Pages

Bimbingan Ibadah Haji Mandiri

Saya berziarah haji, bukan ke Tanah Suci, tapi ke rumah seorang sahabat lama selepas salat Isya. Rumahnya di perempatan jalan perumahan yang temaram, di mana lampu-lampu gantung menggantung tanpa semangat, dan kopi hitam diseduh tanpa banyak basa-basi, bersanding kurma, dan  air zamzam, bukan hanya aroma kopi yang menyerupai doa yang tak selesai.

Kami duduk bersisian di teras, seperti para lelaki yang tahu bahwa usia mengubah haluan cinta, dan persahabatan bukan lagi perihal bercerita panjang-panjang, tapi duduk diam sambil menyimak semesta lewat bunyi sendok beradu pelan di dasar gelas, yang paling penting saat ziarah haji bukanlan ceritanya, apalagi oleh-oleh yang tak seberapa. kita hanya butuh doa, butuh motivasi agar bisa kembali ke tanah misteri. 

Ia adalah teman satu fakultas saat kami belajar hukum. Sekarang berpangkat komisaris polisi. Tahun ini dia berangkat haji. Tapi pembicaraan kami tidak pernah benar-benar tentang ibadah sebagai teori. Ia lebih tertarik menceritakan tentang logistik, strategi lapangan, dan pengalaman menyiasati rute manusia yang tak tertebak, kita adalah sekumpulan laki-laki yang ketika berkumpul akan mengalir banyak cerita, tentang masa lalu atau masa sekarang.

"Saya ini polisi. Hari kerja itu kami sibuk tangani perkara," katanya soal alasannya memilih KBIHU ketimbang hanya bimbingan dari pemerintah. Bimbingan dari kementerian terlalu sering bentrok dengan jam dinas. Ia butuh sesuatu yang fleksibel, KBIHU melaksanakan bimbingan di hari libur, sehingga meskipun harus bayar tetapi kita bisa mengikutinya. dan ini merupakan resiko bagi kita yang tidak ingin meninggalkan tugas untuk mengkuti bimbingan, meskipun oleh pimpinan juga diizinkan, sehingga dia juga beberapa kali mengikuti bimbingan dari Kementerian Agama, karena bimbingan di Kementerian Agama lebih lengkap karena ada kurikulum yang wajib diterapkan.

Ia memilih KBIHU karena janjinya: pembimbing dari swasta akan ikut menyertai hingga ke Makkah dan Madinah. Saya tertawa kecil mendengarnya. Janji di tanah air memang indah. Tapi sejarah, seperti biasa, punya kehendaknya sendiri. 


Tahun 2025, sistem delapan syarikah resmi berlaku. Dan tiba-tiba haji bukan lagi rombongan kompak dari bandara ke hotel yang sama, tapi seperti serpihan mozaik yang dibuang angin: satu kloter bisa menginap di delapan titik hotel berbeda. Teman saya menginap di Misfalah. Pembimbing KBIHU-nya malah tinggal di Syisyah. Dua titik yang termialnya saja di Masjidil Haram terpisah satu setengah kilometer dan ribuan manusia.

"Itu bukan jalan pagi di taman kota," katanya. "Kadang seperti pasar, kadang seperti banjir." Maka pembimbing yang dijanjikan tidak pernah benar-benar bisa hadir. Dan janji yang dibungkus manis di tanah air meleleh di panasnya tanah suci, tertakdirkan oleh syarikah yang kurang memahami kondisi bangsa Indonesia yang bereda suku, meskipun kita sudah terbiasa dengan perbedaan suku dan budaya ketika di tanah air, tetapi butuh waktu panjang untuk menyesuaikannya.

Tapi sahabat saya bukan tipe orang yang mudah gelagapan. Ia terbiasa memimpin sektor kepolisian, menghadapi unjuk rasa dan massa yang kehilangan akal sehat. Ketika ditunjuk sebagai ketua rombongan, ia membentuk struktur kecil: ada yang memimpin salat, mengurus lansia, logistik, hingga komunikasi. Ia sendiri jadi semacam komandan lapangan. "Tawaf itu bukan cuma urusan spiritual. Itu juga urusan koordinasi," katanya.

Ia membekali rombongan dengan semangat kebersamaan. Dalam pusaran mataf yang penuh sesak, semangat itu menjadi jangkar visual. Ia memberi instruksi: "saling melindungi, dan perempuan serta orang tua berada di tengah barisan" Saya membayangkan formasi mereka seperti ikan kecil di antara paus-paus besar. Dan suara komandonya, "ke kiri! ke kiri!" lebih mirip arahan evakuasi bencana dibanding ritual ibadah.

Ada sesuatu yang tak diajarkan di buku manasik: bertahan bersama. Kita diajarkan tentang rukun, wajib, larangan. Tapi tak diajarkan bagaimana tetap utuh saat satu orang hilang arah,atau pintu Masjidil Haram tiba-tiba ditutup, bisa jadi ketika jamaah keluar masjid secara terpisah, tidak tahu arah terminal, tidak tahu arah pulang.

"Keluar dari pintu berbeda lima menit saja, bisa tersesat setengah hari," katanya. Tapi tak ada pelatihan cara membaca arus manusia, cara mengenali pintu, atau cara mendekati askar yang setengah galak.

"Haji itu bukan cuma ibadah," katanya. "Itu juga soal logistik, soal daya tahan, dan soal bagaimana tidak saling kehilangan."

Saya menyesap kopi, yang kini mulai dingin. Tapi malam itu menjadi hangat oleh kesadaran baru: mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencatat apa yang sah dan tidak sah dalam haji, sampai lupa bahwa ibadah juga soal bagaimana tidak membuat orang di sebelah kita merasa sendiri. Bahwa tawaf paling khusyuk mungkin bukan yang paling banyak doa, tapi yang dilakukan bersama, dengan orang-orang yang saling menjaga. Ia bilang, tak satu pun dari rombongannya hilang. Tak ada yang tersesat. Tak ada yang tertinggal. Tak ada yang patah hati karena kehilangan arah di tempat yang katanya paling dekat dengan Tuhan. Dan mungkin, di titik itulah ia benar-benar berhaji.

Saya pulang malam itu membawa pemahaman baru: bahwa cinta dan ibadah tak selalu berbentuk ayat dan dzikir. Kadang ia hadir dalam bentuk pita kuning, dalam strategi jalan kaki, dalam kejelian membaca arah massa. Kadang pembimbing terbaik bukan yang fasih tentang fiqih, tapi yang tahu kapan harus berhenti, kapan harus menoleh ke belakang.

Bahwa sebagian ibadah justru lahir dari tangan yang menggenggam di tengah kerumunan, dari suara pelan yang berkata, "ke kiri, ke kiri," dari kesediaan berjalan pelan agar yang tua tidak tertinggal. Dan itu, lebih dari apa pun, adalah ziarah paling sunyi yang bisa kita lakukan. 

Kapolresta Banyuwangi Tinjau Lokasi Pencarian Pelajar Hanyut di Sungai Badeng

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., meninjau langsung lokasi pencarian pelajar yang hanyut di aliran Sungai Badeng, kawasan wisata Hutan Pinus, Dusun Sumberagung, Desa Sumberbulu, Kecamatan Songgon, Sabtu (28/6/2025). Pencarian terhadap korban yang diketahui bernama Sahril Hamdani (16), pelajar asal Dusun Krajan, Desa Sumberbulu, masih terus dilakukan oleh tim gabungan.



Korban dilaporkan hanyut setelah sepeda motor yang dikendarainya bersama rekannya, berinisial AH (42), tergelincir ke sungai saat melintas di tepi aliran Sungai Badeng yang sedang banjir. Rekannya berhasil selamat, sementara Sahril terbawa arus deras.

Kapolresta didampingi jajaran Polsek Songgon, TNI, BPBD Banyuwangi, serta relawan masyarakat, turun langsung meninjau lokasi dan memimpin koordinasi lintas sektor dalam upaya pencarian. Ia menegaskan bahwa seluruh personel dikerahkan agar proses pencarian berjalan maksimal.

“Kami terus melakukan penyisiran di sepanjang aliran sungai. Kami juga mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati, terutama di area sungai dan kawasan wisata saat cuaca ekstrem seperti ini,” ujar Kombes Pol. Rama Samtama Putra kepada awak media.

Sejauh ini, barang bukti berupa helm dan jas hujan milik korban telah ditemukan dan diamankan. Namun, keberadaan korban masih belum diketahui.

Polresta Banyuwangi mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi bahaya di wilayah sungai dan lokasi wisata alam, serta selalu mengutamakan keselamatan diri dalam kondisi cuaca yang tidak menentu.

Kamar Barokah dan Syarikah: Catatan tentang Haji yang Semakin Privat dan Profesional"

 Kamar Barokah dan Syarikah: Catatan tentang Haji yang Semakin Privat dan Profesional"



Beberapa kali saya menerima pesan WhatsApp yang nadanya serupa: tanya ini-tanya itu tentang haji. Mungkin karena tahun lalu saya menjadi petugas haji, lalu tiba-tiba dianggap tahu segalanya. Jamaah yang dulu saya bantu kini menempatkan saya dalam posisi seorang konsultan lintas batas: perihal manasik, akomodasi, bahkan... kamar barokah. Ya, kamar barokah. Satu istilah yang terdengar jenaka tapi sangat manusiawi. Ini bukan sekadar tentang tempat tidur dan pasangan halal. Ini tentang privasi di tanah suci, di tengah jutaan manusia yang sedang menjalani ibadah yang paling sakral dalam hidup mereka.

Seseorang bertanya: "Ustaz, kamar barokah itu boleh dipakai kapan saja?"

Saya tidak langsung jawab. Saya kirim emoji tertawa dulu, baru kemudian menulis: "Boleh, asal belum berniat umroh atau haji dan kalau sudah niat haji menjelang Arofah sudah thawaf ifadah dan tidak ihram. Tapi... jaga etika."

Di tengah semrawutnya logistik, padatnya jadwal ibadah, dan sengatan suhu gurun yang melebihi 40 derajat Celsius, pertanyaan-pertanyaan semacam itu justru terasa sangat membumi. Ia menunjukkan bahwa para jamaah, seberapa pun khusyuknya mereka di tanah suci, tetaplah manusia: dengan rindu, dengan hasrat, dengan keinginan untuk merasa dimanusiakan. Tahun ini berbeda. Tahun 2025 ini, skema pelayanan haji berubah cukup drastis. Kementerian Agama RI menggandeng delapan syarikah, perusahaan penyedia layanan haji dari Arab Saudi, untuk melayani jamaah reguler. Ini langkah yang besar. Bagi saya, ini juga revolusi diam-diam yang dampaknya tidak main-main.

Tapi perubahan, sekecil apa pun, selalu mengundang guncangan. Seorang jamaah bercerita, ia berada dalam satu kloter tapi berbeda hotel dengan teman sekamarnya sejak di tanah air. Temannya itu ogah ke masjid bareng karena merasa bukan “serombongan KBIHU”. Ia jadi seperti anak rantau dalam rombongan sendiri. Saya teringat kisah viral sepasang suami istri yang hotelnya berjauhan, satu di Misfalah, satu di Misfalah. Tapi mereka tetap bahagia, bahkan terlihat "enjoi" padahal jarnya cukup jauh, terminal di Masjidil Haram juga berjauhan, satu di Syib Amir dan satunya di Ajyad yang jaraknya 1,5 Km. Mereka sesekali saling mengunjungi, membawakan bekal, dan membuat video dengan gaya “pulang kampung”. Dalam keterpisahan, mereka justru menciptakan cerita. Bukankah itu cara Tuhan mengajarkan makna dari keikhlasan?

Namun tak semua seindah TikTok. Ada yang mengeluh, protes, sampai membawa masalah ke petugas sektor. Mereka menuntut agar bisa dikembalikan ke hotel asal. Tapi sistem tidak semudah menggeser nama di spreadsheet. Ada kontrak, ada komitmen layanan, ada sekat yang tidak bisa ditembus hanya dengan air mata. Saya paham keresahan para jamaah. Tapi saya juga paham dinamika para petugas. Di balik layar, kerja mereka tidak main-main. Mereka harus memastikan bahwa delapan syarikah yang kini bergabung benar-benar menjalankan tugas sesuai perjanjian. Ini pertama kalinya Indonesia tak lagi bergantung pada satu muassasah. Sekarang ada persaingan. Ada pilihan. Ada evaluasi. Dan seperti hukum alam: persaingan itu sehat. Ia melahirkan standar baru.

Di Arafah, Muzdalifah, dan Mina , tiga titik krusial dalam ibadah haji, kualitas tenda mulai berbeda. Dulu, semua seragam. Sekarang, ada yang pendinginnya lebih baik, ada yang kateringnya lebih manusiawi, ada juga yang tetap seperti masa lalu , seadanya.

Saya pun mencatat satu hal penting: transformasi ini bukan hanya soal tenda yang lebih nyaman atau makanan yang lebih bergizi. Ini soal arah baru penyelenggaraan haji. Skema syarikah adalah semacam privatisasi dalam ruang suci. Tapi jika dijalankan dengan jujur dan profesional, ini bisa jadi jawaban bagi jutaan jamaah yang ingin lebih dari sekadar "selamat" di Tanah Haram.

Di tengah semua modernisasi ini, persoalan lama tetap muncul: visa yang telat, manifes yang berubah, data yang tak sinkron. Kloter jadi campur aduk, ada yang merasa tak lagi "sekloter" secara batin meski secara administratif masih satu kode keberangkatan. Namun petugas selalu menekankan: “Penempatan hotel di Madinah tetap sesuai kloter, demi kenyamanan. Tapi di Makkah, berdasarkan syarikah.” Artinya, jamaah harus bersiap dengan kemungkinan tidak sejalan dengan rombongan awal. Harus adaptif. Harus ikhlas.

Sungguh, dua kata terakhir itu, adaptif dan ikhlas, terasa begitu berat untuk diterjemahkan di lapangan. Tapi, itulah haji. Ia bukan sekadar ibadah jasmani dan rohani. Ia adalah ujian mental, psikologis, dan sosial. Ada seorang ibu yang saya temui di lobi hotel. Ia menangis karena tidak tahu di mana koper suaminya. Mereka terpisah hotel. Suaminya tak bisa dihubungi karena ponselnya tertinggal di koper yang raib itu. Saya duduk di sebelahnya, mendengarkan kisahnya seperti sedang mendengar dongeng malam hari. Ibu itu tidak menuntut solusi. Ia hanya ingin didengar. Itu saja. Satu hal yang membedakan haji zaman ini dengan zaman dahulu adalah kartu. Ya, kartu Nusuk. Kartu ini adalah identitas digital jamaah. Dengan kartu ini, mereka bisa masuk ke Arafah, Muzdalifah, Mina, dan fasilitas lainnya.

Ada juga cerita lucu. Seorang bapak kehilangan kartu Nusuk-nya karena ia masukkan ke dalam dompet, lalu dompet itu disimpan di koper besar, dan koper besar itu dikirim ke gudang logistik. Ia lupa di mana. Ketika ditanya kenapa disimpan di koper, jawabannya sederhana: “Saya kira cuma buat kenang-kenangan.”

Pertanyaan penting dalam kepala saya selama di tanah suci adalah ini: apakah layanan yang makin profesional akan membuat ibadah haji makin spiritual atau justru makin terasing? Karena ketika semua sudah dikelola secara sistematis, hotel ditentukan berdasarkan syarikah, makanan dijatah harian, perjalanan diatur dengan skema transportasi yang presisi maka ruang spontanitas dan kebersamaan jadi semakin sempit.

Dulu, jamaah satu rombongan saling membantu, saling mencari. Sekarang, ada yang bahkan tidak kenal siapa teman sekamarnya karena gonta-ganti hotel. Mereka datang, tidur, pergi, seperti pejalan bisnis yang transit di bandara. Tapi barangkali, di situlah letak ujiannya. Bagaimana tetap bisa saling peduli dalam sistem yang kian steril dan individual. Haji tahun ini adalah tentang keberanian berubah. Tentang bagaimana pemerintah kita melalui Kementerian Agama dan PPIH bersedia menempuh jalan baru demi kualitas pelayanan yang lebih baik. Tapi seperti semua perubahan, pasti ada yang tertinggal. Ada yang bingung. Ada yang bertanya-tanya.

Di akhir musim haji nanti, semua jamaah akan pulang. Mereka akan bercerita. Ada yang bercerita tentang cuaca panas, tentang tenda nyaman, tentang makanan yang asin, tentang hotel yang jauh, tentang kamar barokah yang tak sempat terpakai, atau tentang kartu Nusuk yang sempat tertinggal di koper. Tapi saya percaya, di balik semua itu, mereka juga akan membawa sesuatu yang tak bisa dicetak di paspor atau dibaca oleh barcode. Yaitu, cerita. Cerita bahwa mereka pernah berada di tanah paling suci, menjalani ibadah paling penting, di tengah sistem yang sedang berbenah.

Dan mungkin, cerita-cerita itulah yang akan mengalir dari mulut ke mulut, dari mushola ke mushola, dari grup WA ke grup RT, menyampaikan satu pesan sederhana: Haji bukan hanya soal rukun dan wajib. Ia juga tentang kesabaran dalam antre, keikhlasan dalam kepisahan, dan ketulusan dalam menyambut perubahan.

Haji tahun ini adalah tentang syarikah, ya. Tapi lebih dari itu, ia tentang manusia.

Talk Show HANI 2025 di Banyuwangi: Kolaborasi Lintas Sektor dan Lintas Agama Perangi Narkoba sebagai Musuh dalam Selimut

Banyuwangi, (Warta Blambangan) — Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menunjukkan keseriusannya dalam memerangi penyalahgunaan narkoba melalui pelaksanaan Talk Show Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2025 yang digelar di Hall Room STIKES Banyuwangi. Kegiatan edukatif ini diselenggarakan oleh Gerakan Mencegah dan Mengobati (GMDM) DPW Banyuwangi bekerja sama dengan Yayasan Anti Narkoba (YAN LPSS) Banyuwangi. Herman Sjahthi, M.Pd., M.Th., CBC bertindak selaku Ketua Pelaksana acara. 


Acara ini merupakan forum strategis yang mempertemukan unsur pemerintah, lembaga penegak hukum, institusi pendidikan, tenaga kesehatan, dan tokoh agama lintas iman. Dalam sambutannya, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyuwangi, M. Yanuar Bramudya, yang hadir mewakili Bupati, menekankan pentingnya sinergi dalam upaya pemberantasan narkoba.

> “Narkoba itu ada di sekitar kita, seperti musuh dalam selimut. Ini adalah musuh bersama yang harus kita lawan dengan kebersamaan dan kesadaran lintas sektor,” ungkapnya.

Talk show ini menghadirkan tiga narasumber utama dari institusi penegakan hukum, yaitu Kombes Pol. Faisol Wahyudi, S.I.K. (Kepala BNNK Banyuwangi), AKP Nanang Sugiyono, S.H., M.H. (Kasatresnarkoba Polresta Banyuwangi), dan Agus Hariono, S.H. (Kasi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Banyuwangi). Ketiganya menguraikan tantangan penegakan hukum terhadap peredaran narkoba di wilayah Banyuwangi dan menyoroti tren penyalahgunaan yang mengancam kelompok usia produktif, khususnya generasi muda. 


Diskusi diperluas melalui kehadiran para panelis yang berasal dari lintas sektor. Mereka adalah Drs. R. Agus Mulyono, M.Si. (Kepala Bakesbangpol Banyuwangi), Amir Hidayat, M.Kes. (Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi), Dr. H. Soekardjo, S.Kep., MM, MBA (Ketua STIKES Banyuwangi), dan Achmad Shiddiq (Penyuluh Agama Islam dari KUA Kalipuro). Forum ini dipandu secara interaktif oleh Hakim Said, S.H. selaku moderator.

Kegiatan tersebut diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, guru, penyuluh agama Islam, Katolik, Hindu, dan Budha yang tergabung dalam binaan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Menurut Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, kehadiran penyuluh lintas agama adalah bentuk konkret sinergi spiritual dalam membentengi generasi muda dari pengaruh negatif narkoba.

> “Kami hadirkan Penyuluh Agama Islam, Katolik, Hindu, dan Budha. Ini bentuk nyata sinergi spiritual lintas agama untuk menguatkan benteng moral generasi muda dalam melawan narkoba,” tegasnya melalui pernyataan daring.

Talk Show HANI 2025 juga menjadi ruang kolaboratif antara unsur masyarakat sipil dan pemerintah dalam mengembangkan strategi preventif berbasis edukasi dan nilai moral. Di penghujung acara, seluruh peserta menandatangani Deklarasi Bersama Stop Narkoba, sebagai simbol komitmen kolektif untuk menjauhi narkoba dan mengedukasi masyarakat sekitarnya.

Acara ini turut diperkuat dengan dukungan Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo, yang sebelumnya menjadi ruang diskusi awal lintas komunitas terkait peringatan HANI. Seluruh rangkaian kegiatan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube sebagai bentuk keterbukaan dan perluasan jangkauan edukasi publik. Melalui pendekatan kolaboratif ini, Banyuwangi mempertegas dirinya sebagai wilayah yang aktif dalam membangun ketahanan sosial terhadap bahaya laten narkotika.

Kemenag Banyuwangi Gelar Peaceful Muharram 1447 HSerentak di Masjid, Madrasah, dan KUA Kecamatan

Banyuwangi, (Warta Blambangan)— Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan rangkaian kegiatan bertajuk Peaceful Muharram. Kegiatan ini digelar secara serentak di seluruh satuan kerja, meliputi kantor KUA, madrasah, serta masjid, Kamis (26/6/2025).



Di lingkungan Kantor Kemenag Banyuwangi, kegiatan terpusat di Masjid Ar Royan dan diikuti oleh jajaran ASN Kemenag, penyuluh agama Islam, tokoh agama, serta masyarakat sekitar. Rangkaian acara dimulai sejak pagi hari dengan Semaan Al-Qur’an, dilanjutkan dengan refleksi akhir tahun, pembacaan doa penutup tahun, dan ditutup pada malam hari dengan salat Magrib berjemaah, istighotsah, doa awal tahun, serta doa khatmil Qur’an.


Nuansa religius dan khidmat terasa kuat sepanjang rangkaian kegiatan. Imam salat Duha sekaligus pembaca doa pembuka kegiatan adalah H. Mustain Hakim, yang turut memberikan suasana syahdu pada pelaksanaan Peaceful Muharram tahun ini.


Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Banyuwangi, H. Mastur, menyampaikan bahwa kegiatan serupa juga dilaksanakan secara serentak di seluruh madrasah dan kantor KUA se-Kabupaten Banyuwangi. “Partisipasi aktif para penyuluh dan tokoh agama di masing-masing kecamatan menjadi kunci sukses kegiatan ini,” ujarnya.


Lebih lanjut, Mastur menambahkan bahwa setelah salat Magrib, dilaksanakan kegiatan istighotsah yang dipimpin langsung olehnya dan diikuti oleh para penyuluh agama Islam se-Banyuwangi. Kegiatan ini dimaknai sebagai bentuk refleksi spiritual, untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.


Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menjelaskan bahwa Peaceful Muharram merupakan bagian dari gerakan nasional yang diinisiasi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Gerakan ini bertujuan membumikan semangat hijrah dalam kehidupan berbangsa yang damai dan harmonis.


“Peaceful Muharram bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan upaya penguatan spiritualitas dan peneguhan komitmen kebangsaan. Ini adalah momentum untuk menumbuhkan semangat hijrah dalam arti yang lebih luas—yakni berpindah dari keadaan yang kurang baik menuju kehidupan yang lebih bermakna dan penuh keberkahan,” ujar Chaironi.


Peringatan 1 Muharram 1447 Hijriah tahun ini mengusung tema Peaceful Muharram 1447 H, yang mengajak umat Islam untuk senantiasa menghadirkan kedamaian, ketenteraman, dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.


Chaironi menambahkan bahwa pergantian tahun Hijriah menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan perjalanan spiritual umat Islam, sekaligus menumbuhkan nilai-nilai persaudaraan, kebersamaan, dan toleransi. Melalui kegiatan seperti ini, Kemenag terus berkomitmen menjaga ruang-ruang publik agar senantiasa diwarnai oleh narasi damai dan nilai keagamaan yang inklusif.


Dengan pendekatan yang menekankan pada keteduhan dan kekhusyukan, pelaksanaan Peaceful Muharram di Banyuwangi menjadi pengingat pentingnya spiritualitas dalam membentuk tatanan sosial yang harmonis. Kegiatan ini sekaligus menjadi simbol harapan dan niat bersama untuk membuka tahun baru Hijriah dengan semangat perbaikan diri dan kehidupan yang lebih bermakna.

SUB-43 Dijadwalkan Pulang 26 Juni, Penundaan Akibat Konflik Wilayah Udara Timur Tengah

Jeddah  (Warta Blambangan) Jemaah haji asal Banyuwangi yang tergabung dalam Kloter SUB-43 Debarkasi Surabaya masih berada di Jeddah, Arab Saudi, dan dijadwalkan pulang ke Tanah Air pada Kamis dini hari, 26 Juni 2025, pukul 00.01 WAS, menggunakan penerbangan Saudia Airlines SV 5302.

Penundaan kepulangan kloter ini sempat terjadi menyusul situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel yang berdampak langsung pada pengalihan sejumlah jalur penerbangan. Salah satu dampaknya adalah penutupan Bandara Internasional Muskat di Oman, yang selama ini menjadi rute lintas untuk penerbangan haji Debarkasi Surabaya.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, dalam keterangannya menjelaskan bahwa Kloter SUB-43 dijadwalkan pulang sesuai rencana semula setelah koordinasi intensif dilakukan antara Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, PPIH Debarkasi Surabaya, dan pihak maskapai.

> “Penerbangan SUB-43 telah dijadwalkan ulang secara aman dan profesional. Kementerian Agama bersama PPIH terus melakukan koordinasi agar pemulangan berjalan tanpa gangguan teknis maupun keamanan,” terang Chaironi.v


Selama masa tunggu, para jemaah SUB-43 diinapkan di Hotel Wow dan White Diamond, dua hotel transit yang telah diverifikasi kelayakannya oleh otoritas Arab Saudi. Seluruh kebutuhan dasar jemaah dipastikan terpenuhi, mulai dari akomodasi, konsumsi, layanan kesehatan, hingga bimbingan ibadah.

Kepala Daerah Kerja Bandara, Abdul Basir, menyampaikan bahwa skema layanan darurat diterapkan untuk menjaga kondisi fisik dan mental jemaah selama masa tunggu yang tak terduga tersebut.

> “Kami mengedepankan prinsip kehati-hatian dan pelayanan menyeluruh. Kesehatan jemaah terus dipantau oleh tim medis, termasuk ketersediaan obat-obatan dan dukungan psikososial,” ujarnya.

Sementara itu, keluarga jemaah SUB-43 di Tanah Air diminta untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu-isu simpang siur terkait kepulangan. PPIH menjamin proses pemulangan dilakukan berdasarkan standar keselamatan penerbangan sipil dan perkembangan terkini situasi geopolitik.

Salah satu petugas kloter menyebutkan bahwa para jemaah tetap dalam kondisi sehat dan siap diberangkatkan pulang. Menurut jadwal yang dirilis, jemaah SUB-43 akan mendarat di Bandara Internasional Juanda pada Kamis siang dan melanjutkan perjalanan menuju Asrama Haji Sukolilo sebelum dipulangkan ke Banyuwangi.

Kementerian Agama menegaskan komitmennya untuk menuntaskan seluruh rangkaian pemulangan jemaah haji tahun 2025 secara tertib dan aman. Kloter SUB-43 menjadi kloter terakhir dari Banyuwangi yang menuntaskan fase pemulangan, setelah Kloter SUB-44 tiba lebih awal pada Selasa (24/6).

Dengan demikian, tuntas sudah perjalanan ibadah rukun Islam kelima bagi jemaah asal Banyuwangi tahun ini. Para jemaah diharapkan dapat kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih matang secara spiritual dan sosial.

Jamaah Haji Kloter SUB-44 Banyuwangi Tiba dengan Selamat di Tanah Air Setelah Sempat Tertunda

Surabaya, (Warta Blambangan) – Jamaah haji asal Kabupaten Banyuwangi yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) SUB-44 Debarkasi Surabaya akhirnya tiba dengan selamat di Tanah Air, Selasa (24/06/2025), setelah sempat mengalami penundaan di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi. Pesawat yang membawa para jamaah mendarat di Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, pada pukul 14.48 WIB dan tiba di Asrama Haji Sukolilo Surabaya sekitar pukul 16.00 WIB.

Kepastian kedatangan ini disampaikan langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, yang turut hadir di lokasi menyambut kedatangan para jamaah. Dalam keterangannya, ia menyampaikan rasa syukur atas kelancaran proses pemulangan. 




“Alhamdulillah, setelah melalui proses yang cukup panjang dan penuh tantangan, Kloter SUB-44 akhirnya dapat dipulangkan lebih awal dari jadwal sebelumnya. Ini kabar yang sangat menggembirakan, baik bagi para jamaah maupun keluarga yang telah menantikan mereka,” ujar Chaironi.

Sebelumnya, Kloter SUB-43 dan SUB-44 sempat menjadi perhatian publik karena tertundanya jadwal kepulangan dari Tanah Suci. Berdasarkan informasi dari Pembimbing Ibadah Kloter, kedua kloter awalnya dijadwalkan terbang dari Jeddah pada 26 Juni 2025. Namun, menyusul perkembangan situasi dan hasil koordinasi intensif, Kloter SUB-44 berhasil diberangkatkan lebih cepat.


Penundaan tersebut dipicu oleh dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel. Salah satu dampaknya adalah penutupan sementara Bandara Internasional Muskat di Oman yang menjadi titik transit penting bagi penerbangan Debarkasi Surabaya.

Meski demikian, berkat koordinasi intensif antara Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, PPIH Debarkasi Surabaya, pihak maskapai, dan instansi terkait lainnya, proses pemulangan Kloter SUB-44 dapat direalisasikan lebih awal. Hal ini menunjukkan kesungguhan semua pihak dalam memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah.

Kedatangan para jamaah disambut penuh haru dan suka cita oleh panitia serta keluarga yang telah menanti sejak pagi di kawasan Asrama Haji Sukolilo. Sebagian keluarga bahkan datang langsung dari Banyuwangi untuk menjemput anggota keluarga mereka yang telah menunaikan ibadah haji.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. Achmad Sruji Bakhtiar, juga turut menyambut langsung para jamaah di lokasi debarkasi. Dalam pesannya, ia berpesan agar para jamaah menjaga kemabruran haji dengan lima prinsip utama:

  1. Sabar

  2. Pemaaf

  3. Menjaga lisan 


  4. Bersyukur

  5. Istiqomah dalam ibadah

“Kemabruran haji bukan hanya soal pulang dalam keadaan sehat dan selamat, tetapi juga tercermin dalam perilaku dan amal setelah kembali ke tanah air,” ujar Bakhtiar.

Sementara itu, Kloter SUB-43 masih dijadwalkan kembali pada 26 Juni 2025. PPIH Debarkasi Surabaya terus melakukan pemantauan dan penyesuaian jadwal berdasarkan perkembangan situasi keamanan serta menjamin keselamatan seluruh jamaah haji.

Kementerian Agama melalui PPIH menegaskan komitmennya untuk melaksanakan pemulangan jamaah haji secara tertib, aman, dan lancar, hingga seluruh kloter kembali ke daerah masing-masing dalam kondisi sehat, selamat, dan penuh rasa syukur.

Dengan kepulangan ini, Kloter SUB-44 resmi menutup salah satu babak perjalanan spiritual para jamaah haji asal Banyuwangi, yang kini kembali ke tanah air membawa pengalaman iman yang dalam serta semangat untuk terus menebar kebaikan di lingkungan masing-masing

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger