Pages

Baja

 --Baja--

Oleh ; Dardiri

Sebongkah baja,

Kira-kira seukuran kepal manusia,

Begitu saja meleleh di besalen,

Ditempa menjadi sebilah pedang,

Digunakan dalam peperangan,

Beradu bergema bersama tambur yang saling gusur,


Kilat perciknya, menyengati gardu listrik,

Menyalakan lampu-lampu tengah kota,

Menyalakan api yang telah lama mati,

Memerahkan tanah yang selama ini hitam,


Baja yang telah menjadi pedang,

Tak pernah punya mata,

Tak pernah punya hati,

Sebagaimana ujung peluru yang tak pernah kembali,


Lagi-lagi,


Baja,

Yang telah menjadi pedang,


Menyayat bulu-bulu halus,

Menyayat kulit,

Menyayat daging,

Menyayat darah,

Menyayat tulang,

Menyayat hati,

Menyayat hidup,


Menyayat diri-mu,

Dan diri-ku,


Lalu,


Menyayat diri-nya sendiri,-





(K G P H : 17 Januari 2021)

Selusin Sabun Mandi

 "Selusin Sabun Mandi"

Oleh : Dardiri

Pada suatu pagi bulan Juni,

Terdengar bisik-bisik,

Dari semak-semak,

Di bawah tong sampah,

Dari dua, tiga, empat, 

Ahh..bukan,

Mungkin lebih dari selusin sabun mandi,


Sementara kaki gerimis,

Mengetuki puncak-puncak menara gereja,

Kubah masjid, 

Dan hotel-hotel,


Mendung pekat,

Mengerami jantung kota dan desa-desa,

Yang sebentar lagi menetas,

Menjadi genangan air,


Angin yang mendekam di hutan dan pepohonan

Terbang pelan-pelan,

Bercumbu dan bergoyang

Dengan nyanyian hujan,

Seperti lenggang pinggang perawan,

Kemudian mengetuki pintu rumah-rumah,

Dan menyingkap selimut di ranjang berwarna merah jambu,


Angin..

Hinggap di mana-mana,

Merayapi tulang-tulang,

Mencincang hari yang masih sunyi,


Air..

Merembes ke mana-mana,

Lalu terhenti di pori-pori,

Menusuk pantat pagi bulan Juni,



Kejujuran yang terpendam,

Hitam manis parasnya,


Aku dengar cerita,

Kamu dengar cerita,

Kita mendengar cerita,

Dia mendengar cerita,

Mereka mendengar cerita,


Spektra bianglala,

Agaknya bermuram durja,


Selusin sabun mandi

Berbicara tentang kesaksian,


Pada suatu pagi bulan Juni,


Terdengar bisik-bisik,

Dari semak-semak,

Di bawah tong sampah,


Lalu terdengar rintihan,


Bukan darimu?,-




(K G P H : 17 Januari 2021)

Kotak Kaca-

 --Kotak Kaca--

Oleh : Dardiri

Adalah waktu,

Merangkum kita,

Dalam kotak kaca,

Dan tak seorangpun tahu,

Kapan pantulan abadi,

Lepas dari peredarannya?


Utuh,

Tetapi banyak noda,

Debu-debu yang dahaga,

Berlompatan dari musim ke musim,

Menyandiwarakan senyum, tangis, gelak tawa,

Dalam kotak kaca,

Ya,

Di dalam kotak kaca,


Teori tabula rasa?

Agaknya,

Terlalu sempit

Bagi corak hidup,

Yang tentu membutuhkan lebih banyak kotak-kotak kaca,

Untuk singgah,

Dan saling bertemu muka,


Kita telah membatu

Dalam pantulannya,

Kadang juga membeku saja,

Tanpa tanda tanya,

Dan,

Terlalu dangkal

Untuk memecah kode rahasia semesta,

Yang dipenuhi teka-teki,

Abadi,


Kita,

Adalah kembara nestapa,

Yang tak pernah tahu

Persembunyian pangkal kejadian,


Semua berjalan sendiri,


Kita hanya plagiat

Masa silam,

Yang dipenuhi ingatan,


Kita menyimpang,

Tetapi tertabrak,

Kita berbelok arah,

Tetapi jalan berubah,


Sungguh,

Pengembaraan dena

Dalam kotak kaca,


Waktu,

Telah merangkum kita,

Dalam rumus semu,

Antara ya dan tidak, 


Kita menjelma,

Dalam deretan alfabeta,

Mencari jeda,

Yang telah lama bergeser dari pertapaan terka,


Kotak kaca,


Merangkum nafasku,

Dalam jeram gelisahmu,-




(K G P H : 17 Januari 2021)

IKUTLAH AKU

 IKUTLAH AKU

Oleh : Faiz Abadi

Engkau mencari apa

Ayolah terbang bersamaku

Anak, si dia, logam mulia, Lamborgini biarkan di sini

Ayo lepaskan segala belenggu rasa

Hanya 60 tahunan setelah itu engkau akan kembali

Tapi semua sudah terlambat

Apabila engkau terpikat rayuan sekarat

Seolah rindu tetapi hanyalah roti sekerat

Sedetikmu tanpa bersamaku

Ribuan tahun engkau nestapa di sana

Apakah akan kau tukar rindu abadi

Dengan yanyi sunyi 

Seperti mimpi mimpi melayang layang

Tapi tidak pernah kembali

Ayo berlarilah bersamaku semaikan biji biji kepastian

Tinggalkan arwah penasaran

Tinggalkan kuntilanak, gendruwo, dan nini pelet

Hingga kini tak bisa pulang dalam rindu sesat

Ayo tancapkan panah khusyukmu 

Ikat bersama pelana tasbihmu

Kemudian melesat secepat kilat

Tinggalkan peluk cinta raga 

Tinggalkan tungku membara terus kecewa

Sepanjang masa selamanya

Bila Bola Menjadi Mata Angin

 "Bila Bola Menjadi Mata Angin"

Oleh : Dardiri

Pernahkah terbayang olehmu,

Bila bola menjadi arah mata angin?,


Tendangan pertama,

Pastinya,

Setelah peluit penanda babak dibunyikan,


Berlari, 

Seperti hyena mengejar anak kelinci,

Berebut, 

Selayaknya gula dalam kelilingan semut,


Dalam hitungan menit, 

Gol tercipta,

Kadangkala bukan karena sepakan kaki,

Tetapi oleh kesalahan kita sendiri,


Bola,

Berisi udara,

Terbuat dari kulit dan plastik,

Tidak persegi bentuknya,

Digantung di etalase toko,

Dimasukkan dalam loker hijau,


Penjuru,

Adalah gelar,

Bagi "ujung pandang" penghulu mata,

Sepuluh jumlahnya,


Angin,

Adalah bunyi halus,

Dalam kibaran detak nadi,

Dan menjadi isyarat,

Bahwa,

Hidup masih tersematkan,

Tak terhitung jumlahnya,


Di dalam arena,

Bola,

Benar-benar menjadi mata,

Melewati setiap mata,

Memilis sudut pelipis,


Lalu,


Terjadilah Gempita,

Yang menjadi bukti,

Perhelatan diakhiri,


Bila bola menjadi arah mata angin,


Siapa menendang siapa?,


Siapa menaruh gempita?


Di hati-mu?,-



(K G P H : 17 Januari 2021)

USIA CINTAMU BERAPA

 USIA CINTAMU BERAPA 

Oleh : Faiz Abadi

Usia cintamu berapa

Ragamu dewasa tapi rindumu seperti kanak kanak

Engkau selalu mengharapkan balasan

Dalam setiap munajat doa

Inderamu ada lima

Semua memalingkan muka saat disebut namaNya

Pulangkan mutmainahmu

Jangan menunggu dipaksa saat semuanya dipaksa pulang

Jikalau jiwamu tak sampai sendirian

Perbanyaklah lantunan sholawat

Tanpa batasan waktu

Yakinlah akan uluran tangannya

Menarikmu pada jalan jiwa sebenarnya

Menuju kesempurnaan Mi'roj

Dimana engkau belum pernah mendapatkannya

Pada cintamu yang berkeping keping

IKUTLAH AKU

 IKUTLAH AKU

Oleh :Faiz Abadi

Engkau mencari apa

Ayolah terbang bersamaku

Anak, si dia, logam mulia, Lamborgini biarkan di sini

Ayo lepaskan segala belenggu rasa

Hanya 60 tahunan setelah itu engkau akan kembali

Tapi semua sudah terlambat

Apabila engkau terpikat rayuan sekarat

Seolah rindu tetapi hanyalah roti sekerat

Sedetikmu tanpa bersamaku

Ribuan tahun engkau nestapa di sana

Apakah akan kau tukar rindu abadi

Dengan yanyi sunyi 

Seperti mimpi mimpi melayang layang

Tapi tidak pernah kembali

Ayo berlarilah bersamaku semaikan biji biji kepastian

Tinggalkan arwah penasaran

Tinggalkan kuntilanak, gendruwo, dan nini pelet

Hingga kini tak bisa pulang dalam rindu sesat

Ayo tancapkan panah khusyukmu 

Ikat bersama pelana tasbihmu

Kemudian melesat secepat kilat

Tinggalkan peluk cinta raga 

Tinggalkan tungku membara terus kecewa

Sepanjang masa selamanya

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger