BANYUWANGI (Warta Blambangan) Malam di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Minggu (31/5/2026), berubah menjadi panggung kebudayaan yang menyatukan tradisi, spiritualitas, dan kebersamaan warga. Ribuan masyarakat memadati area ritual untuk menyaksikan Seblang Bakungan, tradisi sakral masyarakat Osing yang terus lestari di tengah arus modernisasi.
Rangkaian ritual diawali dengan prosesi Ider Bumi, sebuah tradisi mengelilingi kampung sebagai bentuk ikhtiar memohon keselamatan dan keberkahan. Menjelang malam, seluruh lampu listrik di wilayah kelurahan dipadamkan. Kegelapan yang menyelimuti kampung justru menghadirkan suasana magis ketika cahaya obor mulai menerangi jalan-jalan desa.
Warga menggelar tikar di sepanjang tepi jalan bersama keluarga. Di hadapan mereka tersaji pecel pitik, hidangan khas masyarakat Osing yang menjadi bagian penting dalam ritual. Namun makanan tersebut belum boleh disantap sebelum prosesi Ider Bumi berakhir.
Dengan membawa obor, rombongan ritual bergerak mengelilingi seluruh penjuru kampung. Di setiap persimpangan jalan, adzan dikumandangkan sebagai simbol doa dan permohonan keselamatan. Perpaduan nilai-nilai Islam dan tradisi lokal itu menjadi gambaran harmonis kehidupan masyarakat Osing yang telah berlangsung turun-temurun.
Setelah prosesi selesai dan lampu listrik kembali dinyalakan, warga mulai menikmati sajian pecel pitik. Momen tersebut menjadi penanda berakhirnya Ider Bumi sekaligus dimulainya puncak ritual Seblang.
Sekitar pukul 20.00 WIB, perhatian masyarakat tertuju ke arena adat. Isni (54) perlahan memasuki lingkar pertunjukan. Perempuan paruh baya itu dipercaya menjadi penari Seblang Bakungan tahun ini.
Berbeda dengan Seblang Olehsari yang diperankan oleh gadis yang belum menikah, Seblang Bakungan justru dibawakan oleh perempuan yang telah memasuki masa menopause. Dalam kepercayaan masyarakat Osing, penari dipilih melalui petunjuk spiritual dan dianggap memiliki kemampuan menjadi medium penyampai pesan-pesan leluhur.
Yang membuat ritual ini semakin unik, sang penari memasuki kondisi trance atau tidak sadar saat menari. Dengan iringan musik tradisional yang mengalun ritmis, Isni bergerak mengikuti alunan gending sambil menggenggam dua bilah keris di kedua tangannya. Gerakannya tampak mengalir alami, seolah digerakkan oleh kekuatan yang melampaui kesadaran biasa.
Bagi masyarakat setempat, kondisi trance tersebut bukan sekadar atraksi, melainkan bagian penting dari ritual yang diyakini sebagai perwujudan hadirnya energi spiritual leluhur yang menjaga desa.
Pada pertengahan pertunjukan, panitia mengedarkan Kembang Dermo kepada para penonton. Dengan uang penebus sebesar Rp5.000, masyarakat dapat membawa pulang rangkaian bunga yang diyakini mengandung doa dan harapan baik.
Kembang Dermo terdiri dari bunga kenanga, kantil, dan melati yang dirangkai menjadi satu pada sebatang bambu kecil. Dalam tradisi masyarakat Osing, rangkaian bunga tersebut dipercaya sebagai simbol berkah, penolak bala, pembawa keselamatan, pelancar rezeki, hingga sarana permohonan kesembuhan.
Tidak sedikit warga yang berebut mendapatkan Kembang Dermo untuk dibawa pulang dan disimpan di rumah sebagai pengingat doa serta harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Seblang Bakungan sendiri merupakan ritual kuno yang digelar setiap tahun pada Bulan Dzulhijjah, sekitar sepekan setelah Hari Raya Idul Adha. Tradisi ini menjadi salah satu warisan budaya paling tua yang masih bertahan di Banyuwangi.
Di tengah perubahan zaman, Seblang Bakungan tidak hanya menjadi tontonan budaya, tetapi juga menjadi ruang perawatan ingatan kolektif masyarakat Osing. Ketika lampu-lampu dipadamkan dan obor-obor dinyalakan, masyarakat seakan kembali membaca pesan para leluhur bahwa kebudayaan bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan identitas yang harus terus dijaga agar tetap hidup dari generasi ke generasi. (syf)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jaga kesopanan dalam komentar