Pages

Habitusmu Dirampas, Pajakmu Diganyang

 "Habitusmu Dirampas, Pajakmu Diganyang"

Oleh : Lensa Banyuwangi

Kau bangun pagi. Matahari belum sepenuhnya menembus kabut di kota ini, tapi kau sudah berdiri di depan cermin, menatap wajah yang lelah tapi keras. Kau menyiapkan diri untuk bekerja, bukan sekadar untuk uang, bukan sekadar untuk rutinitas, tapi untuk membangun sesuatu dari dirimu sendiri. Kau membangun habitus. Pierre Bourdieu menamainya habitus: pengalaman yang menyusup ke pikiranmu, cara berpikir yang mulai mengokoh, rasa yang mulai tajam, empati yang meresap ke setiap tindakan. Tanpa itu, katanya, manusia akan menjadi hampa, kepribadian anomali, jiwa rusak. Kau merasakannya. Kau tahu, tanpa rutinitas yang bermakna, tanpa kerja yang menumbuhkan rasa dan refleksi, manusia hanyalah sekadar mesin yang berjalan tapi tak bernyawa.

Kau berjalan ke kantor, atau ke bengkel, atau ke toko kecilmu. Kau bersalaman, kau tersenyum, kau berinteraksi dengan manusia lain yang tak kau kenal baik. Semua itu kau lakukan dengan kesadaran, dengan perhatian, dengan empati yang kau bentuk sendiri lewat pengalaman bertahun-tahun. Kau menanam benih habitus di setiap sudut hidupmu. Setiap percakapan, setiap keputusan kecil, setiap sentuhan pada benda dan orang, adalah latihan untuk jiwa. Kau tahu, kalau habitus tidak terbentuk, kehancuran akan datang perlahan, diam-diam. Bukan perubahan yang lahir, tapi anomali yang memakan manusia dari dalam.v


Dan di sinilah paradoksnya: negara yang kau harapkan hadir sebagai pelindung, sebagai penyedia ruang untuk berkembang, seringkali tak ada. Ia menonton dari kejauhan, diam, seolah dunia yang kau bangun sendiri adalah urusanmu sendiri. Lapangan kerja tidak tersedia. Subsidi tidak jelas. Peluang tidak nyata. Kau digantung di udara. Kau harus bertahan sendiri.

Tetapi begitu kau berhasil. Kau berhasil membangun diri, punya penghasilan, punya karya, punya pencapaian. Kau merasa hidup, merasa dihargai. Dan saat itu, negara datang. Tidak dengan tepuk tangan, tidak dengan penghargaan, tidak dengan apresiasi. Yang datang hanyalah catatan pajak, dokumen yang menagih setiap tetes keringatmu. Negara menakar, mengukur, menghitung, menuntut. Kau bekerja, negara menunggu untuk mengambil. Kau membangun, negara menagih. Kau bernapas, negara mencatat.

Kau ingin perubahan, tapi dunia menatapmu dengan dingin. Kau ingin memperbaiki, tapi setiap gerakmu diperiksa. Kau ingin berkembang, tapi sistem hanya tahu menagih. Habitus yang seharusnya menjadi senjata untuk membentuk kehidupan, menjadi korban birokrasi yang tak pernah puas. Jiwa yang seharusnya bersinar, mulai retak.

Dan kau mulai bertanya: untuk apa semua ini? Untuk siapa kau membangun diri sendiri jika setiap kemajuan hanya akan dimintai imbalan oleh sistem yang tak pernah memberi lebih dari tuntutan? Kau ingin membentuk empati, tapi negara tidak peduli pada rasa. Kau ingin melatih kesadaran, tapi negara hanya peduli angka. Kau ingin perubahan, tapi sistem hanya tahu menghitung, menagih, menakar.

Di sinilah tragedi kehidupan modern. Habitus, yang seharusnya menjadi benteng manusia, menjadi sasaran. Kau membangun diri, tetapi sistem menjarah. Kau memperkaya jiwa, tetapi birokrasi menuntut materi. Kau menumbuhkan empati, tetapi pajak datang seperti bayangan hitam yang menelan setiap rasa. Kau ingin perubahan, tapi kehancuran diam-diam sudah menunggu di sudut yang tak terlihat.

Kau bekerja keras, membangun usaha kecil, merawat toko, bengkel, atau kantor yang kau miliki. Kau membentuk kebiasaan, mengasah rasa, menata tindakan, membangun diri. Semua itu seharusnya menjadi cermin perkembangan manusia. Tetapi di negara yang tak menyiapkan ruang untukmu, setiap pencapaian menjadi beban baru. Pajak, pungutan, regulasi, birokrasi yang lamban dan tak ramah. Kau merasa seperti pemain dalam sandiwara tanpa naskah: kau berusaha, kau memberi, kau bekerja, tapi setiap langkah diukur dengan ketelitian tanpa hati.

Habitusmu, yang kau bentuk dengan penuh kesabaran dan ketekunan, menjadi alat ukur untuk memungut pajak. Negara hadir bukan sebagai pelindung atau pendamping, tapi sebagai pengukur dan penagih. Kau yang membangun, ia yang menuntut. Kau yang menumbuhkan empati dan tindakan, ia yang menakar. Kau yang membentuk diri, ia yang menjarah. Kau ingin perubahan, tapi anomali lahir di setiap celah yang terbuka. Jiwa yang seharusnya utuh, menjadi rapuh. Perubahan yang seharusnya lahir dari habitus, menjadi impian yang tertunda.

Bayangkan seorang pedagang kecil di pasar. Ia bangun subuh, menata dagangan, menata diri, berinteraksi dengan pelanggan dengan senyum dan kesabaran. Ia membentuk habitus: kesabaran, empati, ketelitian, ketekunan. Tetapi begitu ia menghasilkan, pajak datang. Pajak atas dagangan, pajak atas penghasilan, pajak atas tanah yang digunakan. Semua yang ia bangun sendiri, semua yang ia kerjakan dengan keringat dan rasa, dihitung sebagai angka yang harus dibayarkan. Bukankah itu paradoks? Bukankah itu penghancuran perlahan dari manusia yang bekerja dengan niat baik?

Dan lebih jauh lagi, kita melihat fenomena yang sama terjadi di banyak lapisan kehidupan. Birokrasi yang tak ramah, regulasi yang menjerat, kebijakan yang tidak berpihak, semuanya merusak habitus manusia. Bukannya memfasilitasi pengalaman, bukannya memperkaya empati, bukannya menumbuhkan kesadaran, sistem justru merampas energi, merusak rasa, menghancurkan jiwa. Kau membangun diri sendiri, tapi sistem memaksa kau membela diri dari tuntutan yang tak ada habisnya.

Kau ingin berbuat baik, ingin produktif, ingin berinovasi, tapi setiap langkah diperiksa. Kau ingin belajar, ingin berkembang, ingin memperluas cakrawala, tapi setiap pencapaian dihitung. Kau ingin berkreasi, tapi setiap ide diperiksa, dinilai, dan dijadikan alasan untuk menagih. Kau ingin perubahan, tapi sistem menuntut stabilitas yang membunuh kreatifitas. Kau ingin empati, tapi setiap tindakan diukur dengan angka.

Dan di tengah semua ini, jiwa manusia mulai retak. Orang yang seharusnya utuh menjadi pecah. Habitus yang seharusnya menjadi benteng untuk menghadapi kehidupan, menjadi sasaran penghancuran sistemik. Anak-anak yang melihat orang tua bekerja keras, belajar, membangun, tetapi selalu ditekan oleh tuntutan sistem, mulai kehilangan keyakinan pada keadilan. Mereka melihat perubahan bukan sebagai hasil karya dan pengalaman, tapi sebagai beban baru yang datang dari kekuatan yang jauh dan tak terlihat.

Kita bisa melihat paradoks ini di kota-kota besar dan kecil. Di desa yang jauh, di kantor yang sepi, di toko-toko pinggir jalan, di bengkel-bengkel kecil, di rumah-rumah yang penuh keluarga, semua manusia yang membangun habitusnya sendiri, menghadapi sistem yang menjarah. Tidak peduli seberapa kuat empati, seberapa halus rasa, seberapa kokoh cara bertindak, setiap pencapaian selalu dihitung, ditakar, dan ditagih. Kau membangun diri, sistem menghancurkan. Kau menumbuhkan jiwa, sistem menjarah. Kau ingin perubahan, sistem menunda.

Dan inilah kesimpulannya: tanpa habitus yang kuat, manusia hancur. Tanpa ruang untuk membentuk pengalaman, empati, rasa, dan tindakan, manusia menjadi anomali. Tanpa keadilan dalam sistem yang mengatur hidup, setiap pencapaian menjadi ancaman, setiap langkah menjadi beban. Negara yang seharusnya hadir untuk mendukung, justru hadir sebagai penuntut. Kau membangun, ia menghancurkan. Kau menumbuhkan, ia menagih. Kau ingin perubahan, ia menunda.

Jadi, kau berdiri di sini, menatap dunia, menatap sistem, menatap negara yang hadir bukan sebagai pelindung, tapi sebagai penagih. Kau membangun habitus, tetapi habitus itu sendiri sedang diuji oleh kekuatan yang jauh, dingin, dan tak peduli. Kau ingin empati, tapi empati dihitung. Kau ingin tindakan, tapi tindakan ditagih. Kau ingin perubahan, tapi perubahan tertahan oleh sistem yang tak memahami manusia.

Habitusmu dirampas, pajakmu diganyang. Dan kau hanya bisa menatap, menahan nafas, membangun lagi, membentuk lagi, mencoba bertahan di dunia yang seharusnya mendukung, tapi justru menguji setiap tetes keringat, setiap pikiran, setiap rasa. Dan di sanalah tragedi modern ini: manusia membangun diri sendiri, sementara sistem memaksa manusia mempertahankan diri dari kehancuran yang ditimbulkan oleh ketidakadilan itu sendiri.

Kolaborasi yang Tak Selesai di Tenda Pramuka

Kolaborasi yang Tak Selesai di Tenda Pramuka

Oleh: Syafaat

Di antara segala peringatan yang kerap datang tiap tahun, Hari Pramuka selalu punya aroma tanah basah. Mungkin karena ia tak lahir dari rapat-rapat di gedung dingin ber-AC, tapi dari lapangan, dari bau seragam cokelat yang terkena keringat, dari api unggun yang memantulkan wajah-wajah muda penuh janji. 


Tema tahun ini—Kolaborasi untuk Membangun Ketahanan Bangsa—bagi sebagian orang mungkin hanya kalimat yang dibaca sekilas, seperti slogan di spanduk yang digantungkan di pinggir jalan. Tapi bagi mereka yang pernah berjanji di hadapan api dan bendera, kata-kata itu seperti doa yang harus dibayar lunas oleh hidup. Kolaborasi, dalam bahasa agama, adalah persekutuan amal. Ada hadits yang mengatakan bahwa Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Dan bukankah itu yang sejak dulu dikerjakan oleh Pramuka? Menolong bukan karena disuruh, tapi karena itu watak. Menolong bukan karena ada kamera, tapi karena itu bagian dari napas.

Saya pernah bertemu seorang mantan Pramuka di sebuah pondok kecil di pesisir. Rambutnya memutih, matanya redup, tapi sikapnya masih tegak seperti waktu muda. Katanya, yang paling ia ingat dari masa Pramuka bukanlah lomba-lomba atau perkemahan, tapi kalimat dalam Tri Satya: Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat. Ia mengucapkannya sambil menatap jauh ke kiblat, seolah kalimat itu bukan sekadar janji organisasi, tapi syahadat kedua yang ia ikrarkan di dunia.

Logo tahun ini menampilkan angka 64 yang dibentuk pita, tunas kelapa, dan fleur de lys. Saya melihatnya seperti doa yang sedang mengalir: tidak kaku, tidak terputus, bergerak dari bumi menuju langit. Dalam Al-Qur’an, ada ayat yang menyebut bahwa siapa saja yang berpegang teguh pada tali Allah, ia tidak akan pernah tersesat. Barangkali, pita yang mengalir itu adalah tali—tali yang tak sekadar mengikat antaranggota, tapi juga mengikat manusia kepada Tuhannya. Ketahanan bangsa, kata tema itu. Sebagian orang mengartikan ketahanan sebagai kekuatan fisik atau ekonomi. Tapi saya percaya, ketahanan sejati ada di hati yang tahu arah. Bangsa yang hatinya busuk, meski gedungnya menjulang, akan runtuh dalam sekali guncang. Pramuka, dalam sisi yang religius, sedang membangun benteng yang tak terlihat: benteng kejujuran, benteng kesetiaan, benteng keikhlasan.

Kadang saya bertanya-tanya, apakah generasi yang datang nanti akan mengerti makna Tri Satya dan Dasa Darma seperti para pendahulu? Apakah mereka akan melihatnya sebagai janji yang sakral atau hanya tugas hafalan sebelum lomba? Tapi mungkin kekhawatiran ini tak perlu dibesarkan. Karena seperti api unggun, meski bara tampak redup, ada percikan kecil yang siap menyala kembali jika angin datang dari arah yang tepat. Dan bukankah angin itu sudah bergerak? Ia datang dari setiap anak yang berani berkata “demi kehormatanku” sambil menatap lurus ke masa depan. Ia datang dari setiap kakak pembina yang melatih dengan sabar tanpa berharap tanda jasa. Ia datang dari setiap kerja sama kecil di lapangan yang tak pernah masuk berita. Kolaborasi yang menembus langit bukanlah rapat-rapat megah atau pidato panjang di panggung. Ia adalah tangan yang membantu mendirikan tenda di tengah hujan, bahu yang memanggul beras untuk dapur umum, atau mata yang tak lelah mengawasi kawan yang hampir pingsan di perjalanan. Dan semua itu, jika dilakukan dengan niat lurus, akan tercatat sebagai amal yang kelak menolong di hari ketika manusia mencari naungan. Mungkin itulah yang dimaksud ketahanan bangsa—bukan sekadar kuat di darat, laut, atau udara, tapi kuat di hadapan Tuhan.

Malam ini, ketika saya menulis, hujan turun perlahan di luar jendela. Saya teringat suara api unggun di perkemahan terakhir yang saya hadiri—suara kayu yang retak, bau asap yang melekat di pakaian berhari-hari. Ada sesuatu yang sederhana namun tak tergantikan di sana: kebersamaan yang tidak diikat oleh kepentingan, tapi oleh rasa bahwa kita saling membutuhkan. Barangkali, di situlah inti dari semua perayaan ini—tema, logo, janji, dan segala simbol hanyalah cara untuk mengingatkan kita pada hal yang tak pernah boleh hilang: bahwa kita hidup bukan hanya untuk diri sendiri.

Ketahanan bangsa, jika dilihat dari ketinggian doa, bukanlah perkara siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling setia menjaga yang lemah. Dan dalam hal itu, Pramuka telah lama memberi contoh—bahwa mengikat simpul di tali bukan hanya keterampilan teknis, tapi pelajaran tentang bagaimana kita mengikat hati satu sama lain. Jika kelak bangsa ini terguncang, saya membayangkan akan ada barisan yang berdiri paling depan, mengenakan seragam cokelat, dengan mata yang jernih, tangan yang siap bekerja, dan hati yang tahu arah. Barisan itu akan melangkah, bukan karena diperintah, tapi karena sudah berjanji pada Tuhan, pada negara, dan pada sesama manusia.

Dan mungkin, pada hari itu, kita akan mengerti bahwa kolaborasi yang menembus langit tidak pernah benar-benar berakhir—ia hanya berganti wajah, dari satu generasi ke generasi berikutnya, sambil membawa cahaya yang sama.


Banyuwangi Paparkan Inovasi 9 Tatanan pada Verifikasi Lanjutan Kabupaten Sehat

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengikuti tahap Verifikasi Lanjutan dalam rangka penilaian Kabupaten/Kota Sehat (KKS) Tingkat Nasional Tahun 2025. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring pada Senin (11/8/2025) dengan melibatkan tim penilai pusat, tim pembina KKS Provinsi Jawa Timur, serta pemangku kepentingan daerah.b


Tahap Verifikasi Lanjutan merupakan proses krusial untuk memperoleh penghargaan Swasti Saba Wistara, yakni predikat tertinggi yang diberikan kepada daerah yang mampu mewujudkan lingkungan bersih, nyaman, aman, dan sehat. Kegiatan ini dipimpin oleh Ketua Tim Verifikasi KKS Pusat, Anugerah, dan diikuti oleh Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, Plh. Sekretaris Daerah Guntur Priambodo, Ketua Forum Banyuwangi Sehat Soekardjo, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Banyuwangi Anna Mujiono, serta jajaran Organisasi Perangkat Daerah terkait.

Dalam paparannya, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengemukakan bahwa Kabupaten Banyuwangi telah lima kali memperoleh penghargaan sebagai Kabupaten Sehat Tingkat Nasional, dengan dua di antaranya (2019 dan 2021) berhasil meraih predikat Swasti Saba Wistara. Pada tahun 2025 ini, Pemerintah Kabupaten menargetkan kembali meraih predikat tersebut melalui penguatan inovasi pada sembilan tatanan Kabupaten Sehat. Kesembilan tatanan tersebut mencakup:

1. Kehidupan Masyarakat Sehat Mandiri;

2. Permukiman dan Fasilitas Umum;

3. Satuan Pendidikan;

4. Pasar;

5. Perkantoran dan Perindustrian;

6. Lalu Lintas;

7. Pariwisata;

8. Perlindungan Sosial; dan

9. Penanggulangan Bencana. 


Bupati Ipuk mencontohkan beberapa inovasi strategis, di antaranya pendirian Mall Orang Sehat pada tatanan Masyarakat Sehat Mandiri. Inovasi ini bertujuan mengubah paradigma masyarakat dari pola pikir “datang ke puskesmas saat sakit” menjadi “memanfaatkan layanan kesehatan meski dalam kondisi sehat” untuk konsultasi dan deteksi dini potensi penyakit.

Selain itu, Pemkab Banyuwangi juga mengimplementasikan Puskesmas Asuhan Spesialistik (PAS) yang melibatkan 38 dokter spesialis kebidanan dan kandungan (Obstetri dan Ginekologi) serta dokter spesialis anak untuk melakukan pendampingan kepada puskesmas. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi sumber daya manusia kesehatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi, serta memperkuat jejaring layanan kesehatan dari hulu ke hilir.

Pada tatanan Pasar Sehat, Pemerintah Kabupaten menerapkan kebijakan pembatasan pendirian pasar modern berjejaring baru untuk melindungi keberlangsungan pasar tradisional dan usaha toko kelontong. Kebijakan ini didukung oleh pembinaan dan penataan fasilitas pasar agar memenuhi standar kesehatan dan kenyamanan.

Tim Verifikasi KKS Pusat memberikan apresiasi terhadap sinergi lintas sektor dan komitmen Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Ketua Tim, Anugerah, menyatakan bahwa kerja sama yang terbangun di tingkat daerah menjadi modal penting dalam mewujudkan lingkungan yang sehat secara berkelanjutan. Tim verifikator juga memberikan masukan teknis terkait kelengkapan dokumen sebagai bagian dari proses penilaian.

Dengan langkah-langkah inovatif dan kolaboratif tersebut, Banyuwangi diharapkan mampu kembali meraih predikat Swasti Saba Wistara, sebagai pengakuan nasional atas keberhasilan menciptakan tatanan wilayah yang mendukung kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

Penyuluh di Jalan Sunyi

 “Penyuluh di Jalan Sunyi”

Oleh : Lensa Banyuwangi

Di banyak desa, di kampung yang terhubung oleh jalan setapak dan jembatan kayu, ada sosok yang datang bukan untuk menjual barang dagangan atau menawarkan pinjaman. Mereka tidak membawa brosur paket wisata, tidak mengajak orang mengunduh aplikasi, dan tidak memaksa tanda tangan di atas formulir. Mereka datang dengan langkah yang biasa saja, membawa tas yang tak selalu rapi, berisi buku catatan, selembar kertas materi, dan kadang sebungkus kacang rebus dari rumah.b



Mereka disebut penyuluh agama. Nama itu terdengar resmi, bahkan sedikit kaku. Ada peraturan yang menaunginya: PermenPAN-RB Nomor 9 Tahun 2021. Di dalamnya, dua tugas utama tertulis jelas bimbingan atau penyuluhan, dan pengembangan bimbingan atau penyuluhan agama. Kalimat-kalimat itu rapi, seperti meja kerja yang baru dibersihkan. Tetapi begitu keluar dari halaman peraturan, masuk ke lapangan, ke rumah-rumah warga, ke serambi masjid, ke balai dusun yang catnya mulai pudar, kalimat itu berubah menjadi percakapan yang cair.

Di tempat-tempat seperti itulah bimbingan terjadi. Kadang dimulai dari obrolan singkat soal harga gabah, lalu mengalir ke masalah keluarga, lalu diam-diam menyentuh hati. Kadang dimulai dari tanya-jawab anak-anak remaja tentang pergaulan, yang pelan-pelan berubah menjadi diskusi panjang soal mimpi dan masa depan.


Bimbingan dalam definisi resmi pasal tidak hanya berarti menyampaikan informasi keagamaan. Ia adalah proses yang merangkai banyak unsur: komunikasi, motivasi, konseling, edukasi, fasilitasi, dan advokasi. Tujuannya bukan hanya agar masyarakat tahu, tapi agar mereka berubah: lebih baik perilakunya, lebih sehat pemahamannya, lebih siap berperan dalam pembangunan sosial dan keagamaan.

Tugas ini tidak ringan. Apalagi ketika penyuluh harus menghadapi latar belakang yang beragam. Ada penyuluh yang memang sejak awal menempuh pendidikan agama, paham betul seluk-beluk materi. Ada pula yang datang dari jalur berbeda, yang harus belajar cepat sambil menyesuaikan diri dengan medan tugas. Dan lapangan bukanlah ruang steril, ada persoalan warga yang rumit, ada perbedaan pandangan, ada juga jarak kepercayaan yang harus dijembatani.

Namun, di antara semua itu, ada penyuluh yang bekerja dengan hati penuh. Mereka hadir di lapangan bukan sekadar untuk memenuhi target laporan. Lembar laporan mereka bukan formalitas; ia memuat kegiatan nyata, kelompok binaan yang benar-benar ada, foto-foto yang diambil dari pertemuan yang sungguh terjadi. Mereka mengenal satu per satu orang yang dibimbingnya, tahu siapa yang sedang sakit, siapa yang anaknya baru lulus sekolah, siapa yang diam-diam sedang menghadapi krisis rumah tangga.

Penyuluh seperti ini sering berjalan tanpa sorotan. Tidak masuk berita. Tidak mendapat ucapan terima kasih yang megah. Tetapi di lingkungan mereka, kehadirannya terasa. Mereka mengajari remaja menjaga diri dari godaan zaman, menguatkan pasangan suami-istri yang hampir menyerah, mengadakan dialog dengan tokoh lintas iman untuk mengusir prasangka, dan menanamkan kepada masyarakat bahwa agama bukan sekadar ibadah pribadi, tapi juga urusan menjaga harmoni hidup bersama.

Menjadi penyuluh berarti siap berjalan di jalan sunyi. Tidak ada riuh tepuk tangan, tidak ada sambutan yang meriah. Hasil kerjanya jarang tampak besar di awal. Perubahan datang perlahan, dari percakapan singkat di teras rumah, dari kunjungan rutin yang nyaris tak pernah putus, dari kehadiran yang setia bahkan ketika tak diminta.

Tapi jalan sunyi ini tidak boleh dilalui sendirian tanpa bekal. Dukungan dari instansi pembina menjadi penting. Pelatihan, penguatan metodologi, pemanfaatan teknologi, hingga evaluasi yang adil adalah kebutuhan yang tak bisa diabaikan. Penyuluh yang serius butuh ruang untuk berkembang, sementara yang masih tertatih butuh bimbingan yang sabar dan berkelanjutan.

Di era digital, medan penyuluhan telah berubah. Ceramah di balai desa bisa diperluas menjadi video singkat di media sosial. Diskusi tatap muka di mushola bisa dilanjutkan dengan grup daring yang menjaga komunikasi. Anak-anak muda yang sulit duduk lama di pengajian bisa disentuh lewat konten kreatif yang mereka temui di ponsel.

Meski begitu, teknologi hanyalah alat. Inti dari pekerjaan penyuluh tetaplah sama: membangun kedekatan, menumbuhkan kepercayaan, menyalakan harapan. Tidak ada aplikasi yang bisa menggantikan tatapan mata yang tulus atau tepukan di bahu yang menguatkan.

Mungkin di masa depan, penyuluh agama akan lebih dikenal sebagai agen perubahan sosial. Bukan karena mereka sering tampil di panggung besar, tapi karena masyarakat merasakan hasil kerja mereka: keluarga yang lebih harmonis, remaja yang punya arah, komunitas yang saling menghormati.

Dan pada akhirnya, penyuluh tetap akan berjalan di jalan sunyi itu. Jalan yang jarang dipilih orang, tapi menjadi nadi bagi kehidupan bersama. Mereka akan terus membawa pesan yang sama, yang tak lekang oleh waktu: bahwa agama adalah tentang membangun, merawat, dan memberi manfaat bagi sesama, tanpa pamrih, tanpa lelah, tanpa berhenti di tengah jalan.

Napak Tilas Perjuangan Veteran Banyuwangi


Menyelami Kisah Para Pejuang Veteran

Di tengah gegap gempita peringatan Hari Veteran Nasional ke-68 dan menyambut Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-80, sekelompok anak muda dari Perkumpulan Komunitas Gotong Royong 45 bersama beberapa jurnalis Media pemberitaan Online, Penerbit dan Podcaster melakukan sebuahkegiatan yang tak biasa. Bukan sekadar kunjungan atau perjalanan formal, melainkan sebuah upaya menyentuh langsung denyut nadi sejarah melalui para pelakunya—dua sosok veteran Banyuwangi, IGB Sudharma dan Mayor Saimah, S.Hub. Int.

Sebelumnya, rombongan juga telah menyambangi dua perempuan tangguh, Chasiastoetie (85) dan Wahyuni Oneng (89), istri para pejuang yang telah berpulang. Mereka adalah bagian dari sejarah yang seringkali terlupakan—para perempuan yang mendampingi, mendukung, dan turut merasakan getirnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Dialog dengan Sang Petarung: IGB Sudharma dan Kenangan yang Tak Pernah Pudar

Di kediamannya yang sederhana di Perumahan Kalipuro Asri, IGB Sudharma menyambut tamu-tamunya dengan senyum hangat. Namun, sorot matanya masih tajam, mengingatkan kita pada seorang prajurit yang pernah berdiri di garis depan. Dipandu oleh Kang Heri Iskandar, pria yang pernah bertugas di Timor Timur ini membuka lembaran kenangan yang penuh dengan heroisme dan pengorbanan.

"Saat itu, kami bukan hanya berperang melawan musuh, tapi juga melawan rasa takut dan lelah," ujarnya, sambil menunjukkan bekas luka di lengannya—sebuah tanda nyata dari pengabdiannya.

Yang menarik, di balik sosoknya yang tegas, tersimpan jiwa seni yang mendalam. Ia bukan hanya jago bela diri, melainkan juga seorang penyair. Saat membacakan puisinya, Balada Seorang Veteran, suaranya bergetar. Puisi itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan ruh dari setiap malam yang dihabiskannya di medan perang, di antara desing peluru dan dinginnya bumi pengasingan.


Mayor Saimah: Perempuan Besi dengan Hati yang Lembut

Perjalanan berlanjut ke kediaman Mayor Saimah, seorang veteran perempuan yang membuktikan bahwa dunia militer bukan hanya dominasi laki-laki. Dengan seragam kebanggaannya, ia bercerita tentang pengalamannya sebagai bagian dari Satgas Indobat XXIII-H Unifil di Lebanon dan UN Military Staff di Afrika Tengah. Tak hanya itu, ia juga pernah menjadi ajudan dari Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono.

Tapi siapa sangka, di balik ketegasannya, Saimah adalah seorang penari dan penulis puisi. Ia membacakan karyanya, Masa Transisi, dengan lantang namun penuh perasaan. "Kami berjuang bukan untuk disebut pahlawan, tapi agar generasi setelah kami bisa hidup damai," katanya.

Tak hanya itu, ia juga mengabdikan diri di dunia kesehatan dengan mengelola klinik terapi. "Pengabdian tidak harus selalu dengan senjata," ujarnya.



Mengabadikan Cerita, Menyalakan Api Semangat

Kegiatan ini bukan sekadar seremonial. Para jurnalis dan podcaster yang turut serta diharapkan bisa menjadi corong, menyebarkan kisah-kisah ini ke seluruh penjuru negeri. Seperti kata Bung Aguk, Ketua Komunitas Gotong Royong 45, "Veteran adalah buku sejarah yang berjalan. Tugas kita adalah membuka halamannya, membacanya, dan meneruskannya kepada generasi mendatang."

Di akhir acara, pekik "Merdeka!" menggema, bukan sebagai slogan kosong, melainkan sebagai pengingat bahwa kemerdekaan ini dibangun di atas pengorbanan yang nyata. Dan hari itu, di Banyuwangi, sejarah tidak hanya dikenang—tetapi dihidupkan kembali. (AW/AWN/AF)

 




Lima Orang Pemenang Judol yang Akan Dipidana

 Lima Orang Pemenang Judol yang Akan Dipidana

Oleh : Lensa Banyuwangi 

Saya tidak tahu siapa yang pertama kali merekam mereka. Lima orang itu. Diarak dari gedung yang dingin ke mobil tahanan yang catnya sudah kusam. Wajah mereka seperti halaman buku yang tak lagi dibaca: ada yang kosong, ada yang kusut, ada yang penuh coretan nasib.

Media menyebut mereka “peretas judi online yang merugikan bandar.” Saya berhenti di kata “merugikan bandar.” Seperti ada humor gelap yang disisipkan Tuhan di situ. Bukankah bandar selalu menang? Bagaimana bisa ada orang yang merugikannya?

Mungkin saya terlalu banyak menonton film. Dalam film-film itu, bandar adalah tokoh yang kebal peluru, kebal hukum, kebal waktu. Ia seperti raja di negeri yang tak terpetakan. Kita tidak tahu di mana ia tinggal, tidak tahu wajahnya, tapi semua orang tahu kekuasaannya nyata. Orang yang kalah padanya tidak pernah berpikir untuk melapor. Mereka menerima kekalahan seperti menerima musim hujan—basah, dingin, tapi wajar.

Namun lima orang ini berbeda. Mereka bukan penjudi biasa. Mereka seperti pemburu yang masuk ke hutan, mencari celah dalam pagar, dan menemukan jalan rahasia yang membawa mereka langsung ke dapur istana. Mereka mengambil sesuatu di sana—entah uang, entah kebanggaan bandar—dan kabur. Lalu, seperti dalam semua kisah yang sudah diatur, mereka tertangkap.

Polisi bilang mereka bisa melacak lima orang ini dengan teknologi. Saya percaya. Teknologi adalah mata-mata yang tak pernah tidur. Ia bisa masuk ke ponsel Anda, komputer Anda, bahkan ke mimpi Anda. Tapi anehnya, mata-mata itu hanya tajam ke arah tertentu. Ia bisa melihat para peretas yang merugikan bandar, tapi tidak bisa melihat bandar itu sendiri.

Saya bertanya-tanya: bandar ini sebenarnya siapa? Apakah ia manusia biasa dengan rekening di bank lokal? Apakah ia organisasi yang punya kantor seperti perusahaan, lengkap dengan meja resepsionis dan mesin fotokopi? Ataukah ia sekadar nama yang bersembunyi di balik layar server di negeri yang jauh? Polisi bilang mereka tidak mengenalnya. Tapi entah mengapa mereka selalu tahu pencurinya. 


Di warung kopi, seorang teman saya tertawa kecil mendengar berita itu. “Kalau begitu, kita bisa bikin laporan juga. Lapor ke polisi karena kita kalah judi.” Ia mengucapkannya sambil menyendok gula, seperti bicara hal yang sangat wajar. “Kita dirugikan, sama seperti bandar itu dirugikan.”

Saya membayangkan betapa absurdnya pemandangan itu: orang-orang berbaris di kantor polisi, membawa bukti tangkapan layar saldo mereka yang habis. “Pak, saya dirugikan secara sistematis. Saya sudah setahun main, tak pernah menang.” Polisi mungkin akan tertawa, atau mungkin akan menatap mereka seperti menatap anak-anak yang mengadu kehilangan layang-layang di musim hujan.

Tapi bukankah logikanya sama? Kalau bandar bisa melapor karena dirugikan, kenapa pemain yang kalah tidak? Perbedaan utamanya adalah arah kekuasaan. Bandar punya nama yang tak terlihat tapi berat, sedangkan penjudi hanya punya nama di KTP.

Saya tidak ingin membela lima orang itu. Saya juga tidak ingin membela bandar. Saya hanya resah melihat cara dunia menimbang keadilan. Timbangan itu seperti milik pasar tradisional yang sudah karatan: jarum penunjuknya condong sebelum barang diletakkan. Kita yang melihatnya hanya bisa mengernyit, lalu kembali ke pekerjaan masing-masing.

Ada orang yang percaya bahwa setiap ketidakadilan akan dibalas suatu hari nanti. Balasannya tidak selalu datang di dunia. Bisa jadi datang di tempat yang kita tidak tahu arahnya, tidak tahu bentuknya. Di situlah letak kesabaran yang paling sulit: menunggu keadilan yang tidak kita tahu kapan datangnya.

Tapi sementara itu, dunia terus berjalan. Judi online terus berputar, seperti kipas angin yang berdecit tapi tak pernah berhenti. Orang-orang kalah setiap hari. Sebagian menerima kekalahan itu dengan pasrah, sebagian mencoba mengakali sistem. Dan seperti yang sudah-sudah, mereka yang mencoba mengakali akan menjadi berita, sedangkan yang menguasai sistem tetap menjadi bayangan di balik layar.

Saya ingat, suatu kali, seorang kawan bercerita tentang pamannya yang kecanduan judi. Bukan judi online, tapi judi kartu di kampung. Pamannya sering kalah, tapi terus bermain. “Dia bilang, sekali saja menang besar, dia akan berhenti,” kata kawan saya. Tapi kemenangan itu tidak pernah datang. Pamannya meninggal dengan utang yang lebih besar daripada semua kemenangan kecil yang pernah ia dapat.

Bedanya, di kampung, bandar judi itu orang yang kita kenal. Kita tahu rumahnya, tahu motornya, bahkan tahu ia suka makan pecel di warung siapa. Tapi tidak ada yang melaporkannya. Sebab di kampung, melapor sama saja dengan memutuskan untuk hidup tanpa teman. Di kota, atau di dunia maya, bentuknya lebih rumit. Kita bahkan tidak tahu siapa yang harus dilaporkan.

Mungkin itu sebabnya, setiap kali saya membaca berita seperti ini, saya hanya bisa tersenyum hambar. Dunia memang tidak dirancang untuk adil kepada semua orang. Ada yang dilindungi oleh undang-undang, ada yang dilindungi oleh jarak. Ada yang bisa ditangkap hanya dengan jejak digital, ada yang tetap bebas walau seluruh dunia tahu perbuatannya.

Lima orang itu, sekarang, mungkin sedang duduk di sel yang dingin. Mereka mungkin menyesal, mungkin tidak. Bandar itu, entah di mana, mungkin sedang tertawa kecil sambil menghitung keuntungan hari ini. Dan kita, penonton yang duduk di rumah, hanya bisa menatap layar dan bertanya dalam hati: sampai kapan Tuhan akan diam?

Sebab kalau ada satu hal yang membuat saya gelisah, itu adalah keheningan. Keheningan yang panjang, yang membuat kita bertanya-tanya apakah kita sedang diuji, atau sedang diabaikan.


Banyuwangi Creative Market Beri Voucher Spesial Bagi Warga yang Lahir di Bulan Agustus

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Banyuwangi Creative Market (BCM) Taman Blambangan memberikan kejutan spesial di bulan Agustus. Bagi pengunjung yang lahir di bulan ini, panitia memberikan voucher belanja senilai Rp15.000 yang berlaku sepanjang bulan Agustus di BCM Taman Blambangan. 


Koordinator BCM, Rahmat, menyampaikan bahwa program ini merupakan wujud rasa memiliki bangsa Indonesia sekaligus memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan RI. “Dengan adanya voucher ini, kami berharap Banyuwangi Creative Market terus jaya. Para pedagang sepakat, demi pelanggan, mereka akan tetap berjualan setiap Minggu pagi,” ujarnya, Minggu (…).

BCM Taman Blambangan buka setiap Minggu mulai pukul 05.00 hingga 10.00 WIB. Suasana yang teduh di area Taman Sri Tanjung membuat pengunjung bisa berolahraga sambil menikmati keindahan kota Banyuwangi, lalu berbelanja dengan nyaman.

Di lokasi ini terdapat ratusan pelaku UMKM yang menyajikan aneka jajanan sehat dengan harga terjangkau. Seluruh makanan diolah secara higienis, mengutamakan cita rasa, dan mengedepankan kepuasan pelanggan.


 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger