Pages

ASN Kemenag Banyuwangi Gelar Sholat Duha dan Kultum: Renungan tentang Kemuliaan Manusia di Sisi Allah

Banyuwangi (Warta Blambangan) — Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi kembali menggelar kegiatan rutin Sholat Duha dan pembacaan Surat Al-Waqi’ah yang dilaksanakan pada Kamis pagi, 12 Juni 2025, mulai pukul 07.30 WIB. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh ASN Kemenag Banyuwangi yang beragama Islam ini berlangsung khidmat di aula kantor setempat. 


Bertindak sebagai imam sekaligus penceramah adalah Drs. Makmun, Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) dari MTsN 10 Banyuwangi. Sementara pembacaan Surat Al-Waqi'ah dipimpin oleh A. Fauzan Anshori, S.HI, salah satu ASN di lingkungan seksi bimbingan masyarakat Islam Kemenag Banyuwangi.

Dalam kultumnya, Drs. Makmun menyampaikan materi bertema “Kemuliaan Manusia di Sisi Allah” dengan merujuk pada Surat Al-Baqarah ayat 1 dan ayat-ayat terkait yang menggambarkan posisi mulia manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.

 “Manusia diciptakan dengan potensi akal dan hati. Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam yang tidak diketahui oleh malaikat, ini menjadi bukti bahwa manusia diberi derajat yang tinggi, asalkan ia mampu menjaga iman dan ilmunya,” terang Drs. Makmun di hadapan para jamaah.

Ia juga mengingatkan bahwa kemuliaan manusia bukan terletak pada jabatan, kekayaan, atau keturunan, melainkan pada ketakwaan dan kemampuannya untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pembinaan rohani dan penguatan karakter ASN Kemenag Banyuwangi agar senantiasa mengawali hari dengan ibadah dan perenungan nilai-nilai Al-Qur'an.

Danging Qurban dibungkus Daun Jati: Hikayat Idul Adha dari Kementerian Agama Banyuwangi

BANYUWANGI, (Warta Blambangan) Di bawah langit biru yang cerah, di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, aroma tanah pagi dan desir angin Juni bersatu dalam kidung Idul Adha yang khidmat. Senin itu, 10 Juni 2025, bertepatan dengan 13 Dzulhijjah 1446 Hijriyah, bukan sekadar penanggalan yang berjumpa, tetapi juga pertautan antara langit dan bumi, antara pengorbanan dan keberkahan.v


Enam ekor sapi dan enam kambing telah berserah diri dalam zikir terakhirnya, menunaikan takdir sebagai qurban—sebagai titipan cinta dari mereka yang mampu kepada mereka yang menanti. Daging yang tersaji tak hanya dibagi rata, tapi juga dibagi rasa. Dan rasa itu dibungkus rapi dalam lembar-lembar daun jati yang luas, tua, dan harum, menggantikan plastik yang biasa hadir dalam sunyi dan tak terurai.

Tahun ini berbeda. Tak sekadar karena jumlah hewan yang dikurbankan atau banyaknya penerima manfaat, tapi karena makna yang dikandung lebih dalam. Ada langkah kecil yang menyentuh, sederhana namun menggetarkan: daging qurban dibungkus dengan daun jati. Sebuah isyarat bahwa tradisi dan kesadaran lingkungan bisa bergandengan tangan, seperti dua makmum dalam satu saf panjang doa.

Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, H. Chaironi Hidayat, berdiri di antara kerumunan panitia dan pegawai, suaranya lirih namun sarat makna, menyapa pagi dan menyampaikan syukur.

“Ini bukan sekadar kegiatan rutin,” ucapnya. “Qurban adalah wasilah. Sebuah jalan menuju rahmat dan hidayat dari Allah SWT. Terima kasih kepada seluruh keluarga besar Kemenag Banyuwangi yang telah menjadikan ibadah ini penuh makna.”

Chaironi tak sekadar berbicara. Ia menanamkan. Ia mengajak. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kekompakan, kebersamaan, dan keikhlasan. Bahwa qurban bukan hanya soal pisau dan darah, bukan hanya soal pembagian dan antrian, tapi juga tentang bagaimana manusia saling merangkul dalam ibadah, saling menguatkan dalam kebaikan.

“Panitia harus solid dan saling menguatkan,” katanya lagi. “Ini bukan hanya ibadah ritual. Ini momentum mempererat ukhuwah.”

Dan ukhuwah itu terasa nyata. Para pegawai tampak menyingsingkan lengan, merapikan antrean, mengatur kupon, menyambut dengan senyum, dan menuntun warga dengan sabar. Ada yang memanggul daging, ada yang menimbang, ada pula yang sekadar mengelap keringat sambil tersenyum. Tak ada hiruk pikuk yang gaduh, hanya gemuruh tenang dari hati yang bahagia berbagi.

Siti Rohmah, seorang ibu rumah tangga dari lingkungan sekitar kantor, menerima bungkusan daging dengan mata berkaca-kaca. Ia memandang daun jati yang membungkus daging itu dengan penuh kenangan.

“Biasanya kami terima daging dalam kantong plastik,” ujarnya pelan. “Tahun ini dibungkus daun jati. Rasanya seperti kembali ke masa lalu, ke masa nenek saya. Lebih alami, lebih segar, lebih... hangat.”

Hangatnya bukan hanya dari tangan yang memberi, tapi dari pesan yang diselipkan: bumi tak lagi kuat memikul plastik. Maka manusia yang punya cinta dan akal harus mulai mengurangi bebannya. Daun jati pun hadir, bukan sebagai gaya, tapi sebagai pernyataan. Bahwa ibadah pun bisa bersahabat dengan alam, bahwa tradisi tak harus ditinggalkan, asal dijalankan dengan jiwa yang penuh hikmah.

Dan benar, dalam sunyi daun jati itu, tersimpan banyak cerita: tentang hutan yang rimbun, tentang dapur nenek, tentang nasi jagung dan sambal kelapa, tentang masa lalu yang tak sepenuhnya ingin kita tinggalkan. Kini, daun itu menjadi saksi atas niat baik dan langkah sederhana untuk masa depan yang lebih bersih.

Kegiatan qurban tahun ini pun tak hanya menyentuh sisi spiritual dan sosial, tapi juga ekologis. Di tengah dunia yang penuh sampah plastik, di tengah laut yang menjerit dan tanah yang murung, langkah kecil seperti ini adalah gema takbir yang memuliakan bumi. Bahwa qurban bukan hanya kepada sesama, tapi juga kepada alam yang diam-diam melayani kita setiap hari.

Chaironi menutup sambutannya dengan doa yang pelan namun mengalir dalam:

“Semoga semangat qurban membawa keberkahan, tidak hanya bagi yang berkurban dan menerima, tetapi juga bagi alam yang kita tinggali bersama.”

Dan langit pagi itu pun mengangguk. Daun jati yang terhampar, daging yang dibagi, senyum yang ditanam, serta takbir yang terus dilantunkan, menjadikan hari itu bukan hanya hari raya. Tapi hari di mana manusia, sesama, dan semesta kembali saling mengenali dalam bahasa kasih.

Hari di mana Banyuwangi menulis bait indah tentang qurban yang tak hanya memotong daging, tapi juga ego. Yang tak hanya berbagi makanan, tapi juga makna. Yang tak hanya menata logistik, tapi juga merapikan niat.

Di bawah teduh Kementerian Agama, Banyuwangi menulis sejarah kecil. Tapi sejarah yang akan dikenang oleh bumi.

Bukan Umroh di Borobudur

 *Bukan Umroh di Borobudur*

Oleh : Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

Kita hidup di zaman ketika kata-kata tak lagi diperlakukan sebagai jembatan menuju makna, melainkan sekadar alat promosi dan sensasi. Maka ketika kata “umrah” muncul dalam iklan wisata Borobudur, kita pun terdiam—bukan karena tak paham, tapi karena terlalu paham bahwa sesuatu yang suci sedang diusik tanpa permisi. 


Ada kata-kata yang tak lahir dari rahim bahasa. Ia turun, seperti hujan pertama di awal musim, dan kita hanya bisa berdiri terpaku memandanginya. Tak tahu apakah kita sedang basah oleh makna, atau oleh ketidaktahuan kita sendiri. Salah satu kata itu adalah “umrah.”

Saya tidak tahu siapa pertama kali menulis kata itu diucapkan dalam video yang sepertinya dibuat oleh AI, promosi wisata ke beberapa tempat dan salah satunya Borobudur. Tapi saya yakin, dia tidak sedang berdoa ketika menuliskan promt, Ia menulis seperti seorang juru kampanye menulis nama calon di bendera plastik, tanpa pernah menanyakan siapa yang akan mewakili makna di belakang nama itu.

“Umrah,” seperti halnya kata “shalat,” “karma,” atau “nirwana,” bukan kata yang bisa dikelola oleh agensi iklan. Kata-kata seperti itu tidak bisa dipanggil sembarangan. Ia akan datang bila hati kita bening dan langkah kita genting. Bila tidak, ia hanya akan duduk di halaman video online, gemetar dan malu, seperti anak kecil yang tersesat di kota besar.

Beberapa waktu lalu, seorang teman mengirim tangkapan layar: ada program promosi wisata bertajuk “Umrah di Borobudur.” Ia bertanya pelan, “Menurutmu, ini niat baik atau salah paham?”

Saya membaca pelan-pelan. Saya tidak langsung menjawab. Karena kalau saya menjawab terlalu cepat, saya takut hanya akan mengulang apa yang sudah terlalu sering kita katakan—bahwa negeri ini semakin sering mencampur-aduk ibadah dan pemasaran.

Tapi bukan itu persoalan yang paling dalam. Persoalannya adalah: kita semakin kehilangan rasa hormat pada kata. Dan bila kita kehilangan rasa hormat pada kata, maka kita kehilangan jembatan menuju makna, beberapa hari sebelumnya juga beredar beberapa narasi tentang pembanding Ka'bah dan Borobudur, putaran tawaf dari kiri ke kanan serta sebuah aktivitas di Borobudur yang memutar seperti jarum jam.

Umrah bukan perjalanan wisata. Ia bukan sekadar kunjungan ke tanah suci sambil mengambil foto berlatar Ka’bah. Ia adalah ibadah. Ia adalah perintah. Ia adalah niat yang dijahit dengan kain ihram, lalu dilipat di antara thawaf, sai, dan tahallul. Umrah tidak lahir dari brosur. Ia lahir dari ketundukan.

Dan ketundukan tidak bisa dipasang di baliho, saya jadi ingat seorang teman lama, seorang arsitek yang kini lebih suka mengerjakan proyek-proyek kecil di desa. Ia pernah berkata, “Kita ini terlalu suka menamakan sesuatu tanpa mengenalnya lebih dulu.” Ia menunjuk taman kecil yang baru diresmikan di sebuah kabupaten. Namanya: Taman Surga Mahameru. “Surga tidak bisa dipasang paving,” katanya.

Begitu juga umrah. Ia tidak bisa dilangsungkan di halaman candi. Tidak di Candi Prambanan, tidak di Borobudur, tidak di kaki gunung mana pun, seindah apa pun tempatnya. Bahkan di Madinah pun, umrah tidak bisa dilaksanakan. Karena umrah hanya sah bila dilakukan di Mekah. Bukan karena bangunan Ka’bah-nya semata, tapi karena perintahnya demikian. Karena sejarahnya demikian. Karena Nabi demikian.

Mereka yang umrah tahu bahwa ibadah itu hanya butuh waktu satu hari, atau bahkan lebih singkat. Tapi mereka tinggal lebih lama di tanah Hijaz bukan untuk memperpanjang ibadahnya, melainkan untuk menyambung ziarah. Ziarah yang bukan sekadar “wisata religi,” tapi jejak kasih pada Rasul. Maka tidak ada orang Islam yang berkata: “Saya umrah di Madinah.” Itu kalimat yang cacat sejak dalam niat.

Tapi kini, kita dengar kalimat seperti itu berseliweran. Bukan dari jamaah awam, tapi dari para penyusun naskah promosi wisata. Dari biro iklan. Dari presentasi investor, yang mungkin juga ada niatan lain yang tidak baik bagi negeri ini

“Umrah di Borobudur.” saya kira ini bukan soal keliru istilah. Ini lebih dalam dari itu. Ini soal cara kita meminjam kata tanpa izin, lalu memakainya untuk kepentingan yang bahkan tidak kita mengerti. Ini seperti memakai jubah duka untuk menyambut pesta. Kata “umrah” dipinjam dari langit, lalu dijual di trotoar. Dan tidak ada yang menggugat, karena kita terbiasa hidup dalam kegaduhan yang membuat sunyi jadi asing.

Setiap agama punya kamus rahasianya sendiri. Kata-kata di dalamnya tidak disusun oleh akademisi atau ahli periklanan. Mereka lahir dari laku hidup, dari tirakat, dari malam-malam panjang yang diselimuti zikir dan air mata. Tiracchāna dalam Buddhisme bukan kata umpatan. Ia adalah cermin batin. “Kafir” dalam Islam bukan pelabelan sosial. Ia adalah posisi spiritual yang tak bisa ditempel di punggung sembarang orang.

Kata-kata seperti itu berjalan pelan. Mereka tidak suka tergesa-gesa. Tidak suka panggung. Mereka lebih suka duduk di tengah keheningan, seperti biksu tua di ujung vihara. Tapi kini, kita paksa mereka naik pentas, berdandan dengan lampu neon, dan berdialog dalam skrip yang bahkan bukan milik mereka.

Saya membayangkan satu malam hening di Borobudur. Saat para biksu sudah kembali ke ruang meditasi mereka, dan para turis tertidur di hotel-hotel ber-AC. Hanya ada batu-batu tua yang menyimpan cerita ribuan tahun. Saya percaya: pada malam seperti itu, kata-kata kembali ke asalnya. Mereka berjalan sendiri, mencari rumah mereka. Kadang menangis. Kadang diam saja.

Kita mungkin belum sampai ke sana. Kita masih berada di zaman yang memaksa setiap kata punya harga. Zaman yang mengira bahwa iman bisa ditarik dengan promo early bird. Tapi saya percaya, akan datang satu malam, ketika seseorang duduk sendirian di depan stupa. Ia tidak membawa kamera. Tidak membawa slogan. Ia hanya duduk. Dan diam.

Dan mungkin, dalam diam seperti itu, kita bisa mulai menyebut nama-nama suci dengan lebih hati-hati. Lebih pelan. Seperti menyebut nama ibu. Karena pada akhirnya, menghormati kata adalah menghormati hidup. Kata “umrah” bukan hanya kata. Ia adalah langkah. Ia adalah jawaban. Ia adalah pulang. Dan tidak ada yang ingin pulang ke rumah yang sudah dijadikan tempat karaoke.

Kabar dari Armuzna

Kabar dari Armuzna

Oleh: Petugas PPIH 2024


Sudah beberapa kali saya membaca kabar dari Armuzna—Arafah, Muzdalifah, dan Mina—dalam penyelenggaraan haji tahun ini. Setiap kali membaca, dada saya bergemuruh. Seperti aroma mesiu yang menggantung di udara, meletup-letup dalam kata, siap meledak dalam telunjuk jari. Tetapi saya tahan. Karena saya tahu, ini bukan hanya tentang pelayanan. Ini bukan sekadar soal logistik. Ini tentang kesabaran. Tentang mereka yang menggadaikan sebagian usia dan harta demi sebuah kata yang belum tentu bisa dibawa pulang: mabrur.

Banyak yang pesimis pelaksanaan haji berjalan lancar seperti tahun 2024, pemerintah kerajaan Saudi Arabia memangkas petugas haji Indonesia, mereka yakin dengan sistem baru tidak perlu petugas terlalu banyak dari Indonesia. Awalnya kita percaya sampai pada akhirnya serumit ini kenyataannya. 


Saya tahu, tidak mudah mengatur dua ratus ribu lebih jamaah Indonesia yang menyemut di tiga titik genting itu: Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Bahkan bagi negara sehebat manapun, mengatur kerumunan dalam waktu dan tempat yang serentak—tanpa chaos—adalah pertaruhan besar. Tapi tetap saja, kita tak bisa menganggap biasa bila ada yang rebah di tanah karena tidak kebagian tenda. Kita tak bisa menganggap lumrah bila jamaah lansia harus berjalan kaki lima kilometer lebih, bukan karena menjemput pahala, tapi karena tak ada kendaraan.

Katanya, tahun ini layanan lebih baik. Karena tak lagi bergantung pada satu syarikah—perusahaan penyedia layanan haji—tapi delapan. Delapan! Rasanya seperti menyambut demokrasi di padang pasir. Tapi pesta kadang hanya indah di spanduk. Kadang hanya hidup dalam slide presentasi di ruang rapat mentereng. Di lapangan? Beberapa jamaah Indonesia harus berebut tenda di Arafah. Harus mengalah dari sistem kafilah yang dibuat sepihak. Dibuat syarikah, bukan berdasarkan kloter. Maka pecahlah kelompok. Jamaah yang semestinya bersama pembimbing dan ketua kloternya, kini tercerai di bawah panji kafilah yang bahkan namanya sulit diucapkan.

Lalu siapa yang kenal siapa? Siapa yang tahu siapa yang stroke, siapa yang tak bisa bicara Arab, siapa yang kalau malam harus disuntik insulin?, bersyukur jika kafilah masih dalam satu kabupaten atau Embarkasi, itupun kadang ada yang tidak kenal atau bertemu sebelumnya. Beruntung orang Indonesia sudah terbiasa dengan perbedaan, dan merasa senasib ketika di negeri orang.

Saya teringat wajah-wajah itu. Wajah bapak-bapak dari pelosok desa, ibu-ibu dari pedalaman pegunungan, yang selama ini hanya tahu arti sabar dari ceramah ustaz. Kini, sabar itu mereka kunyah sendiri. Mereka telan dengan peluh, dengan kaki bengkak, dengan lutut gemetar. Bahkan sabar pun kadang kalah oleh dehidrasi.

Di Arafah, yang semestinya menjadi puncak refleksi spiritual, mereka justru sibuk mencari tempat merebahkan tubuh. Tidak untuk tidur, tapi untuk sekadar tak roboh. Padahal, al-hajju ‘Arafah, kata Nabi. Haji adalah Arafah. Ruhnya di sana. Tetapi bagaimana bisa ruh hadir, kalau tubuh harus diluar tenda seharian? Bersyukur yang langsung dapat tenda, tapi bagaimana dengan yang bingung mencari tenda. Bagaimana bisa khusyuk kalau kanan kiri penuh dengan wajah bingung yang bertanya, "Kita ini di mana?"

Saya mendengar orang bilang: pemerintah kita tak punya bargaining position terhadap Kerajaan Saudi Arabia. Lalu saya bertanya-tanya: bargaining yang mana? Mau minta tambahan kuota, toh tetap harus sabar menunggu giliran. Mau minta biaya ditekan, pemerintah Saudi juga punya logika bisnisnya sendiri. Mau ancam tidak kirim jamaah? Yang rugi malah rakyat kita sendiri. Ini bukan urusan kirim delegasi dagang yang bisa dibatalkan sepihak. Ini rukun Islam kelima—sakral. Ada darah, air mata, dan harapan seumur hidup yang digantungkan di sana.


Kita negara dengan jumlah jamaah haji dan umrah terbesar, betul. Tapi jangan lupa, ibadah ini bukan konser Coldplay yang bisa digeser ke stadion lain kalau panitia tak cocok dengan harga sewa venue. Makkah itu satu. Ka'bah itu satu. Tak bisa diduplikat, tak bisa digeser. Bargaining macam apa yang bisa dilakukan kalau kita sendiri tidak punya alternatif spiritual yang setara? Kalau pun ada yang merasa harus menggugat Saudi soal pelayanan, silakan, tapi jangan membawa nama jutaan orang yang sejak kecil mengaji dengan air mata demi satu impian: bisa menunaikan ibadah haji atau setidaknya umroh sebelum mati, tak mungkin tempat haji dipindahkan ketempat lain, bahkan bergantian hari ketika di Arafahpun juga tidak bisa, apalagi dilaksanakan di negeri sendiri.


Saya dua kali menjadi ketua kloter. Dua kali saya melihat dari dekat bagaimana ruwetnya mengatur manusia dalam ibadah massal terbesar di dunia ini. Tapi saya belum pernah melihat yang seperti tahun ini. Bahkan tahun 2017, saat suhu di Tanah Suci menyentuh 52 derajat dan enam orang jamaah saya wafat dalam satu kloter, rasanya tidak serumit ini. Waktu itu, yang jadi musuh adalah panas dan penyakit bawaan. Sekarang, musuhnya adalah sistem. Bukan kurang niat. Tapi bingung. Bingung karena segala sesuatu yang sudah kita rancang di tanah air, bubar di Mekah. Karena di sana, kita bukan lagi tuan atas jamaah kita sendiri.

Para petugas pun jadi seperti sekam basah. Terbakar pelan tapi tak menyala. Mereka tak bisa memindahkan jamaah ke tenda yang lebih aman. Tak bisa memaksa bus untuk datang. Bahkan kadang tak tahu siapa sebenarnya jamaahnya. Karena bisa jadi, jamaah yang mereka temui di tenda itu bukan berasal dari kloternya. Tapi disatukan dalam kafilah yang tak memberi ruang untuk keakraban, apalagi pendampingan.

Saya membaca satu laporan dari Muzdalifah melalui group WA, yang membuat saya diam cukup lama. Katanya, hanya 13 bus yang tersedia untuk satu syarikah. Padahal semestinya 20. Maka  kembali dari Mina ke Makkah harus lebih sabar dan antri, itu juga yang membuat jamaah jalan kaki dari Muzdalifah ke Mina, trauma kejadian 2023 yang banyak jamaah kepanasan di Muzdalifah.

Muzdalifah memang tidak dirancang untuk nyaman. Tapi setidaknya, jangan sampai membuat para lansia berjalan tanpa tahu arah. Jangan sampai ibadah ini menjadi trauma. Memang tidak sedikit yang berdoa agar dapat meninggal di tanah suci ketika sedang beribadah, tetapi juga tidak dengan cara seperti ini, dan bersyukurlah karena tidak banyak terdengar tragedi kematian selama Armuzna seperti tahun sebelumnya.

Seorang petugas menulis: "Saya hanya bisa menangis diam-diam melihat jamaah yang saya bimbing berjalan dalam gelap, di antara bisikan tak tentu arah. Kami tak bisa mengarahkan. Karena kami pun bukan siapa-siapa dalam sistem kafilah.", ini terjadi bisa jadi karena petugas kloter dan jamaah yang asalnya satu kloter berbeda kafilah, dan tidak memungkinkan untuk selalu mendatangi jamaah berbeda kafilah.

Tahun lalu, saya berjaga di Mina. Masalahnya hanya satu waktu itu: tenda kami terlalu dekat dengan masjid Kuwait yang digunakan mabid jamaah luar negeri. Maka, banyak yang masuk areal tenda sembarangan. Karena WC dan kamar mandi tenda Indonesia bersih dan nyaman, mereka ingin menumpang mandi, bahkan tidur di area sekitar tenda. Saya terpaksa jadi satpam dadakan. Mengusir mereka satu-satu. Bukan karena tak ingin berbagi, tapi karena ruang dan fasilitas untuk jamaah kita pun terbatas.

Tahun ini, tenda dekat masjid yang tidak steril seperti itu sepertinya tak lagi digunakan. Masuk area tenda harus pakai kartu Nusuk. Sistem baru yang katanya akan memperbaiki penataan. Tapi tetap saja: sistem yang baik tidak menjamin hasil yang baik, kalau eksekusinya semrawut.

Saya membayangkan wajah almarhum Pak Ruslan, jamaah saya dulu yang wafat beberapa jam sebelum wukuf. Betapa dia sangat ingin sampai ke Arafah. Bahkan ketika setelah sholat subuh berjamaah, dia masih bertanya, “Saya masih boleh ikut wukuf, kan?” Ia seperti anak kecil yang menanti hari ulang tahun. Tapi tak sempat meniup lilin. Tuhan memanggilnya lebih dulu.

Saya membayangkan wajah salah satu Ibu dari Banyuwangi yang pernah berkata, “Kalau saya meninggal di Mina, tolong sampaikan ke anak saya, saya bahagia.” dan kini, saya membayangkan wajah-wajah seperti mereka, berada dalam tenda yang terlalu sempit, dalam padang yang terlalu bising. Mereka menanti bis yang tak datang, petugas yang tak muncul, dan kabar yang tak pernah pasti.

Tapi inilah haji. Kadang kita datang dengan rencana, lalu Tuhan hadir dengan kejutan. Dan kejutan itu kadang berbentuk kekacauan. Tapi kekacauan yang penuh hikmah, bagi mereka yang mampu menahan geram dan tidak mengutuk takdir. Saya membaca satu pesan dari teman lama, Ustaz Izuddin. Yang tahun lalu juga berangkat haji. Katanya, kalau di Mina sekarang situasinya sulit, itu sebenarnya bagus. Bagus untuk menghayati bagaimana Nabi Muhammad dan keluarganya di tanah Mina pernah diboikot oleh Quraisy selama tiga tahun. Hanya makan dedaunan, sampai Khadijah wafat. Sampai Abu Thalib wafat.

"Sungguh besar hikmahnya kalau kita sekarang di tanah Mina, ada situasi sulit. Tapi sungguh tak sesulit Kanjeng Nabi Muhammad dan keluarganya."

Saya diam. Kalimat itu menampar saya yang barusan ingin menulis tajam. Saya yang barusan hendak mencaci sistem, mencela layanan, mengutuk ketidaksiapan, mendadak tenang. Mendadak seperti ditarik kembali oleh sejarah. Ini memang bukan salah Pemerintah Indonesia, kerajaan Saudi Arabia inginnya juga lebih baik, tetapi ini sistem baru yang tahap pertama. Mina memang bukan tempat untuk tidur nyenyak. Ia adalah tempat kita belajar tentang keikhlasan. Tempat Nabi melemparkan tiga batu pada simbol keangkuhan dan kesombongan. Maka wajarlah kalau di sana, ego kita harus dilebur. Amarah kita harus diredam.

Izuddin menutup pesannya: “Kanjeng Nabi pasti tersenyum bangga melihat umatnya datang dari Muncar, ribuan kilometer, di tengah kesulitan tetap sabar, di tengah keterbatasan masih ikhlas berbagi.”

Saya seperti melihat wajah Nabi itu. Tersenyum di tengah ribuan tenda. Melihat umatnya yang renta, yang tak tahu arah, tapi masih bisa menyuapi temannya yang lemah. Masih bisa merelakan air minumnya bagi yang haus. Masih bisa berkata, “Bismillah,” meski kaki bengkak dan tubuh lelah.

Tahun ini, haji memang seperti korek yang kehilangan gas. Ia menggesek banyak harapan, tapi apinya tidak menyala. Karena sistem keburu dingin. Karena logistik keburu beku. Tapi dari setiap kebingungan itu, saya percaya: Tuhan sedang menata ulang cara kita beribadah. Mungkin Dia ingin menunjukkan bahwa terlalu banyak manajemen justru bisa menutupi makna. Terlalu banyak layar bisa mengaburkan wajah-Nya.

Haji bukanlah event. Ia bukanlah festival. Ia bukanlah birokrasi yang dilipat dalam folder rapi. Haji adalah perjalanan yang mestinya kembali ke esensi: tentang labbaik, tentang jawaban. Tentang kesiapan untuk menyambut panggilan-Nya, meski dalam letih, meski dalam sepi, meski dalam salah arah.

Dan kepada para jamaah yang berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina malam itu, saya ingin berkata: kalian bukan korban. Kalian adalah teladan. Teladan tentang sabar, tentang ridha, tentang makna mabrur yang sesungguhnya. Saya ingin sekali menulis ini dengan penuh amarah. Tapi saya belajar dari para lansia itu. Yang berjalan pelan, tapi tak mengutuk. Yang duduk di trotoar, tapi tetap tersenyum.

Maka saya hanya ingin menutup dengan satu kalimat:

Kalau Mina hari ini membuatmu menangis, semoga Arafah kemarin telah membuatmu mencintai Allah lebih dalam. Fan semoga, walau hanya satu malam di Muzdalifah, engkau telah meletakkan dunia di bawah batu yang engkau kumpulkan sendiri.

Allāhumma shalli ‘alā Sayyidinā Muhammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muhammad.


Ketua Kloter sub-58 Tahun 2024


Reformasi PPDB: Jangan Hanya Ganti Nama, Tapi Ganti Paradigma

 Reformasi PPDB: Jangan Hanya Ganti Nama, Tapi Ganti Paradigma

Oleh: Dr. Emi Hidayati

Dosen Fakultas Dakwah UNIIB & Ketua Yayasan Pendidikan Muslimat (YPM) NU Banyuwangi


Setiap awal tahun ajaran, kita disuguhi kegelisahan yang sama: Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Di antara harapan besar orang tua dan semangat anak-anak untuk melanjutkan jenjang pendidikan, terselip kekhawatiran akan sistem yang rumit, ketentuan yang membingungkan, dan kenyataan yang sering kali tidak berpihak pada prinsip keadilan.



Tahun 2025 ini, pemerintah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025 yang mengubah istilah “zonasi” menjadi “domisili” dalam sistem PPDB, yang kini diberi nama baru: Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Sontak, publik bertanya-tanya: apakah ini sekadar penghalusan istilah untuk menenangkan kegelisahan tahunan, atau betul-betul cerminan niat untuk merombak sistem secara substansial?


Perubahan istilah ini tentu menarik dicermati. Bila “zonasi” dahulu cenderung dipahami sebagai batasan geografis administratif yang kaku, “domisili” mengisyaratkan pendekatan yang lebih lentur—setidaknya secara semantik. Namun dalam dunia kebijakan publik, perubahan terminologi hanya akan menjadi kosmetik jika tidak disertai reformasi struktural. Kita tidak sedang bermain kata. Yang dipertaruhkan adalah nasib ribuan anak yang tengah mencari tempat tumbuhnya, dan masa depan pendidikan bangsa secara lebih luas.


Zonasi—yang digagas awalnya untuk memeratakan akses pendidikan—sebenarnya lahir dari semangat yang baik: keadilan. Dalam perspektif filsuf politik John Rawls, sistem pendidikan seharusnya berpihak pada mereka yang paling rentan dan paling sedikit mendapatkan kesempatan. Itulah “Justice as Fairness”. Maka, perubahan ke sistem domisili hanya relevan jika mampu menanggalkan praktik eksklusivitas, dan benar-benar menjadi jembatan bagi akses pendidikan yang lebih merata.


Namun sayangnya, baik sistem zonasi maupun domisili hingga kini belum menyentuh akar masalah pendidikan: kesenjangan kualitas antar sekolah, ketimpangan distribusi guru, dan kurangnya infrastruktur pendidikan di daerah-daerah pinggiran. Banyak siswa yang tinggal berjarak beberapa ratus meter dari sekolah justru tertolak, hanya karena sistem digital tidak mampu membaca konteks sosial spasial secara mikro. Ini adalah contoh nyata dari bagaimana teknologi gagal ketika tidak dibarengi dengan sensitivitas sosial.


Sebagai pendidik dan penggiat lembaga pendidikan akar rumput, saya sering menyaksikan langsung keresahan ini. Ketika pendidikan berubah menjadi urusan administrasi tahunan yang penuh ketegangan, kita kehilangan ruhnya. Pendidikan bukanlah seleksi birokratis, tetapi proses pemanusiaan. Paulo Freire menyebut pendidikan sebagai praksis kebebasan, bukan sekadar pengisian formulir daring.


Demikian pula, inklusivitas yang menjadi jargon sistem PPDB belum menyentuh ranah praksis yang nyata. Padahal, pendidikan inklusif adalah mandat global sejak Deklarasi Salamanca 1994. Mel Ainscow, pakar pendidikan inklusif, menekankan bahwa inklusi bukan sekadar tentang tempat, tapi tentang sikap dan budaya. Menempatkan semua anak dalam ruang kelas yang sama tidak cukup, jika sekolah tidak merayakan keberagaman dan menghargai setiap perbedaan sebagai potensi, bukan hambatan.


Dengan proporsi jalur domisili mencapai 80% untuk SD dan 50% untuk SMP dan SMA, pemerintah sebenarnya sedang menggarisbawahi pentingnya akses berbasis tempat tinggal. Ini patut diapresiasi sebagai upaya afirmatif. Tapi sekali lagi, tanpa pemerataan kualitas dan dukungan nyata bagi sekolah-sekolah di pinggiran, kebijakan ini akan berujung pada keadilan prosedural, bukan keadilan substantif. Hasilnya: sekolah favorit tetap favorit, dan sekolah marjinal tetap dibiarkan berjuang sendiri dengan keterbatasan.


Perlu dipahami bahwa sistem penerimaan siswa juga sangat erat kaitannya dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dalam hal ini, Angka Partisipasi Kasar (APK) bisa menjadi indikator keberhasilan atau kegagalan kebijakan PPDB. Bila sistem tidak menjangkau anak-anak di daerah terpencil, bagaimana kita bisa bicara tentang pembangunan manusia yang holistik?


Dalam konteks ini, saya melihat pemerintah daerah memiliki peran yang amat strategis. Mereka tidak boleh hanya menjadi eksekutor kebijakan pusat. Pemerintah daerah harus aktif dalam memetakan daya tampung sekolah, persebaran guru, dan kesiapan infrastruktur di wilayah masing-masing. Mereka harus mampu membaca kebutuhan riil masyarakat, dan menjadi penerjemah konteks lokal dalam kebijakan nasional.


Kepala sekolah pun harus diberi ruang otonomi untuk berinovasi dan menyesuaikan pendekatan pembelajaran dengan kondisi sosial di lingkungannya. Tidak semua sekolah memiliki latar yang sama, dan tidak semua siswa datang dengan modal yang setara. Maka prinsip keadilan dan inklusivitas harus menjadi roh dalam setiap keputusan kepala sekolah.


Kita juga tidak bisa mengabaikan peran kampus dan perguruan tinggi. Sudah saatnya institusi pendidikan tinggi menjelma menjadi aktor perubahan sosial, bukan hanya menara gading akademik. Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian—harus menjadi landasan bagi keterlibatan aktif kampus dalam merumuskan kebijakan publik. Melalui riset-riset berbasis bukti, pendidikan kritis, dan pengabdian yang menyentuh akar masalah masyarakat, perguruan tinggi bisa menjadi pendorong reformasi pendidikan dari hulu ke hilir.


Saya yakin, pendidikan yang ideal bukanlah pendidikan yang seragam, melainkan pendidikan yang memberi ruang bagi keberagaman untuk tumbuh. Amartya Sen pernah mengatakan bahwa pembangunan adalah perluasan kapabilitas manusia. Maka, sistem PPDB harus menjadi pintu bagi setiap anak untuk menemukan kemampuannya, bukan pagar pembatas yang menyingkirkan mereka dari kesempatan.


Pendidikan bukan tentang siapa cepat dia dapat, atau siapa punya akses dia menang. Pendidikan adalah tentang siapa pun bisa bertumbuh, sejauh kita menyediakan tanah yang subur dan air yang cukup bagi benih itu tumbuh menjadi pohon kehidupan.


Maka, reformasi PPDB bukan sekadar mengganti “zonasi” dengan “domisili”. Yang harus kita ganti adalah paradigma kita tentang pendidikan itu sendiri. Paradigma bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan terbaik untuk belajar, bertumbuh, dan bermakna sebagai manusia seutuhnya.***


Kultum Hikmah Haji, Ajak ASN Kemenag Banyuwangi Tingkatkan Kesadaran Spiritual

Banyuwangi (Warta Blambangan) —Nuansa religius terasa kuat di Masjid Ar Royyan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Rabu pagi (5/6/2025). Usai salat duha berjamaah yang dipimpin langsung Kepala Kantor Kemenag, Dr. H. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., guru MTsN 1 Banyuwangi, Abdul Gani, menyampaikan kultum bertema Hikmah Haji yang mengajak para aparatur sipil negara (ASN) merenungi kembali esensi ibadah.

Dalam ceramah singkatnya, Abdul Gani menekankan bahwa ibadah haji bukan sekadar ritual fisik, melainkan momentum puncak spiritual. Melalui simbol-simbol haji, seperti pakaian ihram putih, umat Islam diajak meninggalkan atribut dunia dan mempersiapkan diri untuk menghadap Sang Pencipta.v


 “Sebelum berangkat saja, bahkan sebelum memulai acara haji, kita sudah seharusnya menghayati seluruh maknanya. Meski tidak berangkat, pelajaran dari haji itu bisa kita ambil dan bisa sangat luar biasa,” ujarnya.

Menurut Gani, prosesi haji seharusnya menjadi inspirasi bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW bahwa orang cerdas adalah yang mampu menahan hawa nafsunya dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah mati.

Lebih jauh, ia mengaitkan semangat haji dengan pelatihan spiritual lain, seperti puasa di bulan Ramadhan. Ia menilai bahwa puasa seharusnya menjadi sarana efektif untuk membentuk pribadi yang sabar dan terjaga dari perbuatan sia-sia. Jika tidak ada perubahan setelah berpuasa bertahun-tahun, maka perlu ada evaluasi terhadap niat dan pelaksanaannya.

“Apapun aktivitas kita — bahkan aktivitas sehari-hari sekalipun — hendaknya bermuara pada keridhaan Allah. Mari berprestasi dalam ibadah dan meninggalkan prasasti spiritual. Ketika kelak kita wafat, hendaknya ada jejak amal yang ditinggalkan,” katanya.

Dalam bagian akhir kultum, Abdul Gani menyoroti pentingnya wukuf di Arafah sebagai momen perenungan terdalam. Ia menyebut bahwa di tempat itulah manusia didorong untuk mengenali jati diri sejatinya, sekaligus menyadari posisi di hadapan Tuhan.

 “Di Arafah, kita seakan dituntut untuk mengenal siapa diri kita sebenarnya. Kalau bisa sampai pada pengenalan itu, insya Allah sepulang dari sana, kita akan menjadi pribadi yang luar biasa secara spiritual,” tuturnya.

Kultum tersebut menjadi bagian dari agenda rutin pembinaan rohani di lingkungan Kemenag Banyuwangi. Melalui kegiatan ini, para ASN diajak untuk terus memperbarui niat, meningkatkan kualitas ibadah, serta menanamkan nilai-nilai spiritual dalam aktivitas sehari-hari.


Kurban dan Bekamal, Narasi, dan Kesabaran yang Terlupakan

 Kurban dan Bekamal, Narasi, dan Kesabaran yang Terlupakan

oleh : Syafaat 


Ada kalimat yang menarik saya diam cukup lama hari ini. Kalimat itu terbit dari sebuah portal berita daring dari penyedia jasa penyembelihan hewan qurban dan aqiqoh, yang saya dapatkan dari group WhatsApp ditulis mungkin dengan niat baik, tapi terasa seperti menabrak pelan-pelan satu lapisan kenyataan. Isinya begini kira-kira: bahwa masyarakat Osing membuat daging fermentasi bernama bekamal karena mereka jarang makan daging. Sebaris kalimat itu seperti menyodorkan kunci palsu untuk membuka lemari yang tak mereka kenali isinya. Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Hanya saja, izinkan saya menyampaikan satu hal penting: tidak semua yang kita lihat bisa langsung dinarasikan.



Narasi adalah kerja rasa. Dan rasa lahir dari perjumpaan yang cukup. Perjumpaan itu bisa berupa masa kecil yang dihabiskan di dapur, obrolan di atas lincak bambu saat sore, atau ikut nimbrung ketika nenek menyisihkan daging kurban ke tampah sebelum diproses jadi bekamal. Kalau tidak pernah hadir dalam peristiwa itu, jangan terburu-buru membubuhkan simpulan.

Banyuwangi bukan sekadar kota di ujung timur. Ia adalah peta rasa yang dijaga lewat laut dan ladang. Dan laut di sana tidak pernah pelit. Ia lemparkan ikan sepuas-puasnya. Masyarakat nelayan pun, yang tahu laut tak kenal musim panen seperti padi, belajar cara menyimpan ikan. Di sini kita kenal istilah dipindang, yakni daging ikan yang diawetkan sebentar saja dengan cara di asap, cukup tahan beberapa hari. Lalu ada yang disebut kresek, ikan yang dikeringkan langsung di bawah matahari, setelah lebih dulu dibumbui. Kresek ini bisa bertahan lebih lama. Dan tentu saja ada ikan asin—fermentasi garam yang oleh orang osing dijuluki gerang. Semua metode ini bukan karena lapar. Tapi karena laut memberi terlalu banyak.

Makanan di Banyuwangi tidak pernah bercita rasa sederhana. Di balik setiap kepulan uap rujak soto atau seduhan kuah pecel rawon, ada riwayat panjang tentang bagaimana masyarakat Osing merayakan rasa dan bertahan hidup. Mereka tidak membiarkan tubuh kekurangan tenaga. Ikan laut mudah didapat. Daging menthok yang diolah menjadi geseng adalah hasil dari keakraban mereka dengan halaman belakang. Ayam kesrut bukan sekadar lauk, tapi semacam penegasan bahwa hidup ini perlu rasa yang kuat, seperti percampuran pedas dan asam yang mewakili keberanian orang Osing dalam menghadapi hidup. Saya pernah berpikir bahwa masyarakat agraris lebih banyak makan sayur. Tapi di Banyuwangi, bahkan pecel pun bisa diracik dengan kuah rawon yang gurih dan hitam legam. Di kampung-kampung Osing, protein hewani bukan kemewahan yang datang dari supermarket, melainkan bagian dari keseharian. Mereka tidak repot-repot mengukur kandungan gizi, tapi tubuh mereka kuat karena kebiasaan turun-temurun menyantap apa yang tersedia di tanah sendiri. Makanan mereka bukan hanya soal perut kenyang, tapi juga tentang warisan dan kesetiaan pada cara hidup yang tidak lekang oleh tren makan sehat ala kota.

Saya japri teman saya di Glagah Agung, sebuah desa yang letaknya di selatan Banyuwangi, dekat hutan Grajagan yang tenang tapi menyimpan banyak cerita, dan saya bertanya berapa hewan kurban tahun ini, ia menjawab pelan saja, “Alhamdulillah, di Masjid An-nur depan rumahnya ada 37 sapi, hampir sama seperti tahun lalu,” dan dalam nada suaranya saya menangkap sesuatu yang lebih dari sekadar angka: ada rasa syukur yang hening, juga semacam perasaan bahwa kehidupan betapa pun berubahnya dunia di kampungnya tetap berjalan dengan irama yang dikenalnya sejak kecil, seperti embun pagi yang tak pernah gagal turun di rerumputan belakang rumahnya, hewan kurban semakin tahun semakin banyak.

Dalam dunia yang kelebihan, manusia belajar menyimpan. Dan dalam dunia yang kekurangan, manusia belajar bertahan. Dua hal ini tak boleh ditukar tempat dalam narasi. Sama seperti saat hari raya kurban tiba di kampung-kampung Osing. Di Banyuwangi, hampir setiap masjid dan musala melakukan penyembelihan. Seekor sapi dibagi jadi ratusan bungkus. Kadang satu rumah dapat lebih dari satu. Dan daging itu terlalu banyak untuk dimasak dalam sehari. Tidak semua orang punya kulkas, apalagi zaman dulu. Maka orang belajar menyimpan dengan cara mereka sendiri: daging dikeringkan, dibumbui, difermentasi. Hasil akhirnya kadang disebut pegal, kadang bekamal.


Kang Pur dari Kemiren sudah mengingatkan di group DKB, “Iki wong durung weruh kesusu gawe narasi.” Proses membuat bekamal itu panjang. Tidak seperti menulis berita yang cukup dengan menyalin dari grup WhatsApp lalu mengira sudah menyusun kebenaran. Bekamal itu seni. Daging dipotong rapi, dibumbui, lalu dimasukkan ke dalam usus, ya, ini seperti sosis, tapi versi leluhur. Setelah itu disimpan. Diwadahi. Kadang dalam pendek, kadang di toples kaca, kadang juga cukup digantung dan diselimuti udara. Fermentasi terjadi. Rasa menguat. Umur simpan bertambah. Ia bukan sekadar olahan. Ia adalah perayaan atas waktu dan keberlimpahan.


Anggota grup lain juga menuli, salah satu pewaris rasa Banyuwangi, menulis dengan jenaka tapi tepat: “Bekamal iku khusus isi daging. Dung isine jeroan lemon teber arane ketimus....di besel beselaken nong jerone usus. Prosese emeh Podo, di rageni terus di fermentasi di dengan cara di lebokaken pendek utowo toples di serungkup hing jarang kadang Yo di Pepe.”


Saya tidak bisa menulis deskripsi yang lebih jujur dari itu. Kalimat itu seperti aroma dapur yang keluar dari sela-sela papan rumah tua. Ada bumbu, ada waktu, ada kebiasaan yang sabar. Tak ada yang tergesa.

Dan kita, sebagai orang yang hidup dalam era cepat, kadang lupa bahwa tidak semua bisa dipahami dalam dua jam kunjungan. Atau dua paragraf riset Google. Apalagi jika kita ingin bicara tentang satu suku, satu budaya, satu cara hidup.

Banyuwangi punya banyak cara menyimpan daging. Dan bekamal bukan dibuat karena langka daging, tapi karena daging datang sekaligus, dalam satu hari raya, dan ia harus dijaga untuk hari-hari setelahnya. Kalau hari ini kau makan rawon dari daging kurban minggu lalu, itu bukan karena kau miskin, tapi karena kau tahu: tidak semua makanan harus habis hari ini.

Narasi yang baik, seperti bekamal, perlu waktu. Tak bisa dibuat hanya karena deadline. Ia lahir dari pemahaman, bukan dari prasangka. Ia harus tahan lama. Karena itu ia perlu fermentasi. Perlu pengeringan. Perlu dijemur bersama matahari pagi dan dibungkus dengan kejujuran.

Dan orang Banyuwangi, yang sudah terlalu lama hidup dalam putaran musim laut dan ladang, tahu benar: yang baik itu tidak pernah buru-buru. Yang kuat itu disimpan lama. Dan yang layak diceritakan, bukan yang cepat selesai, tapi yang mengendap dalam hati dan tak mudah basi.


Penulis : Ketua Lentera Sastra Banyuwangi 


 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger