Pages

Napak Tilas Perjuangan Veteran Banyuwangi


Menyelami Kisah Para Pejuang Veteran

Di tengah gegap gempita peringatan Hari Veteran Nasional ke-68 dan menyambut Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-80, sekelompok anak muda dari Perkumpulan Komunitas Gotong Royong 45 bersama beberapa jurnalis Media pemberitaan Online, Penerbit dan Podcaster melakukan sebuahkegiatan yang tak biasa. Bukan sekadar kunjungan atau perjalanan formal, melainkan sebuah upaya menyentuh langsung denyut nadi sejarah melalui para pelakunya—dua sosok veteran Banyuwangi, IGB Sudharma dan Mayor Saimah, S.Hub. Int.

Sebelumnya, rombongan juga telah menyambangi dua perempuan tangguh, Chasiastoetie (85) dan Wahyuni Oneng (89), istri para pejuang yang telah berpulang. Mereka adalah bagian dari sejarah yang seringkali terlupakan—para perempuan yang mendampingi, mendukung, dan turut merasakan getirnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Dialog dengan Sang Petarung: IGB Sudharma dan Kenangan yang Tak Pernah Pudar

Di kediamannya yang sederhana di Perumahan Kalipuro Asri, IGB Sudharma menyambut tamu-tamunya dengan senyum hangat. Namun, sorot matanya masih tajam, mengingatkan kita pada seorang prajurit yang pernah berdiri di garis depan. Dipandu oleh Kang Heri Iskandar, pria yang pernah bertugas di Timor Timur ini membuka lembaran kenangan yang penuh dengan heroisme dan pengorbanan.

"Saat itu, kami bukan hanya berperang melawan musuh, tapi juga melawan rasa takut dan lelah," ujarnya, sambil menunjukkan bekas luka di lengannya—sebuah tanda nyata dari pengabdiannya.

Yang menarik, di balik sosoknya yang tegas, tersimpan jiwa seni yang mendalam. Ia bukan hanya jago bela diri, melainkan juga seorang penyair. Saat membacakan puisinya, Balada Seorang Veteran, suaranya bergetar. Puisi itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan ruh dari setiap malam yang dihabiskannya di medan perang, di antara desing peluru dan dinginnya bumi pengasingan.


Mayor Saimah: Perempuan Besi dengan Hati yang Lembut

Perjalanan berlanjut ke kediaman Mayor Saimah, seorang veteran perempuan yang membuktikan bahwa dunia militer bukan hanya dominasi laki-laki. Dengan seragam kebanggaannya, ia bercerita tentang pengalamannya sebagai bagian dari Satgas Indobat XXIII-H Unifil di Lebanon dan UN Military Staff di Afrika Tengah. Tak hanya itu, ia juga pernah menjadi ajudan dari Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono.

Tapi siapa sangka, di balik ketegasannya, Saimah adalah seorang penari dan penulis puisi. Ia membacakan karyanya, Masa Transisi, dengan lantang namun penuh perasaan. "Kami berjuang bukan untuk disebut pahlawan, tapi agar generasi setelah kami bisa hidup damai," katanya.

Tak hanya itu, ia juga mengabdikan diri di dunia kesehatan dengan mengelola klinik terapi. "Pengabdian tidak harus selalu dengan senjata," ujarnya.



Mengabadikan Cerita, Menyalakan Api Semangat

Kegiatan ini bukan sekadar seremonial. Para jurnalis dan podcaster yang turut serta diharapkan bisa menjadi corong, menyebarkan kisah-kisah ini ke seluruh penjuru negeri. Seperti kata Bung Aguk, Ketua Komunitas Gotong Royong 45, "Veteran adalah buku sejarah yang berjalan. Tugas kita adalah membuka halamannya, membacanya, dan meneruskannya kepada generasi mendatang."

Di akhir acara, pekik "Merdeka!" menggema, bukan sebagai slogan kosong, melainkan sebagai pengingat bahwa kemerdekaan ini dibangun di atas pengorbanan yang nyata. Dan hari itu, di Banyuwangi, sejarah tidak hanya dikenang—tetapi dihidupkan kembali. (AW/AWN/AF)

 




Lima Orang Pemenang Judol yang Akan Dipidana

 Lima Orang Pemenang Judol yang Akan Dipidana

Oleh : Lensa Banyuwangi 

Saya tidak tahu siapa yang pertama kali merekam mereka. Lima orang itu. Diarak dari gedung yang dingin ke mobil tahanan yang catnya sudah kusam. Wajah mereka seperti halaman buku yang tak lagi dibaca: ada yang kosong, ada yang kusut, ada yang penuh coretan nasib.

Media menyebut mereka “peretas judi online yang merugikan bandar.” Saya berhenti di kata “merugikan bandar.” Seperti ada humor gelap yang disisipkan Tuhan di situ. Bukankah bandar selalu menang? Bagaimana bisa ada orang yang merugikannya?

Mungkin saya terlalu banyak menonton film. Dalam film-film itu, bandar adalah tokoh yang kebal peluru, kebal hukum, kebal waktu. Ia seperti raja di negeri yang tak terpetakan. Kita tidak tahu di mana ia tinggal, tidak tahu wajahnya, tapi semua orang tahu kekuasaannya nyata. Orang yang kalah padanya tidak pernah berpikir untuk melapor. Mereka menerima kekalahan seperti menerima musim hujan—basah, dingin, tapi wajar.

Namun lima orang ini berbeda. Mereka bukan penjudi biasa. Mereka seperti pemburu yang masuk ke hutan, mencari celah dalam pagar, dan menemukan jalan rahasia yang membawa mereka langsung ke dapur istana. Mereka mengambil sesuatu di sana—entah uang, entah kebanggaan bandar—dan kabur. Lalu, seperti dalam semua kisah yang sudah diatur, mereka tertangkap.

Polisi bilang mereka bisa melacak lima orang ini dengan teknologi. Saya percaya. Teknologi adalah mata-mata yang tak pernah tidur. Ia bisa masuk ke ponsel Anda, komputer Anda, bahkan ke mimpi Anda. Tapi anehnya, mata-mata itu hanya tajam ke arah tertentu. Ia bisa melihat para peretas yang merugikan bandar, tapi tidak bisa melihat bandar itu sendiri.

Saya bertanya-tanya: bandar ini sebenarnya siapa? Apakah ia manusia biasa dengan rekening di bank lokal? Apakah ia organisasi yang punya kantor seperti perusahaan, lengkap dengan meja resepsionis dan mesin fotokopi? Ataukah ia sekadar nama yang bersembunyi di balik layar server di negeri yang jauh? Polisi bilang mereka tidak mengenalnya. Tapi entah mengapa mereka selalu tahu pencurinya. 


Di warung kopi, seorang teman saya tertawa kecil mendengar berita itu. “Kalau begitu, kita bisa bikin laporan juga. Lapor ke polisi karena kita kalah judi.” Ia mengucapkannya sambil menyendok gula, seperti bicara hal yang sangat wajar. “Kita dirugikan, sama seperti bandar itu dirugikan.”

Saya membayangkan betapa absurdnya pemandangan itu: orang-orang berbaris di kantor polisi, membawa bukti tangkapan layar saldo mereka yang habis. “Pak, saya dirugikan secara sistematis. Saya sudah setahun main, tak pernah menang.” Polisi mungkin akan tertawa, atau mungkin akan menatap mereka seperti menatap anak-anak yang mengadu kehilangan layang-layang di musim hujan.

Tapi bukankah logikanya sama? Kalau bandar bisa melapor karena dirugikan, kenapa pemain yang kalah tidak? Perbedaan utamanya adalah arah kekuasaan. Bandar punya nama yang tak terlihat tapi berat, sedangkan penjudi hanya punya nama di KTP.

Saya tidak ingin membela lima orang itu. Saya juga tidak ingin membela bandar. Saya hanya resah melihat cara dunia menimbang keadilan. Timbangan itu seperti milik pasar tradisional yang sudah karatan: jarum penunjuknya condong sebelum barang diletakkan. Kita yang melihatnya hanya bisa mengernyit, lalu kembali ke pekerjaan masing-masing.

Ada orang yang percaya bahwa setiap ketidakadilan akan dibalas suatu hari nanti. Balasannya tidak selalu datang di dunia. Bisa jadi datang di tempat yang kita tidak tahu arahnya, tidak tahu bentuknya. Di situlah letak kesabaran yang paling sulit: menunggu keadilan yang tidak kita tahu kapan datangnya.

Tapi sementara itu, dunia terus berjalan. Judi online terus berputar, seperti kipas angin yang berdecit tapi tak pernah berhenti. Orang-orang kalah setiap hari. Sebagian menerima kekalahan itu dengan pasrah, sebagian mencoba mengakali sistem. Dan seperti yang sudah-sudah, mereka yang mencoba mengakali akan menjadi berita, sedangkan yang menguasai sistem tetap menjadi bayangan di balik layar.

Saya ingat, suatu kali, seorang kawan bercerita tentang pamannya yang kecanduan judi. Bukan judi online, tapi judi kartu di kampung. Pamannya sering kalah, tapi terus bermain. “Dia bilang, sekali saja menang besar, dia akan berhenti,” kata kawan saya. Tapi kemenangan itu tidak pernah datang. Pamannya meninggal dengan utang yang lebih besar daripada semua kemenangan kecil yang pernah ia dapat.

Bedanya, di kampung, bandar judi itu orang yang kita kenal. Kita tahu rumahnya, tahu motornya, bahkan tahu ia suka makan pecel di warung siapa. Tapi tidak ada yang melaporkannya. Sebab di kampung, melapor sama saja dengan memutuskan untuk hidup tanpa teman. Di kota, atau di dunia maya, bentuknya lebih rumit. Kita bahkan tidak tahu siapa yang harus dilaporkan.

Mungkin itu sebabnya, setiap kali saya membaca berita seperti ini, saya hanya bisa tersenyum hambar. Dunia memang tidak dirancang untuk adil kepada semua orang. Ada yang dilindungi oleh undang-undang, ada yang dilindungi oleh jarak. Ada yang bisa ditangkap hanya dengan jejak digital, ada yang tetap bebas walau seluruh dunia tahu perbuatannya.

Lima orang itu, sekarang, mungkin sedang duduk di sel yang dingin. Mereka mungkin menyesal, mungkin tidak. Bandar itu, entah di mana, mungkin sedang tertawa kecil sambil menghitung keuntungan hari ini. Dan kita, penonton yang duduk di rumah, hanya bisa menatap layar dan bertanya dalam hati: sampai kapan Tuhan akan diam?

Sebab kalau ada satu hal yang membuat saya gelisah, itu adalah keheningan. Keheningan yang panjang, yang membuat kita bertanya-tanya apakah kita sedang diuji, atau sedang diabaikan.


Banyuwangi Creative Market Beri Voucher Spesial Bagi Warga yang Lahir di Bulan Agustus

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Banyuwangi Creative Market (BCM) Taman Blambangan memberikan kejutan spesial di bulan Agustus. Bagi pengunjung yang lahir di bulan ini, panitia memberikan voucher belanja senilai Rp15.000 yang berlaku sepanjang bulan Agustus di BCM Taman Blambangan. 


Koordinator BCM, Rahmat, menyampaikan bahwa program ini merupakan wujud rasa memiliki bangsa Indonesia sekaligus memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan RI. “Dengan adanya voucher ini, kami berharap Banyuwangi Creative Market terus jaya. Para pedagang sepakat, demi pelanggan, mereka akan tetap berjualan setiap Minggu pagi,” ujarnya, Minggu (…).

BCM Taman Blambangan buka setiap Minggu mulai pukul 05.00 hingga 10.00 WIB. Suasana yang teduh di area Taman Sri Tanjung membuat pengunjung bisa berolahraga sambil menikmati keindahan kota Banyuwangi, lalu berbelanja dengan nyaman.

Di lokasi ini terdapat ratusan pelaku UMKM yang menyajikan aneka jajanan sehat dengan harga terjangkau. Seluruh makanan diolah secara higienis, mengutamakan cita rasa, dan mengedepankan kepuasan pelanggan.


Pemkab Banyuwangi Kembali Raih Penghargaan Kabupaten Layak Anak Kategori Nindya


BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kabupaten Banyuwangi kembali meraih predikat Kabupaten Layak Anak (KLA) Kategori Nindya dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA). Penghargaan ini diserahkan Wakil Menteri PPPA Veronica Tan bersama Kepala BNPT Komjen Pol Eddy Hartono, dan diterima Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Banyuwangi Henik Setyorini, di Auditorium KH. M. Rasjidi Kementerian Agama RI, Jakarta, Jumat malam (8/8/2025). 

Capaian ini menandai keberhasilan Banyuwangi mempertahankan predikat Nindya selama dua tahun berturut-turut. Penilaian Kemen PPPA diberikan atas komitmen pemerintah daerah mewujudkan lingkungan aman, nyaman, dan ramah bagi tumbuh kembang anak.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut penghargaan tersebut sebagai hasil kerja kolektif berbagai pihak. “Kita bersyukur upaya menciptakan ruang nyaman bagi tumbuh kembang anak mendapat apresiasi. Ini adalah komitmen bersama menjadikan Banyuwangi semakin ramah anak,” ujarnya, Sabtu (9/8/2025).

Ipuk menegaskan, kontribusi pemerintah, sekolah, masyarakat, dunia usaha, TNI-Polri, hingga peran aktif orang tua menjadi faktor kunci. Pemkab, lanjutnya, terus menghadirkan program berpihak pada anak seperti penyediaan fasilitas publik ramah anak, pemerataan akses pendidikan dan kesehatan, serta pengembangan ruang kreatif untuk partisipasi anak.

“Kami juga aktif membuka konsultasi bagi anak dan remaja untuk menjaga kesehatan mental mereka, rutin menggelar musrenbang anak, serta menindaklanjuti aspirasi dan rekomendasi yang mereka sampaikan,” kata Ipuk.

Bupati Banyuwangi itu mengajak seluruh elemen masyarakat berperan menciptakan lingkungan ramah anak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga ruang publik. “Ini tanggung jawab bersama. Semua pihak harus terlibat agar daerah kita benar-benar layak anak,” tegasnya.


Menjadi Intelektual Organik di Tengah Keterbatasan: Refleksi atas Pengalaman Bersama ISNU

 

Menjadi Intelektual Organik di Tengah Keterbatasan: Refleksi atas Pengalaman Bersama ISNU

Oleh: Syafaat

Ada banyak organisasi yang bisa diikuti oleh mereka yang pernah mencicip bangku kuliah. Ikatan alumni, baik alumni kampus mapun alumni organisasi ekstra kampus, organisasi masyarakat keagamaan. Beberapa memilih Muhammadiyah, sebagian memilih Nahdlatul Ulama atau yang lain. Sebagian lagi hanya menjadi penonton, menepi dari segala keramaian, dan memilih membaca sunyi.

Tapi bagi aparatur sipil negara, ada batas tipis yang harus dijaga. Panggilan organisasi tak boleh membuat tugas utama terbengkalai. Di meja kerja, laporan harus disusun. Data keagamaan harus diverifikasi. Warga datang dengan urusan pernikahan, perceraian, warisan, hingga anak-anak yang putus sekolah. Tugas-tugas itu tak mengenal musim. Tak ada spanduk, tak ada panggung, tak ada kamera. Tapi semua harus selesai. Dalam situasi seperti itu, organisasi keilmuan menjadi semacam jalan samping yang sunyi, tempat orang-orang berpaling sejenak untuk menyusun ulang makna. Salah satunya adalah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)

Tidak banyak yang tahu bagaimana ISNU bekerja di daerah. Tidak ada kantor permanen. Rapat kadang di warung kopi. Agenda pelatihan disusun lewat pesan singkat. Tapi justru di tengah keterbatasan semacam itu, kerja-kerja intelektual menemukan ruangnya yang paling otentik. Tidak ada yang mengejar panggung. Tidak ada yang sibuk mengejar pujian. Pengurus ISNU adalah para guru, dosen, ASN, peneliti muda, dan mahasiswa pascasarjana yang pulang kampung. Mereka tak pernah diberi gaji bulanan. Tapi setiap pekan, mereka datang: memberi pelatihan literasi, menyusun modul moderasi beragama, menjadi narasumber untuk forum kecil, menyambangi sekolah-sekolah yang nyaris dilupakan.

Di tangan mereka, ilmu tak hanya berada di ruang kelas. Ilmu menjelma menjadi suara yang menenangkan anak-anak muda. Menjadi nasihat yang bisa dipahami oleh petani. Menjadi semangat bagi ibu-ibu yang sedang membuka kelompok belajar. Ilmu, di sini, bukan untuk menara gading, tapi untuk jalanan desa yang tak beraspal. Antonio Gramsci pernah menyebut tentang "intelektual organik",  mereka yang tidak terpisah dari masyarakat, melainkan tumbuh bersama denyut nadinya. Dalam tubuh ISNU, istilah itu mendapat wajahnya yang baru. Tidak perlu nama besar. Tidak perlu pidato hebat. Cukup dengan kehadiran yang konsisten, bahkan dalam bentuk yang paling sederhana.

Pierre Bourdieu menyebut kerja semacam ini sebagai bagian dari habitus. Tidak spektakuler, tidak viral, tapi terus-menerus mengakar. Kapital kultural yang lahir dari proses seperti itu tak selalu dicatat dalam jurnal ilmiah. Tapi bisa ditemukan dalam cara orang mendengar, cara mereka berubah, cara mereka mulai berani berbicara di depan forum. Ilmu yang dikejar demi ranking dan pengakuan cenderung mudah kering. Tapi ilmu yang dipraktikkan dalam kesunyian, justru tumbuh menjadi akar yang kuat. Dalam pelatihan-pelatihan ISNU, materi disampaikan dengan spidol yang mulai pudar. Slide presentasi diputar dengan laptop pinjaman. Tapi tak ada yang mengeluh. Karena yang dibangun bukan citra, melainkan kesadaran.

Banyak orang sibuk m


engejar publikasi. Sibuk menulis untuk jurnal yang tak pernah dibaca oleh petani atau guru madrasah. Tapi di ruang kecil tempat ISNU bekerja, ilmu menjelma menjadi diskusi tentang pola asuh, tentang ekonomi keluarga, tentang ketahanan pangan. Mereka tidak bicara tentang teori besar. Tapi membahas bagaimana cara menghidupkan kembali kelompok tani, atau membangun rumah baca di mushola. Di dunia yang dikuasai algoritma, kerja semacam ini dianggap pinggiran. Tapi justru dari pinggiranlah kehidupan sering dimulai. Dari obrolan setelah isya, dari pertemuan tak resmi di emperan kantor, dari sapaan kepada anak-anak sekolah yang pulang jalan kaki. ISNU tidak dibangun dengan semangat korporasi. Tapi dengan keikhlasan yang kadang sulit dinalar.

Banyak organisasi yang lahir untuk menjadi besar. Tapi ISNU tumbuh pelan-pelan. Kadang hanya dua orang yang datang ke rapat. Kadang harus patungan membeli air mineral untuk peserta pelatihan. Tapi yang sedikit itu pun tetap berjalan. Karena dalam dunia kerja sunyi, ukuran bukan pada jumlah, tapi pada keberlanjutan.

Tugas aparatur sipil negara tidak pernah mudah. Di satu sisi ada target administrasi, di sisi lain ada kebutuhan masyarakat yang tak bisa dibaca dengan angka. Di tengah itu, ISNU hadir sebagai jembatan. Bukan untuk menghindari tanggung jawab, tapi untuk memperluas medan pengabdian. Tugas negara tetap dijalankan. Tapi setelah jam kerja, pengabdian kepada ilmu dilanjutkan. Tak ada honor, tak ada liputan, tak ada tepuk tangan. Hanya secangkir kopi dan wajah-wajah yang tetap datang malam-malam.

Sudah saatnya negara membuka mata. Ada banyak kerja intelektual yang tak terindeks dalam Google Scholar, tapi nyata dampaknya. Ada banyak pengabdian yang tak tertulis dalam laporan proyek, tapi mengubah hidup orang. Negara seharusnya hadir bukan hanya sebagai pemberi perintah, tapi juga pelindung ruang-ruang kecil tempat ilmu dikerjakan dengan cinta.

Tak banyak yang tahu bahwa para sarjana Nahdlatul Ulama tidak hanya sibuk di balik meja kerja atau podium seminar. Ada sekelompok orang yang percaya bahwa pengetahuan yang mereka miliki sebaiknya tidak sekadar diabadikan dalam makalah akademik atau catatan kaki tesis. Mereka memilih jalan yang lebih sunyi: menyusun program, membangun skema pemberdayaan, dan perlahan menyusuri jalan terjal menuju perubahan yang lebih nyata. mereka memberi nama pada arah langkah itu: pemberdayaan sumber daya manusia NU, transformasi digital, dan penguatan ekonomi umat. Tujuannya bukan sekadar menggugurkan kewajiban organisasi. Ada angan yang lebih jauh dari itu: ikut serta menyiapkan Indonesia Emas 2045.

Maka bergeraklah mereka, menyusun satu demi satu program. Ada Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKM-NU) yang coba memetakan ulang harapan keluarga-keluarga NU di tengah gelombang zaman yang cepat berubah. Ada juga upaya menghadirkan koperasi tani berbasis pesantren, sebuah gagasan lama yang selalu tampak baru bila dilihat dari sisi yang tepat. Transformasi digital tak sekadar menjadi istilah yang digantungkan di spanduk seminar. Ia diterjemahkan ke dalam pelatihan, platform, dan kanal distribusi yang memberi ruang lebih luas bagi warga NU untuk menyusuri dunia digital tanpa kehilangan akar.

Di sisi lain, ada pula pendampingan kewirausahaan pangan yang lebih bersifat mendekatkan, bukan menggurui. Mereka duduk bersama para pelaku kecil dan menengah, mencoba memahami alur kerja mereka, mencatat kebutuhan, lalu menyambungkan dengan akses permodalan. Seringkali, yang dibutuhkan bukanlah dana besar, melainkan pintu yang terbuka. ISNU tak hendak bekerja dalam diam sepenuhnya, para sarjana ini tampak tenang. Mereka tahu bahwa kerja kebudayaan dan pemberdayaan tak akan pernah selesai. Mereka juga sadar, bahwa yang dibangun bukan sekadar program kerja, tetapi daya tahan. Sebab yang akan datang nanti bukan sekadar masa depan, melainkan masa depan yang menuntut kesiapan dari sekarang.

Dukungan tak harus berupa anggaran besar. Kadang cukup dengan pengakuan. Dengan ruang. Dengan tidak mencurigai mereka yang aktif di organisasi keilmuan. Dengan memberi waktu luang yang tak dihitung dengan curiga. Aparatur sipil negara adalah manusia juga. Mereka butuh saluran untuk berpikir, untuk menulis, untuk mengajar. Karena jika tidak, birokrasi akan jadi kuburan bagi potensi. Dalam kerja-kerja ISNU, yang dicari bukan kehormatan, melainkan kebermanfaatan. Bukan status, melainkan jejak. Kadang hanya satu anak muda yang berubah setelah ikut pelatihan. Tapi dari satu itu, lahir perubahan lain. Seperti benih kecil yang disimpan di tanah tandus, dan tiba-tiba tumbuh setelah hujan pertama turun.

Dan di dunia yang makin penuh suara ini, kadang yang dibutuhkan hanyalah ruang tenang. Tempat orang bisa berpikir tanpa tekanan. Tempat orang bisa berbagi ilmu tanpa pamer. Tempat orang bisa merasa berguna tanpa harus menjadi bintang, di tempat seperti itu, bukan sekadar organisasi. Ia adalah cara untuk tetap waras. Untuk tetap percaya bahwa ilmu bisa mengubah hidup. Bahwa pengabdian tidak harus menunggu jabatan. Dan bahwa menjadi manusia yang berguna tak selalu butuh mikrofon.

Ada kerja-kerja yang tak terlihat. Tapi bukan berarti tak bermakna. Di ruang-ruang itu, cahaya dijaga. Ditiup perlahan agar tidak padam. Dan dalam diam, orang-orang itu terus berjalan, menjadi penjaga cahaya, meski tak pernah disebut namanya.

Penulis adalah ASN Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

Tasyakuran Setahun Madrasah Diniyah Takmiliyah SMPN 3 Rogojampi


Mengenang setahun program inovasi Madrasah Diniyah (Madin) Takmiliyah diperingati pada Hari Kamis, 7 Agustus 2025,ditandai doa bersama warga sekolah dan tumpengan di gazebo SMPN 3 Rogojampi. 

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi yang diwakili Kabid SMP Didik Eko Wahyudi, S. Pd yang sempat jadi Plt Kepala SMPN 3 Rogojampi  yang melaunching inovasi literasi Al-Qur'an yang pertama untuk sekolah menengah pertama negeri di Kab.Banyuwang pada Tanggal 7 Agustus 2024 itu disaksikan pengawas H.M.Hasan, S. Ag. M. Pd. I dan segenap pengurus Komite maupun guru dan tenaga kependidikan berikut murid kelas 7 yang kini naik ke kelas 8 yang beragama Islam masih tetap tiap hari Selasa, Rabu dan Kamis jam ke nol mempelajari kitab Suci Al-Qur'an serta doa sehari-hari terlebih doa untuk orang tua. Dan untuk tahun ini ditambahi sholat dhuhur berjamaah plus iqro' bagi yang halangan hadir pada jam ke nol. 

Direktur Madin Takmiliyah, Muslih, S. Ag sampaikan usai   MPLS Dewan Assatidz sejumlah 17 orang telah melakukan tes kemampuan yang hasilnya 50 anak sama sekali tak tahu huruf dan angka hijaiyah, 35 anak agak bisa baca juz amma serta 106 anak relatif lancar baca Al-Qur'an. Maka dari pemetaan itu sebagai dasar untuk masuk kelas Ula, Wustho dan Ulya. "Alhamdulillah dalam perjalanan setahun ini ada peningkatan kemampuan BTS serta ada prestasi qiroah di Festival Anak Sholeh, dapat apresiasi juara 1 SRC Kemenag Kabupaten  Banyuwangi sebagai sekolah yang menerapkan budaya religius serta dapat hibah 600 Al-Qur'an dari Yayasan Al-Fatihah Semarang! ' tutur Direktur yang juga Wakasek Kesiswaan ini seraya menyitir ayat barang siapa bersyukur maka Allah akan menambah nikmat-Nya. 

Plt Kepala SMPN 3 Rogojampi Dra. Hj. Sri Utami sampaikan bila Madin  Takmiliyah sesuai visi sekolah yakni Berakhlak mulia, berprestasi dan berbudaya. Dan umumnya di fase jelang remaja anak malu untuk mengaji di kampungnya. "Maka program Madin jadi solusi untuk bekal sukses dunia akherat. Dan penerapan keyakinan sekolah bareng tim BK jadi lebih sinergi arahkan perilaku anak didik yang berkarakter! " tutur guru  matematika yang putra-putrinya ada yang jadi dokter dan calon guru ikuti jejak orangtuanya. 


Sementara itu Ketua Komite Ir Isnain berharap lulus dari Sempega harus bisa baca Al-Qur'an bagi yang muslim serta lanjutkan hingga lulus SMA/SMK/MA. Dan orangtua siap mendukung shodaqoh infaq buat pendidikan yang  keberkahan ilmu, berbudi luhur serta berorientasi kebahagian dunia akherat. "Kami berpesan buat guru dan ustadz untuk sabar, ikhlas serta jangan sampai emosi  hingga lakukan kekerasan apalagi dendam saat membimbing dan mengajar peserta didik! " tukas purnatugas guru MTsN 10 ini sembari senyum dengan pesan juga Madin laksana Taman yang menyenangkan dan bergabung ke Lembaga Pembinaan  dan Pengembangan Taman Pendidikan Al-Qur'an-BKPRMI yang jadi binaan DMI dan MUI. (Aguk/YC/JN-SW)

Rumah yang Bernama Indonesia

Rumah yang Bernama Indonesia

oleh : Syafaat 

Tidak ada rumah yang sempurna. Bahkan rumah yang dibangun dengan cinta pun bisa bocor di musim hujan. Gentengnya bisa bergeser, dindingnya bisa retak, lantainya bisa menjadi dingin saat malam tiba. Tapi rumah tetaplah rumah. Tempat kau kembali setelah dunia terlalu gaduh, tempat kau menyimpan luka dan tawa, tempat di mana bau kayu tua dan masakan ibu bertahan lebih lama dari ingatanmu sendiri.

Indonesia, rumah besar ini, tak pernah mengklaim dirinya sempurna. Ia hanya berdiri seadanya, dengan fondasi yang ditanam oleh peluh para petani dan darah para pemberontak yang menolak dijajah. Ia berdiri dari doa-doa ibu di lereng gunung dan dari air mata istri nelayan yang setiap pagi menatap laut tanpa tahu apakah suaminya akan pulang. Rumah ini kini sedang dalam masa yang tak mudah. Tapi bukan karena cintanya telah padam. Bukan pula karena tiangnya patah. Ia hanya sedang terlalu banyak dihuni oleh tangan yang lupa caranya menyapu halaman. Oleh mulut-mulut yang rajin menyalahkan, tapi enggan memungut sampah di depan pintu. Namun rumah tetaplah rumah. Kau boleh marah saat listrik padam. Boleh mengeluh saat harga beras melonjak dan suara rakyat tenggelam dalam rapat-rapat yang terlalu dingin karena pendingin ruangan. Tapi jangan pernah kau menjelekkan rumah ini di hadapan orang luar. Karena jika satu atap roboh, semua akan kehujanan. Jika satu dinding runtuh, kita semua akan kehilangan tempat bersandar. 


Korupsi, ketidakadilan, kerusakan lingkungan—itu bukan hanya isu. Itu adalah retakan kecil yang kadang tak kasatmata, tapi jika dibiarkan, bisa membuat temboknya roboh. Rumah ini tidak membutuhkan penghuni yang sempurna. Ia hanya butuh orang-orang yang tahu cara menambal dan membersihkan.

Di sudut-sudut negeri, ada orang-orang yang setiap hari menambal retakan itu dengan tangan kosong. Seorang ibu yang menenun di Flores, seorang anak yang menyusuri jalan berlumpur ke sekolah, seorang nelayan yang bertarung dengan gelombang agar ada nasi di piring malam nanti. Mereka bukan pahlawan di buku sejarah, tapi mereka adalah tiang-tiang yang tak pernah tumbang.

Indonesia bukan sekadar pulau-pulau. Ia adalah ruang batin. Tempat seorang Dayak duduk berdampingan dengan seorang Batak di bus malam, tempat seorang Madura menyeduhkan kopi untuk seorang Sunda yang baru datang dari kota. Kita tak perlu mengenal semua wajah, cukup mengenali bahwa kita sama-sama penghuni rumah yang sedang belajar saling mengerti. Dan seperti rumah mana pun, ia butuh dirawat. Butuh dipeluk. Bukan oleh kekuasaan, tapi oleh keikhlasan.

Ketika dunia semakin gaduh dan bangsa-bangsa saling melotot, rumah ini hanya ingin tenang. Ia tak meminta semua setuju, ia hanya ingin semua sadar bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menyingkirkan.

Banyak yang ingin rumah ini gagal. Dari luar dan dari dalam. Tapi harapan tidak pernah mati jika masih ada orang yang menyalakan lilin meski tahu malam akan panjang. Jika masih ada yang menatap merah-putih dengan mata yang basah, bukan karena sedih, tapi karena cinta yang terlalu dalam untuk dijelaskan dengan kalimat. Tidak perlu menjadi pahlawan. Cukup menjadi tetangga yang tahu kapan harus mengetuk pintu dan kapan harus membantu memperbaiki pagar. Rumah ini tidak akan utuh karena satu orang hebat, tapi karena semua orang saling menambal retaknya.

Kita dulu bangsa besar. Bukan karena senjata, bukan karena tambang, tapi karena semangat yang menyala di dada-dada yang nyaris tak punya apa-apa. Guru-guru berjalan kaki membawa buku, petani-petani menanam doa di sela benih, ibu-ibu melilitkan kain di tubuh anak-anaknya sambil mengajarkan sabar.

Saat dunia masih gelap oleh penjajahan, negeri ini memekikkan kemerdekaan. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk dunia. Kita menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika bukan untuk pamer diplomasi, tapi untuk menyatakan bahwa keadilan bisa dibicarakan, bahwa kemerdekaan bisa dijemput bukan hanya dengan peluru, tapi juga dengan puisi dan jabat tangan.

Negeri ini pernah mengirim guru ke negeri-negeri lain. Tanpa berharap balasan. Karena kita percaya, cahaya yang dibagi tidak membuat pelitiknya sendiri padam. Sekarang mungkin kita tertinggal. Jalan mereka lebih mulus, gedung mereka lebih tinggi, uang mereka lebih kuat. Tapi itu bukan akhir cerita. Sebab rumah bukan dinilai dari cat dindingnya, tapi dari bagaimana penghuninya menjaga nilai-nilai yang dibangun sejak awal. Masalah negeri ini bukan pada kekurangan, tapi pada lupa. Kita lupa bahwa rumah ini harus dijaga bersama. Kita mulai saling curiga, saling membandingkan, saling menyalahkan. Padahal rumah hanya ingin dihuni oleh mereka yang tahu cara saling menyapa.

Tapi belum terlambat. Dindingnya masih berdiri. Ada bunga yang baru tumbuh di pekarangan. Masih ada anak-anak yang menatap huruf pertama dengan mata berbinar. Masih ada remaja yang bisa menulis kode dan puisi dengan imajinasi yang lebih kaya dari APBN. Rumah ini belum habis. Yang kita butuhkan bukan pidato baru. Bukan jargon. Bukan perayaan dengan kembang api. Kita hanya butuh ingatan—bahwa kita pernah menyala, dan bisa menyala lagi.

Tidak perlu menjadi bangsa yang sempurna. Cukup menjadi keluarga yang tahu bagaimana cara menjaga rumah. Karena rumah ini, betapa pun retaknya, tetap milik kita. Dan jika kita bisa saling menjaga, pekerjaan berat pun bisa berubah menjadi ladang harapan. Yang pernah menyala, tak akan selamanya gelap. Asal ada yang rela meniup bara dengan sabar. Asal ada yang tahu bahwa rumah ini dibangun dari sabar, dari luka, dari doa-doa ibu yang tidak pernah lelah meski malam-malam makin sunyi.

Rumah ini indah. Bukan karena emas dan tambangnya. Tapi karena ia dihuni oleh orang-orang yang pernah bersumpah untuk saling menjaga. Namun sumpah itu sekarang terdengar seperti gema. Tak jelas. Tak bulat. Kadang sekadar seremonial yang diulang tanpa jiwa. Permata-permata itu masih ada. Tapi ia hanya bisa digali oleh tangan yang bersih dan niat yang jernih.

Dan rumah ini, yang dibangun oleh syuhada dan tangis diam para perempuan tua, tidak boleh dikelola dengan rakus. Jika rumah ini ladang, hasilnya harus bisa dimakan semua orang. Bukan hanya mereka yang memegang kunci gudang.

Masjid boleh megah. Tapi adzan harus tetap lebih nyaring dari suara mesin tambang. Al-Qur’an masih dibaca, tapi isinya harus sampai ke keputusan-keputusan penting. Sekolah agama jangan hanya ramai saat pagi, tapi harus menghidupkan kasih sayang dan keadilan sampai ke ruang sidang. Anak-anak rumah ini harus belajar menanam, bukan mencuri. Belajar memetik, bukan merampas.

Dan jika suatu saat mereka cukup dewasa, biarlah mereka menggali permata itu dengan dzikir, bukan dengan tipu daya. Sebab permata yang digali dengan dzikir akan bercahaya lebih lama daripada permata yang dicuri dalam gelap.

Rumah ini bukan milik kita semata. Ia adalah titipan masa lalu dan warisan masa depan. Maka jagalah ia sebagaimana kau menjaga tubuhmu: diberi makan yang baik, dibersihkan dari penyakit hati, dan dilindungi dari hawa nafsu yang membutakan. Karena rumah ini akan bertanya padamu kelak: Apa yang kau lakukan saat rumahmu hampir retak? Apakah kau memperbaiki, atau justru ikut menambahi retaknya?

Jika yang kau jawab adalah kebaikan, rumah ini akan tetap berdiri. Tidak hanya di bumi. Tapi juga di langit.

Karena rumah ini, meski letih, masih percaya pada cinta.
Dan cinta yang setia—akan selalu menemukan jalan untuk pulang.

.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger