Pages

Penghargaan, dan Menjaga Ruang Hidup

 Penghargaan, dan Menjaga Ruang Hidup 

oleh : Emi Hidayati , Dosen Fak. Dakwah UNIIB

Capaian Banyuwangi meraih berbagai penghargaan tata kelola terbaik tahun ini layak diapresiasi sebagai buah dari kerja panjang pemerintah daerah dalam membangun birokrasi yang terlatih bekerja kolaboratif, dan responsif terhadap isu-isu prioritas. Banyak elemen eksekutif telah terbiasa dengan pola kerja “mengeroyok program prioritas” sehingga memastikan berbagai agenda strategis—utamanya pengurangan kemiskinan—dapat berjalan serempak dan efektif. Keberhasilan ini tidak bisa dilepaskan dari kepemimpinan bupati yang konsisten menggagas inovasi kebijakan publik, membangun budaya pelayanan yang hangat (warming glow), serta menggerakkan jejaring komunitas hingga tingkat desa. Banyuwangi berhasil menunjukkan bahwa tata kelola yang baik bukan hanya urusan administrasi, tetapi kesanggupan membangun orkestrasi sosial yang berpengetahuan dan saling menguatkan. 


Apresiasi ini hadir pada momen yang menarik. Di saat yang sama, Kapolresta Banyuwangi dalam FGD bertema “Optimalisasi Peran Ormas dan Potmas untuk Mewujudkan Kamtibmas Menuju Banyuwangi Sejahtera” menegaskan bahwa keamanan daerah sangat terkait dengan kelestarian sumber daya alam. Air, hutan, dan tanah adalah fondasi hidup masyarakat. Ketika perebutan sumber daya meningkat, potensi gangguan kamtibmas pun ikut membesar. Pesan ini searah dengan peringatan global bahwa perubahan iklim dan krisis ekologis selalu memiliki dimensi sosial dan politik. Artinya, menjaga lingkungan bukan semata isu ekologis, tetapi juga syarat dasar bagi keamanan, keadilan, dan kesejahteraan bersama.

Geografis Banyuwangi memang menunjukkan bahwa daerah ini memikul tanggung jawab ekologis besar. Dari total luas wilayah, sekitar 31,72% atau 183.396 ha adalah kawasan hutan—modal ekologis yang luar biasa. Persawahan mencapai 66.152 ha (11,44%), perkebunan 82.143 ha (14,21%), dan permukiman 127.454 ha (22,04%). Sementara itu, garis pantai sepanjang 175,8 km menjadikan daerah ini salah satu bentang pesisir paling strategis di Jawa. Angka-angka ini adalah kekuatan, tetapi sekaligus potensi kerentanan jika tata kelola ruang tidak diarahkan pada keberlanjutan.

Untuk itulah penguatan tata kelola lingkungan menjadi agenda yang tak bisa ditunda. Literatur mutakhir mengenai environmental governance menekankan bahwa tata kelola harus efektif, adil, responsif, dan robust (Bennett & Satterfield, 2018). Empat prinsip ini harus hadir secara seimbang. Efektivitas diperlukan agar kebijakan benar-benar menghasilkan perubahan. Keadilan penting untuk memastikan kelompok marginal—petani kecil, perempuan, masyarakat adat, dan komunitas pesisir—diakui hak dan pengetahuannya. Responsivitas dibutuhkan agar kebijakan mampu beradaptasi dengan situasi baru, terutama perubahan iklim. Sementara robustness memastikan kebijakan tetap kuat dan tidak mudah runtuh oleh tekanan ekonomi-politik.

Pendekatan ini selaras dengan gagasan sustainable livelihoods, yakni upaya membangun ruang hidup masyarakat yang berkelanjutan secara ekologis, aman secara sosial, dan layak secara ekonomi. Konsep ini mengajarkan bahwa keberlanjutan lingkungan harus selalu dipahami bersama keberlanjutan penghidupan masyarakat. Hutan bukan hanya tutupan lahan, tetapi basis pangan, air, budaya, dan stabilitas sosial. Pesisir bukan hanya objek wisata, tetapi ruang hidup nelayan dan benteng ekologi. Sawah bukan sekadar produksi padi, tetapi identitas dan jaring pengaman ekonomi.

Kerangka Bennett dan Satterfield menekankan bahwa tata kelola lingkungan harus dirancang sebagai sistem yang mampu belajar dan beradaptasi (adaptive governance). Dalam konteks Banyuwangi, ini berarti kebijakan—baik di sektor hutan, pertanian, kelautan, maupun permukiman—perlu semakin terbuka terhadap partisipasi masyarakat, berbasis data, dan sensitif terhadap potensi konflik sumber daya. Kapolresta Banyuwangi sudah memberi alarm penting: perebutan sumber daya dapat mengganggu keamanan publik. Karena itu, kebijakan penataan ruang, pengelolaan DAS, dan pemanfaatan pesisir harus dilakukan secara inklusif, dengan memastikan semua kepentingan dilibatkan dan risiko konflik ditekan melalui dialog berkelanjutan.

Selain itu, teori-teori tata kelola seperti Ostrom (1999) mengingatkan bahwa keberhasilan pengelolaan lingkungan sangat bergantung pada pengakuan dan pemberdayaan komunitas lokal. Banyak desa di Banyuwangi telah memiliki modal sosial kuat, kearifan lokal, dan mekanisme kontrol sosial yang efektif. Inilah aset yang perlu diproteksi dan diperkuat melalui kebijakan yang tidak top-down, tetapi kolaboratif.

Dengan capaian penghargaan tata kelola terbaik, Banyuwangi sesungguhnya sedang memasuki babak baru: dari daerah inovatif menuju daerah berketangguhan ekologis. Apresiasi ini adalah fondasi, tetapi bangunan besar bernama ketahanan ekologis hanya dapat berdiri melalui kerja kolektif. Pemerintah, komunitas lokal, ormas, pelaku usaha, akademisi, dan generasi muda harus berjalan pada visi yang sama: memastikan Banyuwangi tidak hanya indah untuk dilihat, tetapi kuat untuk bertahan dan adil untuk dihuni. Jika tata kelola terus diarahkan pada keberlanjutan, responsivitas, dan keadilan ekologis, maka Banyuwangi bukan hanya menerima penghargaan—tetapi benar-benar menjadi wilayah yang tangguh menghadapi masa depan.

Kabar Wafat KH. Abdul Ghofar Hoaks, Keluarga Imbau Publik Bijak Bermedsos

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Informasi yang beredar di berbagai grup WhatsApp mengenai wafatnya penceramah kondang asal Rogojampi, Banyuwangi, KH. Abdul Ghofar, dipastikan tidak benar alias hoaks. Kabar palsu tersebut sempat menyebar cepat dan menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.

Putra beliau, Gus Hilmi Mustofa, menegaskan bahwa kondisi sang ayah masih baik dan sedang dalam masa perawatan di RSNU. 


“Abah masih sehat, jangan membuat isu aneh-aneh,” tegas Gus Hilmi pada Minggu, 7 Desember 2025.

Ia menjelaskan bahwa KH. Abdul Ghofar memang sedang dirawat karena kelelahan akibat jadwal kegiatan yang sangat padat.

“Beliau masih sehat dan kondisinya sudah membaik, Abah ngedrop,” ujarnya menambahkan.

Keluarga pun mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan kabar bohong serta tidak memviralkan foto-foto pribadi beliau yang beredar, demi menjaga ketenangan dan privasi.

Siaran Pers Keluarga KH. Abdul Ghofar 


SAUDARA-SAUDARA

Assalamualaikum Wr. Wb.

Kepada seluruh kerabat, sahabat, serta Bapak/Ibu yang kami hormati, Dengan segala kerendahan hati, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas seluruh atensi, perhatian, dan niat baik untuk mendoakan kesembuhan KH. Abd. Ghoffar yang sedang dirawat. Alhamdulillah, dapat kami sampaikan bahwa kondisi beliau saat ini terus menunjukkan perkembangan yang sangat baik dan semakin membaik. isu yang beredar di media sosial adalah HOAX (tidak benar) mari kita bersama mendoakan agar beliau selalu diberi kesehatan dan umur panjang.

Kami juga berharap bapak/Ibu bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial.

Terakhir, kami juga memohon kerja sama Bapak/Ibu untuk tidak menyebarluaskan foto-foto beliau yang mungkin sudah beredar luas di media sosial maupun grup-grup pesan WhatsApp, demi menjaga privasi dan tidak menambah kegaduhan di masyarakat. Maturnuwun atas pengertian dan doa baiknya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.


*Jaminan Kerja untuk Semua Pekerja: Cerita dari Sudut-Sudut Indonesia*

 *Jaminan Kerja untuk Semua Pekerja: Cerita dari Sudut-Sudut Indonesia*



Oleh Akaha Taufan Aminudin 


Di sebuah sudut pasar Among Tani Kota Batu, pukul enam pagi, Mbak Siti sudah menata bakul sayurnya. Tangannya cekatan, tapi matanya masih menyimpan kantuk. Ia tertawa kecil ketika ditanya soal libur, “Libur? Kalau saya libur, dapur ikut libur.” Siti adalah wajah dari jutaan pekerja informal Indonesia—mereka yang bekerja tanpa kontrak, tanpa kepastian pendapatan, dan sering kali tanpa perlindungan apa pun.


Namun pagi itu ada cerita lain. Siti bercerita bahwa beberapa bulan lalu seorang petugas menghampirinya, memperkenalkan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan. “Awalnya saya tak percaya,” katanya. “Saya pikir itu hanya untuk pekerja pabrik.” Narasi ragu seperti ini jamak terjadi. Tetapi ketika seorang tetangga pasar mengalami kecelakaan motor dan biaya rumah sakitnya ditanggung BPJS Ketenagakerjaan, Siti mulai sadar bahwa jaminan itu bukan sekadar milik pekerja formal. Itu hak semua pekerja—siapa pun mereka.


1. Mereka yang Selama Ini Tak Terlihat


Human story tentang pekerja Indonesia selalu dimulai dari satu hal: ketidakterlihatan. Negara kita dibangun oleh tangan-tangan yang sering luput dari perhatian. Ojek pangkalan yang berjuang di tikungan pasar. Petani penggarap yang tak pernah masuk hitungan sebagai “pekerja tetap”. Perempuan penjaga warung yang bekerja lebih dari delapan jam tanpa pernah bertanya berapa jam kerja yang “wajar”.


Mereka bukan hanya angka statistik. Mereka manusia yang berharap hidup lebih aman.


Ketika negara berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi, pembangunan jalan, percepatan industri, pekerja-pekerja kecil seperti Siti tetap menjadi nadi kehidupan yang membuat ekonomi lokal berjalan. Namun selama bertahun-tahun, nadi itu berdetak tanpa sabuk pengaman.


2. Ketika Risiko Menjadi Bagian dari Nafas Sehari-Hari


Tempo pernah menulis berita tentang seorang pekerja bangunan di Surabaya yang jatuh dari lantai tiga bangunan ruko. Ia selamat, tetapi lumpuh sebagian. Rekan-rekannya menggalang dana, bosnya menghilang, dan keluarga kehilangan mata pencaharian. Cerita seperti ini tersebar dari Aceh hingga Merauke.


Data menunjukkan bahwa lebih dari separuh angkatan kerja Indonesia masih berada di sektor informal. Artinya, risiko yang mereka tanggung pun tanpa mitigasi. Tidak ada pesangon, tidak ada perlindungan kecelakaan kerja, tidak ada tabungan hari tua.


Pekerjaan mereka adalah taruhan. Setiap pagi adalah lembar baru dari kemungkinan cedera, kehilangan pendapatan, bahkan kehilangan masa depan.


3. Ketika Perlindungan Menjadi Titik Balik


Human story juga bicara tentang harapan. Contoh paling gamblang: para nelayan di pesisir Banyuwangi yang kini sadar bahwa badai tidak hanya bisa merusak perahu, tetapi mengancam keluarga. Setelah mereka terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, istri mereka bercerita merasa sedikit lebih tenang menunggu di rumah.


Tempo pernah memotret kisah seorang nelayan muda yang meninggal saat melaut. Istri dan anaknya mendapatkan santunan kematian dan beasiswa pendidikan. “Kami kehilangan suami dan ayah,” kata sang istri, “tapi negara tidak membiarkan kami berjalan sendiri.”


Itulah turning point yang sering tak muncul dalam diskusi kebijakan: perlindungan bukan hanya skema administrasi. Ia adalah rasa aman.


4. Jaminan Kerja: Cerita Besar dari Kehidupan Kecil


Konsep jaminan kerja untuk semua pekerja berarti satu hal: setiap tenaga yang menggerakkan Indonesia, sekecil apa pun roda yang mereka putar, harus terlindungi.


Bukan sekadar isu BPJS Ketenagakerjaan. Ini isu kemanusiaan.


Ketika Siti akhirnya mendaftar sebagai peserta, ia bercerita bahwa anaknya—yang masih kelas empat SD—berkata, “Bu, kalau Ibu jatuh waktu bawa dagangan, nanti ada yang bantu ya?” Kalimat polos itu menghantam lebih keras daripada kritik pakar mana pun.


Karena di balik diskusi teknis—coverage, compliance, regulasi, dan formulir pendaftaran—ada keluarga yang menggantungkan hidup pada seorang ibu, ayah, atau anak yang bekerja setiap hari tanpa perlindungan.


5. Negara Hadir Ketika Kita Tidak Lagi Sendirian


Human story adalah cerita tentang kebersamaan. Jaminan kerja adalah cara negara berkata: “Kamu tidak sendirian.”


Apakah perlindungan kita sudah sempurna? Tentu belum. Masih banyak pelaku usaha kecil yang belum sadar, masih banyak perangkat daerah yang belum aktif menggerakkan sosialisasi, dan masih banyak pekerja informal yang bahkan tak tahu bahwa mereka berhak.


Namun artisanal perubahan dimulai dari satu orang yang terlindungi. Dari satu kisah yang menginspirasi. Dari satu pasar Among Tani di Batu tempat Siti bekerja. Dari satu kampung nelayan di Banyuwangi. Dari satu tukang bangunan di Kendari. Dari satu pedagang kaki lima di Bandung.


Setiap cerita adalah pondasi Indonesia yang lebih manusiawi.


Penutup: Indonesia yang Tidak Membiarkan Seorang Pekerja pun Tertinggal


Jaminan kerja untuk semua pekerja bukan sekadar slogan lomba jurnalistik. Ini visi masa depan Indonesia—sebuah negeri yang memastikan bahwa siapa pun yang bekerja, apa pun profesinya, berhak atas perlindungan.


Negara yang besar bukan hanya negara dengan gedung-gedung tinggi, tetapi negara yang tidak membiarkan rakyatnya runtuh ketika tertimpa risiko.


Di pasar Among Tani Kota Batu, Siti menutup obrolan dengan satu kalimat sederhana namun penuh makna:

“Saya cuma ingin bekerja dengan tenang.”


Dan bukankah itu hak paling dasar dari setiap pekerja?


Kota Batu 29 November 2025

Akaha Taufan Aminudin 

Penggerak Literasi dan Sastrawan 

KOTA BATU SATUPENA JAWA TIMUR

Bimbingan Remaja Usia Nikah di UIMSYA Tekankan Kesiapan Mental, Spiritual, dan Sosial

Banyuwangi (Warta Blambangan) Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi bekerja sama dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Universitas Kyai Haji Muchtar Syafaat (UIMSYA) Blok Agung menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUS) pada Kamis, 27 November 2025. Kegiatan ini difokuskan untuk memberikan bekal komprehensif kepada mahasiswa terkait kehidupan berumah tangga, mulai dari pemilihan pasangan hingga kesiapan menjalani ikatan pernikahan dalam perspektif agama dan sosial.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Seksi Bimas Islam menyampaikan bahwa bimbingan remaja usia nikah merupakan langkah preventif sekaligus edukatif untuk menciptakan generasi keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah. “Yang paling penting adalah bagaimana bisa menentukan pilihan, mencari pasangan yang pas dan tepat untuk mewujudkan rumah tangga yang bahagia,” ujarnya. Ia menegaskan, pemahaman mendasar sebelum menikah merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan stabilitas rumah tangga. 


Acara berlangsung di lingkungan kampus UIMSYA Blokagung Kecamatan Tegalsari dan diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai program studi. Para peserta mendapatkan gambaran langsung mengenai aspek-aspek dasar kehidupan berkeluarga yang sering kali luput dari perhatian generasi muda. Materi yang disampaikan meliputi pemahaman diri, kesiapan mental dan emosional, kesehatan reproduksi, aspek hukum dan agama, keuangan rumah tangga, serta keterampilan membangun keluarga sakinah. Materi tersebut disusun secara sistematis agar mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa, khususnya yang telah memasuki usia produktif.

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Agus Baehaqi, memberikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan ini. Ia menyebut kerja sama dengan Kementerian Agama Banyuwangi merupakan langkah strategis untuk membuka wawasan mahasiswa terkait nilai-nilai fundamental kehidupan berkeluarga. “Ilmu yang mereka dapatkan adalah ilmu baru yang tidak diajarkan sepenuhnya di kampus,” ungkapnya. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar tambahan pengetahuan, tetapi pembelajaran praktis yang langsung menyentuh realitas sosial mahasiswa.

Bimbingan Remaja Usia Nikah menjadi salah satu upaya terintegrasi yang dilakukan Bimas Islam untuk meminimalisasi berbagai persoalan pernikahan yang dewasa ini sering muncul di masyarakat. Salah satu tujuan utamanya adalah mengurangi risiko pernikahan dini yang kerap berujung pada ketidakstabilan rumah tangga. Melalui pendekatan yang berbasis edukasi, peserta diarahkan untuk memahami bahwa pernikahan bukan hanya tentang kesiapan usia, tetapi juga kesiapan mental, finansial, dan spiritual.

Para fasilitator menekankan pentingnya pemahaman diri sebagai fondasi pembentukan keluarga. Peserta diajak merenungkan identitas personal, cita-cita, visi pernikahan, dan batasan pribadi. Kegiatan ini mendorong mahasiswa untuk menyadari bahwa pernikahan bukanlah upacara formal yang bersifat seremonial, melainkan perjalanan hidup jangka panjang yang membutuhkan ketahanan emosional dan karakter.

Aspek kesiapan mental dan emosional juga menjadi sorotan. Fasilitator menegaskan bahwa kecerdasan emosional dalam pernikahan lebih menentukan daripada kecerdasan akademik semata. Konflik antara pasangan, miskomunikasi, perbedaan latar belakang keluarga, hingga dinamika kehidupan pascapernikahan seringkali bukan karena kekurangan pengetahuan, tetapi ketidakmampuan mengelola emosi. Dalam sesi simulasi, peserta diberikan contoh kasus umum yang sering terjadi, mulai dari perbedaan karakter hingga persoalan manajemen waktu antara pendidikan atau karier dan kehidupan keluarga.

Yang paling heboh ketika Fasilitator dari lingkungan pondok pesantren yakni dr. Hj. Zuwidatul Husna menyampaikan kesehatan reproduksi, sebuah tema yang kerap dianggap tabu di kalangan remaja. Materi disampaikan secara ilmiah dan santun, mengedepankan nilai-nilai agama dan etika. Peserta diberikan pemahaman mengenai sistem reproduksi, risiko kehamilan usia muda, pentingnya menjaga kesehatan fisik sebelum menikah, serta dampak psikologis bila kesiapan reproduksi tidak terpenuhi. Di bagian ini, mahasiswa laki-laki maupun perempuan diajak untuk memahami bahwa tubuh adalah amanah, dan berumah tangga membutuhkan kesadaran biologis yang matang.

Aspek Hukum, Agama, dan Kewajiban Perkawinan

Selanjutnya, peserta diperkenalkan dengan aspek hukum dan agama dalam pernikahan. Narasumber dari para Kepala KUA Kecamatan menguraikan prosedur legal pernikahan, mulai dari pencatatan pernikahan, kewajiban administratif, hingga regulasi pemerintah yang mengatur pernikahan usia minimal. Di sisi agama, peserta diajak memahami maqashid syariah: tujuan-tujuan utama pernikahan dalam Islam yang berorientasi pada maslahat keluarga dan masyarakat.

Dalam sesi ini, peserta juga diberikan pemahaman mengenai tanggung jawab pasangan suami-istri, baik dari aspek nafkah, pendidikan anak, maupun menjaga keharmonisan rumah tangga. Materi disampaikan secara mendalam, mencegah kesalahpahaman yang biasa terjadi dalam hubungan suami-istri ketika masing-masing pihak tidak memahami hak dan kewajiban.

Masalah ekonomi menjadi salah satu faktor terbesar penyebab keretakan rumah tangga. Oleh karena itu, BRUN menghadirkan materi mengenai manajemen keuangan rumah tangga. Peserta diajarkan cara menyusun perencanaan keuangan sederhana, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyikapi kondisi ekonomi pasang naik maupun pasang turun. Narasumber memberikan simulasi pembukuan bulanan dalam rumah tangga, termasuk tabungan darurat, biaya kesehatan, dan pendidikan anak.

Selain itu, peserta diingatkan pentingnya keterbukaan finansial antara suami dan istri sebagai bentuk kepercayaan. Era digital memungkinkan pasangan mengelola keuangan bersama, tetapi juga membawa potensi konflik jika tidak didasari kesepakatan. Bimbingan ini mengarahkan peserta agar tidak hanya mengejar stabilitas materi, tetapi juga membangun kesadaran berbagi tanggung jawab dalam rumah tangga.

tak kalah pentingnya materi yang menitikberatkan keterampilan membangun keluarga sakinah. Konsep sakinah dijelaskan sebagai rumah tangga yang berada dalam ketenangan batin, penuh cinta, dan dijaga oleh nilai religiusitas. Peserta diberi contoh praktik komunikasi efektif, empati, dan tata cara menyelesaikan konflik tanpa menyakiti pasangan. Narasumber memaparkan strategi sederhana seperti konsep mendengarkan aktif, prioritas bersama, serta waktu berkualitas yang seimbang antara kebutuhan pribadi dan keluarga.

Para mahasiswa terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari pagi hingga sore hari, Diskusi interaktif berlangsung dinamis, mencerminkan keinginan peserta untuk memahami pernikahan secara dewasa dan realistis. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan mengenai kesiapan menikah saat studi, perbedaan budaya antar pasangan, hingga cara menghadapi keluarga besar dalam dinamika rumah tangga.

Kegiatan ini disambut positif oleh civitas akademika UIMSYA Blok Agung. Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Agus Baehaqi, menyebut BRUS bukan hanya evaluasi teori, tetapi juga pembukaan cakrawala baru bagi mahasiswa yang akan memasuki fase dewasa. Menurutnya, kampus memiliki keterbatasan dalam memberi pembelajaran praktis mengenai kehidupan keluarga, sehingga dukungan Kementerian Agama sangat berarti.

Ia berharap kegiatan ini bisa dilakukan secara berkala, mengingat kebutuhan mahasiswa akan literasi pernikahan semakin meningkat. “Para peserta yang mengikuti acara ini merasa belajar sesuatu yang berbeda, dan mereka bisa pulang dengan pemahaman baru,” ungkapnya.


Panitia pelaksana kegiatan dari Seksi Bimas Islam Kabupaten Banyuwangi menjelaskan bahwa kegiatan BRUS bukan sekadar program rutinitas. Ia merupakan bagian dari perhatian pemerintah terhadap kondisi sosial masyarakat, khususnya generasi muda. Remaja usia nikah dipandang sebagai kelompok rentan, terutama ketika pengetahuan mengenai kehidupan menikah hanya diperoleh melalui media sosial, cerita teman sebaya, atau pengalaman keluarga yang berbeda-beda.

Karenanya, kegiatan ini berusaha membumi: materi yang disampaikan tidak bertumpu pada dogma tunggal, tetapi menghubungkan nilai agama dengan realitas keseharian. Remaja diajak memahami bahwa sakinah bukanlah kondisi yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari proses, musyawarah, saling pengertian, dan kedewasaan. Ditempat terpisah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr Chaironi Hidayat menyampaikan harapan agar UIMSYA Blok Agung dan lembaga pendidikan lainnya terus berkolaborasi. Bimbingan seperti ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas generasi muda dalam membangun keluarga yang sejahtera dan produktif. Ia menegaskan, tujuan bimbingan bukan mendorong mahasiswa untuk segera menikah, tetapi memastikan mereka memahami konsekuensinya secara matang ketika waktu itu tiba.

“Jika pondasi kuat, pasangan akan lebih siap menghadapi tantangan,” ujarnya. Pesan tersebut menjadi refleksi penting bagi peserta, yang sebagian besar berada pada fase peralihan menuju dunia dewasa.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan komitmen tindak lanjut dari kedua belah pihak. Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam UIMSYA menyatakan siap memberikan ruang bagi generasi muda untuk mendapatkan bimbingan serupa di masa mendatang. Sementara Bimas Islam Banyuwangi berharap ke depan sosialisasi ini dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa dan sekolah menengah atas, mengingat dampaknya yang strategis.

Dengan semangat edukasi dan kolaborasi, Bimbingan Remaja Usia Nikah di UIMSYA Blok Agung menjadi salah satu upaya konkret membangun peradaban keluarga yang kuat. Bukan hanya menyiapkan pasangan muda dari sisi agama, tetapi juga membekali mereka dengan pengetahuan, keterampilan, dan kebijaksanaan yang diperlukan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Ini bukan sekadar program bimbingan, melainkan investasi masa depan bagi generasi Banyuwangi — generasi yang diharapkan mampu menyeimbangkan cinta, tanggung jawab, dan akhlak dalam kehidupan berumah tangga.

Kesan Festival Kebangsaan 2025 Banyuwangi, Mahasiswa Aceh dan Papua Beri Apresiasi

 


BANYUWANGI – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Banyuwangi telah sukses menggelar Festival Kebangsaan 2025 di Arena Gesibu Blambangan, Sabtu (22/11/2025). Kegiatan yang meriah dan penuh makna ini tidak hanya memamerkan keragaman budaya tetapi juga mendapat apresiasi tinggi dari mahasiswa, termasuk dari Papua yang menyatakan kebanggaannya.

Kepala Bakesbangpol Banyuwangi, Drs. R. Agus Mulyono, S.Sos, M.Si., dalam wawancara dengan media menjelaskan, festival tahun ini menampilkan trilogi utama. "Pertama, lomba Band Kebangsaan untuk anak SD-SMP sebagai wadah menyalurkan bakat dan kegiatan positif. Kedua, lomba video kreatif bertema kebangsaan untuk siswa SMA yang sebelumnya dilatih langsung oleh praktisi seperti Sulaiman Ali dari Porto Production dan influencer Winona. Ketiga, pagelaran Seni Budaya hasil kolaborasi dengan Forum Pembauran Kebangsaan yang menampilkan kekayaan berbagai suku," papar Agus Mulyono.

Disamping itu kegiatan festival ini juga menjadi wujud pelayanan bagi masyarakat dengan melibatkan UMKM, menyediakan stand pemeriksaan kesehatan gratis, dan membuka layanan administrasi kependudukan gratis dari Dinas Kependudukan untuk pengurusan akta kelahiran dan KTP. "Ini adalah bentuk sinergi kami untuk mewujudkan Banyuwangi yang lebih baik," tegasnya.

Harmoni dalam keberagaman menjadi jiwa dari festival ini. Ketua Umum Forum Pembauran Kebangsaan Kabupaten Banyuwangi, Miskawi, M.Pd., menekankan bahwa festival ini adalah cerminan nyata Banyuwangi yang multi-kultural. "Festival Kebangsaan ini sebenarnya adalah merajut harmoni, tidak lagi membeda-bedakan suku dan etnis. Kita hidup rukun dan guyub di Banyuwangi," ujarnya.

Kepala Bakesbangpol Banyuwangi Drs. R. Agus Mulyono, S.Sos, M.Si

Keberhasilan festival dalam menciptakan ruang kebersamaan ini menuai pujian dari para pengunjung. Beberapa mahasiswa asal Aceh, Astri, Naiya, dan Ulfa, mengaku terkesan dengan skala dan kehangatan acara. Ulfa menambahkan, kegiatan ini membuktikan kerukunan dan persatuan berbagai suku di Banyuwangi terjaga dengan baik.

Apresiasi khusus datang dari mahasiswa asal Papua. Marni Majau asal Papua Tengah menyatakan kebanggaannya. "Karena dengan acara seperti ini, kita dapat melestarikan budaya kami di mana pun kami berada," ujarnya.  Sonia dari Papua Selatan mengaku baru pertama kali melihat acara semacam ini dan merasa sangat mudah berbaur dengan masyarakat Banyuwangi. Mereka bahkan menyatakan kesediaan untuk dilibatkan dalam acara serupa di masa mendatang.

Mahasiswa Papua turut menyaksikan dan memberikan apresiasi

Rangkaian acara ini dibuka dengan penampilan band-band pelajar terbaik dari lomba yang telah dilaksanakan sebelumnya,  yaitu  SPENSABAND dari SMP 1 Banyuwangi, SPENSA GLORY dari  SMP 1 Genteng, ALETHEIART dari SMPK Aletheia Genteng., dilanjutkan dengan atraksi barongsai dari etnis Tionghoa dan Tari Tanduk Majeng dari Sanggar Lang-Lang Buana pimpinan Maestro Tari Banyuwangi, Bapak Sabar.

Festival secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Banyuwangi, Ir. H. Mujiono, M.Si., yang dalam sambutannya menegaskan bahwa festival ini adalah ruang kebersamaan dan penguatan jati diri bangsa.

Acara puncak diisi pagelaran kolaborasi Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), menampilkan tarian dari suku Mandar, Jawa, Madura, serta narasi menggunakan bahasa daerah masing-masing dan Bahasa Inggris. Keseluruhan pertunjukan mengusung pesan kuat tentang harmoni dalam keberagaman.

Salah satu finalis Lomba Band SD - SMP se Kabupaten Banyuwangi

Berikutnya adalah pengumuman pemenang lomba. Untuk kategori video kreatif, SMAN 1 Genteng keluar sebagai juara pertama, sedangkan untuk lomba band, SDN 4 Penganjuran meraih posisi puncak.

Susunan lengkap pemenang lomba sebagai berikut :

Video Kreatif mencatat SMAN 1 Genteng sebagai juara pertama, disusul SMKS Mambaul Ulum Muncar (juara 2), SMAN 1 Glagah (juara 3), SMAN 1 Giri (harapan 1), dan SMK Cordova (harapan 2).

Untuk lomba band pelajar, juara pertama diraih oleh SDN 4 Penganjuran, disusul SMPK Alethia Genteng (juara 2), SMPN 1 Banyuwangi (juara 3), SMPN 1 Genteng (harapan 1), dan SMPN 2 Banyuwangi (harapan 2).

Piala dan hadiah pembinaan diberikan langsung oleh Wakil Bupati Ir. Mujiono, M.Si.

Tari Kolaborasi Suku Etnis dari FPK

Acara kemudian ditutup dengan Sendratari "Kembang Seronce" yang kental dengan nuansa Bhinneka Tunggal Ika, menjadi penutup yang sempurna bagi festival yang meriah ini.

Festival Kebangsaan 2025 tidak hanya sukses sebagai sebuah hajatan, tetapi juga membuktikan bahwa harmoni dalam keberagaman adalah kunci menuju Banyuwangi yang sejahtera dan rukun.(AW)



Setiap Kita adalah Guru dan Setiap Rumah adalah Madrasah,

 Setiap Kita adalah Guru dan Setiap Rumah adalah Madrasah, 

Oleh: Syafaat


Ada kalimat yang tidak pernah selesai ditulis, bahkan oleh pena paling sabar: kalimat tentang guru. Kata-katanya seperti ayat-ayat langit yang turun perlahan, diperuntukkan bagi murid-murid yang masih belajar memahami tanda baca kehidupan. Tak ada jeda, tak ada paragraf terakhir. Guru bukan profesi yang dimulai pukul tujuh dan berhenti pukul dua siang. Guru adalah napas yang bertahan setelah bel usai berbunyi; ia hidup di antara harapan, luka, pengabdian, dan ikhtiar yang jarang dipahami orang-orang yang sibuk menilai.

Hari Guru Nasional memang ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Penanda administrasi itu menunjuk 25 November, bertepatan dengan lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia, organisasi yang berdiri dari bara perjuangan, dari keinginan menyatukan anak bangsa. Tetapi peringatan itu hanyalah kalender: pintu dengan nomor yang rapi. Guru sendiri telah ada jauh sebelum kebijakan itu; ia lahir pada saat manusia pertama menunjukkan cara menyalakan api kepada manusia lain. Di situlah madrasah pertama berdiri, di antara telapak tangan, hawa dingin, dan kebutuhan bertahan hidup. 


Jika api itu adalah pengetahuan, maka rumah-rumah kita adalah perapian tempat cahaya dilahirkan. Di sana, bara kecil menyala dari telapak tangan para penghuni yang penuh cinta. Seorang ayah mengajari anaknya mengikat tali sepatu, bukan sekadar keterampilan, tetapi pelajaran tentang kemandirian, tentang bagaimana manusia merapikan hidupnya sendiri. Seorang ibu memperkenalkan doa sebelum tidur, bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jembatan agar hati kecil tidak tersesat di kegelapan dunia.

Seorang kakak menjelaskan namanya pada adik kecil yang gemetar mengeja huruf. Ia tidak hanya mengajarkan cara membaca, melainkan cara berdiri di hadapan dunia: perlahan, gugup, namun penuh keberanian. Kita sering menyebut hal-hal itu sederhana, seakan tak berarti lebih dari rutinitas sehari-hari. Padahal di sana, peradaban sedang berlatih berdiri. Di sana, jiwa sedang dilatih untuk mengenal sabar, hormat, syukur, dan cinta, empat pilar yang akan menjadi benteng saat badai hidup datang.

Seorang ibu yang sabar mengajari anaknya menyebut nama Tuhan sebelum tidur adalah guru. Ia sedang menanam akar tauhid yang suatu hari akan menyelamatkan sang anak dari kesepian paling sunyi. Seorang ayah yang menggendong putranya setelah jatuh sambil berbisik, “bangkit lagi, Nak,” telah mendidik keberanian yang kelak membuatnya tetap tegak saat dunia tidak lagi ramah. Dan seorang kakak yang menuntun adiknya membaca huruf pertama dalam Al-Qur’an telah membuka pintu peradaban, pintu yang tak pernah ditutup oleh waktu, karena setiap huruf suci yang dipelajari akan menjadi saksi di hadapan langit.

Perjalanan hidup adalah kitab tafsir yang selalu kita baca dengan cara yang berbeda-beda. Tidak ada satu ayat pun yang turun sia-sia; setiap kejadian adalah referensi, petunjuk kecil yang kita kutip diam-diam tanpa menyadarinya. Kita belajar dari luka, dari kehilangan, dari tawa, dari keberhasilan yang sementara. Bahkan kegagalan pun menjadi guru yang mengajari kita cara bersujud lebih rendah, meminta lebih tulus, dan mencintai lebih lapang. Jika sekolah mengajarkan pengetahuan, maka rumah mengajarkan makna. Jika guru mengajarkan pelajaran, maka keluarga mengajarkan iman. Dan di antara keduanya, manusia tumbuh pelan-pelan, seperti doa yang tak pernah lelah mengetuk pintu langit.

Namun ada jenis guru yang berbeda, mereka yang memilih mengabdikan hampir seluruh hidupnya kepada anak-anak orang lain. Mereka bangun pukul lima, menyeruput kopi pahit yang tidak sempat dinikmati, menyusun rencana pembelajaran yang harus menjawab permasalahan dua puluh empat kepala yang berbeda. Mereka menghadap kelas dengan senyum yang tidak pernah dihitung dalam rupiah. Mereka meminta murid memahami bukan hanya apa, tapi mengapa? itu jauh lebih sulit daripada menghafalkan definisi.

Mungkin di malam hari seorang guru duduk menatap lembar-lembar ujian. Lampu redup, jam menunjukkan angka yang seharusnya milik keluarga, tapi tangan mereka masih bergerak. Dari halaman yang penuh coretan dan angka itu, mereka mendengar bisikan masyarakat: “Kenapa nilai anak saya rendah?” Pertanyaan yang datang seperti palu; tidak mengetuk pintu, tidak bertanya apakah ada luka, tidak peduli apakah sang murid pulang ke rumah yang sunyi. Angka tidak pernah mampu menampung air mata murid yang disembunyikan setelah jam pelajaran berakhir; ia tidak merekam otak yang pusing karena gawai, atau piring makan yang kosong.

Pendidikan bukan daftar nilai. Ia adalah perjalanan batin, pergulatan yang tak tercatat di rapor, yang tidak bisa dijelaskan oleh mekanisme kurikulum atau algoritma ranking nasional. Dan ironinya, orang tua yang pertama kali diminta Tuhan mendidik, justru paling mudah menyerahkan tanggung jawabnya. “Kami bayar sekolah,” kata mereka. “Bereskan anak kami.” Seolah pendidikan adalah bengkel, seolah anak adalah mesin. Mereka lupa bahwa anak membawa suara rumah ke ruang kelas: retakan keluarga, marah yang tak pernah selesai, kedewasaan yang dipaksa matang terlalu dini. Guru kemudian diminta menyembuhkan semuanya dengan modul yang dibuat di antara dua gelombang kantuk.

Inilah tragedi yang matang: guru disanjung dalam pidato, ditepuk di panggung, tetapi dicaci pada kolom komentar yang anonim. Dipanggil pahlawan nasional, tetapi ada yang dipaksa berurusan dengan aparat hanya karena menegur murid yang merokok. Dianggap penjaga moral, tetapi sering diperlakukan sebagai pegawai yang boleh dimaki tanpa konsekuensi. Diminta menjadi mercusuar di tengah hedonisme, padahal mercusuar pun membutuhkan dermaga dan batu fondasi.

Sebagian guru memikul beban yang tak terlihat mata: tekanan sosial, material, dan mental. Ada yang dibenturkan dengan LSM, organisasi massa, atau orang tua yang tak pernah hadir ketika anaknya pulang menangis. Pendidikan yang mestinya perjumpaan jiwa, seperti imam yang memimpin saf, bergeser menjadi administrasi konflik. Kita sibuk bertanya mengapa murid hilang hormat, padahal kitalah yang pertama mengajarkan cara merendahkan, guru membawa senyum seperti ibadah. Ia menenangkan anak yang hatinya retak, memeluk kegagalan yang tidak tercatat dalam rapor. Tidak ada modul yang mengajari cara menenangkan murid yang berduka, atau menuntun mereka yang gelap oleh gawai dan sunyi rumah. Guru menjadi tembok penahan badai sosial, sementara sebagian dari kita hanya menjadi penonton yang melemparkan batu.

Kita sering lupa: sabar bukan sekadar menahan marah. Sabar adalah dzikir yang menyembuhkan, ikatan luka dengan iman. Guru bukan malaikat tanpa lelah, melainkan manusia yang memilih berdiri di tengah malam dunia agar ada satu anak lagi yang percaya pada cahaya. Jika kita terus memperlakukan guru yang tidak mempunyai kesalahan sebagai objek yang boleh dicaci, jangan heran bila murid menirunya. Anak tidak lahir membawa nalar; mereka belajar dari contoh, dan kitalah contoh pertama.

Pada akhirnya, pendidikan bukan transaksi nilai. Ia adalah perjalanan spiritual, sebuah janji sunyi antara hati yang ingin dibimbing dan hati yang rela membimbing. Guru tidak meminta disembah; hanya ingin dihargai. Sebab masa depan bangsa ini tidak dibangun oleh suara paling keras, tetapi oleh mereka yang paling tekun menyalakan cahaya: satu anak, satu kelas, satu jiwa, tanpa pamrih.

Tugas guru, pada hakikatnya, profetik. Bukan karena mereka nabi, tetapi karena jejaknya seirama: mencerdaskan akal, membersihkan hati, menegakkan akhlak. Guru mengangkat mata murid yang redup; mereka menyalakan nalar yang tertidur; mereka mengajarkan kebaikan, bukan lembar jawaban pilihan ganda, betapa mudahnya kita lupa pada murid. Bahwa mereka bukan halaman kosong. Mereka adalah gelas cahaya yang retak. Mereka membawa luka-luka tak terlihat: kecanduan judi online yang sunyi, labilnya hormon yang bercampur gengsi, depresi yang disembunyikan dalam emoji, kemiskinan yang memalukan. 

Mereka selalu dinilai, tetapi jarang ditenangkan. Mereka adalah generasi yang tumbuh dengan suara keras dunia, tetapi jarang punya ruang untuk mendengar hatinya sendiri. Doa guru adalah pintu masa depan; pintu itu tidak dibuka dengan teriakan, melainkan dengan hormat. Ada kesalahan yang sering kita pelihara: bahwa guru adalah malaikat yang tidak pernah gagal. Padahal guru juga manusia, yang pulang dengan gaji pas-pasan, lalu tetap memikirkan murid yang tak bisa membayar uang sekolah; yang tersenyum meski hatinya patah; yang terus mengajar meski anaknya sendiri sedang demam.

Di era digital, guru bukan lagi sekadar pengajar, mereka adalah tembok penahan banjir informasi. Tetapi tembok pun retak. Tidak ada bangsa yang beradab jika menyandarkan seluruh masa depannya pada pundak yang gajinya tak cukup membeli buku yang diajarnya. Mengajar bukan hanya stamina intelektual, ia adalah stamina spiritual: keteguhan yang tumbuh dari kesadaran bahwa setiap kata yang diucapkan di kelas adalah doa yang terbang menuju langit.

Dalam kitab-kitab kuno, amal ilmu dicatat sebagai pahala yang tak pernah padam. Guru yang wafat tetap hidup dalam murid yang mengajar murid lainnya. Mereka hidup dalam kebajikan yang menyebar pelan, dalam peradaban yang terus berlanjut, tanpa nama mereka di monumen, tanpa potret dalam koridor kantor pemerintah.

Jika engkau pernah bertemu seorang guru yang menyelamatkanmu dari jurang, yang menyentuh bahumu saat dunia meninggalkanmu, maka engkau tahu Hari Guru tidak cukup satu hari. Sebab setiap rumah adalah madrasah. Setiap kita, entah sebagai orang tua atau tetangga, adalah guru dalam bentuk paling sederhana. Dan kehidupan, dengan segala putaran waktu dan robeknya perasaan, adalah referensi yang diam-diam menyusupkan hikmah pada luka, pada doa, pada keberanian.

Guru adalah doa yang berjalan. Kadang letih, kadang tersandung, kadang hampir hilang. Tetapi selalu bangkit, karena mereka tahu: masa depan bangsa tidak dibangun oleh mereka yang paling keras berteriak, melainkan oleh mereka yang paling sabar menyalakan cahaya. Satu anak. Satu kelas. Satu jiwa. Seumur hidup.

Penulis adalah ASN Kemenag / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

Festival Kebangsaan Banyuwangi 2025 Tegaskan Penguatan Toleransi dan Kohesi Sosial Melalui Representasi Budaya Multietnis

Banyuwangi (Warta Blambangan) Festival Kebangsaan 2025 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) di Gesibu Blambangan pada Sabtu (22/11/2025), menjadi ruang afirmasi keberagaman sekaligus penguatan nilai-nilai toleransi dalam masyarakat multikultural. Dengan mengangkat tema “Bangga Berbeda, Bersatu Berkarya, dengan Kreativitas dan Budaya Menuju Indonesia Maju”, kegiatan ini meneguhkan peran Banyuwangi sebagai daerah yang memiliki kohesi sosial tinggi.

Kegiatan ini memperoleh dukungan penuh dari unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Banyuwangi, antara lain Wakil Bupati, Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Kapolresta, Danlanal, Dandim, Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur, para kepala dinas, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), serta berbagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Partisipasi perwakilan beragam etnis yang hadir dengan menggunakan pakaian adat masing-masing menunjukkan representasi nyata pluralitas masyarakat Banyuwangi. Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, turut hadir dalam kegiatan tersebut. 


Rangkaian acara diawali dengan penampilan band pelajar yang membawakan lagu-lagu kebangsaan dan daerah sebagai bentuk internalisasi nilai nasionalisme pada generasi muda. Penampilan budaya dilanjutkan dengan atraksi barongsai dari komunitas Tionghoa serta tari Tanduk Majeng milik etnis Madura oleh Sanggar Lang-lang Buana, memperlihatkan ekspresi seni yang merepresentasikan keragaman identitas budaya lokal.

Secara simbolik, pembukaan festival ditandai dengan pemberian santunan kepada anak yatim oleh Wakil Bupati Banyuwangi Ir. Mujiono, M.Si., kemudian dilanjutkan dengan prosesi menyanyikan lagu Indonesia Raya serta pembacaan doa lintas tradisi—doa Islam oleh Kementerian Agama Banyuwangi dan doa adat Osing oleh tokoh masyarakat Osing. Kehadiran dua tradisi doa tersebut merefleksikan harmonisasi keagamaan dan budaya yang menjadi karakter Banyuwangi.

Dalam sambutannya, Pelaksana Tugas Kepala Bakesbangpol Banyuwangi, Drs. R. Agus Mulyono, S.Sos., menegaskan bahwa pelaksanaan Festival Kebangsaan tahun ini terfokus pada tiga kategori kegiatan utama, yaitu lomba band kebangsaan, lomba video kebangsaan untuk pelajar SMA/SMK, serta pagelaran tari dan kolaborasi kesenian lintas suku. Menurutnya, keberagaman tidak semestinya menjadi sumber perpecahan, melainkan potensi kolaborasi yang memperkuat persatuan bangsa.

Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, menyampaikan apresiasi terhadap festival ini dan menilai bahwa keberagaman budaya, agama, dan etnis yang hidup secara harmonis di Banyuwangi merupakan indikator layak bagi daerah tersebut untuk memperoleh Harmony Award.

Pelaksanaan festival berlanjut dengan penampilan band pelajar dari SDN Penganjuran serta pemutaran lima video kebangsaan terbaik. Hasil kompetisi video kreatif menempatkan SMAN 1 Genteng sebagai juara pertama, diikuti SMKS Mambaul Ulum Muncar sebagai juara kedua, SMAN 1 Glagah sebagai juara ketiga, SMAN 1 Giri sebagai juara harapan pertama, dan SMK Cordova sebagai juara harapan kedua.
Pada kategori lomba band pelajar, juara pertama diraih oleh SDN 4 Penganjuran, juara kedua oleh SMPK Alethia Genteng, juara ketiga oleh SMPN 1 Banyuwangi, juara harapan pertama oleh SMPN 1 Genteng, dan juara harapan kedua oleh SMPN 2 Banyuwangi. Trofi dan hadiah pembinaan diserahkan langsung oleh Wakil Bupati.

Wakil Bupati Banyuwangi, Ir. Mujiono, dalam arahannya meninjau festival ini sebagai wahana penguatan jati diri bangsa dan ruang interaksi sosial yang konstruktif. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan sosial di Banyuwangi sangat dipengaruhi oleh tingginya tingkat toleransi, yang berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, penurunan angka kemiskinan, serta naiknya Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Acara puncak festival menampilkan pagelaran kolaborasi Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) dengan tari-tarian yang merepresentasikan suku Mandar, Jawa, dan Madura, disertai narasi dalam bahasa daerah masing-masing serta Bahasa Inggris. Kolaborasi ini memancarkan pesan harmonisasi lintas identitas sebagai implementasi nyata semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Festival ditutup dengan Sendratari Tembang Seronce oleh Sanggar Lang-lang Buana yang mengangkat narasi perjalanan Nusantara melalui lagu “Dari Sabang sampai Merauke”. Seluruh rangkaian kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama antara pejabat daerah dan para pelaku seni yang terlibat, menandai berakhirnya festival yang berjalan dengan semarak dan partisipatif.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger