Pages

Tentang Aurat, Hate Comment, dan Kesabaran di Era Digital

 Tentang Aurat, Hate Comment, dan Kesabaran di Era Digital 

(Kenangan pembinaan KTIQ Banyuwangi)


Selama tiga hari berturut-turut, saya diminta mendampingi dua penulis muda dalam lomba karya tulis ilmiah Al-Qur’an. Yang perempuan, wajahnya manis, dan sering menulis di media sosial. Ia pandai menyampaikan ide dengan bahasa sederhana. Ia beberapa kali mengikuti pembinaan kampus, dan dari situ saya tahu bahwa dunia tulis-menulis bukan sekadar hobi baginya. Ia serius.

Yang laki-laki, santri. Tulisan-tulisannya pernah menghiasi media digital. Gaya tulisnya seperti tafsir klasik yang diturunkan ke meja makan kita hari ini. Ada kekuatan ketika ia mengutip ulama lama lalu menyambungkannya dengan kondisi zaman sekarang. Saya mendampingi mereka bukan karena saya lebih pandai. Saya kira hanya karena saya dianggap sabar. Sabar, ternyata, lebih dibutuhkan daripada pintar. Anak-anak muda penuh gagasan, seperti air yang pecah dari bendungan: deras, liar, kadang tak terkendali.

Penulis perempuan itu menulis tentang aurat. Aurat, katanya, bukan hanya tentang kain yang menutupi tubuh. Aurat juga tentang kehormatan diri. Dan di media sosial, aurat bisa berupa foto, kata-kata, bahkan curhat yang seharusnya disimpan tapi diumbar. Saya mengingat firman Allah:

> “Katakanlah kepada wanita yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya...” (QS. An-Nur [24]: 31) 


Ayat itu sederhana. Tapi lihatlah bagaimana zaman memperumitnya. Dulu, aurat terbuka hanya di pasar atau di jalan. Sekarang aurat bisa dikirim ke ribuan mata hanya dengan satu klik. Dulu, orang menutup tubuhnya dengan kain. Sekarang, ada yang dengan sengaja membukanya, karena ingin dianggap modern, karena ingin diperhatikan, karena ingin mendapat “like” lebih banyak.

Padahal aurat bukan sekadar kain. Aurat adalah benteng kehormatan. Jika benteng itu roboh, maka yang masuk bukan hanya pandangan orang, tapi juga fitnah, syahwat, dan kehinaan. Saya pernah melihat seorang perempuan di media sosial yang membagikan fotonya dengan pakaian terbuka. Awalnya, ia mendapat pujian: “Cantik sekali”, “Modis”, “Wow”. Tapi setelah itu, komentar bergeser: “Murahan”, “Cari perhatian”, “Bahan gosip”. Dalam waktu singkat, ia menjadi bahan gunjingan. Aurat yang diumbar berubah jadi bumerang. Itulah aurat di era digital: sekali terbuka, sulit ditutup kembali.

Sementara itu, penulis laki-laki menulis tentang hate comment. Tentang komentar penuh kebencian yang lahir dari jemari yang tak sabar.

Allah sudah memperingatkan:

> “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra [17]: 36)

Hate comment sering lahir dari ketidaktahuan. Dari dengki. Dari iri. Atau dari hati yang gelap. Di dunia digital, mulut bukan lagi harimau. Jari-jari lebih buas dari mulut. Sekali ketik, sekali kirim, kata-kata meluncur tanpa bisa ditarik kembali. Saya ingat firman Allah:

> “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf [50]: 18)

Kalimat itu jelas. Tidak ada kata yang hilang. Tidak di dunia, tidak di akhirat.

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tetapi lihatlah dunia kita. Semua orang bicara. Bahkan mereka yang seharusnya diam. Negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Kita bisa melihatnya dari cara para pejabat bicara. Ada yang asal ucap, ada yang meluncurkan kata-kata seperti peluru nyasar. Maksudnya mungkin biasa saja, tapi sampai di telinga rakyat yang sedang lapar, kata-kata itu jadi bara. Saya masih ingat seorang pejabat berkata, “pajak naik sedikit itu biasa.” Padahal, bagi rakyat yang uangnya hanya cukup untuk makan sehari, “sedikit” itu bisa berarti tidak makan. Dan ketika ucapan itu menyebar lewat media sosial, rakyat merasa dihina. Di sinilah bahayanya. Sebuah kalimat bisa menggerakkan ribuan orang. Apalagi jika disebarkan oleh algoritma yang tak kenal belas kasihan.

Dulu, sebelum ada internet, kata-kata masih melewati pintu redaksi koran, atau filter televisi. Sekarang tidak ada pintu. Tidak ada filter. Bahkan identitas pun bisa disamarkan.

Orang bisa menghina tanpa menampakkan wajah. Bisa menebar fitnah dengan nama palsu. Bisa menyerang orang lain tanpa pernah keluar rumah. Kadang saya merasa, kita sedang hidup di zaman paling aneh: orang bisa mati hanya karena kata-kata yang ditulis orang asing yang wajahnya pun tak pernah kita lihat.

Dan saya teringat firman Allah:

> “Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 191)

Betul. Fitnah di media sosial bisa lebih mematikan daripada peluru. Saya melihat dua penulis muda itu, dan saya berpikir: menulis bisa jadi jalan untuk menahan diri. Menulis membuat seseorang berpikir lebih lambat. Tidak seperti komentar yang asal ketik lalu kirim. Menulis memaksa kita menimbang kata, memilih kalimat. Dan di situlah letak kesabaran. Saya merasa orang yang menulis dengan hati lebih dekat kepada Tuhan daripada orang yang sibuk bicara dengan lidah. Karena menulis itu pekerjaan sunyi.

Allah berfirman:

> “Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Hud [11]: 115)

Kesabaran bukan sekadar menahan marah. Kesabaran juga menahan jari, menahan kata, menahan keinginan untuk selalu tampak di depan orang lain. Mungkin, inilah pelajaran dari tiga hari itu: bahwa aurat dan hate comment hanyalah pintu masuk. Di baliknya, ada soal yang lebih besar. Soal bagaimana manusia menempatkan dirinya di zaman yang serba cepat ini.

Apakah kita masih tahu batas?

Apakah kita masih menjaga lisan?

Apakah kita masih menahan diri dari fitnah?

Kita tidak bisa mengembalikan zaman. Yang bisa kita lakukan hanya menjaga diri. Menjaga kata, menjaga aurat, baik aurat tubuh maupun aurat jiwa. Dan saya berharap dua penulis muda itu terus menulis. Karena di tengah riuh bising komentar digital, kita butuh suara yang jernih.

Dan kesabaran, sebagaimana janji Allah, adalah pintu yang paling dekat menuju-Nya.

Menjembatani Tradisi dan Modernitas: HISKI Banyuwangi Hadirkan Alih Wahana Sastra Nusantara

BANYUWANGI – Sastra, sebagaimana kehidupan, senantiasa berdenyut antara akar tradisi dan percabangan modernitas. Dalam ruang inilah, Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) bersama Dana Indonesiana dan LPDP merenda kerja budaya melalui lokakarya dan presentasi kreatif. Setelah pada 28–29 Mei 2025 berhasil menyelenggarakan Lokakarya Penulisan Kreatif Sastra dan Pembuatan Produk Kreatif Berbasis Tradisi Lisan serta Manuskrip, rangkaian kegiatan kini berlanjut dengan presentasi Produk Alih Wahana Sastra yang berlangsung secara daring, Minggu (31/8/2025).

Sejak pukul 09.00 WIB hingga menjelang senja, sebanyak 31 peserta dari beragam latar belakang menghadirkan karya-karya yang lahir dari pergulatan kreatif dengan tradisi. Setiap karya dipresentasikan di hadapan para pengulas akademis: Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. (Ketua Umum HISKI), Dr. Tengsoe Tjahjono, dan Dr. M. Yoesoef, M.Hum.. Dengan kendali moderasi oleh Sudartomo Macaryus, M.Hum., forum ini tak hanya berfungsi sebagai panggung presentasi, melainkan juga laboratorium evaluasi dan pengayaan intelektual.


Landasan kegiatan hari ini tidak dapat dilepaskan dari lokakarya intensif sebelumnya. Pada 28 Mei 2025, Dr. Munawar Holil, M.Hum. (Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara) mengurai potensi manuskrip sebagai sumur tak berhingga bagi penciptaan sastra, sementara Dr. Pudentina MPSS (Ketua Umum Asosiasi Tradisi Lisan) menekankan vitalitas tradisi lisan sebagai ruh penciptaan. Selaras dengan itu, Dr. Tengsoe Tjahjono, M.Pd. dan Dr. Yeni Artanti, M.Hum. mengajak peserta menatap peluang sastra modern tanpa meninggalkan akar tradisinya.

Pada hari kedua, 29 Mei 2025, perspektif kebudayaan diperluas. Drs. Hasan Basri (Ketua Dewan Kesenian Blambangan sekaligus praktisi seni tradisi) menyoroti strategi alih wahana seni ke dalam produk industri kreatif. Elvin Hendrata, pembina seni dan konten kreatif Sanggar Joyo Karyo, menambahkan urgensi digitalisasi dalam menghidupkan tradisi. Semua paparan itu disatukan oleh benang merah yang ditegaskan kembali oleh Prof. Dr. Novi Anoegrajekti dan Dr. M. Yoesoef: sastra klasik Nusantara harus hadir di tengah zaman, bukan sekadar sebagai artefak, melainkan sebagai energi kebudayaan yang terus bertransformasi.

Nurul Ludfia Rochmah, S.Pd., M.Pd., Ketua HISKI Komisariat Banyuwangi, menegaskan bahwa presentasi daring ini bukanlah akhir, melainkan bagian dari jalan panjang HISKI dalam membangun ekosistem sastra berbasis tradisi. “Lokakarya Mei 2025 menjadi dasar terciptanya karya alih wahana yang kini dipresentasikan. Hari ini para peserta menunjukkan daya cipta mereka dalam menghidupkan kembali tradisi klasik. Rangkaian ini akan bermuara pada Gelar Karya dan Saresehan Budaya, 24 September 2025, beriringan dengan Pameran Banyuwangi Tempo Doeloe sebagai bagian dari Banyuwangi Festival 2025,” ungkapnya.

Dengan demikian, HISKI tidak hanya mencetak karya, melainkan juga membangun ruang dialog antara teks, konteks, dan teknologi. Karya-karya yang lahir dari tangan para peserta menjadi bukti bahwa sastra klasik tidak terperangkap di lembar manuskrip maupun ruang ritual lisan, tetapi dapat dialih-wahanakan ke dalam bentuk kreatif baru yang bersenyawa dengan zaman digital.

Lebih dari sekadar kegiatan akademik, rangkaian lokakarya dan presentasi ini merupakan ikhtiar kebudayaan: menjaga agar tradisi Nusantara tetap hidup, sekaligus menanamkannya dalam denyut kebudayaan kontemporer. HISKI berharap, melalui strategi ini, sastra berbasis tradisi tidak hanya dilestarikan sebagai pusaka, tetapi juga dikembangkan agar relevan dan produktif bagi generasi kini maupun mendatang.

Dalam narasi besar perjalanan bangsa, kegiatan ini adalah bukti bahwa sastra mampu menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan—antara suara nenek moyang yang berbisik dalam manuskrip dan tradisi lisan, dengan gema digital yang menghubungkan manusia lintas ruang dan waktu.

Bimas Islam Sabet Juara Umum, Lomba HUT RI Kemenag Banyuwangi Jadi Simbol Soliditas


Banyuwangi (Warta Blambangan) Suasana riuh penuh gelak tawa, kebersamaan, dan energi positif mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Tidak hanya sekadar seremoni, perayaan tahun ini berubah menjadi momentum pengikat kebersamaan keluarga besar Kemenag, ketika seluruh seksi dan pegawai terlibat aktif dalam enam perlombaan unik yang digelar sejak tanggal 27 Agustus 2025. 


Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, hadir sekaligus ikut meramaikan perlombaan dengan penuh keakraban. Saat pengumuman pemenang lomba pada Jumat siang, beliau menekankan bahwa nilai kebersamaan jauh lebih bermakna dibandingkan hadiah yang diperebutkan.

> “Hadiah itu simbolis saja, yang penting kita semua bergembira. Nilainya tidak seberapa, tetapi tawa, keceriaan, dan kekompakan inilah yang sangat berarti. InsyaAllah tahun depan kita buat lebih meriah lagi,” tegasnya yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari peserta.

Enam lomba yang dipertandingkan—baris-berbaris dengan mata tertutup, estafet air, makan kerupuk, makan biskuit, yel-yel, hingga lomba memasak ala Arabian—menjadi ajang adu kreatifitas sekaligus pengikat emosional antarpegawai. Setiap seksi tampil dengan semangat tinggi, mencerminkan bahwa peringatan kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga memperkuat kolaborasi di masa kini.

Hasil perlombaan menunjukkan dominasi Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam yang berhasil menyabet lima gelar juara dari enam cabang lomba, sehingga berhak menyandang predikat juara umum. Keberhasilan ini bukan hanya soal capaian lomba, tetapi sekaligus cerminan soliditas dan kekompakan tim Bimas Islam yang begitu kuat. 


> “Alhamdulillah, semua seksi kompak. Namun yang paling berkesan tentu adalah kebersamaan yang terjalin di antara kita semua. Inilah semangat Kemenag Banyuwangi dalam merayakan kemerdekaan,” ungkap Oksan Wibowo, salah satu panitia lomba.

Acara ditutup dengan pembagian hadiah sederhana berupa laptop, kipas angin, dan tas, sebagai simbol apresiasi atas semangat dan partisipasi peserta. Meski tidak bernilai tinggi secara materi, hadiah tersebut menjelma sebagai ikon penghargaan atas semangat kolektif keluarga besar Kemenag Banyuwangi, Jumat (29/08/2025)

Lebih jauh, Dr. Chaironi mengingatkan bahwa semangat kebersamaan ini tidak boleh berhenti pada momentum HUT RI semata, tetapi harus dijaga dalam keseharian di lingkungan kerja Kemenag. Dengan demikian, nilai kebersamaan yang tercipta dalam riuh tawa lomba akan menjadi modal sosial untuk melahirkan kinerja yang semakin solid dan produktif.

Kasih Sayang Yang Menembus Batas

 

Kasih Sayang Yang Menembus Batas

Oleh : Chaironi Hidayat


Pagi selepas dhuha, masjid kecil di sudut kantor terasa teduh. Cahaya matahari menembus kisi-kisi rintik mendung, menimpa sajadah yang masih hangat oleh sujud duha. Udara di dalamnya hening, hanya suara detik jam dinding yang terdengar samar. Dalam keteduhan itu, sebuah kisah lama teringat dan tersampaikan kembali, kisah yang tak pernah usang, sebab diulang oleh hati setiap kali manusia merindukan teladan. Kisah tentang Nabi Muhammad Saw. 


Beliau, setiap pagi dan sore, datang membawa makanan untuk seorang pengemis buta beragama Yahudi. Dengan sabar dan lembut, beliau menyuapkan makanan ke mulut lelaki tua itu. Namun lidah si pengemis tak berhenti mencela. Ia menuduh Muhammad sebagai tukang sihir, pengadu domba, pembawa kerusakan. Ia bahkan melaknat nama yang justru setiap hari membawanya pada kenyang. Ia tidak tahu, orang yang selalu hadir dengan tangan penuh cinta adalah sosok yang ia hina. Tetapi Rasulullah tidak pernah marah. Tidak pernah berhenti datang. Tidak pernah berhenti memberi. Tidak pernah berhenti menyayangi.

Dari kisah itu, jelaslah: cinta Nabi melampaui sekat keyakinan, dinding prasangka, bahkan luka hati yang ditorehkan manusia kepadanya. Kasih sayang yang beliau hadirkan bukanlah kasih sayang bersyarat, bukan pula cinta yang menunggu balasan. Ia adalah mata air yang terus memancar, bahkan ketika batu menghantamnya. Semakin keras dunia mencoba melukai, semakin lembut pula beliau membalas dengan doa. Semakin dalam luka yang ditorehkan manusia, semakin luas pula samudra ampunannya membentang.

Dari kisah itu, teranglah sudah: cinta Nabi bukanlah cahaya yang dibatasi jendela sempit keyakinan, bukan pula api yang padam oleh tiupan prasangka. Ia menjelma pelukan luas yang merengkuh siapa saja, bahkan mereka yang pernah menaburkan garam di luka hatinya. Dalam kehangatan cinta itu, tidak ada wajah yang ditolak, tidak ada tangan yang dihindari. Semua disapa dengan kelembutan, semua direngkuh dengan rahmat. Kasih sayang beliau adalah angin yang berhembus tanpa memilih rumah mana yang akan disinggahi. Ia mengetuk hati yang keras, menyejukkan jiwa yang resah, dan menghidupkan kembali nurani yang nyaris padam. Seperti matahari yang menyinari tanpa membeda-bedakan, cinta Nabi hadir untuk semua, tak peduli apakah ia disambut dengan syukur atau ditanggapi dengan caci, kisah itu menjadi cermin bagi kita: betapa kecil cinta kita dibanding cinta beliau, betapa dangkal sabar kita dibanding sabar beliau. Sementara dunia mudah menumbuhkan dendam, beliau justru mengajarkan bahwa kasih yang sejati adalah kasih yang tetap mengalir, bahkan di tengah badai kebencian. Cinta Nabi adalah rahmat yang melintasi batas, pelajaran abadi bagi hati-hati yang ingin belajar menyalakan cahaya ketulusan.Saya teringat pula peristiwa hijrah. Kaum Anshar di Madinah menyambut para Muhajirin dengan dada terbuka. Mereka membagi rumah, tanah, pekerjaan, bahkan, dalam praktik zamannya, bersedia berbagi istri demi menjaga kelanjutan hidup saudaranya. Kini terdengar ekstrem, tetapi di sanalah saksi sejarah yang memperlihatkan betapa kasih sayang menyingkirkan rasa memiliki. Apa yang ada bukan lagi “milikku”, melainkan “milik kita.” Orang-orang luar Madinah yang menyaksikan kedekatan itu berkata lirih, penuh takjub: “Aku belum pernah melihat manusia mencintai orang lain sebagaimana sahabat Muhammad mencintai Muhammad.”

Cinta itu bukan sekadar penghormatan, bukan sekadar pengagungan. Ia adalah kerinduan yang tak ingin berpisah. Bahkan ada sahabat yang berucap: “Ya Rasul, aku ingin masuk surga hanya jika dapat bersamamu. Jika tidak, biarlah aku tidak masuk.”Beginilah cinta yang tak lagi mencari imbalan. Ia menjelma sebagai ikatan yang melampaui hidup dan mati, dunia dan akhirat.

Kemudian ingatan beralih kepada Umar bin Khattab, sahabat Nabi, sosok yang keras seperti baja yang ditempa api, seorang lelaki padang pasir yang disegani karena keberaniannya memburu singa di tengah sunyi gurun. Ketegasannya dahulu membuat namanya bergetar di telinga banyak orang. Namun lihatlah, ketika Islam mengetuk pintu hatinya, bara yang dahulu menyala sebagai amarah berubah menjadi cahaya yang teduh. Dari lelaki yang tegas, ia menjelma pemimpin yang lembut, seorang khalifah yang menundukkan kekuasaan di hadapan kasih. Ukurannya sederhana, namun menghunjam: jika seorang pejabat tak mampu menyayangi istri dan anak-anaknya, bagaimana mungkin ia bisa menyayangi rakyat? Umar menimbang kepemimpinan bukan dari jubah kebesaran, bukan dari gelar atau jabatan, melainkan dari cinta yang hidup di dalam rumah. Baginya, rumah adalah cermin kekuasaan: bila congkak dan angkuh di hadapan keluarga, bagaimana mungkin ia bisa adil dan rendah hati di hadapan rakyat? Karena itu, Umar tanpa ragu memecat pejabat yang gagal menanam kasih di rumahnya sendiri, sebab kepemimpinan sejati lahir dari kelembutan, bukan dari teriakan kuasa.

Dan demikianlah Umar bin Khattab berdiri sebagai teladan: keras pada kezaliman, namun lembut pada rakyatnya; tegas pada pengkhianatan, namun penuh kasih kepada yang lemah. Ia memahami bahwa seorang pemimpin bukanlah singa yang menerkam, melainkan pohon yang menaungi. Dari tangannya, lahir keadilan yang berakar pada cinta. Dari hatinya, mengalir kasih sayang yang menyejukkan negeri. Dalam dirinya, kekuatan dan kelembutan bersatu, menjadi pelajaran abadi bahwa kuasa tanpa kasih hanyalah tirani, sementara kasih tanpa kuasa hanyalah impian. Umar menghadirkan keduanya, dan dengan itu, sejarah mengenangnya sebagai pemimpin yang dibangun dari cinta yang kokoh.Ada paradoks yang indah: manusia yang dulu dikenal tegas dan garang justru menjadi lambang welas asih setelah mengenal Nabi. Kasih sayang mampu menundukkan kekerasan, sebagaimana air menundukkan api.

Semua kisah itu menyadarkan bahwa cinta dan kasih sayang bukan tambahan dalam kehidupan, melainkan inti. Kantor tanpa kasih hanyalah mesin berisik yang menggiling manusia. Ibadah tanpa kasih hanyalah gerakan tubuh tanpa jiwa. Hidup tanpa kasih hanyalah rutinitas yang perlahan melahirkan kehampaan.

Allah sendiri mengajarkan doa lembut di ujung surah Al-Baqarah:

*“Rabbana la tu’akhidzna in nasina aw akhta’na…”*

“Ya Allah, jika kami lupa atau salah, janganlah Engkau siksa kami.”

Doa itu sederhana, tetapi mengandung pengakuan paling jujur: bahwa manusia lemah, sering lalai, mudah keliru. Dan Allah, dengan kasih sayang-Nya, memilih untuk memaafkan. Rasulullah pun sangat menyukai doa itu, karena ia menggambarkan betapa Tuhan lebih memilih mengampuni daripada menghukum. Maka bukankah kita pun seharusnya demikian? Lebih memilih memaafkan daripada menyimpan dendam. Lebih memilih merangkul daripada menolak. Lebih memilih menyayangi daripada membenci.

Seandainya kasih sayang dijadikan pedoman, mungkin kita tak perlu banyak undang-undang, tak perlu aturan yang mengekang. Karena hati yang dipenuhi kasih akan lebih taat daripada sekian banyak pasal dan pasal. Ia akan menjaga tangan dari menyakiti, menjaga lidah dari menyakiti, menjaga langkah dari merugikan. Ia adalah pagar tak kasatmata yang lebih kokoh daripada tembok penjara. Maka tinggal kita, manusia-manusia hari ini, yang perlu menjawab: apakah mau melanjutkan teladan itu? Apakah kita rela menjadikan kasih sayang sebagai nafas yang mengiringi setiap detik kehidupan? Jika iya, dunia akan menjadi taman yang lebih hijau, hati akan menjadi telaga yang lebih jernih, dan jiwa-jiwa akan menemukan rumahnya dalam damai. Sebab kasih sayang adalah cermin dari rahmat Ilahi, yang diturunkan untuk meliputi seluruh alam.Pagi itu, di masjid kecil yang sederhana, saya merasa sedang belajar ulang menjadi manusia. Bukan manusia yang hanya pandai bekerja. Bukan manusia yang hanya rajin beribadah. Melainkan manusia yang tahu bagaimana caranya mencintai. Kasih sayang, ternyata, adalah jantung kehidupan. Ia bukan sekadar bunga di pinggir jalan yang mudah dipetik dan mudah layu. Ia adalah akar yang menancap dalam, memberi napas pada setiap helai daun kehidupan. Dan mungkin, pada akhirnya, hanya kasih sayanglah yang akan kita bawa pulang. Segala harta, kedudukan, ilmu, prestasi, semua akan ditinggal. Tetapi kasih sayang yang pernah kita taburkan, akan kembali kepada kita. Ia menjadi cahaya yang tidak padam, meski matahari dunia telah lama tenggelam.

Di masjid kecil sederhana, dengan dinding-dindingnya yang penuh bekas sujud dan udara harum oleh doa, saya merasa sedang belajar ulang menjadi manusia. Bukan manusia yang hanya pandai bekerja, mengejar angka dan prestasi, lalu pulang dengan dada kosong. Bukan pula manusia yang hanya rajin beribadah dengan bibir yang bergetar melafalkan doa, sementara hatinya masih beku dan keras. Tetapi manusia yang benar-benar mengerti bagaimana caranya mencintai—mencintai tanpa syarat, tanpa hitungan untung-rugi, mencintai dengan hati yang lapang seperti langit. Kasih sayang, ternyata, adalah jantung kehidupan. Ia bukan sekadar bunga di pinggir jalan yang mudah dipetik lalu mudah layu. Ia adalah akar yang menancap dalam, yang diam-diam memberi napas pada setiap helai daun kehidupan. Tanpa akar itu, pohon akan mati; tanpa kasih sayang, manusia hanya tinggal raga yang kering. Kasih sayanglah yang menjadikan rumah terasa rumah, pekerjaan terasa ibadah, dan ibadah terasa hidup.

Di bawah kubah masjid Kementerian Agama, kita memahami bahwa kasih sayang adalah perpanjangan tangan dari rahmat Allah. Ia mengalir melalui tatapan lembut seorang ibu, melalui genggaman tangan seorang sahabat, melalui maaf yang diberikan kepada orang yang pernah melukai. Ia adalah bahasa ilahi yang diturunkan agar manusia tak hidup sebagai serigala yang memangsa, tetapi sebagai saudara yang saling menguatkan. Kasih sayang juga adalah cermin dari ibadah sejati. Sujud tanpa kasih sayang hanya menyentuh lantai, bukan menyentuh langit. Zikir tanpa kasih sayang hanya bunyi bibir, bukan cahaya yang menenangkan. Ilmu tanpa kasih sayang hanyalah pedang yang tajam, bukan lentera yang menerangi. Maka, belajar mencintai sesama adalah bagian dari belajar mencintai Sang Pencipta.

Di masjid kecil itu, kita seakan diajak untuk menanam kembali akar-akar kasih sayang dalam hati sendiri. Agar doa-doa tak hanya melangit, tetapi juga menetes menjadi air sejuk bagi sesama. Agar kerja tak hanya menghasilkan harta, tetapi juga kebahagiaan bagi orang lain. Agar hidup tak hanya panjang diukur waktu, tetapi dalam diukur kasih. Sebab pada akhirnya, kasih sayang adalah detak yang membuat kehidupan terus berdiri dan tanpa kasih, hidup hanyalah bayangan yang kosong.

Kasih sayang adalah bahasa universal, yang dimengerti siapa saja tanpa perlu diterjemahkan. Ia merayap halus menembus batas agama, bangsa, dan pandangan hidup. Anak kecil merasakannya dari senyum ibunya. Seorang asing merasakannya dari uluran tangan yang tak ia duga. Bahkan musuh sekalipun dapat luluh ketika dihadapkan pada kasih sayang yang tulus. Nabi telah mencontohkan: beliau berdoa untuk mereka yang menyakitinya, beliau tersenyum kepada mereka yang memusuhinya. Para sahabat meneladani: Umar yang keras menjadi lembut, Abu Bakar yang penuh welas asih menjadi sandaran umat, Ali yang penuh hikmah menebarkan ilmu bersama kasih.


Duha pagi, 29 Agustus 2025

BCM Banyuwangi Creative Market Padukan Kreativitas, Semangat Kemerdekaan, dan Sosialisasi P4GN

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Suasana Taman Sritanjung dan Taman Blambangan Banyuwangi pada akhir pekan, Sabtu–Minggu (24–25/8/2025), bergelora dengan kehadiran Banyuwangi Creative Market (BCM). Ribuan warga memadati lokasi untuk menyaksikan perhelatan akbar yang kali ini tampil berbeda: memadukan kreativitas UMKM, semangat peringatan HUT RI ke-80, serta sosialisasi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).v


Ketua BCM, Rahmat, menyebut kegiatan kali ini penuh energi dan sangat bermanfaat.

“Alhamdulillah, kegiatan luar biasa. Semangatnya meledak, apalagi dengan tambahan sosialisasi P4GN yang benar-benar membuka mata. Banyak informasi penting yang bermanfaat bagi para pelaku UMKM. Sosialisasi semacam ini harus terus digencarkan,” ujarnya penuh semangat.

Meskipun omzet pelaku UMKM pada Agustus sedikit menurun akibat masyarakat sibuk dengan euforia kemerdekaan, Rahmat memastikan kondisi usaha tetap tangguh. “Kalau dibandingkan dengan tahun lalu, levelnya masih sama. Agustus biasanya turun, tapi semangat UMKM tidak pernah padam,” tambahnya.

Kemeriahan BCM semakin terasa karena para pedagang tampil dengan busana adat tradisional dan kostum pejuang kemerdekaan. Dari batik Jawa, udeng Bali, sarung Madura, hingga pakaian adat dari wilayah timur Indonesia, semuanya menyatu dalam lautan warna yang menegaskan kebhinekaan. Suasana perjuangan tempo dulu seakan hidup kembali, berpadu dengan kreativitas masa kini.

Tak sekadar transaksi jual beli, BCM juga menghadirkan ruang edukasi dan kampanye sosial. Melalui sosialisasi P4GN, para pelaku UMKM dibekali pemahaman tentang bahaya narkoba dan dampaknya terhadap generasi muda. Muhammad Hakim Said dari Yayasan Rumah Kebangsaan Banyuwangi menegaskan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam pencegahan narkoba.

“UMKM adalah tulang punggung ekonomi rakyat. Kalau mereka sehat dan bersih dari narkoba, otomatis masyarakat juga kuat. Kita tidak boleh lengah, karena narkoba bisa menyasar siapa saja, termasuk kalangan pelaku usaha,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kegiatan BCM menjadi momentum penting untuk menggabungkan promosi ekonomi kreatif dengan gerakan sosial. “Kami berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat sehingga Banyuwangi benar-benar bisa terbebas dari darurat narkoba,” tegas Hakim Said.

BCM pun kembali membuktikan dirinya sebagai motor penggerak UMKM sekaligus panggung perjuangan budaya dan sosial. Dengan dukungan penuh pemerintah daerah, Rahmat optimistis BCM akan terus melahirkan inspirasi dan membawa UMKM Banyuwangi naik kelas.

“Harapan ke depan tetap sama: pemerintah daerah terus mendukung. Karena dari sinilah UMKM kita akan semakin kuat,” pungkasnya.

Di tengah semarak peringatan 80 tahun kemerdekaan RI, BCM tampil bukan sekadar pasar kreatif, melainkan simbol perlawanan terhadap narkoba, wujud persatuan budaya, sekaligus kebangkitan ekonomi rakyat Banyuwangi.

FGD Kampung Moderasi Beragama Karangrejo Dorong Harmoni Tanpa Diskriminasi

Banyuwangi (Bimas Islam) Aula atas Hoo Tong Bio Karangrejo menjadi tempat terselenggaranya Focus Group Discussion (FGD) Kampung Moderasi Beragama yang digelar Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Jumat (22/08/2025). Kepala seksi bimbingan masyarakat Islam H Mastur menyampaikan bahwa Kegiatan ini bertujuan memperkuat harmoni dan meneguhkan ruang aman tanpa diskriminasi bagi seluruh pemeluk agama. 


Acara dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Subbagian Tata Usaha, H. Moh. Jali, M.Pd.I. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa semua umat beragama harus mendapat ruang aman dalam mengekspresikan identitasnya dengan nyaman. “Sebarkan harmoni untuk Indonesia. Menteri Agama telah menggagas kurikulum cinta, ukhuwah Islamiyah, serta membangun kebersamaan bangsa agar negeri ini selalu dipenuhi berkah,” ujarnya.

FGD menghadirkan beragam tokoh lintas agama. Dari Penyelenggara Hindu, Okson Wibawa menyampaikan bahwa Kampung Moderasi akan bermanfaat besar agar kerumunan konflik tidak muncul, bahkan bisa menjadi teladan bagi daerah lain. Ia menekankan ajaran Hindu “Kamu adalah aku dan aku adalah kamu” sebagai dasar persaudaraan.

Perwakilan Kristen, Pendeta Amati Zendrato, menuturkan bahwa pembangunan gereja di Kelurahan Karangrejo tidak menemui kendala meski masyarakat mayoritas beragama Islam. “Ini bukti nyata moderasi telah berjalan baik. Kami juga mengusulkan agar moderasi beragama diintegrasikan dalam pendidikan sekolah, agar tidak ada lagi  bullying kepada anak karena agama ” ujarnya.

Dari unsur Katolik, tokoh bernama Anies Komaireng memberikan masukan agar jabatan penyelenggara Katolik segera diisi pejabat definitif yang beragama Katolik. “Yang paling paham tentang Katolik tentu orang Katolik sendiri, sehingga pelayanan bisa lebih optimal,” katanya.

Sementara itu, penyuluh agama Buddha, Saryono, mengapresiasi tinggi kegiatan ini. Menurutnya, moderasi beragama merupakan wujud nyata persiapan umat manusia menuju harmoni. Ia menegaskan dalam ajaran Buddha ada larangan keras untuk membunuh makhluk hidup, yang sejalan dengan semangat perdamaian.

Camat Banyuwangi, H. Hartono, M.Si, berharap kegiatan serupa tidak hanya berhenti di Karangrejo, namun diperluas ke wilayah lain. “Moderasi harus menyentuh masyarakat lebih luas agar benar-benar menjadi budaya bersama,” ujarnya.

Dalam forum, Ketua Pulma, Samsul Huda, juga menyinggung soal penggunaan pengeras suara di masjid dan mushola. Ia mengingatkan agar peraturan Menteri Agama tentang tata cara penggunaan pengeras suara dipatuhi dengan bijak. “Pemerintah kecamatan juga diharapkan ikut mengawasi agar pelaksanaannya tidak menimbulkan gesekan,” katanya.

FGD ditutup dengan kesepahaman bahwa moderasi beragama adalah tanggung jawab bersama, lintas agama, dan lintas sektor. Dengan begitu, Karangrejo diharapkan menjadi contoh nyata harmoni kehidupan beragama yang aman, damai, dan penuh toleransi.

Halal Center UNIBA Siap Fasilitasi Sertifikasi Halal UMKM Banyuwangi

Banyuwangi –(Warna Blambangan) Halal Center Universitas PGRI Banyuwangi (UNIBA) menegaskan komitmennya dalam mendukung program pemerintah terkait percepatan sertifikasi halal bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ketua Halal Center UNIBA sekaligus Ketua Lembaga Pemeriksa Proses Produk Halal (LP3H), Dr. Novi Prayekti, menyatakan kesiapan lembaganya untuk memfasilitasi pengurusan sertifikat halal, khususnya melalui skema sertifikasi halal gratis (Sehati).


Hal ini disampaikan Novi saat menghadiri Temu Wicara Pengawasan Halal bersama pelaku usaha yang digelar di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Kamis (21/8/2025). Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota DPR RI Komisi VIII, Ina Ammania, dan diikuti jajaran pemerintah daerah, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, serta ratusan pelaku UMKM.

Dalam kesempatan itu, Novi didampingi oleh dua Pendamping Proses Produk Halal (P3H), yakni Syafaat yang sehari-hari bertugas di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, serta Dalilatus Saadah dari KUA Kecamatan Gambiran. Ia menekankan bahwa LP3H UNIBA bersama seluruh P3H yang bernaung di Halal Center siap melayani kebutuhan UMKM.

> “Kami mengajak para pelaku UMKM untuk segera mendaftarkan produknya. Tim pendamping halal akan turun langsung untuk memfasilitasi proses sertifikasi. Ini adalah kesempatan penting agar produk UMKM Banyuwangi memiliki nilai tambah di pasar nasional maupun global,” terang Novi.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, dalam sambutannya menekankan dimensi keagamaan sekaligus kesehatan publik dari produk halal. Menurutnya, ajaran Nabi Muhammad SAW selaras dengan prinsip Islam tentang kehalalan yang membawa maslahat.

> “Halal bukan semata urusan syariat, melainkan juga upaya menyelamatkan masyarakat dari konsumsi yang meragukan. Semakin halal makanan kita, semakin sehat masyarakat kita, dan keberkahan hidup akan lebih mudah diraih,” jelas Chaironi.

Sementara itu, Ina Ammania menegaskan bahwa DPR RI melalui Komisi VIII berkomitmen untuk memperkuat implementasi Undang-Undang Jaminan Produk Halal. Selain mempercepat proses sertifikasi, DPR juga mendorong pengawasan yang akuntabel dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI).

> “Sertifikat halal bukan sekadar formalitas administratif, tetapi bentuk tanggung jawab moral pelaku usaha dalam menjaga kepercayaan konsumen,” tegasnya.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Banyuwangi, Drs. Dwiyanto, yang hadir mewakili Sekretaris Daerah, menambahkan bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian daerah.

> “Dalam situasi krisis, termasuk pandemi, UMKM terbukti mampu bertahan. Karena itu tagline kita jelas: UMKM harus naik kelas,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari BPJPH Kementerian Agama RI. Deputi Bidang Pembinaan, Rofiqa Rosma, menegaskan pentingnya sinergi multipihak dalam membangun ekosistem halal. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, perguruan tinggi, dan UMKM akan mempercepat terwujudnya industri halal yang sehat, berkualitas, dan berdaya saing.

Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin banyak pelaku usaha yang sadar pentingnya standar halal dalam produk mereka. Dengan sertifikasi halal, UMKM Banyuwangi bukan hanya memperkuat kepercayaan konsumen lokal, tetapi juga membuka peluang yang lebih luas di pasar nasional dan internasional.


 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger