Pages

LPNU Banyuwangi Siapkan Gerakan Ekonomi Berbasis Komunitas, Dorong Lahirnya Wirausahawan Nahdliyin Berdaya Saing

BANYUWANGI (Warta Blambangan)Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Banyuwangi mulai merancang langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi warga Nahdliyin melalui program pemberdayaan usaha yang terarah dan berkelanjutan. Upaya tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang berlangsung di ruang pertemuan PCNU Banyuwangi, Senin (1/6/2026).

Pertemuan tersebut menjadi forum konsolidasi bagi jajaran pengurus LPNU Banyuwangi dalam menyusun berbagai agenda prioritas yang berorientasi pada peningkatan kapasitas ekonomi warga NU. Sejumlah gagasan strategis mengemuka guna menjawab tantangan ekonomi masyarakat yang semakin dinamis serta membuka peluang usaha yang lebih luas bagi warga Nahdliyin.


Ketua LPNU Banyuwangi, Ahmad Syafroni, menegaskan bahwa organisasi harus mampu mengambil peran nyata dalam membangun kemandirian ekonomi umat. Menurutnya, penguatan sektor ekonomi tidak cukup dilakukan melalui pendekatan seremonial, melainkan membutuhkan program yang mampu memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa LPNU tengah menyiapkan program unggulan bertajuk “Warga NU Naik Kelas, Menjadi Pengusaha Berkualitas”, yang diarahkan untuk mencetak pelaku usaha tangguh sekaligus meningkatkan kapasitas pengusaha yang telah berjalan.

“Warga NU memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Tugas kita adalah menghadirkan sistem pembinaan yang mampu mengembangkan potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Syafroni, perubahan pola ekonomi dan perkembangan teknologi menuntut organisasi untuk lebih adaptif dalam merancang program kerja. Karena itu, LPNU Banyuwangi didorong untuk menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Dalam pembahasan awal, program tersebut akan difokuskan pada sejumlah bidang strategis, antara lain penguatan kapasitas kewirausahaan, pendampingan usaha berbasis potensi lokal, pengembangan pemasaran digital, perluasan jejaring bisnis antarwarga Nahdliyin, serta peningkatan kualitas tata kelola usaha.

Selain pelatihan, LPNU Banyuwangi juga merancang pola pembinaan berkelanjutan yang mencakup aspek legalitas usaha, pengembangan kemasan produk, strategi pemasaran, penguatan merek, akses permodalan, hingga perluasan pasar. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membantu pelaku usaha menghadapi berbagai tantangan dalam pengembangan bisnis.

Syafroni menambahkan bahwa yang ingin dibangun bukan semata-mata kemampuan berdagang, melainkan karakter kewirausahaan yang berlandaskan integritas, profesionalitas, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.

“Transformasi ekonomi membutuhkan mentalitas yang kuat. Kita ingin melahirkan pengusaha NU yang tidak hanya sukses secara bisnis, tetapi juga memiliki komitmen terhadap nilai-nilai keumatan dan pemberdayaan masyarakat,” katanya.

Melalui program tersebut, LPNU Banyuwangi juga berupaya membangun ekosistem usaha yang saling terhubung dan menguatkan. Kehadiran komunitas pengusaha NU, pengembangan platform pemasaran produk warga, hingga pelatihan berbasis potensi desa menjadi beberapa gagasan yang mengemuka dalam forum tersebut.

Rapat berlangsung interaktif dengan berbagai masukan dari peserta terkait model pemberdayaan ekonomi yang sesuai dengan karakter sosial dan potensi lokal Banyuwangi. Seluruh gagasan tersebut akan menjadi bahan penyempurnaan program sebelum direalisasikan secara bertahap.

Dengan inisiatif tersebut, LPNU Banyuwangi berharap dapat memperkuat fondasi ekonomi warga Nahdliyin sekaligus mendorong lahirnya pelaku usaha yang lebih mandiri, inovatif, dan mampu bersaing di tengah perkembangan ekonomi modern. Gerakan ekonomi berbasis komunitas itu diharapkan menjadi salah satu kontribusi nyata Nahdlatul Ulama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

LKKNU Banyuwangi Siapkan Program Strategis Keluarga Maslahah Jelang Pengukuhan Pengurus

 Banyuwangi (Warta Blambangan) Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Cabang Banyuwangi menggelar rapat koordinasi di ruang rapat PCNU Banyuwangi, Senin (1/6/2026), sebagai bagian dari persiapan pengukuhan kepengurusan dan pelaksanaan Musyawarah Kerja (Musker) yang akan datang.


Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk merumuskan berbagai program prioritas yang akan dijalankan LKKNU Banyuwangi dalam upaya memperkuat ketahanan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan keagamaan, sosial, dan pemberdayaan.

Ketua LKKNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, menjelaskan bahwa sejumlah program strategis telah disiapkan untuk dibahas dan ditetapkan dalam Musyawarah Kerja. Salah satu program yang menjadi perhatian adalah fasilitasi pengesahan nikah bagi pasangan yang telah melaksanakan pernikahan secara sah menurut syariat Islam, namun belum memiliki pencatatan resmi sesuai ketentuan perundang-undangan.

Selain itu, LKKNU Banyuwangi juga akan menginisiasi kegiatan bimbingan teknis terkait Konvensi Hak Anak bagi lembaga-lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama. Program ini diharapkan dapat memperkuat komitmen seluruh elemen NU dalam memberikan perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak.

Rapat tersebut turut dihadiri Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi, Marifatul Kamila, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi I DPRD Banyuwangi. Hadir pula Imam Muklis, Kepala KUA Kecamatan Wongsorejo yang mengemban amanah sebagai Koordinator Bidang Pemberdayaan dan Ketahanan Keluarga LKKNU Banyuwangi.

Dalam pembahasan program, LKKNU Banyuwangi menegaskan komitmennya untuk menghadirkan berbagai kegiatan yang berorientasi pada terwujudnya Keluarga Maslahah, yakni keluarga yang harmonis, sejahtera, berakhlak mulia, dan memiliki ketahanan sosial yang kuat.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, LKKNU Banyuwangi akan memfokuskan program kerja pada beberapa sektor utama. Di antaranya layanan bimbingan dan konseling keluarga guna membantu penyelesaian persoalan rumah tangga, pendampingan calon pengantin, serta upaya pencegahan perceraian melalui Rumah Konseling Keluarga Maslahah.

Selain itu, program edukasi kependudukan dan kesehatan keluarga juga menjadi prioritas, termasuk peningkatan pemahaman tentang kesehatan mental anak, kesehatan reproduksi, pencegahan perkawinan usia anak, serta upaya menekan angka stunting.

Pada bidang ekonomi, LKKNU Banyuwangi akan mendorong penguatan kemandirian keluarga melalui pelatihan kewirausahaan dan pengembangan keterampilan produktif. Sementara pada aspek lingkungan, organisasi ini akan mengembangkan edukasi masyarakat mengenai pentingnya menciptakan lingkungan pemukiman yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan.

Melalui rangkaian program tersebut, LKKNU Banyuwangi berharap dapat memperkuat peran keluarga sebagai fondasi utama pembangunan masyarakat sekaligus mendukung terwujudnya keluarga-keluarga yang tangguh, mandiri, dan maslahat bagi lingkungan sekitarnya. (dll)

Dari KUA ke LKKNU: Pengabdian H. Imam Muklis untuk Ketahanan Keluarga Umat

Keluarga adalah madrasah pertama bagi lahirnya generasi yang beriman, berakhlak, dan beradab. Dari rumah tangga yang kokoh akan tumbuh masyarakat yang kuat, sementara dari keluarga yang rapuh sering kali lahir berbagai persoalan sosial yang menguji kehidupan umat. Dalam ikhtiar menjaga amanah besar tersebut, kehadiran sosok H. Imam Muklis, S.Ag., M.H.I. menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan kemaslahatan di tengah masyarakat. Amanah yang kini diembannya sebagai Koordinator Bidang Pemberdayaan dan Ketahanan Keluarga Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Banyuwangi periode 2026–2031 bukan sekadar jabatan organisasi, melainkan panggilan pengabdian untuk merawat pondasi peradaban dari lingkup yang paling mendasar, yaitu keluarga.


Lahir dan dibesarkan di Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, H. Imam Muklis tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan nilai-nilai keislaman dan tradisi Nahdlatul Ulama. Sejak usia dini, ia ditempa oleh budaya keagamaan yang menanamkan pentingnya ilmu, adab, serta pengabdian kepada umat. Tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah yang moderat dan penuh kebijaksanaan menjadi pijakan dalam perjalanan hidupnya, baik sebagai aparatur negara maupun sebagai aktivis organisasi keagamaan.

Perjalanan kariernya di lingkungan Kementerian Agama dimulai dari posisi Penyuluh Agama Islam. Dari ruang-ruang pengajian, majelis taklim, hingga pertemuan masyarakat di pelosok desa, ia belajar memahami denyut kehidupan umat secara langsung. Pengalaman tersebut membentuk kepekaannya terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, mulai dari urusan rumah tangga, pernikahan, zakat, wakaf, hingga pembinaan kehidupan beragama secara menyeluruh.

Pengabdian itu kemudian berlanjut ketika ia dipercaya mengemban amanah sebagai Penyelenggara Syariah serta Penyelenggara Zakat dan Wakaf di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Pengalaman tersebut memperluas cakrawala pemikirannya mengenai pentingnya menghadirkan hukum Islam yang tidak hanya dipahami secara normatif, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan umat secara nyata. Saat ini, sebagai Kepala KUA Kecamatan Wongsorejo, ia terus berupaya menjadikan pelayanan keagamaan sebagai sarana menghadirkan kemudahan, perlindungan, dan keberkahan bagi masyarakat.

Di luar tugas kedinasan, kiprah organisasinya juga menunjukkan konsistensi dalam melayani umat. Kepercayaan yang pernah diberikan kepadanya sebagai Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyuwangi menjadi bukti bahwa kapasitas keilmuan dan pengalamannya mendapat pengakuan dari berbagai kalangan. Kini, ia juga mengemban amanah sebagai Sekretaris APRI Cabang Banyuwangi, memperluas kontribusinya dalam berbagai bidang kehidupan sosial-keagamaan.

Dalam pandangan H. Imam Muklis, ketahanan keluarga tidak dapat dipisahkan dari tertibnya administrasi pernikahan. Pernikahan bukan hanya akad suci yang mengikat dua insan di hadapan Allah SWT, tetapi juga ikatan hukum yang harus memberikan perlindungan bagi seluruh anggota keluarga. Karena itu, pencatatan pernikahan menjadi perhatian serius dalam bidang yang dipimpinnya. Ia meyakini bahwa keluarga yang sah secara syariat dan terlindungi secara hukum akan memiliki fondasi yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Persoalan pernikahan yang belum tercatat masih menjadi kenyataan yang dijumpai di tengah masyarakat. Tidak sedikit pasangan yang menghadapi berbagai kendala administratif maupun sosial sehingga belum memperoleh pengakuan hukum secara resmi. Dalam menghadapi persoalan tersebut, pendekatan yang dibutuhkan bukan sekadar penegakan aturan, tetapi juga dakwah, edukasi, pendampingan, dan solusi yang berlandaskan kasih sayang. Sebab, Islam hadir sebagai rahmat yang memudahkan, bukan mempersulit kehidupan umat.

Pengalaman panjang yang dimiliki H. Imam Muklis menjadikannya memahami bagaimana menjembatani nilai-nilai syariat dengan ketentuan negara. Kemampuan ini sangat penting di tengah perubahan zaman yang menghadirkan berbagai tantangan baru bagi keluarga, mulai dari tekanan ekonomi, perubahan budaya, hingga derasnya arus informasi digital yang memengaruhi pola kehidupan rumah tangga.

Pada akhirnya, membangun ketahanan keluarga adalah bagian dari menjaga amanah Allah dalam menciptakan generasi yang saleh dan salehah. Upaya tersebut membutuhkan figur yang tidak hanya memahami hukum dan administrasi, tetapi juga memiliki kepekaan sosial serta semangat pengabdian yang tulus. H. Imam Muklis menunjukkan bahwa pelayanan kepada umat dapat diwujudkan melalui kerja nyata yang berpijak pada ilmu, adab, dan nilai-nilai keislaman. Dari ruang penyuluhan agama hingga pelayanan di KUA, dari aktivitas MUI hingga amanah di LKKNU, ia terus meneguhkan keyakinan bahwa keluarga yang kuat adalah jalan menuju masyarakat yang bermartabat dan diridhai Allah SWT.

Fauzan Anshori dan LKKNU: Ketika Dakwah Bertemu Integritas dan Pengabdian

Di tengah zaman yang bergerak begitu cepat, umat tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai berbicara tentang agama, tetapi juga figur yang mampu menerjemahkan nilai-nilai agama ke dalam tindakan nyata. Sebab dakwah sejatinya bukan sekadar lantunan kata dari atas mimbar, melainkan juga keteladanan yang hidup dalam keseharian. Di titik inilah sosok M. Fauzan Anshori, S.H.I., M.M. menemukan relevansinya.


Islam mengajarkan bahwa amanah adalah salah satu tanda keimanan. Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa tidak ada iman bagi orang yang tidak mampu menjaga amanah. Karena itu, ketika seseorang dipercaya mengurus urusan umat, mengelola lembaga, membimbing masyarakat, hingga mendidik generasi muda, sesungguhnya ia sedang memikul beban yang tidak ringan. Amanah bukan kehormatan semata, melainkan tanggung jawab yang kelak dipertanyakan di hadapan Allah SWT.

Perjalanan hidup Fauzan Anshori menunjukkan bahwa amanah besar tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari proses panjang pengabdian. Sebelum menjadi Penghulu di Kantor Urusan Agama Kecamatan Srono, ia terlebih dahulu menempuh jalan sebagai Penyuluh Agama Islam. Jalan yang mengharuskannya hadir di tengah masyarakat, mendengar keluh kesah umat, memahami persoalan keluarga, serta menyaksikan secara langsung dinamika kehidupan yang terus berubah.

Pengalaman itu membentuk cara pandangnya dalam berdakwah. Ia memahami bahwa masyarakat hari ini tidak cukup hanya diberi nasihat. Mereka membutuhkan pendampingan, teladan, dan solusi yang dapat dirasakan manfaatnya. Karena itulah dakwah yang disampaikannya terasa dekat dengan kehidupan. Tidak menghakimi, tetapi mengajak. Tidak mempersulit, tetapi memudahkan. Tidak membangun sekat, tetapi menghadirkan jembatan.

Sebagai putra Songgon yang tumbuh dalam tradisi pesantren dan kultur Nahdlatul Ulama, Fauzan membawa warisan nilai yang sangat dibutuhkan bangsa ini. Nilai tawasuth, tasamuh, tawazun, dan i'tidal bukan sekadar istilah yang dihafalkan, melainkan prinsip yang tampak dalam cara ia berinteraksi dengan masyarakat. Di tengah menguatnya polarisasi dan kecenderungan sebagian kelompok yang gemar mempertentangkan perbedaan, sikap moderat menjadi cahaya yang menuntun umat untuk tetap berjalan di jalan tengah.

Salah satu tantangan terbesar dakwah masa kini adalah menjangkau generasi muda. Dunia digital telah mengubah cara berpikir, cara belajar, bahkan cara beragama. Banyak anak muda yang lebih akrab dengan layar gawai daripada majelis taklim. Namun tantangan itu tidak disikapi dengan keluhan. Sebaliknya, ia hadir dengan pendekatan yang lebih komunikatif dan membumi. Dakwah tidak lagi hanya berbicara tentang halal dan haram, tetapi juga menyentuh akhlak, karakter, tanggung jawab sosial, dan pentingnya menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Di Pesantren Syifaul Qolbi yang diasuhnya, dakwah menemukan bentuk yang lebih nyata. Di sana, ilmu tidak hanya diajarkan melalui kitab dan ceramah, tetapi juga melalui pembiasaan akhlak. Sebab pesantren sejatinya bukan sekadar tempat belajar agama, melainkan ruang untuk menempa jiwa agar tumbuh menjadi manusia yang dekat dengan Allah dan bermanfaat bagi masyarakat.

Keistimewaan lain yang dimiliki Fauzan adalah kemampuannya menyampaikan pesan-pesan agama dengan sentuhan keindahan. Tilawah Al-Qur'an, lantunan shalawat, dan suara yang merdu menjadi bagian dari dakwah yang menyejukkan. Dalam tradisi Islam, keindahan memang memiliki tempat tersendiri. Allah itu indah dan menyukai keindahan. Ketika ayat-ayat suci dibacakan dengan penuh penghayatan, hati yang keras pun dapat menjadi lunak. Di situlah suara bukan lagi sekadar bunyi, melainkan jalan masuk bagi cahaya hidayah.

Namun yang menarik, kiprahnya tidak berhenti pada wilayah dakwah dan pendidikan. Kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai Kepala Biro Keuangan Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama Banyuwangi menunjukkan bahwa dakwah juga membutuhkan tata kelola yang baik. Sebab organisasi yang mengurus kemaslahatan umat tidak cukup hanya dibangun dengan semangat. Ia memerlukan profesionalisme, ketelitian, transparansi, dan integritas.

Dalam Islam, pengelolaan keuangan bukan semata urusan angka, melainkan bagian dari amanah. Setiap rupiah yang dikelola harus dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, perpaduan antara kapasitas manajerial dan integritas moral menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Ketika keduanya berjalan beriringan, organisasi akan tumbuh sehat dan kepercayaan masyarakat dapat terjaga.

Pada akhirnya, sosok M. Fauzan Anshori mengingatkan kita bahwa pengabdian kepada umat memiliki banyak pintu. Ada yang mengabdi melalui mimbar, ada yang mengabdi melalui pendidikan, ada pula yang mengabdi melalui pelayanan publik dan pengelolaan organisasi. Semua jalan itu bermuara pada tujuan yang sama: menghadirkan kemaslahatan.

Di tengah dunia yang sering mengukur keberhasilan dari popularitas dan pencapaian materi, kehadiran figur-figur yang tetap menjadikan amanah sebagai kompas adalah anugerah tersendiri. Sebab umat selalu membutuhkan cahaya yang tidak hanya menerangi dengan kata-kata, tetapi juga dengan keteladanan. Dan keteladanan itulah yang sesungguhnya akan terus hidup, jauh setelah suara dari mimbar berhenti terdengar.

Milad ke-109 Aisyiyah, Meneguhkan Dakwah Kemanusiaan untuk Kemaslahatan Umat

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Semangat dakwah yang menebarkan manfaat bagi sesama kembali digaungkan dalam peringatan Milad ke-109 Aisyiyah yang digelar Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Banyuwangi di SMK Muhammadiyah 2 Genteng, Minggu (31/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat komitmen dakwah kemanusiaan yang selama ini menjadi ruh gerakan perempuan Muhammadiyah.


Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang hadir secara virtual menyampaikan apresiasi atas spirit dakwah kemanusiaan yang terus dikembangkan oleh Aisyiyah. Menurutnya, nilai-nilai keislaman yang diajarkan tidak hanya menjadi pedoman ibadah, tetapi juga harus hadir dalam bentuk kepedulian sosial yang dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

“Dakwah kemanusiaan yang dicanangkan oleh Aisyiyah ini adalah spirit yang patut didukung oleh kita semua. Nilai-nilai luhur keislaman harus dirasakan oleh seluruh umat manusia tanpa dibatasi sekat apa pun,” ujar Ipuk.

Ia menambahkan, dakwah yang inklusif dan berorientasi pada kemaslahatan umat tersebut sejalan dengan visi pembangunan Kabupaten Banyuwangi yang menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan utama. Karena itu, Pemkab Banyuwangi berharap Aisyiyah dan seluruh keluarga besar Muhammadiyah dapat terus menjadi mitra strategis dalam upaya mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Kami berharap Aisyiyah dan keluarga besar Muhammadiyah di Banyuwangi lainnya untuk bersama-sama mengurangi angka kemiskinan di Banyuwangi,” kata Ipuk.

Dalam kesempatan tersebut, Ipuk juga memaparkan capaian pembangunan sosial di Banyuwangi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Oktober 2025, angka kemiskinan di Banyuwangi tercatat sebesar 6,13 persen atau turun 0,41 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) juga mengalami penurunan menjadi 0,41.

Menurut Ipuk, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk kontribusi organisasi kemasyarakatan dan keagamaan yang selama ini aktif mendampingi masyarakat melalui berbagai program sosial.

“Keberhasilan ini tidak terlepas dari peran seluruh masyarakat Banyuwangi, tak terkecuali Aisyiyah dan seluruh keluarga besar Muhammadiyah,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Dr. Nur Mukarramah, menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan tidak boleh berhenti pada slogan atau seruan moral semata. Dakwah harus diwujudkan melalui langkah-langkah nyata yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

“Mulai dari penguatan pendidikan, kesehatan keluarga, dan aksi sosial lainnya,” tegas Nur Mukarramah.

Hal senada disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Banyuwangi, Laili Dwi Damayanti. Ia menjelaskan bahwa Aisyiyah terus mengembangkan berbagai program sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat hingga tingkat cabang dan ranting.

Program-program tersebut antara lain Jumat Berkah, Ahad Berkah, serta berbagai kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bentuk implementasi dakwah kemanusiaan.

“Baik yang berupa Jumat Berkah, Ahad Berkah, dan yang lainnya, ini merupakan program-program sosial konkret untuk mewujudkan dakwah kemanusiaan di Banyuwangi,” ujarnya.

Milad ke-109 Aisyiyah tidak hanya menjadi perayaan perjalanan panjang organisasi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa dakwah sejatinya adalah menghadirkan kasih sayang dan kemanfaatan bagi sesama. Seperti mata air yang terus mengalir tanpa memilih siapa yang akan meminumnya, dakwah kemanusiaan yang diusung Aisyiyah diharapkan terus menjadi energi kebaikan yang menguatkan solidaritas sosial, memperluas kepedulian, serta menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat Banyuwangi.

Menjemput Berkah di Malam Seblang, Tradisi Sakral Osing yang Tak Lekang Zaman

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Malam di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Minggu (31/5/2026), berubah menjadi panggung kebudayaan yang menyatukan tradisi, spiritualitas, dan kebersamaan warga. Ribuan masyarakat memadati area ritual untuk menyaksikan Seblang Bakungan, tradisi sakral masyarakat Osing yang terus lestari di tengah arus modernisasi.

Rangkaian ritual diawali dengan prosesi Ider Bumi, sebuah tradisi mengelilingi kampung sebagai bentuk ikhtiar memohon keselamatan dan keberkahan. Menjelang malam, seluruh lampu listrik di wilayah kelurahan dipadamkan. Kegelapan yang menyelimuti kampung justru menghadirkan suasana magis ketika cahaya obor mulai menerangi jalan-jalan desa.


Warga menggelar tikar di sepanjang tepi jalan bersama keluarga. Di hadapan mereka tersaji pecel pitik, hidangan khas masyarakat Osing yang menjadi bagian penting dalam ritual. Namun makanan tersebut belum boleh disantap sebelum prosesi Ider Bumi berakhir.

Dengan membawa obor, rombongan ritual bergerak mengelilingi seluruh penjuru kampung. Di setiap persimpangan jalan, adzan dikumandangkan sebagai simbol doa dan permohonan keselamatan. Perpaduan nilai-nilai Islam dan tradisi lokal itu menjadi gambaran harmonis kehidupan masyarakat Osing yang telah berlangsung turun-temurun.

Setelah prosesi selesai dan lampu listrik kembali dinyalakan, warga mulai menikmati sajian pecel pitik. Momen tersebut menjadi penanda berakhirnya Ider Bumi sekaligus dimulainya puncak ritual Seblang.

Sekitar pukul 20.00 WIB, perhatian masyarakat tertuju ke arena adat. Isni (54) perlahan memasuki lingkar pertunjukan. Perempuan paruh baya itu dipercaya menjadi penari Seblang Bakungan tahun ini.

Berbeda dengan Seblang Olehsari yang diperankan oleh gadis yang belum menikah, Seblang Bakungan justru dibawakan oleh perempuan yang telah memasuki masa menopause. Dalam kepercayaan masyarakat Osing, penari dipilih melalui petunjuk spiritual dan dianggap memiliki kemampuan menjadi medium penyampai pesan-pesan leluhur.

Yang membuat ritual ini semakin unik, sang penari memasuki kondisi trance atau tidak sadar saat menari. Dengan iringan musik tradisional yang mengalun ritmis, Isni bergerak mengikuti alunan gending sambil menggenggam dua bilah keris di kedua tangannya. Gerakannya tampak mengalir alami, seolah digerakkan oleh kekuatan yang melampaui kesadaran biasa.

Bagi masyarakat setempat, kondisi trance tersebut bukan sekadar atraksi, melainkan bagian penting dari ritual yang diyakini sebagai perwujudan hadirnya energi spiritual leluhur yang menjaga desa.

Pada pertengahan pertunjukan, panitia mengedarkan Kembang Dermo kepada para penonton. Dengan uang penebus sebesar Rp5.000, masyarakat dapat membawa pulang rangkaian bunga yang diyakini mengandung doa dan harapan baik.

Kembang Dermo terdiri dari bunga kenanga, kantil, dan melati yang dirangkai menjadi satu pada sebatang bambu kecil. Dalam tradisi masyarakat Osing, rangkaian bunga tersebut dipercaya sebagai simbol berkah, penolak bala, pembawa keselamatan, pelancar rezeki, hingga sarana permohonan kesembuhan.

Tidak sedikit warga yang berebut mendapatkan Kembang Dermo untuk dibawa pulang dan disimpan di rumah sebagai pengingat doa serta harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Seblang Bakungan sendiri merupakan ritual kuno yang digelar setiap tahun pada Bulan Dzulhijjah, sekitar sepekan setelah Hari Raya Idul Adha. Tradisi ini menjadi salah satu warisan budaya paling tua yang masih bertahan di Banyuwangi.

Di tengah perubahan zaman, Seblang Bakungan tidak hanya menjadi tontonan budaya, tetapi juga menjadi ruang perawatan ingatan kolektif masyarakat Osing. Ketika lampu-lampu dipadamkan dan obor-obor dinyalakan, masyarakat seakan kembali membaca pesan para leluhur bahwa kebudayaan bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan identitas yang harus terus dijaga agar tetap hidup dari generasi ke generasi. (syf)

Hardian Arif Darmawan Ketua Pengurus Cabang Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Banyuwangi, Nahkodai PERADI SAI Banyuwangi Raya, Siap Perkuat Profesionalisme dan Bantuan Hukum

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Musyawarah Cabang (Muscab) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PERADI SAI (Perhimpunan Advokat Indonesia – Suara Advokat Indonesia) Banyuwangi Raya yang digelar di Hotel Kokoon Banyuwangi, Sabtu (30/5/2026), menghasilkan kepemimpinan baru. Dalam forum organisasi yang berlangsung demokratis dan penuh semangat persaudaraan tersebut, Hardian Arif Darmawan, S.H., M.H. terpilih sebagai Ketua DPC PERADI SAI Banyuwangi Raya periode 2026–2030.

Muscab yang diikuti 43 anggota pemilik hak suara berlangsung tertib dan kondusif. Melalui proses pemilihan yang berjalan sesuai mekanisme organisasi, Hardian Arif Darmawan berhasil meraih dukungan mayoritas anggota dan unggul atas kandidat lainnya, Ir. Saiful Muttaqien, S.H., M.H.

Pelaksanaan Muscab turut mendapat pengawasan dan pendampingan langsung dari Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PERADI SAI. Hadir mewakili DPN, Ketua Bidang Organisasi DPN PERADI SAI, Dr. Jahmada Girsang, S.H., M.H., CLA., CMED., yang memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai aturan organisasi dan prinsip demokrasi yang berlaku.

Pemilihan yang mempertemukan dua tokoh advokat tersebut berlangsung dalam suasana yang sehat dan penuh kedewasaan. Perbedaan pilihan di antara anggota tidak mengurangi semangat kebersamaan yang menjadi fondasi organisasi profesi tersebut.

Usai ditetapkan sebagai ketua terpilih, Hardian Arif Darmawan menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi kepada seluruh anggota yang telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin organisasi selama empat tahun ke depan.

“Amanah ini merupakan tanggung jawab besar yang tidak mungkin dijalankan sendiri. Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota PERADI SAI Banyuwangi Raya atas kepercayaan yang diberikan. Dengan semangat kebersamaan dan dukungan semua pihak, saya optimistis organisasi ini dapat tumbuh semakin profesional, solid, dan memberi manfaat yang lebih luas bagi anggota maupun masyarakat,” ujarnya.


Pria yang juga menjabat Ketua Pengurus Cabang Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Banyuwangi itu menegaskan bahwa Muscab merupakan bagian dari proses demokrasi organisasi yang harus dihormati bersama. Karena itu, setelah proses pemilihan selesai, seluruh anggota diharapkan kembali bersatu untuk membangun organisasi secara kolektif.

“Kontestasi telah usai. Kini saatnya seluruh anggota memperkuat solidaritas dan kebersamaan demi kemajuan PERADI SAI Banyuwangi Raya. Organisasi ini akan menjadi kuat apabila seluruh elemen bergerak bersama dalam satu tujuan, yakni menjaga marwah profesi advokat dan mendukung penegakan hukum yang profesional serta berintegritas,” tegasnya.

Sebagai agenda awal kepemimpinannya, Hardian berkomitmen melakukan konsolidasi internal organisasi sekaligus memperkuat sejumlah program strategis. Fokus utama yang akan dijalankan meliputi peningkatan kompetensi advokat melalui pendidikan berkelanjutan, penguatan layanan bantuan hukum kepada masyarakat, pengembangan jejaring profesi, serta peningkatan kontribusi organisasi dalam mendukung sistem hukum yang adil dan independen.

Menurutnya, advokat tidak hanya dituntut memiliki kemampuan profesional yang baik, tetapi juga harus hadir memberikan akses keadilan bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan hukum.

Terpilihnya Hardian Arif Darmawan diharapkan menjadi energi baru bagi DPC PERADI SAI Banyuwangi Raya. Pengalaman panjangnya di bidang advokasi dan bantuan hukum dinilai menjadi modal penting dalam membawa organisasi semakin maju, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi penegakan hukum dan pelayanan hukum kepada masyarakat di Banyuwangi Raya.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger