Pages

Membaca Ulang Iman, Akhlak, dan Manusia Modern

 

Membaca Ulang Iman, Akhlak, dan Manusia Modern

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang menempatkan manusia di bawah tekanan target, jabatan, dan rutinitas tanpa henti, iman kerap terdesak ke sudut sunyi kehidupan. Buku Fondasi Iman & Akhlak: Refleksi Mendalam 13 Hadis Arbain Imam Nawawi hadir sebagai pengingat bahwa nilai-nilai Madinah belum usang oleh zaman, justru semakin dibutuhkan untuk menuntun manusia profesional agar tetap berakar pada makna. Melalui bahasa reflektif dan pendekatan yang membumi, buku ini menjembatani pesan hadis dengan realitas kerja, pelayanan publik, dan pencarian ketenangan batin manusia modern.

Ada masa ketika iman tidak lagi dipertanyakan karena ia telah menjadi napas; mengalir tanpa disadari, bekerja tanpa diminta, dan menuntun tanpa perlu diumumkan. Namun zaman bergerak, dan manusia modern, yang hidup di bawah lampu neon kantor, di balik layar komputer, di tengah tumpukan berkas dan target kinerja, kerap kehilangan keheningan tempat iman biasa tumbuh. Di sinilah buku ini menemukan relevansinya: ia hadir bukan sekadar sebagai tafsir teks, melainkan sebagai jembatan ruhani antara Madinah abad ketujuh dan ruang kerja abad dua puluh satu.

Buku ini tidak berdiri di menara gading keilmuan yang tinggi dan sunyi, tetapi justru turun ke lorong-lorong kehidupan praktis, tempat manusia bekerja, berkhidmat, tergoda, lelah, dan sering kali lupa pada dirinya sendiri. Di tangan penulis, hadis tidak hanya dibaca, tetapi diajak berbincang; tidak hanya dikutip, tetapi dihidupkan kembali dalam denyut keseharian aparatur negara, pelayan publik, dan manusia profesional yang sering terjebak dalam rutinitas tanpa makna. Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada cara penulis memosisikan hadis. Ia tidak memperlakukan hadis sebagai teks sakral yang dipajang di etalase kesalehan, melainkan sebagai lentera, penerang jalan, yang harus dibawa masuk ke ruang gelap kehidupan modern. Hadis-hadis Arbain Nawawi, yang sejak berabad-abad lalu menjadi fondasi ajaran Islam, dihadirkan kembali dengan bahasa yang bersahabat, seolah Rasulullah SAW sedang berbisik pelan kepada pembaca: “Aku tahu zamanmu berat, tetapi jalan ini tetap sama.”

Dalam dunia kerja modern, iman sering direduksi menjadi urusan privat, sementara akhlak dipersempit menjadi etika profesional yang kering dari ruh. Buku ini menolak pemisahan itu. Iman dan akhlak dipulihkan sebagai satu kesatuan, sebagai energi batin yang semestinya menggerakkan profesionalisme, bukan sekadar melapisinya. Integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan pelayanan publik tidak dipahami hanya sebagai tuntutan sistem, tetapi sebagai buah dari kesadaran spiritual yang hidup. Penulis dengan cermat menunjukkan bahwa nilai-nilai Madinah, yang lahir di tengah kesederhanaan, kejujuran, dan pengorbanan, masih relevan untuk membangun birokrasi yang bersih dan berkeadaban. Dalam konteks ini, buku ini bukan hanya bacaan religius, tetapi juga kritik halus terhadap kehidupan profesional yang sering kehilangan dimensi etik dan spiritualnya.

Keunggulan lain yang patut dicatat adalah gaya bahasa buku ini. Lahir dari pengajian Ramadan, bahasa yang digunakan cenderung ringan, lugas, dan komunikatif. Tidak ada upaya untuk memamerkan keilmuan secara berlebihan, tidak pula ada nada menggurui yang menjauhkan pembaca. Sebaliknya, pembaca diajak berjalan bersama, merenung perlahan, dan menemukan makna dengan kesadaran sendiri. Bahasa seperti ini penting di tengah kejenuhan manusia modern terhadap khotbah moral yang keras dan hitam-putih. Buku ini memahami bahwa nasihat yang baik bukanlah yang berteriak, melainkan yang mengetuk pelan pintu hati. Dalam banyak bagian, penulis memilih metafora, kisah, dan refleksi personal untuk menjelaskan pesan hadis, sehingga pembaca tidak merasa sedang “diceramahi”, melainkan diajak bercermin. Namun, di sisi lain, gaya ini pula yang menjadi titik rawan. Karena berasal dari tuturan lisan, alur penjelasan terkadang terasa mengalir bebas, lebih menyerupai nasihat spiritual daripada analisis tekstual yang ketat. Bagi pembaca akademik yang mengharapkan struktur argumentasi yang sistematis dan mendalam, hal ini bisa terasa kurang memuaskan. Akan tetapi, justru di situlah kekuatan sastrawi buku ini: ia memilih kehangatan daripada ketepatan ilmiah yang dingin. Salah satu aspek menarik dari buku ini adalah pendekatan interdisipliner yang berani. Penulis tidak ragu mengaitkan ajaran hadis dengan teori-teori modern, seperti psikologi humanistik Abraham Maslow. Perbandingan antara konsep ikhlas dan hierarki kebutuhan manusia membuka ruang dialog yang segar antara tradisi Islam dan ilmu pengetahuan modern.

Dalam perspektif ini, ikhlas tidak dipahami sebagai penyangkalan terhadap kebutuhan manusia, tetapi sebagai puncak kesadaran setelah kebutuhan-kebutuhan dasar terpenuhi. Ikhlas menjadi ruang di mana manusia bekerja bukan lagi semata demi pengakuan, jabatan, atau materi, melainkan demi nilai dan makna. Di tengah budaya kerja yang kompetitif dan sering menekan, pendekatan ini memberi alternatif cara memandang kesuksesan: bukan sekadar soal capaian, tetapi tentang ketenangan batin. Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang terasing dari perkembangan ilmu pengetahuan, melainkan tradisi hidup yang mampu berdialog dengan zaman. Hadis-hadis Nabi tidak diposisikan sebagai antitesis modernitas, tetapi sebagai penyeimbangnya—memberi arah di tengah kemajuan yang sering kehilangan tujuan.

Buku ini sesungguhnya bukan hanya tentang 13 hadis, melainkan tentang perjalanan ruhani manusia modern. Setiap hadis diolah menjadi cermin batin, tempat pembaca diajak bertanya: di mana aku berdiri, dan ke mana aku melangkah? Dalam konteks ini, membaca buku ini menyerupai sebuah riyadhah—latihan batin—yang halus dan tidak memaksa. Penulis berulang kali mengingatkan bahwa kehidupan profesional yang sibuk sering kali membuat manusia lupa pada dimensi terdalam dirinya. Kesalehan direduksi menjadi ritual formal, sementara akhlak dikalahkan oleh target dan kepentingan. Buku ini mencoba memulihkan keseimbangan itu dengan mengembalikan hadis ke fungsinya yang paling dasar: sebagai penuntun hidup.

Namun, karena fokus refleksi banyak diarahkan pada konteks aparatur sipil negara, buku ini memang terasa sangat spesifik. Contoh-contoh yang dihadirkan sering berkutat pada dunia birokrasi, pelayanan publik, dan tanggung jawab jabatan. Bagi pembaca di luar lingkaran tersebut—misalnya pelaku usaha kreatif, petani, atau pekerja informal—sebagian refleksi mungkin terasa kurang dekat. Di sinilah keterbatasan segmentasi buku ini tampak. Ia sangat kuat berbicara kepada ASN, tetapi belum sepenuhnya merangkul spektrum pembaca yang lebih luas. Meski demikian, nilai-nilai universal yang diusung—kejujuran, amanah, keikhlasan—tetap dapat ditransformasikan ke konteks kehidupan apa pun, asalkan pembaca bersedia melakukan penyesuaian makna.

Salah satu bagian paling menggetarkan dari buku ini adalah ketika penulis menghadirkan profil para perawi hadis. Umar bin Khattab, Hasan bin Ali, dan sahabat-sahabat lainnya tidak digambarkan sebagai tokoh suci yang jauh dari realitas manusia, tetapi sebagai pribadi yang berjuang, mengambil keputusan sulit, dan memikul tanggung jawab besar. Narasi tentang keberanian Umar dan kebijaksanaan Hasan menjadi jembatan emosional yang kuat antara pembaca dan teks hadis. Pembaca tidak hanya diajak memahami ajaran, tetapi juga meneladani manusia-manusia yang hidup dengan ajaran itu. Dalam dunia yang krisis figur teladan, kehadiran kisah-kisah ini menjadi oase yang menyejukkan. Namun, sebagaimana refleksi lainnya, bagian ini lebih menekankan inspirasi ketimbang kajian historis mendalam. Ia berfungsi sebagai penggerak hati, bukan sebagai analisis akademik. Dan mungkin memang itulah tujuan utama buku ini: membangunkan kesadaran, bukan memenangkan perdebatan ilmiah.

Secara jujur, buku ini tidak mengklaim sebagai tafsir lengkap atas Arbain Nawawi. Dengan hanya membahas 13 hadis, cakupannya jelas terbatas. Bagi pembaca yang mengharapkan eksplorasi menyeluruh atas 42 hadis, buku ini bisa terasa seperti pintu yang belum sepenuhnya terbuka. Namun, keterbatasan ini juga dapat dibaca sebagai pilihan metodologis. Penulis memilih kedalaman refleksi atas sebagian hadis, ketimbang keluasan pembahasan yang berisiko dangkal. Dalam dunia yang serba cepat, pendekatan ini justru terasa relevan: lebih baik merenungi sedikit dengan sungguh-sungguh daripada membaca banyak tanpa bekas, Fondasi Iman & Akhlak bukanlah buku yang ingin mengesankan pembaca dengan kecanggihan teori atau keluasan rujukan. Ia lebih menyerupai seorang sahabat perjalanan, yang berjalan di samping kita, mengingatkan ketika kita lelah, dan menunjuk arah ketika kita mulai tersesat.

Buku ini layak dibaca bukan hanya oleh ASN, tetapi oleh siapa saja yang ingin menjaga kejernihan hati di tengah hiruk-pikuk dunia modern. Ia mengajarkan bahwa iman bukan pelarian dari kehidupan, melainkan fondasi untuk menghidupinya dengan lebih bermakna. Dan di tengah zaman yang sering memisahkan profesionalisme dari spiritualitas, buku ini berani mengatakan: keduanya tidak hanya bisa bersatu, tetapi memang seharusnya demikian. Jika iman adalah akar dan akhlak adalah buah, maka buku ini berupaya menyiram keduanya dengan bahasa yang sederhana, refleksi yang jujur, dan niat yang tulus. Sebuah usaha kecil, mungkin, tetapi di zaman yang kering makna, setiap tetes kesadaran adalah anugerah.

Penulis adalah Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

Konfercab XIV NU Banyuwangi Berjalan Hingga Subuh, KH Fachrudin Manan Resmi Jadi Rais Syuriyah

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Konferensi Cabang (Konfercab) XVI Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Banyuwangi masa khidmat 2025–2030 yang digelar di Universitas Kiai Haji Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Kampus Blokagung, Kecamatan Tegalsari, berlangsung sukses dan khidmat. Konfercab yang dilaksanakan selama dua hari, Rabu–Kamis, 7–8 Januari 2026, ini menetapkan KH Fachrudin Manan, pengasuh Pondok Pesantren Minhajut Thullab Parasgempal, Desa Sumberas, Kecamatan Muncar, sebagai Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi.

Konfercab yang dimulai Rabu (7/1/2026) pukul 13.00 WIB tersebut berakhir menjelang Salat Subuh, Kamis (8/1/2026). Proses pemilihan Rais Syuriyah sempat diwarnai penghitungan suara ulang sebanyak beberapa kali akibat perbedaan hasil pada penghitungan awal. Setelah dilakukan penghitungan ulang secara cermat dan transparan, forum akhirnya mencapai kesepakatan. 


Selain pemilihan Rais Syuriyah, Konfercab XVI NU Banyuwangi juga membahas dan menetapkan tata tertib pemilihan Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi. Tata tertib tersebut disepakati forum sekitar pukul 18.00 WIB setelah melalui pembahasan yang cukup dinamis.

Ketua Panitia Konfercab XVI NU Banyuwangi, Moh. Karyono, menjelaskan bahwa terdapat dua persyaratan utama bagi bakal calon Ketua Tanfidziyah atau Ketua Harian PCNU Banyuwangi. “Syarat pertama adalah wajib memiliki sertifikat Pendidikan Menengah Kepemimpinan (PMK) NU. Hal ini sesuai dengan AD/ART NU karena Jawa Timur masuk klaster A,” ujarnya.

Selain syarat PMK, bakal calon juga harus mengantongi dukungan minimal 30 persen dari total pemilih. Dengan jumlah 25 Majelis Wakil Cabang (MWC) NU se-Kabupaten Banyuwangi, maka bakal calon harus mendapatkan sedikitnya 9 dukungan MWC untuk dapat ditetapkan sebagai calon.

Dalam dinamika penjaringan bakal calon Ketua Tanfidziyah, sempat mengemuka sejumlah nama tokoh NU, di antaranya Haji Arif Rivai dan Achmad Turmudi, Kepala Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu. Namun, mengerucutnya nama-nama calon sepenuhnya mengikuti ketentuan tata tertib yang telah disepakati bersama.

Konfercab XVI NU Banyuwangi diikuti oleh 25 MWC NU yang memiliki hak suara dan diharapkan mampu menghasilkan kepengurusan PCNU Banyuwangi yang solid, amanah, serta mampu memperkuat peran NU dalam bidang keagamaan, sosial, dan kebangsaan di Kabupaten Banyuwangi untuk lima tahun ke depan.

EL Grup Berbagi Kebahagiaan Bersama Lansia di Muncar

 


BANYUWANGIEL Grup menggelar kegiatan sosial dengan mengunjungi Panti Jompo Sahabat Lansia Blambangan di Muncar, Rabu (7/1/2026). Kunjungan ini menjadi bagian dari tasyakuran 13 tahun berdirinya El Hotel Banyuwangi Residence serta Banyuwangi Park yang turut mendukung sektor pariwisata Banyuwangi.

Sebanyak 30 lansia tampak bahagia menyambut kehadiran rombongan EL Grup yang datang bersama PHRI Banyuwangi dan mitra kesehatan IHC RS Bhakti Husada Krikilan. Sekitar 45 karyawan EL Grup turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Direktur PT Mitra Buana Niaga (EL Grup), Vera Safira, mengatakan kegiatan ini merupakan wujud rasa syukur perusahaan sekaligus komitmen untuk berbagi melalui program CSR. “Tahun ini kami berbagi kebahagiaan bersama para lansia sebagai bentuk syukur atas perjalanan usaha EL Grup,” ujarnya.

General Manager EL Hotel, Wilmar Des Rizal, menyampaikan kunjungan tersebut dilakukan dengan penuh kehangatan. Ia menyapa para lansia layaknya keluarga sendiri. Pihaknya juga mengapresiasi PHRI Banyuwangi yang telah mendampingi kegiatan serta IHC RS Bhakti Husada Krikilan yang memberikan pemeriksaan kesehatan gratis bagi para lansia.

Perwakilan PHRI Banyuwangi, Hafrida, mengucapkan selamat atas ulang tahun ke-13 EL Grup. Ia berharap kegiatan sosial tersebut dapat menginspirasi anggota PHRI lainnya. “Kami mendoakan EL Grup semakin maju, usahanya lancar, dan terus berkontribusi untuk Banyuwangi,” ucapnya.

Dalam kegiatan tersebut, EL Grup menyalurkan bantuan berupa dana, sembako, pampers, dan selimut. Selain itu, para lansia juga diajak mengikuti berbagai aktivitas sederhana seperti permainan, bernyanyi lagu-lagu nostalgia, serta membuat buket bunga untuk menciptakan suasana gembira.


Ketua Yayasan Sahabat Lansia Blambangan, Indah Purwaningrum, menjelaskan bahwa yayasan saat ini mengasuh 30 lansia serta 16 anak yatim. Yayasan berdiri sejak tiga tahun lalu dan kini telah memiliki lahan sendiri di Muncar, meski pembangunan panti masih dilakukan secara bertahap.

Ia menambahkan, karena panti masih terakreditasi C, pihaknya belum menerima bantuan permakanan dari Dinas Sosial. Seluruh kebutuhan operasional selama ini berasal dari bantuan swasta dan para donatur. “Kami hanya menjadi perantara dari para dermawan yang peduli,” tutur Indah mengakhiri pembicaraan.(Aguk/AM/AW)



Kopi 11 Banyuwangi Jadi Daya Tarik Stan MTsN 11 pada Bazar UMKM HAB ke-80 Kemenag

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Semarak peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia di Kabupaten Banyuwangi turut diwarnai oleh kehadiran bazar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang digelar pada Minggu, 4 Januari 2026. Salah satu peserta yang menarik perhatian pengunjung adalah stan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 11 Banyuwangi.

Sebagai Madrasah Tsanawiyah Negeri pertama yang berdiri di wilayah Kalibaru, MTsN 11 Banyuwangi menghadirkan produk unggulan bertajuk “Kopi 11 Banyuwangi”. Produk ini merupakan hasil pengolahan kopi lokal yang dikembangkan melalui pembinaan madrasah sebagai bagian dari penguatan jiwa kewirausahaan.

Beragam varian kopi ditampilkan, di antaranya kopi robusta Kalibaru, kopi luwak robusta, serta kopi lanang. Ketiga jenis kopi tersebut dikenal memiliki karakter rasa yang khas, mencerminkan kualitas kopi Kalibaru yang telah lama menjadi salah satu ikon perkebunan di Banyuwangi.


Kepala MTsN 11 Banyuwangi, Wahyudi Eko Santoso, menjelaskan bahwa partisipasi dalam bazar UMKM ini tidak sekadar untuk memeriahkan HAB ke-80, tetapi juga sebagai media promosi potensi lokal sekaligus sarana pembelajaran kewirausahaan bagi warga madrasah.

“Melalui Kopi 11 Banyuwangi, kami ingin menumbuhkan semangat kreatif dan mandiri, serta mengenalkan produk lokal kepada masyarakat yang lebih luas,” ungkapnya.

Antusiasme pengunjung terlihat dari ramainya stan MTsN 11 Banyuwangi yang disinggahi peserta bazar. Banyak pengunjung tertarik untuk mengenal lebih dekat sekaligus mencicipi kopi khas Kalibaru yang ditawarkan.

Kegiatan bazar UMKM ini menjadi salah satu wujud nyata sinergi Kementerian Agama dengan satuan pendidikan dalam mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat, sejalan dengan semangat HAB ke-80 Kemenag RI.

Guru MTsN 8 Banyuwangi Menyuguhkan Gandrung Lanang di Panggung Kerukunan HAB ke-80 Kemenag RI

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Minggu, 4 Januari 2025, berdenyut dalam irama langkah dan senyum. Ribuan kaki melangkah ringan dalam Gebyar Jalan Sehat dan Pameran UMKM, rangkaian Bazar UMKM Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia. Di antara hiruk-pikuk kebersamaan itu, sebuah tarian bangkit dari ingatan sejarah, menari bukan sekadar untuk ditonton, tetapi untuk diingat.

Adalah Gilang Ilham, guru seni budaya MTsN 8 Banyuwangi di Kecamatan Genteng, yang menghadirkan Tari Gandrung Lanang ke hadapan publik. Geraknya luwes, tatapannya tajam namun lembut, seolah mengajak penonton menelusuri lorong waktu, kembali ke masa ketika Gandrung pertama kali ditarikan oleh lelaki—sebelum zaman mengubah wajahnya.

Di tengah tema besar kegiatan, “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, Gandrung Lanang tampil sebagai simbol: bahwa kerukunan tidak hanya dirawat lewat kata dan seremonial, tetapi juga melalui ingatan budaya yang dijaga dengan penuh hormat. ASN Kementerian Agama, pelaku UMKM, insan madrasah, dan masyarakat umum larut dalam pesona tarian yang bukan sekadar hiburan, melainkan pelajaran sunyi tentang asal-usul. 


Gilang Ilham tidak sekadar menari; ia berkisah dengan tubuhnya. Setiap gerak adalah pengingat bahwa Gandrung Lanang merupakan akar dari pohon kebudayaan Banyuwangi. “Ini bukan nostalgia,” seolah demikian pesan yang disampaikan, “melainkan tanggung jawab untuk mengenalkan sejarah kepada generasi yang tumbuh di tengah arus modernitas.”

Kepala MTsN 8 Banyuwangi pun menegaskan bahwa madrasah bukan hanya ruang belajar angka dan huruf, melainkan juga taman tempat nilai dan jati diri ditumbuhkan. Pelestarian seni budaya lokal, menurutnya, adalah bagian dari pendidikan karakter—agar peserta didik mengenal siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan ke mana ia melangkah.

Dengan penampilan Gandrung Lanang itu, peringatan HAB ke-80 Kementerian Agama RI menjelma lebih dari sekadar perayaan tahunan. Ia menjadi ruang temu antara agama dan budaya, antara nilai spiritual dan kearifan lokal, antara denyut ekonomi umat dan ingatan sejarah. Di panggung sederhana itu, Banyuwangi kembali mengajarkan satu hal penting: bahwa kemajuan sejati selalu berpijak pada akar yang dijaga.

Jalan Sehat Kerukunan sebagai Instrumen Penguatan Kohesi Sosial pada Peringatan HAB ke-80 Kementerian Agama di Banyuwangi



BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan kegiatan Jalan Sehat Kerukunan dalam rangka memperingati Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, pada Minggu, 4 Januari 2026. Kegiatan yang dipusatkan di GOR Tawang Alun Banyuwangi ini merupakan bagian dari strategi institusional Kementerian Agama dalam memperkuat kohesi sosial dan internalisasi nilai-nilai kerukunan di tengah masyarakat multikultural.


Kegiatan tersebut diikuti oleh lebih dari 5.000 peserta yang berasal dari berbagai unsur, meliputi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi dan Kantor Urusan Agama (KUA) se-kabupaten, peserta didik madrasah di wilayah perkotaan Banyuwangi, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan lintas agama. Tingginya partisipasi lintas sektor ini mencerminkan adanya kesadaran kolektif terhadap pentingnya penguatan harmoni sosial sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa jalan sehat kerukunan berfungsi sebagai medium edukatif dalam menanamkan nilai toleransi, kebersamaan, dan persatuan. Menurutnya, kerukunan umat beragama merupakan modal sosial strategis yang berkontribusi signifikan terhadap stabilitas sosial dan keberlanjutan pembangunan nasional.

Dalam konteks peringatan HAB ke-80, kegiatan ini dimaknai sebagai momentum reflektif untuk mempererat jejaring sosial dan memperkuat solidaritas antarkelompok masyarakat. Kerukunan, lanjutnya, tidak cukup dipahami secara normatif, melainkan perlu diaktualisasikan melalui aktivitas kolektif yang melibatkan partisipasi aktif berbagai elemen masyarakat.

Pemilihan rute kegiatan di sekitar kawasan GOR Tawang Alun didasarkan pada pertimbangan teknis dan fungsional, khususnya terkait aspek keamanan, kenyamanan peserta, serta efektivitas pengelolaan arus lalu lintas. Penataan rute ini bertujuan memastikan kegiatan berlangsung secara tertib, aman, dan tidak mengganggu aktivitas publik di pusat Kota Banyuwangi. 

Secara konseptual, jalan sehat kerukunan ini tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas promotif kesehatan, tetapi juga sebagai representasi empiris sinergi lintas iman, lintas generasi, dan lintas kelembagaan. Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama menegaskan perannya sebagai institusi strategis dalam membangun dan memelihara kohesi sosial masyarakat dalam bingkai persatuan dan kerukunan nasional.

Bedah Buku Hadis Warnai Peringatan HAB ke-80 Kemenag di Banyuwangi

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia di Kabupaten Banyuwangi tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga dengan penguatan tradisi literasi dan diskursus keagamaan. Salah satunya melalui kegiatan bedah buku yang diselenggarakan Panitia HAB Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pada Sabtu, 3 Januari 2026, di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Banyuwangi, Kecamatan Genteng.

Buku yang dibahas berjudul Fondasi Iman dan Akhlak: Refleksi Mendalam 13 Hadits Arbain Imam Nawawi, karya Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur pemangku kepentingan di bidang keagamaan dan pendidikan, mulai dari Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), kepala madrasah, penghulu, penyuluh agama Islam, hingga pegiat literasi dan komunitas budaya di Banyuwangi. 


Ketua Dewan Kesenian Blambangan, Hasan Basri, yang hadir sebagai narasumber pembanding, menilai bahwa buku tersebut menawarkan pendekatan kontekstual dalam memahami hadis. Menurutnya, penulis berupaya mengaitkan pesan-pesan normatif hadis dengan realitas sosial dan budaya lokal, sehingga ajaran agama tidak berhenti pada tataran teks, tetapi dapat dipahami sebagai pedoman etis dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi, Samsudin Adlawi. Ia menekankan bahwa forum bedah buku merupakan ruang penting dalam membangun budaya literasi yang kritis dan produktif. Diskusi, kritik, dan pertukaran gagasan dalam forum semacam ini, menurutnya, menjadi bagian dari proses pengayaan pemahaman dan pendewasaan karya tulis keagamaan.

Dari perspektif sastra, Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Banyuwangi, Nurul Ludfia Rohmah, menyoroti kekuatan naratif dalam buku tersebut. Ia menilai bahwa penyajian hadis melalui narasi yang runtut dan komunikatif mampu menjembatani teks klasik dengan konteks masyarakat modern yang terus berkembang.

Sesi diskusi melibatkan berbagai pegiat literasi, di antaranya Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi, Aekanu Haryono dari Komunitas Kiling Osing Banyuwangi, serta Rahmatullah Jhon. Para peserta menyampaikan apresiasi sekaligus catatan kritis terkait perbedaan penafsiran terhadap beberapa hadis yang dikaji. Perbedaan tersebut dinilai masih berada dalam wilayah khilafiyah dan tidak menyentuh aspek prinsipil ajaran ibadah.

Menanggapi berbagai pandangan yang berkembang, Dr. Chaironi Hidayat menyampaikan bahwa perbedaan interpretasi merupakan bagian dari dinamika keilmuan Islam. Ia menegaskan pentingnya sikap terbuka dan dialogis dalam memahami ajaran agama, agar nilai-nilai keimanan dan akhlak dapat diaktualisasikan secara moderat dan kontekstual dalam kehidupan bermasyarakat.

Kegiatan bedah buku ini dilaksanakan setelah upacara peringatan Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia di MAN 2 Banyuwangi. Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan HAB ke-80 di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi berlangsung tertib dan mencerminkan komitmen lembaga dalam penguatan literasi keagamaan yang berkelanjutan.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger