Banyuwangi - MI. Darunnajah II Tukangkayu Banyuwangi, mengadakan bercerita lomba Siroh Nabawi dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, yang dibuka oleh Majidatul Himmah, Kepala MI Darun Najah II, Rabu (06/10/2022) Acara yang dilaksanakan di aula atas ini dikuti oleh siswi MI. Darun najah II sebanyak 45 peserta dari perwakilan kelas 1 hingga kelas 6,. Materi bercerita yang dibawakan adalah Sejarah Perjalanan Nabi Muhammad Saw.
Lomba Siroh Nabawi dalam Memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw di MI Darunnajah II.
Banyuwangi - MI. Darunnajah II Tukangkayu Banyuwangi, mengadakan bercerita lomba Siroh Nabawi dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, yang dibuka oleh Majidatul Himmah, Kepala MI Darun Najah II, Rabu (06/10/2022) Acara yang dilaksanakan di aula atas ini dikuti oleh siswi MI. Darun najah II sebanyak 45 peserta dari perwakilan kelas 1 hingga kelas 6,. Materi bercerita yang dibawakan adalah Sejarah Perjalanan Nabi Muhammad Saw.
Kuis Interaktif Berhadiah Mewarnai Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Yayasan Darun Najah Banyuwangi*
Sebanyak 70 personil drumband Gita Nada Darun najah mengawali peringatan maulid Nabi Muhammad Saw dengan pawai endog-endogan yang dilepas oleh Hj. Ma'mulah Harun, selaku Pengurus Yayasan Pendidikan Sosial Darun najah Banyuwangi tepat pada jam 06.30 WIB, dengan diiringi puluhan hiasan telur diatas becak serta barisan siswa siswi MI Darun najah I dan II serta MTs. Darun najah. Kemeriahan ini dilengkapi dengan pembagian telur untuk penonton sepanjang jalan yang dilalui pada saat kirab. Ditempat terpisah beberapa siswa dan para asatidz membaca dzikir maulid diatas pentas dengan diiringi hadrah al banjari.
(Bu nyai Hj. Ma'mulah, sapaannya), menyampaikan bahwa dengan adanya peringatan kegiatan maulid Nabi Muhammad Saw ini, maka dapat menambah kecintaan para asatidz serta murid-murid Darunnajah terhadap Baginda Rasulullah Saw, dengan cara mengadakan berbagai lomba yang masih terkait dengan edukasi dan memuat keteladanan Rasulullah Saw.
Pada bulan istimewa ini, banyak masjid, musholla, sekolah bahkan kantor pemerintahan memperingati bulan kelahiran Baginda Rasulullah, sebagai ungkapan rasa cinta umat Nabi Muhammad kepada Rasulnya. Begitu pula di Yayasan Pendidikan Sosial Darun najah, beberapa hari sebelum kegiatan maulid Nabi, diadakan lomba-lomba untuk siswa dalam rangka memperkuat rasa cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Diantaranya lomba bercerita Siroh Nabawi, lomba dzikir maulid serta lomba menghias judang telur yang melibatkan para wali murid dalam menghias. Juara 1 lomba bercerita Siroh Nabawi diraih oleh Azza Kamilatuz Zahra siswi Kelas IIB MI. Darun najah II. Lomba dzikir maulid dimenangkan oleh kelompok dari kelas VI MI Darun najah II dengan vokalis Aisyah Zahrotul Firdausi dan Lomba menghias judang dimenangkan oleh kelompok dari kelas 2A MI. Darun najah I.
"Saya berharap acara ini bukan hanya sekedar acara rutinan tahunan saja, dan bukan sekedar seremonial belaka, akan tetapi peringatan maulid yang dilaksanakan ini, harapannya agar kita kembali mengingat sejarah Nabi Muhammad Saw, dan agar kita mengetahui keluhuran akhlak-akhlak beliau, sehingga dapat kita jadikan contoh dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari". ujar Nasrudin selaku ketua panitia PHBI. (eni.k)
Lentera Sastra Bedah Novel Rembulan di Pucuk Cemara.
Novel karya Sulistyowati dengan Judul Rembulan di Pucuk Cemara dibedah Komunitas Lentera Sastra dalam Jambore Literasi Banyuwangi Book Fair pada hari ke sembilan, Jumat (14/10/2022)
Mahasiswa Untag Banyuwangi ikuti Bedah Buku pada Jambore Literasi.
Perkuliahan di luar Kampus Mahasiswa FISIP Untag Banyuwangi diisi dengan mengikuti Bedah Buku Novel dengan Judul Rembulan di Pucuk Cemara karya Sulistyowati pada Jambore Literasi Banyuwangi Book Fair hari kesembilan, Jumat (14/10/2022) di Gedung Juang Banyuwangi..
Elvin Hendratha Bedah Buku di Hari Terahir Jambore Literasi*
Staf Bimas Islam dipercaya Sebagai Juri KTN APGURAINDO
Menariknya salah satu kegiatan yang dilaksanakan lembaga dibawah binaan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam tersebut dipercayakan kepada salah satu staf Seksi Bimbingan Masyarakat Islam.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr. Moh. Amak Burhanudin menyampakan bahwa yang terpenting dari seorang juri bukan dari seksi mana, yang terpenting adalah kemampuan individu dari juri tersebut.
Syafaat yang beberapa kali membimbing Karya Tulis Ilmiah (KTI) tersebut juga pernah dipercaya sebagai juri KTI-Al Qur'an LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an) Kabupaten Banyuwangi.
Lebih lanjut Amak menyampaikan bahwa Juri bukan hanya menyeleksi dan memilih karya terbaik, tetapi juga memberikan pembinaan kepada para penulis agar dapat menyampakan karya tulis yang lebih baik lagi.
Syafaat merasa puas dengan hasil KTN para guru sejumlah 33 peserta tersebut, meskipun beberapa peserta kurang pas dalam penulisan.
"Ada beberapa peserta yang membuat karya tulis PTK (Penelitian Tindakan Kelas) karena tidak dapat membedakan JTN dengan PTK" ungkapnya.
Lebih lanjut ketua Komunitas Lentera Sastra (Terminal Literasi Pegawai Kementerian Agama) tersebut menyampaikan bahwa seringkali ketika ada lomba menulis, peserta tidak benar-benar menahami juknis yang telah disampaikan, sehingga ada peserta yang meskipun karyanya bauk, tetapi tidak sesuai dengan yang diharapkan dalam Juknis (syaf)
Madrasah Ramah Anak
Madrasah Ramah Anak
Oleh : Majidatul Himmah
Mengembangkan disiplin anak tanpa kekerasan dan perendahan martabat merupakan salah satu kode etik dalam perlindungan anak. Pemahaman tersebut perlu dikembangkan pada satuan pendidikan di semua tingkatan agar menumbuhan kesadaran yang timbul dari dalam diri anak, dan bukan karena keterpaksaan, terhindar dari trauma akibat perlakuan yang kurang benar dalam pendidikan. Kita harus sama-sama memahami bahwa setiap anak dan keluarganya memiliki kehidupan privasi yang tidak boleh dicampuri oleh siapapun secara tidak sah.
Membahas tentang sekolah ramah anak seakan janggal dan tidak masuk akal dengan satu pertanyaan yang muncul, yakni : adakah sekolah yang tidak ramah anak? ataukah seperti apa sekolah yang tidak ramah anak?. pertanyaan semacam ini lumrah dan memang memerlukan jawaban dan pengertian, sehingga tidak timbul stigma bahwa selama ini sekolah tidak ramah anak, atau masih banyak satuan pendidikan yang tidak ramah anak dan lain sebagaimnya.
Satuan pendidikan, baik sekolah maupun madrasah merupakan tempat terbaik untuk mendidik anak-anak di semua tingkatan, sebagai tempat untuk mengembangkan kemampuan anak dalam meraih masa depan, dan diharapkan satuan pendidikan merupakan tempat yang nyaman dan aman bagi anak- anak untuk melakukan segala aktifitas yang berkaitan dengan pengembangan diri, menyalurkan bakat dan minat anak.
Madrasah Ramah Anak adalah sekolah yang secara sadar berupaya menjamin dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggung jawab. Prinsip utama adalah non diskriminasi kepentingan, hak hidup serta penghargaan terhadap anak. Sebagaimana dalam bunyi pasal 4 Undang-Undang No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, menyebutkan bahwa anak mempunyai hak untuk dapat hidup tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi. Disebutkan di atas salah satunya adalah berpartisipasi yang dijabarkan sebagai hak untuk berpendapat dan didengarkan suaranya. Sekolah Ramah Anak adalah sekolah yang terbuka melibatkan anak untuk berpartisipasi dalam segala kegiatan, kehidupan sosial, serta mendorong tumbuh kembang dan kesejahteraan anak. Beberapa pasal dalam Undang- undang ini dirubah dengan Undang-undang nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002
Sekolah Ramah Anak adalah sekolah/madrasah yang aman, bersih, sehat, hijau, inklusif dan nyaman bagi perkembangan fisik, kognisi dan psikososial anak perempuan dan anak laki-laki termasuk anak yang memerlukan pendidikan khusus dan/atau pendidikan layanan khusus. Setiap anak merupakan individu yang berbeda yang harus diberi kesempatan yang sama sesuai dengan kemampuannya untuk melakukan segala aktifitas positif dan terbebas dari rasa takut. Karenanya menjadi sebuah kewajiban bagi orang dewasa untuk membantu anak mengembangkan rasa hormat kepada orangtua anak, identitas budaya, bahasa, nilai-nilai dan tahapan peradaban yang berbeda.
Madrasah merupakan satuan pendidikan dibawah binaan Kementerian Agama yang pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan satuan pendidikan lainnya, kekhususan dari madrasah adalah pendidikan budi pekerti dan kurikulum pendidikan rumpun agama yang diberikan porsi yang lebih besar dibandingkan dengan satuan pendidikan lainnya. Nilai-nilai agama tersebut diharapkan menjadi ciri khas dari alumni madrasah untuk memiliki rasa kesopanan dan kejujuran dalam segala tindakan dimasa depan.
Beberapa dari orang-orang dewasa mungkin membandingkan dengan pendidikan masa lalu yang menurut pemikiran saat ini dianggap kurang ramah anak, pemikiran bahwa hukuman yang diberikan para pendidik dimasa lalu yang kadangkala juga disertai beberapa kekerasan (meskipun terukur), dianggap tidak menjadi masalah dengan bukti bahwa para alumni dari pendidikan masa lalu juga banyak yang menjadi pemimpin hebat pada masanya.
Setiap zaman memiliki cara pandang yang berbeda, yang terus berkembang sesuai dengan perkembangannya, karenanya tidak dapat
(sepenuhnya) menjadi pembanding dari pola pendidikan dengan zaman yang berbeda, terlebih bagi pendidikan yang dilakukan dimasa anak-anak yang menurut Undang-undang perlindungan anak adalah mereka yang usianya kurang dari 18 tahun.
Mendidik anak dengan tanpa kekerasan yang dapat menumbuhkan disiplin anak yang muncul dari dalam diri sendiri membutuhkan kerjasama yang baik dari semua unsur pada satuan pendidikan, serta peran serta orang tua dan lingkungan, hal ini mengingat pola asuh yang berbeda terhadap anak sangat berpengaruh terhadap sikap anak dalam satuan pendidikan. Kebebasan yang diberikan terhadap anak dalam satuan pendidikan juga harus mendapatkan kontrol dari para pendidik, sehingga anak-anak tidak terjebat pada kebebasan yang tidak terkendali yang mengabaikan nilai-nolai moral da etika. Menumbuhkan disiplin pada anak dengan cara melakukan kebaikan secara terus menerus sangat diperlukan agar pembiasaan tersebut terbawa hingga dewasa.
Anak-anak juga mempunyai hak untuk diajak berdiskusi dan mengeluarkan pendapat, karenanya dalam penetapan aturan yang diberlakukan bagi anak-anak juga harus melibatkan anak dalam tingkatan yang berbeda, mereka bukan hanya obyek bagi orang dewasa yang harus menuruti semua kemauannya, dengan pelibatan anak akan menumbuhkan kesadaran bagi anak itu sendiri untuk mengikuti aturan yang ditetapkan.
Pada dasarnya setiap madrasah merupakan satuan pendidikan ramah anak, pola pendidikan yang mengedepankan budi pekerti dan nilai-nilai keagamaan yang kuat akan membentuk disiplin pada anak untuk mengikuti aturan tanpa adanya pemaksaan maupun keterpaksaan, terlebih bagi anak yang menjalani pendidikan di madrasah hingga lepas dari usia anak-anak, mereka diharapkan akan membawa nilai-nilai disiplin dan kejujuran tersebut hingga mereka menjadi para pemimpin di masa depan.
*Penulis adalah Kepala MI Darun Najah II Tukangkayu Banyuwangi












