yang pernah menyala tak akan selamanya gelap, asal ada yang meniup bara dengan sabar, asal ada yang tahu rumah ini dibangun dari sabar, dari luka, dari doa ibu yang tak pernah lelah meski malam makin sunyi.

Rumah ini indah bukan karena emas dan tambangnya, tapi karena dihuni oleh orang-orang yang pernah bersumpah saling menjaga. Sumpah itu kini terdengar seperti gema, tak jelas, tak bulat, kadang sekadar seremonial tanpa jiwa. Permata-permata itu masih ada, tapi hanya bisa digali oleh tangan bersih dan niat jernih. Rumah ini, dibangun oleh syuhada dan tangis diam perempuan tua, tidak boleh dikelola dengan rakus. Jika rumah ladang, hasilnya harus dimakan semua, bukan hanya mereka yang memegang kunci gudang.

Masjid boleh megah, tapi adzan harus tetap lebih nyaring dari suara mesin tambang. Sekolah agama jangan hanya ramai saat pagi, tapi harus menghidupkan kasih sayang dan keadilan sampai ruang sidang. Anak-anak rumah ini belajar menanam, bukan mencuri; memetik, bukan merampas. Bila dewasa, biarlah mereka menggali permata dengan dzikir, bukan tipu daya. Permata yang digali dengan dzikir bercahaya lebih lama daripada permata dicuri dalam gelap.

Rumah ini bukan milik kita semata. Ia titipan masa lalu, warisan masa depan. Jagalah sebagaimana tubuhmu: diberi makan baik, dibersihkan dari penyakit hati, dilindungi dari hawa nafsu yang membutakan. Karena rumah ini akan bertanya kelak: Apa yang kau lakukan saat rumah hampir retak? Memperbaiki, atau ikut menambahi retaknya?

Karena rumah ini, meski letih, masih percaya pada cinta. Dan cinta yang setia akan selalu menemukan jalan untuk pulang.

Penulis adalah , Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

Tentang Aurat, Hate Comment, dan Kesabaran di Era Digital

 Tentang Aurat, Hate Comment, dan Kesabaran di Era Digital 

(Kenangan pembinaan KTIQ Banyuwangi)


Selama tiga hari berturut-turut, saya diminta mendampingi dua penulis muda dalam lomba karya tulis ilmiah Al-Qur’an. Yang perempuan, wajahnya manis, dan sering menulis di media sosial. Ia pandai menyampaikan ide dengan bahasa sederhana. Ia beberapa kali mengikuti pembinaan kampus, dan dari situ saya tahu bahwa dunia tulis-menulis bukan sekadar hobi baginya. Ia serius.

Yang laki-laki, santri. Tulisan-tulisannya pernah menghiasi media digital. Gaya tulisnya seperti tafsir klasik yang diturunkan ke meja makan kita hari ini. Ada kekuatan ketika ia mengutip ulama lama lalu menyambungkannya dengan kondisi zaman sekarang. Saya mendampingi mereka bukan karena saya lebih pandai. Saya kira hanya karena saya dianggap sabar. Sabar, ternyata, lebih dibutuhkan daripada pintar. Anak-anak muda penuh gagasan, seperti air yang pecah dari bendungan: deras, liar, kadang tak terkendali.

Penulis perempuan itu menulis tentang aurat. Aurat, katanya, bukan hanya tentang kain yang menutupi tubuh. Aurat juga tentang kehormatan diri. Dan di media sosial, aurat bisa berupa foto, kata-kata, bahkan curhat yang seharusnya disimpan tapi diumbar. Saya mengingat firman Allah:

> “Katakanlah kepada wanita yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya...” (QS. An-Nur [24]: 31) 


Ayat itu sederhana. Tapi lihatlah bagaimana zaman memperumitnya. Dulu, aurat terbuka hanya di pasar atau di jalan. Sekarang aurat bisa dikirim ke ribuan mata hanya dengan satu klik. Dulu, orang menutup tubuhnya dengan kain. Sekarang, ada yang dengan sengaja membukanya, karena ingin dianggap modern, karena ingin diperhatikan, karena ingin mendapat “like” lebih banyak.

Padahal aurat bukan sekadar kain. Aurat adalah benteng kehormatan. Jika benteng itu roboh, maka yang masuk bukan hanya pandangan orang, tapi juga fitnah, syahwat, dan kehinaan. Saya pernah melihat seorang perempuan di media sosial yang membagikan fotonya dengan pakaian terbuka. Awalnya, ia mendapat pujian: “Cantik sekali”, “Modis”, “Wow”. Tapi setelah itu, komentar bergeser: “Murahan”, “Cari perhatian”, “Bahan gosip”. Dalam waktu singkat, ia menjadi bahan gunjingan. Aurat yang diumbar berubah jadi bumerang. Itulah aurat di era digital: sekali terbuka, sulit ditutup kembali.

Sementara itu, penulis laki-laki menulis tentang hate comment. Tentang komentar penuh kebencian yang lahir dari jemari yang tak sabar.

Allah sudah memperingatkan:

> “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra [17]: 36)

Hate comment sering lahir dari ketidaktahuan. Dari dengki. Dari iri. Atau dari hati yang gelap. Di dunia digital, mulut bukan lagi harimau. Jari-jari lebih buas dari mulut. Sekali ketik, sekali kirim, kata-kata meluncur tanpa bisa ditarik kembali. Saya ingat firman Allah:

> “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf [50]: 18)

Kalimat itu jelas. Tidak ada kata yang hilang. Tidak di dunia, tidak di akhirat.

Dan Rasulullah ï·º bersabda:

> “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tetapi lihatlah dunia kita. Semua orang bicara. Bahkan mereka yang seharusnya diam. Negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Kita bisa melihatnya dari cara para pejabat bicara. Ada yang asal ucap, ada yang meluncurkan kata-kata seperti peluru nyasar. Maksudnya mungkin biasa saja, tapi sampai di telinga rakyat yang sedang lapar, kata-kata itu jadi bara. Saya masih ingat seorang pejabat berkata, “pajak naik sedikit itu biasa.” Padahal, bagi rakyat yang uangnya hanya cukup untuk makan sehari, “sedikit” itu bisa berarti tidak makan. Dan ketika ucapan itu menyebar lewat media sosial, rakyat merasa dihina. Di sinilah bahayanya. Sebuah kalimat bisa menggerakkan ribuan orang. Apalagi jika disebarkan oleh algoritma yang tak kenal belas kasihan.

Dulu, sebelum ada internet, kata-kata masih melewati pintu redaksi koran, atau filter televisi. Sekarang tidak ada pintu. Tidak ada filter. Bahkan identitas pun bisa disamarkan.

Orang bisa menghina tanpa menampakkan wajah. Bisa menebar fitnah dengan nama palsu. Bisa menyerang orang lain tanpa pernah keluar rumah. Kadang saya merasa, kita sedang hidup di zaman paling aneh: orang bisa mati hanya karena kata-kata yang ditulis orang asing yang wajahnya pun tak pernah kita lihat.

Dan saya teringat firman Allah:

> “Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 191)

Betul. Fitnah di media sosial bisa lebih mematikan daripada peluru. Saya melihat dua penulis muda itu, dan saya berpikir: menulis bisa jadi jalan untuk menahan diri. Menulis membuat seseorang berpikir lebih lambat. Tidak seperti komentar yang asal ketik lalu kirim. Menulis memaksa kita menimbang kata, memilih kalimat. Dan di situlah letak kesabaran. Saya merasa orang yang menulis dengan hati lebih dekat kepada Tuhan daripada orang yang sibuk bicara dengan lidah. Karena menulis itu pekerjaan sunyi.

Allah berfirman:

> “Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Hud [11]: 115)

Kesabaran bukan sekadar menahan marah. Kesabaran juga menahan jari, menahan kata, menahan keinginan untuk selalu tampak di depan orang lain. Mungkin, inilah pelajaran dari tiga hari itu: bahwa aurat dan hate comment hanyalah pintu masuk. Di baliknya, ada soal yang lebih besar. Soal bagaimana manusia menempatkan dirinya di zaman yang serba cepat ini.

Apakah kita masih tahu batas?

Apakah kita masih menjaga lisan?

Apakah kita masih menahan diri dari fitnah?

Kita tidak bisa mengembalikan zaman. Yang bisa kita lakukan hanya menjaga diri. Menjaga kata, menjaga aurat, baik aurat tubuh maupun aurat jiwa. Dan saya berharap dua penulis muda itu terus menulis. Karena di tengah riuh bising komentar digital, kita butuh suara yang jernih.

Dan kesabaran, sebagaimana janji Allah, adalah pintu yang paling dekat menuju-Nya.

Menjembatani Tradisi dan Modernitas: HISKI Banyuwangi Hadirkan Alih Wahana Sastra Nusantara

BANYUWANGI – Sastra, sebagaimana kehidupan, senantiasa berdenyut antara akar tradisi dan percabangan modernitas. Dalam ruang inilah, Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) bersama Dana Indonesiana dan LPDP merenda kerja budaya melalui lokakarya dan presentasi kreatif. Setelah pada 28–29 Mei 2025 berhasil menyelenggarakan Lokakarya Penulisan Kreatif Sastra dan Pembuatan Produk Kreatif Berbasis Tradisi Lisan serta Manuskrip, rangkaian kegiatan kini berlanjut dengan presentasi Produk Alih Wahana Sastra yang berlangsung secara daring, Minggu (31/8/2025).

Sejak pukul 09.00 WIB hingga menjelang senja, sebanyak 31 peserta dari beragam latar belakang menghadirkan karya-karya yang lahir dari pergulatan kreatif dengan tradisi. Setiap karya dipresentasikan di hadapan para pengulas akademis: Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. (Ketua Umum HISKI), Dr. Tengsoe Tjahjono, dan Dr. M. Yoesoef, M.Hum.. Dengan kendali moderasi oleh Sudartomo Macaryus, M.Hum., forum ini tak hanya berfungsi sebagai panggung presentasi, melainkan juga laboratorium evaluasi dan pengayaan intelektual.


Landasan kegiatan hari ini tidak dapat dilepaskan dari lokakarya intensif sebelumnya. Pada 28 Mei 2025, Dr. Munawar Holil, M.Hum. (Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara) mengurai potensi manuskrip sebagai sumur tak berhingga bagi penciptaan sastra, sementara Dr. Pudentina MPSS (Ketua Umum Asosiasi Tradisi Lisan) menekankan vitalitas tradisi lisan sebagai ruh penciptaan. Selaras dengan itu, Dr. Tengsoe Tjahjono, M.Pd. dan Dr. Yeni Artanti, M.Hum. mengajak peserta menatap peluang sastra modern tanpa meninggalkan akar tradisinya.

Pada hari kedua, 29 Mei 2025, perspektif kebudayaan diperluas. Drs. Hasan Basri (Ketua Dewan Kesenian Blambangan sekaligus praktisi seni tradisi) menyoroti strategi alih wahana seni ke dalam produk industri kreatif. Elvin Hendrata, pembina seni dan konten kreatif Sanggar Joyo Karyo, menambahkan urgensi digitalisasi dalam menghidupkan tradisi. Semua paparan itu disatukan oleh benang merah yang ditegaskan kembali oleh Prof. Dr. Novi Anoegrajekti dan Dr. M. Yoesoef: sastra klasik Nusantara harus hadir di tengah zaman, bukan sekadar sebagai artefak, melainkan sebagai energi kebudayaan yang terus bertransformasi.

Nurul Ludfia Rochmah, S.Pd., M.Pd., Ketua HISKI Komisariat Banyuwangi, menegaskan bahwa presentasi daring ini bukanlah akhir, melainkan bagian dari jalan panjang HISKI dalam membangun ekosistem sastra berbasis tradisi. “Lokakarya Mei 2025 menjadi dasar terciptanya karya alih wahana yang kini dipresentasikan. Hari ini para peserta menunjukkan daya cipta mereka dalam menghidupkan kembali tradisi klasik. Rangkaian ini akan bermuara pada Gelar Karya dan Saresehan Budaya, 24 September 2025, beriringan dengan Pameran Banyuwangi Tempo Doeloe sebagai bagian dari Banyuwangi Festival 2025,” ungkapnya.

Dengan demikian, HISKI tidak hanya mencetak karya, melainkan juga membangun ruang dialog antara teks, konteks, dan teknologi. Karya-karya yang lahir dari tangan para peserta menjadi bukti bahwa sastra klasik tidak terperangkap di lembar manuskrip maupun ruang ritual lisan, tetapi dapat dialih-wahanakan ke dalam bentuk kreatif baru yang bersenyawa dengan zaman digital.

Lebih dari sekadar kegiatan akademik, rangkaian lokakarya dan presentasi ini merupakan ikhtiar kebudayaan: menjaga agar tradisi Nusantara tetap hidup, sekaligus menanamkannya dalam denyut kebudayaan kontemporer. HISKI berharap, melalui strategi ini, sastra berbasis tradisi tidak hanya dilestarikan sebagai pusaka, tetapi juga dikembangkan agar relevan dan produktif bagi generasi kini maupun mendatang.

Dalam narasi besar perjalanan bangsa, kegiatan ini adalah bukti bahwa sastra mampu menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan—antara suara nenek moyang yang berbisik dalam manuskrip dan tradisi lisan, dengan gema digital yang menghubungkan manusia lintas ruang dan waktu.

Bimas Islam Sabet Juara Umum, Lomba HUT RI Kemenag Banyuwangi Jadi Simbol Soliditas


Banyuwangi (Warta Blambangan) Suasana riuh penuh gelak tawa, kebersamaan, dan energi positif mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Tidak hanya sekadar seremoni, perayaan tahun ini berubah menjadi momentum pengikat kebersamaan keluarga besar Kemenag, ketika seluruh seksi dan pegawai terlibat aktif dalam enam perlombaan unik yang digelar sejak tanggal 27 Agustus 2025. 


Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, hadir sekaligus ikut meramaikan perlombaan dengan penuh keakraban. Saat pengumuman pemenang lomba pada Jumat siang, beliau menekankan bahwa nilai kebersamaan jauh lebih bermakna dibandingkan hadiah yang diperebutkan.

> “Hadiah itu simbolis saja, yang penting kita semua bergembira. Nilainya tidak seberapa, tetapi tawa, keceriaan, dan kekompakan inilah yang sangat berarti. InsyaAllah tahun depan kita buat lebih meriah lagi,” tegasnya yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari peserta.

Enam lomba yang dipertandingkan—baris-berbaris dengan mata tertutup, estafet air, makan kerupuk, makan biskuit, yel-yel, hingga lomba memasak ala Arabian—menjadi ajang adu kreatifitas sekaligus pengikat emosional antarpegawai. Setiap seksi tampil dengan semangat tinggi, mencerminkan bahwa peringatan kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga memperkuat kolaborasi di masa kini.

Hasil perlombaan menunjukkan dominasi Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam yang berhasil menyabet lima gelar juara dari enam cabang lomba, sehingga berhak menyandang predikat juara umum. Keberhasilan ini bukan hanya soal capaian lomba, tetapi sekaligus cerminan soliditas dan kekompakan tim Bimas Islam yang begitu kuat. 


> “Alhamdulillah, semua seksi kompak. Namun yang paling berkesan tentu adalah kebersamaan yang terjalin di antara kita semua. Inilah semangat Kemenag Banyuwangi dalam merayakan kemerdekaan,” ungkap Oksan Wibowo, salah satu panitia lomba.

Acara ditutup dengan pembagian hadiah sederhana berupa laptop, kipas angin, dan tas, sebagai simbol apresiasi atas semangat dan partisipasi peserta. Meski tidak bernilai tinggi secara materi, hadiah tersebut menjelma sebagai ikon penghargaan atas semangat kolektif keluarga besar Kemenag Banyuwangi, Jumat (29/08/2025)

Lebih jauh, Dr. Chaironi mengingatkan bahwa semangat kebersamaan ini tidak boleh berhenti pada momentum HUT RI semata, tetapi harus dijaga dalam keseharian di lingkungan kerja Kemenag. Dengan demikian, nilai kebersamaan yang tercipta dalam riuh tawa lomba akan menjadi modal sosial untuk melahirkan kinerja yang semakin solid dan produktif.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger