Pages

Penerbangan Ditunda, Jemaah Haji Kloter 43 dan 44 Banyuwangi Kembali Diinapkan di Hotel

JEDDAH —(Warta Blambangan) Kepulangan jemaah haji asal Kabupaten Banyuwangi yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 43 dan 44 Embarkasi Surabaya (SUB) mengalami penundaan mendadak karena alasan keselamatan dan keamanan penerbangan. Padahal, seluruh jemaah sudah berada di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, menjelang waktu boarding. 


Ketua KBIHU Ummul Quro’ Banyuwangi, H. Syamsul Anam, menyampaikan bahwa pengumuman penundaan baru disampaikan sekitar satu jam sebelum jadwal keberangkatan. “Semua jemaah sudah siap, koper sudah masuk bagasi, kami sudah berada di ruang tunggu. Tapi satu jam sebelum boarding, ada pengumuman bahwa penerbangan dibatalkan,” ujarnya dari Jeddah, Selasa (24/6/2025).

Syamsul juga menjelaskan bahwa penundaan ini berdampak psikologis pada jemaah, terutama karena mereka sudah sangat siap untuk pulang. Namun, para petugas dan pembimbing KBIHU langsung mengambil peran aktif menenangkan jemaah.

“Ini semata-mata demi keselamatan dan keamanan semua. Kami minta jemaah bersabar dan tetap tenang,” imbau Syamsul.


Kloter 43 dijadwalkan berangkat dengan penerbangan SV 5302 pukul 03.50 WAS dan tiba di Bandara Juanda Surabaya pukul 21.40 WIB, sedangkan Kloter 44 menggunakan penerbangan SV 5440 pukul 05.10 WAS dan tiba pukul 23.00 WIB di hari yang sama.


Namun karena penundaan tersebut, seluruh jemaah dialihkan ke hotel sekitar Jeddah. “Kloter 43 diinapkan di tiga hotel, sementara Kloter 44 di empat hotel berbeda,” terang Syamsul.


Kepastian jadwal pengganti masih menunggu konfirmasi dari pihak maskapai dan otoritas penerbangan. Keluarga jemaah di tanah air diminta untuk bersabar dan terus mengikuti informasi resmi dari Kementerian Agama.

Hingga saat ini, proses pemulangan jemaah haji Indonesia masih berlangsung secara bertahap. Lebih dari 53 ribu jemaah telah mendarat di tanah air sejak awal proses kepulangan dimulai.

Wapres Gibran: UMKM Perempuan di Banyuwangi Potensial Naik Kelas melalui Pendampingan dan Pembiayaan Inklusif

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, menyampaikan apresiasi atas perkembangan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dikelola oleh perempuan di Kabupaten Banyuwangi. Dalam kunjungan kerja pada Senin (23/6/2025) di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Maron, Kecamatan Genteng, Wapres menilai bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh pelaku UMKM lokal memiliki potensi besar untuk naik kelas dan bersaing pada skala yang lebih luas. 


Kunjungan Wapres Gibran merupakan bagian dari agenda "Silaturahmi Wakil Presiden bersama Peserta dan Pendamping Program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar)", yang merupakan inisiatif dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Kegiatan ini menghadirkan puluhan pelaku UMKM perempuan yang merupakan nasabah aktif program Mekaar.

Dalam sambutannya, Wapres menyampaikan bahwa sebagian besar produk yang ditampilkan telah memenuhi standar kualitas dan memiliki prospek pengembangan pasar. Salah satu contoh yang disoroti adalah produk keripik pisang yang mampu terjual sebanyak 500 bungkus per minggu. Menurut Wapres, volume tersebut dapat ditingkatkan secara signifikan melalui penguatan sistem produksi dan distribusi.

“Saya melihat semangat ibu-ibu pelaku UMKM di sini sangat luar biasa. Produk yang dihasilkan berkualitas dan memiliki potensi pasar yang luas. Penjualannya bisa dinaikkan dari 500 bungkus per minggu menjadi 500 per hari, dengan pendampingan yang tepat,” ujar Wapres.

Gibran juga menyoroti rendahnya tingkat kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) dari nasabah PNM di Banyuwangi, yang berada pada angka 1,3 persen. Menurutnya, hal ini menunjukkan tingkat keberhasilan dan tanggung jawab yang tinggi dari para pelaku UMKM dalam mengelola pembiayaan yang diterima.

“NPL yang rendah menjadi indikator bahwa UMKM di Banyuwangi memiliki kapasitas manajerial dan disiplin keuangan yang baik. Ini menjadi fondasi kuat untuk menaikkelaskan usaha mereka,” tambahnya.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah mengembangkan berbagai program strategis untuk memperkuat ekosistem UMKM. Salah satu program unggulan adalah Teman Usaha Rakyat (TUR), yang berperan sebagai pendamping dan fasilitator dalam proses peningkatan kapasitas usaha masyarakat.

“Melalui program TUR, kami mendampingi pelaku UMKM secara intensif. Selain itu, pemkab juga memberikan dukungan modal dan bantuan alat usaha guna memperkuat struktur produksi pelaku usaha kecil,” jelas Ipuk.

Salah satu pelaku UMKM yang hadir, Fatimah Nurul Widat, warga Kecamatan Genteng, mengungkapkan pengalamannya sebagai penerima manfaat program Mekaar. Selama tiga tahun terakhir, ia menjalankan usaha minuman tradisional seperti es dawet dan es kopyor di depan kantor kepolisian setempat. Dengan pinjaman modal awal sebesar Rp 2 juta dari PNM, yang kemudian meningkat menjadi Rp 3 juta, Fatimah mengaku mampu memperluas skala usahanya.

“Pendampingan yang saya terima sangat membantu, mulai dari pencatatan keuangan hingga strategi pemasaran. Alhamdulillah usaha saya berkembang,” ujar Fatimah.

Direktur Operasional PT PNM, Sunar Basuki, dalam pemaparannya menjelaskan bahwa hingga akhir Mei 2025, terdapat lebih dari 139.000 nasabah PNM di Banyuwangi, mayoritas merupakan perempuan. Sekitar 62 persen dari mereka bergerak di sektor perdagangan, dengan variasi produk yang beragam mulai dari makanan ringan, kerajinan batik, sambal rumahan, hingga produk-produk yang telah menembus pasar global.

“Kami mencatat adanya peningkatan signifikan dari sisi produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan. Ini membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan melalui skema pembiayaan mikro dan pendampingan terstruktur memiliki dampak sosial-ekonomi yang besar,” pungkas Sunar.

Kunjungan Wapres Gibran diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan lembaga pembiayaan dalam mendorong transformasi UMKM lokal menuju sektor usaha yang kompetitif dan berkelanjutan. (*)

Wakil Presiden Gibran Tinjau Panen Tebu dan Gelar Dialog Nasional Bersama Petani dalam Rangka Penguatan Swasembada Pangan

 

BANYUWANGI (Warta Blambangan) – Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, melaksanakan kunjungan kerja selama dua hari di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada tanggal 23–24 Juni 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya strategis pemerintah pusat dalam mendorong kedaulatan pangan nasional, khususnya melalui sektor tanaman perkebunan tebu.b


Kegiatan kunjungan kerja Wapres diawali dengan pelaksanaan panen tebu di Kebun Jolondoro yang berada di bawah naungan PT Industri Gula Glenmore (IGG), Kecamatan Glenmore. Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan dialog interaktif antara Wapres dan petani tebu dari berbagai wilayah di Indonesia, baik yang hadir langsung di lokasi maupun yang bergabung secara daring.

Dalam sambutannya, Wapres Gibran menegaskan bahwa swasembada pangan merupakan agenda prioritas dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan dirinya. “Pemerintah berkomitmen penuh terhadap tercapainya swasembada pangan sebagai salah satu program utama pembangunan nasional. Penguatan sektor pertanian, termasuk komoditas tebu, menjadi kunci strategis dalam hal ini,” ungkap Gibran di hadapan para petani dan pemangku kepentingan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Wakil Menteri BUMN Pahala Nugraha Mansury, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi perhatian penting dalam rangka menciptakan tata kelola pertanian yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam sesi dialog nasional yang berlangsung secara hybrid, Wapres menerima berbagai aspirasi dan keluhan dari para petani tebu terkait hambatan produksi. Isu-isu yang mengemuka antara lain keterbatasan distribusi pupuk bersubsidi, akses terhadap benih unggul, serta minimnya mekanisasi pertanian. Salah satu perwakilan petani, Siswono, mengusulkan agar pemerintah mengalokasikan dukungan pupuk dan bibit kepada petani tebu secara proporsional seperti halnya kepada petani padi.

Menanggapi hal tersebut, Wapres menyampaikan bahwa pemerintah telah mengidentifikasi dan menginventarisasi seluruh kendala teknis dan struktural yang dihadapi sektor pertanian. “Pemerintah akan memberikan perhatian serius terhadap aspek mekanisasi, perbaikan distribusi pupuk, serta penyediaan benih berkualitas. Masukan-masukan dari petani akan kami tindak lanjuti secara sistemik dan berkelanjutan,” jelas Wapres.

Ia menambahkan bahwa setiap Rapat Terbatas (Ratas) yang dipimpin Presiden selalu menempatkan isu harga pangan, tingkat produksi, dan tantangan distribusi sebagai agenda utama pembahasan. Oleh karena itu, kebijakan yang disusun senantiasa mempertimbangkan masukan lapangan dari para pelaku utama pertanian.

Wapres juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi atas sinergi yang telah terjalin dalam mendukung keberhasilan sektor pertanian. “Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci utama dalam memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat komunikasi antara pemegang kebijakan dan pelaku utama sektor pertanian, serta menunjukkan komitmen negara dalam mendukung kesejahteraan petani dan peningkatan produktivitas pertanian nasional secara holistik. 

Wapres Gibran Datang ke Banyuwangi Dua Hari Penuh: Panen Tebu, Sambangi Pesantren, hingga Dialog Bareng Ribuan Warga!

 

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa kembali menjadi panggung nasional! Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, resmi menginjakkan kaki di Bumi Blambangan untuk kunjungan kerja selama dua hari penuh, Senin–Selasa (23–24 Juni 2025). Lawatan sang Wapres ini bukan kunjungan biasa—Gibran datang dengan segudang agenda strategis yang menyentuh denyut nadi rakyat, dari sawah hingga pesantren! 


Gibran tiba di Bandara Banyuwangi tepat pukul 08.52 WIB dengan sambutan gegap gempita dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin, dan Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto. Wapres tampak didampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Wakil Menteri BUMN Aminuddin Ma'ruf, menunjukkan betapa pentingnya Banyuwangi di peta pembangunan nasional.

Dari Sawah ke Rakyat: Gibran Panen Tebu dan Temui Petani

Tak menunggu lama, Gibran langsung menuju PT Industri Gula Glenmore (IGG), perusahaan gula modern milik PTPN XII dan XI yang menjadi andalan nasional. Di lahan tebu Desa Karangharjo, Glenmore, Gibran memegang sabit, ikut memanen tebu bersama petani. Sesi dilanjutkan dengan dialog intensif bersama puluhan petani, membahas masa depan kemandirian pangan.

"Ini bukan sekadar panen, ini simbol komitmen pemerintah memperkuat ketahanan pangan langsung dari hulu," ujar Gibran dengan nada tegas.

Ribuan Warga Padati Genteng Sambut Wapres

Masih di hari pertama, Wapres Gibran melanjutkan kunjungannya ke RTH Maron, Kecamatan Genteng. Di lokasi ini, lautan warga sudah menunggu. Mereka adalah peserta Program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) yang dikelola PNM.

Gibran berdialog dengan penuh antusias, menyerap aspirasi langsung dari rakyat kecil, pelaku UMKM, dan para ibu tangguh penggerak ekonomi keluarga. Atmosfer penuh haru dan semangat membuncah saat Wapres berbicara soal pentingnya kemandirian ekonomi perempuan dan peran UMKM dalam memperkuat perekonomian nasional.

Peduli Yatim dan Dunia Santri, Gibran Sambangi Muncar

Agenda berikutnya lebih menyentuh sisi spiritual. Gibran menggelar kegiatan sosial bersama 100 anak yatim, sebelum bertolak ke Ponpes Mambaul Ulum di Kecamatan Muncar. Di hadapan para kiai dan santri, Gibran menekankan pentingnya sinergi antara pesantren dan program pembangunan nasional.

"Pesantren adalah benteng moral bangsa. Kita akan perkuat kolaborasi antara dunia santri dan ekonomi kreatif," tegasnya.

Hari Kedua, Rogojampi Jadi Saksi Kejutan Gibran

Pada Selasa (24/6/2025), Gibran dijadwalkan mengunjungi Pasar Rogojampi, pusat ekonomi rakyat yang menjadi jantung perdagangan Banyuwangi barat. Kunjungan ini disebut-sebut akan membawa kejutan kebijakan untuk sektor pasar tradisional dan UMKM.

"Pasar adalah wajah asli rakyat. Kalau pasarnya kuat, maka ekonominya pun sehat," kata sumber dekat Wapres.

Bupati Ipuk: Ini Bukti Banyuwangi di Peta Nasional

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani menyambut baik kunjungan tersebut. “Kedatangan Wapres adalah bukti bahwa Banyuwangi tak lagi dipandang sebelah mata. Ini adalah titik balik, pengakuan nasional terhadap kerja keras kita semua,” ujarnya.

Banyuwangi Jadi Magnet Baru Indonesia Timur

Tak diragukan lagi, lawatan Wapres Gibran ke Banyuwangi bukan hanya seremoni. Ini adalah sinyal kuat bahwa Banyuwangi kian dilirik sebagai episentrum pertanian modern, kekuatan ekonomi rakyat, dan pusat spiritualitas.

Dua hari ini, Banyuwangi bukan sekadar kabupaten—ia menjadi episentrum perhatian nasional!


Plating & Cooking di MI Darun Najah II: Siswi-Siswi Unjuk Kreativitas, Bikin Makanan Jadi Estetik Abis!

Banyuwangi, (Warta Blambangan)– Suasana MI Darun Najah II hari Kamis ini beda dari biasanya. Bukan cuma belajar di kelas, tapi 125 siswi dari kelas 1 sampai 5 ikut kegiatan yang super fun dan kekinian: Plating Main Course dan Simple Cooking! 😍 


Jadi, apa sih kegiatan ini? Intinya sih, ini ajang unjuk kreativitas dalam menghias makanan biar makin menarik dan estetik! Untuk adik-adik kelas 1 sampai 3, mereka dapet challenge menghias roti tawar pake berbagai topping sesuai selera. Ada yang bikin bentuk hati, bunga, bahkan karakter lucu dari cokelat dan buah. Pokoknya bebas eksplor!

Sementara itu, kakak-kakak kelas 4 dan 5 nggak mau kalah. Mereka dapet tugas buat plating nasi goreng dengan aneka kondimen dan bahan pelengkap. Hasilnya? Bikin laper! 😋 Ada yang plating-nya rapi banget, ala resto mahal. Ada juga yang bikin nasi goreng bentuk wajah senyum. Super kreatif!

Kepala MI Darun Najah II bilang, kegiatan ini bukan cuma buat seru-seruan aja, tapi juga buat ngelatih kemandirian dan skill life-friendly yang bisa diterapin di rumah.

“Kreativitas siswi perlu dikembangkan di madrasah, supaya bisa dipraktikkan di rumah. Minimal bisa bantu orang tua masak makanan sederhana,” ujar beliau.

Yang bikin salut, banyak dari mereka ternyata belajar DIY cooking dari YouTube dan medsos. Auto mandiri banget, kan?

Kegiatan ini bener-bener bikin hari jadi lebih seru, produktif, dan pastinya meaningful. Bisa belajar, bisa eksplor bakat, dan yang paling penting: bisa happy bareng temen-temen!

Siapa tahu dari kegiatan ini, bakal lahir chef-chef muda berbakat dari MI Darun Najah II. Let’s go, girls! 💪✨

Wajahku di Depan Scanner, Hati di Peron Kenangan

"Wajahku di Depan Scanner, Hati di Peron Kenangan"

oleh : Syafaat

Stasiun Gubeng, dalam perjalanan kereta menuju diri sendiri.

Sudah lama saya tidak naik kereta api. Terlampau lama. Barangkali lebih lama dari yang diizinkan oleh kalender dan kalender gantung di warung sebelah. Aroma gerbong seperti sudah lama hilang dari ingatan: bau besi tua yang bergesek diam-diam, karat hujan yang tak tuntas dibilas matahari, dan desah napas penumpang yang bercampur antara rindu, letih, dan urusan rumah tangga yang tak sempat diselesaikan. Semua itu seakan lenyap, tergilas oleh roda kehidupan yang berputar pada titik yang sama: rumah, pekerjaan, layar gawai, dan tidur yang tak nyenyak. Hari ini, tiba-tiba saya kembali menjadi penumpang. Bukan penonton kereta yang melintas dari balik pagar stasiun, bukan juga pendengar siulan roda besi yang mengiris pagi dari kejauhan. Hari ini, saya benar-benar naik kereta api.


Dan betapa banyak yang telah berubah. Bahkan sejak langkah pertama saya menjejak lobi stasiun, perubahan itu telah menyapa—dingin, efisien, dan nyaris tanpa sapa.

Dulu, kita menyerahkan KTP. Sebuah kebiasaan sederhana yang terasa manusiawi. Ada senyum petugas, ada percakapan ringan, kadang bercanda soal nama atau asal kota. Tapi kini, tak ada lagi pertanyaan, “KTP-nya, Pak?” yang pelan dan sopan. Wajah saya menjadi tiket. Tiket digital yang disetor pada mesin. Saya berdiri di depan scanner, memandang layar seakan bercermin, tapi tak bisa melihat pantulan jiwa. Cahaya dari layar dingin seperti musim yang lupa caranya menghangatkan. Saya menatap wajah saya sendiri—yang telah lebih tua dari yang saya ingat.

Ada kerutan yang tak saya kenali. Ada sembab lelah yang rupanya selama ini tinggal diam di bawah kelopak. Seperti bertemu orang asing yang ternyata tinggal di rumah kita sendiri. Ya, ini wajah saya. Wajah yang disetor. Wajah yang dikenali oleh mesin, tapi entah apakah masih dikenali oleh diri sendiri.

Naik kereta hari ini bukan lagi soal berangkat. Tapi soal diperiksa. Divalidasi. Disetujui oleh sistem yang tak bisa dititipi perasaan. Tidak bisa kita ajak kompromi kalau kita telat satu menit, atau jika wajah kita kurang tidur. Ia hanya tahu satu hal: cocok atau tidak. Bip. Cocok. Pintu terbuka.

Dan masuklah saya, sebagai data. Namun saya rindu. Rindu suara peluit panjang dari kepala stasiun. Suara yang mengandung restu, seperti doa yang melengking dalam sunyi. Rindu kopel yang berdentum saat menyambung gerbong—dentum yang menggetarkan lantai stasiun dan hati penumpang. Dentum itu seperti berkata: "Bersiaplah, kita akan bergerak, kita akan pergi." Kini, semuanya terlalu halus. Terlalu senyap. Seakan-akan perjalanan adalah bisnis sunyi yang harus rapi dan steril.

Dalam gerbong ekonomi zaman dahulu, kami bukan hanya penumpang. Kami kawan seperjalanan. Ada yang menyuapi anaknya, ada yang menawarkan buah, ada yang bercerita tentang ladangnya, tentang mantan pacarnya, tentang nasib yang tertunda. Sekarang, semua larut dalam layar. Dalam dunia yang tak bersuara. Gawai menggantikan manusia. Telinga sibuk mendengar musik, tapi hati dibiarkan diam. Seperti dunia ini jadi panggung bisu. Semua bicara, tapi tak ada yang berbicara.


Dan di tengah keasingan itulah, saya justru menemukan pertemuan. Bukan dengan orang lain, tapi dengan diri saya sendiri. Di layar scanner tadi, saya berjumpa dengan wajah yang telah saya lupakan. Saya sadar, selama ini saya hidup dalam lari—lari dari bayangan sendiri. Tapi tak ada yang bisa lari dari kamera wajah. Wajah saya disimpan sistem, tapi hati saya tak bisa disimpan siapa-siapa.

Suara dari pengeras kabin mengingatkan agar tak salah naik kereta. “Berangkat dari stasiun yang sama, tapi tujuan bisa berbeda,” katanya. Kalimat itu biasa saja, tapi di telinga saya, ia seperti peringatan hidup. Kita mungkin lahir dari tempat yang sama, tumbuh bersama, tapi siapa tahu kita sedang berjalan ke arah yang saling menjauh. Bahkan satu gerbong pun beda kelas, beda tempat duduk, beda tarif. Seperti hidup yang diam-diam mengajari kita: kebersamaan itu rapuh, bisa putus oleh angka.

Kereta bergerak. Perlahan. Saya menatap jendela. Di sana, sawah dan kampung melesat mundur, seperti ingatan yang tidak bisa kita tahan. Bayangan saya terpampang di kaca—kabur, bergerak, lalu hilang. Tapi rasa di dada tetap tinggal. Wajah saya sudah terekam sistem. Tapi cerita saya tidak. Dan mungkin itu yang membuat saya menulis ini.

Dalam gerbong yang nyaman dan sunyi ini, saya tahu: saya masih manusia. Walau dipindai, walau dilacak, walau duduk dalam sistem yang mengatur hingga napas terakhir, saya masih bisa merasa. Masih bisa menyesal, masih bisa rindu, masih bisa menulis. Menulis dengan jari yang dulu biasa memegang karcis karton kecil warna merah muda. Kini tak ada lagi karcis itu. Tapi kenangan masih tertempel di ujung jemari.

Inilah perjalanan. Dulu, kita memulai dengan tas berisi baju dan bekal dari rumah. Kini, kita membawa diri dan data. Tapi selama kita masih bisa mengenang, masih bisa menyapa masa lalu dengan mata berkaca-kaca, maka kita belum sepenuhnya hilang. Kita belum selesai sebagai manusia.

Dan dalam selfie yang tidak pernah diunggah ini—saya ingin mengingat satu hal: bahwa ada saat di mana saya pernah menatap wajah saya sendiri, bukan untuk dinilai orang lain, tapi untuk mengakui bahwa saya pernah hidup. Pernah bepergian. Pernah menjadi seseorang yang ingin pulang.


Stasiun Gubeng, 19-06-2025

Pojok Cinta” Banyuwangi, Cerita Indah Menjaga Masa Depan Anak

Banyuwangi (Warta Blambangan) “Pojok Cinta” Banyuwangi, Cerita Indah Menjaga Masa Depan Anak

Banyuwangi – Rabu pagi yang cerah, 18 Juni 2025, halaman SMPN 3 Banyuwangi terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan hanya karena matahari yang mulai meninggi, tetapi karena semangat kolektif yang mengalir dari wajah-wajah yang hadir. Di sinilah, tahapan akhir Verifikasi Lapangan Penilaian Pencegahan Perkawinan Anak (PPA Award) Provinsi Jawa Timur berlangsung—sebuah penilaian yang lebih dari sekadar angka dan data, melainkan tentang masa depan anak-anak kita. 


Tepat pukul sembilan pagi, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, tiba di lokasi. Disambut hangat oleh kepala sekolah, para guru, dan siswa-siswi yang tergabung dalam duta perlindungan anak, Ipuk segera menyampaikan sambutan yang menyentuh hati.

“Pencegahan perkawinan anak bukan hanya urusan pemerintah. Ini adalah tanggung jawab kita semua—orang tua, guru, tokoh agama, aparat hukum, bahkan teman sebaya,” ujarnya lantang. “Anak-anak kita harus tumbuh, bermimpi, dan mengejar cita-cita, bukan menjadi pengantin di usia sekolah.”

Di antara barisan inovasi yang dipresentasikan, satu hal yang paling menarik perhatian adalah program “Pojok Cinta” dari Kementerian Agama. Bukan sekadar nama manis, Pojok Cerita Indah tentang Kita ini menjadi strategi preventif yang diterapkan di seluruh Kantor Urusan Agama (KUA) tingkat kecamatan di Banyuwangi.


Caranya sederhana namun efektif. Setiap pasangan muda yang datang untuk mendaftar nikah—terutama yang usianya belum cukup secara hukum—akan diarahkan ke “pojok” ini. Di sana, mereka tidak langsung ditolak atau dihakimi. Sebaliknya, mereka diajak duduk, diajak bicara dari hati ke hati. Para penyuluh agama dan petugas KUA memberikan edukasi tentang risiko medis, psikologis, dan sosial dari pernikahan dini. Mereka dipersilakan membayangkan kembali, apakah ini benar-benar waktu yang tepat untuk menikah? Banyak di antara mereka, setelah berbincang di pojok cinta ini, memutuskan untuk mengurungkan niatnya. Tak jadi melanjutkan proses dispensasi ke pengadilan.

Inovasi ini bukan semata strategi birokrasi, melainkan ekspresi kasih sayang negara kepada anak-anaknya. Sebuah intervensi lembut yang jauh dari kesan menggurui, tetapi memberi ruang refleksi.

Tak hanya Kementerian Agama, dukungan lintas sektor turut mewarnai acara ini. Hadir Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, Kepala Kankemenag Banyuwangi Dr. H. Chaironi Hidayat, serta Ketua Pengadilan Agama. Kehadiran mereka bukan sekadar simbolis, tapi nyata memperkuat bangunan kolaboratif yang selama ini dijalin untuk melindungi anak.

Di tengah acara, dilakukan penandatanganan Kesepakatan Bersama Pencegahan Perkawinan Anak. Suatu bentuk ikrar yang tidak hanya mengikat secara administratif, tetapi juga moral. Tak kalah menggugah adalah peluncuran gerakan “Gadis Tangguh”, sebuah kampanye yang memberi energi baru bagi remaja putri untuk berani berkata tidak pada tekanan menikah dini, dan berkata ya pada impian-impian mereka.

Isi deklarasi bersama hari itu tegas: menolak segala bentuk praktik perkawinan anak, memperluas edukasi ke masyarakat, mengaktifkan peran sekolah, keluarga, dan komunitas, serta menyediakan layanan dukungan seperti konseling dan advokasi hukum bagi anak yang rentan.

Suasana menjadi semakin bersemangat ketika perwakilan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Dr. Tri Wahyu Liswati, M.Pd., menyampaikan apresiasinya. Ia menilai Banyuwangi sebagai salah satu dari lima kabupaten terbaik dalam inovasi pencegahan perkawinan anak di Jawa Timur.

“Kami mencatat dengan rinci praktik-praktik baik di daerah ini. Tapi lebih penting dari itu adalah keberlanjutan. Banyuwangi sudah punya fondasi. Tinggal bagaimana menjaganya tetap menyala,” katanya, disambut tepuk tangan.


Tri Wahyu kemudian menyoroti isu yang kerap luput: praktik dispensasi kawin di pengadilan. Ia menyebutnya sebagai celah hukum yang masih harus ditutup dengan pendekatan persuasif, bukan represif. “Pelaminan bukan tempat bermain,” tegasnya di akhir sambutan. Kalimat yang sederhana, namun terasa menampar kesadaran bersama.


Kegiatan ini tak hanya meninggalkan dokumentasi dan tandatangan, melainkan juga tekad yang menyala. Bagi Banyuwangi, PPA Award bukanlah tujuan akhir. Ia adalah pengingat bahwa kerja menjaga anak-anak dari risiko pernikahan dini adalah pekerjaan panjang—yang harus dikerjakan dengan hati, satu pojok cinta demi satu masa depan yang selamat.

Dan di pojok-pojok kecil yang tenang itulah, cerita indah tentang cinta 

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger