Pages

Home » » *Jaminan Kerja untuk Semua Pekerja: Cerita dari Sudut-Sudut Indonesia*

*Jaminan Kerja untuk Semua Pekerja: Cerita dari Sudut-Sudut Indonesia*

 *Jaminan Kerja untuk Semua Pekerja: Cerita dari Sudut-Sudut Indonesia*



Oleh Akaha Taufan Aminudin 


Di sebuah sudut pasar Among Tani Kota Batu, pukul enam pagi, Mbak Siti sudah menata bakul sayurnya. Tangannya cekatan, tapi matanya masih menyimpan kantuk. Ia tertawa kecil ketika ditanya soal libur, “Libur? Kalau saya libur, dapur ikut libur.” Siti adalah wajah dari jutaan pekerja informal Indonesia—mereka yang bekerja tanpa kontrak, tanpa kepastian pendapatan, dan sering kali tanpa perlindungan apa pun.


Namun pagi itu ada cerita lain. Siti bercerita bahwa beberapa bulan lalu seorang petugas menghampirinya, memperkenalkan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan. “Awalnya saya tak percaya,” katanya. “Saya pikir itu hanya untuk pekerja pabrik.” Narasi ragu seperti ini jamak terjadi. Tetapi ketika seorang tetangga pasar mengalami kecelakaan motor dan biaya rumah sakitnya ditanggung BPJS Ketenagakerjaan, Siti mulai sadar bahwa jaminan itu bukan sekadar milik pekerja formal. Itu hak semua pekerja—siapa pun mereka.


1. Mereka yang Selama Ini Tak Terlihat


Human story tentang pekerja Indonesia selalu dimulai dari satu hal: ketidakterlihatan. Negara kita dibangun oleh tangan-tangan yang sering luput dari perhatian. Ojek pangkalan yang berjuang di tikungan pasar. Petani penggarap yang tak pernah masuk hitungan sebagai “pekerja tetap”. Perempuan penjaga warung yang bekerja lebih dari delapan jam tanpa pernah bertanya berapa jam kerja yang “wajar”.


Mereka bukan hanya angka statistik. Mereka manusia yang berharap hidup lebih aman.


Ketika negara berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi, pembangunan jalan, percepatan industri, pekerja-pekerja kecil seperti Siti tetap menjadi nadi kehidupan yang membuat ekonomi lokal berjalan. Namun selama bertahun-tahun, nadi itu berdetak tanpa sabuk pengaman.


2. Ketika Risiko Menjadi Bagian dari Nafas Sehari-Hari


Tempo pernah menulis berita tentang seorang pekerja bangunan di Surabaya yang jatuh dari lantai tiga bangunan ruko. Ia selamat, tetapi lumpuh sebagian. Rekan-rekannya menggalang dana, bosnya menghilang, dan keluarga kehilangan mata pencaharian. Cerita seperti ini tersebar dari Aceh hingga Merauke.


Data menunjukkan bahwa lebih dari separuh angkatan kerja Indonesia masih berada di sektor informal. Artinya, risiko yang mereka tanggung pun tanpa mitigasi. Tidak ada pesangon, tidak ada perlindungan kecelakaan kerja, tidak ada tabungan hari tua.


Pekerjaan mereka adalah taruhan. Setiap pagi adalah lembar baru dari kemungkinan cedera, kehilangan pendapatan, bahkan kehilangan masa depan.


3. Ketika Perlindungan Menjadi Titik Balik


Human story juga bicara tentang harapan. Contoh paling gamblang: para nelayan di pesisir Banyuwangi yang kini sadar bahwa badai tidak hanya bisa merusak perahu, tetapi mengancam keluarga. Setelah mereka terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, istri mereka bercerita merasa sedikit lebih tenang menunggu di rumah.


Tempo pernah memotret kisah seorang nelayan muda yang meninggal saat melaut. Istri dan anaknya mendapatkan santunan kematian dan beasiswa pendidikan. “Kami kehilangan suami dan ayah,” kata sang istri, “tapi negara tidak membiarkan kami berjalan sendiri.”


Itulah turning point yang sering tak muncul dalam diskusi kebijakan: perlindungan bukan hanya skema administrasi. Ia adalah rasa aman.


4. Jaminan Kerja: Cerita Besar dari Kehidupan Kecil


Konsep jaminan kerja untuk semua pekerja berarti satu hal: setiap tenaga yang menggerakkan Indonesia, sekecil apa pun roda yang mereka putar, harus terlindungi.


Bukan sekadar isu BPJS Ketenagakerjaan. Ini isu kemanusiaan.


Ketika Siti akhirnya mendaftar sebagai peserta, ia bercerita bahwa anaknya—yang masih kelas empat SD—berkata, “Bu, kalau Ibu jatuh waktu bawa dagangan, nanti ada yang bantu ya?” Kalimat polos itu menghantam lebih keras daripada kritik pakar mana pun.


Karena di balik diskusi teknis—coverage, compliance, regulasi, dan formulir pendaftaran—ada keluarga yang menggantungkan hidup pada seorang ibu, ayah, atau anak yang bekerja setiap hari tanpa perlindungan.


5. Negara Hadir Ketika Kita Tidak Lagi Sendirian


Human story adalah cerita tentang kebersamaan. Jaminan kerja adalah cara negara berkata: “Kamu tidak sendirian.”


Apakah perlindungan kita sudah sempurna? Tentu belum. Masih banyak pelaku usaha kecil yang belum sadar, masih banyak perangkat daerah yang belum aktif menggerakkan sosialisasi, dan masih banyak pekerja informal yang bahkan tak tahu bahwa mereka berhak.


Namun artisanal perubahan dimulai dari satu orang yang terlindungi. Dari satu kisah yang menginspirasi. Dari satu pasar Among Tani di Batu tempat Siti bekerja. Dari satu kampung nelayan di Banyuwangi. Dari satu tukang bangunan di Kendari. Dari satu pedagang kaki lima di Bandung.


Setiap cerita adalah pondasi Indonesia yang lebih manusiawi.


Penutup: Indonesia yang Tidak Membiarkan Seorang Pekerja pun Tertinggal


Jaminan kerja untuk semua pekerja bukan sekadar slogan lomba jurnalistik. Ini visi masa depan Indonesia—sebuah negeri yang memastikan bahwa siapa pun yang bekerja, apa pun profesinya, berhak atas perlindungan.


Negara yang besar bukan hanya negara dengan gedung-gedung tinggi, tetapi negara yang tidak membiarkan rakyatnya runtuh ketika tertimpa risiko.


Di pasar Among Tani Kota Batu, Siti menutup obrolan dengan satu kalimat sederhana namun penuh makna:

“Saya cuma ingin bekerja dengan tenang.”


Dan bukankah itu hak paling dasar dari setiap pekerja?


Kota Batu 29 November 2025

Akaha Taufan Aminudin 

Penggerak Literasi dan Sastrawan 

KOTA BATU SATUPENA JAWA TIMUR

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Creating Website

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jaga kesopanan dalam komentar

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger