Pages

Meneroka Giat Literasi Keluarga Sakinah

 Meneroka Giat Literasi  Keluarga Sakinah




Berbicara tentang literasi tidak akan pernah ada batasnya. Literasi yang makna awalnya adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Kini definisi literasi selalu berevolusi sesuai dengan perkembangan zaman.  Menurut para ahli, literasi selain kemampuan membaca dan menulis untuk memperoleh pengetahuan, juga berpikir kritis  dalam memecahkan masalah, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif yang dapat mengembangkan potensi dan partisipasi dalam kehidupan masyarakat. Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya untuk membaca kata dan membaca dunia. Membaca memiliki tempat khusus dalam Alquran yaitu pada ayat-ayat yang pertama kali diturunkan(Q.S. al-‘Alaq [96]: 1-5). Membaca dan menulis adalah perangkat dasar yang telah diajarkan Tuhan kepada kita untuk berkomunikasi dan menanamkan pemikiran kritis kepada manusia.

Lantas kapan dan bagaimana giat literasi itu mulai diterapkan dalam kehidupan manusia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut  alangkah baiknya kita meneroka giat-giat literasi sederhana berikut ini. 

Pertama, Sebenarnya literasi itu telah melekat di awal kehidupan manusia di sebuah keluarga.  Sejak dalam  kandungan seorang ibu selama 9 bulan  dalam keluarga sakinah, calon bayi sudah diperdengarkan dengan alunan merdu  dari ayat-ayat suci Al-Qur’an beserta suguhan perilaku-perilaku santun dari kedua orang tuanya. Berharap sang bayi kelak terlahir sempurna menjadikan buah hati yang sholeh dan sholehah.  

Begitu lahir, kembali suara adzan berkumandang di telinga sang bayi yang telah dinantikan kehadirannya. Berlanjut dengan hari-hari menimang penuh belaian kasih sayang  mengajaknya berkomunikasi walau sang bayi belum bisa menangkap  pembicaraan kedua orang tuanya. Setahun berikutnya si anak mulai belajar berucap dan kedua orang tua melatihnya dengan segenap hati hingga mengenalkan kata dan kalimat serta perilaku yang berakhlaqul karimah. Begitu berjalan seterusnya mengikuti perkembangan sang buah hati. Dengan gambaran ini  seorang penyair ternama Hafiz Ibrahim mengatakan bahwa ibu adalah madrasah (Sekolah) pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya. Ini mengisyaratkan seorang ibu sebagai sekolah pertama bagi anak yang selalu menemani hidup dan memberikan pembelajaran anak mengenal baca tulis hingga pembangunan pondasi diri anak. Dari sinilah tanpa disadari nilai-nilai literasi  sederhana telah tertanam sejak dini di dalam jiwa manusia di  sebuah keluarga sakinah. 

Kedua, Literasi dibentuk melalui penanaman pembiasaan keseharian pada diri anak. Pembiasaan yang ditanamkan di suatu keluarga berupa kedisplinan melaksanakan ibadah( sholat lima waktu, membaca Al-Quran setiap hari, bersedekah), kedisiplinan menuntut ilmu(bersekolah umum/agama), berinteraksi harmonis baik intern keluarga maupun dengan lingkungan sekitar rumah( peduli  dan santun).

Ketiga, Penggalian potensi diri anggota keluarga. Menjadikan sebuah keluarga yang bernilai literat adalah keluarga yang berusaha menggali semua potensi diri dari semua anggota keluarganya baik anak maupun orang tua. Dengan mengetahui potensi diri yang dimiliki oleh seluruh anggota keluarga, tentunya keluarga akan bahu membahu saling mendukung serta terus berusaha untuk mengembangkannya. Proses pencarian  informasi tentang potensi masing-masing anggota keluarga sesuai dengan ilmu, bakat dan minat merupakan perilaku literasi. Semisal anak memiliki bakat keterampilan berbicara(berpidato/membaca puisi/Qiroah dll) maka kedua orang tuanya harus tanggap dan pandai-pandai memfasilitasi dengan berbagai cara agar bakat anak dapat tersalurkan. 

Keempat, penyediaan sarana penunjang  literasi dalam keluarga.  Tak perlu mahal menyiapkan perpustakaan mini dalam keluarga hanya  dengan menyulap bufet di ruang tamu menjadi rak buku cantik berisikan mulai dari buku bacaan anak, buku pengetahuan umum dan agama, majalah keluarga dll. Karena hakikat rumah adalah jantung kehidupan yang dapat menjadi sumber kedamaian, sumber kenyamanan, sumber inspirasi/belajar, dan sumber energi bagi seluruh anggota keluarga. Rumah laksana “Baiti jannati”(Rumahku surgaku).

Kelima,  penyediaan kesempatan membaca, dan pemberian apresiasi. Orang tua harus meluangkan waktu santai berkumpul di rumah untuk membaca bersama anak-anak. Dan  orang tua pun harus memberikan apresiasi sederhana  terhadap anggota keluarga yang menorehkan prestasi dalam bidang akademik maupun non akademik.

Keenam,  membangun literasi digital dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia dalam keluarga. Di zaman millenial  yang serba canggih seperti sekarang ini, hampir setiap keluarga memiliki handphone sebagai sarana komunikasi. Pemanfaatan handphone tidak hanya sekadar alat komunikasi saja namun bisa dijadikan  sebagai media belajar bagi anggota keluarga. Misal melalui searching google dan tutorial di youtube setiap anggota keluarga bisa banyak belajar  mulai belajar bisnis online, belajar memasak, menjahit, mekanik dll. Semua tergantung pemanfaatan dan kebutuhannya. 

Akhirnya dimulai dari hal kecil, alamiah dan naluriah serangkaian gerakan literasi sederhana yang terbangun di dalam sebuah keluarga sakinah. Harapan nantinya akan berkembang menjadi insan-insan yang sholeh dan sholehah berjiwa literat. Tidak ada kata berhenti untuk berliterasi karena literasi adalah bentuk kegiatan yang harus terus digerakkan dan dilakukan untuk mencetak generasi penerus bangsa dengan memiliki kepribadian tangguh, kokoh, berpikir kritis dalam menjawab tantangan zaman. Salam literasi. 


Profil Penulis:


Penulis, Herny Nilawati, S.Pd, M.Pd.I Tempat mengajar di MTsN 1 Banyuwangi dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia. tempat tinggal Jl. Ijen No. 53 RT 03 RW II Singotrunan Banyuwangi.

Alamat email: hernynilawati9@gmail.com

 No hp : 085336005566



Rumah Impian Jutaan Orang

 Wujudkan Mimpi Rumah Impian Bersama Kementrian PUPR



Rumah pertama selalu diimpikan oleh siapapun itu yang belum memiliki rumah,meski tinggal di pondok mertua indah sekalipun, tetap saja terutama pasangan muda yang baru menikah memimpikannya, meski sederhana kalau milik sendiri dan diraih bersama pasangan terkasih akan sanggat bernilai dan berarti dan dikenang sepanjang massa dan jadi kenangan tetindah dalam mengukir sejarah berumah tangga yang nantinya akan menjadi cerita indah rona kehidupan yang akan di ceritakan ke anak cucu.Selain itu rumah merupakan kebutuhan sekunder yaitu, sandang , pangan dan papan.

Meski sulit mengapainya semua pasangan pasti ingin meraihnya, apalagi untuk pasangan muda yang notabene berpenghasilan rendah tentu mimpi itu akan sulit diwujudkan, apalagi tinggal di perkotaan, bagaimana solusinya? Menabung Menjadi salah satu alternative tapi perlu waktu puluhan tahun untuk itu, sedang uang yang terkumpul dengan sangat susah payahpun pada saatny sudah terkumpul sudah terkena imflasi artinya nilai uang itu sudah tidak berarti lagi, boro-boro beli rumah bisan bisa uang itu nantinya culupnya hanya buat beli sepeda motor saja, wah ngeri juga kalu begitu, seprti halnya saya pernah ikut asuransi pendidikan untuk anak saya yang waktu itu belum lahir dan saya sisihkan bahkan sepertiga gaji saya untuk itu meski terseok yakin nanti berguna karena membayangkan uang Puluhan juta yang akan diterima tapi nyatanya ketika menerima unag itu 15 tahun kemudian tidak ada artinya sama sekali hanya cukup untuk masuk SMA/ MA ternama saja. 


Begitu juga menabung uang Tunai di Bank atau asuransi untuk membeli rumah puluhan tahun bisa –bisa hanya cukup untuk bayar uang muka perumahan di masanya, sunguh sutu dilemma bukan?! Lalu apa solusinya? Dengan kredit perumahan tentunya tapi bagi pasangan muda itu juga tidak mudah harus ada uang muka dan suku bunga yang cukup tinggi, tentu ini sebuah dilemma, tapi akankah kita menyerah begitu saja sampai tua tidak pernah punya rumah tentu tidak bukan?! Diperlukan keberanian disini keberanian meraih dan mengapai mimpi yang diyakini akan indah pada waktunya.


Kebijakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengalokasikan anggaran bagi stimulus fiskal subsidi perumahan sebesar Rp1,5 Triliun untuk 175.000 rumah tangga Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) melalui proses Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Hal tersebut sebagai salah satu antisipasi dampak ekonomi akibat Virus Covid-19 sesuai Kebijakan Stimulus Fiskal Presiden RI Joko Widodo, yang salah satunya dalam bidang perumahan.


Direktur Jenderal (Dirjen) Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Kementerian PUPR Eko D. Heripoerwanto mengatakan, bentuk stimulus fiskal tersebut berupa pengalokasian dana untuk Subsidi Selisih Bunga (SSB) dan tetap memberikan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) untuk KPR.

"SSB dan SBUM diharapkan akan operasional pada 1 April 2020 melalui Bank Pelaksana yang telah bekerja sama dengan Kementerian PUPR. Saat ini 3 (tiga) bank telah menyatakan minat sebagai bank pelaksana, yaitu Bank BTN, Bank BNI, dan Bank BRI. Kementerian PUPR masih membuka peluang bagi bank lain yang ingin bekerja sama, sehingga MBR mendapatkan kesempatan seluas-luasnya memanfaatkan jaringan bank di daerah untuk mengakses subsidi perumahan ini," kata Heri dalam jumpa pers daring, Selasa (31/3/2020)


Gayung bersambut pemerintah melalui kementrian PUPR membaca dan mencari serta memberikan solusi untuk jutaan orang Indonesia mengapai Mimpi Memiliki Rumah Pertama yang tadinya bisa saja hanya sekedar mimpi menjadi sesuatu yang nyata terwujud. Banyak senyum karena ini,banyak harapan terwujud, pasangan muda tidak perlu menabung dan gigit jari pada saat terkumpul uang dan tidak bisa membeli rumah karena Inflasi.


Sungguh sebuah Kebijakan yang Pro rakyat kecil dengan Bantuan Subsidi uang muka atau subsidi suku bunga 5 % selama 10  Tahun kredit berjalan dan bantuan uang muka untuk masyarakat berpenghasilan rendah yang maksimalpenghasilannya 8 juta perbulan (MBR) sungguh membantu wujudkan mimpi ditengan pandemic coviv yang sangat berdampak pada segala lini kehidupan apalagi bagi MBR.   Bravo Kementrian PUPR selamat Ulang Tahun semoga tetap bersama rakyat membangun negeri wujudkan mimpi. Selamat Ulang Tahun semoga tetap mengayomi dan membantu kesulitan rakyatnya , kementrian yang member kebijakan nyata bukan sekedar pencitraan dan slogan semata, bersamamu Jutaan Orang Indonesia Memiliki Rumah Impian Yang Indah tanpa terbebani angsuran yang mencekik leher dan mengurangi pemenuhan gizi bagi anak anak pasangan muda yang notanene satu sisi harus punya rumah satu sisi harus memikirkan gizi putra putrinya dan pendidikan juga tertunya jadi dengan kebijakan ini sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui bagaimana tidak mimpi punya rumah terwujud, gizi anak- anak tetap terlampaui, pendidikan anak tetap terjamin. 


Sekali lagi melalui tulisan ini saya mengapresiasi Kebijakan Kementrian PUPR wujudkan mimpi rumah pertama bagi jutaan orang Indonesia, selamat Ulang tahun , dan tetap member solusi bukan janji, Membangun Negeri untuk Indonesia kedepan  seperti Slogan Pengadaian’ Mengatasi Masalah tanpa Masalah”Semoga tetap bersama rakyat membangun negeri menciptakan dan menuju kejayaan bersama.


#HAPERNAS #PUPR


Jangan Ambyarkan Fitrah Anakmu

 

Jangan Ambyarkan Fitrah Anakmu

ACHMAD NADZIR

Guru MIN 1 Banyuwangi

 

            Pendidikan berperan dalam mengaktifkan fitrah yang telah ada. Dalam tumbuh kembangnya, fitrah manusia dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar dirinya. Pada buku Fitrah Base Education,  Ustdadz Harry Santosa menjelaskan, ada delapan aspek fitrah yang dimiliki manusia. Apa saja aspek fitrah tersebut? Satu diantaranya ialah belajar dan bernalar. Coba amati diri dan di sekitar kita. Anak seorang petani bisa menjadi dokter, guru, akuntan, dan sebagainya. Itu bentuk bukti, bahwa fitrah anak tidak ada kaitannya dengan keturunan. Fitrah akan tumbuh dan berkembang sesuai kadar penciptaannya melalui sebuah proses. Fitrah (potensi) dapat diaktualisasi dalam sebuah proses yaitu pendidikan, baik di rumah, sekolah, dan masyarakat.


            Kita sering berucap dan mendengar kata fitrah. Dalam sebuah haditsnya, Nabi SAW bersabda, "Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka ibu bapaknya yang menjadikan agamanya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Lantas apakah fitrah itu akan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya? Itulah pertanyaan yang sering muncul dalam benak kita, sebagai manusia. Sehingga lahirlah banyak pemikiran tentang fitrah yang dimiliki manusia.

            Manusia terlahir dengan fitrah (potensi) masing-masing. Allah SWT telah menetapkan potensi diri setiap manusia, sesuai kadar penciptaanya. Kadar potensi itu tercipta dan melekat pada diri anak tanpa ada campur tangan dari siapapun, termasuk orang tuanya. Apakah lantas fitrah yang ada dibuat menjadi ambyar?

            Islam memandang bahwa fitrah adalah benih potensi. Benih kebaikan yang dibawa manusia sejak terlahir ke dunia. Fitrah berhubungan dengan hal penciptaan (bawaan) sesuatu sebagai bagian dari potensi yang dimiliki. Namun, fitrah bukanlah putih polos bagai kertas putih tanpa isi. Ia merupakan seperangkat potensi yang Allah SWT tanamkan pada setiap manusia yang terlahir, dan membutuhkan sebuah proses lebih lanjut untuk mengembangkannya. Bahkan fitrah adalah keyakinan akan adanya Tuhan.

           Manusia dilahirkan dengan segala fitrahnya. Seorang bayi yang baru lahir tidak mengetahui keseluruhan dan bagian-bagian dari sesuatu. Ketika ia memiliki konsep tersebut, lalu diterapkan pada sesuatu yang lain, maka saat itu juga ia dapat memutuskan, tanpa adanya dalil, guru, atau eksperimen, bahwa keseluruhan lebih besar dari bagian-bagiannya.

            Menurut kajian psikologi, fitrah adalah sesuatu yang netral pada jiwa atau sesuai kata hati dan tidak terikat oleh keinginan atau kepentingan duniawi, berlapang dada, tenteram, dan tenang. Fitrah hanya punya satu tujuan, yaitu selalu ingin kembali kepada Tuhan penciptanya. Fitrah merupakan kesadaran tentang benar dan salah. Manusia mempunyai potensi dasar beragama yang tidak dapat diubah. Ambillah contoh dari kisah Nabi Nuh AS, bagaimanapun ia seorang Nabi dan Rasul, tetap tidak dapat merubah Kan’an anaknya untuk menerima apa yang dirisalahkan oleh ayahnya. Kan’an durhaka, ia tidak beriman kepada Allah SWT, sebagaimana yang disyariatkan oleh Nabi Nuh AS kepada umatnya.

            Nabi Ibrahim AS, ayahnya adalah seorang pemahat patung terkenal yang meyakininya sebagai Tuhan. Setiap hari Ibrahim kecil disuguhi kehidupan yang di dalamnya mengajarkan bahwa patung-patung buatan ayahnya adalah Tuhan. Ketika menginjak dewasa, apa yang semula Nabi Ibrahim yakini dan ikuti memudar. Ibrahim mulai merasakan keraguan akan wujud Tuhan, dalam tanyanya, apa mungkin Tuhan dibuat oleh makhluk ciptaanya. Ada kalanya iya menganggap bahwa matahari adalah Tuhan, namun ketika terbenam Ibrahimpun meragukan. Saat bertemu dan melihat api, iya menganggap api adalah tuhan, namun kembali pada akhirnya Ibrahim meragukan keyakinannya. Hingga pada akhirnya iya meyakini, bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang sesungguhnya.

            Setiap manusia sudah dilengkapi dengan kemampuan untuk mengenal dan memahami kebenaran dan kebaikan yang melekat sejak dia dilahirkan. Kemampuan itu disebut akal. Untuk itu manusia sering disebut sebagai makhluk yang dapat berpikir (animal educandum). Melalui akalnya manusia akan memahami realitas hidup, memahami diri, serta apa yang ada di sekitarnya. Potensi-potensi yang ada perlu untuk diaktifkan, agar manusia bisa hidup harmonis dan dapat mempertanggungjawabkan atas segala potensi yang telah mereka gunakan.

            Lantas bagaimana mengaktifkan potensi-potensi (fitrah) yang melekat pada manusia? Ialah berinteraksi dengan lingkungan, terutama keluarga. Manusia adalah makhluk yang dapat berpikir, merasa, bertindak dan berkembang. Manusia dapat berpikir tentang masa lalu, saat ini, dan saat yang akan datang. Masa lalu dijadikannya renungan (intropeksi), saat ini menjadi pemacu untuk meraih cita-cita dan harapan masa datang. Oleh karenanya manusia dapat berkembang sesuai dengan lingkungan dan pengetahuannya.

            Untuk mengembangkan fitrah yang dimilikinya, diperlukan sebuah usaha sitematik dan kesinambungan. Pendidikan menjadi jalan terbaik untuk mengembangkan fitrah manusia. Melalui pendidikan, manusia dibimbing dan diarahkan menuju pencapaian pengembangan yang maksimal. Pendidikan yang dimulai sejak manusia dilahirkan, hingga ajal menjemput. Mala fitrah manusia akan berkembang secara menyeluruh dan bergerak secara mekanis menuju ke satu tujuan yaitu menjadi khalifah dan hamba yang mampu beribadah kepada Tuhannya dengan baik.

            Aspek-aspek fitrah bersifat dinamis dan responsif terhadap pengaruh lingkungan, termasuk proses pendidikan. Aspek tersebut meliputi bakat, insting, nafsu, karakter, keturunan, dan intuisi. Dengan aspek fitrah yang ada, manusia bisa mengembangkan dirinya menjadi lebih baik. Manusia merupakan makhluk pilihan Allah SWT yang mengemban tugas ganda, yaitu sebagai khalifah dan hamba. Sebagai khalifah, manusia berkewajiban menjaga dan memelihara alam, dan dengan menjadi hamba manusia mengabdikan dirinya kepada Allah SWT sang pemilik alam dan kehidupan.

            Pendidikan bentuk upaya untuk mengembangkan fitrah manusia. Manusia wajib berusaha untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi maksimal. Usaha terbaik adalah dengan jalan pendidikan. Melalui pendidikan, pembentukan karakter dan intelektualisasi dibentuk untuk aktualisasi diri manusia sebagai khalifah di muka bumi. Pendidikan adalah jalan terbaik untuk memaksimalkan fitrah yang ada pada anak-anak. Kenalkan mereka pada Tuhannya, karena itu tujuan penciptaannya. Manusia dicipta hanya untuk menyembah dan mengadi pada Tuhannya. Oleh karenanya, didiklah mereka dengan sebaik-baik pendidikan sesuai dengan fitrah mereka.

 

Banyuwangi, 11 September 2020



Paradox of candy di masa pandemi

 Paradox of candy di masa pandemi

Oleh : Rohimah

Banyak diantara kita  seakan terjebak pada system, menganggap pendidikan hanya dilakukan di sekolah, kewajiban memberikan pengajaran dan pembelajaran merupakan murni tugas seorang guru. Meskipun digaungkan pendidikan merdeka, namun masih saja tertanam bahwa tanpa tatap muka dianggap tidak ada pembelajaran. Tek heran jika dimasa pandemi  covid-10 sekarang ini, banyak emak emak yang mengeluh karena merasa terbebani dengan tugas


“tambahan megajari para putra putrinya. Banyak juga yang harus mengerjakan tugas anak anaknya karena sang anak juga merasa bahwa sekoah hanya dilakukan di gedung sekolah, mereka ada yang merasa masa pandemi merupakan libur panjang baginya.

Pembelajaran yang dilakukan secara daring dengan menggunakan piranti Handphone merupakan beban tersendiri bagi orang tua, terlebih bagi orang tua yang mempunyai anak sekolah lebih dari satu dan dari keluarga kurang mampu. Perangkat elektronik yang idealnya dalam genggaman anak ketika usia menginjak diatas 10 tahun tersebut, harus digenggang hampir setiap saat oleh mereka yang sedang melaksanakan tugas pendidikan, sehingga merupakan sebuah dilema ketika dalam satu keluarga hanya ada satu handphone yang support untu kegiatan daring dan harus digunakan untuk seluruh keluarga, itupun belum termasuk paket data yang harus disediakannya.

Bayang bayang ketergantungan anak terhadap Handphone juga harus diwaspadai oleh orang tua, terlebih bagi mereka yang masih usia pra sekolah, dan pendidikan dasar, karena meskipun piranti penghubung pembelajaran tersebut sangat dibutuhkan, namun jika penggunaannya tidak terkontrol, akan berdampak buruh terhadap perkembangan mental dan sosialnya. Karenanya peran orang tua yang sebenanya juga mempunyai kewajiban untuk mendidik putra putrinya sangat diperlukan dalam pendampingan pembelajaran secara daring.

Learning From Home atau pembelajaran jarak jauh yang dilakukan dirumah juga merupakan momen bagi orang tua untuk lebih dekat terhadap anak anaknya. Pembiasaan pembelajaran yang dilakukan disekolah ketika pembelajaran tatap muka yang kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran LFH tersebut merupakan modal agar pembiasaan tersebut berlanjut dalam lingkungan keluarga, baik pembiasaan pembelajaran, adap sopan santun, peribadatan maupun kecakapan hidup dan dimensi social lainnya.

Pembelajaran jaka jauh bukan hanya beban bagi orang tua, namun juga beban bagi para guru, karena bagaimanapun seorang guru tidak ingin peserta didiknya tidak mendapatkan pendidikan secara maksimal, para guru juga tidak dapate memberikan penilaian secara obyektif terhadap perkembangan pembelajaran siswanya. Hal ini juga membutuhkan kreatifitas para guru untuk mengembangkan potensi diri agar dapat memberikan pembelajaran secara daring yang dapat dan mudah dimengerti oleh peserta didiknya, karena peserta didik tidak akan mudah mengerti jika guru hanya memberikan instruksi melalui suara maupun kata kata.

Penguasaan aplikasi pendukung oleh guru dalam pembelajaran sangat diperlukan agar dapat menyampaikan informasi materi kepada peserta didik. Guru bukan hanya dituntut dapat menerangkan materi pelajaran sebagaimana pembelajaran tatap muka dimana sang guru menerangkan didepan kelas dan dengan mudah diikuti dan dipahami oleh peserta didiknya, dapat berinteraksi secara langsung dalam kegiatan belajar mengajar, dapat saling bertanya dengan materi yang diajarkannya. Dengan pembelajaran online, guru dituntut untuk membuat presentsi yang mudah difahami oleh peserta didiknya, baik dalam bentuk video powerpoint maupun video video lainnya yang dapat ditangkap oleh peserta didik. Begitu juga dengan system penilaian yang juga dilakukan secara online, para guru dituntut dapat membuat soal soal tersebut secara online.

Guru yang tadinya melakukan pembelajaran secara manual, dalam Learning From Home ini dituntut untuk menguasai tehnologi. Mereka tidak dapat melakukan pembelajaran dengan baik tanpa penguasaan ilmu yang mendukung pembelajaran online. Beban berat bagi para guru yang sama sekali tidak menguasai tehnologi ini, beberapa diantaranya harus meminta bantuan orang lain untuk pembuatan presentasi maupun video agar dapat disampaikan kepada peserta didiknya. Mau nggak mau meraka harus belajar tehnologi, karena tidak mungkin terus menerus meminta bantuan orang lain, apalagi sesame guru yang juga sibuk dengan kegiatan masing masing.

Kreatifitas penggunaan tehnologi juga dilakukan oleh para peserta didik, video video kreasi dari siswa banyak banyak bertebaran di media sosial. Begitu juga dengan kegiatan ekonomi baru yang dapat dilakukan oleh masyarakat dengan menggunakan media digital, pembatasan komunikasi secara langsung dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melakukan jual beli produk banyak dilakukan secara online. Beberapa produk dan pekerjaan baru seperti penyediaan peralatan pencegahan covid-19 dan lain lain, meskipun tidak sedikit sumber ekonomi yang berkurang bahkan mati.

Tidak adanya pembelajaran di sekolah juga mengurangi omset penjualan bagi para pedagang yang biasanya mangkal didekat sekolah. Beberapa diantaranya masih bisa bertahan, namun tidak sedikit yang harus banting stir mencari enghasilan dari sektor lain untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya, karena dengan tidak adanya pembelajaran disekolah tersebut sangat berdampak pada pedapatan bagi mereka yang hidupnya tergantung pada bidang jasa yang berhubungan secara langsung denga keberadaan anak anak sekolah.

Pandemi Covid-19 ibarat paradox of candy, bagi mereka yang kreatif dapat menangkap peluang untuk mengembangkan kemampuan dan mendapatkan peluang penghasilan, namun bagi mereka yang pasif dan cenderung pasrah akan tergilas dan terseret jauh dalam keterpurukan dan ketertinggalan. Karenanya tidak ada jalan lain dalam menghadapi pandemi covid-19 ini selain mengasah kreatifitas dan selau menangkap peluang untuk bangkit maupun sekedar bertahan.


Penulis adalah guru MIN 1 Banyuwangi.




Beban Berat Anggaran Madrasah

 

Beban Berat Anggaran Madrasah

Oleh : Juhdy

Pembelajaran yang diakukan secara daring dengan pemanfaatan tehnologi dianggap berat bagi semua pihak. Terlebih dengan kondisi ekonomi yang semakin terpuruk dari akibat keterbatasan ruang gerak yang dapat dilakukan. Beban berat tersebut bukan hanya dialami oleh peserta didik dan orang tuanya yang harus menyediakan berbegai perangkat pendukung pelaksanaan daring, namun juga para guru yang harus menyesuaikan dengan kondisi untuk melaksanakan tanggung jawab sebagai seorang pendidik yang harus tetap melaksanakan kewajiban memberikan pembelajaran dengan cara yang tidak biasa.

Pelaksanaan pendidikan secara daring mengakibatkan guru harus bekerja ekstra dengan mengeluarkan segenap potensi yang dimiliki agar penyampaian pesan pembelajaran kepada peserta didik dapat dilakukan, berbegai metode dalam aplikasi telah dilakukan banyak guru, hingga pelaksanaan guru Keliling yang banyak menyita energy. Begitu juga dengan berbagai kewajiban administrasi yang harus dilakukan dalam pengelolaan lembaga pendidikan yang tidak selamanya dapat dilakukan secara online.  Karena dalam sistim pendidikan bukan hanya penyerapan ilmu pengetahuna saja yang dibutuhkan, tetapi juga perangkat administrasi sebagai salah satu pengakuan dari keberhasilan pendidikan yang dituangan dalam kertas kerja.

Pelaksanaan pendidikan berkwalitas membutuhkan anggaran belanja yang tidak sedikit, baik untuk lembaga pendidikan maupun bagi peserta didik dan orang tuanya. Bagi lembaga pendidikan yang dikelola pemerintah, sebagian besar anggaran tersebut dapat dicukupi dengan DIPA yang dimiliki, namun bagi lembaga pendidikan swasta yang dikelola oleh masyarakat, beban anggaran tersebut dianggap sangat berat ditengah perkembangan ekonomi yang semakin menurun, terlebih dengan tidak adanya kegiatan tatap muka, peran serta masyarakat dalam pembiayaan pendidikan juga menurun.

Bayang bayang krisis keuangan pada lembaga pendidikan sangat dirasakan pada Madrasah yang dikelola oleh masyarakat. Sebagaian besar Madrasah hanya mengandlkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang besarannya juga sangat tidak ideal untuk mencukupi seluruh kebutuhan madrasah, terlebih di Madrasah tidak ada dana BOS selain dana BOS Reguler, hal ini sangat berbeda dengan lembaga pendidikan lain yang dapat ditopang dengan dana BOS Kinerja dan dana BOS Afirmasi dan bantuan dari Pemerindah daerah lainnya.


Madrasah sebagai lembaga pendidikan dibawah binaan Kementerian Agama yang menjadi urusan Pemerintah pusat merupakan lembaga pendidikan dengan kekhususan penambahan materi pendidikan agama dalam kurikulumnya. Lembaga pendidikan ini semakin hari semakin diminati masyarakat, hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya minat masyarakat terhadap pendidikan yang mengedepankan nile nilei moral keagamaan tersebut. Madrasah memiliki banyak kelebihan yang tak dimiliki sistem pendidikan lain. Di antaranya, memiliki keunggulan dalam integrasi agama dan sains yang dibutuhkan generasi bangsa ini. Selain itu, sebagai afirmatif kalangan ekonomi rentan. "Dibuktikan dengan biaya pendidikan yang murah terjangkau. Keikhlasan guru madrasah yang sebagian besar merupakan tenaga swasta dalam melaksanakan pengajaran dengan perasaan ikhlas sebagai salah satu bentuk ibadah merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan di madrasah.

Meskipun demikian dalam menjalankan tugasnya tersebut Madrasah yang 80 persen diselenggarakan masyarakat menanggung beban berat anggaran, terlebih ditengah pandemi covid-19. Donatur madrasah yang biasanya berasal dari wali murid dan masyarakat peduli sedikit terhambat. Beban semakin berat ketika Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah pusat yang diharapkan sedikit tersendat, bahkan ada kecenderungan pengurangan anggaran.

Pendukung utama madrasah adalah masyarakat muslim yang berada di pedesaan dan kampung-kampung. Namun, dalam perkembangannya, madrasah kini bisa tampil sebagai lembaga pendidikan pilihan masyarakat muslim perkotaan. Fenomena madrasah di perkotaan seiring dengan bangkitnya kelas menengah muslim yang menginginkan anaknya mendapat pendidikan yang bermutu dengan tambahan pengajaran keagamaan yang include dalam kurikulumnya.

Madrasah merupakan lembaga pendidikan dengan system pengajaran formal tertua di Indonesia setelah pesantren, Salah seorang pengkaji Islam di Indonesia, Howard Federspiel menyatakan bahwa pesantren di Indonesia dengan pengajaran formal sejak ada pada awal abad ke-12 atau sekitar tahun 1596. Madrasah sebagai lembaga pendidikan dengan system sebagaimana pesantren telah banyak melahirkan tokoh tokoh berpengaruh di Indonesia.

Dengan alasan Madrasah merupakan lembaga dibawah binaan pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah baik Kabupaten maupun Provinsi seperti enggan memberikan bantuan kepada Lembaga Pendidikan dengan kekhususan keagamaan tersebut. Madrasah dianggap sepenuhnya menjadi urusan Pemerintah pusat, karenanya bantuan untuk Madrasah dianggap terlalu kecil dibandingkan dengan lembaga pendidikan lainnya, yang langsung dibawah binaan Pem,erintah Daerah,  baik bantuan infrastructure maupun bantuan untuk operasional Madrasah tersebut. Adanya beberapa bantuan dari Kementerian Pendidikandan Kebudayaan kepada lembaga pendidikan tidak sepenuhnya menyentuh dan dapat dinikmati oleh Madrasah, begitu juga dengan beberapa bantuan dari Pemerintah Daerah. Hal ini menimbulkan sedikit kecemburuan terhadap pengelola Madrasah (terutama swasta), terlebih dengan bertambahnya beban para siswa ditengah pandemi covid-19 yang mengakibatkan bertambahnya pengeluaran bagi para orang tua.

Dalam menghadapi Pemilihan Kepala Daerah pada akhir tahun 2020, para pengelola pendidikan madrasah sangat berharap kepada Calon Bupati yang lebih peduli terhadap perkembangan madrasah. Hal ini sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan pendidikan yang lebih berkwalitas dengan tidak membebani biaya kepada masyarakat.

 

Penulis adalah Pengawas Madrasah pada Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.




Menu Pembelajaran Sehat Ala Guru Hebat dimasa Pandemi

 

Menu Pembelajaran Sehat Ala Guru Hebat dimasa Pandemi

Achmad Nadzir

Guru MIN 1 Banyuwangi

 

            Pandemi Covid-19 meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan manusia. Sektor pendidikan tidak luput dari incaran efek domino merebaknya virus Korona di dunia. Akibatnya, proses pembelajaran tidak lagi terlaksana dengan normal dan maksimal. Penerapan protokol kesehatan menjadi kebutuhan dan kewajiban segenap warga. Social Distancing dan Physical distancing, menjadi cara efektif guna memutus mata rantai penyebaran Korona. Namun, keadaan tersebut menjadi simalakama bagi dunia pendidikan. Pembelajaran tidak lagi bisa dilakukan secara tatap muka langsung di sekolah. Guru dan siswa terpisah oleh jarak dan tempat yang berbeda-beda. Di satu sisi, guru tetap harus mengontrol belajar siswanya. Menyampaikan materi dan mengadakan evaluasi, agar kompetensi minimal dan tujuan pembelajaran yang ditetapkan dalam kurikulum bisa tercapai. Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran jarak jauh, sangatlah diperlukan dan berpengaruh di masa-masa pandemi ini. Keterampilan dalam mengoperasikan alat-alat elektronik berupa komputer, laptop, dan handphone adalah keharusan. Pengetahuan dan kemampuan menggunakan aplikasi-aplikasi piranti lunak dan media sosial menjadi hal yang niscaya, guna membantu guru dapat terus melayani siswa dalam belajar.


            Merebaknya virus Korona terjadi di zaman teknologi informasi sudah berkembang dan maju pesat. Jarak yang berjauhan dan waktu yang beda, tidak lagi menjadi kendala dan masalah guna tetap bisa menjalin komunikasi. Begitu juga guru dan siswa, dapat terus berkomunikasi dalam rangka proses pembelajaran meski berjauhan. Kemajuan piranti lunak elektronik dan perkembangan teknologi informasi, dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam rangka pembelajaran di era modern ini. Jarak, waktu, dan tempat bukan lagi menjadi alasan untuk menghentikan proses belajar mengajar. Semua bisa diatasi dengan menerapkan empat menu sistem pembelajaran di era modern dan masa pandemi. Apa saja keempat menu sitem tersebut? Distance Learning, E-Learning, Online Learning, dan Blended Learning.

            Pertama Distance Learning, merupakan pembelajaran yang dilakukan secara terpisah baik guru dan siswanya. Saat pembelajaran terpisah tempat antara guru dan siswa, maka sangat membutuhkan sarana komunikasi yang dapat menghubungkan guru, siswa, dan materi yang perlu dipelajari. Penerapan pembelajaran ini dikenal dengan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). “Pembelajaran jarak jauh adalah pembelajaran yang direncanakan. Biasanya disajikan pada tempat dan waktu yang berbeda antara guru dan siswa dengan menggunakan teknik yang direncanakan secara khusus dan dengan metode khusus, menggunakan teknologi elektronik, dengan pengorganisasian dan pengadministrasian yang tersusun dengan baik.” (Michael G. 1996). Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) merupakan pola yang sangat ideal dan dinamis untuk diterapkan di era pandemi Covid-19. Materi yang akan dipelajari oleh siswa dan media komunikasinya disiapkan oleh guru dengan sebaik-baiknya dalam bentuk modul. Siswa dapat belajar mandiri di rumah, mengikuti perintah atau petunjuk yang telah ada di modul untuk memahami materi. Penerapan Distance Learning, memungkinkan siswa dapat belajar tanpa terikat tempat, jarak, dan waktu. Belajar menjadi fleksibel dan menyenangkan.

            Kedua E-Learning, merupakan sistem pembelajaran elektronik. Didefinisikan sebagai bentuk pemanfaatan teknologi informasi yang diterapkan di bidang pedidikan. Elektonik pembelajaran memanfaatkan website yang dapat diakses di mana saja. (Onno W Purbo, 2002) E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. (Wikipedia). Penerapan pembelajaran elektronik, dapat dilaksanakan oleh guru dan siswa dalam waktu dan tempat yang sama atau berbeda, serta jarak dekat atau berjauhan. Dalam pembelajaran elektronik, siswa bisa belajar kapan dan di mana pun. Materi bisa diakses setiap saat, karena telah disediakan dalam bentuk e-modul dan e-diktat dengan penjelasan tugas yang lugas dan mudah dipahami oleh siswa.

            Ketiga Online Learning, merupakan bagian dari sistem pembelajaran elektronik (E-Learning). Pembelajaran online memanfaatkan internet sebagai media utama dengan menggunakan handphone, computer, dan laptop sebagai sarana komunikasi antara guru dan siswa. Online Learning lebih simple penerapannya dari  E-Learning, dari segi sarana dan prasara yang perlu disiapkan. Potensi penerapan pembelajaran online telah berkembang, siswa tidak hanya dapat mengakses pengetahuandari buku pelajaran, tetapi juga dapat mengakses dari luar sekolah. Guru dan siswa dapat dapat berpartisipasi aktif, karena lingkungan belajar bisa interaktif tatap muka secara virtual. Penggunaan media sosial dan virtual menjadi media utama dalam pembelajaran online.

            Keempat Blended Learning merupakan penerapan pembelajaran secara tatap muka langsung yang dipadukan dengan pembelajaran elektronik. Penggunaan internet dalam belajar atau yang biasa disebut E-Learning semakin hari kian diminati oleh masyarakat belajar. Penerapan pembelajaran elektronik membantu siswa dapat belajar tanpa terikat waktu dan tempat. Namun, pertemuan tatap muka di kelas tetap sangat dibutuhkan untuk membahasa materi yang perlu dipahami dan kuasai, terutama materi tentang nilai, etika, dan moral yang tidak bisa dicontohkan melalui pembelajaran elektronik.

            Penerapan Blended Learning memberikan keuntungan dalam belajar kepada siswa. Keuntungan tersebut adalah lebih fleksibel, hemat biaya dan waktu, materi interaktif, efektif dan efisien. (https://binus.ac.id, 2019) Belajar secara tatap muka langsung terikat oleh tempat dan waktu, sehingga memadukan dengan pembelajaran online menjadikan pembelajaran lebih fleksibel. Penerapan Blended Learning juga lebih hebat biaya dan waktu, karena siswa dapat memilih apakah ingin belajar secara tatap muka langsung atau online sesuai dengan kemampuan dan waktu yang dipunyai. Blended Learning juga memberikan akses kepada siswa untuk belajar materi lebih luas dari berbagai sumber, tidak hanya dari buku pelajaran yang ada di sekolah, sehingga pembelajaran menjadi lebih interaktif, efektif, dan efisien.

            Pendidikan sebagai pondasi dan pilar utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, tetap harus dilaksanakan. Anak-anak generasi bangsa perlu terus belajar, agar pengetahuan dan pemikirannya berkembang dan maju. Lantas, bagaimana cara memberikan layanan pendidikan di era pandemi? Menjadi keniscayaan, dan tanggung jawab bersama, semua elemen bangsa. Menu pembelajaran perlu diadaptasikan dengan zaman, terutama di masa pandemi saat ini. Pola pembelajaran langsung menjadi tidak lagi ideal, sehingga diperlukan menu pembelajaran yang lebih fleksibel dan tepat guna. Maka pembelajaran jarak jauh sangat ideal untuk diterapkan saat Social Distancing dan Physical Distancing menjadi bagian dari protokol kesehatan.

 

Banyuwangi, 7 September 2020

Rindu Terdiam

 

Rindu Terdiam

Oleh : Nur Khofifah

 


Bola matanya seketika meredup ketika berita itu datang mengguncang. Rasa rindu tercabik begitu saja, manakala anak-anak kembali merasa ditekan pudar keinginan   belajar leluasa. Guru-guru berpacu lari mencari solusi, menciptakan model pendidikan yang memadai. Sedangkan orang tua dibuat kelabakan, mengikuti arus perkembangan pendidikan. Rindu terdiam, sebuah keinginan terpendam hanya bisa dilakukan ketika terbentur keadaan.

Segitiga keterpaduan dalam pendidikan yaitu guru, orang tua, dan siswa sangat merasakan dampak yang tak bisa mengelak. Terdiam dalam kerinduan, memuncak polemik tersendiri akibat menahan pertemuan pembelajaran tatap muka yang terhalang.  Pembelajaran langsung di bangku Madrasah kembali tinggal rencana. Pertemuan tatap muka haruslah ditunda. Alasan utamanya Covid-19 semakin memapar di mana-mana dan Banyuwangi seketika menjadi komoditas berita utama sebagai daerah dengan blok warna merah membara.

Hari itu satu pemandangan sangat menyentuh mata. Seorang siswa datang menemuiku penuh keceriaan, menanyakan lebih lanjut perihal pembelajaran tatap muka yang rencananya dilakukan secara periodik. Kegembiraan terungkap dari raut mukanya yang menyungging senyuman lega. Sebuah harapan bisa ditebak, anak-anak ingin kembali ke bangku sekolah. Sebuah keinginan yang terpendam setelah sekian lama bergulat dengan pembelajaran jarak jauh, belajar di rumah memunculkan reaksi beragam dan ujungnya adalah kebosanan. Tidak heran ketika rencana tatap muka itu mulai digulirkan langsung ditangkap anak-anak penuh kebahagiaan.

Apalah daya situasi berkata lain. Puluhan santri dikabarkan positif terinfeksi covid-19. Beritanya meledak dan sejumlah kegiatan akhirnya berhenti mendadak. Satu hari berselang setelah rencana pembelajaran tatap muka, Madrasahku  mengubah kembali rencana pembelajaran tatap muka ke bentuk pembelajaran secara daring. Inovasi harus segera dilakukan untuk menangkap reaksi kegelisahan efek pembelajaran jarak jauh, dan pembelajaran daring bagaimana bisa dilaksanakan dengan tetap menyenangkan.

Pada usia anak sekolah dasar keaktifan guru dan orang tua menjadi pilar kuat menopang keberhasilan siswa belajar. Di pucuk kegelisahan menekan rindu untuk kembali belajar normal diperlukan hubungan yang intens antara guru dengan orang tua. Bekerjasama saling memberikan informasi harus selalu dilakukan.

Menangkap rindu bagaimana caranya?. Guru menjadi seorang desain creator yang dituntut bisa menciptakan pembelajaran inovatif di saat sulit. Mendesain pembelajaran daring di masa pandemic ini memunculkan berbagai tingkat kesulitan yang beragam. Kesulitan bukan saja berporos pada guru dan siswa saja, kesulitan juga merambah pada segitiga keterpaduan pola pendidikan yang melibatkan guru, orang tua, dan siswa.  Kesulitan dialami oleh siswa pembelajar, guru pengajar, dan kesulitan juga dirasakan oleh orang tua yang harus terlibat secara aktif sebagai pengajar dan pembelajar.

Solusi menangkap keinginan melakukan pembelajaran normal seperti sediakala perlu strategi untuk memenangkan. Rindu terdiam menahan gejolak keinginan yang  tidak tersalur dengan berbagai langkah tindakan menjadi  tantangan lembaga pendidikan untuk melakukan rencana inovatif yang terukur dari segi waktu dan kondisi.

Mengukur langkah pembelajaran jarak jauh haruslah memperhatikan keterlibatan dan kesiapan unsur-unsur dalam segitiga keterpaduan pembelajaran yaitu guru, orang tua, dan siswa. Jangan sampai hanya mengikuti keinginan guru saja tanpa melihat kondisi dan respon orang tua maupun siswa.

Anak-anak menjadi korban keadaan. Menyelenggarakan pendidikan sesuai tujuan semula sangat jauh dari kenyataan. Ketuntasan pembelajaran harus diukur sesuai waktu dan kondisi. Bagaimana anak-anak tetap bisa belajar tenang meski kondisi serba kekurangan?, sebuah tantangan bagi lembaga pendidikan untuk menciptakan pendidikan kreatif, inovatif di masa pandemic.

Mensiasati kondisi ini perlu memperhatikan tiga hal, yaitu  manajemen kemapuan pedagogik guru, manajemen waktu, dan manajemen tindakan pendekatan. Merencanakan dengan matang berbagai metode pendidikan daring yang dilakukan haruslah mengukur ketiga hal ini, yaitu kemampuan guru, waktu yang tersedia, dan tindakan apa yang bisa dilakukan untuk melakukan langkah pendekatan pembelajaran.

Setidaknya melaksanakan berbagai metode pembelajaran daring seperti saat ini lakukanlah dengan mengukur kemampuan pedagogik seorang guru sebagai modal dalam merencanakan model pembelajaran. Kemampuan sebagai bagian dari keahlian guru itu harus disesuaikan dengan waktu yang tengah berlangsung untuk pembelajaran. Pembelajaran daring, dimana kegiatan belajar banyak menggunakan HP. Ternyata harus diselaraskan dengan berbagai kegiatan kerja orang tua. Terlebih masih banyak orang tua yang belum memberi kepercayaan penuh pada anaknya untuk mempunyai HP Sendiri. Dari sini guru harus pandai mendesain model pembelajaran yang sekiranya bisa ditangkap orang tua secara jelas. Selain menyesuaikan dengan waktu pelaksanaan, manajemen yang harus digarap oleh guru adalah tindakan dan pendekatan dalam pembelajaran.

Kesulitan mengawal pendidikan anak juga dialami orang tua saat ini.  Orang tua bukan hanya sekedar pendamping siswa belajar, tugasnya sudah jauh meluas sebagai pengajar dan pembelajar. Di saat sebagai sebagai pengajar fungsi ganda dimainkan yaitu, sebagai komonikator antara tugas sekolah dengan anaknya dan fasilitator pembelajaran yang difungsikan memudahkan anak untuk belajar. Di saat yang lain orang tua akhirnya bertindak sebagai pembelajar. Mengkomunikasikan antara tugas sekolah dengan anak acapkali mengalami stuck ketika dihadapkan pada materi yang kurang dipahami. Alhasil orang tua juga bertindak sebagai pembelajar agar bisa mengkomunikasikan lebih lanjut antara tugas sekolah dengan anak.

Menjawab rindu terpendam dari keinginan kembali belajar normal di saat ini adalah dengan kesabaran. Anak bangsa tidak boleh merugi. Pendidikan tidak boleh terhenti meskipun suasanan pandemi, karena pendidikan adalah detak jantung keberlangsungan suatu bangsa sampai saat nanti.

 

PROFIL PENULIS

 

Nama                           : Nur Khofifah, S.Pd

Profesi                         : Guru dan Penulis

Alamat                                    : Mangir Krajan Rogojampi - Banyuwangi

Instansi                        : MIN 3 Banyuwangi

Alamat Instansi           : Jl. Raya Jajag Gg. Kalimantan No.04 Jajag

Email                           : nurkhofifah.minj@gmail.com

HP                               : 085236868598

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger