Pages

Ketika Bumi Menegur dengan Suara Langit

Ketika Bumi Menegur dengan Suara Langit 

Oleh : Syafaat

 

Ada saat ketika angka tak lagi sekadar angka. Ketika “961 jiwa meninggal” (BNPB,08/12/2025) berubah menjadi wajah-wajah yang tak sempat mengucap salam terakhir; menjadi cahaya mata anak yang menunggu ibunya pulang; menjadi tangan yang terjulur dari lumpur, seolah meminta disentuhkan kembali kepada Rahman dan Rahim. Angka-angka itu seperti ayat yang patah di tengah tilawah, meninggalkan ruang kosong di dada, membuat langit serasa turun lebih dekat, seperti ingin menuntun manusia membaca ulang makna musibah.

Dan ketika “hampir satu juta orang mengungsi” disebutkan, gema langkah mereka mengingatkan pada kisah-kisah tua, umat yang keluar dari Mesir bersama Musa, umat yang berlari menjauhi banjir besar Nuh. Bukan karena ingin, tetapi karena bumi yang terluka menghembuskan peringatan. Mereka meninggalkan rumah dengan dada bergetar, seperti orang yang tersengat takdir yang belum sempat dipahami. Banjir bandang, longsor yang memecah bukit, sungai yang berubah warna, semua itu bukan sekadar kejadian alam. Mereka adalah khutbah panjang yang dibacakan bumi kepada manusia. Setiap gemuruh air seperti kalimat tanpa huruf yang berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu, sebelum luka ini menjelma murka yang lebih besar.”

Dalam arus kegelisahan itu, ekoteologi yang digelorakan di bawah kepemimpinan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, hadir bukan sebagai program birokrasi yang disusun dalam ruang-ruang rapat. Ia lebih menyerupai seruan halus dari kedalaman iman: ajakan agar manusia kembali memandang bumi sebagai amanah Tuhan, bukan sekadar lahan yang bisa ditakar-takar untuk dieksploitasi. Di tangan Kementerian Agama, ekoteologi menjelma jembatan yang menghubungkan langit dan tanah, mengikat ayat-ayat suci dengan akar yang tumbuh, menyatukan sujud dengan rimbunnya pepohonan, mengaitkan doa-doa umat dengan aliran sungai yang menghidupi.

Di bawah gerakan ini, setiap tradisi agama (Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan lainnya) dipanggil untuk kembali membaca kitab-kitab penciptaan. Menanam pohon bukan lagi kegiatan seremonial, tetapi dzikir yang menancap ke bumi. Mengurangi plastik bukan lagi kampanye kosong, tetapi bentuk taubat ekologis. Pendidikan berbasis iman tidak hanya melahirkan kecerdasan intelektual, tetapi kejernihan batin untuk menjaga rumah bersama tempat semua makhluk menundukkan kepala kepada Yang Maha Mencipta.

Sebab bumi, yang dulu dipanggil Ibu, kini terdengar merintih seperti tubuh renta yang dipaksa menyimpan dosa-dosa manusia. Pepohonan yang mestinya menjadi pakaian bumi telah dirampas oleh tangan-tangan yang lupa berdoa. Tanpa hutan, hujan yang turun sebagai rahmat berubah menjadi hantaman kasar, seperti air wudhu yang tumpah dari hati yang kehilangan kejernihan. Sejarah panjang Nusantara adalah sejarah manusia menggali, menebang, menjual, meratakan, sebuah perjalanan yang terkadang kehilangan adab, membuat manusia berdiri sebagai penguasa, bukan penjaga. Padahal ayat pertama tentang kehadiran manusia di muka bumi tidak pernah menyebutkan kekuasaan. Yang disebutkan hanyalah amanah:


Dalam tasawuf, alam disebut ayat kauniyah, ayat-ayat Tuhan yang tidak tercetak dalam mushaf, tetapi tumbuh sebagai daun yang bertasbih, mengalir sebagai sungai yang berdzikir, dan berguguran sebagai tanda waktunya manusia kembali mengingat. Maka ketika satu pohon hilang, sesungguhnya kita telah merobek satu halaman dari kitab yang belum selesai kita pahami. Ulama-ulama dahulu percaya bahwa kerusakan alam adalah tanda retaknya iman. Menebang pohon tanpa alasan dianggap melukai makhluk yang tengah bertasbih. Daun adalah dzikir, hujan adalah rahmat, angin adalah salam. Dan ketika rahmat berubah menjadi banjir, mungkin dzikir alam telah tergantikan oleh suara mesin dan keserakahan manusia.

Nenek moyang Nusantara pun telah lama memahami amanah ini. Gunung adalah kakek, tanah adalah ibu pertiwi, sungai adalah nadi kehidupan. Setiap penebangan pepohonan adalah dialog, bukan keputusan sepihak. Mereka percaya: alam yang marah tidak menghukum, tetapi mengingatkan. Dan kini pengingat itu datang dalam bentuk bencana—datang pelan namun pasti, seperti suara ibu yang dipaksa meninggikan nada karena anaknya terlalu keras kepala. Namun manusia tetap gemar menuding: menuding penebang liar, menuding pemilik sawit, menuding pemerintah. Padahal bayangan di cermin adalah terdakwa pertama. Kita menikmati hasil dari tanah yang disakiti, namun marah ketika bumi menagih haknya. Kita menikmati cahaya listrik, tetapi lupa harus ada bukit yang digunduli untuk mengalirkannya. Bencana adalah tadzkirah, peringatan dari langit yang tidak memihak. Ia tidak mengenal pejabat atau rakyat, kaya atau miskin. Ia bekerja dengan hukum sebab-akibat yang ditiupkan Tuhan pada awal penciptaan. Dalam suara angin yang berubah menjadi badai, dalam tanah yang retak tanpa salam, di situlah firman yang tak terucap itu turun: “Kembalilah.”

Tidak ada agama yang membenarkan pengrusakan. Tidak ada kitab suci yang memerintahkan pembakaran hutan. Tidak ada ayat yang memuji bala yang lahir dari kerakusan. Yang ada hanyalah manusia yang menafsirkan amanah sebagai lisensi untuk merampas. Sebelum pohon terakhir tumbang dan suaranya tinggal legenda; sebelum sungai terakhir berubah menjadi air mata; sebelum gunung terakhir kehilangan penopang dan runtuh seperti doa yang kehilangan makna, maukah manusia kembali kepada adab sebagai khalifah?

Kini adalah saatnya berhenti sejenak dari hiruk-pikuk perkembangan ekonomi,  mengendurkan langkah sebelum bumi yang letih ini benar-benar kehilangan suaranya. Sebab setiap yang berulah, setiap yang merusak, setiap tangan yang menodai alam dengan kesengajaan, kelak harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Keadilan Tuhan tidak pernah buta; ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengetuk hati atau mengguncang batas kesadaran. Bumi ini tidak diciptakan untuk mereka yang merasa berkuasa hari ini, tetapi untuk anak-anak yang belum lahir, untuk generasi yang masih berupa doa dalam rahim waktu.

Menunduklah, seperti para sufi yang kembali kepada tanah untuk memahami asal mula dirinya. Sentuhlah bumi dan rasakan getir yang disimpannya, dengarkan bisikan pepohonan yang selama ini kalah oleh deru mesin dan ambisi manusia. Berdirilah di tepi sungai—yang jernih maupun yang telah keruh oleh kesalahan kita sendiri—dan biarkan hati bertanya dengan lirih: “Apakah aku penjaga bumi-Mu, atau perusak yang menodai amanah-Mu?”

Pertanyaan itu adalah pintu taubat, dan setiap pintu yang diketuk dengan kejujuran akan dibukakan oleh-Nya. Sebab bumi, sebagaimana hati manusia, selalu menunggu kesediaan untuk diperbaiki. Pertanyaan itu adalah doa, dan doa adalah cermin. Jawabannya tidak perlu lantang; cukup jujur. Sebab penjaga dan perusak dibedakan bukan oleh seragam, bukan oleh jabatan, tetapi oleh sikap batin: penjaga melihat bumi sebagai titipan, perusak melihatnya sebagai barang dagangan.Jika manusia kembali kepada nurani dan kembali kepada ayat-ayat Tuhan—baik yang tertulis di mushaf maupun yang tum buh sebagai pepohonan—bumi akan kembali membuka tangannya. Hujan turun sebagai berkah, sungai kembali bening, hutan kembali bertasbih, dan angka-angka duka tidak lagi jatuh dari layar berita. Hanya syukur yang tertinggal; syukur karena manusia akhirnya belajar untuk tidak melukai tanah dan tidak menyakiti langit.

Penulis adalah ASN Kementerian Agama / Ketua Letera Sastra Banyuwangi


SMPQ Akmalul Muhsinin Banyuwangi Bina 7 Karakter Siswa Berakhlak Santri

 



Yayasan Akmalul Muhsinin yang sudah satu dasawarsa mendidik dan mencetak santri yang bisa baca kitab kuning metode amsilati dan hafidz 30 juz, tahun ajaran baru 2026-2027 menorehkan sejarah dengan mendirikan SMP Qur’an Akmalul Muhsinin dengan memadukan kurikulum nasional dan berbasis pondok pesantren.

Selama ini santri tingkat SMA menempuh pendidikan formal di MA Baiturrahman, MAN, SMKN atau SMK swasta. Sedang jenjang SMP ikut sekolah terbuka filial SMPN 2 Kalipuro. Dan santri putra-putrinya banyak dari Kalipuro, Muncar, Srono, Kabat,Sempu hingga Kalibaru. Kalau luar kota ada dari Bali, Pasuruan dan Madura.
“Kami juga bina yatim piatu LKSA Graha Anak Sholeh yang gratis semua kebutuhan pendidikan maupun urusan dapur! ” tutur pengasuh KH Imam Hasan Thaha alumni Ponpes Al Amien Prenduan Madura yang pernah pimpin LAKZIZ Baiturrahman dan Kini Salah Satu Ketua Yayasan Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi ini.

Ditemui media ini saat pimpin rutinan Majelis sholawatan dan dzikiir di Ponpes yang berdomisili di Jl Kopral Sanusi 32 Karangbaru Kelurahan Panderejo ini, SMPQ dengan metode I’Rab yang mempelajari Al-Qur’an dengan makna dan tehnis pedomannya, menurut KH Imam Hasan Thoha ini merupakan satu-satunya di Banyuwangi. “Hingga santri tak hanya hafal tapi juga paham dan bisa mengajarkan ke adik kelas maupun sudah siap khotbah! ” ujar khotib banyak masjid ini seraya mohon doa restu semangat syair tombo ati wali soal perjuangan mendirikan SMPQ Akmalul Muhsinin dengan harapan 2 rombel putra dan putri. Untuk kelas dan asrama putra disiapkan bangunan di Jalan Mahakam Mojoroto Penataban Giri.

Kepala SMPQ Akmalul Muhsinin, H. Wawuh Sondi Purnomo, ST, Gr ungkapkan lembaganya mengikuti kurikulum Kemen dikdasmen yang dipadukan Diniyah sesuai harapan orangtua era kini.”Selain menerapkan rutin olahraga Anak Indonesia Sehat dan 7 kebiasaan Anak Indonesia Hebat, kami juga punya 7 karakter yang istiqomah seperti rutin berjamaah sholat fardhu, istighotsah, dan mendoakan orangtua dan leluhur sesuai sunah nabi. Membaca Al-qur’an pasti karena ada program hafidz dan target khatam kitab kuning dan kitab dasar lainnya! ” tegas Wakil Manajemen Mutu SMKN 1 Kalipuro yang juga Ketua ranting NU dan Penggurus BKPRMI ini.

H.Wawuh Sondi Purnomo dan KH.Hasan Imam Thaha


Yang jelas visi misi kami menyiapkan peserta didik berakhlaqul karimah berjiwa kader qur’ani, unggul dalam iptek serta bersemangat keindonesiaan menyongsong generasi emas 2045 dan berwawasan global. “Dan kami siapkan pembina dan pelatih untuk kompetisi dan meraih prestasi sesuai bakat minatnya seperti hafidz, pidato, baca puisi, kaligrafi maupun ekstra khitobah juga dilatih MC dan hadrah! ” tambah H Wawuh yang pernah ke Singapura, Qatar dan Mekkah-Madinah ini.

Untuk yang membutuhkan informasi soal SPMB SMP Qur’an Akmalul Muhsinin Banyuwangi bisa silaturahmi atau komunikasi dengan panitia narahubung Jainul Abidin WA 083875684605 atau bisa langsung ke 081281856321(.Aguk Wahyu Nuryadi)


Saestwo Café Siap Jadi Panggung Asah Bakat Kreativitas Memperingati Harjaba Ke-254


 


Banyuwangi, – Dalam  memeriahkan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254 yang tepatnya pada 18 Desember memperingati Perang Puputan Bayu 1771, sejumlah komunitas dan pelaku usaha lokal berkolaborasi menggelar serangkaian lomba bertajuk "Lomba Literasi Gotong Royong Harjaba 2025".

Kegiatan ini diinisiasi oleh Saestwo Cafe bersama Komunitas Gotong Royong 45, Penerbit Lintang yang terbitkan Antologi Gotongroyong yang jadi materi Lomba Baca Puisi dan bertujuan menjadi wadah ekspresi positif bagi generasi bangsa.

"Harjaba adalah momentum penting untuk merayakan kebersamaan, kreativitas, dan cinta terhadap daerah. Melalui lomba ini, kami ingin memberikan ruang bagi anak-anak dan remaja untuk menunjukkan potensi mereka sekaligus menumbuhkan rasa bangga akan kekayaan seni dan budaya Banyuwangi," ujar Bung Aguk Darsono dari EO Senyum Agmadina salah satu inisiator kegiatan.

Lomba yang mengusung tema "Gotong Royong untuk Banyuwangi Berdaya (Lestarikan Bahasa Daerah, Bangga Bahasa Indonesia, dan Kuasai Bahasa Asing)" ini menawarkan beragam kategori, di antaranya:

  1. Pidato Dai Cilik (untuk siswa SD/MI/TQA)
  2. Story Telling dalam Bahasa Inggris (untuk siswa SD/MI)
  3. Bercerita dalam Bahasa Using (untuk usia 10-15 tahun)
  4. Melukis di Kanvas (untuk usia 10-17 tahun)
  5. Baca Puisi Antologi Gotong Royong (untuk umum).

Ketua Panitia HM. Shodiqin, S. Pd, MM mengajak para pihak sinergi dan kolaborasi mulai pegiat seni, LKSA yatim dhuafa, ponpes, BKPRMI hingga emak-emak pegiat lingkungan yang tergabung di komunitas Green Jasmine. "Seluruh pemenangnya dan guru pendamping yang beruntung bisa dapat voucher umroh 2 juta langsung dari H. Tulus! " ucap guru SMKN 1 Kalipuro yang 3 bulan lalu ke Baitullah ini.

Dan pada hari pertama selain bakdha jum'atan  selain lomba pildacil dan melukis, panitia juga mengundang pelukis seperti Ben Hendro, Wega Averina,MH Basoeki, Momo dan Mbah Eko untuk mencoret kanvas on the spot dengan obyek yang ada di cafe. Juga undang penyair Pramoe Soekarno dan Mayor Saimah dan veteran IGM Sudharma perform.

"Alhamdulillah memaknai 10 tahun atau satu dasawarsa, kami relawan koppiwangi juga  tasyakuran tumpengan usai lomba pildacil! " ucap founder H. Mujiono, SH. "Dan juara 1 pildacil beserta orangtua kami beri bonus inap hotel atau homestay yang ada kolam renangnya! " tambah Ketua Umum BKPRMI Ahmad Sururudin, SE, M. Si.

Untuk finalis story telling ada bonus voucher discount English Language Course (ELC) Sibon Mandar. Sedang Toko Seragam dan kostum bordir Tiga Jaya Star 081336275599 sediakan plakat baca puisi gotongroyong.

Kegiatan yang telah mendapat dukungan dari  PT Tulus Hijrah Baitullah ,Koppiwangi (Komunitas Pegiat Peduli Pendidikan Banyuwangi) dan Yayasan Aura Lentera Indonesia serta media partner Sastra wacana. Id, jurnal news, menaramadinah. Com, JRKBB dan youtube Ha Pe Aja Channel ini akan diselenggarakan pada tanggal 19-20 Desember 2025 di Saestwo Cafe, Jl. Jembrana, Perum BGM Klarak -Kalipuro, Banyuwangi.

Owner Saestwo Cafe Vonny Lagenia Suhendi  ungkapkan memang tempat usahanya yang nyaman strategis bisa menjalin kemitraan dengan berbagai komunitas untuk kongkow seperti corolla club & mercy BWI, penggemar lagu nostalgia yang bernyanyi diiringi electone, resepsi pernikahan hingga mahasiswa yang butuh suasana nyantai cari inspirasi membuat karya fiksi hingga skripsi yang didukung Wi-Fi. "Bulan depan jelang puasa komunitas barista kopi juga mau menggelar event di saestwo cafe! " sambung gadis yang geluti ilmu hukum ini sambil senyum.

Bagi calon peserta yang berminat, pendaftaran dibuka hingga 15 Desember 2025 pukul 11.45 WIB. Pendaftaran dapat dilakukan langsung di Saestwo Cafe & Creative Space, Klatak ketemu peracik menu Romi yang punya nomer WA 082131497260, atau secara online melalui tautan https://whatsform.com/pxhfm_. Investasi pendaftaran untuk setiap peserta sebesar Rp 35.000.

Informasi lebih detail mengenai pendaftaran lomba dan petunjuk teknis setiap lomba dapat diakses dengan mengetikkan kata kunci pencarian "lomba harjaba 2025 di Saestwo Cafe" pada mesin pencari Google yang ter connect dengan aplikasi GATA yang ramah sebagai keluarga tangguh.(ARW/AWN/JN-SC)

Penghargaan, dan Menjaga Ruang Hidup

 Penghargaan, dan Menjaga Ruang Hidup 

oleh : Emi Hidayati , Dosen Fak. Dakwah UNIIB

Capaian Banyuwangi meraih berbagai penghargaan tata kelola terbaik tahun ini layak diapresiasi sebagai buah dari kerja panjang pemerintah daerah dalam membangun birokrasi yang terlatih bekerja kolaboratif, dan responsif terhadap isu-isu prioritas. Banyak elemen eksekutif telah terbiasa dengan pola kerja “mengeroyok program prioritas” sehingga memastikan berbagai agenda strategis—utamanya pengurangan kemiskinan—dapat berjalan serempak dan efektif. Keberhasilan ini tidak bisa dilepaskan dari kepemimpinan bupati yang konsisten menggagas inovasi kebijakan publik, membangun budaya pelayanan yang hangat (warming glow), serta menggerakkan jejaring komunitas hingga tingkat desa. Banyuwangi berhasil menunjukkan bahwa tata kelola yang baik bukan hanya urusan administrasi, tetapi kesanggupan membangun orkestrasi sosial yang berpengetahuan dan saling menguatkan. 


Apresiasi ini hadir pada momen yang menarik. Di saat yang sama, Kapolresta Banyuwangi dalam FGD bertema “Optimalisasi Peran Ormas dan Potmas untuk Mewujudkan Kamtibmas Menuju Banyuwangi Sejahtera” menegaskan bahwa keamanan daerah sangat terkait dengan kelestarian sumber daya alam. Air, hutan, dan tanah adalah fondasi hidup masyarakat. Ketika perebutan sumber daya meningkat, potensi gangguan kamtibmas pun ikut membesar. Pesan ini searah dengan peringatan global bahwa perubahan iklim dan krisis ekologis selalu memiliki dimensi sosial dan politik. Artinya, menjaga lingkungan bukan semata isu ekologis, tetapi juga syarat dasar bagi keamanan, keadilan, dan kesejahteraan bersama.

Geografis Banyuwangi memang menunjukkan bahwa daerah ini memikul tanggung jawab ekologis besar. Dari total luas wilayah, sekitar 31,72% atau 183.396 ha adalah kawasan hutan—modal ekologis yang luar biasa. Persawahan mencapai 66.152 ha (11,44%), perkebunan 82.143 ha (14,21%), dan permukiman 127.454 ha (22,04%). Sementara itu, garis pantai sepanjang 175,8 km menjadikan daerah ini salah satu bentang pesisir paling strategis di Jawa. Angka-angka ini adalah kekuatan, tetapi sekaligus potensi kerentanan jika tata kelola ruang tidak diarahkan pada keberlanjutan.

Untuk itulah penguatan tata kelola lingkungan menjadi agenda yang tak bisa ditunda. Literatur mutakhir mengenai environmental governance menekankan bahwa tata kelola harus efektif, adil, responsif, dan robust (Bennett & Satterfield, 2018). Empat prinsip ini harus hadir secara seimbang. Efektivitas diperlukan agar kebijakan benar-benar menghasilkan perubahan. Keadilan penting untuk memastikan kelompok marginal—petani kecil, perempuan, masyarakat adat, dan komunitas pesisir—diakui hak dan pengetahuannya. Responsivitas dibutuhkan agar kebijakan mampu beradaptasi dengan situasi baru, terutama perubahan iklim. Sementara robustness memastikan kebijakan tetap kuat dan tidak mudah runtuh oleh tekanan ekonomi-politik.

Pendekatan ini selaras dengan gagasan sustainable livelihoods, yakni upaya membangun ruang hidup masyarakat yang berkelanjutan secara ekologis, aman secara sosial, dan layak secara ekonomi. Konsep ini mengajarkan bahwa keberlanjutan lingkungan harus selalu dipahami bersama keberlanjutan penghidupan masyarakat. Hutan bukan hanya tutupan lahan, tetapi basis pangan, air, budaya, dan stabilitas sosial. Pesisir bukan hanya objek wisata, tetapi ruang hidup nelayan dan benteng ekologi. Sawah bukan sekadar produksi padi, tetapi identitas dan jaring pengaman ekonomi.

Kerangka Bennett dan Satterfield menekankan bahwa tata kelola lingkungan harus dirancang sebagai sistem yang mampu belajar dan beradaptasi (adaptive governance). Dalam konteks Banyuwangi, ini berarti kebijakan—baik di sektor hutan, pertanian, kelautan, maupun permukiman—perlu semakin terbuka terhadap partisipasi masyarakat, berbasis data, dan sensitif terhadap potensi konflik sumber daya. Kapolresta Banyuwangi sudah memberi alarm penting: perebutan sumber daya dapat mengganggu keamanan publik. Karena itu, kebijakan penataan ruang, pengelolaan DAS, dan pemanfaatan pesisir harus dilakukan secara inklusif, dengan memastikan semua kepentingan dilibatkan dan risiko konflik ditekan melalui dialog berkelanjutan.

Selain itu, teori-teori tata kelola seperti Ostrom (1999) mengingatkan bahwa keberhasilan pengelolaan lingkungan sangat bergantung pada pengakuan dan pemberdayaan komunitas lokal. Banyak desa di Banyuwangi telah memiliki modal sosial kuat, kearifan lokal, dan mekanisme kontrol sosial yang efektif. Inilah aset yang perlu diproteksi dan diperkuat melalui kebijakan yang tidak top-down, tetapi kolaboratif.

Dengan capaian penghargaan tata kelola terbaik, Banyuwangi sesungguhnya sedang memasuki babak baru: dari daerah inovatif menuju daerah berketangguhan ekologis. Apresiasi ini adalah fondasi, tetapi bangunan besar bernama ketahanan ekologis hanya dapat berdiri melalui kerja kolektif. Pemerintah, komunitas lokal, ormas, pelaku usaha, akademisi, dan generasi muda harus berjalan pada visi yang sama: memastikan Banyuwangi tidak hanya indah untuk dilihat, tetapi kuat untuk bertahan dan adil untuk dihuni. Jika tata kelola terus diarahkan pada keberlanjutan, responsivitas, dan keadilan ekologis, maka Banyuwangi bukan hanya menerima penghargaan—tetapi benar-benar menjadi wilayah yang tangguh menghadapi masa depan.

Kabar Wafat KH. Abdul Ghofar Hoaks, Keluarga Imbau Publik Bijak Bermedsos

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Informasi yang beredar di berbagai grup WhatsApp mengenai wafatnya penceramah kondang asal Rogojampi, Banyuwangi, KH. Abdul Ghofar, dipastikan tidak benar alias hoaks. Kabar palsu tersebut sempat menyebar cepat dan menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.

Putra beliau, Gus Hilmi Mustofa, menegaskan bahwa kondisi sang ayah masih baik dan sedang dalam masa perawatan di RSNU. 


“Abah masih sehat, jangan membuat isu aneh-aneh,” tegas Gus Hilmi pada Minggu, 7 Desember 2025.

Ia menjelaskan bahwa KH. Abdul Ghofar memang sedang dirawat karena kelelahan akibat jadwal kegiatan yang sangat padat.

“Beliau masih sehat dan kondisinya sudah membaik, Abah ngedrop,” ujarnya menambahkan.

Keluarga pun mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan kabar bohong serta tidak memviralkan foto-foto pribadi beliau yang beredar, demi menjaga ketenangan dan privasi.

Siaran Pers Keluarga KH. Abdul Ghofar 


SAUDARA-SAUDARA

Assalamualaikum Wr. Wb.

Kepada seluruh kerabat, sahabat, serta Bapak/Ibu yang kami hormati, Dengan segala kerendahan hati, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas seluruh atensi, perhatian, dan niat baik untuk mendoakan kesembuhan KH. Abd. Ghoffar yang sedang dirawat. Alhamdulillah, dapat kami sampaikan bahwa kondisi beliau saat ini terus menunjukkan perkembangan yang sangat baik dan semakin membaik. isu yang beredar di media sosial adalah HOAX (tidak benar) mari kita bersama mendoakan agar beliau selalu diberi kesehatan dan umur panjang.

Kami juga berharap bapak/Ibu bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial.

Terakhir, kami juga memohon kerja sama Bapak/Ibu untuk tidak menyebarluaskan foto-foto beliau yang mungkin sudah beredar luas di media sosial maupun grup-grup pesan WhatsApp, demi menjaga privasi dan tidak menambah kegaduhan di masyarakat. Maturnuwun atas pengertian dan doa baiknya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.


*Jaminan Kerja untuk Semua Pekerja: Cerita dari Sudut-Sudut Indonesia*

 *Jaminan Kerja untuk Semua Pekerja: Cerita dari Sudut-Sudut Indonesia*



Oleh Akaha Taufan Aminudin 


Di sebuah sudut pasar Among Tani Kota Batu, pukul enam pagi, Mbak Siti sudah menata bakul sayurnya. Tangannya cekatan, tapi matanya masih menyimpan kantuk. Ia tertawa kecil ketika ditanya soal libur, “Libur? Kalau saya libur, dapur ikut libur.” Siti adalah wajah dari jutaan pekerja informal Indonesia—mereka yang bekerja tanpa kontrak, tanpa kepastian pendapatan, dan sering kali tanpa perlindungan apa pun.


Namun pagi itu ada cerita lain. Siti bercerita bahwa beberapa bulan lalu seorang petugas menghampirinya, memperkenalkan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan. “Awalnya saya tak percaya,” katanya. “Saya pikir itu hanya untuk pekerja pabrik.” Narasi ragu seperti ini jamak terjadi. Tetapi ketika seorang tetangga pasar mengalami kecelakaan motor dan biaya rumah sakitnya ditanggung BPJS Ketenagakerjaan, Siti mulai sadar bahwa jaminan itu bukan sekadar milik pekerja formal. Itu hak semua pekerja—siapa pun mereka.


1. Mereka yang Selama Ini Tak Terlihat


Human story tentang pekerja Indonesia selalu dimulai dari satu hal: ketidakterlihatan. Negara kita dibangun oleh tangan-tangan yang sering luput dari perhatian. Ojek pangkalan yang berjuang di tikungan pasar. Petani penggarap yang tak pernah masuk hitungan sebagai “pekerja tetap”. Perempuan penjaga warung yang bekerja lebih dari delapan jam tanpa pernah bertanya berapa jam kerja yang “wajar”.


Mereka bukan hanya angka statistik. Mereka manusia yang berharap hidup lebih aman.


Ketika negara berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi, pembangunan jalan, percepatan industri, pekerja-pekerja kecil seperti Siti tetap menjadi nadi kehidupan yang membuat ekonomi lokal berjalan. Namun selama bertahun-tahun, nadi itu berdetak tanpa sabuk pengaman.


2. Ketika Risiko Menjadi Bagian dari Nafas Sehari-Hari


Tempo pernah menulis berita tentang seorang pekerja bangunan di Surabaya yang jatuh dari lantai tiga bangunan ruko. Ia selamat, tetapi lumpuh sebagian. Rekan-rekannya menggalang dana, bosnya menghilang, dan keluarga kehilangan mata pencaharian. Cerita seperti ini tersebar dari Aceh hingga Merauke.


Data menunjukkan bahwa lebih dari separuh angkatan kerja Indonesia masih berada di sektor informal. Artinya, risiko yang mereka tanggung pun tanpa mitigasi. Tidak ada pesangon, tidak ada perlindungan kecelakaan kerja, tidak ada tabungan hari tua.


Pekerjaan mereka adalah taruhan. Setiap pagi adalah lembar baru dari kemungkinan cedera, kehilangan pendapatan, bahkan kehilangan masa depan.


3. Ketika Perlindungan Menjadi Titik Balik


Human story juga bicara tentang harapan. Contoh paling gamblang: para nelayan di pesisir Banyuwangi yang kini sadar bahwa badai tidak hanya bisa merusak perahu, tetapi mengancam keluarga. Setelah mereka terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, istri mereka bercerita merasa sedikit lebih tenang menunggu di rumah.


Tempo pernah memotret kisah seorang nelayan muda yang meninggal saat melaut. Istri dan anaknya mendapatkan santunan kematian dan beasiswa pendidikan. “Kami kehilangan suami dan ayah,” kata sang istri, “tapi negara tidak membiarkan kami berjalan sendiri.”


Itulah turning point yang sering tak muncul dalam diskusi kebijakan: perlindungan bukan hanya skema administrasi. Ia adalah rasa aman.


4. Jaminan Kerja: Cerita Besar dari Kehidupan Kecil


Konsep jaminan kerja untuk semua pekerja berarti satu hal: setiap tenaga yang menggerakkan Indonesia, sekecil apa pun roda yang mereka putar, harus terlindungi.


Bukan sekadar isu BPJS Ketenagakerjaan. Ini isu kemanusiaan.


Ketika Siti akhirnya mendaftar sebagai peserta, ia bercerita bahwa anaknya—yang masih kelas empat SD—berkata, “Bu, kalau Ibu jatuh waktu bawa dagangan, nanti ada yang bantu ya?” Kalimat polos itu menghantam lebih keras daripada kritik pakar mana pun.


Karena di balik diskusi teknis—coverage, compliance, regulasi, dan formulir pendaftaran—ada keluarga yang menggantungkan hidup pada seorang ibu, ayah, atau anak yang bekerja setiap hari tanpa perlindungan.


5. Negara Hadir Ketika Kita Tidak Lagi Sendirian


Human story adalah cerita tentang kebersamaan. Jaminan kerja adalah cara negara berkata: “Kamu tidak sendirian.”


Apakah perlindungan kita sudah sempurna? Tentu belum. Masih banyak pelaku usaha kecil yang belum sadar, masih banyak perangkat daerah yang belum aktif menggerakkan sosialisasi, dan masih banyak pekerja informal yang bahkan tak tahu bahwa mereka berhak.


Namun artisanal perubahan dimulai dari satu orang yang terlindungi. Dari satu kisah yang menginspirasi. Dari satu pasar Among Tani di Batu tempat Siti bekerja. Dari satu kampung nelayan di Banyuwangi. Dari satu tukang bangunan di Kendari. Dari satu pedagang kaki lima di Bandung.


Setiap cerita adalah pondasi Indonesia yang lebih manusiawi.


Penutup: Indonesia yang Tidak Membiarkan Seorang Pekerja pun Tertinggal


Jaminan kerja untuk semua pekerja bukan sekadar slogan lomba jurnalistik. Ini visi masa depan Indonesia—sebuah negeri yang memastikan bahwa siapa pun yang bekerja, apa pun profesinya, berhak atas perlindungan.


Negara yang besar bukan hanya negara dengan gedung-gedung tinggi, tetapi negara yang tidak membiarkan rakyatnya runtuh ketika tertimpa risiko.


Di pasar Among Tani Kota Batu, Siti menutup obrolan dengan satu kalimat sederhana namun penuh makna:

“Saya cuma ingin bekerja dengan tenang.”


Dan bukankah itu hak paling dasar dari setiap pekerja?


Kota Batu 29 November 2025

Akaha Taufan Aminudin 

Penggerak Literasi dan Sastrawan 

KOTA BATU SATUPENA JAWA TIMUR

Bimbingan Remaja Usia Nikah di UIMSYA Tekankan Kesiapan Mental, Spiritual, dan Sosial

Banyuwangi (Warta Blambangan) Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi bekerja sama dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Universitas Kyai Haji Muchtar Syafaat (UIMSYA) Blok Agung menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUS) pada Kamis, 27 November 2025. Kegiatan ini difokuskan untuk memberikan bekal komprehensif kepada mahasiswa terkait kehidupan berumah tangga, mulai dari pemilihan pasangan hingga kesiapan menjalani ikatan pernikahan dalam perspektif agama dan sosial.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Seksi Bimas Islam menyampaikan bahwa bimbingan remaja usia nikah merupakan langkah preventif sekaligus edukatif untuk menciptakan generasi keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah. “Yang paling penting adalah bagaimana bisa menentukan pilihan, mencari pasangan yang pas dan tepat untuk mewujudkan rumah tangga yang bahagia,” ujarnya. Ia menegaskan, pemahaman mendasar sebelum menikah merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan stabilitas rumah tangga. 


Acara berlangsung di lingkungan kampus UIMSYA Blokagung Kecamatan Tegalsari dan diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai program studi. Para peserta mendapatkan gambaran langsung mengenai aspek-aspek dasar kehidupan berkeluarga yang sering kali luput dari perhatian generasi muda. Materi yang disampaikan meliputi pemahaman diri, kesiapan mental dan emosional, kesehatan reproduksi, aspek hukum dan agama, keuangan rumah tangga, serta keterampilan membangun keluarga sakinah. Materi tersebut disusun secara sistematis agar mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa, khususnya yang telah memasuki usia produktif.

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Agus Baehaqi, memberikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan ini. Ia menyebut kerja sama dengan Kementerian Agama Banyuwangi merupakan langkah strategis untuk membuka wawasan mahasiswa terkait nilai-nilai fundamental kehidupan berkeluarga. “Ilmu yang mereka dapatkan adalah ilmu baru yang tidak diajarkan sepenuhnya di kampus,” ungkapnya. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar tambahan pengetahuan, tetapi pembelajaran praktis yang langsung menyentuh realitas sosial mahasiswa.

Bimbingan Remaja Usia Nikah menjadi salah satu upaya terintegrasi yang dilakukan Bimas Islam untuk meminimalisasi berbagai persoalan pernikahan yang dewasa ini sering muncul di masyarakat. Salah satu tujuan utamanya adalah mengurangi risiko pernikahan dini yang kerap berujung pada ketidakstabilan rumah tangga. Melalui pendekatan yang berbasis edukasi, peserta diarahkan untuk memahami bahwa pernikahan bukan hanya tentang kesiapan usia, tetapi juga kesiapan mental, finansial, dan spiritual.

Para fasilitator menekankan pentingnya pemahaman diri sebagai fondasi pembentukan keluarga. Peserta diajak merenungkan identitas personal, cita-cita, visi pernikahan, dan batasan pribadi. Kegiatan ini mendorong mahasiswa untuk menyadari bahwa pernikahan bukanlah upacara formal yang bersifat seremonial, melainkan perjalanan hidup jangka panjang yang membutuhkan ketahanan emosional dan karakter.

Aspek kesiapan mental dan emosional juga menjadi sorotan. Fasilitator menegaskan bahwa kecerdasan emosional dalam pernikahan lebih menentukan daripada kecerdasan akademik semata. Konflik antara pasangan, miskomunikasi, perbedaan latar belakang keluarga, hingga dinamika kehidupan pascapernikahan seringkali bukan karena kekurangan pengetahuan, tetapi ketidakmampuan mengelola emosi. Dalam sesi simulasi, peserta diberikan contoh kasus umum yang sering terjadi, mulai dari perbedaan karakter hingga persoalan manajemen waktu antara pendidikan atau karier dan kehidupan keluarga.

Yang paling heboh ketika Fasilitator dari lingkungan pondok pesantren yakni dr. Hj. Zuwidatul Husna menyampaikan kesehatan reproduksi, sebuah tema yang kerap dianggap tabu di kalangan remaja. Materi disampaikan secara ilmiah dan santun, mengedepankan nilai-nilai agama dan etika. Peserta diberikan pemahaman mengenai sistem reproduksi, risiko kehamilan usia muda, pentingnya menjaga kesehatan fisik sebelum menikah, serta dampak psikologis bila kesiapan reproduksi tidak terpenuhi. Di bagian ini, mahasiswa laki-laki maupun perempuan diajak untuk memahami bahwa tubuh adalah amanah, dan berumah tangga membutuhkan kesadaran biologis yang matang.

Aspek Hukum, Agama, dan Kewajiban Perkawinan

Selanjutnya, peserta diperkenalkan dengan aspek hukum dan agama dalam pernikahan. Narasumber dari para Kepala KUA Kecamatan menguraikan prosedur legal pernikahan, mulai dari pencatatan pernikahan, kewajiban administratif, hingga regulasi pemerintah yang mengatur pernikahan usia minimal. Di sisi agama, peserta diajak memahami maqashid syariah: tujuan-tujuan utama pernikahan dalam Islam yang berorientasi pada maslahat keluarga dan masyarakat.

Dalam sesi ini, peserta juga diberikan pemahaman mengenai tanggung jawab pasangan suami-istri, baik dari aspek nafkah, pendidikan anak, maupun menjaga keharmonisan rumah tangga. Materi disampaikan secara mendalam, mencegah kesalahpahaman yang biasa terjadi dalam hubungan suami-istri ketika masing-masing pihak tidak memahami hak dan kewajiban.

Masalah ekonomi menjadi salah satu faktor terbesar penyebab keretakan rumah tangga. Oleh karena itu, BRUN menghadirkan materi mengenai manajemen keuangan rumah tangga. Peserta diajarkan cara menyusun perencanaan keuangan sederhana, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyikapi kondisi ekonomi pasang naik maupun pasang turun. Narasumber memberikan simulasi pembukuan bulanan dalam rumah tangga, termasuk tabungan darurat, biaya kesehatan, dan pendidikan anak.

Selain itu, peserta diingatkan pentingnya keterbukaan finansial antara suami dan istri sebagai bentuk kepercayaan. Era digital memungkinkan pasangan mengelola keuangan bersama, tetapi juga membawa potensi konflik jika tidak didasari kesepakatan. Bimbingan ini mengarahkan peserta agar tidak hanya mengejar stabilitas materi, tetapi juga membangun kesadaran berbagi tanggung jawab dalam rumah tangga.

tak kalah pentingnya materi yang menitikberatkan keterampilan membangun keluarga sakinah. Konsep sakinah dijelaskan sebagai rumah tangga yang berada dalam ketenangan batin, penuh cinta, dan dijaga oleh nilai religiusitas. Peserta diberi contoh praktik komunikasi efektif, empati, dan tata cara menyelesaikan konflik tanpa menyakiti pasangan. Narasumber memaparkan strategi sederhana seperti konsep mendengarkan aktif, prioritas bersama, serta waktu berkualitas yang seimbang antara kebutuhan pribadi dan keluarga.

Para mahasiswa terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari pagi hingga sore hari, Diskusi interaktif berlangsung dinamis, mencerminkan keinginan peserta untuk memahami pernikahan secara dewasa dan realistis. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan mengenai kesiapan menikah saat studi, perbedaan budaya antar pasangan, hingga cara menghadapi keluarga besar dalam dinamika rumah tangga.

Kegiatan ini disambut positif oleh civitas akademika UIMSYA Blok Agung. Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Agus Baehaqi, menyebut BRUS bukan hanya evaluasi teori, tetapi juga pembukaan cakrawala baru bagi mahasiswa yang akan memasuki fase dewasa. Menurutnya, kampus memiliki keterbatasan dalam memberi pembelajaran praktis mengenai kehidupan keluarga, sehingga dukungan Kementerian Agama sangat berarti.

Ia berharap kegiatan ini bisa dilakukan secara berkala, mengingat kebutuhan mahasiswa akan literasi pernikahan semakin meningkat. “Para peserta yang mengikuti acara ini merasa belajar sesuatu yang berbeda, dan mereka bisa pulang dengan pemahaman baru,” ungkapnya.


Panitia pelaksana kegiatan dari Seksi Bimas Islam Kabupaten Banyuwangi menjelaskan bahwa kegiatan BRUS bukan sekadar program rutinitas. Ia merupakan bagian dari perhatian pemerintah terhadap kondisi sosial masyarakat, khususnya generasi muda. Remaja usia nikah dipandang sebagai kelompok rentan, terutama ketika pengetahuan mengenai kehidupan menikah hanya diperoleh melalui media sosial, cerita teman sebaya, atau pengalaman keluarga yang berbeda-beda.

Karenanya, kegiatan ini berusaha membumi: materi yang disampaikan tidak bertumpu pada dogma tunggal, tetapi menghubungkan nilai agama dengan realitas keseharian. Remaja diajak memahami bahwa sakinah bukanlah kondisi yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari proses, musyawarah, saling pengertian, dan kedewasaan. Ditempat terpisah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr Chaironi Hidayat menyampaikan harapan agar UIMSYA Blok Agung dan lembaga pendidikan lainnya terus berkolaborasi. Bimbingan seperti ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas generasi muda dalam membangun keluarga yang sejahtera dan produktif. Ia menegaskan, tujuan bimbingan bukan mendorong mahasiswa untuk segera menikah, tetapi memastikan mereka memahami konsekuensinya secara matang ketika waktu itu tiba.

“Jika pondasi kuat, pasangan akan lebih siap menghadapi tantangan,” ujarnya. Pesan tersebut menjadi refleksi penting bagi peserta, yang sebagian besar berada pada fase peralihan menuju dunia dewasa.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan komitmen tindak lanjut dari kedua belah pihak. Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam UIMSYA menyatakan siap memberikan ruang bagi generasi muda untuk mendapatkan bimbingan serupa di masa mendatang. Sementara Bimas Islam Banyuwangi berharap ke depan sosialisasi ini dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa dan sekolah menengah atas, mengingat dampaknya yang strategis.

Dengan semangat edukasi dan kolaborasi, Bimbingan Remaja Usia Nikah di UIMSYA Blok Agung menjadi salah satu upaya konkret membangun peradaban keluarga yang kuat. Bukan hanya menyiapkan pasangan muda dari sisi agama, tetapi juga membekali mereka dengan pengetahuan, keterampilan, dan kebijaksanaan yang diperlukan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Ini bukan sekadar program bimbingan, melainkan investasi masa depan bagi generasi Banyuwangi — generasi yang diharapkan mampu menyeimbangkan cinta, tanggung jawab, dan akhlak dalam kehidupan berumah tangga.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger