Pages

Lembah aroma -

 -Lembah aroma -

Oleh : Syafaat

Seorang lelaki tergolek disisi

Lelah dan bahagia tergambar dari aura

Burung pagi bangkitkan gairah

Dalam Aroma secangkir robusta 

Dan susu pagi yang siap dinikmati

Lelaki itu masih tak beranjak

Terlelap dengan impian bidadarinya yang tak kunjung datang

Lelaki yang terlihat lelah dan kalah

Mencoba bangkit mendaki bukit bukit

Nampak tegar dan sedikit gusar

Ayolah lelaki

Taklukkan kembali puncak gunung ranum seperti dulu lagi

Belantara masih terlalu luas untuk dijelajahi

Gua  indah disemai rumput liar  telah lama tak kau singgahi

Acungkan kembali senjatamu 

Untuk menorehkan perjalananmu 

Dalam selembar puisi

Garuda Yaksa

 “Garuda Yaksa”


Apalah artinya kemerdekaan,

Jika kebebasan menanak nasi di rumah sendiri diawasi,

Apalah artinya keberagaman,

Jika mengenakan peci di negeri sendiri dibatasi,

Mana mungkin,

Kedamaian yang selalu menjadi sarapan pagi di layar televisi,

Benar-benar kita miliki,

Jika tentang harga peniti saja masih membuat kita saling caci,

Mana mungkin,

Persatuan yang selalu kita baca di dalam majalah dan koran,

Betul-betul madani dalam kemandirian,

Jika tentang warna bendera saja masih kita perdebatkan,


Ingat!,

Bulu-bulu garuda lurus dan kaku,

Paruhnya sedikit menganga,

Memakai kalung perisai berantai, 

Mempertajam kukunya dengan mata baja,


Apa yang dicengkeraminya?

Selembar kain usang bertuliskan kata-kata,

Yang selalu kesulitan kita temukan padanannya,


Selembar kain usang,


Melilit ubun-ubunmu,

Melingkari lehermu,

Menyerempang dadamu,

Membungkus tubuhmu,

Mengikat kaki dan tanganmu,


Dan,

Entah kapan,


Burung garuda,

Mematuki nuranimu?,-



(K G P H : 23 Januari 2021)

Seba Rasa

 “Seba Rasa”

Oleh : Dardiri

Telaga Biru,

Sing gumantung ing nduwure langit kae,

Sing nate tak ceritaake,

Coba sawangen nganggo netra merem!,


Rikala mangsa,

Nibaake thethukulan ing awang-awang,

Thethukulan sing kapraba lungiting asmara,

Ngrembaka katresnan kang kapijer,

Nyartani jumedhuling “wulan tumanggal” lan “lintang panjer sore”,

Kinepung mentiyunge mego lan mendung,


Lamat-lamat dumeling ing talingan,

Tembang “Seba Rasa” sing biyen dadi kekidungane netra,


Nganti wus ora keno tak jarwa,

Kepiye kridha lan akehe wilangan,

Anggonku nganggit ukara ngripta basa,

Nata Larik geguritane langgam,

Parandene,

Isih durung bisa nyulihake rasa,

Tis kang ngideri jagade kapang,

Sepi kang sinamudhana pengentha-entha,


Mbok menawa iki dadi wujuding pangrantu,

Kaya peteng mrih kapapag ing obor sewu,

Samudra ngupadi ing gegisik,

Ngembun-ngembun enjang hanjejawah sonten,


Nyarengi lunging gadhung malengkung,

Lariking ukara iki dadya duthaning ati kang lagya kakunjara ing ngasepi,


Kapagut nglangut,


Kaisenan rasa “sih” kang tanpa pepindhan,-


(K G P H : 23 Januari 2021)

Mantra

 “Mantra”

Oleh : Dardiri

Manuskrip tua,

Di atas meja kayu berngengat itu dibukanya kembali,

Dicarinya tulisan leluhurnya seratus tahun lalu yang mungkin sudah lusuh oleh tikaman usia,

Tetapi tak segera ditemukannya,

Sementara lilin hanya tinggal kaki dan sumbu saja,


“Hong”

Tiba-tiba mantra itu berbunyi sendiri,

Dan menuntunnya kepada jalinan peristiwa berabad lamanya,

Perhelatan leluhur,

Benar-benar menjadi pitutur yang tak mengenal kendur,

Bilamana padam telah menggerayangi sesaat lagi,


“Hong”

Mantra itu berbunyi lagi,

Sukma menjadi raga lalu mengibaskan selendangnya,

Dan terbang entah kemana,

Mengitari perputaran galaksi,

Mengelilingi lintasan cahaya yang lepas kendali,


“Hong”

Bukankah ini mimpi?,

Kesadaran menguap begitu saja,

Seperti kerontang jalan disapu hujan,


Di dalam manuskrip tua,

Kesadarannya mengembara,

Mencari sunyi abadi,


Barangkali,


Tuhan,

Bersemayam di sana?,


(K G P H : 22 Januari 2021)

Kunang-Kunang

 “Kunang-Kunang”

Oleh : Dardiri

Belum lagi kering,

Gundukan tanah dengan dua batang kayu penanda di atasnya,

“kembang puring” yang ditancapkan di kanan-kirinya juga masih menguning,


Kunang-kunang,


Membawanya ke jalan setapak,

Lalu berbelok dan lurus ke jalan besar,

Melewati pematang panjang,

Melalui tanah lapang,

Melewati semak belukar,

Melewati sungai dan jembatan,


Berpapasan dengan tetangga dan saudara,

Yang berjalan dengan wajah sedih dan sedikit tak percaya,

Wajah dan suara yang sangat dikenalnya, 

Yang hampir setiap hari bercengkerama,

Tentang ide gila dan berita tiba-tiba,

Dipanggilinya seperti seolah tak terjadi apa-apa,

Diam saja,

Apakah tak lagi ada yang mengenalinya?


Kunang-kunang,


Terus membawanya ke sebuah gang,

Lalu terhenti di depan sebuah rumah sedikit megah,

Ramai, tetapi bukan oleh canda gurau seperti biasa,

Lampu-lampu yang biasanya sebagian saja,

Malam itu dinyalakan semua, 

Terang sekali,

Karena baru sebulan lalu ia yang memperbaikinya sendiri,

Karpet berwarna biru yang digelar di ruang tamu,

Tampak baru saja ditinggalkan puluhan orang dengan sisa lusuh dan kepulan asap rokok yang masih berseliweran,


Laki-laki berusia delapan tahun kira-kira,

Berlarian kesana kemari seolah mencari mainan yang tak kunjung ditemukan,

Wanita berusia tiga puluh lima,

Duduk saja di beranda belakang yang masih dipenuhi tetangga,

Anak dan istrinya,

Tidak pula menjawab salam yang sedari tadi diucapakannya,

 Sambut dan cium hangat selayaknya rutinitas saban hari kepulangannya,

Juga sirna begitu saja,


Sedikit tertegun,

Karena memang tidak tahu, kepada siapa ia melempar tanya,


Kunang-kunang,


Membawanya kembali keluar dari rumah,

Menuju gang,

Terus ke jalan besar,

Melaju ke jalan setapak,

Melewati sungai dan jembatan,

Melewati semak belukar,

Melalui tanah lapang,

Melewati pematang panjang,


Lalu hinggap di dahan “kembang puring” yang masih menguning,

Di atas gundukan tanah dengan dua batang kayu penanda yang masih basah,


Lemaslah ia,

Melihat tubuhnya sendiri,

Terbaring di dalamnya,-


(K G P H : 22 Januari 2021)

Bisaku hanya membaca

 Bisaku hanya membaca

Oleh : Sulistyowati

bisaku hanya membaca

Walau kadang tak tahu makna

Sudah berapa banyak yang telah kubaca

Namun tak juga ide itu ada

Kata demi kata telah kueja dengan sempurna

Namun kenapa juga masih gagal makna

Ohhhh...  Sungguh repotnya punya aliran non sastra

Karena aku hanya bisa menjajar angka demi angka

Apalagi angka yang tertera dikertas warna merah muda... 

Kukira bukan hanya saya yang suka

Namun seluruh insan di dunia

MENUNGGU

 MENUNGGU

Oleh ; Faiz Abadi

Setiap terbit Fajar

Bulanpun tinggal setengah memancar

Cobalah bertanya

Pada bintang di langit terang

Setelah terbangun dari tidur

Apakah esok selalu begini

Terulang tanpa aksara langit pada jiwa merana

Tuhan pada hamparan bumi

Aku terus mengejar

Berlari meraih mimpi

Dalam hati bimbang

Kadang harus saling terjang

Membuat siapapun bisa terjengkang

Lebih terlalu

Lidah harus kelu dalam palsu

Banjir bandang

Tanah longsor

Murka gempa di mana mana

Karena ulah siapa

Pada mati semalam

Pada setiap bencana

Adalah pertanda Sangkakala 

Tuhan begitu sayangnya engkau

Jika engkau mau cukup dalam satu tiupan saja

Masih saja Engkau beri waktu

Untuk berubah

Sedangkan kami masih tetap menunggu 

Harus diam pada laporan semu

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger