Pages

150 Ribu Shalawat Nariyah Menggema dari Kementerian Agama Banyuwangi: Harmoni Spiritual, Energi Kebangsaan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Banyuwangi seakan berdenyut dalam satu tarikan napas doa, Selasa (19/8/2025). Masjid Ar Royyan di kompleks Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi menjadi episentrum gelombang spiritual yang kemudian menjalar ke madrasah dan seluruh Kantor Urusan Agama (KUA) di pelosok kecamatan. 


Sejak pagi, ribuan aparatur sipil negara (ASN), guru madrasah, dan para penghulu larut dalam shalat dhuha berjamaah, dzikir, dan pembacaan Shalawat Nariyah. Lantunan shalawat menggema bak resonansi ilmiah: getaran suara yang berulang-ulang membentuk harmoni, menyatukan detak hati para jamaah.

Tak sekadar ritual, momentum ini memecahkan rekor internal. Dari target 80 ribu kali bacaan, panitia mencatat lebih dari 150 ribu kali Shalawat Nariyah berhasil dilantunkan. Angka itu—jika dilihat secara ilmiah—berarti rata-rata setiap jamaah mengumandangkan ratusan shalawat, menciptakan “gelombang energi kolektif” yang diyakini para ulama sebagai doa paling mustajab.

Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Dr Chaironi Hidayat, menegaskan pentingnya memandang shalawat bukan sekadar teks.

“Dari sisi linguistik, shalawat itu bukan berhenti pada bahasa, melainkan menjadi ikatan transendental antara kita dengan Rasulullah SAW. Shalawat adalah jembatan spiritual agar doa lebih mudah dikabulkan Allah SWT,” ujarnya penuh penekanan.

Ia juga menyinggung perdebatan klasik ulama tentang Shalawat Nariyah. Namun, bagi Chaironi, substansinya jelas: “Ketika kita tidak mampu langsung mendekat kepada Allah, maka kita bersandar melalui Rasulullah SAW. Semoga keluarga besar Kemenag, guru madrasah, dan masyarakat Banyuwangi senantiasa dalam penjagaan-Nya.”

Kepala Seksi Bimas Islam, Mastur, yang memandu jalannya pembacaan, menyebut shalawat sebagai “energi kebersamaan” sekaligus pengikat persaudaraan ASN. “Momentum ini menjadi bekal bagi kami untuk bekerja lebih tulus, memberi pelayanan terbaik, dan memperkuat semangat pengabdian,” katanya.

Kegiatan ini kian sarat makna karena diselaraskan dengan peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI. Bagi Chaironi, shalat dhuha dan shalawat berjamaah adalah bentuk ikhtiar religius untuk menjaga semangat kemerdekaan.

“Doa adalah senjata batin. Semoga barokah shalawat mengiringi langkah kita, menjaga bangsa, dan melapangkan jalan pengabdian,” pungkasnya.

Gelombang shalawat yang mengalun dari Banyuwangi pagi itu seolah menegaskan: kemerdekaan bukan hanya dirayakan dengan upacara bendera, tetapi juga dengan lantunan doa yang menembus langit.


“Di Balik Senyum Virtual, Ada Iblis yang Menunggu

 Tubuh Bisa Ditelanjangi, Jiwa Tak Boleh Dikalahkan

Oleh: Syafaat

Ada seorang guru. Seorang ASN yang hidupnya biasa saja. Pagi berangkat ke sekolah negeri, siang pulang dengan wajah lelah tapi tetap ramah. Murid-murid mengenalnya sebagai sosok yang sabar. Ia mengajarkan huruf, angka, doa, dan sedikit-sedikit tentang hidup. Tetapi di balik itu, ia menyimpan luka yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: luka yang datang bukan dari ruang kelas, bukan dari murid yang nakal, melainkan dari dunia maya yang tak berhenti menebarkan jebakan.

Ceritanya sederhana. Bermula dari sebuah sapaan di media sosial. Seseorang hadir dengan wajah tampan dan suara yang menenangkan. Mereka bercakap-cakap, lalu berlanjut ke panggilan video. Malam-malam panjang yang sepi tiba-tiba terasa hangat. Ada tawa, ada perhatian, ada janji-janji kecil yang membuat perempuan itu merasa dihargai. Sampai pada suatu malam, ia menyerahkan kepercayaannya. Ia menanggalkan busana di depan kamera, dengan keyakinan cinta sedang menyapanya. Ia tak tahu bahwa layar kecil itu sedang merekam, mengubah cintanya menjadi perangkap. Keesokan hari, ancaman datang. Uang atau aibmu akan disebarkan.



Dunia yang ia percaya runtuh seketika. Kejahatan digital memang licik. Teknologi yang katanya cerdas ternyata bisa menipu mata dengan begitu halus. Wajah bisa dipoles, suara bisa dimodifikasi, identitas bisa dipinjam dengan begitu meyakinkan. Seseorang bisa menyamar jadi siapa saja: duda mapan, ustaz alim, pejabat berwibawa, atau sekadar lelaki penuh kasih. Semua ilusi itu bersinar di layar, memikat hati, dan menjebak. Pertanyaannya: siapa yang sanggup membedakan cinta dari tipuan ketika layar begitu meyakinkan?

Seperti kisah lama: iblis menggoda Adam dengan buah khuldi. Bedanya, kini ia tak datang dengan buah, tapi dengan cahaya layar yang selalu menyala. Tipu daya tetap sama: merenggut manusia di titik paling rapuh, rasa ingin dicintai. Dan seorang guru pun bisa kalah. Bukan karena ia bodoh. Justru karena ia manusia.

Fenomena ini bukan hanya menimpa pribadi. Lembaga pendidikan pun sering jadi sasaran. Ada yang datang mengaku wartawan, membawa ancaman berita buruk. Ada pula yang mengaku LSM, menakut-nakuti dengan laporan hukum. Mereka mengetuk pintu sekolah dengan suara dingin: “Jika tak memberi uang, reputasimu akan kami hancurkan.” Kepala sekolah panik. Guru-guru resah. Mereka takut namanya rusak. Lalu mereka memilih jalan singkat: menyerahkan sejumlah uang, berharap teror itu berhenti. Padahal hukum punya mekanisme. Ada hak jawab. Ada inspektorat. Ada aturan yang bisa melindungi. Tapi ketakutan lebih besar daripada logika.

Begitulah negeri ini: ancaman lebih sering menang daripada kejujuran. Namun tidak adil bila dunia digital hanya dilihat sebagai kegelapan. Ada juga cahaya: ruang belajar, gerakan solidaritas, komunitas kreatif, kesempatan yang dulu mustahil kini terbuka lebar. Dunia maya melahirkan banyak kebaikan. Tetapi ia tetap hutan lebat: ada jalan terang, ada jalan gelap. Dan manusia berjalan di dalamnya, sering tanpa peta.

Di sinilah agama seharusnya menjadi kompas. Kitab suci berulang kali mengingatkan: fitnah akan gugur di hadapan kebenaran. Tapi kebenaran tidak jatuh dari langit begitu saja. Ia menuntut keberanian. Guru itu seharusnya melapor. Sekolah itu seharusnya berani menolak ancaman. Masyarakat seharusnya berdiri tegak, tak tunduk pada pemerasan. Sayangnya, manusia sering kalah sebelum bertanding. Rasa takut datang lebih dulu. Itulah penyakit paling berbahaya: ketakutan yang membuat seseorang menyerahkan harga diri dengan murah.

Kisah guru ASN yang diperas lewat video telanjang hanyalah potret kecil dari rapuhnya manusia di hadapan layar. Ia pahit, tetapi ia juga pelajaran. Bahwa cinta bisa disulap jadi jebakan. Bahwa manusia bisa runtuh hanya dengan cahaya di ujung jari. Tetapi pelajaran itu tidak boleh berhenti pada rasa malu. Ia harus berubah menjadi kekuatan: untuk berani melapor, untuk menegakkan hukum, untuk melawan pemerasan.

Begitu pula lembaga pendidikan. Jangan menyerah hanya karena ada ancaman. Jangan pasrah dengan bayang-bayang fitnah. Sebab setiap tuduhan ada jalannya. Dan setiap kebohongan bisa dipatahkan. Doa pun dibutuhkan. Doa agar manusia tetap waras di tengah banjir notifikasi. Doa agar tidak mudah panik saat difitnah. Doa agar guru, kepala sekolah, siapa saja yang bekerja dengan jujur, diberi keberanian berkata: “Sebarkanlah fitnahmu, kebenaran akan menjawabnya.”

Tubuh bisa dipermalukan. Tetapi jiwa jangan pernah kalah.

Di media sosial, kadang kita tergoda membela diri. Kita menulis bantahan panjang di kolom komentar. Tapi algoritma bekerja dengan cara yang aneh: semakin banyak komentar, semakin tinggi berita itu muncul. Yang palsu justru semakin terlihat nyata. Maka ada saatnya diam lebih bijak. Biarkan yang palsu tenggelam oleh waktunya sendiri. Yang penting bukan seberapa keras kita membantah, tetapi bagaimana kita membuktikan: kita tidak salah, kita tidak kalah.

Dan pada akhirnya, hanya keberanian nyata yang bisa menghentikan kejahatan maya.


80 Tahun Merdeka: Jejak Doa dan Darah

 80 Tahun Merdeka: Jejak Doa dan Darah

Kita memperingati 80 tahun Indonesia merdeka. Delapan puluh tahun bukan sekadar angka. Itu adalah jejak, tanda, dan doa yang menjadi nyata. Bangsa ini telah berani berkata: “Kami merdeka.” Tapi merdeka bukan hanya bendera yang dikibarkan, bukan hanya lagu yang dinyanyikan, bukan hanya seremonial yang hias hari-hari. Merdeka adalah darah yang tumpah, nyawa yang dipertaruhkan, iman yang diuji, dan hati yang tetap teguh.


Delapan puluh tahun yang lalu, para pemuda di negeri ini bergerak dengan mata terbuka lebar. Mereka tidak menunggu izin dari yang tua, meski menghormati mereka yang dianggap bijak—orang-orang seperti Soekarno, yang ketika itu ragu menyatakan kemerdekaan. Jepang, yang menaklukkan Indonesia setelah Belanda, belum menyerahkan apa pun. Jika Jepang memberi, itu berarti kembalinya Belanda. Maka para pemuda, cerdas dan penuh intuisi sejarah, bergerak. Mereka menculik Soekarno dan Hatta, mendesak mereka untuk membacakan teks proklamasi.

Ini yang penting. Proklamasi bukanlah inisiatif pribadi. Tidak lahir dari egosentrisme pemimpin atau ambisi golongan. Itu lahir dari kolektif, dari jiwa bangsa, dari keinginan rakyat yang tak sabar menunggu janji asing. Soekarno dan Hatta hanya menjadi medium. Mereka membacakan atas nama bangsa. Setiap kata, setiap kalimat, adalah doa yang terpatri dalam darah generasi 45. Bukan sekadar ritual, bukan sekadar teks sejarah. Itu adalah tindakan iman terhadap tanah, terhadap masa depan, terhadap Tuhan yang Maha Melihat.

Hari ini, 80 tahun kemudian, peringatan itu tidak hanya diwarnai lomba-lomba bernuansa nasional. Ada juga pertunjukan yang kadang jauh dari sejarah, dasar, atau fakta. Banyak yang muncul entah dari mana, tanpa referensi, tanpa rasa hormat pada akar. Tapi itulah kenyataan. Kemerdekaan bukan hanya tentang kesempurnaan. Ia hidup dalam pluralitas, dalam ketidaksempurnaan, dalam keragaman yang kadang menyakitkan mata nurani.

Bulan Agustus selalu membawa paradoks. Di satu sisi, kita merayakan, mengenang, menghormati. Di sisi lain, di beberapa tempat, ada yang turun ke jalan menuntut keadilan—naiknya pajak bumi dan bangunan, ketidakadilan ekonomi, suara rakyat yang tak terdengar. Tepat di bulan kemerdekaan, ketika kita seharusnya menengok sejarah, ada demonstrasi, ada protes, ada tanda bahwa merdeka itu bukan sekadar kata. Merdeka itu tanggung jawab, yang harus dipertahankan, dijaga, dan dihidupi.

Kita berbeda dari banyak negara tetangga. Di beberapa wilayah lain, kemerdekaan datang dari tangan mereka yang pernah menjajah, atau dari penduduk baru yang mengusir penduduk lama. Di Indonesia, merdeka datang dari perjuangan rakyat asli. Dari darah yang mengalir, dari nyawa yang jatuh, dari hati yang berani. Pahlawan-pahlawan kita, mereka yang mengusir penjajah, bukan orang yang hidup nyaman. Mereka buruh, petani, rakyat kecil, yang ekonominya pas-pasan. Mereka mempertaruhkan nyawa bukan demi nama, bukan demi pujian, bukan demi sejarah di buku-buku, tetapi demi iman bahwa tanah ini pantas untuk mereka, untuk anak cucu mereka, untuk bangsa yang kelak akan mengenang.

Dan kemudian muncul pertanyaan yang tak pernah lekang oleh waktu: apakah anak cucu para pejuang kini lebih makmur daripada mereka yang hidup menikmati kemerdekaan? Atau justru mereka yang merdeka lahir dari perjuangan, hidup sederhana, tapi jiwanya kaya akan doa, iman, dan kesadaran sejarah? Ketika Belanda kembali menguasai negeri ini, sebagian ikut Belanda. Ketika merdeka, mereka beramai-ramai mendukung. Berbeda dengan rakyat asli, yang hidup dan mati di sini, yang tumpah darahnya melekat di bumi ini, berakar dalam sejarah, dalam darah, dalam iman yang tak pernah luntur.

Merdeka bukan sekadar simbol. Ia adalah tanggung jawab. Ia adalah doa yang diwujudkan dalam tindakan. Ia adalah kesadaran bahwa tanah ini suci, bahwa hidup ini singkat, dan bahwa kita bagian dari sejarah yang lebih besar dari diri kita sendiri. 80 tahun merdeka adalah 80 tahun doa yang dijawab dengan pengorbanan.

Para pemuda 45 bergerak bukan karena ambisi politik semata. Mereka bergerak karena iman, karena keinginan untuk melihat bangsa merdeka. Mereka berani menantang waktu, menantang ketakutan, menantang orang tua, menantang sejarah. Mereka tahu: kemerdekaan tidak datang begitu saja. Ia harus diambil, diperjuangkan, dikawal dengan nyawa, hati, dan doa.

Hari ini, kita mengingat mereka. Kita menatap lomba, pertunjukan, dan demonstrasi dengan mata yang berbeda. Bukan untuk menghakimi, bukan untuk menilai, tapi untuk merenung. Kemerdekaan bukan hadiah. Ia bukan objek yang bisa dipamerkan. Ia adalah amanah, tanggung jawab, dan doa yang terus hidup dalam tiap jiwa.

Kita perlu menyadari: kemerdekaan itu bukan hanya soal politik, bukan hanya soal ekonomi, bukan hanya soal tanah dan bangunan. Merdeka adalah soal hati, soal iman, soal kesadaran akan asal-usul kita, soal pengorbanan yang pernah diberikan dan harus kita jaga. Dalam setiap lomba, dalam setiap upacara, dalam setiap protes, ada satu pertanyaan: apakah kita masih mampu menjaga doa yang 80 tahun lalu lahir dari darah dan nyawa?

Banyak orang lupa. Mereka melihat merdeka sebagai hak, sebagai fasilitas, sebagai kesempatan untuk mencari keuntungan semata. Tapi kemerdekaan itu lebih dari itu. Ia adalah tanggung jawab moral dan spiritual. Ia adalah kewajiban untuk hidup dalam kesadaran sejarah, untuk menghormati pengorbanan, untuk menumbuhkan keadilan, dan untuk membangun bangsa yang tak hanya merdeka secara politik tapi juga merdeka dalam hati dan iman.

Di antara paradoks dan pluralitas ini, ada hikmah yang tetap sama: generasi 45 tidak menunggu. Mereka bergerak, menculik Soekarno-Hatta, menulis teks proklamasi, membacakan kata demi kata atas nama bangsa. Mereka tahu, kemerdekaan itu tidak menunggu persetujuan penjajah, tidak menunggu pengakuan asing, tidak menunggu kemapanan. Kemerdekaan adalah tindakan iman, keberanian yang lahir dari hati, dan doa yang diwujudkan dalam darah.

Hari ini, generasi kita dihadapkan pada pertanyaan serupa. Bagaimana kita menjaga kemerdekaan? Apakah hanya dengan upacara dan lomba? Apakah dengan protes dan tuntutan saja? Atau dengan kesadaran bahwa merdeka berarti hidup dengan tanggung jawab, hidup dengan doa, hidup dengan iman bahwa tanah ini bukan sekadar milik kita, tetapi amanah yang diwariskan oleh darah, nyawa, dan doa para pejuang?

Maka bulan ini, ketika kita menatap lomba-lomba dan demonstrasi, biarlah kita merenung. Biarlah kita menatap sejarah dengan mata hati. 80 tahun merdeka adalah 80 tahun doa, 80 tahun pengorbanan, 80 tahun tanggung jawab yang harus kita jalani. Dan kita, generasi sekarang, adalah penjaga doa itu.

Kita merdeka bukan karena kita lebih kuat, bukan karena kita lebih kaya, bukan karena kita lebih pintar. Kita merdeka karena ada hati yang berani, iman yang teguh, dan doa yang dijawab dengan pengorbanan. Itulah yang harus kita ingat. Itulah yang harus kita jaga.

80 tahun merdeka adalah 80 tahun kesadaran bahwa kemerdekaan itu adalah amanah. Amanah untuk hidup dengan kesadaran sejarah, amanah untuk menghormati darah dan doa, amanah untuk membangun bangsa yang adil dan beriman. Generasi 45 telah menulis sejarah dengan darah dan nyawa mereka. Kita menulis sejarah dengan tindakan, dengan hati, dengan doa yang tidak kalah pentingnya.

Dan akhirnya, kemerdekaan adalah pengingat. Pengingat bahwa hidup ini singkat, tanah ini suci, dan doa itu nyata. Bahwa kita bagian dari sejarah yang lebih besar dari diri sendiri. Bahwa 80 tahun merdeka bukan sekadar perayaan, tetapi panggilan untuk tetap hidup dalam iman, dalam kesadaran, dan dalam tanggung jawab.

Maka, ketika kita mengibarkan bendera, ketika kita menyanyikan lagu kebangsaan, ketika kita menatap lomba, pertunjukan, atau demonstrasi, biarlah hati kita sadar: 80 tahun merdeka adalah 80 tahun doa dan darah, dan kita adalah penjaganya.


Habitusmu Dirampas, Pajakmu Diganyang

 "Habitusmu Dirampas, Pajakmu Diganyang"

Oleh : Lensa Banyuwangi

Kau bangun pagi. Matahari belum sepenuhnya menembus kabut di kota ini, tapi kau sudah berdiri di depan cermin, menatap wajah yang lelah tapi keras. Kau menyiapkan diri untuk bekerja, bukan sekadar untuk uang, bukan sekadar untuk rutinitas, tapi untuk membangun sesuatu dari dirimu sendiri. Kau membangun habitus. Pierre Bourdieu menamainya habitus: pengalaman yang menyusup ke pikiranmu, cara berpikir yang mulai mengokoh, rasa yang mulai tajam, empati yang meresap ke setiap tindakan. Tanpa itu, katanya, manusia akan menjadi hampa, kepribadian anomali, jiwa rusak. Kau merasakannya. Kau tahu, tanpa rutinitas yang bermakna, tanpa kerja yang menumbuhkan rasa dan refleksi, manusia hanyalah sekadar mesin yang berjalan tapi tak bernyawa.

Kau berjalan ke kantor, atau ke bengkel, atau ke toko kecilmu. Kau bersalaman, kau tersenyum, kau berinteraksi dengan manusia lain yang tak kau kenal baik. Semua itu kau lakukan dengan kesadaran, dengan perhatian, dengan empati yang kau bentuk sendiri lewat pengalaman bertahun-tahun. Kau menanam benih habitus di setiap sudut hidupmu. Setiap percakapan, setiap keputusan kecil, setiap sentuhan pada benda dan orang, adalah latihan untuk jiwa. Kau tahu, kalau habitus tidak terbentuk, kehancuran akan datang perlahan, diam-diam. Bukan perubahan yang lahir, tapi anomali yang memakan manusia dari dalam.v


Dan di sinilah paradoksnya: negara yang kau harapkan hadir sebagai pelindung, sebagai penyedia ruang untuk berkembang, seringkali tak ada. Ia menonton dari kejauhan, diam, seolah dunia yang kau bangun sendiri adalah urusanmu sendiri. Lapangan kerja tidak tersedia. Subsidi tidak jelas. Peluang tidak nyata. Kau digantung di udara. Kau harus bertahan sendiri.

Tetapi begitu kau berhasil. Kau berhasil membangun diri, punya penghasilan, punya karya, punya pencapaian. Kau merasa hidup, merasa dihargai. Dan saat itu, negara datang. Tidak dengan tepuk tangan, tidak dengan penghargaan, tidak dengan apresiasi. Yang datang hanyalah catatan pajak, dokumen yang menagih setiap tetes keringatmu. Negara menakar, mengukur, menghitung, menuntut. Kau bekerja, negara menunggu untuk mengambil. Kau membangun, negara menagih. Kau bernapas, negara mencatat.

Kau ingin perubahan, tapi dunia menatapmu dengan dingin. Kau ingin memperbaiki, tapi setiap gerakmu diperiksa. Kau ingin berkembang, tapi sistem hanya tahu menagih. Habitus yang seharusnya menjadi senjata untuk membentuk kehidupan, menjadi korban birokrasi yang tak pernah puas. Jiwa yang seharusnya bersinar, mulai retak.

Dan kau mulai bertanya: untuk apa semua ini? Untuk siapa kau membangun diri sendiri jika setiap kemajuan hanya akan dimintai imbalan oleh sistem yang tak pernah memberi lebih dari tuntutan? Kau ingin membentuk empati, tapi negara tidak peduli pada rasa. Kau ingin melatih kesadaran, tapi negara hanya peduli angka. Kau ingin perubahan, tapi sistem hanya tahu menghitung, menagih, menakar.

Di sinilah tragedi kehidupan modern. Habitus, yang seharusnya menjadi benteng manusia, menjadi sasaran. Kau membangun diri, tetapi sistem menjarah. Kau memperkaya jiwa, tetapi birokrasi menuntut materi. Kau menumbuhkan empati, tetapi pajak datang seperti bayangan hitam yang menelan setiap rasa. Kau ingin perubahan, tapi kehancuran diam-diam sudah menunggu di sudut yang tak terlihat.

Kau bekerja keras, membangun usaha kecil, merawat toko, bengkel, atau kantor yang kau miliki. Kau membentuk kebiasaan, mengasah rasa, menata tindakan, membangun diri. Semua itu seharusnya menjadi cermin perkembangan manusia. Tetapi di negara yang tak menyiapkan ruang untukmu, setiap pencapaian menjadi beban baru. Pajak, pungutan, regulasi, birokrasi yang lamban dan tak ramah. Kau merasa seperti pemain dalam sandiwara tanpa naskah: kau berusaha, kau memberi, kau bekerja, tapi setiap langkah diukur dengan ketelitian tanpa hati.

Habitusmu, yang kau bentuk dengan penuh kesabaran dan ketekunan, menjadi alat ukur untuk memungut pajak. Negara hadir bukan sebagai pelindung atau pendamping, tapi sebagai pengukur dan penagih. Kau yang membangun, ia yang menuntut. Kau yang menumbuhkan empati dan tindakan, ia yang menakar. Kau yang membentuk diri, ia yang menjarah. Kau ingin perubahan, tapi anomali lahir di setiap celah yang terbuka. Jiwa yang seharusnya utuh, menjadi rapuh. Perubahan yang seharusnya lahir dari habitus, menjadi impian yang tertunda.

Bayangkan seorang pedagang kecil di pasar. Ia bangun subuh, menata dagangan, menata diri, berinteraksi dengan pelanggan dengan senyum dan kesabaran. Ia membentuk habitus: kesabaran, empati, ketelitian, ketekunan. Tetapi begitu ia menghasilkan, pajak datang. Pajak atas dagangan, pajak atas penghasilan, pajak atas tanah yang digunakan. Semua yang ia bangun sendiri, semua yang ia kerjakan dengan keringat dan rasa, dihitung sebagai angka yang harus dibayarkan. Bukankah itu paradoks? Bukankah itu penghancuran perlahan dari manusia yang bekerja dengan niat baik?

Dan lebih jauh lagi, kita melihat fenomena yang sama terjadi di banyak lapisan kehidupan. Birokrasi yang tak ramah, regulasi yang menjerat, kebijakan yang tidak berpihak, semuanya merusak habitus manusia. Bukannya memfasilitasi pengalaman, bukannya memperkaya empati, bukannya menumbuhkan kesadaran, sistem justru merampas energi, merusak rasa, menghancurkan jiwa. Kau membangun diri sendiri, tapi sistem memaksa kau membela diri dari tuntutan yang tak ada habisnya.

Kau ingin berbuat baik, ingin produktif, ingin berinovasi, tapi setiap langkah diperiksa. Kau ingin belajar, ingin berkembang, ingin memperluas cakrawala, tapi setiap pencapaian dihitung. Kau ingin berkreasi, tapi setiap ide diperiksa, dinilai, dan dijadikan alasan untuk menagih. Kau ingin perubahan, tapi sistem menuntut stabilitas yang membunuh kreatifitas. Kau ingin empati, tapi setiap tindakan diukur dengan angka.

Dan di tengah semua ini, jiwa manusia mulai retak. Orang yang seharusnya utuh menjadi pecah. Habitus yang seharusnya menjadi benteng untuk menghadapi kehidupan, menjadi sasaran penghancuran sistemik. Anak-anak yang melihat orang tua bekerja keras, belajar, membangun, tetapi selalu ditekan oleh tuntutan sistem, mulai kehilangan keyakinan pada keadilan. Mereka melihat perubahan bukan sebagai hasil karya dan pengalaman, tapi sebagai beban baru yang datang dari kekuatan yang jauh dan tak terlihat.

Kita bisa melihat paradoks ini di kota-kota besar dan kecil. Di desa yang jauh, di kantor yang sepi, di toko-toko pinggir jalan, di bengkel-bengkel kecil, di rumah-rumah yang penuh keluarga, semua manusia yang membangun habitusnya sendiri, menghadapi sistem yang menjarah. Tidak peduli seberapa kuat empati, seberapa halus rasa, seberapa kokoh cara bertindak, setiap pencapaian selalu dihitung, ditakar, dan ditagih. Kau membangun diri, sistem menghancurkan. Kau menumbuhkan jiwa, sistem menjarah. Kau ingin perubahan, sistem menunda.

Dan inilah kesimpulannya: tanpa habitus yang kuat, manusia hancur. Tanpa ruang untuk membentuk pengalaman, empati, rasa, dan tindakan, manusia menjadi anomali. Tanpa keadilan dalam sistem yang mengatur hidup, setiap pencapaian menjadi ancaman, setiap langkah menjadi beban. Negara yang seharusnya hadir untuk mendukung, justru hadir sebagai penuntut. Kau membangun, ia menghancurkan. Kau menumbuhkan, ia menagih. Kau ingin perubahan, ia menunda.

Jadi, kau berdiri di sini, menatap dunia, menatap sistem, menatap negara yang hadir bukan sebagai pelindung, tapi sebagai penagih. Kau membangun habitus, tetapi habitus itu sendiri sedang diuji oleh kekuatan yang jauh, dingin, dan tak peduli. Kau ingin empati, tapi empati dihitung. Kau ingin tindakan, tapi tindakan ditagih. Kau ingin perubahan, tapi perubahan tertahan oleh sistem yang tak memahami manusia.

Habitusmu dirampas, pajakmu diganyang. Dan kau hanya bisa menatap, menahan nafas, membangun lagi, membentuk lagi, mencoba bertahan di dunia yang seharusnya mendukung, tapi justru menguji setiap tetes keringat, setiap pikiran, setiap rasa. Dan di sanalah tragedi modern ini: manusia membangun diri sendiri, sementara sistem memaksa manusia mempertahankan diri dari kehancuran yang ditimbulkan oleh ketidakadilan itu sendiri.

Kolaborasi yang Tak Selesai di Tenda Pramuka

Kolaborasi yang Tak Selesai di Tenda Pramuka

Oleh: Syafaat

Di antara segala peringatan yang kerap datang tiap tahun, Hari Pramuka selalu punya aroma tanah basah. Mungkin karena ia tak lahir dari rapat-rapat di gedung dingin ber-AC, tapi dari lapangan, dari bau seragam cokelat yang terkena keringat, dari api unggun yang memantulkan wajah-wajah muda penuh janji. 


Tema tahun ini—Kolaborasi untuk Membangun Ketahanan Bangsa—bagi sebagian orang mungkin hanya kalimat yang dibaca sekilas, seperti slogan di spanduk yang digantungkan di pinggir jalan. Tapi bagi mereka yang pernah berjanji di hadapan api dan bendera, kata-kata itu seperti doa yang harus dibayar lunas oleh hidup. Kolaborasi, dalam bahasa agama, adalah persekutuan amal. Ada hadits yang mengatakan bahwa Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Dan bukankah itu yang sejak dulu dikerjakan oleh Pramuka? Menolong bukan karena disuruh, tapi karena itu watak. Menolong bukan karena ada kamera, tapi karena itu bagian dari napas.

Saya pernah bertemu seorang mantan Pramuka di sebuah pondok kecil di pesisir. Rambutnya memutih, matanya redup, tapi sikapnya masih tegak seperti waktu muda. Katanya, yang paling ia ingat dari masa Pramuka bukanlah lomba-lomba atau perkemahan, tapi kalimat dalam Tri Satya: Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat. Ia mengucapkannya sambil menatap jauh ke kiblat, seolah kalimat itu bukan sekadar janji organisasi, tapi syahadat kedua yang ia ikrarkan di dunia.

Logo tahun ini menampilkan angka 64 yang dibentuk pita, tunas kelapa, dan fleur de lys. Saya melihatnya seperti doa yang sedang mengalir: tidak kaku, tidak terputus, bergerak dari bumi menuju langit. Dalam Al-Qur’an, ada ayat yang menyebut bahwa siapa saja yang berpegang teguh pada tali Allah, ia tidak akan pernah tersesat. Barangkali, pita yang mengalir itu adalah tali—tali yang tak sekadar mengikat antaranggota, tapi juga mengikat manusia kepada Tuhannya. Ketahanan bangsa, kata tema itu. Sebagian orang mengartikan ketahanan sebagai kekuatan fisik atau ekonomi. Tapi saya percaya, ketahanan sejati ada di hati yang tahu arah. Bangsa yang hatinya busuk, meski gedungnya menjulang, akan runtuh dalam sekali guncang. Pramuka, dalam sisi yang religius, sedang membangun benteng yang tak terlihat: benteng kejujuran, benteng kesetiaan, benteng keikhlasan.

Kadang saya bertanya-tanya, apakah generasi yang datang nanti akan mengerti makna Tri Satya dan Dasa Darma seperti para pendahulu? Apakah mereka akan melihatnya sebagai janji yang sakral atau hanya tugas hafalan sebelum lomba? Tapi mungkin kekhawatiran ini tak perlu dibesarkan. Karena seperti api unggun, meski bara tampak redup, ada percikan kecil yang siap menyala kembali jika angin datang dari arah yang tepat. Dan bukankah angin itu sudah bergerak? Ia datang dari setiap anak yang berani berkata “demi kehormatanku” sambil menatap lurus ke masa depan. Ia datang dari setiap kakak pembina yang melatih dengan sabar tanpa berharap tanda jasa. Ia datang dari setiap kerja sama kecil di lapangan yang tak pernah masuk berita. Kolaborasi yang menembus langit bukanlah rapat-rapat megah atau pidato panjang di panggung. Ia adalah tangan yang membantu mendirikan tenda di tengah hujan, bahu yang memanggul beras untuk dapur umum, atau mata yang tak lelah mengawasi kawan yang hampir pingsan di perjalanan. Dan semua itu, jika dilakukan dengan niat lurus, akan tercatat sebagai amal yang kelak menolong di hari ketika manusia mencari naungan. Mungkin itulah yang dimaksud ketahanan bangsa—bukan sekadar kuat di darat, laut, atau udara, tapi kuat di hadapan Tuhan.

Malam ini, ketika saya menulis, hujan turun perlahan di luar jendela. Saya teringat suara api unggun di perkemahan terakhir yang saya hadiri—suara kayu yang retak, bau asap yang melekat di pakaian berhari-hari. Ada sesuatu yang sederhana namun tak tergantikan di sana: kebersamaan yang tidak diikat oleh kepentingan, tapi oleh rasa bahwa kita saling membutuhkan. Barangkali, di situlah inti dari semua perayaan ini—tema, logo, janji, dan segala simbol hanyalah cara untuk mengingatkan kita pada hal yang tak pernah boleh hilang: bahwa kita hidup bukan hanya untuk diri sendiri.

Ketahanan bangsa, jika dilihat dari ketinggian doa, bukanlah perkara siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling setia menjaga yang lemah. Dan dalam hal itu, Pramuka telah lama memberi contoh—bahwa mengikat simpul di tali bukan hanya keterampilan teknis, tapi pelajaran tentang bagaimana kita mengikat hati satu sama lain. Jika kelak bangsa ini terguncang, saya membayangkan akan ada barisan yang berdiri paling depan, mengenakan seragam cokelat, dengan mata yang jernih, tangan yang siap bekerja, dan hati yang tahu arah. Barisan itu akan melangkah, bukan karena diperintah, tapi karena sudah berjanji pada Tuhan, pada negara, dan pada sesama manusia.

Dan mungkin, pada hari itu, kita akan mengerti bahwa kolaborasi yang menembus langit tidak pernah benar-benar berakhir—ia hanya berganti wajah, dari satu generasi ke generasi berikutnya, sambil membawa cahaya yang sama.


Banyuwangi Paparkan Inovasi 9 Tatanan pada Verifikasi Lanjutan Kabupaten Sehat

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengikuti tahap Verifikasi Lanjutan dalam rangka penilaian Kabupaten/Kota Sehat (KKS) Tingkat Nasional Tahun 2025. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring pada Senin (11/8/2025) dengan melibatkan tim penilai pusat, tim pembina KKS Provinsi Jawa Timur, serta pemangku kepentingan daerah.b


Tahap Verifikasi Lanjutan merupakan proses krusial untuk memperoleh penghargaan Swasti Saba Wistara, yakni predikat tertinggi yang diberikan kepada daerah yang mampu mewujudkan lingkungan bersih, nyaman, aman, dan sehat. Kegiatan ini dipimpin oleh Ketua Tim Verifikasi KKS Pusat, Anugerah, dan diikuti oleh Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, Plh. Sekretaris Daerah Guntur Priambodo, Ketua Forum Banyuwangi Sehat Soekardjo, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Banyuwangi Anna Mujiono, serta jajaran Organisasi Perangkat Daerah terkait.

Dalam paparannya, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengemukakan bahwa Kabupaten Banyuwangi telah lima kali memperoleh penghargaan sebagai Kabupaten Sehat Tingkat Nasional, dengan dua di antaranya (2019 dan 2021) berhasil meraih predikat Swasti Saba Wistara. Pada tahun 2025 ini, Pemerintah Kabupaten menargetkan kembali meraih predikat tersebut melalui penguatan inovasi pada sembilan tatanan Kabupaten Sehat. Kesembilan tatanan tersebut mencakup:

1. Kehidupan Masyarakat Sehat Mandiri;

2. Permukiman dan Fasilitas Umum;

3. Satuan Pendidikan;

4. Pasar;

5. Perkantoran dan Perindustrian;

6. Lalu Lintas;

7. Pariwisata;

8. Perlindungan Sosial; dan

9. Penanggulangan Bencana. 


Bupati Ipuk mencontohkan beberapa inovasi strategis, di antaranya pendirian Mall Orang Sehat pada tatanan Masyarakat Sehat Mandiri. Inovasi ini bertujuan mengubah paradigma masyarakat dari pola pikir “datang ke puskesmas saat sakit” menjadi “memanfaatkan layanan kesehatan meski dalam kondisi sehat” untuk konsultasi dan deteksi dini potensi penyakit.

Selain itu, Pemkab Banyuwangi juga mengimplementasikan Puskesmas Asuhan Spesialistik (PAS) yang melibatkan 38 dokter spesialis kebidanan dan kandungan (Obstetri dan Ginekologi) serta dokter spesialis anak untuk melakukan pendampingan kepada puskesmas. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi sumber daya manusia kesehatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi, serta memperkuat jejaring layanan kesehatan dari hulu ke hilir.

Pada tatanan Pasar Sehat, Pemerintah Kabupaten menerapkan kebijakan pembatasan pendirian pasar modern berjejaring baru untuk melindungi keberlangsungan pasar tradisional dan usaha toko kelontong. Kebijakan ini didukung oleh pembinaan dan penataan fasilitas pasar agar memenuhi standar kesehatan dan kenyamanan.

Tim Verifikasi KKS Pusat memberikan apresiasi terhadap sinergi lintas sektor dan komitmen Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Ketua Tim, Anugerah, menyatakan bahwa kerja sama yang terbangun di tingkat daerah menjadi modal penting dalam mewujudkan lingkungan yang sehat secara berkelanjutan. Tim verifikator juga memberikan masukan teknis terkait kelengkapan dokumen sebagai bagian dari proses penilaian.

Dengan langkah-langkah inovatif dan kolaboratif tersebut, Banyuwangi diharapkan mampu kembali meraih predikat Swasti Saba Wistara, sebagai pengakuan nasional atas keberhasilan menciptakan tatanan wilayah yang mendukung kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

Penyuluh di Jalan Sunyi

 “Penyuluh di Jalan Sunyi”

Oleh : Lensa Banyuwangi

Di banyak desa, di kampung yang terhubung oleh jalan setapak dan jembatan kayu, ada sosok yang datang bukan untuk menjual barang dagangan atau menawarkan pinjaman. Mereka tidak membawa brosur paket wisata, tidak mengajak orang mengunduh aplikasi, dan tidak memaksa tanda tangan di atas formulir. Mereka datang dengan langkah yang biasa saja, membawa tas yang tak selalu rapi, berisi buku catatan, selembar kertas materi, dan kadang sebungkus kacang rebus dari rumah.b



Mereka disebut penyuluh agama. Nama itu terdengar resmi, bahkan sedikit kaku. Ada peraturan yang menaunginya: PermenPAN-RB Nomor 9 Tahun 2021. Di dalamnya, dua tugas utama tertulis jelas bimbingan atau penyuluhan, dan pengembangan bimbingan atau penyuluhan agama. Kalimat-kalimat itu rapi, seperti meja kerja yang baru dibersihkan. Tetapi begitu keluar dari halaman peraturan, masuk ke lapangan, ke rumah-rumah warga, ke serambi masjid, ke balai dusun yang catnya mulai pudar, kalimat itu berubah menjadi percakapan yang cair.

Di tempat-tempat seperti itulah bimbingan terjadi. Kadang dimulai dari obrolan singkat soal harga gabah, lalu mengalir ke masalah keluarga, lalu diam-diam menyentuh hati. Kadang dimulai dari tanya-jawab anak-anak remaja tentang pergaulan, yang pelan-pelan berubah menjadi diskusi panjang soal mimpi dan masa depan.


Bimbingan dalam definisi resmi pasal tidak hanya berarti menyampaikan informasi keagamaan. Ia adalah proses yang merangkai banyak unsur: komunikasi, motivasi, konseling, edukasi, fasilitasi, dan advokasi. Tujuannya bukan hanya agar masyarakat tahu, tapi agar mereka berubah: lebih baik perilakunya, lebih sehat pemahamannya, lebih siap berperan dalam pembangunan sosial dan keagamaan.

Tugas ini tidak ringan. Apalagi ketika penyuluh harus menghadapi latar belakang yang beragam. Ada penyuluh yang memang sejak awal menempuh pendidikan agama, paham betul seluk-beluk materi. Ada pula yang datang dari jalur berbeda, yang harus belajar cepat sambil menyesuaikan diri dengan medan tugas. Dan lapangan bukanlah ruang steril, ada persoalan warga yang rumit, ada perbedaan pandangan, ada juga jarak kepercayaan yang harus dijembatani.

Namun, di antara semua itu, ada penyuluh yang bekerja dengan hati penuh. Mereka hadir di lapangan bukan sekadar untuk memenuhi target laporan. Lembar laporan mereka bukan formalitas; ia memuat kegiatan nyata, kelompok binaan yang benar-benar ada, foto-foto yang diambil dari pertemuan yang sungguh terjadi. Mereka mengenal satu per satu orang yang dibimbingnya, tahu siapa yang sedang sakit, siapa yang anaknya baru lulus sekolah, siapa yang diam-diam sedang menghadapi krisis rumah tangga.

Penyuluh seperti ini sering berjalan tanpa sorotan. Tidak masuk berita. Tidak mendapat ucapan terima kasih yang megah. Tetapi di lingkungan mereka, kehadirannya terasa. Mereka mengajari remaja menjaga diri dari godaan zaman, menguatkan pasangan suami-istri yang hampir menyerah, mengadakan dialog dengan tokoh lintas iman untuk mengusir prasangka, dan menanamkan kepada masyarakat bahwa agama bukan sekadar ibadah pribadi, tapi juga urusan menjaga harmoni hidup bersama.

Menjadi penyuluh berarti siap berjalan di jalan sunyi. Tidak ada riuh tepuk tangan, tidak ada sambutan yang meriah. Hasil kerjanya jarang tampak besar di awal. Perubahan datang perlahan, dari percakapan singkat di teras rumah, dari kunjungan rutin yang nyaris tak pernah putus, dari kehadiran yang setia bahkan ketika tak diminta.

Tapi jalan sunyi ini tidak boleh dilalui sendirian tanpa bekal. Dukungan dari instansi pembina menjadi penting. Pelatihan, penguatan metodologi, pemanfaatan teknologi, hingga evaluasi yang adil adalah kebutuhan yang tak bisa diabaikan. Penyuluh yang serius butuh ruang untuk berkembang, sementara yang masih tertatih butuh bimbingan yang sabar dan berkelanjutan.

Di era digital, medan penyuluhan telah berubah. Ceramah di balai desa bisa diperluas menjadi video singkat di media sosial. Diskusi tatap muka di mushola bisa dilanjutkan dengan grup daring yang menjaga komunikasi. Anak-anak muda yang sulit duduk lama di pengajian bisa disentuh lewat konten kreatif yang mereka temui di ponsel.

Meski begitu, teknologi hanyalah alat. Inti dari pekerjaan penyuluh tetaplah sama: membangun kedekatan, menumbuhkan kepercayaan, menyalakan harapan. Tidak ada aplikasi yang bisa menggantikan tatapan mata yang tulus atau tepukan di bahu yang menguatkan.

Mungkin di masa depan, penyuluh agama akan lebih dikenal sebagai agen perubahan sosial. Bukan karena mereka sering tampil di panggung besar, tapi karena masyarakat merasakan hasil kerja mereka: keluarga yang lebih harmonis, remaja yang punya arah, komunitas yang saling menghormati.

Dan pada akhirnya, penyuluh tetap akan berjalan di jalan sunyi itu. Jalan yang jarang dipilih orang, tapi menjadi nadi bagi kehidupan bersama. Mereka akan terus membawa pesan yang sama, yang tak lekang oleh waktu: bahwa agama adalah tentang membangun, merawat, dan memberi manfaat bagi sesama, tanpa pamrih, tanpa lelah, tanpa berhenti di tengah jalan.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger