Pages

Lomba Siroh Nabawi dalam Memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw di MI Darunnajah II.


Banyuwangi - MI. Darunnajah II Tukangkayu Banyuwangi, mengadakan bercerita lomba Siroh Nabawi dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, yang dibuka oleh Majidatul Himmah, Kepala MI Darun Najah II, Rabu (06/10/2022) Acara yang dilaksanakan di aula atas ini dikuti oleh siswi MI. Darun najah II sebanyak 45 peserta dari perwakilan kelas 1 hingga kelas 6,. Materi bercerita yang dibawakan adalah Sejarah Perjalanan Nabi Muhammad Saw.


Dalam sambutannya, Majidatul Himmah mengharapkan melalui lomba ini anak-anak dapat termotivasi untuk lebih giat berlatih, dalam kegiatan literasi khususnya membaca, karena dengan membaca maka pengetahuan anak-anak akan lebih luas dan lebih berkembang sehingga anak-anak akan lebih mudah untuk menuangkan pengetahuan mereka dalam sebuah cerita, selain itu dengan adanya lomba ini dia berharap dapat melatih anak-anak untuk lebih percaya diri dan berani untuk berekspresi.
"acara ini juga dilaksanakan dalam rangka bulan bahasa" ungkap Majid.
Lebih lanjut Majid menyampaikan bahwa dengan kegiatan ini siswa semakin faham dengan siroh Nabawi, juga menambah pengalaman bagi siswa untuk lebih berani tampil di depan publik.

Agus Nuryadi Selaku dewan juri dalam lomba ini juga mengungkapkan bahwa lomba ini sangat bermanfaat bagi anak-anak untuk mengetahui bagaimana cerita perjalanan nabi Muhammad Saw. "Dalam membawakan sebuah cerita kita harus berani untuk mengeluarkan suara, berekspresi, mampu mengajak audience berkomunikasi, dan mampu menggunakan atau memainkan properti dalam cerita". Ujar Agoek (panggilan akrabnya). Dalam kesempatan ini Agus juga mengajak anak-anak untuk berlatih dalam mengeluarkan vokal, mengatur suara, serta dalam memainkan warna suara. Dia juga berharap kedepannya anak-anak MI Darunnajah II dapat berkembang lagi dan bisa mengikuti perlombaan selanjutnya hingga tingkat provinsi. (Eni K.)

Kuis Interaktif Berhadiah Mewarnai Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Yayasan Darun Najah Banyuwangi*


Banyuwangi - Darunnajah. Puncak acara peringatan maulid Nabi Muhammad Saw dilakukan serentak oleh seluruh keluarga besar Darunnajah dengan bersholawat dan Kirab Endog-endogan. Acara yang diadakan di halaman madrasah ini diikuti oleh seluruh siswa-siswi MI Darun najah I dan II serta MTs Darun najah, seluruh dewan asatidz, beberapa Pengurus Yayasan Pendidikan Sosial Darunnajah dan beberapa anggota paguyuban kelas, pengurus komite sekolah, serta beberapa wali murid yang ikut serta dalam memeriahkan acara ini. Dalam kegiatan ini ada hal yang menarik perhatian para siswa-siswi, saat KH Latief Harun selaku Pengasuh Pesantren Darun najah disela-sela sambutannya mengadakan kuis interaktif dengan memberikan hadiah uang tunai sebesar Rp. 50.000 bagi siswa yang dapat menjawab dengan benar. Sabtu(15/10/2022)

Sebanyak 70 personil drumband Gita Nada Darun najah mengawali peringatan maulid Nabi Muhammad Saw dengan pawai endog-endogan yang dilepas   oleh Hj. Ma'mulah Harun, selaku Pengurus Yayasan Pendidikan Sosial Darun najah Banyuwangi tepat pada jam 06.30 WIB, dengan diiringi puluhan hiasan telur diatas becak serta barisan siswa siswi MI Darun najah I dan II serta MTs. Darun najah. Kemeriahan ini dilengkapi dengan pembagian telur untuk penonton sepanjang jalan yang dilalui pada saat kirab. Ditempat terpisah beberapa siswa dan para asatidz membaca dzikir maulid diatas pentas dengan diiringi hadrah al banjari.

(Bu nyai Hj. Ma'mulah, sapaannya), menyampaikan bahwa dengan adanya peringatan kegiatan maulid Nabi Muhammad Saw ini, maka dapat menambah kecintaan para asatidz serta murid-murid Darunnajah terhadap Baginda Rasulullah Saw, dengan cara mengadakan berbagai lomba yang masih terkait dengan edukasi dan memuat keteladanan Rasulullah Saw.

Pada bulan istimewa ini, banyak masjid, musholla, sekolah bahkan kantor pemerintahan memperingati bulan kelahiran Baginda Rasulullah, sebagai ungkapan rasa cinta umat Nabi Muhammad kepada Rasulnya. Begitu pula di Yayasan Pendidikan Sosial Darun najah, beberapa hari sebelum kegiatan maulid Nabi, diadakan lomba-lomba untuk siswa dalam rangka memperkuat rasa cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Diantaranya lomba bercerita Siroh Nabawi, lomba dzikir maulid serta lomba menghias judang telur yang melibatkan para wali murid dalam menghias. Juara 1 lomba bercerita Siroh Nabawi diraih oleh Azza Kamilatuz Zahra siswi Kelas IIB MI. Darun najah II. Lomba dzikir maulid dimenangkan oleh kelompok dari kelas VI MI Darun najah II dengan vokalis Aisyah Zahrotul Firdausi dan Lomba menghias judang dimenangkan oleh kelompok dari kelas 2A MI. Darun najah I.

"Saya berharap acara ini bukan hanya sekedar acara rutinan tahunan saja, dan bukan sekedar seremonial belaka, akan tetapi peringatan maulid yang dilaksanakan ini, harapannya agar kita kembali mengingat sejarah Nabi Muhammad Saw, dan agar kita mengetahui keluhuran akhlak-akhlak beliau, sehingga dapat kita jadikan contoh dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari". ujar Nasrudin selaku ketua panitia PHBI. (eni.k)

Lentera Sastra Bedah Novel Rembulan di Pucuk Cemara.


Novel karya Sulistyowati dengan Judul Rembulan di Pucuk Cemara  dibedah Komunitas Lentera Sastra dalam Jambore Literasi Banyuwangi Book Fair pada hari ke sembilan, Jumat (14/10/2022)


Selain menghadirkan sang Penulis yang didampingi Kepala MTsN 1 Banyuwangi Salman, juga para penulis handal dari Banyuwangi, seperti Nurul Ludfia Rochmah, Guru MAN 1 Banyuwangi yang telah menerbitkan lebih dari 20 judul buku, juga Dosen Untag Banyuwangi Muttafaqur Rohmah serta Ketua Komunitas Lentera Sastra Syafaat.
Sang penulis menyampaikan bahwa inti novel yang ditulisnya merupakan kisah tentang perjodogan dengan teman kecil yang sempat ditolak. Sulistyowati menyampaikan bahwa ada filosofi tersendiri dari judul novel yang ditulisnya.
"tokoh dalam novel tersebut bernama Luna yang artinya bukan, serta Surya yang berarti matahari, Rembulan tidak akan menampakkan sinarnya tanoa adanya matahari" ungkapnya.


Anggota Komunitas Lentera Sastra yang  juga Guru Matematika ini menyampaikan bahwa tidak semua bentuk perjodohan itu tidak baik, banyak juga perjodohan yang berakhir bahagia.
Muttafaqur Rohmah menyampaikan bahwa Novel ini ditulis oleh "orang gila" hal ini disampaikan dengan mengingat Novel setebal 374 halaman tersebut ditulis tidak sampai setahun oleh penulis yang mempunyai tugas sebagai seorang pendidik.
"Saya belum mampu menulis novel secepat Bu Sulis" ungkapnya.
Dihadapan peserta yang sebagian besar merupakan Mahasiswa Untag Banyuwangi ini Bu Uut (Panggilan akrabnya) mengajak para Mahasiswa bukan hanya mencermati novel dari nilai sastranya saja, terapi juga nilai sosial yang terkandung di dalamnya.

Berbeda dengan Bu Uut, Nurul Ludfia Rochmah atau biasa disapa Bu Upik ini menyebut sang Penulis sebagai "orang sakti" yang dapat menyelesaikan novel bernilai sastra tinggi dalam waktu cepat. Bu Upik juga membahas tentang nilai-nilai dan Kajuan Sastra. Para peserta yang terdiri dari Mahasiswa Untag Banyuwangi, Unej Jember, Siswa MAN 1 dan MTsN 1 Banyuwangi, serta SDN 1 Giri sangat antusuas mendengarkan paoaran para Narasumber.

Sementara itu Syafaat memberikan apresiasi terhadap kebangkitan Literasi pada Kementerian Agama dan masyarakat Banyuwangi.
"Jambore Literasi dengan persiapan sangat mendadak yang dikoordinasikan melalui WhatsApp dapat terlaksana dengan baik, dan hari ini dengan narasumber yang luar biasa serta peserta yang tidak kebagian tempat duduk dan rela menggelar banner untuk mengikuti bedah buku" ungkapnya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Moh. Amak Burhanudin yang mengikuti kegiatan secara Streaming pada saluran Youtube Lentera Sastra menyampaikan apresiasi terhadap penulus dan Narasumber dari Kementerian Agama.
"Semangat Literasi Kemenag Banyuwangi untuk Indonesia" ungkapnya.
Acara yang dipandu Nur Khofifah dari MIN 1 Banyuwangi tersebut lebih menarik ketika pada sesi tanya jawab.(syaf)

Mahasiswa Untag Banyuwangi ikuti Bedah Buku pada Jambore Literasi.


Perkuliahan di luar Kampus Mahasiswa FISIP Untag Banyuwangi diisi dengan mengikuti Bedah Buku Novel dengan Judul Rembulan di Pucuk Cemara karya Sulistyowati pada Jambore Literasi Banyuwangi Book Fair hari kesembilan, Jumat (14/10/2022) di Gedung Juang Banyuwangi..

Dosen Bahasa Indonesia Untag Banyuwangi Muttafaqur Rohmah menyampaikan bahwa sengaja para Mahasiswa diajak kuliah diluar kampus untuk ikut bedah Sastra agar Mahasiswa membaca Novel bukan hanya menikmati alur ceritanya saja, tetapi juga niilai Sastra maupun  nilai sosial yang terkandung di dalamnya.


Selain menghadirkan sang Penulis yang didampingi Kepala MTsN 1 Banyuwangi Salman, juga para penulis handal dari Banyuwangi, seperti Nurul Ludfia Rochmah, Guru MAN 1 Banyuwangi yang telah menerbitkan lebih dari 20 judul buku, juga Dosen Untag Banyuwangi Muttafaqur Rohmah serta Ketua Komunitas Lentera Sastra Syafaat.
Sang penulis menyampaikan bahwa inti novel yang ditulisnya merupakan kisah tentang perjodogan dengan teman kecil yang sempat ditolak. Sulistyowati menyampaikan bahwa ada filosofi tersendiri dari judul novel yang ditulisnya.

Dalam kesempatan tersebut Sulis juga bertanya kepada peserta.
^maukah anda di jodohkan ?"
Para Mahasiswa menjjawab kompak tidak.
Tetapi ketika Narasumber dari MAN 1 Banyuwangi menyampaikan bagaimana jija dijodohkan dengan orang yang keren, alim dan mapan, para Mahasiswa kompak diam.

Dalam sesi tanya jawab, para peserta berebut menyampaikan berbagai pertanyaan, mereka antusias ingin mencoba menjadi penulis 
Seperti yang ditanyakan Putri dari Unej Jember tentang penerbitan buku.
Syafaat menyampaikan bahwa saat ini lebih mudah menerbitkan buku, terutama penerbit indie.
"Selain menerbitkan karya dalam bentuk buku, juga dapat dalam bentuk e-book maupuun disebarkan melalui media online maupun medua cetak" ungkapnya.
Syafaat juga menyampaikan beberapa kiat menulis  baik untuk siswaa sekolah dasar hingga para Mahasisw.
Acara yang dipandu Mbak Vieva tersebut juga dihadiri para budayawan Seperti Aekanu Hariyono, Fatah Yasin Nur serta penulis produktif Ira Rahmawati.

Pada Narasumber memberikan sebutan berbeda kepada Sulistyowati yang nenulis Novel setebal 374 halaman yang ditulis dalam waktu rrelatif singkat. .Muttafaqur Rohmah menyebut penulis  dengan kegilaan hingga dapat menyelesaikannya, sedangkan Nurul Ludfia Rochmah menyelesaikan Sulistyowati orang sakti. Yang menarik ungkapan Syafaat yang menyampaikan bahwa Guru Matematika tersebut tersesat di jalan yang benar. (Syaf)

Elvin Hendratha Bedah Buku di Hari Terahir Jambore Literasi*


Kegiatan Jambore Literasi Banyuwangi Book Fair di Gedung Juang pada hari kesepuluh atau hari terahir Sabtu (15/10/2022) ditutup dengan bedah buku "Angklung Tabung Musik Blambangan" yang dususun Elvin Hendratha, penulis yang berprofesi sebagai Kepala Kantor Cabang Bank Mandiri Probolinggo. 

Pembicara dalam bedah buku yang di mideratori Zakki tersebut selain sang penulis, adalah Adlin Mustika Musisi Banyuwangi, Moh. Syaiful pemerhati angklung Banyuwangi serta Ketua DKB (Dewan Kesenian Belambangan) Hasan Basri. 


Elvin menyampaikan tentang proses penyusunan buku dengan mengumpulkan berbagai referensi dan melakukan wawancara dengan banyak sumber.
Salah satu pembina group musik Joyokaryo Akustik Banyuwangi tersebut menyampaikan bahwa penyusunan buku ini merupakan bentuk kepedulian terhadap seni di Banyuwangi sebagai kampung halamannya.
"Seni musik tradisional di Banyuwangi telah lama ada dan dikenal ke seluruh Indonesia, namun masih sangat jarang buku yang membahasnya" ungkapnya.
Lebih lanjut Elvin menyampaikan bahwa banyak orang yang tidak percaya jika buku tersebut karyanya sendiri, hal ini disebabkan profesinya sebagai pegawai bank dengan kesibukan pekerjaan yang tidak ada hubungan secara langsung dengan buku yang ditulisnya. 

Keraguan keaslian naskah tersebut dibantah oleh Muttafaqur Rohmah, Dosen Untag Banyuwangi yang hadir dalam kegiatan tersebut sebagai editor buku yang dibedah. Uut (Panggilan akrabnya) menyampaikan bahwa pada awalnya dia juga tidak percaya bahwa seorang Kepala Kanca Bank dapat menulis buku sebagus itu.
"Ini merupakan kegilaan dari orang sakti yang dapat menuliskannya" ungkapnya.
Lebih lanjut Uut menyampaikan bahwa buku tersebut sangatlah detail dan rinci yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
"Beliau adalah orang bank yang sudah terbiasa teliti dalam manajemen, satu rupiahpun tidak boleh salah, dan begitu juga dalam menulis buku yang sedang dibedah ini" ungkapnya. 


Lain dengan Yons DD, yang menyampaikan tentang kepiawaian penulis dibidang sastra. "Ada karyanya yang kita jadikan lagu, yakni Suling Montro" ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut Yons dengan diiringi Joyokaryo Akustik menyanyikan lagu Suling Montro ciptaan Yons DD dan Elvin Hendratha. 

Diskusi sangat hidup, bukan hanya kehadiran group musik Joyokaryo, tetapi kehadiran para penulis sejarah dan budaya Banyuwangi juga hadir, seperti Aekanu Hariyono, M. Husein dan penulis yang berprofesi Dosen Uniba Wiwin Indiarti. 

Ketua Komunitas Lentera Sastra (Terminal Literasi Pegawai Kementerian Agama) Syafaat yang hadir dalam bedah buku di hari terakhir Banyuwangi Book Fair tersebut menyampaikan bahwa kesempatan mengikuti bedah buku merupakan hal yang langka, sehingga sangat eman jika dilewatkan.
"Saya menerima buku yang dicetak eksklusif dengan gambar berwarna didalamnya" ungkapnya.
Lebih lanjut Syafaat menyampaikan bahwa buku dengan cover warna hitam tersebut juga disertai gambar atau foto berwarna didalamnya. 

Ditanya tentang kualitas buku yang disusunnya, Elvin menyampaikan bahwa sengaja buku tersebut dicetak eksklusif  sehingga selain menarik isinya juga bagus covernya. 
Elvin juga menyampaikan bahwa dirinya akan terus menulis tentang sejarah musik dan budaya di Banyuwangi. (syaf)

Staf Bimas Islam dipercaya Sebagai Juri KTN APGURAINDO



Karya Tulis Nyata (KTN) merupakan karya tulis dari pekerjaan maupun kegiatan unggulan yang dilaksanakan. Tidak ada siklus dalam KTN tersebut. Hal ini disampaikan Syafaat, Staf Seksi Bimbingan Masyarakat Islam yang dipercaya sebagai Juri dalam Lomba KTN APGURAINDO (Apresiasi Guru RA Indonesia) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2022 Kamis (05/06/2022) di aula atas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.
Menariknya salah satu kegiatan yang dilaksanakan lembaga dibawah binaan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam tersebut dipercayakan kepada salah satu staf Seksi Bimbingan Masyarakat Islam.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr. Moh. Amak Burhanudin menyampakan bahwa yang terpenting dari seorang juri bukan dari seksi mana, yang terpenting adalah kemampuan individu dari juri tersebut.
Syafaat yang beberapa kali membimbing Karya Tulis Ilmiah (KTI) tersebut juga pernah dipercaya sebagai juri KTI-Al Qur'an LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an) Kabupaten Banyuwangi.
Lebih lanjut Amak menyampaikan bahwa Juri bukan hanya menyeleksi dan memilih karya terbaik, tetapi juga memberikan pembinaan kepada para penulis agar dapat menyampakan karya tulis yang lebih baik lagi.
Syafaat merasa puas dengan hasil KTN para guru sejumlah 33 peserta tersebut, meskipun beberapa peserta kurang pas dalam penulisan.
"Ada beberapa peserta yang membuat karya tulis PTK (Penelitian Tindakan Kelas) karena tidak dapat membedakan JTN dengan PTK" ungkapnya.
Lebih lanjut ketua Komunitas Lentera Sastra (Terminal Literasi Pegawai Kementerian Agama) tersebut menyampaikan bahwa seringkali ketika ada lomba menulis, peserta tidak benar-benar menahami juknis yang telah disampaikan, sehingga ada peserta yang meskipun karyanya bauk, tetapi tidak sesuai dengan yang diharapkan dalam Juknis (syaf) 

Madrasah Ramah Anak

 Madrasah Ramah Anak


Oleh : Majidatul Himmah



Mengembangkan disiplin anak tanpa kekerasan dan perendahan martabat merupakan salah satu kode etik dalam perlindungan anak. Pemahaman tersebut perlu dikembangkan pada satuan pendidikan di semua tingkatan agar menumbuhan kesadaran yang timbul dari dalam diri anak, dan bukan karena keterpaksaan, terhindar dari trauma akibat perlakuan yang kurang benar dalam pendidikan. Kita harus sama-sama memahami bahwa setiap anak dan keluarganya memiliki kehidupan privasi yang tidak boleh dicampuri oleh siapapun secara tidak sah.


Membahas tentang sekolah ramah anak seakan janggal dan tidak masuk akal dengan satu pertanyaan yang muncul, yakni : adakah sekolah yang tidak ramah anak? ataukah seperti apa sekolah yang tidak ramah anak?. pertanyaan semacam ini lumrah dan memang memerlukan jawaban dan pengertian, sehingga tidak timbul stigma bahwa selama ini sekolah tidak ramah anak, atau masih banyak satuan pendidikan yang tidak ramah anak dan lain sebagaimnya.


Satuan pendidikan, baik sekolah maupun madrasah merupakan tempat terbaik untuk mendidik anak-anak di semua tingkatan, sebagai tempat untuk mengembangkan kemampuan anak dalam meraih masa depan, dan diharapkan satuan pendidikan merupakan tempat yang nyaman dan aman bagi anak- anak untuk melakukan segala aktifitas yang berkaitan dengan pengembangan diri, menyalurkan bakat dan minat anak.


Madrasah Ramah Anak adalah sekolah yang secara sadar berupaya menjamin dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggung jawab. Prinsip utama adalah non diskriminasi kepentingan, hak hidup serta penghargaan terhadap anak. Sebagaimana dalam bunyi pasal 4 Undang-Undang No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, menyebutkan bahwa anak mempunyai hak untuk dapat hidup tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan 

diskriminasi. Disebutkan di atas salah satunya adalah berpartisipasi yang dijabarkan sebagai hak untuk berpendapat dan didengarkan suaranya. Sekolah Ramah Anak adalah sekolah yang terbuka melibatkan anak untuk berpartisipasi dalam segala kegiatan, kehidupan sosial, serta mendorong tumbuh kembang dan kesejahteraan anak. Beberapa pasal dalam Undang- undang ini dirubah dengan Undang-undang nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002


Sekolah Ramah Anak adalah sekolah/madrasah yang aman, bersih, sehat, hijau, inklusif dan nyaman bagi perkembangan fisik, kognisi dan psikososial anak perempuan dan anak laki-laki termasuk anak yang memerlukan pendidikan khusus dan/atau pendidikan layanan khusus. Setiap anak merupakan individu yang berbeda yang harus diberi kesempatan yang sama sesuai dengan kemampuannya untuk melakukan segala aktifitas positif dan terbebas dari rasa takut. Karenanya menjadi sebuah kewajiban bagi orang dewasa untuk membantu anak mengembangkan rasa hormat kepada orangtua anak, identitas budaya, bahasa, nilai-nilai dan tahapan peradaban yang  berbeda.


Madrasah merupakan satuan pendidikan dibawah binaan Kementerian Agama yang pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan satuan pendidikan lainnya, kekhususan dari madrasah adalah pendidikan budi pekerti dan kurikulum pendidikan rumpun agama yang diberikan porsi yang lebih besar dibandingkan dengan satuan pendidikan lainnya. Nilai-nilai agama tersebut diharapkan menjadi ciri khas dari alumni madrasah untuk memiliki rasa kesopanan dan kejujuran dalam segala tindakan dimasa depan.


Beberapa dari orang-orang dewasa mungkin membandingkan dengan pendidikan masa lalu yang menurut pemikiran saat ini dianggap kurang ramah anak, pemikiran bahwa hukuman yang diberikan para pendidik dimasa lalu yang kadangkala juga disertai beberapa kekerasan (meskipun terukur), dianggap tidak menjadi masalah dengan bukti bahwa para alumni dari pendidikan masa lalu juga banyak yang menjadi pemimpin hebat pada masanya.


Setiap zaman memiliki cara pandang yang berbeda, yang terus berkembang sesuai dengan perkembangannya, karenanya tidak dapat  

(sepenuhnya) menjadi pembanding dari pola pendidikan dengan zaman yang berbeda, terlebih bagi pendidikan yang dilakukan dimasa anak-anak yang menurut Undang-undang perlindungan anak adalah mereka yang usianya kurang dari 18 tahun.


Mendidik anak dengan tanpa kekerasan yang dapat menumbuhkan disiplin anak yang muncul dari dalam diri sendiri membutuhkan kerjasama yang baik dari semua unsur pada satuan pendidikan, serta peran serta orang tua dan lingkungan, hal ini mengingat pola asuh yang berbeda terhadap anak sangat berpengaruh terhadap sikap anak dalam satuan pendidikan. Kebebasan yang diberikan terhadap anak dalam satuan pendidikan juga harus mendapatkan kontrol dari para pendidik, sehingga anak-anak tidak terjebat pada kebebasan yang tidak terkendali yang mengabaikan nilai-nolai moral da etika. Menumbuhkan disiplin pada anak dengan cara melakukan kebaikan secara terus menerus sangat diperlukan agar pembiasaan tersebut terbawa hingga dewasa.


Anak-anak juga mempunyai hak untuk diajak berdiskusi dan mengeluarkan pendapat, karenanya dalam penetapan aturan yang diberlakukan bagi anak-anak juga harus melibatkan anak dalam tingkatan yang berbeda, mereka bukan hanya obyek bagi orang dewasa yang harus menuruti semua kemauannya, dengan pelibatan anak akan menumbuhkan kesadaran bagi anak itu sendiri untuk mengikuti aturan yang ditetapkan.


Pada dasarnya setiap madrasah merupakan satuan pendidikan ramah anak, pola pendidikan yang mengedepankan budi pekerti dan nilai-nilai keagamaan yang kuat akan membentuk disiplin pada anak untuk mengikuti aturan tanpa adanya pemaksaan maupun keterpaksaan, terlebih bagi anak yang menjalani pendidikan di madrasah hingga lepas dari usia anak-anak, mereka diharapkan akan membawa nilai-nilai disiplin dan kejujuran tersebut hingga mereka menjadi para pemimpin di masa depan.




*Penulis adalah Kepala MI Darun Najah II Tukangkayu Banyuwangi 


 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger