Pages

Penguatan Majelis Taklim Banyuwangi: Dorong Peran Strategis dalam Masyarakat

Banyuwangi (Warta Blambangan) Dalam upaya memperkuat peran majelis taklim sebagai pranata sosial keagamaan yang strategis, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar kegiatan Penguatan Majelis Taklim Kabupaten Banyuwangi, yang dilangsungkan di aula MAN 1 Banyuwangi, Selasa (20/5/2025).

Kegiatan ini dihadiri oleh para pengurus Kelompok Kerja Majelis Taklim (KKMT) Kabupaten Banyuwangi serta perwakilan majelis taklim dari berbagai kecamatan yang telah terdaftar secara resmi. Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, H. Mastur, S.Ag., M.Pd.I., menegaskan bahwa majelis taklim memiliki posisi penting dalam membentuk karakter masyarakat yang religius dan harmonis.

“Majelis taklim adalah salah satu pranata sosial keagamaan yang diorganisir melalui Peraturan Menteri Agama. Kegiatan hari ini bertujuan untuk memperkuat peran tersebut agar kebermanfaatannya semakin terasa di tengah masyarakat,” ujarnya. 


Ia juga mengimbau agar seluruh majelis taklim yang belum terdaftar segera melakukan pendaftaran melalui Kantor Urusan Agama (KUA) di kecamatan masing-masing. “Di setiap KUA sudah ada penyuluh agama Islam yang siap memandu proses pendaftaran dan pembinaan,” tambah Mastur.

Diskusi dan penguatan dalam kegiatan ini dimoderatori oleh Syafaat, S.H., M.H.I. dari Seksi Bimas Islam. Adapun narasumber pertama adalah Dr. H. Lukman Hakim, S.Ag., M.H.I., Rektor Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi (UNIIB) Genteng. Dalam pemaparannya, ia menyoroti pentingnya pengelolaan majelis taklim yang baik dan terstruktur.

“Program-program yang terstruktur akan lebih efektif dalam menjangkau lebih banyak orang, terutama generasi muda, dalam memperkuat iman, akhlak, dan kepedulian sosial,” ungkap Dr. Lukman. Ia menekankan bahwa efisiensi sumber daya, sinergi antar komunitas, dan pengelolaan kelembagaan yang profesional akan membawa dampak positif yang signifikan.

Namun, ia juga mencatat tantangan yang dihadapi majelis taklim saat ini, seperti kurangnya minat generasi muda terhadap kegiatan keagamaan dan keterbatasan sumber daya di beberapa majelis.

Narasumber kedua, Agus Baehaqi, S.Ag., M.I.Kom., Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Universitas Islam Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Blokagung, menyoroti dinamika dakwah di era digital. 


“Perkembangan teknologi dan media sosial menjadi tantangan sekaligus peluang. Majelis taklim perlu beradaptasi dengan cara dakwah yang lebih kreatif dan relevan agar tetap menarik bagi generasi muda,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh pengurus majelis taklim di Banyuwangi semakin memahami urgensi legalitas, manajemen kelembagaan, serta penguatan konten dakwah yang adaptif terhadap perubahan zaman. Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pun berkomitmen untuk terus mendampingi dan membina majelis taklim sebagai mitra strategis dalam membangun masyarakat yang religius, cerdas, dan damai.

Pengukuhan Kelompok Kerja Majelis Taklim Kabupaten Banyuwangi: Menebar Kedamaian, Menyatukan Misi Dakwah

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, secara resmi mengukuhkan kepengurusan Kelompok Kerja (Pokja) Majelis Taklim Kabupaten Banyuwangi, dalam sebuah prosesi yang berlangsung khidmat di aula Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Banyuwangi, Selasa siang (20/05/2025).



Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, para pengurus majelis taklim dari berbagai kecamatan di Banyuwangi. Dalam sambutannya, Dr. Chaironi menyampaikan pentingnya kehadiran Pokja Majelis Taklim sebagai garda terdepan dakwah yang membawa nuansa kedamaian di tengah masyarakat.


 “Alhamdulillah, siang ini kita baru saja menyaksikan pengukuhan pengurus Pokja Majelis Taklim Kabupaten Banyuwangi. Saya berharap keberadaan Pokja ini bukan sekadar formalitas, melainkan wadah koordinasi, validasi, dan kolaborasi dakwah yang memberi dampak nyata di masyarakat,” ungkap Chaironi.

Lebih lanjut, Chaironi menyampaikan fenomena meningkatnya permohonan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) Majelis Taklim beberapa waktu terakhir. Ia mengingatkan agar pengurus tidak menjadikan fasilitas pemerintah sebagai tujuan utama, tetapi tetap menjaga orientasi utama majelis taklim sebagai ruang pencerahan dan keteladanan umat.

“Tujuan Majelis Taklim adalah memberikan pencerahan kepada masyarakat—baik melalui sholawat, dzikir, maupun kajian keislaman. Jangan sampai keberadaan majelis taklim malah menimbulkan keresahan,” tegasnya.

Chaironi juga mengajak seluruh pengurus Pokja agar menjadi jembatan komunikasi antar majelis, bukan sekadar pengurus administratif. Ia menekankan pentingnya teori dakwah yang santun, koordinasi rutin, dan semangat saling belajar antar sesama majelis taklim.

“Kalau ada dua kelompok majelis saling bersaing hingga bermusuhan, kita perlu bertanya, apa sebenarnya visinya? Pokja harus hadir sebagai penengah—sebagai kekuatan moral yang menyatukan, bukan memecah.”

Chaironi mengisahkan bagaimana umat Islam di masa lalu dikenal karena membawa keamanan dan kesejahteraan bagi masyarakat, bukan sebaliknya. Bahkan dalam kondisi duka mendalam saat wafatnya Rasulullah SAW, para sahabat tetap mendahulukan ketenangan masyarakat daripada kesedihan pribadi.

“Lihat bagaimana Sayyidina Abu Bakar menahan dukanya, dan justru menjadi penyejuk bagi umat yang panik. Itu contoh nyata bagaimana kepentingan pribadi dikorbankan demi maslahat umat,” tuturnya haru.

Ia juga mengingatkan agar pengurus Pokja segera mengadakan rapat kerja untuk menyusun program, termasuk pertemuan rutin minimal setahun sekali, serta menyusun materi dakwah yang menyentuh sisi kemanusiaan dan kebhinekaan.

Menutup sambutannya, Chaironi menitipkan pesan kepada seluruh pengurus agar tetap menjaga semangat dakwah yang rahmatan lil alamin, menjauhi kepentingan pribadi, dan merawat ukhuwah Islamiyah di bumi Blambangan.

“Mari berdakwah dengan kasih sayang. Jangan sampai ada pribadi-pribadi yang menyusup membawa agenda di luar misi dakwah. Kalau semua bersatu, insyaallah majelis taklim kita akan menjadi benteng akidah sekaligus perekat persaudaraan,” pungkasnya.


Dengan dikukuhkannya kepengurusan Pokja Majelis Taklim ini, diharapkan semangat dakwah yang sejuk, santun, dan bersinergi akan terus berkembang di seluruh pelosok Kabupaten Banyuwangi. (syaf)

Di Hari Kebangkitan, Mereka Menghidupkan Nama-Nama yang Hampir Lenyap

 

Di Hari Kebangkitan, Mereka Menghidupkan Nama-Nama yang Hampir Lenyap
(Ditulis oleh Syafaat)

Pagi tanggal 20 Mei 2025, sebuah ruang sunyi di Banyuwangi mendadak penuh kata-kata. Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten itu, biasanya hanya untuk pertemuan biasa, hari itu seperti menjadi tempat kelahiran kembali. Bukan kelahiran tokoh atau revolusi besar, tapi kelahiran nama-nama yang pelan-pelan tenggelam dari ingatan: dusun, desa, kelurahan, dan lingkungan yang barangkali hanya disebut ketika surat datang, atau ketika seseorang mengisi alamat di formulir.

Ada seratus penulis. Sebagian mahasiswa, sebagian lagi sudah lama menggantungkan hidup pada huruf dan paragraf. Mereka datang tidak untuk menulis resensi atau cerpen cinta. Mereka datang membawa satu tujuan yang sederhana tapi dalam: menulis toponimi Banyuwangi. Menuliskan kembali asal mula nama tempat. Menemani sejarah yang malas dicatat oleh negara. 


Pertemuan itu bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Dan entah siapa yang mula-mula sadar, betapa sepadan peristiwa itu dengan niat para penulis: membangkitkan kembali hal-hal yang nyaris ditelan pembangunan dan papan nama toko swalayan.

Di salah satu deret kursi, seorang gadis muda dan cantik menyimak dengan wajah yang tidak terburu-buru. Namanya panjang: Imtiyaza Syifa Ramadhani Risdayanti. Ia mahasiswa Universitas Jember. Tapi jauh sebelum itu, ia pernah menjadi anak cerdas istimewa di MTs Negeri 3 Banyuwangi—sebuah fakta kecil yang tampak di balik cara ia menyusun kalimat saat bicara.

Ia memilih menulis tentang Desa Sumberberas. Sebuah desa yang terdengar seperti nama sungai dan gabah di saat yang sama. “Banyak ilmu yang saya dapat,” katanya, pelan, seperti takut mengganggu kalimat narasumber yang sedang berbicara di depan. Tapi dari tatapannya, tampak bahwa ilmu itu bukan sekadar catatan, melainkan pemahaman akan pentingnya mencatat.

Syifa berharap akan ada lebih banyak pelatihan semacam ini. Pelatihan yang tidak menyuruh orang menulis tentang dunia, tapi menulis tentang tempat mereka berdiri. Tentang tukang kayu yang dahulu membangun rumah-rumah di Kelurahan Tukangkayu yang disana ada pesantren yang didirikan oleh seorang tokoh yang pernah duduk menjadi anggota konstituante pada masanya. Tentang rumah penyanyi Farel Prayoga di Desa Kepundungan yang oleh publik dikenal sebagai tempat tinggal bocah bernyanyi yang pernah tampil memukau di istana negara, tapi oleh penulis dikenal sebagai desa yang menyimpan lapisan-lapisan cerita yang lebih dalam dari sekadar panggung hiburan.

Juga tentang Dusun Jalen, yang oleh sebagian orang hanya dikenang sebagai titik kecil di Google Maps, padahal di sana berdiri salah satu pondok pesantren tertua di Banyuwangi yang santri-santrinya menjadi cikal bakal beberapa pesantren besar di Banyuwangi. Di tempat seperti itu, sejarah sering kali dibacakan tanpa teks, dan ilmu berpindah dari mulut ke telinga, dari ketelatenan ke keteladanan.

Narasumber hari itu tidak semuanya mengenakan batik resmi, mereka memakai kaos yang sama dengan peserta. Seorang wartawan senior yang juga sastrawan datang membawa tumpukan kisah dari masa lalu, membagikan bagaimana satu tema tulisan bisa hidup tiga dekade bila ditulis dengan jujur. Seorang dosen sejarah yang, konon, belum menikah dan karena itu dianggap punya waktu lebih banyak untuk membaca manuskrip kuno berbicara dengan cara yang membuat nama tempat terdengar seperti puisi. Seorang budayawan menyampaikan bahwa tiap nama dusun adalah mantra; jika kita berhenti menyebutnya, ia akan hilang.

Bimbingan teknis ini, kata sebagian orang, hanyalah pelatihan. Tapi bagi sebagian lain, ini adalah cara menghidupkan kembali hal-hal kecil yang telah lama dipinggirkan oleh ambisi besar pembangunan. Ini adalah cara untuk tidak kehilangan jejak ketika nanti anak-anak bertanya: “Mengapa namanya Tukangkayu? Siapa yang dulu tinggal di Sumberberas?”

Dan para penulis itu, dalam diam dan kerja sunyi mereka, sedang berusaha menyiapkan jawabannya. Tanpa tergesa. Tanpa gemuruh. Tapi dengan sepenuh cinta kepada tempat di mana mereka berpijak.

Ego Sektoral vs Inklusivitas: Tantangan yang Dihadapi Difabel Banyuwangi

 


Banyuwangi, (19/05/2025) – Tim konsultan dari Liliane Fonds, yayasan internasional asal Hertogenbosch, Belanda, yang fokus pada tumbuh kembang anak dan masyarakat inklusif, mengunjungi basecamp Yayasan Aura Lentera di Jl. Letnan Sanyoto No. 8, Banyuwangi, hari ini.

Kedatangan tiga konsultan—Endah Mirareta, Indah Sundari, dan Priyo Budi Asmoro—disambut oleh pengurus dan relawan Aura Lentera. Mereka berdiskusi tentang upaya membangun masyarakat inklusif di Banyuwangi. Tujuan kunjungan ini adalah mengumpulkan data dan informasi mengenai aktivitas pendampingan dan advokasi yang dilakukan Aura Lentera bagi penyandang disabilitas.

Windoyo, Ketua Yayasan Aura Lentera, menyatakan bahwa selama ini yayasannya aktif berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk organisasi dan  komunitas difabel. Namun, ia mengakui masih ada kendala, seperti ego sektoral kelompok tertentu serta stigma negatif masyarakat yang menghambat kemajuan penyandang disabilitas.

"Mental rendah diri di kalangan difabel juga menjadi tantangan besar dalam mewujudkan kesetaraan," ujar Windoyo.

Agus Wahyu Nuryadi (Bung Aguk), seorang sosialpreneur, menceritakan pengalamannya mendorong lembaga seperti Forum Banyuwangi Sehat, Puskesmas, dan dunia pendidikan untuk lebih ramah terhadap penyandang disabilitas. "Peran pemerintah sangat dibutuhkan melalui kebijakan yang mendukung anak berkebutuhan khusus dan masyarakat inklusif," tegasnya.


Sementara itu, Febrianto (Robin), aktivis UMKM, menyoroti upaya relawan dalam membuka lapangan kerja bagi difabel. "Kami mendorong instansi pemerintah dan swasta memberi kuota kerja, serta memastikan pelaku UMKM difabel mendapat kesempatan berjualan di stand-stand pameran," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Andre Waluyo, relawan IT sekaligus founder Aplikasi Gata, memperkenalkan fitur ramah tunanetra yang dikembangkan bersama Aura Lentera untuk mempromosikan bisnis dan komunitas difabel.

Endah Mirareta dari Liliane Fonds mengapresiasi diskusi ini. "Hampir semua aspek penting dari tujuh pilar inklusi telah dijalankan Aura Lentera. Data ini akan kami analisis untuk potensi kerja sama ke depan," ujarnya.

Diharapkan, kolaborasi antara Aura Lentera dan Liliane Fonds dapat memperkuat upaya mewujudkan masyarakat inklusif di Banyuwangi. (AW)



Sosialisasi Pengelolaan Keuangan Haji oleh BPKH: Komisi VIII DPR RI dan Kemenag Tegaskan Transparansi dan Perlindungan Jamaah

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Sosialisasi pengelolaan dana haji digelar oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) bekerja sama dengan Komisi VIII DPR RI di Hallroom Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center pada Senin (19/5). Kegiatan ini diikuti oleh para pengurus Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), pimpinan pondok pesantren, anggota Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), serta perwakilan majelis taklim dari seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi.v


Dalam sambutannya, Anggota Komisi VIII DPR RI, Ina Ammania, menekankan urgensi transparansi dan literasi publik dalam hal pengelolaan dana haji. Ia menyatakan bahwa informasi yang valid dan terverifikasi menjadi kunci menjaga kepercayaan masyarakat. “Saya ingin informasi yang benar tentang dana haji sampai ke masyarakat. Jangan sampai ada kabar yang tidak jelas sumbernya, karena ini menyangkut kepercayaan umat,” tuturnya.

Ina juga mengungkapkan keprihatinannya atas maraknya hoaks yang berkembang di tengah masyarakat, khususnya terkait isu penggunaan dana haji. Ia turut menyoroti kasus jamaah haji ilegal, termasuk keberadaan rombongan liar (Romli) yang dilaporkan menyusup ke tenda-tenda jamaah resmi di Mina pada musim haji tahun 2024. Ia menegaskan bahwa pemerintah Arab Saudi telah memperketat regulasi perhajian, sehingga mereka yang tidak memiliki visa haji resmi tidak diizinkan masuk ke Masjidil Haram.

Lebih lanjut, Ina menyinggung persoalan daftar tunggu haji yang semakin panjang. Ia mengambil contoh di Embarkasi Makassar, di mana antrean keberangkatan jamaah telah mencapai 40 tahun. Dalam konteks ini, ia mendukung upaya reformasi sistem penyelenggaraan ibadah haji, termasuk rencana pengalihan sebagian besar operasional haji ke Badan Pelaksana Haji yang akan mulai diberlakukan pada tahun 2026.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, turut memberikan pernyataan dalam forum tersebut. Ia mengimbau seluruh elemen masyarakat agar lebih kritis dan selektif dalam menerima serta menyebarkan informasi yang berkaitan dengan dana haji. Menurutnya, KBIHU, pesantren, dan majelis taklim memiliki peran strategis sebagai agen edukasi yang bisa memperkuat literasi keagamaan sekaligus literasi keuangan publik.

Materi inti sosialisasi disampaikan oleh Fani Sufiyandi selaku perwakilan dari BPKH. Ia menjelaskan bahwa pengelolaan dana haji dilaksanakan secara profesional, berbasis prinsip nirlaba, dan semata-mata untuk kepentingan penyelenggaraan ibadah haji. Ia merujuk pada Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2014 serta fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang secara eksplisit melarang penggunaan dana setoran awal haji untuk keperluan non-haji, termasuk proyek infrastruktur yang tidak terkait langsung dengan penyelenggaraan haji.

“Dana haji bukan untuk mencari keuntungan, melainkan diarahkan sepenuhnya untuk peningkatan kualitas layanan. Mulai dari transportasi, akomodasi, hingga penyediaan konsumsi jamaah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” ujar Fani.

Dalam sesi dialog, muncul sejumlah tanggapan kritis dari peserta. Ustaz Muporrobin dari Pesantren Nur Cahaya, misalnya, mempertanyakan efektivitas pemanfaatan dana haji. Sementara itu, Muhammadun dari Pesantren Darussalam mengeluhkan tingginya biaya haji untuk tahun 2025, khususnya di Embarkasi Surabaya.

Menjawab kekhawatiran tersebut, Ina Ammania menjelaskan bahwa terdapat skema dana abadi umat yang berasal dari selisih biaya penyelenggaraan haji sebelumnya. Dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kemaslahatan umat, dengan catatan penggunaannya tetap dalam koridor prinsip syariah dan sesuai ketentuan regulasi yang berlaku.

Melalui sosialisasi ini, penyelenggara berharap akan tercipta pemahaman yang lebih utuh dan komprehensif di kalangan masyarakat terhadap sistem pengelolaan dana haji. Selain itu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk meminimalisasi penyebaran informasi yang keliru atau menyesatkan, yang selama ini kerap menjadi sumber keresahan umat.


.

Sore Ketika Hujan di Hutan Pinus


*Sore Ketika Hujan di Hutan Pinus*


 


Pinus-pinus menjuntai tangannya perlahan, seolah ingin menyentuh langit sore yang sedang memudar. Sejak siang, matahari tak muncul. Barangkali ia sedang lelah menjadi pusat segalanya. Atau mungkin, ia ingin memberi ruang pada warna-warna lain untuk tumbuh tanpa bayangannya. Di antara batang-batang pinus yang diam, seekor burung kecil melintas cepat, melawan arah angin. Sungai kecil yang biasa dipakai rafting mengalir pelan, sesekali memantulkan bayang-bayang ranting yang melengkung seperti jemari patah.


Di sinilah kita berdiri.  Berjalan. Duduk. Tertawa sedikit. Diam agak lama. Lalu berjalan lagi. Kadang berpegangan tangan, kadang hanya saling memandang sambil tersenyum seperti dua anak kecil yang baru saja tahu bahwa hidup tidak sesederhana kata “iya” dan “tidak”.


Hutan pinus ini bukan Eropa. Bukan Swiss. Tapi barangkali tidak terlalu penting. Sebab kita tak sedang mengejar label, kita hanya sedang menyelami pelan-pelan rasa yang muncul tiba-tiba seperti bunga yang tumbuh di musim kemarau. Tidak seharusnya ia mekar, tapi kenyataan tidak selalu tunduk pada musim. Begitulah rasa ini, yang tiba-tiba tumbuh—tak tahu malu, tak tahu takut.


Kita duduk di sebuah batang pinus tumbang, basah sedikit. Tak apa. Ada matamu yang bening, menatapku seperti seseorang yang sedang mendengarkan lagu sedih di penghujung hujan. Gerimis turun. Pelan. Seolah ragu. Lalu hujan datang, membawa aroma tanah basah yang entah mengapa mengingatkanku pada rumah, masa kecil, dan suara ibu yang memanggil dari dapur. Tapi suara itu menjauh, dan yang tersisa hanya kamu.


"Aku suka caramu diam," kataku waktu itu.

"Kamu suka banyak hal aneh," jawabmu.

Dan kita tertawa. Bukan tawa keras, bukan tawa ringan. Tapi tawa yang lahir dari kenyataan bahwa kita sedang ada di antara ragu dan pasti, antara keinginan dan kenyataan.

Hujan mulai deras. Tapi kita belum mau pulang. Kita tahu tubuh bisa basah, tapi kita juga tahu tubuh akan kering. Tapi waktu? Ia tidak bisa kembali kering setelah diguyur hujan seperti ini. Kita punya satu sore ini, dan entah kapan lagi kita akan kembali ke tempat yang sama. Kita buka payung. Payung kecil, seperti cinta yang baru saja berani muncul ke permukaan setelah lama tersembunyi di bawah lapisan akal sehat.

Tepi sungai menjadi tempat kita bersandar. Air melintas seperti perasaan: kadang deras, kadang tenang. Suatu waktu, aku lupa bagaimana awalnya, aku mendekat. Matamu tak menolak. Dan saat bibirku menyentuh pipimu, detak jantungku seperti pelari maraton yang tiba-tiba disuruh berhenti. Tak tahu harus bagaimana, tapi tubuh mengikuti apa yang diyakini oleh hati: bahwa kamu adalah rumah dari semua lelahku.

Beberapa orang menyebut perasaan seperti itu birahi. Tapi kita tahu, itu hanya cara dunia menamai sesuatu yang tak bisa mereka pahami. Bagi kita, itu adalah bahasa tubuh yang diterjemahkan oleh rindu yang lama tertahan. Bukan soal keinginan untuk memiliki, tapi kebutuhan untuk menyatu. Sekaligus sadar bahwa kita bisa saja hanyut dalam hasrat, namun masih bisa menemukan jalan pulang ke dalam dada masing-masing.

"Apakah ini cinta?" tanyamu, pelan.

Aku menoleh. Di matamu ada kabut. Bukan karena embun, tapi karena pertanyaan itu sendiri.

"Cinta tak perlu ditanya," jawabku. "Ia datang seperti hujan sore ini. Tak bertanya, tak minta izin."

Di tempat lain, mungkin di negara-negara empat musim, cinta perlu aturan. Perlu status. Perlu janji. Tapi di sini, di sudut Banyuwangi ini, cinta cukup berjalan berdua di bawah hujan, menyeduh kopi yang tak terlalu manis, lalu bercerita tentang masa lalu yang tidak terlalu menyakitkan dan masa depan yang tak perlu dipaksakan.

Di hadapan hutan pinus, kita belajar bahwa cinta bisa hadir dalam diam. Dalam pelan. Dalam sederhana.

Senja mendekat. Kabut mulai turun dari atas bukit. Tapi kita belum juga beranjak. Rasanya kita sedang menunda sesuatu yang sulit dihadapi: pulang. Sebab pulang berarti kembali ke dunia di mana kita harus berpura-pura. Pura-pura tidak jatuh cinta. Pura-pura tidak rindu. Pura-pura tidak ingin menyebut nama satu sama lain setiap saat.

Aku tahu besok kamu akan kembali ke kota. Kembali jadi orang penting yang banyak rapat. Aku juga tahu, aku akan kembali ke meja kerja, menatap layar, mengetik sesuatu yang tidak membuat jantungku berdegup seperti ketika menyentuh pipimu tadi. Dunia menunggu kita kembali. Tapi dunia tidak tahu bahwa sore ini, di tengah hujan dan pinus, ada dua manusia yang sedang belajar untuk ikhlas.

"Aku ingin berhenti waktu," katamu.

"Kalau waktu berhenti, kita akan kehilangan kenangan," jawabku.

"Kenangan bisa menyakitkan," balasmu.

"Tapi tanpanya, kita tak akan pernah tahu bahwa kita pernah bahagia."

Di tengah percakapan itu, aku menyadari bahwa cinta tidak butuh definisi. Ia hanya perlu dihidupi. Diselami. Dirayakan. Bahkan jika suatu hari ia harus pergi, setidaknya ia pernah ada. Seperti hujan sore ini yang barangkali akan berhenti, tapi aromanya akan tinggal di jaket kita sampai esok hari.

Dan kamu, tetap duduk di sana. Menatapku. Seolah-olah kamu tahu bahwa aku tak akan pernah bisa melupakan sorot matamu yang sendu. Kita bukan siapa-siapa. Tapi bagi semesta kecil di hutan pinus ini, kita adalah sepasang manusia yang sedang menulis puisi dengan tubuh dan perasaan. Dan puisi itu tidak perlu dibacakan. Ia cukup hidup di antara gerimis dan napas yang kita hembuskan bersama.

Kita bukan benar-benar di Swiss. Tapi siapa bilang cinta hanya bisa tumbuh di negeri bersalju? Di lereng Banyuwangi ini, cinta bisa tumbuh dari payung kecil, dari tangan yang saling menggenggam, dari pelukan pelan yang tak ingin terburu-buru.

Kita tahu, dunia tak selalu adil. Kita juga tahu, waktu tak bisa diajak kompromi. Tapi selama kita masih bisa menatap langit yang sama, selama payung ini masih bisa menutupi dua orang, dan selama senyummu masih bisa memantul di mataku, maka aku akan percaya bahwa cinta tidak pernah salah alamat.

Malam datang. Hujan reda. Kita mulai berjalan turun. Pelan. Meninggalkan aroma pinus dan suara air yang mengalir seperti lagu lama yang baru saja didengar ulang. Dan dalam hati, aku tahu: tak peduli ke mana kaki melangkah nanti, aku pernah punya satu sore yang membuatku merasa utuh.

Di tengah dunia yang kerap membuat manusia merasa kehilangan, kita telah menemukan diri kita sendiri—di balik payung kecil itu, di bawah pinus yang menjuntai tangan ke langit, di tepi sungai kecil yang menyimpan bisik-bisik rahasia.

Dan semua itu, terjadi bukan di Swiss. Tapi di salah satu puncak kecil di Banyuwangi, yang oleh sebagian orang disebut biasa saja. Tapi bagi kita, ia adalah tempat di mana cinta akhirnya berani menyebut dirinya sendiri: hadir.

Songgon, 18-05-2025

Seni yang Resah di Padepokan Tua: Dari Kopi, Kata, dan Kegelisahan Budaya

Lemahbang Dewo, (Warta Blambangan) Sabtu Sore (17/05/2025)  menyelinap pelan di desa Lemahbang Dewo. Langit seperti kanvas senja yang digores lembayung. Di antara rindang bonsai tua yang seolah menyimpan rahasia zaman, sebuah padepokan milik Profesor Jaenuri menjadi saksi bisu pertemuan mereka yang masih percaya bahwa budaya bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan.

Tidak ada panggung resmi. Tidak ada meja panel atau mikrofon. Gesah sore itu berlangsung tanpa moderator, mengalir sekenanya, seperti sungai kecil yang mengikuti lekuk tanah. Di tempat yang oleh warga sekitar dijuluki “palagan seni” atau “tempat orang-orang bersila dalam diam,” berkumpullah para pengangguran, penyair, dan budayawan Banyuwangi. Mereka datang tak berseragam, tak bertata protokoler. Mereka hadir seperti daun yang tahu arah angin. Dengan secangkir kopi dan hati yang tersulut, mereka bicara: tentang budaya, tentang luka, dan tentang jalan pulang. 

Diskusi dimulai pelan. Di hadapan gelas kaca yang mulai berembun dan kue pisang yang tak sempat dipilih, Aekanu Hariyono dari Killing Osing membuka suara. Pria yang dikenal menyulap panggung-panggung musik menjadi altar kesadaran budaya itu berkata lirih tapi tegas,

“Seni itu bukan wilayah liar. Ia punya pakem. Sejak zaman keraton, sampai zaman kemerdekaan, ada garis-garis yang tak boleh dilanggar. Kita boleh kreatif, tapi tak bisa liar tanpa arah.”

Sejenak hening. Angin sore membawa aroma kopi dari dapur kayu. Lalu, suara Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, memecah diam. Wajahnya seperti sedang membaca kitab tua yang isinya retak di tengah.

“Pakem itu roh,” katanya, “tapi agar roh itu tidak membeku, ia harus disiram sentuhan religi. Ruh yang ditinggal nilai-nilai langit akan hanyut di sungai gemerlap yang membawa kita pada pamer tubuh dan goyangan tak layak.”

Diskusi itu bukan seminar. Ia seperti zikir diam-diam. Sebuah sembahyang tanpa sajadah. Hadir pula Fatah Yasin Nor, penyair yang menulis dari patahan sejarah, dan Ribut Kalembuan, budayawan yang biasa menyampaikan sindiran lewat parikan dan celetuk. Tapi sore itu, Ribut lebih banyak diam. Mungkin terlalu pedih untuk diucapkan.

KRT Ilham, lelaki abdi negara yang dikenal sebagai ahli keris dan pawang hujan dalam upacara Proklamasi di Ibu Kota Nusantara, hanya mengangguk dan berkata pendek,

“Dulu, hujan pun tahu malu saat hendak turun di waktu sakral. Tapi sekarang, manusia malah bersorak saat seni kehilangan pakaiannya.”

Sementara itu, Moh. Husen, penulis yang menjadikan tiap lembah dan gang kampung sebagai aksara hidup, mencatat. Entah esok catatan itu menjelma sajak atau esai pedih tentang zaman yang menertawakan dirinya sendiri.

Topik utama sore itu adalah pertunjukan seni yang belum lama ini digelar, dan menuai kehebohan karena menghadirkan atraksi yang menjurus ke pornografi. Tubuh yang dipamerkan di panggung bukan untuk memuliakan rasa, melainkan untuk dijual pada mata yang lapar dan mulut yang bersorak. Seni ditarik ke lembah murahan. Budaya Banyuwangi, yang semestinya harum oleh dupa dan kidung, justru berbau kosmetik murahan dan parfum panggung.

Tak ada nama yang disebut. Tak ada personal yang disalahkan. Yang mereka persoalkan adalah arah. Bahwa arah seni telah bergeser. Bahwa kompas budaya kehilangan utara. Bahwa “kreativitas” kini menjadi dalih untuk segala hal, termasuk yang menjatuhkan marwah dan mencoreng warisan luhur.

Sore merambat ke malam. Lampu minyak dinyalakan. Tak ada resolusi resmi. Tak ada notulensi. Tapi diskusi itu menyisakan bara. Mereka pulang dengan dada yang masih hangat oleh kopi dan kata. Budaya belum mati, pikir mereka. Selama masih ada yang resah. Selama masih ada yang berani bicara, meski panggungnya hanya bale bambu di tengah desa.

Dan Padepokan Jaenuri, di tengah sunyi Lemahbang Dewo, kembali menjadi altar. Tempat doa-doa kebudayaan dinaikkan. Dengan bahasa. Dengan cinta. Dengan harapan, bahwa anak cucu kita kelak tidak sekadar menonton tubuh, tapi merasakan ruh.

— Redaksi Lentera Budaya Banyuwangi

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger