Pages

Wapres Gibran Datang ke Banyuwangi Dua Hari Penuh: Panen Tebu, Sambangi Pesantren, hingga Dialog Bareng Ribuan Warga!

 

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa kembali menjadi panggung nasional! Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, resmi menginjakkan kaki di Bumi Blambangan untuk kunjungan kerja selama dua hari penuh, Senin–Selasa (23–24 Juni 2025). Lawatan sang Wapres ini bukan kunjungan biasa—Gibran datang dengan segudang agenda strategis yang menyentuh denyut nadi rakyat, dari sawah hingga pesantren! 


Gibran tiba di Bandara Banyuwangi tepat pukul 08.52 WIB dengan sambutan gegap gempita dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin, dan Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto. Wapres tampak didampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Wakil Menteri BUMN Aminuddin Ma'ruf, menunjukkan betapa pentingnya Banyuwangi di peta pembangunan nasional.

Dari Sawah ke Rakyat: Gibran Panen Tebu dan Temui Petani

Tak menunggu lama, Gibran langsung menuju PT Industri Gula Glenmore (IGG), perusahaan gula modern milik PTPN XII dan XI yang menjadi andalan nasional. Di lahan tebu Desa Karangharjo, Glenmore, Gibran memegang sabit, ikut memanen tebu bersama petani. Sesi dilanjutkan dengan dialog intensif bersama puluhan petani, membahas masa depan kemandirian pangan.

"Ini bukan sekadar panen, ini simbol komitmen pemerintah memperkuat ketahanan pangan langsung dari hulu," ujar Gibran dengan nada tegas.

Ribuan Warga Padati Genteng Sambut Wapres

Masih di hari pertama, Wapres Gibran melanjutkan kunjungannya ke RTH Maron, Kecamatan Genteng. Di lokasi ini, lautan warga sudah menunggu. Mereka adalah peserta Program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) yang dikelola PNM.

Gibran berdialog dengan penuh antusias, menyerap aspirasi langsung dari rakyat kecil, pelaku UMKM, dan para ibu tangguh penggerak ekonomi keluarga. Atmosfer penuh haru dan semangat membuncah saat Wapres berbicara soal pentingnya kemandirian ekonomi perempuan dan peran UMKM dalam memperkuat perekonomian nasional.

Peduli Yatim dan Dunia Santri, Gibran Sambangi Muncar

Agenda berikutnya lebih menyentuh sisi spiritual. Gibran menggelar kegiatan sosial bersama 100 anak yatim, sebelum bertolak ke Ponpes Mambaul Ulum di Kecamatan Muncar. Di hadapan para kiai dan santri, Gibran menekankan pentingnya sinergi antara pesantren dan program pembangunan nasional.

"Pesantren adalah benteng moral bangsa. Kita akan perkuat kolaborasi antara dunia santri dan ekonomi kreatif," tegasnya.

Hari Kedua, Rogojampi Jadi Saksi Kejutan Gibran

Pada Selasa (24/6/2025), Gibran dijadwalkan mengunjungi Pasar Rogojampi, pusat ekonomi rakyat yang menjadi jantung perdagangan Banyuwangi barat. Kunjungan ini disebut-sebut akan membawa kejutan kebijakan untuk sektor pasar tradisional dan UMKM.

"Pasar adalah wajah asli rakyat. Kalau pasarnya kuat, maka ekonominya pun sehat," kata sumber dekat Wapres.

Bupati Ipuk: Ini Bukti Banyuwangi di Peta Nasional

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani menyambut baik kunjungan tersebut. “Kedatangan Wapres adalah bukti bahwa Banyuwangi tak lagi dipandang sebelah mata. Ini adalah titik balik, pengakuan nasional terhadap kerja keras kita semua,” ujarnya.

Banyuwangi Jadi Magnet Baru Indonesia Timur

Tak diragukan lagi, lawatan Wapres Gibran ke Banyuwangi bukan hanya seremoni. Ini adalah sinyal kuat bahwa Banyuwangi kian dilirik sebagai episentrum pertanian modern, kekuatan ekonomi rakyat, dan pusat spiritualitas.

Dua hari ini, Banyuwangi bukan sekadar kabupaten—ia menjadi episentrum perhatian nasional!


Plating & Cooking di MI Darun Najah II: Siswi-Siswi Unjuk Kreativitas, Bikin Makanan Jadi Estetik Abis!

Banyuwangi, (Warta Blambangan)– Suasana MI Darun Najah II hari Kamis ini beda dari biasanya. Bukan cuma belajar di kelas, tapi 125 siswi dari kelas 1 sampai 5 ikut kegiatan yang super fun dan kekinian: Plating Main Course dan Simple Cooking! 😍 


Jadi, apa sih kegiatan ini? Intinya sih, ini ajang unjuk kreativitas dalam menghias makanan biar makin menarik dan estetik! Untuk adik-adik kelas 1 sampai 3, mereka dapet challenge menghias roti tawar pake berbagai topping sesuai selera. Ada yang bikin bentuk hati, bunga, bahkan karakter lucu dari cokelat dan buah. Pokoknya bebas eksplor!

Sementara itu, kakak-kakak kelas 4 dan 5 nggak mau kalah. Mereka dapet tugas buat plating nasi goreng dengan aneka kondimen dan bahan pelengkap. Hasilnya? Bikin laper! 😋 Ada yang plating-nya rapi banget, ala resto mahal. Ada juga yang bikin nasi goreng bentuk wajah senyum. Super kreatif!

Kepala MI Darun Najah II bilang, kegiatan ini bukan cuma buat seru-seruan aja, tapi juga buat ngelatih kemandirian dan skill life-friendly yang bisa diterapin di rumah.

“Kreativitas siswi perlu dikembangkan di madrasah, supaya bisa dipraktikkan di rumah. Minimal bisa bantu orang tua masak makanan sederhana,” ujar beliau.

Yang bikin salut, banyak dari mereka ternyata belajar DIY cooking dari YouTube dan medsos. Auto mandiri banget, kan?

Kegiatan ini bener-bener bikin hari jadi lebih seru, produktif, dan pastinya meaningful. Bisa belajar, bisa eksplor bakat, dan yang paling penting: bisa happy bareng temen-temen!

Siapa tahu dari kegiatan ini, bakal lahir chef-chef muda berbakat dari MI Darun Najah II. Let’s go, girls! 💪✨

Wajahku di Depan Scanner, Hati di Peron Kenangan

"Wajahku di Depan Scanner, Hati di Peron Kenangan"

oleh : Syafaat

Stasiun Gubeng, dalam perjalanan kereta menuju diri sendiri.

Sudah lama saya tidak naik kereta api. Terlampau lama. Barangkali lebih lama dari yang diizinkan oleh kalender dan kalender gantung di warung sebelah. Aroma gerbong seperti sudah lama hilang dari ingatan: bau besi tua yang bergesek diam-diam, karat hujan yang tak tuntas dibilas matahari, dan desah napas penumpang yang bercampur antara rindu, letih, dan urusan rumah tangga yang tak sempat diselesaikan. Semua itu seakan lenyap, tergilas oleh roda kehidupan yang berputar pada titik yang sama: rumah, pekerjaan, layar gawai, dan tidur yang tak nyenyak. Hari ini, tiba-tiba saya kembali menjadi penumpang. Bukan penonton kereta yang melintas dari balik pagar stasiun, bukan juga pendengar siulan roda besi yang mengiris pagi dari kejauhan. Hari ini, saya benar-benar naik kereta api.


Dan betapa banyak yang telah berubah. Bahkan sejak langkah pertama saya menjejak lobi stasiun, perubahan itu telah menyapa—dingin, efisien, dan nyaris tanpa sapa.

Dulu, kita menyerahkan KTP. Sebuah kebiasaan sederhana yang terasa manusiawi. Ada senyum petugas, ada percakapan ringan, kadang bercanda soal nama atau asal kota. Tapi kini, tak ada lagi pertanyaan, “KTP-nya, Pak?” yang pelan dan sopan. Wajah saya menjadi tiket. Tiket digital yang disetor pada mesin. Saya berdiri di depan scanner, memandang layar seakan bercermin, tapi tak bisa melihat pantulan jiwa. Cahaya dari layar dingin seperti musim yang lupa caranya menghangatkan. Saya menatap wajah saya sendiri—yang telah lebih tua dari yang saya ingat.

Ada kerutan yang tak saya kenali. Ada sembab lelah yang rupanya selama ini tinggal diam di bawah kelopak. Seperti bertemu orang asing yang ternyata tinggal di rumah kita sendiri. Ya, ini wajah saya. Wajah yang disetor. Wajah yang dikenali oleh mesin, tapi entah apakah masih dikenali oleh diri sendiri.

Naik kereta hari ini bukan lagi soal berangkat. Tapi soal diperiksa. Divalidasi. Disetujui oleh sistem yang tak bisa dititipi perasaan. Tidak bisa kita ajak kompromi kalau kita telat satu menit, atau jika wajah kita kurang tidur. Ia hanya tahu satu hal: cocok atau tidak. Bip. Cocok. Pintu terbuka.

Dan masuklah saya, sebagai data. Namun saya rindu. Rindu suara peluit panjang dari kepala stasiun. Suara yang mengandung restu, seperti doa yang melengking dalam sunyi. Rindu kopel yang berdentum saat menyambung gerbong—dentum yang menggetarkan lantai stasiun dan hati penumpang. Dentum itu seperti berkata: "Bersiaplah, kita akan bergerak, kita akan pergi." Kini, semuanya terlalu halus. Terlalu senyap. Seakan-akan perjalanan adalah bisnis sunyi yang harus rapi dan steril.

Dalam gerbong ekonomi zaman dahulu, kami bukan hanya penumpang. Kami kawan seperjalanan. Ada yang menyuapi anaknya, ada yang menawarkan buah, ada yang bercerita tentang ladangnya, tentang mantan pacarnya, tentang nasib yang tertunda. Sekarang, semua larut dalam layar. Dalam dunia yang tak bersuara. Gawai menggantikan manusia. Telinga sibuk mendengar musik, tapi hati dibiarkan diam. Seperti dunia ini jadi panggung bisu. Semua bicara, tapi tak ada yang berbicara.


Dan di tengah keasingan itulah, saya justru menemukan pertemuan. Bukan dengan orang lain, tapi dengan diri saya sendiri. Di layar scanner tadi, saya berjumpa dengan wajah yang telah saya lupakan. Saya sadar, selama ini saya hidup dalam lari—lari dari bayangan sendiri. Tapi tak ada yang bisa lari dari kamera wajah. Wajah saya disimpan sistem, tapi hati saya tak bisa disimpan siapa-siapa.

Suara dari pengeras kabin mengingatkan agar tak salah naik kereta. “Berangkat dari stasiun yang sama, tapi tujuan bisa berbeda,” katanya. Kalimat itu biasa saja, tapi di telinga saya, ia seperti peringatan hidup. Kita mungkin lahir dari tempat yang sama, tumbuh bersama, tapi siapa tahu kita sedang berjalan ke arah yang saling menjauh. Bahkan satu gerbong pun beda kelas, beda tempat duduk, beda tarif. Seperti hidup yang diam-diam mengajari kita: kebersamaan itu rapuh, bisa putus oleh angka.

Kereta bergerak. Perlahan. Saya menatap jendela. Di sana, sawah dan kampung melesat mundur, seperti ingatan yang tidak bisa kita tahan. Bayangan saya terpampang di kaca—kabur, bergerak, lalu hilang. Tapi rasa di dada tetap tinggal. Wajah saya sudah terekam sistem. Tapi cerita saya tidak. Dan mungkin itu yang membuat saya menulis ini.

Dalam gerbong yang nyaman dan sunyi ini, saya tahu: saya masih manusia. Walau dipindai, walau dilacak, walau duduk dalam sistem yang mengatur hingga napas terakhir, saya masih bisa merasa. Masih bisa menyesal, masih bisa rindu, masih bisa menulis. Menulis dengan jari yang dulu biasa memegang karcis karton kecil warna merah muda. Kini tak ada lagi karcis itu. Tapi kenangan masih tertempel di ujung jemari.

Inilah perjalanan. Dulu, kita memulai dengan tas berisi baju dan bekal dari rumah. Kini, kita membawa diri dan data. Tapi selama kita masih bisa mengenang, masih bisa menyapa masa lalu dengan mata berkaca-kaca, maka kita belum sepenuhnya hilang. Kita belum selesai sebagai manusia.

Dan dalam selfie yang tidak pernah diunggah ini—saya ingin mengingat satu hal: bahwa ada saat di mana saya pernah menatap wajah saya sendiri, bukan untuk dinilai orang lain, tapi untuk mengakui bahwa saya pernah hidup. Pernah bepergian. Pernah menjadi seseorang yang ingin pulang.


Stasiun Gubeng, 19-06-2025

Pojok Cinta” Banyuwangi, Cerita Indah Menjaga Masa Depan Anak

Banyuwangi (Warta Blambangan) “Pojok Cinta” Banyuwangi, Cerita Indah Menjaga Masa Depan Anak

Banyuwangi – Rabu pagi yang cerah, 18 Juni 2025, halaman SMPN 3 Banyuwangi terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan hanya karena matahari yang mulai meninggi, tetapi karena semangat kolektif yang mengalir dari wajah-wajah yang hadir. Di sinilah, tahapan akhir Verifikasi Lapangan Penilaian Pencegahan Perkawinan Anak (PPA Award) Provinsi Jawa Timur berlangsung—sebuah penilaian yang lebih dari sekadar angka dan data, melainkan tentang masa depan anak-anak kita. 


Tepat pukul sembilan pagi, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, tiba di lokasi. Disambut hangat oleh kepala sekolah, para guru, dan siswa-siswi yang tergabung dalam duta perlindungan anak, Ipuk segera menyampaikan sambutan yang menyentuh hati.

“Pencegahan perkawinan anak bukan hanya urusan pemerintah. Ini adalah tanggung jawab kita semua—orang tua, guru, tokoh agama, aparat hukum, bahkan teman sebaya,” ujarnya lantang. “Anak-anak kita harus tumbuh, bermimpi, dan mengejar cita-cita, bukan menjadi pengantin di usia sekolah.”

Di antara barisan inovasi yang dipresentasikan, satu hal yang paling menarik perhatian adalah program “Pojok Cinta” dari Kementerian Agama. Bukan sekadar nama manis, Pojok Cerita Indah tentang Kita ini menjadi strategi preventif yang diterapkan di seluruh Kantor Urusan Agama (KUA) tingkat kecamatan di Banyuwangi.


Caranya sederhana namun efektif. Setiap pasangan muda yang datang untuk mendaftar nikah—terutama yang usianya belum cukup secara hukum—akan diarahkan ke “pojok” ini. Di sana, mereka tidak langsung ditolak atau dihakimi. Sebaliknya, mereka diajak duduk, diajak bicara dari hati ke hati. Para penyuluh agama dan petugas KUA memberikan edukasi tentang risiko medis, psikologis, dan sosial dari pernikahan dini. Mereka dipersilakan membayangkan kembali, apakah ini benar-benar waktu yang tepat untuk menikah? Banyak di antara mereka, setelah berbincang di pojok cinta ini, memutuskan untuk mengurungkan niatnya. Tak jadi melanjutkan proses dispensasi ke pengadilan.

Inovasi ini bukan semata strategi birokrasi, melainkan ekspresi kasih sayang negara kepada anak-anaknya. Sebuah intervensi lembut yang jauh dari kesan menggurui, tetapi memberi ruang refleksi.

Tak hanya Kementerian Agama, dukungan lintas sektor turut mewarnai acara ini. Hadir Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, Kepala Kankemenag Banyuwangi Dr. H. Chaironi Hidayat, serta Ketua Pengadilan Agama. Kehadiran mereka bukan sekadar simbolis, tapi nyata memperkuat bangunan kolaboratif yang selama ini dijalin untuk melindungi anak.

Di tengah acara, dilakukan penandatanganan Kesepakatan Bersama Pencegahan Perkawinan Anak. Suatu bentuk ikrar yang tidak hanya mengikat secara administratif, tetapi juga moral. Tak kalah menggugah adalah peluncuran gerakan “Gadis Tangguh”, sebuah kampanye yang memberi energi baru bagi remaja putri untuk berani berkata tidak pada tekanan menikah dini, dan berkata ya pada impian-impian mereka.

Isi deklarasi bersama hari itu tegas: menolak segala bentuk praktik perkawinan anak, memperluas edukasi ke masyarakat, mengaktifkan peran sekolah, keluarga, dan komunitas, serta menyediakan layanan dukungan seperti konseling dan advokasi hukum bagi anak yang rentan.

Suasana menjadi semakin bersemangat ketika perwakilan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Dr. Tri Wahyu Liswati, M.Pd., menyampaikan apresiasinya. Ia menilai Banyuwangi sebagai salah satu dari lima kabupaten terbaik dalam inovasi pencegahan perkawinan anak di Jawa Timur.

“Kami mencatat dengan rinci praktik-praktik baik di daerah ini. Tapi lebih penting dari itu adalah keberlanjutan. Banyuwangi sudah punya fondasi. Tinggal bagaimana menjaganya tetap menyala,” katanya, disambut tepuk tangan.


Tri Wahyu kemudian menyoroti isu yang kerap luput: praktik dispensasi kawin di pengadilan. Ia menyebutnya sebagai celah hukum yang masih harus ditutup dengan pendekatan persuasif, bukan represif. “Pelaminan bukan tempat bermain,” tegasnya di akhir sambutan. Kalimat yang sederhana, namun terasa menampar kesadaran bersama.


Kegiatan ini tak hanya meninggalkan dokumentasi dan tandatangan, melainkan juga tekad yang menyala. Bagi Banyuwangi, PPA Award bukanlah tujuan akhir. Ia adalah pengingat bahwa kerja menjaga anak-anak dari risiko pernikahan dini adalah pekerjaan panjang—yang harus dikerjakan dengan hati, satu pojok cinta demi satu masa depan yang selamat.

Dan di pojok-pojok kecil yang tenang itulah, cerita indah tentang cinta 

Verifikasi Tahap III PPA Award, Bupati Ipuk: “Pencegahan Perkawinan Anak Adalah Tanggung Jawab Bersama”

Banyuwangi (Warta Blambangan) Komitmen nyata Kabupaten Banyuwangi dalam upaya pencegahan perkawinan anak kembali mendapat sorotan positif dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Rabu (18/6), SMP Negeri 3 Banyuwangi menjadi lokasi pelaksanaan Verifikasi Lapangan Tahap III Penilaian Pencegahan Perkawinan Anak (PPA Award) tingkat Provinsi Jawa Timur.

Hadir dalam kegiatan ini Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, yang dalam sambutannya menekankan bahwa pencegahan perkawinan anak bukanlah tugas tunggal pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama lintas sektor.

> “Ini bukan semata kerja pemerintah, tapi kerja kolaboratif semua elemen. Pencegahan perkawinan anak adalah ikhtiar kita menjaga masa depan generasi muda,” tegas Bupati Ipuk.

Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur strategis daerah, di antaranya Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB), Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr. H. Chaironi Hidayat, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Perwakilan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Banyuwangi, serta Ketua Pengadilan Agama Banyuwangi. Kehadiran lintas sektor ini mempertegas pentingnya sinergi dalam memperkuat sistem perlindungan anak, terutama dalam menekan angka perkawinan usia dini.


Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, dilakukan penandatanganan Kesepakatan Bersama Pencegahan Perkawinan Anak oleh seluruh unsur yang hadir. Kesepakatan ini dikukuhkan melalui peluncuran gerakan "Gadis Tangguh", sebuah inisiatif simbolik untuk memperkuat ketahanan remaja putri dalam menolak praktik perkawinan usia anak.


Dalam kesempatan tersebut, perwakilan tim penilai dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Provinsi Jawa Timur, Dr. Tri Wahyu Liswati, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas komitmen dan inovasi yang telah dilakukan oleh Kabupaten Banyuwangi.

> “Kami mencatat berbagai praktik baik yang telah dilakukan Banyuwangi. Namun yang paling penting adalah keberlanjutan dan konsistensinya,” ujar Tri Wahyu.




Ia juga menegaskan perlunya pendekatan persuasif dan edukatif dalam menyosialisasikan pencegahan perkawinan anak, terutama kepada masyarakat yang masih mengajukan dispensasi kawin melalui jalur pengadilan.


Tri Wahyu menutup sambutannya dengan pesan penuh makna:


> “Pelaminan bukan tempat bermain.”

Pesan ini menjadi pengingat bahwa masa anak-anak adalah masa untuk bertumbuh, belajar, dan membangun mimpi, bukan untuk menjalani pernikahan.

Pelaksanaan verifikasi tahap akhir ini menjadi penanda penting sekaligus harapan besar bagi Banyuwangi untuk meraih PPA Award Provinsi Jawa Timur, sebagai bentuk penghargaan atas komitmen, inovasi, dan kerja kolektif dalam perlindungan anak dan pencegahan perkawinan usia dini. 


Tingkatkan Literasi, MI Darun Najah II Ajak Siswi Kunjungi Perpusda Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Guna meningkatkan minat baca di tengah dominasi gawai, MI Darun Najah II mengajak 105 siswi kelas 1 dan 3 berkunjung ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi (Perpusda), Rabu (18/6/2025). Kegiatan literasi ini rutin digelar setiap akhir semester sebagai bentuk sinergi madrasah dengan Perpusda.


Kepala MI Darun Najah II, Majidatul Himmah, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun budaya literasi sejak dini. “Kegiatan ini sebagai salah satu bentuk kerjasama madrasah dengan Perpusda, diharapkan siswi lebih suka membaca dengan mendapatkan referensi yang baru di Perpusda,” ujarnya.

Rangkaian kunjungan diawali dengan jalan sehat dari madrasah ke Stadion Diponegoro, dilanjutkan dengan senam ringan dan sarapan sehat bersama. Setelah itu, para siswi menghabiskan waktu di Perpusda untuk membaca koleksi buku yang tersedia.


Sebagai tindak lanjut kegiatan, para siswi diminta menuliskan kembali isi buku yang mereka baca dalam bentuk laporan sederhana di rumah. Aiko, salah satu siswi kelas 3, mengungkapkan kegembiraannya. “Banyak buku-buku baru yang menarik untuk dibaca,” katanya.

Melalui kegiatan ini, MI Darun Najah II berharap dapat menumbuhkan kecintaan membaca pada siswi sejak dini dan menjadikan kunjungan perpustakaan sebagai rutinitas yang menyenangkan.

Bertambah Usia dan Menjadi Dewasa

Malam itu saya tertidur selepas Maghrib. Bukan karena lelah—meski tubuh ini, kalau boleh jujur, sudah seperti keranjang beras yang dipaksa menampung karung pasir. Tapi saya tidur bukan karena kelelahan. Saya tidur karena lupa kalau saya sedang hidup.

Tidur itu ganjil. Ketika terbangun, rasanya seperti baru saja memejamkan mata di bangku SMA, lalu mendadak bangun sebagai seseorang yang sudah satu tahun lebih tua. 17 Juni, katanya. Hari lahir. Tapi apa yang benar-benar lahir pada hari lahir? Orang-orang menyebutnya hari jadi. Tapi saya malah merasa hari itu justru hari mengurai. Seperti benang-benang yang makin lama makin lepas dari gulungannya.


Saya tidak tahu apakah menjadi tua itu semacam kemampuan. Mungkin tidak. Orang bisa tambah usia, tapi belum tentu jadi orang. Belum tentu jadi utuh. Kadang justru makin compang-camping.

Yang saya tahu, malam itu saya duduk di Rumah Budaya Osing, Kemiren. Rumah tua, dengan lampu yang temaram, dan udara yang seperti menyimpan petikan-petikan sunyi dari masa lalu. Di depan saya ada lontar. Bukan sembarang lontar. Ini Lontar Yusuf. Sebuah teks yang tidak disimpan di museum, tapi di dada manusia-manusia yang diam-diam masih percaya bahwa suara bisa menyimpan sejarah.

Kang Pur membuka lembarannya pelan-pelan. Tidak tergesa. Tidak ingin mengejutkan siapa pun. Seperti membuka kenangan—yang harus diurai perlahan, kalau tidak ia akan menangis. Di sekelilingnya duduk beberapa orang. Ada warga kampung, ada dari kota. Dan tiga orang asing. Satu lelaki, dua perempuan. Katanya dari Jerman atau Amerika. Saya bertanya nama mereka. Tapi bodohnya manusia zaman ini: kami rajin bertanya, tapi lupa mendengarkan jawabannya. Kang Hasan Basri menamai mereka mbok Tatik, Mbok Asma dan Kang Sutris, mereka senyum-senyum saja dipanggil dengan nama yang biasa dipakai suku Osing.

Saya lebih sibuk memandangi huruf Pegon di halaman-halaman lontar. Huruf-huruf itu seperti teman masa kecil yang pernah bermain petak umpet bersama saya. Tapi sekarang, saya hanya bisa berdiri di tepi lapangan dan melihat mereka bermain tanpa saya.

Tembang-tembang kuno dilagukan dengan nada lirih. Ada Kasmaran, ada Pangkur. Saya tahu tembang-tembang itu karena pernah membaca tentang urutan hidup manusia versi Jawa:

  • Maskumambang: saat kita masih dalam kandungan.
  • Mijil: lahir ke dunia.
  • Sinom: masa muda.
  • Kinanthi: masa mencari arah.
  • Asmarandana: masa cinta dan kegelisahan.
  • Gambuh: masa mapan.
  • Dhandhanggula: masa kejayaan.
  • Durma: masa berbakti.
  • Pangkur: masa menyepi.
  • Megatruh: masa menjelang kematian.
  • Pocung: kematian itu sendiri.

Ada satu rasa asing di dalam hati saya malam itu. Bukan takut, bukan sedih, tapi seperti sedang ditatap oleh masa lalu saya sendiri.Tiga orang asing itu mengeja dengan cara yang membuat kami tersenyum. Tapi diam-diam saya malu. Mereka datang dari negeri yang tak mengenal Pegon, yang tak tahu apa itu tembang Asmarandana, tapi mereka datang dan duduk dan belajar. Sementara kita, yang dilahirkan di tanah ini, sibuk menggulir layar ponsel dan merasa cukup tahu hanya karena pernah ikut pelajaran muatan lokal.

Saya jadi ingat masa santri saya yang tidak lama. Saya pernah belajar membaca kitab gundul dengan bantuan tulisan Pegon. Saya juga pernah merasa bangga karena bisa menerjemahkan satu-dua kalimat Arab ke dalam Jawa. Tapi malam itu, saya seperti orang yang tersesat di rumah sendiri. Seperti pernah hafal jalan, tapi kini tak tahu arah kiblat.

Hasan Basri datang malam itu. Ketua DKB, orang yang selalu membawa kitab lebih besar dari milik saya. Bukan karena dia ingin pamer. Tapi karena dia, saya tahu, lebih sungguh-sungguh. Hasan Basri membaca bukan untuk tahu, tapi untuk merawat. Itu dua hal yang berbeda. Kita bisa tahu sesuatu tanpa merawatnya. Tapi kita tak bisa merawat sesuatu tanpa terlebih dahulu mencintainya.

Dan saya tahu, malam itu saya mencintai Lontar Yusuf, belajar Mocoan, meski saya belum tentu mampu merawatnya. Ada juga Kang Iwan (Antariksawan Yusuf) dan Mbak Upik (Nurul Ludfia Rochmah), mereka belajar juga Mocoan.

Apa yang dibacakan Kang Pur malam itu bukan sekadar kisah Nabi Yusuf. Tapi sebuah suara yang menyampaikan bahwa kita tidak perlu berlari ke masa depan untuk merasa hidup. Kadang kita hanya perlu duduk, membuka naskah tua, mendengar suara yang nyaris punah, dan membiarkan hati kita kembali muda.

Mungkin itu yang disebut pulang, saya tidak tahu siapa yang membawa saya ke sana. Saya hanya ingat bangun dari tidur dan kemudian duduk di ruangan yang tak punya jam dinding. Dan waktu pun seperti terdiam. Orang-orang tak sibuk dengan unggahan Instagram. Tak ada kue ulang tahun. Tak ada lilin. Tapi semua yang saya butuhkan tentang makna menjadi tua ada di ruangan itu.

Menjadi tua ternyata bukan soal lilin dan angka. Tapi soal kesadaran bahwa kita pernah muda. Dan bahwa masa muda itu, jika tidak kita genggam dengan rasa hormat, akan berubah jadi debu yang menyesakkan dada setiap kali kita mengingatnya.

Tiga orang asing itu, entah kenapa, tampak lebih tulus. Mereka menyimak dengan mata yang jujur. Tidak seperti kita yang kadang membaca untuk dipamerkan. Mereka membaca untuk mengenal. Sementara kita membaca untuk merasa penting. Bedanya besar. Saya tidak tahu apakah mereka akan mengingat malam itu seperti saya mengingatnya. Tapi saya tahu, mereka membawa sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seperti kita membawa doa yang tak sempat diucapkan. Seperti cinta yang tak sempat diberi nama.

Menjadi tua, saya pikir, seperti membaca kembali huruf Pegon. Kita mengenalnya. Tapi kita harus belajar lagi. Kita tahu bentuknya. Tapi kita lupa cara membacanya. Dan seperti cinta, huruf Pegon tidak akan marah kalau kita lupa. Ia akan diam saja, menunggu kita datang kembali.

Malam itu ditutup dengan secangkir kopi, seperti tembang kegelapan. Tapi saya tidak merasa takut. Saya merasa damai. Karena dalam setiap kegelapan, selalu ada terang. Dan dalam setiap terang, selalu ada cerita yang perlu dibacakan pelan-pelan, dengan suara yang tidak terburu-buru.

Lontar Yusuf tak mengajari saya menjadi bijak. Ia hanya menunjukkan bahwa saya belum sepenuhnya hidupan, dan di pojok rumah saya yang mulai sunyi ini, dengan lampu remang, saya menulis ini sambil mendengarkan suara malam yang seperti ingin berkata: “Kamu belum terlambat. Duduklah. Buka lagi halaman itu. Bacalah. Sebelum waktumu benar-benar habis.”

Semoga bulan depan ata  tahun depan, entah di mana saya berada, masih ada suara lirih yang membaca Pegon. Dan semoga saya masih cukup waras untuk mendengarkannya. Karena di usia yang bertambah, kita tidak butuh pesta. Kita hanya butuh satu kalimat sederhana: “Selamat pulang.”

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger